Anda di halaman 1dari 16

Fosforilasi oksidatif

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Rantai transpor elektron dalam mitokondria merupakan tempat terjadinya fosforilasi oksidatif
pada eukariota. NADH dan suksinat yang dihasilkan pada siklus asam sitrat dioksidasi,
melepaskan energi untuk digunakan oleh ATP sintase.
Fosforilasi oksidatif adalah suatu lintasan metabolisme dengan penggunaan energi yang
dilepaskan oleh oksidasi nutrien untuk menghasilkan ATP, dan mereduksi gas oksigen
menjadi air.[1]
Walaupun banyak bentuk kehidupan di bumi menggunakan berbagai jenis nutrien, hampir
semua organisme menjalankan fosforilasi oksidatif untuk menghasilkan ATP, oleh karena
efisiensi proses mendapatkan energi, dibandingkan dengan proses fermentasi alternatif
lainnya seperti glikolisis anaerobik.
Menurut teori kemiosmotik yang dicetuskan oleh Peter Mitchell, energi yang dilepaskan dari
reaksi oksidasi pada substrat pendonor elektron, baik pada respirasi aerobik maupun
anaerobik, perlahan akan disimpan dalam bentuk potensial elektrokemis sepanjang garis tepi
membran tempat terjadinya reaksi tersebut, yang kemudian dapat digunakan oleh ATP sintase
untuk menginduksi reaksi fosforilasi terhadap molekul adenosina difosfat dengan molekul Pi.
[2]

Elektron yang melekat pada molekul sisi dalam kompleks IV rantai transpor elektron akan
digunakan oleh kompleks V untuk menarik ion H+ dari sitoplasma menuju membran
mitokondria sisi luar, disebut kopling kemiosmotik,[3] yang menyebabkan kemiosmosis, yaitu
difusi ion H+ melalui ATP sintase ke dalam mitokondria yang berlawanan dengan arah
gradien pH, dari area dengan energi potensial elektrokimiawi lebih rendah menuju matriks

dengan energi potensial lebih tinggi. Proses kopling kemiosmotik juga berpengaruh pada
kombinasi gradien pH dan potensial listrik di sepanjang membran yang disebut gaya gerak
proton.
Dari teori ini, keseluruhan reaksi kemudian disebut fosforilasi oksidatif.
Awal lintasan dimulai dari elektron yang dihasilkan oleh siklus asam sitrat yang ditransfer ke
senyawa:

NAD+ yang berada di dalam matriks mitokondria. Setelah menerima elektron, NAD+
akan bereaksi menjadi NADH dan ion H+, kemudian mendonorkan elektronnya ke
rantai transpor elektron kompleks I.[4]

dan FAD yang berada di dalam rantai transpor elektron kompleks II.[5] FAD akan
menerima dua elektron, kemudian bereaksi menjadi FADH2 melalui reaksi redoks.

Walaupun fosforilasi oksidatif adalah bagian vital metabolisme, ia menghasilkan spesi


oksigen reaktif seperti superoksida dan hidrogen peroksida pada kompleks I.[6] Hal ini dapat
mengakibatkan pembentukan radikal bebas, merusak sel tubuh, dan kemungkinan juga
menyebabkan penuaan. Enzim-enzim yang terlibat dalam lintasan metabolisme ini juga
merupakan target dari banyak obat dan racun yang dapat menghambat aktivitas enzim.

Daftar isi

1 Tinjauan transfer energi melalui kemiosmosis

2 Molekul pemindah elektron dan proton

3 Rantai transpor elektron eukariotik


o 3.1 Kompleks I
o 3.2 Kompleks II

3.2.1 Flavoprotein transfer elektron-Q oksidoreduktase

o 3.3 Kompleks III


o 3.4 Kompleks IV
o 3.5 Reduktase dan oksidase alternatif
o 3.6 Pengorganisasian kompleks-kompleks

4 Rantai transpor elektron prokariotik

5 ATP sintase (kompleks V)

6 Spesi oksigen reaktif

7 Inhibitor

8 Referensi

9 Bacaan lebih lanjut

10 Pranala luar

Tinjauan transfer energi melalui kemiosmosis


Informasi lebih lanjut: [[:Kemiosmosis dan Bioenergetika]]
Fosforilasi oksidatif bekerja dengan cara menggunakan reaksi kimia yang menghasilkan
energi untuk mendorong reaksi yang memerlukan energi. Kedua set reaksi ini dikatakan
bergandengan. Hal ini berarti bahwa salah satu reaksi tidak dapat berjalan tanpa reaksi
lainnya. Alur elektron melalui rantai transpor elektron adalah proses eksergonik, yakni
melepaskan energi, manakala sintesis ATP adalah proses endergonik, yakni memerlukan
energi. Baik rantai transpor elektron dan ATP sintase terdapat pada membran, dan energi
ditransfer dari rantai transpor elektron ke ATP sintase melalui pergerakan proton melewati
membran ini. Proses ini disebut sebagai kemiosmosis.[7] Dalam praktiknya, ini mirip dengan
sebuah sirkuit listrik, dengan arus proton didorong dari sisi negatif membran ke sisi positif
oleh enzim pemompa proton yang ada pada rantai transpor elektron. Enzim ini seperti baterai.
Pergerakan proton menciptakan gradien elektrokimiawi di sepanjang membran, yang sering
disebut gaya gerak proton. Gradien ini mempunyai dua komponen:[8] perbedaan pada
konsentrasi proton (gradien pH) dan perbedaan pada potensi listrik. Energi tersimpan dalam
bentuk perbedaan potensi listrik dalam mitokondria, dan juga sebagai gradien pH dalam
kloroplas.[9]
ATP sintase juga dapat memompa ion H+ keluar dari dalam matriks, apabila terjadi hidrolisis
ATP pada kutub kompleksnya.[10] Pada kasus hipertiroidisme pada hepatosit model tikus, juga
ditemukan pemompaan ion H+ dari dalam matriks di luar mekanisme rantai transpor
elektron,[11] hal ini ditengarai terjadi oleh sebab peran hormon T3[12] yang dapat menyisip
pada membran mitokondria sebelah dalam sebagai pompa ion.[13]
Enzim ini seperti motor listrik, yang menggunakan gaya gerak proton untuk mendorong
rotasi strukturnya dan menggunakan pergerakan ini untuk mensintesis ATP.
Energi yang dilepaskan oleh fosforilasi oksidatif ini cukup tinggi dibandingkan dengan energi
yang dilepaskan oleh fermentasi anaerobik. Glikolisis hanya menghasilkan 2 molekul ATP,
sedangkan pada fosforilasi oksidatif 10 molekul NADH dengan 2 molekul suksinat yang
dibentuk dari konversi satu molekul glukosa menjadi karbon dioksida dan air, dihasilkan 30
sampai dengan 36 molekul ATP.[14] Rendemen ATP ini sebenarnya merupakan nilai teoretis
maksimum; pada praktiknya, ATP yang dihasilkan lebih rendah dari nilai tersebut.[15]

Molekul pemindah elektron dan proton

Informasi lebih lanjut: [[:Koenzim dan Kofaktor]]

Reduksi koenzim Q dari bentuk ubikuinon (Q) menjadi ubikuinol yang tereduksi (QH2).
Rantai transpor elektron membawa baik proton maupun elektron, mengangkut proton dari
donor ke akseptor, dan mengangkut proton melawati membran. Proses ini menggunakan
molekul yang larut dan terikat pada molekul transfer. Pada mitokondria, elektron ditransfer
dalam ruang antarmembran menggunakan protein transfer elektron sitokrom c yang larut
dalam air.[16] Ia hanya mengangkut elektron, dan elektron ini ditransfer menggunakan reduksi
dan oksidasi atom besi yang terikat pada protein pada gugus heme strukturnya. Sitokrom c
juga ditemukan pada beberapa bakteri, di mana ia berlokasi di dalam ruang periplasma.[17]
Dalam membran dalam mitokondria, koenzim Q10 pembawa elektron yang larut dalam lipid
membawa baik elektron maupun proton menggunakan siklus redoks.[18] Molekul benzokuinon
yang kecil ini sangat hidrofobik, sehingga ia akan berdifusi dengan bebas ke dalam membran.
Ketika Q menerima dua elektron dan dua proton, ia menjadi bentuk tereduksi ubikuinol
(QH2); ketika QH2 melepaskan dua elektron dan dua proton, ia teroksidasi kembali menjadi
bentuk ubikuinon (Q). Akibatnya, jika dua enzim disusun sedemikiannya Q direduksi pada
satu sisi membran dan QH2 dioksidasi pada sisi lainnya, ubikuinon akan menggandengkan
reaksi ini dan mengulang alik proton melewati membran.[19] Beberapa rantai transpor elektron
bakteri menggunakan kuinon yang berbeda, seperti menakuinon, selain ubikuinon.[20]
Dalam protein, elektron ditransfer antar kofaktor flavin,[10][21] gugus besi-sulfur, dan sitokrom.
Terdapat beberapa jenis gugus besi-sulfur. Jenis paling sederhana yang ditemukan pada rantai
transfer elektron terdiri dari dua atom besi yang dihubungkan oleh dua atom sulfur; ini
disebut sebagai gugus [2Fe2S]. Jenis kedua, disebut [4Fe4S], mengandung sebua kubus
empat atom besi dan empat atom sulfur. Tiap-tiap atom pada gugus ini berkoordinasi dengan
asam amino, biasanya koordinasi antara atom sulfur dengan sisteina. Kofaktor ion logam
menjalani reaksi redoks tanpa mengikat ataupun melepaskan proton, sehingga pada rantai
transpor elektron ia hanya berfungsi sebagai pengangkut elektron. Elektron bergerak cukup
jauh melalui protein-protein ini dengan cara meloncat disekitar rantai kofaktor ini.[22] Hal ini
terjadi melalui penerowongan kuantum, yang terjadi dengan cepat pada jarak yang lebih kecil
daripada 1,4109 m.[23]

Rantai transpor elektron eukariotik


Informasi lebih lanjut: [[:Rantai transpor elektron dan Kemiosmosis]]
Banyak proses katabolik biokimia, seperti glikolisis, siklus asam sitrat, dan oksidasi beta,
menghasilkan koenzim NADH. Koenzim ini mengandung elektron yang memiliki potensial

transfer yang tinggi. Dengan kata lain, ia akan melepaskan energi yang sangat besar semasa
oksidasi. Namun, sel tidak akan melepaskan semua energi ini secara bersamaan karena akan
menjadi reaksi yang tidak terkontrol. Sebaliknya, elektron dilepaskan dari NADH dan
dipindahkan ke oksigen melalui serangkaian enzim yang akan melepaskan sejumlah kecil
energi pada tiap-tiap enzim tersebut. Rangkaian enzim yang terdiri dari kompleks I sampai
dengan kompleks IV ini disebut sebagai rantai transpor elektron dan ditemukan dalam
membran dalam mitokondria. Suksinat juga dioksidasi oleh rantai transpor elektron, namun ia
terlibat dalam lintasan yang berbeda.
Pada eukariota, enzim-enzim pada sistem transpor ini menggunakan energi yang dilepaskan
dari oksidasi NADH untuk memompa proton melewati membran dalam mitokondria. Hal ini
menyebabkan proton terakumulasi pada ruang antarmembran dan menghasilkan gradien
elektrokimia di sepanjang membran. Energi yang tersimpan sebagai energi potensial ini
kemudian digunakan oleh ATP sintase untuk menghasilkan ATP. Mitokondria terdapat pada
hampir semua eukariota, dengan pengecualian pada protozoa anaerobik seperti Trichomonas
vaginalis yang mereduksi proton menjadi hidrogen menggunakan hidrogenosom.[24]
Enzim pernapasen dan substrat yang umum pada eukariota.
Potensial tengah
Sistem pernapasen
NADH dehidrogenase
Suksinat dehidrogenase
Kompleks sitokrom bc1
Kompleks sitokrom bc1
Kompleks IV
Kompleks IV
Kompleks IV

Pasangan redoks
NAD+ / NADH
FMN atau FAD / FMNH2 atau FADH2
Koenzime Q10ox / Koenzime Q10red
Sitokrom box / Sitokrom bred
Sitokrom cox / Sitokrom cred
Sitokrom aox / Sitokrom ared
O2 / HO-

(Volt)
0.32[25]
0.20[25]
+0.06[25]
+0.12[25]
+0.22[25]
+0.29[25]
+0.82[25]

Kondisi: pH = 7[25]

Pada dasarnya, terdapat dua mekanisme katalitik yang dilakukan tiap kompleks enzim agar
transfer elektron dapat menciptakan potensial membran, yaitu mekanisme iterasi redoks dan
mekanisme pemompaan ion H+.[2] Pada mekanisme iterasi redoks sendiri, reaksi reduksi akan
mengikat ion H+, sedangkan reaksi oksidasi akan melepaskannya. Pada respirasi anaerobik,
mekanisme yang sederhana ditunjukkan oleh format dehidrogenase dan nitrat reduktase yang
terikat pada membran sel. Pada respirasi aerobik, mekanisme yang terjadi adalah sebagai
berikut,

Kompleks I

Kompleks I atau NADH-Q oksidoreduktase. Matriks berada pada bagian bawah, sedangkan
ruang antar membran berada di bagian atas.
Kompleks I merupakan protein pertama pada rantai transpor elektron,[26] berupa kompleks
enzim yang disebut NADH-koenzim Q oksidoreduktase.
Pada hepatosit hewan sapi, kompleks I adalah enzim raksasa dengan 46 sub-unit dan massa
molekul sekitar 1.000 kilodalton (kDa).[27] Hanya struktur enzim kompleks I dari bakteri yang
diketahui secara mendetail;[28] pada kebanyakan organisme, kompleks ini menyerupai sepatu
but dengan "bola" yang besar menyeruak keluar dari membran ke dalam mitokondria.[29][30]
Gen yang mengkode protein ini terdapat pada baik inti sel maupun genom mitokondria.
Reaksi redoks yang dikatalisis oleh enzim ini adalah oksidasi NADH, dan reduksi koenzim
Q10 (diwakilkan dengan Q):

Oksidasi NADH akan menghasilkan NAD+ yang diperlukan untuk siklus asam sitrat dan
oksidasi asam lemak,
Reaksi oksidasi NADH di atas dikopling oleh reaksi deiodinasi hormon tiroksin dengan
promoter berupa peroksidase dan H2O2,[31] sedangkan reduksi Q akan mentranspor elektron ke
kompleks berikutnya hingga pada akhirnya digunakan untuk mereduksi oksigen menjadi air.
[32]

Awal mula reaksi terjadi ketika NADH berikatan dengan kompleks I dan menyumbang dua
elektron. Elektron tersebut kemudian memasuki kompleks I via FMN, suatu gugus prostetik
yang melekat pada kompleks. Tambahan elektron ke FMN mengubahnya menjadi bentuk
tereduksi, FMNH2. Elektron kemudian ditransfer melalui rangkaian gugus besi-sulfur.[28]
Kemudian elektron ditransfer ke Q, mengubahnya menjadi QH2, dan menyebabkan 4 ion H+
terpompa keluar,[33] menuju ke dalam sitoplasma, bukan ke dalam ruang antarmembran, oleh
karena kompleks I terikat oleh 3 lapisan membran mitokondria.[34] Pada sel prokariota
Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae, kompleks I tidak meletupkan ion H+, melainkan
ion Na+.[35]

Terdapat baik jenis gugus besi-sulfur [2Fe-2S] maupun [4Fe4S] dalam kompleks I.
Kopling yang terjadi dengan siklus asam sitrat,

Kompleks II

Kompleks II: Suksinat-Q oksidoreduktase.


Kompleks II merupakan kompleks enzim yang disebut suksinat kuinon oksidoreduktase (EC
1.3.5.1) adalah titik masuk kedua pada rantai transpor elektron,[36] yang terdiri dari kompleks
enzim suksinat dehidrogenase aerobik[37] dan fumarat reduktase anaerobik.[37][38][39]
Kompleks II adalah satu-satunya kompleks enzim yang merupakan bagian dari kedua lintasan
metabolisme, siklus asam sitrat maupun respirasi seluler pada rantai transpor elektron, dan
terdiri dari empat subunit protein dan mengantung sebuah kofaktor flavin adenina
dinukleotida yang terikat pada enzim, gugus besi-sulfur, dan sebuah gugus heme yang tidak
berpartisipasi pada transfer elektron ke koenzim Q, namun dipercayai penting dalam
penurunan produksi spesi oksigen reaktif.[40][41] Enzim ini mereduksi fumarat menjadi suksinat
dan meoksidasi hidrokuinon. Karena reaksi ini melepaskan energi lebih sedikit daripada
oksidasi NADH, kompleks II tidak mentranspor proton melewati membran dan tidak
berkontribusi terhadap gradien proton.
Reaksi redoks pada modus anaerobik oleh fumarat reduktase :
oksidasi
reduksi
Kopling yang terjadi dengan siklus asam sitrat,
Pada beberapa eukariota seperti cacing parasit Ascaris suum, terdapat enzim yang mirip
dengan kompleks II, yaitu fumarat reduktase (menakuinol:fumarat oksidoreduktase, atau
QFR). Kerja enzim ini terbalik dengan kerja kompleks II, yaitu mengoksidasi ubikuinol dan
mereduksi fumarat. Hal ini mengizinkan cacing ini bertahan hidup dalam lingkungan
anaerobik di usus besar dan menjalankan fosforilasi oksidatif anaerobik dengan fumarat

sebagai akseptor elektron.[42] Fungsi tak lazim kompleks II lainnya dapat dilihat pada parasit
malaria Plasmodium falciparum. Pada organisme ini, fungsi kompleks II yang terbalik
sebagai oksidase berperan penting dalam pemulihan ubikuinol, yang oleh parasit digunakan
untuk biosintesis pirimidina.[43]
Flavoprotein transfer elektron-Q oksidoreduktase
Pada kompleks II terdapat kompleks enzim ETF-QO dengan tiga domain pencerap, masingmasing mengikat FAD, kluster [4Fe-4S]1+, 2+ dan ubikuinon.[44]
ETF-QO mempercepat reaksi redoks:

reduksi senyawa Q-1 dengan elektron dari senyawa flavoprotein ET yang dapat
berasal dari 11 macam flavoprotein dehidrogenase yang terdapat di dalam matriks
mitokondria,[45] Pada lintasan alternatif, elektron dapat mengalir dari kluster 4Fe4S
dan dikatalitik oleh ETF-QO untuk mereduksi ubikuinon menjadi ubikuinol dengan
koenzim FAD.[44] Lintasan reaksi yang terjadi:

reduksi

oksidasi kofaktor

oksidasi dengan substrat berupa asam lemak yang disebut lintasan oksidasi ,
katabolisme beberapa asam amino dan kolina,[46] kemudian mentransfer elektronnya
ke dalam kompleks II.[47]

Pada mamalia, lintasan metabolisme ini sangat penting dan enzim yang berperan adalah asilKoA dehidrogenase.[48][49]
Reaksi yang terjadi:
oksidasi
reduksi kofaktor
Pada tumbuhan, ETF-QO juga penting dalam respon metabolik demi kelangsungan hidup
tumbuhan pada periode lingkungan gelap yang berkepanjangan yang tidak memungkinkan
terjadinya fotosintesis, sehingga terjadi simtoma hipoglisemia.

Kompleks III

Dua langkah transfer elektron pada kompleks II:Q-sitokrom c oksidoreduktase. Pada akhir
tiap langkah, Q (berada pada bagian atas gambar) meninggalkan enzim.
Kompleks III juga dikenal sebagai kompleks enzim UCCR yang memiliki 11 berkas genetik
UQCR.[50][51] Pada mamalia, enzim ini berupa dimer, dengan tiap kompleks subunit
mengandung 11 subunit protein, satu gugus besi-sulfur [2Fe-2S], dan tiga sitokrom yang
terdiri dari satu sitokrom c1 dan dua sitokrom b.[52] Sitokrom adalah sejenis protein
pentransfer elektron yang mengandung paling tidak satu gugus heme. Atom besi dalam gugus
heme kompleks III berubah dari bentuk tereduksi Fe (+2) menjadi bentuk teroksidasi Fe (+3)
secara bergantian sewaktu elektron ditransfer melalui protein ini.
Reaksi yang dikatalisis oleh kompleks III adalah oksidasi satu molekul ubikuinol dan reduksi
dua molekul sitokrom c. Tidak seperti koenzim Q yang membawa dua elektron, sitokrom c
hanya membawa satu elektron.

Oleh karena hanya satu elektron yang dapat ditransfer dari donor QH2 ke akseptor sitokrom c,
mekanisme reaksi kompleks III lebih rumit daripada kompleks lainnya, dan terjadi dalam dua
langkah yang disebut siklus Q.[53] Pada langkah pertama, enzim mengikat tiga substrat,
pertama, QH2 yang akan dioksidasi kemudian dengan satu elektron dipindahkan ke sitokrom
c yang merupakan substrat kedua. Dua proton yang dilepaskan dari QH2 dilepaskan ke dalam
ruang antarmembran. Substrat ketiga adalah Q, yang menerima dua elektron dari QH2 dan
direduksi menjadi Q.-, yang merupakan radikal bebas ubisemikuinon. Dua substrat pertama
dilepaskan, namun zat antara ubisemikuinon ini tetap terikat. Pada langkah kedua, molekul
kedua QH2 terikat dan kemudian melepaskan satu elektronnya ke akspetor sitokrom c.
Elektron kedua dilepaskan ke ubisemikuinon yang terikat, mereduksinya menjadi QH2 ketika
ia menerima dua proton dari matriks mitokondria. QH2 ini kemudian dilepaskan dari enzim.
[54]

Karena koenzim Q direduksi menjadi ubikuinol pada sisi dalam membran dan teroksidasi
menjadi ubikuinon pada sisi luar, terjadi transfer proton di membran, yang menambah
gradien proton.[10] Mekanisme dua langkah ini sangat penting karena ia meningkatkan
efisiensi transfer proton. Jika hanya satu molekul QH2 yang digunakan untuk secara langsung
mereduksi dua molekul sitokrom c, efisiensinya akan menjadi setengah, dengan hanya satu
proton yang ditransfer per sitokrom c yang direduksi.[10]

Kompleks IV

Kompleks IV: sitokrom c oksidase.


Kompleks IV adalah protein terakhir pada rantai transpor elektron yang dikenal sebagai
kompleks enzim COX.[55]
Dari penelitian pada hepatosit hewan sapi, enzim ini memiliki struktur kompleks yang
mengandung 13 subunit, antara lain 5 fosfatidil etanolamina, 3 fosfatidil gliserol, 2 asam
kolat, 2 gugus heme A, dan beberapa kofaktor ion logam, meliputi tiga atom tembaga, satu
atom magnesium, dan satu atom seng. Dua lintasan peletup ion H+ ditemukan membentang
dari matriks hingga sitoplasma.[56]
Pada model hepatosit hewan sapi, ion H+ dengan energi potensial elektrostatik berkisar antara
635meV,[57] tampak dilepaskan dari sitokrom c oksidase[58][59] fosfolipid vesikel (COV) pada
kedua fase oksidatif dan reduktif,[60] setelah dikirimkan dari proton loading site (PLS), pada
saat ion H+ berikutnya tiba di PLS.[57][61] Mekanisme yang ditunjukkan oleh peletupan ion H+
pada kompleks IV ini disebut efek Bohr redoks.[62][63][64] Peletupan ion H+ (bahasa Inggris:
deprotonation) terjadi bersamaan dengan perubahan gugus karboksil asam aspartat yang
berada pada permukaan intermembran menjadi aspargina.[65]
Enzim ini memediasi reaksi terakhir pada rantai transpor elektron dan mentransfer elektron
ke oksigen, manakala memompa proton melewati membran. Oksigen yang menerima
elektron, juga dikenal sebagai akseptor elektron terminal, direduksi menjadi air. Baik
pemompaan proton secara langsung maupun konsumsi proton matriks pada reduksi oksigen
berkontribusi kepada gradien proton. Menurut Keilin, reaksi yang dikatalisis oleh sitokrom c
dan reduksi oksigennya adalah:[14]

Reduktase dan oksidase alternatif


Enzim-enzim yang disebutkan di atas merupakan hasil kajian pada hewan mamalia.
Sebenarnya, banyak organisme eukariotik lainnya yang memiliki rantai transpor elektron
yang berbeda. Sebagai contoh, tumbuhan memiliki NADH oksidase alternatif, yang
mengoksidasi NADH di sitosol daripada di matriks mitokondria, dan ia akan memindahkan

elektron ke kolam ubikuinon.[66] Enzim-enzim ini tidak mentranspor proton, sehingga ia


mereduksi ubikuinon tanpa mengubah gradien elektronkimia membran dalam.[67]
Contoh rantai transpor elektron divergen lainnya adalah oksidase alternatif yang ditemukan
pada tumbuh-tumbuhan, beberapa spesies fungi, protista, dan kemungkinan pula pada
beberapa hewan.[68][69] Enzim ini secara langsung mentransfer elektron dari ubikuinol ke
oksigen.[70]
Lintasan tranpor elektron yang dihasilkan oleh NADH dan ubikuinon oksidase alternatif ini
memiliki rendemen ATP yang lebih rendah. Keuntungan dari lintasan yang lebih singkat ini
belumlah cukup jelas. Namun, oksidasi alternatif ini dihasilkan sebagai respon terhadap
berbagai tekanan seperti hawa dingin, spesi oksigen reaktif, infeksi oleh patogen, dan faktorfaktor lainnya yang menghambat rantai transpor elektron secara penuh.[71][72] Lintasan
alternatif ini oleh karenanya akan meningkatkan resistansi organisme terhadap luka dengan
menurunkan stres oksidatif.[73]

Pengorganisasian kompleks-kompleks
Model awal bagaimana rantai kompleks respiratori ini terorganisasikan adalah bahwa
kompleks-kompleks ini berdifusi dengan bebas dan terbebas dari membran mitokondria.[27]
Namun, data-data terbaru mensugestikan bahwa kompleks-kompleks ini kemungkinan
membentuk struktur berorde tinggi yang disebut superkompleks ataupun "respirasom."[74]
Berdasarkan model superkompleks ini, berbagai jenis kompleks ini terdapat dalam bentuk
sehimpunan enzim-enzim yang berinteraksi dan terorganisasi.[75] Asosiasi ini mengizinkan
penyaluran substrat di antara berbagai kompleks enzim, sehingga meningkatkan laju dan
efisiensi transfer elektron.[76] Dalam superkompleks mamalia, beberapa komponen kompleks
akan lebih banyak daripada yang lainnya, dengan beberapa data mensugestikan rasio antara
kompleks I/II/II/IV dan ATP sintase kira-kira 1:1:3:7:4.[77] Walau demikian, perdebatan
mengenai hipotesis superkompleks ini masihlah belum berakhir, karena beberapa data
tampaknya tidak sesuai dengan model ini.[27][78]

Rantai transpor elektron prokariotik


Informasi lebih lanjut: Metabolisme mikroba
Berbeda dengan banyaknya kemiripan dalam struktur dan fungsi rantai transpor elektron pada
eukariota, bakteri dan arkaea memiliki banyak jenis enzim transfer elektron yang sangat
bervariasi. Enzim-enzim yang bervariasi ini pula menggunakan senyawa kimia yang
bervaruasi sebagai substrat.[79] Walau demikian, terdapat kesamaan dengan rantai transpor
elektron eukarita, yaitu transpor elektron prokariotik juga menggunakan energi yang
dilepaskan dari oksidasi substrat untuk memompa ion keluar masuk membran dan
menghasilkan gradien elektrokimia. Fosforilasi oksidatif bakteri, utamanya bakteri
Escherichia coli telah dipahami secara mendetail, manakala pada arkaea, hal ini masih belum
dipahami dengan baik.[80]
Perbedaan utama antara fosforilasi eukariotik dengan fosforilasi oksidatif prokariotik adalah
bahwa bakteri dan arkaea menggunakan banyak senyawa-senyawa yang berbeda untuk
menerima dan mendonor elektron. Hal ini sebenarnya mengizinkan prokariota untuk hidup
dan tumbuh dalam berbagai jenis kondisi dan lingkungan.[81] Pada E. coli, sebagai contohnya,

fosforilasi oksidatif dapat didorong oleh sejumlah besar pasangan reduktor dan oksidator
(lihat tabel di bawah). Potensial titik tengah suatu senyawa kimia mengukur seberapa banyak
energi yang dilepaskan ketika ia dioksidasi maupun direduksi, dengan reduktor memiliki
potensial negatif dan oksidator positif.
Enzim dan substrat pernapasen pada E. coli.[82]
Potensial titik
tengah
Enzim pernapasen

Pasangan redoks
(Volt)

Format dehidrogenase
Bikarbonat / Format
Hidrogenase
Proton / Hidrogen
NADH dehidrogenase
NAD+ / NADH
Gliserol-3-fosfat dehidrogenase
DHAP / Gly-3-P
Piruvat oksidase
Asetat + Karbon dioksida / Piruvat
Laktat dehidrogenase
Piruvat / Laktat
2-oksoasam + amonia / Asam DAsam D-amino dehidrogenase
amino
Glukosa dehidrogenase
Glukonat / Glukosa
Suksinat dehidrogenase
Fumarat / Suksinat
Ubikuinol oksidase
Oksigen / Air
Nitrat reduktase
Nitrat / Nitrit
Nitrit reduktase
Nitrit / Amonia
Dimetil sulfoksida reduktase
DMSO / DMS
Trimetilamina N-oksida
TMAO / TMA
reduktase
Fumarat reduktase
Fumarat / Suksinat

0,43
0,42
0,32
0,19
?
0,19
?
0,14
+0,03
+0,82
+0,42
+0,36
+0,16
+0,13
+0,03

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh tabel di atas, E. coli dapat tumbuh dengan menggunakan
reduktor seperti format, hidrogen, ataupun laktat sebagai donor elektron dan nitrat, DMSO,
ataupun oksigen akseptor.[81] Semakin besar perbedaan potensial titik tengah antra reduktor
dan oksidator, semakin banyak pula energi yang dilepaskan ketika bereaksi. Dari seluruh
pasangan senyawa ini, pasangan suksinat/fumarat tidak lazim karena potensial titik tengahnya
mendekati nol. Suksinat oleh karenanya dapat dkoksidasi menjadi fumarat apabila terdapat
oksidator kuat seperti oksigen dan fumarat dapat direduksi menjadi suksinat menggunakan
reduktor kuat seperti format. Reaksi alternatif ini dikatalisis oleh suksinat dehidrogenase
untuk oksidasi suksinat dan fumarat reduktase untuk reduksi fumarat.[83]
Beberapa prokariota menggunakan pasangan redoks yang hanya memiliki perbedaan
potensial titik tengah yang kecil. Sebagai contohnya, bakteri yang melakukan nitrifikasi
seperti Nitrobakter mengoksidasi nitrit menjadi nitrat dan mendonarkan elektron ke oksigen.
Sejumlah kecil energi yang dilepaskan oleh reaksi ini cukup untuk memompa proton dan
menghasilkan ATP, namun tidak cukup untuk menghasilkan NADH ataupun NADPH secara
langsung untuk digunakan dalam anabolisme.[84] Permasalahan ini diselesaikan dengan
menggunakan nitrit oksidoreduktase untuk menghasilkan gaya gerak proton yang cukup
untuk menjalankan sebagai rantai transpor elektron secara terbalik, menyebabkan kompleks I
memproduksi NADH.[85][86]

Prokariota mengontrol penggunaan donor dan akseptor elektron ini dengan memproduksi
enzim tertentu sesuai dengan kondisi lingkungan.[87] Fleksibilitas ini dimungkinkan karena
oksidase dan reduktase yang berbeda menggunakan kolam ubikuinon yang sama. Ini
mengizinkan banyak kombinasi enzim untuk bekerja secara bersamaan, yang saling
terhubung oleh zat antara ubikuinol.[82]
Selain beranekaragamnya lintasan metabolisme ini, prokariota juga memiliki sejumlah besar
isozim, yaitu enzim-enzim berbeda yang mengkatalisis reaksi yang sama. Sebagai contohnya,
E. coli memiliki dua jenis ubikuinol oksidase yang berbeda. Di bawah kondisi aerob, sel
menggunakan oksidase yang berafinitas rendah terhadap oksigen yang dapat mentranspor dua
proton per elektron. Namun, apabila kadar oksigen menurun, sel akan menggunakan oksidase
yang hanya mentransfer satu proton per elektron namun berafinitas tinggi terhadap oksigen.
[88]

ATP sintase (kompleks V)


Informasi lebih lanjut: ATP sintase
ATP sintase, juga disebut kompleks V, adalah enzim terakhir dalam lintasan fosforilasi
oksidatif. Enzim ini ditemukan di seluruh organisme hidup dan berfungsi sama pada
prokariota maupun eukariota.[89] Enzim ini menggunakan energi yang tersimpan pada gradien
proton di sepanjang membran untuk mendorong sintesis ATP dari ADP dan fosfat (Pi).
Perkiraan jumlah proton yang diperlukan untuk mensintesis satu ATP berkisar antara tiga
sampai dengan empat,[90][91] dengan beberapa peneliti yang mensugestikan bahwa sel dapat
memvariasikan rasio ini sesuai dengan kondisi.[92]

Reaksi fosforilasi ini adalah reaksi kesetimbangan, yakni ia dapat digeser dengan mengubah
gaya gerak proton. Dengan ketiadaan gaya gerak proton, reaksi ATP sintase akan berjalan dari
sisi kanan ke kiri, menghidrolisis ATP dan memompa proton keluar dari matriks melewati
membran. Namun, ketika gaya gerak protonnya tinggi, reaks dipaksa untuk berjalan secara
terbalik, yaitu dari sisi kanan ke kiri, mengizinkan proton mengalir dan mengubah ADP
menjadi ATP.[89]
ATP sintase adalah sebuah kompleks protein yang besar dengan bentuk seperti jamur.
Kompleks enzim ini pada mamalia mengandung 16 subunit dan memiliki massa kira-kira 600
kilodalton.[93] Bagian yang tertanam pada membran disebut FO dan mengandung sebuah
cincin subunit c dan saluran proton. "Tangkai" dan kepala yang berbentuk bola disebut F1 dan
merupakan tempat sintesis ATP. Kompleks yang berbentuk bola pada ujung akhir F1
mengandung enam protein yang dapat dibagi menjadi dua jenis: tiga subunit dan tiga
subunit ), manakala bagian "tangkai" terdiri dari satu protein: subunit , dengan ujung
tangkai menusuk ke dalam bola subunit dan .[94] Baik subunit dan mengikat nukleotida,
namun hanya subunit yang mengkatalisis reaksi sintesis ATP. Di samping F1 pula terdapat
sebuah subunit berbentuk batang yang menghubungakan subunit dan dengan dasar enzim.
Seiring dengan mengalirnya proton melewati membran melalui saluran ini, motor FO berotasi.
[95]
Rotasi dapat disebabkan oleh perubahan pada ionisasi asam amino cincin subunit c,
menyebabkan interaksi elektrosatik yang menolak cincin subunit c.[96] Cincin yang berotasi

ini pada akhirnya akan memutar "as roda" (tangkai subunit ). Subunit dan dihalangi
untuk berputar oleh batang samping yang berfungsi sebagai stator. Pergerakan ujung subunit
yang berada dalam bola subunit dan memberikan energi agar tapak aktif pada subunit
menjalankan siklus pergerakan yang memproduksi dan kemudian melepaskan ATP.[9]

Mekanisme ATP sintase. ATP ditunjukkan dengan warna merah, ADP dan fosfat dalam warna
merah jambu, dan subunit yang berputar dalam warna hitam.
Reaksi sintesis ATP ini disebut sebagai mekanisme perubahan ikatan (binding change
mechanism) dan melibatkan tapak aktif subunit yang berputar terus dalam tiga keadaan.[97]
Pada keadaan "terbuka", ADP dan fosfat memasuki tapa aktif (ditunjukkan dalam warna
coklat pada diagram). Protein kemudian menutup dan mengikat ADP dan fosfat secara
longgar (keadaan "longgar" ditunjukkan dalam warna merah). Enzim kemudian berubah
bentuk lagi dan memaksa kedua molekul ini bersama, dengan tapak aktif dalam keadaan
"ketat" (ditunjukan dalam warna merah jambu) dan mengikat molekul ATP yang terbentuk.
Tapak aktif kemudian kembali lagi ke keadaan terbuka dan melepaskan ATP untuk kemudian
mengikat ADP dan fosfat, dan memulai siklus yang baru.
Pada beberapa bakteri dan arkaea, sintesis ATP didorong oleh pergerakan ion natrium yang
melalui membran sel daripada pergerakan proton.[98][99] Arkaea seperti Methanococcus juga
mengandung A1Ao sintase, sebuah bentuk enzim yang mengandung protein tambahan dengan
kemiripan urutan asam amino yang kecil dengan subunit ATP sintase bakteri dan eukariota
lainnya. Adalah mungkin bahwa pada beberapa spesies, bentuk enzim A1Ao adalah ATPsintase terspesialisasi yang digerakkan oleh natrium,[100] namun ini tidaklah benar pada
keseluruhan kasus.[99]

Spesi oksigen reaktif


Informasi lebih lanjut: [[:Stres oksidatif dan Antioksidan]]
Oksigen molekuler merupakan akseptor elektron akhir yang ideal, karena ia merupakan
oksidator kuat. Reduksi oksigen melibatkan zat antara yang berpotensi bahaya.[101] Walaupun
transfer empat elektron dan empat proton akan mereduksi oksigen menjadi air, yang tidak
berbahaya, transfer satu atau dua elektron akan menghasilkan anion superoksida ataupun
anion peroksida, yang sangat reaktif dan berbahaya.
Spesi oksigen reaktif dan produk reaksinya ini seperti radikal hidroksil, sangatlah berbahaya
bagi sel, karena akan mengoksidasi protein dan mengakibatkan mutasi pada DNA. Kerusakan

ini berkontribusi terhadap penyakit dan diajukan pula merupakan salah satu akibat dari
penuaan.[102][103]
Kompleks sitokrom c sangat efisien mereduksi oksigen menjadi air, dan melepaskan hanya
sedikit zat antara yang tereduksi secara parsial. Namun terdapat sejumlah kecil anion
superoksida dan peroksida yang diproduksi oleh rantai transpor elektron.[104] Terutama
pentingnya adalah pada reduksi koenzime Q pada kompleks III, karena radikal bebas
ubikuinon yang sangat reaktif terbentuk sebagai zat antara dalam siklus Q. Spesi yang tidak
stabil ini dapat menyebabkan "kebocoran" elektron ketika elektron ditransfer secara langsung
ke oksigen dan menghasilkan superoksida.[105] Karena laju produksi spesi oskigen reaktif oleh
kompleks pemompa proton ini tertinggi ketika potensial membran tinggi, diajukan bahwa
mitokondria meregulasi aktivitas kompleks untuk menjaga potensial membran berada dalam
kisaran yang kecil sehingga menyeimbangkan produksi ATP terhadap produksi oksidator.[106]
Sebagai contohnya, oksidator dapat mengaktivasi UCP (uncoupling protein) yang
menurunkan potensial membran.[107]
Untuk melawan spesi oksigen reaktif ini, sel mengandung sejumlah sistem antioksidan,
meliputi vitamin antioksidan seperti vitamin C dan vitamin E, dan enzim antioksidan seperti
superoksida dismutase, katalase, dan peroksidase,[101] yang menetralkan spesi reaktif sehingga
mengurangi kerusakan sel.
Gugus anion superoksida, senyawa organik yang sangat aktif yang terdapat pada molekul
hidrogen peroksida dan jenis ROS lainnya, merupakan produk samping reaksi redoks yang
terjadi pada rantai transpor elektron.[108] Gangguan mekanisme produksi ROS dapat berakibat
pada berbagai macam patologi seperti diabetes, neurodegenerasi, gagal jantung, chronic
obstructive pulmonary disease. Domain produksi anion superoksida terletak pada kompleks I
dan kompleks III.
Dari beberapa senyawa intermediat pengusung satu elektron, radikal bebas SQ- dianggap
merupakan senyawa yang paling berperan aktif dalam mereduksi molekul oksigen menjadi
anion superoksida. Molekul semikuinon dihasilkan kompleks I dan III sebagai hasil reduksi
ubikuinon atau oksidasi ubikuinol,
SQ- akan melekat pada kompleks I atau III hingga saat terstimulasi elektron yang kedua
dengan reaksi,
Semikuinon lebih lanjut dapat berinteraksi langsung dengan molekul oksigen dengan reaksi,

Inhibitor
Terdapat beberapa obat dan racun yang dikenal baik menginhibisi fosforilasi oksidatif.
Walaupun semua racun hanya menginhibisi satu enzim pada rantai transpor elektron, inhibisi
pada langkah apapun pada proses ini akan menghentikan keseluruhan proses. Contohnya, jika
oligomisin menginhibisi ATP sintase, proton tidak dapat mengalir balik ke dalam
mitokondria.[109] Akibatnya, pompa proton tidak dapat bekerja, karena gradien konsentrasinya
menjadi terlalu kuat untuk diatasi. NADH kemudian tidak akan lagi teroksidasi dan siklus
asam sitrat berhenti bekerja karena konsentrasi NAD+ menurun di bahwa kadar yang cukup
agar enzim bekerja.

Senyawa
Sianida
Karbon
monoksida
Oligomisin
CCCP
2,4Dinitrofenol
Rotenon
Malonat dan
oksaloasetat

Kegunaan

Efek terhadap fosforilasi oksidatif


Menghambat rantai transpor elektron dengan terikat lebih kuat
Racun daripada oksigen pada pusat FeCu dalam sitokrom c oksidase,
mencegah reduksi oksigen.[110]
Menghambat ATP sintase dengan memblokir aliran proton ke
Antibiotik
subunit Fo.[109]
Ionofor yang mengganggu gradien proton dengan membawa
proton melewati membran. Ionofor ini mengawagandengkan
Racun
(uncouple) pompa proton dari sintesis ATP karena ia membawa
proton melewati membran mitokondria dalam.[111]
Mencegah transfer elektron dari kompleks I ke ubikuinon dengan
Pestisida
menutup tapak ikat ubikuinon.[112]
Inhibitor kompetitif suksinat dehidrogenase (kompleks II).[113]

Tidak semua inhibitor fosforilasi oksidatif bersifat racun. Pada jaringan lemak coklat, saluran
proton yang diregulasi disebut UCP (uncoupling protein), yang dapat mengawagandengkan
respirasi dari sintesis ATP.[114] Respirasi cepat ini menghasilkan panas, dan proses ini sangat
penting dalam menjaga suhu tubuh pada hewan yang berhibernasi, walaupun protein ini
kemungkinan juga memiliki fungsi umum dalam respon sel terhadap stres.[115]