Anda di halaman 1dari 58

LAMPIRAN I

PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG


NOMOR TAHUN
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG
FORMAT SURAT KEPUTUSAN MENTERI, KEPUTUSAN
GUBERNUR, DAN KEPUTUSAN BUPATI/WALIKOTA TENTANG
PENETAPAN PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI
KEPUTUSAN ____(1)____
NOMOR: ____(2)____
TENTANG
PENETAPAN PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI ____(3)____
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
____(4)____,
Menimbang

a. bahwa
sesuai
dengan
ketentuan
____(5)____,
____(6)_____ ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5
(lima) tahun;
b. bahwa tahun ____(7)____ merupakan masa periodik 5
(lima) tahun pertama untuk dilakukan peninjauan
kembali ____(8)____ untuk melihat kesesuaiannya
dengan kebutuhan pembangunan;
c. bahwa sesuai dengan ketentuan ____(9)____ Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan
Penataan
Ruang,
penetapan
pelaksanaan
peninjauan
kembali
____(10)____
dilakukan dengan Keputusan ____(11)____;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu
menetapkan
Keputusan
____(12)____
tentang
Penetapan
Pelaksanaan
Peninjauan
Kembali
____(13)____;

Mengingat

1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang


Penataan
Ruang
(Lembaran
Negara
Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang

Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
3. ____(14)____
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :

KEPUTUSAN
____(15)____
TENTANG
PENETAPAN
PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI ____(16)____

KESATU

Menetapkan
____(17)____.

KEDUA

Pelaksanaan
peninjauan
kembali
____(18)____
sebagaimana dimaksud dalam DIKTUM KESATU
dilakukan oleh Tim Peninjauan Kembali ____(19)____.

KETIGA

Tim Peninjauan Kembali ____(20)____ sebagaimana


dimaksud dalam DIKTUM KEDUA yang selanjutnya
disebut Tim PK ____(21)____ terdiri atas Tim Pengarah,
Tim Pelaksana, dan Narasumber dengan susunan
keanggotaan sebagaimana tercantum dalam Lampiran
Keputusan ini.

KEEMPAT

Tugas Tim PK ____(22)____yaitu sebagai berikut:

pelaksanaan

peninjauan

kembali

1. Tim Pengarah bertugas:


a. memberikan pengarahan kepada Tim Pelaksana
dalam
pelaksanaan
peninjauan
kembali
____(23)____;
b. memberikan saran dan evaluasi terhadap hasil
kerja Tim Pelaksana; dan
c. menyampaikan laporan dan bertanggung jawab
kepada ____(24)____;
2. Tim Pelaksana bertugas:
a. menyiapkan
____(25)____;

materi

peninjauan

kembali

b. melakukan
penyusunan
dan
perumusan
rekomendasi peninjauan kembali ____(26)____;
c. melakukan
pembahasan
hasil
perumusan
bersama Tim Pengarah dan Narasumber;
d. melakukan koordinasi dengan berbagai pihak
dalam seluruh rangkaian kegiatan peninjauan
kembali____(27)____;
e. menyampaikan laporan pelaksanaan tugasnya dan

bertanggung jawab kepada ____(28)____ melalui


Tim Pengarah;
3. Narasumber
bertugas
memberikan
profesional sesuai bidang keahliannya

masukan

KELIMA

Tim PK ____(29)____ dinyatakan berakhir masa tugasnya


setelah pelaksanaan peninjauan kembali ____(30)____
selesai.

KEENAM

Segala
biaya
ditetapkannya
____(31)____.

KETUJUH

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

yang
dikeluarkan
sebagai
Keputusan
ini
dibebankan

Tembusan disampaikan kepada Yth.:


1. ____(32)____
Ditetapkan di ____(33)____
pada tanggal ____(34)____
____(35)____

____(36)____

akibat
pada

Lampiran Keputusan ____(37)____


Nomor

____(38)____

Tanggal

____(39)____

TIM PENINJAUAN KEMBALI


____(40)____
NO.

NAMA/INSTANSI

A.
1.

TIM PENGARAH

2.

3.
...
B.
1.

dll.
TIM PELAKSANA

2.

3.
....

dll.

KEDUDUKAN
DALAM TIM
Ketua
merangkap anggota
Wakil Ketua
merangkap anggota
Anggota
Ketua
merangkap anggota
Wakil Ketua
merangkap anggota
Anggota

____(41)____

____(42)____

Keterangan:
(1), (4), (11), (12), (15), (24), (28), (35), (37), dan (41): untuk RTRWN yaitu
Menteri Agraria dan Tata Ruang, untuk RTRWP yaitu gubernur
yang RTRWP-nya ditinjau kembali, dan untuk RTRWK/K yaitu
bupati/walikota yang RTRWK/K-nya ditinjau kembali
(2), (38):

nomor

(3), (6), (8), (10), (13), (16) s.d (23), (25) s.d. (27), (29), (30), (40): RTRW yang
ditinjau kembali
(4)

untuk RTRWN yaitu Menteri Agraria dan Tata Ruang, untuk


RTRWP dan RTRWK/K yaitu gubernur atau bupati/walikota yang
RTRW-nya ditinjau kembali

(5)

pasal
dalam
peraturan
perundang-undangan
yang
mengamanatkan dilakukannya peninjauan kembali, yaitu sbb.:
-

untuk peninjauan kembali RTRWN yaitu antara lain Pasal


20 ayat (4) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (UU 26/2007) dan Pasal 82 ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataa Ruang (PP 15/2010);

untuk peninjauan kembali RTRWP yaitu antara lain Pasal 23


ayat (4) UU 26/2007 dan Pasal 82 ayat (1) PP 15/2010;

untuk peninjauan kembali RTRW kabupaten yaitu antara


lain Pasal 26 ayat (5) UU 26/2007 dan Pasal 82 ayat (1) PP
15/2010; dan

untuk peninjauan kembali RTRW kota yaitu antara lain


Pasal 26 ayat (5) dan Pasal 28 UU 26/2007,serta Pasal 82
ayat (1) PP 15/2010.

(7)

tahun dilakukannya peninjauan kembali RTRW

(9)

pasal
dalam
peraturan
perundang-undangan
yang
mengamanatkan penetapan pelaksanaan peninjauan kembali
RTRW, yaitu sbb.:

(14)

untuk peninjauan kembali RTRWN yaitu antara lain Pasal


84 huruf a PP 15/2010;

untuk peninjauan kembali RTRWP yaitu antara lain Pasal 84


huruf b PP 15/2010; dan

untuk peninjauan kembali RTRWK/K yaitu antara lain Pasal


84 huruf c PP 15/2010.

peraturan perundang-undangan lain yang


kewenangan
Menteri,
gubernur,
atau
menetapkan keputusan Menteri, gubernur, atau
dan peraturan perundang-undangan yang
penetapan keputusan Menteri, gubernur, atau
dimaksud.

menjadi dasar
bupati/walikota
bupati/walikota
memerintahkan
bupati/walikota

(31)

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran


Pendapatan dan Belanja Daerah dengan ketentuan sebagai
berikut:
-

untuk peninjauan kembali RTRWN yaitu Anggaran


Pendapatan dan Belanja Negara Kementerian Agraria dan
Tata Ruang;

untuk peninjauan kembali RTRWP yaitu yaitu Anggaran


Pendapatan dan Daerah instansi di lingkungan pemerintah
provinsi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
bidang penataan ruang; dan

untuk peninjauan kembali RTRWK/K yaitu yaitu Anggaran


Pendapatan dan Daerah instansi di lingkungan pemerintah
kabupaten/kota
yang
menyelenggarakan
urusan
pemerintahan bidang penataan ruang.

(32)

pimpinan
kementerian/lembaga
terkait
serta
instansi
pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota terkait.

(33)

lokasi berkedudukannya Menteri Agraria dan Tata Ruang,


gubernur, atau bupati/walikota sebagaimana dimaksud point (1)

(34), (39): tanggal penetapan


(36), (42): namaMenteri Agraria dan Tata Ruang, gubernur, atau
bupati/walikota sebagaimana dimaksud point (1)

LAMPIRAN II
PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG
TATA CARA PENGKAJIAN
PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI RTR
Pengkajian dilakukan dalam rangka melihat pelaksanaan tata ruang
terhadap kebutuhan pembangunan. Pengkajian terhadap RTRW merupakan
suatu proses kegiatan yang bertujuan untuk mengumpulkan data dan
informasi RTRW untuk dilihat kesesuaiannya dengan dinamika
pembangunan.
Tahap pengkajian terbagi menjadi beberapa tahapan yaitu:
a) Tahap pengumpulan data dan informasi; dan
b) Tahap penyusunan matriks kesesuaian.
A.

Tahap pengumpulan data dan informasi


Dalam tahap pengkajian untuk peninjauan kembali yang dilakukan 1
kali dalam 5 tahun dikumpulkan data dan informasi yang mencakup:
1. Dokumen RTR termasuk seluruh lampirannya (indikasi program
dan peta-peta) beserta seluruh dokumen teknisnya yang meliputi
dokumen materi teknis dan dokumen fakta dan analisa
2. Dinamika pembangunan minimal meliputi data dan informasi:
a) Perubahan kebijakan nasional yang mempengaruhi penataan
ruang wilayah nasional atau wilayah provinsi dan perubahan
kebijakan provinsi yang mempengaruhi penataan ruang wilayah
kabupaten/kota.
b) Perubahan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang
menjadi acuan dan terkait dengan rencana tata ruang.
c) Dinamika
pembangunan
nasional,
provinsi,
dan
kabupaten/kota yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan
budaya.
d) Perubahan
arah
pembangunan
berdasarkan
aspirasi
masyarakat.
e) Perkembangan paradigma pemikiran, teknologi, dan penemuan
sumber daya alam.
3. Kondisi aktual pemanfaatan ruang minimal meliputi data dan
informasi:
a) Data program dan penganggaran sektor terkait dalam rangka
perwujudan rencana tata ruang.
b) Peta-peta kondisi aktual pemanfatan ruang di lapangan.
c) Data monitoring dan evaluasi pemanfaatan ruang.

Sedangkan dalam hal terjadi perubahan lingkungan strategis dimana


peninjauan kembali dilakukan lebih dari 1 kali dalam 5 tahun, maka
data dan informasi yang dikumpulkan minimal harus mencakup:
1. Dokumen RTRW termasuk seluruh lampirannya (indikasi program
dan peta-peta) beserta seluruh dokumen teknisnya yang meliputi
dokumen materi teknis dan dokumen fakta dan analisa.
2. Bencana alam besar yang antara lain meliputi data dan informasi:
a) Cakupan lokasi kawasan/wilayah (peta dan deskripsi)
terjadinya bencana alam beserta seluruh kawasan yang terkena
dampak.
b) Data jumlah korban jiwa, kerugian harta benda, serta
kerusakan sarana dan prasarana).
c) Besaran dampak sosial ekonomi yang diakibatkan terjadinya
bencana alam.
d) Alternatif kebutuhan ruang untuk relokasi (jika dibutuhkan).
3. Perubahan batas teritorial negara/batas wilayah daerah yang
antara lain meliputi:
a) Peraturan perundangan/dasar hukum perubahan batas
teritorial negara/batas wilayah daerah.
b) Deskripsi dan peta delineasi/peta perubahan batas.
B.

Tahap penyusunan matriks kesesuaian


Dalam tahap ini dilakukan penyusunan matriks kesesuaian antara
rencana
tata
ruang
dan
kebutuhan
pembangunan
yang
memperhatikan
dinamika
pembangunan
serta
pelaksanaan
pemanfaatan ruang.
1. Matriks dinamika pembangunan
Matriks ini dibuat dengan tujuan untuk melihat dan
membandingkan dinamika pembangunan yang terjadi di wilayah
perencanaan sejak berlakunya RTRW sampai dengan proses
dilaksanakannya peninjauan kembali.
Contoh Matriks Dinamika Pembangunan

No
(1)
1

Dinamika
Pembangunan
(2)

Kondisi Saat
Penyusunan RTRW
(3)

Keterangan
(4)

Indikasi Dampak Perubahan


terhadap Muatan RTRW
(5)

2
n
Petunjuk pengisian:
(1) Diisi dengan penomoran
(2) Diisi dengan perubahan kebijakan, isu strategis, atau dinamika pembangunan lainnya pada saat
peninjauan kembali
(3) Diisi dengan kebijakan, isu strategis, atau kondisi/kebutuhan pembangunan pada saat
penyusunan RTRW. Isian pada kolom ini harus relevan atau dapat diperbandingkan dengan isian
pada kolom (1)

(4)
(5)

Diisi dengan keterangan atau penjelasan yang dibutuhkan berkaitan dengan isian pada kolom (1)
dan (2). Kolom ini dapat dikosongi jika tidak dubutuhkan keterangan atau penjelasan lebih lanjut
Diisi dengan indikasi dampak terhadap muatan RTRW yang diakibatkan oleh adanya perubahan
atau perbedaan pada isian kolom (1) dan (2) yang menunjukkan adanya dinamika pembangunan.
Jika tidak ada dinamika pembangunan yang terjadi maka kolom ini

2. Matriks kondisi aktual pemanfaatan ruang


Matriks ini dibuat dengan tujuan untuk melihat dan
membandingkan kondisi aktual pemanfaatan yang terjadi di
wilayah perencanaan sejak berlakunya RTR sampai dengan proses
peninjauan kembali.
a) Simpangan realisasi program lima tahunan dengan yang
tercantum dalam indikasi program RTR.
Simpangan ini dapat diketahui dengan cara membandingkan
program yang sudah dijalankan dengan program yang
tercantum dalam indikasi program RTR. Simpangan jenis ini
nantinya dapat berdampak pada perubahan dan pergeseran
program dan anggaran di tahap-tahap selanjutnya.
Contoh Matriks Realisasi Program Lima Tahunan
No

Indikasi Program Lima Tahunan

(1)
(2)
Perwujudan rencana struktur ruang
1

Realisasi Program
(3)

Keterangan Terkait
Realisasi Program
(4)

Perwujudan rencana pola ruang


1

Perwujudan rencana kawasan strategis


1

Petunjuk pengisian:
(1) Diisi dengan penomoran
(2) Diisi dengan indikasi program lima tahunan sebagaimana tercantum dalam dokumen rencana
(3) Diisi dengan realisasi program
(4) Diisi dengan keterangan yang diperlukan antara lain: kesesuaian besaran dan jenis realisasi
program, permasalahan terkait realisasi program, dan isian lainnya yang relevan

b) Pemetaan perbedaan antara rencana struktur dan pola ruang


dengan kondisi aktual pemanfaatan ruang yang terjadi di
lapangan.

Simpangan ini diketahui dengan cara melakukan overlay antara


peta yang menunjukkan kondisi aktual pemanfaatan ruang saat
ini dengan kondisi yang diinginkan dalam rencana sehingga
akan diketahui seberapa besar perbedaan atau pelanggaran
terhadap rencana tata ruang yang terjadi. Hasil overlay ini
penting untuk menunjukkan lokasi pemanfaatan ruang mana
saja yang berbeda dengan rencana serta besaran simpangan
yang terjadi. Hasil pemetaan ini nantinya juga akan menjadi
dasar perhitungan persentase simpangan pemanfaatan ruang.
Selanjutnya untuk mempermudah proses di tahap selanjutnya dimana
hasil pengkajian akan menjadi input dalam tahap evaluasi, maka
seluruh hasil pengkajian dapat disajikan dalam bentuk tabel
rekapitulasi sebagaimana contoh tabel di bawah ini. Tabel rekapitulasi
dibuat dengan tujuan untuk melihat keterkaitan antara muatan RTRW
dengan dinamika pembangunan dan kondisi pelaksanaan pemanfaatan
ruang.
Contoh Rekapitulasi Hasil Pengkajian untuk RTRW
Nasional/Provinsi/Kabupaten
No.

Muatan RTRW
Nasional/Provinsi/Kabupaten

(1)
1

(2)
TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI
PENATAAN RUANG
1.1.

Tujuan penataan ruang

1.2.

Kebijakan penataan ruang

1.3.

Strategi penataan ruang

RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH


2.1.

Sistem pusat pelayanan


2.1.1.

2.1.2.
2.2.

Sistem perkotaan
a

PKN

PKW

PKL

PKSN

Sistem pedesaan

Sistem jaringan prasarana


2.2.1.

Sistem jaringan
transportasi
Sistem jaringan
a
transportasi darat
1)
2)
3)

Jaringan jalan
Jaringan jalur
kereta api
Jaringan
transportasi
sungai, danau,

Kebutuhan Pembangunan
Dinamika
Pembangunan
(3)

Pelaksanaan Pemanfaatan
Ruang
(4)

No.

Muatan RTRW
Nasional/Provinsi/Kabupaten

(1)

(2)

dan
penyeberangan
Sistem jaringan
transportasi laut
Tatanan
1)
kepelabuhan
2)

2.2.2.

Alur pelayaran

Sistem jaringan
transportasi udara
Tatanan
1)
kebandarudaraan
Ruang udara
2) untuk
penerbangan

Sistem jaringan energi


Jaringan pipa minyak
dan gas bumi
Pembangkit tenaga
b
listrik
Jaringan transmisi
c
tenaga listrik
Sistem jaringan
telekomunikasi
a

2.2.3.

2.2.4.

2.2.5
2.2.6.
3

Jaringan terestrial

Jaringan satelit

Sistem jaringan sumber


daya air
Wilayah sungai lintas
a
negara
Wilayah sungai lintas
b
provinsi
Wilayah sungai
c
strategis nasional
Wilayah sungai lintas
d
kabupaten *)
Sistem prasarana
pengelolaan lingkungan**)
Sistem jaringan
prasarana lainnya**)

RENCANA POLA RUANG


3.1.

Kawasan Lindung
3.1.1.
3.1.2.
3.1.3.
3.1.4.
3.1.5
3.1.6.

Kawasan hutan lindung


Kawasan yang
memberikan
perlindungan terhadap
kawasan bawahannya
Kawasan perlindungan
setempat
Kawasan suaka alam,
pelestarian alam, dan
cagar budaya
Kawasan rawan bencana
alam
Kawasan lindung geologi

Kebutuhan Pembangunan
Dinamika
Pembangunan
(3)

Pelaksanaan Pemanfaatan
Ruang
(4)

No.

Muatan RTRW
Nasional/Provinsi/Kabupaten

(1)

(2)
3.1.7.
3.2.

Kawasan Budidaya
3.2.1.

Kawasan peruntukkan
hutan produksi

3.2.2.

Kawasan hutan rakyat

3.2.3.
3.2.4.
3.2.5.
3.2.6.
3.2.7.
3.2.8.
3.2.9.
3.2.10.
4

Kawasan lindung lainnya

Kawasan peruntukkan
pertanian
Kawasan peruntukkan
perkebunan
Kawasan peruntukkan
perikanan
Kawasan peruntukkan
pertambangan
Kawasan peruntukkan
industri
Kawasan peruntukkan
pariwisata
Kawasan peruntukkan
permukiman
Kawasan budidaya
lainnya

PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS


4.1.

Bidang pertahanan keamanan

4.2.

Bidang pertumbuhan ekonomi

4.3.

Bidang sosial dan budaya

Bidang pendayagunaan sumber


daya alam dan/atau teknologi
tinggi
Bidang fungsi dan daya dukung
4.5.
lingkungan hidup
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG YANG
BERISI INDIKASI PROGRAM UTAMA
JANGKA MENENGAH LIMA TAHUNAN
4.4.

5.1.

Struktur Ruang Kabupaten


5.1.1.
5.1.2.
5.1.3.
5.1.4.
5.1.5.
5.1.6.
5.1.7.
5.1.8.

5.2.

Perwujudan sistem
perkotaan
Perwujudan sistem
pedesaan
Perwujudan sistem
transportasi
Perwujudan sistem
jaringan energi
Perwujudan sistem
jaringan telekomunikasi
Perwujudan sistem
jaringan sumber daya air
Perwujudan sistem
prasarana pengelolaan
lingkungan
Perwujudan sistem
jaringan/ prasarana
lainnya

Pola Ruang Kabupaten

Kebutuhan Pembangunan
Dinamika
Pembangunan
(3)

Pelaksanaan Pemanfaatan
Ruang
(4)

No.

Muatan RTRW
Nasional/Provinsi/Kabupaten

(1)

(2)

Kebutuhan Pembangunan
Dinamika
Pembangunan
(3)

Pelaksanaan Pemanfaatan
Ruang
(4)

Perwujudan kawasan
lindung
Perwujudan kawasan
5.2.2.
budidaya
ARAHAN PENGENDALIAN
PEMANFAATAN RUANG
5.2.1.

6.1.

Indikasi Arahan Peraturan Zonasi

6.2.

Arahan Perizinan

6.3

Arahan Insentif dan Disinsentif

6.4. Arahan Sanksi Administratif


Catatan :
*) = Hanya untuk muatan RTRW Kabupaten
**) = Hanya untuk muatan RTRW Kabupaten dan Provinsi

Contoh Rekapitulasi Hasil Pengkajian untuk RTRW Kota


No.

(1)
1

Muatan RTRW Kota

(2)
TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI
PENATAAN RUANG
1.1.

Tujuan penataan ruang

1.2.

Kebijakan penataan ruang

1.3.

Strategi penataan ruang

RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH


2.1.

2.2.

Hirarki Pusat Pelayanan Wilayah


Kota
2.1.1.

Pusat pelayanan kota

2.1.2.

Sub pusat pelayanan


kota

2.1.3.

Pelayanan lingkungan

Sistem jaringan prasarana


2.2.1.

Sistem jaringan
transportasi
Sistem jaringan
a.
transportasi darat
1)

Jaringan jalan

Jaringan jalur
kereta api
Jaringan
transportasi
3) sungai, danau,
dan
penyeberangan
Sistem jaringan
transportasi laut
Sistem jaringan
transportasi udara
2)

b.
c.
2.2.2.

Sistem jaringan energi


a.

Jaringan pipa

Kebutuhan Pembangunan
Dinamika
Pembangunan
(3)

Pelaksanaan Pemanfaatan
Ruang
(4)

No.

Muatan RTRW Kota

(1)

2.2.3.

2.2.4.
2.2.5.

(2)
minyak dan gas
bumi
Pembangkit tenaga
b.
listrik
Jaringan transmisi
c.
tenaga listrik
Sistem jaringan
telekomunikasi
a.

Jaringan terestrial

b.

Jaringan satelit

Sistem jaringan sumber


daya air
Sistem prasarana
pengelolaan lingkungan
a.

Sistem drainase

Sistem
persampahan
Sistem penyediaan
c.
air bersih
Sistem pengelolaan
d.
limbah
Sistem jaringan
prasarana lainnya
b.

2.2.6.
3

RENCANA POLA RUANG


3.1.

Kawasan Lindung
3.1.1.
3.1.2.
3.1.3.
3.1.4.
3.1.5
3.1.6.
3.1.7.

3.2.

Kawasan hutan lindung


Kawasan yang
memberikan
perlindungan terhadap
kawasan bawahannya
Kawasan perlindungan
setempat
Ruang Terbuka Hijau
(RTH) Kota
Kawasan suaka alam
dan cagar budaya
Kawasan rawan
bencana alam
Kawasan lindung
lainnya

Kawasan Budidaya
3.2.1.

Kawasan perumahan

3.2.2.

Kawasan perdagangan
dan jasa

3.2.3.

Kawasan perkantoran

3.2.4.

Kawasan industri

3.2.5.

Kawasan pariwisata

3.2.6.
3.2.7.
3.2.8.

Kawasan ruang terbuka


non hijau
Kawasan ruang
evakuasi bencana
Kawasan peruntukkan

Kebutuhan Pembangunan
Dinamika
Pembangunan
(3)

Pelaksanaan Pemanfaatan
Ruang
(4)

No.

Muatan RTRW Kota

(1)

3.2.9.
4

(2)
ruang bagi kegiatan
sektor informal
Kawasan peruntukkan
lainnya

PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS


4.1.

Bidang pertahanan keamanan

4.2.

Bidang pertumbuhan ekonomi

4.3.

Bidang sosial dan budaya

Bidang pendayagunaan sumber


daya alam dan/atau teknologi
tinggi
Bidang fungsi dan daya dukung
4.5.
lingkungan hidup
RENCANA PENYEDIAAN DAN
PEMANFAATAN RUANG TERBUKA,
SERTA PRASARANA DAN SARANA
UMUM
4.4.

5.1.

Ruang terbuka hijau kota

5.2.

Ruang terbuka non hijau kota

5.3.

Jaringan pejalan kaki

5.4.

Jaringan angkutan umum

5.5.

Ruang kegiatan sektor informal

5.6.

Ruang evakuasi bencana

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG YANG


BERISI INDIKASI PROGRAM UTAMA
JANGKA MENENGAH LIMA TAHUNAN
6.1.
Struktur Ruang Kota
Perwujudan pusat
6.1.1.
pelayanan wilayah kota
Perwujudan sistem
6.1.2.
transportasi
Perwujudan sistem
6.1.3.
jaringan energi
Perwujudan sistem
6.1.4.
jaringan telekomunikasi
Perwujudan sistem
6.1.5.
jaringan sumber daya
air
Perwujudan sistem
6.1.6.
prasarana pengelolaan
lingkungan
Perwujudan sistem
6.1.7.
jaringan/ prasarana
lainnya
6.2.

Pola Ruang Kota

Perwujudan kawasan
lindung
Perwujudan kawasan
6.2.2.
budidaya
KETENTUAN PENGENDALIAN
PEMANFAATAN RUANG
6.2.1.

7.1.

Ketentuan Umum Peraturan

Kebutuhan Pembangunan
Dinamika
Pembangunan
(3)

Pelaksanaan Pemanfaatan
Ruang
(4)

No.

Muatan RTRW Kota

(1)

(2)

Kebutuhan Pembangunan
Dinamika
Pembangunan
(3)

Pelaksanaan Pemanfaatan
Ruang
(4)

Zonasi
7.2.

Ketentuan Perizinan

7.3

Ketentuan Insentif dan Disinsentif

7.4.
Sanksi Administratif
Petunjuk pengisian:
(3) Diisi dengan dinamika pembangunan yang terjadi sebagaimana hasil pengkajian
(4) Diisi dengan kondisi aktual pemanfaatan ruang sebagaimana hasil dari pengkajian

LAMPIRAN III
PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG
TATA CARA EVALUASI
PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI RTR
Kegiatan evaluasi dalam pelasakanan peninjauan kembali dilakukan
setelah tahap pengkajian dilakukan yang bertujuan untuk mengukur
tingkat kualitas dan kesesuaian RTRW dengan peraturan perundangundangan serta pelaksanaan pemanfaatan ruang.
A.

Kualitas RTRW
Kualitas RTRW dievaluasi dengan cara melihat beberapa indikator yang
meliputi kelengkapan dan kedalaman rencana tata ruang dengan
materi rencana tata ruang sebagaimana yang telah ditetapkan dalam
peraturan perundangn-undangan, kesesuaian rencana tata ruang
dengan kebutuhan pembangunan yang meliputu perubahan
lingkungan strategis dan dinamika internal sebagaimana juga telah
dijabarkan pada tahap kajian. Secara lebih rinci, berikut adalah
indikator-indikator yang digunakan dalam melakukan evaluasi
kualitas RTRW:
1) Kelengkapan dan kedalaman muatan RTRW
Kelengkapan dan kedalaman muatan RTRW dievaluasi dengan cara
membuat checklist kelengkapan dan kedalaman muatan RTRW
berdasarkan pengaturan muatan/materi yang telah ditetapkan oleh
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Contoh Checklist Kelengkapan dan Kedalaman Materi Muatan RTRW
Nasional/Provinsi/Kabupaten

No.

Muatan RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten

(1)

(2)

TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN


RUANG
1.1.

Tujuan penataan ruang

1.2.

Kebijakan penataan ruang

1.3.

Strategi penataan ruang

RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH


2.1.

Sistem pusat pelayanan


2.1.1.

Sistem perkotaan
a

PKN

Kelengkapan
(3)
Ada

Tidak

Kedalaman
(4)
Cukup

Kurang

Dampak Akibat
Muatan yang Tidak
Lengkap atau
Muatan yang
Kurang Dalam
(5)

No.

Muatan RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten

(1)

(2)

2.1.2.
2.2.

PKW

PKL

PKSN

Sistem pedesaan

Sistem jaringan prasarana


2.2.1.

Sistem jaringan transportasi


a

2.2.2.

2.2.3.

2.2.4.

Sistem jaringan transportasi


darat
1)

Jaringan jalan

2)

Jaringan jalur kereta api

3)

Jaringan transportasi sungai,


danau, dan penyeberangan

Sistem jaringan transportasi laut


1)

Tatanan kepelabuhan

2)

Alur pelayaran

Sistem jaringan transportasi


udara
1)

Tatanan kebandarudaraan

2)

Ruang udara untuk


penerbangan

Sistem jaringan energi


a

Jaringan pipa minyak dan gas


bumi

Pembangkit tenaga listrik

Jaringan transmisi tenaga listrik

Sistem jaringan telekomunikasi


a

Jaringan terestrial

Jaringan satelit

Sistem jaringan sumber daya air


a

Wilayah sungai lintas negara

Wilayah sungai lintas provinsi

Wilayah sungai strategis nasional

Wilayah sungai lintas kabupaten


*)
Sistem prasarana pengelolaan
lingkungan**)
d

2.2.5
2.2.6.
3

Sistem jaringan prasarana lainnya**)

RENCANA POLA RUANG


3.1.

Kawasan Lindung
3.1.1.

Kawasan hutan lindung

3.1.2.

Kawasan yang memberikan


perlindungan terhadap kawasan
bawahannya

3.1.3.

Kawasan perlindungan setempat

Kelengkapan
(3)
Ada

Tidak

Kedalaman
(4)
Cukup

Kurang

Dampak Akibat
Muatan yang Tidak
Lengkap atau
Muatan yang
Kurang Dalam
(5)

No.

Muatan RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten

(1)

(2)

3.2.

3.1.4.

Kawasan suaka alam, pelestarian


alam, dan cagar budaya

3.1.5

Kawasan rawan bencana alam

3.1.6.

Kawasan lindung geologi

3.1.7.

Kawasan lindung lainnya

Kawasan Budidaya
3.2.1.

Kawasan peruntukkan hutan


produksi

3.2.2.

Kawasan hutan rakyat

3.2.3.

Kawasan peruntukkan pertanian

3.2.4.

Kawasan peruntukkan perkebunan

3.2.5.

Kawasan peruntukkan perikanan

3.2.6.

Kawasan peruntukkan pertambangan

3.2.7.

Kawasan peruntukkan industri

3.2.8.

Kawasan peruntukkan pariwisata

3.2.9.

Kawasan peruntukkan permukiman

3.2.10.

Kawasan budidaya lainnya

PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS


4.1.

Bidang pertahanan keamanan

4.2.

Bidang pertumbuhan ekonomi

4.3.

Bidang sosial dan budaya

Bidang pendayagunaan sumber daya alam


dan/atau teknologi tinggi
Bidang fungsi dan daya dukung lingkungan
4.5.
hidup
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG YANG BERISI
INDIKASI PROGRAM UTAMA JANGKA MENENGAH
LIMA TAHUNAN
4.4.

5.1.

Struktur Ruang Kabupaten


5.1.1.

Perwujudan sistem perkotaan

5.1.2.

Perwujudan sistem pedesaan

5.1.3.

Perwujudan sistem transportasi

5.1.4.

Perwujudan sistem jaringan energi

5.1.5.
5.1.6.
5.1.7.
5.1.8.
5.2.

Perwujudan sistem jaringan


telekomunikasi
Perwujudan sistem jaringan sumber
daya air
Perwujudan sistem prasarana
pengelolaan lingkungan
Perwujudan sistem jaringan/
prasarana lainnya

Pola Ruang Kabupaten


5.2.1.

Perwujudan kawasan lindung

5.2.2.

Perwujudan kawasan budidaya

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

Kelengkapan
(3)
Ada

Tidak

Kedalaman
(4)
Cukup

Kurang

Dampak Akibat
Muatan yang Tidak
Lengkap atau
Muatan yang
Kurang Dalam
(5)

No.

Muatan RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten

(1)

(2)
6.1.

Indikasi Arahan Peraturan Zonasi

6.2.

Arahan Perizinan

6.3

Arahan Insentif dan Disinsentif

6.4.

Arahan Sanksi Administratif

Kelengkapan
(3)
Ada

Tidak

Kedalaman
(4)
Cukup

Kurang

Dampak Akibat
Muatan yang Tidak
Lengkap atau
Muatan yang
Kurang Dalam
(5)

Catatan :
*) = Hanya untuk muatan RTRW Kabupaten
**) = Hanya untuk muatan RTRW Kabupaten dan Provinsi

Contoh Checklist Kelengkapan dan Kedalaman Materi Muatan RTRW Kota


No.

Muatan RTRW Kota

(1)

(2)

TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN


RUANG
1.1.

Tujuan penataan ruang

1.2.

Kebijakan penataan ruang

1.3.

Strategi penataan ruang

RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH


2.1.

2.2.

Hirarki Pusat Pelayanan Wilayah Kota


2.1.1.

Pusat pelayanan kota

2.1.2.

Sub pusat pelayanan kota

2.1.3.

Pelayanan lingkungan

Sistem jaringan prasarana


2.2.1.

Sistem jaringan transportasi


a.

Sistem jaringan transportasi


darat
1)

Jaringan jalan

2)

Jaringan jalur kereta api

Jaringan transportasi
sungai, danau, dan
penyeberangan
Sistem jaringan transportasi
laut
Sistem jaringan transportasi
udara
3)

b.
c.
2.2.2.

2.2.3.

Sistem jaringan energi


a.

Jaringan pipa minyak dan


gas bumi

b.

Pembangkit tenaga listrik

c.

Jaringan transmisi tenaga


listrik

Sistem jaringan telekomunikasi


a.

Jaringan terestrial

b.

Jaringan satelit

Kelengkapan
(3)
Ada

Tidak

Kedalaman
(4)
Cukup

Kurang

Dampak Akibat
Muatan yang Tidak
Lengkap atau Muatan
yang Kurang Dalam
(5)

No.

Muatan RTRW Kota

(1)

(2)
2.2.4.

Sistem jaringan sumber daya air

2.2.5.

Sistem prasarana pengelolaan


lingkungan

2.2.6.
3

Sistem drainase

b.

Sistem persampahan

c.

Sistem penyediaan air bersih

d.

Sistem pengelolaan limbah

Sistem jaringan prasarana lainnya

RENCANA POLA RUANG


3.1.

3.2.

a.

Kawasan Lindung
3.1.1.

Kawasan hutan lindung

3.1.2.

Kawasan yang memberikan


perlindungan terhadap kawasan
bawahannya

3.1.3.

Kawasan perlindungan setempat

3.1.4.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota

3.1.5

Kawasan suaka alam dan cagar


budaya

3.1.6.

Kawasan rawan bencana alam

3.1.7.

Kawasan lindung lainnya

Kawasan Budidaya
3.2.1.

Kawasan perumahan

3.2.2.

Kawasan perdagangan dan jasa

3.2.3.

Kawasan perkantoran

3.2.4.

Kawasan industri

3.2.5.

Kawasan pariwisata

3.2.6.

Kawasan ruang terbuka non hijau

3.2.7.

Kawasan ruang evakuasi bencana

3.2.8.

Kawasan peruntukkan ruang bagi


kegiatan sektor informal

3.2.9.

Kawasan peruntukkan lainnya

PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS


4.1.

Bidang pertahanan keamanan

4.2.

Bidang pertumbuhan ekonomi

4.3.

Bidang sosial dan budaya

Bidang pendayagunaan sumber daya alam


dan/atau teknologi tinggi
Bidang fungsi dan daya dukung lingkungan
4.5.
hidup
RENCANA PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN
RUANG TERBUKA, SERTA PRASARANA DAN
SARANA UMUM
4.4.

5.1.

Ruang terbuka hijau kota

5.2.

Ruang terbuka non hijau kota

Kelengkapan
(3)
Ada

Tidak

Kedalaman
(4)
Cukup

Kurang

Dampak Akibat
Muatan yang Tidak
Lengkap atau Muatan
yang Kurang Dalam
(5)

No.

Muatan RTRW Kota

(1)

(2)

5.3.

Jaringan pejalan kaki

5.4.

Jaringan angkutan umum

5.5.

Ruang kegiatan sektor informal

5.6.

Ruang evakuasi bencana

Ada

Tidak

Kedalaman
(4)
Cukup

Kurang

Dampak Akibat
Muatan yang Tidak
Lengkap atau Muatan
yang Kurang Dalam
(5)

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG YANG BERISI


INDIKASI PROGRAM UTAMA JANGKA MENENGAH
LIMA TAHUNAN
6.1.
Struktur Ruang Kota
Perwujudan pusat pelayanan
6.1.1.
wilayah kota
6.1.2.
6.1.3.
6.1.4.
6.1.5.
6.1.6.
6.1.7.
6.2.

Kelengkapan
(3)

Perwujudan sistem transportasi


Perwujudan sistem jaringan
energi
Perwujudan sistem jaringan
telekomunikasi
Perwujudan sistem jaringan
sumber daya air
Perwujudan sistem prasarana
pengelolaan lingkungan
Perwujudan sistem jaringan/
prasarana lainnya

Pola Ruang Kota


6.2.1.

Perwujudan kawasan lindung

6.2.2.

Perwujudan kawasan budidaya

KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN


RUANG
7.1.

Ketentuan Umum Peraturan Zonasi

7.2.

Ketentuan Perizinan

7.3

Ketentuan Insentif dan Disinsentif

7.4.
Sanksi Administratif
Petunjuk pengisian:
(3) Diisi dengan cara memberikan tanda misalnya berupa () pada bagian/kolom yang dianggap
sesuai
(4) Diisi dengan cara memberikan tanda misalnya berupa () pada bagian/kolom yang dianggap
sesuai
(5) Diisi dengan penjelasan yang diperlukan akibat kondisi muatan RTRW yang ada terutama jika
muatan yang ada tidak lengkap atau dengan tingkat kedalaman muatan yang kurang

2) Kualitas data
Kualitas data yang digunakan harus memenuhi ketentuan minimal
sebagaimana yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. Kualitas data menjadi bagian penting karena akan
sangat mempengaruhi kualitas analisis dan output yang
dihasilkan. Checklist evaluasi kualitas data dalam penyusunan
RTRW dapat dilihat sebagaimana pada tabel di bawah ini. Untuk
kualitas data yang perlu diperhatikan adalah kelengkapan data
yang digunakan serta relevansi data yang digunakan pada saat

penyusunan dengan kondisi saat ini, apakah masih relevan atau


perlu dilakukan pemutakhiran data. Penjelasan yang harus
diisikan pada dampak akibat penggunaan data yang tidak lengkap
dan sudah tidak relevan diisi dengan dampaknya terhadap muatan
pengaturan yang ada di rencana tata ruang. Contoh, jika data
kependudukan saat ini sudah sangat berbeda dengan data yang
digunakan pada saat penyusunan RTRW terdahulu maka dapat
memberikan dampak terhadap rencana struktur ruang yang dapat
dirinci lagi dan diberikan penjelasannya.
Ketentuan Data Minimal Yang Harus Digunakan Dalam
Penyusunan RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten/Kota
No.

Jenis Data

Kelengkapan
Ada/
Lengkap

(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

(3)
Tidak ada/
Tidak
Lengkap

Dampak
Akibat Data
yang Tidak
Lengkap

Relevansi dengan
Kondisi Saat Ini
(5)
Masih
Perlu
Relevan
Updating

Dampak
Akibat Data
yang Kurang
Relevan

(2)
(4)
(6)
Data wilayah administrasi
Data fisiografis
Data kependudukan
Data
ekonomi
dan
keuangan
Data
ketersediaan
prasarana
dan
sarana
dasar
Data penggunaan lahan
Data peruntukan ruang
Data
daerah
rawan
bencana
Peta dasar rupa bumi dan
peta
tematik
yang
dibutuhkan termasuk peta
penggunaan lahan, peta
peruntukan ruang, dan
peta daerah rawan bencana
pada skala peta minimal
1:1.000.000 untuk RTRW
nasional;
1:250.000
untuk RTRW provinsi;
1:50.000 untuk RTRW
kabupaten;
1:25.000
untuk RTRW kota
Petunjuk pengisian:
(3) Diisi dengan cara memberikan tanda misalnya berupa () pada bagian/kolom yang dianggap
sesuai
(4) Diisi dengan penjelasan terkait apabila data yang dimaksud tidak ada atau tidak lengkap,
misalnya ada analisis tertentu yang tidak dapat dilakukan
(5) Diisi dengan cara memberikan tanda misalnya berupa () pada bagian/kolom yang dianggap
sesuai
(6) Diisi dengan penjelasan terkait penggunaan data yang kurang relevan, misalnya bagaimana
pengaruhnya dengan output yang akan dihasilkan

B.

Kesesuaian dengan Peraturan Perundang-Undangan


Kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan dievaluasi dengan
cara melihat kesesuaian materi muatan RTRW dengan berbagai
peraturan perundang-undangan yang terkait dan berlaku terhadap
pelaksanaan RTRW. Hal ini sangat penting dilakukan evaluasi terkait
adanya kemungkinan munculnya peraturan perundang-undangan
baru di antara proses penyusunan RTRW dengan saat masa
peninjauan kembali.
Contoh Tabel Kesesuaian Antara RTRW dengan Peraturan Perundangundangan

No.

Peraturan Perundang-undangan

(1)
1.

(2)

Kesesuaian
(3)
Sesuai
Tidak
Sesuai

Muatan
Pengaturan yang
terkait dengan
Muatan RTRW
(4)

Dampak Terhadap
RTRW
(5)

2.
3.

Dst...
Petunjuk pengisian:
(1) Diisi dengan penomoran
(2) Diisi dengan peraturan dan perundang-undangan baru yang berlaku setelah disusunnya RTRW
atau terdapat perubahan terhadap peraturan perundang-undangan yang menjadi acuan ataupun
yang terkait dengan muatan RTRW
(3) Diisi dengan cara memberikan tanda misalnya berupa () pada bagian/kolom yang dianggap
sesuai
(4) Diisi dengan muatan pengaturan perundang-undangan baru yang terkait atau mempengaruhi
pengaturan dalam muatan RTRW
(5) Diisi dengan mencantumkan dampak pengaturan perundang-undangan baru atau yang
mengalami perubahan tersebut terhadap RTRW, terutama jika terdapat ketidaksesuaian

C.

Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang


Evaluasi terhadap pelaksanaanpemanfaatan ruang ditujukan untuk
menilai tingkat kesesuaian pelaksanaan pemanfaatan ruang terhadap
rencana tata ruang. Dalam pemanfaatan ruang, simpangan-simpangan
dapat terjadi apabila terdapat ketidaksesuaian antara pemanfaatan
ruang atau program-program pembangunan yang dilakukan di
lapangan dengan arahan dan muatan dalam rencana tata ruang.
Evaluasi terhadap pelaksanaan pemanfaatan ruang dilakukan untuk
melihat:
a. Besaran simpangan pemanfaatan ruang
Ukuran simpangan kecil jika penyimpangan kurang dari 20% (dua
puluh persen) dari rencana kawasan yang ditetapkan pada lokasi
yang bersangkutan, sedangkan ukuran simpangan besar adalah
penyimpangan lebih dari 20% (dua puluh persen) dari rencana
kawasan yang ditetapkan pada lokasi yang bersangkutan. Besaran
simpangan pemanfaatan ruang hanya dihitung berdasarkan target
capaian program lima tahunan, bukan sampai dengan akhir tahun
perencanaan. Besaran simpangan pemanfaatan ruang ini hanya

dapat dihitung untuk rencana atau program yang memiliki


besaran/unit yang dapat dihitung secara kuantitatif, misalnya
memiliki luasan tertentu.
b.

Jenis simpangan pemanfaatan ruang


Jenis simpangan pemanfaatan ruang dievaluasi dnegan tujuan
untuk melihat apakah program yang sudah dilakukan sudah
sesuai, atau belum dapat terlaksana karena adanya hambatan,
dan sebagainya. Jenis simpangan pemanfaatan ruang dievaluasi
secara kualitatif untuk rencana atau program yang besarannya
tidak dapat dihitung dengan jelas.

c.

Dampak simpangan pemanfaatan ruang


Yang dimaksud dampak simpangan pemanfaatan ruang di sini
meliputi dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dampakdampak ini terdiri atas dampak yang menguntungkan dan
merugikan.

Secara kuantitatif, evaluasi terhadap kesesuaian pemanfaatan


ruang dilihat dengan cara:
1) Membandingkan realisasi program pemanfatan ruang yang
dilakukan di lapangan dengan arahan pemanfaatan ruang yang
terdapat dalam indikasi program lima tahunan
Untuk
melakukan
evaluasi
terhadap
realisasi
program
pemanfaatan ruang dhitung dengan cara mecari nilai persentase
program yang sudah direalisasikan dalam kurun waktu lima
tahunan dibandingan dengan seluruh program yang seharusnya
dilaksanakan dalam kurun waktu lima tahunan. Jika jumlah
program yang sesuai dan sudah terealisasi adalah sejumlah A,
jumlah seluruh program yag harus dilaksanakan adalah x. Maka
penyimpangan terhadap program yang seharusnya direalisasikan
adalah sebesar:
(x-A)
X

2)

100%

a%

Membandingkan kesesuaian pemanfaatan ruang di lapangan


dengan yang tertuang dalam peta rencana tata ruang
Untuk dapat membandingkan kesesuaian pemanfatan ruang di
lapangan dengan sebagaimana yang tertuang dalam peta rencana
tata ruang perlu dilakukan overlay peta. Sedangkan untuk
menghitung besaran penyimpangan dari peta yang dioverlay-kan
dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a) Pemanfaatan ruang
Cara memulai adalah dengan menghitung persentase luas
masing-masing jenis penyimpangan terhadap kawasan yang
direncanakan, misalnya wujud fisik saat ini yang tidak sesuai
dengan arahan pemanfaatan ruang menurut RTRW adalah A

hektar, luasan kawasan menurut RTRW adalah x hektar. Maka


penyimpangan yang terjadi sebesar:
A

100%

a%

Atau
Luas kawasan menurut RTRW adalah x hektar, sedangkan
luas kawasan berdasarkan kondisi eksisting pada saat
peninjauan kembali dilaksanakan adalah B hektar, maka
penyimpangan yang terjadi sebesar:
xB
X

100%

a%

b) Struktur utama tingkat pelayanan


Cara penilaian adalah dengan membuat matriks jumlah
fasilitas dan utilitas pada kawasan yang ditunjuk sebagai
pusat pelayanan. Apabila temyata pada kawasan yang
ditunjuk tidak memenuhi kriteria, maka berarti telah terjadi
penyimpangan. Penyimpangan terjadi bila direncanakan ada 4
pusat pelayanan dan yang sesuai hanya 3 pusat pelayanan,
berarti 1 pusat pelayanan tidak sesuai.
Penyimpangan yang terjadi adalah:
x 100% = 25%
c) Sistem utama transportasi

Dalam rencana ada sistem utama transportasi, dalam


progam juga ada, tetapi pelaksanaannya tidak melalui
pusat-pusat
yang
telah
ditentukan,
maka
penyimpangannya dinilai sebesar 100%.

Dalam rencana tidak ada sistem utama transportasi tetapi


dalam program ada, maka penyimpangan dinilai sebesar
100%.

Dalam rencana ada sistem utama transportasi tetapi tidak


ada, maka penyimpangan dinilai sebesar 100%.

Membandingkan antara panjang dan luas jalan eksisting


dengan panjang dan luas jaringan jalan dalam rencana.
d) Sistem jaringan utilitas

Bila ada jaringan bukan pada kawasan yang perlu


pelayanan, berarti terjadi penyimpangan sebesar 100%.

Membandingkan kebutuhan pelayanan eksisting dengan


rencana pelayanan dalam RTRW.

Untuk selanjutnya evaluasi pelaksanaan pemanfaatan ruang yang


meliputi besaran, jenis dan dampak simpangan pemanfaatan ruang
dituangkan ke dalam matriks evaluasi sebagaimana contoh sebagai
berikut:
Tabel Evaluasi Berdasarkan Overlay Peta Eksisting dan Rencana untuk
Melihat Besaran Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang
No.

(1)

Jenis Dan Muatan


Rencana

Besaran
Luasan Rencana

(2)

(3)

Luasan Berdasarkan Kondisi


Eksisting dan Aktual Di Lapangan
(4)
Sesuai

Persentase Simpangan
Pemanfaatan Ruang
(5)

Tidak sesuai

Rencana struktur ruang


1

Rencana pola ruang


1

Prencana penetapan kawasan strategis


1

C
Total luasan

Total luasan

Total luasan yang

Total persentase

rencana = ?

yang sesuai = ?

tidak sesuai = ?

simpangan = ? %

Petunjuk pengisian:
(1) Diisi dengan penomoran
(2) Diisi dengan jenis dan muatan rencana sebagaimana terdapat dalam dokumen RTRW
(3) Diisi dengan luasan rencana sebagaimana dimuat dalam RTRW
(4) Diisi dengan luasan aktual di lapangan
(5) Diisi dengan persentase simpangan

Tabel Evaluasi Berdasarkan Realisasi Program untuk Melihat Jenis dan


Dampak Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang
No.

Indikasi Program
Lima Tahunan

Realisasi
Program
(1)
(2)
(3)
Perwujudan rencana struktur ruang
1

Perwujudan rencana pola ruang


1

Jenis
Kesesuaian
(4)
Sesuai
Tidak Sesuai

Permasalahan
(5)

Dampak
Dampak Simpangan
Pemanfaatan Ruang
(6)

No.

Indikasi Program
Lima Tahunan

(1)

(2)

Realisasi
Program
(3)

Jenis
Kesesuaian
(4)
Sesuai
Tidak Sesuai

Permasalahan
(5)

Dampak
Dampak Simpangan
Pemanfaatan Ruang
(6)

Perwujudan rencana kawasan strategis


1

Jumlah program dalam


indikasi program = ?

Jumlah

Jumlah

Jumlah

realisasi

realisasi

realisasi

program = ?

program yang

program yang

sesuai = ?

tidak sesuai = ?

Petunjuk pengisian:
(1) Diisi dengan penomoran
(2) Diisi dengan indikasi program lima tahunan sebagaimana dimuat dalam dokumen RTRW
(3) Diisi dengan realisasi program yang dilaksanakan
(4) Diisi dengan cara memberikan tanda misalnya berupa () pada bagian/kolom yang dianggap
sesuai
(5) Diisi dengan memberikan penjelasan atau keterangan lebih lanjut atas ketidaksesuaian realisasi
program, misalnya karena adanya kendala pembiayaan
(6) Diisi dengan dampak apa yang ditimbulkan terutama jika ada ketidaksesuaian realisasi program
dengan rencana baik terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan

LAMPIRAN IV
PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG
TATA CARA PENILAIAN
PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI RTRW
Penilaian terhadap RTRW merupakan suatu proses pengambilan keputusan
yang dilakukan oleh individu/ kelompok orang melalui pemberian suatu
opini nilai yang didasarkan pada data dan informasi yang obyektif dan
relevan mengenai RTRW dengan menggunakan metode/ teknik tertentu.
Tata cara penilaian dalam pelaksanaan peninjauan kembali ini dapat
dilakukan dengan metode kualitatif maupun kuantitatif. Penilaian terhadap
RTRW ini akan menghasilkan rekomendasi tindak lanjut terhadap RTRW.
Perumusan rekomendasi tindak lanjut merupakan hasil peninjauan
kembali yang dikeluarkan oleh tim pelaksana yang menyatakan bahwa
rencana tata ruang yang ditinjau kembali tersebut tidak perlu dilakukan
revisi atau perlu dilakukan revisi.
Ilustrasi Hasil Penilaian
PENGKAJIAN

EVALUASI

PENILAIAN

Kualitas RTRW

Baik/Kurang Baik/Buruk

Dinamika pembangunan

Kesesuaian dengan Per-UU-an

Sesuai/Tidak Sesuai

Simpangan pemanfaatan ruang

Kesesuaian pemanfaatan ruang

Rendah/Tinggi; Belum
Terlaksana/Tidak Sesuai;
Kecil/Besar

I. Contoh Penilaian dengan Menggunakan Metode Kualitatif


A. Kualitas RTRW
1) Kelengkapan dan Kedalaman muatan RTR
Penilaian terhadap kelengkapan dan kedalaman muatan RTRW
dilakukan dengan metode kualitatif dengan cara memberikan
penilaian baik, kurang baik, dan buruk terhadap kelengkapan dan
kedalaman muatan RTRW oleh Tim PK sesuai dengan kriteria
minimal yang ditetapkan sebagai berikut:

Tabel Penilaian Kelengkapan dan Kedalaman muatan RTR


No.

Hasil Penilaian

Baik

Kurang baik

Buruk

2)

No.

Kriteria Minimal yang Harus Dipenuhi


1. Muatan RTRW lengkap sebagaimana yang diatur dalam peraturan
perundangan dan pedoman penyusunannya
2. Memilki tingkat kedalaman yang baik, ditunjukkan dengan
diikutinya seluruh kriteria dan analisis yang harus dilakukan
sebagaimana diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan
dan pedoman penyusunannya
3. Muatan RTRW masing dapat mengakomodir kebutuhan
pembangunan yang meliputi perubahan kebijakan dan dinamika
pembangunan
1. Muatan RTRW lengkap sebagaimana yang diatur dalam peraturan
perundangan dan pedoman penyusunannya
2. Memilki tingkat kedalaman yang buruk, ditunjukkan dengan
tidak diikutinya seluruh kriteria maupun kurangnya analisis yang
seharusnya dilakukan sebagaimana diamanatkan oleh peraturan
perundang-undangan dan pedoman penyusunannya
3. Muatan RTRW sudah tidak mampu mengakomodir perubahan
kebijakan atau dinamika pembangunan
1. Muatan RTRW tidak lengkap, yaitu tidak mencantumkan seluruh
muatan yang diamanatkan peraturan perundang-undangan dan
pedoman penyusunannya
2. Memilki tingkat kedalaman yang buruk, ditunjukkan dengan
diikutinya seluruh kriteria dan analisis yang harus dilakukan
sebagaimana diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan
dan pedoman penyusunannya
3. Muatan RTRW sudah tidak dapat mengakomodir kebutuhan
pembangunan yang meliputi perubahan kebijakan dan dinamika
pembangunan

Kualitas Data
Penilaian terhadap kualitas data RTR dilakukan dengan metode
kualitatif dengan cara memberikan penilaian baik, kurang baik,
dan buruk terhadap kualitas data yang digunakan dalam
penyusunan RTR oleh Tim PK sesuai dengan kriteria minimal yang
ditetapkan sebagai berikut:
Tabel Penilaian Kualitas Data

Hasil Penilaian

Baik

Kurang baik

Kriteria Minimal yang Harus Dipenuhi


1. Data yang digunakan sebagai dasar penyusunan RTRW lengkap
sebagaimana diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan
dan pedoman penyusunannya
2. Seluruh data yang digunakan masih relevan dan tidak perlu
dilakukan pemutakhiran
1. Data yang digunakan sebagai dasar penyusunan RTRW lengkap
sebagaimana diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan
dan pedoman penyusunannya
2. Sebagian data yang digunakan dalam penyusunan RTRW sudah
tidak relevan dan perlu dilakukan pemutakhiran karena akan

No.
3

Hasil Penilaian
Buruk

Kriteria Minimal yang Harus Dipenuhi


1.

2.

mempengaruhi kualitas analisis dan output yang dihasilkan


Data yang digunakan sebagai dasar penyusunan RTRW tidak
lengkap atau tidak sesuai ebagaimana yang diamanatkan oleh
peraturan perundang-undangan dan pedoman penyusunannya
Sebagian besar atau seluruh data yang digunakan dalam
penyusunan RTRW sudah tidak relevan dan perlu dilakukan
pemutakhiran karena akan berdampak pada buruknya kualitas
analisis dan output yang dihasilkan

B. Kesesuaian dengan Peraturan Perundang-undangan


Penilaian terhadap kesesuaian dengan peraturan perundangundangan RTR dilakukan dengan metode kualitatif dengan cara
memberikan penilaian sahih atau tidak sahih oleh Tim PK dengan
mengkuti kriteria sebagai berikut:
Tabel Penilaian Kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan
No.
1

Hasil Penilaian
Sesuai

Kriteria Minimal yang Harus Dipenuhi


1.
2.

3.

4.

Tidak sesuai

1.

2.

3.
4.

Muatan RTRW sudah konsisten dengan seluruh muatan rencana


tata ruang yang ada di atasnya
Muatan RTRW sudah sesuai dengan seluruh peraturan
perundang-undangan yang terkait atau berpengaruh terhadap
RTRW
Muatan RTRW masih sesuai dan sejalan dengan kebijakan
pemerintah yang baru yang ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan
Penyusunan dan penetapan RTRW didasarkan pada proses dan
prosedur sebagaimana yang ditetapkan oleh peraturan
perundang-undangan
Muatan RTRW tidak konsisten terhadap muatan rencana tata
ruang yang ada di atasnya, yang diakibatkan adanya revisi
terhadap muatan rencana tata ruang yang ada di atasnya
Muatan RTRW tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan yang terkait atau berpengaruh, diakibatkan adanya
perubahan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Muatan RTRW tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah yang
baru yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan
Penyusunan dan penetapan RTRW tidak didasarkan pada proses
dan prosedur sebagaimana yang ditetapkan oleh peraturan
perundang-undangan

C. Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang


Penilaian terhadap simpangan pemanfaatan ruang dilakukan
dengan cara melakukan kombinasi metode kualitatif dan
kuantitaif. Simpangan pemanfaatan ruang dinilai dari besaran,
jenis, dan dampak simpangan pemanfaatan ruang dengan rincian
kriteria sebagai berikut:

Tabel Penilaian Simpangan Pemanfaatan Ruang


No.
1

Simpangan
Pemanfaatan
Ruang
Besaran
simpangan

Hasil
Penilaian
Rendah

Tinggi

Jenis simpangan

Dampak
simpangan

Belum
terlaksana
Tidak
sesuai
Kecil

Besar

Kriteria Minimal yang Harus Dipenuhi


1. Realisasi
kesesuaian
pemanfaatan
ruang
sebagaimana tertuang dalam indikasi program lima
tahunan sama dengan atau lebih dari 50% dari
rencana yang telah ditetapkan
2. Penyimpangan pemanfaatan ruang kurang dari 20%
dari rencana dan lokasi yang telah ditetapkan
1. Realisasi
kesesuaian
pemanfaatan
ruang
sebagaimana tertuang dalam indikasi program lima
tahunan kurang dari 50% dari rencana yang telah
ditetapkan
2. Penyimpangan pemanfaatan ruang sama dengan
atau lebih dari 20% dari rencana dan lokasi yang
telah ditetapkan
1. Belum terlaksananya program karena terdapatnya
kendala pembiayaan atau masalah lain yang
merupakan penghambat realisasi program
1. Terdapat program yang dilaksanakan namun tidak
sesuai dengan arahan pemanfaatan uang
1. Adanya dampak lingkungan dan/atau sosialekonomi yang berskala kecil, yaitu dampak kepada
individu maupun lingkungan lokal setempat
2. Tidak memberikan dampak ikutan terhadap
lingkungan yang ada di sekitarnya
1. Adanya dampak lingkungan dan/atau sosialekonomi yang berskala minimal kawasan dan/atau
wilayah
2. Memberikan dampak ikutan terhadap kawasan
dan/atau wilayah yang ada di sekitarnya

Perumusan rekomendasi tindak lanjut merupakan hasil akhir dari kegiatan


peninjauan kembali rencana tata ruang yang dimulai dari tahap evaluasi
yang terdiri dari aspek kualitas, kesesuaian dengan peraturan perundangundangan dan simpangan dan tahap penilaian dengan menilai kriteria pada
ketiga aspek. Untuk menentukan nilai akhir maka dibuat dalam dua belas
tipologi penilaian, yang mana dari tipologi tersebut menentukan hasil dari
PK RTR. Tipologi penilaian peninjauan kembali rencana tata ruang adalah
sebagai berikut:
Tabel Penilaian Peninjauan Kembali Rencana Tata Ruang
No

Kualitas

Kesuaian
dengan
Peraturan PerUU-an

Simpangan
Pemanfaatan Ruang

Keterangan

No

Kualitas

Kesuaian
dengan
Peraturan PerUU-an

Baik

Sahih

Rendah

TIDAK REVISI

Baik

Sahih

Tinggi

REVISI

Baik

Tidak Sahih

Rendah

REVISI

Baik

Tidak Sahih

Tinggi

REVISI

Kurang Baik

Sahih

Rendah

TIDAK REVISI

Kurang Baik

Sahih

Tinggi

REVISI

Kurang Baik

Tidak Sahih

Rendah

REVISI

Kurang Baik

Tidak Sahih

Tinggi

REVISI

Buruk

Sahih

Rendah

REVISI

10

Buruk

Sahih

Tinggi

REVISI

11

Buruk

Tidak Sahih

Rendah

REVISI

12

Buruk

Tidak Sahih

Tinggi

REVISI

Simpangan
Pemanfaatan Ruang

Keterangan

II. Contoh Penilaian dengan Menggunakan Metode Kuantitatif


Pada bagian di bawah ini dijabarkan contoh penilaian dengan metode
kuantitatif dimana angka penilaian dan pemberian bobot dari masingmasing komponen penilaian hanya merupakan ilustrasi sebagai contoh
perhitungan.
A. Aspek Kualitas
1. Kelengkapan dan Kedalaman Muatan Rencana Tata Ruang
Wilayah
Untuk nilai kelangkapan berlaku semua muatan baik RTRW
Nasional, Provinsi, Kabupaten maupun Kota. Penilaian dilakukan
dengan memberikan centang pada kolom sesuai hasil analisa tiap
muatan kelengkapan dan kedalaman serta pemberian nilai pada
kolom akhir.. Selanjutnya di jumlahkan dan dihitung rata-rata per
sub muatan (sub muatan satu sampai sub muatan enam). Kesemua
hasil tiap sub muatan dijumlah dan diambil rata-rata yanag mana
merupakan nilai akhir dari penilaian kelengkapan dan kedalaman
muatan RTRW.
Kriteria penilaian kelengkapan dan kedalaman muatan RTRW adalah:
Nilai 3
Nilai 2

=
=

Nilai 1

BAIK jika kelengkapa ada, kedalaman cukup


KURANG BAIK jika kelengkapan ada, kedalaman kurang atau
kelengkapan tidak ada, kedalaman cukup
BURUK jika kelengkapan tidak ada dan kedalaman kurang

Contoh Tabel Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah Nas/Prov/Kab


Kelengkapan
No.
1

Muatan RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten

Ada

Tidak

Kedalaman
Cukup

Kurang

Nilai

TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN


RUANG
1.1. Tujuan penataan ruang

1.2.

Kebijakan penataan ruang

1.3.

Strategi penataan ruang

RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH


2.1.

Sistem pusat pelayanan


2.1.1.

2.1.2.
2.2.

Sistem perkotaan
a

PKN

PKW

PKL

PKSN

Sistem pedesaan

Jaringan jalur kereta api


Jaringan transportasi sungai,
3)
danau, dan penyeberangan
Sistem jaringan transportasi laut

1)

Tatanan kepelabuhan

2)

Alur pelayaran

Sistem jaringan prasarana


2.2.1.

Sistem jaringan transportasi


a

Sistem jaringan transportasi darat


1)

Jaringan jalan

2)

Sistem jaringan transportasi udara


1)

2.2.2.

2.2.3.

2.2.4.

Tatanan kebandarudaraan
Ruang udara untuk
2)
penerbangan
Sistem jaringan energi
a

Jaringan pipa minyak dan gas bumi

Pembangkit tenaga listrik

Jaringan transmisi tenaga listrik

Sistem jaringan telekomunikasi


a

Jaringan terestrial

Jaringan satelit

Sistem jaringan sumber daya air


a

Wilayah sungai lintas negara

Wilayah sungai lintas provinsi

Wilayah sungai strategis nasional

Kelengkapan
No.

Muatan RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten

2.2.5
2.2.6.
3

Cukup

Kurang

2
3

3.1.5

Kawasan hutan lindung


Kawasan yang memberikan
perlindungan terhadap kawasan
bawahannya
Kawasan perlindungan setempat
Kawasan suaka alam, pelestarian alam,
dan cagar budaya
Kawasan rawan bencana alam

3.1.6.

Kawasan lindung geologi

3.1.7.

Kawasan lindung lainnya

3.1.2.
3.1.3.
3.1.4.

3.2.

Nilai

Kawasan Lindung
3.1.1.

Kawasan Budidaya
3.2.1.

Kawasan peruntukkan hutan produksi

3.2.2.

Kawasan hutan rakyat

3.2.3.

Kawasan peruntukkan pertanian

3.2.4.

Kawasan peruntukkan perkebunan

3.2.5.

Kawasan peruntukkan perikanan

3.2.6.

Kawasan peruntukkan pertambangan

3.2.7.

Kawasan peruntukkan industri

3.2.8.

Kawasan peruntukkan pariwisata

3.2.9.

Kawasan peruntukkan permukiman

3.2.10.

Kawasan budidaya lainnya

PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS

4.1.

Bidang pertahanan keamanan

4.2.

Bidang pertumbuhan ekonomi

4.3.

Tidak

RENCANA POLA RUANG


3.1.

d Wilayah sungai lintas kabupaten *)


Sistem prasarana pengelolaan
lingkungan**)
Sistem jaringan prasarana lainnya**)

Ada

Kedalaman

Bidang sosial dan budaya


Bidang pendayagunaan sumber daya alam
4.4.
dan/atau teknologi tinggi
Bidang fungsi dan daya dukung lingkungan
4.5.
hidup
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG YANG BERISI
INDIKASI PROGRAM UTAMA JANGKA MENENGAH
LIMA TAHUNAN
5.1. Struktur Ruang Kabupaten

5.1.1.

Perwujudan sistem perkotaan

5.1.2.

Perwujudan sistem pedesaan

5.1.3.

Perwujudan sistem transportasi

5.1.4.

Perwujudan sistem jaringan energi

Kelengkapan
No.

Muatan RTRW Nasional/Provinsi/Kabupaten


Perwujudan sistem jaringan
telekomunikasi
Perwujudan sistem jaringan sumber
5.1.6.
daya air
Perwujudan sistem prasarana
5.1.7.
pengelolaan lingkungan
Perwujudan sistem jaringan/ prasarana
5.1.8.
lainnya
Pola Ruang Kabupaten

Ada

5.1.5.

5.2.

Tidak

Kedalaman
Cukup

Kurang

Nilai

5.2.1.

Perwujudan kawasan lindung

5.2.2.

Perwujudan kawasan budidaya

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

6.1.

Indikasi Arahan Peraturan Zonasi

6.2.

Arahan Perizinan

6.3

Arahan Insentif dan Disinsentif

6.4.

Arahan Sanksi Administratif

Total Keseluruhan

16

Nilai Rata-rata 2,64


Catatan :
*) = Hanya untuk muatan RTRW Kabupaten
**) = Hanya untuk muatan RTRW Kabupaten dan Provinsi
Angka 16 adalah penjumlahan dari tiap sub muatan yang kemudian di bagi 6
menghasilkan nilai 3
Berlaku juga untuk muatan RTRW Kota
Beri penjelasan terkait nilai berdasarkan analisis

2. Relevansi Data Rencana Tata Ruang Wilayah


Penilaian dilakukan pada relevansi data tidak jauh berbeda dengan
penilaian kelengkapan dan kedalaman muatan sebelumnya, yakni
dengan memberikan centang pada kolom sesuai hasil analisa tiap
muatan kelengkapan dan kedalaman dan pemberian nilai pada kolom
akhir.
Relevansi data dimaksud untuk mengkroscek data yang digunakan
pada saat penyusunan Rencana Tata Ruang dengan kondisi saat ini,
apakah masih relevan atau perlu dilakukan updating data. Penjelasan
yang harus diisikan pada dampak akibat penggunaan data yang tidak
lengkap dan sudah tidak relevan diisi dengan dampaknya terhadap
muatan pengaturan yang ada di rencana tata ruang. Contoh, jika
data kependudukan saat ini sudah sangat berbeda dengan data yang
digunakan pada saat penyusunan RTRW terdahulu maka dapat
memberikan dampak terhadap rencana struktur ruang yang dapat
dirinci lagi dan diberikan penjelasannya.
Kesemua hasil tiap item (Sembilan item) dijumlah dan diambil ratarata yanag mana merupakan nilai akhir dari penilaian relevansi data
RTRW.
Kriteria penilaian kelengkapan dan kedalaman muatan RTRW adalah:

Nilai 3
Nilai 2

=
=

Nilai 1

BAIK jika kelengkapa ada, kedalaman cukup


KURANG BAIK jika kelengkapan ada, kedalaman kurang atau
kelengkapan tidak ada, kedalaman cukup
BURUK jika kelengkapan tidak ada dan kedalaman kurang

Contoh Tabel Relevansi Data Rencana Tata Ruang Wilayah


Kelengkapan
No.

Jenis Data

Ada/
Lengkap

Tidak ada/
Tidak
Lengkap

Relevansi dengan
Kondisi Saat Ini

Dampak
Akibat Data
yang Tidak
Lengkap

Masih
Relevan

Perlu
Updating

Dampak Akibat Data


yang Kurang Relevan

Nilai

Data wilayah administrasi

Data fisiografis

Data kependudukan

Kebutuhan perumahan
dan penggunaan lahan

Data ekonomi dan keuangan


Data ketersediaan prasarana dan
sarana dasar

Salah
sasaran
Lokasi
tidak
sesuai
Tidak
berkelanjut
an

Data penggunaan lahan

Data peruntukan ruang

Data daerah rawan bencana

Peta dasar rupa bumi dan peta


tematik yang dibutuhkan termasuk
peta penggunaan lahan, peta
peruntukan ruang, dan peta daerah
rawan bencana pada skala minimal
1:250.000

1
-

Tota Keseluruhan
Rata-rata

Catatan : Beri penjelasan terkait nilai berdasarkan analisis

2
30
3,33

B. Aspek Kesesuaian dengan Peraturan Perundang-undangan


Untuk melihat kesesuaian RTRW dengan per-UU-an yang ada
diatasnya, penilaiannya dengan mencentang pada kolom kesesuaian
seta mengisi muatan perubahan dan dampak sesuai hasil analisa.
Kriteria penilaian kelengkapan dan kedalaman muatan RTRW adalah:
Nilai 3
Nilai 2

=
=

SESUAI dengan Perundang-undangan


TIDAK SESUAI dengan Perundang-undangan

Contoh Tabel Kesesuaian Perundang-undangan

No.

1
2
3

Muatan RTR Yang Harus


Diacu dan Peraturan
Perundangan/Kebijakan
yang Terkait/Mempengaruhi
Pelaksanaan RTRW

Kesesuaian

Sesuai

UU No. 26 tahun 2007


tentang Penataan Ruang
UU No. 01 tahun 2014,
PWP3K

Tidak
Sesuai

Dampak
Perubahannya
Terhadap RTRW

Muatan
Perubahannya

Perlu
singkronisasi
RTR
Issu lingkungan
hidup

Pola dan strukrtur


ruang yang mengarah
ke wilayah pesisir
Indikasi program
lingkungan hidup

UU No. 32 tahun 2009,


Perlindungan dan Pengelolan
Lingk. Hidup

Nilai Rata-rata

C. Aspek Pelaksanaan
1. Besar Pelaksanaan (luasan)
Ukuran besar pelaksanaan adalah melihat luasan yang direncanakan
dengan realisasi yang ada, dimana dijabarkan dalam 3 (tiga) tipologi
yakni tinggi, rendah dan tidak ada realisasi, dengan rincian :
Nilai 3 atau Pelaksanaan Tinggi : Realisasi 50-100 %
Nilai
2
atau
Pelaksanaan : Realisasi < 50 %
Rendah
Nilai
1
atau
Tidak
ada : Tidak ada Realisasi
Pelaksanaan
Cara memulai adalah dengan menghitung luas masing-masing jenis
penyimpangan terhadap kawasan yang direncanakan, misalnya
wujud fisik saat ini yang tidak sesuai dengan arahan pemanfaatan
ruang menurut RTRW adalah A hektar, luasan kawasan menurut
RTRW adalah x hektar. Maka penyimpangan yang terjadi sebesar.
X

Total Keseluruhan

Nilai

100%

a%

A : Realisasi
X : Rencana
a%: Hasil Realisasi

7
2,33

Contoh Tabel Besar Pelaksanaan (Luasan) Pola Ruang


No
I

Peruntukan Pola Ruang

Rencana
(ha)

Realisasi
(ha)

Selisih
(ha)

%
Realisasi

Nilai

3,139

2,010

1,129

64%

KAWASAN LINDUNG
1

Hutan Lindung

Resapan Air

20,698

19,882

816

96%

Sempadan Pantai

710

655

55

92%

Sempadan Sungai

21,003

17,933

3,070

85%

45,550

40,480

5,070

89%

3.3

Total Luasan Kawasan Lindung


II

KAWASAN BUDIDAYA

Hutan Produksi Terbatas

40,122

39,123

999

98%

Hutan Produksi Tetap

11,721

9,021

2,700

77%

Perkebunan

46,981

44,312

2,669

94%

Pertanian Pangan Lahan Basah

39,003

31,111

7,892

80%

Pertanian Pangan Lahan Kering

41,942

37,332

4,610

89%

Peternakan

1,023

831

192

81%

Pertambangan

6,923

4,310

2,613

62%

Industri

1,331

822

509

62%

Permukiman Perdesaan

18,043

13,943

4,100

77%

10

Permukiman Perkotaan

121,073

59,012

62,061

49%

11

Minapolitan

181

210

(29)

116%

328,343

239,869

88,474

73%

2.73

Total Luasan Kawasan Lindung

No

Rekap Peruntukan Pola Ruang

Nilai

KAWASAN LINDUNG

KAWASAN BUDIDAYA

Nilai Keseluruhan

Rata-rata

2.86

Contoh Tabel Besar Pelaksanaan (Luasan) Struktur Ruang


No
1

Peruntukan Struktur Ruang

Rencana

Realisasi

Selisih

%
Realisasi

Nilai

Jaringan Jalan

853

303

550

37%

a. Jalan Arteri (km)

120

51

69

43%

b. Jalan Kolektor (km)

401

132

269

33%

c. Jalan Primer (km)

332

120

212

36%

18

12

76%

a. Terminal Tipe A (unit)

100%

b. Terminal Tipe B (unit)

60%

c. Terminal Tipe C (unit)

Jaringan Transportasi Darat

12

67%

Jaringan Transportasi Laut

17%

0.50

a. Pelabuhan Regional (unit)

0%

b. Pelabuhan Lokal (unit)

33%

Jaringan Transportasi Udara

0%

No

Peruntukan Struktur Ruang

Rencana

a. Bandara Udara Internasional


(unit)
b. Bandara Udara Domestik (unit)
5

Nilai

0%

0%

1,522

645

877

54%

1.50

122

82

40

67%

1,400

563

837

40%

2,744,114

1,811,271

932,843

68%

1,691,111

1,003,917

687,194

59%

1,053,003

807,354

245,649

77%

b. PLTG (MW)

No

%
Realisasi

Jaringan Energi

Jaringan Sumber Daya Air


a. Sumber Air Permukaan Sungai
(m3)
b. Air Tanah (m3)

Selisih

a. PLN (MW)
6

Realisasi

Rekap Peruntukan Struktur Ruang

Nilai

Jaringan Jalan

Jaringan Transportasi Darat

Jaringan Transportasi Laut

Jaringan Energi

Jaringan Sumber Daya Air

3
Nilai Keseluruhan
Rata-rata

12
2,30

Catatan :
Evaluasi hanya dilakukan pada rencana dan realisasi untuk lima
tahun pertama. Bias dengan overlay peta eksisiting dengan peta
rencana
Jika realisasi lima tahun pertama melebihi rencana maka menjadi
pertimbangan evaluasi untuk lima tahun kedua dan seterusnya
(contoh pada Kawasan Budidaya untuk Minapolitan)
Penambahan pola dan struktur ruang disesuaikan dengan RTRW
seperti kawasan strategis dan lainnya.
2. Jenis Pelaksanaan (Rencana Program)
Jenis Pelaksanaan pemanfaatan ruang adalah dengan melihat
kegiatan pemanfaatan yang tidak sesuai dengan RTRW dan
rencana yang belum terlaksana, dengan kata kain menyandingkan
indikasi program rencana tata ruang dengan realisasi.
Untuk melihat Jenis Pelaksanaan maka penilaiannya adalah: Nilai
3 untuk realisasi belum sesuai; nilai 2 untuk realisasi belum
sesuai;
dan
nilai
1
untuk
belum
dilaksanakan.

Contoh Tabel Jenis Simpangan (Program)


No

Indikasi Program Lima Pertama


I.

Realisasi Program

Kesesuaian
Tidak
Sesuai
Sesuai

Nilai

Perwujudan rencana struktur ruang


a.Program Peningkatan dan Pembangunan Jalan
- Pembangunan jalan di koridor A-C (150 km)

Pemb. Jalan di Koridor C, D dan F

- Peningkatan jalan di sekitar pasar X (45 km)

Peningkatan sekitar Alun-laun

b.Program Peningkatan Sarana Transportasi dan Energi


-Pembangunan 3 terminal

Hanya 2 terminal yang terbangun

-Pembangunan 3 SUTET di Desa W dan K

Terbangun sesuai rencana

Terlaksana 80 Ha

-Pembangunan kawasan Minapolitan (50 Ha)

Terlaksana 50 Ha

-Pembangunan kawasan Pertanian Terpadu (1.000 Ha)

Hanya terlaksana 350 Ha

II. Perwujudan rencana pola ruang


1

a.Program Pembangunan Sektor Pariwasata


-Penataan kawasan wisata Bukit X (250 Ha)

b.Program Pembangunan Sektor Perikanan dan Perkebunan

b.Program Pembangunan Sektor Kelautan


-Penataan sempadan pantai (200 km2)

Belum dilaksanakan

III. Perwujudan rencana kawasan strategis


1

Pembangunan Kawasan Industri 150 Ha

Sudah terlaksana 150 Ha

Pembangunan Pelabuhan di wilayah X dan Z


Baru terlaksana d wilayah Z
2

2
Catatan:
Disesuaikan dengan rencana program yanga da di RTRW.
Semua hasil evaluasi (kualitas, kesesuaian dan pelaksanaan) diberikan alasan bila terjadi penilaian yang kurang baik/kurang sesuai/
tidak sesuai realisasi dan realisasi belum sesuai rencana program. Sehingga menjadi RTRW revisi maupun tidak direvisi.

III. Contoh Rekapitulasi Penilaian Peninjauan Kembali RTRW dengan


Metode Kuantitatif
Penilaian terhadap RTRW merupakan suatu proses pengambilan keputusan
yang dilakukan melalui pemberian suatu opini nilai yang didasarkan pada
hasil pengkajian dan evaluasi yang obyektif dan relevan. Metode penilaian
dengan diberikan bobot untuk masing-masing aspek dijelaskan lebih rinci di
bawah ini.
Aspek Penilaian
1. Kualitas
2. Kesesuaian UU
3. Pelaksanaan

Nilai Bobot
30
30
40

Pada penilaian adalah merangkum/rekap hasil penilaian evaluasi baik


kualitas, kesesuaian maupun pelaksanaan, yang kemudian di kalikan dengan
bobot masing-masing aspek sehingga menemukan nilai akhir. Yang mana nilai
akhir ini menentukan apakah hasil peninjauan kembali RTRW di Revisi atau
tidak di-Revisi.
Model Penilaian Akhir adalah sebagai berikut:
3.1. Rekap Penilaian Akhir Evaluasi Kualitas
Contoh Tabel Rekap Hasil Evaluasi Kelengkapan dan Relevansi Data RTRW
Rekap

Nilai Rata-rata

Kelengkapan dan Kedalaman

Kualitas Relevansi Data

Total Keseluruhan
Rata - rata

6
3.02

Catatan:
Nilai Yang dipakai adalah 3.02
Berlaku juga untuk RTRW Kota
3.2. Rekap Penilaian Akhir Evaluasi Kesesuaian dengan
Perundang-undangan

Peraturan

Contoh Tabel Penilaian Hasil Evaluasi Kesesuaian dengan Perundangundangan

Muatan RTR Yang Harus Diacu dan Peraturan


Perundangan/Kebijakan yang Terkait/Mempengaruhi Pelaksanaan
RTRW
UU 26 tahun 2007 , Tata Ruang

UU 01 tahun 2014, PWP3K

UU 32 tahun 2009, Perlindungan dan Pengelolan Lingk. Hidup

No.

Nilai
3

No.

Muatan RTR Yang Harus Diacu dan Peraturan


Perundangan/Kebijakan yang Terkait/Mempengaruhi Pelaksanaan
RTRW

Nilai

Total Keseluruhan 7.00


Nilai Rata-rata 2.33
Catatan:
Nilai Yang dipakai adalah 2.33
Berlaku juga untuk RTRW Kota

3.3. Rekap Penilaian Akhir Evaluasi Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang


Contoh Tabel Rekap Penilaian Hasil Evaluasi Besar Pelaksanaan RTRW
(Luasan)
No

Rekap Peruntukan Ruang

Nilai Rata2

Peruntukan Pola Ruang

Peruntukan Struktur Ruang

2
Nilai Keseluruhan
Rata-rata

5
2.58

Contoh Tabel Rekap Penilaian Hasil Evaluasi Jenis Pelaksanaan RTRW


(Program)
No

Rekap Indikasi Program Lima Pertama

Nilai

Perwujudan rencana struktur ruang

Perwujudan rencana pola ruang

Perwujudan rencana kawasan strategis

3
Total
Rata-rata

7
2.25

Contoh Tabel Rekap Penilaian Hasil Evaluasi Dampak Pelaksanaan RTRW


No

Rekap Indikasi Program Lima Pertama

Nilai

Rencana struktur ruang

Rencana pola ruang

Rencana kawasan strategis dan rencana lainnya

3
Total
Rata-rata

9
2.83

Contoh Tabel Penilaian Hasil Pelaksanaan RTRW


Aspek

Nilai Rata2

Pelaksanaan (luasan)

2.58

Pelaksanaan (indikasi program)

2.25

Dampak Pelaksanaan

2.83
Nilai Akhir

Rata-rata
Catatan:
Nilai Yang dipakai adalah 2.56
Berlaku juga untuk RTRW Kota

7.67
2.56

Untuk menentukan penialian PK apakah direvisi atau tidak direvisi maka nilai
akhir dari kualitas, kesesuaian dan pelaksanaan dijumlahkan, yang mana
nilai itu yang akan menentukan hasil dari PK RTRW.
Contoh Tabel Penentuan Penilaian Peninjauan Kembali RTRW

1. Kualitas

3.02

30

Perkalian
Bobot
4 (2x3)
90.56

2. Kesesuian Terhadap UU

2.33

30

70.00

3. Simpangan

2.56

40

102.20

Total

7.91

100

262.76

Rata-rata Nilai Penilaian Akhir PK RTRW

2.64

Aspek

Nilai Akhir

Bobot

87.59
B

Dalam menetukan hasil akhir dari semua penilaian maka dibuat kriteria
untuk menentukan apakah RTRW DIREVISI ATAU TIDAK DIREVISI, yakni:
Dengan Perkalian Bobot (B)
Jika 75 = TIDAK DIREVISI
Jika < 75 = DIREVISI
Atau
Tanpa Dengan Perkalian Bobot (A)
Jika 2,25 = TIDAK DIREVISI
Jika < 2,25
= DIREVISI
Dari hasil penentuan penilaian peninjauan kembali RTRW dengan nilai 87,59
maka hasilnya peninjauan Kembali adalah RTRW TIDAK DIREVISI.

LAMPIRAN V
PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG
FORMAT SURAT KEPUTUSAN MENTERI, KEPUTUSANGUBERNUR,
ATAUKEPUTUSAN BUPATI/WALIKOTA TENTANG REKOMENDASI
TIDAK LANJUT HASIL PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI RTR
KEPUTUSAN ____(1)____
NOMOR: ____(2)____
TENTANG
____(3)____
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
____(4)____,
Menimbang

a. bahwa
dalam
rangka
melaksanakan
ketentuan
____(5)____, ____(6)_____ ditinjau kembali 1 (satu) kali
dalam 5 (lima) tahun, Tim Peninjauan Kembali telah
melakukan penyusunan dan perumusan rekomendasi
peninjauan kembali;
b. bahwa____(7)____ telah dikaji, dievaluasi, dan dinilai oleh
Tim Peninjauan Kembali;
c. bahwa
berdasarkan
pertimbangan
sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan
Keputusan ____(8)____ tentang ____(9)____;

Mengingat

1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang


Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4725);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
3. ____(10)____

MEMUTUSKAN:
Menetapkan :

KEPUTUSAN ____(11)____ TENTANG ____(12)____

KESATU

Menetapkan ____(13)____.

KEDUA

____(14)____dilakukan apabila ____(15)____ memiliki:


a. tingkat kualitas yang baik;
b. tingkat kesesuaian dengan peraturan perundangundangan yang tinggi; dan
c. tingkat simpangan pemanfaatan ruang yang kecil.

KETIGA

Berdasarkan hal-hal sebagaimana dimaksud pada DIKTUM


KEDUA, Tim Peninjauan Kembali memberikan rekomendasi
bahwa ____(16)____ tidak perlu dilakukan revisi dan tetap
berlaku sesuai dengan masa berlakunya.

KEEMPAT

____(17)____ sebagaimana dimaksud pada DIKTUM KEDUA


dapat disertai dengan usulan penertiban terhadap
pelanggaran pemanfaatan ruang.

KELIMA

Segala biaya yang dikeluarkan sebagai akibat ditetapkannya


Keputusan ini dibebankan pada ____(18)____.

KEENAM

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Tembusan disampaikan kepada Yth.:


1. ____(19)____
Ditetapkan di ____(20)____
pada tanggal ____(21)____
____(22)____

____(23)____

Keterangan:
(1), (4), (8), (11), (20) : untuk RTRWN yaitu Menteri Agraria dan Tata
Ruang,untuk RTRWP yaitu gubernur yang RTRWP-nya
ditinjau kembali, dan untuk RTRWK/K yaitu
bupati/walikota yang RTRWK/K-nya ditinjau kembali
(2)

tanggal surat

(3), (9), (12), (13), (14), (17)


:
rekomendasi tidak perlu dilakukan
revisi/rekomendasi perlunya dilakukan revisi
(6), (7), , (12), (13), (15), (18)
(5)

RTR yang ditinjau kembali

pasal dalam peraturan perundang-undangan yang mengamanatkan


dilakukannya peninjauan kembali, yaitu sbb.:
-

untuk peninjauan kembali RTRWN yaitu antara lain Pasal 20


ayat (4) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (UU 26/2007) dan Pasal 82 ayat (1) Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataa Ruang (PP 15/2010);

untuk peninjauan kembali RTRWP yaitu antara lain Pasal 23


ayat (4) UU 26/2007 dan Pasal 82 ayat (1) PP 15/2010;

untuk peninjauan kembali RTRW kabupaten yaitu antara lain


Pasal 26 ayat (5) UU 26/2007 dan Pasal 82 ayat (1) PP
15/2010; dan

untuk peninjauan kembali RTRW kota yaitu antara lain Pasal


26 ayat (5) dan Pasal 28 UU 26/2007,serta Pasal 82 ayat (1) PP
15/2010.

(10)

peraturan perundang-undangan lain yang menjadi dasar


kewenangan Menteri, gubernur, atau bupati/walikota menetapkan
keputusan Menteri, gubernur, atau bupati/walikota dan peraturan
perundang-undangan yang memerintahkan penetapan keputusan
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota dimaksud.

(16)

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran


Pendapatan dan Belanja Daerah dengan ketentuan sebagai berikut:
-

untuk peninjauan kembali RTRWN yaitu Anggaran Pendapatan


dan Belanja Negara Kementerian Agraria dan Tata Ruang;

untuk peninjauan kembali RTRWP yaitu yaitu Anggaran


Pendapatan dan Daerah instansi di lingkungan pemerintah
provinsi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang
penataan ruang; dan

untuk peninjauan kembali RTRWK/K yaitu yaitu Anggaran


Pendapatan dan Daerah instansi di lingkungan pemerintah
kabupaten/kota yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
bidang penataan ruang.

(19)

pimpinan kementerian/lembaga terkait serta instansi pemerintah


daerah provinsi dan kabupaten/kota terkait.

(20)

lokasi berkedudukannya Menteri Agraria dan Tata Ruang,


gubernur, atau bupati/walikota sebagaimana dimaksud point (1)

(22)

tanggal penetapan

(23)

namaMenteri
Agraria dan Tata
Ruang,
gubernur,
bupati/walikota sebagaimana dimaksud point (1)

atau

LAMPIRAN VI
PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG
PERHITUNGAN PERUBAHAN MATERI RTR

Perhitungan besarnya perubahan materi dihitung melalui perkalian antara


nilai tingkat perubahan dengan bobot masing-masing materi. Nilai tingkat
perubahan yang dimaksud adalah:
Materi berubahan total
Nilai : 1
Materi berubah sebagian
Nilai : 0,5
Materi tidak berubah
Nilai : 0
Sedangkan bobot masing-masing materi untuk RTRWN, RTRWP, dan RTRW
Kabupaten/Kota, tersaji pada tabel berikut:
Tabel Ketentuan Bobot Masing-Masing Muatan Materi dalam RTRW Nasional
NO
1.

2.

MUATAN RTRWN
TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN
RUANG
1.1. Tujuan penataan ruang
1.2. Kebijakan penataan ruang
1.3. Strategi penataan ruang
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH
2.1. Sistem pusat pelayanan
2.1.1.
Sistem perkotaan nasional
a. PKN
b. PKW
c. PKL
d. PKSN
2.1.2.
Sistem perdesaan
2.2. Sistem jaringan prasarana
1.
Sistem jaringan transportasi nasional
a. Sistem jaringan transportasi darat
1) Jaringan jalan nasional
2) Jaringan jalur kereta api
3) Jaringan transportasi sungai,
danau, dan penyeberangan
b. Sistem jaringan transportasi laut
1) Tatanan kepelabuhan
2) Alur pelayaran
c. Sistem jaringan transportasi udara
1) Tatanan kebandarudaraan
2) Ruang udara untuk penerbangan

BOBOT
MATERI
15,00%
5,00%
5,00%
5,00%
40,00%
5,00%
4,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
3,00%
35,00%
20,00%
10,00%
5,00%
3,00%
2,00%
5,00%
2,50%
2,50%
5,00%
2,50%
2,50%

KETERANGAN

NO

MUATAN RTRWN
2.

3.

4.

5.

Sistem jaringan energi nasional


a. Jaringan pipa minyak dan gas bumi
b. Pembangkit tenaga listrik
c. Jaringan transmisi tenaga listrik
3.
Sistem jaringan telekomunikasi nasional
a. Jaringan terestrial
b. Jaringan satelit
4.
Sistem jaringan sumber daya air
a. Wilayah sungai lintas negara
b. Wilayah sungai lintas provinsi
c. Wilayah sungai strategis nasional
RENCANA POLA RUANG
3.1. Kawasan Lindung
3.1.1.
Kawasan hutan lindung
3.1.2.
Kawasan yang memberikan perlindungan
terhadap kawasan bawahannya
3.1.3.
Kawasan perlindungan setempat
3.1.4.
Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan
cagar budaya
3.1.5
Kawasan rawan bencana alam
3.1.6.
Kawasan lindung geologi
3.1.7.
Kawasan lindung lainnya
3.2. Kawasan Budidaya
3.2.1.
Kawasan peruntukkan hutan produksi
3.2.2.
Kawasan hutan rakyat
3.2.3.
Kawasan peruntukkan pertanian
3.2.4.
Kawasan peruntukkan perkebunan
3.2.5.
Kawasan peruntukkan perikanan
3.2.6.
Kawasan peruntukkan pertambangan
3.2.7.
Kawasan peruntukkan industri
3.2.8.
Kawasan peruntukkan pariwisata
3.2.9.
Kawasan peruntukkan permukiman
3.2.10. Kawasan budidaya lainnya
PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL
1.
Bidang pertahanan keamanan
2.
Bidang pertumbuhan ekonomi
3.
Bidang sosial dan budaya
4.
Bidang pendayagunaan sumber daya alam dan/atau
teknologi tinggi
5.
Bidang fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG YANG BERISI
INDIKASI PROGRAM UTAMA JANGKA MENENGAH LIMA
TAHUNAN
5.1. Struktur Ruang Nasional
5.1.1.
Perwujudan sistem perkotaan
5.1.2.
Perwujudan sistem pedesaan
5.1.3.
Perwujudan sistem transportasi
5.1.4.
Perwujudan sistem jaringan energi
5.1.5.
Perwujudan sistem jaringan telekomunikasi
5.1.6.
Perwujudan sistem jaringan sumber daya
air

BOBOT
MATERI
5,00%
1,67%
1,67%
1,67%
5,00%
2,50%
2,50%
5,00%
1,67%
1,67%
1,67%
20,00%
10,00%
1,43%
1,43%
1,43%
1,43%
1,43%
1,43%
1,43%
10,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
5,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
10,00%
5,00%
1,00%
0,50%
1,00%
0,50%
0,50%
0,50%

KETERANGAN

NO

MUATAN RTRWN
5.1.7.

6.

Perwujudan sistem prasarana pengelolaan


lingkungan
5.1.8.
Perwujudan sistem jaringan/ prasarana
lainnya
5.2. Pola Ruang Nasional
5.2.1.
Perwujudan kawasan lindung
5.2.2.
Perwujudan kawasan budidaya
ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
6.1. Indikasi Arahan Peraturan Zonasi
6.2. Arahan Perizinan
6.3 Arahan Insentif dan Disinsentif
6.4. Arahan Sanksi Administratif

BOBOT
MATERI
0,50%

KETERANGAN

0,50%
5,00%
2,50%
2,50%
10,00%
2,50%
2,50%
2,50%
2,50%

Tabel Ketentuan Bobot Masing-Masing Muatan Materi dalam RTRW Provinsi


NO

MUATAN RTRW PROVINSI

1.

TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG


1.1. Tujuan penataan ruang
1.2. Kebijakan penataan ruang
1.3. Strategi penataan ruang
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH
2.1. Sistem pusat pelayanan
2.1.1.
Sistem perkotaan
a. PKN
b. PKW
c. PKL
d. PKSN
2.1.2.
Sistem pedesaan
2.2. Sistem jaringan prasarana
2.2.1.
Sistem jaringan transportasi
a. Sistem jaringan transportasi darat
1) Jaringan jalan
2) Jaringan jalur kereta api
3) Jaringan transportasi sungai, danau,
dan penyeberangan
b. Sistem jaringan transportasi laut
1) Tatanan kepelabuhan
2) Alur pelayaran
c. Sistem jaringan transportasi udara
1) Tatanan kebandarudaraan
2) Ruang udara untuk penerbangan
2.2.2.
Sistem jaringan energi
a. Jaringan pipa minyak dan gas bumi
b. Pembangkit tenaga listrik
c. Jaringan transmisi tenaga listrik
2.2.3
Sistem jaringan telekomunikasi
a. Jaringan terestrial
b. Jaringan satelit
2.2.4
Sistem jaringan sumber daya air
a. Wilayah sungai lintas negara
b. Wilayah sungai lintas provinsi

2.

BOBOT
MATERI
15,00%
5,00%
5,00%
5,00%
40,00%
5,00%
4,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
3,00%
35,00%
10,00%
5,50%
3,50%
1,50%
1,50%
2,00%
1,00%
1,00%
2,00%
1,00%
1,00%
5,00%
1,67%
1,67%
1,67%
5,00%
2,50%
2,50%
5,00%
1,67%
1,67%

KETERANGAN

NO

3.

4.

5.

6.

MUATAN RTRW PROVINSI


c. Wilayah sungai strategis nasional
2.2.5.
Sistem prasarana pengelolaan lingkungan
2.2.6.
Sistem jaringan prasarana lainnya
RENCANA POLA RUANG
3.1. Kawasan Lindung
3.1.1.
Kawasan hutan lindung
3.1.2.
Kawasan yang memberikan perlindungan
terhadap kawasan bawahannya
3.1.3.
Kawasan perlindungan setempat
3.1.4.
Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan
cagar budaya
3.1.5
Kawasan rawan bencana alam
3.1.6.
Kawasan lindung geologi
3.1.7.
Kawasan lindung lainnya
3.2. Kawasan Budidaya
3.2.1.
Kawasan peruntukkan hutan produksi
3.2.2.
Kawasan hutan rakyat
3.2.3.
Kawasan peruntukkan pertanian
3.2.4.
Kawasan peruntukkan perkebunan
3.2.5.
Kawasan peruntukkan perikanan
3.2.6.
Kawasan peruntukkan pertambangan
3.2.7.
Kawasan peruntukkan industri
3.2.8.
Kawasan peruntukkan pariwisata
3.2.9.
Kawasan peruntukkan permukiman
3.2.10. Kawasan budidaya lainnya
PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS
4.1. Bidang pertahanan keamanan
4.2. Bidang pertumbuhan ekonomi
4.3. Bidang sosial dan budaya
4.4. Bidang pendayagunaan sumber daya alam dan/atau
teknologi tinggi
4.5. Bidang fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG YANG BERISI INDIKASI
PROGRAM UTAMA JANGKA MENENGAH LIMA TAHUNAN
5.1. Struktur Ruang Provinsi
5.1.1.
Perwujudan sistem perkotaan
5.1.2.
Perwujudan sistem pedesaan
5.1.3.
Perwujudan sistem transportasi
5.1.4.
Perwujudan sistem jaringan energi
5.1.5.
Perwujudan sistem jaringan telekomunikasi
5.1.6.
Perwujudan sistem jaringan sumber daya air
5.1.7.
Perwujudan sistem prasarana pengelolaan
lingkungan
5.1.8.
Perwujudan sistem jaringan/ prasarana
lainnya
5.2. Pola Ruang Provinsi
5.2.1.
Perwujudan kawasan lindung
5.2.2.
Perwujudan kawasan budidaya
ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
6.1. Indikasi Arahan Peraturan Zonasi
6.2. Arahan Perizinan

BOBOT
MATERI
1,67%
5,00%
5,00%
20,00%
10,00%
1,43%
1,43%
1,43%
1,43%
1,43%
1,43%
1,43%
10,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
5,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
10,00%
5,00%
1,00%
0,50%
1,00%
0,50%
0,50%
0,50%
0,50%
0,50%
5,00%
2,50%
2,50%
10,00%
2,50%
2,50%

KETERANGAN

NO

MUATAN RTRW PROVINSI


6.3
6.4.

Arahan Insentif dan Disinsentif


Arahan Sanksi Administratif

BOBOT
MATERI
2,50%
2,50%

KETERANGAN

Keterangan:
1. Materi Muatan RTRW Provinsi disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik di masing-masing
Provinsi; dan
2. Pembagian bobot materi disesuaikan dengan ketersediaan materi muatan RTRW Provinsi di masingmasing Provinsi, namun sub jumlahnya tetap sama dengan yang sudah ditentukan pada tabel di atas.

Tabel Ketentuan Bobot Masing-Masing Muatan Materi dalam RTRW Kabupaten


NO
1.

2.

MUATAN RTRW KABUPATEN


TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN
RUANG
1.1. Tujuan penataan ruang
1.2. Kebijakan penataan ruang
1.3. Strategi penataan ruang
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH
2.1. Sistem pusat pelayanan
2.1.1.
Sistem perkotaan
a. PKN
b. PKW
c. PKL
d. PKSN
2.1.2.
Sistem pedesaan
2.2. Sistem jaringan prasarana
2.2.1.
Sistem jaringan transportasi
a. Sistem jaringan transportasi darat
1) Jaringan jalan
2) Jaringan jalur kereta api
3) Jaringan transportasi sungai,
danau, dan penyeberangan
b. Sistem jaringan transportasi laut
1) Tatanan kepelabuhan
2) Alur pelayaran
c. Sistem jaringan transportasi udara
1) Tatanan kebandarudaraan
2) Ruang udara untuk penerbangan
2.2.2.
Sistem jaringan energi
a. Jaringan pipa minyak dan gas bumi
b. Pembangkit tenaga listrik
c. Jaringan transmisi tenaga listrik
2.2.3.
Sistem jaringan telekomunikasi
a. Jaringan terestrial
b. Jaringan satelit
2.2.4.
Sistem jaringan sumber daya air
a. Wilayah sungai lintas negara
b. Wilayah sungai lintas provinsi
c. Wilayah sungai lintas kabupaten
d. Wilayah sungai strategis nasional
2.2.5
Sistem prasarana pengelolaan lingkungan

BOBOT
MATERI
15,00%
5,00%
5,00%
5,00%
30,00%
5,00%
3,00%
0,75%
0,75%
0,75%
0,75%
2,00%
25,00%
9,00%
5,00%
3,00%
1,00%
1,00%
2,00%
1,00%
1,00%
2,00%
1,00%
1,00%
3,20%
1,07%
1,07%
1,07%
3,20%
1,60%
1,60%
3,20%
0,80%
0,80%
0,80%
0,80%
3,20%

KETERANGAN

NO
3.

4.

5.

6.

MUATAN RTRW KABUPATEN


2.2.6.
Sistem jaringan prasarana lainnya
RENCANA POLA RUANG
3.1. Kawasan Lindung
3.1.1.
Kawasan hutan lindung
3.1.2.
Kawasan yang memberikan perlindungan
terhadap kawasan bawahannya
3.1.3.
Kawasan perlindungan setempat
3.1.4.
Kawasan suaka alam, pelestarian alam,
dan cagar budaya
3.1.5
Kawasan rawan bencana alam
3.1.6.
Kawasan lindung geologi
3.1.7.
Kawasan lindung lainnya
3.2. Kawasan Budidaya
3.2.1.
Kawasan peruntukkan hutan produksi
3.2.2.
Kawasan hutan rakyat
3.2.3.
Kawasan peruntukkan pertanian
3.2.4.
Kawasan peruntukkan perkebunan
3.2.5.
Kawasan peruntukkan perikanan
3.2.6.
Kawasan peruntukkan pertambangan
3.2.7.
Kawasan peruntukkan industri
3.2.8.
Kawasan peruntukkan pariwisata
3.2.9.
Kawasan peruntukkan permukiman
3.2.10. Kawasan budidaya lainnya
PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS
4.1. Bidang pertahanan keamanan
4.2. Bidang pertumbuhan ekonomi
4.3. Bidang sosial dan budaya
4.4. Bidang pendayagunaan sumber daya alam dan/atau
teknologi tinggi
4.5. Bidang fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG YANG BERISI
INDIKASI PROGRAM UTAMA JANGKA MENENGAH
LIMA TAHUNAN
5.1. Struktur Ruang Kabupaten
5.1.1.
Perwujudan sistem perkotaan
5.1.2.
Perwujudan sistem pedesaan
5.1.3.
Perwujudan sistem transportasi
5.1.4.
Perwujudan sistem jaringan energi
5.1.5.
Perwujudan sistem jaringan
telekomunikasi
5.1.6.
Perwujudan sistem jaringan sumber daya
air
5.1.7.
Perwujudan sistem prasarana pengelolaan
lingkungan
5.1.8.
Perwujudan sistem jaringan/ prasarana
lainnya
5.2. Pola Ruang Kabupaten
5.2.1.
Perwujudan kawasan lindung
5.2.2.
Perwujudan kawasan budidaya
ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
6.1. Indikasi Arahan Peraturan Zonasi

BOBOT
MATERI
3,20%
30,00%
15,00%
2,14%
2,14%
2,14%
2,14%
2,14%
2,14%
2,14%
15,00%
1,50%
1,50%
1,50%
1,50%
1,50%
1,50%
1,50%
1,50%
1,50%
1,50%
5,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
10,00%
5,00%
0,63%
0,63%
0,63%
0,63%
0,63%
0,63%
0,63%
0,63%
5,00%
2,50%
2,50%
10,00%
2,50%

KETERANGAN

NO

MUATAN RTRW KABUPATEN


6.2.
6.3
6.4.

Arahan Perizinan
Arahan Insentif dan Disinsentif
Arahan Sanksi Administratif

BOBOT
MATERI
2,50%
2,50%
2,50%

KETERANGAN

Keterangan:
1. Materi Muatan RTRW Provinsi disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik di masing-masing
Kabupetan; dan
2. Pembagian bobot materi disesuaikan dengan ketersediaan materi muatan RTRW Kabupetan di masingmasing Kabupetan, namun sub jumlahnya tetap sama dengan yang sudah ditentukan pada tabel di
atas.

Tabel Ketentuan Bobot Masing-Masing Muatan Materi dalam RTRW Kota


NO
1.

2.

3.

MUATAN RTRW KABUPATEN


TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN
RUANG
1.1. Tujuan penataan ruang
1.2. Kebijakan penataan ruang
1.3. Strategi penataan ruang
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH
2.1. Hirarki Pusat Pelayanan Wilayah Kota
2.1.1.
Pusat pelayanan kota
2.1.2.
Sub pusat pelayanan kota
2.1.3.
Pelayanan lingkungan
2.2. Sistem jaringan prasarana
2.2.1.
Sistem jaringan transportasi
a. Sistem jaringan transportasi darat
1) Jaringan jalan
2) Jaringan jalur kereta api
3) Jaringan transportasi sungai,
danau, dan penyeberangan
b. Sistem jaringan transportasi laut
c. Sistem jaringan transportasi udara
2.2.2.
Sistem jaringan energi
a. Jaringan pipa minyak dan gas
bumi
b. Pembangkit tenaga listrik
c. Jaringan transmisi tenaga listrik
2.2.3.
Sistem jaringan telekomunikasi
a. Jaringan terestrial
b. Jaringan satelit
2.2.4.
Sistem jaringan sumber daya air
2.2.5.
Sistem prasarana pengelolaan
lingkungan
a. Sistem drainase
b. Sistem persampahan
c. Sistem penyediaan air bersih
d. Sistem pengelolaan limbah
2.2.6.
Sistem jaringan prasarana lainnya
RENCANA POLA RUANG
3.1. Kawasan Lindung
3.1.1.
Kawasan hutan lindung

BOBOT
MATERI
10,00%
3,33%
3,33%
3,33%
27,50%
2,50%
0,83%
0,83%
0,83%
25,00%
9,00%
5,00%
3,00%
1,00%
1,00%
2,00%
2,00%
3,20%
1,07%
1,07%
1,07%
3,20%
1,60%
1,60%
3,20%
3,20%
0,80%
0,80%
0,80%
0,80%
3,20%
27,50%
13,75%
1,96%

KETERANGAN

NO

MUATAN RTRW KABUPATEN


3.1.2.

4.

5.

6.

Kawasan yang memberikan


perlindungan terhadap kawasan
bawahannya
3.1.3.
Kawasan perlindungan setempat
3.1.4.
Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota
3.1.5
Kawasan suaka alam dan cagar budaya
3.1.6.
Kawasan rawan bencana alam
3.1.7.
Kawasan lindung lainnya
3.2. Kawasan Budidaya
3.2.1.
Kawasan perumahan
3.2.2.
Kawasan perdagangan dan jasa
3.2.3.
Kawasan perkantoran
3.2.4.
Kawasan industri
3.2.5.
Kawasan pariwisata
3.2.6.
Kawasan ruang terbuka non hijau
3.2.7.
Kawasan ruang evakuasi bencana
3.2.8.
Kawasan peruntukkan ruang bagi
kegiatan sektor informal
3.2.9.
Kawasan peruntukkan lainnya
PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS
4.1. Bidang pertahanan keamanan
4.2. Bidang pertumbuhan ekonomi
4.3. Bidang sosial dan budaya
4.4. Bidang pendayagunaan sumber daya alam
dan/atau teknologi tinggi
4.5. Bidang fungsi dan daya dukung lingkungan
hidup
RENCANA PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN
RUANG TERBUKA, SERTA PRASARANA DAN
SARANA UMUM
5.1. Ruang terbuka hijau kota
5.2. Ruang terbuka non hijau kota
5.3. Jaringan pejalan kaki
5.4. Jaringan angkutan umum
5.5. Ruang kegiatan sektor informal
5.6. Ruang evakuasi bencana
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG YANG BERISI
INDIKASI PROGRAM UTAMA JANGKA MENENGAH
LIMA TAHUNAN
6.1. Struktur Ruang Kota
6.1.1.
Perwujudan pusat pelayanan wilayah
kota
6.1.2.
Perwujudan sistem transportasi
6.1.3.
Perwujudan sistem jaringan energi
6.1.4.
Perwujudan sistem jaringan
telekomunikasi
6.1.5.
Perwujudan sistem jaringan sumber
daya air
6.1.6.
Perwujudan sistem prasarana
pengelolaan lingkungan
6.1.7.
Perwujudan sistem jaringan/

BOBOT
MATERI
1,96%
1,96%
1,96%
1,96%
1,96%
1,96%
13,75%
1,53%
1,53%
1,53%
1,53%
1,53%
1,53%
1,53%
1,53%
1,53%
5,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
1,00%
10,00%
1,67%
1,67%
1,67%
1,67%
1,67%
1,67%
10,00%
5,00%
0,71%
0,71%
0,71%
0,71%
0,71%
0,71%
0,71%

KETERANGAN

NO

MUATAN RTRW KABUPATEN


prasarana lainnya
Pola Ruang Kota
6.2.1.
Perwujudan kawasan lindung
6.2.2.
Perwujudan kawasan budidaya
KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN
RUANG
7.1. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
7.2. Ketentuan Perizinan
7.3 Ketentuan Insentif dan Disinsentif
7.4. Sanksi Administratif
6.2.

7.

BOBOT
MATERI

KETERANGAN

5,00%
2,50%
2,50%
10,00%
2,50%
2,50%
2,50%
2,50%

Keterangan:
1. Materi Muatan RTRW Kota disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik di masing-masing
kabupaten; dan
2. Pembagian bobot materi disesuaikan dengan ketersediaan materi muatan RTRW Kota di masing-masing
Kota, namun sub jumlahnya tetap sama dengan yang sudah ditentukan pada tabel di atas.

Anda mungkin juga menyukai