Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Teori Dasar Suppositoria
1. Definisi Suppositoria
Menurut Farmakope Indonesia ed. IV suppositoria adalah sediaan padat dalam
berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya
meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Suppositoria vaginal (ovula) umumnya
berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5 g, dibuat dari zat pembawa
yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air, seperti polietilen glikol atau
gelatin tergliserinasi. Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat,
sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar
suppositoria yang umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak
nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul, dan ester asam
lemak polietilen glikol (Depkes RI, 1995).
Bahan dasar suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan zat
terapetik. Lemak coklat cepat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan
cairan tubuh, oleh karena itu menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada
tempat diobati. Polietilen glikol adalah bahan dasar yang sesuai untuk beberapa
antiseptik. Jika diharapkan bekerja secara sistemik, lebih baik menggunakan bentuk ionik
dari pada nonionik, agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum. Meskipun obat
bentuk nonionik dapat dilepas dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air, seperti
gelatin tergliserinasi dan polietilen glikol, bahan dasar ini cenderung sangat lambat larut
sehingga menghambat pelepasan. Bahan pembawa berminyak seperti lemak coklat
jarang digunakan dalam sediaan vagina, karena membentuk residu yang tidak dapat
diserap, Sedangkan gelatin tergliserinasi jarang digunakan melalui rektal karena
disolusinya lambat. Lemak coklat dan penggantinya (lemak keras) lebih baik untuk
menghilangkan iritasi, seperti pada sediaan untuk hemoroid internal.
2. Kuntungan dan Kerugian Penggunaan Sediaan Suppositoria
a. Keuntungan Suppositoria
Dapat digunakan untuk obat yang tidak bisa diberikan melalui rute oral karena
gangguan saluran cerna seperti mual, pasien dalam keadaan tidak sadar, atau

pada saat pembedahan.


Dapat diberikan pada bayi, anak-anak, lansia yang susah menelan, dan pasien

gangguan mental.
Zat aktif tidak sesuai melalui rute oral, misalnya karena efek samping pada
saluran cerna, atau mengalami First Pass Effect (FPE).
1

Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung dan menghindari kerusakan

obat oleh enzim pencernaan.


b. Kerugian Suppositoria
Daerah absorpsinya lebih kecil
Absorpsi hanya melalui difusi pasif
Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang rusak oleh pH di rektum.
Tidak menyenangkan penggunaan pada pasien karena kurang praktis
Absorbsi obat sering tidak teratur dan sedikit diramalkan.
3. Komponen pada Sediaan Suppositoria
a. Zat Aktif :
Zat aktif atau bahan obat yang digunakan dalam sediaan suppositoria
bermacam-macam sesuai efek yang diinginkan apakah efek sistemik atau efek lokal.
Contoh sediaan suppositoria dengan beberapa zat aktif sebagai berikut :
Suppositoria Aminofilin ( HC Ansel,593 )
Suppositoria aspirin ( HC Ansel, 593)
Suppositoria Bisakodil ( BP 2002 )
Suppositoria Teofilin ( BP 2001 )
Suppositoria Indometasin ( BP 2002 hal. 1895)
Suppositoria Paracetamol ( BP 2002 hal. 1895
b. Zat pembawa ( Basis )
Basis suppositoria mempunyai peranan penting dalam pelepasan obat yang
dikandungnya. Salah satu syarat utama basis suppositoria adalah selalu padat dalam
suhu ruangan tetapi segera melunak, melebur atau melarut pada suhu tubuh sehingga
obat yang dikandungnya dapat tersedia sepenuhnya, segera setelah pemakaian (H.C.
Ansel, 1990).
Menurut Farmakope Indonesia IV, basis suppositoria yang umum digunakan
adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran
polietilenglikol (PEG) dengan berbagai bobot molekul dan ester asam lemak
polietilen glikol. Basis suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada
pelepasan zat terapeutik (Depkes RI, 1995)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk basis suppositoria adalah :
Asal dan komposisi kimia
Jarak lebur/leleh
Solid-Fat Index (SFI)
Bilangan hidroksil
Titik pemadatan
Bilangan penyabunan (saponifikasi)
Bilangan iodida
Bilangan air (jumlah air yang dapat diserap dalam 100 g lemak)
Bilangan asam
(Lachman, Teory and Practice of Industrial Pharmacy, 568-569)
Beberapa syarat basis yang ideal antara lain :
melebur pada temperatur rektal
2

tidak toksik, tidak menimbulkan iritasi dan sensitisasi


dapat bercampur (kompatibel) dengan berbagai obat
tidak berbentuk metastabil
mudah dilepas dari cetakan
memiliki sifat pembasahan dan emulsifikasi
bilangan airnya tinggi
stabil secara fisika dan kimia selama penyimpanan
dapat dibentuk dengan tangan, mesin, kompresi atau ekstrusi

Macam-macam basis suppositoria berdasarkan karakteristik fisik (H. C. Ansel,


1990).
1) Basis suppositoria yang meleleh (Basis berlemak)
Basis berlemak merupakan basis yang paling banyak dipakai, terdiri dari
oleum cacao, dan macam-macam asam lemak yang dihidrogenasi dari minyak
nabati seperti minyak palem dan minyak biji kapas.
Menurut USP, oleum cacao merupakan lemak yang diperoleh dari biji
Theobroma cacao yang dipanggang. Secara kimia adalah trigliserida yang
terdiri dari oleapalmitostearin dan oleo distearin. Pada suhu kamar, berwarna
kekuning-kuningan sampai putih padat sedikit redup, beraroma coklat dan
melebur pada suhu 30-36C (H. C. Ansel, 1990).
Kelarutan oleum cacao yaitu mudah larut dalam kloroform, eter,
petroleum spirit, larut dalam etanol panas, sedikit larut dalam etanol 95%.
Stabilitas: pemanasan diatas 36 oC menyebabkan pembentukan kristal
metastabil. Oleum cacao disimpan di suhu < 25 C (HOPE ,ed. IV).
Memiliki bilangan iod sebesar 34 38, dan bilangan asam 4. Mudah
tengik dan meleleh harus disimpan di tempat sejuk dan kering terhindar dari
cahaya (Lachman,575)
Bentuk polimorfisa pada oleum cacao :
Bentuk melebur pada 24C diperoleh dengan pendinginan secara tiba

tiba sampai 0C.


Bentuk diperoleh dari cairan oleum cacao yang diaduk pada suhu 18-23

C titik leburnya 28-31 C


Bentuk stabil diperoleh dari bentuk , melebur pada 34-35 C diikuti

dengan kontraksi volume


Bentuk melebur pada suhu 18C, diperoleh dengan menuangkan oleum
cacao suhu 20C sebelum dipadatkan ke dalam wadah yang didinginkan
pada suhu yang sangat dingin.
Pembentukan polimorfisa tergantung dari derajat pemanasan, proses

pendinginan dan selama proses. Pembentukan kristal non stabil dapat dihindari
dengan cara :
3

Jika massa tidak melebur sempurna, sisa-sisa krsital mencegah

pembentukan krsital non stabil.


Sejumlah kristal stabil ditambahkan ke dalam leburan untuk mempercepat

perubahan dari bentuk non stabil ke bentuk stabil. (istilahnya seeding)


Leburan dijaga pada temperatur 28-32 C selama 1 jam atau 1 hari.

Hal-hal yang harus diperhatikan pada basis lemak :

Gunakan panas minimal pada proses peleburan, < 40C


Jangan memperlama proses pemanasan
Jika melekat pada cetakan gunakan lubrikan
Titik pemadatan oleum cacao terletak 12-13 C dibawah titik leburnya
sehingga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan suppo (menjaga suppo

tetap cair tanpa berubah menjadi bentuk tidak stabil)


Penambahan emulgator seperti tween 61 sebanyak 5-10 % akan
meningkatkan absorpsi air sehingga menjaga zat-zat yang tidak larut tetap

terdispersi/tersuspensi dalam oleum cacao


Kestabilan suspensi dapat ditingkatkan dengan penambahan bahan-bahan
seperti Al monostearat atau silika yang memberikan leburan oleum cacao

bersifat tiksotropik.
Untuk obat-obat yang dapat menurunkan titik lebur oleum cacao seperti
minyak atsiri,creosote, fenol,. Kloralhidrat, digunakan campuran malam

atau spermaceti (lemak ikan paus).


(Lachman,576)
2) Basis suppositoria larut air dan basis yang bercampur dengan air
Basis yang penting dari kelompok ini adalah basis gelatin tergliserinasi
dan basis polietilen glikol. Basis gelatin tergliserinasi terlalu lunak untuk
dimasukkan dalam rektal sehingga hanya digunakan melalui vagina (umum) dan
uretra. Basis ini melarut dan bercampur dengan cairan tubuh lebih lambat
dibandingkan dengan oleum cacao sehingga cocok untuk sediaan lepas lambat.
Basis ini menyerap air karena gliserin yang higroskopis. Oleh karena itu, saat
akan dipakai, suppositoria harus dibasahi terlebih dahulu dengan air.
Polietilen glikol (PEG) merupakan polimer dari etilen oksida dan air,
dibuat menjadi bermacam-macam panjang rantai, berat molekul dan sifat fisik.
Polietilen glikol tersedia dalam berbagai macam berat molekul mulai dari 200
sampai 8000. PEG yang umum digunakan adalah PEG 200, 400, 600, 1000,
1500, 1540, 3350, 4000, 6000 dan 8000. Pemberian nomor menunjukkan berat
molekul rata-rata dari masing-masing polimernya. Polietilen glikol yang
memiliki berat molekul rata-rata 200, 400, 600 berupa cairan bening tidak
4

berwarna dan yang mempunyai berat molekul rata-rata lebih dari 1000 berupa
lilin putih, padat dan kekerasannya bertambah dengan bertambahnya berat
molekul.
Basis polietilenglikol dapat dicampur dalam berbagai perbandingan
dengan cara melebur, dengan memakai dua jenis PEG atau lebih untuk
memperoleh basis suppo dengan konsistensi dan karakteristik yang diinginkan.
PEG menyebabkan pelepasan lebih lambat dan memiliki titik leleh lebih tinggi
daripada suhu tubuh. Penyimpanan PEG tidak perlu di kulkas dan dapat dalam
penggunaan dapat dimasukkan secara perlahan tanpa kuatir suppo akan meleleh
di tangan (Ansel, hal 377).
Suppositoria dengan polietilen glikol tidak melebur ketika terkena suhu
tubuh, tetapi perlahan-lahan melarut dalam cairan tubuh. Oleh karena itu basis
ini tidak perlu diformulasi supaya melebur pada suhu tubuh. Jadi boleh saja
dalam pengerjaannya, menyiapkan suppositoria dengan campuran PEG yang
mempunyai titik lebur lebih tinggi daripada suhu tubuh.
Keuntungannya, tidak memungkinkan perlambatan pelepasan obat dari
basis begitu suppo dimasukkan, tetapi juga menyebabkan penyimpanan dapat
dilakukan di luar lemari es dan tidak rusak bila terkena udara panas. Suppo
dengan basis PEG harus dicelupkan ke dalam air untuk mencegah rangsangan
pada membran mukosa dan rasa menyengat, terutama pada kadar air dalam
basis yang kurang dari 20%. (Ansel hal 377)
PEG
Titik Leleh (C)
1000
37 40
1500
44 48
1540
40 48
4000
50 58
6000
55 63
(HOPE, ed.IV p. 455)
Keuntungan basis PEG (Polietilen Glikol) :
Stabil dan inert
Polimer PEG tidak mudah terurai.
Mempunyai rentang titik leleh dan

kelarutan

yang

luas

shg

memungkinkan formula supo dgn berbagai derajat kestabilan panas dan


laju disolusi yg berbeda
Tidak membantu pertumbuhan jamur
(Teori dan Praktek Industri Farmasi, hal 1174)
Kerugian basis PEG (Polietilen Glikol) :
5

Secara kimia lebih reaktif daripada basis lemak.


Dibutuhkan perhatian lebih untuk mencegah kontraksi volume yang

membuat bentuk suppo rusak


Kecepatan pelepasan obat larut air menurun dengan meningkatnya jumlah

PEG dgn BM tinggi.


Cenderung lebih mengiritasi mukosa drpd basis lemak.(HOPE, hal 455)

Kombinasi jenis PEG dapat digunakan sebagai basis suppositoria dan


memberikan keuntungan sebagai berikut :
Titik lebur suppositoria dapat meningkat shg lebih tahan thd suhu ruangan
yg hangat.
Pelepasan obat tdk tergantung dari titik lelehnya.
Stabilitas fisik dalam penyimpanan lebih baik.
Sediaan suppositoria akan segera bercampur dengan cairan rektal.
(HOPE, hal 455)
3) Basis surfaktan
Surfaktan tertentu disarankan sebagai basis hidrofilik sehingga dapat
digunakan tanpa penambahan zat tambahan lain. Surfaktan juga dapat
dikombinasikan dengan basis lain. Basis ini dapat digunakan untuk
memformulasi obat yang larut air dan larut lemak.
Beberapa surfaktan nonionik dengan sifat kimia mendekati polietilen
glikol dapat digunakan sebagai bahan pembawa suppositoria. Contoh surfaktan
ini adalah ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat.
Surfaktan ini dapat digunakan dalam bentuk tunggal atau kombinasi
dengan pembawa suppositoria lain untuk memperoleh rentang suhu lebur yang
lebar dan konsistensi. Salah satu keuntungan utama pembawa ini adalah dapat
terdispersi dalam air. Tetapi harus hati-hati dalam penggunaan surfaktan, karena
dapat meningkatkan kecepatan absorpsi obat atau dapat berinteraksi dengan
molekul obat yang menyebabkan penurunan aktivitas terapetik.
Keuntungan basis surfaktan :
Dapat disimpan pada suhu tinggi
Mudah penanganannya
Dapat bercampur dengan obat
Tidak mendukung pertumbuhan mikroba
Nontoksik dan tidak mensensitisasi
(Lachman, Teory and Practice of Industrial Pharmacy, 575, 578)
4. Teknik Manufaktur dalam Sediaan Suppositoria
Sediaan suppositoria dapat dibuat dengan menggunakan beberapa metode yaitu
pencetakan dengan tangan, pencetakan dengan kompresi, dan pencetakan dengan
penuangan.
a. Pencetakan dengan Tangan (manual)
6

Pencetakan dengan tangan atau manual merupakan metode yang paling


sederhana, praktis dan ekonomis untuk memproduksi sejumlah kecil sediaan
suppositoria. Caranya dengan menggerus bahan pembawa / basis sedikit demi
sedikit dengan zat aktif, di dalam mortir hingga homogen. Kemudian massa
suppositoria yang mengandung zat aktif digulung menjadi bentuk silinder lalu
dipotong-potong sesuai dengan diameter dan panjangnya. Zat aktif dicampurkan
dalam bentuk serbuk halus atau dilarutkan dalam air. Untuk mencegah melekatnya
bahan pembawa dengan tangan dapat digunakan talk.
b. Pencetakan dengan Kompresi / Cetak Kempa / Cold Compression
Pada pencetakan dengan kompresi, suppositoria dibuat dengan mencetak
massa yang dingin ke dalam cetakan dengan bentuk yang diinginkan. Alat kompresi
ini terdapat dalam berbagai kapasitas yaitu 1,2 dan 5 gr. Dengan metode kompresi,
dihasilkan suppositoria yang lebih baik dibandingkan dengan cara pencetakan
dengan tangan, karena metode ini dapat mencegah sedimentasi padatan yang larut
dalam bahan pembawa suppositoria. Umumnya metode ini digunakan dalam skala
besar dan digunakan untuk membuat suppositoria dengan pembawa oleum cacao.
Beberapa basis yang dapat digunakan adalah campuran PEG 1450-heksametriol1,2,6 sebanyak 6% dan 12% polietilen oksida 4000.
c. Pencetakan dengan penuangan / cetak tuang / fusion
Metode pencetakan dengan penuangan sering juga digunakan untuk
pembuatan skala industri. Teknik ini juga sering disebut sebagai teknik pelelehan.
Cara ini dapat dipakai untuk membuat suppositoria dengan hampir semua pembawa.
Cetakannya dapat digunakan untuk membuat 6 - 600 suppositoria. Pada dasarnya
langkah-langkah dalam metode ini ialah melelehkan bahan pembawa dalam
penangas air hingga homogen, membasahi cetakan dengan lubrikan untuk mencegah
melekatnya suppositoria pada dinding cetakan, menuang hasil leburan menjadi
suppo, selanjutnya pendinginan bertahap (pada awalnya di suhu kamar, lalu pada
lemari pendingin bersuhu 7-10 0C, lalu melepaskan suppo dari cetakan. Cetakan
yang umum digunakan sekarang terbuat dari baj a tahan karat, aluminium, tembaga
atau plastik.
Cetakan yang dipisah dalam sekat-sekat, umumnya dapat dibuka secara
membujur. Pada waktu leburan dituangkan cetakan ditutup dan kemudian dibuka
lagi saat akan mengeluarkan suppositoria yang sudah dingin. Tergantung pada
formulasinya, cetakan suppo mungkin memerlukan lubrikan sebelum leburan
dimasukkan ke dalamnya, supaya memudahkan terlepasnya suppo dari cetakan.
7

Bahan-bahan yang mungkin menimbulkan iritasi terhadap membran mukosa


seharusnya tidak digunakan sebagai lubrikan.
Metode yang sering digunakan pada pembuatan suppositoria baik skala kecil
maupun skala industri adalah pencetakan dengan penuangan (Ansel, 378)
5. Pendekatan Formulasi Dalam Sediaan Farmasi
Apakah untuk tujuan sistemik atau lokal?
a. Suppositoria untuk tujuan sistemik
Zat aktif harus terdispersi baik dalam basis dan dapat lepas dengan baik (pada

kecepatan yang diinginkan) dalam cairan tubuh di sekitar suppositoria.


Jika zat aktif larut air, gunakan basis lemak dengan kadar air rendah.
Jika zat aktif larut lemak, gunakan basis larut air. Dapat ditambahkan surfaktan

untuk mempertinggi kelarutannya.


Untuk meningkatkan homogenitas zat aktif dalam basis sebaiknya digunakan
pelarut yangmelarutkan zat aktif atau zat aktif dihaluskan sebelum dicampur

dengan basis yang meleleh.


Zat aktif yang larut sedikit dalam air atau pelarut lain yang tercampur dalam

basis, dilarutkandulu sebelum dicampur dengan basis.


Zat aktif yang langsung dapat dicampur dengan basis, terlebih dahulu digerus
halus sehingga 100 % dapat melewati ayakan 100 mesh.
Contoh sediaan suppositoria untuk efek sistemik : Asma (efedrin, teofilin,
aminofilin) ; Analgetik dan antiinflamasi (turunan salisilat, parasetamol) ; dan
Antiartritis (fenilbutazon, indometasin) (Lachman, Theory and Practice of

Industrial Pharmacy 3rd ed).


b. Suppositoria untuk efek lokal
Untuk hemoroid, anestetika lokal dan antiseptik (tidak untuk diabsorbsi).
Basis tidak diabsorpsi, melebur dan melepaskan obat secara perlahan-lahan.
Basis harus dapat melepas sejumlah obat yang memadai dalam 1/2 jam, dan
meleleh seluruhnya dengan melepas semua obat antara 4-6 jam agar terjadi

efek lokal dalam kisaran waktu tersebut.


Pilih basis untuk efek local
Obat harus didistribusikan secara homogen dalam basis suppositoria.
Contoh sediaan suppositoria untuk efek lokal : Konstipasi (glisin bisakodil)

Di mana lokasi pemberian suppositoria? Rektal, vaginal, atau uretral?


a. Suppositoria rectal : suppositoria rectal untuk dewasa berbentuk berbentuk lonjong
pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g. Suppositoria
untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. Biasanya suppositoria
rektum panjangnya 32 mm (1,5 inchi), dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya
tajam. Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru,torpedo atau jari-jari
8

kecil, tergantung kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya
menurut USP sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum cacao (Ansel,2005).
Absorbsi obat melalui rektum
Obat diabsorbsi dari bagian bawah rektum dan dihantarkan langsung ke dalam
sirkulasi sistemik, sehingga menghindari first pass effect. Pemasukan suppo yang
terlalu dalam memungkinkan absorbsi melalui vena superior sehingga disarankan
penggunaannya di bagian bawah. Tergantung dari karakter basis, suppositoria akan
larut dalam cairan rektal atau meleleh dalam lapisan mucus, mekanisme absorbsi
obat difusi pasif.

Faktorfaktoryangmempengaruhiabsorpsiobatperrektalialah:
1) Faktor fisiologis: Rektum mengandung sedikit cairan dengan pH 7,2 dan
kapasitas daparnya rendah. Epitel rektum keadaannya berlipoid(berlemak),
maka diutamakan permeable terhadap obat yangtidak terionisasi (obat yang
mudahlarutdalamlemak).
2) Faktorfisikakimiadariobatdanbasis:
Kelarutanobat :Obatyangmudahlarutdalamlemakakanlebihcepat

terabsorpsidaripadaobatyanglarutdalamair.
Kadarobatdalambasis:bilakadarobatnaikmakaabsorpsiobatmakin

cepat.
Ukuranpartikel :ukuranpartikelobatakanmempengaruhikecepatan

larutdariobatkecairanrektal.
BasisSuppositoria:Obatyanglarutdalamairdanberadadalambasis
lemak dilepassegerakecairanrektalbilabasiscepat melepassetelah
masukkedalamrektum,danobatakansegeradiabsorpsidanaksikerja
awalobatakansegeranyata.Obatyanglarutdalamairdanberadadalam
basislarutdalamair,aksikerjaawaldariobatakansegeranyatabilabasis
tadisegeralarutdalamair
9

b. Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot
lebih kurang 5,0 g dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat
bercampur dalam air seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Suppositoria
ini biasa dibuat sebagai pessarium . (Ansel, 2005).
c. Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut bougie.
Bentuknya ramping seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran
urine pria atau wanita. Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3- 6 mm dengan
panjang 140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya.
Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya 4 gram. Suppositoria untuk
saluran urin wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria, panjang 70
mm dan beratnya 2 gram, bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya ( Ansel,
2005).
Bagaimana pemilihan zat aktif, basis, dan bahan tambahan?
a. Pemilihan Obat / Zat Aktif
Dapat diabsorpsi dengan cukup melalui mukosa rektal untuk mencapai kadar

terapeutik dalam darah (absorpsi dapat ditingkatkan dengan bahan pembantu).


Absorpsi zat aktif melalui rute oral buruk atau menyebabkan iritasi mukosa
saluran pencernaan, atau zat aktif berupa antibiotik yang dapat mengganggu

keseimbangan flora normal usus.


Zat aktif berupa polipeptida kecil yang dapat mengalami proses enzimatis pada
saluran pencernaan bagian atas (sehingga tidak berguna jika diberikan melalui

rute oral).
Zat aktif tidak tahan terhadap pH saluran pencernaan bagian atas.
Zat aktif digunakan untuk terapi lokal gangguan di rektum atau vagina.
Sifat dari zat aktif yang mempengaruhi pengembangan produk

suppositoria:
1) Sifat fisik
Zat aktif dapat berupa cairan, pasta atau solida.
Penurunan ukuran partikel dapat meningkatkan bioavailabilitas obat
(melalui peningkatan luas permukaan) dan meningkatkan kinetika disolusi

pada ampula rektal.


Penurunan ukuran partikel dapat menyebabkan pengentalan campuran zat
aktif/eksipien, yang menyebabkan aliran menjadi jelek saat pengisian

suppositoria ke cetakan, dan juga memperlambat resorpsi zat aktif.


Adanya zat aktif berupa kristal kasar (baik karena kondisi zat aktif saat
ditambahkan ke dalam basis atau karena pembentukan kristal) dapat
menyebabkan iritasi permukaan mukosa rektal yang sensitif.
10

2) Kelarutan (solubilitas)
Peningkatan kelarutan zat aktif dalam basis meningkatkan homogenitas
produk, tetapi menyulitkan/mengurangi pelepasan zat aktif jika terjadi

kecenderungan yang besar dari zat aktif untuk tetap berada dalam basis.
Afinitas zat aktif terhadap basis/eksipien dapat diatur dengan derajat

misibilitas dari kedua komponen suppositoria.


b. Pemilihan Basis
Peran utama basis suppositoria :
Menjadikan zat aktif tertentu dapat dibuat dalam bentuk suppositoria yang

tepat dengan karakteristik fisikokimia zat aktif dan keinginan formulator.


Basis digunakan untuk mengatur penghantaran pengobatan pada tempat
absorpsinya.

Karakteristik basis yang menentukan selama produksi:

Ke-inert-an (inertness) : Tidak boleh ada interaksi kimia antara basis dengan

bahan aktif.
Pemadatan : Interval antara titik leleh dengan titik solidifikasi harus optimal.
Jika terlalu pendek maka penuangan lelehan ke dalam cetakan akan sulit; jika
terlalu panjang, waktu pemadatan menjadi lama sehingga laju produksi

suppositoria menurun.
Viskositas : Jika viskositas tidak cukup, komponen terdispersi dari campuran

akan membentuk sedimen, mengganggu integritas dari produk akhir.


Karakteristik basis yang menentukan selama penyimpanan:
Ketidakmurnian : Kontaminasi bakteri / fungi harus diminimalisir dengan

basis yang non-nutritif dengan kandungan air minimal.


Pelunakan : Suppositoria harus diformulasi agar tidak melunak atau meleleh

selama transportasi atau penyimpanan.


Stabilitas : Bahan yang dipilih tidak teroksidasi saat terpapar udara,
kelembapan atau cahaya.

Kriteria pemilihan basis berdasarkan karakteristik fisikokimianya :

Jarak lebur :
Spesifikasi suhu lebur basis suppositoria (terutama basis lemak)
dinyatakan dalam jarak lebur daripada suatu titik lebur. Hal ini karena terdapat
suatu rentang suhu antara bentuk stabil dan tidak stabil, suatu hasil dari
polimorfisme bahan tersebut. Penambahan cairan ke dalam basis umumnya
cenderung menurunkan suhu leleh suppositoria, sehingga disarankan
penggunaan basis dengan suhu leleh lebih tinggi. Sedangkan, penambahan

11

sejumlah besar serbuk fine akan meningkatkan viskositas produk, sehingga

diperlukan basis dengan suhu leleh yang lebih rendah.


Bilangan iodin :
Rancidifikasi (oksidasi) basis suppositoria dapat menjadi massalah.
Karena sensitivitas dari jaringan mukosa rektal, dan potensinya terpapar
lelehan basis suppositoria, maka antioksidan berpotensi mengiritasi tidak
dianjurkan digunakan dalam suppositoria. Untuk mencegah penggunaan
antioksidan, sebaiknya digunakan basis dengan bilangan iodin < 3 (dan lebih

diutamakan < 1).


Indeks hidroksil
Bahan yang memiliki indeks hidroksil rendah juga memberikan stabilitas
yang lebih baik dalam kasus dimana zat aktif sensitif terhadap adanya radikal

hidroksil.
c. Pemilihan bahan pembantu
Meningkatkan penggabungan (inkorporasi) dari serbuk zat aktif
Peningkatan jumlah serbuk zat aktif dapat mengganggu integritas
suppositoria dengan menyebabkan peningkatan viskositas lelehan, sehingga
menghambat alirannya ke dalam cetakan. yang digunakan untuk mengatasi hal
ini yaitu: Mg karbonat, minyak netral (gliserida as lemak jenuh C-8 hingga C

12 dengan viskositas rendah) 10 % dari bobot suppositoria, dan air (1 2 %).


Meningkatkan hidrofilisitas
Penambahan bahan peningkat hidrofilisitas digunakan untuk
mempercepat disolusi suppositoria di rektum, sehingga meningkatkan
absorpsi, jika digunakan dengan konsentrasi rendah. Tetapi, jika digunakan
dalam konsentrasi besar, bahan ini malah menurunkan absorpsi. Bahan
peningkat hidrofilisitas juga dapat menyebabkan iritasi lokal. Contoh bahan ini

yaitu: surfaktan anionik, surfaktan nonionik dan amfoterik, dan gliserida.


Meningkatkan viskositas
Pengaturan viskositas dari lelehan suppositoria selama pendinginan
merupakan titik kritis untuk mencegah sedimentasi. Bahan yang digunakan
yaitu: asam lemak dan derivatnya (Al monostearat, gliseril monostearat, &
asam stearat), alkohol lemak (setil, miristat dan stearil alkohol), serbuk inert

(bentonit & silika koloidal).


Mengubah suhu leleh
Bahan yang digunakan: asam lemak dan derivatnya (gliserol stearat dan
asam stearat), alkohol lemak (setil alkohol dan setil stearat alkohol),
hidrokarbon (parafin), dan malam (malam lebah, setil alkohol, dan malam
carnauba).
12

Mengubah penampilan
Pewarna dapat digunakan untuk berbagai alasan seperti psikologis,
menjamin keseragaman (uniformitas) warna produk dari lot ke lot, untuk
membedakan produk, dan menyembunyikan kerusakan saat pembuatan seperti
eksudasi atau kristalisasi permukaan. Bahan hidrosolubel, liposolubel dan
insolubel serat tidak bersifat mengiritasi mukosa dapat digunakan untuk

mewarnai suppositoria.
Melindungi dari degradasi
Agen antifungi dan antimikroba digunakan jka suppositoria mengandung
bahan asal tanaman atau air. Digunakan asam sorbat atau garamnya jika pH
larutan zat aktif kurang dari 6. p-hidroksibenzoat atau garam natriumnya juga
dapat digunakan. Tetapi, potensi bahan-bahan ini menyebabkan iritasi rektal

perlu dipertimbangkan.
Antioksidan
BHT, BHA, tokoferol dan asam askorbat digunakan untuk mencegah
ketengikan (rancidity) pada formulasi suppositoria yang menggunakan lemak

coklat (cocoa butter).


Mengubah absorpsi
Pada kasus di mana absorpsi obat di rektal amat terbatas, perlu
ditambahkan bahan untuk meningkatkan uptake obat tersebut. Sejumlah bahan
telah digunakan untuk meningkatkan bioavailabilitas dari zat aktif dalam
suppositoria.

Sebagai

contoh

penambahan

enzim

depolimerisasi

(mukopolisakarase) telah dipelajari untuk meningkatkan penetrasi beberapa zat


aktif (Lieberman, Disperse System, thn 1989, vol 2,)
6. Perhitungan Suppositoria
a.
Dosis Replacement
Jika dosis zat aktif yang digunakan < 100 mg (untuk bobot supo 2 g), maka
volume yang ditempati oleh serbuk tidak berubah secara bermakna sehingga tidak
perlu dipertimbangkan. Jika bobot supo yang akan dibuat < 2 g maka volume serbuk
b.

harus diperhitungkan.
Perhitungan jumlah basis
Density Factor Merupakan jumlah gram zat aktif yang setara dengan 1 g

basis. (Dispensing of Medication, Robert E. King).


Replacement Factor / Nilai Tukar adalah jumlah basis yang dapat digantikan
oleh bahan obat. Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui berat lemak
(oleum cacao) yang mempunyai besar volume yang sama dengan 1 gram
bahan aktif obat. Jika f = 0,81 berarti bahwa 0,81 g basis dapat digantikan oleh
1 g bahan obat. f dapat diturunkan dari persamaan berikut : (Lachman,585)
13

f =100 x

( EG)
+1
(G x X)

: Berat Suppositoria yang hanya terdiri dari basis

: Berat Suppositoria dengan zat aktif x % X : % bahan obat

G. x

: Jumlah bahan obat dalam Suppositoria

Berikut ini adalah tabel nilai tukar dari beberapa obat :

Nama Obat
Acidum boricum
Garam alkaloid
Tanninum
Aminoplhylinum
Sulfonamidum
Zinci oxydum

Nilai tukar ol cacao per 1g


0.65
0.7
0.68
0.86
0.60
0.25

Displacement Value adalah jumlah zat aktif yang dapat menggantikan oleum

cacao.
Metoda Paddock (Penetapan Bilangan Pengganti) adalah bilangan yang
menyatakan jumlah basis yang digantikan oleh zat aktif, dikarenakan
perbedaan BJ antara zat aktif dan basis. Misal, akan dibuat suppo dengan 10%

zat aktif, cara penetapan bilangan pengganti :


1) Membuat Suppo basis saja (M1)
2) Membuat Suppo dengan 10% zat aktif (M2)
3) Menghitung basis M2
4) Menghitung jumlah basis pengganti
5) Menghitung bilangan pengganti
7. Perkembangan Terbaru Suppositoria
a. Capsule suppositories (kapsul gelatin lunak dengan berbagai bentuk diisi cairan /
campuran padat obat untuk rektal/vaginal)
b. Coated suppositories (penyalut: PEG, setil alkohol, alkohol, alkohol polivinil,
tween)
c. Layer suppositories (berlapis, bagian dalam titik leleh 34-35oC; bagian luar 3738C; masing-masing berisi obat yang berbeda. Tujuan dibuat berlapis:
Memisahkan obat-obat yang tidak campur
Memberi karakter leleh yang berbeda untuk mengontrol laju absorbsi
Perlindungan dari disintegrasi cepat
Sebagai pelumas
Mencegah lengketnya suppo yang berdekatan selama penyimpanan
d. Tablet suppositories
14

Compressed tablet
Effervescent base tablet
8. Evaluasi dalam Sediaan Suppositoria
a. Appearance
Tes ini lebih ditekankan pada distribusi zat berkhasiat di dalam basis suppo.
Suppo dibelah secara longitudinal kemudian dibuat secara visual pada bagian
internal dan bagian eksternal dan harus nampak seragam. Penampakan permukaan
serta warna dapat digunakan untuk mengevaluasi ketidakadaan:
Celah
Lubang
Eksudasi
Pengembangan lemak
Migrasi senyawa aktif
(Pharmaceutical Dosage Form Disperse System Volume 2, Herbert A.
Lieberman, 1989)
b. Keragaman Bobot
Timbang masing-masing sediaan suppositoria sebanyak 10 buah, diambil
secara acak. Lalu tentukan bobot rata-rata. Tidak lebih dari 2 suppo yang bobotnya
menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari % deviasi, yaitu 5 %. Keragaman bobot
juga merupakan bagian dari uji keseragaman sediaan, dilakukan bila sediaan
mengandung zat aktif 50 mg atau lebih yang merupakan 50% atau lebih dari bobot
sediaan. Jika tidak, keseragaman sediaan ditentukan dengan metode keseragaman
kandungan. (BP 2002, Appendix XII H, FI IV 1995 hal. 999)
c. Uji Disintegrasi Suppositoria
Uji ini perlu dilakukan terhadap suppo kecuali suppo yang ditujukan untuk
pelepasan termodifikasi atau kerja lokal lepas lambat. Suppo yang digunakan untuk
uji ini sebanyak 3 buah. Suppo diletakkan di bagian bawah perforated disc pada
alat disentegrator, kemudian dimasukkan ke silinder yang ada pada alat. Lalu diisi
air sebanyak 4 liter dengan suhu 36-37 oC dan dilengkapi dengan stirer. Setiap 10
menit balikkan tiap alat tanpa mengeluarkannya dari air. Disintegrasi tercapai ketika
suppo :
Terlarut sempurna
Terpisah dari komponen-komponennya, yang mungkin terkumpul di
permukaan air (bahan lemak meleleh) atautenggelam di dasar (serbuk tidak
larut) atau terlarut (komponenmudah larut) atau dapat terdistribusi di satu atau

lebih cara ini.


Menjadi lunak, dibarengi perubahan bentuk, tanpa terpisah sempurna menjadi
komponennya, massa tidak lagi memiliki inti padatan yang membuatnya tahan
terhadap tekanan dari pengaduk kaca.
15

Suppo hancur dalam waktu tidak lebih dari 30 menit untuk suppo basis lemak
dan tidak lebih dari 60 menit untuk suppo basis larut air, kecuali dinyatakan

lain.
(BP 2002, FI IV hal 1087-1088)
d. Berhubungan dengan Pelelehan Suppositoria
Uji Kisaran Leleh
Uji ini disebut juga uji kisaran meleleh makro, dan uji ini merupakan
suatu ukuran waktu yang diperlukan suppositoria untuk meleleh sempurna bila
dicelupkan ke dalam penangas air dengan temperatur tetap (37 oC). Sebaliknya
uji kisaran meleleh mikro adalah kisaran leleh yang diukur dalam pipa kapiler
hanya untuk basis lemak. Alat yang biasa digunakan untuk mengukur kisaran
leleh sempurna dari suppositoria adalah suatu alat disintegrasi tablet USP.

Suppositoria dicelupkan seluruhnya dalam penangas air yang konstan,


dan waktu yang diperlukan unutk meleleh sempurna atau menyebar dalam air

sekitarnya diukur. (Lachman, 1990,)


Uji Pencairan atau Uji Melunak dari Suppositoria Rektal

Uji ini mengukur waktu yang diperlukan suppositoria rektal untuk


mencair dalam alat yang disesuaikan dengan kondisi in vivo. Suatu penyaringan
melalui selaput semi permeabel diikat pada kedua ujung kondensor dengan
masing-masing ujung pipa terbuka. Air pada 37

C disirkulasi melalui

kondensor sehingga separuh bagian bawah pipa kempis dan separuh bagian atas
membuka. Tekanan hidrostatis air dalam alat tersebut kira-kira nol ketika pipa
tersebut mulai kempis. Suppositoria akan sampai pada level tertentu (lihat
gambar pada buku) dan waktu tersebut diukur untuk suppositoria meleleh
dengan sempurna dalam pipa tersebut. (Lachman, 1990,)
e. Uji Kerapuhan Suppositoria

16

Supositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang


menjadikannya sukar meleleh. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji elastisitas.
Supositoria dipotong horizontal. Kemudian ditandai kedua titik pengukuran melalui
bagian yang melebar, dengan jarak tidak kurang dari 50% dari lebar bahan yang
datar, kemudian diberi beban seberat 20N (lebih kurang 2kg) dengan cara
menggerakkan jari atau batang yang dimasukkan ke dalam tabung.
f. Uji Disolusi Suppositoria
Uji disolusi suppositoria dapat menggunakan perangkat uji disolusi basket
atau menggunakan tube dialisis

Pada umumnya supositoria diuji disolusinya dengan alat uji disolusi keranjang
diam dayung berputar yang dimodifikasi. Alat disolusi diatur suhunya pada suhu 37 0
C dengan kecepatan putaran dayung 100 rpm. Media disolusi yang digunakan
adalah dapar fosfat sebanyak 500 mL. Sampel diambil 10 ml setiap selang waktu 2
menit. Setiap pengambilan sample diganti lagi dengan volume yang sama. Sampel
yang diperoleh diukur absorbansinya dan dihitung kadarnya terhadap kadar zat aktif
dalam supositoria
Hasil : Kecuali dinyatakan lain dalam masing- masing monografi, persyaratan
dipenuhi jika jumlah zat aktif yang terlarut dari sediaan yang diuji sesuai dengan
seperti yang tertera dalam masing- masing monografi , dinyatakan dalam presentasi
kadar pada etiket.
g. Uji Kekerasan Suppositoria
Uji kekerasan dirancang sebagai metode untuk mengukur kerapuhan
supositoria. Supositoria dengan bentuk-bentuk yang berbeda mempunyai titik hancur
yang berbeda pula (Lieberman, 1994).

17

Alat yang digunakan untuk uji tersebut terdiri dari suatu ruang berdinding
rangkap dimana suppositoria yang diuji ditempatkan. Bobot suppositoria rusak
adalah titik hancurnya yang menentukan karakteristik kekerasan dan kerapuhan
suppositoria tersebut. Titik hancur yang dikehendaki dari masing-masing bentuk
suppositoria yang beraneka ragam ditetapkan sebagai level yang menahan kekuatan
(gaya) hancur yang disebabkan oleh berbagai tipe penanganan yakni; produksi,
pengemasan, pengiriman, dan pengangkutan dalam penggunaan untuk pasien.
Pencatat waktu dihentikan bila suppositoria sudah hancur (beban telah sampai
pada batas yang ditentukan). Percobaan tersebut dilakukan untuk masing-masing
suppositoria sebanyak 3 kali dan setiap pengukuran menggunakan 10 sediaan. (Leon
Lachman , 1990 , hal. 586-587)
Tes yang digunakan mengunakan tekanan massa (dalam kilogram) untuk
memecahkan suppositoria. Hasil yang baik setidaknya 1.8- 2 kg tekanan.
9. Pengemasan, labelling dan Penyimpanan Suppositoria
a. Pengemasan
Suppositoria gliserin dan gelatin umumnya dikemas dalam wadah gelas

ditutup rapat supaya mencegah perubahan kelembapan suppositoria.


Suppo yang diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus terpisahpisah atau dipisahkan satu sama lainnya pada ceah-celah dalam kotak untuk

mencegah terjadinya kontak antar suppo tersebut dan mencegah perekatan.


Suppo dengan kandungan obat yang peka terhadap cahaya dibungkus satu
persatu dalam bahan tidak tembus cahaya seperti lembaran logam (alufoil).
Beberapa di antaranya dikemas dalam strip kontinyu berisi suppositoria yang
dipisahkan dengan merobek lubang-lubang yang terdapat di antara
suppositoria tersebut. Suppo ini biasa juga dikemas dalam kotak dorong (slide

box) atau dalam kotak plastik. (Howard. C. Ansel, 1990,hal. 385.)


Suppo berbasis oleum cacao dan polimer PEG biasanya masing-masing suppo
dikemas dalam kotak kardus yang dilapisi bahan kedap air. Suppo dapat

dikemas rapat dengan kertas logam atau wadah berlapis kertas lilin.
Suppo yang mengandung bahan mudah menguap seperti fenol dan mentol
harus

dikemas

dalam

wadah

kaca

yang

tertutup

rapat. (HUSAS

Pharmaceutical dispensing, ed. 5, hal. 126)


b. Labelling
18

Label sediaan harus mengandung:


Nama dan jumlah senyawa aktif yang terkandung.
Sediaan tidak boleh ditelan.
Tanggal sediaan tidak boleh digunakan lagi.
Kondisi penyimpanan sediaan.
(BP 2002, hal.1895)
c. Penyimpanan
Karena suppo umumnya dipengaruhi panas, maka perlu menjaga dalam tempat
dingin. Petunjuk penyimpanan dalam ruangan dingin disampaikan kepada
pasien. (HUSAS Pharmaceutical dispensing, ed. 5, hal. 126)
Suppo yang basisnya oleum cacao harus disimpan di bawah 30 0F (-1,1C)

dan akan lebih baik apabila disimpan di dalam lemari es.


Suppo yang basisnya gelatin gliserin baik sekali bila disimpan di bawah

35 0F (1,6C).
Suppo dengan basis polietilen glikol mungkin dapat disimpan pada suhu
ruang biasa tanpa pendinginan.
Suppo yang disimpan dalam lingkungan yang kelembapan nisbinya tinggi

mungkin akan menarik uap air dan cenderung menjadi seperti spon, sebaliknya bila
disimpan dalam tempat yang kering sekali mungkin akan kehilangan kelembapannya
sehingga akan menjadi rapuh. (Howard. C. Ansel, 1990, hal. 385.)
BAB II
PRAFORMULASI
2.1. Data Praformulasi Zat Aktif dan Zat Pembawa (Basis)
1. Zat Aktif ( Teofilin)
Monografi Bahan :
Struktur kimia

Rumus molekul

C7H8N4O2

Nama lain

Pulmophylline,Theoclear, Theophyl.

Nama kimia

Anhydrous theophylline3,7-Dihydro-1,3-dimethylpurine 2,6


(1H)-dione atau 1,3 dimethyl xanthine
19

Berat molekul

180,17 g/mol

Pemerian

Serbuk hablur,putih,tidak berbau,rasa pahit, satbil di udara

Suhu lebur

2700C-2740C

pH

Antara 3 - 6

Kelarutan

Sukar larut dalam air; tetapi mudah larut dalam air panas, dan
mudah larut dalam alkali hidroksida, dan dalam amonium
hidroksida; agak sukar larut dalam etanol, dalam kloroform,
dan dalam eter (FI IV).
1 bagian larut dalam 120 bagian air; 1 bagian larut dalam 80
bagian etanol; 1 bagian larut dalam 200 bagian kloroform;
sangat sedikit larut dalam eter; larut dalam alkali hidroksida
dan dalam amonium hidroksida. (The Pharmaceutical
Codex hal. 1068)

Stabilitas

Tahan panas sampai 135oC, dan pada suhu rendah tidak


stabil. Stabilitas pH pada rentang 3-6. (Handbook of
Injectable Drug hal 1213). Sensitif terhadap cahaya dan
menjadi kuning jika terekspos cahaya dalam jangka waktu
panjang (Codex,1069)

Inkompatibilitas

Inkompatibilitas terhadap clindamisin, eritromisin, morfin,


vitamin B dan C

Susut pengeringan

Bentuk hidrat antara 7,5% dan 9,5%, bentuk anhidrat tidak


lebih dari 0,5%, pengeringan dilakukan pada suhu 105oC
selama 4 jam.

Sisa pemijaran

Tidak lebih dari 0,15%

Khasiat

Spasmolitikum bronkial

Penyimpanan

Dalam wadah tertutup rapat,tidak tembus cahaya (FI IV)

Farmakologi
:
Teofilin adalah obat yang dapat menghambat enzim fosfodiesterase, sehingga
menghasilkan peningkatan konsentrasi jaringan siklik adenosin monofosfat (cAMP),
dimana jika kadar cAMP meningkat dapat menyebabkan bronkodilatasi.

20

Indikasi teofilin adalah untuk bronkodilator pada obstruksi jalan napas


reversibel sehubungan dengan asma atau PPOK; pencegahan dan pengobatan asma

bronkial, asma kardial, dan emfisema paru.


Farmakodinamik :
- Nonselektif kompetitif fosfodiesterase inhibitor, yang meningkatkan intraselular
cAMP, mengaktifkan pKA, menghambat TNF- dan menghambat sintesis
-

leukotrin, sehingga menyebabkan mengurangi peradangan.


Nonselektif adenosin reseptor antagonis, berlawanan dengan A1, A2, dan A3

reseptor yang menjelaskan tentang efek anti asma.


Teofilin telah terbukti dapat menghambat TGF--dimediasi konversi paru
myofibroblas ke dalam PPOK dan asma melalui jalur cAMP-PKA dan menekan

col1 mRNA, kode untuk protein kalogen.


Farmakokinetik
:
- Absorbsi : diabsorbsi dengan baik dalam dosis oral. Dan absorbsi dosis lepas
-

lambat berlangsung lama namun sempurna.


Distribusi : didistribusikan secara luas di cairan ekstraselular, di dalam plasenta,
dalam ASI, dan dalam sistemsaraf pusat. Konsentrasi dalam ASI 70% dari kadar
plasma. Volume distribusi adalah 0,5 L/kg. Mengikat protein sebesar 40%.
Volume distribusi meningkat pada penderita neonatus dan mereka yang
menderita sirosis atau kekurangan gizi. Sedangkan volume distribusi

menurunpada penderita obesitas.


Metabolisme dan Ekskresi : sebagian besar dimetabolisme oleh hati menjadi
kafein yang dapat terakumulasi pada neonatus. Metabolitnya diekskresikan

gagal jantung kongestif atau hati, semakin singkat pada perokok dan anak-anak.
Interaksi Obat
:
- Pemberian bersama barbiturat, fenitoin, dan pada penderita perokok akan
-

melalui ginjal.
Waktu paruh : 3-13 jam, meningkat pada lansia (>60 thn, neonatus dan pasien

meningkatkan metabolisme teofilin.


Obat alopurinol, propanolol, simetidin, eritromisin, dan vaksin influenza dapat

menurunkan metabolisme teofilin


Intoksikasi :
Intosikasi yang fatal lebih sering ditemukan pada penggunaan teofilin, yang
sering terjadi pada pemberian berulang parenteral atau oral. Gejala keracunan
berupa: aritmia, takikardi, sangat gelisah, agitasi, dan muntah. Kematian pada
pemberian teofilin IV dengan cepat disebabkan oleh terjadinya aritmia jantung.
Untuk menghindari keracunan akut, aminofilin IV harus diberikan perlahan-lahan
dalam waktu 20-40 menit.
21

Efek Samping
:
- Pada pemberian oral dapat menimbulkan efek samping: sakit kepala,
gugup,pusing, enek, muntah, dan nyeri epigastrium, serta dapat pula timbul
-

kejang.
Pada pemberian intravena dapat timbul: aritmia jantung, hipotensi, henti

jantung, dan kejang


Pada anak-anak dapat menimbulkan: perangsangan SSP, diuresis, dan demam.

Dosis :
- Anak-anak : Dosis lazim = 10 mg/kg (dibagi dalam 2-3 dosis).
- Dewasa : Dosis lazim = 200 mh (1xp), 500 mg (1xh)
Dosis maksimum = 500 mg (1xp), 1 gr (1xh)
2. Zat Pembawa (Basis)
a. Oleum Cacao
Monografi Bahan :

Pemerian

lemak padat, putih kekuningan, bau khas aromatis, rasa


khas lemah, agak rapuh

Suhu lebur

300C-360C

Kelarutan

sukar larut dalam etanol (95%) mudah larut dalam


kloroform P, dalam eter P, dan dalam eter minyak tanah P.

Stabilitas

Pemanasan oleum cacao lebih dari 36oC selama persiapan


suppositoria

dapat

mengakibatkan

penurunan

titik

pemadatan karena pembentukan kristal meta stabil, hal ini


dapat

menyebabkan

kesulitan

dalam

pengaturan

suppositoria.
Inkompatibilitas

Terjadi reaksi kimia antara basis lemak suppositoria dan


jarang pada obat yang

sama tetapi beberapa potensial,

untuk beberapa indikasi. Reaksi besarnya pada mulai basis


hidrofil.
Polimorfisme

Bentuk (melebur suhu 24oC) = tdk stabil


Bentuk (metastabil) (melebur 28-31oC) = tdk stabil
Bentuk stabil (melebur 34-35oC) = stabil
Bentuk (melebur 18oC) = tdk stabil

Indeks bias

1,4564 sampai 1,4575; penetapan dilakukan pada suhu 40.

Bilangan asam

tidak lebih dari 4,0.


22

Bilangan iodium

35 sampai 40.

Bil. penyabunan

188 sampai 196

Fungsi

Sebagai basis lemak

penyimpanan

Oleum cacao harus disimpan pada temperatur tidak lebih


dari 25oC

Oleum cacao USP, didefinisikan sebagai lemak yang diperoleh dari biji
theobroma cacao yang dipanggang. Secara kimia adalah trigliserida ( campuran
gliserin dan satu atau lebih asam lemak yang berbeda ) terutama oleopalmitostearin
dan oleodistearin. Oleum cacao merupakan basis supositoria yang ideal, yang dapat
melumer pada suhu tubuh tapi tetap dapat bertahan sebagai bentuk padat pada suhu
kamar biasa. Akan tetapi oleh karena kandungan trigliseridanya oleum cacao
menunjukkan sifat polimorfisme atau keberadaan zat tersebut dalam berbagai bentuk
kristal. Oleh karena itu, bila oleum cacao tidak hati hati saat dicairkan pada suhu
yang melebihi suhu minimumnya, lalu segera didinginkan maka hasilnya berbentuk
kristal metastabil (suatu bentuk kristal) dengan titik lebur yang lebih rendah dari
titik lebur oleum cacao asalnya.
Bahan bahan seperti fenol dan kloralhidrat cenderung menurunkan titik lebur
dari oleum cacao sewaktu bercampur dengan bahan tersebut. Jika titik lebur
menurun sedemikian rupa sehingga tidak mungkin lagi dijadikan supositoria yang
padat dengan menggunakan oleum cacao sebagai basis tunggal, maka bahan
pengeras seperti lilin setil ester (+20%) atau malam tawon (+4% ) dapat dilebur
dengan oleum cacao untuk mengimbangi pengaruh pelunakan dari bahan yang
ditambahkan. (Ansel, 1989)
b. Cera Alba
Monografi Bahan :
Nama kimia

Malam putih atau White wax

Titik Lebur

62 65o C

Pemerian

Padatan berwarna kuning sampai coklat keabuan, berbau enak


seperti madu, agak rapuh bila dingin dan bilapatah membentuk
granul, patahan non hablur menjadi lunak oleh suhu tangan

23

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol
(95%) P dingin; larut dalam kloroform P, dalam eter P, dalam
eter hangat, dalam minak lemak, dan minyak atisri.
Ketika dipanaskan sampai 150oC, dapat terjadi esterifikasi

Stabilitas

dengan sejumlah asam. Dan kurang stabil.

2.2.

Inkompatibilitas

dengan bahan pengoksidasi

Konsentrasi

52 55%

Bilangan asam

18 24

Bilangan ester

70 80

Bil. penyabunan

88 104

Kegunaan
Penyimpanan

Stiffening agent
Dalam wadah tertutup baik dan terlindung dari cahaya

Daftar Pustaka

FI IV hal 186, Excipient hal 560

Alasan Pemilihan Bahan


Teofilin
Zat Aktif
Teofilin merupakan zat aktif yang digunakan untuk pengobatan spasme bronkolitik
dan asma. Orang yang terkena asma akan susah untuk diberikan obat secara oral
sehingga zat aktif teofilin perlu dibuat dalam bentuk sediaan suppositoria. Selain itu,
dengan dibuat dalam bentuk sediaan suppositoria dapat mempercepat kerja obat, karena
pada orang asma dibutuhkan efek yang cepat.
Oleum cacao
Basis lemak
Oleum cacao merupakan basis suppositoria yang paling banyak digunakan,
karena memenuhi persyaratan sebagai basis ideal, diantaranya tidak berbahaya,
lunak, tidak reaktif, serta meleleh pada temperatur tubuh tapi tetap dapat
bertahan

sebagai

bentuk

padat

pada

suhu

kamar

biasa

(Lachman,582)..Persyaratan penting lainnya adalah suppositoria yang dihasilkan


memenuhi spesifikasi farmasetika secara umum.
Pada formula ini oleum cacao dipilih karena oleum cacao dapat meleleh
dengan cepat, dan memberikan hasil pelepasan obat yang baik
karena tidak terjadi interaksi antar basis dengan obat ketika
24

dilepas dalam tubuh. Selain itu, oleum cacao tidak bercampur


dengan cairan tubuh sehingga membuat zat aktif (teofilin) langsung dilepaskan
dari basis dan diserap dalam tubuh. Sehingga cepat menimbulkan efek terapi.
Cera album
Basis dan Stiffening Agent
Suhu yang cukup tinggi dapat mempengaruhi stabilitas fisik suppositoria
dengan

basis

oleum

cacao,

karenanya

diperlukan

suatu

bahan

untuk

meningkatkan suhu leburnya. Bahan tersebut dikelompokkan sebagai stiffening


agent.
Cera alba merupakan

stiffening agent yang dapat digunakan untuk

menaikkan dan menurunkan titik leleh oleum cacao. <3% malam putih dapat
menurunkan titik leleh Oleum cacao, sedangkan pada penambahan >5% dapat
menaikkan titik leleh di atas suhu tubuh, dan disarankan penggunaan sebesar 4%.
Penambahan cera alba dalam sediaaan suppositoria ini dapat meningkatkan
suhu lebur suppositoria dalam basis oleum cacao. Penambahan cera alba sekaligus
memperbaiki sifat polimorf oleum cacao agar sediaan suppositoria stabil secara
fisik dan tidak terlalu lunak.
2.3.

Beberapa Permasalahan Karena Pemakaian Oleum Cacao :


Sifat karakteristik dari oleum cacao dimana jika pemanasannya tinggi akan
mencair sempurna seperti minyak dan kehilangan semua inti kristal yang stabil
yang berguna untuk memadat, bila didinginkan di bawah 15 oC akan mengkristal
dalam bentuk kristal metastabil (Anief, 2006).

Oleum caco cenderung lengket pada cetakan

Oleum cacao mudah meleleh dimana titik leburnya 30-36oC

Pada pengisian masa supositoria ke dalam cetakan, oleum cacao cepat membeku
dan pada pendinginan terjadi susut volume hingga terjadi lubang di atas masa
(Anief, 2006).

Oleum cacao mudah mencair dan menjadi tengik selama penyimpanan.

Pengatasan Permasalahan :

Pemanasan oleum cacao tidak boleh melebihi suhu minimumnya. Harus dilebur
perlahan-lahan di atas penangas air berisi air hangat untuk menghindari terjadinya
bentuk kristal yang tidak stabil dan untuk menjamin retensi dalam cairan dari
bentuk kristal yang lebih stabil sehingga akan membentuk inti dimana
pengentalan mungkin terjadi sewaktu pengentalan cairan tersebut (Ansel, 2005)
25

Untuk mencegah lengket pada cetakan maka sebelum digunakan cetakan dilapisi
dengan gliserin.

Untuk meningkatkan titik lebur oleum cacao dapat digunakan tambahan cera alba
tidak lebih dari 5% dan tidak kurang dari 3% (Anief, 2006)

Pada pengisian cetakan harus diisi lebih, baru setelah dingin kelebihannya dipotong
(Anief, 2006).

Oleum cacao harus disimpa pada tempat dingin, kring dan terlindung dari cahaya
(Lachman, 1994)

2.4.

Rancangan Formulasi
Akan dibuat 3 buah sediaan suppositoria dengan menggunakan zat aktif Teophylin
200 mg dengan bobot 1 suppositoria dibuat 3 gram. Basis suppositoria yang digunakan
pada sediaan ini adalah oleum cacao (60 %) dan cera alba (40 %).
Perhitungan bahan :
Suppositoria yang dibuat : 3 + 1 = 4 buah (perhitungan dibuat lebih)
Berat suppositorium
: 3 gram x 4 = 12 gram
Teophylin
: 0,2 gram x 4 = 0,8 gram
Basis
: Berat suppos total zat aktif
: 3 gram 0,2 gram = 2,8 gram x 4 = 11,2 gram
60
x 11,2 gram=6,72 gram
Oleum cacao (60%)
: 100
Ceara alba (40%)

40
x 11,2 gram=4,48 gram
100

Bahan

Penimbangan 1 buah

Penimbangan 4 buah

Teophylin
Oleum Cacao (60%)
Cera Alba (40%)

suppositoria (gram)
0,2 gram
1,68 gram
1,12 gram

suppositoria (gram)
0,8 gram
6,72 gram
4,48 gram

BAB III
FORMULASI
26

c.1.Formulasi
Formula suppositoria teofilin 200 mg adalah :
R/
Teofillin........................................................0,2 gram
Oleum cacao.................................................60 %
Cera alba.......................................................40%
c.2.Perhitungan
Perhitungan bilangan pengganti
a. Berat basis suppositoria (M1)
= 2,58 gram
b. Berat basis + 10% zat aktif (M2) = 2,66 gram
10
10% zat aktif = 100 x 2,66 gram = 0,26 gram
c. Berat basis pada M2

= Berat basis campuran berat zat aktif


= 2,66 gram 0,26 gram =2,40 gram
d. Jumlah bilangan pegganti = Basis M1 Basis M2
= 2,58 gram 2,40 gram = 0,18 gram
Jadi, 0,18 gram basis setara dengan 0,26 gram teofilin
0,2 gram teofilin = 0,18 gram/ 0,26 gram x 0,2 gram
= 0,14 gram
Maka, 0,2 gram teofilin setara dengan 0,14 gram basis
Jadi, jumlah basis untuk 1 suppositoria teofilin = 2,58 gram 0,14 gram = 2,44 gram

Bahan
Teophylin
Oleum Cacao
(60%)
Cera Alba
(40%)

Perhitungan 1 buah

Perhitungan 4 buah

suppositoria (gram)
suppositoria (gram)
0,2 gram
4x 0,2 gram = 0,8 gram
60
4 x 1,464 gram = 5,856
x 2,44 gr=1,464 gram
100
gram
40
4 x 0,976 gram = 3,904
x 2,44 gr=0,976 gram
100
gram

Penimbangan
bahan
0,8013 gram
5,858 gram
3,9175 gram

c.3.Prosedur Pembuatan

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

Disetarakan timbangan

Ditimbang bahan satu per satu


-

Theohyllin

= 0,813 gram

Oleum cacao

= 5,858 gram

Cera alba

= 3,9175 gram

Dileburkan 3,9175 gram cera alba diatas penanggas air sampai melebur sempurna

Dimasukkan 5,858 gram oleum cacao ke dalam hasil peleburan cera alba, kemudian
dileburkan sampai melebur sempurna.
27

Dimasukkan teofilin 0,8 gram kedalam campuran basis, aduk sampai homogen.

Dimasukkan campuran basis dan teofilin kedalam cetakan yang sebelumnya sudah
diolesi dengan gliserin.

Disimpan selama 5 menit didalam lemari pendingin dengan T < 50C

Dikeluarkan suppositoria dari dalam cetakan, jika berlebih potong bagian suppo yang
tumpul.

Pengujian

Sediaanorganoleptis
Suppositoria
Dilakukan evaluasi
dan keseragaman bobot

(Eksternal)

1
2
3 aluminium foil dan masukkan kedalam
Dibungkus
sediaan suppo
teofilin dengan

Bau
Warna

Tidak
berbau
kotak
suppo.

Tidak berbau

Tidak berbau

Putih
kekuningan
Putih
kekuningan
Putih
kekuningan
Diberi
etiket, dan
brosur
lalu simpan
dilemari
pendingin.

Bentuk

Torpedo
Torpedo
Evaluasi
Permukaan c.4.Prosedur
Halus rata
Halus rata
a. Uji Organoleptis

Torpedo
Halus rata

Amati sediaan suppositoria meliputi bau, bentuk, warna, dan


permukaan suppositoria
Dicatat hasil uji organolepti
b. Uji Keseragaman Bobot
Supositoria parasetamol ditimbang satu persatu, kemudian
dicatat masing-masing bobot supositoria
Dihitung dan dicatat % penyimpangan pada hasil evaluasi
keseragaman bobot
BAB IV
EVALUASI
4.1. Hasil Evaluasi Sediaan Suppositoria
1. Hasil Evaluasi Organoleptis
Sediaan Suppo teofilin yang diuji sebanyak 3 buah.

28

2. Hasil Evaluasi Keseragaman Bobot


Sediaan suppo teofilin yang diuji sebanyak 3 buah.
Hasil penimbangan :

Rata-rata Bobot

Sediaan Suppositoria Bobot (gram)


Sediaan 1
2,673 gram
Sediaan 2
2,598 gram
Sediaan 3
2,688 gram
2,653 gram
Perhitungan Standar Deviasi
Sediaan
1
2
3

Bobot (x)
2,673
2,598
2,688

(X-Xrata-rata)

Xrata-rata

(X - Xrata-rata)
0,02
2,653
-0,055
0,035
0,00465

(X - Xrata-rata)2
0,0004
0,003025
0,001225

Keterangan : n = Jumlah sampel; Xi = Bobot tiap sampel; X = Bobot rata-rata

SD =

( XiXrata 2 )2
n1
0,00465
2

0,002325

= 0,04822

(Bobot Suppositoria adalah 2,653 0,04822)


CV (koefisien Variasi) =

Standar Deviasi
x 100
x
0,04822
x 100
2,653

= 1,8175 %
29

Kesimpulan : Sediaan suppositoria telah memenuhi syarat keseragaman bobot


yang baik yaitu CV<5%. (BP 2001)

% Penyimpangan Bobot pada Sediaan Suppositoria


Rumus :
% penyimpangan =

Bobot tiap suppoBobot rata2 suppo


x 100
Bobot ratarata suppo

Persyaratan : Tidak satupun suppositoria yg bobotnya menyimpang >5% dari


bobot rata-ratanya, dan tidak lebih dari 2 suppositoria yg menyimpang >7,5%
dari bobot rata-ratanya.
Sediaan
1
2
3

Bobot

Bobot Rata-rata

2,673 gr
2,598 gr
2,688 gr

%Penyimpanga
n
0,7538%
2,0731%
1,3192%

2,653 gr

3. Tabel Hasil Evaluasi Sediaan Suppositoria


Evaluasi
Uji
Organoleptis

Persyaratan
Bagian eksternal dan
internal menunjukkan
penampakan yang seragam

Hasil
Warna : Putih kekuningan
Bau

: Tidak berbau

Bentuk : Torpedo

Kesimpulan

Baik

Permukaan : Halus rata


Tidak satupun
suppositoria yg bobotnya

Uji

1 = 2,673 gram = 0,7538%

menyimpang >5% dari

2 = 2,598 gram = 2,0731%

bobot rata-ratanya, dan

Keseragaman 3 = 2,688 gram = 1,3192%


Bobot

Bobot rata-rata = 2,653 g


5% = 0,13265 g

tidak lebih dari 2

Baik

suppositoria yg
menyimpang >7,5% dari
bobot rata-ratanya.

30

BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikum Teknologi Sediaan Farmasi II ini, kelompok kami
membuat sediaan suppositoria dengan metode cetak tuang. Suppositoria
adalah suatu bentuk sediaan padat yang pemakaiannya dengan cara
memasukkan melalui lubang atau celah pada tubuh, dimana ia akan
melebur, melunak, atau melarut dan memberikan efek lokal atau sistemik.
Suppositoria yang dibuat pada praktikum kali ini ditujukan untuk efek
sistemik yang dimasukkan melalui rektum. Rektum sering digunakan
sebagai tempat absorpsi secara sistemik. Bahan aktif yang digunakan
pada pembuatan suppositoria ini adalah teofilin. Teofilin memiliki efek
sebagai bronkodilator yang dipakai untuk menghilangkan asma. Teofilin
dirancang dalam bentuk sediaan suppositoria karena biasanya pasien
yang sedang terkena serangan asma sulit untuk diberikan obat secara
oral. Selain zat aktif, suppositoria juga mengandung basis yang memiliki
31

peranan penting dalam pelepasan obat yang dikandungnya. Basis yang


digunakan dalam pembuatan suppositoria ini adalah oleum cacao dan
cera alba dengan proporsi 60% dan 40%.
Teofilin adalah bahan yang larut dalam air panas sehingga jika
digunakan basis berlemak untuk pembuatan suppositoria akan memberi
hasil pelepasan obat yang baik, karena apabila terjadi interaksi antar
basis dengan obat ketika dilepas (misalnya basis berlemak dengan obat
yang larut dengan minyak), maka absorpsi obat akan terganggu atau
malah dicegahnya. Pada pebuatan suppositoria ini, basis yang digunakan
adalah kombinasi oleum cacao dan cera alba. Oleum cacao merupakan
basis lemak yang dapat melebur cepat pada suhu tubuh karena oleum
cacao dapat meleleh pada suhu antara 30 o sampai 36oC namun tetap
dapat bertahan sebagai bentuk padat pada suhu ruang. Oleum cacao
dipilih menjadi basis karena aksi emolien, penyejuk, dan penyebarannya
yang baik. Kombinasi antara oleum cacao dan cera alba ini bertujuan
untuk memperoleh basis dengan kekerasan yang diinginkan untuk
pengangkutan dan penyimpanan serta kualitas yang diinginkan pada saat
dimasukkan ke dalam tubuh untuk pelepasan obatnya. Cera alba yang
juga berfungsi sebagai pengeras ini tidak boleh ditambahkan secara
berlebihan karena dapat mengganggu pelelehan basis supositoria begitu
dimasukkan ke dalam tubuh. Dimana pada penambahan cera alba dengan
konsentrasi kurang dari 3% dapat menurunkan titik leleh oleum cacao. Sedangkan
penambahan lebih dari 5% dapat menaikkan titik leleh oleum cacao.
Supositoria teofilin ini dibuat dengan metode pencetakan. Pada
dasarnya langkah-langkah dalam metode pencetakan adalah:
1.
2.
3.
4.

Melebur basis
Mencampurkan bahan obat yang diinginkan
Menuang hasil leburan ke dalam cetakan
Membiarkan leburan menjadi dingin dan

mengeras

menjadi

supositoria
5. Melepaskan supositoria dari cetakan.
Cetakan supositoria yang digunakan adalah cetakan dari plastik dan
dalam sekali pembuatan dapat menghasilkan tiga supositoria. Cetakan ini
32

dipisahkan dalam sekat-sekat dan dapat dibuka secara membujur untuk


membersihkan sebelum dan sesudah pembuatan satu batch supositoria.
Cetakan yang terbuat dari plastik sangat mudah mendapat goreasan,
sehingga dalam membersihkan cetakan ini harus berhati-hati karena
suatu goresan kecil saja dapat menghilangkan kelicinan supositoria yang
dihasilkan.
Cetakan yang akan dipakai memerlukan pelumasan sebelum
leburan suppositoria

dituangkan ke dalamnya, hal ini dilakukan agar

memastikan cetakan yang dipakai bersih dan memudahkan terlepasnya


supositoria dari cetakan. Bahan yang digunakan untuk melumasi cetakan
tidak boleh menimbulkan iritasi terhadap membran mukosa, salah
satunya gliserin. Gliserin tersebut dioleskan tipis menggunakan jari pada
permukaan cetakan, jika gliserin yang dipakai terlalu banyak akan
menyebabkan permukaan supositoria yang dibuat tidak akan mulus.
Masing-masing cetakan sanggup menampung sejumlah volume
bahan dalam celahnya. Berat supositoria yang dihasilkan pada suatu
cetakan dapat berbeda tergantung isi dari supositoria tersebut. Berat
supositoria dalam suatu cetakan dengan basis yang berbeda akan
menghasilkan

bobot

yang

berbeda

pula,

begitupun

dengan

berat

suppositoria yang berisi basis saja dengan supositoria yang berisi basis
dan obat akan memiliki bobot yang berbeda pula. Hal ini disebabkan oleh
perbedaan berat jenis bahan-bahan tersebut. Maka sebelum supositoria
dibuat perlu dilakukan kalibrasi cetakan agar supositoria tersebut
mengandung jumlah obat yang tepat ukurannya. Langkah pertama dalam
kalibrasi cetakan yaitu membuat dan mencetak supositoria dari basis saja
kemudian menimbang bobot rata-ratanya. Selanjutnya membuat dan
mencetak supositoria yang berisi basis dan zat aktif dengan konsentrasi
tertentu kemudian menimbang bobot rata-ratanya. Setelah itu dihitung
bilangan konversinya.
Dalam pembuatan supositoria, jumlah bahan yang diperlukan
dilebihkan satu atau dua supositoria dari jumlah yang dibutuhkan. Hal ini
bertujuan untuk meyakinkan bahwa bahan untuk membuat supositoria
33

yang diperlukan ini cukup karena biasanya pada pembuatan supositoria


bahan banyak yang tumpah dan menempel di cawan penguap. Jadi untuk
membuat tiga supositoria ini, bahan yang kami timbang setara dengan
bahan

yang

diperlukan

untuk

membuat

empat

supositoria.

Pada

praktikum ini, bobot rata-rata supositoria yang berisi basis saja (M1)
adalah 2,58 g, sedangkan bobot rata-rata supositoria yang berisi basis
dan 10% zat aktif adalah 2,66 g. Maka basis yang ada pada supositoria
dengan zat aktif adalah total bobot supositoria dikurangi zat aktif yang
digunakan (10% dari total bobot) yaitu 2,66 g 0,26 g = 2,40 g basis
pada supositoria dengan zat aktif (M2). Langkah selanjutnya adalah
menghitung jumlah basis pengganti dengan cara mengurangi basis yang
digunakan pada supositoria berisi basis saja (M1) dengan

basis yang

digunakan pada supositoria berisi basis dan zat aktif (M2) yaitu 2,58 g
2,4 g = 0,18 g. Maka didapatkan bilangan konversinya yaitu 0,26 g teofilin
sama dengan 0,18 g basis. Karena berdasarkan resep teofilin yang dipakai
0,2 g maka basis yang dibutuhkan adalah 0,14 g, bilangan ini didapatkan
dari perbandingan:
0,26 g 0,2 g
=
0,18 g
x

x=

0,2 0,18
=0,318 g=0,14 g
0,26

Setelah itu, dapat diketahui basis yang diperlukan untuk satu supositoria
dengan zat aktif 0,2 g adalah 2,58 g 0,14 g = 2,44 g.
Bahan-bahan

kemudian

ditimbang

sesuai

perhitungan.Basis

dileburkan dalam cawan porselen di atas penangas air dengan suhu yang
tidak terlalu tinggi. Hal ini dikarenakan oleum cacao harus melebur
perlahan-lahan di atas penangas air untuk menghindari terjadinya bentuk
kristal yang tidak stabil. Bahan pertama yang dileburkan adalah cera alba
karena titik lelehnya yang lebih tinggi dibandingkan oleum cacao. Setelah
cera alba melebur sempurna, oleum cacao ditambahkan ke dalam cawan
porselen tersebut. Selanjutnya teofilin ditambahkan ke dalam basis yang
34

telah melebur sambil terus diaduk hingga teofilin terdispersi secara


homogen dalam basis. Bahan yang telah melebur kemudian dimasukkan
ke dalam cetakan yang telah dioles tipis gliserin. Setelah itu cetakan
diketuk-ketuk untuk memastikan cetakan sudah terisi penuh oleh leburan.
Pada pengisian leburan ke dalam cetakan, leburan tadi harus dituangkan
berlebih melebihi permukaan cetakan. Hal ini dilakukan untuk menjamin
celah-celah cetakan ini terisi penuh begitu leburan itu membeku, karena
oleum cacao adalah bahan yang cepat membeku dan pada pendinginan
terjadi susut volume hingga terjadi lubang di atas masa.
Cetakan kemudian dimasukkan ke dalam freezer selama kira-kira
tiga menit untuk mempercepat proses pembekuan supositoria. Bila
supositoria telah mengeras, cetakan dikeluarkan dari freezer. Kelebihan
bahan yang telah mengeras kemudian dibersihkan dari permukaan
cetakan

menggunaka

cutter.

Cetakan

dipisahkan

dan

supositoria

dilepaskan dari cetakan. Supositoria yang telah jadi kemudian di evaluasi.


Uji evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui atau memeriksa kualitas dari sediaan
yang telah dibuat. Uji evaluasi yang dilakukan antara lain uji keseragaman bobot dan uji
organolpetis. Evaluasi supositoria yang pertama dilakukan adalah uji
penampilan atau organoleptis seperti bau, warna, bentuk dan permukaan. Hasil dari
evaluasi ketiga supositoria adalah tidak berbau, berbentuk torpedo untuk
mempermudah dalam pemakaiannya, bewarna putih kekuningan yang
merupakan warna dari basis yang digunakan yaitu oleum cacao dan cera
alba, permukaannya halus dan rata. Dari evaluasi tersebut dapat
disimpulkan bahwa penampilan supositoria yang dihasilkan sudah baik,
berarti proses pengerjaan yang dilakukan sudah tepat.
Evaluasi

selanjutnya

adalah

uji

keseragaman

bobot.

Uji

keseragaman bobot ini mengindikasikan kandungan obat yang terdapat dalam


masing-masing sediaan suppositoria tersebut terdistribusi merata dan dapat
memberikan efek terapi yang sama . Persyaratan dari uji keseragaman
bobot ini adalah dari 20 supositoria tidak satupun suppositoria yg
bobotnya menyimpang >5% dari bobot rata-ratanya, dan tidak lebih dari
2 suppositoria yg menyimpang tidak >7,5% dari bobot rata-ratanya.
35

Seharusnya

pada

evaluasi

keseragaman

bobot

ini

digunakan

20

supositoria, namun supositoria yang kami buat hanya tiga, jadi kami
hanya mengevaluasi tiga supositoria saja. Dari ketiga supositoria tersebut
persen penyimpangannya tidak ada yang mencapai 5%. Ketiga supositoria
tersebut memiliki bobot rata-rata 2,653 g dan 5% dari rata-rata
supositoria ini adalah 0,13265 g. Penyimpangan terbesar ada pada
supositoria

kedua

yaitu

sebesar

2,0731%.

Selain

menghitung

penyimpangan, pada uji keseragaman bobot ini kelompok kami juga


menghitung standar deviasi (SD) dan koefisien variasi (CV) yang
digunakan untuk mengukur keseksamaan. Keseksamaan adalah ukuran
yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual, yang
diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata. Dari hasil
perhitungan didapatkan nilai SD adalah

2,6530,04822 dan CV =

1,8175%. Berdasarkan nilai CV yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa keseragaman


bobot sediaan suppositoria kelompok kami adalah baik karena % CV yang didapat < 5 % (BP
2001).
Supositoria dibungkus satu per satu agar mencegah terjadinya
hubungan

antar

supositoria

tersebut

dan

mencegah

perlekatan.

Pembukus supositoria tersebut adalah menggunakan alumunium foil dan


kemudian dimasukan ke dalam kemasan obat berbentuk dus. Pada
kemasan dus tersebut tertera nama dagang yang dipilih oleh kelompok
kami yaitu Teosuppo. Pada kemasan tersebut diberi logo lingkaran biru
yang menandakan obat tersebut termasuk ke golongan obat bebas
terbatas, sama halnya dengan teofilin pada sedian oral lainnya. Bentuk
sediaan supositoria tidak mengubah golongan obat tersebut.
Karena tidak tahan panas, supositoria harus disimpan pada suhu
dibawah 30oC dan lebih baik di dalam lemari es. Supositoria juga harus
disimpan pada kelembapan yang sesuai. Jika disimpan pada kelembapan
yang tinggi akan menyebabkan uap air tertarik dan cenderung menjadi
seperti spon, namun jika disimpan pada tempat yang sangat kering akan
menyebabkan supositoria tersebut menjadi rapuh karena kehilangan
kelembapannya.
36

BAB VI
KESIMPULAN
1. Supositoria yang dibuat berbahan aktif teofilin dan basis yang
dipakai adalah kombinasi oleum cocoa dan cera alba (60:40).
2. Supositoria yang dibuat menggunakan metode cetak yaitu dengan
melebur basis yang digunakan, mencampurkannya dengan bahan
aktif, menuangkan ke cetakan, membiarkannya padat, dan melepas
supositoria tersebut dari cetakan.
3. Pada evaluasi uji penampilan, supositoria yang dihasilkan memiliki
organoleptis atau penampilan yang baik.
4. Pada evaluasi keseragaman bobot, penyimpangan bobot yang
dihasilkan dari supositoria yang dibuat sudah memenuhi syarat
namun karena jumlah supositoria yang diujikan tidak sesuai dengan
yang seharusnya jadi supositoria ini belum bisa dikatakan telah lolos
evaluasi keseragaman bobot.

37

LAMPIRAN
1. Dokumentasi

2. Kemasan Primer
Pembungkus Aluminium Foil
3. Kemasan Sekunder (Dus Kotak) dan Etiket

38

4. Brosur

39

40

Anda mungkin juga menyukai