Anda di halaman 1dari 16

Laporan Praktikum Biofarmasetika Dan Farmakokinetika

SIMULASI MODEL IN VITRO FARMAKOKINETIK OBAT


PARASETAMOL SECARA ORAL

Disusun Oleh :
KELOMPOK 3D

Fifi Nur Hidayah Ningseh

1113102000078

Lulu Anisa

1113102000017

Hasan Asyari Khotib

1113102000080

Sintiya Nur Septiani

1113102000038

PROGRAM SUTDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

September / 2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Aktivitas suatu obat tergantung pada lama keberadaan dan perubahan zat aktif di
dalam tubuh. Aktivitas ini dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Nasib obat didalam
tubuh dikenal dengan istilah farmakokinetika. Fase farmakokinetik ini merupakan salah
satu unsur penting yang menentukan profil keberadaan zat aktif pada tingkat biofase
yang selanjutnya akan menentukan aktivitas terapeutik obat. Fase farmakokinetika
terdiri dari absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.
Farmakokietik obat dapat diilustrasikan dalam model yang dikenal dengan
istilah model farmakokinetik atau kompartemen. Model farmakokinetik sendiri dapat
memberikan penafsiran yang lebih teliti tentang hubungan kadar obat dalam plasma dan
respon farmakologik.
Pemodelan farmakokinetik obat setelah pemberian intravena lebih sederhana
dibanding penghantaran ekstravaskuler. Rute penghantaran ekstravaskuler, terutama
pendosisan oral, merupakan cara pemberian obat yang penting dan populer. Tidak
seperti pemberian intravena, dimana obat diinjeksikan secara langsung ke dalam
plasma,

model

farmakokinetika

dari

pemberian

obat

ekstravaskular

harus

memperhitungkan absorpsi obat sistemik dari site pemakaian, misal paru-paru, usus,
dan lain-lain, ke dalam plasma.
Dalam farmakokinetik, keseluruhan laju absorpsi obat dapat digambarkan baik
sebagai proses masukan orde kesatu atau orde nol. Sebagian besar model
farmakokinetika menganggap absorbsi mengikuti orde kesatu, kecuali apabila anggapan
absorbsi orde nol memperbaiki model secara bermakna.
Berdasarkan uraian diatas, kami melakukan praktikum simulasi model in vitro
farmakokinetik obat setelah pemberian oral, dimana profil farmakokinetika obat yang
ditentukan adalah obat parasetamol.
1.2. Tujuan Praktikum
Dapat menjelaskan proses farmakokinetika obat di dalam tubuh setelah pemrian

secara oral dengan simulasi model in vitro farmakokinetik obat.


Mampu memplot data kadar obat dalam fungsi waktu.
Mampu menentukan berbagai parameter farmakokinetik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Umum


Pengembangan suatu produk obat tidaklah bervariasi, dimana suatu proses
penggulangan sistemik farmasetik farmasetik atau biologis secara sistematis
dikacaukan untuk mendapatkan informasi spesifik yang menyangkut efek yang satu
terhadap efek yang lainnya. Penyampaian optimal dari pusat aktif ke tempat aksi
tergantung pada pengertian dari interaksi spesifik antara variable variable formulasi
dan variable variable biologis (Lachman, 1989)
Sifat sifat fisika kimia dari obat dan bahan bahan penambah menetapkan
laju pelepasan obat dari bentuk sediaan dan transport berikutnya melewati membrane
membrane biologis, sedangkan fisiologis dan kenyataan biokimia menentukan nasibnya
dalam tubuh. Absorbs didefinisikan sebagai jumlah obat yang mencapai sirkulasi umum
dalam lambung meliputi konsumsi makanan dan lemak tinggi, minuman dingin dan
obat obat antikolinergik. Gerakan peristaltic normal dari duodenum sangat membantu
absorbs, karena gerakan ini membawa partikel partikel obat kedalam kontak yang
lebih dekat dengan mukosa sel usus (Lachman, 1989).
Biofarmasetika bertujuan untuk mengatur pelepasan obat sedemikian rupa ke
sirkulasi sistemik agar diperoleh pengobatan yang optimal pada kondisi klinik tertentu.
Dengan memilih secara teliti rute pemberian obat dan rancangan secara tepat produk,
maka bioavailabilitas obat aktif dapat diubah dari absorbs yang sangat cepat dan
lengkap menjadi lambat, kecepatan absorbs yang diperlambat atau bahkan sampai tidak
terjadi absorbs sama sekali. Sewaktu obat mengalami absorbs sistemik berbagai proses
fisiologik normal yang berkaitan dengan distribusi dan eliminasi biasanya tidak
idpengaruhi oleh formulasi obat (Shargel, 1988).
Pada umumnya obat dalam bentuk garam yang dapat terionisasi lebih larut
dalam air dari pada asam atau bsa bebas. Derajat kelarutan obat dalam air juga
mempengaruhi laju pelarutan (Shargel, 1988).
Bioavailabilitas bahan aktif dalam suatu bentuk sediaan tergantung pada
beberapa factor yang meliputi disintegrasi produk produk obat dan pelepasan partikel
obat aktif, pelarut obat, absorbsi atau permeasi obat melintasi membrane sel. Factor
factor farmasetik yang mempengaruhi bioavailabilitas obat, untuk merancang suatu
produk obat yang akan melepaskan obat aktif dalam bentuk yang paling berada dalam
sistemik, farmasi harus mempertimbangkan jenis produk obat, sifat bahan tambahan
dalam produk obat, sifat fisikokimia obat itu sendiri.
Obat yang diberikan secara oral dapat dilakukan dengan mudah. Obat tersebut
akan masuk ke peredaran darah setelah mengalami absorbs di dalam saluran cerna. Dari
proses

tersebut

dapat

diperoleh

efek

sistemik.

Proses

absorbsinya

sangat

menguntungkan karena berikatan langsung dengan intensitas farmakologi yaitu onset


(mulai kerja) dan durasi (lama kerja obat) (Tjay, 2002).
Dalam farmakokinetik absorbsi obat dapat didefiniskan sebagai jumlah obat
yang mencapai sirkulasi umum dalam bentuk tidak berubah. Sebab itu obat yang
dimetabolisme atau secara kimia diubah pada tempat pemakaian atau dalam
persinggahannya, menurut definisi berarti tidak diabsorbsi dalam hal ini laju dan
besarnya absorbabsorbssama dengan bioavailabilitas obat (Tjay, 2002).
Terdapat beberapa teori mengenai struktur yang pasti dari membrane sel,
termasuk model unit membrane dan mozaik cair (dinamik). Banyak obat mengandung
substituent lipofilik dan hidrofilik. Obat obat yang lebih larut dalam lemak lebih
mudah melewati membrane sel daripada obat yang kurang larut dalam lemak atau obat
yang lebih larut dalam air. Bagi obat obat yang bersifat sebagai elektrolit lemah,
sebagai misal asam dan basa lemah, besarnya ionisasi mempengaruhi laju
pengangkutan obat (Shargel, 1988).
2.2. Farmakokinetik
Farmakokinetik secara definitif adalah ilmu yang mempelajari kinetika absorbsi
obat, distribusi, dan eliminasi (metabolisme dan ekskresi) (Shargel dan Yu, 2005).
Setelah obat masuk ke dalam tubuh, molekul obat akan diabsorbsi dari gastrointestinal.
Kecepatan absorbsi dan eliminasi menentukan kadar obat dalam darah yang dicapai
oleh sirkulasi sistemik, organ, jaringan dan sel. Setelah diabsorbsi, obat akan
mengalami metabolisme di dalam hati, dikeluarkan dari hati ke empedu atau mencapai
sirkulasi sistemik (Mutschler, 1991).
Sebelum obat mencapai tujuannya dalam tubuh yaitu: tempat kerja dan
menimbulkan efek, obat mengalami banyak proses, secara garis besar prosesproses
tersebut terbagi dalam tiga tingkat yaitu fase biofarmasetika, fase farmakokinetika, dan
fase farmakodinamika (Mutschler, 1991). Dalam tubuh obat mengalami beberapa
proses sebagai berikut :
2.2.1. Absorbsi
Absorbsi merupakan proses pengambilan obat dari permukaan tubuh (di
sini termasuk juga mukosa saluran cerna) atau dari tempat- tempat tertentu
dalam organ dalam ke dalam aliran darah (Mutschler, 1991).
Kecepatan absorbsi terutama tergantung pada bentuk dan cara pemberian
serta sifat fisik kimia dari obat. Obat yang diabsorbsi tidak semua mencapai
sirkulasi sistemik, sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus atau
mengalami metabolisme eliminasi lintas pertama (first pass metabolism or

elimination). Obat yang demikian mempunyai bioavailabilitas oral yang tidak


begitu tinggi meskipun absorbsi secara oralnya mungkin hampir sempurna.
Dengan

demikian

istilah

bioavailabilitas

menggambarkan

kecepatan,

kelengkapan absorbsi sekaligus metabolisme sebelum mencapai sirkulasi


sistemik (Ganiswarna, 2007).
Faktor-faktor seperti

luas

permukaan

dinding

usus,

kecepatan

pengosongan lambung, pergerakan saluran cerna, dan aliran darah ketempat


absorbsi dapat mempengaruhi laju dan jumlah absorpsi obat dipengaruhi
beberapa faktor, misalnya formulasi, stabilitas obat terhadap asam lambung,
enzim pencernaan dan makanan (Shargel dan Yu, 2005).
2.2.2. Distribusi
Distribusi obat ke seluruh tubuh terjadi saat obat mencapai sirkulasi.
Selanjutnya obat harus masuk ke jaringan untuk bekerja ( Neal, 2006 ).
Distribusi obat dibedakan atas dua fase berdasarkan penyebarannya di dalam
tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ
yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, dan otak. Selanjutnya
distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencangkup jaringan yang perfusinya
tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit dan jaringan lemak.
Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama
(Ganiswarna, 2007).
2.2.3. Metabolisme dan Ekskresi
Sebelum dikeluarkan dari tubuh, obat mengalami proses metabolisme
(biotransformasi) terlebih dahulu. Biotransformasi atau metabolisme obat adalah
proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalisis
oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar artinya
lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah
di ekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya obat menjadi inaktif,
sehingga biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat
(Ganiswarna, 2007).
Metabolisme terjadi terutama di hati dan hanya dalam jumlah yang
sangat rendah terjadi dalam organ lain seperti dalam usus, ginjal, paru-paru,
limpa, otot, kulit atau dalam darah (Mutschler, 1991). Seperti halnya
metabolisme, ekskresi suatu obat dan metabolitnya menyebabkan penurunan
konsentrasi bahan berkhasiat dalam tubuh (Mutschler, 1991). Ekskresi ginjal
memegang tanggung jawab utama untuk eliminasi sebagian besar obat (Neal,
2006).

2.3. Model Farmakokinetik


Model farmakokinetik merupakan model matematika yang menggambarkan
hubungan antara dosis dan konsentrasi obat dalam setiap individu. Parameter dari
model menggambarkan faktor-faktor yang dipercaya penting dalam penentuan
observasi dari konsentrasi atau efek obat. Parameter tersebut antara lain terdiri dari
beberapa parameter antara lain parameter primer yang terdiri dari volume distribusi
(Vd); klerens (Cl); dan kecepatan absorbsi (Ka), parameter sekunder terdiri dari
kecepatan eliminasi (K); dan waktu paruh (T1/2), serta parameter-parameter turunan.
Model farmakokinetik tersebut mempunyai aplikasi langsung untuk terapi obat
berkenaan dengan menentukan aturan dosis yang sesuai (Aiache, 1993).
Kompartemen adalah suatu kesatuan yang dapat digambarkan dengan suatu
volume tertentu dan suatu konsentrasi. Perilaku obat dalam sistem biologi dapat
digambarkan dengan kompartemen satu atau kompartemen dua. Kadang-kadang perlu
untuk menggunakan multikompartemen, dimulai dengan determinasi apakah data
eksperimen cocok atau pas untuk model kompartemen satu dan jika tidak pas coba
dapat mencoba model yang memuaskan. Sebenarnya tubuh manusia adalah model
kompartemen multimillion (multikompartemen), mengingat konsentrasi obat tiap
organel berbeda-beda. (Hakim, L., 2014).
2.3.1. Model kompartemen satu terbuka
Pada model satu kompartemen terbuka, obat hanya dapat memasuki
darah dan mempunyai volume distribusi kecil, atau juga dapat memasuki cairan
ekstra sel atau bahkan menembus sehingga menghasilkan volume distribusi
yang besar (Gibson, 1991). Pada model satu kompartemen terbuka terlihat
seolah olah tidak ada fase distribusi, hal ini disebabkan distribusinya
berlangsung cepat.

2.3.2.

Model kompartemen dua terbuka


Model dua kompartemen terbuka terdiri dari kompartemen pusat dan
perifer, biasanya kompartemen pusat adalah darah dan perifernya jaringan lain.
Pengelompokan kompartemen pusat maupun perifer tergantung pada obat yang
bersangkutan (Gibson, 1991). Distribusi obat dalam darah ke jaringan lunak dan
ke dalam jaringan dalam lain terjadi pada laju yang berbeda - beda. Keadan
tunak yang tercapai akan mengakhiri fase distribusi.

2.4. Parameter Farmakokinetik


Kompartemen farmakokinetik dari obat pada setiap tahap perlu ditetapkan
secara kuantitatif dan dijelaskan dengan bantuan parameter farmakokinetik. Parameter
farmakokinetik ditentukan dengan perhitungan matematika dari data kinetika obat di
dalam plasma atau di dalam urin yang diperoleh setelah pemberian obat melalui
berbagai rute pemberian, baik secara intravaskular atau ekstravaskular (Sukmadjaya,
2006).
Terdapat tiga jenis parameter farmakokinetik yaitu parameter primer, sekunder,
dan turunan. Parameter farmakokinetik primer meliputi kecepatan absorbsi, Vd
(volume distribusi), Cl (klirens). Parameter farmakokinetik sekunder antara lain adalah
t1/2 eliminasi (waktu paruh eliminasi), Ke (konstanta kecepatan eliminasi). Sedangkan
parameter farmakokinetik turunan harganya tergantung dari dosis dan kecepatan
pemberian obat (Donatus, 2008). Parameter farmakokinetik meliputi :
2.4.1. Parameter pokok
Tetapan kecepatan absorbsi (Ka)
Tetapan kecepatan absorbsi menggambarkan kecepatan absorbsi, yaitu
masuknya obat ke dalam sirkulasi sistemik dari absorbsinya (saluran cerna pada
pemberian oral, jaringan otot pada pemberian intramuskular).
Klirens (Cl)

Klirens adalah volume darah yang dibersihkan dari kandungan obat per
satuan waktu (Neal, 2006).
Volume distribusi (Vd)
Volume distribusi adalah volume yang menunjukkan distribusi obat
(Neal, 2006).
2.4.2. Parameter Sekunder
Waktu paro eliminasi (t1/2)
Waktu paro adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengubah jumlah obat
di dalam tubuh menjadi seperdua selama eliminasi (atau selama infus yang
konstan) (Katzung, 2001).
Tetapan kecepatan eliminasi ( Kel )
Kecepatan eliminasi adalah fraksi obat yang ada pada suatu waktu yang
akan tereliminasi dalam satu satuan waktu. Tetapan kecepatan eliminasi
menunjukkan laju penurunan kadar obat setelah proses kinetik mencapai
keseimbangan (Neal, 2006).
2.4.3. Parameter Turunan
Waktu mencapai kadar puncak ( tmax )
Nilai ini menunjukkan kapan kadar obat dalam sirkulasi sistemik
mencapai puncak.
Kadar puncak (Cp max)
Kadar puncak adalah kadar tertinggi yang terukur dalam darah atau
serum atau plasma. Nilai ini merupakan hasil dari proses absorbsi, distribusi dan
eliminasi dengan pengertian bahwa pada saat kadar mencapai puncak prosesproses tersebut berada dalam keadaan seimbang.
Luas daerah kurva kadar obat dalam sistemik vs waktu (AUC)
Nilai ini menggambarkan derajad absorbsi, yakni berapa banyak obat
diabsorbsi dari sejumlah dosis yang diberikan. Area dibawah kurva konsentrasi
obat-waktu (AUC) berguna sebagai ukuran dari jumlah total obat yang utuh
tidak berubah yang mencapai sirkulasi sistemik (Shargel dan Yu, 2005).
2.4.4. Orde Reaksi
Laju suatu reaksi kimia atau proses kimia diartikan sebagai kecepatan
terjadinya suatu reaksi kimia. Untuk reaksi kimia berikut :
Obat A Obat B
Apabila jumlah obat A berkurang dengan bertambahnya waktu reaksi
berjalan searah dengan tanda maka laju reaksi dapat dinyatakan sebagai :
-Da/dt
Dengan demikian, apabila jumlah obat B bertambah dengan
bertambahnya waktu, maka laju reaksi dapat pula dinyatakan sebagai : +dB/dt
Pada umumnya hanya obat induk (obat yang aktif
farmakologik) yang ditentukan dalam percobaan. Sedangkan metabolit obat atau
hasil urai obat tidak dapat atau sangat sukar ditentukan secara kuantitatif. Oleh

karena itu, laju reaksi ditentukan melalui percobaan dengan cara mengukur obat
A dalam jarak waktu yang ditetapkan. Orde reaksi menunjukkan cara bagaimana
konsentrasi obat pereaksi mempengaruhi laju suatu reaksi kimia (Shargel dan
Yu, 2005). Tetapan laju reaksi terdiri atas :

2.5. Spektrofotometer UV-Visibel


Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari
spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan
panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukuran intenditas cahaya
yang ditransmisikan atau yang diabsorbsi. Jadi, spektrofotometer digunakan untuk
mengukur energi secara relative jika energi tersebut ditransmisikan, direflesikan atau
diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang.
Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang
digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan
kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi (atom atau molekul) dengan
cahaya atau radiasi elektromagnetik (REM). Peralatan yang digunakan dalam
spektrofotometri disebut spektrofotometer.
Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya oleh
suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu. Sinar ultraviolet (UV)
mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm, dan sinar tampak (visible)
mempunyai panjang gelombang 400-750 nm. Metode pengukuran menggunakan
prinsip spektrofotometri adalah berdasarkan absorbsi cahaya pada panjang gelombang
tertentu melalui suatu larutan yang mengandung kontaminan yang akan ditentukan
konsentrasinya. Proses ini disebut absorbsi spektrofotometri, dan jika panjang
gelombang yang digunakan adalah gelombang cahaya tampak, maka disebut sebagai
kolorimetri, karena memberikan warna. Prinsip kerja dari metode ini adalah jumlah
cahaya yang di absorpsi oleh larutan sebanding konsentrasi kontaminan dalam larutan.

Spektrofotometer terdiri atas spektrometer dan fotometer. Spektrofotometer


menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer
adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditranmisikan atau yang diabsorpsi.
Spektrofotometer tersusun atas sumber spektrum yang kontinyu, monokromator, sel
pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blangko dan suatu alat untuk mengukur
pebedaan absorpsi antara sampel dan blangko ataupun pembanding.
2.5.1. Prinsip Kerja dari Spektrofotometer
Prinsip kerja spektrofotometer adalah interaksi antara obat atau molekul
dengan radiasi elektromagnetik (REM) yang energinya sesuai. Interaksi tersebut
dapat membuat molekul suatu obat menghamburkan REM, menyerap REM atau
mengemisikan REM. Apabila terjadi penyerapan REM sebagai interaksi antara
molekul dengan REM, maka akan penyerapan tersebut akan diemisikan oleh
molekul tersebut. Interaksi tersebut akan meningkatkan energi potensi elektron
(eksitasi) pada tingkat aksitan (ground state). Namun, posisi molekul yang
mengalami eksitasi tersebut tidaklah stabil. Sehingga dengan cepat molekul
tersebut akan kembali ke ground state dan akan mengemisikannya. Apabila pada
molekul yang sederhana tadi hanya terjadi transisi elektronik pada suatu macam
gugus maka akan terjadi suatu absorbsi yang merupakan garis spektrum.
2.5.2. Tipe Instrumen Spektrofotometri UV-Vis
Double beam spektrofotometer : mengandung sumber cahaya UV-Visible,
cahaya UV-Visible akan melewati dua sel dan dektetor (photomultipier) untuk
mengetahui banyaknya cahaya yang melewati sel. Prinsip dari spektrofotometer
adalah absorbansi pada panjang gelombang tertentu yang diatur oleh pengguna
dan membaca pajang gelombang UV-Vis yang masuk. Double beam memiliki
variable panjang gelombang atau multiwavelength. Spektrofotometer di kontrol
dan memberikan kemampuan fleksibilitas yang baik, contoh membentuk grafik
kalibrasi untuk menentukan konsentrasi yang tidak diketahui. Kalkulasi dari
spetrofotometer UV-Vis Double beam adalah :

Keterangan I0 = cahaya yang ditransmisikan awal I = Cahya


ditransmisikan pada sampel
Single beam spektrometer UV-vis : Memiliki prinsip yang sama dengan double
beam, tetapi pertama melakukan absropsi terhadap blanko, kemudian bar
sampel yang dideteksi (Rosaleen J. Andreson dkk, 2004). Pada Single beam
berdasarkan pada sinar tunggal yang akan ditentukan jumlahnya pada satu

panjang

gelombang

(Hobart

H.

Willlard

dkk,

1998)

2.5.3. Komponen Spektrofotometer UV-Vis


Sumber cahaya/ radiasi
Dua sumber radiasi yang digunakan dalam spktrofotometer yang mana
diantaranya dapat menyediakan selang panjang gelombang dari 200 - 800 nm.
Untuk pengukuran di atas 320 nm, sumber radiasi dari bahan tungsten halogen
dan pengukuran di bawah 320 nm, sumber radiasi dari bahan deuterium.
Monokromator
Digunakan untuk memperoleh sumber sinar yang monokromatis.
Alatnya dapat berupa prisma ataupun grating. Untuk mengarahkan sinar
monokromatis yang diinginkan dari hasil penguraian ini dapat digunakan celah.
Jika celah posisinya tetap, maka prisma atau gratingnya yang dirotasikan untuk
mendapatkan yang diinginkan.
Sel absorbsi.
Pada pengukuran di daerah tampak kurvet kaca atau kurvet kaca corex
dapat digunakan, tetapi untuk pengukuran pada daerah UV kita harus
menggunakan sel kuarasa karena gelas tidak tembus daerah cahaya pada daerah
ini. Umumnya tebal kurvetnya adalah 10 mm, tetapi yang lebih kecil ataupun
yang lebih besar dapat digunakan. Sel yang digunakan biasanya berbentuk
persegi, tetapi bentuk silinder dapat juga digunakan.
Detektor
Peranan detector penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya
pada berbagai panjang gelombang. Pada spektrofotometer, tabung pengganda
electron yang digunakan prinsip kerjanya telah diuraikan. Setiap detector
menyerap tenaga foton yang mengenainya dan mengubah tenaga tersebut untuk
dapat diukur secara kuantitatif seperti sebagai arus listrik atau perubahanperubahan panas. Kebanyakan detector menghasilkan sinyal listrik yang dapat
mengaktifkan meter atau pencatat. Setiap pencatat harus menghasilkan sinyal
yang secara kuantitatif berkaitan dengan tenaga cahaya yang mengenainya.
Hasil Keluaran
Dalam instrumen manual diperoleh hasil keluaran secara tetap dari
beberapa bentuk yang mana menunjukan transmitansi secara langsung atau
dugunakan sebagai penunjuk nol dalam sirkuit potensiometri. Potensiometri
biasanya dikalibrasi dalam satuan transmitansi dan dalam satuan absorbansi.
Instrumen modern lebih digunakan karena mempunyai hubungan keluaran

digital pada mikroprosesor yang memberikan nilai absorbansi secara langsung


atau dapat dikalibrasi dalam satuan konsentrasi setelah larutan standar diukur

Gambar 1. Komponen Alat Spektrofotometer Uv-Vis


2.5.4. Hukum Lambert-Beer
Jika intensitas cahaya Io pada panjang gelombang tertentu dilewatkan
melalui larutan yang mengandung bahan yang mengabsorpsi cahaya dapat
diukur

dengan

detektor. Hukum

Lambert

Beer

digunakan

untuk

menggambarkan absorpsi cahaya pada panjang gelombang tertentu yang


diberikan oleh absorpsi spesi dalam larutan :

Keterangan :
A
= absorbansi

= absorptivitas molar (L mol -1 cm -1 )


1
= panjang laluan sinar melalui larutan (cm)
c
= adalah konsentrasi spesi (molal)
2.6. Uraian Bahan
2.6.1. Parasetamol (Gennaro, 1990)
Nama Resmi : Acetaminophen
Sinonim
: Paracetamol
RM
: C8H9NO2
BM
: 151,16
Pemerian
: Berupa hablur atau serbuk hablur putih, rasa pahit, berbau,
Kelarutan

serbuk Kristal dengan sedikit rasa pahit.


: Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%)P,
dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan
dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan

OTT

alkalihidroksida.
: ikatan hydrogen pada mekanismenya perah dilaporkan oleh
karena itu parasetamol dihubungkan dengan permukaan dari
nilon dan rayon.

FD

: efek analgesic parasetamol yaitu menghilangkan atau

mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol menurunkan suhu tubuh


dengan mekanisme yang diduga berdasarkan efek sentral. Efek anti
inflamasinya sangat lemah.
Farmakokinetik : Parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran
cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu jam dan masa
paruh plasma antara 1-3 jam.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum Biofarmasetika Farmakokinetika tentang Simulasi Model In Vitro
Farmakokinetika Obat Parasetramol Secara Oral ini dilaksanakan pada hari Kamis, 25

asilcupkndhtgboreyCm10xM2/.DLfSwTPNOH5UV-,387
Oktober 2016 di Laboratorium Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta.


3.2. Alat dan Bahan Praktikum
3.2.1. Alat Praktikum
Membran difusi
Disintegration tester
Syringe
Spektrofotometer UV-Vis
Beaker glass
Labu ukur 10 ml
Mikropipet
Lumpang alu
3.2.2. Bahan Praktikum
Kaplet PCT 500 mg
NaOH

3.3. Prosedur Kerja

Daftar Pustaka

Anief. 1990. Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan. Yogyakarta: GadjahMada University
Press.
Behrman, R. E., R. M. Kliegman, dan M. Arvin. 1996. Ilmu Kesehatan Anak.Edisi 15 Vol. 1.
Jakarta: EGC
Ditjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depkes RI. Jakarta
Hakim, L. 2013. Farmakokinetika. Yogyakarta: Bursa Ilmu
Martin, A., J. Swarbrick, dan A. Cammarata. 1993. Farmasi Fisik Jilid 2.EdisiKetiga.
Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia
Paradkar, A. dan S. Bakliwal. 2008. Biopharmaceutics & Pharmacokinetics. India: Nirali
Prakashan. Publications, Inc.: Hamilton, Illinois.

Ritschel, W.A. 2004. Handbook of Basic Pharmacokinetics, Drug Intelligence.


Shargel, L. dan A. B. C. Yu. 2005.Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.Edisi
Kedua.Surabaya : Airlangga University Press.
Sweetman S.C. 2007. Martindale : The Complete Drug Reference 35th Edition (Electronic
Version). London: The Pharmaceutical Press