Anda di halaman 1dari 23

KL 4099 Tugas Akhir

Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

Bab 9

ALTERNATIF PENGAMANAN DAN


KAJIAN RESIKO

Toni Pebriana (15504037)

Bab

ALTERNATIF PENGAMANAN DAN


KAJIAN RESIKO
Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9.1 Alternatif Pengamanan


Dalam menangani permasalahan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam,
diuraikan beberapa alternatif pengamanan selain dengan menggunakan struktur keras
(hard structure) di bawah ini. Dari beberapa alternatif ini kemudian akan diuraikan sebab
tidak digunakannya alternatif pengamanan tersebut. Adapun alternatif pengamanannya
antara lain:
1. Pengamanan dengan soft structure ( dengan buffer zone mangrove / coastal forest)
300 m - 1 km
Mangrove / Coastal Forest

Lumpur

Sill / Submerged Breakwater

Gambar 9.1 Ilustrasi penerapan metode pengamanan dengan soft structure.


Dalam penerapan alternatif pengamanan ini diperlukan upaya penanaman mangrove
(bakau) pada kawasan sepanjang 300 m -1 km dari bibir pantai. Kelemahan perlindungan
dengan mangrove ini adalah dibutuhkan waktu yang sangat lama bagi tanaman mangrove
ini untuk tumbuh.
Di antara jenis-jenis pohon bakau yang ada, yang sering di jumpai di daerah tropis
seperti Indonesia adalah:
(1) White mangrove (Laguncularia racemosa)
(2) Red mangrove (Rhizopora Mangle)
KL 4099 Tugas Akhir
Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-1

Toni Pebriana (15504037)

(3) Black mangrove (Avicennia germinans)

Gambar 9.2 Jenis pohon bakau yang dijumpai di Indonesia


2. Do Nothing, relokasi
Relokasi

Erosi
Deposisi

Gambar 9.3 Ilustrasi penerapan metode relokasi.


Penerapan alternatif pengamanan ini akan menimbulkan permasalahan sosial dan akan
diperlukan lahan luas untuk relokasi penduduk.

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-2

Toni Pebriana (15504037)

3. Adaptasi
Adaptasi

Erosi
Deposisi

Pile

Gambar 9.4 lustrasi penerapan metode adaptasi


Penerapan alternatif pengamanan ini memerlukan desain pondasi bangunan di pinggir
pantai berupa pondasi tiang (pile). Alternatif ini tidak meberikan solusi terhadap
perbaikan keadaan dan morfologi pantai padahal masyarakat sekitar sangat memerlukan
areal pantai untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
4. Pengamanan hard structure, meliputi :
a) Pengamanan terhadap crosshore transport
1) Revetment
Revetment dapat dibangun sebagai bangunan pantai yang dibuat terutama
untuk mencegah longsor serta melindungi pergeseran garis pantai karena
erosi akibat arus dan gelombang air laut maupun akibat adanya beban
bangunan-bangunan lain yang berada di dekat garis pantai tersebut.
Umumnya revetment merupakan bangunan pantai konstruksi teringan
dibandingkan dengan jenis-jenis bangunan pantai yang lainnya.

Gambar 9.5 Contoh revetment.

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-3

Toni Pebriana (15504037)

Ilustrasi Penggunaan Revetment

Tanpa bangunan pelindung, pantai akan tergerus

Crosshore Transport

Gambar 9.6 Kondisi pantai sebelum ada revetment

Crosshore Transport

Dengan pembuatan revetment pada garis pantai ,


pantai tidak akan tergerus, tetapi tidak ada
penambahan lahan.

Gambar 9.7 Kondisi pantai setelah ada revetment


2) Seawall
Tembok laut biasanya dibangun untuk melindungi pantai atau tebing dari
hantaman gelombang laut, sehingga tidak terjadi erosi ataupun abrasi.
Tembok laut pada umumnya dipasang di garis pantai dengan struktur pondasi
sampai tanah keras. dan pada kondisi pantai yang curam.

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-4

Toni Pebriana (15504037)

Gambar 9.8 Contoh penggunaan seawall (tembok laut)


Ilustrasi Penggunaan Seawall (Tembok Laut)

Tanpa bangunan pelindung, pantai akan tergerus

Crosshore Transport

Gambar 9.9 Kondisi pantai sebelum ada seawall (tembok laut)

Crosshore Transport

Dengan pembuatan seawall pada garis pantai ,


pantai tidak akan tergerus, tetapi tidak ada
penambahan lahan.

Gambar 9.10 Kondisi pantai setelah ada seawall (tembok laut)

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-5

Toni Pebriana (15504037)

3) Offshore Breakwater
Menghadang gelombang di wilayah perairan sehingga terbentuk perairan
tenang di belakang breakwater dan biasanya terbentuk tombolo. Agar tidak
mahal, harus terdapat daerah pantai yang cukup landai. Dalam hal ini armor
yang digunakan untuk filter layer adalah bisa berupa kubus beton atau geobag
sedangkan cover layer berupa tetrapod.

Gambar 9.11 Contoh penggunaan offshore breakwater


Ilustrasi Penggunaan Offshore Breakwater

Gelombang

Tanpa bangunan pelindung, pantai akan tergerus

Longshore transport

Gambar 9.12 Kondisi pantai sebelum ada offshore breakwater

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-6

Toni Pebriana (15504037)

Gelombang

Longshore transport menjadi kecil karena energi


gelombang lemah

(1). Dengan pembuatan offshore breakwater pantai tidak tergerus,


dan ada penambahan lahan karena terbentuknya tombolo
(2). Offshore breakwater dapat melindungi pantai dari serangan
gelombang tegak lurus maupun miring terhadap garis pantai

Gambar 9.13 Kondisi pantai setelah ada offshore breakwater


b) Pengamanan terhadap longshore transport
1) Revetment
2) Seawall
3) Offshore Breakwater
4) Groin.
Groin atau sistem groin dibangun untuk menstabilkan sebuah bentang pantai,
alami atau pantai yang diisi pasir terhadap erosi yang disebabkan terutama
oleh kehilangan sedimen netto searah pantai.
Groin hanya berfungsi jika transpor sedimen sejajar pantai (longshore
transport) dominan.
Groin merupakan struktur yang sempit, biasanya lurus dan tegak lurus
terhadap pantai awal. Pengaruh groin tunggal adalah akresi sedimen pada sisi
hulu dan erosi pada sisi hilirnya; pengaruh keduanya mencapai jarak tertentu
dari struktur. Akibatnya, sebuah sistem groin (satu seri groin) menghasilkan
pantai berbentuk gigi gergaji di antara medan groin dan perbedaan elevasi
pantai antara sisi hulu dan sisi hilir groin

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-7

Toni Pebriana (15504037)

Qnetto = Qright - Qleft


groin

Downdrift

Akresi

Updrift

Garis pantai mula


-mula
Erosi

(a) Akresi

Erosi di sekitar groin


Qnet

(b) Seri

Arah transpor dominan

groin dan bentuk pantai yang dihasilkan

Gambar 9.14 Contoh penggunaan groin


Ilustrasi Penggunaan Groin
Tanpa bangunan pelindung, pantai akan tergerus
Gelombang

Lokasi Gelombang Pecah / Breaker Line


Longshore Transport Dominan

Gambar 9.15 Kondisi pantai sebelum ada groin

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-8

Toni Pebriana (15504037)

Gelombang

Lokasi Gelombang Pecah / Breaker Line

Longshore Transport Dominan

Akresi pada hulu groin

Erosi pada hilir groin

Dengan pembuatan groin terjadi akresi pada sisi


hulu groin dan akresi pada sisi hilir groin

Gambar 9.16 Kondisi pantai setelah ada groin


Kerusakan Pantai Manokwari dan Pantai Mansinam terutama diakibatkan oleh adanya
crosshore transport yang dominan sehingga alternatif struktur pengaman pantai yang
diajukan adalah offshore breakwater.

9.2 Penentuan Skala Prioritas


Dalam penentuan alternatif pengamanan terbaik untuk Pantai Pasir Putih, Pasir Ido, Pasir
Dua dan Mansinam, Kabupaten Manokwari ditentukan beberapa hal yang harus
dibandingkan dalam skala prioritas sebagai berikut.
1) Ketersediaan Material
Tabel 9.1 Ketersediaan material di lokasi pekerjaan
No

Jenis Material

Keterangan

Batu alam

Berdasarkan informasi lokal, batu alam akan sulit didapat


karena harus ada pelepasan adat

Karung pasir
geotekstil

Material ini rawan terhadap vandalism, dan karena dasar


pantai berupa karang dikhawatirkan akan robek

Cor beton

Material cor beton sesuai untuk digunakan di lokasi


pekerjaan karena material sirtu dan semen mudah didapat
di lokasi

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-9

Toni Pebriana (15504037)

Dari tabel diatas bisa disimpulkan bahwa material yang cocok digunakan dalam
pembuatan bangunan pantai adalah material cor beton.
2) Keuntungan dan Kerugian Masing-Masing Struktur Secara Garis Besar
Tabel 9.2 Tabel perbandingan masing-masing alternatif
No

Jenis Struktur

Perkiraan
Harga/meter

Keuntungan

1. Mudah pengerjaan

Revetment kubus
beton

Rp. 24.860.000 2. Harga lebih murah


daripada offshore
breakwater

Kerugian
1. Lahan di depan
revetment akan
lenyap dan tidak
punya lahan lebih
2.Tidak
mengurangi energi
gelombang yang
di pantai

3. Metoda melalui
darat
Seawall
(Dengan Toe
Protection)

Rp 17.319.604

2
Seawall
(Tanpa Toe
Protection)

Rp 12.071.755

1. Pekerjaan hanya
pada saat pasang
surut

1. Lahan di depan
seawall akan
lenyap dan tidak
punya lahan lebih

2. Harga lebih mahal


daripada revetment

2.Tidak
mengurangi energi
gelombang yang
di pantai

3. Struktur harus
kokoh, dan tinggi
karena menghadang
gelombang
1. Pekerjaan bisa
melalui darat/laut

Offshore
Breakwater
( Filter Layer Kubus
beton)

Rp.40.000.000

1. Harga lebih
mahal

2.Ada tambahan lahan


di pantai karena
proses terjadinya
tombolo/salient
3. Mematahkan energi
gelombang sebelum
mencapai pantai

Setelah dilakukan berbagai pertimbangan (tanpa memprioritaskan unsur biaya), akhirnya


dipilih bangunan pelindung pantai berupa offshore breakwater untuk mengatasi
permasalahan erosi/abrasi yang terjadi di lokasi Pantai Manokwari (Pasir Putih, Pasir Ido,
Pasir Dua) dan Pantai Mansinam.
Pemilihan struktur offshore breakwater yang digunakan untuk mengatasi penggerusan
(erosi/abrasi) yang terjadi di Pantai Manokwari dan Pantai Mansinam ini didasarkan pada
KL 4099 Tugas Akhir
Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-10

Toni Pebriana (15504037)

keefektifan struktur breakwater dalam meredam gelombang yang datang dari laut dalam
yang berdampak pada berkurangnya penggerusan (erosi/abrasi) yang akan terjadi serta
kemungkinan timbulnya/bertambahnya areal daratan (salient/tombolo) di belakang
struktur breakwater.

9.3 Kajian Resiko Akibat Bahaya Kerusakan Pantai


Resiko adalah suatu besaran yang mengkuantifikasikan seberapa besar kemungkinan
dampak dari kerusakan pantai terhadap lingkungan sekitar. Penentuan prioritas
pengamanan/kebijakan dalam perencanaan anggaran konstruksi pengamanan pantai
dapat didasarkan pada kajian resiko ini. Suatu kajian resiko dapat ditampilkan dalam
bentuk peta GIS (Geographical Information System) dimana di dalam peta tersebut
didapat kontur resiko pada areal pantai atau suatu coastal cell yang ditinjau.
Besaran Resiko adalah:

R=BxV
Dimana R adalah Resiko; B = Bahaya; V = Vulnerability atau Kerentanan. Dalam halnya
peta GIS, dibuat berdasarkan overlay kontur kuantifikasi Bahaya (B) dan Vulnerability
(Kerentanan). Dimana rumusan V adalah:

V = PK/KK
Dimana PK = Potensi Kerusakan dan KK = Kapasitas Kesiapan
Potensi Kerusakan (PK) adalah suatu besaran yang menunjukkan suatu potential
kerusakan suatu daerah. Sebagai contoh apabila di daerah tersebut terdapat buffer zone
berupa hutan pantai/pepohonan, maka daerah tersebut mempunyai PK yang rendah
dibanding dengan lokasi tanpa buffer zone. Demikian juga PK suatu tempat umum yang
penting artinya yakni suatu pasar akan lebih besar daripada PK pemukiman/tempat
ibadah.
Contoh KK (Kapasitas Kesiapan) adalah dapat dikuantifikasikan dari Penghasilan per
tahun dari masyarakat, yakni masyarakat dengan penghasilan tinggi/tahun biasanya
mempunyai KK yang rendah dibanding masyarakat dengan penghasilan rendah per
tahunnya. Dapat pula dilihat dari norma masyarakat, dimana kapasitas kesiapan
masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana lebih kecil daripada masyarakat Bantul
Jogja, dimana kalau di Aceh terjadi bencana maka waktu berkabung dan waktu untuk
rekonstruksi lama sekali (bulanan) sedangkan kalau terjadi bencana di Bantul Jogja,
maka masyarakat Jogja bisa langsung bergerak untuk bekerja kembali membangun
desanya dalam waktu singkat sehari/dua hari. Maka KK di daerah Bantul Jogja lebih tinggi
daripada KK di daerah Aceh.

9.4 Bahaya
Bahaya adalah suatu kondisi alam yang tak terhindarkan akan timbul pada suatu areal
pantai. Yang dapat dimasukkan ke dalam kategori hazard adalah:
1. Bahaya gelombang akibat badai
2. Kerusakan pantai akibat ketidakseimbangan pasokan sedimen di areal pantai
3. Tsunami
4. Angin
KL 4099 Tugas Akhir
Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-11

Toni Pebriana (15504037)

Dalam halnya kajian resiko di pesisir Manokwari ini, maka yang akan digunakan adalah
langsung pada kerusakan pantai yang ada di lokasi. Akan dilakukan Pen-skor-an bahaya
seperti tertera di Tabel 9.3 berikut.
Tabel 9.3 Skor derajat kerusakan pantai
No

Derajat Kerusakan Pantai

Score

Parah

10

Medium

7.5

Ringan

Tidak Rusak

Pemberian keriteria serta pemberian skor derajat kerusakan yang dilakukan merupakan
hal yang sangat subjektif dan sangat tergantung pemahaman masing-masing pihak.
Namun dalam masalah yang terjadi di Pantai Manokwari dan Pantai Mansinam ini,
penulis memberikan kriteria dan derajat pen-skoran seperti pada Tabel 9.3.

9.5 Vulnerability
Vulnerability atau tingkat kerentanan adalah tingkat kerapuhan dari individu, kelompok
atau komunitas masyarakat yang berada di wilayah yang akan diperkirakan terjadinya
bencana, Sehingga Vulnerability assesment atau kajian kerentanan adalah determinasi
dari tingkat kerentanan masyarakat termasuk faktor fisik dan infrastruktur, sosial,
ekonomi, dan faktor lingkungan di sebuah komunitas di area bencana terhadap akibat dari
bencana itu sendiri. Kerentanan juga melingkupi kesiapan dan pemahaman masyarakat
terhadap potensi bencana yang akan terjadi.
PK (Potensi Kerusakan) yang ada di area pesisir Pantai Manokwari dan Pantai Mansinam
dapat digolongkan menjadi beberapa hal seperti Tabel 9.4.

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-12

Toni Pebriana (15504037)

Tabel 9.4 Skor PK (= Potensi Kerusakan) di area pesisir Pantai Manokwari dan Pantai
Mansinam
No
1

Item
Pemukiman Nelayan

Tempat Bersejarah

Ada buffer zone (pepohonan)

Keterangan

Skor

Padat

10

Medium

7.5

Jarang

Tidak ada

Ada

10

Tidak ada

Lebat

Tidak Lebat

Tidak ada

10

Sudah ada struktur pengaman Sudah ada


pantai
Ada sebagian
Tidak ada

1
5
10

Sama seperti halnya dengan kriteria dan pen-skoran yang dilakukan terhadap bobot
bahaya pada subbab 9.4, kriteria dan pemberian skor pada jenis dan bobot kerentanan ini
juga bersifat sangat subjektif, sehingga sangat tergantung dari pandangan masing-masing
pihak. Pemberian kriteria dan skor ini dilakukan guna mempermudah saat pelaksanaan
pembangunan struktur pengaman pantai guna memastikan bahwa daerah yang akan
dilindungi terlebih dahulu merupakan daerah yang sangat memerlukan perlindungan
secepatnya, hal itu karena pelaksanaan pembangunan struktur breakwater memerlukan
waktu yang tidak sebentar sehingga perlu ditentukan daerah mana yang memerlukan
perlindungan terlebih dahulu.
Penilaian terhadap bahaya dan kerentanan (V = PK/CC) akan digambarkan berdasar
legenda lokasi yang dituliskan pada peta citra satelit Google seperti di bawah ini:

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-13

Toni Pebriana (15504037)

Gambar 9.17 Legenda penomoran lokasi yang akan dikaji resiko kerusakannya.

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-14

Toni Pebriana (15504037)

Tabel 9.5 Perhitungan Resiko Kerusakan Pantai di Pesisir Manokwari


No

1
2
3

Nama Lokasi

Pantai Pasir Dua (Desa


Abasi)
Pantai Pasir Dua
Pantai Pasir Dua, Rumah
Besar Pribadi

Pasir Ido

5
6

Pasir Putih dekat desa


Pantai Pasir Putih

7
8

Tingkat Bahaya (Hazard/Kerusakan Pantai)


(B)
Rusak/tidak rusak
Score

Rusak Parah, sudah sampai ke


rumah nelayan
Rusak Parah, sudah sampai ke
rumah nelayan
Medium

Kerentanan (Vulnerability)
KK
(Kapasitas
Kesiapan)

PK (Potensi Kerusakan)
Pemukiman/
Infrastruktur
Umum

Score
Pemukiman

Tempat
Bersejarah

Score
Tempat
Bersejarah

Ada Buffer
Zone Pohon

10

Medium

7.5

Tidak ada

Tidak ada

10

10

Medium

7.5

Tidak ada

Tidak ada

Padat

10

Tidak ada

7.5
10

Tidak ada
Tidak ada

7.5

Medium
Padat
Padat/Ada
Infrastruktur
Jalan
Tidak ada

10
1

7.5

Jarang
Padat
Tidak Ada
Padat
Padat
Padat
Tidak Ada

Score Ada Struktur


Buffer
Seawall

Score
Struktur

TOTAL
SCORE PK

Tidak ada

10

750

10

Tidak ada

10

750

Tidak ada

10

Sudah Ada

100

1
1

Tidak ada
Tidak ada

10
10

Tidak ada
Sudah Ada

10
1

750
100

1
1

Tidak ada
Tidak ada

1
1

Tidak Lebat
Tidak Lebat

5
5

5
10

250
50

1
1

Tidak ada

Tidak Lebat

Sudah Ada
sebagian
Tidak ada
Sudah ada
sebagian

125

10
1
10
10
10
1

Tidak ada
Tidak ada
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

1
1
10
1
1
1

Tidak Lebat
Lebat
Tidak ada
Tidak ada
Tidak Lebat
Lebat

5
1
10
10
5
1

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

10
10
10
10
10
10

500
10
10000
1000
500
10

1
1
1
1
1
1

5
Rusak Parah, sudah sampai ke
rumah nelayan
Tidak ada kerusakan
Ada kerusakan, tetapi sudah ada
seawall sebagian

Tanjung Pasir Putih 1


Pantai Pasir Putih dekat
Kuburan
Tanjung Pasir Putih 2

10
11
12

Pantai Barat Mansinam


Monumen Pendaratan
Dermaga Eksisting

Rusak, tapi tak ada penduduk


Ada kerusakan, tetapi sudah ada
seawall sebagian
Rusak parah, pantai curam ,
gelombang sudah sampai
perumahan nelayan
Medium
Ringan
Ringan

13
14

Pantai Utara Mansinam


Pantai Timur Mansinam

Ringan
Medium

10
1
7.5

10
5
2.5
2.5
2.5
5

Setelah dilakukan pengurutan angka Resiko mulai dari terbesar ke terkecil dapat dilihat di Tabel 9.6 di bawah ini

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-15

Toni Pebriana (15504037)

Tabel 9.6 Perhitungan Resiko Kerusakan Pantai di Pesisir Manokwari ( Sudah Diurutkan)

khusus
5

khusus

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-16

Toni Pebriana (15504037)

9.6 Lokasi yang Tidak Perlu Pengamanan


Dari Tabel 9.6, didapat bahwa Urutan Prioritas adalah mulai dari Monumen Pendaratan,
walau hanya terdapat kerusakan ringan, tetapi arti historis yang besar menyebabkan
lokasi ini menempati ranking no 1.
Penulis merekomendasikan bahwa mulai urutan ranking 8 14 tidak diperlukan
pengamanan pantai sama sekali, alasannya dapat dilihat pada Tabel 9.7 dan Tabel 9.8.
Tabel 9.7 Daftar Lokasi yang tak perlu pengamanan di Pantai Manokwari

Tabel 9.8 Daftar Lokasi yang tak perlu pengamanan di Pantai Mansinam

9.7 Lokasi Perlu Pengamanan dengan Catatan Khusus


Sedangkan lokasi nomor 6 (ranking 7 pada Tabel 9.6) penulis merekomendasikan suatu
bentuk perlindungan revetment yang merupakan pelindung bagi jalan raya di
belakangnya. Nomor 6 adalah pada Pantai Pasir Putih dimana terdapat lokasi jalan raya
yang sangat dekat di belakangnya.revetment dibuat di lokasi tersebut guna memastikan
bahwa di lokasi tersebut benar-benar tidak akan terjadi penggerusan dan garis pantai
tidak akan mengalami kemunduran yang dapat mengganggu keberadaan jalan raya di
belakangnya.

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-17

Toni Pebriana (15504037)

Gambar 9.18 Lokasi dengan nomor legenda 6 diusulkan revetment untuk melindungi
jalan raya di belakangnya.
.
Untuk lokasi nomor 8 (ranking 9 pada Tabel 9.6) yakni pada lokasi Pantai Pasir Putih
dekat kuburan, jika akan dilindungi penulis merekomendasikan untuk meneruskan tipe
pengamanan pantai yang sekarang sudah ada di di lokasi dengan catatan:
1.

Menambahkan toe protection yang cukup dengan lebar sekitar 2-3 meter berupa
tambahan batu ukuran 100-300 kg. Kedalaman pondasi/toe protection adalah
ditambah agar dasar pondasi seawall adalah pada -1.0 (kedalaman 3 meter di bawah
elevasi +2.0), agar pada saat muka air di +0.00 dan terjadi gelombang yang
menggerus kaki, tidak terjadi keruntuhan fondasi seawall akibat scour

2.

Elevasi atas sekarang adalah = +2.0 + 1.0 = +3.0. Sedangkan menurut perhitungan,
elevasi atas seawall yang cukup agar tak terjadi overtopping adalah sekitar +3.60.
Sehingga elevasi atas seawall harus ditambah sekitar 60 cm.

3.

Penambahan drainase di belakang seawall agar air limpasan dari gelombang


mengalir dengan baik, dan kemudian dialirkan ke depan seawall (sisi gelombang)
dengan menggunakan pipa suling diameter 5 cm. Pipa suling dipasang setiap jarak
25 meter dari seawall.

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-18

Toni Pebriana (15504037)

Gambar 9.19 Lokasi pada pantai pasir putih dekat kuburan yang sudah ada
pengamanan pantai berupa seawall, yang kurang adalah toe protection

Gambar 9.20 Lokasi pasir putih dekat kuburan yang sudah dibangun seawall, yang
kurang ada toe protection.

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-19

Toni Pebriana (15504037)

Kekurangan dari pembuatan seawall tersebut adalah :


1) Tidak tampak adanya toe protection yang dapat berakibat terjadinya scour (erosi
pada kaki struktur) dan selanjutnya seawall akan runtuh.
2) Elevasi atas seawall juga kurang, karena untuk mencegah overtopping, perlu
elevasi sampai +3.60. Saat ini elevasi atas adalah sekitar +3 meter saja.
3) Pondasi seawall kurang dalam. Sebaiknya pondasi seawall terletak pada
kedalaman -1.0 .(Keterangan elevasi adalah berdasarkan LLWL),
4) Perlu drainase di belakang seawall dan pipa suling setiap 25 meter di badan
seawall untuk mencegah penumpukan air limpasan di belakang seawall yang
berakibat timbulnya tekanan besar di belakang seawall, bisa meruntuhkan
seawall.

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-20

Toni Pebriana (15504037)

10 Contents
Bab .......................................................................................................1
ALTERNATIF PENGAMANAN DAN KAJIAN RESIKO...........................................1
Desain Pengamananan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten
Manokwari ...............................................................................................1
9.1

Alternatif Pengamanan .................................................................1

9.2

Penentuan Skala Prioritas .............................................................9

Setelah dilakukan berbagai pertimbangan (tanpa memprioritaskan unsur


biaya), akhirnya dipilih bangunan pelindung pantai berupa offshore
breakwater untuk mengatasi permasalahan erosi/abrasi yang terjadi di
lokasi Pantai Manokwari (Pasir Putih, Pasir Ido, Pasir Dua) dan Pantai
Mansinam.......................................................................................... 10
Pemilihan struktur offshore breakwater yang digunakan untuk mengatasi
penggerusan (erosi/abrasi) yang terjadi di Pantai Manokwari dan Pantai
Mansinam ini didasarkan pada keefektifan struktur breakwater dalam
meredam gelombang yang datang dari laut dalam yang berdampak pada
berkurangnya penggerusan (erosi/abrasi) yang akan terjadi serta
kemungkinan timbulnya/bertambahnya areal daratan (salient/tombolo) di
belakang struktur breakwater. ............................................................. 10
9.3

Kajian Resiko Akibat Bahaya Kerusakan Pantai .............................. 11

9.4

Bahaya ..................................................................................... 11

9.5

Vulnerability .............................................................................. 12

9.6

Lokasi yang Tidak Perlu Pengamanan ........................................... 17

9.7

Lokasi Perlu Pengamanan dengan Catatan Khusus ......................... 17

Tabel 9.1 Ketersediaan material di lokasi pekerjaan ............................................9


Tabel 9.2 Tabel perbandingan masing-masing alternatif ..................................... 10
Tabel 9.3 Skor derajat kerusakan pantai ........................................................ 12
Tabel 9.4 Skor PK (= Potensi Kerusakan) di area pesisir Pantai Manokwari dan Pantai
Mansinam .............................................................................................. 13
Tabel 9.5 Perhitungan Resiko Kerusakan Pantai di Pesisir Manokwari .................... 15
Tabel 9.6 Perhitungan Resiko Kerusakan Pantai di Pesisir Manokwari ( Sudah Diurutkan)
.......................................................................................................... 16
Tabel 9.7 Daftar Lokasi yang tak perlu pengamanan di Pantai Manokwari ................ 17
Tabel 9.8 Daftar Lokasi yang tak perlu pengamanan di Pantai Mansinam ................ 17
Gambar 9.1 Ilustrasi penerapan metode pengamanan dengan soft structure. .............. 1
KL 4099 Tugas Akhir
Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-21

Toni Pebriana (15504037)

Gambar 9.2 Jenis pohon bakau yang dijumpai di Indonesia ...................................2


Gambar 9.3 Ilustrasi penerapan metode relokasi. ...............................................2
Gambar 9.4 lustrasi penerapan metode adaptasi................................................3
Gambar 9.5 Contoh revetment. .....................................................................3
Gambar 9.6 Kondisi pantai sebelum ada revetment.............................................4
Gambar 9.7 Kondisi pantai setelah ada revetment ..............................................4
Gambar 9.8 Contoh penggunaan seawall (tembok laut)........................................5
Gambar 9.9 Kondisi pantai sebelum ada seawall (tembok laut) ...............................5
Gambar 9.10 Kondisi pantai setelah ada seawall (tembok laut) ...............................5
Gambar 9.11 Contoh penggunaan offshore breakwater ........................................6
Gambar 9.12 Kondisi pantai sebelum ada offshore breakwater ...............................6
Gambar 9.13 Kondisi pantai setelah ada offshore breakwater ................................7
Gambar 9.14 Contoh penggunaan groin ..........................................................8
Gambar 9.15 Kondisi pantai sebelum ada groin .................................................8
Gambar 9.16 Kondisi pantai setelah ada groin ...................................................9
Gambar 9.17 Legenda penomoran lokasi yang akan dikaji resiko kerusakannya. ....... 14
Gambar 9.18 Lokasi dengan nomor legenda 6 diusulkan revetment untuk melindungi
jalan raya di belakangnya. .......................................................................... 18
Gambar 9.19
Lokasi pada pantai pasir putih dekat kuburan yang sudah ada
pengamanan pantai berupa seawall, yang kurang adalah toe protection ................... 19
Gambar 9.20 Lokasi pasir putih dekat kuburan yang sudah dibangun seawall, yang
kurang ada toe protection. .......................................................................... 19

KL 4099 Tugas Akhir


Desain Pengamanan Pantai Manokwari dan Pantai Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari

9-22

Anda mungkin juga menyukai