Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH BIOANORGANIK

Struktur Dan Fungsi K+, Na+, Ca2+, Dan


Mg2+ Dalam Sistem Biologis

Disusun oleh:
PRIESTA ROMUKTI D. (12630019)
ALFI MUSTHOFANI

(12630040)

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA

2015

A. Pendahuluan
Manusia yang memiliki takdir sebagai pemimpin dan
satu-satunya makhluk hidup di bumi yang memiliki akal
dan budi mempunyai tugas untuk mempelajari dan
mengembangkan ilmu pengetahuan. Sampai saat ini laju
perkembangan ilmu pengetahuan semakin meningkat. Hal
ini menyebabkan beragamnya konsep keilmuan yang
menarik untuk dipelajari.
Salah satu cabang ilmu kimia yang menarik dan
menantang untuk dipelajari adalah kimia bioanorganik.
Cabang ilmu kimia ini mempelajari bagaimana fungsi dari
senyawa atau unsur anorganik dalam tubuh makhluk
hidup, respon makhluk hidup tersebut terhadap unsur
anorganik, dan interaksi unsur tadi dengan ligan-ligan
yang diproduksi dalam tubuh makhluk hidup.
Banyak jenis unsur anorganik yang fungsinya esensial
bagi makhluk hidup khususnya manusia. Unsur-unsur
tersebut ada yang dibutuhkan dalam bentuk ionnya dan
bentuk unsur netral. Ion kalium, natrium, calsium, dan
magnesium dibutuhkan oleh tubuh makhluk hidup untuk
keseimbangan metabolisme.
B.
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Apa fungsi ion kalium dalam tubuh makhluk hidup?
Apa fungsi ion natrium dalam tubuh makhluk hidup?
Apa fungsi ion kalsium dalam tubuh makhluk hidup?
Apa fungsi ion magnesium dalam tubuh makhluk hidup?

C. Pembahasan

Elektrolit adalah senyawa di dalam larutan yang


berdisosiasi menjadi partikel yang bermuatan (ion) positif
atau negatif. Sebagian besar proses metabolisme
memerlukan dan dipengaruhi oleh elektrolit.
Konsentrasi elektrolit yang tidak normal dapat
menyebabkan banyak gangguan. Pemeliharaan tekanan
osmotik dan distribusi beberapa kompartemen cairan
tubuh manusia adalah fungsi utama elektrolit mayor.
1. Kalium
Kalium merupakan kation penting dalam cairan
intraselular yang berperan dalam keseimbangan pH dan
osmolalitas. Tubuh mengandung kalium 2,6 mg/kg
berat badan bebas lemak. Kekurangan kalium umumnya
disebabkan karena ekskresi yang berlebihan melalui ginjal
dan karena muntah-muntah yang berlebihan atau diare
yang hebat (Suhardjo dan Clara, 1992).
Kalium merupakan ion intraselular dan dihubungkan
dengan mekanisme pertukaran dengan natrium.
Peningkatan asupan kalium dalam diet telah
dihubungkan dengan penurunan tekanan darah, karena
kalium memicu natriuresis (kehilangan natrium melalui
urin) (Barasi, 2007).
Kalium dalam tubuh manusia penting dalam
menghantarkan implus saraf serta pembebasan tenaga
dari protein, lemak, dan karbohidrat sewaktu metabolisme.
Kalium bergerak di dalam tubuh secara difusi, absorbs, dan
sekresi. Kalium memasuki tubuh dari saluran usus dengan
cara difusi melalui dinding kapiler dan absorbsi aktif. Lalu
kalium masuk ke dalam sel-sel juga dengan cara difusi dan

membutuhkan proses metabolisme yang aktif. Kalium


dibuang melalui urine dengan cara sekresi dan
penyaringan. Kalium juga berperan penting dalam
penyampaian implusimplus saraf ke serat-serat otot dan
juga dalam kemampuan otot untuk berkontraksi (Darwin,
1988 dalam Hijriani, 2009).
Kalium juga merupakan mineral yang bermanfaat bagi
tubuh kita yaitu berfungsi untuk mengendalikan tekanan
darah, terapi darah tinggi, serta membersihkan
karbondioksida di dalam darah. Kekurangan kalium dapat
berefek buruk dalam tubuh karena mengakibatkan
hipokalemian yang menyebabkan frekuensi denyut jantung
melambat. Sedangkan untuk kelebihan kalium
mengakibatkan hiperkalemia yang menyebabkan aritmia
jantung, konsentrasi yang lebih tinggi lagi yang dapat
menimbulkan henti jantung atau fibrilasi jantung (Yaswir
dan Ferawati. 2012).
Di dalam tubuh kalium berfungsi sebagai transport ion
kaium K-ATPase pada dinding sel, ion kaium dalam bentuk
molekul kompleks [K(H2O)6]+ dimana proses transfer ion
kalium menggunakan ligan selektif berupa krown eter dan
juga cripta, contohnya adalah ligan selektif Valinomicin

Gambar 1. Valinomicin
Kalium merupakan unsur yang memiliki lebih dari satu
bilangan koordinasi yang menyebabkan model strukturnya
pun bermacam-macam. Menurut Effendy dalam bukunya
kimia koordinasi, kalsium memiliki bilangan koordinasi 5, 6,
7 dan 8. Bilangan koordinasi 5 memiliki kemungkinan
struktur senyawa kompleks yang dihasilkan berbentuk
piramida alas bujur sangkar terdistrorsi. Contoh senyawa
[KI(dmp)2] (dmp = 2,9-dimetil-1,10-fenantrolina).

Gambar 2. [KI(dmp)2]
Bilangan koordinasi 6 memiliki kemungkinan struktur
senyawa kompleks yang dihasilkan berbentuk oktehedral
terdistorsi. Contoh senyawa [KSO3CF3(phen)2]4 (phen =
1,10-fenantrolina).

Gambar 3. [KSO3CF3(phen)2]4
Bilangan koordinasi 7 memiliki kemungkinan struktur
senyawa kompleks yang dihasilkan berbentuk trigonal
prisma dengan satu tudung. Contoh senyawa kompleks
polimer [K(phen)2]PF6.

Gambar 4. [K(phen)2]PF6

Bilangan koordinasi 8 memiliki kemungkinan struktur


senyawa kompleks yang dihasilkan berbentuk kubus
teristorsi. Contoh senyawa [K(phen)2(H2O)]2.2ClO4

Gambar 5. [K(phen)2(H2O)]2.2ClO4
2. Natrium
Natrium adalah kation utama dalam darah dan cairan
ekstraselular yang mencakup 95% dari seluruh kation.
Oleh karena itu, mineral ini sangat berperan dalam
pengaturan cairan tubuh, termasuk tekanan darah dan
keseimbangan asambasa (Barasi, 2007).
Di dalam produk pangan atau di dalam tubuh, natrium
biasanya berada dalam bentuk garam seperti natrium
klorida (NaCl). Di dalam molekul ini, natrium berada dalam
bentuk ion sebagai Na . Diperkirakan hampir 100 gram

dari ion natrium (Na) atau ekivalen dengan 250 gr


NaCl terkandung di dalam tubuh manusia. Garam
natrium merupakan garam yang dapat secara
cepatdiserap oleh tubuh dengan minimum kebutuhan
untuk orang dewasa berkisar antara 1.3-1.6 gr/hari
(ekivalen dengan 3.3-4.0 gr NaCl/hari) (Irawan, 2007).
Setiap kelebihan natrium yang terjadi di dalam tubuh
dapat dikeluarkan melalui urin & keringat. Hampir semua
natrium yang terdapat di dalam tubuh akan tersimpan
di dalam soft body tissuedan cairan tubuh. Ion natrium (Na)
merupakan kation utama di dalam cairan ekstrasellular
(ECF) dengan konsentrasi berkisar antara 135-145
mmol/L. Ion natrium juga akan berada pada cairan
intrasellular (ICF) namun dengan konsentrasi yang lebih
kecil yaitu 3 mmol/L. 5.Mineral Makro & Mikro -Natrium
(Na) sebagai kation utama dalam cairan ekstrasellular,
natrium akan berfungsi untuk menjaga keseimbangan
cairan di dalam tubuh, menjaga aktivitas saraf , kontraksi
otot dan juga akan berperan dalam proses absorpsi
glukosa. Pada keadaan normal, natrium (Na ) bersama
dengan pasangan (terutama klorida, Cl ) akan
memberikan kontribusi lebih dari 90% terhadap efektif
osmolalitas di dalam cairan ekstrasellular (Irawa, 2007)
Salah satu efek dari respon tubuh terhadap kadar
natrium berlebih adalah hipertensi (Purwati, 2003). Asupan
Natrium yang meningkat menyebabkan tubuh meretensi
cairan, yang meningkatkan volume darah. Jantung harus
memompa keras untuk mendorong volume darah yang
meningkat melalui ruang yang makin sempit yang
akibatnya adalah hipertensi. Penelitian epidemiologi

menunjukkan bahwa asupan rendah Kaliumakan


mengakibatkan peningkatan tekanan darah dan renal
vascular remodeling yang mengindikasikan terjadinya
resistansi pembuluh darah pada ginjal (Lestari, 2010).
Di dalam tubuh natrium berfungsi sebagai transport ion
natrium Na-ATPase pada dinding sel, ion natrium tersebut
dalam bentuk molekul kompleks [Na(H2O)6]+ dimana proses
transfer ion tersebut menggunakan ligan selektif berupa
krown eter dan juga criptan. Sebagai contoh adalah
Monensin

Gambar 6. Monensin
3. Kalsium
Kaklsium merupakan salah satu nutrien esensial yang
sangat dibutuhkan untuk berbagai fungsi tubuh
(Gobinathan, 2009). Salah satu fungsi kalsium bagi tubuh
adalah sebagai penunjang perkembangan fungsi motorik
agar lebih optimal dan berkembang dengan baik.
Kekurangan kalsium pada masa pertumbuhan dapat
menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang,
osteoporosis, dan osteomalasia (Nieves, 2005).

Menurut dinas kesehatan kebumen dalam tulisannya


dan Tongkhan menyebutkan kalsium mempunyai peran
vital pada tulang sehingga dapat mencegah timbulnya
osteoporosis. Namun kalsium yang berada di luar tulang
pun mempunyai peran yang besar, antara lain mendukung
kegiatan enzim, hormon, syaraf dan darah. Berikut
beberapa manfaat kalsium bagi tubuh :
o
o
o
o
o
o
o
o

Mengaktifkan syaraf
Melancarkan peredaran darah
Melenturkan otot
Menormalkan tekanan darah
Menyeimbangkan keasaman/kebasaan darah
Menjaga keseimbangan cairan tubuh
Mencegah Osteoporosis (keropos tulang)
Dsb.

Penelitian yang berkembang tentang kalsium yang


berhubungan dengan tubuh makhluk hidup adalah
pembuatan nano kalsium, dimana nano kalsium lebih
mudah diserap dan difungsikan oleh tubuh.
Kalsium merupakan unsur yang memiliki lebih dari satu
bilangan koordinasi yang menyebabkan model strukturnya
pun bermacam-macam. Menurut Effendy dalam bukunya
kimia koordinasi, kalsium memiliki bilangan koordinasi 7
dan 8. Bilangan koordinasi 7 memiliki kemungkinan
struktur senyawa kompleks yang dihasilkan berbentuk
pentagonal bipiramida(PBP), prisma trigonal dengan satu
tudung (a capped trigonal prism), dan oktahedral dengan
satu tudung (a capped octahedral). Senyawa kompleks Ca
telah ditemukan dalam bentuk pentagonal bipiramida yaitu
pada senyawa trans-pentaasetonitriliodokalsium(II)
[CaI2(MeCN)5].

Gambar 7. trans-pentaasetonitriliodokalsium(II)
Bilangan koordinasi 8 memiliki kemungkinan struktur
senyawa kompleks yang dihasilkan berbentuk kubus,
antiprisma bujur sangkar, dan dodekahedral trigonal.
Struktur kubus terdistorsi dapat dilihat pada ion kompleks
tetrakis(etilendiamina-N,N) kalsium (II). Pada kompleks ini
adanya sepit oleh etilendiamina menghalangi terjadinya
distrosi kubus menjadi antiprisma bujur sangkar atau
dodekahedral. Kompleks ini disetabilkan dengan
terbentuknya empat buah sepit.

Gambar 8. tetrakis(etilendiamina-N,N) kalsium (II)


4. Magnesium
Kadar magnesium yang normal dapat
mempertahankan tonus otot polos, dan berimplikasi
terhadap kontrol tekanan darah. Magnesium juga dapat
melindungi otot jantung dari kerusakan selama iskemi
(Barasi, 2007).
Magnesium merupakan kation terbanyak ke empat di
dalam tubuh dan kation terbanyak kedua di dalam
intraseluler setelah potasium. Magnesium mempunyai
peranan penting dalam struktur dan fungsi tubuh manusia.
Tubuh manusia dewasa mengandung kira-kira 25 gram
magnesium. Total magnesium dalam tubuh laki-laki
dewasa diperkirakan 1 mol (24 g) (Topf and Murray, 2003).
Jumlah minimum magnesium yang direkomendasikan
setiap hari tersedia untuk orang dewasa adalah 0,25
mmol (6 mg)/kg berat badan (Sclingmann. 2004).
Distribusi magnesium dalam tubuh diperkirakan 66% di
dalam tulang, 33% di dalam otot dan jaringan lunak, dan
kurang lebih 1% dalam darah. Di dalam darah 55%
magnesium dalam keadaan bebas (dalam bentuk ion)
dan secara fisiologi aktif, 30% berikatan dengan protein
(terutama albumin), dan 15% dalam bentuk anion
kompleks (Fox . 2001).
Ginjal merupakan regulator utama konsentrasi serum
dan kandungan total magnesium tubuh.

Ekskresi

magnesium lebih banyak terjadi pada malam hari. Pada


bagian glomerulus ginjal, magnesium (baik dalam
bentuk ion atau magnesium kompleks) mengalami

filterisasi sebanyak 70%, sedangkan di bagian nefron


reabsorpsi magnesium lebih 96%. Jumlah yang di
reabsorpsi dapat bervariasi, mulai mendekati nol
sampai 99.5% tergantung pada keseimbangan
magnesium individu (Topf and Murray, 2003).
Magnesium sangat diperlukan dalam tubuh terutama
terlibat dalam lebih 300 reaksi metabolik esensial. Hal
tersebut diperlukan untuk metabolisme energi,
penggunaan glukosa, sintesis protein, sintesis dan
pemecahan asam lemak, kontraksi otot, seluruh fungsi
ATPase, hampir seluruh reaksi hormonal dan menjaga
keseimbangan ionik seluler. Magnesium diperlukan untuk
fungsi pompa Na/K-ATPase. Defisiensi magnesium
menyebabkan peningkatan sodium intraseluler dan
potasium banyak ke luar dan masuk ke ekstraseluler. Hal
tersebut mengakibatkan sel mengalami hypokalaemia
dimana hanya dapat ditangani dengan pemberian
magnesium (Gum, 2004).
Pada konsentrasi yang berhubungan dengan kondisi
fisiologis, magnesium tidak bersifat genotoxic, tetapi lebih
banyak diperlukan untuk menjaga stabilitas genomic.
Telah diketahui

kestabilan genomic mempengaruhi

struktur DNA dan kromatin. Berhubungan dengan hal


tersebut, magnesium merupakan kofaktor penting dalam
seluruh sistem enzimatik yang terlibat dalam proses
pembentukan DNA. Sebagian besar studi tentang replikasi
DNA, magnesium berperan penting secara spesifik untuk
ketepatan sintesis DNA. Selanjutnya sebagai kofaktor yang
esensial, magnesium mempunyai fungsi untuk

perbaikan

pemotongan nukleotida apabila terjadi kerusakan DNA oleh

lingkugan mutagen, proses endogenous, dan replikasi DNA.


Magnesium berperan sebagai regulator pada kontrol siklus
sel dan apoptosis (Bhuto . 2005).
Defisiensi magnesium dapat terjadi karena beberapa
faktor, yaitu diare yang panjang, penyakit Crohn's,
malabsorption sindrom, terjadinya pembedahan dan
peradangan di usus, proses radiasi dan kemoterapi.
Diabetes melitus dan dalam jangka waktu yang lama
mengalami diuresis dapat pula mengakibatkan
peningkatan kehilangan magnesium melalui urine (Saris .
2000). Pemasukan makanan yang kurang, masalah
pencernaan dan peningakatan kehilangan urine yang
tinggi seluruhnya memberikan kontribusi pengurangan
magnesium, dimana secara teratur ditemukan pada
alkoholik. Beberapa studi menemukan bahwa orang yang
sudah tua relatif rendah pemasukan magnesiumnya
lewat makanan. Hal tersebut disebabkan absorpsi
magnesium di usus cenderung menurun dan ekskresi
magnseium cenderung meningkat. Pemberian
magnesium yang kurang optimal pada orang tua dapat
meningkatkan resiko kekurangan magnesium. Telah
dilaporkan bahwa defisiensi magnesium menyebabkan
komplikasi ginjal (Bhuto . 2005).
Beberapa penyakit yang berhubungan dengan
kekurangan magnesium dapat ditemukan pada tubuh
manusia. Radioterapi seperti kemoterapi yang
merupakan penanganan khusus untuk kanker dengan
menggunakan Cis-platium, telah diobervasi pada pasien
hipomagnesaemia. Efek samping kemoterapi tersebut yaitu
dapat menurunkan penggunaan supplemen magnesium.

Stabilitas DNA bergantung pada konsentrasi magnesium.


Secara klinis dan biologis konsekuensi tidak normalnya
konsentrasi magnesium di dalam tubuh berpengaruh
pada pembelahan DNA, akibatnya dapat menimbulkan
penyakit dan kanker.
Magnesium merupakan logam yang memiliki bilangan
koordinasi 6 dan 4. Bilangan koordinasi 6 memiliki
kemungkinan struktur senyawa kompleks yang dihasilkan
berbentuk oktahedral normal, oktahedral terdistorsi,
tetragonal bipiramida, antiprisma trigonal dan prisma
trigonal. Contoh senyawa dibromotetrapiridinamagnesium(II) atau [MgBr2(py)4]

Gambar 9. dibromotetrapiridinamagnesium(II)

Bilangan koordinasi 4 memiliki kemungkinan struktur


senyawa kompleks yang dihasilkan berbentuk tetrahedral
atau bujur sangkar. Contoh senyawa klorofil

Gambar 10. klorofil


D.

Kesimpulan
Kalium, kalsiun, natrium, dan magnesium sangat
penting bagi tubuh makhluk hidup dikarenakan
peranannya dalam sistem biokimia, mulai dari kestabilan
fungsi sel dan bagiannya hingga peranan sebagai activator
enzim dan juga sebagai pigmen warna.

Daftar Pustaka
Barasi, M. (2007). Nutrition at a Glance. Penerjemah:
Hermin. (2009). At a Glance: Ilmu Gizi. Jakarta: Penerbit
Erlangga. Hal. 52
Gobinathan P, Murali PV, Panneerselvam R. 2009.
Interactive Effects of Calcium Chloride on SalinityInduced Proline Metabolism in Pennisetum
typoidies.Advances in Biological Research 3(5-6):168173.

Gums JG. 2004. Magnesium in cardiovascular and other


disorders. Am J HealthSyst Pharm. 61:1569-76.
Hijriani, G. (2009). Presentase daya larut Ca oksalat oleh teh
tempurung kering (Sonchus arvensis l) dengan frekuensi
minum satu kali sehari. Semarang: Universitas
Muhammadiyah Semarang.
Irawa, M.Anwari. 2007. Cairan Tubuh, Elektrolit dan Mineral.
Sports Science Breif
Lestari, D. Hubungan Asupan Kalium, Kalsium, Magnesium,
dan Natrium,Indeks Massa Tubuh, serta Aktifitas Fisik
dengan Kejadian Hipertensi pada Wanita Usia 30 40
Tahun. Semarang: Universitas Diponegoro; 2010.
Nieves JW. 2005. Osteoporosis: the role of micronutrient.
The American Journal of Clinical Nutrition 81:1232-1239.
Purwati S,Salimar, Rahayu S. Perencanaan menu untuk
penderita tekanan darah tinggi. Depok: Penerbit Penebar
Swadaya; 2003.
Saris NE, Mervaala E, Karppanen. 2000. Magnesium: an
update on physiological, clinical and analytical aspects.
Clinica Acta. 294(1-2):1-26
Tongchan P, Prutipanlai S2, Niyomwas S, Thongraung S.
2009. Effect of calcium compound obtained from fish
byproduct on calcium metabolism in rats. J. Food Ag-Ind.
2(04),669-676
Topf JM, Murray PT. 2003. Hypomagnesemia and
hypermagnesemia. Rev Endoc Metab Disord. 4:195-206.
Yaswir, R., & Ferawati, I. (2012). Fisiologi dan gangguan
keseimbangan natrium, kalium dan klorida serta
pemeriksaan laboratorium. Jurnal Kesehatan Andalas. 1(2).