Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN WAWANCARA

REMAJA AKHIR
1. Identitas Responden
Nama
Usia
Jenis Kelamin
Anak ke dari bersaudara
Pendidikan

: AS R
: 18 Tahun
: Perempuan
: Anak ke 4 dari 6 bersaudara
: Psikologi Universitas Negeri Makassar

2. Verbatim Wawancara
Pelaksanaan Wawancara
Hari/Tanggal
: Sabtu, 4 November 2016
Waktu
: 16.10- 16.18
Lokasi wawancara
: Jln. Bonto Dg.Ngirate (Kos interviewer)
Gambaran setting
Wawancara berjalan lancar di kost interviewer tepatnya di Jln. Bonto
Dg.Ngirate. Sebelum wawancara, Interviewer meminta subjek untuk menjadi
interviewee dalam pemenuhan tugasnya. Subjek tidak menolak dan memilih
dilaksanakan wawancara dikos interviewer. Subjek memakai jilbab berwarna
biru tua polos, baju kaos berwarna biru tua, rok berwarna hitam dan subjek
memiliki kulit sawo matang.
Kalimat
Interviewer

Assalamualaykum

Warahmatullahi

Interviewee

selamat siang
Waalaykumussalam

Interviewer

selamat siang juga


Sebelumnya maaf mengganggu waktuta, Jadi begini mauka

Warahmatullahi

Wabarakatuh

dan

Wabarakatuh

dan

minta kesediaan dan waktuta untuk wawancaraiki. Bersedia


Interviewee

jaki?
Iye bisaji

Interviewer

Tujuan saya lakukan wawancara ini untuk mengetahui


kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirita. Untuk itu,
tidak saya cantumkanji nama atau identitas pribadita pada
laporan yang akan ku buat nanti dan sebelumnya minta
maafka juga karena pakaika alat perekam suara dalam

proses wawancara yang kita lakukan pada hari ini supaya


terjagaki

keakuratan

dan

mempermudahki

proses

Interviewee

wawancarata.
Oh iye tidak apa-apaji

Interviewer

Kalau begitu bisami kita mulai?

Interviewee

Iye bisami

Interviewer

Jadi pertanyaan pertamaku itu menyangkut tentang apa saja


yang menjadi kekurangan yang ada pada dirita dan yang kita

Interviewee

sadari sampai pada saat ini?


Kalau kekuranganku itu sebenarnya banyak sekali, Cuma
sedikitji yang ku tau dan yang ku sadari, yang pertama itu

Interviewer

gampang sekalika panikan, gampangka cemas


Oh jadi contohnya itu dalam keseharianta bagaimana?

Interviewee

Misalkannya hari ini ujianka, pasti langsungka cemas atau


panik karena mauka hadapi itu ujian apalagi kalau belumpa

Interviewer

belajar.
Oh jadi bagaimanami efeknya itu kalau gampangki cemas,

Interviewee

kayak berubah suasana hatita atau lingkungan disekitarta?


Kalau misalnya cemaska pasti langsung berdebar-debar
jantungku, langsungka gemetaran, langsuka tidak fokus sama
apa yang ku kerja. Biasa itu jatuh-jatuh bukuku atau barangbarangku dimeja kalau munculki cemasku jadi biasa

Interviewer

temanku kasih tenangka


Oh jadi banyak efek yang nah timbulkan ketika munculki

Interviewee

cemasta di. Ehh ada lagi kekuranganta?


Susahka bergaul

Interviewer

Oh jadi sebenarnya ini susahki bergaul sama orang-orang

Interviewee

baru atau biar sama temanta yang sudah dekat?


Susahka bergaul kalau misal dalam lingkungan baru atau
orang-orang baru, karena susahka beradaptasi dengan
lingkunganku, tidak bisaka memulai duluan menyapa atau
bicara, haruspi orang duluan yang sapaka, karena itumi

Interviewer

selaluka tidak percaya diri kalau mau bergaul sama orang


Selain tidak percaya diri apa lagi yang buatki tidak bisa

bergaul sama orang?


Interviewee

Selain itukan saya juga tidak mudahka percaya sama orang


karena takutka itu orang tidak bisa jaga kepercayaanku atau

Interviewer

takutka dikhianati apalagi sama orang yang baruka kenal


Oh jadi karena tidak mudahki juga percaya sama orang di,
jadi tidak adami lagi yang mau kita sampaikan berkaitan

Interviewee

dengan kekuranganta?
Mmm tidak adami kayaknya deh, iye ituji

Interviewer

Oh iye jadi beralih maki lagi kepertanyaan selanjutnya di,


yang berkaitan tentang kelebihanta, jadi bisami kita sebutkan

Interviewee

kekuranganta?
Kalau kelebihanku mungkin sedikitji deh yang ku tau, yang

Interviewer

pertama itu pintarka dan sukaka sama matematika


Contohnya dalam keseharianta apa yang menunjukkan kita

Interviewee

pintar atau suka matematika?


Contohnya itu suka sekalika menghitung, cepatka kalau kerja

Interviewer

soal-soal yang ada hitungannya


Jadi dari dulu itu sukaki matematika?

Interviewee

Iye dari kecil, sejak masukka bangku sekolah dasar.

Interviewer

Oh dari kecil memang, mmm ada lagi kelebihanta yang

Interviewee

mungkin kita sadari?


Eee saya juga mungkin pendengar yang baikka

Interviewer

Contohnya dalam keseharianta? Seperti apa?

Interviewee

Sukaka dengarki curhat-curhatannya orang, kalau misal


orang cerita selaluka penasaran dengan ceritanya atau kisah

Interviewer

hidupnya
Jadi biar itu orang lama sekali cerita kita dengarji terus?

Interviewee

Iye sampai selesaiki cerita saya dengarji

Interviewer

Oh begitu di, ada lagi kelebihanta?

Interviewee
Interviewer
Interviewee

Gampangka mengingat sesuatu


Contohnya?
Contohnya kalau membaca, butuhja satu atau dua kali
membaca bisama ingatki apa yang ada dibuku dan kejadiankejadian yang ada dalam hidupku biar berlalumi pasti ku

Interviewer

ingat terus karena susahka lupaki


Oh begitu, masih ada yang mau kita sampaikan seputar

Interviewee
Interviewer

kelebihan atau kekuranganta?


Eee tidak adami, mungkin ituji.
Oh iye, jadi untuk memperjelas, kan tadi sudah kita
ungkapkan kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirita.
Jadi bisaka simpulkan, kekuranta itu yang pertama gamping
cemas, yang kedua tidak mudahki bergaul dan percaya sama
orang-orang apalagi sama orang-orang baru. Selanjutnya
kelebihanta itu yang pertama pintar dan gemarki dalam
matematika, gampangki mengingat sesuatu, dan yang ketiga

Interviewee

kita adalah pendengar yang baik.


Terakhir saya ucapkan banyak Terima kasih untuk kita
karena sudah meluangkan waktunya untuk melakukan
wawancara.

Interviewer

Wasssalamualaykum

wabarakatuh
Iye sama-sama,

waalaykumussalam

warahmatullahi
warahmatullahi

wabarakatuh

3. Hasil Wawancara
Dari hasil wawancara, responden mengaku kelebihannya adalah (1) pintar
dan suka matematika, (2) Mudah mengingat sesuatu, (3) pendengar yang baik.
Sedangkan

kekurangannya, (1) cepat cemas dan panik (2) tidak mudah

bersosialisasi atau bergaul dengan orang.


4. Analisis
a. Kekurangan
1) Cepat cemas dan panik
Remaja yang pencemas cenderung memiliki emosi negatif seperti
marah, depresi, emosi labil, memandang masalah kecil sebagai
ancaman dan dianggap sulit (aspek emosi & aspek kognitif) (Sarlito
W.Sarwono : 85).
Aspek-aspek suasana hati dalam kecemasan adalah tegang, panik
dan kekhawatiran, individu yang mengalami kecemasan memiliki
perasaan akan adanya hukuman atau bencana yang akan mengancam

dari sumber tententu yang tidak diketahui. Aspek-aspek suasana hati


yang lainnya adalah depresi dan sifat mudah marah (aspek emosi,
aspek kognitif). Aspek somatik dibagi menjadi dua kelompok yaitu
pertama adalah Aspek-aspek langsung yang terdiri dari keringat, mulut
kering, bernapas pendek, denyut nadi cepat, tekanan darah meningkat,
kepala terasa berdenyut-denyut, dan otot terasa tegang. Kedua apabila
kecemasan berkepanjangan, Aspek-aspek tambah seperti tekanan darah
meningkat secara kronis, sakit kepala, dan gangguan usus (kesulitan
dalam pencernaan, dan rasa nyeri pada perut) dapat terjadi (aspek
biologis). Remaja yang cemas sering merasa tidak tenang, gugup,
kegiatan motorik menjadi tanpa arti dan tujuan, misalnya jari-jari kaki
mengetuk-mengetuk, dan sangat kaget terhadap suara yang terjadi
secara tiba-tiba dan melaukan usaha untuk melindungi diri (defense
mechanism) dari apa saja yang dirasanya mengancam (aspek
motorik). (Sri wahyuni, 2014 : 4)
Menurut Osborne (dalam Dewi dan Andrianto, 2006) perasaan
cemas ini muncul karena takut secara fisik terhadap pendengar, yaitu
takut ditertawakan orang, takut bahwa dirinya akan menjadi tontonan
orang, takut bahwa apa yang akan dikemukakan mungkin tidak pantas
untuk dikemukakan, dan rasa takut bahwa mungkin dirinya akan
membosankan. Individu yang pemalu dan cemas secara sosial
cenderung untuk menarik diri dan tidak efektif dalam interaksi sosial,
tidak lancar berbicara dan kesulitan konsentrasi ini dimungkinkan
karena individu tersebut mempersepsi akan adanya reaksi negatif dan
Kecemasan berbicara di depan umum sebagai salah satu ketakutan
terbesar dan sangat mengganggu pekerjaan individu (aspek kognitif,
aspek sosial, dan aspek emosi)
Remaja yang sering mengalami kecemasan tidak memiliki
dukungan sosial yang baik dalam hubungan sosialnya (aspek sosial)
(Yustisiana hidayati endah mastuti, 2012 : 6).
Hal yang terjadi pada remaja jika kecemasan terjadi secara
berulang yaitu mengalami takut, gelisah, kurangnya kontak mata,

fokus terhadap diri, kesulitan konsentrasi, peningkatan pernafasan dan


jantung, nafsu makan berkurang, berkeringat, menggigil, melakukan
sesuatu yang tidak terkontrol dan gelisah (aspek emosi, aspek
kognitif, aspek biologis) (Lela Juariah, 2009 : 8-9)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pribadi pencemas sangat erat
hubungannya dengan kepribadian introvert pada remaja, dimana
remaja yang berkepribadian introvert lebih sering dan rentang
mengalami cemas (aspek sosial) (Ana kurniawati, 2012 : 12).
Remaja yang mengalami kecemasan sering membentuk defens
mechanism yang malah menjadi indikasi adanya perilaku neurotik atau
psikotik (aspek kognitif, aspek emosi, dan aspek sosial) (Alwisol, 2011:
23).

2) Tidak mudah bersosialisasi atau bergaul dengan orang.


Remaja yang tidak mudah bergaul dengan orang lain lebih
memandang dunia secara subjektif dan percaya bahwa orang lain atau
situasi semuanya jahat atau baik menurut prasangkanya sendiri (aspek
kognitif) (Schultz & Diane, 33).
Remaja yang kurang dalam bergaul cenderung memiliki sikap yang
tertutup terhadap orang-orang disekitarnya dan hidup dalam garis-garis
pedoman yang telah dikodratkan, kurang dalam mencari tantangantantangan, dorongan, dan rangsangan baru, gaya hidup yang kaku
(aspek sosial dan aspek kognitif) (Schultz & Diane, 3).
b. Kelebihan
1) Pintar Dan Suka Matematika
Remaja yang memiliki kecerdasan dalam matematika memiliki
kemampuan memberikan jawaban yang benar dan cepat, kemampuan
menyelidiki, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan belajar
dan kemampuan bekerja mandiri (Masud Zein & Risnawati, 2015 :
6), hal ini ditambahkan oleh pendapat Ibrahim (2015 : 5) bahwa
apabila siswa memiliki mathematics intelegence maka akan memiliki
nilai-nilai yang meliputi, berpikir logis, kritis, kreatif, teliti, dan rasa
ingin tahu tinggi (aspek kognitif).

Berdasarkan penelitian Mira Gusniwati (2015:12), penguasaan


konsep matematika pada remaja dipengaruhi oleh kemampuan
memotivasi diri sendiri (aspek emosi).
Remaja yang pintar dalam matematika memiliki tingkat
kepekaan terhadap situasi yang sedang dihadapi (aspek emosi) yang
dapat memunculkan kemampuan berfikir kreatif matematis, yaitu
kemampuan untuk menemukan hubungan hubungan yang baru serta
memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda (aspek
kognitif) (Andri suryani, 2013 : 1).
Dengan berprestasi dibidang matematika, remaja memiliki self
confidence dalam menghadapi kegagalan dan keberhasilan serta
dalam bersaing dengan teman-temannya (aspek kognitif dan aspek
sosial) (Dini anugrah sapitri, 2015 : 20).
Menurut Sarlito (2012 : 93) bahwa remaja yang memiliki
kecerdasan dalam matematika dapat bekerja sebagai matematikawan,
peneliti, pakar fisika, dan ekonom.
2) Mudah mengingat sesuatu
Remaja yang memiliki kemampuan mengigat akan mudah
menerima, menyimpan, dan memunculkan kembali pengalaman atau
peristiwa yang dialaminya yang disebut kemampuan dalam recall
memory, walaupun tanpa ada objek atau stimulan untuk dapat diingat
kembali (aspek kognitif) dan remaja yang mampu mengingat atau
menghafal melibatkan otak kanan dalam proses berfikirnya (aspek
kognitif & aspek biologis) (Miftah Chussuru 2016 : 11).
3) Pendengar yang baik
Remaja yang mampu mendengarkan permasalahan orang lain
memiliki kepribadian yang sehat dalam mengontrol emosi-emosi
mereka (aspek emosi). Remaja yang menjadi pendengar yang tekun
memiliki pencapaian kebahagiaan. Awal pencapaian kebahagiaan ini
terjadi sekitar masa remaja akhir, akan tetapi dimiliki sepanjang usia,
selama seseorang dapat menyesuaikan diri terhadap diri, lingkungan
dan Tuhan dalam pelaksanaan pertumbuhan dan perkembangan dan
tugas-tugasnya serta pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya lebih

lanjut. Kebahagiaan yang dicapai remaja, dapat menjauhkan dirinya


dari masalah-masalah serius atau menjauhkan dirinya dari predikat
remaja bermasalah serius (penyimpangan-penyimpangan tingkah
laku). (aspek kognitif, aspek emosi & aspek soial) (Azizah, 2013 :
305).
Peneliti menemukan bahwa remaja yang popular memberikan
dukungan,

kesediaan

untuk

menjadi

pendengar

yang

baik,

mempertahankan komunikasi dengan baik yang terbuka dengan teman


sebaya, mereka bahagia, berperilaku seperti mereka sendiri,
menunjukkan antusiasme dan perhatian kepada orang lain, dan
percaya pada diri sendiri tanpa menjadi sombong (aspek sosial,
aspek kognitif, aspek emosi) (Santrock, 2003 : 223)

DAFTAR PUSTAKA
Chussurur, Miftah. 2016. Pengaruh Pemberian Cerita Melalui Media Audovisual
Terhadap Recall Memory Pada Anak-Anak Kelas V Sekolah Dasar
Takmirul Islam Surakarta. Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran,
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Juariah, Lela. 2009. Gambaran Tingkat Kecemasan Remaja Kelas Vii Dan Viii
Yang Mengalami Pubertas Di Smp Budi Luhurr. Cimahi
Kurniawati, Ana. 2012. Skripsi Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Remaja
dengan Ciri Kepribadian Introvert dan Ekstrovert di Kelas X Sma Negeri
4 Surakarta. Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Hidayati, Yustiana., Mastuti, Endah. 2012. Perbedaan Tingkat Kecemasan
Mengalami Pubertas Dini Pada Remaja Awal Ditinjau Dari Tingkat
Dukungan Sosial. Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya. Vol.
1, No. 03.
Alwisol, 2011. Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press
Sarwono, W.S. 2012. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Pers
Azizah. 2013. Jurnal Bimbingan Konseling Islam: Kebahagiaan dan
Permasalahan di Usia Remaja (Penggunaan Informasi dalam Pelayanan
Bimbingan Individual). Vol. 4, No. 2, 295-316.
Santrock, John W. 2003. Adolescence (Edisi, 6). Jakarta: Erlangga.
Wahyuni, Sri. 2014. Hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan
berbicara di depan umum pada mahasiswa psikologi. Fakultas psikologi
universitas mulawarman. Volume 2, Nomor 1.
Dewi, dan Andrianto. 2006. Hubungan Antara Pola Pikir Dengan Kecemasan
Berbicara Di Depan Umum Pada Mahasiswa Fakultas Keguruan. Jurnal
Islam

Indonesia.

Yogyakarta:Universitas

Islam

Indonesia.

http://psychology.uii.ac.id/images/stories/jadwal_kuliah/naskah-publikasi
02320206.pdf. (Diakses tanggal 14 November 2016).