Anda di halaman 1dari 19

PRINSIP PENILAIAN

PROPOSAL USULAN DAK IRIGASI TA 2017

DIREKTORAT PENGAIRAN DAN IRIGASI


KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL /
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (BAPPENAS)
September, 2016

( halaman ini sengaja dikosongkan )

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

RINGKASAN
Proposal DAK dari Provinsi
dan Kabupaten/Kota
dikonfirmasi

dikonfirmasi

Proposal Bappenas &


Kemenkeu

Proposal Kemen PUPR


cek

D.I. Usulan ada dalam


Permen 14/2015 ?
YA

TIDAK

Rehabilitasi
Jaringan Irigasi

Pembangunan D.I.
dengan Kriteria
Sebagaimana
dalam Permen
PUPR 47/2015
tentang Petunjuk
Teknis DAK
Infrastruktur

Verifikasi Setiap D.I. yang


Diusulkan dalam Proposal

Exercise Alokasi DAK


untuk Setiap Daerah
(Provinsi, dan Kab./Kota)
1. Indeks Teknis
2. Kriteria Afirmasi

Usulan
No
1
2

Pengusul DAK
Provinsi
Kabupaten/Kota
TOTAL

Hasil Penilaian
Jumlah
Alokasi DAK
Daerah
(Triliun Rupiah)
Layak

Jumlah
Daerah
Pengusul

Nilai Usulan DAK


(Triliun Rupiah)

32
411

3,29
14,19

32
387

2,03
7,43

443

17,48

419

9,46

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

( halaman ini sengaja dikosongkan )

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

DAK BIDANG IRIGASI


TAHUN ANGGARAN 2017

1.1 PENDAHULUAN
Pemerintah mempunyai keinginanyang kuat untuk meningkatkan kemanfaatan
Dana Alokasi Khusus (DAK) agar dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat,
sehingga sejalan dengan prinsip mengedepankan kemanfatan yang merupakan salah
satu norma pembangunan dalam Rencana Pembangunan jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2015-2019. Oleh karena itu ada sedikit perubahan pendekatan dalam
pengelolaan DAK, dimana dibedakan menjadi DAK Reguler, DAK Afirmatif dan DAK
Penugasan. Berkaca pada keterbatasan keuangan negara, maka alokasi DAK 2017
secara keseluruhan tidak mengalami perbedaan dibandingkan dengan alokasi DAK
tahun 2016, sehingga alokasi DAK pada masing-masing bidang juga tidak mengalami
banyak perubahan.
DAK Reguler difokuskan untuk pemenuhan standar pelayanan minimun yang
meliputi bidang Pendidikan, Kesehatan. Sementara DAK Afirmatif ditujukan untuk
membantu pembangunan pada daerah perbatasan dan daerah tertinggal yang
meliputi bidang perumahan dan permukiman, transportasi (transportasi perdesaan,
dermaga kecil dan tambatan perahu, kesehatan yang dikhususkan untuk Puskesmas.
Sedangkan DAK Penugasan diharapkan dapat memberikan intervensi pembangunan
di daerah yang merupakan prioritas nasional, sehinggaakan memberikan dukungan
terhadap pencapaian target nasional. Bidang DAK penugasan meliputi DAKPendidikan
(SMK), Kesehatan (Puskesmas dan RS Rujukan), Air Minum, Sanitasi, Jalan, Pasar,
Irigasi, dan Energi Skala Kecil.
Secara prinsip, DAK Penugasan diarahkan membantu mendanai kegiatan
khusus yang merupakan urusan Daerah dalam rangka pencapaian sasaran 24 (dua
puluh empat) Prioritas Nasional dalam RKP 2017, dengan menu terbatas dan lokasi
yang ditentukan. Penentuan lokasi dan alokasi DAK Penugasan dilakukan melalui
bauran pendekatan bottom up dan top down, yaitu Daerah (Provinsi, dan
Kabupaten/Kota) mengajukan proposal usulan DAK kepada Pemerintah Pusat, yang
selanjutnya akan dinilai dan diverifikasi oleh Pemerintah Pusat (K/L Teknis terkait
dan Direktorat Sektor di Bappenas -sebagai penanggung jawab DAK Penugasan-),
untuk kemudian ditetapkan melalui Peraturan Presiden sebagai dasar pelaksanaan
DAK Penugasan.

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

Dalam melaksanakan DAK Irigasi mengacu pada beberapa koridor yaitu:1)


legal basis daerah irigasi adalah berdasarkan Permen PU No14 tahun 2015, sehingga
rehabilitasi yang dilakukan harus sesuai dengan daerah irigasi sebagaimana yang
terdaftar dalam Kepmen tersebut; 2) melakukan intervensi rehabilitasi maupun
peningkatan daerah irigasi secara utuh, agar dampaknya dapat lebih nyata dirasakan
masyarakat; 3) memberikan afirmatif pada daerah sentra produksi padi, daerah
sentra pengembangan pangan, dan daerah tertinggal dan perbatasan; dan 4) khusus
bagi kebutuhan pembangunan tidak harus didasarkan pada Permen PUPR No. 14
tahun 2015 sehingga daerah-daerah yang potensial melakukan pembangunan daerah
irigasi dapat mengusulkan alokasi DAK dengan syarat kelayakan teknis seperti
kesiapan DED dan sosial sepeti kesiapan petani terpenuhi, sebagaimana dijelaskan
dalam Permen PUPR 47/2015 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi
Khusus Bidang Infrastruktur.
Pengalokasian DAK Irigasi harus mencerminkan kebutuhan yang dikaitkan
dengan program nasional dan juga harus mencerminkan kondisi kerusakan daerah
irigasi, serta proses bottom up berdasarkan proposal based. Kriteria teknis dalam
bentuk indeks teknis merupakan unsur utama dalam penentuan alokasi DAK Irigasi.
Dengan mempertimbangkan kebutuhan DAK irigasi yang dikaitkan dengan prioritas
nasional, pengalokasian DAK irigasi akan memperhatian: 1) 10 provinsi lumbung
beras nasional; 2) kabupaten/kota penghasil beras diatas rata-rata nasional; 3) 50
kabupaten sentra pengembangan pangan; dan 4) daerah tertinggal dan perbatasan.
Berdasarkan konsisi kerusakan irigasi kewenangan daerah sekitar 50%,
diprediksi kebutuhan untuk melakukan keseluruhan rehabilitasi tersebut sebesar Rp
30,18 triliun yang akan dilaksanakan dalam periode 2017-2019 dengan distribusi
pembagian selama tiga tahun tersebut adalah sebesar adalah 9,84 triliun rupiahuntuk
tahun 2017, sebesar 10,06 triliun rupiah pada tahun 2018, dan sebesar Rp 10,28
triliun rupiah untuk kebutuhan tahun 2019.
1.2 ARAH KEBIJAKAN DAK TA 2017
Dana Alokasi Khusus (DAK) 2017 diarahkan untuk pencapaian target Prioritas
Nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2017. Arahan Presiden dalam Rapat
Terbatas DAK pada tanggal 11 Mei 2016 diantaranya :
1) Mekanisme tata cara alokasi DAK perlu dibenahi dan diperbaiki, untuk
mendukung pencapaian Prioritas Nasional;
2) Proses penentuan besaran alokasi DAK harus transparan serta ditentukan secara
bersama-sama oleh Kementerian Keuangan, Bappenas, & Kementerian Teknis
yang terkait;
3) Mereformasi kriteria alokasi DAK dari money follow function menjadi money
follow program prioritas;
4) Perlu pengaturan DAK secara khusus, sehingga tidak memberi ruang untuk
negosiasi oleh siapapun bagi penentuannya;

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

5) Petunjuk Teknis akan disusun secara komprehensif untuk seluruh bidang DAK
melalui Perpres, tidak per K/L;
6) Petunjuk Teknis berlaku tidak 1 tahun, melainkan berlaku tahun ganda
(multiyears); dan
7) Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) juga harus memperhatikan karakteristik daerah
dan kondisi geografis.
Jenis DAK 2017 mengalami perubahan dibandingkan dengan DAK 2016, yaitu
dengan adanya DAK Penugasan, dan dihapusnya DAK Infrastruktur Publik Daerah
yang sebelumnya ada pada DAK 2016.
1.3 DAK BIDANG IRIGASI TA 2017
Berdasarkan Peraturan Menteri PUPR Nomor 14 tahun 2015 tentang
Penetapan Status Daerah Irigasi yang Pengelolaannya Menjadi Wewenang dan
Tanggung Jawab Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota,
dan hasil rapid assessment oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, diketahui bahwa secara keseluruhan
terdapat Daerah Irigasi (D.I.) Permukaan seluas 7,145 juta hektar, dengan pembagian
kewenangan dan kondisinya seperti pada Tabel 1. Secara keseluruhan kerusakan
daerah irigasi yang menjadi kewenangan Daerah -Provinsi dan Kabupaten/Kotaadalah seluas 2,75 juta hektar, setara dengan 57,73 % dari keseluruhan luas daerah
irigasi kewenangan Daerah. Besarnya kerusakan daerah irigasi kewenangan Daerah
berbanding lurus dengan kebutuhan alokasi pendanaan untuk rehabilitasi dalam
rangka memulihkan kinerja jaringan irigasi.
Tabel 1 Pembagian Kewenangan Pengelolaandan Kondisi Daerah Irigasi
Kondisi

Kewenangan (hektar)

TOTAL

Baik
Rusak Ringan
Rusak Sedang
Rusak Berat

Pusat
1.835.349
95.085
329.540
116.547

Provinsi
515.093
181.820
182.575
225.987

Kab./Kota
1.500.212
673.340
691.197
798.427

Pemda
2.015.305
855.161
873.773
1.024.414

3.850.654
950.246
1.203.313
1.140.962

Total

2.376.521

1.105.475

3.663.177

4.768.652

7.145.173

Sumber : Hasil Rapid Assessment Ditjen SDA dan Permen PUPR No. 14/KPTS/M/2015

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 (RPJMN 20152019), menetapkan tersedianya sarana dan prasarana irigasi melalui terbangunnya
dan meningkatnya layanan jaringan irigasi 1 (satu) juta hektar dan terlaksananya
rehabilitasi 3 (tiga) juta ha jaringan irigasi untuk mengembalikan layanan irigasi,
sebagai salah satu sasaran untuk peningkatan kedaulatan pangan yang merupakan
salah satu dari 7 (tujuh) sub agenda dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi
dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Peningkatan

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

layanan irigasi salah satunya dilakukan melalui penyediaan DAK maupun bantuan
pengelolaan dari pemerintah pusat.
Dana Alokasi Khusus (DAK) Irigasi merupakan salah satu sub bidang DAK
Infrastruktur, bersama-sama dengan Subbidang Jalan, Subbidang Air Minum,
Subbidang Sanitasi, dan Subbidang Perumahan. Berdasarkan Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 47/PRT/M/2015
tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur, arah
pemanfaatan DAK Irigasi ditujukan untuk mempertahankan tingkat layanan,
mengoptimalkan fungsi, dan membangun prasarana sistem irigasi yang menjadi
kewenangan Provinsi/Kabupaten/Kota khususnya daerah lumbung pangan nasional
dalam rangka mendukung program prioritas pemerintah bidang kedaulatan pangan.
1.4 SASARAN DAK IRIGASI
Sasaran jangka menengah DAK Irigasi (2017-2019) sampai dengan tahun 2019
adalah peningkatan kualitas layanan irigasi pada 2,75 juta hektar daerah irigasi yang
menjadi kewenanganProvinsi dan Kabupaten/Kota,dengan sasaran tahun 2017
adalah 5.000 hektarpembangunan daerah irigasi baru dan 755.200 hektar rehabilitasi.
Dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas layanan irigasi, maka pelaksanaan
rehabilitasi harus juga memperhatikan laju kerusakan jaringan irigasi.
1.5 KEBUTUHAN PENDANAAN DAN ALOKAKSI DAK IRIGASI
Kebutuhan pendanaan jangka menengah DAK Irigasi (2017-2019)untuk
kegiatan rehabilitasi, peningkatan dan pembangunan jaringan irigasi permukaan dan
rawaadalah 30,18 triliun rupiah,dengan kebutuhantahun 2017 adalah 9,84 triliun
rupiah, kebutuhan tahun 2018 sebesar 10,06 triliun rupiah, dan 10,28 triliun rupiah
untuk kebutuhan tahun 2019.
Mengacu pada prinsip proposal based, usulan DAK Irigasi dari provinsi,
kabupaten/kota diverifikasi oleh Direktorat Pengairan dan Irigasi Bappenas dan
Direktorat Operasi dan Pemeliharaan, Dirjen Sumber Daya air, Kementerian PUPR
dengan mengacu pada Permen PUPR No 14 tahun 2015. Dengan menggunakan indeks
teknis penilaian DAK irigasi dan kriteria afirmatif, dan berdasarkan usulan alokasi
DAK Irigasi secara nasional sebesar Rp 9,84 trilun dilakukan exercise alokasi DAK
Irigasi bagi Provinsi dan Kabupaten/Kota.
1.6 MENU
Pelaksanaan DAK Irigasi TA 2017 difokuskan pada kegiatan Pembangunan
Daerah Irigasi Baru sepanjang kesiapan teknis dan sosial terpenuhi, dan Rehabilitasi
Jaringan Irigasi kewenangan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dalam
kondisi rusak.Sementara itu dengan mempertimbangkan sumber-sumber air irigasi,
telah diinisiasi keterkaitan antara DAK Irigasi dengan DAK Konservasi Sumber Air

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

Irigasi pada Daerah Hulu yang menjadi kewenangan koordinasi Kementerian


Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

1.7 LOKASI PRIORITAS


Berdasarkan Permen PUPRNo. 14 Tahun 2015terdapat 29 Provinsi (Tabel 2)
dan 382 Kabupaten/Kota yang mempunyai kewenangan daerah irigasi, sehingga
secara teknis layak untuk menerima DAK Irigasi TA 2017. Namun akan dilakukan
afirmatif pada lokaksi prioritas yang meliputi: 1) 10 (sepuluh) provinsi penghasil padi
terbanyak, 2) kabupaten/kota penghasil padi diatas rata-rata nasional, 3) 50 (lima
puluh) kabupaten sentra pengembangan pangan, dan 4) kabupaten/kota daerah
perbatasan dan daerah tertinggal.
Tabel 2 Provinsi yang Secara Teknis Layak Menerima DAK Irigasi
No

Nama Provinsi

Produksi
Padi 2015
(ton)

Share thd
Nasional
(%)

No

Nama Provinsi

Produksi
Padi 2015
(ton)

Share thd
Nasional
(%)

Jawa Timur

13.154.967

17,45

16

Kalimantan Tengah

893.202

1,18

Jawa Barat

11.373.144

15,08

17

Bali

853.710

1,13

Jawa Tengah

11.301.422

14,99

18

Sulawesi Utara

674.169

0,89

Sulawesi Selatan

5.471.806

7,26

19

Sulawesi Tenggara

660.720

0,88

Sumatera Selatan

4.247.922

5,63

20

Bengkulu

578.654

0,77

Sumatera Utara

4.044.829

5,36

21

Jambi

541.486

0,72

Lampung

3.641.895

4,83

22

Sulawesi Barat

461.844

0,61

Sumatera Barat
Nusa Tenggara
Barat
Aceh

2.550.609

3,38

23

Riau

393.917

0,52

2.417.392

3,21

24

Gorontalo

331.220

0,44

2.331.046

3,09

25

Papua

181.769

0,24

Banten
Kalimantan
Selatan
Sulawesi Tengah
Nusa Tenggara
Timur
DI Yogyakarta

2.188.996

2,90

26

Maluku

117.791

0,16

2.140.276

2,84

27

Maluku Utara

75.265

0,10

1.015.368

1,35

28

30.219

0,04

948.088

1,26

29

Papua Barat
Kep. Bangka
Belitung

27.068

0,04

945.136

1,25

9
10
11
12
13
14
15

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

( halaman ini sengaja dikosongkan )

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

PENILAIAN PROPOSAL USULAN DAERAH

2.1 KRITERIA DAERAH PENERIMA DAK IRIGASI 2017


Setiap Daerah baik Provinsi dan Kabupaten/Kotayang memiliki Daerah Irigasi
kewenangan berdasarkan Permen PUPR 14/2015 berhak memperoleh DAK Irigasi
2017 dengan pemanfaatan untuk rehabilitasi jaringan irigasi. Sedangkan Daerah yang
tidak memiliki Daerah Irigasi kewenangan berdasarkan Permen PUPR 14/2015
berhak memperoleh DAK Irigasi 2017 hanya untuk kegiatan pembangunan Daerah
Irigasi baru, sepanjang kesiapan teknis dan sosial memadai.
Besaran rencana alokasi DAK Irigasi TA 2017 ditentukan dengan menggunakan
pendekatan Kriteria Teknis dan Kriteria Afirmasi. Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan menyatakan bahwa
Kriteria Teknis disusun berdasarkan indikator-indikator kegiatan khusus yang akan
didanai dari DAK, dan dirumuskan melalui indeks teknis oleh menteri teknis.Kriteria
Afirmasi merupakan indikator-indikator kewilayahan atau geografis suatu Daerah
penerima DAK Irigasi.
2.1.1 Kriteria Teknis
Kriteria Teknis DAK Irigasi untuk kegiatan rehabilitasi antara lain :
1) Luas Daerah Irigasi (D.I.), merupakan luasan daerah irigasi yang menjadi
kewenangan Daerah berdasarkan Permen PUPR No 14 Tahun 2015, meliputi D.I.
Permukaan, D.I. Rawa, D.I. Air Tanah, D.I. Pompa, dan D.I. Tambak. Alokasi DAK
Irigasi 2017 di arahkan untuk daerah irigasi permukaan dan daerah irigasi rawa.
2) Kondisi Daerah Irigasi, merupakan kondisi fisik jaringan irigasi yang diketahui
berdasarkan hasil inventarisasi dan identifikasi di lapangan oleh Daerah yang
memiliki kewenangan terhadap suatu Daerah Irigasi.
3) Pertanaman (IP), merupakan hitungan rata-rata kali tanam dalam satu tahun.
Indeks Pertanaman dihitung dengan membagi Luas Tanam dengan Luas Tanam
Baku. Luas Tanam merupakan hasil perkalian antara luas lahan dengan frekuensi
penanaman dalam 1 tahun. Sedangkan Luas Tanam Baku adalah luas lahan yang
ditanami.
prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

11

4) Kepedulian, merupakan ukuran keseriusan Daerah dalam mengelola DAK Irigasi.


5) Pelaporan, merupakan proses penyampaian laporan Triwulan oleh Kepala Daerah
yang menerima DAK Irigasi, yang memuat laporan pelaksanaan kegiatan dan
penggunaan DAK.
Kriteria Teknis DAK Irigasiuntuk kegiatanPembangunan Daerah Irigasi Baru :
1) Mempunyai kesuburan lahan, sesuai untuk tanaman padi/pangan.
2) Tersedianya potensi air dengan kualitas yang sesuai, dan kuantitas yang
mencukupi.
3) Adanya penduduk, atau petani penggarap lahan pertanian.
4) Ada akses jalan ke lokasi.
5) Status tanah untuk jaringan irigasi dan arealpengembangan adalah milik petani
(daerah budidaya dan bukanhutan lindung).
6) Tidak ada banjir dan genangan air.
7) Lahan yang dikembangkan sudah sesuai dengan RTRW.
8) Tidak ada masalah sosial (pembebasan tanah, dll.)
2.1.2 Kriteria Afirmasi
Kriteria Afirmasi Daerah penerima DAK Irigasi adalah :
1) Daerah sentra produksi padi diatas rata-rata nasional, yang meliputi 153 (seratus
lima puluh tiga) kabupaten/kota.
2) 50 (lima puluh) kabupaten/kota (29 kab diantaranya termasuk sentra produksi
beras) yang ditetapkan sebagai Pengembangan Kawasan Komoditas Padi untuk
tahun 2015-2019.
3) Daerah Tertinggal, yang meliputi 121 kabupaten.
4) Kawasan Perbatasan, yang meliputi 41 kabupaten (terdapat 22 kabupatenyang
merupakan daerah tertinggal dan sekaligus berada pada daerah perbatasan).
2.2 PROPOSAL USULAN DAK Irigasi 2017
DAK Irigasi merupakan salah satu Bidang DAK Penugasan, sehingga dalam
pengelolaannya termasuk dalam penentuan lokasi dan alokasinya- dilakukan melalui
bauran pendekatan bottom upmelalui penyampaian usulan proposal dari Daerahdan top down melalui pertimbangan dan verifikasi oleh Pemerintah Pusat (K/L
Teknis terkait dan Direktorat Sektor di Bappenas, untuk kemudian ditetapkan sebagai
dasar pelaksanaan DAK Penugasan.

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

Beberapa sumber proposal usulan DAK Irigasi 2017 adalah :


1) e-Musrenbang, merupakan aplikasi perencanaan berbasis website yang
dibangun oleh Bappenasuntuk menampung proposal DAK 2017, termasuk DAK
Irigasi.
2) e-Proposal Kementerian Keuangan, merupakan aplikasi pengusulan proposal
berbasis website yang dikembangkan oleh Kementerian Keuangan, untuk
menampung proposal usulan DAK dalam bentuk softcopydisamping proposal
dalam bentuk hardcopy dari Daerah.
3) e-Usulan Kementerian/Lembaga, merupakan aplikasi pengusulan proposal
berbasis website yang dikembangkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat, untuk menampung proposal usulan DAK.
2.3 PENILAIAN PROPOSAL USULAN DAERAH
Proposal usulan DAK Irigasi selanjutnya dinilai atau diverifikasi oleh Direktorat
Operasi dan Pemeliharaan, Dirjen Sumber Daya air, Kementerian PUPRdengan
menggunakan Indeks Teknis,dan oleh Direktorat Pengairan dan Irigasi, Bappenas
dengan menggunakan Kriteria atau Indeks Afirmatif untuk kemudian dilakukan
exercise alokasi DAK Irigasi 2017 bagi Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Dalam rangka menjamin terakomodirnya seluruh usulan Daerah, maka
proposal yang digunakan dalam penilaian merupakan proposal dari ketiga sumber
yang telah disebutkan di atas, dimana proposal yang masuk ke Bappenas dan proposal
yang masuk ke Kementerian Keuangan dianggap sama, sehingga dengan demikian,
penilaian atau verifikasi proposal dilakukan berdasarkan proposal yang masuk ke
Bappenas atau Kemenkeu dan proposal yang masuk ke Kementerian PUPR dengan
prinsip triangulasi, dimana jika suatu Daerah tidak ada usulannya dalam proposal
yang masuk ke Bappenas, maka dilakukan pengecekan di dalam proposal yang masuk
ke Kementerian PUPR, demikian juga sebaliknya.
Sebagai salah satu bidang DAK Penugasan, proposal usulan DAK Irigasi Daerah
hendaknya sudah mencantumkan nama-nama D.I. yang akan dikerjakan dengan
alokasi DAK. Daerah Irigasi yang boleh direhabilitasi dengan DAK, hanyalah D.I. yang
sudah tercantum dalam Permen PUPR 14/2015, sehingga dengan demikian, apabila
dalam proposal usulan rehabilitasi terdapat nama-nama D.I. yang tidak ada dalam
Permen PUPR 14/2015, maka usulan tersebut secara otomatis langsung ditolak.
Demikian juga dengan usulan luas kerusakannya, harus di crosscheck dengan Permen
PUPR 14/2015. Sedangkan usulan pembangunan D.I. baru secara umum diterima.
Setelah diketahui nama-nama D.I. yang diterima usulannya untuk
direhabilitasi, dan juga diketahui nama-nama D.I. yang direncanakan sebagai
pembangunan baru, maka dapat diketahui besaran usulan kebutuhan DAK Irigasi
2017 setiap Daerah. Hal ini menjadi dasar exercise penentuan besaran alokasi DAK

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

13

untuk setiap Daerah dengan menggunakan pendekatan Indeks Teknis dan Kriteria
Afirmasi sebagaimana telah dijelaskan di atas.
2.3.1 Indeks Teknis
Indeks teknis merupakan nilai dari suatu Daerah (Provinsi dan
Kabupaten/Kota) calon penerima DAK Irigasi relatif terhadap Daerah lainnya. Nilai
ini terdiri dari nilai masing-masing kriteria teknis yang telah terboboti.
1) Indeks Luas Daerah Irigasi (D.I.)
a. Merupakan indeks luas D.I. yang menjadi kewenangan suatu Daerah.
b. Diboboti sebesar 35 % dari keseluruhan indeks teknis.
c. Indeks Teknis (IT) Luas D.I. Dihitung dengan menggunakan persamaan :
.. =

. .
. .

2) Indeks Kondisi Daerah Irigasi


a. Merupakan indeks luas kerusakan D.I. yang menjadi kewenangan suatu Daerah,
setelah mempertimbangkan Kriteria Afirmasi.
b. Diboboti sebesar 25 % dari keseluruhan indeks teknis.
c. Kondisi D.I suatu Daerah dihitung dengan menggunakan persamaan :
. . =

. .
. .

d. Indeks Teknis (IT) Kondisi D.I. Dihitung dengan menggunakan persamaan :

..

. .
. .

3) Indeks Pertanaman
a. Merupakan perbandingan luas tanam padi dalam satu tahun di suatu Daerah
terhadap total luas tanam padi seluruh Daerah dalam satu tahun. Besaran IP
ditentukan dengan menggunakan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Daerah
dengan IP> 1,5 dinyatakan mempunyai nilai Pertanaman sebesar 10%; Daerah
dengan IP1 1,5 dinyatakan mempunyai nilai Pertanaman = 7,5%; dan Daerah
denganIP< 1 dinyatakan mempunyai nilai Pertanaman sebesar 5%.
b. Diboboti sebesar 10 % dari keseluruhan indeks teknis.
c. Indeks Teknis (IT) Pertanamandihitung dengan menggunakan persamaan :

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

4) Indeks Kepedulian
a. Kepedulian merupakan ukuran yang menunjukkan keseriusan atau komitmen
Daerah dalam mengelola DAK Irigasi, terdiri dari komponen : Pemenuhan dana
Operasi dan Pemeliharaan; Perda Irigasi; RPIJM (Usulan DAK); Komisi Irigasi;
dan Tim Koordinasi.
b. Diboboti sebesar 10 % dari keseluruhan indeks teknis.
c. Indeks Teknis (IT) Kepeduliandihitung dengan menggunakan persamaan :
=

5) Pelaporan
a. Pelaporan merupakan ukuran yang menunjukkan ketertibanDaerah dalam
melaporkan kegiatan terkait dengan DAK, terdiri dari komponen : pelaporan
via aplikasi e-Monitoring; pelaporan dalam bentuk hardcopy; pelaporan data
teknis (Rencana Tanam Irigasi /RTI).
b. Diboboti sebesar 20 % dari keseluruhan indeks teknis.
c. Indeks Teknis (IT) Pelaporan dihitung dengan menggunakan persamaan :
=

2.3.2 Kriteria Afirmasi


Kriteria afirmasi sebagaimana telah dijelaskan di atas berkontribusi pada
penentuan Indeks Teknis Kondisi Daerah Irigasi, khususnya dalam menentukan
besaran nilai Kondisi Irigasi. Daerah yang memiliki salah satu dari kriteria afirmasi,
maka Daerah tersebut memiliki nilai Faktor Afirmasi sebesar 2 (dua). Sedangkan
Daerah yang tidak memiliki salah satu Kriteria Afirmasi, memiliki Faktor Afirmasi
sebesar 1 (satu) atau dengan kata lain tidak mendapatkan perlakuan afirmasi.
Nilai Faktor Afirmasi sebesar 2 (dua) berarti bahwa perhatian pada
penanganan atau rehabilitasi D.I. yang rusak di Daerah tersebut relatif lebih banyak
dibandingkan dengan Daerah yang memiliki Faktor Afirmasi sebesar 1 (satu).
2.3.3 Exercise Alokasi
Setelah Indeks Teknis dari setiap Daerah diketahui, maka selanjutnya adalah
menentukan besaran alokasi DAK bagi setiap Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota)
yang berhak menerima DAK Irigasi untuk tahun anggaran 2017.
prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

15

( halaman ini sengaja dikosongkan )

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

HASIL PENILAIAN PROPOSAL,EXERCISE


ALOKASIDAN TINDAK LANJUT

3
3.1 HASIL

Berdasarkan hasil penilaian atau verifikasi dan exercise penetapan alokasi DAK
untuk setiap Daerah, diketahui beberapa hal sebagai berikut :
1) Terdapat 32 (tiga puluh dua) Provinsi dan 411 (empat ratus sebelas)
Kabupaten/Kota yang mengusulkan proposal DAK Bidang Irigasi Tahun 2017
dengan total usulan sebesar Rp. 17,48 triliun yang terdiri dari Rp. 3,29 triliun
usulan Provinsi dan Rp. 14,19 triliun usulan Kabupaten/Kota.
2) Pengalokasian DAK Bidang Irigasi TA 2017 difokuskan kepada seluruh Provinsi
dan Kabupaten/Kota yang memiliki Daerah Irigasi (D.I.) kewenangan
berdasarkan Peraturan Menteri PUPR No. 14/KPTS/M/2015 tentang Penetapan
Status Daerah Irigasi yang Pengelolaannya Menjadi Wewenang dan Tanggung
Jawab Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Hal ini
dilakukan dengan pertimbangan untuk mendukung pencapaian target RPJMN
2015-2019 terkait rehabilitasi jaringan irigasi seluas 3 (tiga) juta ha serta untuk
memperbaiki kondisi jaringan irigasi kewenangan daerah sehingga dapat
mempertahankan tingkat layanan irigasi dan menahan laju kerusakan, serta
mendukung kedaulatan pangan baik skala lokal maupun skala nasional.
3) Berdasarkan hasil penilaian proposal, terdapat 32 (tiga puluh dua) provinsi dan
387 (tiga ratus delapan puluh tujuh) kabupaten yang layak mendapatkan DAK
Bidang Irigasi TA 2017 dengan alokasi sejumlah Rp. 9,46 triliun yang terdiri dari
Rp. 2,03 triliun alokasi untuk provinsi dan Rp. 7,43 triliun alokasi untuk
kabupaten/kota disajikan pada tabel berikut:
Usulan
No
1
2

Pengusul DAK
Provinsi
Kabupaten/Kota
TOTAL

Hasil Penilaian

Jumlah Daerah
Pengusul

Nilai Usulan DAK


(Triliun Rupiah)

Jumlah Daerah
Layak

Alokasi DAK (Triliun


Rupiah)

32
411

3,29
14,19

32
387

2,03
7,43

443

17,48

419

9,46

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

17

3.2 TINDAK LANJUT


Berdasarkan usulan DAK Bidang Irigasi TA 2017 yang telah dikirimkan kepada Kementerian Keuangan, Kementerian PUPR, dan
Bappenas, selanjutnya Daerah diminta menyusun daftar Daerah Irigasi (D.I.) sampai dengan sebanyak 20 (dua puluh) D.I. berdasarkan
urutan prioritasnya yang akan didanai melalui DAK TA 2017, dengan format isian daftar isian sebagai berikut :
NO

MENU KEGIATAN

NAMA KEGIATAN

NAMA D.I.

LUAS D.I.
(Ha)

LUAS BERDASAR
PERMEN PUPR 14/2015

LINGKUP PEKERJAAN
(Ha)

USULAN BIAYA
(Rp.)

1
2

20

Kemudian daftar isian D.I. prioritas tersebut disampaikan ke Direktorat Pengairan dan Irigasi, Bappenas melalui email
air@bappenas.go.id atau melalui fax 021-3149641.
Nama Tempat :

Nama Tempat :

Nama Tempat :

Nama Tempat :

Tanggal/Bulan/Tahun :

Tanggal/Bulan/Tahun :

Tanggal/Bulan/Tahun :

Tanggal/Bulan/Tahun :

Bappeda Provinsi

Dinas PU Provinsi

Bappeda Kab/KOta

Dinas PU Kab/Kota

Tandatangan Asli dan stempel basah Tandatangan Asli dan stempel basah Tandatangan Asli dan stempel basah Tandatangan Asli dan stempel basah
Nama, NIP dan Jabatan

Nama, NIP dan Jabatan

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017


1818

Nama, NIP dan Jabatan

Nama, NIP dan Jabatan

REFERENSI

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana


Perimbangan.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik
IndonesiaNomor 47/PRT/M/2015 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi
Khusus Bidang Infrastruktur.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia
Nomor 47/PRT/M/2015 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus
Bidang Infrastruktur.
Proposal Usulan Daerah, DAK Irigasi 2017.

prinsip penilaian usulan DAK Irigasi TA 2017

19