Anda di halaman 1dari 25

ARAHAN PENGEMBANGAN TRANSPORTASI

PERKOTAAN DALAM RPJMN 2015-2019


Ikhwan Hakim
Direktur Transportasi

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/


Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
17 November 2016

Kerangka Paparan

Kebijakan Transportasi Perkotaan


Strategi Pengembangan Transportasi Perkotaan

Aspek Pendanaan
Kesimpulan

Kebijakan Transportasi Perkotaan

...memerlukan kemampuan pengelolaan wilayah yang tinggi dari Pemerintah Kota


Urbanisasi tumbuh rata-rata 4,1% per tahun (lebih cepat dari
perkotaan Asia lainnya). Pada tahun 2025, diperkirakan 68%
penduduk Indonesia berada di perkotaan.
Sumbangan PDB dari enam kota metropolitan mencapai 40% PDB
nasional.
Konsentrasi pekerjaan formal dan produktivitas di perkotaan
mengakibatkan tiap 1% pertumbuhan urbanisasi berkorelasi
dengan peningkatkan PDB per-kapita 13% (India), 10% (Tiongkok),
7% (Thailand), dan 4% (Indonesia).
Di Jakarta pangsa angkutan umum 2002-2010 turun dari 40% ke
13%, sementara pangsa sepeda motor naik dari 21% ke 49%.
Biaya ekonomi akibat kemacetan di Jakarta diperkirakan mencapai
Rp 60 T per tahun.
Rendahnya korelasi urbanisasi dan pertumbuhan PDB per-kapita
Indonesia disebabkan karena tingginya kemacetan, polusi, dan
risiko bencana akibat investasi infrastruktur yang kurang memadai.

Kebijakan Transportasi Perkotaan

2
...kebijakan nasional pengembangan transportasi perkotaan tertuang dalam RPJMN 2015-2019
PERMASALAHAN

AMANAT RPJPN

1. Kondisi jalan
daerah kurang
memadai
2. Pembangunan
Kereta api masih
terbatas.
3. Kinerja Pelabuhan
kurang kompetitif
4. Rasio Elektriikasi
rendah (Krisis
Energi)
5. Kapasitas
cadangan air
masih terbatas
Krisis Air

Infrastruktur Memadai; Pendapatan per kapita USD 14 Ribu;


Pengangguran < 5%; Penduduk Miskin < 5%; HDI dan GDI Meningkat

1. GEOPOLITIK
2. GEOEKONOMI
3. BONUS
DEMOGRAFI
4. AGENDA PASKA
2015
5. PERUBAHAN
IKLIM

ISU STRATEGIS
Peningkatan
Ketersediaan
Infrastruktur Dasar
Peningkatan Ketahanan
Air, Pangan dan Energi
Penguatan Konektivitas
Nasional
Pengembangan
Transportasi Massal
Perkotaan

Peningkatan Efektivitas
dan Efisiensi
Pembiayaan Penyediaan
Infrastruktur

REGULASI

SASARAN RPJMN
2015-2019
Dwelling Time
pelabuhan 3-4 hari
Biaya logistik menurun
menjadi 19,2% terhdap
PDB
Pangsa Pasar Angkutan
Umum 32%
On time performance
penerbangan mencapai
95%
Kondisi mantap jalan
nasional 98%
Areal irigasi yang
dilayani waduk 20%
Kapasitasi air baku
menjadi 118,6 m3/detik
Rasio Elektrifikasi 96,6%
Konsumsi Listrik per
Kapita 1200 kWh/kapita

KEBIJAKAN DAN SRATEGI


Meningkatkan keselamatan dan
keamanan dalam
penyelengaraantransportasi
Mengembangkan sarana dan prasarana
transportasi yang ramah lingkungan
Mengembangkan sistem angkutan
umum massal yang modern
Meningkatkan Kapasitas dan Kualitas
Jaringan Jalan Kota
Pembangunan Transportasi Multimoda
dan mendukung Sislognas, kawasan
industri, pariwisata dan pusat
pertumbuhan.
Mengembangkan Transportasi Massal
Perkotaan
Peningkatan layanan jaringan
irigasi/rawa dsan cakupan pemenuhan
dan kualitas layanan air baku
Pengendalian daya rusak air
Perluasan jangkauan pelayanan
ketenagalistrikan

KELEMBAGAAN

KEGIATANSTRATEGIS

TANTANGAN

VISI/MISI PRESIDEN + NAWA CITA

PENDANAAN

PERBAIKAN REGULASI, TEROBOSAN KEBIJAKAN DAN PENDANAAN KREATIF

Strategi Pengembangan Transportasi Perkotaan


...diperlukan strategi yang sempurna dari daerah untuk dapat mencapai sasaran transportasi nasional

Strategi
Membangun Angkutan
Massal Berbasis Jalan
dan Rel
Meningkatkan kapasitas
dan kualitas jaringan jalan
perkotaan
Menerapkan manajemen
sistem transporasi

Integrasi kelembagaan
transportasi
Sumber: RPJMN 2015-2019

Sasaran Pengembangan
Transportasi Perkotaan

Peningkatan peran angkutan umum


modal share minimum 32%
34 kota menerapkan sistem angkutan massal
Peningkatan rata-rata kecepatan perkotaan
kecepatan di jalan nasional minimum 20km/jam
penerapan ATCS di ibukota provinsi
Penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor
transportasi

RENCANA
INDUK
TRANSPORTASI
TERPADU

Peningkatan keselamatan transportasi perkotaan


penerapan Automatic Train Protection di jaringan
KA perkotaan
Penurunan fatalitas kecelakaan jalan hinga 50%
dari baseline (RUNK)

Contoh Keterpaduan Angkutan Umum


...perlunya pengembangan angkutan umum terintegrasi sesuai dengan hirarkinya

Jaringan MRT

Fasilitas
Parkir
(Park & Ride)

Jaringan Layanan
Angkutan Pengumpan

Fasilitas
Parkir
(Park & Ride)

Jaringan Layanan
Angkutan Pengumpan

Fasilitas
Parkir
(Park & Ride)

Kawasan
Kota

Jaringan BRT / LRT

Jaringan Layanan
Angkutan Pengumpan
Fasilitas
Parkir
(Park & Ride)

Contoh Pentingnya Tahapan Pengembangan Transportasi Perkotaan

..1

...kebersinambungan operasional ditentukan oleh kesesuaian pemilihan angkutan umum dengan tipologi daerahnya

Kota Kecil & Sedang


Penduduk < 500rb jiwa
Pergerakan < 1jt trip/hari

Kota Besar

Metropolitan

Penduduk 500rb - 1jt jiwa


Pergerakan 1jt - 3jt trip/hari

Penduduk 1jt - 5jt jiwa


Pergerakan 3jt - 10jt trip/hari

Megapolitan
Penduduk > 5jt jiwa
Pergerakan > 10jt trip/hari

Penataan/Revitalisasi Angkutan Kota (Angkot dan Bus Reguler)


Bus Rapid Transit (BRT)

(Kapasitas: 10-12rb pnp/jam; Durasi Konstruksi: 18-24 Bulan; Estimasi Biaya: 1-10jt $/km;
Estimasi Tarif: 3-10 ribu rupiah/trip)

Light Rail Transit (LRT)

(Kapasitas: 15-20rb pnp/jam; Durasi Konstruksi: 2-4 Tahun; Estimasi Biaya: : 24-160jt $/km;
Estimasi Tarif: 7-15 ribu rupiah/trip)

Mass Rail Transit (MRT)

(Kapasitas: 30-63rb pnp/jam; Durasi Konstruksi: 3-30 Tahun; Estimasi Biaya: : 40-220jt $/km;
Estimasi Tarif: 7-30 ribu rupiah/trip)
Sumber: Vucan R Vuchic, Urban Transit: System and Technology, John Wiley & Sons., Inc., 2007 edited

Contoh Pentingnya Tahapan Pengembangan Transportasi Perkotaan

..2

...perlu melakukan penataan ruang publik yang efisien


Perencanaan tata ruang publik meliputi rencana tata guna lahan dan
transportasi saat ini lebih terfokus pada penggunaan kendaraan pribadi sebagai pilihan utama mobilitas, sehingga
sebagian besar kota di Indonesia mengalami urban sprawling yang mengakibatkan kemacetan

Urban sprawling adalah


kondisi pembangunan kota
yang tersebar dan tidak terarah
sehingga penduduk harus
melakukan perjalanan ke
banyak tempat berbeda yang
terpisah-pisah untuk
memenuhi kebutuhannya.

Diperlukan dorongan
untuk penggunaan moda
transportasi yang efisien
melalui penyediaan
transportasi publik yang
efektif dan sesuai

Aspek Pendanaan

...terdapat gap 58,7% dipenuhi melalui sumber non-anggaran pemerintah


Kebutuhan Pendanaan

APBN + APBD:
Rp. 1.978,6 Tn
(41,3%)

Kebutuhan
Investasi
Infrastruktur*
2015-2019:
Rp. 4.796,2 Tn

BUMN:
Rp. 1.066,2 Tn
(22,2%)
PARTISIPASI
SWASTA:
Rp. 1.751,5 Tn
(36,5%)

Sumber

Deskripsi

Belanja K/L
Belanja non K/L
(subsidi, PSO)
Transfer daerah
Pembiayaan (PMN
dan viability gap
fund)

Menteri Keuangan berperan sebagai Chief Financial


Officer (CFO)
Anggaran infrastruktur:
2015: Rp 290,3 Tn
2016: Rp 313,5 Tn
2017: Rp 346,6 Tn
Sehingga total 2015-2019: Rp 1.500 Tn < Rp 1.978,6 Tn,
perlu keterlibatan swasta lebih besar

Swasta murni
BUMN murni
KPBU dengan jaminan
Non-Anggaran
Pemerintah

Diperlukan Koordinator PINA


Porsi investasi infrastruktur melalui skema KPBU
terhadap total investasi infrastruktur pada sejumlah
negara rata-rata adalah 22% (Inggris, Thailand,
Portugal dan Brazil memiliki figur tertinggi yaitu di atas
40%)

*) Dihitung berdasarkan tingkat kinerja infrastruktur yang diperlukan untuk pencapaian posisi negara berpendapatan menengah (middle income country) pada tahun 2025.
Sumber: Bappenas- JICA, 2014: Background Study for RPJMN 2015-2019, Analisa Tim Kementerian PPN/Bappenas

Aspek Pendanaan

Pemerintah memberikan
subsidi kepada BUMN
(Paradigma lama: subsidi
lebih baik diberikan kepada
BUMN daripada swasta)
Pemerintah belum optimal
dalam menarik investasi
(Paradigma lama: kebijakan
insentif merugikan keuangan
Negara)

Ketidakpastian skema proyek


infrastruktur (delivery
mechanism):
Swasta/KPBU/BUMN/APBN
Iklim investasi tidak
mendukung swasta untuk
berkembang pesat
Tantangan kondisi fiskal
menyebabkan backlog proyek
infrastruktur semakin banyak
Layanan publik tidak
berkelanjutan ketika anggaran
subsidi tidak lagi disediakan
bagi BUMN

Perubahan Paradigma

Pemerintah mengerjakan
sendiri proyek infrastruktur
yang layak secara komersial
atau menugaskan kepada
BUMN (Paradigma lama:
kalau menguntungkan secara
komersial mengapa harus
dikerjakan swasta?)

Implikasi

Kecenderungan

...diperlukan perubahan paradigma peran pemerintah, BUMN, dan swasta dalam pembiayaan pembangunan infra.
Kejelasan peran Pemerintah,
BUMN, dan swasta (Paradigma
baru: kepastian hukum atas
pelaksana proyek-proyek
investasi infrastruktur)

Peran swasta adalah mitra utama


Pemerintah dalam
menggerakkan perekonomian
(Paradigma baru: kalau layak
secara komersial mengapa tidak
diserahkan saja kepada swasta?)
Subsidi diberikan secara
kompetitif (Paradigma baru:
inisiatif swasta yang sudah ada
tidak boleh dimatikan)
Kebijakan insentif fiskal diberikan
sepenuh hati (Paradigma baru:
kalau tidak diberikan kerugian
justru semakin besar karena
opportunity costs)

10

Aspek Pendanaan

...optimalisasi pemanfaatan Perpres 38/2015 tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam pembangunan

Kepastian Usaha
Perizinan
Insentif

SWASTA
KPBU

Peluang Pemanfaatan KPBU: Perpres 38/2015

JV BUMN (brownfield)

JV BUMN (greenfield)
BUMN
APBN/APBD

Dibentuk Special Purpose Company (SPC) Untuk Proyek Yang Sudah Beroperasi
Dilakukan Divestasi Saham SPC
Meningkatkan Kemampuan Ekspansi BUMN Tanpa PMN

Dibentuk SPC Untuk Proyek yang Sedang Disiapkan


Dilakukan Kerjasama dengan Swasta dalam SPC tersebut
Meningkatkan Kemampuan Ekspansi BUMN Tanpa PMN

PMN Untuk Penugasan


Kementerian/Lembaga
Penyediaan Tanah
Komitmen Terhadap Paradigma Baru
Pembentukan Land Banking
Kesiapan Proyek KPBU dan APBN/APBD
Perkuatan Lembaga Manajemen
Pembentukan Simpul KPBU (Optimalisasi SDM)
Aset Negara (LMAN)

11

Kesimpulan
1. Pengembangan transportasi perkotaan merupakan prioritas nasional dalam RPJMN
2015-2019:
Target cukup ambisius (pangsa angkutan umum dari 23% ke 32%);
Pencapaian target adalah tanggung jawab semua, terutama Pemerintah Kota.

2. Strategi utama melalui pengembangan angkutan umum massal berkualitas


Angkutan umum bagian terpadu dari pengembangan perkotaan keseluruhan (bukan
piecemeal);
Rencana Induk Transportasi Terpadu adalah keharusan.

3. Pengembangan angkutan umum yang berkualitas membutuhkan investasi tidak sedikit


Perlu prioritasi dan tahapan agar investasi efektif dan efisien (sesuai rencana induk);
Perlu inovasi skema pendanaan.

12

Terima Kasih

ikhwan.hakim@bappenas.go.id

Lampiran
Contoh Studi Kasus KPBU

14

Skema Proyek KPBU


1.Skema KPBU Dengan Penjaminan Pemerintah
2.Skema KPBU Dengan Pengembalian Investasi Melalui Tarif dan VGF
3.Skema KPBU Dengan Pengembalian Investasi Melalui Availability
Payment/AP)

22

PENJAMINAN PEMERINTAH UNTUK PROYEK KPBU (1)


Fasilitas/Kontribusi Pemerintah :
Jaminan Pemerintah

Tujuan: untuk meningkatkan bankabilitas dan kelayakan


kredit proyek KPBU
Prinsip:
- Alokasi risiko
- Diberikan dengan memperhatikan prinsip pengelolaan
dan pengendalian risiko keuangan dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.

PJPK
(Kementerian/
Lembaga/BUMN)

Usulan
Penjaminan

Badan Usaha

Perjanjian Regres/
Rencana Mitigasi
Risiko

Perjanjian
Penjaminan

PT PII

Dasar Hukum :
-Perpres No. 78 Tahun 2010 Tentang Penjaminan Infrastruktur
Terhadap Proyek KPBU.
-PMK No. 260 Tahun 2010 Jo. PMK No. 8 Tahun 2016 Tentang Tata
Cara Penjaminan Infrastruktur.
-PMK No. 30 Tahun 2012 Tentang Tata Cara Pengelolaan Dana
Cadangan Penjaminan Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran
Kewajiban Penjaminan Pemerintah.

Perjanjian
Kerjasama

Kementerian
Keuangan

Kebijakan
Penjaminan &
PMN

Penjaminan
Bersama/
[Fasilitas Likuiditas]

Multilateral
Development
Agency/Lainnya

23

PENJAMINAN PEMERINTAH UNTUK PROYEK KPBU (2)


Contoh : Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap 2X1000 MW Di Jawa Tengah
Skema Proyek

24

SKEMA KPBU DENGAN PENGEMBALIAN INVESTASI MELALUI TARIF DAN VGF


Contoh : Proyek SPAM Umbulan

VGF : fasilitas pemberian dukungan pemerintah


dalam bentuk kontribusi fiskal yang bersifat
finansial.
VGF diberikan kepada proyek infrastruktur yang
dibangun dengan skema KPBU dan bertujuan
untuk meningkatkan kelayakan finansial proyek.
Maksimal pemberian VGF sebesar 49% dari nilai
investasi proyek
Tarif ditetapkan oleh PDAB berdasarkan
perjanjian jualbeli air curah dengan 5 PDAM
Dasar Hukum :
PMK No. 223/PMK.11/2012 tentang Pemberian
Dukungan Kelayakan Atas Sebagian Biaya
Konstruksi Pada Proyek Kerjasama Pemerintah
Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan
Infrastruktur

25

SKEMA PEMBIAYAAN MELALUI KPBU


(Pengembalian investasi melalui Availability Payment/AP)
Proyek Palapa Ring

Skema pengembalian investasi melalui:

Availability Payment/AP
Perjanjian
Regres
Availability Payment (AP)
Pembayaran secara berkala oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah kepada
Badan Usaha Pelaksana atas tersedianya layanan Infrastruktur yang sesuai dengan
kualitas dan/atau kriteria sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian KPBU.
Dasar Hukum :
Perpres 38/2015 tentang KPBU dalam Penyediaan Infrastruktur.
PMK Nomor 190/PMK.08/2015 tentang Pembayaran Ketersediaan Layanan
dalam Rangka KPBU dalam Penyediaan Infrastruktur.

Kriteria Umum Proyek KPBU AP:


Proyek infrastruktur yang secara komersial masih marginal
Proyek infrastruktur ekonomi atau infrastruktur sosial yang memiliki manfaat
besar bagi masyarakat
Proses pengadaan proyek dilakukan melalui tahapan pemilihan yang adil, terbuka
dan transparan, serta memperhatikan prinsip persaingan usaha yang sehat
Moda pengembalian investasi kepada badan usaha tidak berasal dari tarif
pengguna layanan
Tarif tetap dapat dikenakan kepada pengguna layanan, dimana pengelolaannya
dilaksanakan oleh PJPK

Perjanjian
Penjaminan

KominfoBP3TI

Availability
Payment

Badan
Usaha

Layanan
Jaringan

Access
Charge

Pengguna
Jaringan

EKUITAS:
Paket Barat:
Konsorsium Mora
Telematika Indonesia
Ketrosden
Triasmitra (Rp 425
Milyar
Paket Tengah:
Konsorsium Pandawa
Lima (Rp 425 Milyar)
Paket Timur:
Konsorsium
Moratelindo, IBS, dan
Smart Telecom

PINJAMAN:
Paket Barat: Bank
Mandiri (Rp 875
Milyar)
Paket Tengah: IIF,
BNI, SMI (Rp 975
Milyar)
Paket Timur: -

26

PEMBIAYAAN INVESTASI SELAIN APBN


Mekanisme pembiayaan proyek investasi prioritas yang dananya bersumber selain dari
APBN yang didorong dan difasilitasi oleh pemerintah sebagaimana diatur dalam
peraturan presiden ini.

a. mendukung pencapaian target


pembangunan nasional;
b. memenuhi kebutuhan pembiayaan
investasi dalam negeri;
c. meningkatkan daya saing Indonesia
di pasar internasional;
d. menggerakkan sektor strategis
ekonomi domestik; dan
e. mengoptimalkan kontribusi Pelaku
Usaha terhadap proyek-proyek
pembangunan Indonesia.

a. Proyek infrastruktur dan non


infrastruktur yang
pembiayaannya tidak bersumber
dari APBN; dan
b. Proyek Kerjasama Pemerintah
dengan Badan Usaha yang tidak
membutuhkan dukungan,
jaminan dan pengembalian
investasi yang bersumber dari
APBN.

a. Memiliki manfaat sosial


dan ekonomi;
b. Memiliki kelayakan
komersial;
c. Memenuhi kriteria
kesiapan (readiness
criteria); dan
d. Mendukung pencapaian
target prioritas
pembangunan nasional.

27

SUMBER PEMBIAYAAN INVESTASI SELAIN APBN


Penyertaan Modal
Dana Pensiun
Dana Kelolaan
Perbankan
Pasar Modal
Perasuransian

Lembaga Pembiayaan
Lembaga Jasa Keuangan lainnya; dan/atau
Sumber Pembiayaan lain yang sah

28

POTENSI INSTITUSI DANA KELOLAAN JANGKA PANJANG DI INDONESIA

INSTITUSI
PENGELOLA DANA

TOTAL DANA KELOLAAN

Rp. ~199.6 Triliun1

KAPASITAS INVESTASI LANGSUNG

Rp. ~9.98 Triliun (5 %)

(CAGR 2012-2015 14.6%)

JP - Rp ~83.81 Triliun Rp. ~8.38 Triliun (10%)


THT - Rp. ~58.31
Triliun

Rp. ~2.9 Triliun (5%)

Rp. ~9,3 Triliun2

Rp. ~930 Miliar (10%)

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

PP 55 Tahun 2015, membatasi investasi penyertaan


langsung paling tinggi hanya 5% dari jumlah dana

PMK No.79/2011 tentang Kesehatan Keuangan Badan


Penyelenggara Program Tabungan Hari Tua PNS yang
membatasi investasi penyertaan langsung paling tinggi 5%
untuk dana Tunjangan Hari Tua (THT) dan 10% untuk dana
Jaminan Pensiun (JP).
POJK 05 Tahun 2015 tentang kesehatan keuangan
perusahaan asuransi dan perusahan reasuransi yang
membatasi paling tinggi 10 % dari jumlah investasi.

Dana Pensiun BI, PLN, Pertamina, Telkom, Perkebunan, dll (total sekitar Rp. ~600 Triliun Dana Kelolaan)3
Potensi dana yang dikelola dapat dioptimalkan melalui relaksasi regulasi yang mengatur investasi/penyertaan langsung dana pensiun dan asuransi.
Saat ini investasi langsung di real estate sekitar 5.1 % dan penyertaan langsung pada saham 3.4 % terhadap total portofolio investasi 5
1: LPP BPJS Ketenagakerjaan 2015 sesuai Laporan Keuangan Audit per 30 Desember 2015 |2: Diolah dari Laporan Tahunan PT Jasa Raharja Tahun 2015 | 3: Berdasarkan statistik OJK dana kelolaan pensiun
dan asuransi sebesar Rp 954 Triliun per Juni 2016/ 5: Statistik OJK Agustus 2016

11

SKEMA PEMBIAYAAN INVESTASI NON-ANGGARAN PEMERINTAH


Potensi capital gain saat investment recycle proyek Brownfield

Kondisi
Proyek

Brownfield

Greenfield

Operation

Investor Baru

Investor Baru

(Dalam & Luar Negeri)

(Dalam & Luar Negeri)

Recycle
Investor

Skema
Pembiayaan

Ekuitas
Loan
Bank &
Lembaga
Pembiayaan

Sumber: Analisa Tim Kementerian PPN/Bappenas

Investor
Proyek PINA

Ekuitas

Sekuritisasi/Divestasi

Ekuitas

Proyek PINA

Surat
Utang

Loan
Bank &
Lembaga
Pembiayaan

Investor

Ekuitas

Proyek
PINA
baru

Proyek PINA

Proyek
PINA
baru

Bank &
Lembaga
Pembiayaan

30

PIPELINE PROYEK TAHAP AWAL: PEMBIAYAAN INVESTASI NON-ANGGARAN


PEMERINTAH (PINA) PADA SEKTOR INFRASTRUKTUR SEBESAR ~RP 426 TRILIUN
1

Waskita Karya (~Rp 70 Tn)


Pembangunan Ruas Tol Jawa (2016-2017)
1.
Kanci - Pejagan (35.0 km)
2.
Pejagan Pemalang (57.5 km)
3.
Pemalang Batang (39.2 km)
4.
Batang Semarang (75.0 km)
5.
Solo Ngawi (90.1 km)
6.
Ngawi Kertosono (87.0 km)
7.
Pasuruan Probolinggo (31.3 km)
8.
Cinere - Serpong (10.1 km)
9.
Bekasi Cawang Kampung Melayu (11.0 km)
10. Ciawi - Sukabumi (54.0 km)
11. Cimanggis - Cibitung (26.4 km)
12. Depok - Antasari (12.1 km)
Pembangunan Ruas Tol Non Jawa (2016-2017)
1.
Medan - Kualanamu - Tebing Tinggi (61.7 km)
2.
Kayu Agung - Palembang - Betung (111.7 km)

Power Plant (4.525 MW)


1. PLTG 556 MW
2. PLTGU 1,400 MW
3. PLTMG 100 MW
4. PLTU 2.454 MW
5. PLTMH 15 MW

* Masih harus dilakukan pendekatan lebih lanjut

Pelindo II (~Rp 100 Tn)

1. Pembangunan Pelabuhan Jawa Barat (Jawa Barat)


2. Pembangunan Pelabuhan Kalibaru (DKI Jakarta)
3. Pengembangan Pelabuhan Kijing (Kalimantan
Barat)
4. Inland Waterways/CBL Cikarang-Bekasi-Laut Jawa
(DKI Jakarta, Jawa Barat)
5. Pengembangan Pelabuhan batubara (Sumatera
Selatan)

Jasa Marga (~Rp 100 Tn) *


Pembangunan Ruas Tol Jawa (2016-2017)
1.
Pandaan Malang (37.6 km)
2.
Semarang - Solo (73.0 km)
3.
Mojokerto - Surabaya (36.0 km)
4.
Gempol - Pandaan (14.0 km)
5.
Gempol - Pasuruan (34.1 km)
6.
Jalan Tol Kunciran - Serpong (11,19km)
7.
Cinere - Jagorawi (14.6 km)
Pembangunan Ruas Tol Non Jawa (2017-2018)

PP Energi (~Rp 56 Tn)

Estimasi total nilai tahap 1: ~ Rp 426 Tn

Proyek-proyek tahap 1 memiliki


kesiapan tinggi untuk dibiayai
Proyek 1 (Waskita Karya Tol Jawa) telah
menjadi Pilot PINA sejak Feb 2016,
dimana per akhir Juli 2016 telah
dilakukan Binding Offer dan selanjutnya
adalah tahap financial closing

Potensi Proyek Swasta (~ Rp 100 Tn)


Proyek pembangkit listrik (IPP)
Proyek oil and gas storage

Sumber: Analisa Tim Kementerian PPN/Bappenas

31

PIPELINE PROYEK INFRASTRUKTUR DAN REVITALISASI INDUSTRI


1

Proyek Infrastruktur
BANDAR UDARA
Angkasa Pura I
Revitalisasi Bandara Tjilik
Riwut, Palangkaraya
Revitalisasi Bandara Matahora,
Wakatobi
Revitalisasi Bandara Labuan
Bajo, Komodo
Angkasa Pura II
Pengembangan Bandar Udara
Soekarno Hatta
Revitalisasi Bandara Raden
Inten II Lampung
Pembangunan Bandara
Internasional
Revitalisasi Bandara HAS
Hanandjoeddin, Tanjung
Pandan
Pembangunan Bandara
Kertajati
Pembangunan Bandara
Karawang

PELABUHAN
Pelindo I: Pengembangan pelabuhan
internasional Kuala Tanjung (Sumut)
Pelindo III
Pelabuhan KEK Maloy (Kaltim)
Pengembangan pelabuhan internasional
Bitung (Sulut)
Pelindo IV: Makassar New Port (Sulsel)
ENERGI (LISTRIK, GAS, BBM)
PLN & PJB: Proyek Pembangkit Listrik
Pertagas: Pembangunan Pipa Gas Belawan Sei Mangkei kapasitas 75 mms cfd (Sumut)
PGN/Pertagas:
Pembangunan terminal LPG Banten
kapasitas 1.000.000 ton/tahun
Pembangunan kilang mini LNG dan
stasiun LNG-LNCG di Pulau Jawa
Pelindo II dan Pertamina: Cadangan
Strategis Nasional BBM

Proyek Revitalisasi dan Pengembangan Industri


serta Proyek Investasi Prioritas Lainnya
Skema ini juga dapat digunakan pada proyek investasi yang memenuhi kriteria
komersial dan bernilai strategis bagi RI
Contoh kasus 1: Texmaco

Tujuan: Revitalisasi industri dasar & mesin

Upgrade teknologi dan renovasi

Penambahan Modal kerja dan restrukturisasi hutang


Contoh kasus 2: Kertas Nusantara

Tujuan: Revitalisasi industri

Upgrade teknologi dan renovasi

Perbaikan modal kerja dan restrukturisasi hutang


Contoh Kasus 3: Kertas Kraft Aceh

Tujuan: Menghidupkan industri lokal

Upgrade teknologi dan renovasi

Penambahan Modal kerja dan restrukturisasi hutang

Perbaikan supply
Contoh kasus 4: Proyek TPPI Tuban

Tujuan: Menambah kapasitas pengilangan BBM nasional (mengurangi sampai


20% impor Solar Diesel)

Perbaikan struktur permodalan dan kepemilikan (Pertamina) serta


restrukturisasi hutang

Upgrade teknologi dan ekspansi kapasitas

Modal kerja
Contoh kasus 5: Proyek Pengembangan Pesawat R80

Akan dikaji oleh Tim berdasarkan kriteria dampak strategis nasional dan kelayakan komersial
recycle investasi bagi proyek yang terkategori brownfield dan sekuritisasi/divestasi bagi proyek yang terkategori
operation untuk memperbesar kapasitas PINA
Sumber: Analisa Tim Kementerian PPN/Bappenas

32