Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

PEMERIKSAAN CAIRAN SENDI

OLEH :

I Wayan Adi Setiawan

P07134014013

Ni Made Siandari

P07134014015

Ayu Rika Widyastuti

P07134014017

Ni Made Niagita Wiratni

P07134014019

JURUSAN ANALIS KESEHATAN


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
TAHUN AJARAN
2016

Hari/Tanggal

: Selasa, 10 November 2016

Lokasi Praktikum

: Lab. Kimia Klinik JAK Poltekkes Dps.


PEMERIKSAAN CAIRAN SENDI

I TUJUAN
a Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa dapat mengetahui cara pemeriksaan cairan sendi.
b Tujuan Instruksional Khusus
1 Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan cairan sendi
2 Mahasiswa dapat menginterpretasikan hasil pemeriksaan cairan sendi secara
makroskopis dan mikroskopis.
II METODE
Metode yang digunakan adalah metode makroskopis dan mikroskopis
IIIPRINSIP
Sampel cairan sendi dihomogenkan lalu diperiksa secara makroskopis, cairan sendi
sebanyak 3 ml disentrifuge dan diambil bagian pellet/endapannya dan diteteskan pada objek
glas dan ditutup dengan menggunakan cover glass kemudian diamati pada mikroskop
dengan pembesaran objektif 40X.
IV DASAR TEORI
A. Pengertian Sendi dan Cairan Sendi
Sendi merupakan pertemuan antara dua ujung tulang. Ujung kedua tulang pada
sendi umumnya dilapisi oleh jaringan tulang rawan dan pada sendi besar misalnya pada
sendi lutut dibatasi oleh satu bantalan yang disebut meniscus sendi. Strukur pada
daerah pertemuan ini terbungkus oleh membran sinovial sehingga membentuk ruangan
yang disebut cavum sinovial. Ruangan inilah yang terisi oleh sedikit cairan kental dan
dikenal sebagai cairan sinovial atau cairan sendi (Ana Nurida, dkk. 2011).

Gambar 1 : sendi normal


Sumber : http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/553/jbptitbpp-gdl-lindaandri-27616-2-2007ta-1.pdf
Cairan sendi adalah cairan pelumas yang terdapat pada persendian. Cairan itu
merupakan ultrafiltrat plasma yang mengandung asam hialuronat yang disekresikan oleh
lapisan sinovial sendi. Asam Hialuronat tersebut menyebabkan cairan sendi bersifat
kental sehingga cairan itu dapat berfungsi sebagai pelumas. Cairan sendi normal
mempunyai komposisi yang sama dengan cairan plasma dengan zat tambahan berupa
asam hyaluronat. Cairan sendi berfungsi mensuplai nutrisi ke tulang rawan sendi
sekaligus sebagai pelumas untuk persendian agar dapat bebas bergerak (Ana Nurida,
dkk. 2011).
B. Patofisiologi pada Inflamasi Cairan Sendi
Inflamasi pada sendi akan meningkatkan aliran darah ke sendi dan menyebabkan
filtrasi plasma yang lebih banyak dan pada akhirnya menambah volume cairan sendi
lebih dari volume normal. Hal ini menyebabkan filtrasi ke jaringan interstisial sehingga
menyebabkan pembengkakan pada sendi dan peregangan yang menekan ujung-ujung
saraf yang menimbulkan nyeri (Ana Nurida, dkk. 2011).
Peningkatan metabolisme pada daerah radang akan meningkatkan asam laktat dan
CO2 sehingga pH cairan sendi yang meradang akan menjadi lebih rendah. Peningkatan
permeabilitas pada peradangan juga menyebabkan fibrinogen kadang dapat lolos ke

dalam cairan sendi, sehingga umumnya cairan sendi yang meradang dapat terjadi
penggumpalan, yang pada keadaan normal tidak terjadi (Ana Nurida, dkk. 2011).
Persendian dapat mengalami beberapa kelainan atau gangguan, diantaranya
sebagai berikut :
Ankiliosis yaitu persendian yang tidak dapat digerakkankarena seolaholah

kedua tulang menyatu.


Dislokasi yaitu sendi bergeser dari kedudukan semula.
Terkilir atau keseleo yaitu tertariknya ligamen akibat gerakyang mendadak.
Artritis yaitu peradangan pada satu atau beberapa sendi dan kadang-kadang

posisi tulang mengalami perubahan. Artritis dibedakan menjadi


Gout artritis yaitu gangguan persendian akibat kegagalanmetabolisme asam urat.
Asam urat yang tinggi dalam darahdiangkut dan ditimbun dalam sendi yang
kecil, biasanyapada jari-jari tangan. Akibatnya ujung-ujung ruas jari tangan

membesar.
Usteoartriris yaitu suatu penyakit kemunduran, sendi tulangrawan menipis dan

mengalami degenarisi. Biasa terjadikarena usia tua.


Reumathoid yaitu suatu penyakit kronis yang terjadi pada jaringan penghubung
sendi. Sendi membengkak dan terjadikekejangan pada otot penggeraknya
Kelainan sendi akibat infeksi antara lain :

Artritis eksudatif yaitu peradangan pada sendi danterisi cairan nanah.


Artritis sika yaitu peradangan sendi sehingga ronggasendi menjadi menjadi

kering (kekurangan minyak sinoval).


Layuh sendi atau layuh semu yaitu suatu keadaan tidak bertenaga pada
persendian akibat rusaknyacakraepiisis tulang hingga sebagian tulang mati dan
mengering.

C. Indikasi Pemeriksaan Cairan Sendi


Pemeriksaan cairan sendi diindikasikan pada keadaan-keadaan dimana terdapat
penambahan jumlah cairan sendi (efusi) atau adanya perubahan fisik akibat efusi
tersebut misalnya pembengkakan sendi yang fluktuatif (Ana Nurida, dkk. 2011).
Menurut Sarita Putri (2013), analisis cairan sendi dilakukan jika menemukan sesuatu
yang mencurigakan di daerah persendian, berupa :
(1) nyeri di daerah persendian
(2) eritema meliputi daerah persendian dan sekitarnya
(3) inflamasi di daerah persendian

(4) akumulasi cairan sinovial.


D. Pemeriksaan Cairan Sendi
Pemeriksaan cairan sendi dikenal dengan nama lain yaitu: analisis cairan sinovial.
Pemeriksaan cairan sendi dilakukan untuk membantu mendiagnosis penyebab peradangan,
nyeri dan pembengkakan pada sendi. Cairan sendi diambil menggunakan jarum yang
ditusuk ke dalam cairan itu berada (area diantara tulang pada sendi tersebut). Cairan
sinovial menjadi pelumas dalam sendi. Cairan sinovial akan memberikan nutrisi bagi
tulang rawan sehingga tidak dapat aus selama penggunaan (gesekan dalam pergerakan
sendi). Analisis cairan sendi terdiri dari serangkaian uji yang dilakukan untuk mendeteksi
perubahan yang terjadi akibat dari penyakit tertentu. Ada beberapa karakteristik cairan
sinovial yang patut dikaji antara lain (Fahjri Saputra, 2012) :
1. Karakteristik fisik : evaluasi dari penampilan secara umum dari cairan sinovial, meliputi
kekentalan (viskositas). Karakteristik fisik yang normal berupa: cairan bening, berwarna
jernih hingga kekuningan, dan kental (viskositas tinggi akibat kandungan asam
hialuronat, ketika mengambilnya dengan jarum membentuk string beberapa inchi
layaknya cairan kental pada umumnya). Perubahan yang terkait pada aspek fisik ini yaitu:
cairan keputihan (berawan) disebabkan oleh hadirnya mikroorganisme dan sel darah
putih) dan berwarna kemerahan akibat hadirnya sel darah merah. Antara cairan sinovial
berawan dan kemerahan dapat terjadi dalam satu spesimen.
2. Karakteristik kimia : mendeteksi perubahan zat kimia tertentu pada cairan sinovial,
meliputi: glukosa (level glukosa di dalam cairan ini lebih rendah daripada level glukosa
darah dan dapat menurun lebih signifikan lagi pada inflamasi dan infeksi sendi, protein
(kandungan protein meningkat akibat peradangan infeksi), asam urat yang meningkat
(pada Gout).
3. Karakteristik mikroskopik : menghitung sel-sel yang terdapat pada cairan sinovial
(terutama untuk menghitung leukosit) meliputi: hitung leukosit (batas normal yaitu <200
sel / mm3, leukosit yang berlebihan menandakan adanya inflamasi seperti pada Gout dan
Rheumatoid artritis, neutrofilia menandakan infeksi bakteri, dan eosinifilia menandakan
penyakit Lyme, dan melewati cairan sinovial ke sinar polarisasi untuk melihat adanya
kristal asam urat (kristal jarum) pada penyakit Gout.
4. Karakteristik infeksius : menemukan agen infeksius (bakteri atau jamur) dalam cairan
sinovial meliputi: pewarnaan gram (untuk melihat tipe agen infeksius), pembiakan, uji

kerentanan terhadap antibiotik (sebagai panduan dalam memilih antibiotik), dan uji BTA
jika dikhawatirkan adanya mikrobakterium.
E. Cara Pengambilan Spesimen
Teknik pengambilan cairan sendi disebut arthrocentesis harus dilakukan secara aseptis
oleh tenaga yang berpengalaman dan tekniknya berbeda tergantung sendi tempat
pengambilan cairan (Ana Nurida, dkk. 2011). Setelah dianastesi lokal, dokter akan
melakukan penyuntikan hingga masuk ke tempat cairan sinovial berada (area diantara
tulang). Selain untuk mengambil spesimen cairan sinovial, prosedur ini dilakukan juga
dalam (Sarita Putri, 2013) :
1. Pengambilan cairan sinovial berlebihan untuk mengurangi tekanan yang
berlebihan.
2. Injeksi kortikosteroid ke dalam cairan sinovial yang mengalami inflamasi.
Tahap Pre Analitik :
1. Spuit yang digunakan (19/21 untuk sendi besar, 23/25 untuk sendi kecil).
2. Digunakan sarung tangan steril.
3. Dilakukan anastesi lokal (lidokain atau etiklorida spray).
4. Kapas alkohol dan betadine.
5. Empat tabung penampungan tanpa antikoagulan.
Tahap Analitik
1. Ditentukan lokasi penusukan, daerah ektensor lebih aman (bebas saraf) dan beri tanda.
2. Dilakukan tindakan aseptik pada lokasi.
3. Dilakukan anastesi lokal (inflamasi lidokain/prokain dengan jarum halus atau etiklorida
spray).
4. Ditusuk daerah yang sudah ditandai dengan spuit yang berisi 25 l sodium heparin
(dibilas) dan gunakan jarum yang sesuai hingga terasa jarum menembus membran
sinovial (seperti menusuk kertas).
5. Dilakukan aspirasi perlahan-lahan (untuk meminimalisasi nyeri).
6. Spesimen ditampung (sesuai urutan tabung pertama kali diisi).
Efusi: diambil 10-20 ml tampung dalam 4 tabung (Wande, 2016):

Tabung I (tanpa antikoagulan): untuk tes makroskopis, viskositas, dan


tes musin
Tabung II (antikoagulan EDTA): tes mikroskopis, hitung jenis, dan sel
Tabung III (tabung harus steril berisi heparin/EDTA): untuk tes
mikrobiologi
Tabung IV (tanpa antikoagulan): tes kimia dan imunologi
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel:
1) Mengetahui apakah pasien mempunyai gangguan hemostasis.
2) Melakukan dengan teknik yang benar dan berusaha untuk selalu steril.
3) Sampel yang didapatkan sesegera mungkin untuk dibawa ke laboratoium.
4) Jika akan dilakukan pemeriksaan glukosa cairan sendi maka pasien
diwajibkan puasa selama 6-8 jam terebih dahulu.
5) Bila akan dilakukan pemeriksaan mikrobiologi, wadah untuk menampung
cairan sendi harus steril (Suwasono, 2009).

ALAT DAN BAHAN


a Alat
1 Centrifuge
2 Objek glass
3 Cover glass
4 Pipet tetes
5 Mikroskop
6 Tabung sentrifuge
b Bahan
1 Sampel cairan sendi
2 Ph stick
3 Tissue
4 Aquadest
5 Giemsa

VI CARA KERJA
1 Alat dan bahan disiapkan
2 Cairan sendi diperiksa secara mikroskopis meliputi :
a Warna
b pH
c Bekuan

3
4
5
6
7

d Viskositas
Sampel cairan sebanyak 3 ml dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge
Disentrifuge dengan kecepatan 1600 rpm selama 5 menit
Supernatant dibuang dan diambil endapan
Diteteskan pada objek glass lalu ditutup dengan cover glass
Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran lensa objektif 10X untuk mencari lapang

pandang, kemudian diganti ke perbesaran objektif 40X.


Dibaca hasil

1
2
3
4

Pewarnaan
Diteteskan pewarna giemsa pada endapan sebanyak 1 tetes
Diteteskan pada objek glass dan ditutup dengan cover glass
Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran objektif 40X
Hasil diinterpretasikan
DAFTAR PUSTAKA
Ana Nurida, dkk. 2011. Laporan Praktikum Patologi Klinik. [online]. tersedia:
https://www.scribd.com/doc/298949715/Tes-Dan-Interpretasi-Cairan-Sendi
[diakses: 12 November 2016, 17:55 WITA]
Fahjri

Saputra.

2012.

Pemeriksaan

Cairan

Sendi.

[online].

tersedia:

https://www.scribd.com/doc/308476457/Pemeriksaan-Cairan-Sendi [diakses: 10
November 2016, 17:45 WITA]
Linda Andri. 2007. SENDI. [online]. http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/553/jbptitbpp-gdllindaandri-27616-2-2007ta-1.pdf [diakses: 10 November 2016, 17:45 WITA]
Sarita

Putri.

2013.

Pemeriksaan

Cairan

Sendi.

[online]

tersedia:

https://www.academia.edu/10701654/PEMERIKSAAN_CAIRAN_SENDI
[diakses: 12 November 2016, 17:35 WITA]

LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, 14 November 2016


Praktikan

Atas nama mahasiswa


Kelompok II Ganjil

Mengetahui,
Pembimbing I

(D. G. Diah Dharma Shanti, S. Si., Apt., M. Kes)

Pembimbing III

Pembimbing II

(Drs. A. A. N. Santa AP)

Pembimbing IV

(Luh Putu Rinawati, A. Md. AK)

(Kadek Aryadi Hartawiguna, A. Md. AK)

Anda mungkin juga menyukai