Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Etika profesi sangatlah dibutuhkan dalam berbagai bidang khususnya
bidang teknologi informasi.Kode etik sangat dibutuhkan dalam bidang TI
(Teknologi Informasi),karena kode etik tersebut dapat menentukan apa yang baik
dan yang tidak baik serta apakah suatu kegiatan yang dilakukan oleh IT-er itu
dapat dikatakan bertanggung jawab atau tidak. Kode etik profesi dalam bidang
apapun merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi merupakan
lanjutan dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan
dalam etika profesi. Kode etik ini lebih memperjelas,mempertegas dan merinci
norma-norma ke bentuk yang lebih sempurna walaupun sebenarnya norma-norma
terebut sudah tersirat dalam etika profesi.
Dewasa ini setelah era reformasi, makin banyak bermunculan organisasi
profesi dari kelompok profesi sejenis, contoh: IAI untuk para akuntan, IDI untuk
para dokter, dan PGRI untuk para guru, dan wadah organisasi untuk pejabat
keuangan publik (pemerintah/negara) adalah Departemen Keuangan RI. Setiap
organisasi tersebut makin menyadari perlunya membuat kode etik untuk menjadi
pedoman perilaku bagi para anggotanya, tujuan khususnya adalah untuk
mengembangkan kompetensi secara berkelanjutan sekaligus untuk melakukan
pengendalian perilaku para anggotanya
1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimana Keberadaan Berbagai Profesi?
2. Apa Kode Etik Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia(BPK-RI)?
3. Apa Kode Etik Perhimpunan Auditor Internal Indonesia (PAII) ?
4. Apa Kode Etik Psikologi Indonesia?
5. Apa Kode Etik Profesi Advokat?
6. Bagaimana Perbandingan Kode Etik antara BPK, PAII, Psikologi, dan
Advokat?
7. Apakah Profesi dan Hakikat Manusia Utuh?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Keberadaan Berbagai Profesi


Tujuan khusus dari setiap organisasi profesi adalah untuk mengembangkan
kompetensi para anggota secara berkelanjutan sekaligus untuk melakukan
pengendalian perilaku para anggotanya dengan berpedoman pada kode etik yang
telah disepakati bersama. Kelompok kelompok organisasi profesi seperti ini
tidak membeda bedakan latar belakang status para anggota mereka, baik dari
sector swasta atau sector public (pegawai negeri).
Setiap organisasi profesi mempunyai pedoman kode etik untuk menjadi
standar/acuan perilaku bagi para anggotanya. Karena banyaknya organisasi
profesi yang ada, maka pada kesempatan ini hanya akan dibahas beberapa contoh
kode etik dari beberapa organisasi profesi, yaitu Profesi Badan Pemerintahan
Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI), Perhimpunan Auditor Internal Indonesia
(PAII), Himpunan Psikologi Indonesia, dan Advokat Indonesia.

2.2 Kode Etik Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (Bpk-Ri)


Kode Etik BPK dituangkan dalam Peraturan Badan Pemriksa Keuangan
Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007, serta telah diumumkan dalam Lembaga
Berita Negara Republik Indonesia Nomor 110 Tahun 2007. Kode Etik ini berlaku
untuk Anggota dan Pemeriksa BPK.
Kedua istilah ini Anggota BPK dan Pemeriksa BPK mempunyai pengertian yang
berbeda menurut Pasal 1 ayat 2 dan 3 Peraturan Badan Pemriksa Keuangan
Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007, yaitu :

a. Anggota BPK adalah pejabat Negara pada BPK yang dipilih oleh DPR dan
diresmikan berdasarkan Keputusan Presiden.
b. Pemriksaan BPK adalah orang yang melaksanakan tugas pemeriksaan
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara untuk dan atas nama
BPK.
Pasal 2 Kode etik BPK mengatur tentang nilai nilai dasar yang wajib dimiliki oleh
anggota dan pemeriksa BPK. Nilai nilai dasar ini terdiri atas :
a. Mematuhi peraturan perundang undangan dan peraturan kedinasan yang
berlaku.
b. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau
golongan.
c. Menjunjung tinggi independensi, integritas, dan profesionalitas.
d. Menjunjung tinggi martabat, kehormatan, citra dan kredibilitas BPK.

2.3 Kode Etik Perhimpunan Auditor Internal Indonesia (Paii)


Kode etik PAII ini dikutip dari buku Standar Profesional Audit Internal
karangan Hiro Tugiman (1997). Kode etik PAII secara lengkap diberikan pada
Lampiran 6 di bagian akhir buku ini.
Ada dua kategori kode etik yang ditetapkan oleh PAII, yaitu kode etik PAII dan
kode etik Qualified Internal Auditor (QIA). Kode etik PAII berlagi bagi organisasi
profesi dan semua anggota PAII yang bekerja pada departemen/bagian audit
internal suatu organisasi/perusahaan. Kode etik QIA adalah kode etik bagi anggota
yang telah memperoleh kualifikasi/sertifikasi QIA melalui suatu pendidikan
formal yang ditetapkan oleh PAII.
Kode etik PAII terlihat sangat singkat dan sederhana. Karena terlalu singkat dan
sederhana, ada beberapa hal yang pengaturannya tidak jelas dan/atau tidak
lengkap, yaitu :
1. Kompetensi yang menyangkut persyaratan pengetahuan minimal yang
diperlukan melalui pendidikan formal tidak diatur secara eksplisit.

2. Tanggung jawab profesi auditor internal hanya disebutkan kepada pemberi


tugas (manajemen), tidak ada pernyataan yang menyebutkan hubungannya
dengan atau dampaknya bagi kepentingan umum yang lebih luas.
3. Tidak ada pasal yang mengatur hubungan dengan rekan sejawat dan
hubungan lainnya.
4. Tidak ada pasal yang mengatur tentang pengawasan dalam hal timbulnya
penyimpangan terhadap kode etik yang dilakukan oleh anggotanya.

2.4 Kode Etik Psikologi Indonesia


Kode etik ini berlaku bagi ilmuwan psikologi dan psikolog. Kedua profesi
ini dibedakan berdasarkan latar belakang pendidikan mereka, di mana latar
belakang pendidikan ini menentukan boleh atau tidaknya seseorang melakukan
praktik psikologi. Para ilmuwan psikologi dalam batas batas tertentu dapat
memberikan jasa psikologi, tetapi tidak boleh menjalankan praktik psikologi.
Praktik psikologi hanya boleh dilakukan oleh para psikolog.

2.5 Kode Etik Profesi Advokat


Advokat merupakan salah satu subprovesi di bidang hokum. Sebagaimana
dikatakan oleh Abdulkadir Muhammad (2006), peraturan hokum mengatur dan
menjelaskan bagaimana serharusnya :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Legislator menciptakan hokum


Pejabat melaksanakan administrasi Negara
Notaris merumuskan kontrak-kontrak harta kekayaan
Polisi dan jaksa menegakkan ketertiban hokum
Pengacara membela kliennya dalam menginterpretasikan hokum
Hakim menerapkan bukum dan menetapkan keputusannya
Pengusaha menjalankan kegiatan bisnisnya
Konslutan hukum memberikan nasihat hukum kepada kliennya
Pendidik hukum menghasilkan ahli hukum

Selanjutnya dikatakan bahwa pekerjaan yang ditangani oleh para professional


hukum tersebut merupakan bidang-bidang profesi hukum, jika dirinci adalah
sebagai berikut :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)

Profesi legislator
Profesi administrator hukum
Profesi notaries
Profesi polisi
Profesi jaksa
Profesi advokat (pengacara)
Profesi hakim
Profesi hukum bisnis
Profesi konsultan hukum
Profesi dosen hukum

Menurut Notohamidjojo, seorang professional di bidang hukum perlu memiliki :


1. Sikap manusiawi, artinya tidak hanya menghadapi hukum secara formal,
melainkan kebenaran yang sesuai dengan hati nurani.
2. Sikap adil, artinya mencari kelayakan yang sesuai dengan perasaan
masyarakat.
3. Sikap patut, artinya mencari pertimbangan untuk menentukan keadilan
dalam suatu perkara konkret.
4. Sikap jujur, artinya menyatakan suatu hal benar menurut apa adanya, serta
menjauhi yang tidak benar dan tidak patut.

2.6 Perbandingan Kode Etik Antara Bpk, Paii, Psikologi, Dan Advokat
1) Semua profesi berdampak atau bermanfaat bagi kepentingan umum,
meskipun arti umum mempunyai tingkat keluasan yang berbeda.
Contoh pengertian umum untuk :
BPK adalah kepentingan Negara.
Auditor Internal adalah manajemen suatu entitas (suatu bisnis).
Psikologi adalah klien (individu, kelompok, istitusi).
Advokat adalah klien dan demi penegakan hukum dan keadilan.

2) Untuk menjaga kepercayaan public, dalam setiap kode etik profesi pada
umumnya ditekankan pentingnya memelihara kompetensi tinggi secara
berkelanjutan.
3) Kompetensi mencakup pengetahuan melalui pendidikan formal sesuai
dengan latar belakang profesinya, keterampilan teknis, dan sikap perilaku.
Meskipun kompetensi yang menyangkut pengetahuan ada yang secara
eksplisit diatur dalam kode etik (misalnya, kode etik psikologi), ada juga
yang tidak diatur dalam kode etik karena sudah diatur dalam
peraturan/perundangan (misalnya, kode etik advokat dan BPK), atau tidak
diatur dalam kode etik tetapi diserahkan pada kebijakan/peraturan
perusahaan (misalnya, kode etik auditor internal).
4) Aturan mengenai sikap perilaku umumnya menyangkut tanggung jawab
dan kesadaran diri sebagai pribadi, hubungan dengan rekan sejawat,
hubungan dengan klien, dan hubungan lainnya.
5) Tanggung jawab dan kesadaran diri berkaitan dengan karakter utama,
prinsip prinsip, atau nilai nilai dasar yang harus dimiliki seorang
professional untuk menunjang citra dan martabat profesinya yang luhur.
Semua kode etik menjelaskan karakter utama, prinsip prinsip, atau nilai
dasar ini, walaupun tidak ada keseragaman mengenai jumlah, konsep, atau
istilah yang digunakan. Berikut adalah contoh karakter, prinsip, atau nilai
nilai dasar dari beberapa profesi.
Tabel 9.6
Perbandingan Kode Etik

Institusi/Profesi

Penekanan Kode Etik

BPK
PAII

Independensi, integritas, dan profesionalitas


Bersikap jujur, objektif, hati hati, dan menghindari konflik

Psikologi

kepentingan
Menjaga kompetensi,

Advokat

bersikap bijak, dan hati hati


Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap satria, jujur,

objektivitas,

kejujuran,

integritas,

tidak membeda bedakan agama, suku, keturunan, kedudukan


social, keyakinan politik, mandiri, serta tidak dipengaruhi oleh
siapa pun dan menjunjung tinggi hak asasi manusia

2.7 Profesi Dan Hakikat Manusia Utuh


Hakikat manusia utuh adalah hidup dengan menyeimbangkan pemenuhan
PQ, IQ, EQ, dan SQ. Kesadaran untuk terus menerus memelihara unsur
kompetensi ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis mencerminkan upaya
untuk meningkatkan IQ. Kesadaran untuk menumbuhkan sikap perilaku yang baik
dalam menjalankan profesi sebenarnya sekaligus untuk memupuk EQ dan SQ.
Membangun karakter, prinsip prinsip, dan nilai nilai dasar seperti bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, menanamkan integritas, kejujuran, independensi,
objektivitas, dan sejenisnya merupakan fondasi untuk membangun SQ. Melayani
klien dengan kompetensi tinggi, menjaga hubungan harmonis dengan rekan
sejawat atas dasar saling menghormati, menghargai dan mempercayai, berbicara
sopan dengan siapa pun, merupakan dasar bagi pengembangan EQ.

Study Kasus
1. Kasus Mulyana W. Kusuma
Kasus ini terjadi sekitar tahun 2004. Mulyana W Kusuma sebagai seorang
anggota KPU diduga menyuap anggota BPK yang saat itu akan melakukan audit
keuangan berkaitan dengan pengadaan logistic pemilu. Logistic untuk pemilu
yang dimaksud yaitu kotak suara, surat suara, amplop suara, tinta, dan teknologi
informasi. Setelah dilakukan pemeriksaan, badan dan BPK meminta dilakukan
penyempurnaan laporan. Setelah dilakukan penyempurnaan laporan, BPK sepakat
bahwa laporan tersebut lebih baik daripada sebeumnya, kecuali untuk teknologi
informasi. Untuk itu, maka disepakati bahwa laporan akan diperiksa kembali satu
bulan setelahnya.
Setelah lewat satu bulan, ternyata laporan tersebut belum selesai dan disepakati
pemberian waktu tambahan. Di saat inilah terdengar kabar penangkapan Mulyana
W Kusuma. Mulyana ditangkap karena dituduh hendak melakukan penyuapan
kepada anggota tim auditor BPK, yakni Salman Khairiansyah. Dalam
penangkapan tersebut, tim intelijen KPK bekerjasama dengan auditor BPK.
Menurut versi Khairiansyah ia bekerja sama dengan KPK memerangkap upaya
penyuapan oleh saudara Mulyana dengan menggunakan alat perekam gambar
pada dua kali pertemuan mereka.
Penangkapan ini menimbulkan pro dan kontra. Salah satu pihak berpendapat
auditor yang bersangkutan, yakni Salman telah berjasa mengungkap kasus ini,
sedangkan pihak lain berpendapat bahwa Salman tidak seharusnya melakukan
perbuatan tersebut karena hal tersebut telah melanggar kode etik akuntan.
Analisa : Dalam kasus ini terdapat pelanggaran kode etik dimana auditor
telah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang auditor
dalam mengungkapkan kecurangan. Auditor telah melanggar prinsip
keempat etika profesi yaitu objektivitas, karena telah memihak salah satu
pihak dengan dugaan adanya kecurangan. Auditor juga melanggar prinsip

kelima etika profesi akuntansi yaitu kompetensi dan kehati-hatian


professional, disini auditor dianggap tidak mampu mempertahankan
pengetahuan dan keterampilan professionalnya sampai dia harus melakukan
penjebakan untuk membuktikan kecurangan yang terjadi.

10

2. Kasus KAP Andersen dan Enron


Kasus KAP Andersen dan Enron terungkap saat Enron mendaftarkan
kebangkrutannya ke pengadilan pada tanggal 2 Desember 2001. Saat itu
terungkap, terdapat hutang perusahaan yang tidak dilaporkan, yang menyebabkan
nilai investasi dan laba yang ditahan berkurang dalam jumlah yang sama. Sebelum
kebangkrutan Enron terungkap, KAP Andersen mempertahankan Enron sebagai
klien perusahaan, dengan memanipulasi laporan keuangan dan penghancuran
dokumen atas kebangkrutan Enron, dimana sebelumnya Enron menyatakan bahwa
pada periode pelaporan keuangan yang bersangkutan tersebut, perusahaan
mendapatkan laba bersih sebesar $ 393, padahal pada periode tersebut perusahaan
mengalami kerugian sebesar $ 644 juta yang disebabkan oleh transaksi yang
dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh Enron.
Analisa : Pelanggaran etika dan prinsip profesi akuntansi telah dilanggar
dalam kasus ini, yaitu pada prinsip pertama berupa pelanggaran tanggung
jawab profesi untuk memelihara kepercayaan masyarakat pada jasa
professional seorang akuntan. Prinsip kedua yaitu kepentingan publik juga
telah dilanggar dalam kasus ini. Seorang akuntan seharusnya tidak hanya
mementingkan kepentingan klien saja, tapi juga kepentingan publik.

11

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kode etik profesi merupakan bagian dari etika profesi. Dengan demikian
kode etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan
tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik. Tujuan utama kode
etik profesi adalah memberi pelayanan khusus dalam masyarakat tanpa
mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok.
3.2 Saran
Agar tidak menyimpang dari kode etik yang berdampak pada profesionalitas kerja
maka :
1. Memperbanyak pemahaman terhadap kode etik profesi
2. Mengaplikasikan keahlian sebagai tambahan ilmu dalam praktek
pendidikan yang di jalani.
3. Pembahasan makalah ini menjadikan individu yang tahu akan pentingnya
kode etik profesi.
4. Kode etik yang diterapkan hendaknya disesuaikan dengan keadaan yang
memungkinkan untuk dapat dijalankan bagi kelompok profesi.
5. Terhadap pelaksanaan profesi hendaknya menjalankan profesi yang jalani
sesuai dengan kode etik yang ditetapkan agar profesi yang dijalani sesuai
dengan tuntutannya.

12

DAFTAR PUSTAKA

Sukrino Agoes, Cenik Ardana. 2011. Etika Bisnis dan Profesi-Tantangan


Membangun Manusia Seutuhnya. Edisi Revisi. Jakarta: Salemba Empat
http://keluarmaenmaen.blogspot.com/2010/11/beberapa-contoh-kasuspelanggaran-etika.html

13