Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

REHABILITASI MEDIK PADA PASIEN LAKI-LAKI USIA 42 TAHUN


POST ORIF DENGAN FRAKTUR TERTUTUP SEGMENTAL REGIO
CRURIS DEKSTRA, DISPLACED
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan
Program Profesi Dokter Stase Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pembimbing :
dr.Hj.Komang Kusumawati,Sp.RM,MPd

Disusun oleh:
Rizma Alfiani Rachmi

(J510155024)

Aldino Siwa Putra

(J510155096)

Muhammad Arif Fahmi

(J510155094)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN


REHABILITASI MEDIK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016

LAPORAN KASUS
REHABILITASI MEDIK PADA PASIEN LAKI-LAKI USIA 42 TAHUN
POST ORIF DENGAN FRAKTUR TERTUTUP SEGMENTAL REGIO
CRURIS DEKSTRA, DISPLACED
Diajukan Oleh :
Rizma Alfiani Rachmi, S. Ked ( J510155024 )
Aldino Siwa Putra (J510155096 )
Muhammad Arif Fahmi (J510155094)

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari

,tanggal

Pembimbing
dr.Hj.Komang Kusumawati,Sp.RM,MPd

(.................................)

Disahkan Ketua Program Profesi :


dr.Dona Dewi Nirlawati

(.................................)

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah


Fraktur adalah masalah yang akhir-akhir ini sangat banyak menyita
perhatian masyarakat. Kecelakaan lalu-lintas merupakan pembunuh nomor tiga di
Indonesia, setelah penyakit jantung dan stroke. Pada kecelakaan lalu lintas
sebagian korban banyak yang mengalami fraktur. Dengan mobilitas yang tinggi
disektor lalu lintas dan faktor kelalaian manusia sebagai salah satu penyebab
paling sering terjadinya kecelakaan yang dapat menyebabkan fraktur. Penyebab
yang lain dapat dikarenakan kecelakaan kerja, olah raga dan rumah tangga.
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang
dapat diabsorpsinya. Patah atau fraktur tibia merupakan fraktur yang sering terjadi
dibandingkan fraktur batang tulang panjang lainnya. Periost yang melapisi tibia
agak tipis, terutama pada daerah depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang
ini mudah patah dan biasanya fragmen frakturnya bergeser.
Tibia merupakan tulang panjang yang paling sering mengalami cedera.
Mempunyai permukaan subkutan yang paling panjang, sehingga paling sering
terjadi fraktur terbuka. Daya pemuntir menyebabkan fraktur spiral pada kedua
tulang kaki dalam tingkat yang berbeda, daya angulasi menimbulkan fraktur
melintang atau oblik pendek, biasanya pada tingkat yang sama. Pada cedera tak
langsung, salah satu dari fragmen tulang dapat menembus kulit, cedera langsung
akan menembus atau merobek kulit di atas fraktur. Banyak diantara fraktur itu
disebabkan oleh trauma tumpul, dan resiko komplikasinya berkaitan langsung
dengan luas dan tipe kerusakan jaringan lunak.
Jika fraktur tidak ditangani dan dirawat dengan baik, akan dapat
menyebabkan kecacatan yang berat yang dapat disebabkan karena fraktur itu
sendiri maupun komplikasi nyeri yang menyebabkan kurangnya mobilisasi pada
pasien paska fraktur.

BAB II
LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS
Nama

: Tn.B

Umur

: 42 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Lingkungan 9

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Buruh Bangunan

No.RM

: 296516

Biaya

: BPJS Non PBI

Tanggal Pemeriksaan : 24 Oktober 2016 ( di Bangsal Parangkusumo )


II.

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Patah pada tungkai bawah kaki kanan

Riwayat Penyakit Sekarang


1 hari SMRS Pasien terjatuh dari sepeda motor setelah menghindari
sepeda motor yang ingin melintasinya dari sebuah gang dan menabrak mobil pickup didepannya. Pasien terjatuh dengan tumpuan badan disebelah kanan. Pasien
mengakui bahwa dirinya sadar penuh saat kejadian tidak terdapat adanya pingsan.
Pasien langsung mencoba menggerakkan kedua tangan dan kedua kakinya, namun
pada kaki sebelah kanan pasien tidak dapat digerakkan. Pasien segera dibawa oleh
warga sekitar ke puskesmas terdekat.
HMRS Pasien dibawa ke Rumah Sakit Ortopedi Prof.R.Soeharso dari
puskesmas. Pasien dalam keadaan sadar penuh dengan tungkai bawah kaki kanan
dalam keadaan dibidai, siku lengan kanan dan punggung atas kanan tertutup kassa
setelah penjahitan yang dilakukan dipuskesmas karena luka robeknya. Pasien
merasakan nyeri hebat pada kaki kanannya, pergerakan yang terbatas namun tidak
didapatkan adanya keluhan mati rasa ataupun kesemutan.

Riwayat Penyakit Dahulu


-

Riwayat hipertensi disangkal

Riwayat diabetes mellitus disangkal

Riwayat penyakit jantung disangkal

Riwayat alergi disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


-

Riwayat hipertensi disangkal

Riwayat diabetes mellitus disangkal

Riwayat penyakit jantung disangkal

Riwayat alergi disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien bekerja sebagai buruh bangunan, istri ibu rumah tangga, memiliki 2
orang anak yang masih sekolah. Biaya perawatan menggunakan BPJS non PBI.
Kesan : sosial ekonomi kurang.
III.

PEMERIKSAAN FISIK ( dilakukan pada tanggal 24 Oktober


2016 )
a. Inspeksi Umum
Keadaan Umum : tampak sakit sedang, VAS = 3
Postur
: dalam batas normal
Gait
: Antalgic Gait
IMT
: 22,04 (Normal)
b. Tanda-tanda vital
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Frekuensi Nadi
: 80x/menit
Laju Nafas
: 18x/menit

Suhu
: 36,50
c. Status Neurologis
Kesadaran
: compos mentis, GCS E4V5M6 = 15
Fungsi Luhur
: Atensi bagus, memori bagus, bahasa lancar
Fungsi Vegetatif : inkotinensia (-)
Fungsi Sensorik : defisit neurologis (-)
Pemeriksaan Motorik dan reflek
Kekuatan
5
TDE

5
5

Tonus

N
TDE

N
N

N
TDE

N
N

TDE

Reflek Fisiologis

Reflek Patologis

Nervus Cranialis : dalam batas normal


d. Status Internus
Kepala/Leher

: mesocephal, pembesaran kelenjar limfe (-), trakea di

tengah
Mata

: Konjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)


Pupil isokor, refleks cahaya (+/+)

THT

: dalam batas normal

Thoraks

Paru

Inspeksi

: Simetris statis dan dinamis, retraksi suprasternal (-),

retraksi interkostal (-)


Palpasi

: Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi

: Sonor di kedua lapangan paru

Auskultasi : Suara dasar vesikuler, Suara tambahan: ronkhi (-/-),


wheezing (-/-)
Jantung:
Inspeksi

: Iktus kordis tidak tampak

Palpasi

: Iktus kordis teraba pada SIC V 2 cm lateral Linea

midclavicula sinistra
Perkusi

: konfigurasi jantung dalam batas normal

Auskultasi : BJ I-II murni, murmur (-), gallop (-)


Abdomen:

Inspeksi

: datar

Auskultasi : bising usus (+) normal


Perkusi

: timpani (+), pekak sisi (+) normal, pekak alih (-)

Palpasi

: hepar dan lien tak teraba

Ekstremitas

: edem (-/-)

Status Lokalis Regio Cruris


1.Look
Deformitas (+), pembengkakan (+), kemerahan (+), vulnus excoriatum (+)
2.Feel
Perabaan hangat (+), tonus otot baik (+), pembengkakan (+), nyeri tekan (+)
3.Movement
a.Pemeriksaan Lingkup Gerak Sendi (LGS) / Range of Movement (ROM)
Ekstremitas
Gerak
Tonus
Trofi
LGS
Hip
Fleksi
Ekstensi
Abduktsi
Adduksi
Endorotasi
Eksorotasi
Knee
Fleksi
Ekstensi
Ankle
Dorso fleksi
Plantar fleksi
Foot
Inversi
Eversi
Hallux

Inferior
Dextra
Sinistra
terbatas
+
normotonus Normotonus
eutrofi
eutrofi

TDE
TDE
TDE
TDE
TDE
TDE

1200
300
450
300
350
450

TDE
TDE

1350
00

TDE
TDE

200
500

350
150

350
150

Fleksi MTP
Ekstensi MTP
Fleks IP
Ekstensi IP
Jari kaki II-IV
Fleksi MTP
Ekstensi MTP
Fleksi PIP
Ekstensi PIP
Fleksi DIP
Ekstensi DIP

450
700
600
600

450
700
600
600

450
700
350
00
600
00

450
700
350
00
600
00

b.Pemeriksaan Kekuatan Otot / Manual Muscle Testing (MMT)


Hip

IV.

Ekstremitas Inferior
Fleksor
m.Psoas Mayor

Dextra
TDE

Sinistra
5

Ekstensor

m.Gluteus Maksimus

TDE

Abduktor

m.Gluteus Medius

TDE

Knee

Adduktor
Fleksor

m.Adductor Longus
Harmstring Muscle

TDE
TDE

5
5

Ankle

Ekstensor
Fleksor

Quadricep Femoris
m.Tibialis

TDE
TDE

5
5

m.Soleus

TDE

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium ( tanggal 22 Oktober 2016 )
Pemeriksaan
Hematologi Lengkap
Hemoglobin
Jumlah Eritrosit
(L)
Hematokrit
(L)
MCV
MCH
(L)
MCHC
Hitung Jenis

Hasil

Satuan

Nilai Rujukan

13.9
4.43
39.4
88.9
31.4

g/dl
10^6/uL
%
fL
pg

13.0-18.0
4.50-6.20
40.0-54.0
81.0-99.0
27.0-31.0

35.3

g/L

33.0-37.0

Eosinofil
Basofil
Neutrofil
Limfosit
Monosit
Koagulasi
PT
APTT

(H)
(L)

(H)

0.8
0.3
83.4
11.6
3.9

%
%
%
%
%

0-4
0-1
50-70
20-40
2-8

11
33

detik
detik

10-14
22-30

X -Foto Polos Regio Cruris Dextra AP Lateral

V.

Diagnosis
Fraktur tertutup segmental regio cruris dextra, diplaced
VI.

Penatalaksanaan:
1.

Terapi Medikamentosa (dari TS bag.Orthopedi)


Infs Ringer Laktat 20 tpm
Inj Cefazolin 1 gr/ 8 jam
Inj Ketorolac 1amp / 12 jam

2.

Rehabilitasi Medik
a. Problem Rehabilitasi Medik :
-Impairment
a. Fraktur tertutup segmental regio cruris dextra, displaced
b.Edem sekitar regio cruris dan ankle dekstra
-Disabilitas
a. Belum mampu berjalan secara mandiri
b. Adanya gangguan aktivitas fungsional seperti ke toilet
-Functional Limitation
a.Pasien tidak dapat melakukan pekerjaannya sebagai buruh
bangunan
b. Rencana Program Rehabilitasi Medik Secara Umum
1) Fisioterapi

10

Alih baring pasien tiap 2 jam

- Mobilisasi bertahap dilakukan sesegera mungkin tanpa


menunggu nyeri berkurang.
- Latihan fisik ( non-modalitas ): ROM exercise, Isometric
strengthening exercise ( pada anggota gerak bawah kanan ) dan
isometonic strengthening exercise ( pada anggota gerak atas
kanan dan kiri serta anggota gerak bawah kiri ) ambulasi
bertahap non-weight bearing sampai dengan total weight
bearing.
- Modalitas terapi : Infrared (IR), Trans Electrical Nerve
Stimulation (TENS), Krioterapi.
2) Terapi Okupasi
-

Latihan peningkatan ADL personal

Latihan Proper Body Mechanic (posisi tubuh yang benar


saat beraktivitas)

3) Ortotik Prostetik
-

Pemakaian alat bantu jalan berupa kruk

4) Psikologi
-

Memberikan dukungan kepada pasien dan keluarga agar


mentaati hal-hal yang perlu menjadi perhatian dan
menjalankan program rehabilitasi yang telah ditentukan.

Mengurangi stress akibat rasa nyeri yang dialami pasien

5) Sosial Medik
-

Evaluasi status sosial ekonomi dan kondisi rumah pasien

6) Edukasi:
-

Jangan menapakkan kaki/berjalan sebelum anjuran dokter

Selalu menggerakkan kaki baik disisi yang patah maupun


tidak

VII. Prognosa
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad sanam

: dubia ad bonam

11

Quo ad fungsional

: dubia ad bonam

VIII. Refleksi Kasus


Pasien seorang laki-laki berinisial B, usia 42 tahun, seorang buruh
bangunan. Pasien datang rujukan dari puskesmas dengan keluhan nyeri pada
tungkai bawah kanan setelah mengalami kecelakaan motor pada tanggal 22
Oktober 2016. Dari hasil pemeriksaan radiologi didapatkan Fraktur tertutup1/3
distal Tibia Fibula dekstra, segmented, displaced. Kemudian di RS orthopedi,
pasien mendapat penanganan operatif berupa ORIF. Untuk mengembalikan
kemandirian dalam aktivitas sehari-hari, dibuat program rehabilitasi medik untuk
memulihkan anggota gerak yang terkena, program tersebut antara lain latihan
fisik, modalitas terapi, alat bantu jalan serta memberi motivasi kepada pasien agar
selalu melaksanakan program rehabilitasi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab
nomor satu munculnya patah tulang akibat trauma langsung di Indonesia. Salah
satunya adalah fraktur pada tulang tibia dan fibula. Fraktur pada daerah ini dapat
mengakibatkan terganggunya aktivitas fisik berupa berjalan sehingga problema
pengelolaan trauma pada tulang ini mempunyai arti sosial dan ilmu kedokteran
yang cukup penting.
Pada kasus ini dilakukan pemasangan ORIF sebagai fiksasi untuk
mempertahankan posisi regio cruris dextra.
XI. Follow-Up
Hari / Tanggal : Selasa 25 Oktober 2016
Subjective
Objective
Pasien mengeluh nyeri
hebat pada luka bekas
operasi.

Ku : tampak sakit sedang VAS=3


Kes : CM
Status lokalis regio cruris
dextra :
1.Look
Pembengkakan (+) kemerahan (+)
2.Feel
Nyeri tekan (+) Panas pada
perabaan (+),
3.Movement
a.MMT : TDE
b.ROM (aktif / pasif) :
Knee :

Assesment

Plan

Prog. RM

Post ORIF H+1


e/c
Fraktur
tertutup segmental
regio
cruris
dextra, displaced

-Mengatasi nyeri
-Mengembalikan
ROM
-Memperbaiki
kekuatan
-Mencegah
komplikasi
-Menghilangkan
edem
-Pemberian
alat
bantu jalan berupa
2 kruk

FT:
-elevasi pada tungkai
yang terkena
-AROM-AAROM
exc.
pada knee, ankle dan foot
-Isometric strengthening
exercise ( pada anggota
gerak bawah kanan )
isotonic
strengthening
exercise ( pada anggota
gerak atas d/s dan anggota
gerak bawah kiri )
-Modalitas terapi :

12

Fleksi : 100 / 900


Ekstensi : 00 / 00
Ankle :
Dorsofleksi : 100 / 200
Plantarfleksi : 200 / 500

Hari / Tanggal : Rabu 26 Oktober 2016


Subjective
Objective
Pasien mengeluh nyeri
sedang pada luka bekas
operasi.

Ku : tampak sakit sedangVAS = 2


Kes : CM Status lokalis regio
cruris dextra :
1.Look
Pembengkakan (+) kemerahan (+)
2.Feel
Nyeri tekan (+) Panas pada
perabaan (+),
3.Movement
a.MMT : TDE
b.ROM (aktif / pasif) :
Knee :
Fleksi : 500 / 1350
Ekstensi : 00 / 00
Ankle :
Dorsofleksi : 200 / 200
Plantarfleksi : 500 / 500

Hari / Tanggal : Kamis 27 Oktober 2016


Subjective
Objective
Pasien mengeluh nyeri
ringan pada luka bekas
operasi.

Ku : tampak sakit ringan VAS = 2


Kes : CM
Status lokalis regio cruris
dextra :
1.Look
Pembengkakan (+) kemerahan (+)
2.Feel
Nyeri tekan (+) Panas pada
perabaan (+),
3.Movement
a.MMT : TDE
b.ROM (aktif / pasif ) :
Knee :
Fleksi : 1350 / 1350
Ekstensi : 00 / 00
Ankle :
Dorsofleksi : 200 / 200
Plantarfleksi : 500 / 500

Krioterapi regio cruris


dextra
OP : crutches bilateral

Assesment

Plan

Prog. RM

Post ORIF H+2


e/c
Fraktur
tertutup segmental
regio
cruris
dextra, displaced

-Mengatasi nyeri
-Mengembalikan
ROM
-Memperbaiki
kekuatan
-Mencegah
komplikasi
-Menghilangkan
edem
-Ambulasi nonweight bearing

FT: -elevasi pada tungkai


yang terkena
-AROM-AAROM
exc.
pada knee, ankle dan foot
-Isometric strengthening
exercise ( pada anggota
gerak bawah kanan )
isotonic
strengthening
exercise ( pada anggota
gerak atas d/s dan anggota
gerak bawah kiri )
-Modalitas terapi :
Krioterapi regio cruris
dextra
-OP
:
ambulasi
menggunakan
crutches
bilateral

Assesment

Plan

Prog. RM

Post ORIF H+3


e/c
Fraktur
tertutup segmental
regio
cruris
dextra, displaced

-Mengatasi nyeri
-Mengembalikan
ROM
-Memperbaiki
kekuatan
-Mencegah
komplikasi
-Menghilangkan
edem
-Ambulasi
nonweight bearing

FT: -elevasi pada tungkai


yang terkena
-AROM-AAROM
exc.
pada knee, ankle dan foot
-Isometric strengthening
exercise ( pada anggota
gerak bawah kanan )
isotonic
strengthening
exercise ( pada anggota
gerak atas d/s dan anggota
gerak bawah kiri )
-Modalitas terapi :
Krioterapi regio cruris
dextra
-OP
:
ambulasi
menggunakan
crutches
bilateral

13

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Fraktur segmental regio cruris adalah fraktur pada bagian diafisis
tibia/fibula yang biasanya tidak meliputi bagian artikular atau regio metafisis
( Hoppenfeld S. and Murthy L.V, 2000).
Mekanisme cederanya merupakan sebuah High-energy trauma yang dapat
menghasilkan fraktur transversal atau kominutif, yang biasanya merupakan
fraktur terbuka ( Hoppenfeld S. and Murthy L.V, 2000).
B. Perubahan Patologi
Operasi pada fraktur cruris 1/3 distal dextra akan dilakukan incisi pada
tungkai bawah bagian lateral. Dengan operasi ini akan mengakibatkan kerusakan
jaringan lunak ataupun kerusakan saraf sensoris sehingga akan menimbulkan
nyeri. Bila pembuluh darah terpotong, maka cairan dalam sel akan menuju
jaringan dan menyebabkan pembengkakan. Cairan ini akan menekan ujung saraf
sensoris sehingga akan timbul nyeri dan pergerakan pada daerah tersebut menjadi
terbatas.
Waktu penyembuhan fraktur sangat bervariasi antara individu satu dengan
individu lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur antara
lain: usia pasien, jenis fraktur, banyaknya displacement fraktur, lokasi fraktur,
pasokan darah pada fraktur, dan kondisi medis yang menyertai. Pada fraktur yang
tidak kompleks, bukti mikroskopik dari penyembuhan biasanya dapat terlihat pada
tempat fraktur dalam 15 jam setelah cedera (Garrison, 1996). Tulang mempunyai
kemampuan menyambung setelah terjadi patah tulang. Pada fraktur, proses
penyambungan tulang dibagi dalam 5 tahap yaitu:
1. Hematoma
Hematoma adalah suatu proses perdarahan dimana darah pada
pembuluh darah tidak sampai pada jaringan sehingga osteocyt mati,
akibatnya terjadi necrose. Hematoma yang banyak mengandung fibrin
melindungi tulang yang rusak. Setelah 24 jam suplai darah ke area
fraktur mulai meningkat. Stadium ini berlangsung 1 sampai 3 hari
(Gartland, 1974).

14

2. Proliferasi
Proliferasi adalah proses dimana jaringan seluler yang berisi
cartilage keluar dari ujung ujung fragmen sehingga tampak di
beberapa tempat bentukan pulau pulau cartilage. Pada stadium ini
terjadi pembentukan granulasi jaringan yang banyak mengandung
pembuluh darah, fibroblast dan osteoblast. Haematoma merupakan
dasar untuk proses penggantian dan penyembuhan tulang, yang
berlangsung 3 hari sampai 2 minggu (Gartland, 1974).
3. Pembentukan kalus atau kalsifikasi
Pembentukan callus atau kalsifikasi adalah proses dimana setelah
terjadi bentukan cartilago yang kemudian berkembang menjadi
fibrous callus sehingga tulang akan menjadi sedikit osteoporotik.
Pembentukan ini terjadi setelah granulasi jaringan menjadi matang.
Jika stadium putus maka proses penyembuhan luka menjadi lama.
Fase ini berlangsung 2 sampai 6 minggu (Gartland,1974).
4. Konsolidasi
Konsolidasi adalah suatu proses dimana terjadi penyatuan pada
kedua ujung tulang. Callus yang tidak diperlukan mulai diabsorbsi.
Pada tahap ini tulang sudah kuat tapi masih berongga. Fase ini
biasanya butuh waktu 3 minggu sampai 6 bulan(Gartland, 1974).
5. Remodeling
Remodeling adalah proses dimana tulang sudah terbentuk kembali
atau tersambung dengan baik. Pada tahap ini tulang semakin menguat
secara perlahan lahan terabsorbsi dan terbentuk canalis medularis.
Tahap ini berlangsung selama 6 minggu sampai 1 tahun (Gartland,
1974).
Perubahan patologi setelah dilakukan operasi timbul permasalahan yang
berupa:
1. Nyeri
Nyeri merupakan adanya kerusakan jaringan, dimana jaringan akan
mengeluarkan zat kimia seperti bradikinin, serotonin, histamine
sebagai reaksi dari kerusakan jaringan, zat kimia tersebut akan
merangsang nociseptik yang akan menambah nyeri daerah tersebut
(Kisner, 1996).
2. Oedem
15

Oedem dapat timbul karena adanya kerusakan pada pembuluh darah akibat
incisi, sehingga cairan yang melewatinya tidak lancar dan terjadi
akumulasi cairan sehingga timbul bengkak(Kisner, 1996).
3. Keterbatasan LGS
Permasalahan ini timbul karena adanya rasa nyeri, oedem, spasme
otot, kelemahan otot sehingga pasien enggan untuk bergerak dan
beraktivitas. Keadaan ini menyebabkan perlengketan jaringan dan
keterbatasan luas gerak sendi yang dalam jangka waktu lama akan
berpengaruh pada penurunan kemampuan aktivitas fungsional
terutama berjalan (Kisner, 1996).
C. Komplikasi
Pada pasien dengan fraktur paska operasi , komplikasi lanjut yang
mungkin terjadi yang berhubungan dengan setelah dilakukannya tindakan
operasi, antara lain:
1. Kekakuan sendi
Kekakuan sendi biasanya terjadi akibat oedem dan fibrosis pada
kapsul, ligamen, dan otot disekitar sendi dan terjadi perlengketan antar
jaringan lunak (Garrison, 1996).
2. Komplikasi kulit
Immobilisasi tanpa alat pemulih, tekanan yang semestinya dan
adanya aplikasi gips pada daerah fraktur yang tidak benar dapat
menyebabkan timbulnya ulkus tekan (Garrison, 1996).
3. Infeksi
Infeksi biasanya terjadi karena luka incisi yang tidak steril yang
dapat menimbulkan adanya nyeri (Garrison, 1996).
Sedangkan untuk komplikasi karena fraktur, antara lain:
1. Shorthening
Shorthening terjadi karena pemendekan pada tulang yang
diakibatkan mal union, loss of bone dan gangguan epiphysial plate
pada anak anak (Bloch, 1986).
2. Mal union
Mal union merupakan penyambungan yang tidak sesuai dengan
posisi yang semestinya, seperti angulasi, overlapping dan rotasi.
Distribusi gaya tekan yang tidak baik menyebabkan gangguan fungsi
dan timbulnya perubahan perubahan osteoarthritis yang lebih awal

16

pada sendi sendi yang berdekatan. Bila ada gangguan fungsi berat
tindakan rekonstruksi harus dilakukan terhadap tulang atau sendi yang
mengalami mal union (Bloch, 1986).
3. Non union
Non union adalah keadaan dimana fragmen gagal untuk
menyambung

walaupun

telah

diimobilisasi.

Hal

ini

karena

pembentukan callus terganggu dan ujung ujung fragmen tertutup


oleh jaringan fibrocartilago (Bloch, 1986).
4. Delayed union
Delayed union adalah terjadinya penyambungan tulang yang
terlambat karena infeksi, suplai darah tidak lancar dan adanya gerakan
pada ujung fragmen. Beberapa tempat yang sering mengalami
penyambungan lambat dengan sirkulasi yang kurang diantaranya os
naviculare dari os carpalia, colum femoris dan spertiga bagian bawah
tibia (Bloch, 1986).
Menurut Hoppenfeld S. And Murthy L.V, 2000, komplikasi awal setelah
dilakukannya tidak operatif pada fraktur, antara lain :
1. Sindrom kompartemen
Sindrom kompartemen dapat terjadi ketika pembengkakan dan
perdarahan dari jaringan lunak terjadi dalam sebuah kompartemen
tertutup sehingga menyebabkan penekanan yang melampaui sirkulasi
vena dan arteri. Ini paling sering muncul pada kompartemen anterior.
Sindrom kompartemen didiagnosa dengan melihat gejala. Seorang
pasien yang mengalami sindrom kompartemen dapat memiliki nyeri
yang melebihi cederanya, peningkatan rasa kesemutan dan parestesia
walaupun setelah cast atau bandage dilepas. Jika diagnosis telah
dibuat maka harus segera dilakukan fasciotomi.
2. Embolisme
Karena resiko terjadinya emboli pulmonar maka pengukuran AGD
harus selalu dipertimbangkan pada setiap pasien yang memiliki cedera
multipel. Sindrom emboli lemak dapat muncul pada fase akut yaitu 72
jam awal setelah fraktur terjadi. Ini menyebabkan distress pernafasan
dan hipoksia yang mendadak. Peteki pada konjungtiva dan axilla serta
takipnea dan takikardi adalah tanda dari kondisi ini.
17

3. Cedera jaringan lunak


Kulit harus diperiksa secara cermat. Jika terdapat luka maka
membutuhkan pembersihan dan pembalutan yang baik untuk
mencegah adanya infeksi. Jika fraktur diobati dengan operasi makan
luka bekas operasi harus selalu dievaluasi. Edema pada distal area
fraktur harus dievaluasi dan diobati dengan mengelevasi ekstremitas.
D. Deskripsi Problematika Rehabilitasi Medik
Problematika rehabilitasi medik yang sering muncul pada paska operasi
meliputi impairment, functional limitation dan disability.
1. Impairment
Problematika yang muncul adalah (1) adanya oedem pada ankle dan
tungkai bawah terjadi karena suatu reaksi radang atau respon tubuh terhadap
cidera jaringan, (2) adanya nyeri gerak pada ankle akibat luka sayatan operasi
yang menyebabkan ujung - ujung saraf sensoris teriritasi dan karena adanya
oedem pada daerah sekitar fraktur, (3) penurunan luas gerak sendi ankle karena
adanya nyeri dan oedem pada daerah sekitar fraktur (Garrison, S. J, 1996).
2. Functional limitation
Pada functional limitation terdapat keterbatasan aktifitas fungsional
terutama dalam melakukan aktivitas fungsional terutama berdiri dan berjalan
(Garrison, S. J, 1996).
3. Disability
Disability merupakan ketidakmampuan dalam melaksanakan kegiatan
yang berhubungan dengan lingkungan disekitarnya yaitu kesulitan dalam
melakukan aktivitasnya sebagai seorang buruh karena pasien mengalami
gangguan dalam aktivitas berjalan (Garrison, S. J, 1996). 200
E. Prinsip Rehabilitasi
Prinsip rehabilitasi paska operasi pada pasien dengan fraktur tergantung
dari beberapa faktor yaitu (Hoppenfeld S. And Murthy L.V, 2000) :
1.Fraktur terbuka atau tertutup
Fraktur terbuka memiliki kejadian yang tinggi untuk terjadinya
delayed union atau memiliki prognosis penyembuhan yang lebih buruk
dibandingan pada fraktur tertutup.
2.Mekanisme cedera ( High or low-energy )
3.Derajat kerusakan jaringan lunak

18

4.Stabilitas dari fiksasi pada area fraktur


5.Kondisi medis yang berkaitan dengan terhambatnya penyembuhan
fraktur
F. Tujuan Rehabilitasi Medik
Menurut Hoppenfeld S. And Murthy L.V, 2000, tujuan rehabilitasi medik
paska operasi pada fraktur adalah sebagai berikut :
a. Lingkup Gerak Sendi / Range of Motion
Mengembalikan atau mempertahankan lingkup gerak sendi dari lutut dan
pergelangan kaki.
Tabel 1. Lingkup gerak sendi pada lutut dan pergelangan kaki.2
Movement
Knee
Flexion
Extension
Ankle
Dorsiflexion
Plantarflexion
b. Kekuatan Otot

Normal

Functional

00-1300/1400
00

1100
00

00-250
00-400

100
200

Meningkatkan kekuatan pada otot-otot berikut yang terpengaruh sebagai


akibat dari fraktur dan cedera.
Dorsi Fleksi :
Tibialis anterior
Ekstensor hallucis longus
Ekstensor digitorum longus
Plantar Fleksi :
Gastrocnemius
Soleus
Fleksor digitorum
Fleksor hallucis longus
Inversi :
Tibialis posterior
Tibialis anterior
Eversi :

19

Peroneus longus dan brevis


Tujuan Fungsi :
Menormalkan pola gait.
Perkiraan waktu penyembuhan tulang :
10 sampai 12 minggu
Perkiraan durasi rehabilitasi
12 sampai 24 minggu
G. Teknologi Intervensi Terapi fisik dan Rehabilitasi
Terapi latihan merupakan salah satu terapi yang pelaksanaannya menggunakan
gerak tubuh baik secara aktif maupun pasif untuk pemeliharaan dan perbaikan
kekuatan, ketahanan dan kemampuan kardiovaskuler, mobilitas dan fleksibilitas,
stabilitas, rileksasi, koordinasi, keseimbangan dan kemampuan fungsional
(Kisner, 1996). Terapi latihan yang dilakukan adalah:
1. Latihan dengan sasaran khusus
Breathing Exercise
Breathing exercise merupakan suatu tehnik latihan pernafasan dengan
menarik nafas lewat hidung atau inspirasi dan mengeluarkan nafas lewat mulut
atau ekspirasi. Tehnik latihan pernafasan yang digunakan dalam kasus ini adalah
deep breathing exercise. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya komplikasi
paru pada post operasi akibat bius general. Tehnik latihan pernafasan ini
menekankan pada inspirasi maksimal dan panjang lalu dihembuskan dengan
perlahan sampai akhir expirasi dengan tujuan mempertahankan alveolus tetap
mengembang,

mobilisasi

thorak,

untuk

meningkatkan

oksigenasi

dan

mempertahankan volume paru.


Selain breathing exercises, terdapat pula latihan sasaran khusus seperti
ADL, muscle re-education.
2. Latihan mobilitas sendi (ROM exercise):
- Pasif: bila kekuatan otot 0 (poor) atau 1 (trace)
- Active assistive: bila kekuatan otot 2 (poor)
- Active: bila kekuatan otot 3 (fair) ke atas
- Active resistive: bila kekuatan otot 4 ke atastermasuk latihan strengthening.
3. Latihan peregangan (Stretching)
4. Latihan penguatan (strengthening):
Syarat: bila kekuatan otot 3 ke atas, dan beban yang digunakan diatas 35%
-

kemampuan otot
Isometrik/statik: kontraksi otot tanpa gerak sendi
20

Isotonik: kontraksi otor bersamaan dengan gerak sendi (konsentrik/memendek dan

eksentrik/memanjang)
Isokinetik: prinsip gabungan isometrik dan isokinetik (perlu alat khusus yg dapat

mengatur beban secara dinamik namun kec gerak tetap/statik


5. Latihan daya tahan (endurance):
Biasanya menggunakan beban rendah, frekuensi tinggi, waktu panjang
6. Latihan koordinasi:
-Koordinasi jalan: parkinson, atalgic gait, hemiplegi
-Koordinasi tangan: menulis , main piano, pekerjaan lain (motorik kasar).
7. Positioning
Positioning yaitu perubahan posisi anggota gerak badan yang sakit. Untuk
mengurangi oedema pada tungkai, maka tungkai dielevasikan dengan cara di
ganjal bantal setinggi 30 - 450. Selama pasien sadar, dosisnya adalah satu jam
tungkai dielevasikan dan satu jam tungkai dikembalikan ke posisi semula.
8. Static contraction
Static contraction merupakan suatu terapi latihan dengan

cara

mengontraksikan otot tanpa disertai perubahan panjang otot maupun pergerakan


sendi (Kisner, 1996). Tujuan static contraction adalah memperlancar sirkulasi
darah sehingga dapat membantu mengurangi oedem dan nyeri serta menjaga
kekuatan otot agar tidak terjadi atrofi.
9. Passive exercise
Passive exercise merupakan suatu gerakan yang dihasilkan dari kekuatan
luar dan bukan merupakan kontraksi otot yang disadari. Kekuatan luar tersebut
dapat berasal dari gravitasi, mesin, individu atau bagian tubuh lain dari individu
itu

sendiri

(Kisner, 1996).

Gerakan

ini

terbagi

menjadi

gerakan:

a. Relaxed passive exercise


Relaxed passive exercise merupakan gerakan murni yang berasal dari
terapis tanpa disertai gerakan dari anggota tubuh pasien. Tujuan dari gerakan ini
untuk melatih otot secara pasif, sehingga diharapkan otot menjadi rileks dan dapat
mengurangi nyeri akibat incisi serta mencegah terjadinya keterbatasan gerak dan
elastisitas otot (Kisner, 1996).
b. Force passive exercise
Force passive exercise gerakan berasal dari terapis atau luar dimana pada
akhir gerakan diberikan penekanan. Tujuan gerakan ini untuk mencegah
terjadinya kontraktur dan menambah luas gerak sendi serta untuk mencegah
timbulnya perlengketan jaringan (Kisner, 1996).

21

10. Active exercise


Active exercise merupakan gerakan yang dilakukan karena adanya
kekuatan otot dan anggota tubuh sendiri tanpa bantuan, gerakan yang dihasilkan
oleh kontraksi dengan melawan gravitasi (Basmajian, 1978). Tujuan active
exercise (1) memelihara dan meningkatkan kekuatan otot, (2) mengurangi
bengkak disekitar fraktur, (3) mengembalikan koordinasi dan ketrampilan motorik
untuk aktivitas fungsional (Kisner, 1996).
Active Movement terdiri dari :
a. Free Active Movement
Gerakan dilakukan sendiri oleh pasien, hal ini dapat meningkatkan sirkulasi
darah sehingga oedem akan berkurang, jika oedem berkurang maka nyeri juga
dapat berkurang. Gerakan ini dapat menjaga lingkup gerak sendi dan memelihara
kekuatan otot.
b. Assisted Active Movement
Gerakan ini berasal dari pasien sendiri, sedangkan terapis memfasilitasi
gerakan dengan alat bantu, seperti sling, papan licin ataupun tangan terapis
sendiri. Latihan ini dapat mengurangi nyeri karena merangsang relaksasi
propioseptif.
c. Ressisted Active Movement
Ressisted Active Movement merupakan gerakan yang dilakukan oleh pasien
sendiri, namun ada penahanan saat otot berkontraksi. Tahanan yang diberikan
bertahap mulai dari minimal sampai maksimal. Latihan ini dapat meningkatkan
kekuatan otot.
11. Hold Relax
Hold Relax adalah teknik latihan gerak yang mengkontraksikan otot
kelompok antagonis secara isometris dan diikuti relaksasi otot tersebut. Kemudian
dilakukan penguluran otot antagonis tersebut. Teknik ini digunakan untuk
meningkatkan lingkup gerak sendi ( Kisner,1996).
12. Mobilisasi
Latihan jalan merupakan aspek terpenting pada penderita sehingga mereka
dapat kembali melakukan aktifitasnya seperti semula. Latihan ini dilakukan secara
bertahap. Dimulai dari aktivitas di tempat tidur seperti bergeser (bridging),
bangun, duduk dengan kaki terjuntai ke bawah (high sitting) kemudian latihan
berdiri, ambulasi berupa jalan dengan menggunakan walker kemudian
ditingkatkan dengan menggunakan kruk (tergantung kondisi umum pasien).

22

13. Latihan berjalan


Latihan berjalan secara Non Weight Bearing (NWB) dengan menggunakan
metode three point gait pada hari ke 3 atau sesuai kemampuan pasien kemudian
ditingkatkan dengan cara Partial Weight Bearing (PWB) jika pada pasien tersebut
sudah terjadi pembentukan callus atau kurang lebih 3 minggu (Gartland, 1974).
Dosis awal latihan 30% menumpu berat badan dan kemudian ditingkatkan
menjadi 80% menumpu berat badan, lalu ditingkatkan lagi dengan latihan Full
Weight Bearing. Tujuan dari latihan ini agar pasien dapat melakukan ambulasi
secara mandiri walaupun masih dengan bantuan alat.
14. Edukasi
Edukasi yang perlu diberikan pada pasien yaitu home program yang dapat
dilakukan di bangsal maupun di rumah, seperti (1) melakukan aktivitas sendiri
atau dengan bantuan orang lain untuk berlatih seperti yang telah diajarkan, (2)
untuk mengurangi bengkak pasien dianjurkan mengganjal tungkai yang sakit
dengan guling saat pasien tidur terlentang, (3) kurang lebih selama 2 minggu atau
lebih setelah post operasi pasien dianjurkan untuk tidak menumpu dengan kaki
yang sakit sampai terjadi penyambungan callus.
H. Modalitas Terapi
Modalitas yang menggunakan energi untuk efek terapi nya sering
diresepkan pada bagian terapi fisik dan rehabilitasi. Yang termasuk diantaranya
adalah : termoterapi ( panas dan dingin), hidroterapi, elektroterapi, terapi cahaya
(radiasi ultraviolet, laser), manipulasi, mobilisasi, traksi, massage, akupuntur,
terapi magnet dan terapi gelombang-kejut ekstrakorporeal (Tan C.J, 2006)
1.Terapi Panas
Respon fisiologi jaringan terhadap panas tergantung pada intesitas panas
yang diaplikasikan ( nilai terapeutik nya berkisar antara 40 0-450 C), lama
pemaparan panas ( nilai terapeutiknya berkisar antara 3 sampai 30 menit ),
ukuran/volume area yang dipanaskan, dan laju peningkatan panas yang timbul
pada jaringan. Terapi panas menyebabkan vasodilatasi . Pada fase subakut atau
kronil basodilatasi dapat membantu menghilangkan infiltrasi sel infalmasi dan
eksudasi dan memajukan penyembuhan jaringan dengan meningkatkan suplai
nutrisi pada area yang dipanaskan.

23

Aplikasi terapi panas umumnya digunakan untuk penghilang nyeri,


mengurangi spasme otot, mengurangi kekakuan sendi dan meningkatkan lingkup
gerak sendi. Kontraindikasi terapi hangat secara umum adalah inflamasi akut,
trauma, perdarahan, penyakit pembekuan darah ( contoh : hemofilia ), kulit yang
kehilangan sensasi pada trauma tulang belakang komplit, area keganasan, area
iskemik, edema, luka terbuka dan lesi kulit yang terinfeksi.
Metode dari penyampaian panas dapat dengan konduksi, konveksi dan
konversi.
a.Agen Pemanas Superfisial
-

Hot moist pack / hydrocollator pack


Paraffin
Fluidotheraphy
Lampu infrared
b.Agen Pemanas Dalam

Ultrasound
Ultrasound diabsorbsi oleh kulit dan diubah menjadi panas.
Digunakan pada kontraktur sendi, keloid, tenditis, bursitis, myositis
ossificans, spasme otot skeletal, nyeri muskuloskeletal, nyeri neuralgik
postherpetik. Harus digunakan secara hati-hati pada adanya implan metal (

contoh : screws, palate ).


Short-wave Diathermy
Indikasi klinis meliputi spasme otot, kontraktur otot dan sendi dan
tendinitis atau bursitis. Kontraindikasi pemakaian alat ini antara lain
adanya penggunaan perhiasan, pacemaker, stimulator serebelum, implan

operasi, kontak lensa, menstruasi dan wanita hamil.


Microwave Diathermy
Sama seperti Short-wave Diathermy ini meningkatkan tempertaur
pada jaringan lemak subkutan sapai dengan 10-12 0 . Ini diaplikasikan
selama 15-30 menit dan ini digunakan untuk memanaskan sendi dan otot
yang superfisial.
2.Terapi Dingin
Efek fisiologi dari terapi dingin meliputi vasokonstriksi lokal,
vasokonstriksi lokal ( melalui mekanisme reflek ) dan penurunan laju
metabolisme dan pelepasan agen vasoaktif ( contoh : histamin ).
24

Penggunaannya secara umum meliputi untuk menghilangkan nyeri


dan spasme otot dan mengontrol edema dan inflamasi pada fase akut.
Kontraindikasi terapi dingin meliputi sensitif terhadap dingin ( contoh :
fenomena raynaud) , area iskemik pada pasien dengan penyakit vaskular
perifer), kulit yang kehilangan sensasi.
Berdasarkan ukuran area yang harus didinginkan, satu dari metode
berikut dari terapi dingin dapat digunakan :
-

Massase es
Kompres es
Imersi
Vapocoolant spray
3.Hidroterapi
Hidroterapi adalah penggunaan eksternal air untuk mengobati
disfungsi fisik. Indikasi dari hidroterapi adalah pengobatan luka dan luka
bakarm mobilisasi sendi setelah pelepasan cast dan rheumatoid arthritis,
dan spasme otot. Walaupun memiliki kontraindikasi yang sama terhadap
terapi panas dan dingin, hidroterapi juga dikontraindikasikan pada pasien
dengan inkontinensia urinari ( kecuali dikaterisasi ), inkontinensia usus,
kolostomi, luka terbuka ( kecuali luka kecil atau telah dibalut untuk kedap
air ).
Macam-macam hidroterapi adalah kolam air, Whirlpool, Hubbard
tank dan contrast bath.
4.Electrotheraphy
Adalah terapi yang menggunakan listrik secara transkutan untuk
menstimulasi saraf atau otot dengan menggunakan permukaan elektroda.
Efek fisiologinya meliputi kontraksi sekelompok otot sehingga dapat
meningkatkan lingkup gerak sendi, atrofi otot, dan meningkatkan kekuatan
otot, meningkatkan sirkulasi dengan mengurangi nyeri dan spasme otot
melalui efek pompa otot dan pelepasan polipeptida dan serotonin.
Indikasi klinis meliputi manajemen nyeri ( nyeri muskuloskeletal
akut dan kronik ), nyeri neurogenik kronik, nyeri sistemik), efusi sendi
atau edema intertisial ( akut dan kronik). Kontraindikasinya secara umum

25

adalag gangguan sirkulasi ( contoh : thrombosis vena atau arteri dan


tromboflebitis ),. Pengobatan tiap sesinya bervariasi, dapat 1-5 menit per
poin

trigger

pada

pengobatan

monopolar

dari

nyeri

kronik

muskuloskeletal; 10-30 menit untuk nyeri akut dan gangguan sirkulasi; 3060 menit pada ulkus kulit dan luka; 2-4 jam untuk mengontrol edema.
Elektroterapi dapat diklasifikasikan menjadi bermacam-macam
jenisnya. Berdasarkan jenis stimulasinya, macam-macam terapi listrik
yang dapat digunakan antara lain:
- Low intensity stimulator
- Trancutaneus electrical nerve stimulation (TENS)
- Percutaneus neuromodulation theraphy (PNT)
- Neuromuscular electrical stimulator (NMES)
- Trancranial electrical stimulation (TCES)
- Electroceutical theraphy
I. Program Rehabilitasi Medik
FASE PERTAMA
1. Hari pertama sampai dengan 1 minggu setelah cedera
Stabilitas dari area fraktur : Tidak ada
Fase penyembuhan tulang : Fase inflamatori.
X-ray : tidak ada kalus
Pemeriksaan Fisik :
Pada tahap ini yang harus diperhatikan pada pemeriksaan fisik
antara lain :
a. Evaluasi adanya ketidaknyamanan atau penurunan sensasi setelah
cast atau bandage dilepas.
b. Perika waktu pengisian kapiler dan edema dengan mengelevasi
tungkai yang terkena jika diperlukan.
c. Alignment dari tungkai harus dievaluasi secara klinis dengan
membandingkan dengan kaki yang normal.
Tatalaksana pada bagian Rehabilitasi Medik antara lain :
a) Hindari gerakan rotasi dengan kaki menginjak lantai
b) Range of Motion : Mulailah active range of motion atau activeassisted ROM exercices pada lutut dan pergelangan kaki jika tidak
di cast.

26

c) Kekuatan Otot : Latihan isometrik pada otot quadriceps, tibialis


dan gastroc-soleus
d) Aktivitas Fungsional : ambulasi non-weight bearing dengan alat
bantu jalan ( Hoppenfeld S. And Murthy L.V, 2000).
2. 2 minggu setelah cedera
Pemeriksaan Fisik :
Pada tahap ini yang harus diperhatikan pada pemeriksaan fisik
antara lain :
a) Pembengkakan dan fungsi neurovaskular pada kaki harus
dievalusai.
b) Insisi atau luka bekas operasi
c) Semua sendi yang tidak diimmobilisasi harus diperiksa untuk
lingkup gerak pasif dan aktif nya
d) Dorso fleksi aktif dari pergelangan kaki harus dilakukan untuk
mecegah deformitas equinus
e) Edema pada bagian distal fraktur dapat ditangani dengan
mengelevasi ekstremitas.
Pada tahap ini nyeri dan bengkak juga seharusnya telah berkurang.
Gerakan aktif dari lutut dan pergelangan kaki harus dapat dilakukan dan
pasien seharusnya tidak mempunyai masalah pada panggul. Pasien dapat
dianjurkan untuk menulis alfabet menggunakan kaki sehingga pergelangan
kaki dan kaki dapat bergerak kesemua bidang.
Lanjutkan latihan isometrik untuk quadricep dengan latihan
isotonik dan isometrik untuk pergelangan kaki/ Otot gastrocnemius
berperan sebagai popma vaskular, mencegah adanya penumpukan darah
pada kaki. Ini penting untuk mencegah tromboflebitis dan trombosis vena
dalam pada kaki. Lanjutkan ambulasi menggunakan alat bantu jalan
berupa walker atau kruk.
Tatalaksana pada bagian Rehabilitasi Medik, antara lain :
a) Hindari gerakan rotasi dengan kaki menginjak lantai
b) Range of Motion : Active range of motion pada lutut dan pergelangan
kaki jika tidak di cast.
c) Kekuatan Otot : Latihan isometrik pada otot quadriceps, tibialis dan
gastroc-soleus
d) Aktivitas Fungsional : ambulasi non-weight bearing dengan alat bantu
jalan ( Hoppenfeld S. And Murthy L.V, 2000).
27

3. 4 sampai dengan 6 minggu setelah cedera


Pada tahap ini pasien seharusnya memiliki lingkup gerak sendi lutut
dan pergelangan kaki yang lengkap tanpa adanya ketidaknyamanan.
Tatalaksana pada bagian Rehabilitasi Medik, antara lain :
a) Hindari gerakan rotasi dengan kaki menginjak lantai
b) Range of Motion : Active range of motion pada lutut dan pergelangan
kaki jika tidak di cast.
c) Kekuatan Otot : Latihan isometrik dan isotonik pada lutut dan
pergelangan kaki
d) Aktivitas Fungsional : ambulasi non-weight bearing dengan alat bantu
jalan ( Hoppenfeld S. And Murthy L.V, 2000).
FASE KEDUA
1. 8 sampai dengan 12 minggu
Pada tahap ini area fraktur mulai stabil. Merupakan fase
remodelling awal dimana pada pemeriksaan radiografi seharusnya telah
terlihat kalus pada permukaan posterolateral dari tibia. Garis fraktur
seharusnya sudah mulai menghilang.
Program rehabilitasi medik yang dilakukan sama dengan
sebelumnya. Hanya pada tahap ini dimulai weight bearing yang lebih
progresif ( jika pada hasil radiografi menunjukkan fiksasi fraktur yang
telah stabil ) ( Hoppenfeld S. And Murthy L.V, 2000).
FASE KETIGA ( 3 sampai 6 bulan )
Pada tahap ini aktivitas fungsional menggunakan weight bearing secara
bertahap sampai dengan full-weight bearing pada bulan ke 6 dan menurunkan
ketergantungan ambulasi memakai alat bantu jalan dari 2 kruk ( tongkat ketiak )
menjadi 1 kruk disisi yang sehat kemudian tanpa alat bantu jalan. ( Akin K. et
al,1996 )
FASE KEEMPAT ( >6 bulan )
Aktivitas fungsional normal yang biasa dilakukan sehari-hari telah
diperbolehkan. Namun, olahraga tidak direkomendasikan untuk dilakukan selama
satu tahun ( Akin K. et al,1996 ).

28

DAFTAR PUSTAKA
Hoppenfeld S., Murthy L.V, 2000; Treatment and Rehabilitation of Fractures;
Lippincott Williams & Wilkins, Philadelpia.
Akin K.et al,1996; Clinical Orthopaedic Rehabilitation; Mosby-Year Book
Inc,United States of America.
Tan C.J, 2006; Practical Manual of Physical Medicine and Rehabilitation; Elsevier
Inc, China.
Adams, C. J, 1992; Outline of Fracture Including Joint Injuries; Tenth edition,
Churchill Livingstone.
Appley, G. A and Solomon, Louis, 1995; Orthopedi dan Fraktur Sistem Appley;
Edisi ketujuh, Widya Medika, Jakarta.
Basmaijan, John, 1978; Theraupetic Exercise; Third edition, The William and
Wilknis Baltimore, London.
Daniels and Wortinghams, 1995; Muscle Testing; Sixth edition, W. B Saunders
Company, USA.
Data RSO Dr. Soeharso Surakarta, 2005; Jurnal Penderita Fraktur Cruris; RSO Dr.
Soeharso Surakarta.
Garrison, S. J, 1996; Dasar-dasar Terapi Latihan dan Rehabilitasi Fisik;
Terjemahan Hipocrates, Jakarta.

29

Gartland, John, 1974; Fundamental of Orthopedics; Second edition, W. B. Sanders


Company, Philadelpia.
Kapandji, I. A, 1987; The Physiologi of the Joint; 2nd edition, Churchill
Livingstone, Edinburg, London, and New York

30