Anda di halaman 1dari 17

TUMOR MEDULA SPINALIS

A. PENDAHULUAN
Medula

spinalis

tersusun

dalam

kanalis

spinalis

dan

diselubungi oleh sebuah lapisan jaringan konektif, dura mater.


Tumor medula spinalis merupakan suatu kelainan yang tidak
lazim, dan hanya sedikit ditemukan dalam populasi. Namun, jika
lesi tumor tumbuh dan menekan medula spinalis, tumor ini dapat
menyebabkan

disfungsi

anggota

gerak,

kelumpuhan

dan

hilangnya sensasi.1,2

Gambar 1. Diagram otak, tulang belakang dan medulla spinalis. Pembesaran gambar menunjukkan struktur dari medulla spinalis

B. KLASIFIKASI
Tumor pada medulla spinalis dapat dibagi menjadi tumor
primer dan tumor metastasis. Kelompok yang dominan dari

tumor medula spinalis adalah metastasis dari proses keganasan


di tempat lain. Tumor medula spinalis dapat dibagi menjadi tiga
kelompok,

berdasarkan

letak

anatomi

dari

massa

tumor.

Pertama, kelompok ini dibagi dari hubungannya dengan selaput


menings spinal, diklasifikasikan menjadi tumor intradural dan
tumor ekstradural. Selanjutnya, tumor intradural sendiri dapat
dibagi menjadi dua kelompok yaitu tumor yang tumbuh pada
substansi

dari

medula

spinalis

itu

sendiri

intramedullary

tumours- serta tumor yang tumbuh pada ruang subarachnoid


(extramedullary).3
Ekstra dural

Intradural

Intardural

ekstramedular

intramedular

Chondroblastoma

Ependymoma,

tipeAstrocytoma

Chondroma

myxopapillary

Ependymoma

Hemangioma

Epidermoid

Ganglioglioma

Lipoma

Lipoma

Hemangioblastoma

Lymphoma

Meningioma

Hemangioma

Meningioma

Neurofibroma

Lipoma

Metastasis

Paraganglioma

Medulloblastoma

Neuroblastoma

Schwanoma

Neuroblastoma

Neurofibroma

Neurofibroma

Osteoblastoma

Oligodendroglioma

Osteochondroma

Teratoma

Osteosarcoma
Sarcoma
Vertebral
hemangioma
Table

distribusi

anatomi

dari

berdasarkan gambaran histologisnya.

tumor

medulla

spinalis

Gambar 2, letak tumor medulla spinalis, ed = ekstradural;


ie = intradural ekstramedular; ii = intradural
intramedular*
C. ETIOLOGI
Patogenesis

dari

neoplasma

medula

spinalis

belum

diketahui, tetapi kebanyakan muncul dari pertumbuhan sel


normal pada tempat tersebut. Riwayat genetik terlihat sangat
berperan dalam peningkatan insiden pada keluarga tertentu atau
syndromic

group

(neurofibromatosis).

Astrositoma

dan

neuroependymoma merupakan jenis yang tersering pada pasien


dengan neurofibromatosis tipe 2, yang merupakan kelainan pada
kromosom 22. Spinal hemangioblastoma dapat terjadi pada 30%
pasien dengan von hippel-lindou syndrome sebelumnya,yang
merupakan abnormalitas dari kromosom 3.2
D. EPIDEMOLOGI
Insiden dari semua tumor primer medula spinalis sekitar 10%
sampai 19% dari semua tumor primer susunan saraf pusat.

(SSP), dan seperti semua tumor pada aksis saraf, insidennya


meningkat seiring dengan umur. Prevalensi pada jenis kelamin
tertentu hampir semuanya sama, kecuali pada meningioma yang
pada umumnya terdapat pada wanita, serta ependymoma yang
lebih sering pada laki-laki. Sekitar 70% dari tumor intradural
merupakan ekstramedular dan 30% merupakan intramedular. 4-6
Histologi

Insiden

Tumor sel glia


Ependymoma
Astrositoma
Schwanoma
Meningioma
Lesi vascular
Chondroma/chondrosarkoma
Jenis tumor yang lain
Table

2.

distribusi

23 %
13%-15%
7%-11%
22%-30%
25%-46%
6%
4%
3%-4%

insiden

tumor

primer

medulla

spinalis

berdasarkan histology
Jenis tumor
Schwanoma
Meningioma
Ependymoma

Total insiden
53,7 %
31,3%
14,9%

Umur

Jenis kelamin

Lokasi
anatomis
40-60 tahun > Laki-laki
>lumbal
40-60 tahun >perempuan
>thorakal
<>
Laki-laki=perempuan >lumbal

Tabel 3, distribusi tumor intradural ekstramedular berdasarkan umur, jenis


kelamin dan lokasi tersering.*
Lokasi

Insiden

Thorakal
50%-55%
Lumbal
25%-30%
Servikal + Foramen magnum 15%-25%
Tabel 4, insiden tumor primer medulla spinalis berdasarkan lokasi
Tumor

intradural

ependymoma,

intramedular
astrositoma

yang
dan

tersering

adalah

hemangioblastoma.

Ependymoma merupakan tumor intramedular yang paling sering


pada orang dewasa. Tumor ini lebih sering didapatkan pada
orang dewasa pada usia pertengahan(30-39 tahun) dan lebih
jarang terjadi pada usia anak-anak. insidensi ependidoma kirakira sama dengan astrositoma. Dua per tiga dari ependydoma
muncul pada daerah lumbosakral.4,8
Diperkirakan 3% dari frekuensi astrositoma pada susunan saraf
pusat tumbuh pada medula spinalis. Tumor ini dapat muncul
pada semua umur, tetapi yang tersering pada tiga dekade
pertama. Astrositoma juga merupakan tumor spinal intramedular
yang tersering pada usia anak-anak, tercatat sekitar 90% dari
tumor intramedular pada anak-anak dibawah umur 10 tahun, dan
sekitar 60% pada remaja. Diperkirakan 60% dari astrositoma
spinalis berlokasi di segmen servikal dan servikotorakal. Tumor
ini jarang ditemukan pada segmen torakal, lumbosakral atau
pada conus medialis.5
Hemangioblastoma merupakan tumor vaskular yang tumbuh
lambat dengan prevalensi 3% sampai 13% dari semua tumor
intramedular medula spinalis. Rata-rata terdapat pada usia 36
tahun, namun pada pasien dengan von Hippel-Lindau syndrome
(VHLS) biasanya muncul pada dekade awal dan mempunyai
tumor yang multipel. Rasio laki-laki dengan perempuan 1,8 : 1. 4
Tumor

intradural

ekstramedular

yang

tersering

adalah

schwanoma, dan meningioma. Berdasarkan table 3, schwanoma


merupakan jenis yang tersering (53,7%) dengan insidensi lakilaki lebih sering dari pada perempuan, pada usia 40-60 tahun
dan tersering pada daerah lumbal.4

Meningioma
kelompok

merupakan

tumor

intradural-ekstramedullar

kedua
tumor.

tersering

pada

Meningioma

menempati kira-kira 25% dari semua tumor spinal. Sekitar 80%


dari spinal meningioma terlokasi pada segmen thorakal, 25%
pada daerah servikal, 3% pada daerah lumbal, dan 2% pada
foramen magnum.5,9
E. GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinik dari tumor pada aksis spinal tergantung dari
fungsi pada daerah anatomis yang terkena. Tumor medulla
spinalis dapat menyebabkan gejala lokal dan distal dari segmen
spinal yang terkena ( melalui keterlibatan traktus sensorik dan
motorik pada medula spinalis.) akibat organisasi anatomik dalam
medula spinalis, maka kompresi lesi-lesi diluar medula spinalis
biasanya menimbulkan gejala dibawah tingkat lesi. Tingkat
gangguan

sensorik

naik

secara

berangsur-angsur

bersama

dengan meningkatnya kompresi, dan melibatkan daerah yang


lebih dalam. Lesi yang terletak jauh didalam medula apinalis
mungkin

tidak

menyerang

serabut-serabut

yang

terletak

sperfisial, dan hanya menimbulkan disosiaasi sensorik, yaitu


sensasi nyeri dan suhu yang hilang, dan sensasi raba yang masih
utuh. Kompresi medula spinalis akan mengakibatkan ataksia
karena mengganggu sensasi posisi.4
Gambaran klinik pada tumor medulla spinalis sangat ditentukan
oleh lokasi serta posisi pertumbuhan tumor dalam kanalis
spinalis.
a. Gejala klinik berdasarkan lokasi tumor
Tumor foramen magnum

Gejala awal dan tersering adalah nyeri servikalis posterior yang


disertai dengan hiperestesi dermatom daerah vertebra servikalis
2 (C2). Setiap aktivitas yang meningkatkan tekanan intrakranial
(misal, batuk, mengedan, mengangkat barang atau bersin) dapat
memperburuk nyeri. Gejala tambahan adalah gangguan sensorik
dan motorik pada tangan dengan pasien yang melaporkan
kesulitan menulis atau memasang kancing. Perluasan tumor
menyebabkan kuadraplegia spastik dan hilangnya sensasi secara
bermakna. Gejala lainnya adalah pusing, disatria, disfagia,
nistagmus, kesulitan bernafas, mual dan muntah, serta atrofi otot
sternokleidomastiodeus dan trapezius. Temuan neurologik tidak
selalu timbul tetapi dapat mencakup hiperrefleksia, rigiditas
nuchal, gaya berjalan spastic, palsy N.IX sampai XI, dan
kelemahan ekstremitas.10
Tumor daerah servikal
Lesi daerah servikal menimbulkan gejala sensorik dan motorik
mirip lesi radikular yang melibatkan bahu dan lengan dan
mungkin juga melibatkan tangan. Keterlibatan tangan pada lesi
servikalis bagian atas diduga disebabkn oleh kompresi suplai
darah ke kornu anterior melaui arteria spinalis anterior. Pada
umumnya terdapat kelemahan dan artrofi gelang bahu dan
lengan. Tumor servikalis yang lebih rendah ( C5, C6, C7) dapat
menyebabkan

hilangnya

refleks

tendon

ekstremitas

atas

(biseps,brakhioradialis, triseps). Defisit sensorik membentang


sepanjang tepi radial lengan bawah dan ibu jari pada kompresi
C6, melibatkan jari tengah dan jari telunjuk pada lesi C7; dan lesi
C7 menyebabkan hilangnya sensorik jari telunjuk dan jari
tengah.10

Tumor daerah thorakal


Penderita

lesi

daerah

thorakal

seringkali

datang

dengan

kelemahan spastik yang timbul perlahan pada ekstremitas


bagian bawah dan kemudian mengalami parastesia. Pasien dapat
mengeluh nyeri dan perasaan terjepit dan tertekan pada dada
dan abdomen, yang mungkin dikacaukan dengan nyeri akibat
intrathorakal dan intraabdominal. Pada lesi thorakal bagian
bawah, refleks perut bagian bawah dan tanda beevor dapat
menghilang.10
Tumor daerah lumbosakral
Kompresi segmen lumbal bagian atas tidak mempengaruhi
refleks perut, namun menghilangkan refleks kremaster dan
mungkin menyebabkan kelemahan fleksi panggul dan spastisitas
tungkai bawah. Juga terjadi kehilangan refleks lutut dan refleks
pergelangan kaki dan tanda babynski bilateral. Nyeri umunya
dialihkan ke selangkangan. Lesi yang melibatkan lumbal bagian
bawah dan segmen-segmen sakral bagian atas menyebabkan
kelemahan dan atrofi otot-otot perineum, betis dan kaki.
Hilangnya sensasi daerah perianal dan genitalia yang disertai
gangguan kontrol usus dan kandung kemih merupakan tanda
khas lesi yang mengenai daerah sakral bagian bawah.10
Tumor kauda ekuina
Lesi dapat menyebabkan nyeri radikular yang dalam.,
kelemahan dan atrofi dari otot-otot termasuk gluteus, otot perut,
gastrocnemius, dan otot anterior tibialis. Refleks APR mungkin
menghilang, muncul gejala-gejala sfingter dini dan impotensi.
Tanda-tanda khas lainnya adalah nyeri tumpul pada sakrum dan

perineum yang kadang-kadang menjalar ke tungkai. Paralisis


flaksid terjadi sesuai dengan radiks saraf yang terkena dan
terkadang asimetris.10 Refleks lain dapat terpengaruh tergantung
letak lesi.
b. Perjalanan klinis tumor berdasarkan letak tumor dalam
kanalis spinalis .
Lesi Ekstradural
Perjalanan klinis yang lazim dari tumor ektradural adalah
kompresi cepat akibat invasi tumor pada medula spinalis, kolaps
kolumna vertebralis, atau perdarahan dari dalam metastasis.
Begitu timbul gejala kompresi medula spinlis, maka dengan
cepat fungsi medula spinalis akan hilang sama sekali. Kelemahan
spastik dan hilangnya sensasi getar dan posisi sendi dibawah
tingkat lesi merupakan tanda awal kompresi medula spinalis.10
Lesi Intradural
1. Intradural Ekstramedular
Lesi medula spinalis ekstramedular menyebabkan kompresi
medula spinalis dan radiks saraf pada segmen yang terkena.
Sindrom Brown-Sequard mungkin disebabkan oleh kompresi
lateral

medula

spinalis.Sindrom

akibat

kerusakan

separuh

medula spenalis ini ditandai dengan tanda-tanda disfungsi


traktus kortikospinalis dan kolumna posterior ipsilateral di bawah
tingkat lesi. Pasien mengeluh nyeri, mula-mula di punggung dan
kemudian di sepanjang radiks spinal. Seperti pada tumor
ekstradural, nyeri diperberat oleh traksi oleh gerakan, batuk,
bersin atau mengedan, dan paling berat terjadi pada malam hari.

Nyeri yang menghebat pada malam hari disebabkan oleh traksi


pada radiks saraf yang sakit, yaitu sewaktu tulang belakang
memanjang setelah hilangnya efek pemendekan dari gravitasi.
Defisit sensorik mula-mula tidak jelas dan terjadi di bawah
tingkat

lesi

(karena

tumpah

tindih

dermaton).

Defisit

ini

berangsur-angsur naik hingga di bawah tingkat segmen medula


spinalis. Tumor pada sisi posterior dapat bermanifestasi sebagai
parestesia dan selanjutnya defisit sensorik proprioseptif, yang
menambahkan ataksia pada kelemahan. Tumor yang terletak
anterior dapat menyebabkan defisit sensorik ringan tetapi dapat
menyebabkan gangguan motorik yang hebat.10
2. Intradural Intramedular
Tumor-tumor intramedular tumbuh ke bagian tengah dari
medula spinalis dan merusak serabut-serabut yang menyilang
serta neuron-neuron

substansia grisea. Kerusakan serabut-

serabut yang menyilang ini mengakibatkan hilangnya sensasi


nyeri dan suhu bilateral yang meluas ke seluruh segmen yang
terkena, yang pada gilirannya akan menyebabkan kerusakan
pada kulit perifer. Sensasi raba, gerak, posisi dan getar umumnya
utuh kecuali lesinya besar. Defisit sensasi nyeri dan suhu dengan
utuhnya modalitas sensasi yang lain dikenal sebagai defisit
sensorik yang terdisosiasi. Perubahan fungsi refleks renggangan
otot terjadi kerusakan pada sel-sel kornu anterior. Kelemahan
yang disertai atrofi dan fasikulasi disebabkan oleh keterlibatan
neuron-neuron motorik bagian bawah. Gejala dan tanda lainnya
adalah nyeri tumpul sesuai dengan tinggi lesi, impotensi pada
pria dan gangguan sfingter.10
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Radiologi
Modalitas utama dalam pemeriksaan radiologis untuk
mediagnosis semua tipe tumor medula spinalis adalah MRI. Alat
ini dapat menunjukkan gambaran ruang dan kontras pada
struktur medula spinalis dimana gambaran ini tidak dapat dilihat
dengan pemeriksaan yang lain.4
Tumor

pada

pembungkus

saraf

dapat

menyebabkan

pembesaran foramen intervertebralis. Lesi intra medular yang


memanjang dapat menyebabkan erosi atau tampak berlekuklekuk (scalloping) pada bagian posterior korpus vertebra serta
pelebaran jarak interpendikular.4
Mielografi selalu digabungkan dengan pemeriksaan CT.
tumor intradural-ekstramedular memberikan gambaran filling
defect yang berbentuk bulat pada pemeriksaan myelogram. Lesi
intramedular menyebabkan pelebaran fokal pada bayangan
medula spinalis.4

Gambar 3, gambaran MRI tumor medula spinalis (intradural


intramedular)

Gambar 4, gambaran MRI tumor intradural ekstramedular


b. CSF
Pada pasien dengan tumor spinal, pemeriksaan CSS dapat
bermanfaat

untuk

differensial

diagnosis

ataupun

untuk

memonitor respon terapi. Apabila terjadi obstruksi dari aliran CSS


sebagai akibat dari ekspansi tumor, pasien dapat menderita
hidrosefalus. Punksi lumbal harus dipertimbangkan secara hatihati pada pasien tumor medula spinalis dengan sakit kepala
(terjadi peninggian tekasan intrakranial).4,5
Pemeriksaan CSS meliputi pemeriksaan sel-sel malignan
(sitologi), protein dan glukosa. Konsentrasi protein yang tinggi
serta kadar glukosa dan sitologi yang normal didapatkan pada
tumor-tumor medula spinalis, walaupun apabila telah menyebar
ke selaput otak, kadar glukosa didapatkan rendah dan sitologi
yang

menunjukkan

malignansi.

Adanya

xanthocromic

CSS

dengan tidak terdapatnya eritrosit merupakan karakteristik dari


tumor medula spinalis yang menyumbat ruang subarachnoid dan
menyebabkan CSS yang statis pada daerah kaudal tekal sac.4,5
G. DIAGNOSIS

Diagnosis tumor medula spinalis diambil berdasarkan hasil


anamnesis

dan

pemeriksaan

fisis

serta

penunjang.

Tumor

ekstradural mempunyai perjalanan klinis berupa fungsi medula


spinalis akan hilang sama sekali disertai Kelemahan spastik dan
hilangnya sensasi getar dan
posisi sendi dibawah tingkat lesi yang berlangsung cepat. Pada
pemeriksaan

radiogram

tulang

belakang,

sebagian

besar

penderita tumor akan memperlihatkan gejala osteoporosis atau


kerusakan nyata pada pedikulus dan korpus vertebra. Myelogram
dapat memastikan letak tumor.10
Pada tumor ekstramedular, gejala yang mendominasi adalah
kompresi serabut saraf spinalis, sehingga yang paling awal
tampak adalah nyeri, mula-mula di punggung dan kemudian di
sepanjang radiks spinal. Seperti pada tumor ekstradural, nyeri
diperberat

oleh

traksi

oleh

gerakan,

batuk,

bersin

atau

mengedan, dan paling berat terjadi pada malam hari. Nyeri yang
menghebat pada malam hari disebabkan oleh traksi pada radiks
saraf yang sakit, yaitu sewaktu tulang belakang memanjang
setelah

hilangnya

efek

pemendekan dari

gravitasi.

Defisit

sensorik berangsur-angsur naik hingga di bawah tingkat segmen


medulla spinalis. Pada tomor ekstramedular, kadar proteid CSS
hampir

selalu

meningkat.

Radiografi

spinal

dapat

memperlihatkan pembesaran foramen dan penipisan pedikulus


yang berdekatan. Seperti pada tumor ekstradural, myelogram,
CT scan, dan MRI sangat penting untuk menentukan letak yang
tepat.10
Pada tumor intramedular, Kerusakan serabut-serabut yang
menyilang pada substansia grisea mengakibatkan hilangnya

sensasi nyeri dan suhu bilateral yang meluas ke seluruh segmen


yang

terkena,

yang

pada

gilirannya

akan

menyebabkan

kerusakan pada kulit perifer. Sensasi raba, gerak, posisi dan


getar umumnya utuh kecuali lesinya besar. Defisit sensasi nyeri
dan suhu dengan utuhnya modalitas senssi yang lain dikenal
sebagai defisit sensorik yang terdisosiasi. Radiogram akan
memperlihatkan

pelebaran

pedikulus.

myelogram,

Pada

kanalis
CT

vertebralis

scan,

dan

dan

MRI,

erosi

tampak

pembesaran medulla spinalis.10


H. DIAGNOSIS BANDING
Tumor medula spinalis harus dibedakan dari kelainankelainan lainnya pada medula spinalis. Beberapa diferensial
diagnosis meliputi : transverse myelitis, multiple sklerosis,
syringomielia, syphilis,amyotropik lateral sklerosis (ALS), anomali
pada

vertebra

adhesive
hipertopik,

servikal

arachnoiditis,
rupture

dan

dasar

radiculitis

diskus

tengkorak,
cauda

spondilosis,

ekuina,

intervertebralis,

dan

arthritis
anomaly

vascular.5
Multiple sklerosis dapat dibedakan dari tumor medula spinalis
dari sifatnya yang mempunyai masa remisi dan relaps. Gejala
klinis yang disebabkan oleh lesi yang multiple serta adanya
oligoklonal CSS merujuk pada multiple sklerosis. Transverse
myelitis akut dapat menyebabkan pembesaran korda spinalis
yang mungkin hampir sama dengan tumor intramedular. 5
Diferensial

diagnosis

antara

syringomielia

dan

tumor

intramedular sangat rumit, karena kista intramedular pada


umumnya berhubungan dengan tumor tersebut. Kombinasi
antara atrofi otot-otot lengan dan kelemahan spastic pada kaki

pada ALS mungkin dapat membingungkan kita dengan tumor


servikal. Tumor dapat disingkirkan apabila didapatkan fungsi
sensorik yang normal, adanya fasikulasi, dan atrofi pada otot-otot
kaki. Spondilosis servikal, dengan atau tanpa rupture diskus
intervertebralis dapat menyebabkan gejala iritasi serabut saraf
dan kompresi medulla spinalis. Osteoarthritis dapat didiagnosis
melalui pemeriksaan radiologi.5
Anomali pada daerah servikal atau pada dasar tengkorak, seperti
platybasia atau klippel-feil syndrome dapat didiagnosis melalui
pemeriksaan
memasuki

radiologi.

sirkulasi

Kadang

dalam

kadang

medulla

arakhnoiditis

spinalis

dapat

yang

dapat

menunjukkan gejala seperti lesi langsung pada medulla spinalis.


Pada arakhnoiditis, terdapat peningkatan protein CSS yang
sangat berarti.5
Tumor jinak pada medulla spinalis mempunyai ciri khas berupa
pertumbuhan yang lambat namun progresif selama bertahuntahun.

Apabila

sebuah

neurofibroma

tumbuh

pada

radiks

dorsalis, akan terasa nyeri yang menjalar selama bertahun-tahun


sebelum tumor ini menunjukkan gejala-gejala lainnya yang
dikenali dan didiagnosis sebagai tumor. Sebaliknya, onset yang
tiba-tiba dengan defisit neurologis yang berat, dengan atau
tanpa

nyeri,

ekstradural

hampir

selalu

malignan,

seperti

mengindikasikan
karsinoma

suatu

tumor

metastasis

atau

limfoma.5
I. TERAPI
Penatalaksanaan
intramedular

maupun

untuk

sebagian

ekstramedular

besar

tumor

adalah

baik

dengan

pembedahan. Tujuannya adalah untuk menghilangkan tumor

secara total dengan menyelamatkan fungsi neurologis secara


maksimal. Kebanyakan tumor intradural-ekstramedular dapat
direseksi secara total dengan gangguan neurologis yang minimal
atau

bahkan

tidak

ada

post

operatif.

Tumor-tumor

yang

mempunyai pola pertumbuhan yang cepat dan agresif secara


histologist dan tidak secara total di hilangkan melalui operasi
dapat diterapi dengan terapi radiasi post operasi.1
Terapi yang dapat dilakukan pada tumor medulla spinalis adalah :
Pembedahan
Pembedahan sejak dulu merupakan terapi utama pada
tumor medulla spinalis. Pengangkatan yang lengkap dan defisit
minimal post operasi, dapat mencapai 90% pada ependymoma,
40% pada astrositoma dan 100% pada hemangioblastoma.
Pembedahan juga merupakan penatalaksanaan terpilih untuk
tumor ekstramedular. Pembedahan, dengan tujuan mengangkat
tumor seluruhnya, aman dan merupakan pilihan yang efektif.
Pada pengamatan kurang lebih 8.5 bulan, mayoritas pasien
terbebas secara keseluruhan dari gejala dan dapat beraktifitas
kembali.4,7,11
Terapi radiasi
Tujuan dari terapi radiasi pada penatalaksanaan tumor
medulla spinalis adalah untuk memperbaiki kontrol lokal, serta
dapat menyelamatkan dan memperbaiki fungsi neurologik. Tarapi
radiasi juga digunakan pada reseksi tumor yang inkomplit yang
dilakukan pada daerah yang terkena.4,
Kemoterapi

Penatalaksanaan farmakologi pada tumor intramedular hanya


mempunyai sedikit manfaat. Kortikosteroid intravena dengan
dosis

tinggi

sementara

dapat
tetapi

meningkatkan
pengobatan

ini

fungsi

neurologis

untuk

tidak

dilakukan

untuk

jangkawaktu yang lama. Walaupun steroid dapat menurunkan


edema vasogenik, obat-obatan ini tidak dapat menanggulangi
gejala akibat kondisi tersebut. Penggunaan steroid dalam jangka
waktu lama dapat menyababkan ulkus gaster, hiperglikemia dan
penekanan system imun dengan resiko cushing symdrome
dikemudian hari. Regimen kemoterapi hanya meunjukkan angka
keberhasilan yang kecil pada terapi tumor medulla spinalis. Hal
ini mungkin disebabkan oleh adanya sawar darah otak yang
membatasi masuknya agen kemotaksis pada CSS.2

J. PROGNOSIS
Tumor dengan gambaran histopatologi dan klinik yang agresif
mempunyai prognosis yang buruk terhadap terapi. Pembedahan
radikal mungkin dilakukan pada kasus-kasus ini. Pengangkatan
total dapat menyembuhkan atau setidaknya pasien dapat
terkontrol dalam waktu yang lama. Fungsi neurologis setelah
pembedahan sangat bergantung pada status pre operatif pasien.
Prognosis semakin buruk seiring meningkatnya umur (>60
tahun).5