Anda di halaman 1dari 5

Minggu, 25 Maret 2012

Tempe Biji Karet (TEMBIKAR)


TEMPE BIJI KARET (TEMBIKAR) SEBAGAI SUMBER NUTRISI POTENSIAL UNTUK
MEMAKSIMALKAN PERKEMBANGAN JARINGAN OTAK GENERASI NATIONS
FUTURE
Oleh:
BEDI ABDUL ROHMAN /9942590938
REZA ARIEF FAUZAN /9944354125
SYAMSUL ARIFIN /9941990456
Sekilas Tentang Latar Belakang Karya Tulis ini
Tempe merupakan makanan yang sangat populer dikalangan masyarakat Indonesia, tempe
memiliki gizi yang tinggi dan biasanya dijadikan lauk-pauk dalam keseharian masyarakat.
Tempe hampir disukai oleh semua lapisan masyarakat, baik lapisan masyarakat berekonomi
menengah kebawah maupun masyarakat berekonomi menengah keatas. Selain harganya lebih
murah dibanding lauk-pauk lainnya, tempe juga memiliki kelebihan lain, yaitu cakupan gizi
pada tempe yang tinggi terutama dalam memenuhi kecukupan kebutuhan protein.
Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan
lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh.
oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum
dikenal sebagai ragi tempe. Tak bisa dipungkiri keberadaannya mulai mendunia. Kaum
vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti
daging. Akibatnya sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di
Indonesia. Berbagai penelitian telah dilakukan di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang,
dan Amerika Serikat. Dan sekarang Indonesia berusaha mengembangkan galur (strain)
unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki
kandungan gizi tempe.
Tempe pada umumnya terbuat dari kedelai. Namun, kedelai sebagai bahan baku pembuatan
tempe mengalami kenaikan harga dan produksi kedelai nasional yang tidak dapat memenuhi

kebutuhan dalam pembuatan tempe sehingga diperlukan jalan alternatif untuk menggantikan
bahan baku kedelai dengan bahan baku lainnya yang kandungan gizinya tidak kalah dengan
tempe berbahan baku kedelai.
Usaha pemecahan masalah dilakukan dengan cara mempelajari teori-teori yang berhubungan
dengan pokok permasalahan. Melalui telaah pustaka kemudian setelah itu dijabarkan dalam
bentuk karya tulis ilmiah yang logis, dinamis, objektif dan realistis yang merupakan
pemikiran kritis penulis dari berbagai sumber terperinci yang kami analisis berdasarkan
pandangan terhadap situasi dan kondisi yang berkembang saat ini sehingga diperoleh
kesimpulan tentang pemecahan masalah yang terjadi secara keseluruhan yang pada akhirnya
diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dan kontribusi bagi kesejahteraan
masyarakat yaitu dengan mengganti kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe menjadi
biji karet sebagai solusi cerdas pengganti bahan baku tersebut.
Biji karet selama ini hampir tidak mempunyai nilai ekonomis sama sekali dan hanya
dimanfaatkan sebagai benih generatif pohon karet saja. Padahal, biji karet memiliki
kandungan minyak nabati yang tinggi dan memiliki asam lemak tak jenuh yang tinggi
sehingga cocok sebagai bahan baku pembuatan makanan yang sehat. Salah satu alternative
produk olahan yang dapat dibuat dari biji karet adalah Tempe. Selain harganya terjangkau,
Tempe biji karet ini memiliki kandungan asam lemak tak jenuh Omega 3 dan Omega 6 yang
sangat diperlukan bagi perkembangan otak pada anak-anak. Selain itu biji karet juga
memiliki kandungan Omega 9 dan protein yang cukup tinggi.
Kandungan asam lemak tak jenuh Omega 3 dan Omega 6 sangat diperlukan bagi
perkembangan jaringan otak pada anak-anak. Anak-anak sebagai generasi masa depan
bangsa yang akan mempengaruhi kemajuan bangsa itu sendiri setidaknya membutuhkan
asupan gizi yang cukup untuk perkembangan jaringan otak mereka. Salah satu solusi cerdas
untuk memaksimalkan perkembangan jaringan otak pada generasi-generasi bangsa adalah
dengan mengonsumsi tempe biji karet.
Mengolah biji karet menjadi tempe tidaklah sulit, hampir sama dengan pembuatan tempetempe pada umumnya. Bedanya, bahan baku pembuatan tempe yaitu biji karet harus

mendapat perlakuan istimewa, pasalnya dalam biji karet terdapat sianida yang berbahaya
bagi tubuh, kadar sianida dapat dihilangkan dengan cara direndam dan direbus cukup lama.
Lama perendaman, dan perebusan mempengaruhi penurunan kadar sianida dalam pengolahan
biji karet menjadi tempe. Kadar asam sianida (HCN) pada biji karet yaitu 0,3%, semakin
lama direndam dan direbus maka semakin rendah kadar sianida tempe.
Dalam percobaan ini, biji karet direndam selama 1 x 24 jam, kemudian direbus selama 1 jam
kemudian buang bagian kulit luarnya dan bakal daun. Biji karet yang sudah bersih dari kulit
itu kemudian direndam kembali selama 1 x 24 jam lalu dikukus, dan setelah itu didinginkan
kemudian diberi ragi tempe (Rhizopus oryzae) lalu membungkusnya dalam kemasan.
Secara rinci proses tersebut sebagai berikut :
1. Disiapkan biji karet sebanyak 1 kilogram
2. Biji karet dicuci bersih untuk menghilangkan kotoran pada kulit biji
3. Selanjutnya biji karet di buang kulitnya dengan cara memecahkannya
4. Setelah terpisah dari kulitnya, daging biji direndam selama 1 x 24 jam
5. Setelah direndam kemudian di rebus selama 1 jam
6. Tiriskan dan biarkan hingga dingin , setelah dingin air rebusan di buang
lalu buang bakal daun yang terdapat di dalam biji.
7. Setelah itu, rendam kembali biji karet selama 1x24 jam, selama proses perendaman,
air rendaman harus selalu diganti 3 kali sehari.
8.

Biji

karet

lalu

di

cuci

dan

di

kukus

30

menit

Setelah dikukus selama 30 menit, air yang tersisa didalam


panci dibuang, kemudian biji karet dipindahkan ke tampah dan diratakan tipis-tipis.
Selanjutnya, biji karet dibiarkan dingin sampai permukaan keping karet kering dan
airnya menetes habis
9. Setelah dingin, taburkan ragi tempe (Rhizopus oryzae) sebanyak 2
gram ( 0,2 % dari bobot biji karet) sambil diaduk aduk sampai rata.
Penambahan ragi bertujuan guna mempercepat/merangsang
pertumbuhan jamur. Tahap peragian (fermentasi) adalah tahap penentu
keberhasilan dalam membuat tempe
10. Selanjutnya tempe dikemas sesuai dengan selera, dapat menggunakan

plastik ataupun daun pisang.


11. Plastik atau daun pisang yang telah berisi biji karet dilubangi dengan
menggunakan jarum yang terbuat dari kayu ukuran kecil kira-kira 8 - 10
lubang untuk setiap sisi atas dan sisi bawah.
12. Tempe disimpan di tempat yang tidak tertutup (pada suhu kamar)
untuk menghindari pembusukkan pada tempe karena suhu yang terlalu
panas, usahakan ditempat yang terjadi sirkulasi udara.
13. Tempe didiamkan kurang lebih selama 2x24 jam.
14. Setelah itu, tempe siap diolah menjadi makanan yang lezat dan bergizi tinggi.
Proses pembuatan tempe dari biji karet tidaklah rumit, sehingga kemungkinan untuk
mengembangkannya sangatlah besar, apalagi didukung dengan ketersediaan bahan baku yang
banyak di alam, kandungan protein tempe dari karet lebih tinggi dari tempe dari kedelai selain
itu tanaman karet dapat dibudidayakan dengan baik di Indonesia, salah satunya di Kabupaten
Tulang Bawang Barat yang komoditas utamanya adalah Karet. Luas areal lahan yang ditanami
karet adalah 20.872,24 Ha, dengan hasil produksi 7.915,88 ton.
Perbandingan kadar protein tempe biji karet dengan tempe kedelai:
N

Jenis

Presentase Protein

O
1
Tempe biji karet
30,15
2
Tempe kedelai
22,41
Tabel 2. Perbandingan kandungan protein pada tempe biji karet dengan tempe kedelai.
Sumber : (Wizna, Mirnawati, Jamarun, dan N. Zuryani, Y. 2000) dan
http://nippontori.multiply.com/journal/item/34
Kandungan gizi pada tempe karet terutama protein mengalami peningkatan dibandingkan
dengan biji karet yang murni, selain itu tempe dari biji karet memiliki kandungan protein yang
lebih

besar

dari

pada

tempe

yang

berasal

dari

kacang

Adapun Kelebihan tempe dari biji karet (Hevea brasiliensis Mull.Arg):


a. Tempe dari biji karet (Hevea brasiliensis Mull.Arg) lebih lembut dari
pada tempe dari kedelai.

kedelai.

b. Tempe biji karet (Hevea brasiliensis Mull.Arg) tidak cepat menjadi tempe busuk dan
dapat disimpan selama 2 minggu di dalam lemari es