Anda di halaman 1dari 54

MANAJEMEN BISNIS PARIWISATA

PROPOSAL PERENCANAAN BISNIS PARIWISATA


(REKLAMASI TELUK BENOA)

OLEH KELOMPOK III:


1. NI NYOMAN YUNI JUWITARISTANTY

1590661013

2. OKI TJANDRA SK HARTOYO

1590661017

3. AYU LARASATI

1590661034

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

1. Latar Belakang
Sebagai bagian dari gugusan kepulauan Nusantara, Pulau Bali termasuk salah satu dari ke-27 provinsi Republik Indonesia. Bali terkenal
akan keindahan panorama alamnya yang alami nan eksotis. Selain itu Bali merupakan cerminan dari warisan budaya Hindu yang amat
kental. Tidak heran apabila Bali dijuluki sebagai surga pariwisata. Anggapan tersebut dibangun atas wacana orientalis yang ingin
melihat Bali sebagai museum hidup budaya Hindu-Jawa di tengah negeri Islam terbesar di dunia. Tidak dapat dipungkiri bahwa
pariwisata menjadi jalan untuk meningkatkan taraf hidup orang Bali, pun tanpa merombak pola hidup tradisional mereka.
Namun patut diingat bahwa tujuan pariwisata Bali, yang kini nampak sebagai sesuatu yang tak terelakkan, baik dimata orang Bali
sendiri maupun di mata para wisatawan ialah bahwa pariwisata merupakan hasil dari sejarah yang khas, dan dari keputusan keputusan
tertentu. Darimana datangnya keputusan itu salah satunya disebabkan oleh karena faktor historis Bali yang pernah dijajah oleh Hindia
Belanda. Pada saat itu pemerintah kolonial Hindia Belanda memperkenalkan Bali di mata dunia lewat seni tradisonal-nya seperti tarian.
Tidak heran bila Bali bisa dikatakan lebih terkenal daripada Indonesia.
Isu yang paling hangat menimpa Bali saat ini ialah mengenai reklamasi yang akan dilakukan di Teluk Benoa di daerah Bali. Teluk
Benoa terletak di sisi tenggara pulau Bali, dan direncanakan untuk direklamasi tepatnya adalah Pulau Pudut. Reklamasi direncanakan
seluas 838ha dengan ijin pengelolaan PT TWBI selama 30 tahun, dan pembangunan berbagai objek wisata di atasnya.Tentu saja hal ini
menimbulkan polemik akibat adanya pihak pro dan kontra atas berbagai pertimbangan jika proyek reklamasi di bangun. Pihak kontra
mendasari argumennya merujuk pada Pasal 93 Peraturan Presiden 45/2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Sarbagita yang
menyebutkan bahwa Teluk Benoa adalah kawasan konservasi. Mereklamasi kawasan konservasi artinya melanggar peraturan tersebut,
terlebih banyak dampak negatif yang akan berdampak bagi kelangsungan ekosistem maupun kehidupan. Tepat pada tanggal 30 Mei 2014
President Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani Pepres No. 51 tahun 2014. Inti dari Perpres ini adalah berubahnya status Teluk
Benoa dari kawasan konservasi perairan menjadi kawasan pemanfaatan umum dan diijinkannya reklamasi seluas maksimal 700 hektar.

Dalam melakukan reklamasi tentu banyak aspek yang mesti diperhatikan. Mengingat kawasan pantai adalah kawasan yang seharusnya
bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Apabila pantai direklamasi tentu saja fungsi pantai sebagai public space bagi suatu
masyarakat/kota tidak dapat berjalan seperti sediakala. Kawasan yang telah direklamasi seakan-akan telah berubah menjadi milik pribadi.
Investor yang melakukan pengurukan lahan rawa atau laut akan merasa memilikinya. Jika sudah begitu maka masyarakat akan merasa
dirugikan. Belum lagi timbulnya kekhawatiran akan bencana seperti banjir misalnya. Munculnya pelbagai macam gerakan penolakan
reklamasi Teluk Benoa kian ramai. Gerakan tersebut sebagai bentuk respon masyarakat terhadap Perpres No.51/2014. Produk nyata dari
gerakan ini dalam menyuarakan hak-hak masyarakat Bali berupa poster, spanduk, lagu, konser musik, akun-akun media sosial yang
bersedia menampung aspirasi sekaligus mengampanyekan penolakan reklamasi masyarakat. Sedangkan pihak pro beranggapan bahwa
reklamasi ialah demi untuk kemajuan dan masa depan Bali, dan mereklamasi Bali ialah legal hukumnya, hal ini sesuai dengan Perpres No.
51/2014.

2. Identifikasi dan kelompokkan isu-isu kunci paling kritis dengan pernyataan negatif menjadi:
Pernyataan Negatif

Urgent
Pernyataan Negatif
Pernyataan Positif
1) Terancamnya habitat dan ekosistem Dalam rencana pembangunannya,
mangrove teluk benoa yang berperan rencana pengelolaan perairan Teluk
penting dalam menjaga kestabilitasan Benoa sebagian besar untuk hutan
produktifitas
dan
kesediaan mangrove.
Ini
merupakan
sumberdaya hayati wilayah pesisir dan pembuktian
bahwa
kebijakan
pulau-pulau kecil yang juga yang juga pemerintah
bukanlah
bersifat
merupakan daerah asuhan (nursery mengeksploitasi
alam,
justru
ground), pemijahan (spawning ground) sebaliknya bersifat melestarikan
dan tempat mencari makan bagi ikan alam itu sendiri. Pembangunan hutan
(feeding ground) beberapa jenis biota mangrove yang luas juga menjawab
perairan
serta protes masyarakat yang menganggap
sebagai sanctuary kehidupan liar dan akan terjadi kepunahan berbagai
mangrove yang dikenal sebagai kenaekaragaman hayati. Akan tetapi
pemasok hara dan makanan bagi dengan
pembangunan
hutan
plankton serta menciptakan suatu rantai mangrove yang luas rantai makanan
makanan yang kompleks di perairan akan tetap terjaga, dengan demikian
sekitarnya akan rusak selama proses kelestarian
keanekaragaman
pengerjaan pulau-pulau baru.
hayatipun akan terjaga pula.
2) Akan terjadi perubahan ekosistem pada Pembangunan
reklamasi
tidak
lingkungan seperti perubahan pada berfokus pada proses pembangunan
pola arus erosi pada pantai, Maka
semata, namun juga menjaga
perubahan
demikian
dapat
membahayakan suatu daerah atau kelestarian dari keberadaan hutan
lingkungan
karena
dapat mangrove yang sangat luas akan
mengakibatkan banjir
4

berfungsi

melindungi

kawasan

pesisir dari ancaman abrasi akibat


iklim global, termasuk melindungi
Bali dari banjair maupun bencana
3) Akan berdampak buruk pada sistem
drainase dan perubahan hidrodinamika
yang mempunyai dampak negatif
kepada lingkungan dan masyarakat
yang ada disekitarnya.
4) Bali tidak lagi menjadi pariwisata
budaya seutuhnya. Dalam sebuah teori
public finance setiap kebijakan publik
pasti akan menimbulkan dampak
negatif yang disebut eksternalitas. Jika
eksternalitas yang ditimbulkan terjadi
pada budaya Bali, maka akan sulit
untuk diukur, diidentifikasi serta
diminimalisir.

tsunami.
Dengan pemanfaatan teknologi kita
dapat mengidentifikasi struktur
lapisan tanah, dan mendesign sistem
drainase yang tepat dan tetap
menjaga
hidrodinamika
sesuai
dengan keadaan yang natural.
Hal ini dapat diminimalisir dengan
cara mengikut sertakan pemangku
adat, bendesa adat, dan masyarakat
bali sendiri untuk dapat memberikan
filter kepada diri mereka, karena
sebuah budaya itu ada di masingmasing diri setiap masyarakat Bali.
Ditinjau
dari
sector
budaya,
pembangunan museum budaya dan
seni dalam kawasan reklamasi,
secara
tidak
langsung
dapat
melestarikan budaya Bali yang
menjadi icon pariwisata Bali.Selain
itu pembangunan fasilitas umum

5) Reklamasi
tidak
untuk
mensejahterahkan
rakyat.
Pada
dasarnya pariwisata dengan segala
aktivitasnya memang telah mampu
memberikan pengaruh yang cukup
signifikan bagi perubahan masyarakat
baik secara ekonomi, sosial maupun
budaya. Hal itu menuntut adanya
perhatian yang lebih dari para
pengambil kebijakan sektor pariwisata
untuk mempertimbangkan kembali
pola pengembangan kawasan wisata
agar masyarakat sekitar lebih dapat
merasakan manfaatnya.

6) Reklamasi bukan solusi terhadap


permasalahan ahli fungsi lahan dan
kepadatan
penduduk.
setiap
pembangunan kawasan wisata akan
mendorong orang untuk bekerja di

pada kawasan reklamasi yang


mengikuti kaidah bangunan Bali,
dapat melestarikan bangunan budaya
Bali dan menarik minat wisatawan.
Kata
mengenai
tidak
mensejahretahkan dalam proyek
reklamasi merupakan suatu hal yang
dapat di netralisir, dimana dengan
adanya proses reklamasi tentu kita
akan menemukan berbagai proses
pembangunan yang berkaitan dengan
pariwisata baik fasilitas utama
maupun
fasilitas
pendukung,
sehingga masing-masing sarana
prasana membutuhkan tenaga kerja,
disini kunci utama dimana pihak
investor, pemerintah dan pihak
setempat dapat mengkolaborasikan
komposisi tenaga kerja yang
berasala dari daerah setempat,
sehingga
manfaatnya
dapat
dirasakan oleh masyarakat sekitar.
Dalam mendukung pembangunan
pariwisata,
keberadaan
pulau
reklamasi akan menjadi destinasi
wisata baru. Konsep pariwisata
budaya mutlak diimplementasikan
6

sana, termasuk masuknya kaum


migran. Kondisi ini akan mendorong
pembangunan fisik dan berbagai sarana
prasarana lainnya. Pembangunan fisik
sebagai akibat dari multiplier-efect
pembangunan (reklamasi) inilah yang
mendorong alih fungsi lahan sawah.

dalam
membangun
dan
mengembangkan
kawasan
dan
atraksi wisata di kawasan tersebut.
Di sisi lain, kita tidak boleh menutup
mata terhadap kemajuan yang
dialami pariwisata negara-negara
tetangga, seperti Thailand, Malaysia,
dan Singapura. Kita tidak boleh
malu belajar dari kemajuan yang
mereka capai.
Esensial
Pernyataan Negatif
1) Rencana reklamasi tidak memenuhi ketentuan Perda RTRWP BALI No. 16
Tahun 2009, juga bertentangan dengan Undang-Undang No. 27 Tahun 2007
tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, dan Perpres No. 45
Tahun 2011 tentang kawasan perkotaan Sarbagita yang menetapkan kawasan
Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi.
2) Semakin memburuknya kualitas udara dan meningkatnya kebisingan akan
semakin memperburuk aspek lingkungan.
3) Pihak Pemrakarsa tidak secara tegas menguraikan pra-design dari bangunan
yang akan dibangun di atas tanah hasil reklamasi. Areal reklamasi tepat berada
di ujung landasan pacu Bandara Ngurah Rai yang berpotensi terjadinya konflik
dengan rencana pengembangan Bandara Ngurah Rai dari aspek keselamatan
penerbangan.

4) Peraturan yang dikeluarkan pemerintah hanya berpihak dan menguntungkan


kepentingan investor rakus terbukti dari penerbitan SK Reklamasi yang penuh
kebohongan sampai pemaksaan diterbitkannya Perpres No. 51 Th.2014 oleh
SBY. Akibatnya, masyarakat Bali tidak berdaulat atas alamnya dan
terpinggirkan dalam tata kelola lingkungan hidup.
5) Banyaknya pembangunan fisik yang mengikuti jalan raya, berdirinya
bangunan-bangunan dengan pola domino, serta konversi lahan pertanian ke
non-pertanian telah mengikis setengah dari keterbatasan lahan yang dimiliki
oleh Bali.

1)
2)

3)
4)

Important
Pernyataan Negatif
Persediaan air, listrik, dan energi akan mengurangi ketersediaan di daerah lain.
Dari aspek Transportasi, revitalisasi Teluk Benoa dengan berbagai rencana
aktivitas pengembangannya akan menimbulkan bangkitan lalu lintas yang
menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah baik pada jaringan jalan di
Badung Selatan maupun di Kota Denpasar.
Dari segi ekonomi juga akan menimbulkan pemusatan perekonomian di Bali
Selatan.
Pengaruh dari proses reklamasi bila dilaksanakan akan melahirkan ketidaknyamanan selama proses pembangunan, khususnya untuk penduduk setempat
dan pengendara kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

3. Membuat Analisis SWOT.


Analisis SWOT adalah analisis kondisi internal maupun eksternal suatu organisasi atau proyek yang selanjutnya akan digunakan
sebagai dasar untuk merancang strategi dan program kerja. Analisis internal meliputi peniaian terhadap faktor kekuatan ( Strength )
8

dan kelemahan (Weakness). Sementara, analisis eksternal mencakup faktor peluang (Opportunity) dan tantangan (Threats). Metode
ini ditemukan oleh Albert Humphrey yang memimpin proyek riset pada Universitas Stanford pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an
dengan menggunakan data dari perusahaan-perusahaan Fortune 500 (Wikipedia, 2014).
Strengths
(Kekuatan)

Weaknesses
(Kelemahan)

Opportunities
(Peluang)

Sosial Budaya
1. Kehidupan sosial budaya
masyarakat Bali dilandasi
filsafah Tri Hita Karana,
artinya
Tiga
Penyebab
Kesejahteraan yang perlu
diseimbangkan
dan
diharmosniskan
yaitu
hubungan manusia dengan
Tuhan
(Parhyangan),
hubungan manusia dengan
manusia (Pawongan) dan
manusia dengan lingkungan
(Palemahan).

Sosial Budaya
1. THK berarti tiga penyebab
kebaikan, kesejahteraan, atau
kebahagian, yang bersumber dari
tiga hubungan yang harmonis,
antara manusia dengan Tuhan
Yang Maha esa, antara sesame
manusia dan antara manusia
dengan alam serta makhluk hidup
lainnya. Dimana konsep ini mulai
melemah dalam fungsi dasarnya,
seperti
pemerintah
tidak
mempertimbangkan aspek yang
memperdulikan lingkungannya,
sehingga akan berpengaruh pada
hubungan antar manusia yang
mengalami konflik dalam pro dan
kontra relkamasi.

Sosial Budaya
1.
Potensi
yang
dapat
dikembangkan lebih modern,
seperti industri pengolahan
hasil pertanian, industri kecil
(home industry); dan kerajinan
rakyat yang antara lain
menampilkan
karya
seni
patung/ukiran, lukis, garmen,
aneka tekstil, serta aneka
kerajinan perak dan kulit.
Banyak hasil industri kerajian
Bali menjadi komoditas ekspor
dan menjadi daya tarik
wisatawan mancanegara.

Threats
(Ancaman)

Sosial Budaya
1. Dampak negatif yang sering
dikawatirkan terdapat budaya
masyarakat lokal antara lain;
proses komodifikasi, peniruan,
dan profanisasi dan juga dampak
negatif
sosial
budaya
pengembangan pariwisata dilihat
dari respon masyarakat lokal
terhadap keberadaan pariwisata
seperti adanya perselisihan atau
konflik kepentingan di antara
para stakeholders, kebencian dan
penolakan
terhadap
pengembangan pariwisata, dan
munculnya
masalah-masalah
sosial seperti praktek perjudian,
prostitusi dan penyalahgunaan
seks (sexual abuse).
2. Perilaku
kehidupan 2. Relokasi pemukinan bagi 2. Dengan adanya revitalisasi 2. Di samping pariwisata dapat
dan
masyarakatnya dilandasi oleh penduduk yang terkena dampak pada teluk benoa makan akan mengembangkan
ada dorongan dalam usaha melestarikan kebudayaan, sering
falsafah Karmaphala, yaitu fisik dari proses reklamasi.
9

keyakinan akan adanya hukum


sebab sebab-akibat antara
perbuatan
dengan
hasil
perbuatan. Sebagian besar
kehidupan
masyarakatnya
diwarnai dengan berbagai
upacara agama/adat, sehingga
kehidupan spiritual mereka
tidak dapat dilepaskan dari
berbagai upacara ritual.

melestarikan
dan
menghidupkan
kembali
beberapa
pola
budaya
tradisional seperti kesenian,
kerajinan tangan, tarian, musik,
upacara-upacara adat, dan
pakaian.

3. Salah satu kearifan lokal yang


lain
adalah
keberadaan
Lembaga
Subak
sebagai
lembaga
yang
mengatur
tentang
sistem
pengairan
tradisional Bali yang bersifat
sosio-religius.

3. Rencana reklamasi tidak 3. Peluang lain yang muncul


memenuhi
ketentuan
Perda
dari industri pariwisata
RTRWP BALI No. 16 Tahun
ini antara lain dapat
2009, juga bertentangan dengan
terlihat pula dari segi
Undang-Undang No. 27 Tahun
budaya. Dengan pesatnya
2007 tentang pengelolaan wilayah
perkembangan industri
pesisir dan pulau-pulau kecil, dan
pariwisata maka akan
Perpres No. 45 Tahun 2011
membawa pemahaman
tentang
kawasan
perkotaan
dan pengertian antar
Sarbagita
yang
menetapkan
budaya melalui interaksi
kawasan Teluk Benoa sebagai
pengunjung wisata (turis)
kawasan konservasi.
dengan masyarakat lokal
tempat daerah wisata
tersebut berada. Dari

10

juga terjadi sebaliknya yaitu


tereksploitasinya
kebudayaan
secara
berlebihan
demi
kepentingan pariwisata. Tentu
hal ini akan berdampak negatif
terhadap
perkembangan
kebudayaan. Ini sering terjadi
akibat adanya komersialisasi
kebudayaan dalam pariwisata.
Artinya, memfungsikan polapola
kebudayaan
seperti
kesenian, tempat-tempat sejarah,
adat istiadat, dan monumenmonumen
di luar fungsi
utamanya demi kepentingan
pariwisata.
3.
Perubahan
terhadap
perkembangan pariwisata akan
memiliki suatu konsekuensi dan
juga terjadinya homogenisasi
budaya, dimana identitas etnik
lokal akan tenggelam dalam
bayangan sistem industri dengan
teknologi
barat,
birokrasi
nasional dan multinasional, a
consumer-oriented
economy,
dan jet-age lifestyles.

interaksi inilah para


wisatawan
dapat
mengenal
dan
menghargai
budaya
masyarakat setempat dan
juga memahami latar
belakang
kebudayaan
lokal yang dianut oleh
masyarakat tersebut.
4. Wisata budaya meliputi 83
obyek wisata, seperti misalnya
wisata seni di Ubud, situs keramat
Tanah Lot, upacara Barong di
Jimbaran dan berbagai tempat seni
dan galeri yang sekarang banyak
bermunculan di beberapa tempat
di Pulau Bali.

5. Pengetahuan
tradisional
maupun kearifan lokal dapat
meningkatkan pemahaman
wisatawan
mengenai

4. Tak jarang jika pembangunan 4.


Sosialisasi mengenai 4. Pariwisata Bali bergantung
pariwisata mencakup daerah- rencana pelaksanaan reklamasi kepada alam yang membentuk
daerah yang dianggap sakral oleh dengan warga.
budaya dan spritualitasnya. Jika
masyarakat
sekitar
sehingga
alam diekspoitasi semena-mena
mengganggu kelancaran dalam
maka kebudayaan Bali akan
prosesi
upacara
adat
dan
hancur, dan pada saat itulah
keagamaan. Misalnya saja obyek
tragedi kebangkrutan pariwisata
wisata yang menutup kawasan
Bali terjadi. Korbannya lagi-lagi
pantai di Bali dan menutup fungsi
adalah masyarakat lokal
pantai sebagai tempat suci bagi
masyarakat bali dalam melakukan
prosesi upacara melasti yakni
penyucian
alam
semesta
menjelang Hari Raya Nyepi.
5.
RTRWP
Bali
belum
sepenuhnya
dijadikan
acuan
dalam rencana tahapan dan
pembiayaan
program

11

5. Adanya transmigrasi, yang


disebabkan oleh perkembangan
dari daerah pariwisata baru,
yang tentunya membutuhkan

5. Dampak sosial lainnya adalah


terjadinya penolakan dari warga.
Salah satu contohnya pada
tanggal, 29 Januari 2016, ribuan

kehidupan sosial budaya pembangunan.


masyarakat,
sehingga
wisatawan betah tinggal lama
di kawasan ekowisata..
Lingkungan
1. Kebudayaan Bali tercermin
dari aspek lingkungan pada
Desa
wisata
merupakan
kegiatan wisata yang ditujukan
kepada wisatawan yang ingin
menikmati suasana pedesaan
sebagai
tempat
untuk
beristirahat, sebagai tempat
belajar suatu daerah (seperti
belajar
menari,
melukis,
memahat) dan tempat untuk
mendapatkan
pengalaman
hidup yang berbeda dari
daerah asalnya.
2. Teluk Benoa adalah kawasan
perairan strategis di bagian
selatan Bali dan menjadi
muara sejumlah sungai di Bali.

tenaga kerja untuk mengisi warga bali dari berbagai


setiap-setiap bidang pariwisata. kelompok
berdemonstrasi
menolak reklamasi Teluk Benoa.

Lingkungan
1. Reklamasi dengan membuat
pulau baru akan menimbulkan
kerentanan terhadap bencana.
Baik tsunami maupun liquifaksi
(hilangnya kekuatan lapisan tanah
akibat adanya faktor getaran,
misalnya gempa bumi). Pulau
baru akan lebih labil dan
memperpadat lokasi, hal yang
justru bertentangan dengan prinsip
adaptasi terhadap bencana.

Lingkungan
1.
Bertambahnya
jadwal
petugas kebersihan sehingga
menaikkan jumlah upah.

Lingkungan
1. Kegiatan pariwisata yang
tidak
seimbang
terhadap
lingkungan, akan mengakibatkan
terjadinya deforestation yaitu
kerusakan
permanen
pada
keaslian hutan dan pepohonan.
Secara umum, hal ini akan
berdampak pada perputaran
karbon, perputaran air dan erosi
pada tanah.

2. Reklamasi akan menyebabkan


perubahan
kondisi
perairan,
seperti salinitas, temperaturserta
masukan nutrient yang terbatas
dari
luar
teluk,
termasuk
menyebabkan pola perpindahan
sedimen. Semuanya berdampak
buruk
terhadap
ekosistem
mangrove
termasuk
dapat
mematikan
vegetasi
prapat

2.
Target
pasar
untuk
memperkenalkan
keindahan
dasar laut, kebudayaan, dan
infrastruktur lainnya sebagai
pendukung sektor pariwisata
secara lebih luas dapat lebih
cepat dalam segi promosi.

2. Kerusakan Hutan Akibat


Pembangunan
Fasilitas
Pariwisata. Dengan adanya
peningkatan
daya
kunjung
wisatawan,
serta
pulihnya
kepercayaan dunia internasional
terhadap citra Bali, maka
penyeimbangan fasilitas-fasilitas
pendukungnya perlu juga untuk
dilakukan.
Namun
sangat

12

(Sonneratia spp), vegetasi asli


teluk sehingga mengubah struktur
komunitas mangrove di Teluk
Benoa.
3. Salah satu pesona alam di
pulau bali adalah Hutan
Mangrove atau yang sering
kita kenal dengan nama hutan
bakau. Selain keindahannya,
hutan mangrove juga memiliki
fungsi yang sangat besar bagi
kehidupan makluk hidup.

3. Reklamasi Teluk Benoa


semakin
mengancam
dan
memperparah abrasi pantai. Baik
di sekitar Teluk Benoa maupun di
wilayah lain, seperti di Nusa Dua,
Sanur, Gianyar, Klungkung dan
Karangasem dan seterusnya.

3. Peluang untuk merancang


produk
pariwisata
sesuai
dengan
kebutuhan
dan
keinginan pengunjung dan juga
kemampuan
utama
yang
dimiliki para pelaku usaha
serta
tidak
mengancam
lingkungan yang telah ada.

4. Lingkungan alam merupakan


aset pariwisata di suatu daerah
contoh di bali memiliki
berbagai
keanekaragaman
alam seperti 47 obyek wisata,
seperti
panorama
di
Kintamani,
Pantai
Kuta,
Legian, Sanur, Tanah Lot,
Nusa Panida, Nusa Dua,
Karang Asem, Danau Batur,
Danau Bedugul, Cagar Alam
Sangieh, Taman Nasional Bali
Barat,dan Taman Laut Pulau

4. Pengambilan material untuk


reklamasi di Sawangan (Nusa
Dua-Badung),
Candi
Dasa
(Karangasem) dan Sekotong
(Lombok) akan menyebabkan
merosotnya
keanekaragaman
hayati di lokasi sumber material,
seperti rusaknya terumbu karang
dan menyebabkan abrasi di
kawasan pantai tersebut. Pada
akhirnya
akan
berdampak
pulasecara ekonomi sosial kepada
masyarakat di wilayah itu.

4.
Memelihara
hubungan
secara baik dengan lingkungan
sekitar serta kebijakan yang
memenuhi aspirasi lokal.

13

disayangkan,
di
dalam
pemenuhan kebutuhan akan
fasilitas-fasilitas
pariwisata
tersebut, hutan serta lahan
pertanianlah
yang
menjadi
korbannya.
3. Produksi energi listrik telah
berkontribusi dalam memacu
pertumbuhan ekonomi. Namun
ketergantungan sektor listrik
terhadap penggunaan bahan
bakar fosil (batubara, minyak
bumi
dan
gas)
telah
menyebabkan
penurunan
kualitas lingkungan akibat emisi
polutan yang dihasilkannya,
seperti (CO2), (N2O) dan (SO2).
4.
Perkembangan
pesat
pariwisata
menyebabkan
permasalahan lingkungan di Bali
seperti pencemaran atas air,
tanah, dan udara semakin
menjadi-jadi. Tumpukan sampah
dimana-mana
akibat
pola
perilaku masyarakat membuat
pencemaran
dan kerusakan
lingkungan.

Menjangan.
5. Menaikkan harga jual tanah di
kawasan dan sekitar reklamasi
dan juga pemanfaaatan ruang
untuk pengembangan pantai.

Daya Dukung
1. Ekowisata merupakan bentuk
wisata alternatif yang menaruh
perhatian
besar
terhadap
kelestarian sumber daya wisata
atau perjalanan wisata alam
yang
bertanggung
jawab
dengan cara mengkonservasi
lingkungan dan meningkatkan
kesejahteraan lokal (TIES
dalam Damanik dkk, 2006).
Kota Denpasar merupakan
salah satu daerah yang
mengembangkan
konsep

5. Perubahan morfologi dan


tipologi
pantai,
peningkatan
jumlah sampah dan penurunan
sanitasi lingkungan.

5.
Lingkungan
daerah
reklamasi
akan
memiliki
peluang untuk tumbuh dan
berkembang
sebagai
infrastruktur
bertaraf
internasional dan modern,
namun disisi lain tetap
menjujung kearifikan lokal
beraroma budaya asli bali
dengan
membangun
infrastruktur dengan sentuhan
budaya bali.

5. Perubahan alih fungsi lahan


produktif yang kini sebagian
besar
digunakan
untuk
pembangunan,
tidak
hanya
berdampak pada kelestarian
lingkungan,
tetapi
juga
berdampak pada keberadaan
flora dan fauna. Semakin
berkurangnya lahan dan tempat
dimana mereka biasa hidup
membuat banyak flora dan fauna
menjadi langka bahkan terancam
punah.

Daya Dukung
1. Dalam pengelolaan limbah dan
air bersih perlu dikaji kembali,
karna itu saat ini saja daerah kuta,
seminyak, masuk daerah nusa dua
dan bali selatan, masih sering
mengalami banjir saat masuk
musim hujan dan kekurangan air
bersih yang dapat digunakan baik
untuk masyarakat sekitar maupun
yang difungsikan oleh industri
pariwisata pada khususnya.

Daya Dukung
1. Perkembangan pariwisata
akan memberikan peluang,
sehingga banyak berbagai
usaha dibuka dengan basis
pariwisata
seperti
ratusan
komponen usaha, baik usaha
besar atau kecil, termasuk
didalamnya angkutan udara,
kapal-kapal pesiar, kereta api,
agen-agen penyewaan mobil,
pengusaha tur dan biro
perjalanan,
akomodasi,
restoran,
dan
pusat-pusat

Daya Dukung
1. Pembuangan limbah cair
(detergen pencucian linen hotel)
dan limbah padat(sisa makanan
tamu).
Limbah-limbah
itu
mencemari laut, danau dan
sungai. Akibat dari pembuangan
limbah,
maka
lingkungan
terkontaminasi,
kesehatan
masyarakat
terganggu,
perubahan
dan
kerusakan
vegetasi air, nilai estetika
perairan
berkurang (seperti
warna
laut
berubah
dari

14

ekowisata
melalui
pengembangan Desa Budaya
Kertalangu.
2. Sarana
dan
prasarana
pendukungnya, seperti hotel,
restauran, cafe, kolam renang, pusat
souvenir, dan sarana olah raga. Bali
memiliki sarana dan prasarana yang
lengkap.

2. Keperluan proyek yang


terkadang tidak jelas dan berubahubah
menyebabkan
sulitnya
memperhitungkan estimasi biaya
dan anggaran secara nyata serta
pemanfaatan ruang di Bali
merupakan rangkaian proses
penataan ruang yang bereputasi
buruk.
Nyaris
tidak
ada
keterpaduan antara perencanaan
tata ruang, pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang.
Meski telah banyak disusun
rencana tata ruang yang lebih rinci
guna menunjang pelaksanaan
Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi (RTRWP) Bali, tapi
ternyata tak sepenuhnya mampu
mengantisipasi dan memecahkan
permasalahan tata ruang Bali.

konvensi.

warnabiru menjadi warna hitam)

2. Mendorong pertumbuhan
dan
perkembangan
dunia
pendidikan khususnya pada
bidang kepariwisataan untuk
menghasilkan sumber daya
manusia
di
bidang
kepariwisataan yang handal.

2. Perjalanan menggunakan alat


transportasi
udadra
sangat
nyaman dan cepat. Namun,
angkutan
udara
berpotensi
merusak atmosfir bumi. Hasil
buangan emisinya dilepas di
udara
yang
menyebabkan
atmosfir tercemar dan gemuruh
mesin pesawat menyebabkan
polusi suara. Selain itu, udara
tercemar kibat emisi kendaraan
darat (mobil, bus) dan bunyi
deru
mesin
kendaraan
menyebabkan kebisingan. Akibat
polusi udara dan polisi suara,
maka nilai wisata berkurang,
pengalaman
menjadi
tidak
menyenangkan
dan
memberikandampak negatif bagi
vegetasi dan hewan.

3. Dengan adanya perkembangan 3. Kodisi tanah. Kondisi geologis 3.

15

Optimasi

pengembangan 3. Sektor pariwisata maupun

teknologi.
Sehingga
dapat
dimanfaatkan
untuk
mengidentifasi kondisi tanah pada
teluk benoa.

yang tidak stabil, mengingat


tanahnya berupa tanah pasir,
sehingga pondasinya perlu yang
kuat dan juga Promosi terhadap
produk
wisata
yang
tidak
berkelanjutan
akan
mengakibatkan
menurunnya
lingkungan fisik dan budaya yang
ada.

sistem pembangkit listrik akan


mulai dikembangkan karna bila
pembangunan
reklamasi
berjalan, memulai proses dan
rampung,
tentu
akan
membutuhkan daya listrik yang
lebih tinggi untuk membantu
proses
pembangunan
dan
proses setelah reklamasi.

industri
perhotelan
membutuhkan energi listrik yang
cukup besar untuk menjamin
kelangsungan
operasionalnya.
Hotel
kadang
memerlukan
energi listrik yang cukup banyak
melebihi
konsumsi
listrik
penduduk lokal.

4. Pemakaian standar daya dukung


fisik bagi destinasi wisata mampu
menghindarkan
pembangunan
kawasan yang terlalu cepat dan
tidak terkendali yang justru akan
merugikan
pengembangan
ekowisata tersebut.

4.
Ketimpangan
fasilitas
penunjang,
dalam
hal
ini
akomodasi (hotel bintang dan
non-bintang) yang terkonsentrasi
di daerah Kabupaten Badung dan
Kota Denpasar, daerah yang
pendapatannya
tinggi
dan
pertumbuhan ekonominya tinggi.
Sedangkan di daerah yang
pendapatannya
rendah
dan
pertumbuhan ekonominya rendah,
seperti
Karangasem,
Bangli,
Tabanan dan Jemberana, fasilitas
pariwisata sangat rendah. Dengan
demikian,
peningkatan
pembangunan di daerah Nusa Dua
tanpa disertai pembangunan di
daerah
lain
mengaibatkan
pembangunan menjadi timpang,
suatu pelanggaran bagi konsep

4. Kemudahan akses menuju


kawasan rencana reklamasi dan
juga
dirancang
untuk
memenuhi berbagai ragam
kebutuhan
informasi
dari
berbagai audien yang berbeda.

4. Penggunaan fasilitas seperti


AC maupun adanya rumah kaca
pada
setiap
hotel
yang
difungsikan pada masing-masing
kamar dan sarana lainnya, tentu
akan mengakibatkan dampak
buruk secara meyeluruh, tentu
saja dampak buruk tidak akan
hanya mengancam bali, bahkan
dampak ini akan mengancam
bumi secara universal.

16

THK.
5. Elemen daya dukung pada
bauran fasilits
yang dapat
digunakan termasuk Bisnis ke
Bisnis (B2B) pelayanan internet,
Internet
services,
Travel
workshops, Joint campaigns,
Trades hows, kunjungan jurnalis,
Familiarisation trips, Reservation
systems, Representation abroad,
Tourist information
services,
Destination management systems

5. Penipisan sumber energi yang


tentu akan disebebkan oleh proses
reklamasi dan setelah reklamasi
selesai
untuk
mendukung
berebagai sektor yang berlokasi di
Teluk Benoa pada khususnya.

Ekonomi Pancasila

Ekonomi Pancasila

5. Adanya LSM atau CSR yang 5. Pengambilan material urugan


dapat diajak bekerja sama yang
sulit
dalam
proses
dalam upaya pemberdayaan reklamasi.
masyarakat pesisir yang akan
direlokasi dan Daya dukung
dapat ditingkatkan dengan
pengembangan
ecomanagement dengan prinsip
3 R (reduce, reuse and recycle)
dan
Ecoefisiensi
dapat
diterapkan untuk transportasi,
akomodasi,
maupun sarana
pendukung

Ekonomi Pancasila
1.
Peningkatan
ekonomi 1. Kerugian/biaya yang hilang
1. 1. Meningkatkan pendapatan
1.
masyarakat yang hidup di sekitar secara ekonomi dihitung menurut masyarakat
dan
juga
DTW (Daerah Tujuan Wisata) pendapatan nelayan yang hilang pendapatan pemerintah.
pada khususny.
bila
reklamasi
dilaksanakan,
6.
potensi ekosistem/ biota laut yang
hilang karena kegiatan reklamasi
serta biaya penggantian rumah
dan lahan.

Ekonomi Pancasila

1. Terjadi ketimpangan daerah


dan memburuknya kesenjangan
pendapatan antara beberapa
kelompok
masyarakat.
Hilangnya kontrol masyarakat
lokal terhadap sumber daya
ekonomi.

2. Kelembagaan ekonomi yang 2. Terjadinya kesenjangan sosial 2. Untuk mengatasi masalah 2. Ancama PHK besar besaran
berkaitan
langsung
dengan antara penduduk asli dengan ideologi
ini,
harus ketika perekonomian lesu dan
ekonomi masyarakat pedesaan pendatang dan Struktur harga diimplemantasikan
kembali rentannya KKN pada program

17

adalah subak dan Lembaga


Perkreditan Desa (LPD), yang
mana
keduanya
merupakan
kelembagaan tradisonal di Bali.
aktivitasnya, subak dan LPD
dilandasi nilai-nilai budaya Bali.
Subak
merupakan
gambaran
perilaku ekonomi
komunitas
petani di Bali, yang berperan
mengelola
pengairan
bagi
pertanian sawah. LPD merupakan
lembaga keuangan komunitas
yang kegiatan
operasionalnya
berpijak pada awig-awig desa adat
atau desa pakraman.

sering kali lebih beorintasi kepada


mengoptimalkan pengunjung ke
objek (area) dan peningkatan
pengeluaran belanjanya tanpa
mempertimbangkan biaya untuk
menjaga dan memelihara kualitas
lingkungan yang baik

3. Manfaat pariwisata dari segi 3. Penurunan yang terjadi pada


ekonomi
adalah
pariwisata pendapatan
nelayan
karena
menghasilakan devisa yang besar dampak dari reklamasi.
bagi
Negara
sehingga
meningkatkan
perekonomian
negara dan tentu saja / seharusnya
dampaknya akan di rasakan oleh
masyarakat.

18

nilai-nilai luhur Pancasila, perencanaan reklamasi teluk


yang antara lain dengan benoa yang tentu akan menjadi
melaksanakan perintah agama ladang emas.
dengan baik, yaitu menjauhi
hal-hal yang dilarang Tuhan
dan melaksanakan perintahNya. NIilai-nillai buruk harus
ditinggalkan. Masyarakat yang
sebagian
besar
beragama
Hindu, tentu tahu bahwa ada
karma. Demikian pula di
agama lain, dikenal konsep
serupa. Perbuatan buruk atau
baik akan diterima akibatnya
oleh pelaku dikemudian hari.
.
3. Memberikan keuntungan
ekonomi kepada hotel dan
restaurant.
Contohnya,
wisatawan
yang
pergi
berwisata bersama keluarganya
memerlukan kamar yang besar
dan makanan yang lebih
banyak. Dampak ekonomi
tidak langsung dapat dirasakan
oleh pedagang-pedagang di
pasar
karena
permintaan
terhadap
barang/bahan
makanan akan bertambah.

3.
Investasi
rakus
selalu
memberi janji manis namun
sering tidak terwujud. Kasus
reklamasi Pulau Serangan yang
terbengkalai, termasuk banyak
kasus seperti di GWK, Pecatu
Graha, BNR, dll adalah contoh
nyata. Pada akhirnya masyarakat
kecil tetap menjadi korban dan
tidak
ada
yang
bertanggungjawab atas kerugian
yang ditimbulkan.

4. Penyerapan tenaga kerja dari


lokal maupun dari luar. Sehingga,
tidak ada kata dalam industri
pariwisata
bali
mengalami
kekurangan tenaga kerja, apalagi
didukung dengan berbagai jenis
lembaga
pendidikan
yang
berfokus di bidang pariwisata.

4.
Akibat
pariwisata
juga
menjadikan masyarakat berpikir
individualis dan kapitalis. Nilainilai ini tentu bertentangan
dengan
Pancasila.
Demi
keuntungan
pariwisata,
masyarakat meninggalkan adat,
merusak lingkungan, dan saling
bersaing secara tidak sehat.

4. Kawasan reklamasi strategis


sehingga
memungkinkan
banyak investor menanamkan
modal.

5.
Kebijakan kesejahteraan
berkaitan dengan perbaikan dari
segi
pendapatan
dari
perkembangan
pariwisata,
tentunya dapat mempengaruhi
kematangan dan perilaku pekerja
dan juga akan mempengaruhi
kebijakan dalam investasi asing
sehingga
mempengaruhi
ketersediaan modal investasi.

5. Booming pariwisata di Bali


menyebabkan masyarakat Bali
mengalihkan semua potensinya
untuk
mengembangkan
pariwisata, sehingga lebih dari 60
% perekonomian bergantung pada
pariwisata.
Hamparan
lahan
pertanian kini berubah menjadi
gedung, villa, dan hotel yang
dibangun
dengan
mengesampingkan fungsi lahan
itu
sendiri.

5. Kegiatan pemanfaatan di 5.
Pencari
kerja
lebih
wilayah
pesisir
akan mengutamakan pariwisata dan
mempengaruhi
aktivitas perhotelan.
ekonomi
masyarakat
dan
mengurangi
tingkat
pengangguran.

3.1 Hasil dan Implikasi


Gambar 1.1 Analisis Strength/ Kekuatan dari Rencana Reklamasi Teluk Benoa.

19

4. Lemahnya koordinasi dan


kerjasama antar stakeholder
yaitu pemerintah, swasta dan
masyarakat
terkait
dengan
pengelolaan wilayah pesisir.

Aspek
SP
Sosial Budaya
1. Kehidupan
sosial
budaya
masyarakat Bali dilandasi filsafah
Tri Hita Karana.
2. Perilaku
kehidupan
masyarakatnya dilandasi oleh
falsafah Karmaphala.
3. Salah satu kearifan lokal yang
lain adalah keberadaan Lembaga
Subak bersifat sosio-religius.
4. Wisata budaya meliputi 83 obyek
wisata, misalnya wisata seni di
Ubud, situs keramat Tanah Lot,
upacara Barong di Jimbaran dan
berbagai tempat seni lainnya.
5. Pengetahuan tradisional maupun
kearifan
lokal
dapat
meningkatkan
pemahaman
wisatawan mengenai kehidupan
sosial
budaya
masyarakat,
sehingga
wisatawan
betah
tinggal lama di kawasan
ekowisata..

Nilai
Bobot

Lingkungan
1. Kebudayaan Bali tercermin dari
aspek lingkungan pada Desa

20

Rasio

Skor

wisata
merupakan
kegiatan
wisata yang ditujukan kepada
wisatawan yang ingin menikmati
suasana pedesaan.
2. Teluk Benoa adalah kawasan
perairan strategis di bagian
selatan Bali dan menjadi muara
sejumlah sungai di Bali.
3. Salah satu pesona alam di pulau
bali adalah Hutan Mangrove atau
yang sering kita kenal dengan
nama hutan bakau.
4. Lingkungan alam merupakan aset
pariwisata di suatu daerah contoh
di bali memiliki berbagai
keanekaragaman alam seperti 47
obyek wisata, seperti panorama di
Kintamani, Pantai Kuta, Legian.
5. Menaikkan harga jual tanah di
kawasan dan sekitar reklamasi
dan juga pemanfaaatan ruang
untuk pengembangan pantai.
Daya Dukung
1. Ekowisata merupakan bentuk
wisata alternatif yang menaruh
perhatian
besar
terhadap
kelestarian sumber daya wisata
atau perjalanan wisata alam yang
bertanggung jawab dengan cara
mengkonservasi lingkungan dan
21

meningkatkan
kesejahteraan
lokal.
2. Sarana dan prasarana pendukungnya,
seperti hotel, restauran, cafe, kolam
renang, pusat souvenir, dan sarana olah
raga. Bali memiliki sarana dan
prasarana yang lengkap.
3. Dengan adanya perkembangan
teknologi.
Sehingga
dapat
dimanfaatkan
untuk
mengidentifasi kondisi tanah
pada teluk benoa.
4. Pemakaian standar daya dukung
fisik bagi destinasi wisata mampu
menghindarkan
pembangunan
kawasan yang terlalu cepat dan
tidak terkendali yang justru akan
merugikan.
5. Elemen daya dukung pada bauran
fasilits
yang dapat digunakan
termasuk Bisnis ke Bisnis (B2B)
pelayanan internet, Internet services,
Travel workshops, dan lainnya.
Ekonomi Pancasila

1. Peningkatan ekonomi masyarakat


yang hidup di sekitar DTW (Daerah
Tujuan Wisata) pada khususny.
2. Kelembagaan ekonomi yang
berkaitan langsung dengan ekonomi
masyarakat pedesaan adalah subak
22

dan Lembaga Perkreditan Desa


(LPD).
3. Manfaat pariwisata dari segi
ekonomi
adalah
pariwisata
menghasilakan devisa yang besar
bagi Negara.
4. Penyerapan tenaga kerja dari lokal
maupun dari luar.
5. Kebijakan kesejahteraan berkaitan
dengan
perbaikan
dari
segi
pendapatan
dari
perkembangan
pariwisata,
tentunya
dapat
mempengaruhi kematangan dan
perilaku pekerja dan juga akan
mempengaruhi kebijakan dalam
investasi asing .

Gambar 1.2 Analisis Weakness/ Kelemahan dari Rencana Reklamasi Teluk Benoa.
Weaknesses
(Kelemahan)
Sosial Budaya
1. Konsep THK mulai melemah
dalam fungsi dasarnya.
2. Relokasi pemukinan bagi
penduduk yang terkena dampak
fisik dari proses reklamasi.
3. Rencana reklamasi tidak

SP

Nilai
Bobot

23

Rasio

Skor

memenuhi ketentuan Perda RTRWP


BALI No. 16 Tahun 2009, juga
bertentangan dengan UndangUndang No. 27 Tahun 2007 dan
Perpres No. 45 Tahun 2011.
4. Tak jarang jika pembangunan
pariwisata mencakup daerah-daerah
yang
dianggap
sakral
oleh
masyarakat
sekitar
sehingga
mengganggu kelancaran dalam
prosesi
upacara
adat
dan
keagamaan.
5. RTRWP Bali belum sepenuhnya
dijadikan acuan dalam rencana
tahapan dan pembiayaan program
pembangunan.
Lingkungan
1. Reklamasi dengan membuat
pulau baru akan menimbulkan
kerentanan terhadap bencana.
2. Reklamasi akan menyebabkan
perubahan kondisi perairan, seperti
salinitas, temperaturserta masukan
nutrient yang terbatas dari luar
teluk, termasuk menyebabkan pola
perpindahan sedimen.
3. Reklamasi Teluk Benoa semakin
mengancam dan memperparah
abrasi pantai.
24

4. Pengambilan material untuk


reklamasi di Sawangan (Nusa DuaBadung), Candi Dasa (Karangasem)
dan Sekotong (Lombok) akan
menyebabkan
merosotnya
keanekaragaman hayati di lokasi
sumber material.
5. Perubahan morfologi dan
tipologi pantai, peningkatan jumlah
sampah dan penurunan sanitasi
lingkungan.
Daya Dukung
1. Dalam pengelolaan limbah dan
air bersih perlu dikaji kembali,
karena kondisi saat ini sudah cukup
menipiskan sumber air bersih.
2.
Keperluan
proyek
yang
terkadang tidak jelas dan berubahubah
menyebabkan
sulitnya
memperhitungkan estimasi biaya
dan anggaran secara nyata serta
pemanfaatan
ruang
di
Bali
merupakan
rangkaian
proses
penataan ruang yang bereputasi
buruk.
Nyaris
tidak
ada
keterpaduan antara perencanaan
tata ruang, pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang.
3. Kodisi tanah. Kondisi geologis
yang tidak stabil, mengingat
25

tanahnya berupa tanah pasir,


sehingga pondasinya perlu yang
kuat dan juga Promosi terhadap
produk
wisata
yang
tidak
berkelanjutan.
4. Ketimpangan fasilitas penunjang,
dalam hal ini akomodasi (hotel
bintang dan non-bintang) yang
terkonsentrasi di daerah Kabupaten
Badung dan Kota Denpasar, daerah
yang pendapatannya tinggi dan
pertumbuhan ekonominya tinggi.
5. Penipisan sumber energi yang
tentu akan disebebkan oleh proses
reklamasi dan setelah reklamasi
selesai.
Ekonomi Pancasila

1. Kerugian/biaya yang hilang


secara ekonomi dihitung menurut
pendapatan nelayan yang hilang
bila reklamasi dilaksanakan, potensi
ekosistem/ biota laut yang hilang.
2. Terjadinya kesenjangan sosial
antara penduduk asli dengan
pendatang dan Struktur harga sering
kali lebih beorintasi kepada
mengoptimalkan pengunjung ke
objek (area).
3. Penurunan yang terjadi pada
pendapatan nelayan karena dampak

26

dari reklamasi.
4.
Akibat
pariwisata
juga
menjadikan masyarakat berpikir
individualis dan kapitalis.
5. Booming pariwisata di Bali
menyebabkan masyarakat Bali
mengalihkan semua potensinya
untuk mengembangkan pariwisata.

Gambar 1.3 Analisis Opportunity/ Peluang dari Rencana Reklamasi Teluk Benoa.
Opportunity
(Peluang)
Sosial Budaya
1.
Potensi
yang
dapat
dikembangkan
lebih
modern,
seperti industri pengolahan hasil
pertanian, industri kecil (home
industry); dan kerajinan rakyat.
2. Dengan adanya revitalisasi pada
teluk benoa makan akan ada
dorongan dalam usaha melestarikan

SP

Nilai
Bobot

27

Rasio

Skor

dan
menghidupkan
kembali
beberapa pola budaya tradisional.
3. Peluang lain yang muncul dari
industri pariwisata ini antara
lain dapat terlihat pula dari
segi
budaya.
Dengan
pesatnya
perkembangan
industri pariwisata maka akan
membawa pemahaman dan
pengertian
antar
budaya
melalui interaksi pengunjung
wisata
(turis)
dengan
masyarakat lokal tempat
daerah wisata tersebut berada.
4. Sosialisasi mengenai rencana
pelaksanaan reklamasi dengan
warga.
5.
Adanya transmigrasi, yang
disebabkan oleh perkembangan dari
daerah pariwisata baru.
Lingkungan
1. Bertambahnya jadwal petugas
kebersihan sehingga menaikkan
jumlah upah.
2. Target
pasar
untuk
memperkenalkan
keindahan
dasar laut, kebudayaan, dan
infrastruktur lainnya sebagai
pendukung sektor pariwisata
secara lebih luas dapat lebih
28

cepat dalam segi promosi.


3.
Peluang untuk merancang
produk pariwisata sesuai dengan
kebutuhan
dan
keinginan
pengunjung dan juga kemampuan
utama yang dimiliki para pelaku
usaha serta tidak mengancam
lingkungan yang telah ada.
4. Memelihara hubungan secara
baik dengan lingkungan sekitar
serta kebijakan yang memenuhi
aspirasi lokal.
5. Lingkungan daerah reklamasi
akan memiliki peluang untuk
tumbuh dan berkembang sebagai
infrastruktur bertaraf internasional.
Daya Dukung
1. Perkembangan pariwisata akan
memberikan peluang, sehingga
banyak berbagai usaha dibuka
dengan basis pariwisata.
2. Mendorong pertumbuhan dan
perkembangan dunia pendidikan
khususnya
pada
bidang
kepariwisataan .
3. Optimasi pengembangan sistem
pembangkit listrik.
4. Kemudahan akses menuju
kawasan rencana reklamasi dan
juga dirancang untuk memenuhi
29

berbagai
ragam
kebutuhan
informasi dari berbagai audien yang
berbeda.
5. Adanya LSM atau CSR yang
dapat diajak bekerja sama dalam
upaya pemberdayaan masyarakat
pesisir yang akan direlokasi dan
Daya dukung dapat ditingkatkan
dengan
pengembangan
ecomanagement dengan prinsip 3 R
(reduce, reuse and recycle) dan
Ecoefisiensi.
Ekonomi Pancasila
1. 1. Meningkatkan pendapatan
masyarakat dan juga pendapatan
pemerintah.
6.
2. Untuk mengatasi masalah
ideologi
ini,
harus
diimplemantasikan kembali nilainilai luhur Pancasila.
3.
Memberikan
keuntungan
ekonomi
kepada
hotel
dan
restaurant.
4. Kawasan reklamasi strategis
sehingga memungkinkan banyak
investor menanamkan modal.
5. Kegiatan pemanfaatan di wilayah
pesisir
akan
mempengaruhi
30

aktivitas ekonomi masyarakat dan


mengurangi tingkat pengangguran.

Gambar 1.4 Analisis Threats/ Ancaman dari Rencana Reklamasi Teluk Benoa.
Opportunity
(Peluang)
Sosial Budaya
1. Dampak negatif yang sering
dikawatirkan
terdapat
budaya
masyarakat lokal antara lain; proses
komodifikasi,
peniruan,
dan
profanisasi dan juga dampak negatif
sosial
budaya
pengembangan
pariwisata dilihat dari respon
masyarakat
lokal
terhadap

SP

Nilai
Bobot

31

Rasio

Skor

keberadaan pariwisata.
2. Di samping pariwisata dapat
mengembangkan dan melestarikan
kebudayaan, sering juga terjadi
sebaliknya yaitu tereksploitasinya
kebudayaan secara berlebihan demi
kepentingan pariwisata. fungsi
utamanya
demi
kepentingan
pariwisata.
3.
Perubahan
terhadap
perkembangan pariwisata akan
memiliki suatu konsekuensi dan
juga
terjadinya
homogenisasi
budaya.
4. Pariwisata Bali bergantung
kepada alam yang membentuk
budaya dan spritualitasnya.
5. Dampak sosial lainnya adalah
terjadinya penolakan dari warga.
Lingkungan
1. Kegiatan pariwisata yang tidak
seimbang terhadap lingkungan,
akan mengakibatkan terjadinya
deforestation.
2. Kerusakan Hutan Akibat
Pembangunan Fasilitas Pariwisata..
3. Produksi energi listrik telah
berkontribusi
dalam
memacu
pertumbuhan ekonomi.
4. Perkembangan pesat pariwisata
32

menyebabkan
permasalahan
lingkungan
di
Bali
seperti pencemaran atas air, tanah,
dan udara semakin menjadi-jadi.
5. Perubahan alih fungsi lahan
produktif yang kini sebagian besar
digunakan untuk pembangunan,
tidak hanya berdampak pada
kelestarian lingkungan, tetapi juga
berdampak pada keberadaan flora
dan fauna.
Daya Dukung
1. Pembuangan limbah cair
(detergen pencucian linen hotel)
dan limbah padat(sisa makanan
tamu).
2. Perjalanan menggunakan alat
transportasi udara sangat nyaman
dan cepat. Namun, angkutan udara
berpotensi merusak atmosfir bumi.
Hasil buangan emisinya dilepas di
udara yang menyebabkan atmosfir
tercemar dan gemuruh mesin
pesawat menyebabkan polusi suara.
3. Sektor pariwisata maupun
industri perhotelan membutuhkan
energi listrik yang cukup besar
untuk menjamin kelangsungan
operasionalnya.
4. Penggunaan fasilitas seperti AC
33

maupun adanya rumah kaca pada


setiap hotel yang difungsikan pada
masing-masing kamar dan sarana
lainnya, tentu akan mengakibatkan
dampak buruk secara meyeluruh.
5. Pengambilan material urugan
yang sulit dalam proses reklamasi.
Ekonomi Pancasila

1. 1. Terjadi ketimpangan daerah dan


memburuknya
kesenjangan
pendapatan
antara
beberapa
kelompok masyarakat.
2. Ancama PHK besar besaran
ketika perekonomian lesu dan
rentannya KKN pada program
perencanaan reklamasi .
3. Investasi rakus selalu memberi
janji manis namun sering tidak
terwujud.
4. Lemahnya koordinasi dan
kerjasama antar stakeholder yaitu
pemerintah, swasta dan masyarakat
terkait dengan pengelolaan wilayah
pesisir.
5.
Pencari
kerja
lebih
mengutamakan pariwisata dan
perhotelan.

34

3.2 Simpulan
Kegiatan reklamasi menimbulkan banyak dampak positif maupun negatife terhadap kelestarian lingkungan, pertumbuhan ekonomi
dan budaya Bali.Banyak masyarakat yang pro ataupun kontra terhadap kegiatan reklamasi ini. Tetapi jika reklamasi dilaksanakan
mengikuti prinsip prinsip reklamasi dan dengan komunikasi dan koordinasi yang sinergi dari segenap lembaga masyarakat, tujuan
dari reklamasi yang untuk memajukan suatu wilayah dan tidak mengesampingkan kelestarian lingkungan bisa tercapai, sehingga
manfaat reklamasi akan dirasakan bagi masyarakat Bali, baik itu di sektor sosial budaya, lingkungan, daya dukung dan ekonomi
pancasila. Sehingga kesimpulannya perencanaan bisnis reklamasi Teluk Benoa tidak layak baik dari aspek sosial budaya, lingkungan,
daya dukung dan ekonomi pancasila
3.3 Rekomendasi
Reklamasi Teluk Benoa sebagai salah satu solusi pengelolaan kawasan pesisir di Teluk Benoa sebaiknya tidak dilaksanakan
sekarang. Reklamasi Teluk Benoa dapat dilaksanakan bila memenuhi dua kriteria sebagai berikut:
a) Reklamasi dapat dilaksanakan jika manfaat sosial dan ekonomi yang diperoleh lebih besar dari biaya sosial dan biaya ekonominya,
sesuai Undang-undang No. 27 tahun 2007 pasal 34. Perhitungan ekonomi yang dilakukan pada penelitian ini masih menunjukkan
kerugian/ biaya yang hilang lebih besar nilainya daripada manfaat ekonomi yang diperoleh (manfaat dan kerugian dihitung berbasis
masyarakat).

b) Rencana kegiatan reklamasi mendapatkan penerimaan dari masyarakat.


Pengelolaan kawasan Teluk Benoa dapat dilakukan dengan mengoptimalkan potensi sumberdaya yang ada pada kawasan
tersebut melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara antara lain.

35

Memberikan pelatihan pengolahan sumberdaya laut, terutama ikan kepada penduduk secara intensif. Sehingga dengan semakin
terkelolanya hasil-hasil laut akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan juga bagi masyarakat itu
sendiri.
Memberikan pelatihan keterampilan bagi nelayan/ masyarakat pesisir, sehingga muncul kreativitas untuk berkembang dengan
mencari peluang usaha baru, tidak hanya tergantung pada hasil melaut saja.

4. Proses Hasil dan Pembahasan Reklamasi Teluk Benoa.


4.1 Memenuhi aspek legal, sosial budaya, lingkungan, daya dukung dan ekonomi pancasila.
Aspek Legal.

36

Penilaian aspek ini penting dilakukan sebelum proyek terlanjur diberhentkan oleh pihak-pihak yang berwajib karena
dianggapberoperasi secara legal atau menghadapi protes masyarakat yang menganggap bahwa proyek/bisnis yang dibangun
melanggar norma kemasyarakatan. Dalam aspek yuridis yang perlu dilihat dari sisi :
a) Who (Siapa pelaksana proyek)
Pelaksana reklamasi pada perencanaan bisnis ini adalah Pemerintah langsung ayng digagas oleh Gubernur Bali yaitu Mangku
Pastika, disiis lain yang terlibat adalah perusahaan kontraktor yang berperan melakukan proses reklamasi di teluk benoa, tim
akademis yang akan mengkaji dari berbagai aspek seperti, sosial budaya, lingkungan, daya dukung dan ekonomi pancasila, dan
juga beberpa individu yang memiliki keterkaitan dengan tata ruang maupun yang ahli dalam pariwisata yang dijadikan sebagai
decision makers.
Berkaiatan dengan bentuk Yuridis perusahaan, khususnya pihak kontraktor merupakan perusahaan yang berbentuk Perseroan
terbatas (PT), dimana PT sendiri merupakan bentuk perusahaan yang modalnya terbagi atas saham-saham. Makin banyak
saham yang dimiliki makin besar andilnya dan kedudukannya dalam perusahaan tersebut.
Berkaitan dengan identitas pelaksana, dalam identitas pelaksanaan rata-rata untuk kontraktor dan tim yang bekerja dalam
proses reklamasi maupun tim ahli secara keseluruhan memiliki kewarganegaraan Indonesia.
b) What (Proyek apa yang dibuat)
Bidang usaha yang dibangun pada reklamasi teluk benoa terfokus pada sektor pariwisata, serta pembangunan sarana dan
prasarana yang menunjang sektor pariwisata. Dampak lingkungan sendiri yaitu Dari aspek Hidrodinamika, pengurukan laut
(reklamasi) akan mengakibatkan dampak negatif seperti erosi pantai, pendangkalan alur pelayaran Pelabuhan Benoa dan
pendangkalan muara sungai, pembendungan dan luapan air sungai serta gangguan terhadap ekosistem perairan dan aktivitas
Pelabuhan Benoa.

37

c) Where (dimana proyek dibuat)


Wilayah proyek ini akan dilaksanakan di daerah Bali Selatan tepatnya di teluk benoa sebagai daerah reklamasi utama yang akan
dibangun sektor pariwisata bertaraf internasional. Mengenai status tanah di wilayah teluk Benoa kontur tanahnya berupa tanah
pasir, sehingga pondasinya perlu yang kuat.
d) When (kapan proyek akan dilaksanakan)
Mengenai tanggal bulan dan tahun proyek ini dilaksanakan, masih menunggu keputusan dan persetujuan dari berbagai pihak,
dimana saat ini keputusan mengenai reklamasi telah disetujui dan dikaji oleh pemerintah bali sendiri.
e) How (Bagaimana proyek dilaksanakan)
Terdapat langkah-langkah dalam penyususnan proyek antara lain. (1) merancang pelaksanaan proyek, membaginya dalam
berbagai kegiatan-kegiatan yang telah diidentifikasi dan hubungan antar kegiatan harus jelas dan (2) menentukkan jadwal
kegiatan dalam proyek

Aspek Sosial Budaya


Berdasarkan paradigma yang berkembang di masyarakat Bali, adanya rencana revitalisasi Teluk Benoa telah mendapat
penolakan tidak hanya dari kalangan masyarakat sekitar Teluk Benoa, tetapi secara makro dari seluruh kalangan masyarakat Bali.

38

Ini bisa dimengerti, karena permasalahan masyarakat Bali dewasa ini bersifat multikompleks yang memerlukan kehati-hatian dalam
pengambilan kebijakan dalam merumuskan perencanaan pembangunan Bali di masa depan.
Untuk itu, betapa pentingnya melihat kekhawatiran masyarakat Bali terhadap berbagai kebijakan pembangunan yang
ditengarai akan mengancam kehidupan mereka dalam hal ini terutama bidang sosial budaya dalam kaitannya dengan manfaat yang
akan diperoleh dan adanya pengorbanan sosial budaya yang akan ditimbulkannya. Proses globalisasi yang berlangsung cepat
ternyata tidak bisa memberi harapan maksimal akan harapan masyarakat Bali menuju kesejahteraan dan keadilan. Bahkan, dampak
globalisasi itu ditengarai akan mengancam eksistensi tradisi budaya yang mereka miliki yang sudah mengakar sepanjang sejarah
mereka.
Tidak mengherankan, apabila mereka mengapresiasi kembali berbagai kebijakan yang mengedepankan kearifan lokal dan
budaya masyarakat Bali yang berbasis agama Hindu, yang saat ini Bali dianggap sebagai satu-satu mozaik Hindu di Asia Tenggara
yang mampu mempertahankan rasa kedamaian, kehidupan masyarakat multikultur yang toleransi, sehingga Bali memiliki daya tarik
tersendiri yang mengakibatkan berbagai kegiatan internasional seperti konferensi, meeting, convention berskala intenasional
dilakukan di Bali. Inilah kontribusi yang diberikan Bali pada kepentingan nasional dan internasional.
Namun demikian, hasil tilik review yang dilakukan itu kurang dapat memahami akan aspek-aspek ini sehingga hasil yang
disampaikan itu akan mendapat respons tersendiri dari masyarakat Bali baik yang menghuni wilayah Tanjung Benoa, maupun
masyarakat Bali pada umumnya. Ini bisa dimengerti karena pada dasarnya memang masyarakat menuntut kemajuan, kesejahteraan
yang lebih baik (quality of life), namun akan lebih baik jika mereka tidak hanya meraih kepuasan itu, tetapi juga bagaimana mereka
merasa lebih dihargai apabila (quality of space) kualitas alam lingkungan mereka juga diapresiasi, berdasarkan nilai-nilai ideal,
yang semestinya bisa diwujudkan sebagaimana yang disebut dengan Tri Hita Karana itu.nila

39

Hal ini terlihat dalam aspek sosial budaya, dimana disebutkan bahwa 40% dari 700 ha luas lahan adalah luas terbuka hijau,
namun bagaimana halnya dengan yang 60% dari 700 ha itu yang akan diperuntukkan untuk pemanfaatan usaha. Apabila ini
dilakukan maka berbagai dampak yang terjadi sebagai akibat pengembangan kawasan atau revitalisasi Teluk Benoa itu akan
berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat sekitar Teluk Benoa pada khususnya dan
masyarakat Bali pada umumnya. Diantaranya adalah tatanan nilai budaya lokal dan budaya unggulan yang diharapkan
dikedepankan akan terancam dengan berbagai dampak perkembangan di kawasan yang akan direvitalisasi itu. Padahal diketahui
bahwa dewasa ini masyarakat dan pemerintah daerah sedang giat-giatnya menggali kearifan-kearifan lokal yang ada (empowering)
di masyarakat dan bukan mencari kearifan lokal dari pengaruh lokal. Dengan kata lain, kearifan lokal masyarakat diupayakan untuk
digali untuk dapat berdaya saing dengan pengaruh luar atau global sehingga penguatan budaya masyarakat lokal diharapkan dapat
diwujudkan demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Bali pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Aspek Lingkungan
Aspek Lingkungan Hidup yang ditinjau meliputi:

Kualitas Udara dan Kebisingan: dengan kesimpulan Berdampak Tidak Penting, dengan alasan kualitas udara saat ini masih
berada jauh di bawah baku mutu lingkungan.

Kualitas Air Laut: dengan kesimpulan sementara Berdampak Penting (Kekeruhan) dalam uraian, namun disimpulkan
Berdampak Tidak Penting terhadap peningkatan nilai parameter-parameter yang telah melewati baku mutu, maupun yang
masih berada di bawah baku mutu.

40

Kualitas Ekosistem Pesisir: dengan kesimpulan a) Berdampak Tidak Penting terhadap ekosistem mangrove; b) Berdampak
Tidak Penting terhadap komunitas padang lamun; c) Berdampak Tidak Penting terhadap komunitas flora darat (bahkan
Berdampak Positif); d) Berdampak Tidak Penting terhadap komunitas ikan; e) Berdampak Tidak Penting terhadap
komunitas makrozoobenthos; dan f) Berdampak Penting terhadap komunitas plankton.

Tanggapan terhadap Aspek Lingkungan


Kualitas air laut di Kelurahan Tanjung benoa mengindikasikan adanya 3 (tiga) parameter yang kadarnya tidak sesuai dengan
baku mutu lingkungan, yakni kadar oksigen terlarut (DO), nitrat (NO 3) dan chrom hexavalent (Cr6+), sedangkan di Pelabuhan
Benoa selain ketiga parameter tersebut juga terdapat 2 (dua) parameter yakni BOD5 dan cadmium yang tidak sesuai dengan
baku mutu lingkungan yang ditetapkan. Hal ini menandakan bahwa perairan tersebut telah terlampaui daya tampungnya
sehingga tidak memungkinkan lagi adanya tambahan kegiatan baru. Oleh karenanya rencana kegiatan revitalisasi Teluk
Benoa akan memperburuk kondisi perairan yang sudah buruk ini.
Mangrove yang ada di Teluk Benoa tidak sedang terancam oleh pengaruh sedimentasi. Sedimen lumpur yang bertambah,
justru akan menambah habitat hidup bagi mangrove alami yang ada saat ini untuk terus berkembang sedangkan kegiatan
revitalisasi Teluk Benoa malah akan mengurangi peluang pengembangan habitat berlumpurnya tersebut sehingga ekosistem
mangrove menjadi terancam berikut dengan fauna-fauna yang berasosiasi padanya.

41

Aspek Daya Dukung


Berkaitan dengan keutuhan atau kelestarian kawasan. Aspek - aspek penilaian kriteria daya dukung kawasan meliputi jumlah
pengunjung, kepekaan tanah terhadap erosi, kemiringan lahan, jenis kegiatan, luas unit zona atau blok pemanfaatan . Untuk Teluk
Benoa sendiri memiliki daya dukung pada lokasi yang cukup strategis dan juga didukung dengan berbagai jenis material dalam
proses reklamasi teluk benoa, namun faktor pendukung lainnya yaitu sumber energi, perkembangan teknologi, pengelolaan limbah,
dan faktor lainnya.
Berkaitan dengan material, di Bali sendiri kita dapat menemukan berbagai jenis material hayati yang dapat dimanfaatkan,
namun dalam proses reklamasi sendiri tentu akan membutuhkan material berkali-kali lipat sebagai penunjang proses reklamasi,
sehingga akan terjadi ekspoitasi besar-besaran terhadap material hayati yang ada, sehingga material yang dibentuk oleh bumi
sendiri angka rusak bahkan menjadi langkan setelah proses reklamasi. Sumber energi, semakin berkembangnya suatu daerah
tentukan akan lebih senstif dan peka terhadap sumber energi seperti listik, dimana bila reklamasi ini berjalan maupun telah rampung
akan membutuhkan sumber energi lebih tinggi lagi, apalagi setelah rampung pemusatan energi akan terbagi ke daerah teluk benoa
untuk mengaliri listik ke berbagai sektor pariwisata, disamping itu kemajuan Teluk benoa tentu akan mendatangkan penduduk dari
luar kota Bali, dimana peningkatan penduduk ini tentu akan meningkatkan sumber energi sehingga saling berkaitan. Berkaitan
dengan pengelolaan limbah, untuk dewasa ini Bali belum memiliki suatu konsep dalam memutar hasil limbah, dimana semakin
tinggi pertumbuhan pariwisata tentu akan melahirkan berbagai jenis perhotelan, kerajinan, akomodasi seperti restauran maupunspa,
dimana masing-masing sektor tersebut akan menyumbangkan limbah yang cukup tinggi, dan untuk saat ini sistem pengelolaan
limbah masih belum bekerja secara efektif, dan dampaknya dapat terlihat sekali pada musim hujan.

42

Aspek Ekonomi Pancasila


Hampir semua pakar ekonomi Indonesia memiliki kesadaran akan pentingnya moralitas kemanusiaan dan ketuhanan sebagai
landasan pembangunan ekonomi. Namun dalam praktiknya, mereka tidak mampu meyakinkan pemerintah akan konsep-konsep
dan teori-teori yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Pilar Sistem Ekonomi Pancasila meliputi: (1) ekonomika etik dan ekonomika
humanistik (dasar), (2) nasional ekonomi dan demokrasi (cara/metode operasionalisasi), dan (3) ekonomi berkeadilan sosial
(tujuan). Kontekstualisasi dan implementasi Pancasila dalam bidang ekonomi cukup dikaitkan dengan pilar-pilar di atas.
Terkait dengan analisis ekonomi pancasila, ada beberapa poin yang diabaikan, poin yang sangat penting dan menentukan,
yang luput dari penilaian.
Analisa yang dilakukan seluruhnya berdasarkan kajian finansial dan mengabaikan kajian ekonomi. Harga-harga yang
digunakan adalah harga finansial, bukan harga ekonomi, meskipun dalam kajian disampaikan nilai ekonomi. Kajian
ekonomi yang perlu dipertimbangkan menurut Economics and Development Resource Center 5. Meskipun mungkin tidak
harus semua poin harus diperhitungkan. Misalnya: How does the project relate to the overall development context strategy?
What particular development problem does it address? What is the policy environment for the project: taxes & subsidies,
trade controls, exchange rate & interest rate policy? How does the project relate to sectoral strategy? What is the sectoral
policy context in terms of market structure and regulation? Is the project a priority public investment?, dsb.
Kajian lebih bersifat snapshot, jangka pendek tanpa melihat prediksi yang kira-kira terjadi di masa depan. Pembangunan
bersifat jangka panjang, hasilnya baru nampak dalam beberapa periode. Karena hanya didasarkan pada jangka pendek maka
kajian tidak melakukan perhitungan pada aspek ketenagakejaan, suatu bagian yang sangat penting dalam pembangunan.
Kesempatan kerja yang sepatutnya dapat diciptakan bukanlah hanya sebatas saat proyek dilaksanakan tetapi juga dimasa

43

mendatang. Kajian ini, menyangkut darimana tenaga kerja akan diperoleh? Jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan
tenagakerja yang bagaimana dibutuhkan?
Kajian juga tidak menyampaikan biaya ekonomi material tanah urukan untuk reklamasi. Ada asumsi implisit bahwa tanah
telah tersedia tanpa menimbulkan persoalan lingkungan, ekonomi dan sosial budaya. Yang sepatutnya masuk dalam
perhitungan adalah harga ekonominya, bukan hanya harga financial. Kawasan ini merupakan kawasan yang sudah padat,
sehingga pembangunan tanpa disertai dengan pembangunan infrastruktur yang massif dan modern hanya akan menimbulkan
kongesti yang biaya ekonominya sangat tinggi. Biaya ekonomi kongesti ini tidak diperhitungkan dalam analisa ekonomi ini.
Dengan demikian, berdasarkan poin-poin diatas, review ekonomi-finansial belum dapat digunakan sebagai dasar untuk
menyatakan bahwa proyek revitalisasi Teluk Benoa layak.

44

4.2 Apa yang harus dilakukan?


Bali yang secara geografis sangat sempit, terus mengalami pengurangan lahan pertanian karena alih fungsi akibat kemajuan
pembangunan. Untuk itu, kita harus memikirkan berbagai upaya terobosan dalam menjaga perkembangan pembangunan pariwisata
kita sejalan dengan kelestarian pertanian sebagai nafas kebudayaan Bali. Konsep pariwisata budaya yang merupakan ikon
pariwisata Bali, tidak bisa kita kembangkan hanya dengan mengandalkan apa yang ada dan apa yang kita miliki saat ini. Diperlukan
berbagai program terobosan dalam pembangunan pariwisata, yang tetap mendukung kelestarian alam dan budaya Bali, sesuai
slogan Pariwisata untuk Bali.Di sisi lain, beberapa pantai di Pulau Bali merupakan daerah yang rawan bencana, khususnya
bencana tsunami. Menjadi kewajiban kita untuk melakukan langkah-langkah antisipasi dan mitigasi bencana tersebut. Sejalan
dengan kemajuan pembangunan di wilayah Bali selatan, eksploitasi yang berlebihan terhadap alam dan lingkungannya, harus
diimbangi dengan upaya pelestarian lingkungannya.
Dipilihnya rencana reklamasi di kawasan Teluk Benua, mengingat kondisi di wilayah perairan tersebut yang salah satunya
adalah keberadaan Pulau Pudut, sudah sangat terancam akibat perubahan iklim global. Namun, disisi lain banyak sekali berbagai
komunitas dari masyarakat maupun akademis yang menentang program reklamasi Teluk Benoa, karna dikhawatirkan akan
mengganggu ekosistem yang ada dan dampaknya tentu akan berhimbas pada wilayah lain.
Jadi, apa yang harus di lakukan oleh perencana bisnis pengembangan pariwisata. Tentu saja mereka harus menunggu
dukungan langsung dari berbagai lapisan masyarakat, meskipun pada faktanya tim perencana pengembangan telah mengantongi
persetujuan dari Gubernur Bali. Para perencana bisnis maupun pihak pemerintahan khusus Gubernur Bali, harus benar-benar
mengkaji secara mendalam mengenai dampaknya, tentu saja ketika proses reklamasi berjalan dan ending dari proyek ini gagal,
maka apa yang telah natural berada di teluk benoa, tidak akan dapat diperbaiki seperti semua. Contohnya dapat dilihat di pulau
serangan, merupakan salah satu proyek reklamasi yang gagal dan dampaknya bukannya menjadi pulau yang indah dengan

45

menawarkan berbagai jenis fasilitas, akomodasi dan sarana prasana lainnya, namun dampaknya habitat penyu terancam. Dampak
eksosistem inilah yang sulit untuk dikembalikan seperti awalnya dan pemerintah harus memperhatikan hal tersebut dan tetap
menjadikan Tri Hita Karana sebagai filosofi dasar pemikiran dalam reklamasi.
4.3 Mengapa itu harus dilakukan?
Mengapa reklamasi ini harus dijalankan Tujuannya untuk pemanfaatan kawasan Teluk Benoa antara lain untuk mengurangi
dampak bencana alam dan dampak iklim global, serta menangani kerusakan pantai pesisir. Kebijakan rencana pengembangan Teluk
Benoa adalah untuk meningkatkan daya saing dalam bidang destinasi wisata dengan menciptakan ikon pariwisata baru dengan
menerapkan konsep green development, sebagai upaya mitigasi bencana, khususnya bahaya tsunami. Reklamasi ini akan menambah
luas lahan dan luas hutan bagi Pulau Bali, yang tentu sangat prospektif bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Bali, apabila
dikelola dengan tepat, arif dan bijak.
Namun, disisi lain banyak gesekan yang terjadi baik dari aspek sosial budaya, lingkungan, daya dukung dan ekonomi
pancasila yang akan memunculkan berbagai dampak apabila rencana tersebut dapat diwujudkan, antara lain masalah lingkungan,
ketidak-nyamanan selama proses pembangunan, kemacetan, dan beberapa masalah lainnya, yang tentu dalam kajian final-nya nanti
akan kita lihat, seberapa besar kerugiannya.

46

4.4 Bagaimana itu harus dikerjakan?


Pada masa pembangunan proyek, menyusun rencana penyelesaian proyek tepat pada waktunya, mengkoordinasikan
berbagai kegiatan dan sumber daya diarahkan agar sarana fisik proyek tersebut dapat disiapkan tepat waktu. Masa pembangunan
proyek bukan hanya pembangunan sarana fisik saja tetapi berbagai sarana lain sampai proyek melakukan produksi percobaan
Perencanaan Pelaksanaan Proyek
Tahap perencanaan proyek merupakan tahap yang sangat penting dan menentukan. Langkah-langkah dalam penyusunan
perencanaan proyek adalah :
a) Merancang pelaksanaan proyek, membaginya dalam berbagai kegiatan-kegiatan diidentifikasi dan hubungan antar kegiatan
harus jelas.
b) Menentukan skedul/jadwal kegiatan dalam proyek. Berkaitan dengan waktu, biasanya dipergunakan bantuan teknik/cara
seperti bagan GANTT atau diperluas dengan menggunakan analisa jaringan (Network Analysis) seperti PERT.
Bagan GANTT.
Pada keputusan pembangunan proyek ini masih dalam titik jadian dimana, kajian teakhir yang telah dilaksanakan oleh LPPM
Unud mengatakan bahwa pembangunan proyek reklamasi dapat dikatakan tidak layak. Hal ini ditinjau dari berberbagai aspek dan
juga mengikut sertakan mahasiswa yang diwakili oleh anggota senat untuk saling mengkaji, dimana hasil LPPM dan perwakilan
senat dari pihak akademisi menyatakan program ini harus ditolak karna mengencam berbagai unsur budaya yang terkandung pada
kelestarian adat istiadat di Bali pada khususnya.

47

4.5 Siapa yang harus mengerjakan.


Proyek ini akan dirancang, diproses dan akan dilaksanan oleh perencana bisnis pengembangan pariwisata salah satunya saat
ini yaitu PT. Tirta Wahana Bali.
PT Tirta Wahana Bali Internasional (PT TWBI) merupakan perusahaan pengembang dan pengelola kawasan pariwisata yang
berdomisili di Bali. Sejak berdiri pada tahun 2012, kami memfokuskan diri sebagai pelopor untuk pengembangan dan pengelola
kawasan pariwisata pertama yang berlandaskan filosofi budaya Bali "Tri Hita Karana" yaitu menjunjung tinggi keharmonisan
hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan. Sebagai bagian dari Artha Graha Network (AG Network), PT TWBI
memiliki koneksi dengan perusahaan-perusahaan lainnya di bawah AG Network. Salah satunya adalah perusahaan properti dan
perhotelan terbesar di Indonesia yaitu PT Jakarta International Hotels and Development Tbk (JIHD). PT JIHD didirikan sejak
November 1969 dan terdaftar di Bursa Efek Jakarta sebagai salah satu dari 24 perusahaan pertama yang terdaftar di Indonesia. PT
JIHD secara konsisten bergerak di dunia industri dan perhotelan. Seiring dengan waktu PT JIHD telah melebarkan sayap melalui
beberapa anak perusahaannya yaitu PT Danayasa Arthatama Tbk (DA) dan PT Dharma Harapan Raya (DHR).
PT DA dikenal melalui keberhasilannya di dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan Sudirman Central Business
District (SCBD) di Jakarta. SCBD merupakan kawasan bisnis terbaik kelas dunia, dengan total wilayah pengembangan seluas 45
ha, dan terdiri dari 25 lot yang secara keseluruhan memiliki total aset IDR 3.803 miliar pada tahun 2009. Melalui SCBD, AG
Network telah membuktikan kapasitasnya dalam mengelola, mengembangkan dan menghidupkan kembali suatu kawasan sehingga
memiliki nilai guna lebih bagi pemerintah dan masyarakat. Hal ini sesuai dengan filosofi AG Network yaitu "Dimiliki Swasta,
Dimanfaatkan Masyarakat". Di dalam industri perhotelan, PT TWBI juga bekerjasama dengan PT DHR yang merupakan
manajemen dari beberapa hotel berbintang antara lain; Hotel Borobudur, Discovery Hotel & Convention Ancol di Jakarta, dan
Palace Hotel di Cipanas. Untuk wilayah Bali, PT DHR merupakan pihak manajemen dari Discovery Kartika Plaza Hotel yang

48

berdiri di atas lahan reklamasi sejak tahun 1988 dan Home@36 yang lokasinya berada di Discovery Shopping Mall (DSM), mall
pertama yang dibangun pada tahun 2003 di saat kondisi pariwisata sedang mengalami mati suri pasca ledakan bom.
Berawal dari kecintaan terhadap Bali serta upaya untuk berinovasi dalam meningkatkan kualitas dan memberikan pelayanan
terbaik di dalam pengembangan dunia pariwisata, PT TWBI berinisiatif untuk menjadi pelopor pengembang kawasan yang ramah
lingkungan serta konsisten memperhatikan kearifan lokal. Melalui Revitalisasi Teluk Benoa (RTB), PT TWBI bergerak maju untuk
mewujudkan visi perusahaan menjadi perusahaan pengembang dan pengelola kawasan terbaik di Bali.

4.6
Kapan itu harus dilakukan.
Reklamasi Teluk Benoa sebagai salah satu solusi pengelolaan kawasan pesisir di Teluk Benoa sebaiknya tidak dilaksanakan
sekarang. Reklamasi Teluk Benoa dapat dilaksanakan bila memenuhi dua kriteria sebagai berikut:
a) Reklamasi dapat dilaksanakan jika manfaat sosial dan ekonomi yang diperoleh lebih besar dari biaya sosial dan biaya ekonominya,
sesuai Undang-undang No. 27 tahun 2007 pasal 34. Perhitungan ekonomi yang dilakukan pada penelitian ini masih menunjukkan
49

kerugian/ biaya yang hilang lebih besar nilainya daripada manfaat ekonomi yang diperoleh (manfaat dan kerugian dihitung berbasis
masyarakat).
b) Rencana kegiatan reklamasi mendapatkan penerimaan dari masyarakat.
Setelah kedua point itu dapat disetujui makan proses reklamasi pun dapat dilaksanakan oleh pihak pengelola kontraktor, dimana
dalam prosesnya dapat diawasi oleh pemerintah dan masyarakat. Tidak hanya mengawasi setidaknya pada kedua point itu masyarakat
pun mendukung program reklamasi Teluk benoa.
L
4.7 Dimana harus dilakukan?
Pada 26 Desember 2012 Gubernur Bali memberikan izin reklamasi kepada PT. Tirta Wahana Bali Internasional (PT TWBI) di
kawasan perairan Teluk Benoa Kabupaten Badungseluas 838 hektarmelalui SK Nomor 2138/02-C/HK/2012 tentang Rencana
Pemanfaatan dan Pengembangan Kawasan Perairan Teluk Benoa.
4.8 Apa dampak negatif dan positifnya.
Pendahuluan Rencana proyek reklamasi di Teluk Benoa, Kabupaten Badung, Bali menjadi isu hangat belakangan ini. Pro dan
kontra yang timbul menjadi polemik karena berbagai pertimbangan jika proyek itu dibangun. Berbagai kajian - kajian dilakukan
mengenai layak atau tidaknya dilakukan reklamasi serta dampaknya kedepan. Tapi sebelum kami mengemukakan pendapat mengenai
reklamasi di Teluk Benoa, ada baiknya saya menjelaskan apa yang dimaksud dengan reklamasi, tujuan dari reklamasi dan latar
belakang kenapa kawasan Teluk Benoa diusulkan untuk direklamasi. Reklamasi secara awam diartikan sebagai menciptakan daratan
baru di lahan yang sebelumnnya terdiri dari air.
Kita menyadari sekarang ini banyak masyarakat cenderung mengartikan kata reklamasi dengan negatif, menurut saya paradigma di

50

masyarakat ini dikarenakan reklamasi di pulau serangan yang tidak berjalan dengan baik dan benar, padahal jika dilaksanakan dengan
benar sesuai dengan prinsip prinsip reklamasi, reklamasi ini bisa menyelamatkan daratan dan membantu pertumbuhan ekonomi di
pulau Bali. Adapun salah satu dampak positif dari reklamasi adalah untuk menyelamatkan pulau Bali khususnya Teluk Benoa dari
dampak abrasi pantai yang kian hari semakin memprihatinkan, Pulau Baru yang akan dibangun dari reklamasi bias menambah luas
pulau Bali, kawasan ini juga akan menjadi milik Bali, milik masyarakat Bali. Reklamasi juga dapat menjaga keberadaan pura pura
yang ada di Bali, banyak pura pura suci di bali yang berada di tepi laut, jika tidak dilakukan reklamasi untuk mengamankan daratan
Bali, maka pura pura yang berada di tepi laut ini akan hilang, contohnya Pura Tanah Lot yang berada tepat di tepi laut, jika tidak
direklamasi, mungkin keberadaan pura ini akan hilang. Tidak hanya itu, ditinjau dari sosial ekonomi khususnya di Bali yang
merupakan icon pariwisata. Dibangunnya kawasan terpadu, seperti fasilitas umum dan akomodasi pariwisata pada wilayah reklamasi
bisa menumbuhkan perekonomian Bali, dan juga akan memberikan peluang lapangan kerja bagi masyarakat bali yang sangat
bergantung pada sektor pariwisata. Adapun dampak positif dan negatifnya antara lain.
Dampak Positif
1) Secara geografis, luas pulau Bali akan bertambah. Pulau baru yang dibangun investor di kawasan ini akan menjadi milik Bali,
milik masyarakat Bali. Demikian pula luas hutan kita, khususnya hutan mangrove, akan bertambah. Keberadaan hutan bakau yang
sangat luas di kawasan tersebut, akan sangat melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi akibat iklim global, termasuk
melindungi Bali dari bencana tsunami.
2) Dalam hal lapangan kerja, dibangunnya akomodasi pariwisata dan fasilitas umum akan memberikan peluang lapangan kerja bagi
masyarakat Bali dalam 5 sampai 10 tahun mendatang.
3) Dalam mendukung pembangunan pariwisata, keberadaan pulau reklamasi akan menjadi destinasi wisata baru. Konsep pariwisata
budaya mutlak diimplementasikan dalam membangun dan mengembangkan kawasan dan atraksi wisata di kawasan tersebut.

51

Kejenuhan wisatawan asing atas atraksi dan obyek wisata yang ada saat ini, wajib diantisipasi untuk 5 sampai 10 tahun ke depan.
Kita berharap pariwisata budaya kita menuju quality tourism, dalam arti wisatawan yang datang adalah yang memang berwisata
dan berbelanja di Bali. Di sisi lain, kita tidak boleh menutup mata terhadap kemajuan yang dialami pariwisata negara-negara
tetangga, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Kita tidak boleh malu belajar dari kemajuan yang mereka capai. Belum lagi
daerah-daerah lainnya di tanah air yang sedang gencar-gencarnya membangun pariwisatanya, mulai dari yang terdekat yaitu
Banyuwangi dan NTB, sampai pada pengembangan Kepulauan Raja Ampat, yang sangat berobsesi mengalahkan kemajuan
pariwisata Bali.
Dampak Negatif
1) Reklamasi akan merusak fungsi dannilai konservasi kawasan serta perairan Teluk Benoa.
2) Reklamasi menyebabkan berkurangnya fungsi teluk benoa sebagai reservoir dari 5 sub DAS.
3) Reklamasi dengan membuat pulau baru akan menimbulkan kerentanan terhadap bencana.
4) Peningkatan padatan tersuspensi dan serta sedimentasi di habitat tertentu terumbu karang dapat mematikan polip karang dan
merusak terumbu karang di kawasan sekitarnya.
5) Reklamasi akan menyebabkan perubahan kondisi perairan, seperti salinitas, temperatur serta masukan nutrient yang terbatas dari
luar teluk, termasuk menyebabkan pola perpindahan sedimen.
6) Reklamasi semakin mengancam dan memperparah abrasi pantai.
7) Pengambilan material untuk reklamasi akan menyebabkan merosotnya keanekaragaman hayati di lokasi sumber material.
8) Peraturan pemerintah hanya berpihak dan menguntungkan kepentingan investor.

52

9) Pulau hasil reklamasi akan dibangun ribuan kamar dari berbagai jenis akomodasi. Hal ini bertentangan dengan riset pemerintah
yang menyatakan Bali Selatan sudah

kelebihan kamar. Bertentangan pula dengan kebijakan jeda sementara (moratorium)

akomodasi oleh Gubernur Bali.


10) Investasi rakus selalu memberi janji manisnamun sering tidak terwujud. Kasus reklamasi Pulau Serangan yang terbengkalai,
termasuk banyak kasus seperti di GWK, Pecatu Graha, BNR, dll adalah contoh nyata. Pada akhirnya masyarakat kecil tetap menjadi
korban dan tidak ada yang bertanggungjawab atas kerugian yang ditimbulkan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.indonesia.go.id/in/pemerintah-daerah/provinsi-bali/pariwisata

53

54