Anda di halaman 1dari 10

Contoh Skripsi Perikanan

Perikanan adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan


pemanfaatan sumberdaya hayati perairan. Sumberdaya hayati perairan tidak dibatasi
secara tegas dan pada umumnya mencakup ikan, amfibi dan berbagai avertebrata
penghuni perairan dan wilayah yang berdekatan, serta lingkungannya. Di Indonesia,
menurut UU RI no. 9/1985 dan UU RI no. 31/2004, kegiatan yang termasuk dalam
perikanan dimulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran,
yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.
Download Contoh Skripsi Perikanan Lengkap ini ditujukan buat Mahasiswa tingkat
akhir yang masih bingung dalam menentukan judul skripsinya dan cara membuat
skripsi yang baik, Khususnya bagi Mahasiswa yang belum mengajukan judul. Banyak
contoh-contoh skripsi bertebaran di internet, tapi kebanyakan dari contoh skripsi yang
tersedia di internet kebanyakan tidak lengkap dan setengah-setengah. Artinya tidak
lengkap dari BAB awal sampai BAB terakhir, sehingga contoh skripsi yang kita terima
menjadi tanggung. Daftar judul skripsi perikanan yang kami tampilkan lengkap mulai
bab 1 s.d. daftar pustaka.
Contoh Judul Skripsi Perikanan Lengkap ini dalam format MS Word dan bukan PDF.
Hal ini untuk memudahkan agar bisa digunakan sebaik mungkin. Dan Jadikan contoh
skripsi yang saya share ini sebagai REFERENSI anda dalam membuat skripsi.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Contoh Skripsi Lengkap, Judul Skripsi, Perikanan

Potensi Penggunaan Zooxanthella Pada Kima Tridacna Derasa Sebagai Bioindikator


Pencemaran Logam Timbal (Pb) (IKN-10)
Dewasa ini perkembangan industri di berbagai daerah sangat cepat. Dalam
kenyataanya industri ini akan menghasilkan limbah yang terdiri dari bahan-bahan kimia.
Limbah ini baik secara langsung ataupun tidak langsung akan masuk ke dalam badan
perairan. Pada saat ini telah ditemukan sekitar lima juta jenis bahan kimia, dan 60.000
diantaranya telah diperjual belikan secara bebas (Lestari dan Edwar, 2004). Di
antaranya terdapat bahan kimia yang berbahaya dan beracun, salah satunya adalah
logam Pb (Amin, 2002). Masuknya Pb kedalam perairan dapat mengakibatkan
pencemaran bagi perairan (Nganro, 2009).

Logam Pb merupakan polutan di laut yang sangat berbahaya (Rompas, 2010).


Salah satu sumber Pb berasal dari bahan bakar minyak dari perahu-perahu nelayan. Di
dalam bahan bakar ini terdapat alkil timbal Logam bersifat tidak dapat diurai dan mudah
terakumulasi dalam biota laut. Logam ini masuk kedalam tubuh biota laut melalui
insang, permukaan tubuh dan juga rantai makanan (Johari, 2009). Logam pada
ekosistem terumbu karang akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan,
meningkatnya mortalitas, penurunan laju metabolisme serta menurunkan kemampuan
reproduksi biota laut (Nganro, 2009).
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Perikanan

Respon Biologis Pakan Buatan Yang Menggunakan Beberapa Sumber Tepung Rumput
Laut (Eucheuma Spp) Pada Pakan Ikan Nila Gift (IKN-9)
Rumput laut merupakan hasil laut yang tidak asing lagi bagi masyarakat
Indonesia. Untuk ekspor rumput laut, Indonesia cukup baik dan permintaan pasar
Internasional tiap tahun cukup tinggi, bahkan 5-6 tahun yang lalu produsen dalam
negeri sempat kewalahan dalam memenuhi permintaan ekspor yang terus meningkat
mengingat kebutuhan dunia terhadap rumput laut yang semakin tinggi, karena saat ini
rumput laut tidak terbatas hanya sebagai makanan saja, tetapi sudah digunakan
sebagai bahan baku pada industri obat-obatan, kosmetik, tekstil, minuman, makanan
kaleng, kerupuk dan lain-lain (Anonim, 2003)
Pemanfaatan rumput laut semakin berkembang ke arah komersil dan diekspor
sebagai bahan mentah untuk pembuatan agar-agar atau karagenan (Sulistijo, dkk.
1977). Selanjutnya rumput laut memiliki berbagai macam manfaat antara lain sebagai
bahan makanan, obat-obatan, bahan kosmetik dan sebagai bahan perekat.
Beberapa bahan baku yang dapat dipakai sebagai bahan perekat pakan yaitu
gandum, tepung terigu, dedak halus dan tepung rumput laut (Ahmad, 2004).
Selanjutnya dikatakan bahwa bahan perekat yang tidak mengandung nutrisi, seperti
karboksimetil selulosa (CMC), dan beberapa macam getah.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Perikanan

Status Ekologi Kepadatan Predator Karang Acanthaster Planci Linn Kaitannya Dengan
Kondisi Terumbu Karang Di Perairan Tomia Taman Nasional Wakatobi (IKN-8)
Indonesia sebagai Negara kepulauan memiliki terumbu karang (coral) dengan
luas kurang lebih 60.000 km 2. Terumbu karang merupakan biota laut yang
berkembangbiak dengan cara tunas dan pembuahan merupakan aset alam yang
banyak diminati. Potensi sumberdaya alam kelautan ini tersebar di seluruh Indonesia
mengemban beragam nilai dan fungsi, antara lain nilai rekreasi (wisata bahari), nilai
iproduksi (sumber bahan pangan dan ornamental) dan nilai konservasi (sebagai
pendukung proses ekologis dan penyangga kehidupan
di daerah pesisir, sumber
sedimen pantai dan melindungi pantai dari ancaman abrasi) (Fossa dan Nilsen, 1996).
Wakatobi sebagai Taman Nasional ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri
Kehutanan No. 393/Kpts-VI/1996 tanggal 30 Juli 1996 dan di tetapkan berdasarkan
Keputusan Menteri Kehutanan No.7651/Kpts-II/2002 tanggal 19 Agustus 2002 dengan
luasan 1.390.000 Ha. Penunjukan dan penetapan kawasan Taman Nasional Wakatobi
sebagai Taman Nasional konservasi laut di Indonesia berdasar atas potensi
keanekaragaman hayati yang tinggi, khususnya ekosistem terumbu karang, padang
lamun dan mangrove.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Perikanan

Strategi Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Kerapu ( Epinephelus Spp) Pada


Keramba Jaring Apung (Studi Kasus Di Teluk Ambon Kota Ambon (IKN-7)
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia terdiri dari gugusan
pulau-pulau sebanyak 17.508 dengan luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar
5,8 juta km2 dan panjang garis pantai 95.181 km, keadaan yang demikian menyebabkan
Indonesia banyak memiliki potensi yang cukup besar di bidang perikanan, mulai dari
prospek pasar baik dalam negeri maupun internasional.
Subsektor perikanan merupakan salah satu subsektor pembangunan yang
memiliki peranan yang cukup strategis dalam perekonomian nasional, bahkan
subsektor ini merupakan salah satu subsektor penerimaan devisa negara yang
penting. Pembangunan perikanan sebagai bagian dari pembangunan nasional,
diarahkan untuk mendukung tercapainya tujuan dan cita-cita luhur bangsa Indonesia
dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Harapan untuk menjadikan
subsektor ini sebagai pendukung dalam pencapaian tujuan tersebut didasarkan pada
potensi perikanan laut yang dimiliki.

Kekayaan Indonesia berupa sumberdaya perikanan yang sangat luas menjadi


modal dasar dalam pembangunan nasional sekaligus memiliki potensi yang sangat
besar bagi pembangunan kelautan dan perikanan. Melihat potensi tersebut, usaha
bisnis perikanan di Indonesia menunjukkan masa depan yang sangat baik. Terutama
bila dilihat dari data permintaan ekspor dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sesuai
dengan visi Departemen Kelautan dan Perikanan yaitu Indonesia penghasil produk
kelautan dan perikanan terbesar 2015, dan misi DKP yaitu, Meningkatkan
Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan, serta sasaran strategi DKP, yitu: 1)
Memperkuat kelembagaan dan SDM secara terintegrasi; 2) Mengelola sumberdaya
kelautan dan perikanan secara berkelanjutan; 3) Meningkatkan produktivitas dan daya
saing berbasis pengetahuan; 4) Memperluas akses pasar domestik dan internasional
(DKP, 2009), dan kebijakan dirjen Perikanan Budidaya adalah program intensifikasi
pembudidayaan ikan atau INBUDKAN. Salah satu program pembangunan perikanan
budidaya, yaitu menitikberatkan pada INBUD kerapu selain udang, nila dan rumput laut.
maka melalui usaha budidaya laut khususnya komoditas ikan kerapu, diharapkan akan
mempercepat upaya pemulihan ekonomi terutama untuk meningkatkan perolehan
devisa negara dari hasil eksport.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Perikanan

Struktur Komunitas Fitoplankton Pada Ekosistem Padang Lamun Di Pulau Kapoposang


Dan Di Pulau Sarappokeke Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan (IKN-6)
Plankton adalah suatu mikroorganisme yang terpenting dalam ekosistem
perairan dan hidupnya melayang dalam air, kemudian dikatakan bahwa plankton
merupakan salah satu organisme yang berukuran kecil dimana hidupnya terombangambing oleh arus perairan laut (Hutabarat dan Evans, 1988). Sedangkan menurut
Nyabakken (1992), plankton adalah kelompok-kelompok organisme yang hanyut bebas
dalam laut dan daya renangnya sangat lemah. Kemampuan berenang organismeorganisme planktonik demikian lemah sehingga mereka sama sekali dikuasai oleh
gerakan air, hal ini berbeda dengan hewan laut lainnya yang demikian gerakan dan
daya renangnya cukup kuat untuk melawan arus laut.
Peranan plankton terhadap kehidupan fauna (ikan dan avertebrata) pada
ekosistem lamun sangat penting, yaitu sebagai transport materi, energi dan rantai
makanan. Dalam ekosistem padang lamun, rantai makanan tersusun dari tingkatantingkatan trofik yang mencakup proses dan pengangkutan detritus organik dari
ekosistem lamun ke konsumen yang lain, yang sumber energi utama adalah cahaya
matahari yang digunakan organisme autotrof seperti lamun dan fitoplankton sebagai
produsen untuk berfotosintesis (Haris Pramana, 2001).

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Perikanan

Studi Kebiasaan Makanan Beberapa Jenis Ikan Penting Menurut Indeks Dominan Dan
Biomassa Di Padang Lamun Pulau Kapoposang Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan
(IKN-5)
Indonesia memiliki wilayah laut yang cukup luas, dengan potensi sumberdaya
melimpah, menempatkan sektor perikanan menjadi bidang berprospek cerah untuk
dikembangkan secara professional. Pembangunan perikanan termasuk budidaya laut
perlu dikembangkan, demikian halnya infrastruktur pendukung serta kualitas
sumberdaya manusianya yang senantiasa harus ditingkatkan agar potensi sumberdaya
perikanan yang dimaksud dapat dimanfaatkan dengan tepat dan ditunjang oleh
kelestarian daya dukungnya. Pembangunan perikanan juga ditujukan untuk
terwujudnya industri perikanan mandiri melalui usaha yang mantap dalam pengelolaan,
penangkapan, budidaya laut, pengolahan, dan pemasaran sesuai dengan potensi
lestari sekaligus inventarisasi sumberdaya alam sebagai keunggulan kompetitif yang
komparatif (Haeruman, 2000).
Wilayah pesisir dan laut Sulawesi Selatan terbentang sepanjang 1979,97 km
garis pantai dengan luas perairan laut diperkirakan tidak kurang dari 48.000 km 2, yang
mencakup kawasan laut, yakni selat Makassar, laut Flores, dan teluk Bone serta
hamparan pulau-pulau kecil dan kawasan kepulauan Spermonde dan kawasan
kepulauan Takabonerate. Sumberdaya yang dikandungnya sangat beragam, seperti
sumberdaya hayati (berbagai jenis ikan, crustacea, molusca, karang, lamun, rumput
laut, mangrove) dan non hayati (pasir putih, tambang, mineral dan lain-lain) (Haeruman,
2000).
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Perikanan

Studi Kelayakan Pengembangan Pangkalan Pendaratan Ikan Cempae Kecamatan


Soreang Kota Parepare Sulawesi Selatan (IKN-4)
Tujuan pembangunan perikanan menurut pasal 3 UU No.31 tahun 2004 adalah (1)
meningkatkan taraf hidup nelayan kecil dan pembudidayaan ikan (2) meningkatkan
penerimaan dan devisa negara (3) mendorong perluasan dan kesempatan kerja (4)
meningkatkan ketersediaan dan konsumsi sumber protein hewani (5) mengoptimalkan

pengelolaan sumberdaya ikan (6) meningkatkan produktifitas mutu, nilai tambah dan
daya saing (7) meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk industri pengolahan ikan
(8) pemanfaatan sumberdaya perikanan secara optimal (9) menjamin kelestarian
sumberdaya ikan, lahan pembudidayaan ikan dan tata ruang.
Untuk mencapai tujuan pembangunan perikanan tersebut salah satu hal yang paling
penting diperhatikan adalah pembangunan prasarana. Khusus untuk perikanan
tangkap prasarana yang dimaksud adalah Pelabuhan Perikanan yang berfungsi
sebagai sarana penunjang peningkatan produksi. Mengingat betapa pentingnya
pembangunan prasarana pelabuhan maka di dalam undang-undang perikanan
dinyatakan bahwa pemerintah berkewajiban membangunnya, dan telah direalisasikan
di berbagai tempat di Indonesia.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Perikanan

Variabilitas Hasil Tangkapan Jaring Insang Tetap Hubungannya Dengan Kondisi


Oseanografi Di Perairan Kab Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (IKN-3)
Kabupaten Kolaka Utara memiliki luas wilayah daratan sebesar 3.391 km 2 dan
wilayah perairan laut diperkirakan seluas 5.000 km 2, dengan jumlah penduduk
sebesar 113.317 jiwa. Berdasarkan kondisi iklim, Kabupaten Kolaka Utara mempunyai
ketinggian umumnya kurang dari 1.000 meter dari permukaan laut dan berada di sekitar
daerah khatulistiwa maka daerah ini beriklim tropis. Suhu udara minimum sekitar10C
dan maksimum 31C atau rata-rata antara 24C - 28C. Sebagian besar penduduk
memiliki mata pencaharian sebagai petani dan nelayan, namun demikian perairan laut
seluas 5.000 belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan usaha perikanan.
Kabupaten Kolaka Utara memiliki perairan laut yang luas mencapai 5.000 km2.
Perairan ini belum dimanfaatkan secara optimal, khususya untuk kegiatan usaha
perikanan. Memanfaatkan potensi perikanan tangkap di Kabupaten Kolaka Utara
membutuhkan informasi lokasi potensi penangkapan ikan, dimana lokasi potensi
penangkapan ikan berkaitan dengan ketersediaan ikan untuk penangkapan. Alasan
utama sebagian spesies ikan berada di suatu perairan disebabkan 3 hal pokok, yaitu:
(1) memilih lingkungan hidupnya yang sesuai dengan kondisi tubuhnya; (2) mencari
sumber makanan; (3) mencari tempat yang cocok untuk pemijahan dan
perkembangbiakan (Nomura dan Yamazaki 1977; Laevastu dan Hayes 1981). Hal
pokok tersebut akan menentukan keberhasilan suatu operasi penangkapan.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Perikanan

Pertumbuhan Dan Produksi Biomassa Daun Lamun Halophila Ovalis, Syringodium


Isoetifolium Dan Halodule Uninervis Pada Ekosistem Padang Lamun Di Perairan Pulau
Barrang Lompo (IKN-2)
Produktivitas adalah energi yang diterima dan disimpan oleh organisme dalam ekositem
yang terdiri dari produktivitas primer dan produktivitas sekunder. Produktivitas primer
adalah kecepatan mengubah energi cahaya matahari menjadi energi kimia dalam
bentuk bahan organik oleh organisme autotrof. Seluruh bahan organik yang dihasilkan
dari proses fotosintesis pada organisme autotrof disebut produktivitas primer kotor dan
bahan organik yang tersimpan disebut produktivitas primer bersih. Produktivitas
sekunder adalah kecepatan energi kimia mengubah bahan organik menjadi simpanan
energi kimia baru oleh organisme heterotrof. Bahan organik yang tersimpan pada
organisme autotrof dapat digunakan sebagai makanan bagi organisme heterotrof. Dari
makanan ini organisme heterotrof memperoleh energi kimia yang akan digunakan untuk
kegiatan kehidupan dan disimpan (Riberu, 2002).
Ekosistem padang lamun dikenal dengan ekosistem yang memiliki produktivitas yang
tinggi. Laju produksi ekosistem padang lamun diartikan sebagai pertambahan biomassa
lamun selang waktu tertentu dengan laju produksi (produktivitas) yang sering
dinyatakan dengan satuan berat kering per m 2 perhari (gbk/m2/hari). Bila dikonversi ke
produksi karbon maka produksi biomassa lamun berkisar antara 500-1000 gC/m 2/tahun
bahkan dapat lebih dua kali lipat (Azkab, 2000c).
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Perikanan

Variabilitas Spasial Dan Temporal Kecepatan Arus Dan Angin Serta Kaitannya Dengan
Hasil Tangkapan Di Perairan Selat Makassar Menggunakan Data Tahun 2009 (IKN-1)
Secara geografis Selat Makassar berbatasan dan berhubungan dengan
perairan Samudera Pasifik di bagian utara melalui Laut Sulawesi dan di bagian
selatan dengan Laut Jawa dan Laut Flores, sedangkan bagian barat berbatasan
dengan Pulau Kalimantan dan bagian timur dengan Pulau Sulawesi. Masuknya massa
air yang berasal dari daratan Pulau Kalimantan dan Sulawesi, pertukaran massa air
dengan Samudera Pasifik melalui Laut Sulawesi, Laut Flores dan Laut Jawa akan
mempengaruhi kandungan klorofil-a dan produktivitas primer di perairan Selat

Makassar. Tinggi rendahnya produktivitas suatu perairan akan berhubungan dengan


daerah dimana massa air berasal (Afdal dan Riyono, 2004).
Selat Makassar merupakan perairan yang relatif lebih subur bila dibandingkan
dengan perairan lainnya di Indonesia. Penyuburan perairan Selat Makassar terjadi
sepanjang tahun baik pada musim barat maupun pada musim timur. Pada musim barat
penyuburan terjadi karena adanya run off dari daratan Kalimantan maupun Sulawesi
dalam jumlah besar akibat curah hujan yang cukup tinggi, sedangkan pada mush
timur terjadi penaikan massa air (upwelling) di beberapa lokasi di Selat Makassar
akibat adanya pertemuan massa air dari Samudera Pasifik dengan massa air Laut
Jawa dan Laut Flores (Afdal dan Riyono, 2004).
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Perikanan

Pengaruh Pemberian Berbagai Kadar Karbohidrat Dan Lemak Pakan Ber-Vitomolt


Terhadap Efisiensi Pakan Dan Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla Sp.) (IKN-13)
Kepiting bakau (Scylla sp) merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki
nilai ekonomi yang tinggi. Menurut Karim (2005) permintaan konsumen akan kepiting terus
meningkat baik di pasaran dalam negeri maupun di luar negeri, menjadikan organisme
tersebut sebagai salah satu komoditas andalan untuk ekspor non migas mendampingi
udang windu.
Untuk memenuhi permintaan pasar yang cukup tinggi perlu dilakukan peningkatan
produksi kepiting bakau baik jumlah maupun kualitasnya. Salah satu perkembangan
teknologi dalam budidaya perikanan untuk meningkatkan produksi kepiting bakau adalah
produksi kepiting lunak atau soft shell. Menurut Fujaya (2007) harga jual kepiting lunak
dapat mencapai dua kali lipat disbanding kepiting berkulit keras.
Pada mulanya produksi soft shell dilakukan dengan cara mutilasi, namun dianggap
kurang efektif. Selain tingkat mortalitas tinggi, juga menyebabkan peningkatan bobot
kepiting lambat. Oleh karena itu, Fujaya dkk. (2007) menggunakan ekstrak bayam
(Amaranthus tricolor) sebagai stimulan molting. Ekstrak bayam tersebut dikenal dengan
sebutan vitomolt yang mengandung fitoekdisteroid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
vitomolt efektif mempercepat dan menyerentakkan molting, tidak menyebabkan kematian,
pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan kontrol. Namun, aplikasi vitomolt yang diberikan
dengan cara penyuntikan kurang efisien dilakukan dalam skala besar. Upaya yang dapat
dilakukan adalah menggunakan pakan buatan sebagai media aplikasi vitomolt.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest


Labels: Perikanan

Pengaruh Pemberian Berbagai Kombinasi Kadar Karbohidrat Pakan Dan Kromium


(Cr+3) Terhadap Deposit Glikogen Hepatopankreas Dan Otot Gelondongan Udang
Windu (Penaeus Monodon) (IKN-12)
Udang windu merupakan salah satu komoditas sub sektor perikanan yang
diharapkan dapat meningkatkan devisa negara. Permintaan pasar meningkat dengan
didukung sumberdaya alam yang cukup besar memberikan peluang yang sangat besar
untuk pengembangan budidayanya. Sebagai rantai awal di dalam budidaya udang windu
adalah ketersediaan benih yang sering kali merupakan faktor pembatas. Oleh sebab itu,
terbatasnya benih hasil tangkapan dari alam mendorong munculnya berbagai panti
pembenihan, baik skala besar (hatchery) maupun skala kecil (back yard).
Budidaya udang windu telah mengalami peningkatan. Akan tetapi, beberapa tahun
terakhir ini banyak petani tambak yang mengalami penurunan produksi usaha budidayanya.
Salah satu penyebab penurunan prduksi tersebut adalah menurunnya sistem kekebalan
tubuh udang yang menyebabkan timbulnya penyakit yang berujung pada kematian. Hal ini
banyak terjadi pada stadia pascalarva udang windu. Menurunnya kualitas lingkungan
budidaya dan ketersediaan nutrisi pakan yang kurang merupakan faktor penyebab
sehingga udang saat ini sering terserang penyakit yang dapat menyebabkan kematian
massal (Siswanto, 2008).
Upaya pemenuhan permintaan udang yang terus meningkat mendorong petani
membudidayakan udang windu secara intensif. Intensifikasi budidaya adalah kegiatan
dimana budidaya sangat bergantung pada suplay pakan buatan dan memerlukan
pemberian pakan yang intensif. Di sisi lain, kendala yang dihadapi untuk pemenuhan
kebutuhan pakan adalah tingginya harga pakan. Menurut Haliman dan Dian (2005)
kebutuhan pakan buatan pada budidaya udang berkisar dari 60-70% dari total biaya
produksi.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR
PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
BACA SELENGKAPNYA
No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Labels: Perikanan

Pengaruh Tingkat Subtitusi Tepung Ikan Dengan Tepung Maggot Terhadap


Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Ikan Bandeng (Chanos Chanos Forsskal) (IKN11)
Ikan bandeng (Chanos chanos Forsskal) termasuk komoditas unggulan di Sulawesi
Selatan. Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Selatan menargetkan
peningkatan produksi ikan bandeng sekitar 71.147 ton pada 2013 dari produksi saat ini
ratarata 55.000 ton per tahun. Permintaan ikan bandeng dari tahun ke tahun selalu
mengalami peningkatan, baik untuk komsumsi lokal, ikan umpan bagi industri perikanan
tuna cakalang, maupun untuk pasar ekspor. Prospek ekspor ikan bandeng Sulawesi

Selatan terbuka lebar dengan tujuan ekspor ke Rusia, Singapura dan Timur Tengah yaitu
sekitar 600 ton perbulan. Akan tetapi, peluang tersebut belum dapat terpenuhi karena
terbatasnya produksi dan diikuti tingginya komsumsi lokal. Ikan bandeng sebagai komoditas
ekspor harus mempunyai standar tertentu, yaitu ukuran sekitar 400 g/ekor, sisik bersih dan
mengkilat, tidak berbau lumpur dan dengan kandungan asam lemak omega-3 yang tinggi
akan dapat di penuhi dari hasil budidaya bandeng secara intensif dalam keramba jaring
apung di laut (Anonimusa, 2010).
Dalam kegiatan budidaya secara intensif, pakan mempunyai peranan penting dalam
peningkatan produksi, yang mana biaya untuk pembelian pakan memberi kontribusi sekitar
6080% dari total biaya produksi (Priyadi dkk., 2008). Khusus di Indonesia, sebagian besar
bahan baku pakan berasal dari impor, yaitu sekitar 7080% (Hadadi dkk., 2007). Harga
bahan baku pakan akan berpengaruh terhadap harga pakan yang selanjutnya akan
berpengaruh terhadap biaya produksi.