Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

1. Resusitasi jantung paru (RJP) didefinisaikan sebagai suatu sarana dalam memberikan bantuan
hidup dasar dan lanjut kepada pasien yang mengalami henti nafas atau henti jantung.RJP
diindikasikan untuk pasien yang tidak sadar,tidak bernafas dan tidak menunjukkan adanya
tanda-tanda sirkulasi.
a) RJP merupakan suatu prosedur emergensi dan di rumah sakit biasanya telah dibentuk tim
khusus yang terlatih dan berpengalaman dalam melakukan RJP.
b) Menurut statistik,tindakan RJP dilakukan sebanyak 1/3 dari 2 miliar kematian pasien yang
terjadi di rumah sakit Amerika Serikat setiap tahunya. Proporsi dari tindakan RJP ini
dianggap berhasil dalam merestorasi fungsi kardopulmoner pasien.
c) Dari pasien-pasienyang dilakukan RJP, sebanyak 1/3-nya berhasil dan 1/3 dari pasien-pasien
yang berhasil ini dapat bertahan hinga pulang dari rumah sakit.
d) Tingkat keberhasilan RJP bergantung pada sifat dan derajat penyakit pasien.
e) Pada suatu studi di rumah sakit Boston, pasien dengan kangker lanjut yang telah
bermetatasis tidak ada yang dapat bertahan hidup hingga pulang dari rumah sakit. Diantara
pasien gagal ginjal, hanya 2% yang bertahan hidup hingga pulang dari rumah sakit.
f) Biasanya pada pasien yang berhasil dilakukan RJP inisial tetapi meninggal sebelum pulang
dari rumah sakit, hampir selalu dirawat di ruang rawat intensif, (Intensive Care Unit-ICU).
g) Pada suatu studi lain menyatakan bahwa sekitar 11% pasien yang berhasil dilakukan RJP
inisial akan mengalami RJP ulang minimal 1-kali selama masa perawatan di rumah sakit.
h) Biasanya pasien RJP yang berhasil bertahan hidup dan pulang dari rumah sakit tidak
mengalami gangguan /disfungsi yang berat.
i) Suatu studi menyatakan bahwa 93% dari pasien-pasien ini memiliki orientasi yang baik saat
dipulangkan dari rumah sakit .
j) Pada pasien-pasien yang berhasil dilakukan RJP: beberapa diantaranya berhasil mengalami
pemulihan sempurna, beberapa pulih tetaapi memiliki masalah kesehataan dan tidak pernah
kembali ke level normal sebelum terjadi henti jantung / napas, beberapa mengalami
kerusakan / cedera otak atau koma, dan beberapa lainya jatuh kembali kedalam kondisi
henti jantung / napas sehingga harus dilakukan RJP ulang.
k) Tingkat keberhasilan RJP bergantung pada:
i. Penyebab twerjadinya henti jantung/ napas pada pasien.
ii. Penyakit/ masalah medis yang mendasari.
iii. Kondisi kesehatan pasien secara umum.
1. Seringnya pasien yang berhasil dilakukan RJP masih mengalami kondisi yang sakit dan
membutuhkan penanganan lebih lanjut dan biasanya dirawat di ICU.
2. Penting untuk mengidentifikasi pasien dimana terjadinya henti napas dan jantung menandakan
kondisi terminal penyakit pasien dan dimana usaha RJP tidak akan membuahkan hasil (sia-sia).
3. Dalam menetapkan kebijakaan DNR, penting untuk diketahui bahwa kebijakaan ini harus
dipatuhi dan di ikuti oleh seluruh tenaga kesehataan profesional di tingkat primer, rumah sakit,
dan petugas / tim transfer intra- dan antar-rumah sakit.
4. Hak pasien untuk menolak RJP Harus dihargai. Hal ini mungkin dikarenakaan pasien
berpendapat bahwa dengan melakukan usaha RJP hanya akan memperpanjang kualitas hidup
yang buruk.
5. Kebijakan ini hanya berkaitan dengan usaha RJP, bukan dengan penundaan atau pembatalan
atau pemberian tata laksana lainya, seperti terapi antibiotic, nutrisi parenteral, dan sebagainya.

LATAR BELAKANG
1. Angka kelangsungan hidup pasien dewasa (survival rates) yang dilakukan RJP dan pulang dari
rumah sakit 5-20% dan telah terbukti bahwa usaha RJP akan lebih baik jika:
a) Akses ke Tim Resusitasi/ Unit Gawat Darurat dilakukan lebih awal (segera)
b) Pemberian bantuan hidup dasar lebih awal
c) Pemberian bantuan lanjut lerbih awal
2. Beberapa pasien memiliki angka kelangsungan hidp yang sangat rendah (1-2%), misalnya pada
pasien pada infeksi berat, tekanan darah rendah dalam jangka waktu lama, gagal ginjal / jantung
yang berat, atau keganasan dengan penyebaran luwas (metastasis).
3. Angka kelangsungan hidup pasien anak yang mengalami henti jantung napas di rumah sakit
adalah rendah. Namun jika ditangani dengan tepat dan segera, memiliki angka keberhasilan
sebesar 70%.
4. Angka kelangsungan hidup pasien anak yang mengalami henti jantung napas diluar rumah sakit
masih dibawah 10%. Pada umumnya, anak-anak yang berhasil bertahan hidup dan pulang dari
rumah sakit mengalami defisit neurologi.
TUJUAN
1. Untuk memastikan bahwa pengambilan keputusaan untuk melakukan tindakaan Do Not
Ressuscitate (DNR) tidak di salah artikan / misinterpretasi.
2. Untuk memastikaan terjadinya komunikasi dan pencatatan yang jelas dan terstandarisasi
mengenai pengambilan keputusaan DNR.
DEVINISI
1. Henti jantung: adalah suatu kondisi dimana terjadi kegagalan jantung secara mendadak untuk
mempertahankan sirkulasi yang adekuat.
a) Hal ini dapat disebabkan oleh fibrilasi ventrikel, asistol, atau pulselees electrical activity
(PEA).
b) Untuk memperoleh RJP yang efektif, resusitasi harus dimulai secara mungkin (<3 menit
setelah kejadian henti jantung ).
c) Jika pasien ditemukan tidak bernapas, tidak adanya denyut nadi, dan pupil dilatasi
maksimal; hal ini bukanlah kejadian henti jantung dan tidak perlu dilakukan tindakaan
resusitasi.
2. Resusitasi jantung-paru (rjp): di devinisikan sebagai suatu sarana dalam memberikan bantuan
hidup dasar dan lanjut kepada pasien yang mengalami henti napas atau henti jantung. RJP
diindikasikan untuk:pasien yang tidak sadar, tidak bernapas, dan yang tidak menunjukan adanya
tanda-tanda sirkulasi;dan tidak tertulis intruksi DNR di rekam medisnya.
3. Tindakan Do Not Resuscitate (DNR) : adalah suatu tindakan di mana jika pasien mengalami
henti jantung dan atau napas, paramedis tidak akan dipanggil dan tidak akan dilakukan usaha
resusitasi jantung paru dasar maupun lanjut.
a) Jika pasien mengalami henti jantung dan atau henti napas,lakukan asasmen segera untuk
mengidentifikasi penyebab dan memeriksa posisi pasien, patensi jalan napas, dan
sebagainya. Tidak perlu melakukan usaha bantuan hidup dasar maupun lanjut.
b) DNR tidak berarti semua tatalaksana / penanganan aktif terhadap pasien (misalnya terapi
intravena, pemberian obat-obatan) tetap dilakukan pada pasien DNR.
c) Semua perawatan mendasar harus terus dilakukan,tanpa kecuali.

4. Fase / Kondisi terminal penyakit: adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh cedera atau
penyakit, yang menurut perkiraan dokter atau tenaga medis lainya tidak dapat disembuhkan dan
bersifat ireversibel, dan pada akhirnya akan menyebabkan kematian dalam rentang waktu yang
singkat, dan dimana pengapikasian terapi untuk memperpanjang / mempertahankan hidup
hanya akan berefek dalam memperlama proses penderitaan / sekarat pasien.
5. Pelayanan paliatif: adalah pemberian dukungan emosional dan fisik untuk mengurang nyeri /
penderitaan pasien . Hal ini termasuk: pemberian nutrisi,hidrasi, dan kenyamanan, kecuali
terdapat instruksi spesifik untuk menunda pemberian nutrisi/ hidrasi.
TANGGUNG JAWAB
1. Chief Executive Officer dan dewan Direksi: bertanggungjawab untuk memastikan
implementasi kebijakan Do Not Resuscitate (DNR). Fungsi ini didelegasikan kepada Manajer
Pelayanan Medis.
2. Manajer Pelayanan Medis: Memastikan setiap staf / petugas mengetahui dan mematuhi
kebijakan ini, serta memastikan dilakukanya audit kebijakan DNR.
3. Staf / Petugas Rumah Sakit: semua staf yangbterlibat dalam pengambilan keputusan
tindakaan DNR resusitasi memahami dan menerapkan kebijakan ini. Penyimpanganpenyimpangan yang terjasi selama ini berlangsung harus dilaporkan pada berkas / formulir
insiden sesuai dengan algoritma yang berlaku.
PRINSIP
1. Harus tetap ada anggapan untuk selalu melakukan resusitasi kecuali telah dibuat keputusan
secara lisan dan tertulis untuk tidak melakikan resusitasi (DNR).
2. Keputusaan tindakan DNR ini harus dicatat di rekam medis pasien.
3. Komunikasi yang baik sangatlah penting.
4. Dokter harus berdiskusi dengan pasien yang memiliki kemungkinan henti napas / jantung
mengenai tindakan apa yang pasien ingin tim medis lakukan jika hal ini terjadi.
5. Pasien harus diberikan informasi selengkap-lengkapnya mengenai kondisi dan penyakit pasien,
prosedur RJP dan hasil yang mungkin terjadi.
6. Tanggung jawab dalam mengambil keputusan DNR terletak pada konsultan / dokter umum
yang bertanggung jawab atas pasien. Jika terdapat keraguan dalam mengambil keputusaan,
dapat meminta saran dari dokter senior.
7. RJP sebaiknya tidak dilakukan pada kondisi-kondisi berikut ini:
a) RJP dinilai tidak dapat mengembalikan fungsi jantung dan pernapasan pasien
b) Pasien dewasa, yang kompeten secara mental yang memiliki kepasitas untuk mengambil
keputusan, menolak untuk dilakukan usaha RJP
c) Terdapat alasan yang valid, kuat, dan dapat diterima mengenai pengambilan keputusaan
untuk tidak melakukan tindakan RJP.
d) Terdapat perintah DNR sebelumnya yang valid, lengkap, dan dengan alasan kuat.
e) Pada pasien-pasien yang berada dalam fase terminal penyakitnya / sekarat, dimana tindakan
RJP tidak dapat menunda fase terminal / kondisi sekarang pasien dan tidak memberikan
keuntungan terapetik (risiko / bahayanya melebihi keuntunganya )
i. Contoh: henti jantung / napas yang dialami pasien merupakaan kejadian alamiah akibat
penyakit terminal yang diderita. Pada kasus ini, RJP mungkin dapat mengembalikan
fungsi jantung-paru pasien secara sementara tetapi kondisi keseluruhaan pasien dapart

memburuk dan henti jantung / napas akan terjadi kembali, yang merupakan bagian dari
proses alamiah dan tidak dapat terhindarkan dari proses sekarang / kematian pasien.
ii. Melakukan RJP pada kasus diatas akan membahayakan / merugikaan pasien dan
bertolak belakang dengan etika kedokteran (prinsip 'do no harm').
8. Semua pasien harus menjalani asesmen secara personal.
9. Pengambilaan keputusaan DNR harus merupakan langkah terbaik untuk pasien dan harus
didiskusikaan dengan pasien meskipun tidak ada kewajibaan secara etika untuk mendiskusikan
DNR dengan pasien-pasien yang menjalani perawatan paliatif (dimana usaha RJP adalah siasia).
10. Diskusi dengan pasien dan keluarga merupakan hal yang penting dan tergantung dengan
kapasitas mentakl dan haraan hidup pasien. Diskusi dapat dilakukan oleh konsultan rumah sakit,
dokter umum, perawat yang bertugas. Staf harus memberitahukan hasil diskusi mereka dengan
pasien kepada dokter penangung jawab pasien.
11. Jika, situasi tertentu, terdapat perbedaan pendapat antara dokter dan pasien mengenai tindakaan
DNR, dokter harus menghargai keinginan pasien (yang kopenten secara mental).
12. Hasil diskusi dengan pasien dan atau keluwarganya harus dicatat di rekam medis pasien .
13. Di rekam medis, harus tercantum:
a) tulisan 'Pasien ini tidak dilakukan resusitasi'
b) Tulis tanggal dan waktu pengambilaan keputusaan
c) Indikasi / alasan tindakan DNR
d) Batas waktu berlakunya intruksi DNR
e) Nama dokter penanggung jawab pasien
f) Ditandatangani oleh dokter penanggung jawab pasien (yang mengambil keputusan)
Contoh:
Tanggal 18 Maret 2010
Pukul 10.30 WIB
Tidak dilakukan RJP
Indikasi:soy kordiogenik
Batas waktu:24 jam
14. Pada beberaa kasus, tidak terdapat batasan waktu pemberlakuan intruksi DNR, misalnya:
keganasan fase terminal.
15. Pada pasien asing (luwar negri) dan populasi etnis minoritas dimana terdapat kesulitan
pemahaman bahasa, harus terdapat layanan penerjemah yang kompeten.
16. DNR hanya berarti tidak dilakukan tindakan RJP. Penanganan dan tatalaksana pasien lainya
tetap dilakukan dengan optimal.
17. Tindakan DNR dapat dipertimbangkan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut:
a) Pasien berada dalam fase terminal penyakitnya atau kerugian / penderita yang dirasakan
pasien saat menjalani terapi melebihi keuntungan dilakukan terapi.
b)Pasien yang kopeten secara mental dan memiliki kapasitas untuk mengambil
keputusan ,menolak untuk dilakukan usaha RJP.
c) RJP bertentangan dengan keputusan dini / awal yang dibuat oleh pasien, yang bersifat
valid dan matang, mengenai penolakan semua tindakan untuk mempertahankan hidup
pasien.

KEPUTUSAN DINI / AWAL (DAHULU DIKENAL DENGAN ISTILAH SURAT WASIAT)


1. Terdapat kebijakaan dari pihak rumah sakit mengenai keputusan dini akan penolakan
tindakan penyelamatan hidup / nyawa oleh pasien.
2. Dokter sebaiknya menghargai keputusan yang diambil oleh pasien (autonomi)
3. Pasien dengan keputusaan dini ini tetap diberikan terapi / penangan lainya, seperti
pemberiaberian obat-obatan, cairan infus,dan lain-lain.
4. Putuskanlah apakah diskusi mengenai keputusaan DNR ini perlu dilakukan.
5. Berikut adalah beberapa kondisi dimana perlu dilakukan diskusi dengan pasien: