Anda di halaman 1dari 151

1

MODUL

PELAYANAN KELUARGA
BERENCANA 2

Praktik Kebidanan III

SEMESTER 7

Djudju Sriwenda

Australia Indonesia
Partnership for Health
System Strengthening
(AIPHSS)

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan


Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber
Daya Manusia Jakarta 2015

1
Daftar Isi
.............................................................
.........
Daftar Isi

Daftar Istilah

ii

Kegiatan Belajar 1
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

Kegiatan Belajar 2
Kalau Kontrasepsi Bawah Kulit (akbk)

27

Kegiatan Belajar 3
Metode Kontrasepsi Mantap

57

Evaluasi Akhir

85

Daftar Gambar

98

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program Studi Kebidanan

Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi Kesehatan

Daftar Istilah
.............................................................
...........

ISTILAH
Abortus
Abstinen

Amenorrhea

Androgen

Diabetes
melitus
Epididi
mis
Epididi
FSH

Gonorhea
Hematoma

Hernia

Hidrokel
Kehamil
an
ektopik
Laparatomi

KETERANGA
N
Berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20
minggu yang mengakibatkan kematian janin
Tidak melakukan hubungan seksual dalam waktu yang
ditentukan
Suatu keadaan atau kondisi dimana pada seorang wanita
tidak mengalami menstruasi pada masa menstruasi
sebagaimana mestinya atau secara sederhana disebut
dengan tidak haid pada suatu periode atau masa
menstruasi.
Androgen adalah hormon steroid yang merangsang atau
mengontrol
perkembangan
dan
pemeliharaan
karakteristik
laki-laki
vertebrata
dengan
mengikat
reseptor androgen yang juga merupakan pendukung
aktivitas organ seks pria dan pertumbuhan karakteristik
Merupakan penyakit di mana kadar gula dalam darah
meningkat.
Sebuah struktur yang terletak di atas dan di sekeliling
testis
(buah
zakar).
Fungsinya
adalah
sebagai
pengangkut,
tempat
penyimpanan
dan
tempat
pematangan
sel
sperma
yang
berasal
dari
testis.
FSH (follicle stimulating hormone) adalah hormon yang
dikeluarkan oleh gonadotrop. Yang berfungsi untuk
memacu pertumbuhan dan kematangan folikel atau sel
telur dalam ovarium dan juga berpengaruh pada
peningkatan
hormonMenular
estrogen
pada wanita
Salah satu Penyakit
Seksual
yang disebabkan
oleh Neiserria Gonorhea
Sekelompok sel darah yang telah mengalami
ekstravasasi, biasanya telah menggumpal, baik di dalam
organ,
jaringan
dangonadrotop.
otak
hormoninterstitium,
yang dikeluarkan
oleh
Pada wanita,
hormon ini berfungsi untuk merangsang pengeluaran sel
telur dari ovarium dan mempertahankan folikel sisa sel
telur tersebut serta membuatnya berwarna kekuningan
(lutein).
Penumpukan cairan yang berlebihan di antara lapisan
parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan
normal, cairan yang berada di dalam rongga itu memang
ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi
dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya
Kehamilan yang terjadi diluar cavum uteri
operasi yang dilakukan untuk membuka abdomen
(bagian perut)

iii

iv
Laparosko
pi
Laparosco
py
Libido
Ligasi Ligasi

tindakan memvisualisasikan secara langsung kondisi


intra Peritoneal yang dapat memberikan gambaran
tentang kondisi organ2 dalam rongga perut bagian
bawah seperti ovarium, rahim , dan tuba Falopii
Keinginan individual untuk terlibat dalam aktivitas
seksual
Mengikat bersama-sama atau menyatukan. Contohnya
termasuk ligasi pembuluh darah untuk menghentikan
perdarahan atau ligasi tuba falopi untuk mencegah
kehamilan

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program


Studi Kebidanan

Pendahuluan
Selamat anda sudah menyelesaikan modul I Praktik asuhan Pelayanan
Keluarga Berencana. Sekarang anda akan masuk dalam modul II praktik
asuhan kebidanan pada pelayanan kontrasepsi yang merupakan lanjutan
dari modul sebelumnya.
Anda

masih

ingat

bukan????pada

modul

sebelumnya

telah

dibahas

mengenai metode KB sederhana dan metode KB hormonal, Anda tentunya


sudah tidak asing lagi dengan istilah keluarga berencana, bukan?
Indonesia telah mencanangkan program keluarga berencana sejak
tahun

1970

an,

dan

saat

ini

masyarakat

sudah

banyak

yang

menggunakannya dengan kesadaran sendiri tanpa anjuran dari tenaga


kesehatan. Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu
didalam

paket

Pelayanan

Kesehatan

Reproduksi

Esensial

perlu

mendapatkan perhatian yang serius, karena dengan mutu pelayanan


Keluarga

Berencana

yang

berkualitas

diharapkan

akan

dapat

meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan.


Dengan

telah

berubahnya

paradigma

dalam

pengelolaan

masalah

kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi


dan

penurunan

fertilitas

menjadi

pendekatan

yang

berfokus

pada

kesehatan reproduksi serta hak reproduksi. Maka pelayanan Keluarga


Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak-hak
dari klien/ masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang diinginkan
(Prof. dr. Abdul Bari Saifuddin, 2003).
Masalah kependudukan yang tengah dihadapi Indonesia adalah angka
kematian ibu hamil dan melahirkan yang masih tinggi yaitu 425 per 10.000
kelahiran hidup. Angka ini merupakan angka tertinggi di negara Asia
Tenggara bila dibanding dengan Filipina yang hanya 20 per
100.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian para ibu itu sebagian besar
akibat

perdarahan

infeksi

dan

keracunan

kehamilan

dalam

masa

reproduksi. Salah satu upaya prepentif penurunan angka kematian ibu


adalah dengan pemakaian kontrasepsi secara rasional. Karena memakai
Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi


Kesehatan

kontrasepsi

apapun

hasilnya

lebih

aman

dari

pada

tidak

memakai

kontrasepsi.
Pelayanan kontrasepsi merupakan kompetensi yang harus anda kuasai
sebagai bidan yang merupakan profesi yang berada di lini depan untuk
menurunkan angka kematian ibu

Dalam modul ini akan dipelajari bagaimana anda sebagai bidan


memberikan asuhan atau pelayanan kontrasepsi kepada klien. Modul in
terdiri dari 3 kegiatan belajar yaitu (1) pelayanan kontrasepsi AKDR, (2)
pelayanan kontrasepsi AKBK, dan (3) Pelayanan kontrasepsi mantap
Setelah menyelesaikan modul ini diharapkan anda dapat memberikan
asuhan kepada akseptor KB AKDR, akseptor KB AKBK dan juga memberikan
pelayanan konseling bagi calon akseptor MOP/MOW dengan tetap
menjunjung tinggi hak klien.

Dalam
dul ini
akan mo
dipelajari
bagaimana anda
sebagai bidan
memberikan asuhan
atau pelayanan
kontrasepsi kepada
klien.

Kegiatan
Belajar 1

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

Tahukah anda bahwa AKDR telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu?
Anda mungkin

tidak pernah menyangka bahwa sejarah abad masa lalu,

walaupun tidak tercatat dengan baik, menunjukkan bahwa kafilah dagang


bangsa Arab mempraktekkan penggunaan AKDR pada unta-unta mereka. Jika
melakukan

perjalanan

jauh

dalam

kegiatan

perdagangannya,

mereka

memasukkan batu-batu kedalam rahim untanya.


Setelah mempelajari modul ini, anda diharapkan dapat memahami
tentang alat kontrasepsi dalam rahim, cara kerjanya, keuntungan dan
kerugiannya,

efek

samping

yang

sering

timbul,

konseling

terhapap

akseptor, termasuk bagaimana anda membina akseptor yang bermasalah


dengan metode AKDR serta mampu memasang alat kontrasepsi dalam
rahim secara benar.

Baiklah, sebelum anda melanjutkan ke uraian materi, terlebih dahulu


silahkan anda tuliskan pada kotak di bawah ini, apa yang anda ketahui

tentang alat kontrasepsi dalam rahim.

Uraian
Materi
1.PRofIL AKDR
a. Sangat efektif, reversibel, dan berjangka panjang (dapat sampai 10 tahun
: Cu T-380A)
b. Haid menjadi lebih lama dan lebih banyak
c. Pemasangan dan pencabutan memerlukan pelatihan
d. Dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduktif
e. Tidak boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar pada infeksi menular
seksual (IMS)
2.JENIS
a. AKDR Cu T-380A
Kecil, kerangka dari plastic yang flexible, berbentuk huruf T diselibungi oleh
kawat halus
yang terbuat dari tembaga (Cu). Tersedia di Indonesia dan terdapat
dimana-mana
b. AKDR lain yang beredar di Indonesia ialah NOVA T (Schering)
c. Selanjutnya yang akan di bahas adalah khusus Cu T-380A
d. AKDR dibedakan jenisnya menurut sifat dan bentuknya. Menurut
sifatnya ada AKDR inert (netral), yaitu AKDR yang tidak mengandung
bahan aktif dan AKDR bidaktif, yaitu AKDR yang mengandung bahan
aktif seperti tembaga (Cu), perak (Ag), dan progesteron.
e. Menurut bentuknya, jenis AKDR dapat dibedakan sebagai AKDR
berbentuk terbuka (berbentuk linier) dan AKDR tertutup (berbentuk
cincin). Contoh AKDR terbuka antara lain adalah Lipper Loop, Soft T
Coil, Sheilds, Cu-7, Cu-T, Spring Coil, Progestasert (Alza T), Multi
Load, Marguiles Spiral. Sedangkan contoh AKDR tertutup antara lain:

Ota Ring, Stainless Ring, Antigen F, Ragab Ring, Cicin Grafenberg,


dll.
3.CARA KERJA
Menghemat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba fallopi
Mempengaruhi feertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu,
walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat
reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan

sperma untuk fertilisasi


4.KEUNTUNGAN DAN
KERUGIAN Keuntungan
AKDR dapat efektif segera setelh pemasangan.
Metode jangka panjang (10 tahun proteksi Cu T-380A dan tidak perlu
diganti)
Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
Tidak mempengaruhi hubungan sexual
Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut hamil
Tidak ada efek samping hormonal Cu AKDR (cut- 380A)
Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus
(apabila tidak terjadi infeksi)
Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid
terakhir)
Tidak ada interaksi dengan obat-obat
Membantu mencegah kehamilan ektopik
Kerugian
Efek samping yang umum terjadi :
Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan
berkurang setelah 3 bulan)
Haid lebih lama dan lebih banyak
Perdarahan (spotting) antar menstruasi)
Saat haid lebih sakit
Komplikasi lain :
Merasakan sakit dan kejang selama 3-5 hari setelah pemasangan
Perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang
memungkinkan penyebab
Anemia
Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasngannya
benar)
Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS

Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang
sering berganti

pasangan
Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS
memakai AKDKR . Penyakit Radang Panggul dapat memicu fertilisasi.
Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvic diperlukan dalam
pemasangan AKDR. Seringkali perempuan takut selama
pemasangan.
Sedikit nyeri dan perdaraharan (spotting) terjadi segera setelah
pemasngan AKDR. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari.
Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas
kesehatan terlatih yang dapat melepas AKDR
Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR
untuk mencegah kehamilan normal
Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke
waktu. Untuk melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya
kedalam vagina, sebagian perempuan tidak mau melakukan ini.
Sampai sejauh ini apakah anda memahaminya? Baik, selanjutnya anda
mungkin penasaran, apakah ada persyaratan khusus atau tidak bagi
calon akseptor AKDR? uraian selengkapnya akan dijelaskan di bawah ini.
5.PERSyARATAN PEmAKAIAN
1). yang dapat
menggunakan :
a. Usia reproduktif
b. Keadaan nulipara
c. Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
d. Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
e. Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya
f. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
g. Resiko rendah dari IMS
h. Tidak menghendaki metode hormonal

i. Tidak menyukai untuk mengingat-ngingat minum pil setiap hari

j. Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari senggama

AKDR dapat digunakan pada ibu dalam segala kemungkinan keadaan


misalnya :
a. Perokok
b. Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat adanya
infeksi
c. Sedang memakai antibiotika atau anti kejang
d. Gemuk ataupun kurus
e. Sedang menyusui
Begitu juga ibu dalam keadaan seperti dibawah ini dapat menggunakan
AKDR :
a. Penderita tumor jinak payudara
b. Penderita kanker payudara
c. Pusing-pusing sakit kepala
d. Tekanan darah tinggi
e. Parises di tungkai atau divulva
f. Penderita penyakit jantung
g. Pernah menderita stroke
h. Penderita diabetes
i. Penderita penyakit hati dan empedu
j. Malaria
k. Penyakit tyroid
l. Epilepsi
m.

Non pelvik TBS

n. Setelah kehamilan ektopik


o. Setelah pembedahan pelvik
2). yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR :
a. Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil)
b. Perdarahan vagina yang tidak diketahui (sampai dapat dievaluasi)
c. Sedang menderita infeksi alat genital

d. 3 bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau


abortus septik
e. Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang
dapat mempengaruhi kavum uteri
f. Penyakit trofloblas yang ganas
g. Diketahui menderita TBC velvik
h. Kanker alat genital
i. Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm
6.WAKTU PENGGUNAAN :
a. Setiap waktu dalam siklus haid yang dapat dipastikan klien tidak hamil
a. Hari pertama sampai ke -7 siklus haid
a. Setelah segera melahirkan selama 48 jam pertama atau setelah 4
minggu pasca persalinan
; setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenore laktasi.
a. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak
ada gejala infeksi
a. Selama 1-5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi
7.PETUNJUK BAGI KLIEN :
a. Kembali memeriksakan diri setelah 4 sampai 6 minggu pemasangan AKDR
b. Selama bulan 1 mempergunakan AKDR, periksalah benang AKDR
secara rutin terutama setelah haid
c. Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksa
keberadaan benang setelah haid apabila mengalami :
d. Keram atau kejang diperut bagian bawah
e. Perdarahan (sepoting) diantara haid atau setelah senggama
f. Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak
nyaman selama melakukan hubungan seksual
g. Copper-T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan tetapi
dapat dilakukan lebih awal apabila diinginkan

h. Kembali ke klinik apabila :


i. Tidak dapat meraba benang AKDR

j. Merasakan bagian yang keras dari AKDR


k. AKDR terlepas
l. Siklus terganggu atau meleset
m. Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan
n. Adanya infeksi
Selain metode AKDR yang biasa digunakan pada kondisi diatas,
metode ini juga ternyata dapat dipasang langsung setelah kelahiran
plasenta. Anda penasaran bukan dengan metode AKDR ini?Apakah
sebelumnya anda sudah pernah mendengar dengan istilah AKDR Post
lasenta? Baiklah, silahkan anda menyimak paparan di bawah ini!!!
AKDR PoST PLASENTA
Kita pernah mengenal program insersi AKDR (IUD) postpartum dimana
pasien mendapat insersi AKDR Pascapersalinan. Program tersebut
tidak pernah dikembangkan lagi.
Dengan adanya cara yang relative baru yaitu insersi AKDR postplasenta mungkin mempunyai harapan dan kesempatan ibu yang tidak
ingin hamil lagi. Teknik ini cukup aman. Hanya sebagian kecil (3-8%)
ibu yang menginginkan anak lagi. Bagi Indonesia dengan kesulitan
Hidup yang cukup tinggi (30% miskin), dan banyaknya unmeet need
(8,6%)

maka

teknologi

ini

perlu

ditawarkan.

Pasien

hendaknya

mendapat konseling sebelum persalinan


Pemasangan AKDR dapat dilakukan juga pada saat seksio sesarea.
Peningkatan penggunaan AKDR akan mengurangi angka kematian Ibu
di Indonesia
Efektivitas
AKDR post plasenta telah dibuktikkan tidak menambah resiko infeksi,
perforasi dan perdarahan. Diakui bahwa ekspulsi lebih tinggi (6-10%)
dan ini harus disadari oleh pasien bila mau akan dipasang lagi.
Kemampuan penolong meletakkan di fundus amat memperkecil risiko
ekspulsi.

Oleh

karena

itu

dperlukan

pelatihan.

Kontraindikasi

pemasangan

post-plasenta

ialah

infeksiintrapartum, perdarahan post partum.

ketuban

pecah

lama,

Teknologi
AKDR umumnya jenis Cu-T dimasukkan ke dalam fundus uteri dalam 10
menit setelah plasenta lahir. Penolong telah menjepit AKDR diujung jari
tengah dan telunjuk yangn selanjutnya menyusuri sampai ke fundus.
Pastikan bahwa AKDR diletakkan dengan benar di fundus. Tangan kiri
penolong memegang fundus dan menekank ke bawah. Jangan lupa
memotong benang AKDR sepanjang 6 cm sebelum insersi.
Pemantauan
Klien hendaknya diberikan pendidikan mengenai manfaat dan resiko
AKDR dapat dilakukan setiap tahun bila terdapat keluhan (nyeri,
perdarahan demam dans ebagainya). Nah, sama halnya dengan metode
kontrasepsi yang lainnya, metode AKDR pun mempunyai efek samping
yang lazim terjadi pada setiap penggunanya. Apakah anda sudah
mengetahui efek samping AKDR???? Ya benar, tetapi untuk lebih jelasnya
akan diuraikan dibawah ini.
6. EfEK SAmPING DAN PENANGANAN AKDR
a.Amenorea
Penanganan yang pertama adalah memeriksa apakah sedang hamil
atau tidak. Bila tidak jangan lepaskan AKDR, berikan konseling dan
selidiki penyebab amenorea apabila diketahui. Apabila hamil, jelaskan
dan sarankan untuk melepas AKDR bila talinya terlihat dan kehamilan
kurang dari 13 minggu. Apabila benang tidak terlihat atau kehamilan
lebih dari 13 minggu AKDR jangan diepas. (Varney,2007)
Apabila klien sedang hamil dan ingin mempertahankan kehamilannya
tanpa

melepas

AKDR,

jelaskan

adanya

kemungkinan

terjadinya

kegagalan kehamilan dan infeksi serta perkembangan kehamilan harus


lebiih diamati dan diperhatikan. (BPPPK,2006)
b.Kejang

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

Pastikan dan tegaskanlah adanya Penyakit Radang Panggul (PRP) dan


penyebab

lain

dari

kekejangan.

Tanggulangi

penyebabnya

bila

diketahui, bila tidak diketahui beri anlgesik untuk sedikit meringankan.


Apabila klien mengalami kejang yang berat lepaskan AKDR dan bantu
klien menentukan metode kontrasepsi yang lain.

1
0

1
1

c.Perdarahan pervagina yang hebat dan tidak teratur

Pastikan adanya infeksi pelvik dan kehamilan ektopik. Apabila tidak


ada kelainan patologis, perdarahan berkelanjutan serta perdarahan
hebat

lakukan

konseling

dan

pemantauan.

Beri

ibuprofen

untuk

mengurangi perdarahan dan berikan tablet besi.


d.Benang yang hilang.
Apabila ada Benang yang hilang = pastikan adanya kehamilan atau
tidak. Tanyakan apakah AKDR terlepas. Apabila tidak hamil dan AKDR
tidak terlepas berikan kondom, periksa

talinya di dalam saluran

endoservik dan kavum uteri (apabila memungkinkan adanya peralatan


dan tenaga terlatih) setelah masa haid berikutnya. Apabila tidak
ditemukan rujuk ke dokter, lakukan X-ray atau pemeriksaan ultrasound.
Apabila tidak hamil dan AKDR yang hilang ditemukan, pasanglah AKDR
baru atau bantulah klien menentukan metode lain.
e.Adanya pengeluaran cairan vagina atau dicurigai adanya penyakit radang
panggul. Pastikan pemeriksaan untuk infeksi menular seksual. Lepaskan
AKDR apabila ditemukan menderita atau sangat dicurigai menderita
gonorhe atau infeksi klamidia, lakukan pengobatan yang memdai. Bila PRP
obati dan lepas AKDR sesudah 48 jam. Apabila AKDR dikeluarkan
beri metode lain sampai masalahya teratasi.
f. Pusing
Apabila pusing merupakan hal yang jarang dialami, sedapt mungkin
atur wanita pada posisi Trendelenburg, pastikan jalan napasnya terbuka
dan upayakan agar tetap hangat.
7. PEmASANGAN DAN PENCABUTAN
AKDR Alat yang harus disiapkan:
1. Bak instrumen berisi:
Spekulum
Tampon tang
Venster klem

Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi


Kesehatan

Tenakulum
Sonde uterus

Kom kecil berisi betadine


Kassa steril
Gunting benang
Sarung tangan DTT atau steril
2. AKDR dalam kemasannya
3. Phantoom uterus/model pemasangan AKDR
4. Lampu sorot
5. Meja pemeriksaan
6. Tempat cuci tangan
7. Celemek
8. Alas bokong
9. Larutan klorin 0,5%

DAfTAR TILIK KoNSELING PEmASANGAN IUD

Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala


sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau
0 :
kegiatan secara kompeten ketika dilakukan
evaluasi
1 :
Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan
langkah kerja atau kegiatan ketika dilakukan evaluasi
LANGKAH/TUGA
S
1. Memberi salam pada klien
2. Memperkenalkan diri pada klien
3. Tanyakan pada klien tentang tujuan
kunjungannya
4. Berikan informasi umum tentang keluarga
berencana
5. Tanyakan tujuan pemakaian kontrasepsi
(mengatur/membatasi)
6. Tanyakan sikap/agama yang dianutnya yang
dapat mendukung/ menolak salah satu / lebih

12

KASUS

13

7. Berikan jaminan akan kerahasiaan yang


diperlukan klien
8. Kumpulkan data-data pribadi klien
9. Berikan informasi tentang pilihan kontrasepsi yang
tersedia dan risiko serta keuntungan dari semua
Tunjukkan dimana dan bagaimana IUD dipasang
Jelaskan proses kerja IUD dan efektifitasnya
Jelaskan efek samping
10.Diskusikan kebutuhan ,dan kekhawatiran klien
dengan sikap yang simpatik
11.Bantulah klien untuk memilih metode yang tepat
Bila klien memilih metode IUD
12.Telitilah dengan seksama untuk meyakinkan
bahwa klien tidak memiliki kondisi kesehatan yang
13.Jelaskan kemungkinan efek samping sampai klien
memahami
14. Jelaskan bahwa klien perlu dilakukan pemeriksaan fisik
dan
panggul
15.Periksa apakah klien sedang dalam masa tujuh
hari dari saat haid terakhirnya
16.Singkirkan kemungkinan hamil bila telah di atas
hari ke tujuh haid
17.Jelaskan proses pemasangan IUD dan apa yang
klien rasakan pada saat proses pemasangan dan
setelah pemasangan

18.Berikan kesempatan bertanya kepada klien dan


suaminya serta berikan jawaban sesuai
kebutuhannya
19.Persilahkan klien dan suaminya untuk membaca
lembar informed consent dan minta tanda tangan
klien dan suaminya
DAfTAR TILIK
PENAPISAN KLIEN
IUD
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala
sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau
0 :
kegiatan secara kompeten ketika dilakukan
evaluasi
1 :
Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan
langkah kerja atau kegiatan ketika dilakukan evaluasi
LANGKAH/TUGA
KASUS
1. Tanyakan apakah klien sudah S
mendapatkan konseling tentang
prosedur pemasangan IUD
2. Haid terakhir, lama haid dan pola haid
3. Paritas dan riwayat persalinan terakhir
4. Riwayat kehamilan ektopik
5. Nyeri yang hebat setiap haid
6. Anemia berat
7. Riwayat infeksi saluran kemih, infeksi menular seksual
atauinfeksi
8. Berganti-ganti pasangan
9. Kanker serviks
10. Tanyakan pada klien apakah sudah mengosongkan

kandung

kencingnya
11. Jelaskan apa yang akan dilakukan dan persilahkan klien untuk
mengajukan pertanyaan
12. Cuci tangan dengan air dan sabun keringkan dengan kain
bersih
13. Palpasi daerah perut dan periksa apakah ada nyeri, tumor atau
kelainan lainnnya di daerah supra pubik
14. Bantulah klien untuk berbaring dalam posisi litotomi

15. Jelaskan pad aklien mengenai pemeriksaan panggul yang akan


dilakukan
16. Kenakan kain penutup pada klien untuk pemeriksaan panggul

LANGKAH/TUGA
S
17. Pakai sarung tangan DTT/ steril
18. Dekatkan alat-alat
19. Siapkan lampu periksa yang terang untuk melihat serviks
20. Lakukan inspeksi pada genitalia eksterna
21. Masukkan spekulum ke dalam vagina dengan benar
22. Lakukan pemeriksaan
Periksa adanya lesi/ keputihan pada vagina
Inspeksi serviks dan urerta
Ambil bahan dari vagina dan serviks (jika ada
23. Keluarkan spekulum dengan hati-hati dan letakkan kembali di
tempatnya
24. Lakukan pemeriksaan bimanual
Pastikan gerakan serviks bebas
Tentukan besar dan posisi uterus
Pastikan tidak ada tanda kehamilan
Pastikan tidak ada infeksi atau tumor pada
25. Lakukan pemeriksaan pada rektovagina (bila ada indikasi)
26. Buka sarung tangan dan rendam dalam larutan klorin

KASUS

DAfTAR TILIK PEmASANGAN IUD Cupper T

Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala


sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau
0 :
kegiatan secara kompeten ketika dilakukan
evaluasi
1 :
Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan
langkah kerja atau kegiatan ketika dilakukan evaluasi
LANGKAH/TUGA
S
1. Jelaskan tindakan yang akan dilakukan
2. Cuci tangan
3. Masukkan lengan IUD Cu T 380 di dalam kemasan sterilnya
Buka sebagian plastik penutupnya dan
Masukkan pendorong ke dalam tabung
Letakkan kemasan dalam tempat yang
Selipkan kertas pengukur di bawah lengan
Tahan kedua ujung lengan IUD ( dengan
tangan kiri
) dan
dorong tabung inserter sampai ke pangkal
lengan sehingga lengan akan melipat
Setelah lengan melipat menyentuh tabung
inserter (tangan kiri tetap menahan posisi
lengan tersebut), tarik tabung inserter
Angkat sedikit tabung inserter, dorong dan
putar untuk memasukkan ujung lengan IUD
yang sudah terlipat tersebut ke dalam
4. Lampu periksa dipasang dan dinyalakan
5. Pakai sarung tangan
6. Pasang spekulum

KASUS

LANGKAH/TUGA
S
7. Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2-3 kali
8. Jepit serviks dengan tenakulum (pada posisi jam 12) secara
hati-hati
9. Masukkan sonde uterus dengan teknik tidak menyentuh
yaitu secara hati-hati memasukkan sonde ke dalam rongga
uterus dengan sekali masuk tanpa menyentuh dinding
vagina ataupun bibir spekulum
10. Tentukan posisi dan kedalaman rongga uterus
11. Keluarkan sonde dan ukurlah kedalaman rongga uterus
pada tabung inserter yang masih berada di dalam kemasan
sterilnya denggan menggeser leher biru pada tabung inserter,
kemudian buka seluru plastik penutup kemasan
12. 12. Keluarkan inserter dari tempat kemasannya tanpa
menyentuh permukaan yang tidak steril, hati-hati jangan
sampai pendorongnya terdorong (lengan IUD akan lepas
dari inserter) atau pendorongnya terjatuh
13. Pegang inserter sedemikian , sehingga leher biru dalam
posisi horizontal (sejajar arah lengan IUD), kemudian
masukkan tabung inserter secara hati-hati ke dalam uterus
sampai leher biru tersebut menyentuh serviks atau sampai
terasa adanya tahanan
14. Pegang serta tahan tenakulum dan pendorong dengan satu
tangan
15. Lepaskan lengan IUD dengan menggunakan teknik
withdrawal yaitu menarik keluar tabung inserter sampai
pangkal pendorong dengan tetap menahan pendorong
(pendorong tidak boleh bergerak)
16. Keluarkan pendorong dari tabung inserter, kemudian
inserter didorong kembali ke serviks sampai leher biru
menyentuh serviks atau terasa adanya tahanan (langkah
ini akan menempatkan kedua lengan IUD tepat di ujung
17. Keluarkan sebagian dari tabung inserter dan gunting
benang IUD kurang lebih 3-4 cm dari serviks
18. Keluarkan seluruh tabung inserter

KASUS

LANGKAH/TUGA
S
19. Lepaskan tenakulum dengan hati-hati

KASUS

20. Periksa serviks dan bila ada perdarahan dari tempat bekas
jepitan tenakulum, tekan dengan kassa selama 30-60 detik
21. Keluarkan spekulum dengan hati-hati
22. Rendam seluruh peralatan yang sudah dipakai dalamlarutan
klorin
23. Buang bahan-bahan yang sudah tidak
24. Cuci tangan dengan air dan sabun setelah
25. Buat rekam medik dan lengkapi kartu IUD
untuk klien, lakukan pencatatan pada buku
DAfTAR TILIK
KoNSELING PASCA PEmASANGAN
IUD
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala
sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau
0 :
kegiatan secara kompeten ketika dilakukan
evaluasi
1 :
Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan
langkah kerja atau kegiatan ketika dilakukan evaluasi
LANGKAH/TUGA
S
1. Lengkapi rekam medik
2. Ajarkan pada klien bagaimana cara memeriksa sendiri
benang IUD dan kapan harus dilakukan
3. Jelaskan pada klien apa yang harus dilakukan bila
mengalami efek samping
4. Beri tahu kapan harus datang untuk kontrol
5. Ingatkan kembali masa pemakaian IUD Cu T 380 adalah 8
tahun

KASUS

6. Yakinkan pad klien bahwa ia dapat datang ke klinik setiap


saat bila memerlukan konsultasi, pemeriksaan medik atau
bila menginginkanmencabut kembali IUD tersebut

LANGKAH/TUGA
S
7. Minta klien untuk mengulangi kembali penjelasanyang telah
diberikan

KASUS

8. Berikan kesempatan kepada klien untuk bertanya dan


berikan
jawaban yang diperlukan
9. Lakukan observasi selama 15 menit sebelum
memperbolehkan
klien pulang
DAfTAR TILIK
KoNSELING PRA PENCABUTAN
IUD
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala
sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau
0 :
kegiatan secara kompeten ketika dilakukan
evaluasi
1 :
Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan
langkah kerja atau kegiatan ketika dilakukan evaluasi
LANGKAH/TUGA
S
1. Sapa klien dengan ramah dan perkenalkan diri anda
2. Tanyakan tujuan kunjungan klien
3. Tanyakan alasan keinginan mencabut IUD
4. Tanyakan rencana penggunaan kontrasepsi selanjutnya
5. Jelaskan proses pencabutan IUD dan apa yang akan klien
6. rasakan pada saat proses pencabutan dan setelah
7. Berikan kesempatan kepada klien untuk mengajukan
8. pertanyaan dan jawablah sesuai kebutuhannya

KASUS

DAfTAR TILIK
PENCABUTAN
IUD

Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala


sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau
0 :
kegiatan secara kompeten ketika dilakukan
evaluasi
1 :
Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan
langkah kerja atau kegiatan ketika dilakukan evaluasi
LANGKAH/TUGA
S
1. Jelaskan apa yang akan dilakukan dan persilahkan klien
untuk mengajukan pertanyaan
2. Persiapkan peralatanyang diperlukan
3. Cuci tangan dengan air dan sabun, keringkan dengan kain
bersih
4. Lampu periksa dipasang dan dinyalakan
5. Pakai sarung tangan
6. Pasang spekulum
7. Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2-3 kali
8. Jepit benang dengan klem
9. Tarik keluar benang IUD dengan perlahan untuk mengeluarkan
IUD
10. Tunjukkan iUD tersebut kepada klien
11. Keluarkan spekulum dengan hati-hati
12. Rendam seluruh peralatan yang sudah dipakai dalamlarutan
klorin
13. Buang bahan-bahan yang sudah tidak terpakai lagi
14. Cuci tangan dengan air dan sabun setelah itu keringkan
15. Buat rekam medik tentang pencabutan iUD, lakukan
pencatatan pada buku register

2
0

KASUS

2
1

DAfTAR TILIK
KoNSELING PASCA PENCABUTAN
IUD

Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala


sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau
0 :
kegiatan secara kompeten ketika dilakukan
evaluasi
1 :
Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan
langkah kerja atau kegiatan ketika dilakukan evaluasi
LANGKAH/TUGA
S
1. Diskusikan apa yang harus dilakukan bila klien mengalami
masalah (mis; perdarahan yang lama atau nyeri perut )
2. Minta klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang telah
diberikan
3. Berikan kesempatan pada klien untuk mengajukan
pertanyaan dan jawablah sesuai kebutuhan
4. Ulangi kembali keterangan tentang pilihan kontrasepsi yang
tersedia dan risiko serta keuntungan setiap jenis kontrasepsi
5. Bantu klien untuk menentukan alat kontrasepsi yang baru
atau berikan alat kontrasepsi sementara sampai klien dapat
memutuskan alat kontrasepsi baru yang akan dipakai
6. Lakukan observasi selama 5 menit sebelum
memperbolehkan klien pulang
7. Minta klien untuk mengulangi kembali penjelasanyang telah
diberikan
8. Berikan kesempatan kepada klien untuk bertanya dan
berikan jawaban yang diperlukan

KASUS

Rangkuman

Metode AKDR merupakan salah satu alat kontrasepsi yang sangat


efektif untuk mencegah kehamilan. Metode ini telah dikenal sejak zaman
dahulu. Penemuan-penemuan selanjutnya melahirkan berbagai jenis dan
bentuk dari AKDR hingga saat ini di Indonesia jenis AKDR yang digunakan
adalal jenis CuT 380 A
Secara umum AKDR aman digunakan oleh setiap wanita, terutama bagi
wanita yang tidak menginginkan efek sistemik alat kontrasepsi hormonal
yang terkadang menjadi momok tersendiri bagi wanita, misalnya kenaikan
berat badan, perubahan pola menstruasi dan lain sebagainya. Walaupun
dipandang sebagai kontersepsi yang aman dan efektif, tentu saja yang
namanya alat buatan manusia, tidak terlepas dari kerugian serta efek
samping yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan metode
AKDR. Dan sudah barang tentu tugas anda sebagai bidan untuk
memberikan konseling dengan sejelas-jelasnya kepada setiap calon
akseptor AKDR sehingga diharapkan calon akseptor semakin mantap
dengan pilihannya dan pada akhirnya
angka kejadian drop out akan berkurang

22

23

Evaluasi
Formatif
Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar

1. Untuk mengurangi risiko infeksi pasca pemasangan AKDR, upaya yang dapat
dilakukan yaitu:
a. Melakukan pemasangan dengan hasil pemeriksaan adanya IMS
b. Mencuci tangan sesudah tindakan pemasangan
c. Meminta klien untuk membersihkan genitalianya sesudah pemeriksaan
panggul
d. Masukkan lengan AKDR dalam kemasan sterilnya
e. Melakukan skrining pasca pemasangan
2. Tindakan pencegahan infeksi pada pencabutan AKDR adalah...
a. Gunakan teknik tanpa sentuh
b. Usapkan cairan antiseptik secara merata pada cerviks dan vagina sebelum
pemasangan
c. Gunakan instrumen setelah dekontaminasi
d. Usapkan larutan antiseptik pada semua alat yang akan dipakai
e. Melakukan vulva hygiene
3. Tidak termasuk kedalam peralatan untuk pemasangan AKDR adalah...
a. Aligator klem
b. Speculum bivalve
c. Tenakulum dan sonde uterus
d. Gunting benang
e. Tampon tang
4. Infeksi serviks dan erosio portionis dapat ditemukan dengan pemeriksaan
a. Bimanual
b. Inspekulo
c. Rektovaginal

d. Digital
e. Laparoskopi
5. Pemeriksaan bimanual bertujuan untuk menentukan hal-hal dibawah ini,
kecuali...
a. Gerakan serviks bebas/tidak nyeri goyang
b. Besar uterus
c. Konsistensi uterus
d. Ukuran panjang/kedalaman uterus
e. Posisi Uterus
6. Itilah loading dipergunakan pada saat...
a. Memasukkan lengan AKDR kedalam kemasan sterilnya
b. Memasang spekulum vagina untuk melihat serviks
c. Menentukan besar dan posisi uterus
d. Memastikan tidak ada tanda kehamilan
e. Memasukan AKDR ke dalam uterus
7. No touch technique adalah...
a. Menentukan besar dan posisi uterus
b. Memasukkan inserter ke dalam kavum uteri
c. Memasukkan sonde uterus ke dalam kavum uteri dengan sekali
masuk tanpa menyentuh dinding vagina
d. Menentukan tidak ada infeksi pada adneksa kiri dan kanan
e. Menentukan panjang uterus
8. Melepaskan lengan AKDR dengan menarik keluar tabung inserter
sampai pangkal pendorong adalah...
a. No touch technique
b. Withdrawal technique
c. Aspiration technique

d. Bimanual technique

e. Tidak ada yang benar


9. Bila ada perdarahan pada tempat bekas jepitan tenakulum, tindakan
yang dilakukan adalah menekan dengan kassa selama...
a. 30-60 menit
b. 20-30 menit
c. 20-30 detik
d. 60-70 detik
e. 90-120 detik
10. Untuk mengamati segala sesuatu kemungkinan yang terjadi pasca
pemasangan, dianjurkan...
a. Klien dirawat dengan sistem one day care
b. Klien menunggu dan istirahat selama 15-30 menit
c. Klien segera pulang dan melaporkan yang dirasakan
d. Klien tidur dengan posisi miring kiri
e. Klien dianjurkan kontrol ulang setelah 7 hari

Tugas
Mandiri
Lakukan praktikum pemasangan dan pencabutan AKDR dengan
menggunakan penuntun belajar diatas, kemudian catat temuan anda dan
diskusikanlan dengan teman anda!!!

Kegiatan
Belajar 2
Selamat,

anda

telah

Kalau Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK)

menyelesaikan

kegiatan

belajar

1,

sekarang

silahkan anda melanjutkan ke kegiatan belajar 2. Setelah mempelajari


kegiatan belajar 2 ini, anda diharapkan dapat memahami tentang alat
kontrasepsi bawah kulit, cara kerjanya, keuntungan dan kerugiannya,
efek

samping

termasuk

yang

bagaimana

sering
anda

timbul,

konseling

membina

akseptor

terhapap
yang

akseptor,

bermasalah

dengan metode AKBK serta mampu memasang dan mencabut AKBK


secara benar.

Sebelum anda melanjutkan ke uraian materi, silahkan anda tuliskan


terlebih dahulu mengenai apapun yang anda ketahui mengenai Alat
kontrasepsi bawah kulit pada kotak dibawah ini:

Bagaimana, apakah anda sudah mengisi kotak diatas? kalaau sudah mari
kita cocokan jawaban anda dengan uaian di bawah ini:

Uraian
Materi
A. PRofIL
1. PENGERTIAN
Kontrasepsi implan (susuk KB) adalah batang

silastik

pencegah

dilakukan

kehamilan

yang

pemakaiannya

lembut

untuk

dengan

jalan

pembedahan minor untuk insersi (pemasangan) dan pencabutan Kontrasepsi


implan adalah alat kontrasepsi berbentuk kapsul silastik berisi hormon jenis progestin
(progestin sintetik) yang dipasang dibawah kulit (BKKBN,2003).
2. mEKANISmE KERJA KB ImPLANT
a. mengentalkan lendir serviks
Kadar levonorgestrel yang konstan mempunyai efek nyata
terhadap mukus serviks. Mukus tersebut menebal dan jumlahnya
menurun, yang membentuk sawar untuk penetrasi sperma.
b. menggangu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi
implantasi.
Levonorgestrel menyebabkan supresi terhadap maturasi siklik
endometrium yang diinduksi
estradiol, dan akhirnya menyebabkan atrofi. Perubahan ini dapat mencegah
implantasi sekalipun terjadi fertilisasi; meskipun demikian, tidak ada bukti
mengenai fertilisasi yang dapat

dideteksi

pada

pengguna implan.

c. mengurangi transportasi sperma.


Perubahan lendir serviks menjadi lebih kental dan sedikit, sehingga
menghambat pergerakan
sperma.
d. menekan ovulasi karena progesteron menghalangi pelepasan LH.
Levonorgestrel menyebabkan supresi terhadap lonjakan luteinizing

hormone (LH), baik pada hipotalamus maupun hipofisis, yang penting untuk
ovulasi. (BKKBN, 2003)

d. Efektifitas
Sangat efektif (kegagalan 0,2 -1 kehamilan per 100 perempuan). (Saifuddin, 2006)
3. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN KB ImPLANT
a. Keuntungan
1). Daya guna tinggi Kontrasepsi implan merupakan metode
kontrasepsi berkesinambungan yang aman dan sangat efektif.
Efektivitas penggunaan implant sangat mendekati efektivitas
teoretis. Efektivitas 0,2 1 kehamilan per 100 perempuan.
2). Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun). Kontrasepsi
implan memberikan perlindungan jangka panjang. Masa kerja
paling pendek yaitu satu tahun pada jenis implan tertentu
(contoh : uniplant) dan masa kerja paling panjang pada jenis
norplant.
3). Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan.
Kadar levonorgestrel yang bersirkulasi menjadi terlalu rendah
untuk dapat diukur dalam . 48 jam setelah pengangkatan
implan.

Sebagian

ovulatorik

besar

normalnya

wanita
dalam

memperoleh
bulan

kembali

pertama

siklus
setelah

pengangkatan. Angka kehamilan pada tahun pertama setelah


pengangkatan sama dengan angka kehamilan pada wanita yang
tidak menggunakan metode kontrasepsi dan berusaha untuk
hamil. Tidak ada efek pada jangka panjang kesuburan di masa
depan.Kembalinya

kesuburan

setelah

pengangkatan

implan

terjadi tanpa penundaan dan kehamilan berada dalam batasbatas

normal.

kehamilan

yang

Implan
tepat

memungkinkan
karena

penentuan

kembalinya

ovulasi

waktu
setelah

pengangkatan implan demikian cepat.


4). Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
5). Bebas dari pengaruh estrogen. Tidak mengandung hormon
estrogen. Kontrasepsi implan mengandung hormon progestin

dosis rendah. Wanita dengan kontraindikasi hormon estrogen,


sangat tepat dalam penggunaan kontrasepsi implan.
6). Tidak mengganggu hubungan seksual Kontrasepsi implan tidak
mengganggu

kegiatan

sanggama,

karena

diinsersikan

pada

bagian subdermal di bagian dalam lengan atas.


7). Tidak mengganggu produksi ASI. Implan merupakan metode yang
paling baik untuk

wanita menyusui. Tidak ada efek terhadap kualitas dan kuantitas


air susu ibu, dan bayi tumbuh secara normal. Jika ibu yang baru
menyusui tidak sempat nantinya (dalam tiga bulan), implan
dapat diisersikan segera Postpartum.
8). Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan
kebutuhan 9). Kontrol medis ringan
10). Dapat dilayani didaerah
pedesaan 11). Penyulit medis
tidak terlalu tinggi 12). Biaya
ringan
b. Kerugian
1). Menimbulkan gangguan menstruasi, yaitu tidak mendapat
menstruasi, terjadi
perdarahan bercak (spotting) dan perdarahan tidak teratur.
2. Berat badan bertambah. Wanita yang menggunakan implan lebih
sering

mengeluhkan

peningkatan

berat

badan

dibandingkan

penurunan berat badan.


3. Menimbulkan
Jerawat,

acne

dengan

(jerawat),

atau

tanpa

ketegangan
peningkatan

pada

payudara,

produksi

minyak,

merupakan keluhan kulit yang paling umum di antara pengguna


implan.
4. Membutuhkan

tindak

pembedahan

minor

untuk

insersi

dan

pencabutan. Implan harus dipasang (diinsersikan) dan diangkat


melalui prosedur pembedahan yang dilakukan oleh personel terlatih.
Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini
sesuai dengan keinginannya, akan tetapi harus pergi ke klinik untuk
pencabutan. Dibutuhkan klinisi terlatih dalam melakukan pengangkatan
implan.
5. Tidak memberikan perlindungan terhadap Infeksi Menular Seksual
HIV/AIDS

3
0

5. INDIKASI DAN KoNTRA INDIKASI KB ImPLANT


a. Indikasi
1). Usia reproduksi
2). Nulipara atau multipara
3). Menghendaki kontrasepsi dengan efektifitas tinggi

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi


Kesehatan

4). Tidak menginginkan anak lagi tapi menolak sterilisasi


b. Kontra indikasi
1). Hamil atau diduga hamil
2). Perdarahan pervaginam yang tidak diketahui penyebabnya
3). Kanker payudara atau riwayat kanker
payudara 4). Mioma uteri
5). Gangguan toleransi glukosa (Saifuddin, 2006)
Sampai disini, apakah anda cukup memahaminya? Baiklah, pembahasan
akan kita lanjutkan pada waktu. Apakah anda tahu, kapankah waktu yang
tepat untuk memulai penggunaan metode ini?
6. WAKTU mULAI mENGGUNAKAN ImPLAN
a. Setiap saat selama siklus haid hari ke -2 sampai hari ke tujuh, tidak
perlu metode kontrasepsi tambahan
b. Insersi dapat dilakukan setiap saat, dengan syarat diyakini tidak
terjadi kehamilan. Apabila insersi setelah -7 hari siklus haid, klien
dianjurkan

untuk

tidak

melakukan

hubungan

seksual,

atau

menggunakan metode kontrasepsi lain untuk tujuh hari saja.


c. Apabila klien tidak haid, insersi dapat dilakukan setiap saat, dengan
syarat diyakini tidak terjadi kehamilan, klien dianjurkan tidak
melakukan

hubungan

seksual

atau

menggunakan

metode

kontrsepsi lain untuk tujuh hari saja.


d. Apabila menyusui antara 6 minggu sampai 6 bulan pascapersalinan, insersi dapat
dilakukan setiap saat.
e. Apabila setelah 6 minggu melahirkan dan telah terjadi haid
kembali, insersi dapat dilakukan setiap saat, klien dianjurkan untuk
tidak

melakukan

hubungan

seksual

selama

tujuh

hari

atau

dan

ingin

menggunakan metode kontrasepsi lain untuk tujuh hari.


f. Apabila

klien

menggunakan

kontrasepsi

hormonal

menggantinya dengan implan, insersi dapat dilakukan setiap saat,


dengan syarat diyakini klien tersebut tidak hamil, atau klien
menggunakan kontrsepsi dengan benar.

3
1

g. Apabila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsi suntik, implan


dapat diberikan pada saat jadwal kontrasepsi suntik, tidak perlu
metode kontrasepsi lain.

h. Apabila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsihormonal (


kecuali AKDR) dan klien ingin menggatinya dengan norplant, insersi
dapat dilakukan setiap saat, dengan syarat diyakini klien tidak
hamil. Tidak perlu menunggu sampai datangnya haid berikutnya.
i. Apabila kontrasepsi sebelumnya adalah AKDR dan klien ingin
menggantinya dengan implan, maka dapat diinsersikan pada saat
haid hari ke-7 dan klien dianjurkan tidak melakukan hubungan
seksual selama tujuh hari atau gunakan metode kontrasepsi lain
untuk tujuh hari saja. AKDR segera dicabut. Dan Pasca keguguran,
implan dapat segera di insersikan. (Sulistyawati, 2011)
7. KEADAAN yANG mEmERLUKAN PERHATIAN KHUSUS :

KEADAA
N
Penyakit hati akut
Stroke/riwayat stroke,penyakit
jantung
Menggunakan obat epilepsi
Tumor jinak/ganas pada hati

ANJURA
N
Sebaiknya jangan menggunakan
implan
Sebaiknya jangan menggunakan
implan
Sebaiknya jangan menggunakan
implan

8. PEmASANGAN DAN PENCABUTAN ImPLANT (SUSUK KB)


a. Peralatan dan Instrumen untuk Insersi
b. Meja periksa untuk berbaring klien
c. Alat penyangga lengan
d. Batang implant dalam kantong
e. Kain penutup steril (DTT) serta mangkok untuk tempat meletakkan
implant
f. Sepasang sarung tangan karet bebas bedak yang sudah steril (atau DTT)
g. Sabun untuk mencuci tangan

32

h. Larutan antiseptic untuk disinfeksi kulit (misal: larutan betadin atau


jenis golongan povidon iodine lainnya), lengkap dengan cawan/
mangkuk antikarat
i. Zat anestesi local (konsentrasi 1 % tanpa Epinefrin).
j. Semprit (5-10 ml), dan jarum suntik (22 G) ukuran 2,5-4 cm (1-1,5/ inch)

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

33

k. Trokar 10 dan mandrin


l. Skapel 11 atau 15
m. Kasa pembalut, band aid, atau plester
n. Kasa steril dan pembalut
o. Epinefrin untuk renjatan anafilaktik (harus tersedia untuk keperluan darurat)
p. Klem penjepit atau forceps mosquito (tambahan)
q. Baka atau tempat instrumen (tertutup)

DAfTAR TILIK KoNSELING PEmASANGAN ImPLANT

Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala


sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau kegiatan
secara
0 :
kompeten
ketika dilakukan evaluasi
1

Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan


langkah
atau
kegiatankerja
ketika
dilakukan evaluasi
LANGKAH/TUGAS

1. Memberi salam pada klien

KASUS

2. Memperkenalkan diri pada klien


3. Tanyakan pada klien tentang tujuan kunjungannya
4. Berikan informasi umum tentang keluarga berencana
5. Tanyakan tujuan pemakaian kontrasepsi (mengatur/membatasi)
6. Tanyakan sikap/agama yang dianutnya yang dapat mendukung
/ menolak salah satu / lebih metoda kontrasepsi
7. Berikan jaminan akan kerahasiaan yang diperlukan klien
8. Kumpulkan data-data pribadi klien
9. Berikan informasi tentang pilihan kontrasepsi yang tersedia
dan risiko serta keuntungan dari semua jenis kontrasepsi
Tunjukkan dimana dan bagaimana implant dipasang
Jelaskan proses kerja implant dan efektifitasnya
Jelaskan efek samping

LANGKAH/TUGAS

KASUS

10. Diskusikan kebutuhan ,dan kekhawatiran klien dengan


sikap yang simpatik
11. Bantulah klien untuk memilih metode yang tepat
Bila klien memilih metode IMPLANT
12. Jelaskan kemungkinan efek samping sampai klien memahami
13. Jelaskan proses pemasangan implant dan apa yang akan
klien rasakan pada saat proses pemasangan dan setelah
pemasangan
14. Berikan kesempatan bertanya kepada klien dan suaminya
serta berikan jawaban sesuai kebutuhannya
15.Persilahkan klien dan suaminya untuk membaca lembar
informed consent dan minta tanda tangan klien dan
suaminya

DAfTAR TILIK PEmASANGAN ImPLANT

Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala


sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau kegiatan
secara
0 :
kompeten
ketika dilakukan evaluasi
1

Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan


langkah
atau
kegiatankerja
ketika
dilakukan evaluasi

LANGKAH/TUGA
1. Tanyakan apakah klien sudah mendapatkan konseling
tentang prosedur pemasangan implan
2. Tanyakan tentang adanya reaksi alergi terhadap obat
3. Tanyakan apakah klien sedang dalam masa tujuh hari dari
saat haid terakhirnya
4. Singkirkan kemungkinan hamil bila telah lebih dari hari ke
tujuh

KASUS

5. Telitilah dengan seksama untuk meyakinkan bahwa klien


tidak memiliki kondisi kesehatan yang dapat emnimbulkan
masalah

LANGKAH/TUGA
6. Lakukan pemeriksaan lanjutan, bila ada indikasi
7. Periksa kembali rekam medik atau lakukan penilaian atau
pemeriksaan penunjang lanjutan bila ada indikasi
8. Periksa kembali untuk meyakinkan bahwa klien telah
mencuci lengannya
9. Bantu klien naik ke meja periksa
10. Letakkan kain bersih dan kering di bawah lengan klien dan
atur posisi lengan klien dengan benar
11. Tentukan tempat pemasangan pada bagian dalam lengan
atas, dengan mengukur 8 cm di atas lipatan siku
12. Beri tanda pada tempat yang akan dimasukkan implan
13. Pastikan bahwa peralatan sudah steril / DTT
14. Buka peralatan steril dari kemasannya
15. Buka kemasan implan dan tempatkan ke dalam mangkok
kecil yang steril ( atau biarkan dalam kemasannya)
16. Cuci tangan dengan air dan sabun, keringkan dengan
handuk atau kain bersih
17. Pakai sarung tangan steril
18. Hitung jumlah kapsul untuk memastikan lenkap 2 buah
19. Usap tempat pemasangan dengan larutan antiseptik,
gerakkan ke arah luar secara melingkar seluas 8-13 cm dan
biarkan kering
20. Pasang kain penutup steril/DTT di sekeliling lengan pasien
21. Tusukkan jarum spuit di kulit tepat di lokasi yang akan
diinsisi
22. Suntikkan anestesi lokal (lidokain 1%-2% ) 0,3 -0,5 cc tepat
dibawah kulit (intradermal) pada tempat insisi yang telah
ditentukan , sampai kulit sedikit menggelembung
23. Teruskan penusukkan jarum ke lapisan di bawah kulit
(subdermal)kurang lebih sejauh 4 cm dari lokasi insisi yang
direncanakan , lakukan aspirasi untuk meyakinkan bahwa
jarum tidak masuk ke pembuluh darah

KASUS

LANGKAH/TUGA
24. Suntikkan 0,5-1 cc obat anesthesi sambil menarik spuit
ke arah tempat tusukkan jarum di kulit tetapi tidak sampai
mencabut seluruh jarum (dengan tehnik ini, anesthesi lokal
akan merata di sepanjang bawah kulit dimana batang
implan akan ditempatkan)
25. Ulangi langkah 23 dan 24 , kira-kira membentuk sudut 20 0300 terhadap lokasi suntikan anestesi sebelumnya (jumlah
keseluruhan obat anestesi yang diperlukan tidak lebih dari 2
26. cc)
Tunggu 2-3 menit, lakukan uji efek anestesi sebelum
melakukan insisi pada kulit
27. Buat insisi dangkal di kulit selebar 2 mm dengan bisturi
(sbg
alternatif,
langkah
ini
dapat
digantikan
denganmenusukkan trokar langsung ke lapisan di bawah
28. kulit/subdermal)
Masukkan ujung trokar (yang pendorongnya telah
dipasang) melalui tempat insisi dengan sudut yang agak
besar ( 300 permukaan kulit)
29. Setelah ujung trokar menembus kulit, ubah sudut trokar
menjadi sejajar kulit (bila langkah ini dikerjakan dengan
benar, kulit akan terangkat)
30. Masukkan terus trokar dan pendorongnya sampai sedikit
melewati batas tanda pertama (pada pangkal trokar) tepat
pada luka insisi (perhatikan:oleh karena trokar yang dipakai
adalah trokar untuk impla 6 kapsul, maka trokar perlu
didorong sedikit melebihi batas yang ada pada trokar sesuai
dengan selisih panjang implan 2 batang dan 6 batang)
31. Keluarkan pendorong
32. Masukkan kapsul yang pertama ke dalam trokar dengan
tangan atau pinset:tadahkan tangna yang lain di bawah
kapsul sehingga dapat menangkap kapsul bila jatuh
33. Masukkan kembali pendorong dan tekan kapsul ke arah
ujung trokar sampai terasa adanya tahanan

KASUS

LANGKAH/TUGA
34. Tahan pendorong di tempatnya dengan satu tangan, dan
tarik trokar keluar sampai mencapai pegangna pendorong
(dengna tehnik ini batang implan akan tertinggal di bawah
kulit sesuai yang direncanakan)
35. Tarik trokar dan pendorongnya secara bersama-sama
sampai batas tanda kedua (pada ujung trokar) terlihat pada
luka insisi: janga mengeluarkan trokar dari tempat insisi
36. Tahan kapsul yang telah terpasang dengan satu jari dan
masukkan kembali trokar, ulangi lagi langkah 30-34
37. Raba kapsul untuk memastikan kedua kampsul implan telah
terpasang (keduanya kira-kira membentuk sudut 15 0-300)
38. Raba daerah insisi untuk memastikan seluruh kapsul
berada jauh dari insisi (ujung implan tidka boleh menyembul
di luka insisi)
39. Tekan padatempat insisi dengan kasa untuk menghentikan
perdarahan (kalau ada)
40. Dekatkan ujung-ujung insisi dan tutup dengan band-aid
41. Beri pembalut tekan untuk mencegah perdarahan
42. Beri petunjuk pada klien cara merawat luka (mis: bila ada
nanah atau darah, atau kapsul keluar dari luka insisi, klien
harussegera kembali ke klinik)
43. Sedot larutan klorin ke dalam spuit , k eluarkan lagi lalu
lepaskan jarum dari tabung spuit
44. Buang jarum di tempat sampah tajam
45. Letakkan semua peralatan dlam larutan klorin 0,5 %
selama 10 menit, pisahkan trokar dari pendorongnya
46. Buang semua bahan yang tidak dipakai ke dalam tempat
sampah
47. Celupkan sarung tangan ke dalam larutan klorin
48. Cuci tangan dengan sabun dan air kemudian keringkan
dengan handuk / kain kering

KASUS

LANGKAH/TUGA

KASUS

49. Buat rekam medik tentang pemasangan impan, lakukan


pencatatan padabuku register/catatan akseptor
50. Jelaskan pada klien apa yang harus dilakukan bila
mengalami efek samping
51. Beritahu kapan harus kontrol
52. Ingatkan kembali masa pemakaian implan 4 tahun
53. Yakinkan pada klien bahwa ia dapat datang ke klinik setiap
saat bila membutuhkan konsultasi, pemeriksaan medik atau
bila menginginkan mencabut implan
54. Minta klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang telah
diberikan
55. Berikan kesempatan untuk bertanya
56. Lakukan observasi selama 5 menit sebelum
memperbolehkan klien pulang

9. KUNCI KEBERHASILAN PEmASANGAN


1). Untuk tempat pemasangan kapsul, pilihlah lengan klien yang
jarang digunakan. 2). Gunakan cara pencegahan infeksi yang di
anjurkan
3). Pastikan kapsul kapsul tersebut di tempatkan sedikitnya 8 cm di
atas lipat siku, di daerah medial lengan.
4). Insisi pemasangan harus kecil, hanya sekedar menembus kulit.
Gunakan skalpel atau trokar tajam untuk membuat insisi.
5). Masukkan trokar melalui luka insisi dengan sudut yang kecil,superfisial tepat
dibawah
kulit. Waktu memasukkan trokar jangan di paksaan.
6). Trokar harus dapat mengangkat kulit setiap saat, untuk memastikan
pemasangan tepat di bawah kulit.
7). Pastikan 1 kapsul benar benar keluar dari trokar sebelum kapsul
berikutnya

di

pasang

(untuk

mencegah

kerusakan

kapsul

sebelumnya, pegang kapsul yang sudah terpasang tersebut dengan


jari tengah dan masukkan trokar pelan pelan di sepanjang tepi jari
tersebut).

8). Setelah selesai memasang, bila sebuah ujung kapsul menonjol


keluar atau terlalu dekat dengan luka insisi, harus di cabut dengan
hati hati dan di pasang kembali dalam posisi yang tepat.
9). Jangan mencabut ujung trokar dari tempat insisi sebelum semua
kapsul dipasang dan diperiksa seluruh posisi kapsul. Hal ini untuk
memastikan bahwa kedua kapsul dipasang dengan posisi yang
benar dan pada bidang yang sama di bawah kulit.
10).

Gambar tempat kapsul tersebut pada rekam medik dan buat

catatan bila ada kejadian tidak umum yang mungkin terjadi selama
pemasangan.
10.PETUNJUK PERAWATAN LUKA INSISI DI RUmAH
1). Mungkin akan terdapat memar, bengkak atau sakit di daerah insisi
selama beberapa hari. Hal ini normal.
2). Jaga luka insisi tetap kering dan bersih selama paling sedikit 48
jam.luka insisi dapat mengalami infeksi bila basah saat mandi atau
mencuci pakaian.
3). Jangan membuka pembalut tekan selam 48 jam dan biarkan band
aid di tempatnya sampai luka insisi sembuh (umumnya 3-5 hari).
4). Klien dapat segera bekerja secara rutin. Hindari benturan atau luka
di daerah tersebut atau menambahkan tekanan.
5). Setelah luka insisi sembuh, daerah tersebut dapat di sentuh dan din
bersihkan dengan tekanan normal.
6). Bila terdapat tanda tanda infeksi seperti demam, daerah insisi
kemerahan dan panas atau sakit yang menetap selama beberapa
hari, segera kembali ke klinik.
11.BILA TERJADI INfEKSI
1). Obati dengan pengobatan yang sesuai untuk infeksi lokal.
2). Bila terjadi abses (dengan atau tanpa ekspulsi kapsul) cabut semua
kapsul.

B. PENCABUTAN ImPLANT
1. PERSIAPAN BAHAN DAN PERALATAN
Dalam melakukan persiapan, yang penting adalah alat-alat dalam
kondisi baik ( misalnya klem harus dapat menjepit dengan kuat dan
skalpel harus tajam ). Periksa alat-alat dan bahan yang akan dipakai
sudah dalam keadaan steril atau DTT.
a. Peralatan yang diperlukan untuk setiap pencabutan adalah sebagai
berikut :
b. Meja periksa untuk tempat tidur klien
c. Penyangga lengan atau meja samping
d. Sabun untuk mencuci lengan
e. Kain penutup operasi steril ( bersih yang kering )
f. Tiga mangkok steril atau DTT ( 1 untuk larutan antiseptik, 1 tempat
air

mendidih

atau

steril

yang

berisi

kapan

bulat

untuk

membersihkan bedak pada sarung tangan dan 1 lagi berisi larutan


klorin 0,5 % untuk dekontaminasi kapsul yang telah di cabut )
g. Pasang sarung tangan steril atau DTT
h. Larutan antiseptik
i. Anestesi lokal ( Konsentrasi 1 % tanpa Epinefrin )
j. Tabung suntik ( 5/10 mL dan jarum suntik dengan panjang 2,5-4 cm ( No
22)
k. Skapel ( pisau bedah no 11

l. Klem lengkung dan lurus ( mosquito dan Crile )


m.Ban aid atau kasa steril dengan plester
n. Kasa pembalut
o. Epinefrin untuk syok anafilaktik ( harus selalu tersedia untuk keadaan darurat )

4
0

4
1

DAfTAR TILIK
PENCABUTAN ImPLAN DUA
KAPSUL
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala
sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau kegiatan
secara
0 :
kompeten
ketika dilakukan evaluasi
1

Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan


langkah kerja
atau
kegiatan
ketika
dilakukan evaluasi

LANGKAH/TUGA
S
1. Tanyakan apakah sudah mengetahui prosedur pencabutan
implan
2. Tanyakan tentang adanya reaksi alergi terhadap obat anestesi
3. Periksa kembali untuk meyakinkan bahwa klien telah
mencuci lengannya dengan bersih menggunakan air dan
sabunklien untuk naik ke mej aperiksa, letakkan kain yang
4. Bantu
bersih dan kering di bawah lengan klien dan atur posisi
lengan klien dengan benar
5. Raba kapsul untuk menentukan jumlah kapsul dan lokasi
insisi guna mencabut kapsul dengan memperhitungkan
jarak yang sama dari ujung kedua kapsul
6. Pastikan peralatan sudah DTT/steril
7. Buka peralatan steril dari kemasannya
8. Cuci tangan dengan air dan sabun kemudian keringkan
dengan kain/handuk
9. Pakai sarung tangan DTT/steril
10. Siapkan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan
11. Usap tempat pemasangan dengan larutan antiseptik,
gerakkan ke arah luar secara melingkar seluas 8-13 cm
dan biarkan kering
12. Pasang kain penutup steril/DTT di sekeliling lengan pasien
13. Tusukkan jarum spuit di kulit tepat di lokasi yang akan
diinsisi

KASU
S

LANGKAH/TUGA
S
14. Suntikkan anestesi lokal (lidokain 1%-2% ) 0,3 -0,5 cc
tepat dibawah kulit (intradermal) pada tempat insisi yang
telah ditentukan , sampai kulit sedikit menggelembung
15. Teruskan penusukkan jarum ke lapisan di bawah kulit
(subdermal) dibawah ujung akhir dari kapsul sampai
sepertiga panjang kapsul , lakukan aspirasi untuk
meyakinkan bahwa jarum tidak masuk ke pembuluh darah
16. Suntikkan 0,5-1 cc obat anesthesi sambil menarik spuit
ke arah tempat tusukkan jarum di kulit tetapi tidak sampai
mencabut seluruh jarum (dengan tehnik ini, anesthesi lokal
akan merata di sepanjang bawah kulit dan agar kapsul
tetap mudah diidentifikasi dengan perabaan)
17. Tunggu 2-3 menit, uji efek anestesinya sebelum membuat
insisi pada kulit
18. Buat insisi kecil dengan bisturi dengan jarak sekitar 5 mm di
bawah ujung dari kapsul yang terdekat dengan siku
19. Tentukan lokasi kapsul yang termudah untuk dicabut dan
dorong pelan-pelan ke arah insisi hingga ujung dari kapsul
tampak
20. Jepit ujung kapsul dengan klem lengkung (mosquito) dan
bawa ke ara insisi
21. Bersihkan kapsul dari jaringan ikat yang mengelilinginya
dengan menggunakan kasa steril atau bisturi
22. Keluarkan kapsul dengan cara menariknya menggunakan
klem atau pinset, taruh pada mangkok yang berisi larutan
klorin 0.5%
23. Lakukan langkah yang sama untuk kapsul berikutnya yang
akan dicabut (bila diperlukan , suntikan lagi anestesi)
PENCABUTAN KAPSUL yANG SULIT
Catatan: prosedur pemberian anestesi sudah diberikan

42

KASU
S

24. Buat insisi kecil dengan bisturi dengan jarak sekirat 5 mm di


bawah ujung dari kapsul yang terdekat dengan siku

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

43

LANGKAH/TUGA
S
25. Untuk kapsul yang jauh dari tempat insisi, dorong kapsul
dengan jari ke arah tempat insisi, masukkan klem lengkung
yang terbuka mengarah ke atas dan jepit kapsul dengan
ujung-ujung klem
26. Jauhkan klem tersebut, 1800 ke arah bahu klien
27. Setelah menjatuhkan klem ke arah bahu, bersihkan
jaringan
ikat yang
mengelilingi
kapsul
dengan
menggunakan kasa steril atau skalpel
28. Bila setelah menjatuhkan ke arah bahu, kapsul tidak
kelihatan, maka putar 180 0 ke arah yang berlawanan dari
sumbunya untuk membuat ujung kapsul mencuat
29. Setelah jaringan ikat dilepaskan dari ujung kapsul, tekan
dengan jari tangan jaringan ikat yang mengelilingi kaspul
sehingga ujung kapsul mencuat
30. Jepit kapsul yang mencuat itu dengan klem lain sambil
melepas klem lengkung
31. Keluarkan kapsul dengan cara menarik kapsul secara
perlahan, taruh pada mangkok yang berisi larutan klorin 0.5
32. %
Lakukan langkah yang sama untuk kapsul berikutnya yang
akan dicabut
PeNcABuTAN kAPsuL deNgAN TekNIk PoP ouT
Catatan: prosedur pemberian anestesi sudah dilakukan
33. Pilih kapsul yang mudah dicabut
34. Dorong ujung atas dari kapsul (dekat bahu) dengan
menggunakan jari
35. Pada saat ujung bawah kapsul (dekat siku) menonjol
keluar, buat insisi kecil (2-3mm) di atasujung kapsul
tersebut dengan menggunakan bisturi
36. Tekan ujung kapsul dengan ibu jari dan jari-jari lainnya
sehingga mencuat dari tempat insisi
37. Masukkan bisturi ke tempat insisi sehingga menyentuh
ujung kapsul dan potong jarngan ikat yang menutupi ujung
kapsul

KASU
S

LANGKAH/TUGA
S
38. Setelah jaringan ikat dilepaskan dari ujung kapsul, tekan
kapsul dengan ajri tangan sehingga ujung kapsul mecuat
(pop out) pada tempat insisi
39. Keluarkan kapsul dengan cara menarik kapsul secara
perlahan menggunakan klem atau pinset, taruh pad
amangkok yang berisi larutan klorin 0.5 %
40. Lakukan langkah yang sama untuk kapsul berikutnya yang
akan dicabut (bila diperlukan suntikan lagi anestesi)
PeNcABuTAN kAsPuL deNgAN TehNIk u
Catatan: prosedur pemberian anestesi sudah dilakukan
41. Buat insisi kecil (selebar 3-4mm) pada kulit diantara kapsul
pertama dan kedua dengan arah memanjang berjarak 5
mm di atasujung kapsul
42. Pegang kapsul dengan jari tangan dan masukkan ujung
klem implan (alat vasektomi yang dimodifikasi) sampai
mencapai kapsul
43. Jepit kapsul dan tarik keluar sampai mendekati permukaan
kulit, klem implan dijatuhkan 900 ke arah bahu (kalau perlu
sampai 1800) hingga kapsul terlihat
44. Bersihkan kapsul dari jaringna ikat yang mengelilinginya
dengan menggunakan kasa atau skalpel
45. Jepit ujung kapsul yang sudah dibersihkan dengan klem
lengkung , tarik keluar dan taruh pad amangkuk yang berisi
larutan klorin 0.5%
46. Lakukan langkah yang sama untuk kapsul berikutnya yang
akan dicabut (bila diperlukan , suntikan lagi anestesi)
TINdAkAN PAscA PeNcABuTAN
47. Perlihatkan ke dua kapsul tersebut pada klien
48. Rapatkan kedua tepi luka insisi dan tutup dengan band aid
49. Beri pembalut tekan untuk mencegah perdarahan dan
mengurangi memar

KASU
S

LANGKAH/TUGA
S
50. Beri petunjuk pada klien dara merawat luka

KASU
S

51. Sedot larutan klorin ke dalam spuit , k eluarkan lagi lalu


lepaskan jarum dari tabung spuit
52. Buang jarum di tempat sampah tajam
53. Letakkan semua peralatan dlam larutan klorin 0,5 % selama
10 menit, pisahkan trokar dari pendorongnya
54. Buang semua bahan yang tidak dipakai ke dalam tempat
sampah
55. Celupkan sarung tangan ke dalam larutan klorin
56. Cuci tangan dengan sabun dan air kemudian keringkan
dengan handuk / kain kering
57. Lakukan observasi selama 5 menit sebelum
memperbolehkan klien pulang
DAfTAR TILIK
KoNSELING PASCA PENCABUTAN ImPLAN
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala
sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau kegiatan
secara
0 :
kompeten ketika dilakukan evaluasi
1

Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan


langkah kerja
atau
kegiatan
ketika
dilakukan evaluasi

LANGKAH/TUGA
1. Beri tahu klien untuk menjaga luka insisi dan kapan harus
kembali untuk kontrol
2. Minta klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang telah
diberikan
3. Berikan kesempatan pad aklien untuk mengajukan
pertanyaan dan jawablah sesuai kebutuhan

KASUS

LANGKAH/TUGA

KASUS

4. Ulangi kembali keterangan tentang pilihan kontrasepsi yang


tersedia dan risiko serta keuntungan setiap jenis kontrasepsi
5. Bantu klien untuk menentukan alat kontrasepsi yang baru
atau berikan alat kontrasepsi sementara sampai klien dapat
memutuskan alat kontrasepsi baru yang akan dipakai
6. Lakukan observasi selama 5 menit sebelum
memperbolehkan klien pulang
2. KUNCI KEBERHASILAN PENCABUTAN
a. Pencabutan yang mudah tergantung dari pemasangan yang benar.
Bila kapsul dipasang tepat di bawah kulit maka akan lebih mudah
dicabut. Bila dipasang terlalu dalam akan menimbulkan masalah.
b. Pencabutan

rutin

(tanpa

masalah)

sedikit

lebih

lama

dari

pemasangan biasanya 10-20 menit


c. Raba tempat pencabutan utnuk menentukan lokasi dari masingmasing kapsul dan beri tanda posisi masing-masing kapsul dengan
spidol.
d. Gunakan tindakan pencegahan infeksi yang dianjurkan untuk
menghindari infeksi.
e. Suntikkan sedikit (biasanya seluruhnya tidak lebih dari 3 ml) obat
anestesi lokal di bawah ujung kapsul dekat insisi yang lama. Bila
disuntikkan di atas kapsul akan membuat kapsul tidak teraba dari
luar sehingga menyulitkan pencabutan.
f. Bila posisi kapsul benar, hanya diperlukan insisi kecil tidak melebihi
4 mm untuk mencabut keenam kapsul.
g. Kapsul yang pertama kali dicabut adalah terletak paling dekat luka
insisi atau paling dekat permukaan kulit.
h. Bila memang diperlukan, tambahkan sedikit lagi anestesi hanya di
bawah ujung kapsul.
i. Atasi perdarahan dengan melakukan penekanan pada luka insisi.

j. Bila masih tersisa 1 atau 2 kapsul yang sulit dicapai, jangan


dipaksakan untuk melakukan pencabutan. Bila waktu pencabutan
telah mencapai lebih dari 30 menit, minta klien untuk kembali
setelah luka insisi sembuh benar (sekitar 4 sampai 6 minggu) dan
coba

lagi atau rujuk ke klinisi yang lebih berpengalaman.


k. Terakhir dan yang paling penting, klinisi harus bekerja dengan baik.
Hati-hati dan sabar untuk menghindari luka yang besar pada
lengan klien
3. PENATALAKSANAAN UmUm
a. Pencabutan yang mudah bergantung pada pemasangan yang benar.
Proses pencabutan umumnya lebih lama dari proses pemasangan
biasanya antara 10-20 menit.
b. Bila

kapsul

terpasang

mencabutnya,

sedang

dengan

yang

benar

letaknya

akan

dalam

lebih

akan

mudah

lebih

sulit

mencabutnya.
c. Menentukan

lokasi

kapsul

lebih

dulu

dengan

meraba

tanpa

menggunakan sarung tangan akan sangat membantu untuk proses


pencabutan. Banyak klinisi memilih untuk memberi tanda denga
spidol pada setiap posisi kapsul. Usap lengan klien dengan larutan
antiseptik sebelum menyuntikan anestesi lokal. Anestesi lokal
harus disuntikan di bawah

ujung

kapsul

dekat tempat

insisi

suntikan diatas kapsul akan membuat kapsul sulit diraba.


d. Pada umumnya hanya satu insisi kecil yang diperlukan untuk
mencabut seluruh kapsul. Panjang insisi tidak boleh lebih dari 4
mm. Dimana insisi dilakukan tergantung pada posisi implan dan
metode pencabutan yang akan digunakan, metode standar atau
teknik U
e. Kapsul pertama yang dicabut harus yang paling mudah dicapai
( misalnya paling dekat dari insisi atau paling mudah diraba ). Bila
1 atau 2 kapsul terakhir sulit dicabut, jangan paksakan untuk
mencabutnya. Bila seluruh 6 kapsul tidak dapat dicabut dalam 20
sampai 30 menit, hentikan pencabutan. Klien harus diberi metode
kontrasepsi pengaman ( bila klien menginginkan ) dan diminta
datang kembali setelah luka insisi sembuh ( sekitar 4 sampai 6
minggu ) untuk pencabutan kapsul yang tersisa. ( Bila kapsul yang

tersisa tersebut tidak teraba, lakukan foto dengan sinar X atau


ultrasound untuk menentukan lokasinya ). Klinisi harus bekerja
dengan halus, hati-hati dan sabar.
Sebelum memulai tindakan, periksa untuk memastikan bahwa klien
tidak alergi terhadap obat anestesi.

C. PELAyANAN,PEmBINAAN DAN PENANGANAN EfEK SAmPING AKSEPToR ImPLAN


1. PEmBINAAN
a. Instruksi untuk Klien
1). Daerah insersi harus tetap dibiarkan kering dan bersih selama 48
jam pertama. Hal ini bertujuan untuk mencegah infeksi pada
luka insisi.
2). Perlu dijelaskan bahwa mungkin terjadi sedikit rasa perih,
pembengkakan, atau lebam pada daerah insisi. Hal ini tidak
perlu di khawatirkan.
3). Pekerjaan rutin harian tetap dikerjakan. Namun hindari benturan,
gesekan, atau penekanan pada daerah insersi.
4). Balutan penekanan jangan dibuka selama 48 jam, sedangkan
plester ipertahankan hingga luka sembuh (biasanya 5 hari)
5). Setelah luka sembuh, daerah tersebut dapat disentuh dan dicuci
dengan tekanan yang wajar.
6). Bila ditemukan adanya infeksi seperti demam, peradangan, atau
bila rasa sakit menetap selama beberapa hari, segera kembali ke
klinik.
7). Penanganan efek samping Akseptor Implan
2. INfoRmASI :
1). Efek

kontrasepsi

timbul

setalah

beberapa

jam

insersi

dan

berlangsung hingga 5 tahun bagi norplant dan 3 tahun lagi susuk


implanon, dan akan berakhir sesaat setelah pengangkatan.
2). Sering ditemukan gangguan pola haid, terutama pada 6 sampai 12
bulan pertama.
Beberapa perempuan mungkin akan mengalami berhentinya haid
sama sekali.

3). Obat-obat tubercolosus ataupun epilepsy dapat

menurunkan efektifitas implan.

4). Efek samping yang berhubungan dengan implan dapat berupa sakit
kepala, penambahan berat badan, dan nyeri payudara. Efek-efek
samping ini tidak berbahaya dan biasanya akan hilang dengan
sendirinya.
5). Norplant dicabut sebelum 5 tahun pemakaian, dan susuk implanon
dicabut setelah 3 tahun, kemungkinan hamil sangat besar dan
kemungkinan resiko kehamilan ektopik.

6). Berikan kepada klien kartu yang di tulis nama, tanggal insersi,
tempat insersi, dan nama klinik.
7). Implan

tidak

termasuk

melindungi

AIDS.

Bila

klien

dari

infeksi

pasangannya

menular

memiliki

seksual,

resiko,

perlu

menggunakan kondom untuk melakukan hubungan seksual.


3. PENANGANAN EfEK SAmPING

EfEK SAmPING
ATAU mASALAH
Amenorea

PENANGANA
N
Pastikan hamil atau tidak, dan bila tidak hamil,
tidak memerlukan penanganan khusu, cukup
konseling saja.
Bila klien tetap saja tidak dapat menerima, angkat
implant
dan anjurkan menggunakan kontrasepsi lain.
Bila terjadi kehamilan dank klien ingin melanjutkan
kehamilan, cabut implant dan jelaskan, bahwa
progestin tidak berbahaya bagi janin. Bila di duga
terjadi kehamilan ektopik, klien rujuk. Tidak ada

Pendarahan
Bercak(Spottin Jelaskan bahwa perdarahan dengan ditemukan
g) Ringan
terutama pada tahun pertama. Bila tidakn ada
masalah

dank

klien

tidak

hamil,

tidak

perlu

tindakan apapun. Bila klien tetap saja mengeluh


masalah

perdarahan

dan

ingin

melanjutkan

pemakaian implan dapat di berikan pil kpombinasi


satu siklus, atau ibuprofen
hari.

3x 800 mg selama lima

dari biasa, berikan 2 tablet pil kombinasi untuk 37 hari dan kemudian di lanjutkan dengan satu
siklus kombinasi, atau dapat juga di berikan 50
mg etimilestradiol, atau 1,25 mg estrogen equin
Ekspulsi

konjugasi untuk 14-21 hari


Cabut kapsul yang ekspulsi periks apakah kapsul
yang lain masih di tempat, dan apakah terdapat
tanda-tanda infeksi daerah insersi. Bila tida ada
infeksi

dan

kapsul

lain

masih

berada

pada

tempatnya, pasang kapsul baru satu buah pada


tempat insersi yang berbeda. Bila ada infeksi
cabut seluruh kapsul yang ada dan pasang kapsul
Infeksi
pada
daerah
insisi

baru pada lengan yang lain, atau anjurkan klien


BIla terjadi infeksi tanpa nanah, bersihkan dengan
sabun dan air atau anti septik. Berikan anti biotik
yang sesual untuk tujuh hari. Implan jelas dilepas
dan klien diminta kembali satu minggu. Apabila
tidak membaik, cabut implant dan pasang yang
baru pada sisi lengan yang lain atau cari metode
kontrasepsi yang lain. Apabila di temukan abses,
bersihkan dengan ati septic insisi dann alirkan pus

Berat
badan
naik/turu
n

Informasikan

kepada

klien

bahwa

perubahan

berat badan 1-2 kg adalah normal. Kaji ulang diet


klien apabila terjadi perubahan perubahan berat
badan 2 kg atau lebih. Apabila perubahan berat
badan ini tidak dapat di terima, bantu klien

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi


Kesehatan

Rangkuman

Alat kontrasepsi bawah kulit merupakan salah satu metode kontrasepsi


efektif jangka panjang yang memberikan pelrindungan dari kehamilan
yang tidak diinginkan. Metode ini sama halnya dengan metode hormonal
lainnya, bekerja secara sistemik mempengaruhi sesua sistem tubuh.
Metode ini memiliki kekurangan dan kelebihan serta mempunyai indikasi
dan

kontraindikasi

ditentukan

oleh

bagi

peran

pemakainya.
bidan

dalam

Keberhasilan

metode

memberikan

ini

konseling

juga
serta

melakukan penapisan terhadap calon akseptor AKBK sehingga terciptalah


akseptor lestari .
Alat Kontrasepsi Bawah Kulit banyak jenisnya. Di Indonesia tersedia
Implanon,

Norplant,

Jadena

dan

lain-lain.

Perbedaan

nama

tersebut

berdasarkan dari jumlah kapsul yang tersedia. Semua mempunyai efektifitas yang
sama jika digunakan dengan benar sesuai dengan prosedur.

Evaluasi
Formatif
Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!

1. Seorang perempuan, usia 23 tahun datang ke PKM karena ingin mengganti


alat kontrasepsi dari IUD ke implan. Hasil anamnesa HPHT 3 minggu yang lalu.
Pemeriksaan fisik tidak ditemukan kontra indikasi untuk pemasangan
implan. Kapankah waktu yang paling tepat untuk melakukan pelayanan
kontrasepsi pada kasus tersebut?
a. Implan dapat diinsersikan pada hari ke 7 haid, IUD segera dicabut
b. Menunggu ibu haid terlebih dahulu pasca pencabutan IUD
c. Pasca pencabutan IUD dapat langsung dipasang implan
d. Menunggu sampai waktu pencabutan IUD
e. Setiap saat selama siklus haid
2. Seorang perempuan, usia 25 tahun post partum 6 minggu datang ke
PKM karena ingin mendapatkan pelayanan kontrasepsi implan. Apakah
kondisi yang menjadi kontra indikasi untuk jenis kontrasepsi pilihan ibu
tersebut?
a. Memiliki riwayat keguguran
b. Ibu memiliki benjolan pada payudara
c. Ibu berencana untuk menyusui secara eksklusif
d. Pada saat hamil TD ibu mencapai 160/100 mmHg
e. Sebelumnya ibu pernah operasi karena kehamilan ektopik
3. Seorang perempuan, usia 35 tahun datang ke PKM karena ingin
mengganti kontrasepsi suntikan DMPA dengan implan. Klien

52

menginginkan implan yang efektif sampai dengan 5 tahun. Manakah


jenis yang cocok untuk kasus diatas?
a. Implanon
b. Indoplant

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

53

c. Norplant
d. Jadena
4. Seorang perempuan, usia 27 tahun datang ke klinik KB untuk
mendapatkan pelayanan AKBK. Bagaimanakah cara kerja dari metode
kontrasepsi tersebut?
a. Mengganggu transportasi sperma karena mengencerkan lendir serviks
b. Mengganggu transportasi sperma karena mempercepat motilitas tuba
c. Mengganggu implantasi karena terjadi hipertropi pada endometrium
d. Mengganggu implantasi karena terjadi atropi pada endometrium
e. Menekan ovulasi karena mensupresi FSH
5. Seorang perempuan, usia 25 tahun datang ke klinik KB untuk
mendapatkan pelayanan kontrasepsi jangka panjang. Klien masih
berencana untuk memiliki anak dan menginginkan kontrasepsi yang
tidak memerlukan pemeriksaan dalam. Bidan memberikan konseling
tentang implan. Apakah keuntungan non kontrasepsi yang dimiliki
kontrasepsi tersebut?
a. Tidak mengganggu senggama
b. Memiliki efektivitas yang tinggi
c. Tidak mengganggu produksi ASI
d. Pengembalian kesuburan yang cepat
e. Menurunkan kejadian endometriosis
6. Seorang perempuan, usia 27 tahun datang ke BPM untuk kontrol AKBK
karena mengeluh pusing, mual, dan nyeri payudara. Apakah yang
dilakukan oleh bidan pada kasus tersebut?
a. Bidan menjelaskan bahwa keluhan tersebut merupakan hal yang normal
b. Bidan menganjurkan kepada ibu untuk segera memeriksakan ke dokter
c. Bidan memberikan obat untuk mengurangi keluhan yang ibu rasakan
d. BIdan menganjurkan untuk mengganti implan dengan alkon lain
e. BIdan merujuk ibu ke jenjang pelayanan yang lebih tinggi

7. Seorang perempuan, usia 30 tahun telah mendapatkan pelayanan


pemasangan implan di klinik KB. Kapankah bidan menjadwalkan klien
kembali ke klinik?
a. Setiap 3-6 bulan sekali
b. 5-7 hari setelah pemasangan imlan
c. Hanya pada jadual pencabutan saja
d. Apabila terjadi keluhan seperti nyeri kepala
e. Terjadi amenorhoe disertai nyeri perut bawah
8. Seorang perempuan, usia 24 tahun datang ke PKM mengeluh kapsul
implan yang dipasang terjadi ekspulsi. Hasil pemeriksaan kapsul yang
lain masih terdapat di tempat dan tidak ada tanda-tanda infeksi pada
tempat insersi. Apakah yang dilakukan oleh bidan pada kasus tersebut?
a. Merujuk ibu ke Rumah Sakit
b. Mencabut implan yang tersisa dan mengganti dengan alkon lain
c. Mencabut kapsul yang ekspulsi dan memberikan ibu kontrasepsi lain
sebagai pelindung
d. Mencabut kapsul yang ekspulsi dan memasang kapsul baru pada
tempat insersi yang lama
e. Mencabut kapsul yang ekspulsi dan memasang kapsul baru pada
tempat insersi yang berbeda
9. Seorang perempuan, usia 35 tahun datang ke PKM pada saat jadual
kunjungan

ulang

suntik

tetapi

klien

ingin

mengganti

kontrasepsi

suntikan tersebut dengan implan. Kapankah waktu yang tepat untuk


pelayanan kontrasepsi tersebut?
a. Klien dianjurkan untuk menunggu sampai datang haid terlebih dahulu
b. Menunggu sampai datangnya haid dan tidak perlu menggunakan
kontrasepsi lain
c. Menunggu sampai datangnya haid dan perlu menggunakan kontrasepsi
barier s.d 7 hari

d. Pada saat itu dapat diberikan kontrasepsi implan dan tidak perlu
menggunakan kontrasepsi lain
e. Pada saat itu dapat diberikan kontrasepsi implan tetapi perlu
menggunakan kontrasepsi barier s.d 7 hari

10.

Seorang perempuan, 32 tahun dating ke PKM untuk mendapatkan

pelayanan kontrasepsi implan. Setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan


fisik tidak ditemukan kontraindikasi untuk pemasangan implan. Setelah
dilakukan informed consent, bidan melakukan pemasangan implan. Apakah
informasi yang perlu diberikan kepada klien sehubungan dengan
kontrasepsi pilihannya tersebut?
a. Kapan implan dicabut
b. Kunjungan ulang pada hari ke 5 pasca insersi
c. Band aid/plester jangan dibuka s.d 48 jam sampai luka sembuh
d. Daerah insersi harus tetap bersih dan kering selama 24 jam untuk
mencegah infeksi
e. Dapat timbul efek samping seperti amenorhoe, perdarahan yang
banyak dan lama serta mual

Tugas
Mandiri
TUGAS
Lakukan latihan pemasangan dan pencabutan AKBK dengan menggunakan
daftar tilik pemasangan dan pencabutan AKBK!

Kegiatan
Belajar 3

metode Kontrasepsi mantap

Selamat anda telah menyelesaikan kegiatan belajar 1 dan 2. Silahkan


anda melanjutkan

ke kegiatan belajar 3. Setelah anda mempelajari

kegiatan belajar 3, anda diharapkan mampu memahami metode kotrasepsi


mantap secara kemprehensif sehingga anda dapat memberikan konseling
kepada akseptor kontrasepsi mantap.
Baiklah, sebelum Anda lanjutkan ke uraian materi, silahkan terlebih dahulu
anda tuliskan pada kotak dibawah ini, apa yang anda ketahui tentang
metode kontrasepsi mantap?

Bagaimana?apakah and sudah menuliskannya pada kotak diatas? Kalau


sudah silahkan anda cocokan dengan uraian materi di bawah ini:

Uraian
Materi
A.TUBEKTomI (moW)
1. PENGERTIAN
Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita
yang

mengakibatkan

orang

yang

bersangkutan

tidak

akan

mendapatkan keturunan lagi. Kontrasepsi ini hanya dipakai untuk


jangka panjang, walaupun kadang-kadang masih dapat dipulihkan
kembali seperti semula.

Gambar : ilustrasi Tubektomi

Tubektomi

untuk

mencegah

bertemunya

sel

telur

dan

sperma

(pembuahan) dengan cara menutup saluran telur tanpa mengubah


indung telur dalam rahim. Sebelum melakukan tubektomi terlebih
dahulu kita lakukan konseling yaitu tim medis atau konselor harus
menyampaikan informasi lengkap dan objektif tentang keuntungan
dan keterbatasan berbagai metode kontrasepsi itu. Jangka waktu
efektif kontrasepsi, angka kegagalan, komplikasi dan efek samping
dan kesesuaian kerja kontrasepsi dengan karakteristik dan keinginan
klien

Kontrasepsi tubektomi pada wanita atau tubektomi yaitu tindakan memotong


tuba fallopii/

tuba uterina.
2. INDIKASI TUBEKTomI
a. Usia > 26 Tahunan
b. Paritas > 2
c. Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan
kehendaknya.
d. Pada kehamilannya akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius.
e. Pascapersalinan
f. Pascakeguguran
g. Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini.
1).

Indikasi medis umum

Adanya gangguan fisik atau psikis yang akan menjadi lebih berat bila wanita ini hamil lagi.
a). Gangguan fisik
Gangguan fisik yang dialami seperti tuberculosis pulmonum, penyakit jantung, dan
sebagainya.
b).Gangguan Psikis
Gangguan psikis yang dialami yaitu seperti skizofrenia (psikosis),
sering menderita psikosa nifas, dan lain lain.
2).

Indikasi medis obstetrik

Indikasi medik obstetri yaitu toksemia gravidarum yang berulang,


seksio sesarea yang berulang, histerektomi obstetri, dan sebagainya.
a).

Indikasi medis ginekologik

Pada waktu melakukan operasi ginekologik dapat pula


dipertimbangkan untuk sekaligus melakukan sterilisasi.
b).

Indikasi sosial ekonomi

Indikasi sosial ekonomi adalah indikasi berdasarkan beban sosial


ekonomi yang sekarang ini terasa bertambah lama bertambah
berat.
3. SyARAT TUBEKTomI
a. Syarat sukarela

Syarat sukarela meliputi antara lain pengetahuan pasangan tentang


cara cara kontrasepsi lain, resiko dan keuntungan kontrasepsi
mantap

serta

pengetahuan

tentang

sifat

permanen

pada

kontrasepsi ini (Wiknjosastro, 2005, p.933)


b. Syarat bahagia
Syarat bahagia dilihat dari ikatan perkawinan yang syah dan
harmonis, umur istri sekurang kurangnya 25 dengan sekurang
kurangnya 2 orang anak hidup dan anak terkecil lebih dari 2 tahun
(Wiknjosastro,2005,p.933)
c. Syarat medik
Setiap

calon

peserta

kontrasepsi

mantap

wanita

harus

dapat

memenuhi syarat kesehatan, artinya tidak ditemukan hambatan


atau

kontraindikasi

untuk

menjalani

kontrasepsi

mantap.

Pemeriksaan seorang dokter diperlukan untuk dapat memutuskan


apakah seseorang dapat menjalankan kontrasepsi mantap. Ibu
yang tidak boleh menggunakan metode kontrasepsi mantap antara
lain ibu yang mengalamai peradangan dalam rongga panggul,
obesitas berlebihan dan ibu yang sedang hamil atau dicurigai
sdang hamil(BKKBN.2006)
4. WAKTU PELAKSANAAN TUBEKTomI
a. masa Interval (selama waktu selama siklus
menstrusi) 1). Pasca persalinan (post partum)
Tubektomi pasca persalinan sebaiknya dilakukan dalam 24 jam,
atau selambat lambatnya
dalam 48 jam pasca persalinan. Tubektomi pasca persalinan
lewat dari 48 jam akan dipersulit oleh edema tuba dan infeksi
yang akan menyebabkan kegagalan sterilisasi. Edema tuba akan
berkurang setelah hari ke-7 sampai hari ke-10 pasca persalinan.
Pada hari tersebut uterus dan alat alat genetal lainnya telah

6
0

mengecil dan menciut, maka operasi akan lebih sulit, mudah


berdarah dan infeksi. 15
2). Pasca keguguran
Sesudah abortus dapat langsung dilakukan sterilisasi
b. Waktu opersi membuka perut

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi


Kesehatan

Setiap operasi yang dilakukan dengan membuka dinding perut


hendaknya

harus

mempunyai

indikasi

dipikirkan
untuk

apakah

dilakukan

wanita
sterilisasi.

tersebut
Hal

sudah

ini

harus

diterangkan kepada pasangan suami istri karena kesempatan ini


dapat

dipergunakan

sekaligus

untuk

melakukan

kontrasepsi

mantap.
5. mANfAAT TUBEKTomI
a. Sangat efektif (0,5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama
penggunaan).
b. Tidak mempengaruhi proses menyusui (Breast Feeding)
c. Tidak bergantung pada faktor senggama
d. Baik bagi klien apabila kehamilan menjadi risiko kesehatan yang serius
e. Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
f. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
g. Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada
produksi hormon ovarium)
h. Berkurangnya risiko kanker ovarium
9. KETERBATASAN TUBEKTomI
a. Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi ini
(tidak dapat dipulihkan kembali), kecuali dengan operasi
rekanalisasi.
b. Klien dapat menyesal kemudian hari.\
c. Risiko komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan anestesi umum)
d. Rasa sakit/ketidaknyaman dalam jangka pendekk setelah tindakan.
e. Dilakukan oleh dokter yang terlatih (dibutuhkan dokter spesialis
ginekologi atau dokter spesialis bedah untuk laparoskopi.
f. Tidak melindungi dari IMS, termasuk HBV dan HIV/AIDS
7. yANG SEBAIKNyA TIDAK mENJALANI TUBEKTomI
a. Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
b. Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus di evaluasi)

6
1

c. Infeksi sitemik atau pelvik yang akut (hingga masalah itu disembuhkan
atau dikontrol)
d. Tidak boleh menjalani proses pembedahan
e. Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa depan

f. Belum memberikan persetujuan tertulis


Melakukan MOW yaitu dibagi menjadi 2 yang meliputi indikasi mutlak dan
indikasi relative
1).

Kontra indikasi mutlak

a. Peradangan dalam rongga panggul


b. Peradangan liang senggama aku (vaginitis, servisitis akut)
c. Kavum dauglas tidak bebas,ada perlekatan
2).

Kontraindikasi relative

a. Obesitas berlebihan
b. Bekas laparotomi

8. TEKNIK oPERASI
Dikenal 2 tipe yang sering digunakan dalam pelayanan tubektomi
yaitu

minilaparotomi

dan

laparoskopi.

Teknik

ini

menggunakan

anestesi local dan bila dilakukan secara benar, kedua teknik tersebut
tidak banyak menimbulkan komplikasi.
a. Laparoskopi
Prosedur ini memerlukan tenaga Spesialis Kebidanan dan Penyakit
Kandungan yang telah dilatih secara khusus agar pelaksanaannya
aman dan efektif. Teknik ini dapat dilakukan pada 6-8 minggu pasca
persalinan atau setelah abortus (tanpa komplikasi). Laparoskopi
sebaiknya dipergunakan pada jumlah klien yang cukup tingggi
karena peralatan laparoskopi dan biaya pemeliharaannya cukup
mahal.
Seperti halnya minilaparotomi, laparoskopi dapat digunakan dengan
anestesi local dan diperlukan sebagai klien rawat jalan setelah
pelayanan. Laparoskopi juga cocok untuk klien yang kritis karena
tidak banyak menimbulkan rasa tidak enak serta parut lukanya
minimal. Peralatan ini memerlukan perawatan yang cukup rumit

62

dan

sebaiknya

ada

tenaga

ahli

anestesi

pada

saat

tindakan

laparoskopi berlangsung.
9. PERSIAPAN UNTUK CALoN AKSEPToR TUBEKTomI
Walaupun kulit sekitar vagina dan vagina tidak dapat disterilkan
pencucian dengan larutan antiseptik pada daerah yang akan dilakukan
sayatan (termasuk vagina dan serviks) sudah

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

63

jauh mengurangi kandungan mikroorganisme sehingga resiko infeksi


dapat dikurangi :
a. Klien dianjurkan mandi sebelum mengunjungi tempat pelayanan.
Jika

tidak

sempat,

minta

klien

untuk

membersihkan

bagian

abdomen atau perut bawah, pubis dan vagina dengan sabun dan
air.
b. Bila menutupi daerah operasi rambut pubis cukup digunting (bukan
atau tidak dicukur). Pencukuran hanya dilakukan apabila sangat
menutupi daerah operasi dan waktu pencukuran adalah sesaat
sebelum operasi dilaksanakan.
c. Bila menggunakan elevator atau manipulator rahim, sebaiknya
dilakukan pengusapan larutan antiseptik (misal Povidon Iodin) pada
serviks dan vagina (terutama klien masa interval).

d. Setelah pengolesan betadine atau Povidon Iodin pada kulit, tunggu


1-2 menit agar yodium bebas yang dilepaskan dapat membunuh
mikroorganisme dengan baik.
e. Kembalilah setiap waktu apabila menghendaki perhatian tertentu
atau tanda dan gejala yang tidak biasa

10. INfoRmASI UmUm


a. Nyeri bahu selama 12-24 jam setelah laparoskopi relatif lazim
dialami karena gas (CO2 atau udara) dibawah diafragma sekunder
terhadap pneumo-peritoneum.
b. Tubektomi efektif setelah operasi
c. Periode

menstruasi

akan

berlanjut

seperti

biasa

(apabila

mempergunakan metode hormonal sebelum prosedur khususnya


PK atau KSK, jumlah dan durasi haid dapat meningkatkan setelah
pembedahan).
d. Tubektomi tidak memberikan perlindungan pada IMS (Infeksi Menular
Seksual)

termasuk

virus

AIDS

apabila

pasangannya

beresiko,

pasangannya mempergunakan kondom bahkan setelah tubektomi.

Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi


Kesehatan

11. PERAWATAN PASCA oPERASI TUBEKTomI


a. Jagalah luka operasi tetap kering hingga pembalut dilepaskan. Mulai
lagi aktivitas

normal secara bertahap (sebaiknya dapat kembali ke aktivitas


normal dalam waktu 7 hari setelah pembedahan)
b. Hindari hubungan intim hingga merasa cukup nyaman. Bila telah
memulai hubungan intim lalu merasa kurang nyaman maka
hentikanlah.
c. Hindari mengangkat benda-benda berat dan bekerja keras selama 1
minggu.
d. Kalau sakit minumlah 1 atau 2 tablet analgesik setiap 4 hingga 6 jam
e. Jadwalkanlah sebuah kunjugan pemeiksaan secara rutin antara 7
dan 14 hari setelah pembedahan
12. PENATALAKSANAAN ASUHAN KEBIDANAN PADA WANITA DENGAN
KoNTRASEPSI TUBEKTomI
a. Konseling
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam konseling :
1). Konseling pre operatif tubektomi, terdiri dari :
Menyambut klien dengan ramah
Menjelaskan kontrapsepsi yang akan digunakanMenerangkan
bahwa tindakan sterilisasi dilakukan ditempat khusus yang
klien tidak akan malu
Memberitahu bahwa yang dibicarakan menjadi rahasia
Menanyakan permasalahan, pengalaman klien mengenai alat
kontrapsepsi dan kesehatan reproduksinya
Menanyakan apakah klien mempunyai kontrapsepsi yang akan
dipilih
Konselor memberikan informasi yang lengkap tentang
kontrapsepsi mantap tetapi ajukan pula metode lain
Bantu klien untuk memilih kontrapsepsi yang tepat
Konselor merasakan apa yang klien rasakan untuk
memudahkan dan memahami permasalahan klien

Memberikan kesempatan klien untuk mengungkapkan apa


yang akan disampaikannya mengenai kontrapsepsi mantap
Bantu klien untuk mengungkapkan apa yang ingin disampaikan
mengenai

kontrapsepsi mantap
Jawab semua pertanyaan klien secara terbuka dan lengkap
Memberitahu klien kapan kunjungan ulang dan
mempersilahkan klien untuk kembali kapan saja apabila klien
ada keluhan
b. Konseling post operatif tubektomi, terdiri dari :
1). Istirahat selama 2-3 hari
2). Hindari mengangkat benda-benda berat dan bekerja keras selama 1
minggu.
3). Dianjurkan untuk tidak melakukan aktivitas seksual selama 1
minggu, dan apabila setelah itu masih merasa kurang nyaman,
tunda kegiatan tersebut.
B.VASEKTomI (moP)
Vasektomi berasal dari perkataan : (a) vas = vas deferen = saluran mani
= saluran yang menghubungkan testis dengan urethra dan menjadi
saluran

untuk

transpor

sel

mani,

(b)

ektomi

memotong

dan

mengangkat. Jadi vasektomi dalam arti yang murni berarti memotong


dan mengangkat saluran vas deferens kanan dan kiri. Akan tetapi, yang
dimaksud dengan vasektomi untuk KB adalah bilateral partial vasektomi,
yaitu memotong sebagian kecil vas deferen kanan dan kiri masing-

Gambar : ilustrasi Vasektomii

masing kurang daripada 1 cm. Dengan demikian vasektomi hanya


menghalang-halangi
1982).

transpor

bibit

laki-laki

(spermatozoa)

(Anfasa,

Vasektomi

adalah

prosedur

klinik

untuk

menghentikan

kapasitas

reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa deferensia sehingga


alur transportasi sperma terhambat

dan

proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi. Vasektomi


merupakan

upaya

untuk

menghentikan

fertilitas

di

mana

fungsi

reproduksi merupakan ancaman atau gangguan terhadap kesehatan pria


dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga
(Saifuddin, 2003).
1. INDIKASI
a. Sudah merasa cukup jumlah anak dan dalam keadaan sehat.
b. Atas kehendak sendiri, mendapat persetujuan dari istri.
c. Dalam kondisi keluarga yang harmonis.
d. Pasutri dalam keadaan sehat
e. Usia istri minimal 25 tahun
2. KoNDISI yANG mEmERLUKAN PERHATIAN KHUSUS BAGI TINDAKAN VASEKTomI
a. Penderita hernia
b. Penderita kencing manis
c. Penderita kelainan pembukuan darah
d. Penderita penyakit kulit atau jamur di daerah kemaluan.
e. Tidak tetap pendiriannya
f. Memiliki peradangan pada buah zakar
g. Infeksi di daerah testis (buah zakar) dan penis
h. Hernia (turun bero)
i. Verikokel ( varises pada pembuluh darah balik buah zakar)
j. Buah zakar membesar karena tumor
k. Hidrokel (penumpukan cairan pada kantong zakar)
l. Buah zakar tidak turun (kriptokismus)
m.Penyakit kelainan pembuluh darah
3. yANG SEBAIKNyA TIDAK mENJALANI VASEKTomI (moP)
a. Infeksi kulit atu jamur di daerah kemaluan
b. Menderita kencing manis
c. Hidrokel atau varikokel yang besar

d. Hernia inguinalis
e. Anemia berat, ganguan pembekuan darah atau sedang menggunakan
antikoagulansia
4. yANG DAPAT mENJALANI VASEKTomI (moP)
Untuk laki-laki subur sudah punya anak cukup (2 anak) dan istri
beresiko tinggi
5. TEmPAT PELAyANAN VASEKTOMI
(MOP) Rumah Sakit, puskesmas
dan klinik

KB.

6. KEUNTUNGAN DAN KELEmAHAN


a. Keuntungan kontap - pria
Efektif
Aman, mordibitas rendah dan hampir tidak ada mortalitas
Sederhana
Cepat, hanya memerlukan waktu 5-10 menit
Menyenangkan bagi akseptor karena memerlukan anestesi lokal saja
Biaya rendah
Secara kultural, sangat dianjurkan di negara-negara dimana
wanita merasa malu untuk ditangani oleh dokter pria atau kurang
tersedia dokter dan paramedia wanita
Sangat efektif dan permanen
Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99%
Tidak menggangu hubungan seksual
Tindakan bedah yang aman dan sederhana
b. Kerugian kontap - pria
Diperlukan suatu tindakan operatif
Kadang-kadang menyebabkan komplikasi seperti perdarahan atau
infeksi

Kontap pria belum memberikan perlindungan total sampai semua


spermatozoa, yang sudah ada di dalam sistem reproduksi distal
dari tempat oklusi vas deferens, dikeluarkan.

Masalah psikologis yang berhubungan dengan perilaku seksual


mungkin bertambah parah setelah tindakan operatif yang
menyangkut sistem reproduksi pria.
Tidak
dapat
dilakukan
memiliki anak

pada

orang

yang

masih

ingin

7. JENIS-JENIS VASEKTomI
a. Vasektomi Tanpa Pisau (VTP)
Untuk mengurangi atau menghilangkan rasa takut calon akseptor
kontap pria akan tindakan operasi (yang umumnya dihubungkan
dengan

pemakaian

pisau

operasi),

dan

juga

untuk

lebih

menggalakan penerimaan/ pelaksanaan kontap pria.


1). Prosedur VTP :
Persiapan pre-operatif :
Cukur rambut pubis, untuk lebih menjamin sterilitass.
Tidak perlu puasa sebelumnya.
Mencari, mengenal dan fiksasi vas deferens, kemudian dijepit dengan klem khusus
yang diujungnya berbentuk tang catut. Lalu disuntikan anestesi
lokal.
Dilakukan penususkkan pada garis tengah skrotum dengan alat
berujung bengkok
, dan tajam untuk membuat luka kecil, yang kemudian
dilebarkan sekitar 0,5 cm. Akan terlihat vas deferens yang
liat dan keras seperti kawat baja. Selaput pembungkus vas
deferens dibuka secara hati-hati. Setelah pembungkus vas
deferens disisihkan ke tepi, akan tampak jelas saluran
sperma (vas deferens) yang berwarna putih mengkilap bagai
mutiara.
Selanjutnya dilakukan oklusi vas deferens dengan ligasi +
reseksi suatu segmen vas deferens.
Penutupan luka operasi.

b. Perawatan Post operatif :


Istirahat 3-7 hari
Memakai sutau penunjang skrotum selama 2-4 minggu
Abstinens dari senggama selama 10 hari sampai 4 minggu
Analisa semen setelah 3 minggu, sampai 3 bulan post-operatif.

8. EfEK SAmPING DAN KomPLIKASI KoNTAP PRIA


a. Komplikasi minor
Ekimosis, terjadi pada 2 - 65%
Penyebabnya ; pecahnya pembuluh darah kecil subkutan sehingga
terjadi perembesan darah bawah kulit
Pembengkakan (0.8-67%) terapinya kompres es dan analgetika
Rasa sakit/ rasa tidak enak.
b. Komplikasi
mayor 1).
Hematoma
Insidens <1%
Terjadi pembentukkan massa pembekuan darah dalam kantung
skrotum yang berasal dari pembuluh darah yang pecah
Pengobatan :

Hematoma kecil : kompres es, istirahat beberapa

hari Hematoma besar : buka kembali skrotum, ikat pembuluh


darah dan lakukan drainase
2). Infeksi
Jarang terjadi, hanya kira kira <2%
Infeksi dapat terjadi di beberapa tempat:
Insisi
Vas deferens
Epididimis
Testis (orchitis)
3). Sperm granuloma
Abses non bakterial yang terdiri dari spermatozoa, sel sel epitel dan
limfosit,

yang

merupakan

suatu

respon

imflammatoir

terhadap

spermatozoa yang merembes ke jaringan sekitarnya.


Insidens 0.1 3%
Penyebab : merembesnya spermatozoa ke dalam jaringan
sekitarnya yang disebabkan oleh :

Absorbsi dari benang jahitan sebelum terbentuk jaringan


parut
Oklusi yang tidak adekuat dari vas deferens selama operasi
Ikatan jahitan terlalu keras sehingga memotong vas
deferens
Infeksi vas deferens yang menyebabkan nekrosis jaringan
4). Diagnosa sperm granuloma
Sakit tiba tiba dan pembengkakan pada lokasi operasi setelah 1-2
minggu sedang sebelumnya sama sekali asimptomatik
5). Terapi
Umumnya granuloma kecil akan menghilang sendiri, istirahat,
kompres es dan pemberian NSAID. Bila besar dan sangat sakit
dilakukan eksisi, tapi, eksisi satu granuloma tidak menjamin
bahwa tidak akan terjadi granuloma lain.
c. Efek kontap pria pada fungsi testis dan
hormon pria 1). Antibodi spermatozoa
Pada kurang lebih - 2/3 dari pria yang menjalani kontap pria
timbul antibodi terhadap spermatozoa, yang merupakan respon
immunologi

tubuh.

Antibodi

tersebut

menghambat

aktivitas

spermatozoa dengan berbagai cara


Spermatozoa umumnya terisolir dari sistem immunologik oleh sel
sel barrier . bila barier itu hilang spermatozoa akan merembes ke
jaringan jaringan sekitarnya, kemudian antigen yang ada di
dalam spermatozoa memicu pembentukan antibodi.
d. Efek psikologis dari kontap pria
1). Prosedur kontap pria hanya menimbulkan efek lokal yaitu oklusi
vas deferens,t idak akan menimbulkan perubahan fungsi psikoseksual yang normal

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

2). Problem psikologis terjadi pada 1 5 % dari akseptor kontap pria


dengan keluhan rasa takut yang timbul setelah kontap pria yang
meliputi :
Rasa takut trauma tubuh
Berkurangnya kekuatan fisik tubuh
Rasa lelah
Insomnia , sakit kepala, depresi

7
0

7
1

Berat badan
menurun 3). Rasa takut
trauma seks
Libido menurun
Dispareunia

Tapi sampai sekarang belum ada bukti ilmiah bahwa kontap pria
mempengaruhi kemampuan seksual.
4). Rasa takut trauma moral
Adanya konflik yang berhubungan dengan agama, kebudayaan, atau
ketakutan bahwa pria yang telah melakukan kontap pria akan
melakukan perbuatan perbuatan penyelewengan.

Problem psikologi dapat dikurangi jika sebelumnya dilakukan skrining


pra operasi.

E. KoNSELING
1. TAHAPAN KoNSELING KoNTRASEPSI moP
Menurut Suyono (2004) tahapan konseling tentang kontrasepsi
meliputi :
a. Konseling Awal
Konseling awal adalah konseling yang dilakukan pertama kali sebelum
dilakukan konseling spesifik. Biasanya dilakukan oleh petugas KB lapangan
(PLKB) yang telah mendapatkan pelatihan tentang konseling kontap
pria. Dalam konseling awal umumnya diberikan

gambaran

umum

tentang kontrasepsi.
Walaupun secara umum tetapi penjelasannya harus tetap obyektif
baik keunggulan maupun keterbatasan sebuah alat kontrasepsi
dibandingkan dengan metode kontrasepsi lainnya, syarat bagi
pengguna kontrasepsi serta komplikasi dan angka kegagalan yang
mungkin terjadi.
Pastikan klien mengenali dan mengerti tentang keputusannya
untuk menunda atau menghentikan fungsi reproduksinya dan
mengerti berbagai risiko yang mungkin terjadi. Apabila klien dan

Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi


Kesehatan

pasangannya telah tertarik dan ingin mengetahui lebih lanjut


tentang

alat

kontrasepsi,

dirujuk

pada

kontrasepsi untuk tahapan konseling spesifik.

tempat

pelayanan

b. Konseling Spesifik
Konseling spesifik dilakukan setelah konseling pendahuluan. Dalam tahap ini
konseling lebih ditekankan pada aspek individual dan privasi. Pada konseling
spesifik yang bertugas sebagai konselor adalah petugas konselor, para
dokter, perawat dan bidan. Konselor harus mendengarkan semua
masukan dari klien tanpa disela dengan pendapat atau penjelasan
konselor. Setelah semua informasi dari klien tanpa disela penjelasan
konselor.
Setelah semua informasi dari klien terkumpul maka lakukan
pengelompokan dan penyaringan, kemudian berikan informasi
yang

tepat

dan

kesalahpahaman.
mudah

untuk

Berbagai

dimengerti

mempercayai

jelas

dan

konselor

menghilangkan

penjelasan
rasional

serta

dengan

sangat

informasi

yang

keraguan,

bahasa

yang

membantu

klien

disampaikan.

Di

samping itu klien dapat mengambil keputusan tanpa tekanan dan


berdasarkan informasi yang benar
c. Konseling Pra Tindakan
Konseling pra tindakan adalah konseling yang dilakukan pada saat
akan dilakukan prosedur penggunaan kontrasepsi. Pada konseling
pra tindakan yang bertindak sebagai konselor adalah dokter,
operator

petugas

medis

yang

melakukan

tindakan.

Tujuan

konseling ini untuk mengkaji ulang pilihan terhadap kontrasepsi,


menilai tingkat kemampuan klien untuk menghentikan infertilitas,
evaluasi proses konseling sebelumnya, melihat tahapan dari
persetujuan tindakan medis dan informasi tentang prosedur yang
akan dilaksanakan.
d. Konseling Pasca Tindakan
Konseling pasca tindakan adalah konseling yang dilakukan setelah
tindakan

selesai

dilaksanakan.

Tujuannya

untuk

menanyakan

kepada klien bila ada keluhan yang mungkin dirasakan setelah


72

tindakan, lalu berusaha menjelaskan terjadinya keluhan tersebut,


memberikan penjelasan kepada klien atau mengingatkan klien
tentang perlunya persyaratan tertentu yang harus dipenuhi agar
kontrasepsi efektif misalnya pada kontrasepsi vasektomi perlu
penggunaan kondom selama 20 kali ejakulasi setelah divasektomi.

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

73

2. NASIHAT SEBELUm PULANG


a. Perawatan luka, diusahakan agar tetap kering dan jangan sampai
basah sebelum sembuh
b. Segera kembali kerumah sakit apabila terjadi pendarahan, badan
panas, nyeri hebat, pusing, muntah atau sesak nafas
c. Memakan obat yang diberikan yaitu antibiotik profilaktik dan analgetika seperlunya
d. Jangan bekerja berat/ naik sepeda
e. Setelah di mop tetap diperbolehkan, bahkan dianjurkan untuk
melakukan ubungan suami istri, namun harus diingat bahwa dalam
saluran mani vas deferens masih terdapat sisa- sisa sperma ,
sebaiknya suami dan istri tetap menggunakan alat pencegah
kehamilan
6. KUNJUNGAN ULANG
Kunjungan ulang dilkukan dengan jadwal sebagai berikut :
a. Seminggu sampai dua minggu setelah pembedahan
Lakukan anemnesis dan pemerikasaan sebagai berikut :
Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, adanya demam,
rasa nyeri, perdarahan dari bekas operasi atau alat kelamin.
Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan luka, dan perawatan sebagaimana
mestinya.
b. Sebulan setelah operasi
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut :
Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, dan senggama.
Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan fisik umum dan alat genitalia.
c. Tiga bulan dan setahun setelah operasi
Lakukanlah anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut:
Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, senggama, sikap
terhadap kontrasepsi mantap, dan keadaan kejiwaan si akseptor
Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan kesehatan umum.
Lakukan analisa sperma setelah 3 bulan pascavasektomi atau 10
-12 kali ejakulasi untuk menilai hasil pembedahan.

4. PERSIAPAN VASEKTomI
a. Persiapan Pre- operatif Kontap Pria
Hanya minim sekali :
Rambut pubis sebaiknya dicukur
Tindakan anti sepsis daerah skrotum dengan antiseptik (iodine)
b. Perawatan dan Pemeriksaan Pascabedah Vasektomi
Setiap pascatindak pembedahan betapapun kecilnya memerlukan
perawatan dan pemeriksaan lanjutan. Pada pascatindak bedah
vasektomi dianjurkan dilakukan hal- hal sebagai berikut :
Dipersilakan berbaring selama 15 menit
Amati rasa nyeri dan perdarahan pada luka
Pasien dapat dipulangkan bila keadaan pasien dan luka operasi baik.
c. Perawatan Post- operatif Kontap Pria
Perawatan post-operatif kontap pria diantaranya :
Istirahat 1-2 jam di klinik
Menghindari pekerjaan berat selama 2-3 hari.
Kompres dingin/es padsa menga skrotum
Analgetika
Memakai penunjang skrotum (scrotal support) selama 7-8 hari
Luka operasi jangan kena air selama 24 jam
Senggama dapat dilakukan secepatnya saat pria sudah
menghendaki dan tidak terasa mengganggu.
Hanya harus diperhatikan, untuk mencegah kehamilan. Pria
harus memakai kondom dulu samapai sama sekali tidak
ditemukan spermatozoa di dalam semen/ejakulat.
d. Kunjungan Ulang
Kunjungan ulang dilakukan dengan jadwal sebagai berikut :
Seminggu sampai dua minggu setelah pembedahan
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut :

Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, adanya


demam, rasa nyeri,

perdarahan dari bekas operasi atau alat


kelamin
Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan luka, dan
perawatan
sebagaimana mestinya.
Sebulan setelah operasi
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut :
Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, dan senggama
Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan fisik umum dan alat
genitalia.
Tiga bulan dan setahun setelah operasi
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut :
Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, senggama,
sikap terhadap kontrasepsi mantap, dan keadaan kejiwaan
akseptor.
Pemeriksaan fisik dengan melakaukan pemeriksaan kesehatan umum.
Lakukan analisa sperma setelah 3 bulan pascavasektomi atau
10-12 kaali ejakulasi untuk menilai hasil pemebedahan.

DAfTAR TILIK
KoNSELING
TUBEKTomI
Nilailah setiap kinerja yang diamati menggunakan skala
sebagai berikut :
Mahasiswa melaksanakan langkah kerja atau kegiatan
secara
0 :
kompeten
ketika dilakukan evaluasi
1

Mahasiswa tidak kompeten dalam melaksanakan


langkah kerja
atau
kegiatan
ketika
dilakukan evaluasi

LANGKAH/TUGA
S
1. Memberi salam pada klien
2. Memperkenalkan diri pada klien
3. Tanyakan pada klien tentang tujuan kunjungannya
4. Berikan informasi umum tentang keluarga berencana
5. Tanyakan tujuan pemakaian kontrasepsi (mengatur/membatasi)
6. Tanyakan apa yang diketahui klien tentang kondisi/situasi
yang menurutnya dapat mendukung atau membatasi
pilihannya terhadap jenis kontrasepsi
7. Berikan jaminan akan kerahasiaan yang diperlukan klien
8. Kumpulkan data-data pribadi klien
9. Berikan informasi tentang pilihan kontrasepsi yang tersedia
dan risiko serta keuntungan dari semua jenis kontrasepsi
10. Diskusikan kebutuhan ,dan kekhawatiran klien dengan
sikap yang simpatik.bantu klien untuk memilih metode
kontrsepsi yang paling sesuai untuk diri dan pasangannya
BILA kLIeN MeMILIh TuBekToMI
11. Teliti dengan seksama untuk memastikan bahwa klien
memenuhi syarat :sukarela, bahagia dan sehat
12. Pastikan klien mengenal dan mengerti tentang
keputusannya untuk :
Menunda atau menghentikan fungsi

KASUS

Mengerti bahwa tubektomi adalah


prosedur operatif dengan berbagai risiko

LANGKAH/TUGA
S
Tetap memilih metode tubektomi walaupun
mengetahui dan memahami metode
kontrasepsi klien
reversible
lain
13. Mempersilahkan
dan suaminya
untuk membaca
lembar informed consent, dan mintalah tanda tangan klien
dan suaminya
14. Jelaskan bahwa sebelum prosedur tubektomi akan
dilakukan
pemeriksaan fisik dan bimanual
15. Periksa apakah klien dalam waktu yang tepat untuk
prosedur tubektomi (interval, pasca persalinan, pasca
16. keguguran)
Singkirkan kemungkinan adanya kehamilan
17. Jelaskan tentang tehnik operasi, anestesi lokal dan
kemungkinan rasa sakit, atau tidak nyaman selama operasi
18. Tanyakan pada klien bila masih ada hal-hal yang ingin
diketahuinya
BILA KLIEN mEmILIH VASEKTomI
19. Teliti dengan seksama untuk memastikan bahwa klien
memenuhi syarat :sukarela, bahagia dan sehat
20. Pastikan klien mengenal dan mengerti tentang
keputusannya untuk :
Menunda atau menghentikan fungsi
reproduksinya
Mengerti bahwa vasektomi adalah
prosedur operatif dengan berbagai risiko
Tetap memilih metode vasektomi walaupun
mengetahui dan memahami metode
kontrasepsi reversible lain
21. Mempersilahkan klien dan suaminya untuk membaca
lembar informed consent, dan mintalah tanda tangan klien
dan suaminya
KoNSELING PASCA TINDAKAN

KASUS

LANGKAH/TUGA
S
22. Pastikan klien dalam kondisi yang baik untuk menerima
informasi dan jelaskan jalannya, serta hasil prosedur
tubektomi/ vasektomi
23. Jelaskan pada klien untuk menjaga agar daerah luka
operasi tetap kering
24. Menjelaskan pada klien, bila terjadi nyeri, perdarahan luka
operasi, demam, segera kembali untuk ditanggulangi
25. Menjelaskan pada klien kapan senggama dapat dilakkukan
dan jadual kunjungan ulang
BILA mENGGUNAKAN VASEKTomI
26. Menjelaskan bahwa vasektomi baru efektif setelah terjadi
pengeluaran sperma minimal sepuluh kali ejakulasi
27. Memberikan kondom dan menjelaskan penggunaannya
atau bila menolak, berikan cara kontrasepsi lain samapi
sepuluh kali ejakulasi
28. Minta klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang telah
diberikan
29.

Berikan kesempatan untuk bertanya dan berikan


penjelasan ulang apabila masih ada informasi atau instruksi
yang belum dimengerti oleh klien

KASUS

Rangkuman

Kontrasepsi mantap adalah tindakan sukarela dari pasangan usia subur


untuk mengakhiri kesuburan mereka. Kontrasepsi mantap sendiri dapat
merupakan penghentian kesuburan pada wanita ataupun pada pria.
Tubektomi

adalah

prosedur

bedah

sukarela

untuk

menghentikan

fertilitas (kesuburan) seorang perempuan secara permanen. Merupakan


tindakan operasi dan rahim tidak diangkat dan ibu masih dapat haid,
metode tidak mudah dikembalikan ke semula. Tindakan operasi dapat
dilakukan kapan saja kecuali antara 7 hari hingga 6 minggu setelah
persalinan, aman bila sebelum 7 hari pasca persalinan jika keputusan telah
dibuat sebelumnya.
Vasektomi

adalah

prosedur

klinik

untuk

menghentikan

kapasitas

reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa deferensia sehingga


alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan
dengan

ovum)

tidak

terjadi.

Vasektomi

merupakan

upaya

untuk

menghentikan fertilitas di mana fungsi reproduksi merupakan ancaman


atau

gangguan

terhadap

kesehatan

pria

dan

pasangannya

serta

melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga


Kedua metode kontrasepsi ini harus merupakan tindakan sukarela dari
pasangan. Kontrasepsi ini sangat efektif dan dengan efek samping minimal
bila dilakukan dengan terlebih dahulu dilakukan skrining terhadap calon
akseptor.

Evaluasi
Formatif
Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!

1. Seorang perempuan, 36 tahun, P4A0 postpartum 6 minggu, datang ke


bidan praktik mandiri dengan maksud ingin menggunakan kontrasepsi.
Riwayat persalinan anak terakhir dengan penyulit preeklamsia dan
perdarahan. Ibu merasa trauma untuk hamil lagi dan berencana untuk
menggunakan kontrasepsi mantap.
Apakah persyaratan yang harus dipenuhi untuk terlaksananya
pelayanan kontrasepsi pilihan ibu tersebut?
a. Tidak ada kontrasepsi yang sesuai untuk ibu
b. Persetujuan tindakan medik dari pasangannya
c. Ibu tertekan karena memiliki anak yang banyak
d. Riwayat persalinan dengan penyulit preeklamsia
e. Kurang bahagia dengan kehidupan rumah-tangganya
2. Seorang perempuan, 36 tahun, P4A0 postpartum 6 minggu, datang ke
bidan praktik mandiri dengan maksud ingin menggunakan kontrasepsi.
Riwayat persalinan anak terakhir dengan penyulit preeklamsia dan
perdarahan. Ibu merasa trauma untuk hamil lagi dan berencana untuk
menggunakan kontrasepsi mantap.
Apakah metoda sterilisasi yang paling sesuai berdasarkan kasus
tersebut?
a. Oklusi
b. Ligasi
c. Fimbrektomi
d. Laparaskopi

8
0

e. Mini laparatomi

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi


Kesehatan

3. Pasangan suami istri datang ke rumah sakit untuk mencari informasi


mengenai kontrasepsi mantap karena pasangan tersebut dengan
sukarela berencana menggunakan kontap. Bagaimanakah cara kerja
metoda kontrasepsi tersebut?
a. Mencegah ovulasi
b. Mencegah fertilisasi
c. Mencegah implantasi
d. Mencegah rekanalisasi
e. Mencegah spermatogenesis
4. Pasangan suami istri datang ke rumah sakit untuk mencari informasi
mengenai kontrasepsi mantap karena pasangan tersebut dengan
sukarela berencana menggunakan kontap. Apakah keterbatasan dari
metoda kontrasepsi tersebut?
a. Tidak mengganggu laktasi
b. Tidak melindungi dari HBV dan IMS
c. Tidak ada efek samping jangka panjang
d. Tidak mengganggu proses sanggama
e. Tidak mengganggu produksi hormon ovarium
5. Seorang perempuan, 43 tahun, P3A0 post partum spontan hari pertama
dengan VE (vakum ekstrasi) a.i penyakit jantung, setelah berdiskusi
dengan suami, ibu memutuskan untuk dilakukan MOW...
Kondisi yang mungkin dapat menjadi kontra indikasi untuk dilakukan
MOW pada kasus tersebut adalah
a. Infeksi pelvik
b. Penyakit Jantung
c. Diabetes militus (DM)
d. Kegemukan/obesitas
e. Riwayat persalinan dengan VE

6. Seorang perempuan, 43 tahun, P3A0 post partum spontan hari pertama


dengan VE (vakum ekstrasi) a.i penyakit jantung, setelah berdiskusi
dengan suami, ibu memutuskan untuk dilakukan MOW...
Kapan waktu yang tepat untuk dilakukan MOW pada kasus tersebut?
a. Dalam 2 hari post-partum atau 6 minggu post partum dengan
minilaparatomi suprapubik
b. Hari ke-6 s.d 12 siklus haid setelah ibu mendapatkan haid kembali
c. Dalam masa postpartum (s.d 6 minggu) dengan laparaskopi
d. Dalam 2 hari postpartum dengan minilaparatomi sub umbilikus
e. Dalam waktu 7 hari baik denan minilap maupun dengan laparaskopi
7. Seorang perempuan, 43 tahun, P3A0 post partum spontan hari pertama
dengan VE (vakum ekstrasi) a.i penyakit jantung, setelah berdiskusi
dengan suami, ibu memutuskan untuk dilakukan MOW...
Informasi pasca tindakan yang perlu diberikan kepada klien pada
kontrasepsi tersebut adalah...
a. Jaga agar luka tidak basah sampai pembalut di lepas
b. Tidak perlu kunjungan pasca operasi kecuali ada komplikasi
c. Hindari senggama selama beberapa hari karena belum segera efektif
d. Akan ada gangguan siklus haid dalam beberapa bulan pasca operasi
e. Hindari mengangkat benda berat atau bekerja keras setelah dilakukan
MOW
8. Pasangan suami istri datang ke rumah sakit untuk mencari informasi
mengenai kontrasepsi mantap. Setelah mendapatkan penjelasan, suami
bersedia dengan sukarela untuk dilakukan sterilisasi (MOP).
Tindakan tersebut dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan dibawah ini...
a. Bidan
b. Dokter Umum
c. Spesialis urologi (Sp U)
d. Spesialis bedah urologi (SpBU)
82

e. Spesialis obstetri ginekologi (SpOG)

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

83

9. Pasangan suami istri datang ke rumah sakit untuk mencari informasi


mengenai kontrasepsi mantap. Setelah mendapatkan penjelasan, suami
bersedia dengan sukarela untuk dilakukan sterilisasi (MOP).
Kapan metoda kontrasepsi tersebut dianggap gagal.
a. Istri sulit untuk hamil
b. Adanya granuloma sperma pasca operas
c. Terjadi tanda-tanda infeksi setelah operasi
d. Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azospermia
e. Masih dijumpai sperma setelah 1 bulan pasca operasi ( 10 kali ejakulasi)
10.

Perhatikan gambar di bawah ini:

1
2
3
4

Pada bagian manakah yang dilakukan oklusi untuk kontap?


a. 1
b. 2
c. 3
d. 4
e. 1 dan 2

Tugas

Lakukan

roleplay

pemberian

konseling

pra

dan

pasca

tindakan

MOW/MOP dengan menggunakan daftar tilik yang tersedia. Mintalah


teman anda untuk mengamati dan memberikan masukan/saran terhadap
kegiatan yang sudah anda lakukan

Evaluasi
Akhir
PETUNJUK mENGERJAKAN SoAL:
Bacalah terlebih dahulu Kegiatan Belajar 1 s/d 3 dengan seksama, kemudian
jawablah soal dibawah ini.
Sebelum mengerjakan soal baca dahulu soal dengan seksama
1.Pilih salah satu jawaban yang saudara anggap paling benar.
2.Lingkari huruf (a,b,c,d ) kemudian beri lingkaran
3.Diskusikan dengan pembimbing hasil jawaban saudara ?
4.Waktu 40 mENIT
.................................................................
...........
1. Untuk memastikan AKDR berada dalam fundus uteri dengan cara...
a. Menggunting benang 3-4 cm dari permukaan serviks
b. Memeriksa permukaan serviks
c. Mendorong kembali tabung inserter sampai leher biru menyentuh serviks
d. Mengeluarkan sebagian tabung inserter dan mengangkat plunger
(pendorongnya)
2. Bila ada perdarahan pada tempat bekas jepitan tenakulum, tindakan
yang dilakukan adalah menekan dengan kassa selama...
a. 30-60 menit
b. 20-30 menit
c. 20-30 detik
d. 60-70 detik
3. Tindakan pasca pemasangan...
a. Menyuruh klien pulang
b. Mengembalikan alat-alat ke dalam bak instrumen

c. Memeriksa tanda-tanda vital


d. Merendam seluruh peralatan bekas pakai kedalam larutan klorin 0.5%
selama 10 menit
4. Salah satu tujuan konseling pasca pemasangan adalah...
a. Mengajarkan klien cara memeriksa sendiri benang AKDR
b. Menjelaskan cara kerja AKDR
c. Membina hubungan baik
d. Meyakinkan klien dengan metoda yang dipilihnya
5. Untuk mengamati segala sesuatu kemungkinan yang terjadi pasca
pemasangan, dianjurkan...
a. Klien dirawat dengan sistem one day care
b. Klien menunggu dan istirahat selama 15-30 menit
c. Klien segera pulang dan melaporkan yang dirasakan
d. Klien tidur dengan posisi miring kiri
6. Mengingatkan kembali masa pemakainan AKDR dan kaan harus kembali
dilakukan pada...
a. Konseling awal
b. Anjuran pemakaian AKDR
c. Konseling pasca pemasangan
d. Anjuran cara melakukan kontrol ulang
7. Salah satu tujuan konseling pra pencabutan adalah...
a. Menanyakan alasan keinginan klien mencabut AKDR
b. Memastikan klien telah mengosongkan kandung kencing
c. Menanyakan cara kerja AKDR
d. Memastikan klien memilih metoda yang cocok
8. Pemeriksaan bimanual pra pencabutan bertujuan untuk...
a. Menjelaskan prosedur pencabutan

b. Memastikan klien dalam posisi litotomi yang benar


c. Mengamati dan menemukan adanya IMS

d. Memastikan tidak ada infeksi dan merasakan/meraba benang AKDR


9. Untuk memastikan benang AKDR tampak/ada, dengan pemeriksaan...
a. USG
b. Inspekulo
c. Rektovaginal
d. Kolposkopi
10. Untuk mencegah benang putus pada saat pencabutan AKDR dengan
cara...
a. Lakukan pemasangan spekulum
b. Pegang benang dengan jari kemudian tarik dengan kuat
c. Jepit benang didekat serviks dengan tampon tang, kemudian tarik pelan
dan stabil/mantap
d. Mengusap serviks dan vagina dengan larutan antiseptik 2-3 kali
11.

Yang bukan merupakan tujuan konseling pasca pencabutan adalah...

a. Menganjurkan klien untuk segera memakai alat kontrasepsi kembali


b. Mendiskusikan apa yang harus dilakukan bila klien mengalami masalah
c. Meminta klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang telah diberikan
d. Membantu klien menentukan pilihan, bila akan melanjutkan pemakaian
alat kontrasepsi
12.

Bukan merupakan alasan pencabutan AKDR...

a. Klien ingin punya anak lagi


b. Telah habis masa pemakaian yaitu 8-10 tahun
c. Klien merasakan adanya keluhan pemakaian AKDR
d. Terjadi ekspulsi spontan
13.

Untuk meyakinkan klien bahwa AKDR telah dicabut adalah...

a. Pakai peralatan yang steril


b. Tunjukkan AKDR pada klien
c. Anjurkan klien untuk menarik nafas
d. Lakukan tindakan antisepsis

14.

Dekontaminasi alat pasca pencabutan adalah...

a. Mengatur alat secara ergonomis


b. Menempatkan seluruh alat disebelah kanan petugas
c. Merendam seluruh alat dalam larutan clorin 0.5% selama 10 menit
d. Melakukan cuci bilas dan DTT
15.

Waktu mulai menggunakan implan adalah...

a. Bila klien tidak haid dan tes kehamilan positif


b. Setiap saat selama siklus haid hari ke 2 s.d hari ke 7
c. Ketika klien menggunakan obat untuk epilepsi atau TBC
d. Setiap terjadi amenorhoe
16.

Pemeriksaan fisik sebelum pemasangan AKBK bertujuan untuk...

a. Agar pasien siap dirujuk ke dokter spesialis


b. Kelengkapan pencatatan dan laboran disemua lini pelayanan
c. Meyakinkan bahwa klien tidak memiliki kondisi kesehatan yang
dapat menimbulkan masalah
d. Mendayagunakan petugas pemberi pelayanan dalam peningkatan koalitas
SDM
17.

Tempat pemasangan AKBK yang sesuai adalah...

a. 3 cm di bawah lipat siku ke arah lateral kiri


b. 5 cm ke arah medial
c. 7 cm di bawah medial lengan
d. 8 cm di atas lipat siku, didaerah medial lengan atas
18.

Alat yang dipakai untuk melakukan insisi adalah

a. Skalpel dan bisturi


b. Tenakulum
c. Spekulum bivalve
d. Mosquito klem

19.

Terdapat 2 (dua) tanda pada trokar, tanda 1 (satu) menunjukkan...

a. Ujung tajam harus menghadap ke atas agar dapat menembus kulit


b. Batas akhir memasukkan mandrin (pendorong)
c. Mendorong mandrin ketika kapsul dimasukkan
d. Batas trokar dimasukkan ke bawah kulit sebelum memasukkan kapsul
20.

Cara untuk melakukan kapsul tepat dibawah kulit dalah

a. Masukkan trokar sedalam-dalamnya


b. Angkat trokar ke atas sehingga kulit terangkat
c. Sentuh trokar di bagian tabung waktu menarikkeluar
d. Raba ujung kapsul untuk memastikan sudah keluar dari trokar
21.

Bukan tindakan pasca pemaangan kapsul, yaitu

a. Menutup luka insisi dengan band aid atau kassa steril


b. Memberi pembalut tekan untuk mencegah perdarahan
c. Memberikan petunjuk kepada klien cara merawat luka
d. Raba daerah insisi untuk memastikan semua kapsul berada jauh dari insisi
22.

Konseling pra pencabutan AKBK

a. Jelaskan kapan harus datang ke klinik untuk kontrol


b. ngatkan kembali masa pemakaian
c. Berikan informasi umum tentang keluarga berencana
d. Tanyakan tujuan kunjungan dan rencana selanjutnya
23.

Tidak termasuk ke dalam metoda pencabutan AKBK, yaitu

a. Metoda withdrawal
b. Metoda standar
c. Metoda pop out
d. Metoda U

24.

Setelah dilakukan anestesi dan insisi untuk pencabutan langkah

selanjutnya adalah seperti di bawah ini, kecuali


a. Tentukan lokasi kapsul yang termudah untuk pencabutan
b. Dorong pelan-pelan ke arah insisi sampai kapsul tampak
c. Jepit ujung kapsul dengan mosquito klem, bawa ke arah insisi dan bersihkan
d. Lakukan penjahitan di daerah insisi agar tidak terjadi pembengkakan
25. Metoda operasi untuk kontrasepsi mantap pada wanita (MOW) dikenal
dengan sebutan...
a. Ovarektomi
b. Histerektomi
c. Tubektomi
d. Vasektomi
26.

Yang merupakan syarat MOW adalah...

a. Ibu masih ragu untuk memilih jangka panjang


b. Ibu tertekan karena memiliki anak yang banyak
c. Sukarela
d. Kurang bahagia dengan kehidupan rumah-tangganya
27.

MOW bekerja dengan cara...

a. Mencegah ovulasi
b. Mencegah fertilisasi
c. Mencegah implantasi
d. Mencegah rekanalisasi
28.

Dibawah ini yang bukan merupakan profil MOW adalah...

a. Permanen dan sangat efektif


b. Tidak ada efek samping
c. Memerlukan konseling dan informed konsent
d. Tidak memerlukan tindakan pembedahan

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

Modul Pendidikan Jarak Jauh Pendidikan Tinggi


Kesehatan

29.

Mekanisme kerja untuk dapat mencapai tuba dan melakukan

sterilisasi dapat dilakukan dengan cara...


a. Oklusi
b. Ligasi
c. Fimbrektomi
d. Laparaskopi
Untuk soal No.31 s.d 34
Ibu Lia, 43 tahun, P3A0 post partum spontan hari pertama dengan VE
(vakum ekstrasi) a.i penyakit jantung, setelah berdiskusi dengan suami,
ibu memutuskan untuk dilakukan MOW...

30.

Berikut adalah penjelasan tentang manfaat dari penggunaan MOW

yang bisa anda jelaskan kepada ibu Lia, kecuali...


a. Tidak melindungi dari HBV dan IMS
b. Tidak mengganggu produksi hormon ovarium
c. Tidak mengganggu laktasi
d. Tidak ada efek samping jangka panjang
31.

Kondisi yang mungkin dapat menjadi kontra indikasi untuk

dilakukan MOW pada ibu Lia adalah


a. Infeksi pelvik
b. Diabetes militus (DM)
c. Penyakit Jantung
d. Kegemukan/obesitas
32. Penanganan yang kurang tepat pada komplikasi yang mungkin timbul
akibat MOW adalah...
a. Beri antibiotik jika terjadi infeksi pada luka operasi
b. Segera rujuk jika terjadi emboli gas karena minilaparatomi
c. Dapat dilakukan drainase pada hematoma yang ekstensif
d. Posisikan trendelenberg, beri cairan IV, tangani syok, jika terjadi syok

33. Informasi yang perlu diberikan kepada ibu Lia, pasca dilakukan MOW
adalah...
a. Hindari senggama selama beberapa hari karena belum segera efektif
b. Tidak perlu kunjungan pasca operasi kecuali ada komplikasi
c. Tidak ada perawatan khusus dirumah, hanya menjaga agar luka
tidak basah sampai pembalut di lepas
d. Akan ada gangguan siklus haid dalam beberapa bulan pasca operasi
34.

Keuntungan MOP bila dibandingkan dengan MOW adalah...

a. Biaya: lebih mahal


b. Segera efektif
c. Memerlukan tenaga terlatih
d. Efektifitasnya dapat diuji setiap saat
35. Pada kunjungan ke berapakah dilakukan analisis sperma pada klien pasca
MOP?
a. 1 tahun pasca pembedahan
b. 6 bulan pasca pembedahan
c. 3 bulan pasca pembedahan
d. 1 bulan pasca pembedahan
36.

Kekurangan metode vasektomi konvensional dibandingkan dengan

VTP (vasekomi tanpa pisau) adalah:


a. Biaya lebih murah
b. Komplikasi lebih sedikit
c. Diperlukan penutupan kulit
d. Risiko hematoma lebih kecil
37. Bukan merupakan kemungkinan penyulit yang dapat ditemui pasca MOP,
yaitu:
a. Infeksi
b. Hematoma
92

c. Azospermia
d. Antibodi sperma

Modul Pendidikan Jarak Jauh Jenjang Diploma 3 Program

93

38 Pasangan suami istri datang ke rumah sakit untuk mencari informasi


mengenai kontrasepsi mantap. Setelah mendapatkan penjelasan, suami
bersedia dengan sukarela untuk dilakukan sterilisasi (MOP).
Kapan metoda kontrasepsi tersebut dianggap gagal.
a. Istri sulit untuk hamil
b. Adanya granuloma sperma pasca operasi
c. Terjadi tanda-tanda infeksi setelah operasi
d. Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azospermia
39.

Pasangan suami istri datang ke rumah sakit untuk mencari informasi

mengenai kontrasepsi mantap. Setelah mendapatkan penjelasan, suami


bersedia dengan sukarela untuk dilakukan sterilisasi (MOP).
Tindakan tersebut dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan dibawah ini...
a. Bidan
b. Dokter Umum
c. Spesialis urologi (Sp U)
d. Spesialis bedah urologi (SpBU)
40.

Seorang perempuan, 43 tahun, P3A0 post partum spontan hari

pertama dengan VE (vakum ekstrasi) a.i penyakit jantung, setelah


berdiskusi dengan suami, ibu memutuskan untuk dilakukan MOW...
Kapan waktu yang tepat untuk dilakukan MOW pada kasus tersebut?
a. Dalam 2 hari post-partum atau 6 minggu post partum dengan
minilaparatomi suprapubik
b. Hari ke-6 s.d 12 siklus haid setelah ibu mendapatkan haid kembali
c. Dalam masa postpartum (s.d 6 minggu) dengan laparaskopi
d. Dalam 2 hari postpartum dengan minilaparatomi sub umbilikus

Penutup

Selamat Anda telah berhasil mempelajari Modul ini. Dari modul ini Anda
telah mempelajari Alat Kontrasepsi Dalam Rahim, Alat Kontrasepsi Bawah Kulit
serta Metode kontrasepsi mantap. Anda sudah mengetahui profil, cara kerja, indikasi
dan kontraindikasi, keuntungan dan kerugian serta bagaimana cara menggunakan
alat-alat kontrasepsi yang telah diuraikan dalam kegiatan belajar 1, 2 dan 3
Sekarang bertanyalah kepada diri Anda sendiri apakah Anda telah
menguasai seluruh materi yang dibahas dalam modul ini. Jika belum
pelajari sekali lagi, terutama pada bagian-bagian yang belum Anda kuasai.
Jika sudah bersegeralah menghubungi dosen yang mengampu mata kuliah
ini untuk meminta tes akhir modul.

Selamat dan sukses selalu

Daftar
Pustaka
Cunningham, et.all. 2006.Obstetri. William. Jakarta : EGC
Handayani, S.Si. T. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana.
Yogyakarta: Pustaka Rihama.
Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi.Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan Panduan Baku Klinis Program Pelayanan Keluarga Berencana. 2001.
DEPKES RI. DITJEN Bina Kesehatan

Masyarakat.

Direktorat

Kesehatan

Masyarakat.
Ragam Metode Kontrasepsi. Prawirohardjo. 2008. Jakarta : YBS-SP
Saifuddin, Abdul Bari, dkk. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Varney Helen, Kriebs M. Jan, Gegor L. Carolyn. Penerjemah : Laily
Mahmudah dan Gita Trisetyati, 2008, Buku Ajar Asuhan Kebidanan,
Jakarta : EGC

KUNCI JAWABAN
KEGIATAN BELAJAR
1

NomoR
JAWABAN
1.
B
SoAL
2.
A
3.
A
4.
B
5.
D
6.
A
7.
C
8.
B
9.
C
10
B
.
]
KEGIATAN BELAJAR 3
NomoR
1.
SoAL
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
.

JAWABAN
B
E
B
B
A
D
A
D
D
B

KEGIATAN BELAJAR 2

NomoR
1.
SoAL
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
.

JAWABAN
A
B
C
D
E
A
E
E
D
A

KUNCI JAWABAN
TES AKHIR moDUL (TAm)
NomoR
1.
SoAL
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
.
11
.
12
.
13
.
14
.
15
.
16
.
17
.
18
.
19
.
20
.
21
.
22
.
23
.
24
.
25
.
26
.
27
.
28
.
29
.
30
.
31
.
32
.
33
.
34
.
35
.
36
.

JAWABAN
C
C
D
D
B
C
A
D
B
C
D
C
B
C
B
C
D
A
D
B
D
C
A
D
C
C
B
D
D
A
A
C
C
D
C
C

37.
38.
39.
40.

C
D
D
D

Daftar
Gambar

Cover

u p l o a d s / 2 0 1 3 / 0 9 / 5 8 4 7 5 1 - Fa m i l y p l a n n i n g - 1 3 7 5 3 0 3 0 7 0 - 3 4 1 - 64

Ilustrasi Tubektomi

Ilustrasi
Vasektomi

h
://media.trb.com/med
i at /t pphoto/201203/68637166.jpg
http://aktuelresim.net/resim/vase
ktomi_
shnews.cokontrasepsi_vasektomi_
diminati_pria.jpg

99

Hak Cipta Kementrian Republik Indonesia


Bekerjasama Dengan Australia Indonesia for
Health System Strengthening (AIPHSS) 2015
Modul Pendi