Anda di halaman 1dari 3

Konflik adalah kondisi saat bagian dari sistem menawarkan berbagai alternatif pilihan tindakan.

Jika
dikerucutkan lebih dalam, konflik adalah kondisi dimana setiap kelompok berusaha mengurangi nilai
ekspektasi hasil/outcome kelompok lainnya karena kepentingan masing-masing. Sebuah sistem tanpa
konflik adalah utopia, maka yang bisa dilakukan adalah membangun kapabilitas untuk memecahkan
konflik tersebut. Untuk memecahkan konflik, terdapat 4 cara, yaitu :
-Solve

: Memilih mengambil keputusan yang dipercaya dapat menghasilkan keluaran/outcome terbaik

yang mungkin untuk satu pihak dan kerugian di pihak lainnya


-Resolve
: Memilih mengambil keputusan yang dipercaya dapat menghasilkan sebuah
keluaran.outcome yang cukup baik dan memuaskan meski secara minimum untuk kedua pihak
kecenderungan yang berlawanan. Keputusan yang diambil dapat dikompromikan
-Absolve: Menunggu dan berharap masalah akan selesai, dan jika dibiarkan masalah akan berlalu. Dengan
kata lain pengabaian tersebut tidak berbahaya
-Dissolve
: Mengubah lingkungan dari entitas terkait kemudian menghilangkan konflik.
Menggunakan cara pandang baru dan mendesain ulang sistem
Untuk memecahkan konflik, kita dapat memilih salah satu dari empat hal tersebut dengan hubungan antar
kelompok yang terlibat dalam konflik. Hubungan ini dapat dibagi setidaknya menjadi tiga bagian, yaitu
dikotomi, kontinum, dan multidimensi
Dikotomi berarti membedakan menang atau kalah. Kontinum diartikan sebagai kompromi. Kedua
hubungan tersebut adalah zero-sum game dimana kemenangan salah satu pihak berarti kekalahan bagi
pihak yang lain. Tidak demikian konsep multidimensi dimana kekuatan antar pihak dapat
meningkat/berkurang secara simultan atau tidak berarti satu pihak menang maka pihak lain kalah
Case Study

Studi kasus ini diambil dari paper berjudul Managemen Konflik Desa Tangun Kecamatan
Bangun Purba. Indonesia merupakan negara agraris, sehingga tidak jarang konflik yang terjadi
adalah konflik dalam hal memperebutkan tanah sebagai salah satu lahan produksi yang
menunjang kehidupan manusia dan merupakan salah satu faktor penentu kesejahteraan
masyarakat di dalam suatu negara.
Hal ini mengindikasikan bahwa tanah merupakan benda tidak bergerak yang memiliki nilai
ekonomi yang cukup tinggi dan rawan memunculkan konflik maupun sengketa. Berbagai
sengketa pertanahan di Indonesia telah mendatangkan berbagai dampak baik sosial, ekonomi dan
lingkungan. Secara ekonomis sengketa itu telah memaksa pihak yang terlibat untuk
mengeluarkan biaya.

Semakin lama proses penyelesaian sengketa itu, maka semakin besar biaya yang harus
dikeluarkan. Dalam hal ini dampak lanjutan yang potensial terjadi adalah penurunan
produktivitas kerja atau usaha, karena selama sengketa berlangsung, pihak-pihak yang terlibat
harus mencurahkan tenaga dan pikirannya serta meluangkan waktu secara khusus terhadap
sengketa sehingga mengurangi curahan hal yang sama terhadap kerja atau usahanya.
Konflik penggunaan lahan merupakan permasalahan yang umum terjadi dalam sebuah
perencanaan. Konflik ini terjadi karena adanya perbedaan nilai serta penggunaan terbaik
terhadap lahan tersebut. Perencana sebagai teknisi yang bersifat netral sangat diharapkan
bertindak sebagai ahli dalam penatagunaan dan pengendalian lahan (termasuk pengendalian
terhadap konflik penggunaan lahan) (Minnery, 1985)
Ada banyak permasalahan yang terjadi antara masyarakat desa Tangun dengan pihak PT. SSL yang
berdampak seringnya terjadi konflik antara kedua belah pihak. Sengketa lahan antara warga Desa
Tangun, Kecamatan Bangun Purba, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, dengan PT Sumatra Silva Lestari
(SSL) kembali memanas. Warga mengusir alat berat perusahaan hutan tanaman industri (HTI)
tersebut yang menghancurkan 200 hektare tanaman padi warga.
Penyelesaian masalah dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Solve
Penyelesaian dengan cara solve dilakukan dengan pengadilan. Negara berhak memberikan perlindungan
dan penyelesaian bila terjadi suatu pelanggaran hukum. Untuk itu negara menyerahkan kekuasaan
kehakiman yang berbentuk badan peradilan dengan para pelaksananya, yaitu hakim. Peradilan akan
menghasilkan keputusan yang pasti dan memiliki kekuatan paling valid untuk kedua belah pihak
2. Resolve
Penyelesaian dengan cara resolve dilakukan dengan mediasi. proses penyelesaian sengketa antar pihak
yang bersengketa yang melibatkan pihak ketiga (mediator) sebagai penasihat. Dalam hal ini, mediator
bertugas untuk melakukan hal-hal sbb:
a. Bertindak sebagai fasilitator sehingga terjadi pertukaran informasi
b. Menemukan dan merumuskan titik-titik persamaan dari argumentasi antarpihak, menyesuaikan
persepsi, dan berusaha mengurangi perbedaan sehingga menghasilkan satu keputusan bersama.

3. Absolve

Penyelesaian dengan cara absolve dilakukan dengan membiarkan hal-hal sepele seperti unsur profokasi
oleh orang yang mempunyai kepentingan yang akan mengacaukan keamanan dan situasi Desa Tangun
agar tidak kondusif. Disisi lain dikarenakan juga cara berpikir mereka yang masih awam mengenai
permasalahan konflik ini, ehingga mereka masih mudah untuk terprovokasi untuk melakukan tindakan
yang anarkis sampai menimbulkan konflik.
4. Dissolve