Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Fatty Alcohol
Fatty alkohol (lemak alkohol) adalah alkohol alifatis yang merupakan turunan dari
lemak alam ataupun minyak alam. Fatty alkohol merupakan bagian dari asam lemak dan fatty
aldehid. Fatty alkohol biasanya mempunyai atom karbon dalam jumlah genap. Molekul yang
kecil digunakan dalam dunia kosmetik, makanan dan pelarut dalam industri. Molekul yang
lebih besar penting sebagai bahan bakar. Karena sifat amphiphatic mereka, fatty alkohol
berkelakuan seperti nonionic surfaktan. Fatty alkohol dapat digunakan sebagai emulsifier,
emollients, dan thickeners dalam industri kosmetik dan makanan.
Tiga jenis proses yang telah dikenal dalam pembuatan fatty alcohol yaitu :
-

Hidrogenasi methyl ester pada suhu dan tekanan tinggi


Sinteas Ziegler
Sintesa OXO

Fatty alcohol diperoleh dengan cara hidrogenasi metil ester atau asam lemak.
R-COOCH3 + 2 H2
RCOOH + 2 H2

Katalis CuCr
Katalis CuCr

R-CH2OH + CH3 OH
RCH2OH + H2O

Dalam proses pembuatan fatty alcohol banyak dilakukan dengan bahan dasar metil ester,
karena dengan proses ini diperoleh persentase fatty alcohol yg tinggi. Dalam reaksi
hydrogenasi dapat terbentuk
RCH2COCOH + 2H2
RCH2COOH + RCH2CH2OH

RCH2CH2OH + CH3OH
RCH2COOCH2CH2R + CH3OH

RCH2COOCH2CH2R + H2

2 RCH2OH

1.2 Proses Pemilihan Bahan Baku


1.2.1

CPO
Minyak sawit kasar (Crude Palm Oil) merupakan minyak sawit mentah yang diperoleh dari
hasil ekstraksi dan belum mengalami pemurnian. Sawit mengandung lebih kurang 80% perikarp dan
20% buah yang dilapisi kulit yang tipis. Komposisi asam lemak minyak sawit dapat dilihat pada
Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Komposisi Asam Lemak Minyak Sawit
Asam lemak

Minyak sawit (persen)

Asam palmitat

40 46

Asam stearat

3.6 4.7

Asam oleat

39 45

Asam linoleat

7 11

Asam laurat

0 0.4

Asam miristat

1.1 2.5

Asam linolenat

0 0.6
(Sumber : Ketaren, 1996)

Properti fisika dan kimia minyak sawit meliputi warna, bau, flavor, kelarutan, titik cair dan
polymorphism, titik didih (boiling point), dan bilangan penyabunan. Properti ini dapat berubah
tergantung dari kemurnian dan mutu minyak sawit. Struktur molekul asam lemak dapat dilihat pada
Tabel 1.2.
Tabel 1.2 Struktur Molekul Asam Lemak
Asam
Lemak

Rumus
Kimia

Berat Molekul

Asam
laurat

C12H24O2

200.32

Asam
miristat

C14H28O2

228.37

Asam
palmitat

C16H32O2

256.42

Asam
stearat

C18H36O2

284.48

Asam
oleat

C18H34O2

282.46

Asam
linoleat

C18H32O2

280.45

Asam
linolenat

C18H30O2

278.43

(Sumber : Yaws, C.L, 1999)

Struktur Molekul

1.2.2

Metanol
Methanol adalah salah satu senyawa hidrokarbon dari golongan alcohol dengan gugusalkil
hidroksil. Pada keadaan atmosfer methanol berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak
berwarna, mudah terbakar, dan berbau yang khas. Properti fisika dan kimia metanol dapat dilihat
pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3 Properti Fisika dan Kimia Metanol
Properti
Rumus kimia
Massa molekul relatif
Temperatur kritis
Tekanan kritis
Densitas kritis
Specific gravity
Cairan (25C)
Cairan (20C)
Cairan (15C)
Uap

Tekanan uap
20C
25C
Panas laten penguapan
25C
64,6 C
Titik didih
Titik beku
Titik nyala
Closed vessel (TCC method)
Open vessel (TOC method)
Viskositas
Indeks bias
Konduktivitas termal
Cairan (0 C)
Cairan (25 C)
Uap (100 C)
(Sumber : Yaws, C.L, 1999)

Nilai
CH3OH
32,04 g/mol
512,5 K; 239C
8,084 MPa; 78,5 atm
0,272 g/cm3
0,7866
0,7915
0,7960
1,11
12,8 kPa; 1,856 psia; 96 mmHg
35,21 kPa; 2,459 psia; 127,2 mmHg

37,43 kJ/mol; 279,0 cal/g


35,21 kJ/mol; 262,5 cal/g
64,6 C
-97,6 C
12 C
15,6 C
0,545 mPa.s pada (25 C)
1,13
207 mW/m.K
200 mW/m.K
14,07 mW/m.K

1.2.3 Hidrogen
Properti fisika dan kimia hidrogen dapat dilihat pada Tabel 1.4.
Tabel 1.4 Properti Fisika dan Kimia Hidrogen
Properti
Rumus kimia
Massa molekul relatif
Temperatur kritis

Nilai
H2
2 g/mol
33.18 K; -239.97C

Tekanan kritis
Densitas kritis
Heat Capacity of gas (25C)
Titik didih
Titik beku
Viskositas
Indeks bias
Konduktivitas termal gas (25 C)

13.13 bar
0.0314 g/cm3
29.03 J/mol K
20.39 K; -252.76 C
13.95K; -259.2 C
88.03 micropoise pada (25 C)
1,13
0.17064 W/m.K

(Sumber : Yaws, C.L, 1999)

1.3 Pemilihan Proses


1.3.1 Gross Profit Margin (GPM)
Gross Profit Margin (GPM) merupakan perkiraan secara global mengenai keuntungan
yang diperoleh dari penjualan produk, tanpa melihat biaya peralatan, biaya operasi, dan biaya
perawatan. GPM dihitung sebagai penghasilan yang diperoleh dari penjualan produk utama
dan produk samping dikurangi biaya pembelian bahan baku. Tabel 3.1 menunjukkan data
harga bahan kimia dasar yang dibutuhkan pada proses pembuatan alkohol lemak
menggunakan metode fixed-bed hydrogenation process.
Perkiraan yang sama dibuat untuk keseluruhan reaksi di setiap teknologi proses pembuatan
alkohol lemak. Pada perhitungan, diasumsikan bahwa konversi reaksi sempurna. Hasil
perhitungan GPM untuk setiap masing-masing teknologi proses pembuatan alkohol lemak
ditunjukkan pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1 GPM Teknologi Proses Pembuatan Alkohol Lemak
Proses

Reaksi Overall

Gross Profit Margin


(US$ per
kg alkohol lemak)

1
2 Al ( C H 2 CH 3 )3 + Al +1 H 2+3 H 2 C=C H 2+
2
Alfol

1
( x+ y+ z ) H 2 C=C H 2+1 O2+ 2 H 2 O
2

Rp

3.807.502,66

AlO ( OH ) + R1 OH + R 2 OH + R 3 OH
1
2 Al ( C H 2 CH 3 )3 + Al +1 H 2+3 H 2 C=C H 2+
2
Epal

1
( x+ y+ z ) H 2 C=C H 2+1 O2+ 2 H 2 O
2

Rp

3.807.502,66

AlO ( OH ) + R1 OH + R 2 OH + R 3 OH
Oxo

2CH =C H 2+ 2CO +2 H 2

Rp

8.510.213,62

RC H 2 C H 2 CHO+ RCH ( C H 3 ) CHO


Hidrogenasi
Lilin Ester
Reduksi
Sodium

R1 COO R2 + NaOH R1 COONa+ R 2 OHRp

1.900.051,87

R1 COO R2 + 4 Na+2 R3 OH
Rp

8.590.939,82

Suspension-

RCOOC H 3 +2 H 2 RC H 2 OH + C H 3 OH
Rp

8.576.495,62

Fixed Bed-

RCOOC H 3 +2 H 2 RC H 2 OH + C H 3 OH
Rp

8.576.495,62

JM Davy

RCOOH +2 H 2 RC H 2 OH + H 2 O

8.576.124,14

R1 C H 2 OH + R 2 OH + 2 R3 OH

Rp

Tabel 1.1 menunjukkan bahwa GPM tertinggi pada proses pembuatan alkohol lemak adalah
pada proses reduksi sodium dengan bahan baku CPO yaitu sebesar Rp. 8.590.939,82.
Sedangkan GPM terendah adalah pada proses hidrogenasi lilin ester yaitu Rp. 1.900.051,87
yang berbahan baku sperma ikan paus. Rata-rata GPM dari seluruh proses pembuatan alkohol
lemak adalah Rp. 6.543.165,75. Terdapat 5 proses dengan nilai GPM diatas rata-rata yaitu
proses Oxo, reduksi sodium, Suspension, Fix-Bed dan JM Davy yang berbahan dasar CPO.
Proses dengan berbahan dasar sperma ikan paus ternyata tidak banyak memberikan
keuntungan pada produksi alkohol lemak, begitu juga dengan proses berbahan dasar olefin
atau minyak bumi. Sedangkan proses dengan berbahan baku CPO lebih banyak memberikan
keuntungan sekitar 2x lipat dari proses berbahan dasar olefin dan sekitar 4x lipat dari proses
lilin ester. Maka dari itu proses yang dipilih adalah proses fix-bed hydrogenation.

RCOOH +C H 3 OH RCOOCRCOOC
H 3 + H 2H
O 3 +2 H 2 RC H 2 OH + C H 3 OH

Gambar 1. Operasi untuk Pembuatan Alkohol Lemak Menggunakan Metode Fixed-Bed


Hydrogenation Process

Gambar 3.1 menunjukkan langkah pertama dalam membuat flowsheet proses reaksi. Setiap
operasi dilambangkan dengan panah untuk mewakili reaktan dan produk kimia yang
dihasilkan. Pada reaksi pembuatan alkohol lemak, diasumsikan bahwa reaktan terkonversi
sempurna menjadi produk.
1.1.2

Ketersediaan Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan untuk proses pembuatan alkohol lemak berbasis oleokimia
adalah CPO, metanol, gas hidrogen dan katalis CuCr. Bahan baku diperoleh dari lokal dan
impor.
1.1.3

Kondisi Proses, Konversi dan Selektivitas

Kondisi proses, konversi dan selektivitas masing-masing proses pembuatan alkohol lemak
dapat dilihat pada lampiran B.9.
3.1.4

Sistem Utilitas

Utilitas merupakan unit penunjang utama untuk mempelancar jalannya proses produksi. Oleh
karena itu, agar proses produksi dapat terus berlangsung secara berkesinambungan maka
harus didukung oleh sarana dan prasarana utilitas yang baik. Berdasarkan kebutuhannya,
utilitas pada pabrik alkohol lemak ini meliputi:

1. Kebutuhan Air
Proses produksi air memegang peranan penting, baik untuk kebutuhan proses maupun
kebutuhan domestik. Kebutuhan air pada pabrik pembuatan alkohol lemak seperti:
Air untuk umpan ketel uap
Air pendingin
Air Proses
Air untuk berbagai kebutuhan
Sumber air pada pembuatan pabrik alkohol lemak ini berasal dari Sungai Rokan yang dekat
dengan lokasi pendirian pabrik alkohol lemak. Untuk menjamin kelangsungan penyediaan
air, maka dilokasi pengambilan air dibangun fasilitas penampung air (water intake) yang juga
merupakan tempat pengolahan awal air sungai. Pengolahan ini meliputi penyaringan sampah
dan kotoran yang terbawa bersama air. Selanjutnya air dipompakan ke lokasi pabrik untuk
diolah dan digunakan sesuai dengan keperluannya. Pengolahan air di pabrik alkohol lemak
terdiri dari beberapa tahap yaitu: screening, klarifikasi, filtrasi, demineralisasi, dan deaerasi.
2. Penyediaan Bahan Bakar
Bahan bakar yang digunakan untuk ketel uap pipa api dan pembangkit tenaga listrik
(generator) adalah minyak solar karena minyak solar memiliki nilai bakar yang tinggi. Bahan
bakar ini dapat dipasok langsung dari kawasan Dumai, yang terdapat tambang minyak bumi.
3.
Kebutuhan Listrik
Kebutuhan listrik dapat dipenuhi dengan listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara).
Kebutuhan listrik pada pabrik alkohol lemak diperkirakan untuk unit proses, unit utilitas,
ruang kontrol dan laboratorium, penerangan dan kantor, serta bengkel atau ruang service.
4.

Kebutuhan Bahan Kimia

Bahan kimia sangat dibutuhkan dalam hal kebutuhan proses pembuatan produk, dan untuk
pengolahan air di pabrik alkohol lemak. Dumai sebagai kawasan industri di provinsi Riau
mempunyai industri yang beroperasi di bidang bahan kimia sehingga bahan kimia untuk
keperluan pabrik bisa terpenuhi.
5.
Kebutuhan Unit Pengolahan Limbah
Limbah dari suatu pabrik harus diolah sebelum dibuang ke badan air atau atmosfer, karena
limbah tersebut mengandung bermacam-macam zat yang dapat membahayakan alam sekitar
maupun manusia itu sendiri. Demi kelestarian lingkungan hidup, maka setiap pabrik harus
mempunyai unit pengolahan limbah.
Sumber-sumber limbah pabrik alkohol lemak berasal dari unit proses pretreatment,
deasidifikasi, transesterifikasi, destilasi metil ester, destilasi gliserin, dan bleaching. Limbah
cair industri alkohol lemak ini terdiri dari fraksi-fraksi ringan gliserin, metil ester, alkohol dan
garam-garam organik yang terlarut. Proses pengolahan limbah cair industri alkohol lemak
sebagai berikut (Sarah, 2000):

Secara Aerobik
Pada proses ini limbah yang bisa diatasi adalah limbah cair dari metil ester, alkohol,
garam-garam organik dan fraksi-fraksi ringan dari gliserin.

Secara Anaerobik
Pada proses ini yang dipisahkan adalah glycerin pitch yang berasal dari unit proses
destilasi gliserin dan bleaching dengan kandungan bahan organik sebesar 1,8-2 juta
mg/l yang tidak efisien dilakukan secara aerobik karena COD campuran limbah cair
dan glycerin pitch adalah 25.000-30.000 mg/l.

1.3.5

Produk Samping dan Limbah yang Dihasilkan


Produk samping dan limbah yang dihasilkan dari masing-masing proses dapat dilihat pada
Tabel 1.7
Tabel 1.7. Produk Samping dan Limbah yang Dihasilkan
Proses
Hidrolisis dari Lilin Ester
Reduksi Sodium
Proses Suspensi
Proses Fixed Bed
Metode Lurgi Hidrogenasi
Asam Lemak
Metode Johnson Matthey Davy
Proses Ziegler (Alfol)
Proses Ziegler (Epal)
Proses Oxo
Proses Oksidasi Bashkirov

Produk Samping
Sabun
Kaustik Soda
Air
Metanol
Air
Air
Alumina Al2O3x
Propanol
-

Limbah
Tidak ada
Tidak ada
Katalis yang telah terpakai
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Proses Biologis
1.3.6

Tidak ada

Tidak ada

Proses Pendukung Lainnya


Proses pendukung lainnya dalam pembuatan alkohol lemak pada masing-masing
proses dapat dilihat pada Tabel 1.8 berikut.
Tabel 1.8. Proses Pendukung Lainnya Pada Pembuatan Alkohol Lemak
Proses
Hidrolisis dari Lilin Ester
Reduksi Sodium
Proses Suspensi
Proses Fixed Bed
Metode Lurgi Hidrogenasi Asam
Lemak
Metode Johnson Matthey Davy
Proses Ziegler (Alfol)
Proses Ziegler (Epal)
Proses Oxo
Proses Oksidasi Bashkirov
Proses Biologis

Proses Pendukung
Pemisahan dan Fraksionasi
Mixing dan Pengeringan
Kondensasi,
Separasi,
Sentrifugasi, Pemurnian
Pemanasan, Separasi
Esterifikasi,
Separasi,
Sentrifugasi, Filtrasi
Distilasi
Etilasi, Oksidasi, Hidrolisis
Oksitasi, Distilasi
Distilasi
Distilasi
Sterilisasi

Yaws, C,L. 1999. Chemical Properties Handbook. Physical, Thermodynamic,


Enviromental, Transport, Safety, and Health Related Properties for Organic
and Inorganic Chemicals. McGraw-Hill, Inc. New York.

Ketaren, S. 1996.Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta:UI-Press .

BAB II
NERACA MASSA DAN NERACA ENERGI
2.1 Deskripsi Proses
Proses Terpilih
Proses yang dipilih berdasarkan parameter seleksi proses yaitu pembuatan alkohol lemak
menggunakan metode fixed-bed hydrogenation process. Tingkat konversi menggunakan metode
fixed-bed hydrogenation process adalah 99%. Pada fixed bed process, katalis yang digunakan
berupa bed yang ditempatkan didalam reaktor. Penggunaan katalis padat yang sesuai dapat
meningkatkan tingkat konversi reaksi. Penggunaan katalis pada proses fixed-bed dibawah
0,3%. Metode fixed-bed hydrogenation process menggunakan bahan baku CPO yang merupakan
sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Proses pembuatan alkohol lemak melalui 3 tahapan
utama yaitu transesterifikasi, hidrogenasi dan pemurnian produk (Hui, 1996). Flowsheet proses
pembuatan alkohol lemak dapat dilihat pada Gambar 3.2.

Transesterifikasi

Transesterifikasi CPO adalah proses yang paling umum digunakan untuk memproduksi fatty
acid methyl ester, kecuali jika ingin menghasilkan fatty acid methyl ester dengan fatty acid
yang spesifik. CPO dapat langsung ditransesterifikasi menggunakan metanol berlebih dan
katalis basa pada tekanan atmosfir dengan suhu 60-70C. Pada kondisi proses tersebut, CPO
terlebih dahulu harus dimurnikan dari zat pengotor seperti asam lemak bebas sebelum
ditransesterifikasi. Industri FAME dunia saat ini pada umumnya menggunakan proses Lurgi
untuk reaksi transesterifikasi. Proses Lurgi dipilih karena proses ini sesuai untuk reaksi yang
menggunakan umpan yang banyak, reaksi kontinu pada tekanan 1 atm dan suhu 60C,
penggunaan energi yang rendah dan tingkat konversi yang tinggi. Pada proses Lurgi, CPO
direaksikan dengan metanol berlebih pada tekanan 1 atm dan suhu 60C. Sisa metanol yang
telah bereaksi selanjutnya didaur ulang sehingga dapat digunakan kembali pada proses
transesterifikasi. Hasil transesterifikasi CPO adalah campuran FAME gliserin. Campuran
FAME dan gliserin selanjutnya diumpankan kedalam separator untuk dipisahkan. FAME
yang dihasilkan diumpankan kedalam kolom distilasi untuk proses pemurnian dan kemudian
diumpankan langsung ke reaktor fixed-bed untuk melalui tahap hidrogenasi (Kleber, 2004).

Hidrogenasi

Sebelum diumpankan ke reaktor hidrogenasi, FAME terlebih dahulu diumpankan kedalam


preheater pada suhu 150C dan tekanan 1 atm. FAME selanjutnya direaksikan dengan
hidrogen pada suhu 250C dengan tekanan 25.000 kPa menggunakan katalis fixed-bed
copper chromite (CuCr). Katalis CuCr juga mengkonversi ikatan karbon rangkap tak jenuh
sehingga hanya alkohol lemak jenuh yang terbentuk. Untuk memurnikan alkohol lemak,
campuran didinginkan dan dipisahkan menjadi fasa gas dan fasa cair di kolom destilasi
(separator) pada suhu 650C dan tekanan 1 atm. Fasa gas yang sebagian besar berupa
hidrogen direcycle sehingga dapat digunakan kembali untuk proses. Sedangkan fasa cairan

kemudian di ekspansi pada flash tank untuk memisahkan metanol dan alkohol lemak
(Hourticolon, dkk, 2004 dan Dupont, dkk, 1991).

Pemurnian

Alkohol lemak mentah selanjutnya dimurnikan untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi
dengan menggunakan kolom distilasi. Tahapan selanjutnya yaitu mengkonversi senyawa
residu karbonil residu (terutama aldehida) dalam produk menjadi alkohol. Senyawa
intermediet lain dan produk samping diolah kembali untuk digunakan dalam proses atau
digunakan sebagai bahan bakar.

PENYUSUNAN DAN PENYELESAIAN NERACA MASSA

KONSEP NERACA MASSA = persamaan yang disusun berdasarkan hukum kekekalan massa
(law conservation of mass), yaitu mass can neither be created or destroyed.

Satuan di setiap arus adalah satuan massa atau mol atau (massa/waktu atau mol/waktu).
Satuan di setiap kotak atau suku di atas harus sama semua.
Bayangkan, bisakah 5 cm - 5 gram =?
Akumulasi adalah perubahan massa terhadap waktu.
Untuk proses Staedy state maka akumulasi = 0.
Untuk proses USS maka akumulasi tidak sama dengan nol.
Untuk proses fisis SS, maka kec masuk kec keluar = 0.
Untk proses kimia SS, maka akumulasi = 0.
Dalam menyusun neraca massa, perlu disebutkan apa yang dineracakan dan dimana neraca
disusun. Neraca massa dapat disusun untuk :
1. Neraca massa total atau campuran.
2. Neraca massa komponen tertentu.
3. Neraca massa unsur atau elemen tertentu.
Langkah-langkah penyusunan dan penyelesaian NM dan NP :
1.
a)
b)
2.
3.

Membuat diagram alir proses, lengkapi dengan data-data :


kualitatif dan kuantitatif yang tersedia.
Kondisi arus masuk dan keluar sistem.
Tandai variabel aliran yang tidak diketahui pada diagram alir. Buatlah permisalan variabel.
Menentukan basis perhitungan.
Pilihlah suatu laju alir proses sebagai basis perhitungan. Basis perhitungan dapat diambil

berdasarkan banyaknya bahan yang masuk atau berdasarkan bahan keluar system. Basis
perhitungan dapat dinyatakan dalam satuan berat atau satuan mol. Jika terjadi proses kimia dalam
sistem yang ditinjau, lebih mudah bila basis perhitungan menggunakan satuan mol. Jika terjadi
proses fisis, basis perhitungan dapat menggunakan satuan berat atau satuan mol.
4. Konversikan laju alir volumetrik menjadi laju alir massa atau molar.
Jika terdapat proses kimia ( reaksi ), perhitungan menggunakan satuan molar, sedangkan
proses fisis dapat menggunakan satuan massa atau molar.
5. Susunlah persamaan NM / NP.
Dalam menyusun neraca, perlu disebutkan apa yang dineracakan dan dimana neraca itu
disusun. Persamaan neraca dapat disusun untuk : sebuah unit saja, multi unit, atau unit
keseluruhan ( overall ).

6. Selesaikan persamaan NM / NP .