Anda di halaman 1dari 9

E-Faktur : Satu Aplikasi Berbagai Manfaat

Arie Widodo dan Putu Agung Widyadnyana


Ortax.org
LATAR BELAKANG
Menurut Badan Pusat Statistik tahun 2014,
Indonesia merupakan negara dengan luas
wilayah geografi 1.910.931,32 Km2 dan
memilik penduduk sebanyak 248.818.100
orang. Indonesia masuk ke dalam katagori
negara berkembang yang memiliki banyak
potensi ekonomi. Sehingga banyak terdapat
industri-industri dari berbagai sektor terdapat di
Indonesia. Banyak investor-investor asing yang
menanamkan modalnya di Indonesia. Jumlah
perusahaan yang ada di Indonesia menurut data
Badan Pusat Statistik tahun 2012 sekitar 23,257 unit dan terus berkembang sampai tahun 2014.
Begitu banyak juga perusahaan yang akan melakukan berbagai transaksi di Indonesia.
Atas dasar tersebut akan timbul kewajiban-kewajiban di bidang perpajakan, mulai dari
mendaftarkan usaha, menghitung pajak terhutang, melaporkan pajak serta kewajiban membuat
faktur pajak bagi pengusaha. Faktur pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh
Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan
Jasa Kena Pajak.
Dalam sejarahnya, faktur pajak pertama kali diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor
432/KMK.04/1984. Faktur pada tahun 1984 hanya terdapat satu jenis dan diisi secara manual.
Pada tahun 1985 diterbitkan juga faktur pajak sederhana untuk Pengusaha Kena Pajak yang
melakukan penyerahan secara eceran dan berupa barang kena pajak yang sudah jadi. Faktur
pajak sederhana digunakan sampai tahun 2012 lalu peraturannya dicabut. Sehingga sekarang
hanya ada faktur pajak standar rupiah dan faktur pajak mata uang asing.
Faktur pajak adalah sebuah dokumen yang sangat penting untuk penjual karena merupakan bukti
otentik telah memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari pihak pembeli. Sedangkan bagi
pihak pembeli, dengan adanya faktur pajak maka PKP dapat mengkreditkan atau mengurangi
PPN yang harus dibayar. Namun faktur pajak dapat menyebabkan terjadinya lebih bayar jika
faktur pajak pembelian lebih tinggi daripada faktur pajak penjualan dan dapat direstitusi atau
diminta kembali ke negara yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak. Menurut data Direktorat
Jenderal Pajak sepanjang 2008-2013 terdapat 100 kasus faktur pajak bodong yang merugikan
negara sekitar Rp 1,5 triliun. Bisa dikatakan, sebanyak 50 persen kasus pengemplangan pajak
bermodus laporan faktur pajak fiktif. Sehingga Direktorat Jenderal Pajak membuat Satuan Tugas
Khusus terkait faktur pajak fiktif.
Untuk menanggulangi terjadinya praktek faktur pajak fiktif, pada tahun 2013 Direktorat Jenderal
Pajak membuat E-Tax Invoice (e-Faktur) yaitu sebuah aplikasi elektronik yang ditentukan
dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak yang digunakan untuk membuat faktur pajak.

Penggunaan aplikasi e-faktur dilakukan secara bertahap oleh Pengusaha Kena Pajak. Mulai
tanggal 1 Juli 2014, diberlakukan kepada 45 Pengusaha Kena Pajak. Mulai tanggal 1 Juli 2015,
diberlakukan kepada PKP yang terdaftar di lingkungan Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar,
Jakarta Khusus, Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta dan Bali.
Sedangkan secara nasional baru mulai tanggal 1 Juli 2016.
E-FAKTUR DAN SOLUSI MENANGGULANGI FAKTUR PAJAK FIKTIF
Data Direktorat Jenderal Pajak pada tahun 2009 2013 menunjukan bahwa kenaikan penerimaan
negara dari sektor PPN dan PPnBM pada 2009 193,07 triliun rupiah menjadi 384,72 triliun
rupiah di 2013. Ini menunjukan peningkatan yang sangat baik dari wajib pajak tentang kesadaran
PKP dalam melaksanakan kewajiban di bidang perpajakan khususnya PPN. Namun dari
peningkatan dari penerimaan negara dari PPN masih belum efektif karena masih banyak
ditemukannya peredaran dan penggunaan faktur pajak fiktif. Dari data DJP tahun 2009-2013 :

Grafik 2.1 Data Penyalahgunaan Faktur Pajak


Sumber : Laporan Tahunan DJP
Ini menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 1,5 triliun menurut Direktorat Jenderal Pajak.
Untuk menanggulangi hal tersebut DJP membuat sebuah sistem yaitu e-Faktur. Latar belakang
DJP mengeluarkan e-Faktur adalah
1.
Penyalahgunaan wewenang PKP dalam menggunakan faktur pajak.
2.
Beban administrasi dari faktur pajak terus meningkat.
E-Faktur adalah faktur pajak yang dibuat melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan
dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak sesuai dengan PER 16/PJ/2014. Setiap
Pengusaha Kena Pajak nantinya tidak lagi membuat faktur pajak dalam bentuk manual tetapi
dalam bentuk elektronik.
Direktorat Jenderal Pajak dalam upaya menanggulangi peredaran dan penggunaan faktur pajak
fiktif sebelum memberlakukan e-Faktur DJP melakukan registrasi Ulang PKP, yakni suatu
program yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan penertiban administrasi pengawasan
dari PKP. Berdasarkan data DJP tahun 2011 terdapat 870 ribu PKP. Registrasi ulang ini diatur
dalam PER 05/PJ/2012. Selanjutnya program DJP adalah e-Nofa ( Elektronik Nomor Faktur )
merupakan makanisme untuk penomoran faktur pajak yang berupa kumpulan angka, huruf, atau

kombinasi angka dan huruf, dimana penomoran ini ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak
sesuai dengan PER 24/PJ/2012.

Bagan 2.1 Roadmap Implementasi e-Faktur


Tidak hanya registrasi ulang PKP dan penerbitan e-Nofa, dalam e-Faktur juga diterapkan QRCode. QR-Code adalah sebuah kode yang berisi tentang informasi transaksi dari PKP. Informasi
ini dapat dilihat menggunakan aplikasi QR code scanner yang terdapat dismartphone atau gadget
lainnya. Sehingga pengaman dan pencegahan dari penggunaan faktur pajak fiktif jadi semakin
meninngkat.
MANFAAT E-FAKTUR DAN KENDALA YANG DIHADAPI DALAM PENERAPAN DI
INDONESIA.
1.

Manfaat bagi Pengusaha Kena Pajak

Dalam PER 16/PJ/2014 sudah dijabarkan kemudahan kemudahan dari penggunaan e-Faktur
yaitu :
a. Bagi PKP Penjual :
1.
Tanda tangan basah digantikan tanda tangan elektronik.
2.
E-Faktur Pajak tidak harus dicetak sehingga mengurangi biaya kertas, biaya cetak, dan
biaya penyimpanan dokumen.
3.

Aplikasi e-Faktur Pajak juga membuat SPT masa PPN sehingga PKP tidak perlu lagi
membuatnya.

4.

PKP yang menggunakan e-Faktur Pajak juga dapat meminta nomor seri faktur pajak
melalui situs pajak & tidak perlu lagi datang ke KPP.

b. Bagi PKP Pembeli :


1.
Terlindungi dari penyalahgunaan faktur pajak yang tidak sah, karena cetakan e-Faktur
dilengkapi dengan pengaman berupa QR code. QR code menampilkan informasi tentang
transaksi penyerahan : nilai DPP dan PPN dan lain-lain.
2.
Informasi dalam QR code dapat dilihat menggunakan aplikasi QR code scanner yang
terdapat dismartphone atau gadget lainnya.
3.

Apabila Informasi yang terdapat dalam QR code tersebut berbeda dengan yang ada dalam
cetakan e-Faktur Pajak maka Faktur Pajak tersebut tidak valid.

2.

Manfaat dari Aspek Lingkungan

Pada era global ini sering diisukan tentang global warming atau pemanasan global. Apa
hubungan global warming dengan aspek pepajakan terutama e-faktur? Hubungannya sangat jelas
sekali dari tahun 1983 faktur pajak dibuat secara manual menggunakan kertas, kertas dibuat dari
bubur kayu, kayu diambil dari hutan. Sehingga dapat merusak paru-paru dunia dan menyebakan
global warming. Mungkin ini terlihat sangat sederhana namun dampak dari penggunaan kertas
ini sangat besar bagi lingkungan. Menurut data Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2011 terdapat
870 ribu PKP, kalau kita perhitungkan seperti tabel dibawah :

Jumlah yang kecil di awal tapi akan menjadi besar jika digunakan secara kolektif. Berapa pohon
yang harus ditebang untuk membuat sebanyak 751.680 juta lembar kertas pertahun untuk
membuat faktur pajak. Itulah kenapa kita harus menerapkan green tax.
Green tax adalah sebuah kebijakan untuk mengurangi penggunaan kertas sebagai sarana
administrasi serta menjaga alam dari pemanasan global. Gerakan ini sudah dilakukan oleh
negara-negara maju untuk mengurangi pemanasan global. Grafik dibawah menunjukan negara
yang telah menerapkan green tax.

Sumber : http://www.kpmg.com/global/en/issuesandinsights/articlespublications/greentax/pages/default.aspx
Untuk menjalankan green tax kita harus beralih dari penggunaan kertas ke e-Tax (elektronik tax).
Indonesia dengan menerapka e-Faktur merupakan pilot project dari mulai diberlakukan e-Tax
yang dimulai dari tahun 2013. Sistem e-Tax nantinya di harapkan sudah tersinkronisasi antara
faktur yang dibuat dengan surat pemberitahuan masa PPN sehingga antara PKP yang menginput
Pajak Masukan (PM) dan PKP yang menginput Pajak Keluaran (PK) terkonfirmasi dengan jelas
sehingga tidak ada lagi penggelapan pajak dan pembuatan serta penggunaan faktur pajak fiktif.
Sebagai perbandingan korea selatan yang menempati urutan no 5 dalam rangking green tax
mengunakan e-Tax Invoice sejak 2011. Sistem yang dipakai menggunakan sistem online,
penjual dapat menerbitkan faktur kepada pembeli dengan cara registrasi dahulu di esero.go.kr
atau bisa menggunakan jaringan telepon, begitu juga pembeli dapat melihat transaksi yang
terjadi. Bahkan di 2013 Korea Selatan sudah menerapkan e-Tax invoice melalui ponsel pintar
atau smartphone. Sehingga pelaporan dan pembayaran atas value added tax lebih mudah dan
cepat.
3. Manfaat dari Aspek Pemerintah
Bagi pemerintah penggunaann e-Faktur sangat berguna dalam :
1.
kemudahan pengawasan dengan adanya proses validasi Pajak Keluaran-Pajak Masukan
(PK-PM) dan adanya data lengkap dari setiap faktur pajak.
2.
mempermudah pelayanan karena akan mempercepat proses pemeriksaan, pelaporan, dan
pemberian nomor seri faktur pajak.
3.

Sistem berbasis elektronik ini akan meminimalkan penyalahgunaan penggunaan faktur


pajak oleh perusahaan fiktif atau pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga potensi pajak
yang hilang menjadi sangat kecil.

KENDALA PENERAPAN E-FAKTUR

Tidak dipungkiri juga ada kendala-kendala yang harus diperhatikan untuk diterapkan di
Indonesia. Adapun kendala tersebut adalah :
1. Kendala gerografis di Indonesia.
Indonesia adalah negara kepulauan, dengan kondisi geografis sepert ini tentu akan terjadi
perbedaan pembangunan dan fasilitas dalam penggunaan sistem elektronik atau internet. Tidak
semua wilayah Indonesai mempunyai fasilitas komputer dan internet yang dapat menopang
kinerja dari e-Faktur. Sehingga ditakutkan di daerah-daerah terpencil penerapan e-Faktur tidak
berjalan secara maksimal.
2. Kendala sumber daya manusia yang menggunakan e-Faktur dan kendala dari aplikasi
e-Faktur itu sendiri.
Dengan kecangihan dari e-Faktur, harus dilihat juga kemampuan dari penggunanya. Agar tidak
terjadi human error dalam penggunaan dari e-faktur. Kemampuan sumber daya manusia sangat
penting dalam penggunaan e-Faktur. Sehingga perlu dilakukan pelatihan dan sosialisasi
menyeluruh ke seluruh wilayah di Indonesia sebelum e-Faktur di terapkan di seluruh Indonesia
pada 2016 nanti. E-Faktur sebagai sistem elektronik tentu antara bahasa pemrograman yang
digunakan tidak akan sama dengan bahasa yang digunakan oleh undang-undang perpajakan. Ini
menyebabkan ada kemungkinan ketidak sesuaian penerapan aturan dengan pelaksanaan dari
aplikasi e-Faktur itu sendiri. Pasti akan terjadi perbedaan yang perlu kita evaluasi.
SIMPULAN
E-Faktur adalah faktur pajak yang dibuat melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan
dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Merupak sebuah sarana yang sangat efektif
dalam penanggulangi dan mencegah penggunaan faktur pajak fiktif. Dalam e-Faktur terdapat
berbagai macam sistem pengamanan mulai dari e-Nofa, sistem tanda tangan elektronik, QR Code
di setiap cetakan e-Faktur, dan setiap e-Faktur yang dibuat oleh PKP akan terintegrasi antara PK
dan PM dari masing-masing PKP yang bertransaksi.
Selain efektif dalam mencegah PKP menggunakan faktur pajak fiktif penggunaan e-Faktur juga
sangat berguna dalam meningkatkan green tax di Indonesia. Penggunaa e-Faktur dapat
mengurangi penggunaan kertas dalam pembuatan faktur pajak secara manual. Sehingga kita
tidak usah lagi merusak alam untuk membuat kertas untuk digunakan sabagai faktur pajak. Dari
segi pemerintah penerapan e-Faktur sangan membantu dalam hal pengawasan penggunaan faktur
pajak oleh Pengusaha Kena Pajak serta mengurangi beban administasi dari kantor pajak dalam
hal penerbitan faktur pajak.
Walaupun banyak kemudahan dalam penerapan e-faktur perlu dilihat juga kendala yang dapat
timbul dalam penggunaan e-Faktur di Indonesia. Kendala yang dapat terjadi adalah :
1.
Kendala gerografis di Indonesia.
2.
E-Faktur merupakan produk elektronik yang rentan dengan virus dan malware.
3.

Kendala sumber daya manusia yang menggunakan e-Faktur dan kendala dari aplikasi eFaktur itu sendiri.

Sehingga kita perlu melakukan evalusai bersama dalam penerapan e-faktur di Indonesia.
Dihaparkan kedepannya penerapan e-Faktur sama seperti di korea dapat digunakan di
smartphone dan berbasis online. Semata-mata untuk memudahkan pengguna dari faktur pajak
dan meningkatkan penerimaan negara secara umum dan dari sektor PPN dan PPnBm khususnya.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Sukarji,Untung.2012.Pokok-Pokok PPN Pajak Pertambahan Nilai Indonesia Edisi Revisi
2012.Jakarta: Rajawali Pers
Peraturan Perpajakan
Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 42 Tahun
2009 Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan
Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5069)
Republik Indonesia, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER 20/PJ/2012 Perubahan
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-05/PJ/2012 Tentang Registrasi Ulang Pengusaha
Kena Pajak Tahun 2012
Republik Indonesia, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER 17/PJ/2014 Perubahan
Kedua Atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-24/PJ/2012 Tentang Bentuk, Ukuran,
Tata Cara Pengisian Keterangan, Prosedur Pemberitahuan Dalam Rangka Pembuatan, Tata Cara
Pembetulan Atau Penggantian, Dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak
Republik Indonesia, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER 16/PJ/2014 Tentang Tata
Cara Pembuatan dan Pelaporan Faktur Pajak Berbentuk Elektronik
Republik Indonesia, Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP 136/PJ/2014 Tentang
Penetapan Pengusaha Kena Pajak yang Diwajibkan Membuat Faktur Pajak Berbentuk Elektronik
Sumber Lain
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2013. 2014. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pajak
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2012. 2013. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pajak
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2011. 2012. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pajak
Presentasi Sosialisasi e-Faktur. 2014. Direktorat Jenderal Pajak
Statistik Indonesia 2014. 2014. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Adilla, Raisa. 2014. Penerbitan Faktur Pajak Fiktif Capai 57 Kasus.

http://economy.okezone.com/read/2014/11/04/20/1060968/penerbitan-faktur-pajak-fiktif-capai57-kasus.(Tanggal akses : 17 April 2015)


Ditjen Pajak Fokus Tangani Pelaku Bisnis Faktur Pajak Fiktif.
http://www.pajak.go.id/content/ditjen-pajak-fokus-tangani-pelaku-bisnis-faktur-pajak-fiktif. ( Ta
nggal akses: 17 April 2015 )
E-Tax Incoive.
http://www.kdi.re.kr/kdi_eng/highlights/govern_view.jsp?no=3662&page=315&rowcnt=10.
( Tanggal akses: 19 April 2015)
KPMG Green Tax Index.
http://www.kpmg.com/global/en/issuesandinsights/articlespublications/greentax/pages/default.aspx. (Tanggal akses: 19 April 2015)
Seluruh PKP wajib Registrasi Ulang.
http://www.pajak.go.id/content/seluruh-pkp-wajib-registrasi-ulang. ( Tanggal akses : 17 April
2015 )

Oleh Dian Efianti, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

E-Faktur atau Faktur Pajak yang berbentuk elektronik merupakan faktur pajak yang dibuat melalui
aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh DJP. Sejak Juli 2014,
sebanyak 45 perusahaan telah ditetapkan sebagai peserta pilot project e-Faktur.

Bulan Juli 2015 direncanakan program ini akan diberlakukan untuk Pengusaha Kena Pajak (PKP)
seluruh Jawa dan Bali. Sedangkan pemberlakukan e-Faktur secara nasional akan secara
serentak dimulai pada 1 Juli 2016.

Saat ini seluruh Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar, Kantor Pelayanan Pajak Khusus,
Kantor Pelayanan Pajak Madya dan seluruh Kantor Pelayanan Pajak Pratama di Jawa dan Bali
sedang mengadakan sosialisasi e-faktur kepada PKP yang terdaftar di KPP nya, sehingga pada
saat penerapan efaktur per 1 Juli 2015 semua PKP yang diwajibkan e-faktur telah siap
melaksanakan.

Untuk menerapkan pembuatan e-faktur ini, Direktorat Jenderal Pajak telah menyediakan aplikasi
yang dapat diinstall di perangkat komputer Pengusaha Kena Pajak dan e-Faktur ini otomatis
terhubung ke program e-SPT, sehingga akan memudahkan Pengusaha Kena Pajak dalam
membuat SPT Masa PPN secara elektronik menggunakan program e-SPT.

Latar belakang DJP membuat aplikasi ini adalah karena memperhatikan masih terdapat
penyalahgunaan faktur pajak, diantaranya wajib pajak non PKP yang menerbitkan faktur pajak
padahal tidak berhak menerbitkan faktur pajak, faktur pajak yang terlambat diterbitkan, faktur
pajak fiktif, atau faktur pajak ganda.

Selain itu karena beban administrasi yang begitu besar bagi pihak DJP sehingga suatu sitem
elektronik untuk faktur pajak dipandang sangat memberikan efisiensi bagi DJP maupun PKP itu

sendiri. Jika berbicara mengenai manfaat, dalam dunia modern tentu semua aplikasi berbentuk
elektronik sangat memberikan efisiensi bagi penggunanya.

Pengguna akan merasa nyaman baik dalam hal proses pekerjaan maupun penyimpanan hasil
pekerjaan. Penerbitan Faktur Pajak tidak lagi membutuhkan tanda tangan basah karena Faktur
pajak elektronik ini menggunakan tanda tangan digital (digital signature) berbentuk QR code,
kemudian tidak ada kewajiban untuk mencetak faktur pajak, serta aplikasi ini merupakan satu
kesatuan dengan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) yang selama ini dilaporkan melalui eSPT.

Sedangkan bagi DJP melalui aplikasi e-faktur ini kita makin mudah melakukan pengawasan
dengan adanya proses validasi Pajak Keluaran - Pajak Masukan (PK-PM), adanya data lengkap
dari setiap faktur pajak serta meminimalisir proses penyimpanan dokumen.

E-faktur mempermudah pelayanan karena akan mempercepat proses pemeriksaan, pelaporan,


dan pemberian nomor seri faktur pajak. Selain itu juga sistem berbasis elektronik ini akan
meminimalkan penyalahgunaan penggunaan faktur pajak oleh perusahaan fiktif atau pihak yang
tidak bertanggung jawab sehingga potensi pajak yang hilang menjadi sangat kecil.

Melalui e-faktur DJP berharap dapat mengatasi permasalahan dalam administrasi PPN sehingga
penerimaan pajak dari sektor PPN dapat semakin optimal, selain bagi PKP dapat menjalankan
usahanya menjadi jauh lebih baik. Sinergi antara Ditjen Pajak dan Wajib Pajak diharapkan
mampu membangun sistem perpajakan yang lebih baik di masa depan. Jadi ayo siapkan diri kita
untuk lebih maju!

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana
penulis bekerja