Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH ISOLASI TEGANGAN TINGGI

TEKNOLOGI MENAMBAH KEYAKINAN BERAGAMA

Di susun oleh :
Wawan Suhendra (5151131046)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2016

KATA PENGANTAR
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat
ALLAH SWT tuhan yang maha esa, karena berkat rahmat dan karuniaNya
penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu.
Adapun isi dari makalah yang di susun ini adalah tentang TEKNOLOGI
MENAMBAH KEYAKINAN BERAGAMA. Makalah ini dibuat sesuai dengan tugas
yang diberikan oleh dosen kami dalam mata kuliah Isolasi Tegangan Tinggi.
Tujuan dibuatnya makalah ini selain untuk memenuhi tugas yang
diberikan juga untuk menambah pengetahuan tentang mata kuliah Isolasi
Tegangan Tinggi. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan
dalam makalah ini, baik dari segi tata penulisan maupun dari segi isi.
Untuk itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran positif dari rekan
mahasiswa maupun dari bapak dosen demi perbaikan dihari mendatang.
Penyusun makalah ini mohon maaf sebesar-besarnya atas koreksi-koreksi yang telah
dilakukan. Hal tersebut semata-mata agar menjadi suatu evaluasi dalam pembuatan makalah
ini. Mudah-mudahan dengan adanya pembuatan makalah ini dapat memberikan manfaat
berupa Ilmu Pengetahuan yang baik bagi penulis maupun bagi para pembaca.
Semoga makalah ini bermanfaat dalam upaya pengembangan
karakter pribadi kita khususnya bagi para pembaca.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................


DAFTAR ISI ......................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang .........................................................................................................
1.2. Tujuan .....................................................................................................................
1.3. Manfaat ..................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Definisi Ilmu dan Ilmu Pengetahuan .....................................................................
2.2. Al -Quran Sebagai Sumber dari Segala Ilmu Pengetahuan...................................
2.3. Korelasi antara Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan...................................................
2.4. Sifat Penemuan Ilmiah............................................................................................
2.5. Konsep Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Dalam Islam........................................
2.6. Khazanah Kemajuan Iptek Dalam Sejarah Peradaban Islam................................
2.7. Berperilaku Islami Dalam Menghadapi Kemajuan Iptek.....................................
2.8. Aqidah Islam Sebagai Dasar Iptek..........................................................................
2.9. Hadist Dan Ayat Tentang Iptek...............................................................................

i
ii
1
1
1
2
2
3
5
6
7
9
12
15

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan ............................................................................................................. 19
3.2. Saran ....................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
Dalam menjalani hidup, manusia memerlukan agama sebagai pedoman dalam
membimbing dan mengarahkan kehidupannya agar selalu berada di jalan yang benar. Agama
tidak sekedar dijadikan sebagai identitas belaka, melainkan benar-benar difungsikan dalam
kehidupan sehari-hari agar kehidupan manusia terbimbing dan terarah. Islam sebagai agama
penyempurna dan paripurna sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang di orientasikan sebagai sarana ibadah pengabdian muslim kepada ALLAH
SWT dan melaksanakan amanat khalifatullah dimuka bumi.
Al-Quran Al-Karim, yang merupakan sumber utama ajaran Islam, berfungsi sebagai
"Petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya" (QS 17:9) demi kebahagiaan hidup manusia di dunia
dan akhirat. Petunjuk-petunjuk tersebut banyak yang bersifat umum dan global, sehingga
penjelasan dan penjabarannya dibebankan kepada Nabi Muhammad saw. (QS 16:44; 4:105,
dan sebagainya).
Di samping itu, Al-Quran juga memerintahkan umat manusia untuk memperhatikan
ayat-ayat Al-Quran (QS 39:18; 47:24), dengan perhatian yang di samping dapat mengantar
mereka kepada keyakinan dan kebenaran Ilahi, juga untuk menemukan alternatif-alternatif
baru melalui pengintegrasian ayat-ayat tersebut dengan perkembangan situasi masyarakat
tanpa mengorbankan prinsip-prinsip pokok ajarannya (Al-Ushul Al-Ammah) atau
mengabaikan perincian-perincian yang tidak termasuk dalam wewenang ijtihad. Dengan
demikian, akan ditemukan kebenaran-kebenaran penegasan Al-Quran, bahwa:
a. Allah akan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya di seluruh ufuk dan pada diri
manusia, sehingga terbukti bahwa ia (Al-Quran) adalah benar (QS 41:53).
b. Fungsi diturunkannya Kitab Suci kepada para Nabi (tentunya terutama Al-Quran),
adalah untuk memberikan jawaban atau jalan keluar bagi perselisihan dan problemproblem yang dihadapi masyarakat (QS 2:213).
1.2. Tujuan
a) Mahasiswa mampu mengetahui kebenaran agamanya melalui teknologi
b) Mahasiswa mampu mengetahui korelasi antara kitab sucinya dengan perkembangan
ilmu teknologi
1.3. Manfaat
a) Mahasiswa mampu menjelaskan dan menganalisis peranan agamanya terhadap ilmu
teknologi
b) Mahasiswa mampu menambah keyakinan beragama

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Ilmu dan Ilmu Pengetahuan
Menurut Sutrisno Hadi, ilmu pengetahuan adalah kumpulan dari pengalamanpengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara
harmonis dalam suatu bangunan yang teratur. Sedangkan ilmu itu sendiri (yang berasal dari
kata science) adalah rangkaian keterangan tentang sesuatu yang berasal dari pengamatan
gejala-gejala alamiah (fenomena) melalui studi dan pengalaman yang disusun dalam sebuah
sistem untuk menentukan hakekat dari yang dimaksud. Dari pengertian ini terlihat bahwa
rasio lebih dominan.Menurut pemikiran manusia secara umum, hakekat ilmu adalah
hubungan antara subyek terhadap obyek (timbal balik) menurut suatu idea (cita-cita). Selain
definisi tersebut, masih banyak definisi lain tentang ilmu dan ilmu pengetahuan dari para ahli,
tetapi bagaimana halnya menurut Al-Quran? Pada Al-Baqarah:31 secara fungsional berlaku
pada kita bahwa ilmu yang pertama adalah wahyu Allah. Dan Dia mengajarkan kepada Adam
nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat
lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orangorang yang benar! Dan juga dijelaskan dalam surat Ar-Rahman ayat 1 dan 2 bahwa AlQuran adalah suatu ilmu.(Tuhan ) Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan AlQuran.Dan yang dimaksud ilmu dalam Al-Quran adalah rangkaian keterangan yang
bersumber dari Allah.yang diberikan kepada manusia baik melalui rasul-Nya ataupun
langsung kepada manusia yang menghendakinya tentang alam semesta sebagai ciptaan Allah
yang bergantung menurut ketentuan dan kepastian-Nya.

2.2. Al -Quran Sebagai Sumber dari Segala Ilmu Pengetahuan


Terkadang manusia tidak menyadari bahwa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang
muncul dalam pemikiran mereka akan alam beserta isinya terdapat dalam Al-Quran. Namun
bukannya justru kembali ke Al-Quran, malah mencari sumber dari berbagai buku, internet
dan sebagainya. Padahal jawaban dari masalah pengetahuan itu secara tersurat/tersirat
terdapat dalam Al-Quran.
Mulai dari hal yang kecil, seperti Metodologi Penelitian. Islam memandang bahwa
dalam menyususn penelitian, seorang peneliti harus dapat memandang permasalahan secadra
jujur dan melepaskan subyektifnya, baik subyektif dalam hal perasaan ataupun
lingkungannya. Dalam Al-Maidah ayat 27-31 disebutkan bahwa seorang anak Adam yang
mengambil kesimpulan berdasarkan subyektifnya, akan berakibat melakukan tindak pidana
pembunuhan terhadap saudaranya. Akibat dari tindak-tanduknya yang tidak mampu
menyelesaikan permasalahan secara tuntas, membuatnya bingung sendiri. Selain itu, ayat ini

menjelaskan bahwa manusia banyak pula mengambil pelajaran dari alam dan jangan segansegan mengambil pelajaran dari yang lebih rendah tingkatan pengetahuannya.
Berikut ini beberapa potongan ayat tentang teknologi.
Yunus:101,
Katakanlah:Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfat
tanda kekuasaan Allah dan asul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang
tidak beriman
Thaahaa:114
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesagesa membaca Al Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan
katkanlah:Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku Ilmu Pengetahuan
Al-Mulk:3-4
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.Kamu sekali-kali tidak melihat
pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah
berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?Kemudian pandanglah
sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali padamu dengan tidak menemukan sesuatu
cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.
Al-Alaq:1-5
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya.

2.3. Korelasi antara Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan


Hubungan antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dari banyak atau
tidaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dikandungnya, tetapi yang lebih utama
adalah melihat: adakah Al-Quran atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi ilmu pengetahuan atau
mendorongnya, karena kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya diukur melalui sumbangan
yang diberikan kepada masyarakat atau kumpulan ide dan metode yang dikembangkannya,
tetapi juga pada sekumpulan syarat-syarat psikologis dan sosial yang diwujudkan, sehingga
mempunyai pengaruh (positif ataupun negatif) terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.
Sejarah membuktikan bahwa Galileo ketika mengungkapkan penemuan ilmiahnya
tidak mendapat tantangan dari satu lembaga ilmiah, kecuali dari masyarakat di mana ia hidup.
Mereka memberikan tantangan kepadanya atas dasar kepercayaan agama. Akibatnya, Galileo
pada akhirnya menjadi korban penemuannya sendiri.

Dalam Al-Quran ditemukan kata-kata "ilmu" dalam berbagai bentuknya yang terulang
sebanyak 854 kali. Di samping itu, banyak pula ayat-ayat Al-Quran yang menganjurkan
untuk menggunakan akal pikiran, penalaran, dan sebagainya, sebagaimana dikemukakan oleh
ayat-ayat yang menjelaskan hambatan kemajuan ilmu pengetahuan, antara lain:
Subjektivitas: (a) Suka dan tidak suka ( QS 43:78; 7:79);
(b) Taqlid atau mengikuti tanpa alasan (QS 33:67; 2:170).
(c) Angan-angan dan dugaan yang tak beralasan (QS 10:36).
(d) Bergegas-gegas dalam mengambil keputusan atau kesimpulan (QS 21:37).
(e) Sikap angkuh (enggan untuk mencari atau menerima kebenaran) (QS
7:146).
Di samping itu, terdapat tuntutan-tuntutan antara lain:
Jangan bersikap terhadap sesuatu tanpa dasar pengetahuan (QS 17:36), dalam arti
tidak menetapkan sesuatu kecuali benar-benar telah mengetahui duduk persoalan (baca,
antara lain, QS 36:17), atau menolaknya sebelum ada pengetahuan (baca, antara lain, QS
10:39).
Jangan menilai sesuatu karena faktor eksternal apa pun walaupun dalam pribadi tokoh
yang paling diagungkan seperti Muhammad saw.
Ayat-ayat semacam inilah yang mewujudkan iklim ilmu pengetahuan dan yang telah
melahirkan pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan Islam dalam berbagai disiplin ilmu.
"Tiada yang lebih baik dituntun dari suatu kitab akidah (agama) menyangkut bidang ilmu
kecuali anjuran untuk berpikir, serta tidak menetapkan suatu ketetapan yang menghalangi
umatnya untuk menggunakan akalnya atau membatasinya menambah pengetahuan selama
dan di mana saja ia kehendaki." Inilah korelasi pertama dan utama antara Al-Quran dan ilmu
pengetahuan.
Korelasi kedua dapat ditemukan pada isyarat-isyarat ilmiah yang tersebar dalam
sekian banyak ayat Al-Quran yang berbicara tentang alam raya dan fenomenanya. Isyaratisyarat tersebut sebagiannya telah diketahui oleh masyarakat Arab ketika itu. Namun, apa
yang mereka ketahui itu masih sangat terbatas dalam perinciannya.
Di lain segi, paling sedikit ada tiga hal yang dapat disimpulkan dari pembicaraan AlQuran tentang alam raya dan fenomenanya:
Al-Quran memerintahkan atau menganjurkan manusia untuk memperhatikan dan
mempelajarinya dalam rangka meyakini ke-Esa-an dan kekuasaan Tuhan. Dari perintah ini,
tersirat pengertian bahwa manusia memiliki potensi untuk mengetahui dan memanfaatkan
hukum-hukum yang mengatur fenomena alam tersebut, namun pengetahuan dan pemanfaatan
ini bukan merupakan tujuan puncak (ultimate goal).
Alam raya beserta hukum-hukum yang diisyaratkannya itu diciptakan, dimiliki, dan
diatur oleh ketetapan-ketetapan Tuhan yang sangat teliti. Ia tidak dapat melepaskan diri dari
ketetapan-ketetapan tersebut kecuali bila Tuhan menghendakinya. Dari sini, tersirat bahwa:
4

(a) alam raya atau elemen-elemennya tidak boleh disembah;


(b) manusia dapat menarik kesimpulan tentang adanya ketepatan-ketepatan yang
bersifat umum dan mengikat yang mengatur alam raya ini (hukum-hukum alam).
Redaksi yang digunakan oleh Al-Quran dalam uraiannya tentang alam raya dan
fenomenanya itu, bersifat singkat, teliti dan padat, sehingga pemahaman atau penafsiran
tentang maksud redaksi-redaksi tersebut sangat bervariasi sesuai dengan tingkat kecerdasan
dan pengetahuan masing-masing.
Dalam kaitannya dengan butir ketiga ini, kita perlu menggaris bawahi beberapa
prinsip pokok:
a. Setiap Muslim, bahkan setiap orang, berkewajiban untuk mempelajari dan memahami kitab
suci yang dipercayainya. Namun, walaupun demikian, hal tersebut bukan berarti bahwa
setiap orang bebas untuk menafsirkan atau menyebarluaskan pendapatnya tanpa
memenuhi syarat-syarat yang dibutuhkan guna mencapai maksud tersebut.
b. Al-Quran diturunkan bukan hanya khusus untuk orang-orang Arab ummiyin yang hidup
pada masa Rasul saw., tidak pula untuk generasi abad keduapuluh ini, tetapi juga untuk
seluruh manusia hingga akhir zaman. Mereka semua diajak berdialog oleh Al-Quran dan
dituntut untuk menggunakan akalnya.
c. Berpikir secara modern, sesuai dengan keadaan zaman dan tingkat pengetahuan seseorang;
tidak berarti menafsirkan Al-Quran secara spekulatif90 atau terlepas dari kaidah-kaidah
penafsiran yang telah disepakati oleh para ahli di bidang ini.

2.4. Sifat Penemuan Ilmiah


Seperti telah dikemukakan di atas bahwa hasil pemikiran seseorang dipengaruhi oleh
banyak faktor, antara lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalamannya.
Perkembangan ilmu pengetahuan sudah sedemikian pesatnya, sehingga dari faktor ini saja
pemahaman terhadap redaksi Al-Quran dapat berbeda-beda.
Namun perlu kiranya digarisbawahi bahwa apa yang dipersembahkan oleh para ahli
dari berbagai disiplin ilmu, sangat bervariasi dari segi kebenarannya. Nah, bertitik tolak dari
prinsip "larangan menafsirkan Al-Quran secara spekulatif", maka penemuan-penemuan
ilmiah yang belum mapan tidak dapat dijadikan dasar dalam menafsirkan Al-Quran.
Seseorang bahkan tidak dapat mengatasnamakan Al-Quran terhadap perincian
penemuan ilmiah yang tidak dikandung oleh redaksi ayat-ayatnya, karena Al-Quran --seperti
yang telah dikemukakan dalam pembahasan semula-- tidak memerinci seluruh ilmu
pengetahuan, walaupun ada yang berpendapat bahwa Al-Quran mengandung pokok-pokok
segala macam ilmu pengetahuan.
Ayat 30 surat Al-Anbiya', yang menjelaskan bahwa langit dan bumi pada suatu ketika
merupakan suatu gumpalan kemudian dipisahkan Tuhan, merupakan suatu hakikat ilmiah

yang tidak diketahui pada masa turunnya Al-Quran oleh masyarakatnya. Tetapi ayat ini tidak
memerinci kapan dan bagaimana terjadinya hal tersebut.
Setiap orang bebas dan berhak untuk menyatakan pendapatnya tentang "kapan dan
bagaimana", tetapi ia tidak berhak untuk mengatasnamakan Al-Quran dalam kaitannya
dengan pendapatnya jika pendapat tadi melebihi kandungan redaksi ayat-ayat tersebut.
Tetapi, hal ini bukan berarti bahwa seseorang dihalangi untuk memahami arti suatu ayat
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Hanya selama pemahaman tersebut sejalan
dengan prinsip ilmu tafsir yang telah disepakati, maka tak ada persoalan.
Dahulu, misalnya, ada ulama yang memahami arti sab' samawat (tujuh langit) dengan
tujuh planet yang mengedari tata surya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan ketika
itu. Pemahaman semacam ini, ketika itu, dapat diterima. "Ini adalah suatu ijtihad yang baik
yang merupakan pendapat seseorang, selama dia tidak mewajibkan dirinya mempercayai hal
tersebut sebagai suatu i'tiqad (kepercayaan) dan tidak pula mewajibkan kepercayaan tersebut
kepada orang lain.

2.5. Konsep Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Dalam Islam


Peradaban manusia mengalami puncak kejayaan di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi(IPTEK). Iptek menjadi dasar dan pondasi yang menyangga bangunan peradaban
modern. Hal ini berarti masa depan suatu bangsa akan banyak di tentukan oleh tingkat
penguasaannya terhadap Iptek.
Definisi tentang sains dan teknologi telah diberikan oleh para filosof dan ilmuan.
Pengetahuan adalah segala suatu yang diketahui manusia melalui tangkapan panca indra,
intuisi, dan akal, sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang sudah diklarifikasi,
diorganisasi, disistematisasi, dan di interpretasi sehingga menghasilkan kebenaran objektif,
dapat di uji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Secara etimologis, ilmu berarti
kejelasan
Teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan. Teknologi didefinisikan sebagai
kemampuan teknik dalam pengertian yang utuh dan menyeluruh, bertopang kepada
pengetahuan ilmu-ilmu alam yang bersandar kepada proses teknik tertentu. Sedangkan teknik
adalah semua manifestasi dalam arti materi yang lahir dari daya cipta manusia untuk
membuat segala sesuatu yang bermanfaat guna, mempertahankan kehidupan.
Pada dasarnya teknologi memiliki karakteristik objektif dan netral, namun dalam
situasi tertentu, teknologi tidak netral karena memiliki potensi merusak dan potensi
kekuasaan. Disinilah letak perbedaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam pemikiran islam ada dua sumber ilmu:
- Akal
- Wahyu
Keduanya tidak boleh di pertentangkan. Manusia diberi kebebasan dalam
mengembangkan akal budinya berdasarkan tuntunan Quran dan sunnah Rasul. Dalam
pemikiran islam memiliki dua sifat yaitu,
6

Bersifat abadi, tingkat kebenaran bersifat mutlak (absolute), karena bersumber dari
wahyu Allah. Ilmu yang bersifat perolehan (acquired knowledge).
Sifat kebenarannya bersifat nisbi (relative) karena bersumber dari akal pemikiran
manusia.

Dalam pandangan islam, antara agama, ilmu pengetahuan dan teknologi terdapat
hubungan yang harmonis yang terintegrasi ke dalam suatu system yang disebut Dinul Islam.
Islam memiliki tiga unsur pokok yaitu: Akidah, syariah, dan akhlak. Islam merupakan
ajaran agama yang sempurna. Kesempurnaannya dapat tergambar dalam keutuhan inti
ajarannya. Ketiga inti ajaran ajaran itu terintegrasi di dalam sebuah system ajaran yang
disebut Dinul Islam.
Dalam QS.14 (Ibraim):24 25 dinyatakan:
Artinya ; (24) Maka kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik sepeti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke
langit, (25) Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.
Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat
Ayat di atas menggambarkan keutuhan antara iman, ilmu, dan amal atau Aqidah,
syariah dan Akhlak dengan menganologikan bangunan Dinul Islam, bagaikan sebatang
pohon yang baik. Akarnya menghujam ke bumi, batangnya menjulang tinggi ke langit,
cabangnya atau dahannya rindang dan buahnya lebat. Ini merupakan gambaran bahwa antara
iman, ilmu dan amal merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak dapat pisahkan antara satu
sama lain. Iman diidentikan dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya ajaran
islam. Ilmu bagaikan batang pohon yang mengeluarkan dahan-dahan cabang-cabang ilmu
pengetahuan. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni.
Iptek yang dikembangkan diatas nilai-nilai iman dan ilmu akan menghasilkan amal shalih,
bukan kerusakan alam.

2.6. Khazanah Kemajuan Iptek Dalam Sejarah Peradaban Islam


Peradaban islam mengalami proses jatuh bangun, berbagai peristiwa telah menghiasi
perjalanannya. Sejarawan barat beraliran konservatif, W Montomery watt menganalisa
tentang rahasia kemajuan peradapan islam, ia mengatakan bahwa islam tidak mengenal
pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika dan ajaran agama. Satu dengan yang
lain, dijadikan dalam satu tarikan nafas. Orientalis sedillot menyatakan bahwa hanya bangsa
arab pemikul panji panji peradapan abad pertengahan. Andalusia yang menjadi pusat ilmu
pengetahuan di masa kejayaan islam, telah melahirkan ribuan ilmuan, dan menginspirasi para
ilmuan barat untuk belajar di kemajuan iptek yang dibangun kaum muslimin. Ilmu
pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga.
Perpustakaan umum banyak dibangun di masa kejayaan islam, misalnya perpustakaan
al-ahkamdi Andalusia, merupakan perpustakaan yang sangat besar dan luas memiliki 400 ribu
buah buku dan uniknya perpustakaan ini sudah memiliki katalog. Perpustakaan umum Tripoli
di daerah syam, memiliki sekitar tiga juta judul buku, termasuk 50000 eksemplar Al-quran
7

dan tafsirannya. Khazanah islam yang gemilang akhirnya dihancurkan. Peradaban Islam
memang peradaban emas yang mencerahkan dunia. Itu sebabnya menurut Montgomery, tanpa
dukungan peradaban Islam yang menjadi dinamonya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika
Barat berhutang budi pada Islam.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para
khalifah dan para pembesar lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan
dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah para ulama yang
mencintai ilmu, menghormati sarjana dan memuliakan pujangga. Kebebasan berpikir sebagai
hak asasi manusia diakui sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan pikiran dibebaskan benarbenar dari belenggu taklid, hal mana menyebabkan orang sangat leluasa mengeluarkan
pendapat dalam segala bidang, termasuk bidang aqidah, falsafah, ibadah dan sebagainya.
Badri yatim mengungkapkan bahwa di masa khilafah abasiyyah, telah lahir ilmuanilmuan islam dengan berbagai penemuannya yang menguncagkan dunia diantaranya:
Al- khawarizmi (780-850) menemukan angka nol dan namanya diabadikan dalam
cabang ilmu matematika, algorima (logaritma). Ibnu sina (980-103) membuat termometer
udara untuk mengukur suhu udara. Al- biruni (973-1048) melakukan pengamatan terhadap
tanaman. Hasil panen yang memuaskan dengan system irigasi modern (abad ke 18 dan 5 m)
di irak. Kecanggihan di bidang arsitektur, seperti masjid agung cordoba di bangun oleh almutawakkil.
Kegemilangan islam dizaman pertengahan, tidak hanya mampu berkompetisi dengan
barat, tetapi juga menjadi kiblat peradapan dunia disebabkan oleh pengembangan ilmu
pngetahuan dan teknologi didasarkan atas iman dan takwa. Dunia Barat yang melandasi
pengembangan Ipteknya hanya untuk kepentingan duniawi yang matre dan sekular, maka
Islam mementingkan pengembangan dan penguasaan Iptek untuk menjadi sarana ibadahpengabdian Muslim kepada Allah swt dan mengembang amanat Khalifatullah
(wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan
menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil Alamin). Ada lebih dari 800 ayat
dalam Al-Quran yang mementingkan proses perenungan, pemikiran dan pengamatan terhadap
berbagai gejala alam, untuk ditafakuri dan menjadi bahan dzikir (ingat) kepada Allah. Yang
paling terkenal adalah ayat:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal, (yaitu) orangorang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa neraka. (QS Ali Imron [3] : 190-191)
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu
pengetahuan beberapa derajat. (QS. Mujadillah [58]: 11 )
Bagi umat Islam, kedua-duanya adalah merupakan ayat-ayat (atau tanda-tanda) keMahakuasa-an dan Keagungan Allah swt. Ayat tanziliyah/naqliyah (yang diturunkan atau
transmited knowledge), seperti kitab-kitab suci dan ajaran para Rasul Allah (Taurat, Zabur,
Injil dan Al Quran), maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena, prinsip-prinsip dan hukum alam),
keduanya bila dibaca, dipelajari, diamati dan direnungkan, melalui mata, telinga dan hati
(qalbu + akal) akan semakin mempertebal pengetahuan, pengenalan, keyakinan dan keimanan
8

kita kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa, Wujud yang wajib, Sumber segala sesuatu
dan segala eksistensi). Jadi agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak terlepas satu
sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata uang koin yang
sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat secara
sinergis, holistik dan integratif.

2.7. Berperilaku Islami Dalam Menghadapi Kemajuan Iptek


Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh peradaban
Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di berbagai penjuru dunia.
Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan oleh perkembangan Iptek
modern tersebut membuat banyak orang lalu mengagumi dan meniru-niru gaya hidup
peradaban Barat tanpa dibarengi sikap kritis terhadap segala dampak negatif dan krisis
multidimensional yang diakibatkannya.
Peradaban Barat modern dan postmodern saat ini memang memperlihatkan kemajuan
dan kebaikan kesejahteraan material yang seolah menjanjikan kebahagian hidup bagi umat
manusia. Namun karena kemajuan tersebut tidak seimbang, pincang, lebih mementingkan
kesejahteraan material bagi sebagian individu dan sekelompok tertentu negara-negara maju
saja dengan mengabaikan, bahkan menindas hak-hak dan merampas kekayaan alam negara
lain dan orang lain yang lebih lemah kekuatan iptek, ekonomi dan militernya, maka kemajuan
di Barat melahirkan penderitaan kolonialisme-imperialisme (penjajahan) di Dunia Timur &
Selatan.
Kemajuan Iptek di Barat, yang didominasi oleh pandangan dunia dan paradigma sains
(Iptek) yang positivistik-empirik sebagai anak kandung filsafat-ideologi materialismesekuler, pada akhirnya juga telah melahirkan penderitaan dan ketidak bahagiaan
psikologis/ruhaniah pada banyak manusia baik di Barat maupun di Timur.
Krisis multidimensional terjadi akibat perkembangan Iptek yang lepas dari kendali
nilai-nilai moral Ketuhanan dan agama. Krisis ekologis, misalnya: berbagai bencana alam:
Tsunami, gempa dan kacaunya iklim dan cuaca dunia akibat pemanasan global yang
disebabkan tingginya polusi industri di negara-negara maju, Kehancuran ekosistem laut dan
keracunan pada penduduk pantai akibat polusi yang dihasilkan oleh pertambangan mineral
emas, perak dan tembaga, seperti yang terjadi di Buyat, Sulawesi Utara dan di Freeport
Papua, Minamata Jepang. Kebocoran reaktor Nuklir di Chernobil, Rusia, dan di India, dll.
Krisis Ekonomi dan politik yang terjadi di banyak negara berkembang dan negara miskin,
terjadi akibat ketidakadilan dan penjajahan (neo-imperialisme) oleh negara-negara maju
yang menguasai perekonomian dunia dan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya adalah
negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara ekonomi dan juga
lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan sains-teknologi. Karena
nyatanya saudara-saudara Muslim kita itu banyak yang masih bodoh dan lemah, maka
mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya. Beberapa di antara mereka kemudian
9

menjadi hamba budaya dan pengikut buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka
menyerap begitu saja nilai-nilai, ideologi dan budaya materialis (matre) dan sekular (anti
Tuhan) yang dicekokkan melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat.
Akibatnya krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar
bangsa-bangsa Muslim.
Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi ajaran suci
Ilahiah dan peradaban dan Iptek Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di
negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin kualitas
sumberdaya manusianya (pendidikan dan Ipteknya). Ketidak adilan global ini terlihat dari
fakta bahwa 80% kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 20 % penduduk kaya di negara-negara
maju. Sementara 80% penduduk dunia di negara-negara miskin hanya memperebutkan
remah-remah sisa makanan pesta pora bangsa-bangsa negara maju.
Ironis bahwa Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya alam minyak dan gas
bumi, justru mengalami krisis dan kelangkaan BBM. Ironis bahwa ditengah keberlimpahan
hasil produksi gunung emas-perak dan tembaga serta kayu hasil hutan yang ada di Indonesia,
kita justru mengalami kesulitan dan krisis ekonomi, kelaparan, busung lapar, dan berbagai
penyakit akibat kemiskinan rakyat. Kemana harta kekayaan kita yang Allah berikan kepada
tanah air dan bangsa Indonesia ini? Mengapa kita menjadi negara penghutang terbesar dan
terkorup di dunia?
Kenyataan menyedihkan tersebut sudah selayaknya menjadi cambuk bagi kita bangsa
Indonesia yang mayoritas Muslim untuk gigih memperjuangkan kemandirian politik,
ekonomi dan moral bangsa dan umat. Kemandirian itu tidak bisa lain kecuali dengan
pembinaan mental-karakter dan moral (akhlak) bangsa-bangsa Islam sekaligus menguasai
ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi keimanan-taqwa kepada Allah SWT. Serta
melawan pengaruh buruk budaya sampah dari Barat yang Sekular, Matre dan hedonis
(mempertuhankan kenikmatan hawa nafsu).
Akhlak yang baik muncul dari keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT Sumber
segala Kebaikan, Keindahan dan Kemuliaan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT
hanya akan muncul bila diawali dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan pengenalan
terhadap Tuhan Allah SWT dan terhadap alam semesta sebagai tajaliyat (manifestasi) sifatsifat KeMahaMuliaan, Kekuasaan dan Keagungan-Nya.
Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat
mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan
merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang melandasi pengembangan Ipteknya
hanya untuk kepentingan duniawi yang matre dan sekular, maka Islam mementingkan
pengembangan dan penguasaan Iptek untuk menjadi sarana ibadah-pengabdian Muslim
kepada Allah SWT dan mengembang amanat Khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka
bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam
(Rahmatan lil Alamin). Ada lebih dari 800 ayat dalam Al-Quran yang mementingkan proses
perenungan, pemikiran dan pengamatan terhadap berbagai gejala alam, untuk ditafakuri dan
menjadi bahan dzikir (ingat) kepada Allah. Yang paling terkenal adalah ayat:
10

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal, (yaitu) orangorang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa neraka. (QS Ali Imron [3] : 190-191)
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu
pengetahuan beberapa derajat. (QS. Mujadillah [58] : 11 )
Bagi umat Islam, kedua-duanya adalah merupakan ayat-ayat (atau tanda-tanda/sinyal)
KeMahaKuasaan dan Keagungan Allah SWT. Ayat tanziliyah/naqliyah (yang diturunkan atau
transmited knowledge), seperti kitab-kitab suci dan ajaran para Rasulullah (Taurat, Zabur,
Injil dan Al Quran), maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena, prinsip-prinsip dan hukum
alam), keduanya bila dibaca, dipelajari, diamati dan direnungkan, melalui mata, telinga dan
hati (qalbu + akal) akan semakin mempertebal pengetahuan, pengenalan, keyakinan dan
keimanan kita kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, Wujud yang wajib, Sumber
segala sesuatu dan segala eksistensi). Jadi agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak
terlepas satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata
uang koin yang sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling
memperkuat secara sinergis, holistik dan integratif.
Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama Islam yang menentang fakta-fakta
ilmiah, maka kemungkinan yang salah adalah pemahaman dan tafsiran terhadap ajaran agama
tersebut. Bila ada ilmu pengetahuan yang menentang prinsip-prinsip pokok ajaran agama
Islam maka yang salah adalah tafsiran filosofis atau paradigma materialisme-sekular yang
berada di balik wajah ilmu pengetahuan modern tersebut.
Karena alam semesta yang dipelajari melalui ilmu pengetahuan, dan ayat-ayat suci
Tuhan (Al-Quran) dan Sunnah Rasulullah SAAW yang dipelajari melalui agama ,
adalah sama-sama ayat-ayat (tanda-tanda dan perwujudan/tajaliyat) Allah SWT, maka tidak
mungkin satu sama lain saling bertentangan dan bertolak belakang, karena keduanya berasal
dari satu Sumber yang Sama, Allah Yang Maha Pencipta dan Pemelihara seluruh Alam
Semesta.
Dalam membicarakan tentang iptek mulai dikaitkan dengan moral dan agama. Dalam
kaitan ini, keterkaitan iptek dengan moral (agama) diharapkan bukan hanya pada aspek
penggunaannya saja (aksiologi), tapi juga pada pilihan objek (ontology) dan metodologi
(epistemology) nya sekaligus.
Dinegara ini gagasan tentang pendidikan imtak dan iptek sudah lama di gulirkan
seperti yang diterapkan BJ.Habibie karena adanya problem dikotomi antara apa yang di
namakan ilmu-ilmu umum (sains) dan ilmu-ilmiu agama (islam) juga disebabkan adanya
kenyataan bahwa pengembangan iptek dalam system pendidikan di Indonesia tampaknya
berjalan sendiri tanpa dukungan asas iman dan taqwa yang kuat sehingga pengembangan dan
kemajuan iptek tidak memiliki nilai tambah dan manfaat untuk kemaslahatan umat dan
bangsa.
Secara lebih spesifik integrasi pendidikan imtak dan iptek di perlukan karena empat
alasan :
11

Iptek akan memberikan berkah dan manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan
hidup manusia bila iptek disertai oleh asas iman dan taqwa kepada allah SWT. Sebaliknya,
tanpa asas imtak,iptek bisa disalah gunakan pada tujuan-tujuan yang bersifat destruktif
(merusak).
Iptek yang menjadi dasar modernisme, telah menimbulkan pola dan gaya hidup baru
yang bersifat sekularistik, materialistic dan hedonistic yang sangat berlawanan dengan nilainilai budaya dan agama yang di anut oleh bangsa Indonesia
Dalam kehidupan, manusia tidak hanya memerlukan sepotong roti (kebutuhan
jasmani), tetapi juga membutuhkan imtak dan nilai-nilai surgawi( kebutuhan spiritual) oleh
karena itu, penekanan pada salah satu sisi, akan menyebabkan kehidupan menjadi pincang
dan berat sebelah , dan menyalahi hipnat kebijaksanaan tuhan yang telah menciptakan
manusia dalam kesatuan jiwa raga, lahir dan batin, dunia dan akhirat
Imtaq menjadi landasan dan dasar paling kuat yang akan mengantar manusia
menggapai kebahagiaan hidup, tanpa dasar imtak, segala atribut duniawi, seperti harta,
pangkat, iptek, dan keturunan, tidak akan mampu alias gagal mengantar manusia meraih
kebahagiaan. Kemajuan dalam semua itu, tanpa iman dan upaya mencari ridha allah SWT,
hanya akan menghasilkan fatamorgana yang tidak menjanjikan apa-apa selain bayangan palsu
(QS.an-nur 39 ) maka itegrasi imtak dan iptek harus di upayakan dalam format yang tepat ,
sehingga keduanya berjalan seimbang dan dapat mengantar manusia meraih kebaikan dunia
(hasanah fi al-dunya) dan kebaikan akhirat ( hasanah fi al-akhira).( QS Al-baqaraah:201).

2.8. Aqidah Islam Sebagai Dasar Iptek


Inilah peran pertama yang dimainkan Islam dalam iptek, yaitu aqidah Islam harus
dijadikan basis segala konsep dan aplikasi iptek. Inilah paradigma Islam sebagaimana yang
telah dibawa oleh Rasulullah SAW.
Paradigma Islam inilah yang seharusnya diadopsi oleh kaum muslimin saat ini. Bukan
paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Diakui atau tidak, kini umat Islam telah telah
terjerumus dalam sikap membebek dan mengekor Barat dalam segala-galanya, dalam
pandangan hidup, gaya hidup, termasuk dalam konsep ilmu pengetahuan. Bercokolnya
paradigma sekuler inilah yang bisa menjelaskan, mengapa di dalam sistem pendidikan yang
diikuti orang Islam, diajarkan system ekonomi kapitalis yang pragmatis serta tidak kenal
halal haram. Eksistensi paradigma sekuler itu menjelaskan pula mengapa tetap diajarkan
konsep pengetahuan yang bertentangan dengan keyakinan dan keimanan muslim. Misalnya;
Teori Darwin yang dusta dan sekaligus bertolak belakang dengan Aqidah Islam. Bahwa
manusia adalah hasil evolusi dari organisme sederhana yang selama jutaan tahun berevolusi
melalui seleksi alam menjadi organisme yang lebih kompleks hingga menjadi manusia
modern sekarang
Kekeliruan paradigmatis ini harus dikoreksi. Ini tentu perlu perubahan fundamental
dan perombakan total. Dengan cara mengganti paradigma sekuler yang ada saat ini, dengan

12

paradigma Islam yang memandang bahwa Aqidah Islam (bukan paham sekularisme) yang
seharusnya dijadikan basis bagi bangunan ilmu pengetahuan manusia.
Namun di sini perlu dipahami dengan seksama, bahwa ketika Aqidah Islam dijadikan
landasan iptek, bukan berarti konsep-konsep iptek harus bersumber dari Al-Qur`an dan AlHadits, tapi maksudnya adalah konsep iptek harus distandardisasi benar salahnya dengan
tolok ukur Al-Qur`an dan Al-Hadits dan tidak boleh bertentangan dengan keduanya (AlBaghdadi, 1996:12).
Jika kita menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek, bukan berarti bahwa ilmu
astronomi, geologi, agronomi, dan seterusnya, harus didasarkan pada ayat tertentu, atau hadis
tertentu. Kalau pun ada ayat atau hadis yang cocok dengan fakta sains, itu adalah bukti
keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu (lihat QS An-Nisaa` [4] :126 dan QS AthThalaq[65]:12), bukan berarti konsep iptek harus bersumber pada ayat atau hadis tertentu.
Misalnya saja dalam astronomi ada ayat yang menjelaskan bahwa matahari sebagai pancaran
cahaya dan panas (QS Nuh [71] : 16), bahwa langit (bahan alam semesta) berasal dari asap
(gas) sedangkan galaksi-galaksi tercipta dari kondensasi (pemekatan) gas tersebut (QS
Fushshilat [41] : 11-12), dan seterusnya. Ada sekitar 750 ayat dalam Al-Qur`an yang
semacam ini (Lihat Al-Baghdadi, 2005:113). Ayat-ayat ini menunjukkan betapa luasnya ilmu
Allah sehingga meliputi segala sesuatu, dan menjadi tolok ukur kesimpulan iptek, bukan
berarti bahwa konsep iptek wajib didasarkan pada ayat-ayat tertentu.
Jadi, yang dimaksud menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek bukanlah
bahwa konsep iptek wajib bersumber kepada Al-Qur`an dan Al-Hadits, tapi yang dimaksud,
bahwa iptek wajib berstandar pada Al-Qur`an dan Al-Hadits. Ringkasnya, Al-Qur`an dan AlHadits adalah standar (miqyas) iptek, dan bukannya sumber (mashdar) iptek. Artinya, apa
pun konsep iptek yang dikembangkan, harus sesuai dengan Al-Qur`an dan Al-Hadits, dan
tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur`an dan Al-Hadits itu. Jika suatu konsep iptek
bertentangan dengan Al-Qur`an dan Al-Hadits, maka konsep itu berarti harus ditolak.
Misalnya saja Teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari
organisme sederhana yang selama jutaan tahun berevolusi melalui seleksi alam menjadi
organisme yang lebih kompleks hingga menjadi manusia modern sekarang. Berarti, manusia
sekarang bukan keturunan manusia pertama, Nabi Adam AS, tapi hasil dari evolusi organisme
sederhana. Ini bertentangan dengan firman Allah SWT yang menegaskan, Adam AS adalah
manusia pertama, dan bahwa seluruh manusia sekarang adalah keturunan Adam AS, bukan
keturunan makhluk lainnya sebagaimana fantasi Teori Darwin (Zallum, 2001). Firman Allah
SWT (artinya) :
(Dialah Tuhan) yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia
menciptakan keturunannya dari sari pati air yang hina (mani). (QS As-Sajdah[32] : 7)
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal mengenal.(QS Al-Hujuraat [49] : 13)
Implikasi lain dari prinsip ini, yaitu Al-Qur`an dan Al-Hadits hanyalah standar iptek,
dan bukan sumber iptek, adalah bahwa umat Islam boleh mengambil iptek dari sumber kaum
non muslim (orang kafir). Dulu Nabi SAW menerapkan penggalian parit di sekeliling
Madinah, padahal strategi militer itu berasal dari tradisi kaum Persia yang beragama Majusi.
Dulu Nabi SAW juga pernah memerintahkan dua sahabatnya memepelajari teknik
13

persenjataan ke Yaman, padahal di Yaman dulu penduduknya adalah Ahli Kitab (Kristen).
Umar bin Khatab pernah mengambil sistem administrasi dan pendataan Baitul Mal (Kas
Negara), yang berasal dari Romawi yang beragama Kristen. Jadi, selama tidak bertentangan
dengan aqidah dan syariah Islam, iptek dapat diadopsi dari kaum kafir. Syariah Islam Standar
Pemanfaatan Iptek
Peran kedua Islam dalam perkembangan iptek, adalah bahwa Syariah Islam harus
dijadikan standar pemanfaatan iptek. Ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam)
wajib dijadikan tolok ukur dalam pemanfaatan iptek, bagaimana pun juga bentuknya. Iptek
yang boleh dimanfaatkan, adalah yang telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sedangkan iptek
yang tidak boleh dimanfaatkan, adalah yang telah diharamkan syariah Islam.
Keharusan tolok ukur syariah ini didasarkan pada banyak ayat dan juga hadits yang
mewajibkan umat Islam menyesuaikan perbuatannya (termasuk menggunakan iptek) dengan
ketentuan hukum Allah dan Rasul-Nya. Antara lain firman Allah (artinya) :
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka
perselisihkan (QS An-Nisaa` [4] : 65)
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu
mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya (QS Al-A?raaf [7] : 3)
Sabda Rasulullah SAW :
Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang tidak ada perintah kami atasnya,
maka perbuatan itu tertolak. (HR Muslim)
Kontras dengan ini, adalah apa yang ada di Barat sekarang dan juga negeri-negeri
muslim yang bertaqlid dan mengikuti Barat secara membabi buta. Standar pemanfaatan iptek
menurut mereka adalah manfaat, apakah itu dinamakan pragmatisme atau pun utilitarianisme.
Selama sesuatu itu bermanfaat, yakni dapat memuaskan kebutuhan manusia, maka ia
dianggap benar dan absah untuk dilaksanakan. Meskipun itu diharamkan dalam ajaran
agama.
Keberadaan standar manfaat itulah yang dapat menjelaskan, mengapa orang Barat
mengaplikasikan iptek secara tidak bermoral, tidak berperikemanusiaan, dan bertentangan
dengan nilai agama. Misalnya menggunakan bom atom untuk membunuh ratusan ribu
manusia tak berdosa, memanfaatkan bayi tabung tanpa melihat moralitas (misalnya
meletakkan embrio pada ibu pengganti), mengkloning manusia (berarti manusia bereproduksi
secara a-seksual, bukan seksual), mengekploitasi alam secara serakah walaupun
menimbulkan pencemaran yang berbahaya, dan seterusnya.
Karena itu, sudah saatnya standar manfaat yang salah itu dikoreksi dan diganti dengan
standar yang benar. Yaitu standar yang bersumber dari pemilik segala ilmu yang ilmu-Nya
meliputi segala sesuatu, yang amat mengetahui mana yang secara hakiki bermanfaat bagi
manusia, dan mana yang secara hakiki berbahaya bagi manusia. Standar itu adalah segala
perintah dan larangan Allah SWT yang bentuknya secara praktis dan konkret adalah syariah
Islam.
Setiap manusia diberi hidayah allah SWT berupa Alat untuk mencapai dan
membuka kebenaran. Hidayah tersebut adalah Indra untuk menangkap kebenaran fisik,
Naluri untuk mempertahankan hidup dan kelangsungan hidup manusia secara pribadi,
maupun social. Pikiran dan atau kemampuan rasional yang mampu mengmbangkan
14

kemampuan tiga jenis pengetahuan akali (pengetahuan biasa, ilmiah dan fisafih). Akal juga
merupakan pengantar untuk menuju kebenaran tertinggi. Imajinasi, daya hayal yang mampu
menghasilkan kreativitas dan menyempurnakan pengetahuannya
Hati nurani, suatu kemampuan manusia untuk dapat menangkap kebenaran tingkah
laku manusia sebagai makhluk yang harus bermoral
Dalam menghadapi perkembangan budaya manusia dengan perkembangan iptek yang
pesat, perlu mencari keterkaitan antara sistem nilai dan norma-norma islam dengan
perkembangan tersebut. Menurut Mehdi Ghulsyani (1995), Menurut Al-Faruqi yang
mengintrodusir istilah.
Islamisasi Ilmu Pengetahuan dalam menghadapi perkembangan iptek ilmuwan
muslim dapat di kelompokan dalam 3 kelompok ;
1. Kelompok yang menganggap iptek modern bersifat netral dan berusaha melegitimasi
hasil-hasil iptek modern dengan mencari ayat-ayat al-quran yang sesuai
2. Kelompok yang bekerja dengan iptek modern, tetapi berusaha juga mempelajari
sejarh dan filsafat ilmu agar dapat menyaring elemen-elemen yamg tidak islami
3. Kelompok yang percaya adanya iptek islam dan berusaha membangunnya
Untuk menyikapi iptek dalam kehidupan sehari-hari yang islami adalah
memanfaatkan perkembangan iptek untuk meningkatkan martabat manusia dan
meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT. Sedangkan,kebenaran iptek menurut islam
adalah sebanding dengan kemanfaatannya iptek sendiri. Iptek akan bermanfaat apabila:

1. Mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan menjauhkannya


2. Dapan membantu umat merealisasikan tujuan-tujuannya (yang baik)
3. Dapat memberikan pedoman bagi sesama
4. Dapat menyelesaikan persoalan umat

2.9. Hadist Dan Ayat Tentang Iptek


1. Hadist tentang Iptek
Keguanaan mempelajari hadits secara teoritis dimaksudkan untuk penguasaan dan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga diharapkan lahir para ilmuan dan
astronomi muslim, sementara secara praktis adalah untuk keperluan yang terkait dengan
15

masalah ibadah, seperti shalat, kiblat, hisab rukyat serta gerhana. Shalat fardu dalam AlQuran sudah ditentukan waktunya sebagaimana dalam surat Al-Isra dinyatakan bahwa
shalat didirikan sejak matahari tergelincir sampai gelap malam dan waktu shubuh dan dalam
Surah Hud bahwa shalat itu didirikan pada waktu pagi dan petang.
Salah satu syarat sah shalat adalah menghadap kiblat, hal ini merupakan kesepakatan
para ulama dan sebagai landasannya dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 144.
Dalam Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Nabi
bersabda: apabila kamu hendak mendirikan Shalat maka sempurnakanlah wudhu lalu
menghadap qiblat dan bertakbirlah.
Demikian juga hisab awal bulan, ilmu falak sangat diperlukan untuk penentuan awal
bulan, terutama awal Ramadhan, Syawal, dan Dzul Hijjah.
Dengan demikian, dengan mengetahui dan memahami ilmu falak seseorang dapat
menentukan arah qiblat suatu tempat, seseorang dapat mengetahui apakah waktu shalat sudah
masuk atau belum dan seseorang dapat mengetahui kapan ibadah puasa dimulai dan kapan
akan berakhir.
Selanjutnya, dengan ilmu falak setiap muslim dapat memastikan kemana arah kiblat
bagi suatu tempat di permukaan bumi yang jauh dari mekkah. Dengannya pula setiap muslim
dapat mengetahui waktu shalat sudah tiba atau matahari sudah terbenam untuk berbuka
puasa. Dengannya juga perukyat dapat mengarahkan pandangannya ke posisi hilal, dengan
demikian ilmu falak atau ilmu hisab dapat menumbuhkan keyakinan bagi setiap muslim
dalam melakukan ibadah, sehingga ibadahnya lebih khusyu.
Kaitannya dengan hal tersebut dapat diperhatikan sabda Rasulullah saw sebagai
berikut:

Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang baik adalah mereka yang selalu memperhatikan
matahari dan bulan untuk mengingat Allah (HR.At-Tabrani).
Dan juga nabi Muhammad saw juga berkata :
Berpuasalah karena kamu melihat hilal, dan berbukalah karena kamu melihat hilal.
Apabila hilal itu tertutup debu atasmu maka sempurnakanlah bilangan Syahban tiga
puluh( H.R Bukhari )
Sedangkan hadist yang menyuruh kita untuk belajar ilmu astronomi dan transportasi adalah :
Belajarlah dari nasabmu apa yang dapat kamu sambung dengannya tali persaudaraanmu
kemudian sempurnakanlah dan belajarlah bahasa arab apa yang kamu ucapkannya kitab
Allah kemudian sempurnakanlah, kemudian belajarlah dari bintang-bintang apa yang kamu
dapatkan petunjuk dengannya didalam kegelapan daratan dan lautan kemudian
sempurnakanlah. (Imam al-baihaqi)
kemudian aku didatangi binatang yang disebut Buroq, yang lebih tinggi dari keledai namun
lebih pendek dari Baghol, yang setiap langkah kakinya adalah sejauh batas pandangan
16

mata. Aku dibawa di atasnya, kemudian kami pergi hingga kami mendatangi langit dunia.
( HR. Ahmad, Al-Bukhori,Muslim)

2. Ayat tentang Iptek

Gejala Fisis
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Al Imran :190).
Dalam ayat diatas kita diberi petunjuk, setidaknya tersirat beberapa makna antara lain
adalah: alam semesta yang senantiasa berproses tanpa henti dan menyajikan banyak sekali
gejala dalam seluruh dimensi ruang dan waktu yang terus berkembang.
Hanya kepada Allah lah tunduk/patuh segala apa yang ada dilangit dan di bumi baik
atas kesadarannya sendiri ataupun karena terpaksa, (dan sujud pula) bayang-bayangnya
diwaktu pagi dan petang (ar Raad :15)
Dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan kita bahwa apapun nama dan bentuk gejala
yang ditunjukan-Nya selalu mengikuti suatu sistem dengan hukum-hukum yang telah
ditetapkan-Nya.
Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah diwaktu senja, dan
dengan malam dan apa yang diselubunginya. Dan dengan bulan apabila jadi purnama,
sesungguhnya kamu melalui tingkat-demi tingkat. (Al Insyiqaaq 16-19)
Allah SWT menampilkan gejala fisis untuk diartikan sebagai perumpamaan antara
lain behwa terdapat 3 tahap yang harus dilalui manusia yaitu : pertama, adanya ketidaktahuan
kita seperti kita melihat dalam kegelapan malam. Kedua, adanya keragu-raguan kita seperti
halnya kepekaan kita melihat cahaya merah di waktu senja dan ketiga, ditunjukan-Nya gejala
fisis serta penjelasan secara nyata dan membawa isyarat keindahan dan keagungan-Nya.
Usaha dan Energi
Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdekatan (ar Rad : 4) Secara harfiah
diartikan sebagai berdekatan dalam dimensi tempat, sebagi daerah, wilayah, negara dsb. Yang
mempunyai potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya yang
mengolah, mengembangkan dan meningkatkan. Berikutnya potensi tersebut saling
dipertukarkan baik dari sisi keunggulan komparatif maupun kompetitif.
Magnet dan Logam
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari
apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka
ketahui. (Al Quran, 36:36)
Setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan dan hubungan
ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan
berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.
Elastisitas
Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca. (ar Rahman: 7).
Dalam ayat ini tersirat yang berhubungan dengan kenyataan yang telah diketahui manusia
17

dari berbagai gejala yang terlihat atau telah dilakukan percobaan dan pengukurannya. Dalam
kaitan masalah yang akan di bahas di sini, bukan peristiwa pemuaiannya atau
keseimbangannya , namun ada suatu sifat yang menertai dalam peristiwa itu yaitu sifat
kelenturan atau elastis.

Gelombang
Dan diantara tanda -tanda kekuasaanNya ialah bahwa Dia mengirimkan angin
sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmatNya
dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintahNya dan supaya kamu dapat mencari
karuniaNya, mudah-mudahan kamu bersyukur. (Ar Ruum : 46)
Secara umum angin disini sebagai angin yang bertiup membawa awan untuk
menurunkan air hujan dan angin yang meniup kalpal layar agar dapat berlayar dilautan. Kita
merasakan kedekatan makna angin dalam ayat ini adalah gelombang, bukan saja
gelombang bunyi yang membawa berita tetapi juga gelombang radio atau gelombang
elektromagnet yang mampu dipancarkan kesegala penjuru dunia bahkan seluruh jagad raya
ini.

Relativitas Waktu
Albert Einstein, secara terbuka membuktikan fakta ini dengan teori relativitas. Ia
menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Dalam sejarah manusia, tak
seorang pun mampu mengungkapkan fakta ini dengan jelas sebelumnya.
Tapi ada perkecualian; Al Quran telah berisi informasi tentang waktu yang bersifat
relatif! Sejumlah ayat yang mengulas hal ini berbunyi:
Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali
tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu
menurut perhitunganmu. (Al Quran, 22:47)
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya
dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (Al Quran,
32:5)
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang
kadarnya limapuluh ribu tahun. (Al Quran, 70:4)
Dalam sejumlah ayat disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda,
dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang
lama:
Allah bertanya: Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka
menjawab: Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada
orang-orang yang menghitung. Allah berfirman: Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan
sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. (Al Quran, 23:122-114).

18

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dalam konsep islam sesuatu hal yang dapat dikatakan mengandung kebenaran apabila
ia mengandung manfaat dalam arti luas. Ilmu pengetahuan dan teknologi serta hasil-hasilnya
disamping harus mengingatkan manusia kepada Allah, juga mengingatkan manusia dalam
kedudukannya sebagai khalifah yang kepadanya tunduk segala yang ada di alam raya ini.
Ilmu pengetahuan dan teknologi dizaman yang sudah serba canggih ini sangat
dibutuhkan. Teknologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang berkembang secara
mandiri. Teknologi tidak mungkin berkembang tanpa didasari ilmu pengetahuan yang kokoh.
Maka dari itu teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi kesatuan yang tak terpisahkan.
Iptek memiliki dampak positif dan negatif dalam perkembangannya di kehidupan kita
sehari-hari. Dampak positifnya diantaranya adalah dapat memperbaiki kualitas hidup
manusia. Sedangkan diantara dampak negatifnya adalah, meningkatkan aksi terorisme,
penggunaan informasi dan situs tertentu, terjadinya pengangguran bagi tenaga kerja yang
kurang berkualifikasi, penyalah gunaan pengetahuan.
Dalam pandangan islam, antara agama, ilmu pengetahuan dan teknologi terdapat
hubungan yang harmonis yang terintegrasi ke dalam suatu system yang disebut Dinul Islam.
Kesempurnaan ajaran agama islam tergambar dalam keutuhan ajaran agama islam. Ilmu
pengetahuan dipandang sebagai suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Kebebasan
berfikir, sebagai hak asasi manusia di akui sepenuhnya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah lapangan kegiatan yang terus menerus
berkembang dan perlu di kembangkan karena mempunyai manfaat sebagai penunjang
kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi, di suatu sisi telah memberikan
berkah dan anugrah yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Namun di sisi lain, iptek
telah mendatangkan petaka yang pada gilirannya mengancam nilai-nilai kemanusiaan.
Hakikat penyikapan iptek dalam kehidupan sehari-hari yang islami adalah
memanfaatkan perkembangan iptek untuk meningkatkan martabat manusia dan
meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.
3.2. Saran
kemajuan IPTEK sangat berdampak bagi kehidupan manusia didunia. Sebagai
generasi muda penerus bangsa sudah selayaknya belajar untuk menggunakan dan
memanfaatkan Ilmu pengetahuan dan teknologi sebaik mungkin namun tetap berdasar aturanaturan Agama Islam. Sudah semestinya kita bersatu menguasai IPTEK agar tidak kalah
19

dengan bangsa lain itu. Namun, tetap saja, jika kita telah mendapatkan IPTEK, segeralah
imbangi diri anda dengan Iman dan Taqwa

DAFTAR PUSTAKA

http://kangwahyuanaksmada.blogspot.co.id/2014/10/contoh-makalah-tentang-pengaruhislam.html
http://elektroo2010.blogspot.co.id/2013/09/teknologi-menambah-keyakinan-beragama.html
http://massyaifur.blogspot.com/2011/07/dampak-perkembangan-iptek-dan.html
http://misterrakib.blogspot.com/2013/04/mencari-hadits-tentang-teknologidan.html

20

Anda mungkin juga menyukai