Anda di halaman 1dari 10

Analisis Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam percobaan ini :


1. Heat Exchanger
Pada percobaan ini digunakan alat penukar kalor jenis double pipe heat
exchanger/concentric tube heat exchanger (pipa ganda tubuler). Heat exchanger jenis
double pipe ini sering digunakan dalam skala kecil (laboratorium) karena alat ini cocok
dikondisikan dengan laju aliran yang kecil namun dengan perpindahan kalor yang lebih
efektif karena luas permukaan panas nya besar. Double pipe heat exchanger ini juga dapat
mengoperasikan pertukaran kalor aliran searah maupun berlawanan arah untuk
dibandingkan dalam laboratorium. Fitting dari alat ini cukup mudah termasuk
pemasangan sensor suhunya dan dalam hal pembersihan. Pada pemakaian alat ini, akan
lebih baik jika diberikan jaket atau pelindung isolator yang berfungsi mencegah kalor dari
sistem keluar ke lingkungan sehingga pembacaan suhu pada termokopel dapat lebih
akurat dan aman dalam pengoperasianya, misalnya ketika disentuh oleh praktikan. Pada
alat yang digunakan dalam percobaan ini, masih memiliki isolator yang kurang baik. Hal
ini dapat dilihat dari panasnya permukaan bagian luar pipa annulus yang menandakan
bahwa ada kalor yang keluar dari sistem menuju lingkungan. Pada alat ini, steam
mengalir pada pipa bagian dalam dan air akan mengalir pada pipa bagian luar (annulus).

Double Pipe Heat Exchanger Skala Laboratorium

2. Sensor Suhu
Pada percobaan ini dilakukan pencatatan terhadap suhu fluida yang masuk serta
suhu fluida yang keluar. Oleh karena itu, pada tiap bagian masukan dan keluaran aliran
fluida yang diukur dan dideteksi dipasanglah alat sensor suhu serta display-nya. Pada
bagian tengah heat exchanger juga dipasang sensor suhu baik untuk aliran steam maupun
air yang dapat digunakan sebagai kontrol sistem aliran keluaran ketika percobaan aliran
searah maupun untuk melihat besarnya perubahan panas yang tengah terjadi pada kondisi
intermediate sistem.

Sensor Suhu Beserta Displaynya pada Heat Exchanger


3. Stopwatch
Stopwatch pada percobaan ini digunakan untuk mengukur waktu laju alir dari air
keluaran dan kondensat. Rata-rata waktu yang digunakan untuk mengukur laju alir dari
air keluaran maupun kondensat berkisar antara 5 10 detik untuk kedua jenis aliran.

Stopwatch

4. Gelas Ukur
Air keluaran serta kondensat yang akan diukur laju alirnya ditampung di dalam
gelas ukur dalam rentang waktu yang ditentukan yaitu 5 atau 10 detik. Setelah itu
dihitung berapa volume aliran fluida yang keluar dalam rentang waktu tertentu (5 atau 10
detik) yang nantinya akan dimasukkan dalam tabel pengamatan.
5. Tangki Air
Air yang akan dialirkan ke dalam heat exchanger dikeluarkan dari tangki air melalui
keran di dalam laboratorium. Tangki ini berfungsi sebagai media penampungan air agar
suplai air dan steam yang berasal dari air yang dipanaskan dan disuplai ke dalam heat
exchanger tidak terhenti sehingga proses pertukaran panas akan berlangsung dengan baik.
6. Boiler
Boiler digunakan menguapkan air atau untuk mengubah fasa air menjadi steam yang akan
digunakan sebagai fluida panas.

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini :


1. Fluida Dingin (Air)
Pada percobaan ini, fluida dingin yang digunakan adalah air. Air dipilih karena

memiliki sifat fisik yang telah diketahui (ada dalam literatur) dengan baik dan lebih
mudah untuk di-maintain dan dioperasikan pada heat exchanger. Penggunaan air sebagai
fluida dingin ini juga didasari oleh alasan ekonomis karena tidak membutuhkan biaya
yang besar karena akan terbuang dalam jumlah yang cukup besar, tidak merusak alat
secara ekstrim, serta mudah untuk mendapatkannya. Selain itu, apabila air keluaran
dibuang ke lingkungan tidak bersifat sebagai pencemar. Air juga tidak memiliki resiko
bahaya yang besar terhadap praktikan.
2. Fluida Panas (Steam)
Fluida panas yang digunakan pada percobaan ini adalah steam. Steam dipilih
dengan alasan yang hampir sama dengan pemilihan air sebaga fluida dingin dari segi
ekonomis dan lingkungan. Sifat fisik steam juga telah ada dan diketahui dengan baik
dalam literatur sehingga lebih mudah ketika dilakukan perhitungan dari data percobaan
yang didapatkan. Pembentukan steam dari air juga dinilai lebih cepat dan lebih mudah
jika dibandingkan dengan pembuatan fluida panas lain. Pada pengoperasiannya, ada
teknik yang harus dilakukan untuk menempatkan steam ini yaitu menempatkannya di
pipa bagian dalam (inner-pipe) dengan tujuan penghematan steam karena volume annulus
lebih besar dari inner-tube dan pemanasan yang tetap efektif jika steam dialirkan dalam
pipa bagian dalam. Selain itu, dengan demikian diharapkan tidak terjadi heat loss yang
besar karena jika dialirkan pada outer-pipe maka terjadi perpindahan panas alami dari
steam ke lingkungan melalui dinding pipa karena suhu lingkungan yang cukup berbeda
jauh dengan suhu steam. Alasan lain dari segi keamanan adalah jika steam dialirkan ke
bagian annulus pipa terluar akan panas dan tekanan yang tinggi dihasilkan dari steam
sehingga jika tersentuh akan sangat berbahaya. Oleh karenanya, lebih baik di tempatkan
pada inner tube.

Analisis Hasil
Analisis Perhitungan h0 dan hi
Nilai h0 ( koefisien konveksi pipa bagian luar) air

Nilai hi (koefisien konveksi pipa bagian dalam) steam

Untuk itu, dibutuhkan data-data aliran air dan steam berupa laju alir (Q), laju massa (W),
viskositas (), Bilangan Prandtl (Pr) dan k untuk menghitung nilai Re, digunakan
persamaan:

Merujuk pada data yang telah diamati dan diolah, kita dapat melihat sebuah
kecenderungan bahwa bahwa semakin tinggi aliran air, suhu steam keluaran akan
semakin kecil hal ini disebabkan karena makin banyak kalor yang dibutuhkan untuk
memanaskan air dalam pipa, yang berakibat pada makin berkurangnya suhu steam. Hal
ini juga mempengaruhi nilai hi dan h0. Nilai h1 dan h0 sangat dipengaruhi oleh jenis
aliran (terlihat dari bilangan Reynold) dan sifat-sifat thermal fluida tersebut, jadi
perubahan aliran yang mengakibatkan perubahan suhu akan mengakibatkan perubahan
pada h1 dan h0. Jika dilihat berdasarkan persamaan, bilangan Reynold sangat
dipengaruhi oleh laju alir. Semakin besar laju alirnya maka semakin besar nilai bilangan
Reynoldnya. Begitu juga yang terjadi dalam percobaan. Sehingga secara tidak langsung,
nilai hi dipengaruhi oleh laju alir fluida. Dimana hi dengan laju alir akan berbanding

lurus.

Analisis Perhitungan Uc, Ud, dan Rd


Dari nilai tersebut, praktikan dapat menghitung nilai koefisien perpindahan panas total
(Uc), dimana

Nilai Uc berbanding lurus dengan hi dan ho. Dan berdasarkan data hasil perhitungan,
semakin tinggi nilai hi dan ho, maka nilai Uc juga akan semakin besar. Dengan kata lain,
percobaan dengan teori memiliki kesamaan. Nilai Uc tidak hanya dipengaruhi oleh nilai
hi dan ho, secara tidak langsung, nilai Uc juga dipengaruhi faktor-faktor yang
mempengaruhi hi dan ho, yaitu sifat termal fluida, dan jenis aliran.
Dari perhitungan tersebut, terlihat bahwa steam mengalir dalam aliran laminar, hal ini
terlihat dari nilai Re steam yang dibawah 2100, sedangkan air mengalir pada aliran
transisi (2100 < Re < 10000), dan turbulen (Re > 10000). Semakin turbulen alirannya,
maka perpindahan panasnya pun akan lebih baik, hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien
perpindahan panas yang semakin besar. Nilai Uc menunjukan koefisien perpindahan
panas saat HE dalam kondisi bersih.

Faktor Pengotoran (Rd)


Salah satu faktor yang mempengaruhi unjuk kerja HE adalah faktor pengotoran (Rd),
karena seiring dengan berjalannya waktu, HE tidak lagi sebersih seperti saat pertama
digunakan akibat pengotor yang menempel pada HE, hal tersebut tentunya akan
mengurangi unjuk kerja HE, Faktor pengotoran yang seharusnya untuk air adalah sebesar
0.0002, namun hasil yang didapat lebih besar dari itu, maka dapat diketahui bahwa alat

HE pada laboratorium keadaannya sudah tidak baik, karena pengotornya sudah banyak,
sehingga harus diperhitungkan dengan:

Dimana Ud adalah koefisien perpindahan panas saat HE kotor, yang dapat ditentukan
dengan persamaan:

A adalah luas bidang perpindahan panas, yakni luas pipa dalam (A i). Sedangkan nilai
LMTD dapat dihitung dengan persamaan:

Dimana q adalah besar panas yang dapat dipindahkan oleh HE, nilainya dapat ditentukan
dengan melihat perubahan suhu cooling water, dengan persamaan:

Pada aliran berlawanan arah, LMTD yang dihasilkan lebih besar, karena kenaikan suhu
air lebih signifikan pada aliran berlawanan, sehingga semakin banyak panas yang berhasil
ditransfer. Sehingga pada proses-proses di industri yang melibatkan proses HE, lebih
banyak menggunakan aliran berlawanan daripada searah. Dari nilai tersebut, dapat
terlihat bahwa nilai LMTD berbanding terbalik dengan Ud.
Adanya faktor pengotoran ini menghambat jalannya perpindahan panas. Faktor
pengotoran (fouling factor) merupakan besaran yang menyatakan tingkat pengotoran

suatu Heat Exchanger. Dengan kata lain, faktor utama yang mempengaruhi faktor
kekotoran secara langsung adalah nilai koefisien transfer panasnya, Uc dan Ud. Secara
teoritis, nilai Uc > Ud. Sehingga nilai dari Rd tidak bernilai negatif. Semakin besar nilai
Ud, maka nilai Rd-nya akan semakin kecil, dan sebaliknya untuk Uc.

Analisis Perhitungan e dan NTU


Efektifitas HE (e)
Efisiensi adalah suatu bilangan yang menunjukkan tingkat keefisienan dari suatu alat.
Semakin besar efisiensinya, maka alat tersebut semakin baik.
Nilai efektifitas Heat Exchanger:

Secara keseluruhan terlihat bahwa efektifitas aliran berlawanan arah lebih besar
dibandingkan dengan aliran searah. Hal ini dikarenakan kenaikan suhu air lebih
signifikan pada aliran berlawanan, sehingga semakin banyak panas yang berhasil
ditransfer, sehingga efektifitas HE semakin besar.
Efisiensi berdasarkan Azas Black

Sedangkan untuk nilai efiseinsi yang ditinjau dari kalor, dengan menggunakan asas black,
akan didapatkan nilai yang beragam, tidak berhubungan dengan laju alir keluaran air
pendingin, namun, jika dilihat dari arah alirannya, maka terlihat bawha efisiensi
counterflow akan jauh lebih besar daripada parallel flow.

Number of Transfer Unit (NTU)


Nilai NTU juga menunjukkan jumlah kalor yang dipindahkan pada suatu HE, nilai NTU
dapat dinyatakan dengan;

dimana

Berdasarkan

perumusan, maka nilai

efisiensi

berbanding lurus dengan

akan

NTU. Dan hal ini sesuai dari hasil perhitungan yang ada. Nilai efisiensi ini tergantung
dari suhu masukan serta keluaran dari fluida dingin dan steam. Jika kalor yang diterima
oleh fluida dingin dengan kalor yang dilepaskan oleh steam sama atau mendekati sama,
berarti secara tidak langsung, efisiensi dari HE tersebut juga baik.

Analisis Kesalahan

Ada beberapa hal yang berpotensi menyebabkan terjadinya kesalahan-kesalahan


pada saat praktikum, diantaranya adalah:

Pada saat pengambilan data laju alir air ataupun kondensat, waktu yang dicatat
seringkali mengandung banyak kesalahan paralaks praktikan.

Pada saat pengambilan data suhu, sistem belum benar-benar mencapai


kesetimbangan sehingga hasil pengukurannya belum merupakan hasil sebenarnya.

Adanya kerusakan termocouple yang menyebabkan temperatur steam yang tertera


pada skala tidak sesuai dengan kondisi (mengeluarkan uap).

Pada saat pembacaan skala suhu dan volume untuk mengukur laju alir,
pembacaan manual menyebabkan kesalahan ketelitian rentan terjadi.

Bukaan valve yang bervariasi menyebabkan praktikan harus mengatur sedemikian


rupa sehingga bukaan valve yang satu dengan yang lain menghasilkan data yang
berbeda namun sesuai dan valid. Namun, dalam hal ini faktor kesalahan manusia
sangat rentan terjadi.

Terjadinya efisiensi yang lebih dari 100%, hal ini disebabkan karena pengambilan
data yang tidak akurat pada pembaca skala (termokopel). Hal ini menyebabkan
terjadinya kesalahan yang sangat tidak umum, yaitu persen efisiensi mencapai
nilai 100% lebih. Selain itu, terlihat bahwa air pen