Anda di halaman 1dari 20

BAGIAN I

KONSEP TEORITIS SKALA


A. Definisi Skala
Pengukuran merupakan proses kuantifikasi suatu atribut. Pengukuran yang
diharapkan akan menghasilkan data yang valid harus dilakukan secara sistematis.
Dibandingkan atribut pengukuran fisik, pengukuran atribut-atribut psikologi jauh
lebih sukar, bahkan mungkin tidak akan pernah dapat dilakukan dengan tingkat
validitas, reliabilitas, dan objektivitas yang sangat tinggi (Azwar, 2012).
Terdapat beberapa alasan pengukuran psikologis sangat sulit, antara lain :
1. Atribut psikologi bersifat latent, yang eksistensinya ada secara konseptual.
Artinya, objek pengukuran psikologis merupakan konstrak yang tidak dapat
teramati secara langsung.
2. Aitem-aitem yang ditulis berdasarkan indikator keperilakuan jumlahnya
terbatas sehingga hasil pengukuran psikologi menjadi tidak komprehensif.
3. Respon yang diberikan oleh subjek dipengaruhi oleh variabel yang tidak
relevan, seperti suasana hati subjek dan lainnya.
4. Atribut psikologi pada diri manusia mudah berubah.
5. Interpretasi terhadap hasil ukur psikologi hanya dapat dilakukan secara
normatif.
Salah satu alat ukur uyang digunakan untuk pengukuran psikologis adalah
skala.

Sebagai

alat

ukurm

skala

memiliki

karakteristik

khusus

yang

membedakannya dari berbagai bentuk instrumen pengumpulan data yang lain


seperti angket, inventori dan lain-lainnya. Istilah skala psikologi mengacu kepada
bentuk alat ukur atribut non-kognitif, khususnya yang disajikan dlam format tulis
(Azwar, 2012).
Karakteristik skala pikologi menurut Azwar yaitu sebagai berikut :
1. Stimulus atau aitem dalam skala psikologi berupa pertanyaan atau pernyataan
yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur melainkan
mengungkap indikator perilaku dari atribut melainkan mengungkap indicator
perilaku dari atribut yang bersangkutan. Meskipun subjek dapat dengan

mudah memahami isi aitemnya namun tidak mengetahui arah jawaban yang
dikehendaki oleh aitem diajukan sehingga jawaban yang diberikan subjek
akan banyak tergantung pada interprestasinya terhadap isi aitem. Karena itu
jawaban yang diberikan atau dipilih oleh subjek lebih bersifat proyeksi diri
dan perasaannya dan merupakan gambaran tipikal reaksinya.
2. Dikarenakan atribut psikologi diungkap secara tidak langsung lewat
indikator-indikator perilaku sedangkan indicator perilaku diterjemahkan
dalam bentuk aitem-aitem, maka skala psikologi selalu berisi banyak aitem.
Jawaban subjek terhadap satu aitem baru merupakan sebagaian dari banyak
indikasi mengenai atribut yang diukur, sedangkan kesimpulan akhir sebagai
suatu diagnosis diperoleh berdasar respon terhadap semua aitem.
3. Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagia jawaban benar atau salah.
Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sungguhsungguh. Skor yang diberikan hanyalah kuantitas yang mewakili indikasi
adanya atribut yang diukur.
B. Definisi Konseptual
Murray dan Fine (dalam Sarwono, 1988) mendefinisikan agresi sebagai
tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun secara verbal terhadap induvidu lain
atau terhadap objek-objek. Menurut Buss (dalam Morgan, 1989), perilaku agresi
adalah suatu perilaku yang dilakukan untuk menyakiti, mengancam atau
membahayakan individu-individu atau objek-objek yang menjadi sasaran perilaku
tersebut baik (secara fisik atau verbal) dan langsung atau tidak langsung.
Menurut Atkinson (1999), perilaku agresi adalah perilaku yang
dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak harta benda. Menurut Goble
(1987) agresi adalah suatu reaksi terhadap frustrasi atau ketidakmampuan
memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis dasar dan bukan naluri.
Berkowitz (1995) menyebutkan bahwa secara umum para ahli yang
menulis mengenai masalah agresi yang berorientasi penelitian mengartikan agresi

sebagai segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang


baik secara fisik maupun mental.
Agresi menurut Moore & Fine (dalam, Koeswara 1988) adalah tingkah
laku kekerasan secara fisik ataupun secara verbal terhadap individu lain atau
terhadap objek. Agresi secara fisik meliputi kekerasan yang dilakukan secara fisik,
seperti memukul, menampar, menendang dan lain sebagainya. Selain itu agresi
secara verbal adalah penggunaan kata-kata kasar seperti bodoh.

C. Definisi Oprasional
Perilaku agresi adalah suatu perilaku, kecenderungan atau stimulus yang
tidak menyenangkan atau merugikan, baik perilaku fisik maupun verbal, yang
dilakukan satu pihak kepada pihak lainnya dengan maksud menyakiti baik secara
fisik maupun psikologis dan dengan harapan bahwa perilaku atau tindakan
tersebut akan mencapai hasil yang diinginkan atau mempunyai tujuan.

D. Dimensi / Aspek
Buss dan Perry (1992), menggolongkan tindakan agresif ke dalam empat
golongan yang mana diadaptasi dari Buss dan Durkee, yakni :
1.
2.
3.
4.

Agresi fisik : kekerasan fisik dan termasuk perusakan properti.


Agresi verbal : berdebat, berteriak, menjerit, mengancam dan memaki.
Amarah (anger) : tempramental, mudah tersulut amarah.
Rasa permusuhan : pendendam, mudah cemburu, mudah curiga.

BAGIAN II
BLUEPRINT SKALA

A. Tabel Kisi-Kisi
Berikut ini merupakan tabel kisi-kisi skala perilaku agresif. Tabel kisi-kisi
berikut dilengkapi dengan bobot relatif masing-masing indikator keperilakuannya.
No

Aspek / Dimensi

Indikator

Jumlah

Soal
1. Agresi Fisik
1) Menyerang orang
8
2) Merusak barang
5
2. Agresi Verbal
3) Berkata kasar
4
4) Berteriak
4
5) Mengancam
4
6) Mengejek
4
7) Menyebarkan gosip
7
3. Rasa Marah
8) Balas dendam
4
9) Menentang
7
10) Mudah marah
6
4. Rasa Permusuhan
11) Iri hati
3
12) Ketidakpuasan
2
13) Prasangka buruk
2
Total
60
Tabel 1. Kisi-Kisi dan Bobot Relatif Skala Perilaku Agresif Tahap Awal.

Bobot
(%)
4,8 %
3%
2,4 %
2,4 %
2,4 %
2,4 %
4,2 %
2,4 %
4,2 %
3,6 %
1,8 %
1,2 %
1,2 %
100 %

B. Spesifikasi Skala
Penyusunan skala psikologi pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua
macam bentuk, yaitu bentuk pernyataan dan bentuk pertanyaan. Format aitem
yang digunakan dalam skala perilaku agresif ini adalah salah satu tipe aitem
bentuk pernyataan yang disajikan dalam bentuk kalimat deklaratif mengenai apa
yang dialami individu sebagai subjek.
Berbagai macam stimulus dalam skala psikologi dapat direspon dalam
berbagai bentuk perilaku seperti menggambar, menjawab dengan kata-kata,
memilih gambar, memilih jawaban yang disediakan, dan sebagainya. Pada skala
perilaku agresif ini, penulis menggunakan format respon memilih jawaban yang
disediakan. Dalam hal ini jawaban yang disediakan berbentuk respon negatif dan
positif, yaitu respon yang dapat dibuat berjenjang sehingga diperoleh diferensiasi
antara respon yang menentang (negatif) dan respon yang mendukung (positif).

Variasi bentuk memilih jawaban yang memperlihatkan tingkat kesesuaian


pada skala perilaku agresif ini adalah :
[STS] [TS] [S] [SS]
STS

= Sangat Tidak Sesuai

TS

= Tidak Sesuai

= Sesuai

SS

= Sangat Sesuai
Penggunaan tingkat kesesuaian pada skala ini dikarenakan skala bertujuan

untuk melihat perilaku subjek, sehingga lebih cocok menggunakan kata sesuai
untuk menggambarkan perilakunya.
Pada tahap awal, penulis membuat 60 aitem perilaku agresif, yang terdiri
dari 39 aitem favorable dan 21 aitem unfavorable. Keseluruhan aitem dapat dilihat
pada lampiran 1. Setelah melewati proses validasi, aitem yang lulus tersisa 35
aitem favorable dan 15 aitem unfavorable. Rincian mengenai nomor aitem dapat
dilihat pada tabel 2.

C. Penskalaan
Penskalaan merupakan proses penentuan letak stimulus atau letak kategori
respon tertentu pada satu kontinum psikologis (Azwar, 1999). Togerson (1958)
mengemukakan tiga pendekatan utama yaitu metode yang berorientasi pada
subjek, metode yang berorientasi pada stimulus, dan metode yang berorientasi
pada respon.
Pada skala perilaku agresif ini, penulis menggunakan metode yang
berorientasi pada subjek atau Penskalaan Subjek. Metode penskalaan yang
berorientasi pada subjek bertujuan meletakkan individu-individu pada suatu
kontinum penilaian sehingga kedudukan relatif individu menurut suatu atribut
yang diukur dapat diperoleh.

Menurut Azwar (2012) pemberian skor yang dimulai dari 0 akan


menghasilkan rentang skor yang lazim dibandingkan memulai dengan skor 1.
Oleh karena itu penulis memberikan rentang skor antara 0 sampai dengan 3.
Pemberian skor dapat berbeda untuk aitem favorable dan unfavorable.
Pada

skala

perilaku

agresif

ini,

aitem

yang

dibuat

bertujuan

untuk

menggambarkan sejauh mana tingkat agresifitas subjek, maka aitem favorable


memiliki skor yang begerak dari 0 untuk STS dan 3 untuk SS. Sementara pada
aitem unfavorable -tidak mendukung perilaku agresif- penulis memberikan skor
yang bergerak dari 3 untuk STS dan 0 untuk SS.
Berikut rincian rentang skor aitem favorable dan unfavorable:
Aitem
Respon
Favorable
Unfavorable

STS

TS

SS

0
3

1
2

2
1

3
0

BAGIAN III
METODE
A. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini terdiri dari 20 mahasiswa Fakultas Psikologi, 20
mahasiswa Fakultas Ekonomi, 20 mahasiswa Fakultas Sains Dan Tekhnologi di
kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau serta 20 mahasiswa
Fakultas Agorteknologi dikampus Universitas Riau.
6

Berikut rincian pengumpulan data sesuai pembagian tugas :


1.
2.
3.
4.

S01 S20 : Devia Salbiah


S21 S40 : Fitria Rahmadani
S41 S60 : Reni Gusniati
S61 S80 : Salim Andeslan

B. Jumlah Subjek
Dalam proses mengumpulkan data mengenai perilaku agresi peneliti
mengambil sebanyak 80 subjek yang terdiri dari 60 mahasiswa Universitas Islam
Negeri Sultan Syarif Kasim Riau dan 20 subjek lainnya adalah mahasiswa
Fakultas Agroteknologi Universitas Riau.

C. Lokasi dan Waktu Pengumpulan Data


Peneliti mengumpulkan data mengenai perilaku agresi di beberapa fakultas
yang ada di kampus universitas islam negeri sultan syarif kasim riau dengan
membagi kedalam beberapa lokasi yaitu :
1.
2.
3.
4.

Fakultas Psikologi pada tanggal 18 desember 2014


Fakultas Ekonomi pada tanggal 18 desember 2014
Fakultas Sains Dan Teknologi pada tanggal 17 desember 2014
Fakultas Agroteknologi pada tanggal 17 desember 2014

BAGIAN IV
ANALISIS DATA
A. Validitas
Proses pengujian validitas atau validasi bertujuan untuk mengetahui
apakah sebuah skala mampu menghasilkan data yang akurat dengan tujuan
ukurannya. Substansi yang terpenting dalam validasi skala psikologi adalah
membuktikan bahwa struktur seluruh Aspek Keperilakuan, Indikator Keperlakuan,

dan Aitem-Aitemnya memenag membentuk suatu konstrak yang akurat bagi


atribut yang diukur (Azwar, 2012).
Pada skala perilaku agresi ini penulis menggunakan validasi logik
(logical) sebagai bagian dari validasi isi, dimana relevansi aitem dengan indikator
keperilakuan dan tujuan ukur sebenarnya sudah dapat dievaluasi lewat nalar dan
akal sehat (common sense) yang mampu menilai apakah isi skala memang
mendukung konstrak teoritik yang diukur. Keputusan akal sehat mengenai
keselarasan atau relevansi aitem dengan tujuan ukur skala tidak dapat didasarkan
hanya pada penilaian penulis soal sendiri, tetapi juga memerlukan kesepakatan
penilaian dari beberapa penilai yang kompeten (expert judgment), dalam hal ini
adalah dosen pembimbing sendiri.
Pada tahap awal, penulis membuat 60 aitem perilaku agresif, yang terdiri
dari aitem favorable dan unfavorable. Keseluruhan aitem dapat dilihat pada
lampiran 1.
Dari hasil validasi expert judgment, terdapat 9 aitem yang gugur, dan 1
aitem dihilangkan oleh penulis sendiri. Adapun aitem yang gugur tersebut adalah
aitem nomor 8, 12, 28, 40, 41, 50, 51, dan 52, serta nomor 58 oleh penulis. Pada
beberapa aitem juga tedapat beberapa kata yang diganti atau kalimat yang
diperbaiki agar tidak terjadi kesalahpahaman subjek.
Setelah proses validasi maka diperoleh 50 aitem perilaku agresif yang siap
untuk digunakan. Pada tahap ini, sebelum skala disebar ke lapangan, terjadi
perubahan nomor urut aitem yang bertujuan untuk mengecoh subjek mengenai
aitem favorable dan unfavorable.
Selanjutnya, berikut ini penulis sajikan tabel kisi-kisi atau blueprint
setelah proses validasi yang mencantumkan nomor aitem favorable dan
unfavorable.
No

Aspek /

.
1.

Dimensi
Agresi Fisik

Indikator
1) Menyerang

Nomor Aitem
Favorable Unfavorable
31, 27, 28, 7, 47,

Jumlah
soal
11

orang
2) Merusak barang

2.

Agresi
Verbal

1)
2)
3)
4)
5)

Berkata kasar
Berteriak
Mengancam
Mengejek
Menyebarkan
gosip

33, 12, 45,


43, 40, 37, 42, 39, 5, 17,
50, 24, 22, 14, 1, 13,
21, 19, 15,

Rasa Marah

22

3, 23, 18,
16, 41, 32,
11, 46, 6, 38, 10, 26,

Balas dendam
Menentang
9, 35, 49,
25, 34, 4,
Mudah marah
Iri hati
2, 20, 48,
Rasa
4.
Ketidakpuasan
36, 29,
Permusuhan
Prasangka buruk
Total
35
15
Tabel 2. Kisi-Kisi atau blueprint Skala Perilaku Agresif Tahap Akhir.
3.

1)
2)
3)
1)
2)
3)

8, 44, 30,

12
5
50

Skala yang digunakan untuk mengambil data di lapangan dapat dilihat


pada lampiran 2.

B. Daya Diskriminasi
Daya diskriminasi aitem adalah sejauh mana aitem mampu membedakan
antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan yang tidak memiliki
atribut yang diukur. Pengujian daya diskriminasi aitem dilakukan dengan cara
menghitung koefisien korelasi antara distribusi skor aitem dengan distribusi skor
skala itu sendiri. Komputasi ini akan menghasilkan koefisien korelasi aitem total
(rix).
Dalam menghitung daya diskriminasi masing-masing aitem perilaku
agresif ini, penulis menggunakan SPSS. Berdasarkan hasil dari SPSS diperoleh
data awal sebelum koreksi sebagai berikut :

VAR00001
VAR00002
VAR00003
VAR00004
VAR00005

Corrected
Item-Total
Correlation
.197
.415
.198
.398
.316

VAR00006
VAR00007
VAR00008
VAR00009
VAR00010
VAR00011
VAR00012
VAR00013
VAR00014
VAR00015
VAR00016
VAR00017
VAR00018
VAR00019
VAR00020
VAR00021
VAR00022
VAR00023
VAR00024
VAR00025
VAR00026
VAR00027
VAR00028
VAR00029
VAR00030
VAR00031
VAR00032
VAR00033
VAR00034
VAR00035
VAR00036
VAR00037
VAR00038
VAR00039
VAR00040
VAR00041
VAR00042
VAR00043
VAR00044
VAR00045
VAR00046
VAR00047
VAR00048
VAR00049
VAR00050

.461
.255
.198
.208
.172
.537
.376
-.034
.212
.473
.570
.189
.444
.378
.271
.425
.539
.497
.543
.299
.263
.552
.634
.537
.573
.476
.449
.615
.139
.480
.334
.658
.430
.418
.424
.489
.428
.652
.485
.454
.645
.251
.136
.335
.573

Kriteria pemilihan aitem berdasar korelasi aitem total biasanya


menggunakan batasan riX 0,30. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi
minimal 0,30 daya bedanya dianggap memuaskan.

10

Pada tahap 1, penulis membuang 5 aitem, yaitu 10, 13, 17, 34, dan 48.
Selanjutnya pada tahap 2, penulis membuang 5 aitem lagi, yaitu 1, 3, 8, 9, dan 14.
Oleh karena masih terdapat aitem di bawah 0,30 maka penulis kembali membuang
3 dan 2 aitem, yaitu masing-masing 7, 25, 26, serta 20 dan 47. Pada akhirnya
diperoleh daya diskriminasi aitem yang keseluruhannya dapat diterima, yakni
0,30.
Berikut ini data akhir dari SPSS mengenai daya diskriminasi aitem :

VAR00002
VAR00004
VAR00005
VAR00006
VAR00011
VAR00012
VAR00015
VAR00016
VAR00018
VAR00019
VAR00021
VAR00022
VAR00023
VAR00024
VAR00027
VAR00028
VAR00029
VAR00030
VAR00031
VAR00032
VAR00033
VAR00035
VAR00036
VAR00037
VAR00038
VAR00039
VAR00040
VAR00041
VAR00042
VAR00043
VAR00044
VAR00045
VAR00046
VAR00049
VAR00050

Corrected
Item-Total
Correlation
.350
.406
.307
.445
.552
.416
.465
.540
.437
.345
.391
.544
.541
.519
.586
.676
.558
.609
.513
.459
.624
.486
.303
.679
.454
.427
.474
.515
.412
.656
.458
.419
.649
.378
.590

11

Berdasarkan hasil akhir di atas, standar daya diskriminasi 0,30 dapat


diterima karena tidak ada indikator yang terbuang akibat pengurangan aitem.
Berikut ini penulis sajikan kembali tabel kisi-kisi skala perilaku agresif setelah
beberapa aitem gugur :

No
1.

Aspek /
Dimensi
Agresi Fisik

2.

Agresi
Verbal

3.

Rasa Marah

4.

Rasa
Permusuhan

Indikator
1) Menyerang orang
2) Merusak barang

Nomor Aitem
Favorable Unfavorable
31, 27, 28,
44, 30, 33,
12, 45,
43, 40, 37, 42, 39, 5,
50, 24, 22,
21, 19, 15,
23, 18, 16,
41, 32,
11, 46, 6, 38, 4,
35, 49,

1)
2)
3)
4)
5)

Berkata kasar
Berteriak
Mengancam
Mengejek
Menyebarkan gosip

1)
2)
3)
1)
2)
3)

Balas dendam
Menentang
Mudah marah
Iri hati
2, 36, 29,
Ketidakpuasan
Prasangka buruk
Total
30

Jumla
h soal
8

29

7
3

35

C. Reliabilitas
Salah satu ciri instrumen ukur yang berkualitas baik adalah reliabel, yaitu
mampu menghasilkan skor yang cermat dengan eror pengukuran kecil. Pengertian
reliabilitas mengacu pada keterpercayaan atau konsistensi hasil ukur, yang
mengandung makna seberapa tinggi kecermatan pengukuran. Koefisien reliabilitas
(rxx) berada dalam rentang angka dari 0 sampai dengan 1,00.
Koefisien reliabilitas dapat diperoleh dengan menggunakan beberapa cara,
salah satunya yang dipergunakan dalam skala perilaku agresif ini adalah koefisien
reliabilitas alpha. Koefisien alpha dapat langsung diproses dengan SPSS dari data
distribusi skor tanpa membelah atau membagi aitem menjadi kelompokkelompok.

12

Berikut ini koefisien reliabilitas alpha yang diperoleh pada tahap awal dan
tahap akhir setelah aitem gugur :
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items
.908

50

Reliabilitas tahap awal

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items
.924

35

Reliabilitas tahap akhir


Dari tabel diatas dapat dilihat koefisien reliabilitas alpha atau Cronbachs
Alpha pada tahap awal adalah 0,908 dan pada tahap akhir meningkat menjadi
0,924. Menurut Azwar (2012) reliabilitas telah dianggap memuaskan bila
koefisiennya mencapai minimal rxx = 0,90.

D. Interpretasi Skor
Skor pada skala psikologi yang ditentukan lewat prosedur penskalaan akan
menghasilkan angka-angka pada level pengukuran interval, namun dalam
interpretasinya hanya dapat dihasilkan kategori-kategori atau kelompok-kelompok
skor yang berada pada level ordinal.
Kategorisasi yang digunakan untuk menginterpretasi skor pada skala
perilaku agresif ini adalah kategorisaisi berdasarkan model distribusi normal,
yakni kategorisasi jenjang (ordinal). Kategorisasi jenjang bertujuan untuk
menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang posisinya berjenjang
menurut suatu kontinum berdasar atribut yang diukur. Dalam hal ini penulis
menggunakan tiga tingkat kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi.

13

Pembagian kategori rendah, sedang, dan tinggi dalam menginterpetasi skor


subjek didasarkan pada mean hipotetik, dimana mean atau nilai tengah tidak
memperhatikan skor subjek. Sehingga banyak sedikitnya jumlah subjek dalam
satu kategori dapat sangat bervariasi.
Berikut ini merupakan tabel total skor subjek :
N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

Subj
ek
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
A8
A9
A10
A11
A12
A13
A14
A15
A16
A17
A18
A19
A20
B21
B22
B23
B24
B25
B26
B27
B28
B29
B30
B31
B32
B33
B34
B35
B36
B37
B38
B39

Tot
al
57
53
42
24
66
33
50
34
62
66
55
53
45
30
62
46
69
24
29
73
19
53
50
50
48
69
46
58
45
18
28
43
43
36
33
53
37
37
38
14

40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80

B40
C1
C2
C3
C4
C5
C6
C7
C8
C9
C10
C11
C12
C13
C14
C15
C16
C17
C18
C19
C20
D1
D2
D3
D4
D5
D6
D7
D8
D9
D10
D11
D12
D13
D14
D15
D16
D17
D18
D19
D20

62
48
37
54
88
41
60
42
32
92
61
35
42
39
26
44
51
51
78
73
43
44
38
60
43
22
53
50
49
56
30
45
76
40
34
66
64
26
41
33
53

Skala perilaku agresif ini terdiri atas 50 aitem yang masing-masing


aitemnya diberi skor yang berkisar mulai dari 0,1,2, dan 3. Dengan demikian skor
terkecil yang mungkin diperoleh oleh subjek adalah X = 50x0 = 0 dan skor
terbesar yang mungkin diperoleh adalah X = 50x3 =150. Maka rentangan skor

15

skala sebesar 150 dibagi dalam 6 satuan deviasi standar sehingga diperoleh 150/6
= 25.
Selanjutnya untuk menentukan mean teoritik dari skor di atas maka :
= nilai tengah x jumlah aitem = 1,5 x 50 = 75
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, subjek akan digolongkan
menjadi 3 kategori tingkat skor, maka keenam satuan deviasi di atas dibagi
menjadi 3 bagian, yaitu :
Rendah

X <(1,0 )

Sedang

( 1,0 ) X <( +1,0 )

Tinggi

( +1,0 ) X

Sehingga, dengan

=25

, diperoleh kategori-kategori skor jenjang

sebagai berikut :
Rendah

X <(751,0 25)

Sedang ( 751,0 25 )

X <(75+1,0 25)

Tinggi

( 75+1,0 25 ) X

atau
X <50

Rendah
Sedang
Tinggi

50 X <100
100 X

Berdasarkan perhitungan di atas maka subjek dapat dikelompokan secara


beurutan berdasarkan kategori sebagai berikut :
Subjek kategori rendah :
N
o
1
2

Subj
ek
B30
B21

Tot
al
18
19

16

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45

D5
A4
A18
C14
D17
B31
A19
A14
D10
C8
A6
B35
D19
A8
D14
C11
B34
B37
B38
C2
B39
D2
C13
D13
C5
D18
A3
C7
C12
B32
B33
C20
D4
C15
D1
A13
B29
D11
A16
B27
B25
C1
D8

22
24
24
26
26
28
29
30
30
32
33
33
33
34
34
35
36
37
37
37
38
38
39
40
41
41
42
42
42
43
43
43
43
44
44
45
45
45
46
46
48
48
49

Jumlah = 45 Orang

Selanjutnya, subjek kategori sedang :

17

N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35

Subj
ek
A7
B23
B24
D7
C16
C17
A2
A12
B22
B36
D6
D20
C3
A11
D9
A1
B28
C6
D3
C10
A9
A15
B40
D16
A5
A10
D15
A17
B26
A20
C19
D12
C18
C4
C9

Tot
al
50
50
50
50
51
51
53
53
53
53
53
53
54
55
56
57
58
60
60
61
62
62
62
64
66
66
66
69
69
73
73
76
78
88
92

Jumlah = 35 Orang
Sementara untuk kategori tinggi, tidak ada subjek yang termasuk kedalam
kategori tinggi.

18

BAGIAN V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Skala perilaku agresif adalah skala atau alat ukur yang digunakan untuk
mengukur perilaku agresif individu yang ditunjukan melalui perilaku fisik
maupun verbal, yang dilakukan satu pihak kepada pihak lainnya dengan maksud
menyakiti baik secara fisik maupun psikologis dengan harapan bahwa perilaku
atau tindakan tersebut akan mencapai hasil yang diinginkan atau mempunyai
tujuan.
Dari 60 aitem yang dibuat pada tahap awal, terdapat 10 aitem yang gugur
pada tahap validasi. Selanjutnya, setelah mengambil data di lapangan dengan 80
orang subjek, diperoleh hasil 15 aitem gugur karena tidak memenuhi standar daya
diskriminasi, yaitu 0,30. Sementara reliabilitas aitem meningkat dari 0,908
menjadi 0,924 setelah menggugurkan aitem, dan telah mencapai nilai koefisien
minimal yaitu rxx = 0,90.
Hasil interpetasi skor subjek yang didasarkan pada mean hipotetik dengan
membagi ke dalam 3 kategori menyatakan bahwa, 45 orang termasuk kedalam
kategori rendah, yakni

X <50 . Selanjutnya 35 orang masuk ke dalam kategori

sedang, yakni 50

X <100 . Sedangkan untuk kategori tinggi, tidak ada

satupun subjek yang tergolog ke dalam kategori tinggi.


B. Saran
Kepada peneliti selanjutnya agar dapat mempersiapkan skala dengan
sebaik-baiknya agar mendapatkan hasil pengukuran yang maksimal. Peneliti harus
memastikan bahwa subjek mengisi dengan sejujur-jujurnya, agar tidak terjadi bias

nantinya. Untuk menghindari kekosongan salah satu kategori, peneliti selanjutnya


dapat mencoba menggunakan mean empirik.
Selanjutnya untuk subjek penelitian agar dapat mengisi skala dengan
sejujur-jujurnya dan tidak perlu mengkhawatirkan penilaian negatif.
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. 2012. Penyusunan Skala Psikologi (edisi 2). Penerbit Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.
Fortuna, Fini. Taganing, N.M. 2008. Hubungan Pola Asuh dengan Perilaku
Agresif Pada Remaja. Jurnal Fakultas Psikologi. Universitas
Gunadarma.
Wulandari, Pratiwi. 2010. Hubungan Antara Kecerdasan Sosial dengan Perilaku
Agresif pada Siswa SMK Muhammadiyah Piyungan Yogyakarta.
Skripsi. Program Studi Psikologi. UIN Yogyakarta.