Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hampir di seluruh dunia saat ini keberadaan Komite audit menjadi sesuatu yang sangat
diperlukan dalam penerapan Good Corporate Governance. Keberadaan komite audit pada saat
ini telah diterima sebagai suatu bagian dari tata kelola organisasi perusahaan yang baik (Good
Corporate Governance). Selain itu kehadiran komite audit akhir-akhir ini telah mendapat respon
yang positif dari berbagai pihak. Namun untuk di Indonesia sendiri, Komite audit masih
merupakan hal yang relatif baru. Perkembangan komite audit di negara kita sangat terlambat
dibandingkan dengan negara lain. Hal tersebut terjadi antara lain disebabkan karena kebijakan
tentang pemberlakuan Komite Audit pada BUMN tertentu baru disahkan oleh Pemerintah pada
tahun 1999. Selain itu anjuran dari Bapepam kepada perusahaan yang telah go public agar
memiliki komite audit baru ditetapkan pada tahun 2001. Mengingat pentingnya keberadaan
Komite Audit dalam meningkatkan kinerja perusahaan, terutama dari aspek pengendalian, maka
Komite Audit perlu mendapatkan perhatian dari manajemen dan Dewan Komisaris serta pihakpihak terkait yang bertindak sebagai regulator.
Setelah dikeluarkannya peraturan mengenai Komite Audit ini, pembentukan Komite Audit
di Indonesia mulai meningkat dimana hal ini berhubungan dengan kinerja perusahaan serta
tingkat kepercayaan investor bagi setiap perusahaan yang telah memiliki komite audit. Komite
Audit memiliki peran yang sangat besar bagi organisasi. Dimulai dari kebutuhan dibentuknya
Komite Audit karena memang diperlukan organ khusus yang mengawasi pengelolaan organisasi
terutama dalam hal keuangan. Selanjutnya dalam proses pengawasannya diperlukan counterpart
bagi auditor internal untuk memaksimalkan kinerja mereka, oleh karena itu biasanya auditor
internal bermitra dengan Komite Audit dalam setiap tugas dan laporan temuannya. Demikian
juga dengan auditor eksternal, Komite Audit berperan sejak dalam penunjukan mereka,
pengawasan pekerjaan mereka, sampai pada pelaporan laporan keuangan, termasuk didalamnya
jika terjadi dispute/perbedaan dengan manajamen, maka Komite Audit harus tampil sebagai
penengah.
1.1 Rumusan Masalah
1. Apakah Pengertian dari Komite Audit dan Komite Lainnya?
2. Apa sajakah Peran dari Komite Audit dan Komite Lainnya?
1

3.
4.
5.

Apa sajakah tanggung jawab dari Komite Audit dan Komite Lainnya?
Bagaimana komposisi dari Komite Audit dan Komite Lainnya?
Apa sajakah faktor yang memengaruhi keefektifan Komite Audit dan Komite

6.
7.

Lainnya?
Apa saja permasalahan yang terjadi pada PT. KAI tahun 2006?
Bagaimana penyelesaian Kasus yang terjadi pada PT.KAI?

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui Pengertian dari Komite Audit dan Komite Lainnya .
2. Untuk mengetahui Peran dari Komite Audit dan Komite Lainnya.
3. Untuk mengetahui apa saja tanggung jawab dari Komite Audit dan Komite Lainnya
4. Untuk mengetahui komposisi dari Komite Audit dan Komite Lainnya.
5. Untuk mengetahui faktor yang memengaruhi keefektifan Komite Audit dan Komite
6.
7.

Lainnya.
Untuk memahami permasalahan yang terjadi pada PT. KAI tahun 2006
Untuk memahami penyelesaian Kasus yang terjadi pada PT.KAI

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komite Audit dan Komite Lainnya
2.1.1 Komite Audit

Menurut Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance mengenai Komite


Audit adalah:
Suatu komite yang beranggotakan satu atau lebih anggota Dewan Komisaris dan
dapat meminta kalangan luar dengan berbagai keahlian, pengalaman, dan kualitas lain
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan Komite Audit.
Secara umum Komite Audit adalah sebuah komite yang dibentuk oleh Dewan
Komisaris. Komite Audit membantu Dewan Komisaris untuk memenuhi tanggung jawab
pengawasannya. Dalam kapasitasnya, Komite Audit bertanggung jawab untuk membuka
dan memelihara/menjaga komunikasi antara Komite Audit dengan Dewan Komisaris,
Direksi, unit audit internal, akuntan independen dan manajer keuangan. Dilihat dari sisi
keanggotaan, Anggota Komite Audit diangkat dan diberhentikan oleh Dewan Komisaris
dan dilaporkan kepada Rapat Umum Pemegang Saham. Komite Audit memiliki peran
penting untuk membantu direksi dalam hal pemenuhan tata kelola perusahaan yang baik.
Direksi sendiri dibutuhkan untuk menyatakan laporan keuangan dan catatan-catatan yang
mengikuti standar akuntansi serta memberikan pandangan yang benar dan adil terhadap
posisi dan performa keuangan dari sebuah perusahaan.
2.1.2 Komite Lainnya

Komite Nominasi dan Remunerasi

a. Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris dalam


menetapkan kriteria pemilihan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta sistem
remunerasinya;
b. Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris dalam
mempersiapkan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi dan mengusulkan besaran
remunerasinya:. Dewan Komisaris dapat mengajukan calon tersebut dan remunerasinya
untuk memperoleh keputusan RUPS dengan cara sesuai ketentuan Anggaran Dasar;. Bagi
perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah,
perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk
atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak
luas terhadap kelestarian lingkungan, Komite Nominasi dan Remunerasi diketuai oleh

Komisaris Independen dan anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau pelaku
profesi dari luar perusahaan;
2.2 Peran Komite Audit dan Komite Lainnya
Peran Komite Audit sebenarnya sudah ada dalam definisi Komite Audit itu sendiri.
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) mengemukakan bahwa Komite Audit
mempunyai Peran membantu Dewan Komisaris untuk memenuhi tanggungjawab dalam
memberikan pengawasan secara menyeluruh.
Menurut Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: Kep-117/M-MBU/2002
menjelaskan bahwa peran Komite Audit adalah membantu Dewan Komisaris atau dewan
Pengawas dalam memastikan efektivitas sistem pengendalian intern dan efektivitas pelaksanaan
tugas auditor eksternal dan internal.
Sedangkan manfaat Komite Audit dikemukakan oleh Hiro Tugiman (1995, 11), adalah:
a. Dewan Komisaris dan Direksi akan banyak terbantu dalam pengelolaan perusahaan.
b. Bagi external auditor adalah keberadaan Komite Audit sangat diperlukan sebagai forum
atau media komunikasi dengan perusahaan, sehingga diharapkan semua aktivitas dan
kegiatan eksternal auditor dalam hal ini akan mengadakan pemeriksaan, disamping secara
langsung kepada objek pemeriksaan juga dibantu dengan mengadakan konsultasi dengan
Komite Audit.
Dari penjelasan tersebut, maka dapat diketahui adanya suatu indikasi bahwa Komite Audit
dibentuk karena belum memadainya peran pengawasan dan akuntabilitas Dewan Komisaris
perusahaan. Pemilihan anggota Dewan Komisaris yang berdasarkan kedudukan dan kekerabatan
menyebabkan mekanisme check and balance terhadap direksi tidak berjalan sebagaimana
mestinya. Fungsi audit internal belum berjalan optimal mengingat secara struktural, auditor
tersebut berada pada posisi yang sulit untuk bersikap independen dan objektif. Oleh karena itu,
muncul tuntutan adanya auditor independen, maka Komite audit timbul untuk memenuhi
tuntutan tersebut.
2.3 Tanggung Jawab Komite Audit dan Komite Lainnya

Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) dan YPPMI Institute,
yang dikutip oleh Indra Surya dan Ivan Yustiavandana (2006, 148) Komite Audit pada umumnya
mempunyai tanggungjawab pada tiga bidang, yaitu:
1. Laporan Keuangan (Financial Reporting)
Komite Audit bertanggungjawab untuk memastikan bahwa laporan yang dibuat
manajemen telah memberikan gambaran yang sebenarnya tentang kondisi keuangan,
hasil usaha, rencana dan komitmen perusahaan jangka panjang.
2. Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance)
Komite Audit bertanggungjawab untuk memastikan bahwa perusahaan telah
dijalankan sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku dan etika, melaksanakan
pengawasan secara efektif terhadap benturan kepentingan dan kecurangan yang
dilakukan oleh karyawan perusahaan.
3. Pengawasan Perusahaan (Corporate Control)
Komite Audit bertanggungjawab untuk pengawasan perusahaan termasuk
didalamnya hal-hal yang berpotensi mengandung risiko dan sistem pengendalian intern
serta memonitor proses pengawasan yang dilakukan oleh auditor internal.
Menurut Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-103/MBU/2002, dalam membantu
Komisaris/Dewan Pengawas, Komite Audit bertugas:
a. Menilai pelaksanaan kegiatan serta hasil audit yang dilakukan oleh Satuan Pengawasan
Intern maupun Auditor Ekstern sehingga dapat dicegah pelaksanaan dan pelaporan yang
tidak memenuhi standar.
b. Memberikan rekomendasi mengenai penyempurnaan sistem pengendalian manajemen
perusahaan serta pelaksanaannya.
c. Memastikan bahwa telah terdapat prosedur review yang memuaskan terhadap informasi
yang dikeluarkan BUMN, termasuk brosur, laporan keuangan berkala, proyeksi/forecast
dan lain-lain informasi keuangan yang disampaikan kepada pemegang saham.
d. Mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Komisaris/Dewan Pengawas.

e. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Komisaris/Dewan Pengawas sepanjang


masih dalam lingkup tugas dan kewajiban Komisaris/Dewan Pengawas berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Komite Audit bertugas untuk memberikan pendapat kepada Dewan Komisaris terhadap
laporan atau hal-hal yang disampaikan oleh direksi kepada Dewan Komisaris, mengidentifikasi
hal-hal yang memerlukan perhatian Komisaris, dan melaksanakan tugas-tugas lain yang
berkaitan dengan tugas Dewan Komisaris
Komite Audit mempunyai wewenang untuk menjalankan tugas-tugasnya seperti yang
diutarakan oleh Barol (2004) yang dikutip oleh Siswanto Sutojo dan E. John Aldridge (2005,
237), yaitu: Mengaudit kegiatan manajemen perusahaan dan auditor (intern dan ekstern).
Mereka yang berwenang meminta informasi tambahan dan memperoleh penjelasan dari
manajemen dan karyawan yang bersangkutan.
Menurut Hasnati (2003) yang dikutip oleh Indra Surya dan Ivan Yustiavandana (2006, 149),
Komite audit memiliki wewenang, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Menyelidiki semua aktivitas dalam batas ruang lingkup tugasnya;


Menyelidiki semua aktivitas dalam batas ruang lingkup tugasnya;
Mencari Informasi yang relevan dari setiap karyawan;
Mengusahakan saran hukum dan profesional lainnya yang independen apabila dipandang
perlu.

2.4 Komposisi Komite Audit Dan Komite Lainnya


Keberadaan Komite Audit diatur melalui Surat Edaran Bapepam Nomor: SE/03 PM/2002
(bagi perusahaan publik) dan keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-103/MBU/2002 (Bagi
BUMN) Komite Audit sedikitnya terdiri dari tiga orang, diketuai oleh seorang Komisaris
Independen perusahaan dengan dua orang eksternal yang independen serta menguasai dan
memiliki latar belakang akuntansi dan keuangan.

Menurut Sarbanes-Oxley act jumlah anggota Komite Audit perusahaan yang dikutip
Siswanto Sutojo dan E. John Aldridge (2005, 132) mengharuskan bahwa:
Komite Audit harus beranggotakan lima orang, diangkat untuk masa jabatan lima tahun.

Mereka harus memiliki pengetahuan dasar tentang manajemen keuangan. Dua diantara lima
6

orang anggota tersebut pernah menjadi akuntan publik. Tiga orang anggota yang lain bukan
akuntan publik. Ketua Komite Audit dipegang oleh salah seorang anggota Komite Akuntan
Publik, dengan syarat selama lima tahun terakhir mereka tidak berprofesi sebagai akuntan publik.
Ketua dan anggota Komite Audit tidak diperkenankan menerima penghasilan dari perusahaan
akuntan publik kecuali uang pensiun.

Menurut Hiro Tugiman (1999, 11) mengatakan bahwa:


Anggota Komite Audit adalah profesional yang bukan pegawai perusahaan, satu diantaranya

dipersyaratkan mempunyai latar belakang pendidikan dan berpengalaman dalam bidang


akuntansi dan auditing anggota lainnya dapat berlatar belakang pendidikan dan pengalaman
dalam bidang hukum atau yang berkaitan dengan operasional atau kultur organisasi.

Menurut Subur (2003) yang dikutip I Putu Sugiartha Sanjaya, syarat-syarat yang harus
dipenuhi untuk menjadi anggota Komite Audit adalah sebagaiberikut:
1. Anggota Komite Audit harus memiliki keseimbangan keterampilan dan pengalaman
dengan latar belakang usaha yang luas.
2. Anggota Komite Audit harus independen, objektif dan profesional.
3. Anggota Komite Audit harus memiliki integritas, dedikasi, pemahaman yang baik
mengenai organisasi, lingkungan bisnis serta risiko dan kontrol.
4. Paling sedikit anggota komite audit harus memiliki pengertian yang baik tentang
analisa dan penyusunan laporan keuangan.
5. Ketua Komite Audit harus memiliki kemampuan untuk memimpin dan terampil
berkomunikasi dengan baik.
Selain hal tersebut, menurut Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-41/PM/2003

menambahkan bahwa anggota Komite Audit tidak merangkap jabatan yang sama pada
perusahaan lain pada periode yang sama.
2.5 Keefektifan Komite Audit Dan Komite Lainnya
Saat ini belum ada pembuktian secara empiris mengenai keefektifan komite audit terhadap
penerapan good corporate governance pada perusahaan. Sommer (1991) berpandangan bahwa
komite audit di banyak perusahaan masih belum melakukan tugasnya dengan baik. Menurut
Sommer, banyak komite audit hanya sekedar melakukan tugas-tugas rutin , seperti penelaahan
laporan dan seleksi auditor eksternal. Mereka tidak mempertanyakan secara kritis maupun
7

menganalisis secara mendalam kondisi pengendalian dan pelaksanaan tanggung jawab oleh
manajemen. Komite audit dapat melakukan sinergi dengan audit internal untuk lebih
meningkatkan system pengendalian internal perusahaan. Apabila terdapat dugaan penyimpangan
atau kecurangan di perusahaan yang melibatkan direksi perusahaan, maka komisaris dapat
menugaskan komite audit untuk melakukan audit khusus (fraud audit). Dalam hal ini, komite
audit dapat meminta bantuan pihak eksternal (outsourcing) untuk melakukan audit investiatif
(investigative audit) atau audit forensic (forensic audit) guna mengungkap terjadinya praktik
kecurangan yang signifikan di perusahaan.
Kalbers dan Fogarty (1993) telah melakukan penelitian mengenai factor-faktor yang
mempengaruhi efektivitas kerja komite audit. Hasil penelitian mereka yang dimuat dalam
Auditing a journal of practice & theory berjudul Audit Committee Effectiveness : An Empirical
Investigation Of The Contribution Of Power antara lain mengungkapkan bahwa terdapat tiga
faktor dominan yang berpengaruh tergadap keberhasilan komite audit dalam mengemban
tugasnya. Ketiga faktor itu adalah :
1. Kewenangan formal dan tertulis dari komite audit, kerja sama manajemen
2. Kualitas (kompetensi) anggota komite audit.
3. Pola hubungan (relationship) dan tingkat intensitas komunikasi antara komite audit
dengan berbagai pihak.

2.6 Skandal Manipulasi Laporan Keuangan PT. KAI tahun 2006


PT Kereta Api Indonesia (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara Indonesia yang
menyelenggarakan jasa angkutan kereta api. Layanan PT Kereta Api Indonesia meliputi
angkutan penumpang dan barang. Pada akhir Maret 2007, DPR mengesahkan revisi UU No.
13/1992 yang menegaskan bahwa investor swasta maupun pemerintah daerah diberi kesempatan
untuk mengelola jasa angkutan kereta api di Indonesia. Pada tanggal 14 Agustus 2008 PT Kereta
Api Indonesia melakukan pemisahan Divisi Jabodetabek menjadi PT KAI Commuter
8

Jabodetabek (KCJ) untuk mengelola kereta api penglaju di daerah Jakarta dan sekitarnya. selama
tahun 2008 jumlah penumpang melebihi 197 juta. Pemberlakuan UU Perkeretaapian No.
23/2007 secara hukum mengakhiri monopoli PT Kereta Api Indonesia dalam mengoperasikan
kereta api di Indonesia.
Diduga terjadi manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI tahun 2005, perusahaan
BUMN itu dicatat meraih keutungan sebesar Rp, 6,9 Miliar. Padahal apabila diteliti dan dikaji
lebih rinci, perusahaan seharusnya menderita kerugian sebesar Rp. 63 Miliar. Komisaris PT KAI
Hekinus Manao yang juga sebagai Direktur Informasi dan Akuntansi Direktorat Jenderal
Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan mengatakan, laporan keuangan itu telah diaudit
oleh Kantor Akuntan Publik S. Manan. Audit terhadap laporan keuangan PT KAI untuk tahun
2003 dan tahun-tahun sebelumnya dilakukan oleh Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), untuk
tahun 2004 diaudit oleh BPK dan akuntan publik. Hasil audit tersebut kemudian diserahkan
direksi PT KAI untuk disetujui sebelum disampaikan dalam rapat umum pemegang saham, dan
komisaris PT KAI yaitu Hekinus Manao menolak menyetujui laporan keuangan PT KAI tahun
2005 yang telah diaudit oleh akuntan publik. ditemukan adanya kejanggalan dari laporan
keuangan PT KAI tahun 2005 :

Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan

keuangan itu dimasukkan sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005.


Kewajiban PT KAI untuk membayar surat ketetapan pajak (SKP) pajak
pertambahan nilai (PPN) sebesar Rp 95,2 Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat
Jenderal Pajak pada akhir tahun 2003 disajikan dalam laporan keuangan sebagai
piutang atau tagihan kepada beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung
beban pajak itu. Padahal berdasarkan Standart Akuntansi, pajak pihak ketiga yang
tidak pernah ditagih itu tidak bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT KAI ada

kekeliruan direksi dalam mencatat penerimaan perusahaan selama tahun 2005.


Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp 24 Miliar
yang diketahui pada saat dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen
PT KAI sebagai kerugian secara bertahap selama lima tahun. Pada akhir tahun
2005 masih tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai

kerugian sebesar Rp 6 Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam

tahun 2005.
Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai
komulatif sebesar Rp 674,5 Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp 70
Miliar oleh manajemen PT KAI disajikan dalam neraca per 31 Desember 2005
sebagai bagian dari hutang. Akan tetapi menurut Hekinus bantuan pemerintah dan

penyertaan modal harus disajikan sebagai bagian dari modal perseroan.


Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap
kemungkinan tidak tertagihnya kewajiban pajak yang seharusnya telah
dibebankan kepada pelanggan pada saat jasa angkutannya diberikan PT KAI
tahun 1998 sampai 2003.

Perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara komisaris dan auditor akuntan publik
terjadi karena PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Ketiadaan tata kelola
yang baik itu juga membuat komite audit (komisaris) PT KAI baru bisa dibuka akses terhadap
laporan keuangan setelah diaudit akuntan publik. Akuntan publik yang telah mengaudit laporan
keuangan PT KAI tahun 2005 segera diperiksa oleh Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik.
Jika terbukti bersalah, akuntan publik itu diberi sanksi teguran atau pencabutan izin praktek.
(Harian KOMPAS Tanggal 5 Agustus 2006 dan 8 Agustus 2006). Kasus PT KAI di atas menurut
beberapa sumber, berawal dari pembukuan yang tidak sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Sebagai akuntan sudah selayaknya menguasai prinsip akuntansi berterima umum
sebagai salah satu penerapan etika profesi. Kesalahan karena tidak menguasai prinsip akuntansi
berterima umum bisa menyebabkan masalah yang sangat menyesatkan.

Laporan Keuangan PT KAI tahun 2005 disinyalir telah dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu.
Banyak terdapat kejanggalan dalam laporan keuangannya. Beberapa data disajikan tidak sesuai
dengan standar akuntansi keuangan. Hal ini mungkin sudah biasa terjadi dan masih bisa
diperbaiki. Namun, yang menjadi permasalahan adalah pihak auditor menyatakan Laporan
Keuangan itu wajar. Tidak ada penyimpangan dari standar akuntansi keuangan. Hal ini lah yang
patut dipertanyakan. Dari informasi yang didapat, sejak tahun 2004 laporan PT KAI diaudit oleh
Kantor Akuntan Publik. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan BPK sebagai
10

auditor perusahaan kereta api tersebut. Hal itu menimbulkan dugaan kalau Kantor Akuntan
Publik yang mengaudit Laporan Keuangan PT KAI melakukan kesalahan.
2.7 Penyelesaian Kasus Pada PT KAI
Dari kasus ini, IAI membentuk sebuah badan yang nantinya menjadi forum serta pengawasan
terhadap praktek kerja dari Audit dalam penerepan good corporate governance pada perusahaan
di Indonesia yang dinamakan Komite 13.
Tujuan Pembentukan Komite 13
1. Menjadi forum pembelajaran bagi berbagai kalangan, termasuk Direksi, Komisaris,
Komite Audit, Pejabat Negara (khususnya Kementerian BUMN) maupun Auditor
eksternal didalam memahami proses Good Corporate Governance melalui bedah kasus
nyata.
2. Memahami permasalahan secara komprehensif mengenai bagaimana membangun
pengawasan yang efektif dan bagaimana sebaiknya badan pengawas baik Direksi,
Komisaris dan Komite Audit menyikapi permasalahan ini.
3. Mendapatkan gambaran mengenai batasan dan ruang lingkup pelaksanaan peran dan
tanggung jawab Komite audit, Komisaris, dan Direksi dalam menjalankan fungsi
pengawasan (oversight) atas penyusunan laporan keuangan.
4. Mendapatkan gambaran apakah due process telah berjalan dengan baik, khususnya yang
menyangkut Komite Audit dan hal-hal apa saja yang perlu mendapatkan perhatian baik
dari Direksi, Komisaris, maupun Komite Audit didalam membangun pengawasan yang
efektif.
Rekomendasi Agar Kasus Serupa Tidak Terulang :
a. Membangun kultur perusahaan yang baik; dengan mengutamakan integritas, etika profesi
dan kepatuhan pada seluruh aturan, baik internal maupun eksternal, khususnya tentang
otorisasi.
b. Mendahulukan kepentingan publik daripada kepentingan perusahaan.
c. Merekrut manajemen baru yang memiliki integritas dan moral yang baik, serta
memberikan siraman rohani kepada karyawan akan pentingnya integritas yang baik bagi
kelangsungan usah perusahaan.
d. Memperbaiki sistem pengendalian internal perusahaan.
11

e. Corporate Governance dilakukan oleh manajemen yang dirancang dalam rangka


mengeliminasi atau setidaknya menekan kemungkinan terjadinya fraud. Corporate
governance meliputi budaya perusahaan, kebijakan-kebijakan, dan pendelegasian
wewenang.
f. Transaction Level Control Process yang dilakukan oleh auditor internal, pada dasarnya
adalah proses yang lebih bersifat preventif dan pengendalian yang bertujuan untuk
memastikan bahwa hanya transaksi yang sah, mendapat otorisasi yang memadai yang
dicatat dan melindungi perusahaan dari kerugian.
g. Retrospective Examination yang dilakukan oleh Auditor Eksternal diarahkan untuk
mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan perusahaan.
h. Investigation and Remediation yang dilakukan forensik auditor. Peran auditor forensik
adalah menentukan tindakan yang harus diambil terkait dengan ukuran dan tingkat
kefatalan fraud, tanpa memandang apakah fraud itu hanya berupa pelanggaran kecil
terhdaap kebijakan perusahaan ataukah pelanggaran besar yang berbentuk kecurangna
dalam laporan keuangan atau penyalahgunaan asset.
i. Penyusunan Standar yang jelas mengenai siapa saja yang pantas menjadi apa baik untuk
jabatan fungsional maupun struktural ataupun untuk posisi tertentu yang dianggap
strategis dan kritis. Hal ini harus diiringi dengan sosialisasi dan implementasi
(enforcement) tanpa ada pengecualian yang tidak masuk akal.
j. Diadakan tes kompetensi dan kemampuan untuk mencapai suatu jabatan tertentu dengan
adil dan terbuka. Siapapun yang telah memenuhi syarat mempunyai kesempatan yang
sama dan adil untuk terpilih. Terpilih artinya walaupun pejabat lain diatasnya tidak
berkenan dengan orang tersebut, tetapi karena ia yang terbaik maka tidak ada alasan
logis untuk menolaknya ataupun memilih yang orang lain. Disinilah peran
profesionalisme dikedepankan
k. Akuntabilitas dan Transparansi setiap proses bisnis dalam organisasi agar
memungkinkan monitoring dari setiap pihak sehingga penyimpangan yang dilakukan
oknum-oknum dapat diketahui dan diberikan sangsi tanpa kompromi.

12

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Keberadaan Komite audit menjadi sesuatu yang sangat diperlukan dalam penerapan Good
Corporate Governance. Keberadaan komite audit pada saat ini telah diterima sebagai suatu
bagian dari tata kelola organisasi perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Selain
itu kehadiran komite audit akhir-akhir ini telah mendapat respon yang positif dari berbagai pihak.
Dari peran serta tanggung jawab yang dimiliki komite audit dapt dilihat dengan jelas bahwa
keberadaan komite audit memang sangat diperlukan terutama sebagai bentuk pengawasan
terhadap aktivitas operasional perusahaan. Dari kasus PT KAI tersebut juga terlihat bagaimana
13

permasalahan yang terjadi akibat kurangnya peran yang diberikan kepada komite audit sehingga
bisa terjadi kasus penyelewengan laporan keuangan. Sehingga dengan begitu setiap perusahaan
di Dunia khususnya di Indonesia wajib memberikan porsi dan wewenang yang adil terhadap
komite audit agar fungsi pengawasan perusahaan bisa dimaksimalkan.

DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, Zaki. 2000. Peran dan Fungsi Komisaris Independen dan Komite Audit. Makalah
Seminar Konvensi Nasional Akuntansi IV, Jakarta.
Effendi, M. Arief. 2001. Persepsi Dewan Komisaris & Direksi Badan Usaha Milik Negara
terhadap pembentukan Komite Audit. Thesis, Program Magister Akuntansi (MAKSI),
Universitas Indonesia.

14

Kalbers, Lawrence P. & Forgathy, Timothy J. 1993. Audit Committee Effectiveness : An


Empirical Investigation of the Contribution of Power, Auditing A Journal of Practice &
Theory.Vol. 12, No. 1, Spring.
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN Nomor : KEP-102/M-PBUMN/2002 tanggal
31 Juli 2002 tentang pembentukan komite audit bagi BUMN.
Manao, Hekinus. 1997. Efektivitas Komite Audit Perusahaan Peranan Independensi dan
Kompetensi. Makalah Seminar Pengembangan Audit Committee di lingkungan
Perusahaan di Indonesia Menghadapi Era Globalisasi, FKSPI BUMN/BUMD & IIA
Indonesian Chapter, Jakarta.
The Institute of Internal Auditors Research Foundation : Improving Audit Committee
Performance : What Works Best, A Research Report prepared by Price Waterhouse, First
printing, 1993.

Corporate Governance
Komite Audit Dan Komite Lainnya : Peran , Tanggung Jawab, Komposisi
Dan Keefektifan

15

Oleh:
Kelompok 8
Ngurah Putu Surya Pranajaya Utama

1406305020/03

I Made Aditya Pramartha

1406305026/05

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2016

16