Anda di halaman 1dari 18

Sejarah HIMPSI

Organisasi profesi psikologi di Indonesia tahun ini memasuki usia 48 tahun.


Organisasi ini memang didirikan pada tanggal 11 Juli 1959 namun kongres I baru
digelar pada tahun 1979 di Yogyakarta. Kongres ini merupakan realisasi dari
gagasan yang dicetuskan oleh peserta rapat konsorsium psikologi. Cabang DIY
menyiapkan kongres dengan dukungan penuh dari Fakultas Psikologi UGM,
Konsorsium Psikologi Depdiknas (waktu itu Dp. P&K). pada penyelenggaraan
kongres pertama jelas terlihat dukungan semua pihak (psikolog yang menjadi
pengurus, dari lingkungan pendidikan psikologi, yang bekerja di pemerintah).
Mereka sama-sama merasa psikolog dan menganggap pentingnya menegakkan
organisasi profesi psikologi. Saat didirikan organisasi profesi psikologi ini
bernama Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia, disingkat ISPSI.
Kongres I berhasil menyususn AD/ART, kode etik, dan program kerja. Logo dan
lagu diselesaikan dalam kongres II. Peran organisasi dalam memberikan saran
kepada pemerintah telah dilakukan pada kongres kedua yang diselenggarakan di
Bandung pada tahun 1982. Beberapa makalah ilmiah yang diajukan dalam
kongres mengemukakan saran kepada penerintah untuk pengamanan Pemilu
(Pemilihan Umum). Pada kongres III di Jakarta tahun 1985 membahas tentang
keanggotaan ISPSI, apakah hanya dibatasi pada mereka yang berijazah S1
Psikolog saja, khususnya karena menyangkut izin praktik. Masalah keanggotaan
telah ditetapkan dalam kongres luar biasa pada bulan April 1998 di Jakarta,
dengan mengubah nama Ikatan sarjana Psikogi Indonesia disingkat ISPSI menjadi
Himpunana Psikologi Indonesia disingkat Himpsi. Jadi, organisasi profesi psikolog
ini jelas menampung semua professional psikologi, yaitu sarjana, magister,
doctor psikologi dan psikolog. Pergeseran ini membawa konsekuensi perluasan
program, yang tentunya tidak hanya menyangkut kepentingan psikolog saja
melainkan juga pengembangan professional psikologi secara menyeluruh.
Memasuki usia 48 tahun dan melewati kongres yang sudah berlangsung
sembilan kali, posisi Himpsi sebagai organisasi profesi psikologi yang mewadahi
semua profesional psikologi ternyata masih belum mencapai kondisi yang
diharapkan. Padahal peran dan fungsinya sudah semakin meluas.
Konsekuensinya, pengurus organisasi dituntut untuk mencurahkan waktu,
pikiran, tenaga dan materi agar organisasi dapat melangkah ke arah yang
diharapkan, baik oleh kalangan komunitas psikologi sendiri maupun oleh pihak
lain di luar psikologi. Bersyukur bahwa dalam kenyataan selalu saja ada orang
orang yang bersedia menjadi pengurus organisasi, yang sifatnya relawan,
sehingga organisasi dapat bertahan dan berjalan hingga sampai ke titik
perkembangannya sekarang.
Harapan kepada Himpsi semakin besar, yang sekaligus disertai dengan
pertanyaan, mampukah Himpsi mengemban tugas dan memenuhinya dalam
citra dan karya yang melegakan semua pihak, baik internal organisasi,
komunitas psikologi, maupun pemerintah dan masyarakat? Dapatkah eksistensi

Himpsi bertahan karena dukungan penuh oleh komunitasnya dan diterima baik
oleh semua pihak, local, nasional, internasional.

PSIKOLOGI DI ZAMAN INI


Minat masyarakat terhadap psikologi sebagai ilmu tampak semakin meningkat.
Jumlah lembaga pendidikan psikologi yang terus bertambah menjadi bukti
peningkatan minat tersebut. Saat ini jumlah yang tercatat pada PP Himpsi
sampai dengan bulan September 2003 adalah 64, dengan rincian lain 54 lainnya
berada di Jawa dan 10 lembaga pendidikan psikologi yang berpontensi menjadi
angggota Himpsi. Dikatakan berpotensi karena keanggotaan memang bersifat
aktif, yaitu mendatar.
Mengapa minat terhadap psikologi semakin meningkat? Jawaban yang pasti
tentunya memerlukan kajian ilmiah namunkesan selintas mengisaratkan adanya
peluang besar untuk dapat memperoleh kerja sesudah lulus dari pendidikan
psikologi. Dampak dari penambahan jumlah lulusan pendidikan psikolgi ini dan
harapan masyarakat terhadap lulusan psikologi jelas meluaskan tugas Himpsi.
Jasa psikologi yang diberikan oleh sarjana sarjana, magister, doctor psikologi,
psikolog dan praktik psikologi yang hanya boleh dilakukan oleh psikolog
memerlukan pena taan berdasarkan ketentuan yang perlu diberitahu mengenai
hal ini sehingga upaya sosialisasinya tidak boleh terabaikan. Apalagi dalam
perkembangan terapan psikologi saat ini kerap bersinggungan dengan profesi
lain, seperti psikiatri dan pedagogi. Apa bedanya, apa batasan kewenangan
masing-masing disiplin ilmu perlu digariskan secara jelas dan tegas sehingga
dapat dihormati oleh semua pihak (sebagai pelaku) dan pahami dengan baik
oleh masyarakat luas (sebagai pengguna)
Terapan psikologi semakin meluas. Kini psikologi tidak hanya dikenal sebagai
pengukur intelegensi atau lebih populer dengan Tes IQ namun juga diperlukan
untuk menjelaskan, memperbaiki, mengembangkan perilaku, baik individual
maupun massal. Dalam laporan pertangungjawaban ketua umum periode 19911994, Dr. Djamaludin Ancok, dikemukakan tentang pengembangan psikologi.
Dalam laporan ini dilampirkan surat yang di tandatangani oleh Bernadette N.
Setiadi, PhD ditujukan kepada ketua LIPI saat itu, Prof. Dr. Samaun Samadikun
tentang berdisiplin psikologi. Surat tanggal 24 Agustus 1991 tersebut
menyebutkan subdisiplin psikologi sebagai berikut:
1.

Psikologi Abnormal

2.

Psikologi Anak dan Remaja

3.

Bimbingan dan Konseling

4.

Psikologi Pendidikan

5.

Evaluasi dan Pengukuran dalam Psikologi

6.

Psikologi Eksperimen

7.

Psikologi Umum

8.

Psikologi Lansia

9.

Psikologi Industri dan Organisasi

10.

Kepribadian

11.

Studi Psikologis tentang isu-isu sosial

12.

Psikofarmakologi

13.

Psikologi Sosial

Dalam rapat pada hari Minggu tanggal 26 oktober 2003 Panitia Pengarah Temu
Ilmiah Nasional Kongres IX Himpsi telah mengidentifikasi subdisiplin psikologi
yang perlu dikembangkan di masa mendatang, sesuai dengan kondisi dan situasi
di Indonesia, yaitu :
1.
2.

Psikologi Forensik
Psikologi Militer

3.

Psikologi Lingkungan

4.

Psikologi Olahraga

5.

Psikologi Hukum

6.

Psikologi Ekonomik

7.

Psikologi Ergonomik

8.

Psikologi Kognitif

9.

Psikologi Indigenous

10. Psikologi Lintas Budaya


11. Psikologi Perkotaan dan pedesaan

Pengambangan subdisiplin psikologi diharapkan dapat meluaskan terapan


psikologi bagi lulusan sarjana, magister, doctor psikologi dan psikolog. Masih
banyak lagi bidang terapan yang bisa dikembangkan oleh professional psikologi
yang akan semakin meluaskan pemahaman masyarakat tentang psikologi dan

terapannya sehingga tidak lagi dipahami dalam pengertian yang sempit, yaitu
berkaitan dengan psiko tes semata. Masyarakat luas perlu memahami bahwa
belajarpsikologi tidaklah bertujuan untuk dapat melakukan tes psikologi
meleinkan memahami perilaku dalam arti yang sangat luas. Himpsi berharap
dapat terus mendorong komunitas psikologi untuk mengembangkan terapan
psikologi secara luas agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan
mengikuti perkembangan zaman. Dalam hal ini tentunya perlu bekerja sama
dengan penyelenggara pendidikan psikologi di Indonesia.
Himpsi menyikapi perkembangan psikologi dengan mendorong berdirinya
ikatan/asosiasi minat dan praktik spesialisasi psikologi yang berhimpun dalam
Himpsi. Saat ini ada sepuluh ikatan/ asosiasi, yaitu

1.

Ikatan Psikologi klinis (IPK)

2.

Ikatan Psikologi Olahraga (IPO)

3.

Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI)

4.

Ikatan Psikologi Sosial (IPS)

5.

Ikatan Psikoterapis Indonesia (IPI)

6.

Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi (APIO)

7.

Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI)

8.

Asosiasi Psikologi Islami (API)

9.

Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia (APSI)

10. Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia (APKI)

Berkembangnya ikatan/asosiasi minat diharapkan dapat mendorong


perkembangan psikologi di Indonesia, baik sebagai ilmu maupun terapannya.
Kerjasama antara perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan psikologi
dan Himpsi sebagai organisasi profesi psikologi menjadi penting. Himpsi adalah
organisasi yang mewadahi semua alumni pendidikan psikologi, dari manapun
aloma maternya sebab Himpsi bukanlah wadah alumni perguruan tinggi tertentu.
Keragaman anggota psikologi sangat perlu mendapat perhatian dalam
perkembangan organisasi selanjutnya. Semua alumni pendidikan psikologi,
lulusan dalam dan luar negeri, adalah satu, yaitu komunitas psikologi di
Indonesia.

PERAN ORGANISASI PROFESI


Perkembangan psikologi di Indonesia tidak terpisahkan dari situasi yang dihadapi
saat ini dan di masa mendatang, terutama kaitannya dengan kondisi dan situasi
dalam era kesejagatan. Perjanjian internasional yang juga diikuti Indonesia
seperti AFTA 2003 dan APEC 2010 berdampak pula terhadap posisi profesional
psikologi Indonesia. Terbuka kemungkinan bagi professional psikologi dari
mancanegara untuk bekerja di Indonesia seiring dengan perdagangan
bebas.pada saat itu komputitor tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari
luar. Persaingan akan semakin ketat, di satu sisi, sedangkan di sisi lain juga
berarati membukapeluang untuk bekerja sama dalam meningkatkan ilmu dan
mengembangkan profesi. Ketika era kesejagatan itu tiba maka organisasi profesi
harus sudah siap denagn standarisasi yang setara dengan setandar
internasional. Dalam kaitan dengan standarisasi diperlukan penjenjangan
keahlian dan penataan sebutan profesi.

Himpsi sebagai organisasi profesi psikologi perlu melakukan penataan profesioal.


Untuk itu Himpsi perlu menyediakan informasi mengenai anggotanya yang
terklarifikasi dengan baik (updating). Termasuk dalam kesediaan informasi ini
adalah :

Registrasi

Klasifikasi

Kualifikasi

Akreditasi

Jenjang kepangkatan

Penentuan imbalan (billing rate)

Dalam penataan profesional melalui program sertifikasi, organisasi profesi perlu


melakukan hal-hal sebagai berikut :

Pembinaan anggota secara nasional

Perlindungan profesi psikologi

Perlindungan masyarakat pengguna jasa/praktik psikologi

Penetapan jalur yang jelas dalam pertanggungjawaban perdata


Mencapai kesetaraaan internasional bench marking professional bagi
tenaga asing yang bekerja di Indonesia.

Secara individual penataan oleh organisasi profesi melalui pemberian sertifikasi


akan memberi manfaat dalam hal :

Pengakuan resmi tehadap kompentensi, keahlian, kemampuan bagi


pemilik sertifikasi profesi.

Kesempatan untuk meningkatakan kompetensi, keahlian, kemampuan


melalui pembinaan keprofesian berkelanjutan.

Kejelasan jalur profesi sebagai jalur jenjang karier.

Kemudahan mengikuti program, antara lain karena dibukanya


persyaratan khusus.

Terbukanya akses ke pasaran tenaga kerja di dalam dan luar negeri.


Dengan adanya data base pada pengurus yang memungkinkan profesional
terdaftar nama, alat komunikasi, dan data keahliannya untuk memasuki bursa
tenaga professional.

Jadi, organisasi profesi tentunya tidsk hanya membahas AD/ART, identitas


organisasi, dan sebagainya tetapi juga melengkapi dengan perangkat lainnya
yaitu kode etik, sertifikasi dan undang-undang. Saat ini Himpsi sedang berada di
tengah-tengah semua tugas yang menjadi beban organisasi profesi. Perubahan
sistem pendidikan psikologi di Indonesia juga menambah luas peran Himpsi.
Pengurus Himpsi semakin dihadapkan pada tugas yang tidak ringan, sangat
memerlukan curahan pikiran, waktu dan tenaga.

Ruang Lingkup
(1) Ilmuwan Psikologi memberikan layanan dalambentuk mengajar, melakukan
penelitian dan/
atau intervensi sosial
pendidikan, pelatihan

dalam

atau pengalaman sesuai


dipertanggungjawabkan.

area

dengan

sebatas

kompetensinya,

kaidah-kaidah

ilmiah

berdasarkan
yang

dapat

(2) Psikolog dapat memberikan layanan sebagaimana yang dilakukan oleh


Ilmuwan Psikologi

serta secara khusus dapat melakukan praktik psikologi terutama yang berkaitan
dengan
asesmen dan intervensi yang ditetapkan setelah memperoleh ijin praktik sebatas
kompetensi yang berdasarkan pendidikan, pelatihan, pengalaman terbimbing,
konsultasi,
telaah dan/atau pengalaman profesional sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah
yang dapat
dipertanggungjawabkan.
(3) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dalam menangani berbagai isu atau
cakupan
kasuskasus khusus, misalnya terkait penanganan HIV/AIDS, kekerasan berbasis
gender,
orientasi seksual, ketidakmampuan (berkebutuhan khusus), atau yang terkait
dengan
kekhususan ras, suku, budaya, asli kebangsaan, agama, bahasa atau kelompok
marginal,
penting untuk mengupayakan penambahan pengetahuan dan ketrampilan
melalui berbagai cara
seperti pelatihan, pendidikan khusus, konsultasi atau supervisi terbimbing untuk
memastikan
kompetensi dalam memberikan pelayanan jasa dan/ atau praktik psikologi yang
dilakukan
kecuali dalam situasi darurat sesuai dengan pasal yang membahas tentang itu.
(4) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi perlu menyiapkan langkah-langkah yang
dapat
dipertanggungjawabkan dalam area-area yang belum memiliki standar baku
penanganan,
guna melindungi pengguna jasa layanan psikologi serta pihak lain yang terkait.
(5) Dalam menjalankan peran forensik, selain memiliki kompetensi psikologi
sebagaimana
tersebut di atas, Psikolog perlu memahami hukum yang berlaku di Indonesia,
khususnya
hukum pidana, sehubungan dengan kasus yang ditangani dan peran yang
dijalankan.

Layanan Psikologi Kepada dan/atau Melalui Organisasi

Psikolog dan/atau Ilumuwan Psikologi yang memberikan layanan psikologi


kepada organisasi/
perusahaan memberikan informasi sepenuhnya tentang:
Sifat dan tujuan dari layanan psikologi yang diberikan
Penerima layanan psikologi
Individu yang menjalani layanan psikologi
Hubungan antara Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dengan organisasi dan
orang
yang menjalani layanan psikologi
Batas-batas kerahasiaan yang harus dijaga
Orang yang memiliki akses informasi Apabila Psikolog dan/atau Ilmuwan
Psikologi dilarang
oleh organisasi peminta layanan untuk memberikan hasil informasi kepada orang
yang
menjalani layanan psikologi, maka hal tersebut harus diinformasikan sejak awal
proses
pemberian layanan psikologi berlangsung.

Tujuan Himpsi
a . mengupayakan diperolehnya pengaku-an sesuai dengan ketentuan
peraturanperundang-undangan.

b . mewadahi kerja sama, komunikasi dan informasi antar anggota maupun


organisasi profesi lain pada tingkat nasional,regional dan internasional.
c. memajukan dan mengembangkan psikologi baik sebagai ilmu pengetahuan
d. maupun terapannya secara proesional.
peningkatan kompetensi profesional anggota

mewadahi

pembinaan

e. memberi perlindungan kepada anggotadan pengguna


menjalankan/ menerima kegiatan profesi dan keilmuan

jasa

dan
dalam

f. memberikan informasi kepada masya-rakat tentang standar layanan psikologi.


g. melakukan pengawasan dan pembinaanguna menjaga kualitas kegiatan
profesi dan keilmuan
h. menunjukan kepedulian sosial pada masyarakat dalam berbagai masalah.

Tujuan Himpsi sebagaimana dimaksud pada ayat


perencanaan kegiatan yang dibahas dalam rapat kerja.

(1)

dijabarkan

dalam

PERTANGGUNG JAWABAN

Iklan dan Pernyataan publik yang dimaksud dalam pasal ini dapat berhubungan
dengan jasa, produk atau publikasi profesional Psikolog dan atau Ilmuwan
Psikologi di bidang psikologi, mencakup iklan yang dibayar atau tidak dibayar,
brosur, barang cetakan, daftar direktori, resume pribadi atau curriculum vitae,
wawancara atau komentar yang dimuat dalam media, pernyataan dalam buku,
hasil seminar, lokakarya, pertemuan ilmiah, kuliah, presentasi lisan di depan
publik, dan materi-materi lain yang diterbitkan.
(1) Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi; dalam memberikan pernyataan kepada
masyarakat melalui berbagai jalur media baik lisan maupun tertulis
mencerminkan keilmuannya sehingga masyarakat dapat menerima dan
memahami secara benar agar terhindar dari kekeliruan penafsiran serta
menyesatkan masyarakat pengguna jasa dan atau praktik psikologi. Pernyataan
tersebut harus disampaikan dengan ;
Bijaksana, jujur, teliti, hati-hati,
Lebih mendasarkan pada kepentingan umum daripada pribadi atau golongan,
Berpedoman
pada
dasar
ilmiah
dan
disesuaikan
dengan
bidang
keahlian/kewenangan selama tidak bertentangan dengan kode etik psikologi.

(2) Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi dalam pernyataan yang dibuat harus
mencantumkan gelar atau identitas keahlian pada karya di bidang psikologi yang
dipublikasikan sesuai dengan gelar yang diperoleh dari institusi pendidikan yang
terakreditasi secara nasional atau mencantumkan sebutan psikolog sesuai
sertifikat yang diperoleh.

(3)
Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi tidak membuat pernyataan palsu,
menipu atau curang mengenai

a)

Gelar akademik / ijazah

b)

Gelar profesi

c)

Pelatihan, pengalaman atau kompetensi yang dimiliki

d)

Izin Praktik dan Keahlian

e)

Kerjasama institusional atau asosiasi

f)

Jasa atau praktik psikologi yang diberikan

g)

Dasar ilmiah dan klinis, atau hasil dan tingkat keberhasilan jasa layanan

h)

Biaya

i)

Orang-orang atau organisasi dengan siapa bekerjasama

j)

Publikasi atau hasil penelitian

Sejarah psikologi indonesia

Lahirnya Pendidikan Psikologi di Indonesia diawali oleh pidato ilmiah Prof. Dr.
Slamet Iman Santoso dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Universitas
Indonesia pada Dies Natalis Universitas Indonesia pada tahun 1952 di Fakultas
Pengetahuan Teknik UI di Bandung (sekarang ITB). Dalam pidato tersebut, beliau
antara lain mengemukakan penggunaan pemeriksaan psikologis untuk
mendeteksi the right man on the right place, dan menghindari the right man on
the wrong place, the wrong man on the right place, serta the wrong man on the
wrong place.

Prof. Dr. Slamet Iman Santoso adalah seorang ahli penyakit syaraf dan jiwa,yang
menyadari bahwa tidak semua masalah kejiwaan dapat diselesaikan psikiatri,
sehingga muncul niat untuk mendirikan Fakultas Psikologi di Indonesia sehingga
kemudian dia dikenal sebagai Bapak Psikologi Indonesia. Latar belakang
pendidikannya adalah Europeesche Lagere School (ELS), Hollandsch Inlandsche
School (HIS (1912-1920) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO (19201923). Kemudian melanjut ke MAS-B, Yogyakarta (1923-1926); Indische Arts,
Stovia (1926-1932); dan Geneeskunde School of Arts, Batavia Sentrum (19321934).

Sebagai kelanjutan dari pidato Prof. Dr. Slamet Iman Santoso, di lingkungan
Kementerian Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan (disingkat Kementerian

PP&K), pada tanggal 3 Maret 1953 diselenggarakan Kursus Asisten Psikologi,


yang diketuai oleh Prof. Dr. Slamet Iman Santoso. Tak lama setelah itu, masih
dalam lingkungan Kementerian PP&K, didirikan Lembaga Psikologi, yang
kemudian berubah statusnya menjadi Lembaga Pendidikan Asisten Psikologi
yang secara langsung berada di bawah pimpinan Universitas Indonesia.

Pada tahun 1955, Pendidikan Psikologi Asisten Psikologi diubah statusnya


menjadi Pendidikan Sarjana Psikologi, yang secara administratif berada di bawah
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dalam SK Menteri Pendidikan,
Pengadjaran & Kebudajaan Republik Indonesia No. 108049/U.U. dinyatakan
bahwa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dimulai tanggal 1 Djuli 1960.
Dengan demikian, tahun 1960 merupakan tahun kelahiran Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia, dengan Dekan pertamanya Prof. Dr. Slamet Iman Santoso.

Kecemasan Pak Slamet tentang masa depan bangsa sudah timbul sejak ia
membacakan pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Psikiatri Fakultas
Kedokteran UI di Fakultas Teknik UI, Bandung (sekarang ITB) pada tanggal 3
Maret tahun 1952. Pada waktu itu beliau menyatakan bahwa masalah bangsa
yang pada waktu itu sedang mengalami transisi dari era kolonial ke era
kemerdekaan, tidak mungkin ditangani oleh para psikiater sendiri. Psikiater
hanya bisa mengobati orang-orang dengan gangguan kejiwaan pada masa itu,
namun tidak bisa menanganinya sampai tuntas.

Psikiater, misalnya, harus menangani berbagai masalah yang timbul akibat


gagalnya sistem pendidikan sehingga banyak murid yang drop out, namun
psikiater tidak bisa membantu para guru untuk melaksakana penddikan yang
sesuai dengan perkembangan jiwa anak.

Demikian pula psikiater bisa mengurangi gejala stres pada para pejabat yang
pada waktu itu harus mengisi pos-pos penting yang ditinggalkan Belanda,
sementara mereka sendiri hanya mantan tentara revolusi yang tidak
berpengalaman dan/atau berpendidikan.

Namun psikiatri tidak bisa memecahkan masalah the right man in the right
place. Maka dalam pidatonya itu ia mengusulkan agar di UI ada pendidikan
psikologi, yang diawali pada tahun 1953 (dianggap sebagai lahirnya Fakultas
Psikologi UI), dengan pembukaan Balai Psikoteknik di UI yang mendidik asisten
psikolog. Balai psikoteknik ini kemudian menjadi Jurusan Psikologi dari Fakultas
Kedokteran UI, dan pada tahun 1960 menjadi Fakultas Psikologi UI yang berdiri
sendiri.

Dalam pidatonya sebagai Doctor HC dalam bidang psikologi, pada tanggal 3


Maret 1973, Prof. Dr (HC) dr. R. Slamet Iman Santoso mengulangi lagi komitmen
dan harapannya pada psikologi di Indonesia. Beliau mengatakan daam pidatonya
tersebut, Sekalipun semua usaha sosial di Indonesia mempunyai potensi nation
building, namun ilmu Psikologilah yang langsung menghubungi manusia
Indonesia, baik yang muda maupun yang tua, baik yang tidak mau berubah,
maupun yang saking berubahnya sampai tergelincir. . Justru dalam negara
yang kebudayaan terbentang antara jaman batu di Irian Barat, sampai jaman
nuklir dan ruang angkasa, maka peran Psikologi adalah sangat perlu untuk
menjadi perantara dalam hal modernisasi.

Mantan Direktur Rumah Sakit Jiwa Gloegoer, Medan (1937-1938) ini, sangat
termotivasi dalam merintis dan mendirikan fakultas psikologi, karena sebagai
psikiater beliau menemukan banyak masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh
psikiater. Dalam bidang profesi kedokteran, beliau menerima penghargaan
Wahidin Sodiro Hoesodo dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 1989.
Sebagai seorang ahli psikologi, tahun 1961, beliau juga pernah memimpin
sekitar lima puluh mahasiswa Fakultas Psikologi UI mengunjungi penduduk yang
terkena gusuran pembuatan Istana Olahraga Senayan dan dipindahkan ke
daerah Tebet dan Penjaringan. Mereka berdialog dengan penduduk tergusur itu.

Kunjungan ini, menjadi awal pogram mahasiswa turun ke lapangan (masyarakat).


Bidang studi psikologi pun makin menarik perhatian banyak orang. Masa-masa
psikologi mengalami kesulitan (saat psikologi hanyalah sebuah jurusan dalam
lingkungan FKUI), seperti sudah terlupakan. Saat itu, kata Slamet dalam pidato
ketika menerima penghargaan bintang jasa Mahaputra Utama III (1973), beliau
merasa ibarat seorang yang sedang berdiri seorang diri di tepi pasir yang
gersang tanpa pedoman untuk melintasinya sambil mengajak saudara-saudara
mengembangkan disiplin ilmu yang baru ini.

Conny Semiawan, mantan rektor IKIP Jakarta yang juga murid dan sempat
menjadi asisten Slamet Iman dalam menguji mahasiswa, mengenang Slamet
sebagai orang yang sangat tertib, teliti dan juga memiliki wawasan yang sangat
luas, selalu berfikir filosofis meskipun bukan ahli filsafat. Dalam menguji
mahasiswa, Slamet selalu menegaskan jangan menanyakan apa yang kamu
ketahui, tetapi usahakan untuk bertanya apa yang dipahami mahasiswa. Dengan
demikian dialog akan terjadi dan mahasiswa dapat mengaktualisasikan dirinya.
Menurut Conny Semiawan, Slamet adalah tokoh pendidikan yang berani. Beliau
adalah orang pertama mengusulkan perlunya satu standar bagi semua jenjang
pendidikan di Indonesia. Usul yang beliau lontarkan sepanjang tahun 1979-1981
ini membuat heboh dunia pendidikan. Beliau juga orang yang mengkritik keras
minimnya gaji guru yang beliau sebut dapat merusak dunia pendidikan. Beliau
membandingkan gaji guru jaman Belanda yang dua kali lipat daripada gaji
dokter. Sehingga guru tak perlu mencari tambahan dan dunia pendidikan tidak
dicampurbaurkan dengan bisnis. Beliau juga mempunyai andil besar dalam
merintis program penerimaan mahasiswa melalui UMPTN.

Ketika Slamet Iman menjadi Ketua Komisi Pembaruan Pendidikan Nasional (KPPN)
pada tahun 1979-1980, terjadi booming lulusan SMA yang ingin masuk
Perguruan Tinggi Negeri. Sebagai contoh, UI yang kapasitasnya sekitar 800
mahasiswa tapi jumlah pendaftar 4000 orang. Maka melalui komite yang
diketuainya dibentuklah satu sistem penerimaan calon mahasiswa yang sejak
1979 sudah berlangsung dengan nama yang sekian kali berubah mulai dari
Skalu, Proyek Perintis, Sipenmaru (Sistim Penerimaan Mahasiswa Baru) dan
UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Pria yang dikenal terus terang
dan sempat menjadi Pejabat Rektor UI ini, meskipun sudah mengakhiri jabatan
sebagai Ketua Komisi Pembaruan Sistem Pendidikan 1980, beliau masih sempat
mengurusi penerimaan calon mahasiswa pada tahun 1981.

Tangan dingin Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi, Universitas
Indonesia (1950-1953) serta mantan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (1968-1973) ini, juga
sudah sangat banyak melahirkan tokoh pendidikan di Indonesia, diantaranya
adalah Conny Semiawan, Fuad Hassan, Sujudi, Wardiman Djojonegoro, Mahar
Mardjono dan Saparinah Sadli. Para mantan mahasiswanya ini sangat
menghormati dan mengagumi gurunya ini. Mereka mengenangnya sebagai guru
yang sangat akrab dan suka menularkan pengalaman. Salah satunya adalah
ucapan beliau dalam acara peringatan 100 tahun Albert Einstein di ruang
Rektorat UI, 1979: Ciri orang pandai, hal yang ruwet bisa disederhanakan,
sebaliknya orang bodoh akan meruwetkan soal sederhana.

Sebagai dokter ahli penyakit saraf dan jiwa, pada tanggal 1 Januari 1979 beliau
memasang iklan menutup praktek untuk selamanya. Beliau menyadari dirinya
sudah tua. Selain itu, Slamet Iman juga dikenal sebagai seorang penulis
terkemuka. Beliau sering menulis kolom di berbagai media dan juga menulis
buku. Beberapa bukunya yang terkenal adalah Sejarah Perkembangan Ilmu
Pengetahuan, Sinar Hudaya, Jakarta (1977); The Social Background For
Psychotheraphy in Indonesia; Psychiatry dan Masyarakat; Kesejahteraan Jiwa;
School Health in the Community; Sekolah Sebagai Sumber Penyakit atau Sumber
Kesehatan; Dasar Stadium Generale, Pendidikan Universitas Atas Dasar Teknik
dan Keilmuwan, Dasar-dasar Pokok Pendidikan; dan Pendidikan Indonesia dari
Masa ke Masa yang diterbitkan oleh CV Haji Masagung, Jakarta, 1987.

Kemdian pada 11 Juli 1958 didirikan organisasi profesi psikologi di Indonesi,


didirikan di Jakata dengan nama Ikatan Sarjana Psikologi ( ISPsi ). . Sejalan
dengan perubahan sistim pendidikan tinggi di Indonesia, melalui Kongres Luar
Biasa pada tahun 1998 di Jakarta, organisasi ini mengubah nama menjadi
Himpunan Psikologi Indonesia ( HIMPSI ).

Sebagai organisasi profesi, Himpsi merupakan wadah berhimpunnya profesional


Psikologi (Sarjana Psikologi, Magister Psikologi, Doktor Psikologi dan Psikolog).
Sejak tahun 2003, lulusan program pendidikan profesi psikologi sudah setara
dengan jenjang Magister. Misi utama Himpsi adalah pengembangan keilmuan
dan profesi psikologi di Indonesia.

Organisasi profesi psikologi di Indonesia tahun ini memasuki usia 48 tahun.


Organisasi ini memang didirikan pada tanggal 11 Juli 1959 namun kongres I baru
digelar pada tahun 1979 di Yogyakarta. Kongres ini merupakan realisasi dari
gagasan yang dicetuskan oleh peserta rapat konsorsium psikologi. Cabang DIY
menyiapkan kongres dengan dukungan penuh dari Fakultas Psikologi UGM,
Konsorsium Psikologi Depdiknas (waktu itu Dp. P&K). pada penyelenggaraan
kongres pertama jelas terlihat dukungan semua pihak (psikolog yang menjadi
pengurus, dari lingkungan pendidikan psikologi, yang bekerja di pemerintah).
Mereka sama-sama merasa psikolog dan menganggap pentingnya menegakkan
organisasi profesi psikologi. Saat didirikan organisasi profesi psikologi ini
bernama Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia, disingkat ISPSI.

Kongres I berhasil menyususn AD/ART, kode etik, dan program kerja. Logo dan
lagu diselesaikan dalam kongres II. Peran organisasi dalam memberikan saran
kepada pemerintah telah dilakukan pada kongres kedua yang diselenggarakan di
Bandung pada tahun 1982. Beberapa makalah ilmiah yang diajukan dalam
kongres mengemukakan saran kepada penerintah untuk pengamanan Pemilu
(Pemilihan Umum). Pada kongres III di Jakarta tahun 1985 membahas tentang
keanggotaan ISPSI, apakah hanya dibatasi pada mereka yang berijazah S1
Psikolog saja, khususnya karena menyangkut izin praktik. Masalah keanggotaan
telah ditetapkan dalam kongres luar biasa pada bulan April 1998 di Jakarta,
dengan mengubah nama Ikatan sarjana Psikogi Indonesia disingkat ISPSI menjadi
Himpunana Psikologi Indonesia disingkat Himpsi. Jadi, organisasi profesi psikolog
ini jelas menampung semua professional psikologi, yaitu sarjana, magister,
doctor psikologi dan psikolog. Pergeseran ini membawa konsekuensi perluasan
program, yang tentunya tidak hanya menyangkut kepentingan psikolog saja
melainkan juga pengembangan professional psikologi secara menyeluruh.

Pada tanggal 22 Oktober 200 di Bandung, HIMPSI melakukan kongres, Kongres


VII HIMPSI sehingga terbentuklah Kode Etik Psikologi Indonesia.

Awal munculnya Psikologi di Indonesia adalah sebagai bagian dari ilmu


kedokteran dan Psikotes, tetapi kemudian berkembang pesat serta menjadi
kebutuhan masyarakat di berbagai sektor seperti pendidikan, sosial, dan
olahraga. Di tahun 1960-an hanya ada empat fakultas psikologi yaitu di UI, UGM,
UNPAD, Maranatha.Sekarang sudah ada lebih dari 40 fakultas psikologi di
Indonesia baik negeri maupun swasta.

AZAS DAN TUJUAN

Pasal 2

Jasa/Praktik Psikologi dilaksanakan dengan azas nilai-nilai luhur Pancasila dan


didasarkan pada nilai agama, manfaat, keadilan, kemanusiaan, keseimbangan,
perlindungan dan keselamatan psikologis pengguna jasa/praktik psikologi.

Pasal 3

Pengaturan penyelenggaraan Jasa/Praktik Psikologi bertujuan untuk:

1.Pemberian kepastian hukum untuk keilmuan psikologi di Indonesia;

2.Pemberian perlindungan
jasa/praktik psikologi;

kepada

profesional

psikologi

dan

pengguna

3.Pemberian kepastian hukum kepada profesional psikologi dan pengguna


jasa/praktik psikologi.

4.Peningkatan mutu pelayanan jasa/praktik psikologi yang diberikan oleh


profesional psikologi.