Anda di halaman 1dari 8

Pendapatan LO dan Pendapatan LRA Pemerintah Daerah

Definisi
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, terdapat 2 istilah pendapatan, yakni
Pendapatan-LO dan Pendapatan-LRA. Pendapatan-LO adalah hak pemerintah daerah yang
diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak
perlu dibayar kembali. Pendapatan-LRA adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum
Negara/Daerah yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.
Klasifikasi Pendapatan
Pendapatan diklasifikasikan berdasarkan sumbernya, secara garis besar ada tiga kelompok
pendapatan daerah yaitu: Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pendapatan Transfer, dan Lain-lain
Pendapatan Daerah yang Sah.

Pendapatan Asli Daerah (PAD)


Menurut Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 yaitu sumber keuangan daerah yang
digali dari wilayah daerah yang bersangkutan yang terdiri dari hasil pajak daerah, hasil
retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain
pendapatan asli daerah yang sah. Pendapatan asli daerah adalah semua penerimaan
keuangan suatu daerah, dimanapenerimaan keuangan itu bersumber dari potensi-potensi
yang ada di daerah tersebutmisalnya pajak daerah, retribusi daerah dan lain-lain, serta
penerimaan keuangantersebut diatur oleh peraturan daerah.
1. Pajak Daerah
Pajak

daerah

merupakan

pajak

yang

dipungut

oleh

daerah-daerah

swatantra,seperti Provinsi, Kotapraja, Kabupaten, dan sebagainya.Ciri-ciri yang


menyertai pajak daerah dapat diikhtisarkan seperti berikut:

Pajak daerah berasal dan pajak negara yang diserahkan kepada daerahsebagai

pajak daerah
Penyerahan dilakukan berdasarkan undang-undang

Pajak daerah dipungut oleh daerah berdasarkan kekuatan undang-

undangdan/atau peraturan hukum lainnya.


Hasil pungutan pajak daerah dipergunakan

untuk

membiayai

penyelenggaraan urusan-urusan rumah tangga daerah atau untuk membiayai


perigeluaran daerah sebagai badan hukum publik.
2. Retribusi Daerah
Retribusi daerah merupakan pungutan daerah sebagal pembayaran pemakalan
atau karena memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik daerah untuk
kepentingan umum, atau karena jasa yang diberikan oleh daerah baik langsung
maupun tidak langsung. Dari pendapat tersebut diatas dapat diambil ciri-ciri
pokok retribusi daerah, yaitu:

Retribusi dipungut oleh daerah


Dalam pungutan retribusi terdapat prestasi yang diberikan daerah yang

langsung dapat ditunjuk


Retribusi dikenakan kepada siapa saja yang memanfaatkan atau mengenyam
jasa yang disediakan daerah

3. Bagian Laba BUMD


Bagian laba Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) adalah penerimaan yang berupa
bagian laba bersih dari BUMD, yang terdiri dari laba bank pembangunan daerah
dan bagian laba BUMD lainnya. BUMD secara ideal merupakan salah satu
sumber penerimaan dari sebuah pemerintahan daerah. BUMD adalah sebuah
perwujudan dari peran pemerintah daerah dalam pembangunan ekonomi daerah.
4. PAD lainnya yang sah yang terdiri dari pendapatan hibah, pendapatan dana
darurat dan pendapatan lain-lain. Pendapatan asli daerah lainnya yang sah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf yaitu:
Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan
Jasa giro
Pendapatan bunga

Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dan komisi
potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau
pengadaan barang dan/jasa oleh daerah.

Dana Perimbangan
Berdasarkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Dana Perimbangan adalah
dana yang bersumber dari pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
yangdialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka
pelaksanaan Desentralisasi. Dana Perimbangan bertujuan mengurangi kesenjangan
fiskal

antara

Pemerintah

dan

Pemerintahan

Daerah

dan

antar

Pemerintah

Daerah.Pendapatan dari dana perimbangan terdiri dari :


1. Bagian Daerah dari PBB dan BPHTB
a. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Dana Bagi Hasil dari penerimaan PBB sebesar 90% untuk daerah meliputi
16,2%untuk daerah Provinsi yang bersangkutan dan disalurkan ke Rekening Kas
UmumDaerah Provinsi, 64,8% untuk daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan
dandisalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah Kabupaten/Kota, dan 9% untuk
biayapemungutan. Sedangkan 10% bagian Pemerintah dari penerimaan PBB
dibagikankepada seluruh daerah Kabupaten dan Kota yang didasarkan atas
realisasipenerimaan PBB tahun anggaran berjalan dengan imbangan sebesar 65%
dibagikansecara merata kepada seluruh daerah Kabupaten dan Kota, dan sebesar
35%dibagikan sebagai intensif kepada daerah Kabupaten dan Kota yang realisasi
tahunsebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan sektor tertentu.
b. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
Dana Bagi Hasil dari penerimaan BPHTP sebesar 80% dengan rincian 16%
untuk daerah Provinsi yang bersangkutan dan disalurkan ke Rekening Kas Umum
Daerah Provinsi, dan 64% untuk daerah Kabupaten dan Kota penghasil dan
disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah Kabupaten/Kota. Sedangkan 20%

bagian Pemerintahdari penerimaan BPHTP dibagikan dengan porsi yang sama


besar untuk seluruh Kabupaten dan Kota.
2. Bagian daerah dari Pajak Penghasilan Wajib Pajak Perseorangan/Pribadi
3. Bagian dari Sumber Daya Alam
4. Bagian Daerah dari Dana Alokasi Umum
Dana alokasi umum menekankan aspek pemerataan dan keadilan dimana formula
dan perhitungannya ditentukan oleh undang-undang. Penggunaan DanaAlokasi
Umum ditetapkan oleh daerah. Penggunaan Dana Alokasi Umum dan penerimaan
umum lainnya dalam APBD harus tetap pada kerangka pencapaian tujuan
pemberian otonomi kepada daerah yaitu peningkatan pelayanan dan kesejahteraan
masyarakat yang semakin baik, seperti pelayanan di bidang kesehatan dan
pendidikan.
5. Bagian Daerah dari Dana Alokasi Khusus
Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN
yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan membantu mendanai
kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas
nasional. Sesuai dengan Undang-Undang No.33 Tahun 2004 tentang
perimbangan keuangan antaraPemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, kegiatan
khusus yang dimaksud adalah:
Kegiatan dengan kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan dengan rumus alokasi
umum, dalam pengertian kebutuhan suatu daerah tidak sama dengan kebutuhan daerah
lain, misalnya kebutuhan di kawasan transmigrasi, kebutuhan beberapa jenis investasi /
prasarana baru, pembangunan jalan di kawasan terpencil, serta saluran irigasi

primer.
Kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional

Pendapatan Lain-lain yang Sah


Pendapatan Hibah
Dana Darurat
Pendapatan Lainnya yang sah

Pengakuan Pendapatan
Pendapatan LO diakui pada saat : (a) timbulnya hak atas pendapatan, kriteria ini dikenal juga
dengan eorned; atau (b) pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi

baik sudah diterima pembayaran secara tunai (realized). Pendapatan LRA menggunakan basis
kas sehingga pendapatan LRA diakui pada saat diterima di rekening Kas Umum Daerah;
diterima oleh SKPD; atau diterima entitas lain diluar pemerintah daerah atas nama BUD. Dengan
memperhatikan sumber, sifat dan prosedur penerimaan pendapatan maka pengakuan pendapatan
dapat diklasifkasikan kedalam beberapa alternatif.
1. Pengakuan pendapatan ketika pendapat didahului dengan adanya penetapan terlebih
dahulu, dimana dalam penetapan tersebut terdapat jumlah uang yang harus diserahkan
kepada pemerintah daerah. Pendapatan ini diakui pada pendapatan LO ketika dokumen
penetapan tersebut telah disahkan. Sedangkan untuk pendapatan LRA diakui ketika
pembayaran telah dilakukan.
2. pengakuan pendapatan ini terkait pendapatan pajak yang didahului dengan penghitungan
sendiri oleh wajib pajak (self assessment) dan dilanjutkan dengan pembayaran oleh wajib
pajak berdasarkan perhitungan tersebut. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan terhadap nilai
pajak yang dibayar apakah sudah sesuai, kurang atau lebih bayar untuk kemudian
dilakukan penetapan. Pendapatan ini diakui pada pendapatan LO dan Pendapatan LRA
ketika wajib pajak melakukan pembayaran pajak. Dan apabila pada saat pemeriksaan
ditemukan kurang bayar maka akan diterbitkan surat ketetapan kurang bayar yang akan
dijadikan dasar pengakuan pendapatan LO. Sedangkan apabila dalam pemeriksaan
ditemukan lebih bayar pajak maka akan diterbitkan surat ketetapan lebih bayar yang akan
dijadikan pengurang pendapatan LO.
3. pendapatan ini terkait pendapatan pajak yang pembayarannya dilakukan di muka oleh
wajib pajak untuk memenuhi kewajiban selama beberapa periode ke depan Pendapatan LO
diakui ketika periode yang bersangkutan telah terlalui sedangkan pendapatan LRA diakui
pada saat uang telah diterima.
4. pengakuan pendapatan ini terkait pendapatan pajak yang didahului dengan penghitungan
sendiri oleh wajib pajak dan pembayarannya diterima di muka untuk memenuhi kewajiban
selama beberapa periode ke depan. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan terhadap nilai
pajak yang dibayar apakah sudah sesuai, kurang atau lebih bayar, untuk selanjutnya
dilakukan penetapan. Pendapatan LRA diakui ketika diterima pemerintah daerah.
Sedangkan pendapatan LO diakui setelah diterbitkan penetapan berupa Surat Ketetapan
(SK) atas pendapatan terkait.

5. pengakuan pendapatan adalah pendapatan yang tidak perlu ada penetapan terlebih dahulu.
Untuk pendapatan ini maka pengakuan pendapatan LO dan pengakuan pendapatan LRA
pada saat pembayaran telah diterima oleh pemerintah daerah.
Pengukuran
1. Pendapatan-LRA diukur dan dicatat berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan
penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan
pengeluaran).
2. Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LRA bruto (biaya) bersifat variabel
terhadap pendapatan dimaksud dan tidak dapat dianggarkan terlebih dahulu dikarenakan
proses belum selesai, maka asas bruto dapat dikecualikan.
3. Pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan
pendapatan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan
pengeluaran).
4. Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LO bruto (biaya) bersifat variabel
terhadap pendapatan dimaksud dan tidak dapat diestimasi terlebih dahulu dikarenakan
proses belum selesai, maka asas bruto dapat dikecualikan.
5. Pendapatan Hibah dalam mata uang asing diukur dan dicatat pada tanggal transaksi
menggunakan kurs tengah Bank Indonesia.
Penyajian
Penyajian Pendapatan-LO
Menurut PP No. 71 tahun 2010 lampiran I. 13 PSAP 12, entitas pelaporan menyajikan
pendapatan-LO menurut sumber pendapatan. Rincian lebih lanjut sumber pendapatan disajikan
pada catatan atas laporan keuangan. Klasifikasi pendapatan-LO menurut sumber pendapatan
menurut ekonomi, pada prinsipnya merupakan klasifikasi yang menggunakan dasar klasifikasi
yang sama yaitu berdasarkan jenis.
Berikut ini merupakan contoh penyajian pendapatan-LO pada pemerintah daerah.

Penyajian Pendapatan-LRA
Menurut PP No. 71 tahun 2010 lampiran II.03 PSAP 02,entitas pelaporan menyajikan
klasifikasi pendapatan menurut jenis pendapatan dalam Laporan Realisasi Anggaran, dan rincian
lebih lanjut jenis pendapatan disajikan pada Catatan atas Laporan Keuangan.
Berikut merupakan contoh penyajian pendapatan-LRA pada pemerintah daerah.

Pengungkapan
Hal yang harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan terkait dengan
pendapatan adalah:

Penerimaan pendapatan tahun berkenaan setelah tanggal berakhirnya tahun anggaran


penjelasan mengenai pendapatan yang pada tahun pelaporan yang bersangkutan terjadi

hal-hal yang bersifat khusus


penjelasan sebab-sebab tidak tercapainya target penerimaan pendapatan daerah;
informasi lainnya yang dianggap perlu