Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembuahan atau fertilisasi (singami) adalah peleburan dua gamet yang
dapat berupa nukleus atau sel-sel bernukleus untuk membentuk sel tunggal (zigot)
atau peleburan nukleus.
Fertilisasi merupakan suatu proses awal terbentuknya suatu kehamilan .
proses ini berlanjut dengan pembelahan sampai terjadinya implantasi. Seseorang
dapat dinyatakan hamil apabila hasil konsepsi tertanam di dalam rahim ibu, yang
biasa di sebut dengan kehamilan intra uterin. Jika hasil konsepsi tertanam di luar
rahim, hal itu disebut kehamilan ekstra uterin.
Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi
terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita
hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (mingguminggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran).
Embrio atau janin selalu berkembang dalam tubuh atau kandungan ibunya.
Perkembangan janin ini biasanya dibagi menjadi tiga periode triwulan, sebagai
cara memudahkan tahap berbeda dari perkembangan janin. Triwulan pertama
membawa resiko tertinggi keguguran (kematian alami embrio atau janin),
sedangkan pada masa triwulan ke-2 perkembangan janin dapat dimonitor dan
didiagnosa. Triwulan ke-3 menandakan awal 'viabilitas', yang berarti janin dapat
tetap hidup bila terjadi kelahiran awal alami atau kelahiran dipaksakan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Masalah-masalah pada makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa itu fertilisasi dan bagaimana prosesnya?
2. Apa pengertian dari implantasi, bagaimana proses implantasi, dan
apa saja jenis-jenis implantasi?
3. Bagaimana perkembangan janin dalam kandungan selama trimester
I, II, dan III?
1.3

TUJUAN

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:


1. Untuk mengetahui pengertian dan proses fertilisasi.
2. Untuk mengetahui pengertian dari implantasi, proses implantasi,
dan jenis-jenis implantasi.
3. Uuntuk mengetahui perkembangan janin di dalam kandungan
selama trimester I, II, dan III.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Fertilisasi
2.1.1 Pengertian Fertilisasi
Menurut Sri Sudarwati (1990) fertilisasi merupakan proses peleburan dua
macam gamet sehingga terbentuk suatu individu baru dengan sifat genetik yang
berasal dari kedua parentalnya. Sedangkan menurut Wildan Yatim (1990)
fertilisasi merupakan masuknya spermatozoa kedalam ovum. Setelah spermatozoa
masuk, ovum dapat tumbuh menjadi individu baru. Fertilisasi atau pembuahan
adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita yang terjadi di daerah ampula tuba
falopi.
2.1.2 Proses Fertilisasi
Setelah spermatozoa masuk melalui vagina, maka spermatozoa akan
bergerak dengan cepat dari vagina ke rahim dan selanjutnya masuk ke dalam
saluran telur. Pergerakan naik ini disebabkan oleh kontraksi otot-otot uterus dan
tuba. Perlu diingat bahwa pada saat sampai di saluran kelamin wanita,
spermatozoa belum mampu membuahi oosit. Mereka harus mengalami proses
kapasitasi dan reaksi akrosom. Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam
saluran reproduksi wanita yang pada manusia berlangsung kira-kira 7 jam.
Selama waktu itu, suatu gelembung glikoprotein dari protein-protein
plasma semen dibuang dari selaput plasma yang membungkus daerah akrosom
spermatozoa. Hanya sperma yang menjalani kapasitasi yang dapat melewati sel
korona dan mengalami reaksi akrosom.

Reaksi akrosom terjadi setelah

penempelan zona pelusida dan diinduksi oleh protein-protein zona. Reaksi ini
berpuncak pada pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona
pelusida antara lain akrosin dan zat serupa tripsin.
Tahapan-tahapan yang terjadi pada fertilisasi adalah sebagai berikut:
1. Kapasitasi spermatozoa dan pematangan spermatozoa.
Kapasitasi Spermatozoa merupakan tahapan awal sebelum
fertilisasi. Sperma yang dikeluarkan dalam tubuh (fresh ejaculate)
belum dapat dikatakan fertil atau dapat membuahi ovum apabila
belum terjadi proses kapasitasi. Proses ini ditandai pula dengan
adanya perubahan protein pada seminal plasma, reorganisasi lipid

dan protein membran plasma, Influx Ca, AMP meningkat, dan pH


intrasel menurun.
2. Perlekatan spermatozoa dengan zona pelucida.
Zona pelucida merupakan zona terluar dalam ovum. Syarat
agar sperma dapat menempel pada zona pelucida adalah jumlah
kromosom harus sama, baik sperma maupun ovum, karena hal ini
menunjukkan salah satu ciri apabila keduanya adalah individu
yang sejenis. Perlekatan sperma dan ovum dipengaruhi adanya
reseptor pada sperma yaitu berupa protein. Sementara itu suatu
glikoprotein pada zona pelucida berfungsi seperti reseptor sperma
yaitu menstimulasi fusi membran plasma dengan membran
akrosom (kepala anterior sperma) luar. Sehingga terjadi interaksi
antara reseptor dan ligand. Hal ini terjadi pada spesies yang
spesifik.
3. Reaksi akrosom.
Reaksi tersebut terjadi sebelum sperma masuk ke dalam
ovum. Reaksi akrosom terjadi pada pangkal akrosom, karena pada
lisosom anterior kepala sperma terdapat enzim digesti yang
berfungsi penetrasi zona pelucida. Mekanismenya adalah reseptor
pada sperma akan membuat lisosom dan inti keluar sehingga akan
merusak zona pelucida. Reaksi tersebut menjadikan akrosom
sperma hilang sehingga fusi sperma dan zona pelucida sukses.
4. Penetrasi zona pelucida.
Setelah reaksi akrosom, proses selanjutnya adalah penetrasi
zona pelucida yaitu proses dimana sperma menembus zona
pelucida. Hal ini ditandai dengan adanya jembatan dan
membentuk protein actin, kemudian inti sperma dapat masuk. Hal
yang mempengaruhi keberhasilan proses ini adalah kekuatan ekor
sperma (motilitas), dan kombinasi enzim akrosomal.
5. Bertemunya sperma dan oosit.
Apabila sperma telah berhasil menembus zona pelucida,
sperma akan menenempel pada membran oosit. Penempelan ini
terjadi pada bagian posterior (post-acrosomal) di kepala sperma
yang mengandung actin. Molekul sperma yang berperan dalam
proses tersebut adalah berupa glikoprotein, yang terdiri dari

protein fertelin. Protein tersebut berfungsi untuk mengikat


membran plasma oosit (membran fitelin), sehingga akan
menginduksi terjadinya fusi.
6. Aktivasi ovum sebelum sperma bertemu oosit.
Ovum pada kondisi metafase sebelum bertemu dengan
sperma harus diaktifkan terlebih dahulu. Faktor yang berpengaruh
karena adanya aktivasi ovum adalah konsentrasi Ca, kelengkapan
meiosis II, dan Cortical Reaction, yaitu reaksi yang terjadi pada
ovum, eksosotosis, dan granula pendek setelah fusi antara sperma
dan oosit.
7. Reaksi zona untuk menghadapi sperma yang masuk setelah
penetrasi.
Reaksi ini dikatalisis oleh protease yaitu mengubah struktur
zona pelucida supaya dapat memblok sperma. Protein protease
akan membuat zona pelucida mengeras dan menghambat sperma
lain yang masuk zona pelucida. Melalui proses inilah ovum
menyeleksi sperma dan hanya satu sperma yang masuk dalam
ovum. Sehingga apabila sudah ada satu sperma yang masuk,
dengan sendirinya ovum akan memblok sperma lain yang ingin
masuk dalam ovum. Akan tetapi apabila ovum tidak dapat
memblok sperma lain yang masuk, maka sperma yang masuk
akan lebih dari satu. Hal ini menyebabkan rusaknya reseptor
sperma dan kondisinya menjadi toxic sehingga akan terjadi gagal
embrio. Keadaan seperti ini dinamakan Polyspermy.
8. Fertilisasi.
Sperma dan ovum akhirnya berfusi dan fertilisasi terjadi.
Akhir dari fertilisasi akan terbuntuk suatu zigot, embrio,
kemudian individu baru.

Gambar proses fertilisasi


Saat fusi antara sel membran sperma dengan sel telur sudah terjadi maka
terjadi 3 peristiwa penting pada oosit : :
1. Depolarisasi membran sel telur sehingga terjadi blokade primer terhadap
polispermia (spermatozoa lain tak dapat masuk kedalam sel telur). Hanya
satu pronukelus pria yang dapat ber fusi dengan pro nukleus wanita dan
menjaga keadaan diploid dari zygote.
2. Reaksi kortikal. Menyebabkan zona pellucida menjadi keras sehingga
mencegah sperma lain untuk berikatan dengan zona pellucida.
Terjadi blokade sekunder terhadap polispermia.
3. Pembelahan meiosis II pada sel telur. Badan polar II terbentuk dan
dikeularkan dari sel telur sehingga memastikan bahwa pronukelus wanita
bersifat haploid. Sekali lagi, hal ini akan menjaga agar zygote tetap
diploid. Kegagalab untuk menjaga sifat diploid pada hasis konsepsi sering
menyebabkan kegagalan proses kehamilan.
Setelah zigot terbentuk, maka zigot yang terbentuk tersebut bergerak
menuju uterus sambil membelah diri menjadi dua, empat, delapan, dan seterusnya,
pada saat embrio mencapai 32 sel dan memiliki bentuk seperti buah arbei, disebut
morula.
Selanjutnya, morula berkembang menjadi blastula. Lalu, sel-sel bagian
dalam membentuk bakal janin (embrioblas), dan sel-sel bagian luar membentuk

trofoblas yang akan membentuk plasenta. Pada hari keenam, embrio tiba di uterus,
kemudian membenamkan diri ke dinding uterus yang lunak, tebal, dan lembut
serta mengandung sekret seperti air susu. Proses perlekatan embrio ke dinding sel
ini disebut implantasi. Embrio terus tumbuh dan berkembang membentuk manusia
yang seutuhnya, artinya kehamilan sedang berlangsung.
2.2 Nidasi (Implantasi)
2.2.1 Pengertian nidasi (implantasi)
Nidasi/ implantasi adalah proses menempelnya embrio (tahap blastosis)
pada endometrium induk (dinding rahim) sehingga terjadi hubungan antara
selaput ekstra embrionik dengan selaput lendir rahim (Poernomo, dkk., 2005)
Nidasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium.
Blastula diselubungi oleh sutu sampai disebut trofoblas, yang mampu
menghancurkan dan mencairkan jaringan. Ketika blastula mencapai rongga rahim,
jaringan endometrium berada dalam masa sekresi. Jaringan endometrium ini
banyak mengandung sel sel desidua yaitu sel sel besar yang mengandung
banyak glikogen serta mudah dihancurkan oleh trofoblas.
2.2.2 Proses nidasi (implantasi)
Beberapa jam pasca fertilisasi, penyatuan nukleus akan membentuk zigot
dan selanjutnya dalam waktu 3 4 hari sudah terbentuk sebuah masa solid
berbentuk seperti bola yang disebut morula. Morula dengan cepat berjalan
didalam Tuba Falopii menuju rongga uterus. Selama perjalanannya, melalui
kanalikuli zona pellucida masuk sejumlah cairan membentuk rongga cairan dalam
morula sehinga terbentuk blastosis. Setelah mencapai rongga rahim, zona
pellucida mengembang dan menipis. Blastosis akan menempel dan segera masuk
kedalam stroma endometrium. Sekitar 50% bagian blastosis berada dalam
endometrium. Peristiwa terpautnya blastosis pada stroma endometrium uterus
induk

disebut

implantasi

(nidasi).

Penempelan

blastosis

endometrium yang terjadi pada hari ke 6-7 (akhir minggu pertama).

pada

dinding

Gam
bar perjalanan zigot menjuju ke rahim untuk melakukan proses
implantasi (nidasi)
Bagian yang pertama kali menyentuh endometrium uterus adalah kutub
animal (kutub embrionik), yaitu kutub tempat terdapatnya inner cell mass. Pada
waktu itu sel-sel trofoblas mensekresikan enzim-enzim proteolitik yang akan
menghancurkan epitelium uterus sebagai jalan untuk penetrasinya zigot ke dalam
endometrium. Setelah terbentuk jalan masuk, Sel trofoblas superfisial
mengalami diferensiasi menjadi sitotrofoblas (lapisan dalam) dan sinsitiotrofoblas
(lapisan luar).
Perkembangan embrio manusia pada hari ke-8, blastosis tertanam di dalam
stroma endometrium. Trofoblas berdiferensiasi menjadi dua lapisan yaitu
sitrotrofoblas dan sinsitrofoblas. Embrioblas juga berdiferensiasi menjadi sel kecil
kuboid berdampingan dengan rongga blastosis(hipoblas) dan satu lapisan sel
silinder tinggi bersebelahan dengan ruang amnion (epiblas). Pembentukan cakram
datar (cakram mudigah bilaminer). Rongga kecil muncul di dalam epiblas menjadi
rongga amnion. Sroma endometrium tempat implantasi dan sekitarnya tampak
edema dan hipervaskuler. Kelenjarnya berkelok-kelok dan mengeluarkan banyak
glikogen dan mucus.

Perkembangan embrio manusia pada hari ke-9, blastosis semakin dalam


terbenam didalam endometrium. Trofoblas mengalami perkembangan pada kutub
embrionalnya dimana vakuola-vakuola pada sinsitrofoblas dan membentuk
lacuna-lakuna (tahap lakunasi). Pada kutub abembrional terbentuk selaput tipis
(selaput eksoselom) yang melapisi sitotrofoblas. Selaput ini bersama hipoblas
membentuk rongga ekoselom (yolk sac /kantung kuning telur).

Gambar 3. Implantasi Blastosis Hari ke-9


Blastosis telah terbenam seluruhnya pada hari ke-10-12. Pada saat yang
sama, sel-sel sinsitrofoblas menembus lebih dalam ke stroma dan merusak lapisan
endotel kapiler ibu. Pembuluh darah ini tersumbat dan kemudian melebar
(sinusoid). Karena trofoblas terus merusak sinusoid, darah ibu mulai mengalir
melalui sistem trofoblas sehingga terjadi sirkulasi uteroplasma. Sekelompok sel
baru muncul di antara permukaan dalam trofoblas dan permukaan luar rongga
eksoselom yang berasal dari yolk sac membentuk jaringan penyambung halus dan
longgar.

Gambar 4. Implantasi Blastosis hari ke 10

Gambar 5. Implantasi Blastosis hari ke-12


2.2.3 Tipe-tipe implantasi
Berdasarkan atas kedalaman proses implantasi maka implantasi dapat
dibedakan atas beberapa bagian, yaitu:
1. Superfisial: embrio menempel pada permukaan epitel endometrium.
Misalnya: pada kambing, babi, sapi, kuda.

10

2. Eksentrik: embrio menembus sedikit lebih dalam ke dalam


endometrium uterus. Misalnya: pada anjing, kucing, tikus.

3. Interstitial: embrio mengerosi (menggerogoti) endometrium


uterus

dan

akhirnya

seluruh

embrio

tertanam

di

dalam

endometrium. Misalnya: pada manusia, simpanse, marmot.

2.3. Perkembangan Janin Dalam Kandungan Mulai Dari Trimseter I, II, dan
III
Manusia terbentuk diawali oleh pertemuan sebuah sel telur (ovum) dengan
sebuah sel sperma (spermatozoa). Pertemuan ini menghasilkan noktah yang
disebut zigot. Di dalam perut ibu, zigot lama-kelamaan akan tumbuh berkembang
menjadi janin. Pada manusia, proses pertumbuhan janin di dalam perut ibu dibagi
menjadi tiga tahap, yaitu pertumbuhan janin trimester pertama, trimester kedua,
dan trimester ketiga. Satu trimester itu adalah selama 13 minggu atau kurang lebih
tiga bulan.
2.3.1 Perkembangan janin pada trimester I (pertama)
Trimester I ( 0-12 minggu)

11

1. Minggu ke-0: Sperma membuahi ovum kemudian hasil konsepsi


membagi menjadi dua, empat, delapan setelah menjadi morulla
masuk untuk menempel 11 hari setelah konsepsi.
2. Minggu ke-4/bln ke-1: Dari embrio, bagian tubuh pertama muncul
adalah tulang belakang, otak dan syaraf, jantung, sirkulasi darah dan
pencernaan terbentuk.
3. Minggu ke-8/bln ke-2 : Perkembangan embrio lebih cepat, jantung
mulai memompa darah.
4. Minggu ke-12/bln ke-3: Embrio

janin. Denyut jantung janin

dapat dilihat dengan pemeriksaan Ultrasonografi (USG), berbentuk


manusia, gerakan pertama di mulai, jenis kelamin sudah bisa di
tentukan, ginjal sudah mempoduksi urine.
Perkembangan janin selama trimester pertama secara ringkas dapat dilihat
dalam tabel berikut:

4 Minggu
Panjangnya kurang
dari 1/10 inci
Awal
perkembangan
susunan tulang
belakang, sistem
saraf, usus,
jantung, dan paruparu
Katung amniotis
membungkus
lapisan dasar
seluruh tubuh
Disebut telur
(ovum)

8 Minggu
Panjangnya kurang
dari 1 inci
Wajah sudah
berbentuk dengan
mata, telinga,
mulut, dan pucuk
gigi yang belum
sempurna
Lengan dengan
kaki bergerak
Otak mulai
terbentuk
Denyut jantung
janin dapat
dideteksi dengan
ultrasound
Disebut embrio

12

12 Minggu
Panjangnya
sekitar 3 inci
dan beratnya
sekitar 1 ons
Dapat
menggerakkan
lengan, kaki,
jari tangan, dan
jari kaki.
Sidik jari
muncul
Dapat
tersenyum,
memberengut,
mengisap, dan
menelan
Jenis kelamin
dapt dibedakan
Dapat kencing
Disebut fetus
(janin)

2.3.2 Perkembangan janin pada trimester II (ke dua)


Trimester II (13-28 minggu)
1. Minggu ke-16/bln ke-4: Sistem muskuloskeletal matang, sistem saraf
terkontrol, pembuluh darah berkembang cepat, denyut jantung janin
terdengar lewat doppler, pancreas memproduksi insulin.
2. Minggu ke-20/bln ke-5: Lanugo menutupi tubuh, janin membuat jadwal
untuk tidur, menelan dan menendang.
3. Minggu ke-24/bln ke-6: Kerangka berkembang cepat, perkembangan
pernafasan dimulai.
4. Minggu ke-28/bln ke-7: Janin bernafas, menelan dan mengatur suhu, mata
mulai buka dan tutup, bentuk janin 2/3 bentuk saat lahir
Tabel ringkasan perkembangan janin selama trimester ke II (dua)

16 Minggu
Panjang sekitar 5,5
inci dan beratnya 4
ons
Denyut jantung
kuat
Kulit tipis, tembus
pandang
Rambut halus
(lanugo) menutup
tubuh
Kuku jari tangan
dan kuku jari kaki
sudah berbentuk
Gerakan-gerakan
terkoordinasi,
dapat berguling di
dalam cairan
amniotis

20 Minggu
Panjangnya 10-12
inci dan beratnya
0,5-1 pon
Denyut jantung
dapat didengar
dengan stetoskop
biasa
Menghisap ibu jari
Tersedak
Rambut, bulu
mata, dan alis
mata mulai
muncul

24 Minggu
Panjangnya 1114 inci dan
beratnya 1-1,5
pon
Kulit mengkerut
dan tertutup
dengan lapisan
pelindung
(vernix caseosa)
Mata sudah
terbuka
Meconium
berkumpul di
dalam usus
besar
Mampu
memegang
dengan kuat

2.3.2 Perkembangan janin pada trimester III (ke tiga)


Trimester III (29-42 minggu)
1. Minggu ke-32/ bln ke-8: Lemak coklat berkembang di bawah kulit, mulai
simpan zat besi, kalsium dan fosfor.

13

2. Minggu ke-38/bln ke-9: Seluruh uterus digunakan bayi sehingga tiak bisa
bergerak banyak, antibody ibu di transfer ke bayi untuk mencapai
kekebalan untuk 6 bulan pertama sampai kekebalan bayi bekerja sendiri.
(prawirohardjo, 1999).
Tabel ringkasan perkembangan janin pada trimester ke III

28 Minggu
Panjangnya 14-17
dan beratnya 2,5-3
ons
Bertambah lemak
tubuh
Sangat aktif
Gerakan
pernapasan yang
belum sempurna
muncul

32 Minggu
Panjangnya 16,518 inci dan
beratnya 4-5 pon
Memiliki periode
tidur dan bangun
Berada dalam
posisi lahir
Tulang kepal
lembut dan lentur
Zat besi disimpan
di dalam hati

14

36-38 Minggu
Panjangnya 19
inci dan
beratnya 6 pon
Kulit kurang
mengkerut
Vernix caseosa
tipis
Lanugo
umumnya
hilang
Kurang aktif
Memperoleh
kekebalan dari
ibu

Gambar perkembangan janin mulai dari janin berusia 6 minggu sampai 38 minggu
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari materi yang telah dibahas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Fertilisasi atau pembuahan adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita
yang terjadi di daerah ampula tuba falopi. Tahapan-tahapan yang terjadi
pada

fertilisasi

adalah:

kapasitasi

spermatozoa

dan

pematangan

spermatozoa, perlekatan spermatozoa dengan zona pelucida, reaksi


akrosom, penetrasi zona pelucida. bertemunya sperma dan oosit, aktivasi
ovum sebelum sperma bertemu oosit, reaksi zona untuk menghadapi
sperma yang masuk setelah penetrasi, fertilisasi.
2. Nidasi/implantasi adalah adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi
ke dalam endometrium. Berdasarkan atas kedalaman proses implantasi
maka implantasi dapat dibedakan atas beberapa bagian, yaitu: superfisial,
eksentrik, dan nterstitial.
3. Pada manusia, proses pertumbuhan janin di dalam perut ibu dibagi
menjadi tiga tahap, yaitu pertumbuhan janin trimester pertama, trimester
kedua, dan trimester ketiga. Satu trimester itu adalah selama 13 minggu
atau kurang lebih tiga bulan.
3.2 Saran
Materi ini harus selalu dibaca karena memuat hal-hal yang sangat
bermanfaat bagi semua orang khususnya bagi para inu dan juga calon ibu. Oleh
karena itu saran kami sebagai penulis, agar para pembaca dapat lebih memahami
materi ini maka pertama yang harus kita pahami yaitu tentang sistem reproduksi,
bagaimana pembentukan gamet (gametogenesis) dan berbagai materi lainnya.

15