Anda di halaman 1dari 6

Dilema Etik Kedokteran; Praktik Paramedis

Posted by Arif Budi Santoso on 12.19


1. Definisi istilah/konsep
Praktik adalah pelaksanaan secara nyata apa yang disebut dalam teori(Kamus
besar bahasa indonesia, 2008).
Praktik kesehatan adalah Seseorang yang telah mengetahui stimulus/objek
kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang
diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan/ mempraktikkan
apa yang diketahui atau disikapinya (di nilai baik). Inilah yang disebut praktik
(practice) kesehatan atau dapat dikatakan praktik kesehatan (overt behavior)
(Notoatmodjo, 2003).
Paramedis adalah orang yang bekerja di lingkungan kesehatan sebagai pembantu
dokter (seperti perawat) (Kamus besar bahasa indonesia, 2008).
Paramedis adalah profesi medis, biasanya anggota layanan medis darurat, yang
terutama menyediakan perawatan gawat darurat dan trauma lanjut prarumah sakit.
Menurut UU Tahun 1964 No. 18 Tentang Wajib Kerja Tenaga Para Medis Pasal 1,
maka tenaga paramedis dimaksud tenaga kesehatan Sarjana Muda, menengah dan
rendah, antara lain : 1. di bidang farmasi :asisten apoteker dan sebagainya, 2. di
bidang kebidanan : bidan dan sebagainya, 3. di bidang perawatan : perawat, phisieterapis dan sebagainya, 4. di bidang kesehatan masyarakat :penilik kesehatan,
nutrisionis dan lain-lain, 5. di bidang-bidang kesehatan lain (umpama untuk
laboratorium, analis).
Paramedis adalah tenaga ahli keperawatan dengan fungsi utamanya adalah
memberikan pelayanan medis kepada pasien dengan mutu sebaik-baiknya dengan
menggunakan tata cara dan teknik berdasarkan ilmu keperawatan dan etik yang
berlaku serta dapat dipertanggung jawabkan.
Praktik paramedis adalah praktik yang dilakukan oleh tenaga ahli medis maupun
non medis medis kepada pasien dengan mutu sebaik-baiknya dengan
menggunakan tata cara dan teknik berdasarkan ilmu keperawatan dan etik yang
berlaku serta dapat dipertanggung jawabkan.
2. Gambaran proses/prosedur yang dilakukan (untuk kasus tindakan medis)
Perawat diberi wewenang dan dilindungi hukum meliputi hak dan otonomi untuk
melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan kemampuan tingkat pendidikan
dan posisi yang dimiliki. Lingkup kewenangan perawat dalam praktek keperawatan

professional pada kondisi sehat dan sakit, sepanjang daur kehidupan ( mulai dari
konsepsi sampai meninggal dunia), mencangkup hal- hal berikut :
1.
asuhan keperawatan anak, yaitu asuhan keperawatan yg diberikan pada
anak berusia mulai dari 28hari sampai 18th.
2.
Asuhan keperawatan maternitas, yaitu asuhan keperawatan klien wanita
pada masa subur dan neonates (bayi baru lahir sampai 28hr sampai keadaan
sehat).
3.
Asuhan medical bedah, yaitu asuhan pada klien usia diatas 18 th sampai
60 th dengan gangguan fungsi tubuh baik karena trauma atau kelainan fungsi
tubuh,
4.
Asuhan keperawatan jiwa yaitu asuhan keperawatan pada semua usia
yang mengalami berbagai masalah kesehatan jiwa.
5.
Asuhan keperawatan keluarga yaitu asuhan keperawatan pada klien
keluarga sebagai unit terkecil dalaam masyarakat sebagai akibat pola penuyesuaian
keluarga yang tidak sehat sehingga tidak terpenuhinya kebutuhan keluarga.
6.
Asuhan keperawatan komunitan yaitu asuhan keperawatan kepada klien
masyarakat pada kelompok di wilayah tertentu pada semua usia sebagai akibat
tidak terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.
7.
Asuhan keperawatan gerontik yaitu asuhan keperawatan pada klien usia
60 th ke atas yang mengalami proses penuaan dan permasalahannya.

Ruang Lingkup Praktik Keperawatan Profesional:


1.
Memberikan asuhan keperawatan pada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan sederhana dan kompleks
2.
Memberikan tindakan keperawatan langsung, pendidikan, nasihat,
konseling, dalam rangka penyelesaian masalah kesehatan melalui pemenuhan
kebutuhan dasar manusia dalam upaya memandirikan sistem klien.
3.
Memberikan pelayanan keperawatan di sarana kesehatan dan tatanan
lainnya.
4.
Memberikan pengobatan dan tindakan medik terbatas, pelayanan KB,
imunisasi, pertolongan persalinan normal dan menulis permintaan obat/ resep.
5.

Melaksanakan program pengobatan secara tertulis dari dokter

Pelanggaran kode etik yang biasa dilakukan perawat, yaitu:

1.

Tindakan Aborsi adalah menggugurkan kandungan

2.
Euthanasia adalah keinginan pasien untuk mati dengan bantuan tenaga
medis, karena nyawa pasien tersebut akan mati beberapa waktu kemudian.
3.

Diskriminasi pasien HIV yaitu membedakan pasien terkena HIV

4.
Diskriminasi SARA yaitu membedakan pasien dari segi status, budaya,ras
dan agama.
Contoh kasus : kasus jari bayi tergunting
Seorang perawat tidak sengaja menggunting jari bayi. Dan konyolnya, perawat itu
tidak meminta pertolongan dokter tetapi membuang jari tersebut ke bak sampah.
Kejadian tersebut mungkin tidak akan segera diketahui jika tidak ada seorang staf
RS anak di Inggris salford yang melihat tangan bayi tersebut berdarah. Bayi
tersebut baru berusia tiga minggu. Pencarian masih tetap dilakukan dan beruntung
jari bayi tersebut masih ditemukan di bak sampah. (Keterangan juru bicara rumah
sakit Inggris Salford )
3. Dilema etik yang dihadapi ditinjau dari sisi medis, ekono-sosio kultural, islamic
perspektif
a. Ditinjau dari sisi medis :
Berdasarkan kepmenkes No.647/SK/IV/2000 tentang registrasi dan praktik perawat
dan direvisi dengan SK Kepmenkes No.1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang registrasi
dan praktik perawat.Perlindungan hukum baik bagi pelaku dan penerima praktek
keperawatan memiliki akuntabilitas terhadap keputusan dan tindakannya. Dalam
menjalankan tugas sehari-hari tidak menutup kemungkinan perawat berbuat
kesalahan baik sengaja maupun tidak sengaja. Oleh karena itu dalam menjalankan
prakteknya secara hukum perawat harus memperhatikan baik aspek moral atau etik
keperawatan dan juga aspek hukum yang berlaku di Indonesia.
Akuntabilitas mengandung dua komponen utama, yakni tanggung jawab dan
tanggung gugat. Hal ini berarti tindakan yang dilakukan perawat dilihat dari praktik
keperawatan, kode etik dan undang-undang dapat dibenarkan atau absah (Priharjo,
1995).
Ditinjau dari kasus yang dilakukan perawat tersebut telah lalai dalam melaksanakan
tugas, serta perawat tersebut telah menyembunyikan kelalaian tersebut tanpa
memberitahu dokter. Kasus kelalaian tersebut sudah masuk dalam pelanggaran
kode etik keperawatan dan dapat dikenakan pidana dan perdata hukum(pasal 339,
360, 361 KUHP)
b. Ditinjau dari sisi ekonomi-sosio-kultural :

Dari sisi ekonomi, praktik paramedis memang lebih mudah daripada praktik
yang dilakukan oleh tenaga medis, oleh karena itu masyarakat lebih banyak berobat
ke praktik perawat daripada praktik dokter. Namun kebanyakan perawat yang
membuka praktik tidak memenuhi persyaratan membuka praktik. Sejak 17 Oktober
2014, telah disahkannya UU Keperawatan maka Perawat yang ingin dan telah
membuka praktek mandiri di rumahnya maka wajib melengkapi persyaratan
sebagai berikut:
1.
Mengurus dan wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). Keterangannya
dapat dibaca di artikel saya tentang " Syarat Pengurusan STR Perawat ".
2.
Mengurus SIPP (Surat Izin Praktek Perawat ) pada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota tempat anda berdomisili.
3.
Memiliki ijazah pendidikan D III Keperawatan dan S. 1 Keperawatan + Profesi
Ners.
4.

Surat Rekomendasi dari Organisasi Profesi Perawat.

5.
Surat pernyataan memiliki tempat praktik atau surat keterangan dari
pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
6.

Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan diatur dalam Peraturan Menteri

Dari sisi sosial-kultural, pada daerah-daerah terpencil yang kekurangan tenaga


medis, banyak yang berobat ke tenaga paramedis, padahal kita tahu bahwa
kompetensi tenaga paramedis tidak setinggi level kompetensi tenaga medis, namun
karena kekurangan tenaga medis ini menjadi suatu dilema etik.
c. Ditinjau dari sisi perspektif islam :
Seorang muslim tidak boleh membahayakan saudaranya seperti dalam hadist
berikut:
Dari Abu Said, Saad bin Malik bin Sinan Al Khudri radhiyallahu anhu, sesungguhnya
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam telah bersabda : Janganlah engkau
membahayakan dan saling merugikan(HR. Ibnu Majah, Daraquthni dan lain-lainnya,
Hadits hasan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwaththa
sebagai Hadits mursal dari Amr bin Yahya dari bapaknya dari Nabi Shallallahu alaihi
wa Sallam tanpa menyebut Abu Said. Hadits ini mempunyai beberapa jalan yang
saling menguatkan)
Kemudian dari hadits riwayat Ibnu Majah juga di jelaskan :
Tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat mudharat bagi orang lain baik
permulaan ataupun balasan. (HR. Ibnu Majah. Hadis ini di shahihkan oleh Albani).

Dari hadits diatas jelas terbukti bahwa perawat tersebut telah membahayakan
saudaranya sendiri dengan menggunting jari seorang bayi walaupun hal tersebut
dilakukan tanpa sengaja. Seharusnya perawat tersebut lebih berhati-hati dalam
melakukan tindakan apalagi kepada seorang bayi.
4. Pendapat terkait solusi/penyelesaian dilema etik
Dalam hal ini penulis tidak setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh perawat
tersebut, karena perawat tersebut sangat tidak profesional dalam menjalankan
tugasnya. Berdasarkan undang-undang RI No.36 tahun 2009 tentang kesehatan :
Pasal 23 :
a)

Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan

b) Tenaga kesehatan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki


c)

Tenaga kesehatan wsjib memiliki izin dari pemerintah

Permenkes 161/2010 BAB II Pasal 2


Setiap tenaga kesehatan yang akan menjalankan pekerjaan keprofesiannya wajib
memiliki Surat Tanda Registrasi (STR)
Pasal 8 BAB III Permenkes 148/2010

a)

Praktik keperawatan dilaksanakan melalui kegiatan :


Pelaksanaan asuhan keperawatan

b) Pelaksanaan upaya promotif, preventif, pemulihan dan pemberdayaan


masyarakat
c)

Pelaksanaan tindakan keperawatan komplementer

Asuhan keperawatan melingkupi pengkajian, diagnosa keperawatan,


perencanaan, implementasi dan evaluasi
Dari undang-undang diatas diharapkan bahwa perawat dapat dilindungi dan diatur
wewenangnya, hak dan otonominya agar tidak terjadi kelalaian serta malpraktik.
5. Kesimpulan
Praktik paramedis adalah praktik yang dilakukan oleh tenaga ahli medis maupun
non medis medis kepada pasien dengan mutu sebaik-baiknya dengan
menggunakan tata cara dan teknik berdasarkan ilmu keperawatan dan etik yang
berlaku serta dapat dipertanggung jawabkan. Wewenang perawat meliputi asuhan
keperawawatan anak, maternitas, medical bedah, jiwa, keluarga, komunitan,
gerontik. Banyak dilema etik yang terjadi dalam kasus praktik paramedis, meliputi :

sisi medis, sosio-ekonomi-kultural, dan perspektif islam. Wewenang perawat diatur


dalam UU no.39 tahun 2009 tentang kesehatan. Diharapkan dengan adanya UU
tersebut dapat melindungi serta mengatur hak, otonomi, dan kewajiban dari
perawat.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan Hadits


Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta.
Jakarta.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, 2008, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Kepmenkes RI Nomor 647/SK/IV/2000 tentang registrasi dan praktik perawat.
Kepmenkes RI Nomor 1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang registrasi dan praktik
perawat.
Priharjo, R (1995). Pengantar etika keperawatan; Yogyakarta: Kanisius.
Keputusan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.