Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

PEMERIKSAAN AIR DENGAN MEMBRAN FILTER

Disusun oleh :
Thomi Fachrozi

1141420045

Kelompok :
1. Rezky Okfaistella

1141420039

2. Satria Winanda

1141420042

3. Septian Noer Addina

1141420044

4. Umi Suprihatin Fatmala

1141420046

5. Yosephine Inge Oktaviani

1141420048

Program Studi Teknik Kimia


Institut Teknologi Indonesia
2016

I.

Latar Belakang
Air mempunyai peranan penting bagi kehidupan. Kualitas air ditentukan oleh

berbagai factor antara lain factor fisik, kimia dan mikrobiologi. Kualitas fisik meliputi
warna, bau, rasa dan kekeruhan, sedangkan kualitas kimia meliputi kadar oksigen
terlarut dan berbagai senyawa kimia lain seperti nitrit, nitrat dan fosfat. Kualitas
mikrobiologi air ditentukan oleh jumlah total bakteri atau Total Plate Count (TPC),
kandungan bakteri coliform dan Escherichia coli serta kandungan bakteri pathogen
seperti Salmonella, Shigella, dan Vibrio (Ratna, 2013).
Air merupakan kebutuhan yang paling dibutuhkan di dalam kehidupan manusia.
Air yang ada di alam bukanlah didapat sebagai air murni, melainkan sebagai air yang
mengandung bermacam-macam zat, baik yang terlarut ataupun tersuspensi. Jenis dan
jumlah zat tersebut tergantung dari kondisi lingkungan sekitar sumbernya. Pemeriksaan
air secara mikrobiologi sangat penting dilakukan karena air merupakan substansi yang
sangat

penting

dalam

menunjang

kehidupan

mikroorganisme

yang

meliputi

pemeriksaan secara mikrobiologi baik secara kualitatif maupun kuantitatif dapat dipakai
sebagai pengukuran derajat pencemaran (Fardiaz, 2002).
Bakteri coliform merupakan golongan mikroorganisme yang lazim digunakan
sebagai indikator, dimana bakteri ini dapat menjadi sinyal untuk menentukan suatu
sumber air telah terkontaminasi oleh patogen atau tidak. Berdasarkan penelitian, bakteri
coliform ini menghasilkan zat etionin yang dapat menyebabkan kanker. Selain itu,
bakteri pembusuk ini juga memproduksi bermacam-macam racun seperti indol dan
skatol yang dapat menimbulkan penyakit bila jumlahnya berlebih di dalam tubuh.
Bakteri coliform dapat digunakan sebagai indikator karena densitasnya berbanding
lurus dengan tingkat pencemaran air. Bakteri ini dapat mendeteksi patogen pada air
seperti virus, protozoa, dan parasit. Selain itu, bakteri ini juga memiliki daya tahan yang
lebih tinggi daripada patogen serta lebih mudah diisolasi dan ditumbuhkan (Adam
2001).

Berdasarkan dari penjelasan yang telah dijelaskan sebelumnya maka praktikum


ini penting dilakukan agar mahasiswa mampu mengetahui kualitas air secara
mikrobiologis dengan menggunakan metode membrane filter.
II.

Tujuan
1. Mengetahui kualitas air secara mikrobiologis dengan menggunakan metode
membrane filter
2. Menghitung jumlah bakteri pada sampel air secara Total Plate Count

III.

Tinjauan Pustaka
Air merupakan materi esensial di dalam kehidupan. Tidak satu pun makhluk

hidup di dunia ini tidak memerlukan atau tidak mengandung air. Salah satu peranan air
dalam kehidupan adalah sebagai air minum, keperluan memasak, mencuci, dan lain
sebagainya. Sebelum dapat digunakan air harus dalam kondisi yang baik (bersih).
Menurut

Peraturan

Menteri

kesehatan

Republik

Indonesia

No.

416/MENKES/PER/IX/1990 ada beberapa persyaratan air bersih sebagai berikut :


1. Persyaratan fisik
Kualitas fisik yang harus dipertahankan bukan hanya semata-mata dengan
pertimbangan dari segi kesehatan saja akan tetapi juga menyangkut keamanan
dan dapat diterima oleh masyarakat pengguna air dan mungkin pula menyangkut
segi estetika.
2. Persyaratan kimiawi
Kandungan unsur kimia di dalam air harus mempunyai kadar dan tingkat
konsentrasi tertentu yang tidak membahayakan kesehatan manusia atau mahluk
hidup lainnya, pertumbuhan tanaman, atau tidak membahayakan kesehatan
pada penggunaannya dalam industri serta tidak minumbulkan kerusakankerusakan pada instalasi sistem penyediaan air minumnya sendiri. Beberapa
unsur tertentu, sebaliknya diperlukan dalam jumlah yang cukup untuk penciptaan
suatu kondisi air minum yang dapat mencegah suatu penyakit atau kondisi
kualitas yang menguntungkan.

Dalam hubungannya dengan masalah kualitas kimiawi tersebut di atas pada


dasarnya unsur-unsur kimiawi dapat dibedakan atas 4 golongan:

Unsur-unsur yang bersifat racun.

Unsur-unsur tertentu yang dapat mengganggu kesehatan.

Unsur-unsur yang dapat menimbulkan gangguan pada sistem atau


penggunaannya untuk keperluan atau aktivitas manusia.

Unsur-unsur yang merupakan indikator pengotoran.

3. Persyaratan bakteriologi
Dalam persyaratan ini ditentukan batasan tentang jumlah bakteri pada
umumnya dan khususnya bakteri penyebab penyakit (E. coli).
Istilah mikroorganisme indikator (bioindikator) yang digunakan dalam analisis air
mengacu pada sejenis mikroorganisme yang kehadirannya di dalam air merupakan
bukti bahwa air tersebut terpolusi oleh bahan tinja dari manusia atau hewan berdarah
panas, artinya terdapat peluang bagi berbagai macam mikroorganisme patogen yang
secara berkala terdapat di dalam saluran pencernaan, untuk masuk ke dalam air
tersebut (Pelczar & Chan 1988: 873).
Walaupun sejumlah besar penyakit tersebut dapat dideteksi, namun pada
umumnya, seorang ahli mikrobiologi lingkungan menggunakan mikroorganisme
indikator sebagai indeks kontaminasi air oleh patogen. Para peneliti masih mencari
indikator yang ideal, yang digunakan untuk mikrobiologi sanitasi. Kriteria yang harus
dimiliki oleh mikroorganisme indikator antara lain:
1. Mikroorganisme indikator terdapat dalam air yang terpolusi, tetapi tidak ada pada
air yang dapat diminum.
2. Mikroorganisme indikator harus sesuai untuk analisis dari segala jenis air,
seperti: air sungai, air tanah, limbah, air keran, dan air laut.
3. Mikroorganisme indikator ada jika patogen enteric juga ada.
4. Mikroorganisme indikator harus memiliki kemampuan hidup yang lebih lama
daripada mikroorganisme patogen.

5. Mikroorganisme indikator tidak berbahaya bagi manusia dan tidak menimbulkan


suatu patogenisitas.
6. Mikroorganisme indikator memiliki sifat yang seragam dan stabil.
7. Jumlah mikroorganisme indikator lebih banyak daripada patogen, dan tergantung
dari tingkat polusi air.
8. Indikator mikroorganisme mudah dideteksi dengan metode pengujian yang
sederhana.
9. Prosedur pengujian mikroorganisme indikator memiliki spesifisitas yang besar,
dengan kata lain, mikroorganisme-mikroorganisme yang lain tidak memberikan
hasil yang positif. Prosedur tersebut memiliki sensitivitas yang tinggi dan dapat
mendeteksi mikroorganisme indikator dalam kadar yang rendah.
(Prescott dkk. 1999: 876).
Tipe bakteri utama yang terdapat dalam air terpolusi adalah bakteri coliform,
termasuk di dalamnya bakteri gram negatif yang tidak mempunyai spora berbentuk
basil (batang), yang biasanya ditemukan di dalam usus. Bakteri tersebut melakukan
fermentasi terhadap laktosa menjadi asam dan gas ketika diinkubasi selama 24--48 jam
pada suhu 32oC. Bakteri yang termasuk ke dalam grup tersebut adalah E. coli dan
spesies-spesies dari Enterobacter. Bakteri dengan bentuk bukan coli (non coliform
bacteria) yang juga ditemukan pada air tercemar adalah Streptococcus, Proteus, dan
Pseudomonas (Alcamo 1984: 755).
Coliform, termasuk Escherichia coli, adalah anggota-anggota dari kelompok
Enterobacteriaceae. Bakteri coliform terdapat sekitar 10% pada usus manusia dan
hewan, serta ditemukan sebagai mikroorganisme indikator yang tersebar luas. Bakteri
tersebut kehilangan viabilitasnya pada perairan tawar pada tingkat yang lebih rendah
jika dibandingkan dengan bakteri patogen yang hidup di saluran pencernaan. Jika
bakteri enteric tersebut tidak ditemukan pada volume air yang spesifik (100 ml), hal itu
menunjukkan bahwa air bersifat potable, atau dapat dipakai untuk konsumsi manusia
(Prescott dkk. 1999: 876).

Bakteri-bakteri yang termasuk ke dalam kelompok coliform antara lain adalah


Escherichia coli, Enterobacter aerogenes, dan Klebsiella pneumoniae. Ciri-ciri bakteri
coliform adalah gram negatif, berbentuk batang, tidak membentuk spora bersifat aerob
atau anaerob fakultatif, dan dapat menfermentasi laktosa dengan menghasilkan asam
dan gas dalam 48 jam pada suhu 35 oC. Salmonella dan Shigella juga bersifat coliform,
tetapi bersifat patogen dan tidak menfermentasi laktosa (Prescott dkk. 1999: 876).
Untuk pemeriksaan mikrobiologi air terdapat 4 (empat) metoda yang secara rutin
dilakukan dan direkomendasikan sesuai standar. Metoda tersebut adalah :
1. Heterotrophic Plate Count ( HPC )
Heterotrophic Plate Count dikenal di indonesia sebagai pemeriksaan metoda
lempeng total. Hitung Jenis Kuman (HJK) atau Total Plate Count (TPC). Analisa ini
secara umum biasanya dilakukan dengan teknik pour plate. Hasil koloni yang
tumbuh dihitung secara manual atau bisa menggunakan colony counter. Hasil
dinyatakan sebagai Colony Forming Units (CFU). Selain di inkubasi pada suhu 35
derajat, bakteri dalam petridish juga dapat diinkubasi pada suhu 20 , 30, atau 35-37
derajat celcius menurut kebutuhan.
2. Presence Absence
Tujuan metoda ini adalah mendapatkan informasi data kualitatif ada tidaknya
sebuah bakteri atau group bakteri dalam sampel. Dalam metoda ini digunakan 100
ml sampel yang disimpan dalam botol media. Kemudian ditambahkan media
mikrobiologi cair dengan konsentrasi double strength (sesuai ISO) atau triple
strength (sesuai standar method). Penggunaan media mikrobiologi dengan double
atau triple strength memcegah sampel larut atau tercampur sehingga menurunkan
selektifitasnya.

3. Most Probable Number ( MPN ) atau Multiple Tube Technique


Teknik MPN merupakan modifikasi dari metoda presence absence. Sample yang
dianalisa dalam satu tempat dalam metoda ini dibagi menjadi beberapa tabung
dengan konsentrasi yang bervariasi. Hasil positif dan negatif dari masing masing
tabung dapat dihitung sebagai jumlah perkiraan bakteri. Nilai MPN dapat dibaca
menggunakan tabel MPN yang bisa didapatkan di standar methods.
4. Membrane Filter
Membrane filter merupakan metoda yang lebih mudah dan memberikan hasil
yang lebih cepat. Metoda ini sangat baik digunakan untuk sample air minum, tapi
agak susah jika digunakan untuk sampel dengan jumlah bakteri yang sangat banyak
dan kandungan bakteri non coliform yang tinggi. Membran filter yang digunakan
biasanya mempunyai porositas 0,45 mikron dengan diameter sekitar 50 mm. Jenis
bahan filter harus dipilih sehingga bakteri tidak terganggu oleh komponen bahan
membrane filter tersebut.
Keuntungan metode filter membran adalah sampel yang digunakan cukup
banyak sehingga dapat memberikan gambaran kualitas air yang benar, hasilnya
cepat dan menghemat waktu, perkiraan secara kuantitatif beberapa jenis bakteri
dapat dengan cepat diuji, dan filter dapat dipindahkan ke dalam medium yang
berbeda. Kerugian metode tersebut adalah air dengan turbiditas tinggi dapat
membatasi

volume

sampel,

bakteri

dengan

populasi

yang

tinggi

dapat

menyebabkan pertumbuhan yang berlebihan dan senyawa-senyawa logam dan


fenol dapat ikut tersaring dan menghambat pertumbuhan bakteri (Prescott dkk.
1999: 878).
Eschericia coli merupakan anggota Coliform yang dapat dibedakan dari bakteri
Coliform lain karena kemampuannya memfermentasikan laktosa pada suhu 44C (pada
JPT hal ini dilakukan pada tahap terakhir atau saat uji kelengkapan). Pengidentifikasian
dapat dilihat dari pertumbuhan dan reaksi yang memberikan warna berbeda pada
media kultur khusus. Saat dikultur pada media EMB, hasil positif E. coli adalah koloni

berwarna hijau metalik. Tidak seperti golongan Coliform pada umumnya, E. coli
merupakan bakteri yang berasal dari feses dan kehadirannya efektif mengkonfirmasi
adanya kontaminasi fekal pada badan air.
IV.

Alat dan bahan


A. Alat
1. Vakum
2. Cawan petri
3. Bunsen
4. Filter paper
5. Pinset
6. Tabung reaksi
7. Rak tabung
8. Korek
B. Bahan
1. Alkohol 70%
2. Endo Agar
3. Sampel air
4. Aquades

V.

Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Area kerja disanitasi dengan
alcohol 70%.
2. Membran filter yang steril diletakkan pada filter yang sebelumnya telah
disterilkan.
3. Air sampel dituangkan ke filter, disedot dengan pompa vakum sehingga
bakteri tersaring pada permukaan membrane filter.
4. Dituangkan aquades steril ke filter, disedot dengan pompa vakum.
5. Dituangkan media endoagar ke dalam cawan petri dengan aseptic.
6. Filter yang berisi bakteri yang tersaring dipindahkan ke medium endoagar
tersebut dengan menggunakan pinset.
7. Filter diinkubasi, koloni yang timbul dihitung dengan metode TPC.
8. Dilakukan pengerjaan blanko dengan aquades steril sama seperti pengerjaan
sampel.

VI.

Data pengamatan

VII.

Pembahasan
Coliform merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indikator

adanya polusi kotoran dan kondisi yang tidak baik terhadap air, makanan, susu dan
produk-produk susu. Coliform sebagai suatu kelompok dicirikan sebagai bakteri
berbentuk batang, gram negatif, tidak membentuk spora, aerobik dan anaerobik
fakultatif yang memfermentasi laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam
waktu 48 jam pada suhu 35oC. Adanya bakteri Coliform di dalam makanan atau
minuman menunjukkan kemungkinan adanya mikroba yang bersifat enteropatogenik
dan atau toksigenik yang berbahaya bagi kesehatan (Widiyanti, 2004).

Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain


dengan kata lain merupakan bakteri indikator sebagai tanda bahwa adanya
pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fecal menjadi indikator pencemaran
dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri
patogen. Keuntungan mendeteksi coliform adalah jauh lebih murah, cepat, dan
sederhana daripada mendeteksi bakter i patogenik lain. Coliform merupakan suatu grup
bakteri yang digunakan sebagai indikator adanya pencemaran dan kondisi sanitasi
yang tidak baik terhadap air, makanan, susu dan produk-produk susu. Pada saat
perhitungan koloni, apabila jumlah koloni yang di temukan kurang dari standart yang
telah di tetapkan, maka suatu sampel bisa di katakan murni (Umbreit, 1960).
Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran
pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indicator keberadaan bakteri
patogenik lainnya. Lebih tepatnya, sebenarnya bakteri coliform fecal adalah bakteri
indicator adanya pencemaran bakteri pathogen. Penentuan coliform fekal menjadi
indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan
keberadaan bakteri pathogen. Selain itu, mendeteksi coliform jauh lebih murah, cepat
dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain (Lim, 1998).
Bakteri coliform merupakan parameter mikrobiologis terpenting bagi kualitas air
minum. Kelompok bakteri coliform, antara lain Eschericia coli, Enterrobacter aerogenes,
danCitrobacter fruendi. Keberadaan bakteri di dalam air minum itu menunjukkan tingkat
sanitasi rendah. Keberadaan bakteri ini juga menunjukkan adanya bakteri pathogen lain
misalnya, Shigella, yang menyebabkan diare hingga muntaber (Lim, 1998).
Sifat-sifat bakteri coliform adalah:
(1)

Mampu

tumbuh

baik

pada

beberapa

jenis

substrat

dan

dapat

mempergunakan berbagai jenis karbohidrat dan komponen organik lain


sebagai sumber energi dan beberapa komponen nitrogen sederhana sebagai
(2)
(3)
(4)
(5)

sumber nitrogen
Mempunyai sifat dapat mensistesa vitamin
Mempunyai interval suhu pertumbuhan antara 10-46,5 oC
Mampu menghasilkan asam dan gas gula
Dapat menghilangkan rasa pada bahan pangan

(6)

Dapat menyebabkan pelendiran


Beberapa jenis bakteri selain coliform juga memiliki sifat fermentatif, sehingga

diperlukan uji konfirmasi untuk mengetes kembali kebenaran adanya coliform dengan
bantuan medium selektif diferensial. Uji kelengkapan kembali meyakinkan hasil tes uji
konfirmasi dengan mendeteksi sifat fermentatif dan pengamatan mikroskop terhadap
ciri-ciri coliform: berbentuk batang, gram negatif, tidak-berspora. Bakteri Coliform ada 2
jenis :
1. Fekal : berasal dari tinja manusia dan mamalia (misal : Escherichia coli)
2. Nonfekal : berasal dari sumber lain (misal : Enterobacter aerogenes,
Klebsiella)
Escherichia coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau
manusia, sedangkan Enterobacter aerogenes biasanya ditemukan pada hewan atau
tanam-tanaman yang telah mati (Fardiaz, 1993 ). Jadi, adanya Escherichia coli dalam
air minum menunjukkan bahwa air minum itu pernah terkontaminasi feses manusia dan
mungkin dapat mengandung patogen usus. Perbedaan bakteri fekal dan non fekal
antara lain Escerechia coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan maupun
manusia sedang Enterobacter aerogenes biasanya ditemukan pada hewan atau
tanaman yang telah mati (Edwards,1987). Perbedaan yang lain, pada Coliform fekal
hidup sementara di badan air kurang lebih 48 jam, bakteri ini bisa tumbuh pada suhu
44,50C, pada media EMBA (Eosin Methylen Blue Agar) diameter koloni 0,5 -1,5 mm,
menghasilkan asam lebih banyak dan dapat menurunkan pH mencapai 5, dan uji warna
merah metal menjadi merah. Coliform nonfekal, hidupnya bertahan di badan air hanya
timbul maksimal pada suhu 37 0C, pada media EMBA (Eosin Methylen Blue Agar)
diameter koloni lebih besar yaitu 1,0-3,0 mm, pH turun sekitar 6,0, dan uji merah metal
berwarna kuning (Faardiaz, 1992).
Dalam praktikum mikrobiologi, teknik aseptik merupakan aspek yang sangat
diperhatikan. Oleh karena itu, sebelum memulai praktikum, alat dan bahan serta area
kerja harus dipastikan steril agar tidak ada kontaminasi pada hasil akhir. Area kerja di
sterilkan dengan menggunakan alkohol dan penggunaan pembakar spirtus. Alat dan
bahan yang digunakan disterilkan dengan melakukan sterilisasi kering atau sterilisasi

basah sesuai dengan kebutuhan. Selain pada saat persiapan, saat proses praktikum
juga harus dilakukan dengan teknik aseptik. Ketika membuka atau menutup tabung
reaksi atau cawan petri harus dilewatkan ke pembakar spirtus, dan menggunakan APD
yang memadai seperti masker, sarung tangan, dll untuk memperkecil kemungkinan
terjadinya kontaminasi.
VIII.

Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil praktikum yang telah dilakukan untuk mengetahui kualitas

air dengan menggunakan uji mikrobiologi dengan metode membrane filter menunjukkan
bahwa sampel air yang didapatkan merupakan sampel air yang tidak layak dikonsumsi
karena positif mengandung E.coli yang memberikan warna merah muda pada media
endoagar. Pada praktikum ini, tidak diketahui berapa jumlah koloni E.coli yang
terkandung dalam sampel. Hal ini dikarenakan sampel maupun blanko terkontaminasi
oleh kapang. Kontaminasinya dapat dari berbagai sumber seperti kurang sterilnya
peralatan dan area kerja saat pengerjaan maupun ketidak lengkapan APD, seperti
sarung tangan dan masker serta tutup kepala yang seharusnya dapat memperkecil
kemungkinan kontaminasi.
IX.

Daftar Pustaka
Anonim.

2012.

Metoda

Pemeriksaan

Mikrobiologi

Air.

http://alatalatlaboratorium.com/Blog/mikrobiologi-air.
Fenina, Seyla. 2012. Laporan Praktikum Mikrobiologi Pemeriksaan Air.
http://dokumen.tips/documents/pemeriksaan-air-55b34a0ce7711.html.