Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN USHUL FIQH

DISUSUN OLEH :
Nama : Riadatul Mayyadah
Nim

: 160206025

PROGRAM STUDI ILMU AL-QURAAN DAN TAFSIR


FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
MATARAM 2016

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
.sebagaimnana ilmu keagamaan lain dalam islam,ilmu
ushul fiqh tumbuh dan berkenmang dengan tetap berpijak
pada al-quraan dan sunnah.ushul fiqh tidak timbul dengan
sendirinya tetapi benih benihnya sudah ada sejak zaman
rasululloh dan sahabat.masalah utama dalam bagian ushul
fiqh,seperti ijtihad,qiyas,nasakh,dan takhsish sudah ada pada
zaman rasululloh sahabat.dimasa rasululloh umat islam tidak
memerlukan kaidah kaidah tertentu dalam memahami dalam
hukum hukum syarI.semua permasalahan dapat langsung
merujuk kepada rasululloh lewat penjelasan beliau mengenai
al-quraan,atau melalui sunnah beliau saw.
Ada beberapa pendapat yang menjelaskan mengenai
asal dari ushul fiqh. Secara teoritis, ilmu ushul fiqh lebih
dahulu lahir dari ilmu fiqh, karena ushul fiqh sebagai alat
untuk melahirkan fiqh. Akan tetapi, fakta sejarah menjukkan,
ushul fiqh bersamaan lahirnya fiqh. Sedangkan dari segi
penyusunannya, ilmu fiqh lebih dahulu lahir dari pada ilmu
ushul fiqh.1 Namun, Terlepas dari hal itu, dalam pembahasan
makalah ini akan dijelaskan secara rinci mengenai hal ikhwal
sejarah perkembangan ushul fiqh

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Periodisasi Embrio Ushul Fiqih pada Masa imam Mujtahid,
Masa Nabi, Sahabat, dan Tabiin.
a) Ushul fiqh masa imam imam Mujtahid sebelum imam syafiI
imam abu hanifah
Numan, pendiri mazhab hanafi menjelaskan dasar dsar
istinbhat

yaitu,

ditemukan

berpegang

didalamnya,

kepada

ia

kitabulloh,jika

berpegang

pada

tidak

sunnah

rsululloh.jika tidak didapati didalamnya ia berpegang kepada


pendapatnya

yang

disepakati

para

sahabat.jika

mereka

berbeda pendapat ia akan memilih salah satu pendapat


pendapat itu dan tidak akan mengeluarakan fatwa yang
menyalahi pendapat sahabat.
b) Periode Nabi
Pertumbuhan

ushul

fiqh

tidak

terlepas

dari

perkembangan hukum Islam sejak zaman Nabi SAW hingga


pada masa tersusunya ushul fiqh sebagai salah satu
bidang ilmu pada abad ke-2 H. Pada zaman Nabi SAW,
sumber hukum Islam ada 2, yaitu Alquran dan sunnah.
Apabila suatu kasus terjadi, Nabi SAW menunggu wahyu
yang menjelaskan kasus hukum tersebut. Apabila wahyu
tidak turun maka Nabi menetapkan kasus tersebut melalui
sabdanya, yang kemudian dikenal dengan hadis dan
sunah. Dalam menetapkan hukum dari berbagai kasus
yang ada di zamanya, ulama ushul fiqh menyimpulkan ada
isyarat bahwa Nabi melakukannya melalui ijtihad. Hasil
ijtihad Nabi ini secara otomatis menjadi sunnah bagi
ummat.

Dalam beberapa kasus, Nabi SAW juga mengaplikasikan


qiyas ketika menjawab pertanyaan para sahabat. Caracara beliau dalam menetapkan hukum inilah yang menjadi
bibit munculnya ilmu ushul fiqh. Oleh sebab itu, para
ushuliyyin

menyatakan

bahwa

ushul

fiqh

itu

sendiri

bersamaan hadirnya dengan fiqh, yakni sejak zaman Nabi


SAW. Bibit ini semakin jelas di zaman para sahabat karena
persoalan yang mereka hadapi semakin berkembang,
sedangkan Al-quran dan sunnah telah selesai turun seiring
dengan wafatnya Nabi SAW.2
c)Periode Sahabat
Pada masa ini kajian tentang fiqih mulai dirumuskan,
yaitu setelah wafatnya Rasulullah SAW. Sebab pada masa
hidupnya Rasulullah SAW, semua persoalan hukum yang
timbul diserahkan kepada Beliau. Meskipun satu atau dua
kasus hukum yang timbul terkadang disiasati para sahabat
Beliau dengan ijtihad, tetapi hasil akhir dari ijtihad
tersebut, dari segi tepat atau tidaknya ijtihad mereka itu,
dikembalikan kepada Rasulullah SAW. Hal ini karena
Rasulullah SAW adalah satu-satunya pemegang otoritas
kebenaran Agama, melalui wahyu yang diturunkan kepada
Beliau.
Pada periode sahabat, dalam melakukan ijtihad untuk
melahirkan

hukum,

pada

hakikatnya

para

sahabat

menggunakan ushul fiqh sebagai alat untuk berijtihad.


Hanya saja, ushul fiqh yang mereka gunakan baru dalam
bentuknya yang paling awal, dan belum banyak terungkap

dalam rumusan-rumusan sebagaimana yang kita kenal


sekarang.
Contoh cikal bakal ilmu ushul fiqh yang terdapat pada
masa Rasulullah SAW dan masa sahabat, antara lain
berkaitan dengan ketentuan urutan penggunaan sumber
dan dalil hukum, sebagai bagian dari ushul fiqh, misalnya
dapat

dilihat

dari

informasi

tentang

dialog

antara

Rasulullah SAW dan Muaz bin Jabal, ketika Rasulullah SAW


mengutus Muaz ke Yaman.
ketika Rasulullah SAW bermaksud mengutus Muaz ke
Yaman, beliau bertanya: bagaimana kamu memutuskan
bila suatu kasus diajukan kepadamu? Ia menjawab: saya
akan putuskan berdasarkan kitab Allah beliau bertanya
lagi: jika kamu tidak menemukannya dalam kitab Allah?
ia menjawab: saya yakan putuskan berdasarkan sunah
Rasulullah SAW beliau bertanya lagi: jika kamu tidak
menemukannya

dalam

kitab

Allah

maupun

sunnah

Rasulullah?Ia menjawab: saya akan berijtihad, namun


saya tidak akan ceroboh. beliau berkata sambil menepuk
dada Muaz : segala puji bagi Allah yang telah
memberikan taufiq utusan Rasulullah kepada apa yang di
ridhai Rasul itu.
Para sahabat Rasulullah SAW selain karena kedekatan
mereka kepada Beliau,

mereka juga

menimba banyak

pengalaman dari Beliau dan memahami secara mendalam


pembentukan hukum Islam (tasyri), juga karena mereka
sendiri memiliki pengetahuan bahasa arab yang sangat
baik. Dengan bekal pengalaman dan kemampuan tersebut,
maka ketika Rasulullah SAW wafat mereka telah dapat
melakukan ijtihad untuk mengatasi masalah kekosongan

hukum atas peristiwa-peristiwa baru yang terjadi yang


belum ada ketentuan hukumnya secara eksplisit dalam
Alquran dan sunnah. Mereka juga tidak banyak mengalami
kesulitan memahami ayat-ayat Alquran dan maksud
sunnah untuk melakukan pengembangan hukum Islam,
terutama melalui metode qiyas.
Langkah-langkah yang ditempuh para sahabat apabila
menghadapi persoalan hukum ialah menelusuri ayat-ayat
Al quran yang berbicara tentang masalah tersebut.
Apabila tidak ditemukan hukumnya dalam Al quran maka
mereka mencarinya di dalam sunnah. Apabila di dalam
sunnah pun tidak ditemukan barulah mereka berijtihad.3
d)Periode Tabiin
Sejalan dengan berlalunya masa sahabat, timbullah
masa tabiin. Pada masa ini, sejalan dengan perluasan
wilayah-wilayah Islam, dimana pemeluk Islam semakin
heterogen bukan saja dari segi kebudayaan dan adat
istiadat lokal, tetapi juga dari segi bahasa, peradaban ,
ilmu pengetahuan, teknologi dan perekonomian, banyak
bermunculan kasus-kasus hukum baru, yang sebagiannya
belum dikenal sama sekali pada masa Rasulullah SAW dan
masa sahabat. Untuk menjawab kasus-kasus hukum ini,
lahir tokoh-tokoh Islam yang bertindak sebagai pemberi
fatwa hukum. Mereka ini sebelumnya telah lebih dahulu
menimba pengalaman dan pengetahuan di bidang ijtihad
dan hukum dari para sahabat pendahulu mereka. Para ahli
hukum generasi tabiin ini, antara lain, Said bin alMusayyab (15-94H) sebagai mufti di Madinah. Sementara
di Irak tampil pula Alqamah bin al-Qais (w. 62H) dan
3

Ibrahim an-Nakhai (w. 96H), di samping para ahli hukum


lainnya.
Dalam

melakukan

ijtihad,

sebagaimana

generasi

sahabat, para ahli hukum generasi tabiin juga menempuh


langkah-langkah yang sama dengan yang dilakukan para
pendahulu mereka. Akan tetapi, dalam pada itu, selain
merujuk Alquran dan sunnah, mereka telah memiliki
tambahan rujukan hukum yang baru, yaitu ijma ashshahabi, ijma ahl al-Madinah, fatwa ash-shahabi, qiyas,
dan mashlahah mursalah, yang telah dihasilkan oleh
generasi sahabat.
Terhadap sumber

rujukan

yang

baru

itu,

mereka

memiliki kebebasan memilih metode yang mereka anggap


paling sesuai. Oleh karena itu, sebagian ulama tabiin ada
yang menggunakan metode qiyas, dengan cara berusaha
menemukan illah hukum suatu nashsh dan kemudian
menerapkannya pada kasus-kasus hukum yang tidak ada
nashsh-nya tetapi memiliki illah yang sama. Sementara
sebagian ulama lainnya lebih cenderung memilih metode
mashlahah, dengan cara melihat dari segi kesesuaian
tujuan hukum dengan kemaslahatan yang terdapat dalam
prinsip-prinsip syara.
Perbedaan cara yang ditempuh oleh kedua kelompok
tabiin ini, terutama timbul karena perbedaan pendapat:
apakah fatwa ash-shahabi dapat menjadi dalil hukum
(hujjah)? Dan apakah ijma ahl al-Madinah merupakan
ijma sehingga berkedudukan sebagai hujjah qathiah (dalil
hukum yang bersifat pasti)?
Adanya kedua kelompok ulama di atas merupakan cikal
bakal lahirnya dua aliran besar dalam ilmu ushul fiqh dan
fiqh, yaitu aliran Mutakallimin atau asy-Syafiiyyah, yang

dianut jumhur (mayoritas) ulama, dan aliran fuqaha atau


hanafiyyah yang pada mulanya berkembang di Irak.4.
Metode istinbhat tabiin umumnya tidak berbeda
dengan metode istinbhat sahabat.hanya saja pada masa
tabi;in mulai muncul dua fenomena penting:
1)pemalsuan hadist
2)perdebatan mengenai penggunaan

rayu

yang

memunculkan kelompok irak (ahl al-rayi)dan kelompok


madinah(ahl al-hadist)
Dengan demikian

muncul

bibit

bibit

perbedaan

metodologis yang lebih jelas disertai dengan perbedaan


kelompok

ahli

hukum

(fuqaha)berdasarkan

wilayah

geografis.
B. Latar belakang terbentuk dan tumbuh berkembangnya ushul
fiqih
Ilmu ushul Fiqih, lahir sejak abad ke-2 H. Ilmu tersebut,
pada abad pertama Hijriyah memang tidak diperlukan karena
keberadaan Rasulullah SAW. masih bisa mengeluarkan fatwa
dan memutuskan suatu hukum berdasarkan ajaran Alquran,
Sunnah dan apa yang diwahyukan kepada beliau. Disamping
itu secara fithri, ijtihad Rasul tidak memerlukan Ushul atau
kaidah-kaidah yang dijadikan sebagai istinbat dan ijtihad.
Begitu pula dengan para sahabat, mereka memberikan fatwa
hokum dan memutuskan suatu keputusan berdasarkan nashnash yang dipahami lantaran kemampuan potensial mereka
dibidang bahasa arab yang benar, tanpa memerlukan kaidahkaidah

bahasa

yang

dapat

dijadikan

sebagai

dasar

pemahaman nash. Para sahabat juga melakukan istinbat


terhadap

hukum

yang

tidak

ada

nashnya

berdasarkan

kemampuan potensial mereka dalam membina hokum syariat


4

Islam yang terpusat di dalam jiwa mereka yang disebabkan


akrabnya mereka dengan Rasulullah di dalam pergaulan.
Selain itu, para sahabat juga ikut menyaksikan sebab-sebab
turunnya Al-Quran dan sebab-sebab dikeluarkannya hadits,
serta memahami maksud dan tujuan syari (pembuat hokum,
yakni Allah) disamping prinsip-prinsip pembentukan hokum
Islam.
Namun ketika dunia Islam semakin berkembang luas
dengan hasil kemenangan yang diraih, dan bangsa Arab telah
banyak bergaul dengan bangsa-bangsa lain, sehingga timbul
interaksi bahasa lisan dan tulis-menulis, maka beberapa
sinonim dan gaya bahasa Arab tercampur dengan bahasa
lain. Sebagai akibatnya, naluri bahasa mereka menjadi tidak
murni lagi. Maka terjadilah kerancuan dan kemungkinan yang
terjadi di dalam cara memahami nash. Sehingga dianggap
perlu menyusun batas-batas dan kaidah-kaidah bahasa yang
dapat mendukung pemahaman nash, sebagaimana bangsa
arab

mampu

memahami

nash

sesuai

bahasa

yang

ia

gunakan. Penyusunan kaidah itu tidak jauh berbeda dengan


penyusunan kaidah-kaidah Nahwu yang dapat membantu
kemampuan berbahasa secara baik.
Demikian setelah waktu lama dari awal pembentukan
hukum Islam, banyak terjadi perdebatan antara Ahli Hadits
dan Ahli Rayu. Banyak juga orang yang hanya berdasarkan
keberanian mengeluarkan suatu hujjah yang tidak pantas
sebagai hujjah, bahkan menolak hujjah yang sebenarnya.
Kondisi ini mendorong peletakan batasan-batasan dan bahasa
tentang

dalil

syariyyah

dan

syarat-syarat

menggunakan

dalil-dalil.

Seluruh

atau

pembahasan

cara

tentang

penggunaan

dalil,

batasan-batasan

atau

kaidah-kaidah

bahasa ini yang disebut sebagai ilmu ushul fiqh.


Namun, ilmu tersebut tumbuh dalam kondisi yang
sangat sederhana, seperti halnya anak kecil yang baru lahir.
Kemudian, secara bertahap ilmu tersebut tumbuh semakin
meningkat sehingga mencapai usia 200 tahun. Sejak itu,
mulailah ilmu itu berkembang dengan pesatnya, tersebar dan
memencar bersama berkembangnya hukum Fiqh, sebab
setiap Imam mujtahid , baik Imam yang empat atau yang
lainnya, selalu memberi petunjuk dengan dalil hukum yang
disertai dengan ilmu Ushul Fiqh dan arahan pengambilan dalil
dengan ilmu itu juga. Sedang para mujtahid yang tidak
menggunakan cara tersebut, berarti telah membuat hujjah
dengan

jalan

yang

menyimpang.

Padahal,

semua

pengambilan dalil dan penggunaan hujjah selalu mengandung


kaidah-kaidah Ushul.5
Orang pertama yang menghimpun kaidah-kaidah yang
berserakan itu, ialah Imam Abu yusuf, seorang pengikut setia
imam Abu Hanifah. Hal ini, dikatakan oleh Ibnu Nadim dalam
kitabnya

yang

bernama

Al

Fahrasat

Namun

sangat

disayangkan catatan-catatan tersebut tidak sampai ketangan


kita.

Oleh

ahli

ushul

fiqih

dianggap

yang

pertama

mengumpulkan dan menyusun ilmu ini adalah Imam Syafii


dalam kitabnya yang bernama
muncullah

para

penulis

lain

Ar-Risalah. Dan setelah itu,


yang

melengkapi

dan

menyempurnakannya seperti Imam Ghazali dalam kitabnya


yang bernama Al-Mustasyfa, Al-Amidi dalam kitabnya yang
bernama Al-Minhaj yang disyaratkan oleh Asnawi.6[6]

Dari kalangan madzhab Hanafi yang terkenal Abu Zaid


Al Dabbas dalam kitabnya yang bernama Ushul, Fadhul Islam
Al Basdawi dalam kitabnya yang bernama Ushul dan Nasafi
dalam kitabnya yang bernama Al Manar. Disamping itu
lahirlah pula kitab yang bernama Badiun Nizam Al Jami Baina
Bazdawi wal itisom oleh Muzafaruddin Al Baghdadi Al Hanafi,
kitab tahrir oleh kamal bin Humam dan kitab Jamul jawani
oleh ibnu Subki.
Di abad sekarang ini ada pula beberapa buah kitab
yang ditulis oleh beberapa ulama, diantaranya kitab Irsyadul
Fuhul oleh Syaukani, kitab Ushul Fiqh oleh Hudari Bek, kitab
Tahsilul wushul oleh Muhammad Abdurrahman Mahlawi. Dan
masih banyak kitab-kitab Ushul Fiqh yang lainya.

Bab 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
a) Periodisasi embrio ushul fiqih pada masa Nabi, Sahabat, dan
Tabiin
Pada era sahabat menjadi belum bahan kajian ilmiah.sahabat
memang sering berbeda pandangan dan berargumentasi
untuk

pengkaji

pembentukan

persoalan

sebuah

hukum.akan

bidang

kajian

tetapi
khusus

kepada
tentang

metodologi.pertukaran fikiran yang dilakukan sahabat lebih


bersifat praktis untuk menjawab permasalahan.pembahasan
hukum yang dilakukan sahabat masih terbatas terhadap
pemberian fatwa atas pertanyaan atau permasalahan yang

muncul,belum sampai kepada perluasan kajian hukum islam


kepada masalah metodologi.
Periode Nabi SAW: para ushuliyyin menyatakan bahwa
ushul fiqh itu sendiri bersamaan hadirnya dengan fiqh, yakni
sejak zaman Nabi SAW. Bibit ini semakin jelas di zaman para
sahabat karena persoalan yang mereka hadapi semakin
berkembang, sedangkan Al-quran dan sunnah telah selesai
turun seiring dengan wafatnya Nabi SAW. Periode Sahabat
Pada masa ini kajian tentang fiqih mulai dirumuskan, yaitu
setelah wafatnya Rasulullah SAW. Pada periode sahabat,
dalam melakukan ijtihad untuk melahirkan hukum, pada
hakikatnya para sahabat menggunakan ushul fiqh sebagai
alat untuk berijtihad. Hanya saja, ushul fiqh yang mereka
gunakan baru dalam bentuknya yang paling awal, dan belum
banyak terungkap dalam rumusan-rumusan sebagaimana
yang kita kenal sekarang. Periode Tabiin: Dalam melakukan
ijtihad, sebagaimana generasi sahabat, para ahli hukum
generasi tabiin juga menempuh langkah-langkah yang sama
dengan yang dilakukan para pendahulu mereka. Akan tetapi,
dalam pada itu, selain merujuk Alquran dan sunnah, mereka
telah memiliki tambahan rujukan hukum yang baru, yaitu
ijma ash-shahabi, ijma ahl al-Madinah, fatwa ash-shahabi,
qiyas, dan mashlahah mursalah, yang telah dihasilkan oleh
generasi sahabat.
b) Latar belakang terbentuk dan tumbuh berkembangnya ushul
fiqih
Ilmu ushul Fiqih, lahir sejak abad ke-2 H. Ilmu tersebut,
pada abad pertama Hijriyah memang tidak diperlukan karena
keberadaan Rasulullah SAW. masih bisa mengeluarkan fatwa
dan memutuskan suatu hukum berdasarkan ajaran Alquran,

Sunnah dan apa yang diwahyukan kepada beliau. Namun


ketika dunia Islam semakin berkembang luas dengan hasil
kemenangan yang diraih, dan bangsa Arab telah banyak
bergaul dengan bangsa-bangsa lain, sehingga timbul interaksi
bahasa lisan dan tulis-menulis, maka beberapa sinonim dan
gaya bahasa Arab tercampur dengan bahasa lain. Sebagai
akibatnya, naluri bahasa mereka menjadi tidak murni lagi.
Demikian setelah waktu lama dari awal pembentukan hukum
Islam, banyak terjadi perdebatan antara Ahli Hadits dan Ahli
Rayu.

Banyak

juga

orang

yang

hanya

berdasarkan

keberanian mengeluarkan suatu hujjah yang tidak pantas


sebagai hujjah, bahkan menolak hujjah yang sebenarnya.
Kondisi ini mendorong peletakan batasan-batasan dan bahasa
tentang

dalil

syariyyah

dan

menggunakan

dalil-dalil.

Seluruh

penggunaan

dalil,

syarat-syarat

batasan-batasan

atau

pembahasan
atau

cara

tentang

kaidah-kaidah

bahasa ini yang disebut sebagai ilmu ushul fiqh.

DAFTAR PUSTAKA
Asmawi. Perbandingan Ushul Fiqih. Jakarta: AMZAH. 2011.
Dahlan , Abd. Rahman. Ushul Fiqih. Jakarta: AMZAH. 2011.

Karim A,

SyafiI, Fiqih-Ushul Fiqih, Bandung : CV. Pustaka Setia,

1997.
Wahab, Abdul khalaf, Ilmu Ushul Fiqih, Bandung: Gema Risalah
Press, 1996.