Anda di halaman 1dari 27

ASUHAN KEPERAWATAN HIPOSPADIA

Dosen Tutor 10:


Nur Oktaviani Hidayati, S.Kp., M.Kep
Anggota Tutor 10
Ghina Nur Jannah

220110120008

Rara Aryanti

220110120074

Kiki Rusdian

220110120014

Aisya Lestari

220110120076

Sesi Septiani

220110120023

Irmalita Fauzia R

220110120100

Tindo Esa Sari

220110120044

Wiedy Suciati Dewi

220110120117

Ridillah Vani Jasmia

220110120051

Putri Septina

220110120144

Masriyah Komalasari

220110120063

Fariza Herswandani A

220110120152

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
2015
KASUS 3
Anak A, laki-laki 4 tahun, dirawat di ruang bedah anak. Saat ini klien
memasuki hari ketiga post uretroplasty. Operasi ini merupakan operasi kedua, 6 bulan
sebelumnya klien menjalani operasi chordektomy. Orangtua mengatakan sejak lahir
penis anak terlihat bengkok, anak BAK secara jongkok, BAK tidak memancar. Ibu
mengatakan sebelum hamil anak A, ibu sering mengalami gangguan menstruasi dan
mendapatkan terapi hormon estrogen, dan baru menyadari dirinya hamil anak A
setelah kehamilannya berusia 2 bulan. Sebelum dilakukan operasi, klien menjalani
pemeriksaan urografi yang menunjukan klien menderita hipospadia tipe penil dengan
chordee. Hasil pemeriksaan fisik menunjukan kesadaran komposmentis, HR
100x/menit, RR 24x/menit, dan suhu 37,5C. Klien mengeluh penisnya nyeri, penis
kemerahan dan sudah disunat, terpasang stent dan kateter, BAK melalui kateter,
namun kateter sedikit rembes dan kulit disekitar paha agak kemerahan, saat ini klien
dilakukan perawatan kateter dan mendapat terapi :
a. Ceftriaxone, Intravena, 2x 1 gr
b. Keterolac, Drip, 3x 25 mg
c. Ranitidine, Intravena, 2x 25 mg
d. RL 1600 cc/24 jam

Chair

: Ridillah Vani Jasmia

220110120051

Scriber 1

: Fariza Herswandani A

220110120152

Scriber2

: Irmalita Fauzia R

220110120100

Step 1
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Irmalita : Uretroplasty?
Sesi : Chordee?
Gina : Ceftriaxone?
Masriyah : Urografi?
Aisya : Chordektomy?
Putri : Hipospadia tipe penil?

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Jawab :
Sesi : Membuat saluran uretra baru. Salah satu tahap penatalaksanaan hipospadia
Ridillah : Jaringan Fibrosa sekitar penis
Masriyah : Obat antibiotik
Kiki : Pemeriksaan CT SCAN pada saluran kemih
Irmalita : Tindakan untuk pengangkatan chordee
Sesi : Meatus yang terletak antara skrotum dan gland penis

Step 2
1. Rara : Ada hubungannya dengan riwayat kehamilan dan hipospadia?
2. Wiedy : Manfaat terapi?
3. Kenapa penis terlihat bengkok?
4. Putri : Etiologi penyakit?
5. Irmalita : Klasifikasi penyakit ini?
6. Tindo : Perawatan Post-op?
7. Terapi estrogen penyebab anak hipospadia? Ada hubungannya?
8. Sesi : Kenapa anak sudah disunat? Kemerahan karena apa?
9. Operasi dilakukan berapa kali?
10. Aisya : Pembentukan genitalia janin dari berapa bulan?
11. Peran perawat terkait penyakit pasien pada anak dan keluarga?
12. Kiki : Penatalaksanaan dan pencegahan? Prognosis?
13. Rara : Komplikasi bila tidak ditangani?
14. Wiedy : Peran perawat terkait kateter?
15. Kiki : Kontraindikasi dilakukan operasi, efek samping?
16. Rara : Penyebab nyeri?
17. Tindo : Indikasi sebelum operasi?
18. Gina : Syarat jarak waktu operasi?
19. Rara : Masalah psikologi?
20. Rara : Masalah keperawatan utama?
Step 3
1. Gina : Ibu makan sembarangan, tidak periksa kehamilan, konsumsi obat-obatan

2. Masriyah : Ceftriaxone : antibiotik, Keterolac : analgetik, Ranitidine : anti mual


3. Irmalita : Karena adanya chordee pada penis, sehingga menyebabkan bengkok
4. Rara : Kongenital faktor genetik, saat kehamilan, ketidakseimbangan hormon
estrogen
5. LO
6. Masriyah, Sesi : Perhatikan teknik aseptik; cuci tangan, output urin di cek,
kompres
7. LO
8. Kiki : Orangtua kurang pengetahuan, kemerahan disebabkan karena iritasi akibat
rembesnya kateter
9. Irmalita : Operasi dilakukan sebanyak 3x yaitu Oroplasty, Chordektomy, dan
Uretroplasty
10. Rara : Pada trimester pertama
11. Sesi, Rara : Cara pemasangan kateter dengan bersih, menjelaskan pada ibu jika
penyakit yang dialami ada obatnya dan bisa sembuh, menginformasikan BPJS,
dan memotivasi ibu da anak
12. Wiedy, Putri : Kerjasama denga perawat dalam perawatan kateter, Deteksi dini
ibu hamil, operasi adalah satu-satunya cara.
13. Ridillah, Tindo : Resiko infeksi, fungsi seksual terganggu
14. Sesi, Rara : Menjaga kateter agar tetap bersih dan tidak merembes, perawat
memantau, dan ajarkan anak untuk mengurangi mobilisasi
15. LO
16. Ridillah : Bekas luka operasi
17. LO
18. LO
19. Kiki : Gangguan tumbuh kembang, gangguan citra tubuh
20. Gina : Gangguan rasa nyaman nyeri
Step 4
Etiologi

Faktor Resiko

Patofisiologi

Hipospadia
Penatalaksanaan
(Diagnosa dan Askep)

Manfes

Komplikasi

Pemeriksaan Penunjang
Step 5
LO:
1.
2.
3.
4.
5.

Klasifikasi penyakit ini?


Terapi estrogen penyebab anak hipospadia? Ada hubungannya?
Kontraindikasi dilakukan operasi, efek samping?
Indikasi sebelum operasi?
Syarat jarak waktu operasi?

HIPOSPADIA
A. ANATOMI FISIOLOGI

1. URETRA
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang
berfungsi menyalurkan air kemih keluar.
Uretra Pria
Pada laki-laki uretra berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah protastat
kemudia menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis ke bagian penis
panjangnya 20 cm. Uretra pada laki-laki terdiri dari :

Uretra Prostatia

Uretra membranosa

Uretra kavernosa

Lapisan uretra laki-laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan
lapisan submukosa. Uretra pria mulai dari orifisium uretra interna di dalam vesika
urinaria sampai orifisium uretra eksterna. Pada penis panjangnya 17,5-20 cm yang
terdiri dari bagian-bagian berikut :
Uretra prostatika, merupakan saluran terlebar, panjangnya 3 cm, berjalan hampir
vertikulum melalui glandula prostat, mulai dari basis sampai ke apeks dan lebih
dekat ke permukaan anterior. Bentuk salurannya seperti kumparan yang bagian
tengahnya lebih luas dan makin ke bawah makin dangkal kemudian bergabung
dengan pars membran. Potongan tranversal saluran ini menghadap ke depan.
Pada dinding posterior terdapat krista uretralis yang berbentuk kulit yang dibentuk
oleh penonjolan membran mukosa dan jaringan dibawahnya dengan panjang 15-17
cm tinggi 3 cm.
Uretra pars membranasea, merupakan saluran yang paling pendek dan paling
dangkal, berjalan mengarah ke bawah dan ke depan di antara apeks glandula
prostata dan bulbus uretra. Pars membranasea menembus diafragma urogenitalis,
panjangnya kira-kira 2,5 cm, di bawah belakang simfisis pubis diliputi oleh
jaringan sfingter uretra membranasea.
Uretra pars kavernous,merupakan saluran terpanjang dari uretra dan terdapat di
dalam korpus kavernosus uretra, panjangnya kira-kira 15 cm, mulai dari pars
membranasea sampai ke orifisium dari diafragma urogentalis. Pada keadan penis
berkontraksi, pars karvenosus akan membelok ke bawah dan kedepan. Pars
kavernosus ini dangkal sesuai dengan korpus penis 6mm dan berdilatasi ke
belakang. Bagian depan berdilatasi di dalam gland penis yang akan membentuk
fossa navikularis uretra. Orifisium uretra eksterna, merupakan bagian erektor yang

paling berkontraksi berupa sebuah celah vertikal di tutupi oleh kedua sisi bibir
kevil dan panjangnya 6mm.
2. PENIS
Penis terletak menggantung di depan skrotum. Bagian ujung penis di sebut
gland penis. Bagian tengahnya disebut korpus penis dan pangkalnya disebut
radiks penis. Glan penis tertutup oleh kulit korpus penis, kulit penutup ini
disebut prepusium. Penis terdiri atas jaringan seperti busa dan terletak
memanjang, tempat muara uretra dari glan penis adalah frenulum atau kulup.
a. Penis merupakan alat yang mempunyai jaringan erektil yang satu sama
lainnya dilapisi jaringan fibrosa ringan erektil yang satu sama lainnya
dilapisi jaringan fibrosa ringan erektil ini terdiri dari rongga-rongga
seperti karet busa. Dengan adanya rangsangan seksual, karet busa ini
akan dipenhi darah sebagai vasopresi. Berdasarkan ini terjadilah ereksi
penis, ereksi penis dipegaruhi oleh otot: Muskulus iskia kavernosus,
muskulus

erektor

penis,

otot-otot

ini

menyebabkan

erektil

(ketegangan) pada waktu koitus.


b. Muskulos bulbo kavernosus, untuk mengeluarkan uine. Penis ini
mempunyai tiga buah korpus kavernosa (alat pengeras zakar) yaitu dua
buah korpus kavernosa uretra, terletak di sebelah punggung atas dari
penis. Satu korpus kavernosus uretra, terletak disebelah bawah dari
penis yang merupakan saluran kemih.
Korpus kavernosus penis terdiri dari jaringan yang mengandung
banyak sekali pembuluh darah. Pada waktu akan mengadakan koitus,
maka penis akan menjadi besar dan keras oleh karena korpus tersebut.
Korpus tersebut banyak mengandung darah, dengan jalan demikian
maka spermatozoid dapat dihantarkan sampai pintu vagina.

Urin (Air Kemih)


Sifat fisis air kemih, terdiri dari:
Jumlah ekskresi dalam 24 jam 1.500 cc tergantung dari
pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya.
Warna, bening kuning muda dan bila dibiarkan akan menjadi
keruh.
Warna, kuning tergantung dari kepekatan, diet obat-obatan dan
sebagainya.
Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau
amoniak.
Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung
dari pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein
memberi reaksi asam).
Komposisi air kemih, terdiri dari:
Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea,
amoniak dan kreatinin.
Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fospat dan
sulfat.
Pagmen (bilirubin dan urobilin).
Toksin.
Hormon
(Syaifuddin, 2002)

B. DEFINISI

Hipospadia adalah kelainan kongetinal berupa kelainan letak lubang uretra


pada pria dari ujung penis ke sisi ventral (Corwin, 2009).

Hipospadia adalah kegagalan meatus urinarius meluas ke ujung penis,


lubang uretra terletak dibagian bawah batang penis, skrotum atau
perineum (Barbara J. Gruendemann & Billie Fernsebner, 2005).

Hipospadia adalah suatu kondisi letak lubang uretra berada di bawah glans
penis atau di bagian mana saja sepanjang permukaan ventral batang penis.
Kulit prepusium ventral sedikit, dan bagian distal tampak terselubung.
(Muscari, 2005).

C. ETIOLOGI
Hipospadia muncul saat lahir (kongenital). Alasan yang tepat dari penyebab
timbulnya cacat ini tidak diketahui. Kadang-kadang, hipospadia merupakan
kondisi warisan. Ketika penis berkembang pada janin laki-laki, hormon tertentu
akan merangsang pembentukan uretra dan kulup. Hipospadia terjadi ketika
kerusakan terjadi dalam aksi/kegiatan yang dilakukan hormon ini, hingga
menyebabkan uretra berkembang secara tidak normal.
Penyebab hipospadia sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang
belum diketahui penyebab pasti. Namun, ada beberapa faktor yang oleh para ahli
dan dianggap paling berpengaruh antara lain:
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon
Faktor hormon androgen sangat berpengaruh terhadap kejadian hipospadia
karena berpengaruh terhadap proses maskulinisasi masa embrional. Androgen
dihasilkan oleh testis dan placenta karena terjadi defisiensi androgen akan
menyebabkan

penurunan

produksi

dehidrotestosterone

(DHT)

yang

dipengaruhi oleh 5 reduktase yang berperan dalam pembentukan penis


sehingga apabila terjadi defisiensi androgen akan menyebabkan kegagalan

pembentukan bumbung uretra yang disebut hipospadia. Hormone yang


dimaksud adalah hormone androgen yang mengatur organogenesis kelamin
(pria) atau karena reseptor hormone androgen di dalam tubuh yang kurang
atau tidak ada. Sehingga walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk
cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan
memberikan suatu efek yang semestinya atau enzim yang berperan dalam
sintesis hormone androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena
mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi
dari gen tersebut tidak terjadi. 12 % berpengaruh terhadap kejadian hipospadia
bila punya riwayat keluarga yang menderita hipospadia. 50 % berpengaruh
terhadap kejadian hipospadia bila bapaknya menderita hipospadia.
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat
yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi. Pencemaran
limbah industri berperan sebagai endocrin discrupting chemicals baik bersifat
eksogenik maupun anti androgenik seperti polychorobiphenyls, dioxin, furan,
peptisida, organochlorin, alkiphenol polyethoxsylates dan phtalites. Seperti
yang telah diketahui bahwa setelah tingkat indefenden maka perkembangan
genital eksterna laki-laki selanjutnya dipengaruhi oleh estrogen yang
dihasilkan oleh testis primitif. Suatu hipotesis mengemukakan bahwa
kekurangan estrogen atau terdapat anti androgen akan mempengaruhi
pembentukan genetalia eksterna laki-laki.
4. Faktor eksogen yang lain adalah pajanan prenatal terhadap kokain, alcohol,
fenitoin, progestin, rubella, atau diabetes gestasional.

D. MANIFESTASI KLINIS

Gland penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di
bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.

Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian


punggung penis.

Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan


membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan
sekitar.

Kulit penis bagian bawah sangat tipis. Tunika dartos, fasia Buch dan
korpus spongiosum tidak ada.

Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari gland penis.

Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.

Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).

Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.

Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, bisa kearah bawah,
menyebar, mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok
saat BAK.

E. KLASIFIKASI
Tipe hipospodia berdasarkan letak orifisum uretra eksternum/meatus, yaitu :

Tipe Sederhana / Tipe Anterior

Tipe anterior terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan
coronal. Meatus terletak pada pangkal penis. Pada kelainan ini secara
klinis umumnya bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu

tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau


meatotomi.

Tipe Penil / Tipe Middle

Tipe Middle terdiri dari distal penile, proximale penile, dan pene-escrotal.
Meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Pada tipe ini umumnya
disertai dengan kelainan penyerta, yaitu kulit prepusium bagian ventral
tidak ada, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah (chordee) atau
gland penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe penil diperlukan intervensi
pembedahan secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium
tidak ada, sebaiknya pada bayi tidak dilakukan tindakan sirkumsisi karena
sisa kulit dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya. Tindakan
koreksi atau chordee umumnya dilakukakn sekitar 2 tahun, sedangkan
reparasi tipe hipospadia umumnya dilakukan sekitar umur 3 sampai 5
tahun.

Tipe Posterior

Tipe posterior terdiri dari Tipe Scrotal dan Perineal. Kelainan ini cukup
besar, umumnya pertumbuhan penis agak terganggu, kadang disertai
skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak
turun. Pada kejadian ini perlu diperhatikan kemungkinan adanya

pseudohermafroditisme. Tindakan bedah bertahap dilakukan pada tahun


pertama kehidupan bayi.
F. KOMPLIKASI
Komplikasi awal yang bisa terjadi adalah perdarahan, infeksi, edema, jatihan
yang terlepas, dan nekrosis flap. Sedangkan komplikasi lanjut yang bisa terjadi
adalah:
-

Ketidakpuasan kosmetis, biasa terjadi dari hasil penjahitan yang irregular,


gumpalan kulit (skin blobs), atau kulit bagian ventral yang berlebihan

Stenosis atau menyempitnya meatus uretra karena edema atau hipetrofi pada
tempat anastomosis juga terbentuknya hematom dibawah kulit.

Fistula uretrokutan: Fistula jarang menutup spontan dan dapat diperbaiki


dengan penutupan berlapis dari flap kulit lokal. Jika fistula masih bertahan
lebih dari 6 bulan setelah prosedur inisial, salurnya harus di eksisi, di jahit,
dan ditutup dengan beberapa lapis jaringan. Angka kejadian 5-10 % dan
digunakan sebagai parameter keberhasilan operasi.

Striktura uretra: Disebabkan oleh angulasi dari anastomosis. Keadaan ini


dapat dilatasi dengan pembedahan, insisi, eksisi, atau reanastomosis.

Divertikula: Ditandai dengan adanya pengembangan uretra saat berkemih.


Striktur pada distal dapat mengakibatkan obstruksi aliran dan berakhir pada
divertikula uertra.

Adanya rambut dalam uretra: Kulit yang mengandung folikel rambut


dihindari digunakan dalam rekonstruksi hipospadia. Bila kulit ini
berhubungan dengan uretra dapat menimbulkan infeksi saluran kemih dan
pembentukkan batu saat pubertas.

Komplikasi lainnya adalah ektropion mukosa, balanitis xerotica oblliterans


(BXO), uretrocele, chordee persisten, dan kebocoran traktus urinaria karena
penyemnbuhan yang lama.

G. PATOFISIOLOGI
Faktor hormon
Genetik
Lingkungan

Terapi estrogen
Proses embriologi
Mutasi gen

Terjadi genesis
Minggu ke 2 kehamilan
gagalnya sintesis
mesoderm
terdapat 2 lapisan
androgen

(eksoderm & endoderm)

Genital tubercle

kongenital malforasi
tidak terbentuk
terbentuk lekukan di tengah

meatus uretra terbuka


Penis terbentuk
Bermigrasi ke perifer
pada ventral penis
tidak sempurna

Memisahkan eksoderm
Bag. Anterior kloaka
dan endoderm
(membrane urogenital)

Rupture
Bag. kaudal bersatu

membentuk membran kloaka


Gagal bersatu

Minggu ke 6 terbentuk tonjolan


antara umbilical cord and tail
(genital tubercle)

Pada garis tengah terbentuk


lekukan (genital fold)

Minggu ke 7 (genital tubercle)


memanjang membentuk glands

HIPOSPADIA

Infeksi jaringan
Tindakan operasi
Kateter merembes

RESIKO INFEKSI
Kulit kemerahan (paha)

Reaksi inflamasi
Gangguan integritas kulit

Pengeluaran zat
Merangsang saraf nyeri
NYERI

vasoaktif
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan fisik bayi baru lahir karena kelainan lain dapat menyertai
hipospadia, pemeriksaan menyeluruh termasuk pemeriksaan kromosom

(Corwin, 2009).
Rontgen
USG sistem kemih kelmin
BNO-IVO karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan

kongenital ginjal
Urethtroscopy dan cytosocopy : untuk memastikan organ-organ seks

internal terbentuk secara normal.


Excretory urography : untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas
congenital pada ginjal dan ureter (Cafici, 2002).

I. PENATALAKSANAAN
Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah tunneling Sidiq-Chaula, Teknik
Horton dan Devine.
1. Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap:
a. Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan
terowongan yang berepitel pada glans penis. Dilakukan pada usia 1 -2
tahun. Penis diharapkan lurus, tapi meatus masih pada tempat yang
abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan preputium bagian dorsal
dan kulit penis
b. Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut
sudah lunak. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih)
sampai ke glans, lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah. Setelah uretra
terbentuk, luka ditutup dengan flap dari kulit preputium dibagian sisi yang
ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan
setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka operasi pertama telah
matang.
Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih besar
dengan penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis distal
(yang letaknya lebih ke ujung penis). Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit

bagian punggung dan ujung penis dengan pedikel (kaki) kemudian dipindah ke
bawah.
Mengingat pentingnya preputium untuk bahan dasar perbaikan hipospadia, maka
sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan berbarengan dengan operasi
hipospadi.
Penatalaksanaan Pasca Bedah:
a. Anak harus dalam posisi tirah baring hingga kateter diangkat. Perhatikan agar
anak tidak menarik kateter. Gunakan restraint yang aman jika diperlukan.
b. Evaluasi luka post operasi. Bekas luka harus dijaga agar tetap bersih dan
c.
d.
e.
f.

kering
Perhatikan kepatenan tube stent. Agar urine tidak rembes
Lakukan perawatan kateter
Lakukan pemeriksaan urin untuk memeriksa kandungan bakteri
Masukan cairan yang adekuat untuk mempertahankan aliran ginjal dan

mengencerkan toksik
g. Observasi aliran urin saat mulai mengeluarkan urin melalui uretra yang baru
dibentuk. Jika anak mengalami kesukaran dapat dilakukan mandi hangat
untuk membantu anak agar lebih rileks.
h. Berikan dukungan dan bimbingan pada orang tua. Berikan penjelasan pada
orang tua mengenai luka bekas operasi atau jika anak mengalami kesulitan
untuk mengeluarkan urin, berikan pula dorongan untuk berpartisipasi dalam
perawatan.
i. Observasi komplikasi. Dapat terjadi sumbatan pada kateter. Hal ini dapat
dihindari dengan perawatan kateter setiap 4 jam dan memasukan antiseptik
urinarius seperti kotrimokazol. Juga dapat terjadi penyempitan.
Farmakologi pasca operasi:
a. Ceftriaxone : Merupakan golongan antibiotik cephalosphorine
b. Ketorolac : Untuk penatalaksanaan nyeri akut yang berat jangka pendek (<5
hari)
c. Ranitidine : Untuk mengurangi sekresi asam lambung. (anti mual)
J. PROGNOSIS
Dengan perbaikan pada prosedur anastesi, alat jahitan, balutan, dan antibiotik
yang ada sekarang, operasi hipospadia telah menjadi operasi yang cukup sukses

dilakukan. Hasil yang fungsional dari koreksi hipospadia secara keseluruhan


sukses diperoleh, insidens fistula atau stenosis berkurang, dan lama perawatan
rumah sakit serta prognosis juga lebih baik untuk perbaikan hipospadia.
K. PENCEGAHAN
Sampai saat ini belum ada metode khusus untuk mencegah hipospadia. Namun
perlu diperhatikan penggunaan obat-obatan yang mengandung estrogen (misalnya
pil KB) selama kehamilan.

ASUHAN KEPERAWATAN HIPOSPADIA


A. ANAMNESA
1. Identitas Klien
Nama

: An. A

Umur

: 4 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

Diagnosa Medis

: Hipospadia

2. Keluhan Utama
Penis bengkok, BAK jongkok, Urin tidak memancar.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Penis bengkok, nyeri, dan kemerahan. Urin tidak memancar.
4. Riwayat Kesehatan Dahulu
Penis bengkok
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengalami gangguan menstruasi dan mendapatkan terapi hormone
estrogen.

6. Riwayat Alergen
B. PEMERIKSAAN FISIK
1. TTV :
- Kesadaran komposmentis
- RR = 24x/menit

(normal : 16x 20x/menit)

- HR : 100x/menit

(normal : 70x - 80x/menit)

- Suhu = 37,5C

(normal : 36,5C-37,5C)

2. Penis nyeri, kemerahan, sudah disunat, terpasang stent dan kateter.


C. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Urografi
D. TERAPI MEDIS
1. Uretroplasty
2. Chordektomy
3. Ceftriaxone, Intravena, 2x 1 gr
4. Keterolac, Drip, 3x 25 mg
5. Ranitidine, Intravena, 2x 25 mg
6. RL 1600 cc/24 jam

E. ANALISA DATA
Data yang Menyimpang
Etiologi
DO : HR 100x/menit,
Kegagalan fusi lipat uretra
RR24x/menit,

37,50C,

penis tampak kemerahan

Masalah
Nyeri akut

minggu 8 15 kehamilan

Hipospadia

DS : pasien mengeluh nyeri


pada penisnya

Meatus uretra terbuka pada


sisi ventral penis dan
proksimal ujung gland penis

Tindakan bedah (tunelling,


chordektomy, uretroplasti)

Terputusnya inkontinuitas
jaringan

tampak

Nyeri akut
Kegagalan fusi lipat uretra

kemerahan, terlihat kateter

minggu 8 15 kehamilan

DO
sedikit

Penis
rembes

dan

kulit

disekitar paha agak memerah


DS : -

Hipospadia

Meatus uretra terbuka pada


sisi ventral penis dan
proksimal ujung gland penis

Tindakan bedah (tunelling,


chordektomy, uretroplasti)

Resiko Infeksi

Inkontinensi urin

Resiko infeksi

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a

Nyeri akut berhubungan dengan post operasi

Resiko infeksi berhubungan dengan invasi kateter

G. PERENCANAAN
No.
1.

Diagnosa
Nyeri

Tujuan/Kriteria Evaluasi (NOC)


akut Kontrol Nyeri

berhubungna
dengan
operasi

post

Mengungkap

faktor

pencetus nyeri

Menggunakan tetapi non

Dapat

menggunakan

mengontrol nyeri
Melaporkan

nyeri

mengenai

lokasi,

karakteristik,

durasi,
kualitas,

pencetus nyeri
Observasi

keluhan
dari

ketidaknyamanan
Ajarkan

teknik

nonfarmakologi

Tingkat Kenyamanan
Melaporkan kondisi fisik
yang nyeman

komperhensif

nonverbal

terkontrol

secara

intensitas, dan faktor

berbagai sumber untuk

Kaji

frekuensi,

farmakologi

Intervensi (NIC)

Menunjukan

ekspresi

puas

terhadap

(ralaksasi)
Bantu
keluarga

pasien

&
untuk

mengontrol nyeri

Beri informasi tentang

manajemen nyeri

nyeri
Tingkat Nyeri

durasi,

Melaporkan

Perubahan

vital

Monitor TD, RR, nadi,

Memposisikan

suhu pasien

sign

dalam batas normal

Monitor keabnormalan
pola napas pasien

tubuh

untuk melindungi nyeri

Identifikasi
kemungkinan

Tujuan dan Kriteria Hasil:


- Klien mampu mengontrol
-

prosedur

antisipasi nyeri)

nyeri

(frekuensi & lama)

(penyebab,

perubahan TTV

nyeri
Mempertahankan tingkat Monitor

toleransi

aktivitas pasien

kenyamanan

Anjurkan
menurunkan

untuk
stress

dan banyak istirahat


Cegah tindakan yang
tidak dibutuhkan
Posisikan pasien dalam
posisi yang nyaman
Kolaborasi analgetik

2.

Resiko

infeksi Deteksi resiko

Ajarkan pasien &

berhubungan
dengan

invasi

kateter

Mengidentifikasi

kelurga

mencucitangan yang

resiko

benar
kembali

Menjelaskan
&

gejala

mengidentifikasi

yang

Ajarkan pada pasien


&

faktor

keluarga

gejala

tanda

infeksi

&

resiko

kapan

Menggunakan sumber &

melaporkan kepada

pelayanan
informasi

Kontrol resiko
Membenarkan

harus

petugas

kesehatan

untuk mendapat sumber

cara

yang dapat menimbulkan

tanda

faktor

faktor

Batasi pengunjung
Bersihkan
lingkungan

dengan

benar

setelah

digunakan pasien

resiko

Memonitor faktor resiko

Memonitor perilaku yang


dapat

Memonitor

&

mengungkapkan

teknik steril

sesudah tindakan

kesehatan

Tidak

Cuci tangan dengan


benar sebelum dan

status

Status imun

Bersihkan luka dan


ganti balutan dengan

meningkatkan

faktor resiko

Ajarkan pada pasien


dan

menunjukan

infeksi berulang

karakteristik

luka, drainase

dari lingkungan

Catat

kelurga

cara

prosedur perawatan
luka

Suhu tubuh dalam batas

Monitor peningkatan

normal

granulossi, sel darah

Sel darah putih tidak

putih

meningkat

Kaji

faktor

yang

dapat meningkatkan
infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Barbara

Keperawatan Perioperatif Vol. 2. Jakarta: EGC


Markum, A.H. 1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Penerbit

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia


Anak-hipospadia. (t.thn.). Dipetik Agustus

http://ml.scribd.com
Behrman, Kliegman, & Arvin. (2000). Ilmu Kesehatan Anak ed. 15 Vol

3. Jakarta: EGC.
Corwin, E. J. (2009). Buku Saku : Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Heffiner, L. J. (2005). At a Glans Sistem Reproduksi Ed. 2. Boston: EMS.
Muscari, M. E. (2005). Panduan Belajar : Keperawatan Pediatrik Ed. 3 hal :

357.Jakarta : EGC.
Nanda. (2010). Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.
Ramali, Ahmad & K. St. Pamoentjak. (2005). Kamus Kedokteran. Jakarta:

J.

Djambatan.

Gruendemann

&

Billie

Fernsebner.

5,

(2005). Buku

2012,

dari

Ajar

Scribd:

Schwartz, S. I. (2000). Intisari Prinsip - prinsip Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.