Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN

Pr. JARINGAN KOMPUTER II

No. Jobsheet

:4

Judul

: VLAN Trunking Protocol ( VTP )

Nama Anggota

: 1. Eka Bagus Setya W

Kelas

(4.31.14.0.06)

2. Khalimatus Sadiyah

(4.31.14.0.12)

3. Rizqi Ihsanuddin

(4.31.14.0.17)

: TE-2A

Dosen Pengampu : Helmy, S.T., M. Eng.

Jurusan Teknik Elektro


Program Studi Teknik Telekomunikasi (D4)
Politeknik Negeri Semarang
2016

PERCOBAAN IV
VLAN Trunking Protocol ( VTP )
I.

Gambar Topologi

Gambar 4.1. Topologi jaringan


Gambar 4.1 Jaringan Komputer dengan 8 Klien dan 1 komputr sebagai server
atau native vlan 99 dengan 2 Switch. Gambar tersebut menjelaskan bahwa ada 4
VLAN yang terhubung ke masing-masing Switch 1 dan Switch 2. Supaya antar keempat VLAN tersebut dapat saling berkomunikasi dengan melalui S1 dan S2. Maka
antara S1 dan S2 harus dilakukan konfigurasi dengan mode trunk. Dengan mode
Trunk ethernet maka dapat membawa banyak trafik VLAN dalam 1 jalur. Pada
gambar tersebut Native VLAN, adalah untagged VLAN yang menggunakan PC6,
pada gambar 3.1 native VLAN adalah VLAN 99.

VLSM
vlan 20 dengan nama mahasiswa
5200 host
NA 192.168.32.0
Netmask 255.255.224.0
IP Range 192.168.32.1-192.168.63.254
BA 192.168.63.255

vlan 10 dengan nama dosen


500 host
NA 192.168.0.0
Netmask 255.255.254.0
IP Range 192.168.0.1-192.168.1.254
BA 192.168.1.255

vlan 30 dengan nama staff


120 host
NA 192.168.64.0
Netmask 255.255.255.128
IP Range 192.168.64.1-192.168.64.126
BA 192.168.64.127

vlan 10 dengan nama kajur


10 host
NA 192.168.64.208
Netmask 255.255.255.240
IP Range 192.168.64.209-192.168.64.222
BA 192.168.64.223

vlan 99 dengan nama admin


6 host
NA 192.168.64.224
Netmask 255.255.255.248
IP Range 192.168.64.225-192.168.64.230
BA 192.168.64.231

II.

Hasil Percobaan
1. Tampilan daftar VLAN pada switch

Gambar 4.2 Daftar vlan default switch 1

Gambar 4.3 Daftar vlan default switch 2

Sebelum dikonfigurasi tampilan informasi VLAN pada Switch 1 dan Switch 2


hanya terdapat VLAN 1 dengan nama default. Dan port fa0/1 sampai fa0/24 masih
dalam VLAN 1.
2. Konfigurasi Dasar pada Switch

Gambar 4.4 Konfigurasi dasar switch


Dengan Memberi nama pada Switch, serta memberi password akses.
Pemberian password bertujuan untuk membatasi akses pada switch. Pada
konfigurasi switch ini, password diberikan pada saat masuk ke console, dan saat
masuk ke vty untuk membuat password untuk akses dengan telnet ke Switch, serta
memberikan password class untuk akses ke mode privileged.
Sebelum dikonfigurasi tampilan informasi VLAN pada Switch 1 dan Switch 2
hanya terdapat VLAN 1 dengan nama default. Karena belum dilakukan konfigurasi
pada Switch 1 dan Switch 2, serta belum dilakukan pembagian port-portnya maka
port fa0/1 sampai fa0/24 masih terdapat dalam VLAN 1.

3. Tampilan Status VTP pada Switch

Gambar 4.5 Status vtp switch 1 sebelum dikonfigurasi

Gambar 4.6 Status vtp switch 2 sebelum dikonfigurasi


Sebelum dilakukan konfigurasi, secara default sebuah switch ada pada vtp
mode server dengan VTP domain dan VTP password yang masih kosong. Untuk
memastikan bahwa switch tersebut telah berada dalam mode server perlu dilakukan
command #vtp mode server.
4. Konfigurasi Switch 1 sebagai VTP server dan Switch 2 sebagai VTP client dan
Konfigurasi VTP domain name

Gambar 4.7 Konfigurasi switch 1 sebagai VTP server


Kemudian lakukan konfigurasi switch 1 sebagai VTP mode server dan Switch
2 sebagai VTP mode client. Dan konfigurasi VTP domain name pada Switch 1 dan
Switch 2 dengan nama polines, juga vtp password cisco. Kerena Switch 1 dan
Switch 2 berada pada nama domain yang sama, yaitu polines. Maka semua VLAN
yang telah dikonfigurasi di Switch 1 akan berada pada Switch 2. Semua VTP client
akan memliki database VLAN yang sama dengan VTP Server.

Gambar 4.8 Konfigurasi switch 2 sebagai VTP Client

5. Konfigurasi VLAN 10, VLAN 20, VLAN 30, VLAN 40, dan VLAN 99

Gambar 4.9 Pembuatan VLAN pada switch 1


Dengan nama VLAN 10 dosen, VLAN 20 d engan nama mahasiswa, VLAN 30
dengan nama staff, VLAN 40 dengan nama kajur, dan VLAN 99 d engan nama admin.

Dengan pembagian beberapa segment tersebut, maka jaringan dari segment satu
tidak dapat berkomunikasi (ping) dengan jaringan segment yang lainnya. Sehingga
informasi dari PC satu tidak dapat dilihat atau diakses oleh PC lainnya, sehingga
informasi tetap aman. Selain itu, juga diatur port mana saja yang akan terhubung

dengan VLAN yang telah dibuat. Pembagian range port tersebut dilakukan untuk
menentukan bahwa port tersebut telah digunakan oleh VLAN tertentu.
6. Tampilan daftar VLAN pada Switch

Gambar 4.10 Daftar vlan pada switch 1 setelah dikonfigurasi


Setelah VLAN Switch 1 dikonfigurasi, dengan membuat VLAN baru maka
informasi VLAN dari Switch 1 terdapat tambahan VLAN yang baru dikonfigurasi.
VLAN yang baru dibuat yaitu VLAN 10, VLAN 20, VLAN 30, VLAN 40. Agar
Switch 1 dapat diatur secara remote melalui jaringan dari PC1, maka switch perlu
diberi alamat IP. Pada konfigurasi default, manajemen switch dikontrol melalui
VLAN 1. Namun pada prakteknya akan lebih baik bila manajemen switch diubah
ke VLAN selainVLAN 1, misalnya VLAN 99.
7. Tampilan Status VTP pada Switch

Gambar 4.11 Status vtp switch 1 setelah dikonfigurasi

Setelah dilakukan konfigurasi VTP, maka VTP tersebut baru dapat beroperasi
dengan Switch 1 sebagai VTP mode server, dan domain name polines,, sehingga
setiap client dapat menerima informasi VLAN dari switch pusat yang terlah
dikonfigurasi VTP server

(a) switch 1

(b) switch 2
Gambar 4.12 Konfigurasi trunk
Dalam konfigurasi port switch yang menjadi trunk hanya dilakukan pada salah
satu switch, dan port pada switch lain akan secara otomatis menjadi port trunk
(Gambar 4.12), dalam hal ini port yang digunakan sebagai trunk adalah port Fa0/23
da F0/24 pada switch 1 dan switch 2.
Dengan Trunk ethernet maka bisa membawa banyak trafik VLAN dalam 1
jalur.Pada gambar tersebut interface f0/23 dan fa0/24 dipakai untuk mode trunk
dengan native VLAN 99. VLAN ID yang diperbolehkan melewati trunk tersebut
hanya VLAN 10, 20, 30, dan 40.
Konfigurasi switchport mode trunk ini dilakukan di setiap switch client yang
port portnya terhubung dengan switch pusat begitu pula sebaliknya yaitu switch
pusat yang setiap portnya terhubung dengan port port pada switch client. Selain
itu dilakukan konfigurasi pada port switch yang menghubungkan switch pusat
dengan router.

Gambar 4.13 Status vtp pada switch 2 setelah dikonfigurasi vtp dan trunk
Setelah dilakukan konfigurasi VTP, switch 2 diatur sebagai VTP mode client.
Dimana switch 2 dapat menerima broadcast VLAN dari VTP server (Switch 1),
tanpa melakukan konfigurasi VLAN pada switch 2. Dalam mode ini, switch 2

berfungsi sebagai penampung informasi dari VTP server dan mengupdate sendiri.
Dalam mode client, switch 2 tidak dapat melakukan perubahan apapun dalam VTP.
VTP client dikonfigurasikan pada setiap switch yang terhubung dengan switch
pusat, sehingga switch client tersebut dapat menerima informasi mengenai VLAN
yang ada. VTP client dikonfigurasikan di switch pada jaringan, dapat dilihat switch
yang lain statusnya telah menjadi client, sehingga dapat mendapat informasi
VLAN dari switch pusat

Gambar 4.14 Daftar vlan pada switch 2 setelah konfigurasi VTP dan trunk

Gambar 4.15. Konfigurasi vlan pada switch 2

Gambar 4.16 Daftar vlan switch 2 setelah konfigurasi vlan

(a) switch 1

(b) switch 2
Gambar 4.17 Konfigurasi trunk vlan allowed dan native
Pada switch pusat Interface Fast Ethernet 0/23-24 yang terhubung dengan
switch dilakukan trunk yang berfungsi untuk membuat jalur sehingga VLAN 10,
20, 30,40 dapat melalui jalur tersebut. Dan hal tersebut dilakukan juga pada
setiap fast ethernet yang terhubung dengan switch pusat. Selain dilakukan di
switch pusat, trunk ini juga dilakukan pada fast ethernet setiap switch client
yang terhubung dengan switch pusat.

Gambar 4.18 Telnet ke switch 1 dari PC0 (admin)

Gambar 4.19 Telnet ke switch 2 dari PC0 (admin)

(a)

(b)

Gambar 4.20 Ping dari (a) PC1 ke PC4 dan (b) PC4 ke PC1

(a)
(b)
Gambar 4.21 Ping dari (a) PC2 ke PC6 dan (b) PC6 ke PC2
Ketika antara S1 dan S2 belum dilakukan trunking, maka antara S1 dan S2 belum
saling terhubung dan berkomunikasi. Sehingga saat komputer (PC) dari S1 akan
berkomunikasi dengan PC di komputer S2 maka pada layar command prompt akan
muncul pesan Request Time Out. Request Time Out terjadi ketika komputer server tidak
merespon/menjawab permintaan dari klien setelah beberapa lama.
Request Time Out dapat disebabkan karena paket balasan ping yang dikirim oleh
komputer tujuan tidak sampai kepada komputer pengirim atau komputer asal. Tidak
sampainya paket balasan tersebut bisa dikarenakan terputusnya koneksi jaringan antara
kedua komputer tersebut. Cara mengatasinya yaitu dengan mengecek kembali penulisan
alamat IP yang akan dituju, selain itu juga lakukan pengecekan apakah pemasangan
kabel sudah tepat.
Request Time Out juga dapat disebabkan karena Firewall yang berada pada
komputer masih dalam keadaan aktif atau firewall tidak mengizinkan paket ping tersebut
untuk melewatinya. Cara mengatasinya yaitu dengan mematikan firewall yang ada
dikomputer agar tidak bertentangan dengan antivirus.
Karena saat melakukan ping tersebut pesan yang keluar adalah Request Time Out
(RTO) maka tidak ada paket yang dikirim maupun diterima (Packet: sent=0, received=0,
Lost=4 (100% loss)).

(a)
(b)
Gambar 4.22 Ping dari (a) PC3 ke PC7 dan (b) PC7 ke PC3

(a)
(b)
Gambar 4.23 Ping dari (a) PC4 ke PC8 dan (b) PC8 ke PC4
Dari hasil ping tersebut dapat dijelaskan :

PC>ping 192.168.64.212, artinya PC4 (192.168.64.213) mengirim paket data ke


192.168.64.212 (PC8)
Pinging 192.168.64.212 with 32 bytes of data :maksudnya PC1 telah melakukan ping
ke IP 192.168.64.212 dengan 32 bytes data
Reply from 192.168.64.212: bytes=32 time<0ms TTL=128
Artinya komputer penerima (komputer yang di-ping) merespon dan memberikan
informasi.
Reply from berarti PC4 memberi balasan ke PC1. Reply akan mengirimkan Internet
Control Message Protocol (ICMP) EchoRequest messages pada ip address komputer
yang dituju dan meminta respons dari komputer tersebut.
192.168.64.212 adalah alamat IP yang di ping
Bytes menunjukkan besar request packet yang dikirimkan
Time sebagai delay yang menunjukkan waktu yang diperlukan paket yang dikirimkan
untuk mencapai PC yang dituju.
TTL Time to Live digunakan untuk mencegah adanya circular routing pada suatu
jaringan
Packet: Sent=4, Received=4, Lost=0 (0% loss),
Maksudnya paket yang dikirimkan tidak ada yang hilang, 4 dikirim dan 4 diterima
Semakin kecil nilai time dan paket loss dari hasil ping maka koneksi jaringan yang
dipakai semakin baik.
Pada pengetesan tersebut (ping) PC4 merespon atau mereply PC1. Itu menandakan
bahwa antar PC1 dan PC4 sudah saling terkoneksi.

III.

Analisa

Show VTP Status pada Switch 1 dan Switch 2

Gambar tersebut merupakan VTP status dari client. VTP yang dipakai merupakan
VTP versi 2.

Gambar tersebut merupakan VTP status dari server VTP yang dipakai merupakan
VTP versi 2.
Dari kedua gambar diatas, jika terjadi perbedaan dalam isi configuration revision
maka dapat dikatakan bahwa VTP yang ada pada jaringan tersebut tidak berjalan dengan
baik. VTP dapat dikatakan berjalan dengan baik apabila VTP status dari setiap switch
memiliki configuration revision dan jumlah VLAN yang sama.
Domain name VTP pada setiap switch harus sama sehingga VTP server dapat
mengetahui kemana harus mengirimkan database VLAN. Jika ada perubahan database
VLAN pada server, maka secara otomatis perubahan database tersebut akan disebar ke
switch client tanpa harus dimasukan secara manual atau satu persatu pada switch client.
Dari hasil show vtp status yang telah dikonfigurasi, terdapat beberapa informasi.
-

VTP Version pada Switch server tersebut menunjukkan versi 2, versi 2 (dua) tersebut

artinya sudah support token ring VLAN.


Revision number yang tertera pada switch 1 dan switch 2 adalah 10, yang sebelumnya
sebelum dikonfigurasi vtp revision numbernya adalah 0 (default). Revision number
merupkan banyaknya sistem vtp dalam melakukan update revisi. Revisi number akan

selalu bertambah ketika ada pembaruan yang dilakukan oleh vtp server. Revisi

number yang lebih besar akan mereplece revisi number yang lebih kecil.
Apabila Client revisi number lebih tinggi dari Server, maka Client tidak akan
mengupdate dirinya sendiri dengan VTP advertisement dari switch server. Dan
apabila Server configuration revisi lebih rendah dari switch Server yang maka yang

lebih rendah akan mengupdate dari server yang lebih tinggi.


Apabila Number of existing VLANs pada switch server dan switch client berjumlah
sama, maka VTP sudah bekerja.

IV.

Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan :
1. Pada VTP ketika ada VLAN baru yang dikonfigurasi pada salah satu VTP
Server, VLAN tersebut langsung didistribusikan melalui trunk link ke semua
switch yang terhubung dengan VTP Server.
2. Dengan memasukan nama VTP domain dan VTP password yang sama dengan
switch server, maka switch yang menjadi client dapat melakukan akses dan
mendapatkan informasi VLAN dari switch pusat yang sudah dilakukan
konfigurasi VTP server.
3. Pada mode server, semua informasi VTP disebarkan ke switch lainnya yang
terdapat dalam domain tersebut, sementara semua informasi VTP yang
diterima disinkronisasikan dengan switch lain. Sedangkan pada mode client,
VTP client tidak memperbolehkan administrator untuk membuat, mengubah,
atau menghapus VLAN manapun. Informasi VTP yang diterima diteruskan ke
switch tetangga dalam domain tersebut.