Anda di halaman 1dari 25

A.

LATAR BELAKANG
Provinsi Bali sebagai salah satu wilayah dengan sebaran yang cukup
tinggi juga mengalami ketidakmerataan dalam percepatan pembangunan
antar wilayahnya. Bali merupakan suatu provinsi di Indonesia yang terdiri
atas 8 kabupaten, 1 wilayah kota dan 57 kecamatan dengan perbedaan
karakteristik dimasing-masing wilayahnya. Perbedaan karakteristik baik dari
letak geografis dan potensi sumber daya yang berbeda di masing-masing
wilayahnya mempunyai pengaruh kuat pada terciptanya pola pembangunan
ekonomi di Bali, sehingga pola pembangunan ekonominya menjadi tidak
seragam dan menimbulkan kemampuan tumbuh yang berbeda. Kemampuan
tumbuh

yang

ketimpangan

berbeda
baik

ini

pada

akhirnya

pembangunan

maupun

menyebabkan
hasilnya.

terjadinya

Ketimpangan

pembangunan dapat meliputi ketimpangan pendapatan perkapita, dan


ketimpangan dalam kegiatan atau proses pembangunan itu sendiri.
Tabel 1
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Bali
Tahun 2010-2014

Sumber : Bank Indonesia, 2015


Sampai dengan tahun 2014, disparitas pertumbuhan ekonomi di
Provinsi Bali masih terjadi. Pada tahun 2014, perekonomian Kota Denpasar
mampu mencapai 6,77% sedangkan pertumbuhan Kabupaten Bangli hanya

mencapai 5,67%. Dari tahun 2010-2014, rata-rata laju pertumbuhan ekonomi


Bali sebesar 6,55 % per tahun. Kabupaten/Kota yang memiliki rata-rata laju
pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Bali
adalah Kota Denpasar sebesar 6,77 % per tahun dan Kabupaten Badung
sebesar 6,73 % per tahun, yangmerupakan Kabupaten/Kota yang berada di
wilayah

Bali

selatan yang

pemerintahan sekaligus

pusat

juga

merupakan

perkembangan

konsentrasi

industri

pusat

pariwisata yang

menjadi andalan Provinsi Bali. Sedangkan Kabupaten yang memiliki rata-rata


laju pertumbuhan ekonomi paling rendah adalah Kabupaten Jembrana
sebesar 5,47 % per tahun. Jika dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi antar
Kabupaten/Kota di Provinsi Bali, maka dapat diambil kesimpulan bahwa laju
pertumbuhan ekonomi antar Kabupaten/Kota sangat bervariasi dan memiliki
perbedaan pendapatan yang cukup timpang.
Tabel 2
PDRB Kab/Kota atas Dasar Harga Konstan 2000 dan 2010
Menurut Lapangan Usaha, 2012-2014 (Milyar Rupiah)
N

Kabupaten/Ko

o. ta
1
Jembrana
2
Tabanan
3
Badung
4
Gianyar
5
Klungkung
6
Bangli
7
Karangasem
8
Buleleng
9
Denpasar
Bali
Sumber : BPS Bali, 2015

2012

2013

2014

1.945,29
2.774,39
6.738,91
3.854,01
1.467,35
1.225,10
2.042,14
3.907,94
6.535,17
32.804,38

2.049,93
2.941,82
7.170,97
4.101,81
1.551,11
1.293,89
2.160,73
4.170,21
6.962,61
34.787,96

7.134,66
11.904,19
27.456,37
14.272,75
4.536,26
4.381,65
10.785,07
17.740,83
34.208,83
121.777,64

B. PEMBAHASAN
1. Konsep Ketimpangan Distribusi Pendapatan
Konsep tentang ketimpangan/kesenjangan mempunyai kemiripan
dengan konsep tentang perbedaan. Seseorang mempunyai tinggi tubuh yang

berbeda dengan seseorang yang lain. Fakta menunjukkan adanya perbedaan


tinggi tubuh. Pemahaman terhadap perbedaan seperti itu relatif bersifat
netral dan tidak terkait dengan moral pemahaman. Berbeda halnya kalau
membicarakan perbedaan kekayaan dari kedua orang itu maka umumnya
terdapat inklinasi moral tertentu. Pemahaman terhadap perbedaan kekayaan
mempunyai implikasi moral dalam konteks hubungan sosial, misalnya siapa
yang harus lebih toleran, bagaimana pembebanan kewajiban sosial pada tiap
orang itu dan sebagainya.
Pembahasan kesenjangan menghendaki pendefinisian kelompokkelompok dalam masyarakat. Pendefinisian kelompok yang sejak awal sering
digunakan adalah pendapatan. Masyarakat dibedakan menurut kelompok
kelompok 10 persen populasi., mulai dari kelompok 10 persen populasi
berpendapatan terendah, kelompok 10 persen populasi berikutnya dengan
pendapatan yang lebih tinggi, dan seterusnya. Cara pengelompokan lain
adalah

berdasarkan

tingkat

pendapatan

40

persen

populasi

dengan

pendapatan terendah, 40 persen berikutnya dengan tingkat pendapatan


menengah, dan 20 persen populasi yang berpendapatan tinggi.
2. Penyebab Ketimpangan Distribusi Pendapatan
Sebagai salah satu negara yang berkembang, pembagian atau
distribusi

pendapatan

di

Indonesia juga

menunjukkan

terjadinya

ketimpangan. Hal tersebut tampak dari makin meningkatnya Indeks Gini


Indonesia.Berdasarkan data, Indeks Gini Indonesia mengalami peningkatan
dari tahun 2010 sampai tahun 2014. Jika pada tahun 2010 besarnya Indeks
Gini adalah 0,38, maka pada tahun 2014 meningkat menjadi 0,41. Menurut
Nugroho (2012), ada beberapa sebab mengapa ketimpangan distribusi
pendapatan di Indonesia kian parah, yaitu
a. Ketimpangan dalam distribusi asset. Ketimpangan tersebut terlihat sangat
parah terutama di sektor pertanian. Berdasarkan data dari sensus
pertanian, 57,8 persen petani hanya memiliki lahan rata-rata 0,018 Ha, 38
persen tidak memiliki lahan, dan hanya 4,2 persen yang memiliki lahan
0,5 Ha atau lebih. Lahan yang sempit tentu tidak mencukupi bagi petani

untuk memperoleh tingkat pendapatan yang layak. Untuk sektor yang lain,
bisa terlihat dengan jelas bagaimana perusahaan atau pengusaha sedang
dan besar dengan mudah mendapatkan kredit dengan agunan hanya
nama baik, sementara Usaha Menengah, Koperasi, dan Mikro (UMKM)
setengah mati untuk mendapatkan kredit.
b. Masih besarnya pekerja di sektor informal dengan tingkat pendapatan
yang rendah dan tiadanya jaminan kepastian usaha di masa depan. Jika
dahulu setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi menyerap 400.000 pekerja
baru, kini pertumbuhan ekonomi 1 persen hanya menyerap 200.000 orang
tenaga kerja baru. Sementara untuk proses produk secara bertahap akan
digantikan oleh mesin. Sebab lain lagi adalah justru tumbuhnya sektorsektor jasa (yang sering disebut non-tradable) seperti perdagangan dan
jasa keuangan (bank dan lembaga keuangan lain) yang menyerap sedikit
tenaga kerja melebihi pertumbuhan sektor produksi seperti manufaktur
dan pertanian. Kondisi ini diperparah dengan masih berlakunya sistem alih
daya (out sourcing) dalam perekrutan tenaga kerja dimana pengusaha
bisa sewaktu-waktu memecat pekerja.
c. Akibat kesalahan kebijakan pemerintah. Salah satu contoh kebijakan
pemerintah yang memperburuk distribusi pendapatan adalah pemberian
subsidi BBM, listrik dan pupuk. Subsidi BBM listrik dan pupukyang kian
besar pada umumnya dinikmati oleh sebagian besar penduduk golongan
menengah ke atas.
3. Indikator Ketimpangan Distribusi Pendapatan
Konsep kesenjangan umumnya dinyatakan dalam bentuk indikator
kesenjangan. Untuk melihat kesenjangan antar penduduk dalam suatu
wilayah, berbagai studi umumnya menggunakan kurva lorenz dan indek
kemerataan distribusi Gini atau Gini Ratio serta kriteria bank dunia,
sementara untuk melihat kesenjangan antar wilayah berbagai studi lain
menggunakan indeks Williamson.
a.

Kurva Lorenz

Kurva Lorenz merupakan salah satu metode untuk menganalisis pendapatan


perorangan. Dimana jumlah penerimaan pendapatan dinyatakan dalam

sumbu horizontal dalam presentase kumulatif. Sedangkan sumbu vertikal


menyatakan bagian dari pendapatan total yang diterima oleh masing-masing
presentase kelompok penduduk. Kurva Lorenz memperlihatkan hubungan
kuantitatif

aktual

antara

persentase

penerima

pendapatan

dengan

persentase pendapatan total yang benar-benar diterima masyarakat selama


satu tahunnya.
Kurva ini terletak dalam sebuah bujur sangkar yang sumbu horizontalnya
menggambarkan

persentase

kumulatif

penduduk,

sedangkan

sumbu

vertikalnya menggambarkan persentase kumulatif pendapatan nasional.


Garis diagonal yang membagi bujur sangkar disebut garis kemerataan
sempurna dimana Kurva Lorenz akan ditempatkan. Kurva Lorenz yang
semakin dekat ke diagonal (semakin lurus) menggambarkan distribusi
pendapatan nasional yang semakin merata, sebaliknya jika kurva Lorenz
semakin jauh dari diagonal (semakin lengkung) berarti distribusi pendapatan
nasional semakin timpang atau tidak merata

Gambar 1
Kurva Lorenz

b. Koefisien Gini (Gini Ratio)


Koefisien Gini (Gini Ratio) adalah satu ukuran yang paling sering
digunakan

untuk

mengukur

tingkat

ketimpangan

pendapatan

secara

menyeluruh. Ide dasar perhitungan koefisien gini sebenarnya berasal dari


upaya pengukuran luas kurva Lorenz yang menggambarkan distribusi
pendapatan untuk seluruh kelompok pendapatan.Guna membentuk koefisien
Gini, grafik persentase kumulatif penduduk (dari termiskin hingga terkaya)
digambar pada sumbu horizontal dan persentase kumulatif pendapatan
digambar pada sumbu vertikal.
Gambar 2

Perhitungan Gini Ratio dalam Kurva Lorenz

Pada Gambar 3.1, besarnya ketimpangan digambarkan sebagai daerah


yang

diarsir.

Sedangkan

Koefisien

Gini

atau Gini

Ratio adalah

rasio

(perbandingan) antara luas bidang A yang diarsir tersebut dengan luas


segitiga

BCD. Dari

gambaran

tersebut

dapat

dikatakan

bahwa

bila

pendapatan didistribusikan secara merata dengan sempurna, maka semua


titik akan terletak pada garis diagonal. Artinya, daerah yang diarsir akan
bernilai nol karena daerah tersebut sama dengan garis diagonalnya. Dengan
demikian angka koefisiennya sama dengan nol. Sebaliknya, bila hanya satu
pihak saja yang menerima seluruh pendapatan, maka luas daerah yang
diarsir akan sama dengan luas segitiga, sehingga Koefisien Gini bernilai
satu. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa suatu distribusi pendapatan
dikatakan makin merata bila nilai Koefisien Gini mendekati nol (0),
sedangkan makin tidak merata suatu distribusi pendapatan maka nilai
Koefisien Gini-nya makin mendekati satu. Rumus yang dipakai untuk
menghitung nilai Gini Ratio adalah :

Keterangan :
G

= Gini Ratio

Pi

= Persentase rumah tangga pada kelas pendapatan ke-i

Qi

= Persentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas-i

Qi-1 = Persentase kumulatif pendapatan sampai dengan kelas ke-i


k

= Banyaknya kelas pendapatan

Kriteria ketimpangan pendapatan berdasarkan Koefisien Gini (Susanti et. al


2007) adalah sebagai berikut :

Lebih kecil dari 0,4

: tingkat ketimpangan rendah

Antara 0,4 0,5

: tingkat ketimpangan moderat

Lebih tinggi dari 0,5 : tingkat ketimpangan tinggi


c.

Kriteria Bank Dunia


Pengukuran disparitas menggunakan kriteria Bank Dunia dilakukan

dengan membagi penduduk dalam 3 kelompok yaitu :


1. 20 % penduduk berpendapatan tinggi
2. 40 % penduduk berpendapatan sedang
3. 40 % penduduk bependapatan rendah
Kemudian berdasarkan kriteria ini, ketimpangan pendapatan diukur dengan
menghitung persentase jumlah pendapatan penduduk dari kelompok yang
berpendapatan 40% terendah dibandingkan total pendapatan seluruh
penduduk. Sedangkan

formula

perhitungan

yang

dipergunakan

adalah

sebagai berikut :

Dimana :
YD4

= Presentase pendapatan yang diterima oleh 40% penduduk lapisan

bawah
Qi 1 = Presentase kumulatif pendapatan ke i-1
Pi

= Presentase kumulatif penduduk ke i

qi

= Presentase pendapatan ke i
Selain dari sisi pendapatan, pengukuran ketimpangan berdasarkan

kriteria Bank Dunia tersebut juga dapat dilakukan dengan menggunakan

data pengeluaran. Karena data pengeluaran lebih mudah diperoleh, maka


pengukuran ketimpangan menurut kriteria Bank Dunia ini lebih sering
menggunakan

data

pengeluaran.

Namun,

pengukuran

ketimpangan

pendapatan dengan pendekatan pengeluaran memiliki kelemahan antara


lain data yang disajikan akan under estimate dibandingkan bila data yang
dipergunakan adalah data yang berdasarkan pendapatan. Hal ini disebabkan
adanya sebagian pendapatan yang tidak dibelanjakan dan disimpan sebagai
tabungan (saving). Penyebab lainnya adalah adanya transfer pendapatan.
Dalam masyarakat adalah hal yang lumrah bila seseorang memberikan
sebagian pendapatannya sebagai sokongan kepada orang tua atau saudara
yang

tidak

mampu.

Dengan

demikian,

tingkat

pengeluaran

tidak

mencerminkan pendapatan yang diperoleh. Masalah lainnya adalah sering


tidak tercatatnya pengeluaran-pengeluaran terutama bagi masyarakat yang
berpendapatan tinggi.
d. Indeks Williamson
Indeks Williamson adalah suatu indeks yang didasarkan pada ukuran
penyimpangan

pendapatan

perkapita

penduduk

tiap

wilayah

dan

pendapatan perkapita nasional. Jadi Indeks Williamson ini merupakan suatu


modifikasi dari standar deviasi.Indeks Williamson bernilai antara 0 - 1. Makin
tinggi Indeks Williamson berarti kesenjangan wilayah semakin besar dan
begitupun sebaliknya semakin rendah Indeks Williamson maka akan semakin
rendah

kesenjangan

menganalisis
perkembangan

di

hubungan
ekonomi.

wilayah
antara

tersebut.

kesenjangan

Williamson

Selanjutnya
wilayah

menggunakan

Williamson

dengan

indeks

ini

tingkat
untuk

mengukur tingkat kesenjangan dari berbagai negara dengan tahun yang


relatif sama. Dalam melakukan perhitungan, Williamson mengunakan data
Produk Domestik Bruto (PDB) perkapita serta jumlah penduduk dari berbagai
negara. Hasil perhitungan ini kemudian digabungkan dengan tingkat
perkembangan ekonomi (berdasarkan tingkat PDB) negara-negara tersebut
dari Kuznets. Berdasarkan penggabungan kedua perhitungan tersebut,
Williamson menyatakan bahwa ada hubungan sistematis antara tingkat

pembangunan nasional dan ketidaksamaan regional. Tingkat ketidaksamaan


regional adalah sangat tinggi dalam golongan pendapatan menegah
berdasarkan Kuznets, tetapi secara konsisten lebih rendah apabila kita
bergerak ke tingkat pembangunan yang lebih tinggi.
4.

Kondisi Pertumbuhan Ekonomi Bali


Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator pembangunan

suatu wilayah. Suatu wilayah dikatakan maju pembangunannya tatkala


mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Berbeda dengan
wilayah lainnya di Indonesia, Provinsi Bali adalah salah satu wilayah yang
bertumpu pada pariwisata. Selama kurun waktu 2014, perekonomian Bali
mampu tumbuh 6,72 persen (Tahun Dasar 2010). Angka ini lebih besar jika
dibandingkan dengan tahun 2013 yang hanya tumbuh 6,69 persen.
Gambar 3
Laju Pertumbuhan Ekonomi Bali Tahun 2010-2014

Sumber : Bappeda Prov. Bali (Informasi Pembangunan Daerah Bali Tahun


2014)
Pariwisata adalah tumpuan perekonomian Bali. Hal ini terbukti dari
tingginya kontribusi sektor ini terhadap total perekonomian Bali. Selama
tahun 2014, sektor pariwisata yang dalam hal ini diwakili oleh kategori
penyediaan akomodasi dan makan minum mampu memberikan kontribusi
sebesar 23,08 persen. Kategori kedua yang juga memberikan kontribusi
cukup besar terhadap perekonomian Bali adalah kategori pertanian yakni
sebesar 14,64 persen.

Gambar 4
Kontribusi Kategori Utama Perekonomian Bali Tahun 2014

Sumber : Bappeda Prov. Bali (Informasi Pembangunan Daerah Bali Tahun


2014)
5.

Kesenjangan Ekonomi di Provinsi Bali


Tingkat kesenjangan ekonomi yang terjadi di Bali berkategori sedang,

menunjukkan perekonomian Kabupaten/Kota di Provinsi Bali belum merata.


Nilai Indeks Williamson dari tahun 2009-2013 Provinsi Bali cenderung
konstan namun masih berada di bawah rata-rata nasional. Penyebab
kesenjangan ekonomi di Provinsi Bali apabila dikaitkan dengan struktur
perekonomian adalah persebaran yang tidak merata dari titik-titik destinasi
pariwisata sehingga terdapat ketimpangan yang tidak merata dalam
menikmati keuntungan ekonomi dari aktivitas pariwisata.
Gambar 5
Perkembangan Kesenjangan Ekonomi (Indeks Williamson) Provinsi
Bali Tahun 2009-2013

Sumber : Bappenas (Perkembangan Pembangunan Provinsi Bali 2014)


Kesenjangan yang ditimbulkan juga relatif besar antar wilayah yang
memiliki sektor pariwisata dengan yang tidak, terutama untuk wilayah
Badung dan Denpasar dibandingkan dengan Kabupaten-Kabupaten lainnya.
Mayoritas sektor pariwisata menyebabkan pertumbuhan ekonomi Badung
lebih tinggi dibandingkan dengan Kabupaten lainnya sehingga seringkali
terjadi adanya alih fungsi lahan pertanian. Sektor pariwisata di Provinsi Bali
terkonsentrasi di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Gianyar sehingga
berpengaruh terhadap tingginya pendapatan perkapita di ketiga daerah
tersebut.
Struktur perekonomian juga mempengaruhi ketimpangan distribusi
pendapatan.

Struktur

perekonomian

Provinsi

Bali

didominasi

sektor

perdagangan, hotel, restauran yang menyumbang 29,89 persen dalam


PDRB, diikuti oleh sektor pertanian dan jasa-jasa (Tabel 3.1)
Tabel 3
Struktur PDRB Menurut Lapangan Usaha (2013)
Distribusi Persentase
(%)
No.

Lapangan Usaha

PDRB
ADHB

PDRB
ADHK
2000

1.

Pertanian

16,82

17,69

2.

Pertambangan

0.80

0,75

Struk
tur

3.
4.
5.

Industri Pengolahan
8,72
Listrik, Gas, Air Minum 2,08
Konstruksi
5.14
Perdagangan, Hotel,
6. Restauran
29,89
Angkutan,
7. Telekomunikasi
14,25
8. Keuangan
6,74
9. Jasa-jasa
15,56

9,85
1,60
4,48
32,14
11,08
7,31
15,08

100.00
100.00
Sumber : Bappenas (Perkembangan Pembangunan Provinsi Bali 2014)
Sektor perdagangan, hotel, dan restauran juga menjadi pendorong utama
pertumbuhan wilayah di Bali. Perkembangan pariwisata di Bali terlihat pada
meningkatnya pendapatan yang dihasilkan pada sektor perdagangan, hotel,
dan restauran, yaitu dalam bentuk pengeluaran untuk akomodasi, konsumsi
makanan,angkutan wisata, dan jasa-jasa lainnya. Peningkatan jumlah
kunjungan wisatawan di Bali menciptakan dampak langsung terhadap sektor
perdagangan, hotel, dan restauran sehingga meningkatkan PDRB wilayah.
Sementara sektor perdagangan, hotel dan restauran masih terkonsentrasi di
Kota Denpasar dan Kabupaten Badung sehingga hasilnya hanya masih bisa
dinikmati oleh masyarakat dikawasan Denpasar dan Badung.
6.

Distribusi Pendapatan Menurut Klasifikasi Daerah


Hasil susenas tahun 2013 menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi

di Provinsi Bali sudah tergolong dalam ketegori menengah, yaitu terletak


pada interval 0,4 dan 0,50 atau lebih tepatnya adalah 0,403 pada tahun
2013.
Tabel 4
Gini Ratio Menurut Klasifikasi Daerah, Provinsi Bali Tahun 2013
Klasifikasi Daerah
(1)
Perkotaan
Perdesaan
Bali
2013
2012

Gini Ratio
(2)
0,408
0,335
0,403
0,430

2011
0,410
Sumber : BPS (Susenas 2013)
Pada Tabel 3.2 terlihat bahwa indeks gini rasio Provinsi Bali
mengalami penurunan dari 0,430 di tahun 2012 menjadi 0,403 di tahun
2013. Jika dibandingkan menurut klasifikasi daerah, kesenjangan pendapatan
di daerah perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan didaerah pedesaan, yaitu
sebesar 0,408 untuk indeks gini rasio perkotaan dan 0,335 untuk pedesaan.
Semakin tinggi tingkat gini rasio suatu wilayah mencerminkan semakin tinggi
pula ketimpangan pendapatan yang terjadi di antara penduduk daerah
tersedut. Lebih tingginya nilai indeks gini rasio di perkotaan lebih disebabkan
karena sifat penduduk perkotaan yang lebih majemuk dan beragam, baik
dari segi jenis pekerjaan, status ekonomi, hingga pendapatan yang mereka
peroleh.

Berfluktuasinya

adanya

rentang

pendapatan

perbedaan

penduduk

pendapatan

perkotaan

rendah

dengan

disebabkan
penduduk

berpendapatan tinggi. Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab


terjadinya ketimpangan pendapatan di masyarakat perkotaan.

Tabel 5
Distribusi pendapatan Menurut Klasifikasi Daerah Kriteria Bank
Dunia

Provinsi Bali Tahun 2013


Kelompok Pendapatan

Klasifikasi Daerah

(1)
Perkotaan
Pedesaan
Bali

40%
Penduduk
Berpendap
atan
Rendah
(2)
15,53

19,54
2013 16,32
2012 16, 21

40%
Penduduk
berpendapa
tan
Manengah
(3)
37,81

20%
Penduduk
Berpendap
atan Tinggi

39,17
36,77
35, 67

41,28
46,91
48,11

(4)
46,66

Sumber : BPS (Susenas 2013)


Berdasarkan Tabel 3.3, pada tahun 2012, kelompok 40 persen
penduduk berpendapatan terendah menerima kurang dari 17 persen jumlah
total pendapatan, yaitu sebesar 16,21 persen, sedangkan pada tahun 2013
menjadi 16,32 persen. Dengan demikian Bali masih berada pada kategori
ketimpangan menengah (pemerataan sedang). Pada tahun 2013 tingkat
pemerataan pendapatan di daerah pedesaan lebih tinggi dibandingkan
daerah perkotaan, kecuali pada kelompok 20% penduduk berpendapatan
tinggi. Dengan kata lain, ketimpangan pendapatan di perkotaan lebih tinggi
daripada dipedesaan untuk kelompok pendapatan 40 persen penduduk
berpendapatan

rendah

dan

40

persen

penduduk

berpendapatan

menengah.
Hal ini terlihat dari lebih besarnya porsi pendapatan yang diterima oleh
40 persen penduduk berpendapatan rendah dan 40 persen penduduk
berpendapatan menengah di perdesaan dibanding di perkotaan. Jumlah
pendapatan yang diterima oleh 40 persen penduduk berpendapatan rendah
di perdesaan mencapai 19,54 persen (masuk kategori ketimpangan rendah
karena di atas 17 persen). Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding porsi
pendapatan yang diterima oleh 40 persen penduduk berpendapatan rendah
di perkotaan yang hanya 15,53 persen ( masuk kategori sedang). Tingkat
kesenjangan pendapatan menurut klasifikasi daerah Provinsi Bali Tahun 2013
dapat divisualisasikan melalui Kurva Lorenz seperti Gambar 3.6

Gambar 6
Distribusi Pendapatan menurut Klasifikasi Daerah Provinsi Bali
Tahun 2013

Sumber data : BPS (Susenas 2013)


Sejalan dengan dua hasil penghitungan sebelumnya tingkat pemerataan
pendapatan di daerah pedesaan memang sudah lebih baik dibandingkan
daerah perkotaan. Hal ini tercermin dari garis distribusi pendapatn daerah
pedesaan yang lebih mendekati garis diagonal dibandingkan garis distribusi
pendapatan daerah perkotaan.
7.

Distribusi Pendapatan Menurut Kabupaten/Kota


Meskipun secara administrasi wilayah Provinsi Bali terbagi menjadi

delapan

Kabupaten

dan

satu

Kota,

pemerintah

sangat

mengupayakan pembangunan dapat berjalan secara merata sehingga


diharapkan hasil-hasilnya pembangunan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan
masyarakat sampai ke pelosok daerah.
Secara umum, gini ratio pada tahun 2013 dan 2014 di masingmasing Kabupaten/Kota lebih rendah dibanding nilai gini ratio untuk Provinsi
Bali yang mencapai 0,403 pada tahun 2013 dan 0,415 pada tahun 2014.
Masih tingginya gini ratio Provinsi menunjukkan bahwa masih terjadi
ketimpangan pendapatan antar Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. Gini Ratio
masing-masing Kabupaten/Kota dalam kurun waktu 2010 hingga 2014 tersaji
pada Tabel 6.
Tabel 6
Gini Ratio Menurut Kabupaten/Kota, Provinsi Bali Tahun 2010-2014
N
o.
1

Kabupaten/
Kota
Jembrana

2010
0,2575

Gini Rasio
2011
2012
2013
0,4020 0,3706 0,3710

2014
0,3863

2
Tabanan
0,2596 0,3648 0,3473
3
Badung
0,2864 0,3385 0,3258
4
Gianyar
0,2717 0,3279 0,3362
5
Klungkung
0,2857 0,3777 0,3473
6
Bangli
0,2217 0,2678 0,3053
7
Karangasem
0,2325 0,2916 0,2877
8
Buleleng
0,2557 0,3434 0,3330
9
Denpasar
0,2950 0,3399 0,4248
Bali
0,37
0,41
0,43
Sumber : BPS Provinsi Bali (Bali Dalam Angka 2015)

0,3862
0,3468
0,3254
0,3599
0,3073
0,3293
0,3755
0,3638
0,403

0,4026
0,3404
0,3774
0,3543
0,3285
0,3371
0,3931
0,3809
0,415

Dari tabel di atas, pergerakan indeks gini ratio Kabupaten/Kota dari


tahun 2010 ke tahun 2014 sangat beragam. Pada tahun 2013 seluruh
Kabupaten/Kota berada dalam tingkat ketimpangan dengan kategori rendah
(dibawah 0,4), sedangkan pada tahun 2014 hanya Kabupaten Tabanan yang
status ketimpangannya meningkat ke tingkat ketimpangan kategori sedang
(diatas 0,4).
Tabel 7
Distribusi Pendapatan Provinsi Bali Menurut Kabupaten/Kota
Tahun 2013 dan 2014
Distribusi Pendapatan
N
o.

40%
penduduk
Kabupaten/
berpendapa
Kota
tan
terendah
2013 2014
Jembrana
19,84 18,44
Tabanan
17,87 17,35
Badung
19,29 18,64
Gianyar
19,95 17,87
Klungkung
19,15 19,98
Bangli
21,67 20,94
Karangasem 20,65 20,67
Buleleng
18,80 17,66
Denpasar
17,60 16,13

40%
penduduk
berpendapa
tan Sedang

2013 2014
33,96 34,04
35,79 35,38
38,45 40,73
39,42 37,88
36,10 35,51
38,16 37,27
36,90 35,95
35,31 35,17
39,51 40,47
36,7
Bali
16,32 15,49
36,54
7
Sumber : BPS (Susenas 2013) dan BPS Provinsi Bali (Bali
1
2
3
4
5
6
7
8
9

40%
penduduk
berpendapa
tan tinggi
2013
46,20
46,34
42,26
40,62
44,75
40,17
42,45
45,89
42,88

2014
47,52
47,26
40,64
44,25
44,51
41,80
43,38
47,17
43,39

46,91 47,98
Dalam Angka 2015)

Terlihat pada tabel bahwa 40 persen penduduk berpendapatan


rendah di seluruh Kabupaten/Kota pada tahun 2013 rata-rata sudah
menerima lebih 17 persen jumlah pendapatan didaerahnya. Artinya,
distribusi pendapatan di wilayah tersebut berada pada kategori ketimpangan
rendah. Sedangkan pada tahun 2014, hanya Kota Denpasar yang 40 persen
penduduk berpendapatan rendah yang rata-rata menerima kurang dari 17
persen jumlah pendapatan didaerahnya. Hal ini berarti, pada tahun 2014
ketimpangan distribusi pendapatan di Kota Denpasar meningkat ke kategori
sedang. Meskipun secara rata-rata hampir seluruh wilayah Kabupaten/Kota di
Bali masih dalam ketegori ketimpangan rendah, namun kondisi ini tetap
harus diwaspadai mengingat nilai persentasenya yang berfluktuasi.
Gambar 7
Distribusi Pendapatan Menurut Kabupaten/Kota
Provinsi Bali Tahun 2013

Sumber data : BPS (Susenas 2013)


Gambar 8
Distribusi Pendapatan Menurut Kabupaten/Kota
Provinsi Bali Tahun 2014

Sumber data : BPS Provinsi Bali (Bali Dalam Angka 2015)


Sejalan dengan nilai gini ratio dan kriteria Bank Dunia, terlihat bahwa
distribusi pendapatan di Kabupaten Bangli pada tahun 2013 dan 2014 adalah
yang paling mendekati pemerataan dengan ditunjukkan oleh kurva yang
paling mendekati garis diagonal. Jadi persentase distribusi pendapatan
daerah di Kabupaten Bangli untuk 40 % penduduk berpendapatan terendah
pada tahun 2013 dan 2014 adalah yang paling tinggi dibandingkan
Kabupaten/Kota lainnya di Provinsi Bali. Secara umum ketimpangan distribusi
pendapatan pada Kabupaten/Kota di Bali pada tahun 2013 dan 2014 secara
rata-rata

masih

masuk

dalam

kategori

rendah

dan

masih

dibawah

ketimpangan distribusi pendapatan Provinsi Bali yang sudah masuk kategori


sedang,

dimana

dalam

gambar

juga

terlihat

bahwa

garis

distribusi

pendapatan Provinsi Bali adalah yang paling jauh dari garis diagonal.
8.

Kondisi Kemiskinan di Provinsi Bali


Tidak

meratanya

distribusi

pendapatan

memicu

terjadinya

ketimpangan pendapatan yang merupakan awal dari munculnya masalah


kemiskinan. Menurut BPS Provinsi Bali (2014), daerah perdesaan di Bali pada
umumnya memiliki jumlah penduduk miskin lebih sedikit dibandingkan
daerah perkotaan. Pada tahun 2006-2008 selisih ini mencapai dua digit,
namun mengalami penurunan pada tahun 2009 mencapai 2,4 ribu. Sejak
tahun 2010, kondisi ini terbalik yakni jumlah penduduk miskin di daerah

pedesaan lebih tinggi daripada perkotaan, jumlah penduduk miskin di


perkotaan sejumlah 83,6 ribu sedangkan di perdesaan sejumlah 91,3
ribu. Pada tahun 2014 selisih penduduk miskin daerah perkotaan yang
dibandingkan daerah pedesaan menjadi 14,6 ribu.
Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode September 2013Maret 2014, penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami penurunan
sebanyak 3,13 ribu orang (0,16 persen) sementara itu di daerah perdesaan
mengalami kenaikan, yaitu sebanyak 5,56 ribu orang (0,34 persen).
Berdasarkan klasifikasi Daerah Tahun 2004 2014, jumlah dan persentase
penduduk

miskin

menurut

klasifikasi

daerah

di

Propinsi

Bali

dapat

dilihat Tabel 8
Tabel 8
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Provinsi Bali
Menurut Klasifikasi Daerah Tahun 2004 - 2014

Tahun
(1)
Maret
2004
Maret
2005
Maret
2006
Maret
2007
Maret
2008
Maret
2009
Maret
2010
Maret
2011
Sept.
2011

Jumlah
Miskin
jiwa)

Penduduk
Persentase
(000
Miskin

Kota

Desa

(2)

(3)

Kota+D
esa
(4)

87

144,9

105,9

Penduduk

Kota

Desa

(5)

(6)

Kota+De
sa
(7)

231,9

5,05

8,71

6,85

122,5

228,4

5,4

8,51

6,72

127,4

116

243,5

6,4

8,03

7,08

119,8

109,3

229,1

6,01

7,47

6,63

115,1

100,6

215,7

5,7

6,81

6,17

92,1

89,7

181,7

4,5

5,98

5,13

83,6

91,3

174,9

4,04

6,02

4,88

92,7

73,1

165,8

3,91

4,65

4,2

100,3

81,8

182,1

4,2

5,17

4,59

Maret
90,4
76,5
2012
Sept.
92,1
66,9
2012
Maret
94,79 65,1
2013
Sept.
103,0
79,74
2013
3
Maret
99,9
85,3
2014
Sumber : BPS Provinsi Bali, 2015

166,93

3,77

4,79

4,18

158,95

3,81

4,17

3,95

159,89

3,9

4,04

3,95

182,77

4,17

4,49

185,2

4,01

5,34

4,53

Menurut BPS Provinsi Bali (2014), Beberapa faktor terkait dengan


kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin di Provinsi Bali selama
periode September 2013-Maret 2014 adalah :
1)

Di perdesaan Bali pada periode triwulan III 2013 triwulan I 2014 terjadi
inflasi sebesar 1,67 persen. Pada periode yang sama sebenarnya di
perkotaan juga terjadi inflasi. Ini menunjukkan penduduk di perdesaan lebih
rentan terkena dampak inflasi dibanding perkotaan karena kemiskinan di
perdesaan naik, sedangkan di perkotaan malah turun.

2)

Terjadinya kontraksi di sektor pertanian (pertumbuhan negatif) sebesar


1,95 persen pada periode tersebut (sektor pertanian adalah sektor utama di
daerah perdesaan).

3)

Terjadi kenaikan harga eceran beberapa kebutuhan pokok di Bali pada


periode tersebut, seperti beras (0,90%), minyak goreng (4,25%), cabai rawit
(71,65%)
Tabel 9
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Provinsi Bali
Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2011 s/d 2013
Kabupaten
/ Kota
(1)
1 Jembrana
2 Tabanan

Jumlah
Penduduk
Miskin (000)
2011 2012
2013
(2)
(3)
(4)
17,6
15,3
14,9
24,2
21
22,5

Persentase
Penduduk Miskin
2011 2012 2013
(5)
(6)
(7)
6,56
5,74
5,56
5,62
4,9
5,21

3
4
5
6

Badung
14,6
12,5
Gianyar
26
22,6
Klungkung 10,7
9,3
Bangli
11,4
9,9
Karangase
7
26,1
22,7
m
8 Buleleng
37,9
33
9 Denpasar
14,5
12,7
BALI
183,1 158,9
Sumber : BPS Provinsi Bali, 2015

14,5
20,8
12,2
12

2,62
5,4
6,1
5,16

2,16
4,69
5,37
4,52

2,46
4,27
7,01
5,45

27,8

6,43

5,63

6,88

40,3
17,6
182,8

5,93
1,79
4,59

5,19
1,52
3,95

6,31
2,07
4,49

Tabel 8 menggambarkan bahwa persentase penduduk miskin di


Provinsi Bali pada tahun 2012 sempat mengalami penurunan sebanyak
0,64% yang semula sebesar 4,59 % pada tahun 2011 menjadi 3,95 % pada
tahun 2012, namun di tahun 2013 presentase jumlah masyarakat miskin di
Provinsi Bali mengalami peningkatan kembali menjadi 4,49 %. Kabupaten
yang mempunyai jumlah penduduk miskin paling banyak pada tahun 2013
adalah Kabupaten Buleleng sebanyak 40,3 ribu jiwa dan Kabupaten yang
memiliki penduduk miskin paling sedikit adalah Kabupaten Bangli sebanyak
12 ribu jiwa. Sedangkan berdasarkan persentase, Kota Denpasar memiliki
persentase penduduk miskin paling rendah pada tahun 2013 yaitu sebesar
2,07 % dari jumlah penduduknya, dan Kabupaten Klungkung adalah
Kabupaten yang persentase penduduk miskinnya paling tinggi pada tahun
2013 yaitu sebesar 7,01 % dari jumlah penduduknya.
Pertumbuhan ekonomi yang tidak merata di seluruh Kabupaten/Kota
di Provinsi Bali merupakan salah satu penyebab timpangnya tingkat
kemiskinan

pada

Kabupaten/Kota

di

Provinsi

Bali. Kemiskinan

bukan

merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, sebab ia merupakan akibat dari


tidak tercapainya pembangunan ekonomi yang berlangsung. Dalam hal ini,
kemiskinan akan makin bertambah seiring tidak terjadinya pemerataan
pembangunan. Kemiskinan telah menjadi masalah yang kompleks dan
kronis,

baik

ditingkat

nasional

maupun

regional,

sehingga

penanggulangannya memerlukan strategi yang tepat dan berkelanjutan.


9.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Sumber daya manusia yang berkualitas sangat penting dalam


mendukung percepatan pertumbuhan dan perluasan pembangunan ekonomi
daerah. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia di suatu daerah,
semakin produktif angkatan kerja, dan semakin tinggi peluang melahirkan
inovasi yang menjadi kunci pertumbuhan secara berkelanjutan. Kualitas
sumber daya manusia di Bali yang ditunjukkan melalui nilai IPM relatif
meningkatpada tahun 2013 dibandingkan tahun 2009.
Tabel 10
Indeks Pembangunan Manusia dan Komponennya
Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Tahun 2013
Kabupaten AHH (e
AMH
RLS
/ Kota
0)
(1)
(2)
(3)
(4)
1 Jembrana 72,31
92,65
7,87
2 Tabanan
74,91
91,92
8,4
3 Badung
72,24
93,93
9,51
4 Gianyar
72,56
89,38
8,9
Klungkun
5
69,52
84,47
7,43
g
6 Bangli
72,18
85,91
6,7
Karangas
7
68,32
76,94
5,9
em
8 Buleleng
70
90,53
7,55
9 Denpasar 73,46
97,95
11,05
BALI:
2013
71,2
91,03
8,58
2012
70,84
90,17
8,57
2011
70,78
89,17
8,35
2010
70,72
88,4
8,21
2009
70,67
87,22
7,83
Keterangan:
AHH = Angka Harapan Hidup
AMH = Angka Melek Huruf
RLS = Rata-rata Lama Sekolah
PPP
= Paritas Daya Beli
Sumber : BPS Provinsi Bali

PPP (
Rp 000)
(5)
640,3
643,24
648,25
647,37

(6)
74,29
76,19
76,37
75,02

661,73

72,25

645,69

72,28

657,79

68,47

643,38
652,54

72,54
79,41

643,78
640,86
637,86
634,67
632,15

74,11
73,49
72,84
72,28
71,52

IPM

Nilai IPM Provinsi Bali pada tahun 2013 adalah sebesar 74,11. Pada
indikator angka harapan hidup, terjadi perbaikan dari angka 70,67 tahun

pada tahun 2009 menjadi 71,2 tahun pada tahun 2013. Rata-rata lama
sekolah di Provinsi Bali meningkat dari 7,83 tahun pada 2009 menjadi
8,58 tahun pada tahun 2013. Sementara itu pada indikator angka melek
huruf, capaian di Provinsi Bali pada tahun 2009 dan 2013 meningkat dari
87,22menjadi 91,03 persen.
Untuk Kabupaten/Kota di Provinsi Bali, pada tahun 2013 IPM tertinggi
dicapai oleh Kota Denpasar sebesar 79,41 yang diikuti oleh Kabupaten
Badung sebesar 76,37. Hal ini dapat dimaklumi karena kedua daerah ini
merupakan daerah maju diantara daerah lainnya. Sedangkan IPM terendah
pada tahun 2013 disandang oleh Kabupaten Karangasem yaitu sebesar
68,47.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad

Lincolin.

2004.

Ekonomi

Pembangunan.

Yogyakarta

Bagian

Penerbitan STIE YKPN


Bank Indonesia Perwakilan Bali. 2015. Kajian Ekonomi dan Keuangan
Regional. Denpasar
Bappeda Provinsi Bali. 2014. Informasi Pembangunan Daerah Bali Tahun
2014. Denpasar
Bappenas. 2015.Perkembangan Pembangunan Provinsi Bali 2014. Jakarta
BPS Provinsi Bali. 2015. Bali Dalam Angka 2015.Denpasar
BPS Provinsi Bali. 2015. Tinjauan Perekonomian Bali 2014.Denpasar
De Merta. Program Bali Mandara : Jawaban Realistis Wacana Ajeg Bali.
http://idemerta.blogspot.com/2014/01/program-bali-mandara-jawabanrealistis.html. diakses tanggal 23 maret 2016
Nugroho.Penyebab

Ketimpangan

Distribusi

Pendapatan

&

Cara

Mengatasinya.

http://nugroho-sbm.blogspot.co.id/2012/11/penyebab-

ketimpangan-distribusi.html, diakses tanggal 23 maret 2016


Savitri, Ayu. 2008. Disparitas dan Konvergensi Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) Per Kapita antar Kabupaten/Kota Di Provinsi Bali. Jurnal
Ekonomi dan Sosial, INPUT. Vol 1: hal, 38-48.

Suparmoko, M. 2002. Ekonomi Publik, Untuk Keuangan dan Pembangunan


Daerah. Yogyakarta : Andi
Supriyantoro, G. 2005. Analisis Ketimpangan Pendapatan Antar KabupatenKota di Provinsi Jawa Tengah.(Skripsi). Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Susanti. 2007. Indikator-Indikator Makroekonomi. Jakarta : Universitas
Indonesia
Todaro, Michael P, dan Smith, Stephen C. 2004. Pembangunan Ekonomi di
Dunia Ketiga Edisi Kedelapan. Jakarta : Penerbit Erlangga
Wihadanto,Ake

dan

Firmansyah,Dicky.2013.

Mengatasi

Ketimpangan

Pembangunan Antar Wilayah Melalui 'Mekanisme Kompensasi' Di Era


Otonomi Daerah (Studi Kasus Provinsi Bali). Makalah Seminar Nasional.
Bogor : Institut Pertanian Bogor
www.bali.bps.go.id
www.bi.go.id
www.bps.go.id