Anda di halaman 1dari 16

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu merupakan salah satu
metode penyuluhan yang memadukan teori dan pengalaman petani dalam
melakukan kegiatan usaha tani. Konsep ini dilandasi oleh kesadaran petani akan
arti pentingnya tuntutan ekologis dan pemanfaatan sumber daya manusia dalam
pengendalian hama. Pada prinsipnya, pengendalian hama terpadu (PHT) berusaha
untuk bekerja sama dengan alam, bukan melawanya. Seda ngkan aktifitas
kelompok tani menggambarkan,

bagaimana petani

dalam kelompoknya

merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat teknis, social


maupun ekonomi secara bersama (Halid, 2013).
Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) adalah sekolah
yang diselenggarakan di lapangan. "Sekolah Lapangan" tersebut, seperti sekolah
pada umumnya, juga mempunyai kurikulum, sistem evaluasi belajar dan
dilengkapi dengan sertifikat kelulusan. Pada SLPHT tidak ada istilah murid dan
guru, tetapi istilahnya adalah peserta dan pemandu lapangan, karena dalam proses
belajarnya peserta dipandu untuk mengetahui, memahami, dan menerapkan PHT
sendiri. SLPHT diikuti oleh 20 - 25 petani peserta yang belajar PHT bersama
dengan satu atau dua Pemandu Lapangan. Tempat belajar utama SLPHT adalah
lahan pertanian (Afifah, 2009).
ciri-ciri SLPHT Petani dan pemandu adalah warga belajar yang saling
menghormati, Perencanaan bersama oleh kelompok petani peserta, Keputusan
ditetapkan secara bersama oleh anggota kelompok petani peserta, Cara belajar
melalui pengalaman/pendekatan pendidikan orang dewasa, Peserta melakukan
sendiri, mengalami sendiri dan menentukan sendiri, Materi belajar dan praktek
terpadu dilapangan, Lahan belajar adalah lahan usaha tani (agroekosistem),

Belajar secara utuh selama satu siklus perkembangan tanaman, Kurikulum yang
rinci dan terpadu, Sarana serta bahan mudah dan praktis, serba guna, dan mudah
diperoleh dari lapangan, Demokratis, kebersamaan, keselarasan, partisipatif, dan
tanggung jawab (Barus, 2007).
Program SLPHT mempunyai tujuan umum agar petani peserta dan
pemandu lapangan dapat memasyarakatkan PHT, sehingga SLPHT yang pada
mulanya bersifat lokal, akan terus hidup dan berkembang, dengan dukungan
petugas POPT, penyuluh dan aparat pemerintahan setempat. Pemahaman dan
penerapan PHT yang semakin meluas diharapkan dapat meningkatkan kuantitas
dan kualitas produksi pertanian, serta dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan
agroekosistem dan kenyamanan lingkungan hidup (Ekawati dkk., 2010).
Ulat grayak (Spodoptera litura) merupakan salah satu jenis hama
terpenting yang menyerang tanaman palawija dan sayuran di Indonesia. Hama ini
sering mengakibatkan penurunan produktivitas bahkan kegagalan panen karena
menyebabkan daun dan buah sayuran menjadi sobek, terpotong - potong dan
berlubang. Bila tidak segera diatasi maka daun atau buah tanaman

di areal

pertanian akan habis. Serangan hama pengganggu tanaman yang tidak terkendali
akan menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi para petani (Diana, 2011).
Spodoptera litura merupakan salah satu jenis hama penting yang merusak
daun kedelai dibandingkan dengan hama perusak daun lainnya (Adie et al., 2012).
Kehilangan hasil akibat serangan hama S. litura dapat mencapai 80%, bahkan
puso jika tidak dikendalikan (Marwoto & Suharsono, 2008). Tingkat kehilangan
hasil tergantung pada varietas yang digunakan, fase pertumbuhan, dan waktu
serangan (Adie et al., 2012). S. litura dikenal sebagai hama bersifat polifag dan
serangga migrasi yang menimbulkan kerusakan serius pada pertanaman kedelai
(Hendrival dkk., 2013).

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui informasi mengenai
Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu di Kecamatan Sei Balai Kabupaten
Batubara pada Tanaman Kedelai (Glycine Max L. Merill.).
Kegunaan Penulisan
- Sebagai salah satu syarat untuk dapat memenuhi komponen penilaian di
Laboratorium Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu Program Studi
-

Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.


Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Farida (2008), klasifikasi tanaman kedelai adalah sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Kelas
: Dicotyledoneae
Ordo
: Leguminoceae
Famili
: Leguminales
Genus
: Glycine
Spesies
: Glycine max L.
Kedelai berakar tunggang. Pada tanah gembur akar kedelai dapat sampai
kedalaman 150 cm. Pada akarnya terdapat bintil-bintil akar, berupa koloni dari
bakteri Rhizobium japonikum. Pada tanah yang telah mengandung bakteri
Rhizobium, bintil akar mulai terbentuk sekitar 15-20 hari setelah tanam. Pada
tanah yang belum pernah ditanami kedelai bakteri Rhizobium tidak terdapat
dalam tanah, sehingga bintil akar tidak terbentuk (Suprapto, 2001).
Kedelai adalah tanaman setahun yang tumbuh tegak (tinggi 70-150 cm),
menyemak, berbulu halus (pubescens), dengan sistem perakaran luas. Tanaman ini

umumnya dapat beradaptasi terhadap berbagai jenis tanah dan menyukai tanah
yang bertekstur ringan hingga sedang dan berdrainase baik. Tanaman ini peka
terhadap kondisi salin (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Umumnya bentuk daun kedelai ada dua, yaitu bulat dan lancip. Daun
mempunyai stomata, berjumlah antara 190-320 buah/m2. Daun mempunyai bulu
dengan warna cerah dan jumlahnya bervariasi. Panjang bulu bias mencapai 1 mm
dan lebar 0,0025 mm. Kepadatan bulu bervariasi, tergantung varietas, tetapi
biasanya antara 3-20 buah/mm2 (Adisarwanto, 2005).
Perilaku pembungaan berbeda-beda, mulai dari tidak terbatas hingga
sangat terbatas. Saat berbunga sangat bergantung pada kultivar dan dapat beragam
dari 80 hari hingga mencapai 150 hari setelah tanam. Bunga berwarna putih, ungu
pucat atau ungu dapat menyerbuk sendiri. Polongnya yang berkembang dalam
kelompok, biasanya mengandung 2-3 biji yang berbentuk bundar atau pipih dan
sangat kaya akan protein dan minyak (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Buah kedelai berbentuk polong, setiap buah berisi 1-4 biji. Rata-rata berisi
2 biji. Polong kedelai mempunyai bulu, berwarna kuning kecokelatan atau abuabu. Polong yang sudah masak berwarna lebih tua, warna hijau berubah menjadi
kehitaman, keputihan, atau kecoklatan. Bila polong telah kuning mudah pecah dan
biji-bijinya melenting keluar (Suprapto, 2001).
Di dalam polong terdapat biji yang berjumlah 2-3 biji. Setiap biji kedelai
mempunyai ukuran bervariasi, mulai dari kecil (sekitar 7-9 g/100 biji), sedang
(10-13 g / 100 biji), dan besar (> 13 g/100 biji). Bentuk biji bervariasi, tergantung
pada varietas tanaman, yaitu bulat, agak gepeng, dan bulat telur. Namun demikian,
sebagian besar biji berbentuk bulat telur (Adisarwanto, 2005).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman kedelai dapat tumbuh pada kondisi suhu yang beragam. Suhu
uadara yang optimal dalam proses perkecambahan yaitu 30 0C. Suhu lingkungan

optimal untuk pembentukan bunga yaitu 24-25 0C (Rubatzky dan Yamaguchi,


1998).
Kedelai dapat tumbuh subur pada : curah hujan optimal 100-200
mm/bulan. Temperatur 25-27 derajat Celcius dengan penyinaran penuh minimal
10 jam/hari. Tinggi tempat dari permukaan laut 0-900 m, dengan ketinggian
optimal sekitar 600 m (Suprapto, 2001).
Pertumbuhan optimum tercapai pada suhu 20-250C. Suhu 12-200C adalah
suhu yang sesuai bagi sebagian besar proses pertumbuhan tanaman, tetapi dapat
menunda proses perkecambahan benih dan pemunculan kecambah, serta
pembungaan dan pertumbuhan biji (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Tanah
Toleransi keasaman tanah (pH) tanah bagi kedelai adalah 5,8-7,0. Namun,
pada pH 4,5 kedelai dapat tumbuh. Pada pH kurang dari 5,5 pertumbuhannya
sangat terhambat karena keracunan alumunium. Pertumbuhan bakteri bintil dan
proses nitrifikasi akan berjalan kurang baik. (Purwono dan Purnamawati, 2008).
Tanaman kedelai dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan drainase
dan aerasi tanah yang cukup baik serta air yang cukup selama pertumbuhan
tanaman. Pada tanah yang kurang subur (miskin unsur hara) dan jenis tanah
podsolik

merah-kuning,

perlu

diberi

pupuk

organik

dan

pengapuran

(Suprapto, 2001).
Pada tanah podsolik merah kuning dan tanah yang banyak mengandung
pasir kwarsa, pertumbuhan kedelai kurang baik, kecuali jika tanah diberi
tambahan pupuk organik dalam jumlah cukup. Tanaman kedelai dapat tumbuh
baik

pada

tanah

alluvial,

regosol,

grumosol,

latosol

atau

andosol

(Purwono dan Purnamawati, 2008)


Hama Ulat Gerayak (Ettiela zinchenella)
Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian dasar melekat pada daun
(kadangkadang tersusun dua lapis), berwarna coklat kekuningan, diletakkan

berkelompok masing-masing 25-500 butir. Telur diletakkan pada bagian daun atau
bagian tanaman lainnya, baik pada tanaman inang maupun bukan inang. Bentuk
telur bervariasi. Kelompok telur tertutup bulu seperti beludru yang berasal dari
bulu-bulu tubuh bagian ujung ngengat betina, berwarna kuning keemasan
(Jauharlina, 1999). Diameter telur 0,3 mm sedangkan lama stadia telur berkisarn
antara 3-4 hari (Cahyono, 2003).
Larva S. litura yang baru keluar memiliki panjang tubuh 2 mm. Ciri khas
larva S. litura adalah terdapat 2 buah bintik hitam berbentuk bulan sabit pada tiap
ruas abdomen terutama ruas ke-4 dan ke-10 yang dibatasi oleh garis-garis lateral
dan dorsal berwarna kuning yang membujur sepanjang badan (Arifin, 1992).
Lama stadium larva 18-33 hari (Kalshoven, 1981). Sebelum telur menetas, larva
yang baru keluar dari telur tidak segera meninggalkan kelompoknya tetapi tetap
berkelompok (Indrayani, et, al 1990). Pada stadium larva terdiri dari enam instar
dan berlangsung selama 13-17 hari dengan rerata 14 hari (Susilo dkk., 1996).
Menjelang masa prepupa, larva membentuk jalinan benang untuk
melindungi diri dari pada masa pupa. Masa prepupa merupakan stadium larva
berhenti makan dan tidak aktif bergerak yang dicirikan dengan pemendekan tubuh
larva. Panjang prepupa 1,4-1,9 cm dengan rerata 1,68 cm dan lebarnya 3,5-4 mm
dengan rerata 3,7 mm. Masa prepupa berkisar antara 1-2 hari (Mardiningsih,
1993). Pupa S.litura berwarna merah gelap dengan panjang 15-20 mm dan
bentuknya meruncing ke ujung dan tumpul pada bagian kepala (Mardiningsih dan
Barriyah, 1995). Pupa terbentuk di dalam rongga-rongga tanah di dekat
permukaan tanah (Arifin, 1992). Masa pupa di dalam tanah berlangsung 12-16
hari (Pracaya,2011).

Imago (ngengat) muncul pada sore hari dan malam hari. Pada pagi hari,
serangga jantan biasanya terbang di atas tanaman, sedangkan serangga betina
diam pada tanaman sambil melepaskan feromon. Perkembangan dari telur sampai
imago berlangsung selama 35 hari. Faktor density dependent (bertautan padat)
yaitu faktor penghambat laju populasi hama ini adalah sifatnya yang kanibal.
Sedangkan populasi telur dan larva instar muda dapat tertekan oleh curah hujan
yang tinggi, kelembaban yang tinggi yang mana membuat larva mudah terserang
jamur. Musim kering dapat berpengaruh pada tanah dalam menghambat
perkembangan pupa (Cahyono, 2003).
Gejala Serangan
Gejala kerusakan pada tanaman yang diserangnya beragam tergantung
pada tingkat perkembangan ulat. Larva yang masih kecil merusak daun dengan
meninggalkan sisa sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang
tulang daun saja Larva instar lanjut merusak tulang daundan kadang menyerang
buah. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, menyerang secara
serentak berkelompok. Gejala serangan pada buah ditandai dengan timbulnya
lubang tidak beraturan pada buah. Serangan berat menyebabkan tanaman gundul
karena daun dan buah habis dimakan ulat, umumnya terjadi pada musim kemarau.
Tanaman inang lain Hama ini bersifat polifag, tanaman lain yang diserang antara
lain tanaman sayuran seperti (bawang merah, kentang, kubis, tomat, buncis,
terung, kangkung, bayam, kacang kacangan), buah buahan (jeruk, pisang,
strawberi, dan apel), padi, jagung, tebu, tembakau, tanaman hias (Marwoto, 1996).
Apabila disekitar tanaman sawi banyak kupu-kupu beterbangan pada
malam hari dengan ciri-ciri berwarna agak gelap dengan garis agak putih pada

sayap depan, berarti itulah serangga dewasa dari ulat grayak. Kupu-kupu ini akan
meletakkan telur secara berkelompok di atas daun atau tanaman dan ditutup
dengan bulu-bulu. Jumlah telurnya bisa mencapai 500 butir per betina. Telur-telur
tersebut kemudian akan menetas menjadi ulat /larva, mula-mula hidup
berkelompok

dan

setelah

dewasa

kemudian

menyebar

(Badan Pusat Statistik, 1994).


Salah satu ciri khas yang bisa menjadi penanda dari larva / ulat grayak ini
adalah terdapat bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris-garis
kekuningan pada sisinya. perkembangan selanjutnya larva akan berubah menjadi
pupa / kepompong yang biasanya dibentuk di bawah permukaan tanah. Daur
hidup dari telur menjadi kupu-kupu berkisar antara 30 - 61 hari. Stadium yang
paling membahayakan dari hama Spodoptera litura F ini adalah saat ia berada
pada stadium larva / ulat. Membahayakan karena ulat grayak ini sangat rakus dan
menyerang bukan hanya tanaman cabe saja, ulat grayak termasuk ulat polifag
yang makan segala jenis tanaman (Cahyono, 1995).
Pengendalian
Agar tanaman tidak terserang, maka perlu dilakukan pencegahan yaitu
dengan melakukan sanitasi lahan dengan baik. Selain itu juga perlu dilakukan
dengan cara memasang perangkap kupu-kupu di beberapa tempat. Perangkap ini
dibuat dari botol-botol bekas air mineral yang diolesi dengan produk semacam
lem

yang

mengandung

hormon

sex

pemanggil

kupu-kupu

(Badan Pusat Statistik., 1994).


Pengendalian hama ulat grayak ini dapat dilakukan dengan berbagai cara
yaitu pengendalian dapat dimulai dengan membersihkan sekitar pertanaman
kedelai dari gulma sehingga tidak ada inang sementara bagi hama ini. Selanjutnya

dapat dilakukan pengendalian dengan memerangkap kupu-kupu jantannya dengan


sex pheromone. berkurangnya kupu-kupu jantan menyebabkan produksi telur
kupu-kupu betina juga akan berkurang, cara pengendalian ini akan effektif apabila
diterapkan sejak awal (Marwoto, 1996)
Pengendalian secara hayati ini tidak boleh digabung dengan pengendalian
secara kimia, karena hasilnya pasti tidak effektif bahkan bisa dikatakan mubazir
karena bahan-bahan kimia yang terkandung dalam insektisida tersebut dapat
mematikan agensia hayati tersebut (Marwoto, 1996).
Sesuai dengan kebiasaan ulat grayak yang aktif pada malam hari maka
penyemprotan insektisida ini harus dilakukan saat hari mulai gelap/malam. Siang
hari biasanya bersembunyi di bawah rerumputan, daun atau bahkan dibawah
mulsa atau di rongga-rongga tanah yang terlindung dari sinar matahari.
Penyemprotan insektisida ini effektif pada saat ulat grayak masih "muda" , jika
sudah "tua" dengan warna lebih gelap akan susah untuk dikendalikan.
Ambang ekonomi populasi Ulat grayak adalah populasi hama pada pertanaman 58
ekor instar 1 atau 32 ekor instar 2 atau 17 ekor instar 3 per 12 tanaman
(Marwoto, 1996).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil

10

Pembahasan
Dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa sekolah lapang
pengelolaan hama terpadu ialah suatu kegiatan bangku luar sekolah yang diikuti
oleh para apetani dengan berlaskan sawah dan lading yang dimiliki oleh petani
dengan tujuan pengelolaan lahan pertanian yang dimiliki lebih meningkat, baik
dilihat dari skala financial, produksi dan kualitas yang dimiliki. Hal ini sesuai
dengan literatur Halid (2013) yang menyatakan bahwa Sekolah Lapang
Pengendalian Hama Terpadu merupakan salah satu metode penyuluhan yang
memadukan teori dan pengalaman petani dalam melakukan kegiatan usaha tani.
Dari data yang telah diperoleh, maka dapat diketahui bahwa sekolah
lapang dilakukan di daerah kecamatan sei balai kabupaten batubara dengan nama
kelompok tani Mawar yang diketuai oleh Bapak Desmanto yang beranggotakan
23 orang petani setempat dengan rata-rata umur diatas 30 tahun. Kegiatan ini
dilakukan untuk mencapai terobosan hasil produksi yang meningkat dan kualitas
yang optimal.
Menurut Suhara (2012) Ambang Ekonoomi (AE) merupakan salah satu
unsur konsep PHT yang diantarnya adalah Pengendalian Alamiah yaitu
memahami faktor-faktor yang mempengaruhi populasi hama, AE (Ambang
Ekonomi) dan TKE (Tingkat Kerusakan Ekonomi) yaitu untuk mengetahui kapan
pengendalian dilakukan, Monitoring yaitu untuk mengamati secara berkala

11

populasi hama dan musuh alaminya dan biologi dan ekologi digunakan untuk
tanaman, musuh alami, dan hama. A.E/ Ambang pengendalian/ ambang toleransi
ekonomi merupakan satu ketetapan untuk pengambilan keputusan pengendalian
hama.
Dari pengertian ambang ekonomi di atas, dapat diketahui bahwa ambang
ekonomi untuk hama ulat gerayak yang terpenting adalah kehilangan hasil.
Beberapa peneliti menentukan kehilangan hasil panen kedelai dengan
membandingkan antara hasil panen tanaman sehat dan yang didefoliasi secara
buatan melalui pengguntingan daun. Metode tersebut mempunyai kelemahan
karena dinamika proses defoliasi oleh hama daun dan kemampuan tanaman
mengkompensasi kerusakan daun tidak diperhitungkan. Mengingat kelemahan
tersebut, maka kehilangan hasil panen oleh ulat grayak ditentukan dengan
membandingkan hasil panen antara tanaman sehat dan tanaman yang diinfestasi
serangga. Faktor yang diperhitungkan dalam menentukan kehilangan hasil panen,
antara lain tingkat populasi hama dan stadium pertumbuhan tanaman. Hal ini
sesuai dengan literatur Arifin dan Rizal (1989) yang menyatakan demikian.
Berdasarkan hasil dari pelaksanaan kegiatan ini, untuk kegiatan tindak
lanjut pasca pelaksanaan. Berdasarkan dari nilai test yang dilaksanakan, rata-rata
populasi kerusakan OPT ulat gerayak pada tanaman kedelai selama 10 kali
perlakuan PHT adalah 1,3 % dengan jumlah 6 ekor/rumpun. Dan ini sudah
melewati ambang ekonomi yang telah ditetapkan. Hal ini sesuai dengan literatur
Hendrival dkk (2013) yang menyatakan bahwa ulat gerayak adalah hama
terpenting sekaligus hama utama yang terdapat pada tanaman kedelai yang sangat
berpotensi menyerang tanaman inang, sehingga jika sudah berada di atas ambang

12

ekonomi harus dilakukan pengendalian untuk kemakmuran lingkungan, petani


dan ekologi setempat.
Dari data yang diperoleh, maka dapat dikeathui bahwa perlakuan petani
dalam menyelesaikan masalah OPT pada tanaman kedelai mereka adalah dengan
menggunakan bahan sintetik, namun hama yang diperoleh lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan PHT yang diterapkan oleh penyuluh, yaitu
mencapai 6,1 % dengan jumlah rata-rata 30 ekor/rumpun. Namun ini telah
dilakukan pengendalian untuk meminimalisir penggunaan pestisida sintetik dan
jumlah hama atau OPT yang dapat hinggap pada tanaman kedelai mereka.
Dari data yang ditunjukkan, maka dapat diketahui bahwa setelah diberi
perlakuan PHT oleh para petani tingkat serangan dan kerusakan yang ditimbulkan
OPT jauh lebih rendah dan berkurang dibandingkan dengan perlakuan petani yang
seperti biasa dilakukan, yaitu memakai pestisida. Hal ini disebabkan perlakuan
PHT lebih ramah lingkungan dan lebih mengutamakan musuh alami agar tetap
terjaga kelestariannya. Perlakuan PHT yang dilakukan untuk tingkat kerusakan
yang diakibatkan OPT menurun mencapai 1,3 % , sedangkan perlakuan petani
memncapai 6,1 %. Hal ini sesuai dengan literatur Hariani dkk (2010) yang
menyatakan bahwa pengendalian hama pada tanaman kedelai diarahkan pada
penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT)yaitu suatu pendekatan atau cara
pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi
ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan dan
berkelanjutan. Strategi PHT adalah menggunakan secara kompatibel semua teknik
atau metode pengendalian hama yang didasarkan pada asas ekologi dan ekonomi.

13

Untuk lebih meningkatkan kinerja penerapan teknologi PHT ditingkat


petani sangat disarankan adanya teknologi terobosan yang mampu menciptakan
pertumbuhan nilai ekonomi tanaman kedelai di tingkat petani. Pengembangan
agroindustri kedelai skala kecil sangat membantu mengingat peluang pasar
domestik masih berpeluang untuk dikembangkan lebih luas. Terobosan teknologi
industri skala kecil amat diperlukan terutama dialokasikan pada kelompok tani
kelompok tani yang telah merintis bisnis tersebut.
Dari data SLPHT yang telah dipaparkan, maka diperoleh penjelasan bahwa
setelah dilakukannya kegiatan SPLHT kepada petani yang bersangkutan di daerah
Kecamatan Sei Balai Kabupaten Batubara, biaya pengeluaran dan upah
pemeliharaan tanaman kedelai berkurang dan hemat dari sebelum pengaplikasian
PHT. Dan ini menjadi catatan untuk bisa mengaplikasikan konsep PHT ke
tanaman pangan, palawija, dan hortikultura ataupun tanaman lainnya utk bisa
memanfaatkan musuh alami dan menjaga lingkungan (ekologi) agar tetap terjaga.
Sehingga siklus kehidupan di alam tidak terganggu dan kualitas pangan semakin
optimal. Hal ini sesuai dengan litratur Suhartina (2005) yang menyatakan bahwa
pengelolaan ekosistem melalui usaha bercocok tanam yang bertujuan untuk
membuat lingkungan tanaman menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan
pembiakan hama, serta mendorong berfungsinya agensia pengendali hayati.

KESIMPULAN

14

1. Hama yang menyerang tanaman kedelai antara lain ulat polong, ulat gerayak,
lalat kacang, penyakit layu bakteri, dan busuk batang.
2. Manajemen pengendalain untuk hama kedelai dapat dilakukan dengan cara
PHT
3. Prinsip PHT salah satunya adalah menggunakan agen hayati sebagai
pengendalia hama pada tanaman kedelai.
4. Pengendalian hama pada tanaman kedelai dapat dilakukan dengan cara
pengaturan pola tanam, bercocok tanam dengan baik, penggunaan varietas
tahan, menggunakan musuh alami dan lain lain.
5. Penggunaan insiktisida digunakan apabila jumlah hama yang terdapat pada
tanamn kedelai sudah berada diatas ambang ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA
Adisarwanto T. 2005. Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.
Afifah L. 2009. Profil Balitkabi Dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada
Tanaman Kedelai. Skripsi. Departemen Proteksi Tanaman Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor
Badan Pusat Statistik. 1994. Survei Pertanian. Luas dan Intensitas Serangan Jasad
Peng ganggu Padi dan Palawija di Jawa. Badan Pusat Statistik, Jakarta.
Barus A. 2007. Skripsi. Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan Dan UmbiUmbian. Universitas Sumatera Utara, Medan.

15

Cahyono B. 1995. Cara Meningkatkan Budidaya Kubis. Yogyakarta: Yayasan


Pustaka Nusantara.
Diana A. 2011. Skripsi. Induksi Ketahanan Tanaman Kedelai Menggunakan Isolat
Bakteri Endofit Indigenus Untuk Pengendalian Penyakit Pustul Bakteri
(Xanthomonas Axonopodis Pv. Glycines). Universitas Andalas. Padang
Ekawati A., A. Nasruddin, Dan A. Nur. 2010. Skripsi. Penekanan Populasi Aphis
Glycines Oleh Cendawan Entomopatogen Pada Tanaman Kedelai Di
Greenhouse. Universitas Padjajaran. Bandung
Farida N. 2008. Tesis. Identifikasi Varietas Unggul Benih Kedelai Dengan
Analisa Cluster. Magister Fisika ITS. Surabaya

Halid Sunarti A. 2013. Deskripsi Tentang Pelaksanaan Sekolah Lapang


Pengendalian Hama Terpadu (Slpht) Di Desa Ilomangga Kecamatan
Tabongo Kabupaten Gorontalo. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas
Ilmu Pendidikan UNG.
Hendrival, Latifah, dan R. Hayu . 2013. Perkembangan Spodoptera Litura F.
(Lepidoptera: Noctuidae) Pada Kedelai. Program Studi Agroekoteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh.

Marwoto. 1996. Pengendalian hama daun kedelai dengan insektisida dan


feromonoid seks ulat grayak. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan
15(1): 2629.
Pracaya. 2011. Hama Dan Penyakit Tanaman.Penebar Swadaya. Depok.

Purwono dan H. Purnamawati. 2008. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul.


Penebar Swadaya, Jakarta.
Rubatzky V. E., dan M. Yamaguchi. 1998. Sayuran Dunia. Terjemahan oleh Catur
Herison. ITB-Press, Bandung
Suhara. 2012. Teknik Pengelolaan Hama. Jurusan Biologi Fmipa UPI.
Suprapto. 2011. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya : Jakarta.

16

Susilo A., D. Haryanto, dan S. Satriyo. 1996. Disertasi. Pengaruh bagian tanaman
mimba
(Azadiracta
indica)
terhadap
mortalitas
ulat grayak (Spodoptera litura F.).