Anda di halaman 1dari 22

KONDILOMA AKUMINATA

A. PENDAHULUAN
Kondiloma akuminata sudah dikenal sejak zaman Romawi dan Yunani kuno.
Kondiloma berasal dari bahasa Yunani yang artinya tumor bulat, dan akuminata
berasal dari bahasa latin yang artinya titik yang tajam. Sepertinya kedua istilah
ini digunakan karena dari jauh kondiloma akuminata terlihat seperti tumor kulit
yang bulat, tetapi dari dekat permukaannya terlihat seperti kumpulan kutil dengan
permukaan yang tidak rata.1,9
Virus alami dari genital warts, Venereal warts, verruca vulgaris, jengger
ayam, kutil kelamin pertama kali dikenal tahun 1907 oleh Ciuffo. Dengan
berkembangnya teknik biologi molekuler, Human Papillomavirus (HPV)
diidentifikasi sebagai penyebab kondiloma akuminata.4
Kondiloma adalah kutil yang berlokasi di area genital (uretra, genital dan
rektum). Kondiloma merupakan penyakit menular seksual dan berpengaruh buruk
bagi kedua pasangan. Masa inkubasi dapat terjadi sampai beberapa bulan tanpa
tanda dan gejala penyakit.9
Kondiloma akuminata merupakan tonjolan tonjolan yang berbentuk bunga
kol atau kutil yang meruncing kecil yang bertumbuh kembang sampai membentuk
kelompok yang berkembang terus ditularkan secara seksual. Kondiloma
akuminata dijumpai pada berbagai bagian penis atau biasanya didapatkan melalui
hubungan seksual melewati liang rectal disekitar anus, pada wanita dijumpai pada
permukaan mukosa pada vulva, serviks, pada perineum atau disekitar anus.4
B. DEFINISI
Kondiloma akuminata atau genital warts merupakan bentuk proliferasi jinak
dari kulit dan mukosa yang disebabkan oleh Human papilloma virus (HPV).1,2

Virus ini tidak menampakkan gejala maupun tanda akut dari perjalanan penyakit
melainkan terjadinya ekspansi lokal dan perlahan dari sel epitel. 1,2 Kelainan kulit
yang tampak berupa fibroepitelioma pada kulit dan mukosa dapat berupa vegetasi
bertangkai dengan permukaan berjonjot (eksofitik) dan beberapa bergabung
membentuk lesi yang lebih besar sehingga tampak seperti kembang kol. 1,3,4
Penyakit ini ditularkan melalui kontak seksual.2,5 Pertumbuhan jaringannya
bersifat jinak, superfisial dan terutama di daerah genital.1
Infeksi virus subklinis dapat berlangsung cukup lama atau dapat tumbuh dan
membentuk massa yang besar dan menetap selama beberapa bulan atau tahun. 1,3
Human papilloma virus penyebab penyakit ini merupakan golongan papova virus,
dimana terdapat lebih dari 100 tipe dari double stranded HPV yang telah
diidentifikasi hingga saat ini. Beberapa di antaranya berhubungan langsung
dengan meningkatnya resiko neoplasia pada laki-laki maupun perempuan. 1,2
Kelompok virus ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan dari displasia
serviks, kanker serviks dan displasia vulva. Selain itu juga berkaitan dengan
berbagai bentuk veruka termasuk veruka vulgaris, veruka plana, veruka plantaris,
warts filiform dan kondiloma akuminata.1,3 Pria dengan infeksi HPV pada daerah
anal, perianal dan penis beresiko tinggi untuk berkembang menjadi squamous cell
carcinoma. Hal ini dikarenakan HPV dapat menginduksi displasia dari sel epitel
anogenital.3,6
Hampir 90% dari kondiloma akuminata dikaitkan dengan HPV tipe 6 dan
11. Kedua tipe tersebut merupakan kelompok yang paling berpotensi rendah
dalam menimbulkan neoplasia.2,3,4 Resiko berkembangnya neoplasia ditemukan

cukup tinggi pada tipe 16 dan 18 dan sedang pada tipe 33,35,39,40,43,45,51-56,
58.3,6 Meskipun demikian, hanya sekitar 1-2 % individu yang terinfeksi HPV yang
menampakkan lesi klinis yang nyata. 3,4
C.

EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini termasuk dalam Penyakit Infeksi Seksual (IMS) dan merupakan

jenis IMS yang paling sering ditemukan. Risiko seorang perempuan tertular KA
dari partner seksualnya adalah sebesar 30% . Sayangnya, KA bersifat
asimptomatis. Dari semua total kasus KA yang ada, 60%-nya tanpa gejala, hanya
1% yang muncul manifestasi klinis sebagai vegetasi genital, 4% hanya bisa
dideteksi lewat colposcopy, 10% hanya bisa dideteksi lewat pemeriksaan DNA /
RNA dan 25% adalah infeksi menetap KA. Hal ini berarti bahwa kasus KA
merupakan ice berg phenomen sehingga kasus yang muncul ke permukaan
sesungguhnya bukanlah kasus yang sebenarnya.
Sebagaimana kasus IMS yang lain, prevalensi KA di tiap Negara berbeda
tergantung praktek seksual dan distribusi umur penduduk. Di AS, kasus baru KA
menyerang 5,5 6,2 juta penduduk AS setiap tahunnya, tahun 2005 sebanyak 20
juta penduduk AS terinfeksi KA dan diperkirakan 80 juta penduduk telah
terinfeksi KA pada waktu sebelumnya, ini berarti 75% penduduk AS umur seksual
aktif pernah terinfeksi KA. Di Inggris, tahun 1971 1994 terjadi peningkatan
prevalensi KA dari 390% menjadi 594% pada penduduk Inggris. Peningkatan
yang signifikan terjadi sejak tahun 1992 yaitu sebesar 15%. Sejak tahun 1993
prevalensi KA meningkat 25% pada pria dan 28% pada wanita. Tahun 1999,
insidens KA dilaporkan sebanyak 72.233 kasus KA baru. Di Belgia, prevalensi

KA pada wanita sebesar 11%, di AS sebesar 20% pada mahasiswa putri, di Italia
36% dan Spanyol sebesar 46% pada tahanan wanita. Prevalensi tertinggi KA
adalah pada PSK, PSK berisiko tinggi terinfeksi KA karena biasanya PSK
berumur muda dan mempunyai kebiasaan promiskuitas. Prevalensi KA pada PSK
di Meksiko sebesar 43%, di Jepang 48% dan di Calcuta, India sebesar 63%.
Di Indonesia, prevalensi KA pada perempuan yang datang ke klinik KB dan
klinik universitas sebesar 5 19%. Prevalensi KA jauh lebih tinggi pada
perempuan yang datang ke klinik IMS yaitu sebesar 27%.8,9

D. ETIOLOGI
Penyebab kondiloma akuminata adalah HPV yaitu virus DNA yang
tergolong dalam bentuk virus papova.1 Sampai saat ini telah dikenal lebih dari 100
tipe HPV, namun tidak seluruhnya dapat menyebabkan kondiloma akuminata. 3,7
Tipe

yang

pernah

ditemui

pada

kondiloma

akuminata

adalah

tipe

6,11,16,18,30,31,33,35,39,41,42,44,51,52, dan 56.2


Beberapa tipe HPV tertentu mempunyai potensi onkogenik yang tinggi yaitu
tipe 16 dan 18.1 Tipe ini merupakan jenis virus yang paling sering dijumpai pada
kanker serviks.1,3,4 Sedangkan HPV tipe 6 dan 11 diketahui sebagai penyebab dari
kondiloma akuminata, kedua tipe ini adalah yang berpotensi paling rendah dalam
menimbulkan neoplasia.2,3,4 Dari 59 contoh kondiloma akuminata bentuk klasik
75% disebabkan oleh HPV tipe 6, dan 25% HPV tipe 11.6 Infeksi HPV dapat
ditularkan secara langsung melalui hubungan seksual oleh karena itu termasuk
IMS atau secara tidak langsung melalui kamar mandi umum, kolam renang, dan
lain-lain, bisa juga secara autoinokulasi.1,4
E. FAKTOR RESIKO

1. Aktivitas Seksual
Kondiloma akuminata atau infeksi HPV sering terjadi pada orang yang
mempunyai aktivitas seksual yang aktif dan mempunyai pasangan seksual
lebih dari 1 orang (multiple). Winer et al., pada penelitiannya menunjukkan
bahwa mahasiswi-mahasiswa yang sering bergonta-ganti pasangan seksual
dapat terinfeksi HPV melalui pemeriksaan DNA. Wanita dengan lima atau
lebih pasangan seksual dalam lima tahun memiliki resiko 7,1% mengalami
infeksi HPV (anogenital warts) dan 12,8% mengalami kekambuhan dalam
rentang waktu tersebut. Pada penelitian yang lebih luas, WAVE III yang
melibatkan wanita berusia 18-25 tahun yang memiliki tiga kehidupan
seksual dengan pasangan yang berbeda berpotensi untuk terinfeksi HPV.
2. Penggunaan Kontrasepsi
Penelitian pada 603 mahasiswa yang menggunakan alat kontrasepsi oral
ternyata menunjukkan adanya hubungan terjadinya infeksi HPV pada servik.
Namun hubungan pasti antara alat kontrasepsi oral dengan angka kejadian
terjadinya kondiloma akuminata masih menjadi perdebatan di dunia.
Amo, 2005 mengemukakan bahwa kontrasepsi hormonal berasosiasi
kuat dan meningkatkan risiko terinfeksi KA pada perempuan, yaitu sebesar
19,45; 95% CI : 2,45 154,27 7. Penelitian lain menemukan bahwa
kontrasepsi oral berisiko sebesar 1,7; 95% CI : 1,3 2,2 untuk terjadinya
KA.
3. Merokok
Hubungan antara merokok dengan terjadinya kondiloma akuminata
masih belum jelas. Namun pada penelitian ditemukan adanya korelasi antara
terjadinya infeksi HPV pada seviks dengan penggunaan rokok tanpa filter
(cigarette) dengan cara pengukuran HPV DNA.

PSK di Spanyol yang berumur 25 tahun ke atas dan tidak merokok


mempunyai risiko yang rendah untuk terjadinya KA (OR 0,33; 95% CI :
0,17 0,63) dibandingkan pada PSK berumur < 25 tahun dan merokok (OR
2,28; 95% CI : 1,36 3,8) 7. Moscicki (2001) melaporkan kebiasaan
merokok berisiko terinfeksi KA sebesar 1,50; 95% CI : 0,77 2,94 5.
Namun, kedua penelitian ini belum bisa menunjukkan adanya hubungan
dosis respon merokok terhadap terjadinya KA. Penelitian oleh Wen, dapat
membuktikan bahwa kebiasaan merokok 10 batang rokok per hari berisiko 2
kali terinfeksi KA dibandingkan pada non perokok (95% CI : 1,7 3,7)15.
Sedangkan Minerd (2006) memaparkan bahwa kebiasaan merokok pada
penderita HIV positif berisiko 3,9 kali lebih besar terinfeksi KA
4. Kehamilan
Penyakit ini tidak mempengaruhi kesuburan, hanya pada masa
kehamilan pertumbuhannya makin cepat, dan jika pertumbuhannya terlalu
besar dapat menghalangi lahirnya bayi dan dapat timbul perdarahan pasca
persalinan. Selain itu dapat juga menimbulkan kondiloma akuminata atau
papilomatosis laring (kutil pada saluran nafas) pada bayi baru lahir.
5. Imunitas
Kondiloma
juga
sering
ditemukan
pada
pasien

yang

immunocompromised (misal : HIV). Imunitas tubuh berperan dalam


pertahanan tubuh terhadap HPV. Imunitas tubuh yang rendah berisiko 1,99
kali lebihbesar (95% CI : 1,17 3,37) untuk terinfeksi KA. Imunitas tubuh
terhadap KA dapat juga diperoleh dari vaksin HPV, namun efektifitas vaksin
HPV ini masih dalam tahap penelitian
F. PATOFISIOLOGI

Kondiloma akuminata dapat disebabkan kontak dengan penderita yang


terinfeksi HPV. Sampai saat ini dikenal lebih dari 100 macam jenis HPV, yang
sering menyebabkan kondiloma akuminata yaitu tipe 6 dan 11. HPV ini masuk
melalui mikro lesi pada kulit, biasanya pada daerah kelamin dan melakukan
penetrasi pada kulit sehingga menyebabkan abrasi permukaan epitel. Human
papilloma virus adalah epiteliotropik; yang sifatnya mempunyai affinitas tinggi
pada sel-sel epitel. Replikasinya tergantung pada adanya differensiasi epitel
skuamous. Virus DNA dapat ditemukan pada lapisan terbawah dari epitel. Protein
kapsid dan virus infeksius ditemukan pada lapisan superfisial sel-sel yang
berdiferensiasi. HPV dapat masuk ke lapisan basal, menyebabkan respon radang,
dan pada wanita menyebabkan keputihan dan infeksi mikroorganisme. HPV yang
masuk ke lapisan basal sel epidermis dapat mengambil alih DNA dan bereplikasi
yang tidak terkendali. Fase laten virus dimulai dengan tidak adanya tanda dan
gejala yang dapat berlangsung sebulan bahkan setahun. Setelah fase laten,
produksi virus DNA, capsid dan partikel dimulai. Sel dari tuan rumah menjadi
infeksius dari struktur koilosit atipik dari kondiloma akuminata (morphologic
atypical koilocytosis of condiloma acuminate) berkembang.1,2,10 Lamanya inkubasi
sejak pertama kali terpapar virus sekitar 3 minggu sampai 8 bulan atau dapat lebih
lama.3 HPV yang masuk ke sel basal epidermis ini dapat menyebabkan nodul
kemerahan di sekitar genitalia. Penumpukan nodul merah ini membentuk
gambaran seperti bunga kol. Nodul ini bisa pecah dan terbuka sehingga terpajan
mikroorganisme dan bisa terjadi penularan karena pelepasan virus bersama epitel.
6,7,16

HPV yang masuk ke epitel dapat menyebabkan respon radang yang


merangsang

pelepasan

mediator inflamasi

yaitu histamine

yang dapat

menstimulasi saraf perifer. Stimulasi ini menghantarkan pesan gatal ke otak dan
timbul impuls elektrokimia sepanjang nervus ke dorsal spinal cord kemudian ke
thalamus dan dipersepsikan sebagai rasa gatal di korteks serebri. Pada wanita
yang terinfeksi HPV dapat menyebabkan keputihan dan disertai infeksi
mikroorganisme, yang berbau, gatal dan rasa terbakar sehingga tidak nyaman
pada saat melakukan hubungan seksual. 1,6,7
G. GEJALA KLINIS
Penyakit ini memiliki predileksi terutama pada daerah lipatan yang lembab,
misalnya di daerah genitalia eksterna. Pada laki-laki, tempat pedileksinya di
perineum dan sekitar anus, sulkus koronarius, glans penis, muara uretra eksterna,
korpus dan pangkal penis. Sedangkan pada perempuan, di daerah vulva dan
sekitarnya, introitus vagina, kadang-kadang pada porsio uteri. 4,11 Lesi juga dapat
ditemukan pada daerah perianal, baik pada laki-laki maupun perempuan, terutama
mereka yang memiliki riwayat anal intercourse.2,3
Gambaran effloresensi yang didapatkan yaitu tumor dengan permukaan
licin, verukosa, atau berlobus dapat menyerupai kembang kol (cauliflower),
filiform, atau seperti plak. Warnanya dapat serupa dengan warna kulit di
sekitarnya, atau berwarna kemerahan hingga hiperpigmentasi.1,2,7
Terdapat 4 tipe morfologi pada kondiloma akuminata,yaitu: serupa kembang
kol (cauliflower-like), papular wart, keratotik wart, dan papul datar (flat top
papule). Lesi papular tampak sebagai papul berbentuk kubah, sewarna kulit,
dengan diameter 1-4 mm. Lesi keratotik tampak sebagai kutil dengan permukaan
yang keras atau tampak seperti keratosis seboroik.Varian papul kubah dan papul

datar disebut sebagai papulosis bowenoid yang hiperpigmentasi. 3 Kelainan kulit


berupa vegetasi yang bertangkai dan berwarna kemerahan kalau masih baru, jika
telah lama agak kehitaman. Permukaannya berjonjot (papilomatosa) sehingga
vegetasi yang besar dapat dilakukan percobaan sondase. Jika timbul infeksi
sekunder warna kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan berbau tidak
enak.6
Pada perempuan yang banyak mengeluarkan fluor albus atau wanita yang
hamil, pertumbuhan penyakit lebih cepat. Dalam satu tulisan dikatakan bahwa
pertumbuhan yang cepat kemungkinan disebabkan oleh meningkatnya kadar
estrogen lokal, meningkatnya vaskularisasi pada daerah di sekitar genital serta
kelembaban daerah genital. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa
membesarnya kondiloma akuminata pada wanita hamil mungkin ada kaitannya
dengan penurunan imunitas seluler.4
Selain itu juga ada Giant Condyloma (Tumor Buschke-Loewenstein) yaitu
kondiloma akuminata genital dan anal yang berukuran besar. Lesi awal berupa
kondiloma akuminata yang dengan cepat meluas dengan pertumbuhan invasif
setempat, destruktif namun tidak mengadakan metastase. Kondiloma vulva yang
besar ini dapat terjadi pada orang-orang dengan cell mediated immunity yang
rendah, seperti pada kehamilan, penyakit hodgkin, AIDS, atau mereka yang
mendapat pengobatan imunosupresif. Meskipun secara klinis tampak ganas
namun gambaran histologiknya jinak dan berisi jaringan kondiloma akuminata.
Penyebab giant kondiloma adalah HPV biasanya tipe 6 dan 11.4,6

Gambar 1

Gambar 3

Gambar 2

Gambar 4

Keterangan : Gambar 1 : Kondiloma akuminata pada penis (multiple, lunak, papulpapul filiform, diskret dengan beberapa raspberry-like lesions yang koalescen, pada
glans penis dan preputium), Gambar 2 : Kondiloma akuminata pada vulva (multipel,
merah muda hingga kecoklatan, papul-papul lunak pada labia), Gambar 3 : Kondiloma
akuminata pada daerah perianal (papul-papul yang konfluent membentuk gambaran

10

massa seperti kembang kol pada perineum), Gambar 4: Kondiloma akuminata pada
serviks uteri (berbatas tegas, putih, plak datar yang konfluent di sekitar serviks). 3

H.

GAMBARAN HISTOPATOLOGI
Perubahan kondiloma akuminata

terlihat

sebagai

hyperkeratosis,

hipergranulosis, dan koilositosis pada stratum spinosum serta akantosis ireguler


yang meluas ke tengah. Infiltrat mononuklear yang sedikit terlihat pada dermis. 4,10
Gambaran yang dominan berupa akantosis dan papillomatosis, lapisan tanduk
juga mengalami parakeratosis tetapi tidak terlalu menebal. Proses epidermal
terjadi menyeluruh dengan batas bawah yang tegas. Bisa pula didapatkan banyak
sel bervakuol dalam lapisan atas Malpighi, tetapi terbatas dalam distribusi dan
tidak dijumpai pada semua bagian. 7,8,10,13

Gambar 6 : Kondiloma akuminata fase proliferatif tanpa koilositosis (hematoxilina &


eosina objektif 100x okuler 10x) 10

11

Gambar 7 : Koilositosis, kriteria untuk klasifikasi kondiloma akuminata yang


menunjukkan fase aktif replikasi virus (hematoxilina & eosina objektif 100x okuler 10x) 10

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak ada pemeriksaan yang spesifik untuk menegakkan diagnosis
kondiloma akuminata. Berikut beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk
membantu mengarahkan diagnosis.
1. Acetowhitening
Acetowhitening dapat menentukan adanya infeksi HPV pada serviks dan
daerah anus. Acetowhitening pada lesi eksternal genital tidak spesifik untuk
kondiloma. Pemberian asam asetat 3-5% pada area infeksi akan menimbulkan
efek putih.3
2. Dermatopatologi
Biopsi diindikasikan misalnya pada diagnosis yang belum pasti, lesi yang
tidak berespons terhadap terapi standar, lesi yang memburuk selama terapi,
dan pada pasien imunokompromis.3 Pada gambaran histopatologi ini dapat
ditemukan gambaran khas berupa koilositosis yang menunjukkan adanya
aktivitas virus .11
3. Deteksi DNA HPV
Adanya DNA HPV dan tipe HPV spesifik dapat ditentukan melalui
pemeriksaan apusan dan biopsi dengan hibridisasi in situ. Dapat juga dengan

12

mikroskop elektron namun tidak efektif untuk tipe tertentu dengan jumlah
partikel virus yang sedikit. 3,8
4. Papsmear
Pemeriksaan ini dilakukan pada wanita dengan kondiloma akuminata.
Pemeriksaan ini kurang sensitif dan spesifik untuk kondiloma, 50% wanita
dengan kondiloma memberikan hasil papsmear negatif namun positif pada
hibridisasi in situ untuk infeksi HPV.3 Pemeriksaan ini tetap dianjurkan
dilakukan oleh para wanita sekali setahun untuk mendeteksi kemungkinan
J.

terjadinya kanker serviks, yang juga dapat disebabkan oleh infeksi HPV.3
DIAGNOSIS
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis,

pemeriksaan acetowhitening dan histopatologis.3


K. DIAGNOSIS BANDING
1. Veruka vulgaris
Veruka vulgaris adalah merupakan vegetasi yang tidak bertangkai, kering
dan berwarna abu-abu atau sama dengan warna kulit.5,8

Gambar 8: Verruca vulgaris (viral warts) pada punggung tangan

Kutil ini bentuknya bulat berwarna abu-abu , besarnya lentikuler atau


kalau berkonfluensi bernbentuk plakat, dengan permukaan yang kasar
(verukous). Dengan goresan dapat timbul autoinokulasi sepanjang goresan
(fenomena Koebner). 6
2. Kondiloma latum :
13

Kondiloma latum adalah merupakan sifilis stadium II, klinis berupa plakat
yang erosif, ditemukan banyak Spirochaeta pallidum. Lesi berupa papul
dengan permukaan lebih halus dan bentuk lebih bulat daripada kondiloma
akuminata. Klinis juga seperti keganasan tetapi histopatologisnya memberikan
gambaran jinak dengan penetrasi sampai di dermis. 6

Gambar 9 : Secondary syphilis, Condyloma latum 3


3. Moluskum kontangiosum
Moluskum kontangiosum adalah berbentuk papul miliar (1-2 mm) atau
nodul (5-10 mm), berwarna putih seperti lilin atau sewarna dengan kulit.
Bulat, oval, hemisferis atau berbentuk kubah yang kemudian di tengahnya
terdapat lekukan jika dipijat akan tampak keluar massa yang berwarna putih
seperti nasi.6

14

Gambar 10 : Molluscumcontagiosum. A. papul-papul berwarna seperti kulit,


padat, diskret, diameter 1-2 mm, dengan umbilikasi sentral. B. Lesi yang
multiple, beberapa lesi yang disertai inflamasi. 1
4. Karsinoma sel skuamosa
Karsinoma sel skuamosa adalah vegetasi yang seperti kembangkol, mudah
berdarah dan berbau.5,10

Gambar 11 : Squamous carcinoma, root of ear3


L. PENATALAKSANAAN
A. Penatalaksanaan umum
Sebelum pengobatan dimulai sebaiknya dicari kemungkinan adanya IMS
lain sehingga penyakit tersebut diobati terlebih dahulu. Begitu pula bila
ditemukan penyakit lain yang menurunkan sistem imun. Pasangan seksual
juga diperiksa dan diobati.

Sementara itu sebaiknya hubungan seksual

dihindari sementara waktu atau menggunakan pelindung seperti kondom, serta


menjaga kebersihan genital untuk mencegah infeksi. 3
B. Penatalaksanaan khusus
1. Kemoterapi
a. Podofilin dan Podofilotoksin
Podofilin 25% digunakan dengan cara: kulit di sekitarnya dilindungi
dengan vaselin atau pasta agar tidak terjadi iritasi, setelah 4-6 jam
dicuci.4 Podofilotoksin 0,5% adalah jenis podofilin resin dengan
efektifitas serupa dengan podofilin tetapi efek toksiknya lebih rendah
sehingga direkomendasikan. Untuk podofilotoksin 0,5%, digunakan dua
kali sehari selama tiga hari dilanjutkan empat hari tanpa terapi, siklus
ini diulangi lebih dari empat kali. Jika belum terdapat penyembuhan,

15

dapat diulangi setelah 3 hari. Pemberian jangan melebihi 0,5ml perhari


karena akan diserap dan bersifat toksik.4
Gejala toksisitas ialah mual, muntah, nyeri abdomen, gangguan alat
napas, dan keringat yang disertai kulit dingin. Pada wanita hamil
sebaiknya jangan diberikan karena dapat menyebabkan kematian fetus.
Cara pengobatan dengan podofilin ini sering dipakai. Hasilnya baik
pada lesi yang baru, tetapi kurang memuaskan pada lesi yang lama atau
berbentuk pipih. Tidak dianjurkan pemberian sekaligus pada lesi yang
luas. 3,6,15
b. Asam trikloroasetat (TCA)
Asam trikloroasetat digunakan larutan dengan konsentrasi 80-90%,
dioleskan sekali seminggu dan dicuci setelah 4 jam. Merupakan suatau
bahan yang bersifat kaustik dan menyebabkan koagulasi protein dan
desikasi yang akhirnya menyebabkan nekrosis pada lapisan superfisial.
Dapat diberikan pada wanita hamil.6,8 Pemberiannya harus berhati-hati
karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam. Hindari pemakaian pada
kulit yang normal, dan disertai pemberian talk atau sodium bikarbonat
pada daerah lesi.4
c. 5-fluorourasil
5-fluorourasil dalam bentuk krim 5% dapat diberikan dua kali
seminggu untuk terapi kondiloma intraurethral dan sebagai alternatif
untuk terapi destruktif pada neoplasia intraepitelial pada genital
eksterna. Akan tetapi penggunaannya perlu dibatasi oleh adanya efek
samping inflamasi.4,6 Mempunyai efek sebagai anti metabolik yang
menghambat sintesis DNA/RNA dan cepat menimbulkan nekrosis
jaringan yang berproliferasi.6

16

2. Imunoterapi
a. Interferon
Interferon merupakan suatu famili glikoprotein dengan efek anti
virus, antiproliferatif dan immunomodulator. Pemberian interferon
dalam bentuk injeksi intramuskuler, subkutan, intralesi, dan topikal
dalam bentuk krim. Jika suatu sel diberi interferon, maka sel itu akan
mengembangkan kekebalan terhadap virus.Terapi sistemik tidak
direkomendasikan sebagai terapi rutin karena, selain mahal juga
memberikan efek samping yang cukup berarti. 4,6
b. Imiquimod krim 5%
Imiquimod krim 5% adalah obat sintetik yang dapat meningkatkan
respon imun dengan cara kerja mempengaruhi respon imun alamiah dan
respon imun seluler dengan diperantarai oleh IFN- dan TNF- yang
menunjukkan aktivitas antivirus secara tidak langsung pada HPV.8
Digunakan sebelum tidur, 3 kali seminggu selama 16 minggu. Daerah
yang diberi krim dibersihkan dengan sabun dan air setelah 6-10 jam
pemakaian. Tangan harus dicuci dengan sabun dan air segera setelah
pemakaian. 3
3. Tindakan Bedah
a. Bedah scalpel
Telah dilaporkan bahwa hanya dengan bedah skalpel saja tingkat
keberhasilan mencapai 35-72% . Tingkat keberhasilan yang cukup
tinggi dan sedikit yang mengalami rekuren.8Teknik ini cenderung
dihindari oleh karena menyebabkan timbulnya skar atau jaringan parut.
6

17

b. Bedah listrik
Prosedur ini cukup efektif digunakan khususnya untuk lesi yang
relatif sedikit.4
c. Bedah beku (N2cair, N2O cair)
Cara ini sederhana dilakukan dan tidak menggunakan bahan
kimiawi atau anastesi lokal, dan jarang ditemukan adanya komplikasi.
Teknik ini dapat menyingkirkan lesi tanpa menimbulkan skar/parut dan
perubahan pigmentasi yang minimal atau tidak ada sama sekali.4
d. Bedah laser (CO2 laser)
Ferizi dkk melaporkan terapi topical pada anak-anak yang
menderita kondiloma akuminata, termasuk aplikasi agen kaustik dan
iritasi seperti liquid nitrogen trichloroacetic acid dan podophyllum
resin. Agen-agen ini tidak dapat ditoleransi dengan baik oleh anak-anak
yang memerlukan aplikasi yang multiple. Vaporisasi pada warts
menggunakan laser karbondioksida adalah metode terapi yang terbaru.
Keuntungan dari penggunaan laser CO2 ini adalah karena dapat
digunakan pada daerah yang cukup luas tanpa menimbulkan skar,
striktur,

ataupun

mengeliminasi
M.

penyempitan

virus

dan

lumen.

mempercepat

Metode

ini

cenderung

penyembuhan

dengan

pembentukan skar /parut yang sangat minimal.13,16


PENCEGAHAN
Metode yang paling handal mencegah terinfeksi HPV adalah menghindari

hubungan seksual yang bebas dan berganti-ganti pasangan. Setialah pada satu
pasangan dan pastikan pasangan kita juga setia pada kita. Kondom pria yang
terbuat dari latex terbukti memberi perlindungan terhadap infeksi dan juga
penyakit yang diakibatkan oleh HPV seperti kondiloma akuminata, CIN 2 atau3,
dan kanker serviks yang infasif. Walaupun tidak disarankan oleh US Centers for

18

Disease Control and Prevention (CDC), evaluasi pasangan memberi kesempatan


untuk skrining dan pemberian edukasi tentang HPV dan IMS yang lain.4
Pencegahan dengan vaksin menawarkan pilihan baru. Vaksin multivalent
terhadap 4 subtipe HPV (6, 11, 16, dan 18) sudah diizinkan oleh Food and Drug
Administration (FDA) untuk diberikan pada wanita berumur 9-26 tahun pada juni
2006. Di Cina dari penelitian yang dilakukan Wang dan Qiao, pemberian vaksin
mencegah sampai 83% kasus kondiloma akuminata. Vaksinasi ini menggunakan
komponen utama dari kapsid protein HPV yang dirangkai dalam partikel mirip
virus, tidak mengandung DNA HPV dan tidak infeksius. Vaksinasi dirancang
untuk meningkatkan antibodi sebelum terkena infeksi HPV.4
N.
KOMPLIKASI
1. Kanker serviks
Lama infeksi KA meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks.
Moscicki, 2001 melaporkan bahwa risiko tertinggi terkena kanker serviks
adalah pada kasus infeksi KA selama 1 2 tahun. Risiko ini menurun pada
infeksi KA selama < 1 tahun (dan infeksi KA selama 2 3 tahun. Kanker
serviks merupakan penyebab kematian kedua pada perempuan karena kanker
di negara berkembang dan penyebab ke 11 kematian pada perempuan di AS.
Tahun 2005, sebanyak 10.370 kasus kanker serviks baru ditemukan dan 3.710
diantaranya mengalami kematian.
2. Kanker genital lain
Selain menyebabkan kanker serviks, KA juga dapat menyebabkan kanker
genital lainnya seperti kanker vulva, anus dan penis .
3. Infeksi HIV
Seseorang dengan riwayat KA lebih berisiko terinfeksi HIV .
4. Komplikasi selama kehamilan dan persalinan
KA selama masa kehamilan, dapat terus berkembang membesar di daerah
dinding vagina dan menyebabkan sulitnya proses persalinan. Selain itu,

19

kondisi KA dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga terjadi


transmisi penularan KA pada janin secara transvertikal, dan janin dapat
O.

menderita KA pada tenggorokannya .9,17


PROGNOSIS
Walaupun sering mengalami residif, prognosisnya cukup baik. Perempuan

yang sistem imunnya berkurang yang disebabkan obat immunosupresi atau infeksi
HIV beresiko tinggi, berkembang menjadi penyakit persisten. Pada perempuan
memiliki insidens yang tinggi berkembang menjadi displasia pada vulva, vagina,
atau serviks. Prognosis kondiloma akuminata umumnya baik, memberikan
penyembuhan yang komplit. 8
Perbaikan spontan dapat terjadi pada 10-30% pasien dalam 3 bulan dan
berkaitan dengan respon imun seluler individu. Setelah regresi, infeksi subklinis
dapat menetap seumur hidup. Rekurensi dapat terjadi, baik pada individu dengan
respon imun yang normal maupun pada mereka dengan imunodefisiensi.
Rekurensi lebih sering terjadi akibat reaktivasi dari infeksi subklinis dari pada
reinfeksi dari pasangan seksual. Jika dibiarkan tanpa mendapat terapi, lesi yang
ada dapat membaik, menetap, atau berkembang menjadi suatu keganasan. 3,8

20

DAFTAR PUSTAKA
1

Androphy Elliot J, Lowy Douglas R. Warts. In: Wolff Klaus, Goldsmith


Lowell A., Katz Stephen I eds Fitzpatricks Dermatology in General

Medicine7th edition. USA: The McGraw-Hill Companies; 2008. p 1914-22


Ghandishah D. CondylomaAcuminata [online]. 2008 [cited 2009, November,

30]. Available from : URL : emedicine.medscape/781735-overview.html


Wolff Klaus, Johnson RA, Suurmond D. Fitzpatricks Color Atlas and
Synopsis of Clinical Dermatology5th edition. USA: The McGraw-Hill

Companies; 2007.
Garcea RL, Chen Xioajiang. Papilloma Virus Structure and Assembly. In:

Garcea RL, Dimaio D. The Papillomaviruses. USA: Springer; 2007. p 69-71


Kirnbauer R, Lenz P, Okun MM. Human Papillomavirus In: Bolognia JL,
Jorizzo JL, Rapini RP, edsDermatology 2nd edition. United Kingdom: Mosby;

2003. p 1217-31
Handoko RP. Penyakit Virus. Djuanda A, eds. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit

dan Kelamin. Jakarta: FKUI ; 2007. hal 113-4


Poligone Brian, Kulwichit Wanla. Sexually Transmitted Diseases. In: Arndt K,
Hsu Jeffrey TS eds Manual of Dermatologic Therapeutics7th edition USA:

Lippincott Williams and Wilkins; 2007. p 242-9


Sterling JC. Virus Infections. In:, Burns Tony, Breathnach Stephen, Cox Neil
eds. Rooks Textbook of Dermatology 8th edition. USA:Blackwell; 2010.

P1029-38.
Aprillianingrum, Farida. 2006. Kondiloma Akuminata dalam Faktor Resiko
Kondiloma Akuminata pada Pekerja Seks Komersial. Universitas Diponegoro,

Semarang: Program Pasca Sarjana.


10 Ferizi M, Gercari A, Pajaziti L, Bylta Y, Kocinaj A, Dobruna S.
CondylomaAcuminata in Child end Laser Therapy: a Case Report. Cases
Journal 2009, 2:123
11 Dias EP, Gouvea

ALF,

Eyer

CC.

Condyloma

acuminatum:

its

histopathological pattern . Sao Paulo Medical Journal. 1997; 115(2) pg13839


12 Sexually Transmitted Viral Infections. In: Habif, Thomas P eds. Clinical
Dermatology A Colour Guide To Diagnosis and Therapy 4th edition. USA:
Mosby; 2004. p.336-42.
21

13 Menaldi SL, Sjamsoe ES, Wisnu IM, eds. Dalam: Penyakit Kulit yang Umum
di Indonesia. Jakarta: Medical Multimedia Indonesia ; 2005. hal64-5
14 Sarma DP, Panganiban S, Albertson D. Diagnostic Microscopic Images:
Condyloma Acuminatum and scabies.The Internet Journal of Dermatology.
2009; 7(1)
15 Anonim. Guidelines for the Management of Sexually Transmitted Infections.
USA: WHO; 2003. p 51-4
16 Kauvar AN, eds. Principles and Practices in Cutaneus Laser Surgery.USA:
Taylor and Francis; 2005. p 150-1
17 James, William D, Timothy G Berger, Dirk M Elston. 2005. Condyloma
Akuminata in Andrews Diseases of The Skin Clinical Dermatology Tenth
Edition. USA: University of Pennsylvania.

22