Anda di halaman 1dari 16

BIOLOGI KONSERVASI

Konservasi Tingkat Spesies dan Populasi: Permasalahan Pola


Spesies atau Populasi

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok pada Mata Kuliah Biologi Konservasi
Semester Gasal yang Diampu oleh Dr. Erry Wiryani, MS. dan Dra. Murningsih, M.Si.

Oleh Kelompok V:
1.
2.
3.
4.

Febri Edo
Anisa Nurul Hasana
Huda Wiradarma
Rofiatun Niswah

(24020114130069)
(24020114130070)
(24020114140081)
(24020114130094)

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
SEPTEMBER 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karuniaNya sehingga penyusun mampu menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Konservasi
Tingkat Spesies dan Populasi: Permasalahan Pola Spesies atau Populasi.
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan
tugas mata kuliah Biologi Konservasi di Jurusan Biologi, Universitas Diponegoro.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga
kepada :
1.

Ibu Dr. Erry Wiryani, MS. dan Dra. Murningsih, M.Si.selaku dosen pengampu pada mata
kuliah Biologi Konsevasi.

2.

Rekan-rekan semua yang mengikuti perkuliahan Biologi Konsevasi.

3.

Keluarga yang selalu mendukung penyusunan makalah.

4.

Semua pihak yang ikut membantu penyusunan Makalah Konservasi Tingkat Spesies dan
Populasi: Permasalahan Pola Spesies atau Populasi, yang tidak dapat penyusun sebutkan
satu persatu.
Semoga dengan adanya penyusunan makalah ini, dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat

menambah wawasan mengenai konservasi tingkat spesies dan populasi khususnya permasalahan
pada spesies atau populasi.
Dalam penyusunan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penyusun.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penyusun harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.
Semarang, 25 September 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................................... 1
1.3 Tujuan......................................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................................ 3
2.1 Biologi Konservasi..................................................................................................................... 3
2.2 Spesies dan Populasi ................................................................................................................. 4
2.3 Penaksiran Ukuran Populasi yang Efektif.................................................................................. 5
2.4 Konsep Dasar pada Populasi yang Kecil.................................................................................... 6
2.5 Masalah pada Populasi yang Kecil............................................................................................. 7
2.6 Urgensi Pemanenan pada Populasi Tinggi............................................................................... 10
BAB III PENUTUP...................................................................................................................... 12
3.1 Kesimpulan............................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................... 13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Segala kehidupan Makhluk hidup baik mikroorganisme maupun makroorganisme
tidak lepas dari sebuah asosiasi atau interaksi baik antar spesies maupun antar populasi
tertentu. Tanpa adanya asosiasi maka dapat dipastikan keeksistensian suatu makhluk
hidup tersebut akan rendah. Di dalam Asosiasi atau interaksi tersebut akan memunculkan
suatu pola baik antar spesies maupun populasi yang khas dan beragam. Melalui pola
tersebut kita dapat mengetahui apakah suatu spesies atau populasi tersebut mengalami
permasalahan atau tidak dan apakah keeksistensian suatu populasi maupun spesies
tersebut mampu mempengaruhi keeksistensian spesies maupun populasi organisme yang
lain.
Saat ini, banyak sekali permasalahan dalam ruang lingkup konservasi biologi salah
satunya adalah permasalahan persebaran pola spesies dan populasi. Lahan hutan yang
semakin sedikit dan aktivitas manusia menjadi salah satu penyebab terbesar yang
mempengaruhi persebaran pola spesies dan populasi suatu makhluk hidup. Adapun pihak
yang harus membantu dalam pelestarian flora dan fauna bukan hanya pihak lembagalembaga konservatif saja namun kita sebagai Mahasiwa Biologi dan masyarakat umum
juga harus turut serta dalam mencapai tujuan pelestarian flora dan fauna. Oleh sebab itu
kami mencoba untuk menyusun makalah ini sebagai salah satu pengetahuan konservasi
mengenai permasalahan pola spesies dan populasi yang dihadapi saat ini.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana yang dimaksud dengan spesies dan populasi yang efektif?
2. Permasalahan seperti apa yang muncul pada pola spesies dan populasi yang kecil?
3. Bagaimana permasalahan yng sering kali terjadi pada populasi yang tergolong tinggi?

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa Biologi diharapkan mampu mengetahui apa itu spesies dan populasi yang
efektif
2. Mahasiswa Biologi diharapkan mampu mengetahui permasalahan dalam pola spesies
dan populasi yang kecil
3. Mahasiswa Biologi diharapkan mampu mengetahui permasalahan dalam pola spesies
dan populasi yang tergolong tinggi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Biologi Konservasi


Konservasi sumberdaya alam hayati berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 tentang
konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya merupakan pengelolaan
sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk
menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan
kualitas keanekaragaman dan nilainya. Biologi konservasi adalah ilmu yang berorientasi
pada tujuan yang mencari penyelesaian untuk menghadapi krisis keanekaragaman
biologis (biodiversity crisis), penurunan yang sangat cepat dalam keanekaragaman
kehidupan bumi pada saat ini (Campbell et al., 2007).
Tujuan utama kegiatan konservasi adalah kelangsungan hidup umat manusia
karena umat manusia tergantung pada lingkungan alam untuk dapat memproduksi
makanan dan mendapatkan bahan-bahan mentah. Tujuan lain kegiatan konservasi adalah
menjaga lingkungan yang bebas polusi udara dan air serta meningkatkan lingkungan
dengan peraturan secara rasional tempat tinggal, kantor-kantor, pabrik-pabrik, jalan-jalan
dan jalan raya, serta ruangan terbuka dan keadaan alam lainnya. Tujuan terakhir kegiatan
konservasi adalah perlindungan flora, fauna dan alam itu sendiri. Kelestarian alam sangat
diperlukan sebagai sumber kehidupan hidup manusia. Kegiatan konservasi meliputi
konservasi tanah, udara, air, hutan, dan segala makhluk hidup di darat, air dan udara
(Adiwibawa, 2009).
Fokus biologi konservasi pada spesies dan populasi melibatkan pemahaman
dinamika populasi kecil, penentuan penurunan dan penilaian faktor-faktor yang
bertanggung jawab atas penurunan tersebut dan penentuan bagaimana untuk
mempertahankan populasi kecil yang seringkali terbagi-bagi. Upaya konservasi idealnya
dimulai sebelum terjadi penurunan yang serius, yaitu ketika masih tersedia banyak waktu
untuk menyelamatkan daerah habitat yang cukup besar untuk mendukung populasi
alamiah. Ilmu konservasi lebih memfokuskan pada proses yang mendukung ekosistem

dan hubungan evolusioner yang diwakili oleh spesies daripada melestarikan spesies
individual atau populasi (Campbell et al., 2007).

2.2 Spesies dan Populasi


2.2.1 Spesies
Keanekaragaman spesies sendiri merupakan semua spesies di bumi, termasuk
bakteri, protista serta spesies dari Kingdom bersel banyak (multiseluler) seperti
tumbuhan, jamur, hewan. Spesies secara morfologis diartikan sebagai sekelompok
individu yang menunjukkan beberapa karakteristik penting berbeda dengan kelompokkelompok lain, baik secara morfologi, fisiologi atau biokimia. Definisi spesies secara
biologis dapat diartikan sebagai sekelompok individu-individu yang berpotensi untuk
berkembang biak dengan sesamanya di alam, dan tidak mampu berkembang biak
dengan individu-individu dari spesies lain. Proses seleksi alam seringkali memunculkan
spesies-spesies baru. Proses dari satu spesies asal berkembang menjadi satu atau lebih
spesies baru yang berbeda dikenal dengan istilah spesiasi. Individu-individu dalam
suatu populasi mempunyai karakteristik tertentu yang diwariskan dari induk ke
anaknya. Variasi genetik muncul akibat perubahan spontan, baik dalam kromosom
maupun melalui penyusunan kembali kromosom, khususnya selama reproduksi seksual
(Indrawan et al., 2012).

2.2.2 Populasi
Populasi merupakan kumpulan individu sejenis yang berada dalam suatu tempat
tertentu, misalnya sekelompok harimau yang terdapat disuatu hutan disebut populasi
harimau, sementara itu sekelompok pohon bakau (mangrove) yang berada pinggir suatu
pantai disebut dengan populasi pohon bakau (Siahaan, 2008). Istilah populasi dapat
diartikan juga sebagai sekelompok individu-individu yang dapat kawin satu dengan
yang lainnya dan dapat menghasilkan keturunan. Jumlah keberagaman genetik dalam
populasi ditentukan oleh banyaknya gen yang memiliki lebih dari satu alela (gen
polimorfik)

dan banyaknya alela pada setiap gen tersebut. Gen polimorfik pada

beberapa individu dalam populasi mempunyai gen heterozygous, artinya individu akan
4

menerima alela gen yang berbeda dari setiap individunya. Semua tingkat variasi genetik
ini berkontribusi pada kemampuan populasi untuk beradaptasi terhadap perubahan
lingkungan. Spesies yang tergolong langka memiliki variasi genetik yang lebih sedikit,
sehngga menjadi lebih cepat punah jika kondisi lingkungan berubah (Indrawan et al.,
2012).
Susunan keseluruhan dari gen dan alela dalam populasi disebut gene pol(lungkang
gen atau kumpulan gen) pada populasi. Kombinasi tertentu dari alela yang dimiliki
setiap individu disebut genotipnya. Fenotip suatu individu menggambarkan karakter
morfologi, fisiologi, anatomi dan biokimia individu tersebut. Fenotip muncul sebagai
hasil perwujudan atau ekspresi genotip pada lingkungan terkait. Gene Pool
(kumpulan gen) dari populasi sering mengalami perubahan sejalan dengan waktu ketika
lingkungan dari spesies tersebut berubah. Perubahan dapat bersifat biologis (akibat
perubahan ketersediaan pakan, pesaing, pemangsa) maupun fisik (akibat perubahan
iklim, ketersebiaan air, karakeristik tanah). Ketika suatu populasi mengalami banyak
sekali perubahan genetik sehingga tidak dapat lagi disilangkan dengan spesies asal yang
menurunkan genetik tersebut, dapat dikatakan bahwa spesies baru telah muncul,
peristiwa tersebut dikenal sebagai istitah evolusi filetik (phyletic evolution) (Indrawan
et al., 2012).

2.3 Penaksiran Ukuran Populasi yang Efektif


Penentuan ukuran populasi yang efektif (effective population size, Ne) diperlukan
dalam taksiran ukuran minimum populasi yang dapat bertahan hidup. Ukuran populasi
yang efektif didasarkan pada jumlah organisme dewasayang berhasil kawin dan
berkembang biak (menyumbangkan gamet pada generasi berikutnya). Taksiran ukuran
minimum populasi yang dapat bertahan hidup mendasari prediksi daerah dinamis
minimum (minimum dynamic area), jumlah habitat sesuai yang diperlukan untuk
menopang suatu populasi yang dapat bertahan hidup. Daerah dinamis minimum dapat
ditaksir dengan cara menggabungkan taksiran ukuran minimum populasi yang dapat
bertahan hidup dengan data pada kisaran tempat tinggal (daerah dimana suatu individu
atau kelompok individu hidup selama satu tahun). Ukuran populasi dan daerah dinamis
minimum harus cukup besar untuk mengakomodasi gangguan yang merupakan cirri khas
habitat alamiah spesies tersebut (Campbell et al., 2007).
5

Berikut rumus penaksiran ukuran populasi yang efektif (Ne) berdasarkan Campbell
et al. (2007) dengan menggunakan rasio jenis kelamin pada individu-individu yang
sedang berkembang biak sebagai berikut:

N e:

4N mN f
N m+N f

Keterangan :
Ne : Taksiran ukuran populasi
Nf : Jumlah betina yang telah berhasil berkembang biak
Nm: Jumlah jantan yang telah berhasil berkembang biak
Ukuran suatu populasi dapat dinyatakan efektif apabila mampu mempertahankan
cukup keanekaragaman genetiknya

sehingga dapat beradaptasi secara evolusioner.

Populasi dengan Nerendah sangat rentan terhadap perkawinan kerabat dekat, hal tersebut
mampu mengurangi heterozigositas, pengaruh acak hanyutan genetik serta pengaruh
bottleneck. Namun terdapat beberapa kasus yang ditemukan pada beberapa populasi
hewan, dimana spesies tersebut memiliki laju reproduksi yang lambat dengan populasi
yang kecil dengan keragaman genetik yang rendah merupakan hal yang normal, seperti
populasi cheetah, beruang cokelat Eropa, dan beruang Grizzly. Kasus lain dapat
ditemukan pada spesies tanaman seperti Lousewort pedicularisdan beberapa rumpitrumputan. Dengan demikian, pada beberapa kasus, keanekaragaman genetic yang rendah
dikaitkan dengan pelebaran populasi, bukan dengan penurunan populasi (Campbell et al.,
2007).

2.4 Konsep Dasar pada Populasi yang Kecil


Shaffer (1981) mendefinisikan istilah Minimum Viable Population (MVP) sebagai
jumlah individu minimal yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup suatu
spesies. MVP merupakan ukuran terkecil dari suatu populasi yang terisolir dalam suatu
habitat tertentu, yang berpeluang 99% untuk bertahan hidup selama 1000 tahun. MVP
dapat didefinisikan pula sebagai ukuran populasi terkecil yang diperkirakan memiliki
peluang yang sangat tinggi untuk bertahan hidup dimasa mendatang. Shaffer menekankan
6

bahwa definisi MVP dalam konteks ini tidak mutlak, karena ditentukan berdasarkan
tingkat peluang bertahan hidup serta kerangka waktu yang akan diperkirakan oleh
peneliti. Langkah selanjutnya dalam penelitian konservasi spesies adalah memperkirakan
Minimum Dynamic Area (MDA). MDA merupakan luasan atau jumlah habitat yang cocok
dihuni agar MVP dapat dicapai atau dipertahankan. MDA dapat dihitung dengan
mempelajari luasan daerah jelajah individu maupun kelompok atau koloni spesies
terancam punah tersebut. Umumnya, luas kawasan antara 100-1.000 km dibutuhkan
untuk melindungi berbagai populasi mamalia bertubuh kecil di Afrika, sedangkan untuk
mempertahankan populasi karnivora besar seperti singa dibutuhkan kawasan seluas
10.000 km (Indrawan et al., 2012).

2.5 Masalah pada Populasi yang Berukuran Kecil


Umumnya, untuk melindungi sebagian besar spesies diperlukan populasi yang
besar. Spesies dengan ukuran populasi yang kecil akan menghadapi resiko besar berupa
kepunahan. Menurut Indrawan et al (2012), terdapat tiga sebab mengapa populasi kecil
terancam oleh berkurangnya jumlah individu dan kepunahan lokalantara lain:
1. Hilangnya keragaman genetik dan timbulnya masalah dalam tekanan silang-dalam
atau perkawinan sedarah (inbreeding depression) serta hanyutan genetik (genetic
drift).
2. Perubahan demografik, ketika laju kelahiran dan laju kematian akan mengalami
variasi acak dan mengakibatkan perubahan pada struktur dan komposisi populasi.
3. Perubahan lingkungan, yang dapat disebabkan oleh bermacam ragam peristiwa
termasuk pemangsaan, kompetisi, penyakit, persediaan pangan, maupun bencana
alam yang terjadi sewaktu-waktu.

2.5.1 Menyusutnya Keragaman Genetika


Keragaman genetik turut menentukan keberhasilan suatu populasi untuk dapat
beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Individu dengan alela atau kombinasi
alela tertentu mungkin memiliki sifat-sifat yang sesuai dan dibutuhkan untuk bertahan
serta berkembang biak didalam kondisi yang baru. Frekuensi alela pada populasi yang
kecil dapat berubah-ubah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Frekuensi alela dan
7

perubahan frekuensi ini terjadi secaraacak, tergantung pada individu mana yang
berkembang biak dan menghasilkan keturunan. Hanyutan genetik (genetic drift)
merupakan proses kehilangan keragaman genetik secara acak, yang sering terjadi pada
populasi-populasi yang berukuran kecil. Populasi kecil yang mengalami hanyutan
genetic lebih rentan terhadap berbagai efek genetika yang merugikan, misalnya
tekanan silang-dalam atau perkawinan sedarah (inbreeding depression), tekanan
silang-luar (outbreeding depression) serta berkurangnya kemampuan

berevolusi.

Faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya populasi yang mendorong


lebih lanjut pengikisan variasi genetik bagi generasi mendatang, serta peluang
kepunahan menjadi lebih besar (Indrawan et al., 2012).

2.5.2 Tekanan Silang-Dalam (inbreeding depression)


Tekanan silang-dalam dapat muncul akibat pertukaran gen antara induk dengan
keturunannya, persilangan antarkerabat dekat maupun penyerbukan sendiri oleh
tumbuhan hermaprodit. Tekanan silang-dalam ditandai oleh tingginya angka kematian,
sedikitnya jumlah keturunan, dan munculnya keturunan yang lemah, steril serta
keberhasilan reproduksi yang rendah. Tekanan silang-dalam muncul ketika kedua induk
memiliki alela resesif, dan kedua alela resesif yang pada umumnya bersifat merugikan
tersebut melalui proses perkawinan kemudian bertemu atau bersilang sehingga
memunculkan sifat resesif terkait (Indrawan et al., 2012).

2.5.3 Tekanan Silang-Luar (outbreeding depression)


Tekanan silang-luar sering juga disebut sebagai perkawinan antar jenis dan subjenis, dimana resiko tersebut dapat terjadi pada spesies yang tergolong langka dan
habitatnya menjadi rusak. Individu-individu yang tidak berhasil menemukan pasangan
pada spesies yang sama akan kawin dengan anggota dari spesies kerabatnya, sehingga
didapati keturunan yang lemah, steril dan berdaya adaptasi rendah terhadap
lingkungannya. Kromosom dan enzim yang diwarisi dari kedua induk yang berbeda,
menimbulkan ketidakcocokan atai inkompatibilitas. Tekanan silang-luar dapat terjadi
antara subspecies yang berbeda, atau bahkan pada genotip yang terpisah (divergent
genotypes) dalam satu spesies (Indrawan et al., 2012).
8

2.5.4 Hilangnya Kelenturan dalam Proses Evolusi


Hilangnya variasi genetika pada populasi yang berukuran kecil dapat membatasi
kemampuannya untuk menghadapi keadaan yang baru dan perubahan lingkungan
jangka panjang seperti polusi, penyakit baru dan perubahan iklim global. Alela langka
maupun kombinasi alela yang tidak umum dapat saja merupakan modal untuk
menghadapi kondisi lingkungan dan perubahannya dimasa depan. Populasi kecil yang
tidak memiliki keragaman genetik besar untuk menghadapi perubahan lingkungan
jangka panjang akan lebih mudah terancam kepunahan (Indrawan et al., 2012).
.
2.5.5 Dampak Perubahan Iklim Global
Perubahan iklim global terhadap ekosistem alami akibat dari pemanasan global
dapat terlihat melalui beberapa bukti salah satunya yaitu Pegunungan Kaukasusantara
Laut Hitam dan Laut Kaspia selama 100 tahun terakhir setengah dari seluruh es
glasiernya. Berdasarkan IPCC (2001), es yang mencair dalam 100tahun ke depan akan
menambah jumlah air laut sehingga terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 9-88
cm sehingga dapat membanjiri komunitas pesisir yang rendah posisinya. Ekosistem
alami seperti bakau akan rusak dan terdegradasi. Selain itu persawahan di pesisir akan
menjadi rusak karena banjir disebabkan oleh kenaikan permukaan air laut, hal tersebut
dapat berdampak langsung terhadap persediaan pangan. Ekosistem terumbu karang juga
terancam oleh kenaikan suhu air laut. Peningkatan kadar karbon dioksida diatmosfer
juga berpengaruh pada kemampuan spesies laut untuk menghasilkan kalsium karbonat,
missal terumbu karang sehingga berpotensi memberikan dampak besar bagi ekologi dan
kimia lingkungan laut. Beberapa jenis ikan memiliki sifat sensitif terhadap
meningkatknya suhu air laut dan kondisi ini mendorong terjadinya migrasi ikan ke
daerah yang lebih dingin. Prioritas konservasi dalam hal ini melindungi komunitas yang
masih utuh dan memulihkan yang telah terdegradasi, dalam jangka panjang untuk
menurunkan kadar gas-gas rumah kaca dengan mengurangi penggunaan bahan bakar
fosil serta melindungi dan menanam kembali hutan (Indrawan et al., 2012).

2.5.6 Kegiatan Eksploitasi


Peningkatan populasi manusia menyebabkan pemanfaatan sumberdaya alam dan
lingkungan meningkat pesat, teknologi modern digunakan demi menunjang pemenuhan
kebutuhan. Peralatan tradisional penunjang berburu di hutan tropika humida dan
savanna seperti sumpit, tombak, dan panah, kini digantikan dengan senjata api.
Masyarakat tradisional umumnya memiliki aturan-aturan tertentu, yang tujuan
utamanya untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam hayati dan mencegah eksploitasi
atau pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan. Kegiatan pemanfaatan
sumberdaya alam yang ada di lingkungan sekitar masyarakat tersebut dikontrol dan
perizinan yang ketat seperti pemanenan suatu spesies tertentu dikontrol dengan ketat
dan larangan berburu didaerah terlarang serta larangan mengambil hewan betina dan
anak-anak hewan. Aturan-aturan tersebut memungkinkan masyarakat tradisional untuk
memanfaatkan sumberdaya alam dengan prinsip kebersamaan dalam jangka panjang
dan berkelanjutan. Umumnya, kegiatan eksploitasi sumber daya saat ini dilakukan
secara oportunistik (Indrawan et al., 2012).

2.6 Urgensi Pemanenan pada Populasi Tinggi


Populasi satwa yang tergolong tinggi mampu menyebabkan permasalahan baik
dalam habitat, pakan, kemampuan reproduksi, penyakit dan lainnya. Populasi tinggi yang
tidak sebanding dengan daya dukung lingkungan mampu menyebabkan predasi maupun
kompetisi memperebutkan kebutuhan sumberdaya alam yang ada disekitarnya. Ledakan
populasi tersebut selain menyebabkan kompetisi terhadap sesama juga mampu
menimbulkan kompetisi dengan manusia. Pemanenan populasi satwa ditujukan untuk
menyeimbangkan sex-ratio yang diperlukan dalam wildlife management. Umumnya,
kondisi sex-ratio jantan-betina dialam selalu mendekati 1:1 dimana peluang kelahiran
jantan dan betina sama dengan 0,5. Namun, terdapat beberapa populasi satwa liar yang
memiliki sex-ratio 1:4 seperti rusa, gajah, dan beberapa satwa lainnya (Santosa, 2014).
Bahkan penelitian yang telah dilakukan oleh Santosa (1996) menyatakan bahwa sex-ratio
untuk kelompok monyet ekor panjang yaitu 1:15. Istilah optimal diberikan karena pada
angka sex-ratio tersebut terjadi angka kelahiran tertinggi (Santosa, 2014). Pemanenan
dilakukan pada saat terjadi laju pertumbuhan populasi tertinggi (r maks). Populasi yang
dipanen secara terus menerus, grafik pertumbuhan populasinya akan berbentuk seperti
10

mata gergaji dan ukuran populasi total tidak akan pernah mencapai daya dukung
habitatnya. Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Kusmardiastuti (2010)
dan Surya (2010) mengenai monyet ekor panjang, Masudah (2012) untuk populasi
banteng dan Yuliawati (2011) tentang populasi rusa menunjukkan bahwa ukuran populasi
hewan penelitian sudah mendekati atau melebihi minimum viable population (MVP).
Santosa (2013) menyatakan bahwa pemanenan yang dilakukan pada saat ukuran
populasi satwa mencapai daya dukung habitatnya akan menjadikan individu-individu
satwa memiliki bobot dan kesehatan yang lebih baik dibandingkan bilamana tidak
dilakukan pemanenan. Samuel dan White (2009) memberikan empat alasan utama
mengapa pemanenan satwa perlu dilakukan yaitu (1) Sebagai alat penting dalam
manajemen populasi; (2) Pemanenan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat lokal
atau sekitar; (3) Sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat setempat; dan (4) Sebagai
wahana rekreasi berburu. Pemanenan satwa liar menurut Santosa (2014) umumnya
menggunakan pendekatan minimum viable population (MVP). Kelebihan metode tersebut
yaitu tidak mengharuskan mengetahui nilai daya dukung habitat yang sangat sulit
diperoleh serta kuota panen lestari tidak hanya berupa jumlah individu total tetapi dapat
dirinci per kelas umur untuk setiap jenis kelamin. Selain itu, nilai MVP relatif konstan
bila dibandingkan dengan nilai daya dukung (K) yang diperkirakan sangat peka terhadap
perubahan baik faktor internal satwa maupun faktor eksternal dari lingkungannya.

11

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Biologi konservasi merupakan ilmu terapan yang berorientasi pada kajian mengenai
penyelesaian krisis keanekaragaman hayati. Biologi konservasi sendiri bertujuan untuk
menjaga kelangsungan makhluk hidup yang ada dibumi. Konservasi pada tingkat awal
adalah konservasi pada spesies dan populasi. Sebagaimana yang telah disebutkan
sebelumnya, kajian biologi konservasi pada spesies dan populasi tidak lepas dari
permasalahan yang terjadi pada spesies dan populasi tersebut. Permasalahan tersebut
dapat disebabkan tekanan dari luar maupun berasal dari diri makhluk hidup tersebut.
Bilamana membahas tentang populasi, dapat dibayangkan seperti apa permasalahan apa
saja yang dapat terjadi pada populasi yang kecil maupun tinggi. Populasi kecil
dihadapkan pada kemampuan populasi tersebut dalam menghadapi tekanan dari luar dan
dalam. Sedangkan populasi yang tinggi dihadapkan pada bagaimana populasi tersebut
dapat terkontrol sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem.

12

DAFTAR PUSTAKA
Adiwibawa, Eka. 2009. Pengelolaan Rumah Walet. Kanisius, Yogyakarta.
Campbell, Neil A., Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell. 2007. Biologi edisi 5. Erlangga,
Jakarta.
Indrawan, Mochammad, Richard B. Primack, dan Jatna Supriatna. 2012. Biologi Konservasi.
Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Kusmardiastuti. 2010. Penentuan Kuota Panen Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Berdasarkan Parameter Demografi. Thesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Masudah. 2012. Penentuan Ukuran Populasi Minimum dan Optimum Lestari Banteng
Berdasarkan Parameter Demografi. Thesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Samuel, R.K. dan D. White. 2009. Management of Wildlife Harvested Populations.
Santosa, Y. 1996. Beberapa Parameter Bio-ekologi Penting dalam Pengusahaan Monyet Ekor
Panjang (Macaca fascicularis). Media Konservasi Vol.V No(1) April 1996; 25-29.
Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Santosa, Y. 2013. Comparative Analysis Of Several Quota Calculation Methods For Wildlife
Sustainable Harvesting In Natural Habitats. International Seminaire on Forest and
Biodiversity. Manado, July 2013.
Santosa, Yanto. 2014. Pentingnya Kebijakan Pemanenan dalam Pengelolaan Populasi Satwa
Liar Di Kawasan Konservasi. Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Vol. 1, No.
1, April 2014: 53-58.
Shaffer, M.L. 1981. Minimum Population Sizes for Spesies Conservation. University of
California Press and Amarican Institute of Biological Science 31: 131-134.
Siahaan, N.H.T. 2008. Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Erlangga, Jakarta.
Surya, R.A. 2010. Penentuan Ukuran Populasi Minimum Lestari Monyet Ekor Panjang
(Macaca fascicularis) Berdasarkan Parameter Demografi. Thesis. Sekolah Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Yuliawati, A. 2011. Penentuan Ukuran Populasi Minimum dan Optimum Lestari Rusa Timor
Berdasarkan Parameter Demografi. Studi Kasus di TWA CA Pananjung Pangandaran
dan TN Alas Purwo. Thesis magister tahun 2011.

13