Anda di halaman 1dari 8

TERAPI FARMAKOLOGI DAN NON FARMAKOLOGI

1. Kontrasepsi Hormonal
a. Implant
FDA menyetujui pemakaian kontrasepsi implant levonorgestrel (Norplant) pada
thn 1990. Metode ini terdiri dari 6 buah batang karet silikon, masing-masing berukuran
panjang 34 mm & diameter 2,4 mm, masing-masing berisi 36 mg levonorgestrel . Implant
melepas 80 mcg levonorgestrel per 24 jam selama tahun pertama pemasangan hingga
mencapai konsentrasi serum efektif sebesar 0,4-0,5 ng/mL dlm 24 jam pertama. Laju
pelepasan menurun 30 mcg/hari pd thn2 berikutnya. Pelepasan agen progestational melalui
difusi dpt memberi efek kontrasepsi yg efektif selama 5 thn. Proteksi kontrasepsi dapat
dimulai dalam 24 jam setela dipasang, jika pemasangan dilakukan selama minggu pertama
siklus menstruasi . Batang implant dimasukkan secara s.c dan biasanya pada lengan atas
wanita, terlihat di bawah kulit (BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
Mekanisme kerja yaitu kombinasi antara penekanan terhadap lonjakan LH,
penekanan terhadap ovulasi, membuat mukus cervical menjadi kental & berkurang untuk
menghalangi penetrasi sperma, serta mencegah pertumbuhan &
perkembangan
endometrial.efikasi yang didapat dari penggunaan kontrasepsi hormonal metode implant yaitu
ekuivalen dgn metode sterilisasi pembedahan, laju kehamilan meningkat 0,2% dlm 1 thn
terakhir s.d 1,1% selama 5 thn (BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
Keuntungan dari metode ini yaitu efektivitasnya yang panjang, tidak ada eksogen
estrogen, dapat kembali pada keadaan fertilitas seperti semula setelah implant dilepas, tidak
ada Efek samping pada produksi ASI. Kerugian dari penggunaan implant ini yaitu
Memerlukan prosedur pembedahan minor untuk pemasangan implant. Pelepasan implant
yang cukup sulit. Sering terjadi ketidakteraturan menstruasi disertai Efek samping seperti
sakit kepala, perubahan mood, hirsutisme, galactorrhea, & jerawat (BKKBN dan Kemenkes
R.I.,2012).
Kontraindikasi absolut meliputi tromboflebitis aktif atau penyakit tromboemboli,
undiagnosed genital bleeding, penyakit liver akut, tumor liver ganas maupun jinak, kanker
payudara (terdeteksi maupun dugaan), & riwayat hipertensi intrakranial idiopatik.
Kontraindikasi relatif meliputi perokok berat, riwayat kehamilan ektopi, DM, hiperkolesterol,
jerawat berat, hipertensi, riwayat penyakit kardiovaskular, sakit kepala migrain atau vaskular
berat, serta depresi berat. Pasien yang sesuai untuk menggunakan metode ini yaitu wanita
postpartum atau menyusui, wanita yang sulit patuh dgn penggunaan kontrasepsi, wanita yg
dikontraindikasikan utk hamil krn kondisi medis, serta wanita yang dikontraindikasikan
memakai estrogen (BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
b. Injeksi DMPA (Depomedroxyprogesterone Acetate)
DMPA adalah suspensi mikrokristal dari progestin sintetik yang disuntikkan
secara i.m. Level farmakologi aktif tercapai dlm waktu 24 jam setelah diinjeksi & kadar
dalam serum sebesar 1 ng/mL dapat dipertahankan selama 3 bulan. Selama 5 atau 6 bulan
setelah injeksi, kadarnya menurun menjadi 0,2 ng/mL sehingga menjadi tidak terdeteksi 7-9
bulan setelah disuntik (BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
Mekanisme aksi yaitu DMPA menghambat ovulasi dengan menekan level FSH &
LH serta mengeliminasi lonjakan LH. Dosis tunggal sebesar 150 mg dapat menekan ovulasi

pada sebagian besar wanita selama 14 minggu. Regimen kontrasepsi terdiri dari 1 dosis tiap 3
bulan (BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
Efikasi dari kontrasepsi metode ini yaitu pilihan kontrasepsi yg sangat efektif,
variasi BB maupun pengobatan obat lain dapat mengubah efikasi DMPA, tingkat kegagalan
dlm 1 thn pertama sebesar 0,3%. Keuntungannya adalah DMPA tidak menyebabkan Efek
Samping estrogen yang serius seperti tromboemboli, anemia berkurang, dysmenorrhea
berkurang, risiko kanker endometrial & ovarian berkurang, tidak mengandung estrogen
sehingga cocok untuk wanita yang dikontraindikasikan thd estrogen, aman digunakan untuk
ibu yang sedang menyusui. Sementara itu, Kerugiannya yaitu mengganggu siklus menstruasi
hingga terjadi amenorrhea pd 50% wanita dalam 1 thn pertama. Persistent irregular bleeding
dapat diterapi dengan pemberian dosis lanjutan menjadi lebih awal atau pemberian terapi
estrogen dosis rendah secara temporer. Karena DMPA tetap berada dlm tubuh selama bbrp
bulan, wanita yang menggunakan DMPA jangka panjang sehingga dpt mengalami penundaan
fertilitas stlh berhenti memakai. Efek Samping DMPA meliputi peningkatan BB, depresi,
menstruasi yang tidak teratur, maka dapat berlanjut selama 1 thn setelah penyuntikan terakhir
(BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
c. Kontrasepsi Oral
Kontrasepsi oral ( pil kontrasepsi ) Kontrasepsi oral adalah kontrasepsi berupa pil
dan diminum oleh wanita, yang berisi estrogen dan progestin berkhasiat mencegah kehamilan
bila diminum secara teratur (Hartanto, 2004). Kontrasepsi oral yang paling sering dipakai saat
ini merupakan kombinasi esterogen dan progresteron yang diminum setiap hari selama tiga
minggu dan bebas minum selama satu minggu, dan pada saat itulah terjadi pendarahan
uterus-withdrawal. Komponen estrogen dalam pil menghalangi maturasi folikel dalam
ovarium, sedangkan komponen progesteron memperkuat daya estrogen untuk mencegah
ovulasi. Pada keadaan biasa estrogen dan progesteron dihasilkan oleh ovarium, karena
pengaruh folikel stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) yang dikeluarkan
oleh hipophyse, akan berpengaruh pada endometrium sehingga terjadi siklus menstruasi.
Selain itu esterogen dan progresteron berpengaruh langsung pada hipotalamus, yaitu
mekanisme feed back, yang akan menghambat pengeluaran FSH dan LH releasing factor
yang akibat selanjutnya adalah dihambatnya pengeluaran FSH dan LH. Dengan dihambatnya
FSH dan LH maka tidak akan terjadi ovulasi. Pada pemakaian kontrasepsi hormonal,
estrogen dan progesteron yang diberikan akan mengakibatkan kadar estrogen dan progesteron
dalam darah tetap tinggi, sehingga mekanisme feed back akan bekerja. Mekanisme inilah
yang dipakai sebagai dasar bekerjanya kontrasepsi hormonal. Kerugian pil KB yaitu Mahal
dan membosankan karena harus menggunakannya setiap hari. Mual terutama pada 3 bulan
pertama. Perdarahan bercak dan pusing, Nyeri payudara, Berat badan naik, Meningkatkan
tekanan darah, retensi cairan sehingga resiko stroke dan gangguan pembekuan darah pada
vena dalam sedikit meningkat. Pada usia >35 tahun dan merokok perlu hati-hati .Sampai
sekarang dikenal 4 tipe kontrasepsi oral yakni tipe kombinasi, tipe sekuensial, mini pil dan pil
pasca sanggama (morning after pil). Tipe kombinasi adalah yang mula mula dikenal dan
efektifitasnya paling tinggi dan oleh karena itu tipe inilah yang sampai sekarang paling
banyak digunakan (BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).

Tipe kombinasi Terdiri dari 21-22 pil yang setiap pilnya berisi derivat estrogen dan
progestin dosis kecil, untuk penggunaan satu siklus. Pil pertama mulai diminum pada
hari kelima siklus haid selanjutnya setiap hari 1 pil selama 21-22 hari. Umumnya 2-3
hari sesudah pil terakhir diminum akan timbul perdarahan haid yang merupakan
perdarahan putus obat (withdrawal bleeding). Penggunaan pada siklus selanjutnya
sama seperti siklus sebelumnya yaitu pil pertama ditelan pada hari kelima siklus
siklus haid .
Tipe sekuensial Pil ini mengandung komponen yang disesuaikan dengan sistem
hormonal tubuh, 12 pil pertama hanya mengandung estrogen, pil ke-13 dan
seterusnya merupakan kombinasi .
Tipe mini pil Hanya berisi derivat progestin dosis kecil (0,5 mg atau lebih kecil)
terdiri dari 21-22 tablet. Minipil bukan menjadi pengganti dari pil oral kombinasi,
tetapi hanya sebagai suplemen/tambahan, yang digunakan oleh wanita yang ingin
menggunakan kontrasepsi oral tetapi sedang menyusui atau untuk wanita yang harus
menghindari estrogen oleh sebab apapun .
Pil pasca senggama Berisi dietilstilbestrol 25 mg diminum 2 kali sehari dalam
kurang waktu 72 jam pasca senggama selama 5 hari berturut-turut . Keefektifan
kontrasepsi oral yaitu bagi ibu yang masih menyusui sampai sembilan bulan pertama
postpartum keefektifan pil ini mencapai 98,5%. Bagi ibu yang tidak menyusui,
keefektifan turun menjadi 96% (BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).

2. Kontrasepsi Non Hormonal


2.1 AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
Kontrasepsi non hormonal merupakan berbagai macam metode untuk mencegah
kehamilan yang dibagi menjadi 3 yaitu kontrasepsi teknik, kontrasepsi mekanik dan metode
sterilisasi. Alat kontrasepsi dalam rahim ini merupakan berupa alat yang dimasukkan ke
dalam rahim, yang mempunyai mekanisme kerja menghambat kemampuan sperma untuk
masuk tuba falopi. Juga untuk mempengaruhi fertilitas sebelum ovum mencapai kavum uteri.
AKDR yang mengandung hormon ada 2 jenis yaitu
- Progestasert = Alza-T yang mengandung Progesteron Memiliki panjang 36 mm,
lebar 32 mm, dengan 2 lembar benang ekor warna hitam, yang mengandung 38
mg progesteron, dan barium sulfat, melepaskan 65 mcg progesteron perhari.
Untuk tabung insert-nya berbentuk lengkung meniru lekung cavum uteri dengan

daya kerja 18 bulan. Untuk teknik pemasangannya dengan plugging (modified


withdrawl).
LNG-20 yang mengandung Levonogestrel. Mengandung 46-60 mg Levonogestrel,
dengan pelepasan 20 mcg perhari. Keuntungan penggunaan AKDR yang
mengandung hormon tidak banyak yaitu cuma mengurangi volume haid (dapat
sampai di bawah tingkat prainsersi) (BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).

Alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim dengan menjepit kedua saluran yang
menghasilkan indung telur sehingga tidak terjadi pembuahan, terdiri dari bahan plastik
polietilena, ada yang dililit oleh tembaga dan ada yang tidak Cara kerjanya yaitu Mencegah
terjadinya fertilisasi, tembaga pada AKDR menyebabkan reaksi inflamasi steril, toksik buat
sperma sehingga tidak mampu untuk fertilisasi (BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
Keuntungan dari metode AKDR ini yaitu :
- Efektivitas tinggi, 99,2-99,4% ( 0,6 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1
tahun pertama)
- Dapat efektif segera setelah pemasangan
- Metode jangka panjang
- Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
- Tidak mempengaruhi hubungan sosial
- Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil
- Tidak ada efek samping hormonal
- Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
- Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak
terjadi infeksi)
- Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir)
- Tidak ada interaksi dengan obat-obat
- Membantu mencegah kehamilan ektopik
Keterbatasan dari penggunaaan AKDR yaitu :
- Tidak mencegah Infeksi Menular Seksual (IMS)
- Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering
berganti pasangan
- Diperlukan prosedur medis termasuk pemeriksaan pelvis
- Klien tidak dapat melepas AKDR sendiri

Klien harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu. Untuk
melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya ke dalam vagina, sebagian
perempuan tidak mau melakukan ini (BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).

2.2 Metode Amenorea Laktasi (MAL)


Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian
Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan
ataupun minuman apa pun lainnya. Syarat untuk dapat menggunakan metode ini yaitu
Menyusui secara penuh (full breast feeding), lebih efektif bila pemberian lebih dari 8 kali
sehari. Mekanisme kerjanya yaitu Penundaan atau penekanan ovulasi yang diebabkan karena
peningkatan hormon prolaktin, menyebabkan penurunan hormon GnRH. Hal ini
menyebabkan sekresi FSH dan LH nya dapat ditekan sehingga tidak terjadi ovulasi (BKKBN
dan Kemenkes R.I.,2012).
Keuntungan kontrasepsi pada metode ini yaitu :
- Efektivitas tinggi (keberhasilan 98% pada enam bulan pascapersalinan).
- Segera efektif.
- Tidak mengganggu senggama.
- Tidak ada efek samping secara sistemik.
- Tidak perlu pengawasan medis.
- Tidak perlu obat atau alat.
- Tidak biaya.
Keuntungan non kontrasepsi pada metode ini yaitu :
- Untuk Bayi: Mendapatkan kekebalan pasif (mendapatkan antibodi perlindungan
lewat ASI) ; Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tumbuh
kembang bayi yang optimal ; Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi
dari air, susu lain atau formula, atau alat minum yang dipakai
- Untuk Ibu: Mengurangi pendarahan pascapersalinan ; Mengurangi risiko anemia ;
Meningkatkan hubungan psikologik ibu dan bayi
Sementara itu, keterbatasan dari metode ini yaitu :
- Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam 30 menit
pasca persalinan.
- Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial.
- Efektifitas tinggi hanya sampai kembalinya haid atau sampai dengan 6 bulan.
- Tidak melindungi terhadap IMS termasuk virus hepatitis B/HBV dan HIV/AIDS
(BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
2.3 Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet sebagai salah satu metode kontrasepsi
atau alat untuk mencegah kehamilan dan atau penularan penyakit kelamin pada saat
bersenggama.Mekanisme kerjanya yaitu Menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel
telur dengan cara mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang pada penis
sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan. Selain itu,
mencegah penularan mikroorganisme (IMS termasuk HBV dan HIV/AIDS) dari satu
pasangan kepada pasangan yang lain (khusus kondom yang terbuat dari lateks dan vinil).
Manfaat kontrasepsi dengan menggunakan kondom yaitu:

- Efektif mencegah kehamilan bila digunakan dengan benar


- Tidak mengganggu produksi ASI
- Tidak mengganggu kesehatan klien
- Tidak mempunyai pengaruh sistemik
- Murah dan dapat dibeli secara umum
- Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus
- Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya harus ditunda
Sementara itu, manfaat non kontrasepsi pada penggunaan kondom yaitu :
- Membantu mencegah terjadinya kanker serviks (mengurangi iritasi bahan
karsinogenik eksogen pada serviks)
- Mencegah penularan IMS, HIV
- Memberi dorongan kepada suami untuk ikit ber-KB
- Mencegah ejakulasi dini
- Saling berinteraksi sesama pasangan Mencegah imuno infertilitas
Keterbatasan penggunaan kondom yaitu :
- Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi
- Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung)
- Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual
- Malu membeli kondom di tempat umum
- Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah
(BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
2.4 Kontrasepsi Mantap (Tubektomi dan Vasektomi)
2.4.1 Tubektomi
Tubektomi (Metode Operasi Wanita/ MOW) adalah metode kontrasepsi mantap yang
bersifat sukarela bagi seorang wanita bila tidak ingin hamil lagi dengan cara mengoklusi tuba
falupii (mengikat dan memotong atau memasang cincin), sehingga sperma tidak dapat
bertemu dengan ovum. Waktu idealnya yaitu dilakukan dalam 48 jam pasca persalinan ;
Dapat dilakukan segera setelah persalinan atau setelah operasi sesar ; Jika tidak dapat
dikerjakan dalam 1 minggu setelah persalinan, ditunda 4-6 minggu (BKKBN dan Kemenkes
R.I.,2012).
Manfaat dari kontrasepsi Tubektomi yaitu :
o Manfaat Kontrasepsi:
- Efektivitasnya tinggi 99,5% (0,5 kehamilan per 100 perempuan selama
tahun pertama penggunaan)
- Tidak mempengaruhi proses menyusui
- Tidak bergantung pada faktor sanggama
- Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko kesehatan yang
serius.
- Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
- Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual
o Manfaat Non Kontrasepsi yaitu Berkurangnya risiko kanker ovarium
(BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
2.4.2 Vasektomi
Vasektomi (Metode Operasi Pria/MOP) adalah prosedur klinik untuk menghentikan
kapasitas reproduksi pria dengan cara mengoklusi vasa deferensia sehingga alur transportasi
sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi. Jenis dari

vasektomi yaitu Insisi dan Vasektomi Tanpa Pisau (VTP) (BKKBN dan Kemenkes
R.I.,2012).
Keuntungan dari penggunaan vasektomi yaitu :
- Efektivitas tinggi 99,6-99,8%
- Sangat aman, tidak ditemukan efek samping jangka panjang
- Morbiditas dan mortalitas jarang
- Hanya sekali aplikasi dan efektif dalam jangka panjang
- Tinggi tingkat rasio efisiensi biaya dan lamanya penggunaan kontrasepsi
(BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
Ketebatasannya dari penggunaan vasektomi yaitu :
- Tidak efektif segera, WHO menyarankan kontrasepsi tambahan selama 3 bulan
setelah prosedur (kurang lebih 20 kali ejakulasi)
- Teknik tanpa pisau merupakan pilihan mengurangi perdarahan dan nyeri
dibandingkan teknik insisi (BKKBN dan Kemenkes R.I.,2012).
DAFTAR PUSTAKA
BKKBN dan Kemenkes R.I.2012. Pedoman Pelayanan Keluarga Berencana Pasca Persalinan
di Fasilitas Kesehatan.Jakarta: Dinkes RI.