Anda di halaman 1dari 7

TUGAS PERENCANAAN EVALUASI PROGRAM KESEHATAN

Analisis RISKESDAS Dan SDKI

OLEH:
Cici Yuliza Putri
1311211032
A1

DOSEN PENGAMPU:
Dr Zulkarnain Agus MPH, MSc, SpGK

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ANDALAS
2015
Sifat-sifat indikator status gizi
Indikator status gizi berdasarkan indeks

BB/U memberikan indikasi masalah gizi

secara umum. Indikator ini tidak memberikan indikasi tentang masalah gizi yang sifatnya
kronis ataupun akut karena berat badan berkorelasi positif dengan umur dan tinggi badan.
Indikator BB/U yang rendah dapat disebabkan karena pendek (masalah gizi kronis) atau
sedang menderita diare atau penyakit infeksi lain (masalah gizi akut). Indikator status gizi
berdasarkan indeks TB/U memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai
akibat dari keadaan yang berlangsung lama. Misalnya: kemiskinan, perilaku hidup tidak
sehat, dan pola asuh/pemberian makan yang kurang baik dari sejak anak dilahirkan yang
mengakibatkan anak menjadi pendek.
Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/TB memberikan indikasi masalah gizi
yang sifatnya akut sebagai akibat dari peristiwa yang terjadi dalam waktu yang tidak lama

(singkat). Misalnya:

terjadi wabah penyakit dan kekurangan makan (kelaparan) yang

mengakibatkan anak menjadi kurus. Indikator BB/TB dan IMT/U dapat digunakan untuk
identifikasi kurus dan gemuk. Masalah kurus dan gemuk pada umur dini dapat berakibat
pada risiko berbagai penyakit degeneratif pada saat dewasa (Teori Barker).
Masalah gizi akut-kronis adalah masalah gizi yang memiliki sifat masalah gizi akut dan
kronis. Sebagai contoh adalah anak yang kurus dan pendek.
Status gizi balita menurut indikator BB/U
Gambar 3.14.1 menyajikan prevalensi berat-kurang (underweight) menurut provinsi
dan nasional. Secara nasional, prevalensi berat-kurang pada tahun 2013 adalah 19,6
persen, terdiri dari 5,7 persen gizi buruk dan 13,9 persen gizi kurang. Jika dibandingkan
dengan angka prevalensi nasional tahun 2007 (18,4 %) dan tahun 2010 (17,9 %) terlihat
meningkat. Perubahan terutama pada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,4 persen tahun 2007,
4,9 persen pada tahun 2010, dan 5,7 persen tahun 2013. Sedangkan prevalensi gizi kurang
naik sebesar 0,9 persen dari 2007 dan 2013 (Gambar 3.14.4).
Untuk mencapai sasaran MDG tahun 2015 yaitu 15,5 persen maka prevalensi
gizi buruk-kurang secara nasional harus diturunkan sebesar 4.1 persen dalam periode 2013
sampai 2015. (Bappenas, 2012)
Diantara 33 provinsi di Indonesia,18 provinsi memiliki prevalensi gizi buruk-kurang
di atas angka prevalensi nasional yaitu berkisar antara 21,2 persen sampai dengan 33,1
persen. Urutan ke 19 provinsi tersebut dari yang tertinggi sampai terendah adalah (1) Nusa
Tenggara Timur; (2) Papua Barat; (3) Sulawesi Barat; (4) Maluku; (5) Kalimantan Selatan;
(6) Kalimantan Barat; (7) Aceh; (8) Gorontalo; (9) Nusa Tenggara Barat; (10) Sulawesi
Selatan;

(11) Maluku Utara;

(12) Sulawesi Tengah; (13) Sulawesi Tenggara; (14)

Kalimantan Tengah; (15) Riau; (16) Sumatera Utara; (17) Papua, (18) Sumatera Barat dan
(19) Jambi
Atas dasar sasaran MDG 2015, terdapat tiga provinsi yang memiliki prevalensi gizi
buruk-kurang sudah mencapai sasaran yaitu: (1) Bali, (2) DKI Jakarta, (3) Bangka Belitung.
Masalah kesehatan masyarakat dianggap serius bila prevalensi gizi buruk-kurang antara
20,0-29,0 persen, dan dianggap prevalensi sangat tinggi bila 30 persen (WHO, 2010).
Pada tahun 2013, secara nasional prevalensi gizi buruk-kurang pada anak balita sebesar
19,6 persen, yang berarti masalah gizi berat-kurang di Indonesia masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat mendekati prevalensi tinggi. Diantara 33 provinsi,

terdapat

tiga

provinsi termasuk kategori prevalensi sangat tinggi, yaitu Sulawesi Barat, Papua Barat dan
Nusa Tenggara Timur.

Status gizi anak balita berdasarkan indikator TB/U


Gambar 3.14.2 menyajikan prevalensi pendek (stunting) menurut provinsi dan
nasional. Prevalensi pendek secara nasional tahun 2013 adalah 37,2 persen, yang berarti
terjadi peningkatan dibandingkan tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Prevalensi pendek
sebesar 37,2 persen terdiri dari 18,0 persen sangat pendek dan 19,2 persen pendek. Pada
tahun 2013 prevalensi sangat pendek menunjukkan penurunan, dari 18,8 persen tahun 2007
dan 18,5 persen tahun 2010. Prevalensi pendek meningkat dari 18,0 persen pada

tahun

2007 menjadi 19,2 persen pada tahun 2013. Terdapat 20 provinsi diatas prevalensi
nasional dengan urutan dari prevalensi tertinggi sampai terendah, yaitu:(1) Nusa Tenggara
Timur, (2) Sulawesi

Barat, (3) Nusa Tenggara Barat, (4) Papua Barat, (5) Kalimantan

Selatan, (6) Lampung, (7) Sulawesi Tenggara, (8) Sumatera Utara, (9) Aceh, (10) Kalimantan
Tengah, (11) Maluku Utara, (12) Sulawesi Tengah, (13) Sulawesi Selatan, (14) Maluku,
(15) Papua, (16) Bengkulu, (17) Sumatera Barat, (18) Gorontalo, (19) Kalimantan Barat dan
(20) Jambi. Masalah kesehatan masyarakat dianggap berat bila prevalensi pendek sebesar 30
39 persen dan serius bila prevalensi pendek 40 persen (WHO 2010).
provinsi termasuk kategori berat, dan

Sebanyak 14

sebanyak 15 provinsi termasuk kategori serius. Ke

15 provinsi tersebut adalah: (1) Papua, (2) Maluku, (3) Sulawesi Selatan, (4) Maluku Utara,
(5) Sulawesi Tengah, (6) Kalimantan Tengah, (7) Aceh, (8) Sumatera Utara, (9) Sulawesi
Tenggara, (10) Lampung, (11). Kalimantan Selatan, (12). Papua Barat, (13). Nusa Tenggara
Barat, (14). Sulawesi Barat dan (15) Nusa Tenggara Timur.

Status gizi anak balita berdasarkan indikator BB/TB


Gambar 3.14.3 menyajikan prevalensi kurus menurut provinsi dan nasional. Salah
satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk
adalah keadaan sangat kurus yaitu anak dengan nilai Zscore <-3,0 SD. Prevalensi sangat
kurus secara nasional tahun 2013 masih cukup tinggi yaitu 5,3 persen, terdapat penurunan
dibandingkan tahun 2010 (6,0 %) dan tahun 2007 (6,2 %). Demikian pula halnya dengan
prevalensi kurus sebesar 6,8 persen juga menunjukkan adanya penurunan dari 7,3 persen
(tahun 2010) dan 7,4 persen (tahun 2007). Secara keseluruhan prevalensi anak balita kurus
dan sangat kurus menurun dari 13,6 persen pada tahun 2007 menjadi 12,1 persen pada
tahun 2013 (Gambar 3.14.4). Terdapat 17 provinsi dimana prevalensi kurus diatas angka
nasional, dengan urutan dari prevalensi tertinggi sampai terendah, adalah: Kalimantan
Barat, Maluku, Aceh, Riau, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sumatera Utara, Bengkulu,
Papua, Banten, Jambi, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan
Tengah, Kepulauan Riau dan Maluku Utara.
Pada tahun 2013 prevalensi gemuk secara nasional di Indonesia adalah 11,9 persen,
yang menunjukkan terjadi

penurunan

dari 14,0 persen pada tahun 2010. Terdapat 12

provinsi yang memiliki masalah anak gemuk di atas angka nasional dengan urutan prevalensi
tertinggi sampai terendah,yaitu: (1) Lampung, (2) Sumatera Selatan, (3) Bengkulu, (4) Papua,
(5) Riau, (6) Bangka Belitung, (7) Jambi, (8) Sumatera Utara, (9) Kalimantan Timur, (10)
Bali, (11) Kalimantan Barat, dan (12) Jawa Tengah.(Gambar 3.14.3)
Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara
10,0 14,0 persen, dan dianggap kritis bila 15,0 persen (WHO 2010). Pada tahun 2013,

secara nasional prevalensi kurus pada anak balita masih 12,1 persen, yang artinya. masalah
kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Diantara 33
provinsi, terdapat 16 provinsi yang masuk kategori serius, dan 4 provinsi termasuk kategori
kritis, yaitu Kalimantan Barat, Maluku, Aceh dan Riau.

Kecenderungan prevalensi status gizi anak balita tahun 2007- 2013


Gambar 3.14.4 menyajikan kecenderungan prevalensi status gizi anak balita menurut
ketiga indeks BB/U, TB/U dan BB/TB. Terlihat prevalensi gizi buruk dan gizi kurang
meningkat dari tahun 2007 ke tahun 2013. Prevalensi sangat pendek turun 0,8 persen dari
tahun 2007, tetapi prevalensi pendek naik 1,2 persen dari tahun 2007. Prevalensi sangat
kurus turun 0,9 persen tahun 2007. Prevalensi kurus turun 0,6 persen dari tahun 2007.
Prevalensi gemuk turun 2,1 persen dari tahun 2010 dan turun 0,3 persen dari tahun 2007.

Status gizi anak balita berdasarkan gabungan indikator TB/U dan BB/TB
Gambar 3.14.5. menyajikan kecenderungan prevalensi status gizi gabungan indikator
TB/U dan BB/TB secara nasional. Berdasarkan Riskesdas 2007, 2010 dan 2013 terlihat
adanya kecenderungan bertambahnya prevalensi anak balita pendek-kurus, bertambahnya
anak balita pendek-normal (2,1%) dan normal-gemuk (0,3%) dari tahun 2010. Sebaliknya,
ada kecenderungan penurunan prevalensi pendek-gemuk (0,8 %), normal-kurus (1,5 %) dan
normal-normal (0,5 %) dari tahun 2010.

Survey Demograpi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012


Hasil survey demografi dan kesehatan Indonesia SDKI 2012 untuk angka kematian
ibu AKI hasilnya sangat mengejutkan melonjak sangat signifikan menjadi 359 per 1000.000
kembali ke kondisi pada tahun 1997 ini berarti kesehatan ibu turun selama 15 tahun. Pada
tahun 2007 AKI di Indonesia 288 per 100.000kelahiran hidup

ANALISIS STATUS GIZI MENURUT ATMARITA


Menurut Atmarita, anak yang perkembangannya sangat lambat disebabkan oleh
pembentukan otak maupun tubuhnya tidak baik akibat gizinya buruk. "Berarti hal paling
penting adalah pemenuhan gizi bayi sejak dalam kandungan sampai berusia lima tahun, dan
bila tidak terpenuhi, pertumbuhan otak dan tubuhnya tidak bagus. Anak dengan tubuh
pendek, ia mengemukakan, berarti status gizi pada masa lalunya sudah kronis". . Namun
begitu, lanjutnya, sampai usia 18 tahun pun asupan gizi masih penting untuk pertumbuhan
fisik anak. Jadi jika tubuh seseorang kurus, Atmarita menilai, hal ini dipengaruhi oleh
keadaan gizi pada saat itu.
Atmarita mengatakan, 62% lebih anak di perkotaan memiliki tinggi badan normal dari
segi umur, sedangkan anak di pedesaan hanya 49%. Maka disimpulkan bahwa anak di
perkotaan memiliki keadaan gizi lebih baik dibanding anak di pedesaan. Meski demikian,
obesitas (gemuk sekali) pada anak di perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding anak di
pedesaan. Cuma, masalah itu mulai meningkat bukan saja di perkotaan, melainkan juga di
pedesaan.
Pemberian makanan tambahan pada anak bertubuh pendek berusia 9-24 bulan akan
mampu meningkatkan kemampuan belajar anak ketika berusia 7-8 tahun. Dibuktikan pula
dari beberapa studi bidang ekonomi di Ghana maupun Pakistan mengenai pentingnya gizi
untuk mendukung pembangunan. "Malah dengan menurunkan prevalensi anak pendek
sebesar 10%, akan dapat meningkatkan 2%-10% proporsi anak yang mendaftar ke sekolah."
(Rse/V-4).