Anda di halaman 1dari 8

BAB I

KARIFIKASI ISTILAH
1. Deformitas
Deformitas yaitu perubahan bentuk, pergerakan tulang jadi memendek karena
kuatnya tarikan otot-otot ekstremitas yang menarik patahan tulang (Smeltzer,
2001).
2. Ekskoriasi
Ekskoriasi adalah kerusakan kulit sampai ujung stratum papilaris sehingga kulit
tampak merah disertai bintik-bintik perdarahan (Dorland, 2012).
3. Bone resorption
Bone resorption adalah proses dimana osteoklas memecah tulang dan melepaskan
mineral, sehingga teradi transfer kalsium dari cairan tulang ke dalam darah
(Teitelbaum, 2000).
4. Periostem
Periosteum adalah membran fibrosa padat yang terdiri dari jaringan ikat yang
tidak teratur, dengan vaskularisasi yang memberi nutrisi pada tulang, dimana
periosteum ini melapisi/menutupi permukaan eksternal dari tulang (Dorland,
2012).

5. Involucrum
Involucrum adalah tulang baru yang terbentuk akibat stimulasi periosteum
(Zuluaga et al., 2006).

6. Sklerosis
Sklerosis merupakan pengerasan atau penebalan pembuluh nadi, dimana sklerosis
dapat terjadi karena terbentuknya endapan lemak yang disebut atherosklerosis
(Dorland, 2012).
7. Sequester
Sequester merupakan tulang yang mati (Zuluaga et al., 2006).

8. Angulasi
Angulasi adalah fraktur dengan fragmen membentuk sudut satu sama lain,
penyebabnnya adalah gaya langsung atau lateral, yang menyebabkan patahan dan
hilangnya posisi anatomis (Smeltzer, 2001).

BAB II
IDENTIFIKASI MASALAH
1. Mengapa betis kirinya tampak bengkak, merah, nyeri, bernanah disertai
demam?
2. Bagaimana hubungan kecelakaan 1 tahun yang lalu dengan keluhan
sekarang?
3. Apakah benar yang dilakukan oleh tukang urut tersebut?
4. Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik?
5. Bagaimana interpretasi pemeriksaan penunjang?

BAB III
ANALISIS MASALAH
3.1.

Kaki kiri bengkak, merah, nyeri serta bernanah disertai demam


Berdasarkan keluhan maupun pemeriksaan fisik maka dapat dipastikan pasien

menderita infeksi. Hal tersebut ditandai dengan adanya proses inflamasi, dengan
munculnya gejala-gejala inflamasi antara lain kalor (panas/demam, suhu
meningkat dari suhu normal), rubor (berwarna kemerahan), tumor (ada
pembengkakan), dolor (adanya nyeri) dan function lessa (luka) (Price & Wilson,
2014), selain itu juga adanya discharge yang bersifat seropurulen.
Adapun jenis infeksi yang diderita oleh pasien adalah infeksi tulang pada kaki
kirinya, dimana infeksi pada tulang tersebut biasa disebut dengan osteomielitis
(Kumar, Abbas & Aster, 2014; Noor, 2016).
3.2.

Hubungan kecelakaan 1 tahun lalu dengan keluhan sekarang

Terdapat hubungan yang erat antara kecelakaan 1 tahun yang lalu dengan
keluhan sekarang. Mengingat bahwa osteomyelitis pada pasien tersebut
didapatkan akibat kecelakaan patah tulang yang pernah dialaminya 1 tahun lalu,
karena pada beberapa kasus infeksi tulang merupakan komplikasi fraktur tulang
terbuka yang tidak ditangani dengan serius (Kumar et al., 2014; Noor, 2016),
dimana keputusan pasien untuk mengobati patah tulangnya ke dukun urut
bukannya ke dokter juga merupakan salah satu penyebabnya. Dimana menurut
Rochanan (2003), Buteera & Byimana (2009) dan Rasyad (2012) fraktur yang
tidak ditangani serius (hanya diurut saja dan dibungkus daun pisang yang tidak
higienis) dapat terjadi kontaminasi bakteri yang menimbulkan infeksi.
3.3.

Yang dilakukan tukang urut


Yang dilakukan oleh tukang urut dalam pengobatannya yang hanya mengurut

dan betisnya dibungkus dengan daun pisang adalah tidak benar yang jauh dari
prinsip-prinsip medis, apalagi kalau daun pisangnya tidak bersih sehingga dapat
menjadi sumber mikroba penginfeksi luka dan fraktur.

Dimana menurut

Rochanan (2003) dan Buteera & Byimana (2009) fraktur dalam hubungannnya
dengan lingkungan eksternal dapat terjadi kontaminasi bakteri yang menimbulkan
infeksi.
Zalavras & Patzakis (2003) serta Buteera & Byimana (2009) menyatakan
bahwa fraktur termasuk surgical emergency sehingga pengelolaannya harus
dilakukan segera. Pengelolaan yang terlambat dan kurang mendapatkan perhatian
yang semestinya akan memungkinnya terjadinya infeksi serta delayed bahkan
non-union yang merupakan masalah cukup serius dan menambah penyulit dalam
pengelolaan fraktur. Dimana pengelolaan fraktur adalah mencegah terjadinya luka
terinfeksi, menghasilkan penyembuhan patah tulang dan mempertahankan fungsi
yang optimal pada anggota tubuh yang terkena trauma.
Prinsip penanganan berupa tindakan terhadap luka terbukanya dan tindakan
terhadap stabilisasi fragmen-fragmen tulang (Zalavras & Patzakis, 2003; Buteera
& Byimana, 2009) yaitu :
1) Tindakan terhadap luka terbukanya

Luka pada patah tulang terbuka adalah luka yang terkontaminasi, sehingga
apabila tidak ditangani dengan segera dan serius akan terjadi luka yang
terinfeksi. Untuk mencegah tetanus dapat dilakukan suntikan ATS. Adapun
untuk mencegah infeksi kuman dapat dilakukan pemberian antibiotika
Sefalosforin 1-2 g setiap 6-8 jam selama 3 hari Antibiotika lain yang dapat
dipakai adalah Gentamisin yang diberikan dalam dosis sistemik 5-7
mg/kgBB/hr secara intramuskuler atau kadang-kadang intravena dalam dosis
terbagi 2-3 kali per hari. Disamping itu dilakukan perawatan luka dan
debridemen sesegera mungkin.
2) Tindakan terhadap stabilisasi fragmen-fragmen tulang
Stabilisasi fragmen tulang dapat untuk mengurangi kemungkinan terjadinya
infeksi. Untuk menstabilkan fragmen tulang dapat dilakukan dengan berbagai
pertimbangan, sebaiknya menggunakan fiksasi eksterna seperti gips, traksi
dan fiksasi skelet eksterna yang sesuai indikasi
3.4. Interpretasi pemeriksaan fisik
Deformitas, yang merupakan perubahan bentuk tulang. Dimana hal ini terjadi
karena pada saat kecelakaan hanya diurut dan dibungkus daun pisang saja.
Padahal secara medis seharusnya pada tulang yang retak dan patah mesti
dilakukan penanganan menggunakan fiksasi eksterna seperti gips, traksi dan
fiksasi skelet eksterna yang sesuai indikasi (Zalavras & Patzakis, 2003;
Buteera & Byimana, 2009). Oleh karena itu, dengan berjalannya waktu yaitu

selama 1 tahun terjadilah perubahan bentuk tulang.


Jaringan parut berdiameter 12 cm. Moshref & Mufti (2010) menyatakan
bahwa salah satu proses penyembuhan luka adalah terbentuknya jaringan
parut. Akan tetapi bila penyembuhan dilakukan tidak normal akan terbentuk
jaringan parut yang abnormal (diameter 12 cm) yang disebabkan oleh sintesis
dan deposisi yang tidak terkontrol dari jaringan kolagen pada dermis.
Jaringan parut hipertrofik merupakan komplikasi yang sering terjadi pada
sayatan bedah ataupun dapat terjadi setelah cedera termal atau trauma yang

membuat luka lainnya.


Sinus dengan discharge seropurulen. Adanya sekuestrum akan menyebabkan
adanya proses infeksi terus menerus sehingga akan terbentuk saluran sinus

(Kumar et al., 2014). Discharge seropurulen mengindikasikan pasien

menderita osteomyelitis pyogenik kronis.


Eskoriasi kulit disekitar sinus. Eskoriasi kulit terjadi akibat pengobatan yang
tidak benar (Moshref & Mufti, 2010), mengingat cedera hanya diurut dan
dibungkus daun pisang saja. Disamping itu eskoriasi disebabkan juga oleh
pengaruh discharge seropurulen yang mengiritasi kulit (Kumar et al., 2014).

3.5. Interpretasi pemeriksaan penunjang

Bone resorption. Bone resorption terjadi karena adanya


penyakit osteomielitis, dimana pada kondisi tersebut terjadi
pengaktifan osteoklas yang berlebihan menyebabkan bone
resorption (Teitelbaum, 2013; Kumar et al., 2014).

Penebalan periosteum. Priosteum ini merupakan salah satu


tempat osteogenesis (pembentukan tulang). Yang mana ada
kemungkinan periosteum dari squestrum ini masih aktif
melakukan osteogenesis sehinggadi sekitar squestrum ini
terdapat jaringan tulang baru, sehingga membuat penebalan
periosteum (Kumar et al., 2014).

Involucrum. Kumar et al. (2014) menyatakan bahwa dengan


adanya

osteomielitis

kronik

terjadi

kematian

tulang

(sequester) yang merangsang pembentukan tulang yang baru


yaitu involucrum.

Squester.

Merupakan

tulang

mati

yang

terjadi

akibat

pananganan yang tidak benar serta adanya aktivitas infeksi


dari osteomielitis (Kumar et al., 2014).

Angulasi. Yang terjadi akibat penanganan fraktur yang tidak


benar.

DAFTAR PUSTAKA

Buteera, A.M. & Byimana, J. (2009). Principles of management of open fractures.


East and Central African Journal of Surgery, 14(2), 2-9.

Dorland, W.A.N. (2012). Kamus Kedokteran Dorland.


Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Edisi 31.

Jakarta :

Kumar, V., Abbas, A.K, & Aster, J.C. (2014). Buku Ajar Patologi Robbins. Edisi
9. Jakarta : Penerbit Student Consult.
Moshref, S.S. & Mufti, S.T. (2010). Keloid and hypertrophic scars: Comparative
histopathological and immunohistochemical study. Journal of King
Abdulaziz University - Medical Sciences, 17(3), 3-22.
Noor, Z. (2016). Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Edisi 2. Jakarta :
Saemba Medika.
Price, S.A. & Wilson, L.M. (2014). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Edisi 6. Volume 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Rasjad, C. (2012). Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi 3. Cetakan 7. Jakarta :
Penerbit Yarsif Watampone.
Rochanan, A.H. (2003). Faktor-Faktor yang Berhubngan Dengan Kejadian
Infeksi pada Patah Tulang Terbuka. Semarang : Program Magister Ilmu
Biomedik, Univ. Diponegoro.
Smeltzer, S.C. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Teitelbaum, S.L. (2013). Bone resorption by osteoclasts. Science,
289, 1504-1508.

Zalavras, C.G. & Patzakis, M.J. (2003). Open fractures evaluation and
management. Journal of The American Academy of Orthopaedic
Surgeons, 11, 212-219.

Zuluaga, A.F., Galvis, W., Saldarriaga, J.G., Agudelo, M., Salahazar, B.E., &
Vesga, O. (2006). Etiologic diagnosis of chronic osteomyelitis. Arch.
Intern. Med., 166, 95-100.