Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

TEKNOLOGI REPRODUKSI BERBANTU

Disusun Oleh:
Robiah Al Adawiyah
110.2012.256

Pembimbing :
dr. H. Dadan Susandi, SpOG

DISUSUN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK SMF OBSGYN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RSUD. DR. SLAMET GARUT
19 SEPTEMBER 25 NOVEMBER 2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Allhamdulillah, segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT dan
shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
saya dapat menyelesaikan referat ini yang berjudul TEKNOLOGI REPRODUKSI
BERBANTU dengan baik.
Referat ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat dalam mengikuti dan
menyelesaikan kepaniteraan klinik SMF Obsgyn di RSUD Dr.Slamet Garut. Dalam
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. H. Dadan Susandi, SpOG, selaku dokter pembimbing.
2. Para Perawat dan Pegawai di Bagian SMF Obsgyn RSUD Dr.Slamet Garut.
3. Teman-teman sejawat dokter muda di lingkungan RSUD Dr.Slamet Garut.
Segala daya upaya telah di optimalkan untuk menghasilkan referat yang baik dan
bermanfaat, dan terbatas sepenuhnya pada kemampuan dan wawasan berpikir penulis. Pada
akhirnya penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca agar dapat menghasilkan tulisan yang lebih
baik di kemudian hari.
Akhir kata penulis mengharapkan referat ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca,
khususnya bagi para dokter muda yang memerlukan panduan dalam menjalani aplikasi ilmu.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Garut, Oktober 2016

Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................

KATA PENGANTAR .....................................................................................

ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN ..........................................................................

BAB II

TEKNOLOGI REPRODUKSI BERBANTU..............................

2.1. Infertilitas................................................................................

2.1.1. Definisi........................................................................

2.1.2. Epidemiologi...............................................................

2.1.3. Klasifikasi...................................................................

2.1.4. Etiologi.......................................................................

2.2. Teknologi Reproduksi Berbantu..............................................

2.2.1. Definisi.......................................................................

2.2.2. Klasifikasi...................................................................

2.2.3. Prosedur Pelaksanaan.................................................

2.2.4. Preimplatation Genetic Diagnosis (PGD)...................

16

2.2.5. Cryopreservation.........................................................

17

2.2.6. Risiko..........................................................................

18

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................

19

iii

BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu gangguan kesehatan reproduksi yang terjadi pada usia subur adalah
infertilitas. Infertilitas merupakan ketidakmampuan untuk mengandung sampai melahirkan
bayi hidup setelah satu tahun melakukan hubungan seksual yang teratur dan tidak
menggunakan alat kontrasepsi apapun/setelah memutuskan untuk mempunyai anak. Jenis
infertilitas terbagi menjadi dua, yakni infertilitas primer dan infertilitas sekunder. Banyak
faktor yang mempengaruhi kejadian infertilitas baik primer maupun sekunder dari segi pria,
wanita, maupun faktor lain. Dari segi wanita masalah pada serviks, tuba, ovarium, vagina,
uterus dan gangguan ovulasi. Dari segi pria masalah seperti faktor koitus, ejakulasi, pekerjaan
dan faktor lain dapat menyebabkan kejadian infertilitas. Faktor usia dan gaya hidup juga tak
luput dari penyebab infertilitas sekunder.
Teknologi reproduksi berbantu mencakup semua perawatan dari segala bentuk
gangguan infertilitass di mana sel telur dan sperma keduanya ditangani di luar tubuh manusia,
seperti fertilisasi in vitro (IVF), injeksi sperma intracytoplasmic (ICSI), dan lainnya. Dalam
pengobatan ART, seorang wanita akan melakukan suntikan hormon untuk menginduksi
pertumbuhan simultan dan pematangan dari sel telur (biasanya 10-15 oosit). Kemajuan
tersebut dipantau dengan tes darah dan pemeriksaan USG.
Meningkatnya penggunaan teknologi reproduksi berbantu atau Assisted Reproductive
Technology (ART) selama dua dekade terakhir telah memungkinkan ribuan pasangan infertil
untuk memiliki anak, saat ini mencapai 1% dari semua kelahiran dan 18% dari kelahiran
kembar di Amerika Serikat. Prosedur ART secara signifikan meningkatkan risiko kehamilan
kembar, baik monokorion dan dikorion, dengan risiko yang terkait dikaitkan dengan
kehamilan ini. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan peningkatan risiko kelainan
kromosom, berat lahir rendah, dan kelahiran prematur. Beberapa hasil ART juga
menunjukkan hubungan antara penggunaan IVF dan cacat lahir, hasil perkembangan saraf
yang merugikan, preeklamsia, kematian perinatal, plasenta previa, dan peningkatan kelahiran
sesar.

BAB II
TEKNOLOGI REPRODUKSI BERBANTU
2.1. Infertilitas
2.1.1. Definisi
Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk mengandung sampai melahirkan bayi hidup
setelah satu tahun melakukan hubungan seksual yang teratur dan tidak menggunakan alat
kontrasepsi apapun atau setelah memutuskan untuk mempunyai anak.1
2.1.2. Epiemiologi
Di Indonesia terdapat 40% pasangan usia subur dan 10% diantaranya mengalami
infertilitas. Penyebab infertilitas pada pasangan suami istri dapat diklasifikasikan menjadi 3
golongan dengan proporsi: faktor perempuan 45%, faktor laki-laki 40%, dan faktor idiopatik
15%.2 WHO juga memperkirakan sekitar 50-80 juta pasutri (1 dari 7 pasangan) memiliki
masalah infertilitas, dan setiap tahun muncul sekitar 2 juta pasangan infertil.1

2.1.3. Klasifikasi
a.

Infertilitas primer: jika seorang wanita yang telah berkeluarga belum pernah mengalami
kehamilan meskipun hubungan seksual dilakukan secara teratur tanpa perlindungan
kontrasepsi untuk selang waktu paling kurang 12 bulan.1

b.

Infertilitas sekunder: jika seorang wanita yang telah berkeluarga tidak hamil dalam waktu
satu tahun atau lebih dengan berusaha berhubungan seksual secara teratur tanpa
perlindungan kontrasepsi, tetapi sebelumnya pernah hamil.1

2.1.4. Etiologi
a.

Infertilitas primer1
1. Pada wanita
-

Kelainan pada vagina


Infeksi vagina seperti vaginitis dan trikomonas vaginalis akan menyebabkan infeksi
lanjut pada portio, serviks, endometrium bahkan sampai ke tuba yang dapat
menyebabkan gangguan pergerakan dan penyumbatan pada tuba sebagai organ
reproduksi vital untuk terjadinya konsepsi.

Kelainan pada serviks


Kelainan Serviks yang dapat menyebabkan infertilitas adalah:
i. Perkembangan serviks yang abnormal sehingga mengakibatkan migrasi sperma
terhambat.
ii. Tumor serviks seperti polip atau mioma yang dapat menutupi saluran sperma atau
menimbulkan discharge yang mengganggu spermatozoa.
iii. Infeksi serviks yang menghasilkan asam atau sekresi purulen yang bersifat toksin
terhadap spermatozoa.

Kelainan pada uterus


Nidasi ovum yang telah dibuahi terjadi di endometrium. Kejadian ini tidak dapat
berlangsung apabila ada patologi di uterus, seperti polip endometrium, adenomiosis,
mioma uterus atau leiomioma, bekas kuretase dan abortus septik. Kelainan tersebut
dapat mengganggu implantasi, pertumbuhan, nutrisi serta oksigenisasi janin.

Kelainan pada tuba falopii


Sumbatan di tuba fallopii merupakan salah satu penyebab infertilitas. Sumbatan
tersebut dapat terjadi akibat infeksi, pembedahan tuba atau adhesi yang disebabkan
oleh endometriosis atau inflamasi. Peningkatan insiden penyakit radang panggul
(pelvic inflammatory disease PID). PID ini menyebabkan jaringan parut yang
memblok kedua tuba fallopi.

Kelainan pada ovarium


Masalah ovarium yang dapat mempengaruhi infertilitas yaitu kista atau tumor
ovarium, penyakit ovarium polikistik, endometriosis, atau riwayat pembedahan yang
mengganggu siklus ovarium.

Gangguan ovulasi
Gangguan Ovulasi yang dibagi ke dalam 4 kelas (WHO):
i.

Kelas 1: Kegagalan pada hipotalamus hipopise. Karakteristik dari kelas ini adalah
gonadotropin yang rendah, prolaktin normal, dan rendahnya estradiol. Kelainan
ini terjadi sekitar 10 % dari seluruh kelainan ovulasi.

ii. Kelas 2: Gangguan fungsi ovarium. Karakteristik dari kelas ini adalah kelainan
pada gonadotropin namun estradiol normal. Anovulasi kelas 2 terjadi sekitar 85 %
dari seluruh kasus kelainan ovulasi.
iii. Kelas 3: Kegagalan ovarium. Karakteristik kelainan ini adalah kadar
gonadotropin yang tinggi dengan kadar estradiol yang rendah. Terjadi sekitar 4-5
% dari seluruh gangguan ovulasi.
3

iv. Kelas 4: Kelompok wanita yang mengalami gangguan ovulasi akibat disfungsi
ovarium, memiliki kadar prolaktin yang tinggi.
2. Pada laki-laki
-

Kelainan anatomi
Tiak adanya vas deferens kongenital, obstruksi vas deferens dan kelainan kongenital
sistem ejakulasi.

Spermatogenesis abnormal
Dapat terjadi karena mumps, kelainan kromosom, terpajan bahan kimia, radiasi atau
varikokel.

Masalah ejakulasi
Masalah ejakulasi yang terjadi yaitu seperti ejakulasian retrograde yang berhubungan
dengan diabetes, kerusakan saraf, obat-obatan atau trauma bedah.

Faktor pekerjaan
Faktor pekerjaan yang suhu lingkungannya lebih tinggi dibanding suhu tubuh. Hal
tersebut menyebabkan spermatogenesis sperma tidak optimal.

Infeksi
Infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual, stres, nutrisi yang tidak adekuat,
asupan alkohol berlebihan dan nikotin.

Masalah interaktif
Masalah spesifik untuk setiap pasangan seperti frekuensi senggama yang tidak
memadai, waktu senggama yang buruk, perkembangan antibodi terhadap sperma
untuk melakukan penetrasi ke sel telur.

b.

Infertilitas sekunder1
- Usia
Faktor usia sangat berpengaruh pada kesuburan seorang wanita. Selama wanita
tersebut masih dalam masa reproduksi yang berarti mengalami haid yang teratur,
kemungkinan mengalami kehamilan sangat besar. Akan tetapi seiring dengan
bertambahnya usia maka kemampuan indung telur untuk menghasilkan sel telur akan
mengalami penurunan. Bertambahnya usia pada pria juga menyebabkanpenurunan
kesuburan. Meskipun pria terus menerus memproduksi sperma sepanjang hidupnya,
akan tetapi morfologi sperma mereka mulai menurun.
-

Masalah reproduksi
Masalah pada sistem reproduksi menyebabkan masalah yang mengarah pada
infertilitas sekunder, seperti pada perempuan yang melahirkan dengan operasi
4

caesaryang dapat menyebabkan jaringan parut yang mengarah pada penyumbatan


tuba.
- Faktor gaya hidup
Wanita dengan berat badan yang berlebihan sering mengalami gangguan ovulasi,
karena kelebihan berat badan dapat mempengaruhi estrogen dalam tubuh dan
mengurangi kemampuan untuk hamil. Pria yang gemar mengenakan celana ketat juga
dapat mengalami ganguan pada motilitas sperma.
2.2. Teknologi Reproduksi Berbantu
2.2.1. Definisi
Teknologi reproduksi berbantu atau Assisted Reproductive Technology (ART) adalah
teknologi yang membantu sistem reproduksi manusia yang seharusnya terjadi secara natural.
Sistem reproduksi yang terjadi secara natural yaitu ketika semen pria yang diejakulasikan ke
dalam vagina wanita saat ovulasi. Ovulasi adalah peristiwa yang kompleks dikendalikan oleh
kelenjar hipofisis, yang merilis follicle-stimulating hormone (FSH), yang merangsang folikel
di salah satu ovarium untuk mulai tumbuh. Folikel menghasilkan hormon estrogen dan berisi
telur yang matang. Ketika telur matang, kelenjar hipofisis menghasilkan lonjakan luteinizing
hormone (LH) yang menyebabkan folikel pecah dan mengeluarkan telur yang matang
(ovulasi).

Gambar 1. Sperma yang berjalan untuk mencapai sel telur. Telur yang telah dibuahi terus perjalanan
melalui tuba falopi menuju rahim.

Pembuahan biasanya terjadi di dalam 1/3 tuba falopi, sperma pria harus mampu
berenang melalui lendir vagina dan serviks, sampai kanal serviks ke dalam rahim, dan sampai
ke tuba falopi, di mana harus menembus sel telur untuk terjadi pembuahan. Telur yang sudah
dibuahi terus berjalan ke rahim dan melakukan implantasi di lapisan rahim dan terus
berkembang.
2.2.2. Klasifikasi
Terbagi dua kelompok besar yaitu:
1.

Intra-Corporeal
Intra Corporeal dapat dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Inseminasi (IUI = Intra Uterine Insemination)
Inseminasi buatan maksudnya adalah dengan memasukkan cairan semen ke
dalam rahim wanita untuk menghasilkan kehamilan. Tindakan ini pada umumnya
berhasil dangan baik, tergantung pada keterampilan dokter. Sejauh ini tidak ada risiko
bagi wanita ataupun terdapat cacat pada bayi. Inseminasi buatan terbagi atas dua
jenis:
- AIH = homologous artificial insemination atau pembuahan homolog dengan
menggunakan benih dari suami sendiri. AIH dipraktekkan dengan alasan: Adanya
kendala-kendala fisik maupun psikis dengan cara inseminasi alamiah; Oligospermia;
Suami mengawetkan benihnya sebelum dilakukan vasektomi; Mencegah risiko yang
ditimbulkan oleh industri, bahan kimia atau radiasi;Pemilihan jenis kelamin.
- AID = heterologous artificial insemination atau pembuahan heterolog dengan
menggunakan benih bukan suami sendiri. AID dipraktekkan dengan alasan: Suami
mandul; Mencegah kemungkinan penyakit turunan; Inkomptabilitas rhesus;
Oligospermia; Wanita tidak menikah menginginkan anak; Mengharapkan turunan
yang baik.
b. Gamete Intra Fallopian Transfer (GIFT)
Gamet intrafallopian transfer (GIFT) mirip dengan IVF, tapi gamet (telur dan
sperma) yang ditransfer ke saluran tuba bukan ke dalam rahimn, dan pembuahan
berlangsung di dalam tuba bukan di laboratorium. Perbedaan lain adalah bahwa
laparoskopi, prosedur pembedahan, diperlukan untuk mentransfer sperma dan sel telur
ke tuba. GIFT adalah pilihan hanya untuk wanita yang memiliki saluran tuba normal.
Beberapa pasangan dapat mempertimbangkan GIFT untuk alasan agama karena telur
6

tidak dibuahi di luar tubuh. Salah satu keterbatasan GIFT adalah bahwa pembuahan
tidak dapat dikonfirmasi.

Gambar 6. Gamet intrafallopian transfer (GIFT)

Dalam proses GIFT, sperma dan telur akan dicampur dan kemudian disuntik
ke dalam saluran indung telur (tuba falopii). Selepas dipindahkan, gamet-gamet akan
bersatu seperti proses normal dalam tubuh. Setelah bersatunya gamet tersebut, embrio
akan bergerak ke dalam rahim seperti biasa dan begitu seterusnya kehamilan normal
terjadi.
2.

Extra-Corporeal
Extra-Corporeal dapat dibagi 4, yaitu:
a. Zygote Intra Fallopian Transfer (ZIFT)
Prosedur ART lain adalah zigot intrafallopian transfer (ZIFT). Teknik ini
berbeda dari GIFT yaitu fertilisasi yang terjadi di laboratorium bukan di tuba fallopi,
tetapi sama bahwa sel telur yang dibuahi ditransfer ke dalam tuba bukan rahim.
Prosedur ini juga memerlukan laparoskopi.

Gambar 7. Zigot intrafallopian transfer (ZIFT)

b. In Vitro Fertilization (IVF)


IVF adalah metode reproduksi dimana sperma pria dan telur wanita
digabungkan di luar tubuh yaitu dalam media di laboratorium. Satu atau lebih embrio
dapat ditransfer ke dalam rahim wanita, di mana mereka dapat berimplantasi di
lapisan rahim dan berkembang.
c. Assisted fertilization : Intra CytoplasmicSperm Injection (ICSI)
Dimana sperma langsung disuntikkan ke dalam setiap telur yang matang. Di
Amerika Serikat, ICSI dilakukan di sekitar 60% dari siklus ART. ICSI biasanya
dilakukan ketika ada kemungkinan fertilisasi berkurang (misalnya kualitas semen
yang jelek, riwayat gagal fertilisasi dalam siklus IVF sebelumnya). Secara
keseluruhan, tingkat kehamilan dan persalinan dengan ICSI adalah sama dengan
tingkat IVF yang dilakukan secara tradisional.

Gambar 4. Intracytoplasmic sperm injection (ICSI), yaitu menginjeksikan


secara langsung sperma ke dalam ovum

Visualisasi dari dua pronukleus hari berikutnya menegaskan pembuahan telur.


Salah satu pronukleus berasal dari telur dan satu dari sperma. Biasanya 65% sampai
75% dari sel telur yang matang akan terjadi fertilisasi setelah inseminasi atau ICSI.
Tingkat yang lebih rendah dapat terjadi jika sperma dan/atau kualitas sel telur yang
buruk. Kadang-kadang, fertilisasi tidak terjadi sama sekali, meskipun telah
menggunakan ICSI. Dua hari setelah pengambilan sel telur, sel telur yang dibuahi
telah membelah menjadi embrio 2 sel sampai 4 sel.
2.2.3. Prosedur Pelaksanaan
a.

Persiapan pasien
Sebelum melakukan teknologi reproduksi berbantu, perlu diperhatikan tiga hal:

1.

Sperma.

2.

Sel telur atau oosit.

3.

Rahim atau uterus.


Sebelum melakukan program teknologi reproduksi berbantu, pasien akan menjalani

beberapa tes, antara lain:


1.

Laki-laki:
-

Analisis sperma.

Pemeriksaan hormon: FSH, testosteron, prolaktin.

Antibodi antisperma.
9

2.

Hepatitis B, Hepatitis C, Klamidia, HIV.

Wanita:
-

Histeroskopi.

Pemeriksaan hormon: FSH, LH, estradiol, prolaktin.

Uji Lab : TORCH, Hepatitis B, Hepatitis C, HIV.

Tuberkulosis Pelvis.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyebabkan perubahan dalamtahap

program teknologi reproduksi berbantu mulai dari persiapan pasien, stimulasiovarium, oocyte
retrival, fertilisasi, embryo transfer, luteal support, cryopreservation, danpre-implantation
genetic diagnosis (PGD). Hal tersebut di atas dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan sel
telur dan embrio yang banyak serta berkualitas baik sehinggadiharapkan dapat meningkatkan
keberhasilan program bayi tabung.
Sebelum mengikuti program teknologi reproduksi berbantu pasangan suami-istri
harus memenuhi kriteria/indikasi yaitu:
- Infertilitas disebabkan oleh faktor pria yang tidak dapat dikoreksi dengan tindakan
operatif/medikamentosa atau tidak dapat diatasi dengan tindakan inseminasi intra uterine.
- Infertilitas disebabkan oleh faktor tuba yang tidak dapat dikoreksi atau setelah dilakukan
operasi rekonstruksi dalam waktu 1 tahun tidak terjadi kehamilan.
- Infertilitas disebabkan oleh endometriosis yang tidak dapat dikoreksi atau setelah
dikoreksi dengan tindakan operasi dilanjutkan inseminasi intra uterine tetapi tidak terjadi
kehamilan.
- Infertilitas yang tidak terjelaskan dalam waktu 3 tahun dan tindakan medikamentosa
maupun inseminasi intra uterine tidak menghasilkan kehamilan.
- Kegagalan fungsi ovarium karena proses kanker dimana sebelumnya sel telur atau embrio
telah dibekukan.
- Adanya penyakit yang diturunkan secara genetik (single gene disease).
Pemeriksaan hormonal pada hari ketiga haid (FSH dan E2) dapat menentukanrespon
terhadap stimulasi ovarium dan berhubungan dengan keberhasilan programteknologi
reproduksi berbantu. Nilai FSH > 12 IU/ml dan E2 > 80 pg/ml mencerminkan respon yang
buruk terhadap stimulasi ovarium dan terjadinya kehamilan.
Analisa

sperma

dilakukan

untuk

merencanakan

tindakan

fertilisasi

yang

akandilakukan apakah secara konvensional atau dengan menggunakan teknik intra


cytoplasmasperm injection (ICSI).

10

b. Stimulasi ovarium
Selama stimulasi ovarium, juga dikenal sebagai induksi ovulasi, obat atau "obat
kesuburan," digunakan untuk merangsang beberapa ovum untuk tumbuh dalam ovarium
daripada hanya satu ovum yang biasanya berkembang setiap bulan. Tujuan dalam
menstimulasi lebih dari satu ovum karena beberapa telur dapat tidak melakukan fertilisasi
atau tidak berkembang secara normal setelah pembuahan.
Tabel 1. Obat-obatan untuk menginduksi ovulasi

Medications for Ovarian Stimulation


Human
menopausal
gonadotropin

Medications to Prevent Premature Ovulation


Gonadotropin-releasing hormone (GnRH)

(hMG)
Follicle-stimulating hormone (FSH)

agonists
GnRH antagonists

Luteinizing hormone (LH)


Human chorionic gonadotropin (hCG)
Clomiphene citrate
Letrozole
Clomiphene citrate dan letrozole dapat diberikan secara oral sedangkan obat lain yang
tercantum diberikan melalui suntikan. Obat-obat oral kurang kuat dibandingkan obat suntik
dan tidak seperti yang umum digunakan dalam siklus ART. Tidak ada bukti bahwa salah satu
obat suntik lebih unggul daripada yang lain.
Ovarium dievaluasi selama pengobatan dengan pemeriksaan USG vagina untuk
memantau perkembangan folikel ovarium. Sampel darah diambil untuk mengukur respon
terhadap obat stimulasi ovarium. Biasanya, tingkat estrogen meningkat seiring folikel
berkembang, dan tingkat progesteron rendah sampai setelah ovulasi.

11

Gambar 2. Folikel ovarium yang distimulasi oleh obat-obatan. Area gelap melingkar adalah
folikel

Menggunakan pemeriksaan USG dan tes darah dapat menentukan kapan folikel siap
untuk pengambilan telur. Umumnya, 8 sampai 14 hari stimulasi yang diperlukan. Ketika
folikel siap, hCG atau obat yang menginduksi pematangan ovarium diberikan. hCG
menggantikan lonjakan LH alami dan menyebabkan tahap akhir dari pematangan sel telur
sehingga ovum mampu dibuahi. Ovum yang diambil sebelum ovulasi terjadi biasanya 34-36
jam setelah injeksi hCG diberikan.
Sampai dengan 20% dari siklus dapat dibatalkan sebelum pengambilan telur. Siklus IVF
dapat dibatalkan karena berbagai alasan, biasanya karena jumlah yang tidak memadai dari
folikel berkembang. Tingkat pembatalan karena respon yang rendah terhadap obat ovulasi
meningkat dengan usia wanita, terutama setelah usia 35 tahun. Kadang-kadang, siklus dapat
dibatalkan untuk mengurangi risiko sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS). Pengobatan
dengan agonis GnRH atau antagonis GnRH mengurangi kemungkinan prematur lonjakan LH
dari kelenjar hipofisis, dan dengan demikian mengurangi risiko ovulasi dini.
Selama proses stimulasi ovarium dilakukan tindakan monitoring untuk memantau jumlah
dan pertumbuhan folikel melalui ultrasonografi serta pemeriksaan hormon estradiol.
Pengaturan dosis obat, kegagalan stimulasi, penentuan waktu oocyte retrieval sangat

12

tergantung dari monitoring ini. Untuk maturasi oosit 34-36 jam sebelum dilakukan oocyte
retrieval dilakukan penyuntikan hCG rekombinan. Caranya:
1.

Semasa proses stimulasi ovulasi, beberapa jenis obat digunakan untuk merangsang
ovarium menghasilkan beberapa ovum atau telur matang dibandingkan hanya satu untuk
setiap bulan dalam keadaan normal. Ini dilakukan karena peluang kehamilan akan
meningkat jika lebih banyak embrio yang dimasukkan ke dalam rahim dalam proses
IVF/ICSI. Antara obat/hormon yang sering digunakan adalah hMG, FSH, hCG dan
GnRH.

2.

Pemeriksaan USG (Ultrasonografi) dilakukan pada hari ketiga untuk memastikan tidak
terjadi radang atau masalah lain pada ovarium. Sepanjang proses pengovulasian ini juga,
keadaan ovarium dan hormon-hormon diperiksa berkala untuk mengantisipasi masalah
yang bisa terjadi.

3.

Dengan pengawasan keadaan ovarium dan kandungan hormon, Waktu terjadinya


pematangan telur dapat diperkirakan. Waktu pengambil telur matang adalah 36-39 jam
setelah penyuntikan hormon.

4.

Kegagalan teknik TRB bisa terjadi bila pengovulasian tidak menghasilkan jumlah telur
yang mencukupi. Antara disebabkan karena kegagalan respon ovarium atas stimulasi
yang diberikan dan keadaan ini biasa terjadi pada wanita berumur.

5.

Tetapi, jika pengeluaran telur yang terlalu banyak juga bisa menjadi penyebab proses
TRB

dihentikan.

Hal

ini

demikian

karena

risiko

sindrom

hiperstimulasi

(hyperstimulation syndrome) menjadi sangat tinggi.


c.

Pengambilan sel telur


Pengambilan telur biasanya dilakukan dengan transvaginal ultrasound aspiration, salah

satu prosedur bedah minor yang dapat dilakukan untuk pengambilan ovum. Dilakukan bila
telah dijumpai minimal 3 buah folikel berdiameter 20 mm.
Beberapa wanita mengalami kram pada hari pengambilan, tapi keluhan ini biasanya
berkurang pada hari berikutnya. Perasaan kenyang dan/atau tekanan dapat berlangsung
selama beberapa minggu setelah prosedur karena ovarium tetap membesar. Dalam beberapa
keadaan, salah satu atau kedua ovarium tidak dapat diakses oleh USG transvaginal. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan laparoskopi, yang dapat digunakan untuk mengambil sel
telur menggunakan teleskop kecil yang dimasukkan melalui umbilikus.
Cara:

13

1.

Pengumpulan telur dilakukan menggunakan USG sebagai panduan. Proses ini dilakukan
dengan satu pembedahan kecil dengan anestesi lokal (local anaesthetic) atau analgesik
saja. Probe USG beserta jarum khusus dimasukkan melalui vagina. Telur-telur matang
kelihatan pada monitor sebagai bulatan hitam.

2.

Cairan folikel yang mengandungi telur matang kemudiannya disedot ke dalam jarum
khusus kemudian ke dalam cawan petri, sebuah demi sebuah. Teknik yang memerlukan
keahlian tinggi ini memerlukan waktu antara 10 hingga 40 menit, bergantung kepada
jumlah telur yang ada. Rata-rata sebanyak 4 hingga 16 buah telur dikumpul dari setiap
pasien.

Gambar 3. Pengambilan sel telur melalui vagina dengan Ultrasound-guided needle

d. Persiapan Sperma
Pada kasus dimana sperma tidak bisa didapatkan dari ejakulasi, maka pengambilan
sperma akan dilakukan melalui epididymis atau testis. Biasanya hal ini dilakukan pada

14

kondisi azoospermia (baik obstruksi maupun non obstruksi), disfungsiereksi atau kegagalan
ejakulasi. Berbagai tindakan operatif pengambilan sperma antara lain:
1.

Percutaneus Epididymal Sperm Aspiration (PESA)

2.

Testicular Sperm Aspiration (TESA)

3.

Testicular Sperm Extraction (TESE)

4.

Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration (MESA)

e.

Fertilisasi dan Kultur embrio


Setelah sel telur diambil, kemudian diperiksa di laboratorium untuk dinilai kematangan

dan kualitasnya. Sel telur yang matang ditempatkan dalam media kultur IVF dan dipindahkan
ke inkubator untuk menunggu pembuahan oleh sperma.
Sperma dipisahkan dari semen, pengambilan sperma ini biasanya diperoleh melalui
masturbasi atau kondom khusus yang digunakan selama hubungan seksual. Atau, sperma
dapat diperoleh dari testis, epididimis, atau vas deferens dari laki-laki yang memiliki masalah
yang disebabkan karena obstruksi atau kurangnya produksi.
Fertilisasi dapat dilakukan dengan insemination, di mana sperma motil ditempatkan
bersama-sama dengan oosit dan diinkubasi semalam atau dengan intracytoplasmic sperm
injection (ICSI).
Pada hari ketiga, embrio biasanya berkembang dan akan mengandung sekitar 6 sampai
10 sel. Pada hari kelima, membentu sebuah cairan rongga di dalam embrio, dan plasenta dan
jaringan janin mulai terpisah. Embrio pada tahap ini disebut blastocyst. Embrio dapat
ditransfer ke rahim setiap saat antara satu dan enam hari setelah pengambilan sel telur. Jika
perkembangan terus berlanjut di dalam rahim, embrio keluar dari zona pelusida yang
melindunginya dan melakukan implantasi ke dalam dinding rahim sekitar 6 sampai 10 hari
setelah pengambilan sel telur.
Apabila embrio sulit untuk keluar dari zona pelusidanya, maka dapat dilakukan dengan
Assisted hatching (AH). AH adalah prosedur mikromanipulasi di mana membuat lubang di
zona pelusida sebelum transfer embrio untuk memfasilitasi penetasan embrio. AH dapat
digunakan untuk wanita yang lebih tua atau pasangan yang telah memiliki riwayat gagal IVF
sebelumnya.
f.

Transfer embrio
Langkahnya yaitu mengidentifikasi serviks menggunakan spekulum vagina. Satu atau

lebih embrio dimasukkan dalam setetes media kultur kemudian dimasukkan ke dalam transfer
15

kateter (panjang, tipis tabung steril) dengan jarum suntik pada salah satu ujungnya. Kemudian
memandu lembut ujung transfer kateter melalui serviks dan menempatkan cairan yang
mengandung embrio ke dalam rongga rahim atau ke dalam tuba pada beberapa jenis TRB.
Prosedur ini biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, meskipun beberapa wanita mengalami
kram ringan.
Jumlah maksimum embrio yang ditransfer berdasarkan usia pasien dan karakteristik
embrio. Karena setiap embrio memiliki probabilitas yang berbeda dalam implantasi dan
perkembangannya, jumlah embrio yang ditransfer harus ditentukan untuk setiap pasien,
dengan mempertimbangkan kemungkinan mencapai kehamilan berdasarkan jumlah embrio
yang ditransfer ditimbang terhadap risiko kehamilan multipel.

Gambar 5. Transfer embrio melalui vagina pada IVF

2.2.4. Preimplatation Genetic Diagnosis (PGD)


PGD dilakukan untuk menyaring penyakit bawaan atau genetik. Dalam PGD, satu atau
dua sel dikeluarkan dari perkembangan embrio dan diuji untuk penyakit genetik tertentu.

16

Embrio yang tidak memiliki gen yang terkait dengan penyakit yang dipilih untuk transfer ke
rahim.
Prosedur ini memerlukan peralatan dan pengalaman khusus bersama-sama dengan IVF.
Beberapa pasangan, terutama mereka yang pembawa penyakit genetik, pertimbangkan untuk
melakukan skrining embrio bermanfaat dalam mengurangi risiko memiliki anak yang terkena
penyakit genetik. Sementara PGD dapat mengurangi kemungkinan anak yang terkena namun
tidak menghilangkan risiko. PGD dilaksanakan dengan cara:
a. Setelah IVF, pada hari ketiga, biopsi dilakukan pada embrio yang mempunyai 8 sel.
b. Blastomere (sel tunggal) dikeluarkan untuk pemeriksaan (diagnosis) molekul.
c. Biopsi dilakukan dengan melubangi selaput sel lalu satu sel di ambil untuk di lakukan
diagnosis.
d. Embrio dikultur dan dibiarkan terus membelah dan membesar (tidak ada masalah
mengeluarkan satu sel pada embrio tersebut).
e. Setelah dipastikan embrio yang diperiksa bebas penyakit genetik, embrio tersebut akan
dipindahkan ke dalam rahim.
2.2.5. Cryopreservation
Embrio ekstra yang tersisa setelah transfer embrio dapat dilakukan cryopreserved
(dibekukan) untuk dilakukan transfer embrio kembali bila ingin mempunyai anak lagi atau
terdapat kegagalan dalam implantasi dalam uterus. Cryopreserved membuat siklus ART
selanjutnya menjadi lebih sederhana, lebih murah, dan kurang invasif dibandingkan siklus
IVF awal, karena tidak memerlukan stimulasi ovarium atau pengambilan telur kembali.
Setelah beku, embrio dapat disimpan untuk waktu yang lama, dan kelahiran hidup telah
dilaporkan menggunakan embrio yang telah dibekukan selama hampir 20 tahun. Namun,
tidak semua embrio bertahan pada proses pembekuan dan pencairan, dan angka kelahiran
hidup lebih rendah dengan transfer embrio cryopreserved. Pasangan harus memutuskan
apakah mereka akan cryopreserved embrio ekstra sebelum menjalani IVF. Ada dua metode
yang digunakan untuk cryopreserved embrio: konvensional (lambat) pembekuan dan
"vitrifikasi" atau pembekuan cepat. Beberapa laporan mengklaim bahwa vitrifikasi mungkin
memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi setelah pencairan/pemanasan.
Akhirnya, perlu dicatat bahwa meskipun ada risiko teoritis, pembekuan sperma, telur,
dan embrio sangat aman. Tidak ada kasus penularan penyakit menular, juga tidak ada risiko
cacat lahir, kelainan kromosom, atau komplikasi kehamilan tampaknya meningkat
dibandingkan dengan menggunakan sperma segar, telur, atau embrio.
17

2.2.6. Risiko
Risiko medis ART tergantung pada setiap langkah spesifik prosedur. Berikut ini
adalah beberapa risiko utama prosedur ART:
a. OHSS (ovarian hyperstimulation syndrome)
Yaitu sindrom terlebih hormon dalam penghasilkan telur. Gejalanya adalah pembesaran
ovarium, pembesaran pada abdomen, tekanan darah rendah dan kepala pusing karena
kekurangan darah. Gejala utama adalah disebabkan kandungan estrogen tinggi ini adalah
pembentukan trombus (darah beku) yang dapat menyebabkan stroke dan kematian. Tetapi
biasanya keadaan ini tidak berbahaya dan hanya memerlukan istirahat sementara waktu.
Dalam keadaan yang serius, program IVF atau GIFT mungkin dihentikan.
b. Kehamilan ganda
Seperti dalam semua teknik stimulasi hamil lain, risiko mendapat anak kembar meningkat.
Mungkin keadaan ini satu perkara yang menggembirakan. Tetapi kehamilan kembar
terutamanya tiga atau lebih mendatangkan beberapa risiko. Diantaranya kemungkinan
kelahiran prematur dan keguguran. Oleh sebab itu, kebanyakan klinik kini hanya
memindahkan tiga embrio ke dalam rahim pasien.
c. Risiko kehamilan ektopik
Risiko kehamilan luar rahim (ektopik) dalam program IVF atau GIFT adalah lebih kurang
5%. Tetapi keadaan ini bukanlah disebabkan prosedur tersebut, tetapi karena wanita yang
menjalani program IVF sebelumnya telah mengalami masalah pada rahim.
d. Masalah Keuangan
Yang dibebankan dan waktu yang tersita kadangkala memberi tekanan yang tinggi. Ini
adalah karena program ini memerlukan banyak pemeriksaan darah, anestesi dan
pembedahan. Penggunaan hormon dalam stimulasi ovulasi juga menyebabkan kelelahan.
e. Ketegangan psikologi
Program ini memerlukan komitmen emosi yang tinggi karena itu merupakan program
yang tidak selalu berhasil. Harapan yang diberikan pasien adalah tinggi tetapi hasilnya
lebih kerap menemui kegagalan daripada keberhasilan dalam setiap program yang dijalani.

18

DAFTAR PUSTAKA
1

Lestari, S. W., & Sari, T. (2015). Fragmentasi DNA Spermatozoa: Penyebab, Deteksi, dan
Implikasinya pada Infertilitas Laki-Laki. eJurnal Kedokteran Indonesia, 3(2).

Report, M. W. (2012). Assisted Reproductive Technology Surveillance United States,


2012. Victoria, 52(6), 130.

Saraswati, A. (2015). Infertility, 4, 59.

Sauer, M. V. (2014). Assisted reproductive technology. The Western Journal of Medicine,


161(2), 164165.

Workshop, H. D. (2007). Infertility , Assisted Reproductive Technology , 109(4), 967977.

Shevell, T., Malone, F. D., Vidaver, J., Porter, T. F., Luthy, D. A., Comstock, C. H.,
Consortium, F. R. (2005). Assisted reproductive technology and pregnancy outcome.
Obstetrics and Gynecology, 106(5, 1), 10391045.
http://doi.org/10.1097/01.AOG.0000183593.24583.7c

Fransisco, K. (2016). Assisted Reproductive Technology. Encyclopedia of Family Studies.


http://doi.org/10.1002/9781119085621.wbefs435

19