Anda di halaman 1dari 20

ANATOMI DAN FISISOLOGI ORGAN REPRODUKSI SELAMA

KEHAMILAN

1. PEDAHULUAN
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional (FOGI), kehamilan
didefinisiakan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan di
lanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga
lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10
bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagia dalam 3
trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15
minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28
hingga ke-40)1
Diagnosis kehamilan menggunakan tiga kategori tanda dan gejala yaitu,
Presumtive ( yaitu yang dirasakan oleh ibu seperti; amenore, pusing, mual dan
muntah, serta perubahan pada payudara), Probable ( yaitu tanda-tanda yang dapat
diamati atau ditemukan seperti; tanda Hegar, ballottement dan tes kehamilan), dan
Positive ( yaitu tanda yang di berikan janin seperti; bunyi jantung janin, penampakan
janin dan palpasi gerakan janin).2
Perubahan anatomi dan fisiologi pada perempuan hamil sebagian besar sudah
terjadi segera setelah fertilisasi dan terus berlanjut selama kehamilan. Kebanyakan
perubahan ini merupakan respon terhadap janin. Satu hal yang menakjubkan adalah
bahwa hampir semua perubahan ini akan kembali seperti keadaan sebelum hamil
setelah proses persalinan dan menyususi selesai.3
Selain itu, adaptasi fisiologis ibu dikaitkan dengan hormon-hormon kehamilan
dan tekanan mekanis yang timbul dari rahim yang membesar dan jaringan lainnya.
Adaptasi ini melindungi fungsi fisiologis normal wanita, memenuhi tuntutan
metabolik kehamilan yang dibebankan pada tubuhnya, dan menyediakan lingkungan
yang memelihara untuk perkembangan dan pertumbuhan janin.2

2. PERUBAHAN ANATOMI DAN FISIOLOGI ORGAN REPRODUKSI PADA


KEHAMILAN
Perubahan anatomi pada kehamilan meliputi perubahan uterus, serviks, ovarium,
vagina dan perineum, kulit dan payudara.
a. Uterus
Pada wanita tidak hamil, uterus berbentuk seperti buah alvokad atau buah pir
yang sedikit gepeng kearah depan belakang. Ukurannya sebesar telur ayam dan
mempunyai rongga. Dindingnya terdiri atas otot-otot polos dengan ukuran panjang
7-7,5cm, lebar diatas 5,25cm, tebal 2,5cm, dan tebal dinding 1,25cm. Struktur uterus
adalah setengah padat dengan berat 70 gr dengan rongga seluas 10 ml atau kurang.4

Gambar 1. Ukuran uterus 5


Letak uterus dalam keadaan fisiologis adalah anteversiofleksi ( serviks ke depan
dan membentuk sudut dengan vagina, sedangkan korpus uteri ke depan dan
membentuk sudut dengan serviks uteri).4
Uterus terdiri atas (1) fundus uteri; (2) korpus uteri; dan (3) serviks uteri. Fudus
uteri adalah bagian uterus proksimal; di situ kedua tuba falloppii masuk ke uterus. 3

Gambar 2. Gambaran Koronal Uterus 6


Pembesaran uterus merupakan perubahan anatomi yang paling nyata pada ibu
hamil.1 Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk melindungi hasil konsepsi
(janin, plasenta, amnion) sampai persalinan. Uterus mempunyai kemampuan yang
luar biasa untuk bertambah besar dengan cepat selama kehamilan dan pulih kembali
seperti keadaan semula dalam beberapa minggu setelah persalinan. Selama
kehamilan, terus akan berubah menjadi suatu organ yang mampu menampung janin,
plasenta dan cairan amnion, rata-rata pada akhir kehamilan volume totalnya mencapai
5 L bahkan mencapai 20 L atau lebih dengan berat rata-rata 1100 gr.3
Selama kehamilan, pembesaran uterus melibatkan peregangan dan (penebalan)
sel-sel otot, sedangkan produksi miosit yang baru masih terbatas. Bersamaan dengan
peningkatan ukuran sel otot, terjadi akumulasi dari jaringan fibrosa, terutama di
lapisan otot eksternal dan peningkatan jaringan elastik. Jaringan yang terbentuk ini
akan menambahkan kekuatan dari dinding rahim. 7
Fenomena perkembangan uterus pada trimester pertama terstimulasi berdasarkan
tingginya level estrogen dan progesteron. Awal pembesaran uterus merupakan hasil
dari meningkatnya vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah, hiperplasia dan

hipertrofi (jaringan fibrosa dan jaringan elastik yang baru) dan perkembangan dari
desidua. Pada usia gestasi 7 minggu uterus akan berukuran sebesar telur ayam; pada
usia gestasi 10 minggu akan berukuran sebesar buah jeruk ( dua kali lebih besar dari
pada uterus saat tidak hamil) dan pada usia gestasi 12 minggu akan berukuran sebesar
seikat buah anggur. Setelah usia gestasi tiga bulan, pembesaran uterus secara primer
mengikuti tekanan mekanik dari pertumbuhan janin. 2
Seperti halnya terjadi perubahan ukuran uterus, terjadi pula perubahan bentuk dan
posisi dari uterus. Pada saat konsepsi, uterus berbentuk seperti buah pir yang terbalik.
Pada trimester kedua, seiring dengan semakin kuatnya dinding dan elastisnya dinding
uterus, akan terjadi perubahan bentuk menjadi sferis atau globular. Nantinya, seiring
dengan pertambahan panjang dari fetus, uterus akan menjadi lebih besar dan lebih
oval hingga terangkat keluar dari ruang pelvis ke cavum abdomen.2 Terutama pada
akhir usia kehamilan 12 minggu, uterus akan terlalu besar dalam rongga pelvis dan
seiring perkembangannya uterus akan menyentuh dinding abdominal, mendorong
usus ke samping dan ke atas, terus tumbuh hingga menyentuh hepar. 3
Pada saat pertumbuhan, uterus akan berotasi kearah kanan, dekstrorotasi ini
disebabkan oleh adanya rektosigmoid di daerah kiri pelvis. Pada triwulan akhir,
ismus akan berkembang menjadi segmen bawah uterus. Pada akhir kehamilan otototot uterus bagian atas akan berkontraksi sehingga segmen bawah uterus melebar dan
menipis. 3

Gambar 3. Perkiraan Tinggi Fudus Uteri sesuai Usia Kehamilan 8

Gambar 4. Tinggi fundus pada Abdomen sesuai Usia Kehamilan 2

b. Serviks

Pada 1 bulan setelah konsepsi, serviks akan mulai menjadi lebih lunak dan
kebiruan. Perubahan ini merupakan akibat dari meningkatnya vaskularisasi dan
edema pada seluruh serviks, bersamaan dengan terjadinya hipertropi dan hiperplasia
dari glandula serviks. Meskipun pada serviks terdapat sejumlah kecil otot polos,
tetapi komponen utamanya adalah jaringan ikat.7 Jaringan ikat ekstraseluler serviks
terutama kolagen tipe 2 dan 3 dan sedikit tipe 4 pada membrane basalis.3
Servik manusia merupakan organ yang kompleks dan heterogen yang mengalami
perubahan yang luar biasa selama kehamilan dan persalinan. Bersifat seperti katup
yang bertanggung jawab menjaga janin di dalam uterus sampai akhir kehamilan dan
selama persalinan. Serviks didominasi jaringan ikat fibrosa. Komposisinya berupa
jarigan matriks ekstraseluler terutama mengandung kolagen dengan elastin dan
proteoglikan dan bagian sel yang mengandung otot dan fibroblast, epitel, serta
pembuluh darah.3
Pada perempuan yang tidak hamil, berkas kolagen pada serviks terbungkus rapat
dan tidak beraturan. Selama kehamilan, kolagen secara aktif disintesis dan secara
terus-menerus di remodel oleh kolagenase, yang disekresi oleh sel-sel serviks dan
neutrofil. Kolagen di degredasi oleh kolagenase intraseluler yang menyingkirkan
struktur prokolagen yang tidak sempurna untuk mencegah pembentukan kolagen
yang lemah, dan kolagenase ekstraseluler yang secara lambat akan melemahkan
matriks kolagen agar persalinan dapat berlangsung. 3
Segera setelah proses pembuahan, sel-sel mukosa endoserviks menghasilkan
sejumlah besar lendir yang bekerja meng-obstruksi saluran servik. Lendir ini kaya
akan immunoglobulin dan sitokin yang bekerja sebagai system imunologi yang
bekerja melindungi isi rahim terhadap infeksi dari vagina. 7

A.

B.
Gambar 5 A. Serviks Nulipara, B. Serviks Para 6
c. Ovarium
Sel gonad pada wanita adalah ovarium dimana berfungsi untuk menghasilkan sel
telur dan hormon yang berbentuk seperti almond.10 Perempuan pada umumnya
mempunyai 2 indung telur kanan dan kiri. Mesovarium menggantung ovarium di
bagian belakang ligamentum latum kiri dan kanan. Ovarium berukuran kurang lebih
sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang kira-kira 4 cm, lebar dan tebal 1,5 cm.
Pinggir atasnya atau hilusnya berhubungan dengan mesovarium tempat ditemukannya
pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut untuk ovarium.4,10
Struktur ovarium terdiri atas (1) korteks, adalah bagian luar yang diliputi
epithelium germinativum berbentuk kubik dan didalamnya terdiri atas stroma dan
folikel-folikel primordial; dan (2) medulla, adalah bagian di sebelah dalam korteks
tempat terdapatnya stroma dan pembuluh-pembuluh darah, serabut-serabut saraf dan
sedikit otot polos. 4

Diperkirakan pada perempuan terdapat kira-kira 100.000 folikel primer. Tiap


bulan satu folikel akan keluar, kadang-kadang dua folikel, yang dalam
perkembangannya akan menjadi folikel de Graft. Folikel de Graft yang matang terisi
dengan likuor follikuli, mengandung ekstrogen dan siap untuk berovulasi. 4
Ovulasi akan berhenti selama masa kehamilan, dan pematangan folikel baru akan
di tangguhkan. Umumnya, hanya korpus luteum yang dapat di temukan pada wanita
hamil.7 Folikel ini akan berfungsi maksimal selama 6-7 minggu awal kehamilan dan
keberhasilan dari proses persalinan.3

a.

b.
Gambar. 6. a. Anatomi Ovarium5, b. Pertumbuhan Folikel dalam Ovarium10
d. Vagina dan Perineum
Setelah melewati introitus vagina, terdapat liang kemaluan (vagina) yang
merupakan suatu penghubung anatara introitus vagina dan uterus. Arahnya sejajar
8

dengan arah dan pinggir atas simfisis ke promontorium. Arah ini penting diketahui
pada waktu memasukkan jari ke dalam vagina saat melakukan pemeriksaan
ginekologi. Dinding depan dan belakang vagina berdekatan satu sama lain, masingmasing panjangnya berkisar antara 6-8 cm dan 7-10 cm. bentuk dalam vagina sebelah
dalam yang berlipat-lipat disebut rugae. Ditengah-tengah ada bagian yang lebih keras,
disebut kolumna rugarum. Lipatan-lipatan ini memungkinakan vagina dalam
persalinan melebar sesuai dengan fungsinya sebagai bagian lunak jalan lahir.4
Disebelah depan, dinding vagina berhubungan dengan uretra dan kandung kemih
yang dipisahkan oleh jaringan ikat biasa disebut septum vesikovaginalis. Di sebelah
belakang, di antara dinding vagina bagian bawah dan rectum terdapat jaringan ikat
disebut septum rektovaginalis. Seperempat bagian atas dinding vagina belakang
terpisah dari rectum oleh kantong retrouterina yang biasa disebut kavum Douglasi.
Dinding kanan dan kiri vagina berhubungan dengan muskulus levator ani. Dipuncak
vagina dipisahkan oleh serviks, terbentuk forniks anterior, posterior dan lateralis kiri
dan kanan. Oleh karena puncak vagina belakang terletak lebih tinggi daripada
bagian depan, maka forniks posterior lebih dalam daripada anterior. Forniks
mempunyai arti klinik karena organ pelvis dapat di palpasi melalui dinding forniks
yang tipis. 4
Vagina mendapat darah dari (1) arteria uterine, yang melalui cabangya ke serviks
dan vagina, memberikan darah ke vagina 1/3 bagian atas; (2) arteria vesikalis inferior
yang melalui cabangya memberikan darah ke vagina bagian 1/3 tengah; (3) arteria
hemoroidalis mediana dan arteria pudendus interna, yang memberikan darah ke
vagina bagian 1/3 bawah. 4

a.

b.

c.

10

Gambar 7. a. Vagina potongan sagital, b. Vagina potongan coronal, c. Vagina


potongan transversal 5
Perineum adalah daerah berbentuk berlian antara paha atau outlet dari pelvis dan
ditutupi oleh jaringan lunak.5,6 Terletak antara vulva dan anus, panjangnya rata-rata 4
cm. Jaringan yang mendukung perineum terutama ialah diafragma pelvis dan
difragma urogenitalis. Diafragma pelvis terdiri atas otot levator ani dan otot koksigis
posterior serta fasia yang menutupi kedua otot ini. Diafragma urogenitalis terletak
eksternal dari diafragma pelvis, yaitu di daerah segitiga antara tuber isiadika dan
simfisis pubis, meliputi muskulus transverses perinea profunda, otot konstriktor
uretra dan fasia internal maupun eksternal yang menutupinya. Perineum diperdarahi
terutama dari arteri pudenda interna dan cabang-cabangnya. Otot levator ani kiri dan
kanan bertemu di tengah-tengah di antara anus dan vagina yang diperkuat oleh tendon
sentral perineum. Di tempat ini bertemu

otot-otot bulbokavernous, muskulus

transverses perinea superfisisalis dan sfingter ani eksternal. Struktur ini membetuk
perineal body yang memberikan dukungan bagi perineum dimana dalam persalinan
sering mangalami laserasi kecuali dilakukan episiotomy yang adekuat.4

11

Gambar 8. Anatomi perineum 5


Selama kehamilan, peningkatan vaskularisasi dan hiperemia pada kulit dan otototot perineum, dengan perlunakan dari jaringan ikat dasar yang berlimpah.
Peningkatan vaskularisasi secara jelas memberikan efek pada vagina berupa warna
keunguan yang merupakan karakteristik dari tanda Chadwick.7 Dinding vagina
mengalami perubahan yang mencolok sebagai persiapan persalinan dan kelahiran.
Perubahan ini termasuk peningkatan penebalan mukosa, pengendoran jaringan ikat,
dan hipertrofi dari otot polos.7 Perubahan ini mengakibatkan bertambah panjangnya
dinding vagina. Papilla mukosa juga magalami hipertrofi dengan gambaran seperti
paku sepatu. 3
e. Kulit
Pada masa kehamilan, perubahan mendalam dari sistem imunologi, endokrin,
metabolik dan vaskular adalah yang bertanggung jawab pada terjadinya perubahan
pada kulit dan merupakan suatu tambahan, baik fisiologis maupun patologis. 11
Peningkatan aktifitas adrenal dan glandula pituitary pada maternal bersama dengan
kontribusi dari perkembangan glandula endrokin, peningkatan level kortison,
akselerasi metabolisme, dan peningkatan produksi hormon progesteron dan estrogen
pada janin juga bertanggungjawab pada sebagian besar perubahan kulit pada
kehamilan. 12
Pada observasi perubahan kulit secara fisiologis, paling banyak ditemukan adalah
perubahan pigmen sebanyak 555 kasus (91,4%) termasuk hiperpigmentasi kulit,
melasma, linea nigra, serta perkembangan areola sekunder yang diikuti denagn striae
pada 484 kasus (79,7%). 11
Hyperpigmentasi; 90%
hiperpigmentasi

selama

wanita
kehamilan.

hamil

akan

menunjukkan

Daerah-daerah

yang

tanda-tanda

umum

terjadi

hiperpigmentasi seperti genitalia, leher, axilla, paha, paha bagian dalam, kulit
periumbilikal, dan areola.12
Pada banyak wanita hamil, kulit dari midline abdomen, linea alba, akan menjadi
terpigmentasi gelap membentuk linea nigra, yang tampak mulai dari umbilikus

12

sampai simfisi pubis. Nevus, bintik-bintik dan bekas luka biasanya juga menjadi lebih
gelap dan terkadang menjadi lebih besar selama kehamilan.12

Gambar 9. Linea Nigra112


Estrogen dan progesterone merupakan stimulator kuat untuk melanogenik dan
hiperpigmentasi. Perubahan pigmen ini umumnya akan menghilang setelah post
partum, tetapi kecil kemungkinan untuk menghilang sepenuhnya.12
Melasma; sebelumnya disebut sebagai cholasma atau mask of pregnancy,
melasma merupakan hiperpigmentasi yang bersifat simetris, seperti bercak noda
tetapi berwarna coklat hingga coklat kehitaman pada wajah yang muncul pada
trimester kedua kehamilan pada 45% hingga 75% wanita dan 1 di antara 3 wanita
mengkonsumsi pil kontrasepsi. 12
Melasma sering tampak pola malar, madibular, atau sentrofasial. Pada seluruh
daerah sentral wajah, termasuk dagu, hidung, bibir atas, pipi dan dahi, adalah yang
terkena efek tersering meskipun pola malar adalah tipe yang paling sering
ditemukan.12

13

Gambar 10. Melasma12


Penyebab melasma merupakan kombinasi dari paparan sinar matahari, genetic,
kosmetik, dan peningkatan hormone stimulasi melanosit, estrogen dan progesteron.
Untungnya , melasma pada kehamilan akan perlahan menghilang pada 90% pasien
dalam 1 tahun setelah persalinan.12
Striae gravidarum; stria atau stretch mark meningkat pada 90% wanita kulit
putih dan kurang pada yang berkulit hitam atau pada wanita Asia pada trimester dua
dan tiga kehamilan. Berbentuk seperti pita mengkerut berwarna kemerahan hingga
keunguan yang umunya muncul pada area yang mengalami stretch berlebihan seperti
paha, payudara dan perut. Kombinasi genetic, perubahan hormonal, dan peningkatan
berat badan berkontribusi pada terbentuknya stria. 12

Gambar 11. Striae Gravidarum12


14

f. Payudara (Mammae)
Payudara adalah gundukan jaringan yang terletak di atas muskulus pectoralis
mayor10 atau pada dinding ventral thorax, meluas dari dari costa II sampai VI(VII), di
sebelah medial di batasi oleh tepi sternum dan di sebelah lateral mencapai linea
axillaris. 13
Mammae menonjol 3-5 cm dari dinding ventral thorax, mempunyai diameter
craio-caudal sebesar 10-12 cm, ukuran transversal sedikit lebih kecil. Berat 150-200
gram dan pada massa laktasi mencapai 400-500 gram, biasanya mammae sinistra
sedikit lebih besar dari yang dextra. 13
Mammae terdiri dari kelenjar, jaringan lemak dan jaringan ikat, dibungkus oleh
kulit. Kelenjar mammae tersusun dalam 15-20 lobus yang terletak radial melingkari
papilla mammae, dan setiap lobus mempunyai saluran keluarnya sendiri. Diantara
lobus ini terdapat jaringan lemak, dimana dominan pada bagian perifer (kelenjar
dominan dibagian sentral).13
Jaringan ikat pada mmmae membentuk ligamnetum suspensorium, disebut
ligamentum cooperi, dan difiksasi pada kulit. 13
Disebelah profunda mammae terdapat fasciapectoralis, oleh karena itu mammae
mudah di gerakkan. 13
Papillae mammae adalah tonjolan berbentuk silindris atau ujung kerucut yang
terletak di sebelah caudal pertengahan (pusat) mammae, setinggi ruang intercostalis
VI. Pada tempat tersebut terdapat muara dari duktus lactiferous (15-20 buah), yaitu
saluran keluar dari glandula mammae. Papillae mammae berwarna agak gelap,
permukaannya tidak halus dan meluas 1-2 cm di sekitarnya, membentuk areola
mammae.13
Pada saat embrio sudah terbentuk putik primer ( primary bud) di bagian
ventrolateral antara tonjolan ekstremitas depan dan belakang yang dalam
perkembangan selanjutnya akan menghilang dan hanya tersisa terpasang di daerah
dada. Pada saat umur pertengahan kehamilan putik primer tersebut akan berkembang
menjadi 15 25 putik sekunder ( secondary bud) yang nantinya akan menjadi cikal

15

bakal system saluran kelenjar glandulae mammae. Glandulae mammae yang matang
terdiri dari 15-25 lobus yang berkembang dari pertumbuhan secondary buds. 14
Bentuk dan ukuran mammae bervariasi tergantung saat pertumbuhannya seperti
misalnya, masa sebelum pubertas, pubertas, adolesen, dewasa, saat menyususi dan
pada ibu multipara. Mammae akan berkembang menjadi besar saat hamil dan masa
laktasi dan akan mengecil dan kisut menjelang masa menopause. Faktor yang
berperan untuk memperbesar ukuran mammae adalah hipertrofi pembuluh darah, sel
mioepitil, jaringan akat dan deposit lemak serta retensi cairan dan elektrolit. Saat
kehamilan, aliran darah ke jaringan mammae dua kali lebih banyak dibandingkan
sebelum kehamilan.14
Rasa penuh, sensitif dan berat pada payudara dimulai sejak minggu awal
kehamilan sebagai respon dari meningkatnya level estrogen dan progesteron.
Sensitifitas payudara bervariasi, mulai dari seperti tergelitik hingga nyeri hebat.
Puting susu dan areola menggelap. Areola primer akan meluas dan nipple akan
menjadi lebih tegak. Tampak pada sekitar puting susu, hipertropi glandula sebasea
pada areola primer yang disebut kelenjar Montgomery. Glandula sebasea ini memiliki
peran sebagai pelumas puting susu saat pemberian ASI (air susu ibu). 2
Pada usia kehamilan trimester kedua dan ketiga, pertumbuhan dari glandula
mammae mempengaruhi progresifitas dari pembesaran payudara. Tingginya level
luteal dan hormon plasenta pada kehamilan memicu proliferasi di duktus laktiferus
dan jaringan lobus alveolar, sehingga pada palpasi payudara secara umum teraba
masa nodular yang kasar.2
Pembentukan air susu sangat di pengaruhi oleh glandula mammae yang dianggap
sebagai cermin kinerja organ endokrin sebab pada laktasi kelenjar ini sangat
dipengaruhi oleh hasil interaksi kerja beberapa hormon. Hubungan dengan
hipothalamus dan hipofise merupakan persyaratan yang penting. Sebelum dapat
berfungsi untuk menghasilkan air susu maka mammae sesungguhnya tumbuh dan
berkembang dalam tiga tahap.14

16

Tahap mammogenesis : tahap pertumbuhan dan perkembangan mammae. Sangat


di pengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, prolaktin, growth hormone,

glukokortikoid dan epithelial growth factor.


Tahap laktogenesis : awal terbentuknya air susu ibu. Hal ini sangat dipengaruhi
leh hormon prolaktin, menurunnya kadar estrogen dan progesteron serta hPL

(human plasental lactogen), serta peran glukokortikoid dan insulin.


Tahap galaktopoesis : tahap mempertahankan produksi air susu tetap ada yang
dipengaruhi oleh: turunnya hormon gonad, isapan putting susu saat menyusui,
disamping juga peran growth hormone, glukokortikoid, insulin dan hormon
thiroksin dan hormon parathyroid.
Estrogen berperan pada pertumbuhan duktus dan duktulus serta pembentukan

alveoli sedangkan progesteron dibutuhkan untuk pematangan secara optimal epitil


sekresi alveoli. Perkembangan difrensiasi sel kelenjar manjadi bagian sekresi dan
bagian mioepital ada dibawah pengaruh hormon prolaktin, growth hormone, insulin,
kortisol dan epithelial growth factor.

Meskipun sel sekretoris alveoli aktif

membentuk lemak susu dan protein, akan tetapi hanya sedikit saja yang masuk ke
lumen duktus. Prolaktin merupakan hormon terpenting untuk inisiasi produksi air
susu tetapi tetap membutuhkan suasana rendah estrogen. Estrogen dan progesteron
plasenta memblok pengaruh prolaktin terhadap fungsi sekresi epitel kelenjar
susu.itulah sebabnya laktasi belum bisa dimulai kecuali sudah adanya penurunan
plasma estrogen, progesteron dan hPL segera setelah persalinan. 14 Kadar hormon
prolaktin terus meningkat sesuai usia kehamilan. Laktogenesis selama kehamilan
juga di pengaruhi oleh plasenta yaitu

human chorionic somatomammotropin.

Meskipun hormon laktasi sudah bekerja sejak kehamilan tetapi sekeresinya yang di
tekan strogen dan progesteron sehingga selama kehamilan payudara hanya
mensekresikan beberapa milliliter cairan setiap harinya.14
Material sekret yang tipis, jernih dan kental ( precolostrum) dapat di temukan
pada usia gestasi 3 bulan. Colostrum, cairan premilk yang berwarna putih
kekuningan hingga jingga, yang bisa keluar dari puting susu pada awal kehamilan
yaitu usia gestasi 16 minggu.14
17

Prolaktin dibutuhkan saat galaktopoesis, akan tetapi bila ibu tidak menyususi
maka konsentrasinya akan menurun sampai mencapai konsentrasi seperti wanita
tidak hamil dalam tiga minggu pasca persalinan. Oleh karena itu dengan terus
menerus menyusui akan merangsang keluarnya prolaktin (prolactin reflex) yang
mungkin melakukan inhibisi terhadap dopamine yang diduga sebagai hypothalamic
prolactin inhibiting factor (PIF).14
Kecupan bayi terhadap puting susu juga akan menimbulkan reflex pelepasan
oksitosin yang akan menyebabkan

kontraksi uterus dan juga kontraksi sel

mioepitel yang terdapat di sekitar alveoli dan duktuli sehingga air susu akan muncrat
keluar,14

18

Gambar 12. Anatomi kelenjar mammae dan aliran laktasi 10


3. Kesimpulan
Pemahaman tentang perubahan anatomi dan fisiologi selama kehamilan
merupakan salah satu tujuan dari ilmu kandungan. Hampir tidak mungkin dapat
mengerti proses penyakit yang terjadi selama kehamilan dan masa nifas tanpa disertai
pemahaman mengenai perubahan anatomi dan fisiologi ini.3

DAFTAR PUSTAKA
1. Adriaanz G, Hanafiah T.M. Ilmu Kebidanan: Diagnosis Kehamilan. 3 rd rev.ed.
Saifuddin A.B, Rachimhadhi T, Wiknjosastro G.H,editor. Jakarta: PT. Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2010. 213, 217 p.
2. Lowdermilk D L. Anatomy and Physiology of Pregnancy. 1 st rev.ed. publisher
unknow. 211-17 p.
3. Sulin D. Ilmu Kebidanan: Perubahan Anatomi dan Fisiologi pada Perempuan Hamil.
3rd rev.ed. Saifuddin A.B, Rachimhadhi T, Wiknjosastro G.H,editor. Jakarta: PT. Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2010. 172-79 p.
4. Rachimhadhi T. Ilmu Kebidanan: Anatomi Alat Reproduksi. 3 rd rev. ed. Saifuddin
A.B, Rachimhadhi T, Wiknjosastro G.H, editor. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2010. 117-27 p.
5. Hart D M, Norman J. Gynaecology Illustrated: Anatomy Of The Reproductive Tract.
5th rev. ed. Callander R, Ramsden I, illustrator. Edinburgh: Churcill Livingstone;
2000. 12, 16, 22-27, 34 p.
6. Cunningham F G, Leveno K J, Bloom S L, Hauth J C, Rouse D J, Spong CY.
Williams Obstetrics. 23rd rev. ed. New York: Mc Graw-Hill, Medical; 2010. 18-25,
107-11 p.
19

7. Desmiwarti, Ernawati. Penuntun Skill LS Lab Blok 2.3 Reproduksi: Seri


Keterampilan Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Luar Obstetrik. 3 rd rev. ed.
Yusrawati, editor. Padang: November 2012. 11 leaves.
8. Siswosudarmo R, Emilia O. Obstetri Fisiologi. 1 st. ed. Yogyakarta: Pustaka Cendekia
Press; 2008. 6-14 p.
9. Saladin. Anatomy & Physiology: The Unity Of Form and Function: The Female
Reproductive System. 3rd . ed. USA: Mc Graw-Hill; 2003. 1050-51, 1057 p.
10. Kumari R, Jaisankar T J, Thappa D M. A Clinical Study Of Skin Changes in
Pregnancy. Indian journal of dermatology, venereology and leprology. 2007 March; 2
leaves.
11. Tyler K H. Physiology Skin Changes During Pregnancy. Clinical Obstetrics and
Gyneacology. 2014 Des: 58 (1); 119-24
12. Bagian Anatomi FK Unhas. Diktat Anatomi Biomedik I. 1st. ed. Makassar: Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin; 2011. 154 p.
13. Karkata M K. Ilmu Kedokteran Fetomaternal: Perubahan Mamma dan Laktasi. 1 st. ed.
Hariadi R, editor. Surabaya: Himpunan Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan
Obstetri dan Ginekologi Indonesia; 2004. 122-24 p.

20