Anda di halaman 1dari 11

GAMBARAN UMUM KASUS : ANEMIA

Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah


massa eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk
membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan
oxygen carrying capacity). Secara praktis anemia ditunjukkan oleh penurunan
kadar hemoglobin, hematokrit atau hitung eritrosit (red cell count) (Bakta, 2009).
Penyebab anemia menurut Depkes (2000), yaitu kurangnya zat besi atau Fe
dalam tubuh, terjadinya peningkatan kebutuhan Fe oleh tubuh terutama pada
remaja dan ibu hamil, serta adanya penyakit kronis. Penyebab lainnya karena
pendarahan yang disebabkan oleh infeksi cacing tambang, malaria, haid yang
berlebihan, dan pendarahan saat melahirkan (Wijiastuti 2006).
Batasan prevalensi anemia yang menjadi masalah kesehatan masyarakat
menurut WHO (2007) dapat terlihat pada tabel 1 berikut.
Tabel 1 Ketentuan masalah kesehatan masyarakat berdasarkan prevalensi anemia
Masalah
Prevalensi Anemia
Berat
>= 40%
Sedang
20.0-39.9%
Ringan
5.0-19.9%
Tidak bermasalah
0-4.9%
Sumber: http://whqlibdoc.who.int
Batasan frekuensi haemoglobin untuk anemia berdasarkan WHO (1997)
dinyatakan dalam tabel 2 berikut.
Tabel 2 Ketentuan frekuensi haemoglobin berdasarkan batasan frekuensi
Klasifikasi
Batasan Haemoglobin
Normal
12 g/dL 14 g/dL
Ringan
11 g/dL 11.9 g/dL
Sedang
8 g/dL 10.9 g/dL
Berat
5 g/dL 7.9 g/dL
Sangat Berat
<5 g/dL
Sumber: http://www.care.org
Gejala yang seringkali muncul pada penderita anemia diantaranya lemah,
letih, lesu, mudah lelah, lunglai, wajah tampak pucat, mata berkunang-punang,
nafsu makan berkurang, sulit berkonsentrasi dan mudah lupa (Soebroto 2010).
Pada anemia berat dapat juga timbul gejala-gejala saluran cerna seperti anoreksia,
mual, konstipasi atau diare, dan stomatitis (nyeri pada lidah dan membrane
mukosa mulut), gejala-gejala umumnya disebabkan oleh keadaan defisiensi,
seperti defisiensi zat besi (Price, 2005).
Menurut Tarwoto et al. (2010) dampak anemia pada remaja diantaranya
yaitu menurunnya produktivitas ataupun kemampuan akademis di sekolah, karena
tidak adanya gairah belajar dan konsentrasi, mengganggu pertumbuhan di mana
tinggi dan berat badan menjadi tidak sempurna, daya tahan tubuh akan menurun
sehingga mudah terserang penyakit, serta menurunnya produksi energi dan
akumulasi laktat dalam otot.

KASUS 1: ANEMIA

Nn. A, 20 tahun, datang ke poliklinik IPB. Os mengeluh merasa lemah,


cepat lelah, cepat mengantuk, dan sulit berkonsentrasi dan belajar sejak beberapa
bulan lalu namun satu minggu terakhir semakin berat. Selama 6 bulan terakhir os
mengalami menstruasi yang lebih banyak dari biasanya. Os juga mengeluh susah
bernapas dan jantung berdebar bila naik tangga, namun tidak pernah sampai
pingsan. Kaki juga sering keram. Tidak ada riwayat demam, minum obat-obatan,
atau nyeri perut. Os tidak nafsu makan dan hanya makan sekali dalam sehari. Os
tidak memakan makanan daging hewani (vegetarian). Tidak terdapat riwayat
anemia pada keluarga Os.
Antropometri Os : BB 40 KG, TB 165 CM. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan sklera pucat, gusi bengkak, pucat, edema, lidah bengkak, dan tekanan
darah 90/60 mmHg. Terdapat takikardia. Dari gejala dan pemeriksaaan fisik
disimpulkan terdapat anemia , dan dilakukan pemeriksaan darah.
Pada pemeriksaan lab didapat data sebagai berikut :
Sel darah merah : 3.5 juta/mm3
Hb : 7 g/Dl
Hct : 30 %
Serum Iron, MCV, MCHC : rendah
TIBC : Tinggi

Assesment
1.1

Identitas Pasien

Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan
1.2

: Nn. A
: 20 Tahun
: Perempuan
:-

Antropometri

Berat Badan
Tinggi Badan
IMT
IMT
Kesimpulan

: 40 kg
: 165 cm
: 14.69 kg/m2
: Berat badan (Kg) / Tinggi badan (m2)
: 40 Kg / 1.65 M2
: 14.69 kg/m2
: Kurus
Biokimiawi

Tabel 3 Hasil pemeriksaan laboratorium


Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
Hb
7.0 mg/dL
12-14 mg/dL
Hct
30%
35-45%
Eritrosit
3.5 juta/mm3
4,8-10,8 (103/l)
Serum iron
<30 mg/dL
30-160 mg/dL
MCV
<78m3
78-102m3
MCHC
<31.0 g/dL
31.0-37.0 g/dL
TIBC
>428 mg/Dl
228-428 mg/dL
Sumber : (Nelms 2010).

Keterangan
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Tinggi

Kesimpulan :
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, ditemukan bahwa kadar Hb,
Hct, eritrosit, dan serum iron Os yang lebih rendah dari batas normal yang
menandakan bahwa Os menderita Anemia (Hurst 2008). Kadar MCV dan MCHC
yang rendah menandakan Os termasuk kedalam kategori Hypochromic microcytic
anemia. Kadar TIBC yang tinggi merupakan tanda khas terjadinya anemia
defisiensi Fe ( Fe Utilization Defect) (Silbernagl dan Lang 2000).

Klinis

Pemeriksaan
Tekanan darah
Denyut nadi
Pemeriksaan
Laju pernapasan
Keadaan Umum
Reproduksi
Kaki
Gatrointestinal
Respiratory
Keadaan lainnya

Tabel 4 Hasil Pemeriksaan Klinis dan Fisik


Hasil
Normal
Keterangan
90/60 mmHg
<130/80 mmHg
Rendagh
>60-80 x/menit
60-80 x/menit
Tinggi
Hasil
Normal
Keterangan
12-18 x/menit
Lemah, cepat lelah, cepat mengantuk, tidak nafsu makan,
sulit berkonsentrasi dan belajar
Menstruasi lebih banyak dari biasanya
Edema
Gusi bengkak, pucat dan lidah bengkak
Nafas sesak
Sklera pucat, pucat

Kesimpulan :
Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, Os menderita Hipotensi atau tekanan
darah rendah. Pemeriksaan fisik Os menunjukkan bahwa Os menderita anemia
defisiensi besi dengan tanda dan gejala cepat lelah, lemah, takikardia, sulit
berkonsentrasi, cepat mengantuk, lidah bengkak, pucat dan terdapat menorrhagia
(menstruasi berlebihan). Selain itu Os juga memiliki gejala edema yang
disebabkan karena ketidakmampuan jantung memompa darah secara efektif
sehingga tubuh kekurangan zat gizi dan terjadi penumpukan cairan.
Diet
Kebiasaan makan Os adalah tidak mengonsumsi makanan daging hewani
(Vegetarian).
Riwayat Kesehatan Os
Os tidak pernah mengalami pingsan dan tidak memiliki riwayat demam,
minum obat-obatan dan nyeri perut.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak terdapat riwayat anemia pada keluarga Os.
Problem List
Tabel 5 Problem List
No.
1.

Problem List
Why
Penyakit Utama:
Anemia defisiensi zat besi Anemia merupakan salah satu kelainan pada darah
Tabel 5 Problem List (Lanjutan)

No

Problem List

Why
yang terjadi ketika terdapat defisiensi sel darah
merah (Hurst 2008). Pada kasus ini, anemia
dapat disebabkan karena kehilangan darah yang
disebabkan oleh menstruasi yang banyak.
(Silbernagl dan Lang 2000).

Tanda dan gejala :


Fatigue

Takikardia
Difficulty
concentration &
Sleppness
Tongue Inflamation
Pale
Sklera pucat

2.

Penyakit lain:
Anorexia Nervosa

Tanda dan gejala


Berat badan rendah
Gusi membengkak

Edema

Cepat lelah dan lemah disebabkan karena


kurangan oksigen pada sel darah merah yang
dapat menyebabkan mudah lelah dan lemah
(Hurst 2008).
Kenaikan denyut nadi yang disebabkan
pemompaan sel darah merah yang telah sedikit
untuk menyediakan oksigen. (Hurst 2008).
Sulit berkonsentrasi dan cepat mengantuk
disebabkan karena ketersediaan oksigen yang
kurang pada otak (Hurst 2008).
Inflamasi pada lidah yang merupakan salah satu
gejala penyusutan jaringan (Atrofi) pada papilla
di lidah (Hurst 2008).
Pucat pada anemia disebabkan karena
kurangnya kadar oksigen pada tubuh. (Hurst
2008).
Sklera pucat merupakan hasil dari ketipisan
jaringan dalam uveal, karena besi merupakan
kofaktor dalam sintesis kolagen, defisiensi zat
besi dapat mengganggu sintesis kolagen dan
menyebabkan sklera yang tipis (Maurice 2015).
Anorexia Nervosa merupakan kehilangan nafsu
makan yang dapat disebabkan efek samping
dari penyakit atau kelanian psikologi yang
menyebabkan menolak makanan (Hurst 2008).
Kelainan psikoloigi yang menyebabkan
kehilangan nafsu makan yang menyebabkan
malnutrisi(Hurs2008).
Gusi membengkak yang disebabkan karena
defisiensi vitamin C (Scurvy) yang penting
dalampembentukanjaringanikat(Hurst2008).
DefisiensivitaminCdapatdihubungkandengan
kurangnya penyerapan zat besi dan dapat
mengurangi ketersediaan zat besi (Lee dan
Krawinkel2011).
Edema terjadi karena asupan protein pada pola
makan. Protein menahan cairan pada rongga
vascular (Hurst 2008).

DiagramAlirPenyakit
Peningkatan Menstruasi

Kehilangan darah tinggi

Kadar Fe dalam darah menurun

Penyerapan Fe menurun

Defisiensi Fe

Sintesis Hb menurun

Anemia defisiensi Fe
Gambar 1 Diagram alir penyakit anemia
(Sumber : Silbernagl dan Lang 2000)
Pertanyaan dan Jawaban
1.
Jelaskan penyebab anemia!
Jawab:
Menurut Anindia 2014, Penyebab Anemia diantaranya yaitu :
a.
Rendahnya konsumsi besi
Diet makanan yang rendah besi dapat menimbulkan anemia. Besi yang
didapatkan dari sayuran tidak diserap sebaik kandungan besi yang ada dalam
daging. Beberapa penyakit seperti celiac dan crohns dapat mempengaruhi
penyerapan zat besi.
b.
Kekurangan vitamin
Tubuh memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk membuat sel darah merah.
Diet makanan yang rendah akan kandungan vitamin ini dapat menyebabkan
anemia. Beberapa penyakit autoimmune juga dapat menyebabkan kelainan dalam
penyerapan vitamin ini. Beberapa kandungan makanan seperti sayuran hijau,
buah, kacang-kacangan, roti, dan pasta mengandung asam folat.
c.
Penyakit Kronis
Beberapa penyakit kronis dan infeksi dapat menyebabkan tubuh memproduksi sel
darah merah lebih sedikit. Keadaan ini dapat menurunkan kadar hemoglobin. Bila
Anda kehilangan darah yang banyak juga dapat menyebabkan anemia.
d.
Keadaan Aplastik Anemia
Aplastik anemia merupakan suatu kondisi dimana terjadi kelainan sshingga sumsum tulang tidak memproduksi sel darah yang cukup. Penyebabnya dapat
berbagai macam seperti radiasi dalam dosis tinggi, beberapa bahan kimia, virus,
dan penyakit auto-immune dimana menyebabkan tubuh menyerang tubuh sendiri,

serta beberapa kasus dapat diturunkan.


e.
Kehilangan darah
Kehilangan darah merupakan salah satu peyebab dari anemia. Menstruasi dalam
jumlah yang banyak, ulkus, kecelakaan atau pembedahan dapat menyebabkan
hilangnya darah.
f.
Beberapa penyakit
Beberapa penyakit yang diturunkan seperti talsemia dan hemolytic anemia dapat
menyebabkan gangguan dalam produksi sel darah merah. Penyakit seperti Sickle
Cell Anenia dimana terjadi produksi sel darah merah yang bentuknya abnormal
juga dapat menyebabkan anemia.
2.

Jelaskan bagaimana mencegah dan mengatasi anemia defisiensi Fe!


Jawab:
Pencegahan dan mengatasi anemia defisiensi Fe
a.
Menurut Farma (2011), pencegahan Anemia Defisiensi Zat Besi
diantaranya yaitu :
Makan makanan sumber zat besi seperti daging, hati, telur, ikan, kedelai,
selai kacang, kacang polong, kacang-kacangan, sereal difortifikasi besi.
Membatasi minum susu tidak lebih dari 32 oz perhari.
Makan makanan kaya vitamin A dan C atau suplemen vitamin A dan C.
Kopi dan teh tidak boleh diberikan pada anak-anak karena menghambat
absorpsi zat besi.
Serat merupakan komponen nutrisi yang dapat menurunkan absorpsi zat
besi dari makanan.
b.
Mengatasi anemia defisiensi Fe
Menurut Tarwoto et al. (2010), upaya-upaya untuk mencegah anemia, antara lain
sebagai berikut:
Makan makanan yang mengandung zat besi dari bahan hewani (daging,
ikan, ayam, hati, dan telur); dan dari bahan nabati (sayuran yang berwarna hijau
tua, kacang-kacangan, dan tempe).
Banyak makan makanan sumber vitamin c yang bermanfaat untuk
meningkatkan penyerapan zat besi, misalnya: jambu, jeruk, tomat, dan nanas.
Minum 1 tablet penambah darah setiap hari, khususnya saat mengalami
haid.
Bila merasakan adanya tanda dan gejala anemia, segera konsultasikan ke
dokter untuk dicari penyebabnya dan diberikan pengobatan.
3. Jelaskan komplikasi anemia!
Jawab:
Menurut Tarwoto et al. (2010), komplikasi dari anemia yaitu: Gagal jantung
kongesif; Parestesia; Konfusi kanker; Penyakit ginjal; Gondok; Gangguan
pembentukan heme; Penyakit infeksi kuman; Thalasemia; Kelainan jantung;
Rematoid; Meningitis; Gangguan sistem imun.
4.

Jelaskan nilai abnormal laboratorium, gejala dan tanda klinis dari


a. Anemia defisiensi besi
b. Anemia pernicious
c. Anemia hemolitik

d. Anemia hemorrhagic
e. Anemia akibat penyakit kronis
Jawab:
Gejala dan tanda klinis dari beberapa jenis anemia
a. Anemia defisiensi besi
Nilai abnormal laboratorium pada anemia defisiensi zat besi adalah
sebagai berikut:
Tabel 6 Nilai abnormal laboratorium pada anemia defisiensi zat besi
Karakteristik
Nilai abnormal
Hemoglobin
Pria
<13.5g/dL
Wanita
<12.0g/dL
Hematokrit
Pria
<41%
Wanita
<36%
Serum besi
<30g/dL
Serum Ferritin
Pria
<30g/dL
Wanita
<10g/dL
Serum transferrin
<2.3 g/L
TIBC
>428g/Dl
Eritrosit
bebas
>0.64g/dL
protoporfirin
darah
pucat,
berukuran
kecil
diameter <6 mm
dengan
bentuk
abnormal
Mean
Hb
aktif
(MCH) <26.0 pg/sel (MCH) 31.0 g/dL pak eritrosit
&konsentrasi Hb
Mean Volume sel hidup
Pria dan Wanita
<78m3
Luas pendistribusian
>0.145
RBC
Tanda dan gejala anemia defisiensi besi meliputi kedinginan ekstrim,
wajah pucat, lelah, tidak enak badan, tarkikardia (detak jantung >100
detak/menit) (Nelms et al 2010).
b.
Anemia Pernicious
Tanda dan gejala anemia pernicious diantaranya yaitu lemah, lidah
meradang, kesemutan, pucat (akibat hipoksia), sclera kekuningan,
pandangan memburam, pusing, perubahan kardiovaskular, penurunan
pengecapan, dll. Nilai abnormal laboratorium seperti penurunan level
serum vitamin B12 (<0.1 g/mL), Hb rendah, hematrokit rendah, jumlah sel
darah marah rendah (Hurst 2008).
c.
Anemia Hemolitik
Tanda dan gejalanya yaitu terjadi peningkatan produk metabolisme
hemoglobin yang berakibat letih, pendarahan, infeksi, penyakit kuning,

dan keberadaan gangguan produk pada urin (hemoglobinuria) (Nelms et


al. 2010).
d.
Anemia Hemorrhagic
Gejala dan tanda klinis anemia hemorrhagic yaitu terjadi pendarahan pada
umbilikus setelah lahir, pendarahan pada saluran gastrointestinal, kulit,
atau pos pengiriman udara (Nelms et al. 2010). Nilai abnormal
laboratorium pada anemia hemorrhagic yaitu sebagai berikut.
e.
Anemia akibat penyakit kronis
Anemia pada penyakit kronik biasanya ringan sampai dengan sedang
dan munculnya setelah 12 bulan menderita sakit. Biasanya anemianya
tidak bertambah progresif atau stabil dan mengenai berat ringannya
anemia pada seorang penderita tergantung kepada berat dan lamanya
menderita penyakit tersebut. Gambaran klinis dari anemianya sering
tertutupi oleh gejala klinis dari penyakit yang mendasari
(asimptomatik).Tetapi pada pasienpasien dengan gangguan paru yang
berat, demam, atau fisik dalam keadaan lemah akan menimbulkan
berkurangnya kapasitas daya angkut oksigen dalam jumlah sedang, yang
mana ini nantinya akan mencetuskan gejala. Pada pasienpasien lansia,
oleh karena adanya penyakit vaskular degeneratif kemungkinan akan
ditemukan gejalagejala kelelahan, lemah, klaudikasio intermiten, muka
pucat dan pada jantung keluhannya dapat berupa palpitasi dan angina
pektoris serta dapat terjadi gangguan serebral. Tanda fisik yang mungkin
dapat dijumpai antara lain muka pucat, konjungtiva pucat dan takikardi
(Garisson 2001).
Tabel 7 Perbandingan data Laboratorium dari berbagai jenis anemia
Anemia
Anemia
Anemia
Anemia
Anemia
akibat
pernicious hemolitik
Hemorrhagic defisiensi
penyakit
besi
kronis
Hemoglobin Biasanya , Bervariasi Bervariasi Turun
Bervariasi
9g/dl
MCV dan Normal
Rendah
Rendah
Rendah
Selalu
MCH
atau
rendah
rendah
Besi Serum Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
KIBT
Normal
Selalu
atau
tinggi
rendah
Feritin
>25 atau >12
sering >50
Besi
Normal
Kosong
sumsum
atau tinggi
tulang
Sideroblas
Kurang
Sangat
kurang
Respon besi Tidak ada
Baik
Reseptor
Meningkat Meningkat
Transferin

Sumber : Pedoman Interpretasi Klinik 2011


Samson dan Haworth 1994.
5.

Penyebab anemia defisiensi menurut umur / kelompok tertentu :


a. Anak Balita
- Persediaan besi yang kurang karena berat badan lahir rendah atau
lahir kembar
- Masukan intake besi yang kurang karena tidak mendapat makanan
tambahan (hanya minum susu) dan makanan kurang mengandung
Fe-Heme
- Kebutuhan meningkat karena infeksi berulang/menahun
- Malabsorbsi
(Abdulsalam & Daniel 2002)
b. Ibu Hamil
- Kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan
- Adanya gangguan absorbsi di usus
- Perdarahan akut maupun kronis
- Meningkatnya kebutuhan zat besi
(Fauzia & Nina 2000)
c. Orang Tua
- Defisiensi nutrisi/ Kehilangan darah
- Inflamasi/ Penyakit kronik
- Anemia yang tidak dapat dijelaskan (Unexplained)
(Prasetyo 2008).
Daftar Pustaka

Abdulsalam M & Daniel A. 2002. Diagnosis, Pengobatan dan Pencegahan


Anemia Defisiensi Besi. Sari Pediatri. 4(2): 74-77.
Anindia DE. 2014. Penyebab Anemia. Health Topics [Internet]. [Diunduh 20
Februari
2015];
Tersedia
pada:
http://klikdokter.com/healthnewstopics/health-topics/6-penyebab-anemia.
Bakta, I. M., 2006. Hematologi Klinik Ringkas . Jakarta(ID): EGC
Fauzia D & Nina H. 2000. Faktor Resiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil.
[Internet]. [Diunduh pada 20 Februari 2015]. Tersedia pada:
www.bppsdmk.depkes.go.idshow=detailnews&kode=88&tbl=infobadan.ht
ml.
Garisson SJ. 2001. Dasar-Dasar Terapi dan Rehabilitasi Fisik. Texas(AS):
Departement of Physical Medicine and Rehabilitation.
Hurst M. 2008. Hurst Review: Pathophysiology Review. United States of America
(US): McGraw Hill.
[Kemenkes] Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Pedoman
Interpretasi Data Klinik. Jakarta(ID): Kemenkes.
Lee Y. Krawinkel M. 2011. The Nutritional status of iron, folate, and vitamin B-12
of Buddhist vegetarians. Asia Pac J Clin Nutr 2011;20 (1):42-49.

Maurice Beghetti, Bernadette Mermillod And Daniel S. Halperin. 2015. Blue


Sclerae: A Sign of Iron Deficiency Anemia in Children. [Internet].
[Diunduh
20
Februari
2015].
Tersedia
pada:
http://pediatrics.aappublications.org
Nelms M, Sucher K, Long S. 2010. Nutrition Therapy and Pathophysiology.
Belmont (CA): Thomson/Brooks-Cole.
Prasetyo YF. 2008. HUBUNGAN USIA TERHADAP ANEMIA PADA PASIEN
GERIATRI DENGAN PENYAKIT KRONIK. [Artikel Karya Tulis
Ilmiah]. Semarang(ID): Universitas Diponegoro.
Price, A.Sylvia., Wilson, M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta (ID): EGC.
Samson & Haworth C. 1994. Infection and the bone marrow, In Jenkin GC, eds
Infection and Haematology 1st edition. London (UK): Butterworth
Heinmann.
Silbernagl S. Lang F. 2000. Color Atlas of Phisiology. New York(US): Thieme
Stuttgart.
Soebroto, I. 2010. Cara Mudah Mengatasi Problem Anemia. Yogyakarta(ID):
Bangkit
Tarwoto, Ns. Dkk. 2010. Kesehatan Remaja problem dan solusinya. Jakarta(ID):
Salemba Medika
Wijiastuti H. 2006. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Anemia Pada
Remaja Putri Di Tsanawiyah Negeri Cipondok-Tangerang Tahun 2005.
[Skripsi]. Depok (ID): Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Indonesia.