Anda di halaman 1dari 9

ETIKA BISNIS

Kasus Laporan Ganda Bank Lippo

Disusun oleh
Kelompok 1
Fitria Nurrahmawati (11304002)
Reinelda Mawarwati (113040006)
Adi Ricardi (113040010)
Lisa Amalia (113040011)
Ica Uhwatun Nisa (113040015)
Kelas: 3A Akuntansi

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI


Jl. Pemuda No.32 Telp (0231) 206558 Kota Cirebon

ANALISIS KASUS LAPORAN GANDA BANK LIPPO

A. Dilihat dari Segi Kode Etik Akuntan Publik


1. Pengrtian Etika
Kasus yang dilakukan oleh PT Bank LippoTbk salah karena tidak
adanya checks and balances yang baik antara direksi dan komisaris dengan
manajemen PT Bank Lippo Tbk yang menyampaikan dua laporan keuangan
yang tidak diaudit. Jika dilihat dari sudut pandang GCG terjadi karena
lemahnya penerapan prinsip akuntabilitas di dalam PT Bank Lippo Tbk,
khususnya dalam hal pembuatan laporan keuangan. Tidak hanya membuat
laporan berganda namun PT Bank Lippo telah diduga menyalahgunakan jual
beli saham di pasar modal. Dengan banyaknya kasus tersebut menyebabkan
kepercayaan investor dan kreditur terhadap PT bank lippo Tbk mulai menurun.
Laporan
keuangan PT Bank Lippo yang telah dimanipulasi dan menyalahgunakan jual
beli saham di pasar modal menimbulkan terjadinya turunnya saham sehingga
pada awal tahun 2003 PT Bank Lippo tersebut memperoleh hak untuk
melakukan rencana right issue (penerbitan saham baru untuk menambah
modal) guna menghindari pailit. Wakil presiden komisaris Bank Lippo Roy E
Tirtadji mengatakan, rencana penjualan agunan yang diambil alih (AYDA) di
Bank Lippo sudah disetujui oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional
(BPPN) sebagaimana halnya rencana melakukan pengumpulan saham (reverse
stock split).
2. Fungsi etika
Atas Perbedaan Laporan keuangan ini, pada tanggal 15 januari
2003,Bank Lippo dipanggil BEJ dan Bapepam untuk menjelaskan soal laporan
ganda, Menurut Presiden Direktur Bank Lippo I Gusti Made Mantra, seperti
dituturkan Direktur Utama BEJ Erry Firmansyah, laporan keuangan kuartal III
tahun 2002 yang dipublikasikan pada 28 November 2002 lalu belum
memasukkan hasil penilai terhadap transaksi yang diketahui kemudian.
Laporan keuangan itu dilansir guna memenuhi ketentuan Bank Indonesia, agar
laporan keuangan diumumkan paling lambat 60 hari setelah masa buku
ditutup. Presiden Direktur Bank Lippo, I Gusti Made Mantera, menjelaskan

bahwa perbedaan isi laporan disebabkan adanya peristiwa setelah tanggal


neraca (subsequent event), yakni berupa penurunan nilai aset yang diambil
alih (AYDA) dari Rp 2,4 triliun menjadi Rp 1,42 triliun. Menurut seorang
pejabat Bank Lippo yang tak mau disebut namanya, penurunan drastis nilai
aset yang kebanyakan berbentuk properti ini terjadi karena saat ituJuni 2002
BPPN mengguyur pasar melalui penjualan aset secara besar-besaran dengan
harga obral. Akibatnya, ketika aset itu dinilai otomatis nilainya turun, kata
pejabat itu. Sehingga Penjelasan yang telah dituturkan tersebut membuat
Presiden Direktur Bank Lippo mengelak bahwa manajemennya tidak
melakukan kesalahan apapun, dan berpendapat bahwa perilaku yang
dilakukannya

wajar-wajar

saja

karena

alasan

utamanya

untuk

mempertahankan perusahaan itu.


B. Dilihat dari Segi Standar Umum Dan Prinsip Akuntansi.
1. Standar Umum
Anggota KAP harus mematuhi standar berikut ini beserta interpretasi
yang terkait yang dikeluarkan oleh badan pengatur standar yang ditetapkan
IAI:

Kompetensi Profesional. Anggota KAP hanya boleh melakukan


pemberian jasa profesional yang secara layak (reasonable) diharapkan
dapat diselesaikan dengan kompetensi profesional. Pada kasus PT
Bank Lippo, tbk telah ditemukan adanya kelalaian yang dilakukan oleh
Akuntan Publik Drs. Ruchjat Kosasih, pathner KAP Prasetio, Sarwoko,
& Sandjaja, berupa keterlambatan dalam penyampaian peristiwa
penting dan material mengenai penurunan nilai AYDA PT. Bank Lippo
kepada Bapepam. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa kurangnya
kompeten akuntan publik yang telah memeriksa laporan keuangan PT

Bank Lippo, tbk tersebut.


Kecermatan dan Keseksamaan Profesional. Anggota KAP wajib
melakukan pemberian jasa profesional dengan kecermatan dan
keseksamaan profesional. Laporan Keuangan merupakan tanggung
jawab manajemen dan tanggung jawab auditor adalah pada opini atas
laporan keuangan yang diaudit. Jika menyimak atas temuan Bapepam
atas auditor yang melakukan tugas audit di PT. Lippo, Tbk, seharusnya
KAP tersebut memenuhi standar pekerjaan auditor yang telah

ditetapkan, dalam melakukan audit manajemen PT. Bank Lippo


dilakukan pengujian pengendalian intern atas manajemen dengan
seksama. Karena pada prinsipnya dalam melakukan suatu kegiatan
akuntansi dalam entitas yang perlu diperhatian adalah tercapainya
pengendalian intern yang baik, dalam hal ini fungsi kontrol sangat
mempengaruhi output dari kegiatan dalam suatu entitas, termasuk

dalam membuat laporan keuangan.


Perencanaan dan supervisi. Anggota KAP wajib merencanakan dan
mensupervisi secara memadai setiap pelaksanaan pemberian jasa
profesional. Namun, yang terjadi Akuntan Publik dari KAP Prasetio,
Sarwoko & Sandjaja memperlihatkan bahwa mereka melakukan

perencanaan dan supervisi dengan baik.


Data Relevan yang Memadai. Anggota KAP wajib memperoleh data
relevan yang memadai untuk menjadi dasar yang layak bagi
kesimpulan atau rekomendasi sehubungan dengan pelaksanaan jasa
profesionalnya. Akuntan Publik Drs. Ruchjat Kosasih, pathner KAP
Prasetio, Sarwoko, & Sandjaja telah menyatakan opini Wajar Tanpa
Pengeculian terhadap satu Laporan Keuangan PT. Bank Lippo Tbk per
30 September 2002 yang diaudit, sehingga membuktikan bahwa
akuntan publik tersebut memperoleh data yang relevan dari PT Bank

Lippo, tbk.
2. Prinsip-prinsip akuntansi
IAI juga mengatur hal-hal yang tidak diperkenankan akuntan dalam
melaksanakan tugas profesionalnya. Namun pada kasus PT Bank Lippo, salah
satu laporan keuangan PT. Bank Lippo Tbk per 30 September 2002 yang
diaudit dengan opini Wajar Tanpa Pengeculian dari Kantor Akuntan Publik
dari KAP Prasetio, Sarwoko & Sandjaja, dengan Laporan Auditor Independen
No. REC-0031/02 dengan tanggal ganda (dual dating ) tertanggal 20
November 2002(kecuali untuk catatan 40a tertanggal 22 November 2002 dan
catatan 40c tertanggal 16 Desember 2002) yang disampaikan kepada
Manajemen PT Lippo Tbk pada tanggal 6 Januari 2003. Dapat dikatakan
bahwa akuntan publik yang memeriksa laporan keuangan PT Bank Lippo, tbk
tersebut melakukan hal yang benar sesuai dengan standar mutu tinggi auditing,
namun pihak akuntan publik tersebut masih kurang kompeten.

C. Dilihat dari Prinsip Good Corporate Gorvenance


Pengertian GCG menurut Bank Dunia (World Bank) adalah kumpulan hukum,
peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi yang dapat mendorong kinerja
sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien, menghasilkan nilai ekonomi jangka
panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat
sekitar secara keseluruhan. Ada dua prinsip yang harus dilakukan dalam GCG yaitu
prinsip transparansi dan prinsip akuntabilitas. Dari prinsip tranparansi tersebut
seharusnya PT Bank Lippo memiliki kewajiban untuk menginformasikan laporan
keuangan hendaknya dilakukan secara tepat dan dilakukan secara profesional dengan
cara menunjuk auditor yang lebih independen, qualified, dan competent. Perbuatan
manajemen PT Bank Lippo Tbk yang telah lalai karena mencantumkan kata audited
di dalam laporan keuangan yang sebenarnya belum diaudit merupakan sebuah bentuk
ketidakhati-hatian yang merupakan tanggung jawab dari Manajemen PT Bank Lippo
Tbk. Dan untuk melakukan transaksi jual beli saham di pasar modal seharusnya PT
Bank Lippo mengikuti ketetapan dan peraturan yang berlaku yang berada di bursa
efek pasar modal. Seharusnya membuat laporan keuangan yang baik mengacu pada
pedoman yang tepercaya seperti peraturan PSAK. Berdasarkan pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan No. 1 PT Bank Lippo Tbk harus mengikuti peraturan yang
berlaku di pedoman SAK tersebut.yaitu dengan memaparkan laporan keuangan yang
lebih detail dan lebih baik lagi agar terhindarnya dari proses kecurangan dan proses
ketidakhati-hatian.

D. Dilihat dari Segi Norma (Aturan)


1. Norma Hukum
Bahwa kasus tersebut melanggar Undang-Undang No. 8 Tahun 1995
tentang pasar modal. Bab X pelaporan dan keterbukaan informasi
Memberikan paparan kewajiban bagi pelaku di bursa saham untuk melapor
Badan Pengawas Pasar Modal, termasuk jenis laporan yang harus
disampaikan. Bab XI Penipuan, Manipulasi Pasar, dan Perdagangan Orang
Dalam Penjelasan mengenai aktivitas dan kegiatan apa saja yang dilarang di

kegiatan pasar modal, termasuk penipuan, dan pelarangan penggunaan orang


dalam sesuai ketentuan berlaku seperti tertulis di pasal 90, pasal 91, pasal 93,
pasal 94 sampai pasal 99.
2. Norma Agama
PT Bank Lippo Tbk merupakan lembaga keuangan yang melayani
masyarakat dalam hal simpanan dana maupun pinjaman dana. Seharusnya PT
Bank Lippo tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji tersebut, seperti
melakukan manipulasi laporan keuangan dan menyalahgunakan jual beli
saham. Ketidakjujuran inilah yang meyebabkan PT Bank Lippo tersebut sulit
untuk dipercaya.
3. Norma Moral
PT Bank Lippo melakukan tindakan yang tidak bermoral sehingga
menyebabkan tercemarnya kelayakan Bank yang berada di Indonesia.
Seharusnya PT Bank Lippo Tbk melakukan tindakan agar dapat memajukan
perdagangan

saham

dan

penanaman

modal

di

Indonesia

sehingga

perekonomian di Indonesia menjadi lebih baik lagi.


E. Solusi untuk Bank Lippo
1. Solusi yang Dilakukan Oleh Bank Lippo
Beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh manajemen Bank Lippo
sehingga tidak terjadi praktek manajemen laba yang akan menjatuhkan citra
perusahaan dan tentu saja secara makro tidak merugikan perekonomian
indonesia khususnya di bidang perbankan, antara lain :
Implementasi Good Corporate Governance yang baik
Terjadinya kesalahan terkait kata diaudit pada laporan
keuangan yang dipublikasikan, oleh dewan direksi diakui sebagai
suatu kelalaian, mereka menyampaikan alasan bahwa komisaris yang
seharusnya memeriksa laporan keuangan tersebut terlalu sibuk
sehingga tidak memperhatikan kata-kata diaudit. Hal ini juga
dipertegas oleh hasil pemeriksaan yang disampaikan melalui siaran
pers pemeriksaan laporan keuangan. Hal ini menunjukkan lemahnya

tata kelola perusahaan sehingga harus dievaluasi.


Kejelasan kontrak tujuan penilaian
Banyak opini yang menyayangkan permasalahannya terletak

pada hasil penilaian kembali AYDA oleh penilai independen, terutama


mereka yang memiliki latar belakang sebagai penilai. Menurut
mereka, seharusnya ada kejelasan kontrak mengenai tujuan dari
perusahaan menggunakan jasa penilaian darinya. Sehingga tidak
terjadi hal seperti ini yang berakibat buruk bagi perusahaan dan citra
profesi jasa penilai. Seharusnya manajemen memberikan kejelasan
tujuan dari penilaian kepada penilai independen, sehingga konteks dan

hasilnya nanti jelas.


Pengawasan yang lebih ketat oleh dewan komisaris
Adanya laporan yang audited dan unaudit menunjukkan
pengawasan yang lemah dari dewan komisaris yang tugas pokok dan
fungsinya adalah dalam hal laporan keuangan. Adanya perbedaan
pernyataan yang terjadi antara laporan keuangan publikasian dengan
yang dikirim ke BEJ merupakan kelalaian dewan komisaris. Hal itu
tidak akan terjadi andai saja dewan komisaris yang proses
pemilihannya juga sudah kontradiktif dengan aturan tidak melakukan

kelalaian.
2. Solusi yang di Lakukan Dari Manajemen Bank Lippo
Berdasarkan keterangan tertulis BPPN, pada 30 Oktober 2002
manajemen Bank Lippo melakukan presentasi tentang rencana strategis bank.
Dalam presentasi itu, manajemen menyampaikan rencana reversed stock split
dan upaya memperkuat struktur modal untuk mengantisipasi penerapan
baselaccord II. Solusi yang ditawarkan adalah menambah modal dengan
mekanisme right issue. Menanggapi rencana reversed stock split yang
bertujuan

meningkatkan

likuiditas

dan

harga

saham,

BPPN

dapat

menyetujuinya. Sedangkan terhadap rencana rights issue, BPPN tidak setuju.


Manajemen juga diminta berkonsultasi dengan Bank Indonesia untuk
memperoleh kepastian tentang penerapan basel accord II, sehingga bisa
ditentukan apakah diperlukan penambahan modal atau tidak.
3. Solusi Yang Dilihat Dari Sisi Auditor
Dalam audit haruslah ada etika. Etika dalam auditing adalah suatu
proses yang sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara
objektif mengenai asersi-asersi kegiatan ekonomi, dengan tujuan menetapkan

derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut, serta penyampaian hasilnya


kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Independensi
Independensi adalah keadaan bebas dari pengaruh, tidak
dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain
(Mulyadi dan Puradireja, 2002: 26). Dalam SPAP (IAI, 2001: 220.1)
auditor diharuskan bersikap independen, artinya tidak mudah
dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan
umum (dibedakan di dalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern).
Terdapat tiga aspek independensi seorang auditor, yaitu sebagai
berikut :
Independence in fact (independensi dalam fakta) Artinya
auditor harus mempunyai kejujuran yang tinggi, keterkaitan
yang erat dengan objektivitas.
Independence
in
appearance

(independensi

dalam

penampilan) Artinya pandangan pihak lain terhadap diri


auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit.
Independence in competence (independensi dari sudut
keahliannya) Independensi dari sudut pandang keahlian terkait

erat dengan kecakapan profesional auditor.


Tanggung Jawab Auditor
The Auditing Practice Committee, yang merupakan cikal bakal
dari Auditing Practices Board, ditahun 1980, memberikan ringkasan
(summary) tanggung jawab auditor:
Perencanaan, Pengendalian dan Pencatatan. Auditor perlu
merencanakan, mengendalikan dan mencatat pekerjannya.
Sistem Akuntansi. Auditor harus mengetahui dengan pasti
sistem pencatatan dan pemrosesan transaksi dan menilai
kecukupannya sebagai dasar penyusunan laporan keuangan.
Bukti Audit. Auditor akan memperoleh bukti audit yang
relevan dan reliable untuk memberikan kesimpulan rasional.
Pengendalian Intern. Bila auditor berharap untuk
menempatkan

kepercayaan

pada

pengendalian

internal,

hendaknya memastikan dan mengevaluasi pengendalian itu


dan melakukan compliance test.

Meninjau Ulang Laporan Keuangan yang Relevan. Auditor


melaksanakan tinjau ulang laporan keuangan yang relevan
seperlunya, dalam hubungannya dengan kesimpulan yang
diambil berdasarkan bukti audit lain yang didapat, dan untuk
memberi dasar rasional atas pendapat mengenai laporan
keuangan.

Anda mungkin juga menyukai