Anda di halaman 1dari 12

Pengertian Kepailitan

Jika ditelusuri sejarah hukum tentang kepailitan,diketahui bahwa hukum tentang


kepailitan itu sendiri sudah ada sejak zaman romawi. Kata bangkrut, yang dalam bahasa
inggris disebut bankrupt berasal dari undang-undang Italia yang disebut dengan bancarupta.
Pada abad pertengahan di Eropa, terjadi praktek kebangkrutan yang dilakukan denga
menghancurkan bangu-bangku dari para banker atau pedagang yang melarikan diri secara
diam-diam dengan membawa harta krediturnya.
Pailit berarti Tidak Sanggup Bayar Hutang. Pailit biasa terjadi antara Debitur dengan
kreditur. Secara etimologi Kepailitan sama dengan pailit. Pailit berasal dari bahasa Belanda
failliet. Yang berarti ada sebagai kata benda dan ada yang berarti sebagai kata sifat.
Sedangkan Failiet itu sendiri berasal dari bahasa Perancis lefailli . Sedangkan arti lain dari
pailit adalah pemogokan atau kemacetan dalam pembayaran yang berasal dari bahasa latin
yaitu fallire.
Menurut Siti Soemarti Hartono, dalam bukunya Pengantar Hukum Kepailitan Dan
Penundaan Pembayaran, menyatakan bahwa, Kepailitan adalah suatu lembaga dalam hukum
perdata eropah (BW) yang tercantum dalam Pasal 1311 dan 1322
Pasal 1131 KUHPer :
Segala barang-barang bergerak dan tak bergerak milik debitur, baik yang sudah ada maupun
yang akan ada, menjadi jaminan untuk perikatan perorangan debitur itu.
Pasal 1132 KUHPer:
Barang-barang itu menjadi jaminan bersama bagi semua kreditur terhadapnya; hasil
penjualan barang-barang itu dibagi menurut perbandingan piutang masing-masing kecuali
bila di antara para kreditur itu ada alasan-alasan sah untuk didahulukan.
Dari dua pasal tersebut, dapat kita simpulkan bahwa pada prinsipnya pada setiap
individu memiliki harta kekayaan yang pada sisi positif di sebut kebendaan dan pada sisi
negatif disebut perikatan. Kebendaan yang dimiliki individu tersebut akan digunakan untuk
memenuhi setiap perikatannya yang merupakan kewajiban dalam lapangan hukum harta
kekayaan.
Dalam Pasal 1 butir 1 Undang-undang Nomor: 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diberikan definisi kepailitan sebagai berikut:
Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur pailit yang pengurusan dan
pemberesannya dilakukan oleh kurator dibawah pengawasan hakim pengawas.
Menurut Imran Nating, kepailitan diartikan sebagai suatu proses dimana seorang
debitur yang mempunyai kesulitan keuangan untuk membayar utangnya dinyatakan pailit
oleh pengadilan, dalam hal ini pengadilan niaga, dikarenakan debitur tersebut tidak dapat
membayar utangnya. harta debitur dapat dibagikan kepada para kreditur sesuai dengan
peraturan pemerintah.

1
2

Sejarah Dan Perkembangan Aturan Kepailitan Di Indonesia


Sejarah masuknya aturan-aturan kepailitan di Indonesia sejalan dengan penjajahan
india- belanda yang sekaligus membawa aturan-aturan dari negaranya untuk diberlakukan
diindonesia termaksud aturan-aturan tentang kepailitan yang diatur dalam Wetboek Van
Koophandel (KUHD) ke Indonesia. Adapun hal tersebut dikarenakan Peraturan-peraturan
mengenai Kepailitan sebelumnya terdapat dalam Buku III KUHD. Namun akhirnya aturan
tersebut dicabut dari KUHD dan dibentuk aturan kepailitan baru yang berdiri sendiri.
Aturan mengenai kepailitan tersebut disebut dengan Failistment Verordenning yang
berlaku berdasarkan Staatblaads No. 276 Tahun 1905 dan Staatsblaad No. 348 Tahun 1906.
Arti kata Failisment Verordenning itu sendiri diantara para sarjana Indonesia diartikan sangat
beragam. Ada yang menerjemahkan kata ini dengan Peraturan-peraturan Kepailitan(PK).
Akan tetapi Subekti dan Tjitrosidibio melalui karyanya yang merupakan acuan banyak
kalangan akademisi menyatakan bahwa Failisment Verordening itu dapat diterjemahkan
sebagai Undang-Undang Kepailitan (UUPK).
Undang-Undang Kepailitan peninggalan pemerintahan Hindia Belanda ini berlaku
dalam jangka waktu yang relatif lama yaitu dari Tahun 1905 sampai dengan Tahun 1998 atau
berlangsung selama 93 Tahun. Sebenarnya pada masa pendudukan Jepang Aturan ini sempat
tidak diberlakukan dan dibuat UU Darurat mengenai Kepailitan oleh Pemerintah Penjajah
Jepang untuk menyelesaikan Masalah-masalah Kepailitan pada masa itu. Akan tetapi setelah
Jepang meninggalkan Indonesia aturan-aturan Kepailitan peninggalan Belanda diberlakukan
kembali.
Pada tahun 1998 dimana Indonesia sedang diterpa krisis moneter yang menyebabkan
banyaknya kasus-kasus kepailitan terjadi secara besar-besaran dibentuklah suatu PERPU No.
1 tahun 1998 mengenai kepailitan sebagai pengganti Undang-undang Kepailitan peninggalan
Belanda. Meskipun begitu isi atau substansi dari PERPU itu sendiri masih sama dengan
aturan kepailitan terdahulu. Selanjutnya PERPU ini diperkuat kedudukan hukumnya dengan
diisahkannya UU No. 4 Tahun 1998. Dalam perkembangan selanjutnya dibentuklah Produk
hukum yang baru mengenai Kepailitan yaitu dengan disahkannya UU No. 37 Tahun 2004
Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran sebagai pengganti UU No. 4
tahun 1998.
Perkembangan Substansi Hukum
Terdapat sebahagian perubahan mengenai substansi hukum antara aturan kepailitan
yang lama dengan aturan kepailitan yang baru. Substansi tersebut antara lain:
1. Pada Failisment Verordenning tidak dikenal adanya kepastian Frame Time yaitu batas
waktu dalam penyelesaian kasus kepailitan sehingga proses penyelesaian akan menjadi
sangat lama sebab Undang-undang tidak memberi kepastian mengenai batas waktu. Hal
ini dalam PERPU No.1 Tahun 1998 diatur sehingga dalam penyelesaiannya lebih
singkat karena ditentukan masalah Frame Time.
2. Pada Failisment Verordening hanya dikenal satu Kurator yang bernama Weestcomer atau
Balai Harta Peninggalan. Para kalangan berpendapat kinerja dari Balai Harta
Peninggalan sangat mengecewakan dan terkesan lamban sehingga dalam PERPU No.1
Tahun 1998 diatur adanya Kurator Swasta.

3. Upaya Hukum Banding dipangkas, maksudnya segala upaya hukum dalam penyelesaian
kasus kepailitan yang dahulunya dapat dilakukan Banding dan Kasasi, kini dalam Perpu
No. 1 Tahun 1998 hanya dapat dilakukan Kasasi sehingga Banding tidak dibenarkan
lagi. Hal tersebut dikarenakan lamanya waktu yang ditempu dalam penyelesaian kasus
apabila Banding diperbolehkan.
4. Dalam Aturan yang baru terdapat Asas Verplichte Proccurure stelling yang artinya yang
dapat mengajukan kepailitan hanya Penasihat Hukum yang telah mempunyai/memiliki
izin praktek. Dalam UU No. 37 Tahun 2004 ditambah 1 pihak lagi yang dapat
mengjaukan permohonan kepailitan.

TUJUAN KEPAILITAN
Tujuan kepailitan sebagaimana tertuang dalam undang-undang antara lain :
1. Menghidari perebutan harta debitur apabila dalam waktu yang sama ada beberapa
kreditur yang menagih piutangnya.
2. Menghindari adanya kreditur pemegang hak jaminan kebendaan yang menunntut
haknya dengan cara menjual barang milik debitur tanpa memperhatikan kepentingan
debitur atau para kreditur lainnya.
3. Mencegah agar kreditur tidak melakukan perbuatan yang dapat merugikan
kepentingan para kreditur, atau debitur hanya menguntungkan kreditur tertentu.
4. Memberikan perlindungan kepada para kreditur konkuren untuk memperoleh hak
mereka sehubungan dengan berlakunya asas jaminan.
5. Memberikan kesempatan kepada debitur dan kreditur untuk berunding membuat
kesepakatan restrukturisasi hutang
Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat 1 tersebut diatas, maka syarat-syarat yuridis agar
debitor dapat dinyatakan pailit adalah sebagai berikut:
a. Adanya utang; Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar
lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit
dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan
satu atau lebih kreditornya
b. Minimal satu dari utang sudah jatuh tempo;
c. Minimal satu dari utang dapat ditagih;
d. Adanya kreditur dan Kreditur lebih dari satu;
e. Pernyataan pailit dilakukan oleh pengadilan;
f. Permohonan pailit diajukan oleh pihak yang berwenang;
g. Syarat-syarat yuridis lainnya yang disebutkan dalam undang-undang kepailitan;
Apabila syarat-syarat terpenuhi, hakim harus menyatakan pailit dengan segala akibat
hukumnya, bukan dapat menyatakan pailit, sehingga dalam hal ini kepada hakim tidak
diberikan ruang untuk memberikan judgement yang luas seperti perkara lainnya

Pihak Yang dapat Dijatuhi Putusan Kepailitan


Obyek undang-undang kepailitan adalah Debitor, yaitu Debitor yang tidak membayar
utang-utangnya kepada para Kreditornya. Setiap orang dapat dinyatakan pailit sepanjang
memenuhi ketentuan dalam Undang-undang Kepailitan.
Debitur yang dapat dinyatakan atau diajukan permohonan pailit diantaranya adalah :
a. Orang perorangan
Baik laki-laki maupun perorangan, menjalankan perusahaan atau tidak, yang
telah menikah maupun yang belum menikah. Jika permohonan pernyataan pailit
tersebut hanya dapat diajukan atas persetujuan suami atau istrinya, kecuali antara
suami istri tersebut tidak ada percampuran harta.
b. Harta peninggalan (warisan)
Harta peninggalan dari seseorang yan meningal dunia dapat dinyatakan
pailit apabila orang yang meninggal dunia itu semasa hidupnya berada dalam
keadaan berhenti menbayar utangnya, serta harta warisannya pada saat meninggal
dunia sipewaris tidak mencukupi untuk membayar utangnya. Untuk itu para ahli
waris harus dipanggil melalui juru sita untuk didengar tentang adanya permohonan
itu
c. Wanita yang bersuami atau sebaliknya.
Pernyataan kepailitan disini karena dia telah menikah maka seluruh harta
suami dan istri telah menjadi satu bila tidak ada perjanjian pisah harta.Setiap
perempuan yang bersuami yang melaksanakan pekerjaan tetap pada suatu
perusahaan ia pun dapat dinyatakan pailit oleh pengadilan tempat ia melakukan
pekerjaan atau oleh pengadilan tempat kediamannya.
Kepailitan terhadap wanita yang bersuami hanya dapat dinyatakan pailit
berdasarkan :
a) Hutang Istri itu sendiri secara pribadi harus bertanggung jawab karena adanya
izin dari suaminya.
b) Hutang Istri, dalam hal istri dengan izin yang tegas atau izin secara diam-diam
dari suami.
c) Hutang Istri dalam hal istri tersebut sebelum ia kawin dan hutang rumah
tangga.
d. Penjamin (guarantor)
Penanggungan utang atau borgtocht adalah suatu persetujuan dimana pihak
ketiga guna kepentingan kreditur mengikatkan dirinya untuk memenuhi kewajiban
debitur apabila debitur yang bersangkutan tidak dapat memenuhi kewajibannya.
e. Kepailitan Badan Hukum atau Perkumpulan Perseroan (holding company)
Dalam kepustakaan hukum belanda, istilah badan hukum dikenal dengan
sebutan rechtperson, dan dalam kepustakaan common law seringkali disebut dengan
istilah legal entity, justice person, atau artificial person.
Badan hukum bukanlah makhluk hidup sebagaimana halnya manusia. Badan
hukum kehilangan daya pikir, dan kehendak. Oleh karena itu ia hanya dapat
melakukan perbuatan-perbuatan hukum sendiri. Ia harus bertindak dengan perantara

orang (naturlijke personen), tetapi orang yang bertindak itu tidak bertindak untu
dirinya sendiri melainkan untuk dan atas nama pertanggungan gugat badan hukum.
Badan hukum selalu diwakili oleh organ dan perbuatan organ adalah
perbuatan badan hukum itu sendiri. Organ hanya dapat mengikatkan badan hukum,
jika tindakannya masih dalam batas dan wewenang yang telah ditentukan dalam
anggaran dasar.
Undang-undang kepailitan tidak mensyaratkan bahwa permohonan kepailitan
terhadap holding company dan anak-anak perusahaannya harus diajukan dalam satu
dokumen yang sama.
Permohonan-permohonan selain dapat diajukan dalam satu permohonan,
juga dapat diajukan terpisah sebagai dua permohonan. Dalam Hal ini peraturan
kepailitan menegaskan sebagai berikut, yakni, Bahwa terhadap suatu perseroan
Firma, didalam pelaporan tersebut harus memuat nama, dan tempat kediaman
masing-masing Persero yang secara tanggung menanggung terikat untuk seluruh
hutang-hutang Firma.
f. Bank
Undang-undang kepailitan dan PKPU membedakan antara debitur bank dan
bukan bank. Pembedaan tersebut dilakukan dalam hal siapa yang dapat mengajukan
permohonan pernyataan pailit. Apabila debitur adalah bank, permohonan
pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh bank Indonesia, karena bank sarat
dengan uang masyarakat yang harus dilindungi.

Pihak Yang Dapat Memintakan Adanya Kepailitan


Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 mensyaratkan bahwa permohonan pernyataan
pailit harus diajukan oleh pihak yang berwenang, bahkan panitera wajib tidak menerima
permohonan pernyataan pailit apabila diajukan oleh pihak yang tidak berwenang.
Berdasarkan Undang-undang Kepailitan, pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan
pernyataan pailit antara lain :
a. Debitor
Dalam setiap hal disyaratkan bahwa debitur mempunyai lebih dari satu orang
kreditor, karena merasa tidak mampu atau sudah tidak dapat membayar utangutangnya, dapat mengajukan permohonan pailit. Debitur harus membuktikan bahwa
ia mempunyai dua atau lebih kreditor serta juga membuktikan bahwa ia tidak dapat
membayar salah satu atau lebih utangnya yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih.
Apabila debitor telah menikah, maka harus ada persetujuan pasanganya, karena hal
ini menyangkut harta bersama, kecuali tidak ada pencampuran harta.
b. Kreditor
Dua orang kreditor atau lebih, baik secara sendiri-sendiri maupun bersamasama, dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit selama memenuhi syarat
yang telah ditentukan dalam Undang-undang. Kreditor yang mengajukan
permohonan pernyataan pailit bagi debitor harus memenuhi syarat bahwa hak
tuntutannya terbukti secara sederhana atau pembuktian mengenai hak kreditor untuk
menagih juga dilakukan secara sederhana.
c. Kejaksaan
Apabila permohonan pernyataan pailit mengandung unsure atau alasan untuk
kepentingan umum maka, permohonan harus diajukan oleh Kejaksaan. Kepentingan
umum yang dimaksud dalam Undang-undang adalah kepentingan bangsa dan Negara
dan/atau kepentingan masyarakat luas, seperti:

i.
ii.
iii.

Debitor melarikan diri;


Debitor menggelapkan harta kekayaan;
Debitor mempunyai utang kepada BUMN atau badan usaha lain yang
menghimpun dana dari masyarakat;
iv. Debitor mempunyai utang yang berasal dari penghimpunan dana dari
masyarakat luas;
v. Debitor tidak beritikad baik atau tidak kooperatif dalam menyelesaikan
masalah utang piutang yang telah jatuh waktu; atau
vi.
Dalam hal lainnya yang menurut kejaksaan merupakan kepentingan
umum.
d. Bank Indonesia
Bank Indonesia adalah satu-satunya pihak yang dapat mengajukan
permohonan pernyataan pailit jika debitornya adalah bank. Pengajuan permohonan
pernyataan pailit bagi bank sepenuhnya merupakan kewenangan Bank Indonesia dan
semata-mata didasarkan atas penilaian kondisi keuangan dan kondisi perbankan
secara keseluruhan, oleh karena itu tidak perlu dipertanggungjawabkan.
e. Badan Pengawas Pasar Modal
Apabila debitor adalah perusahaan Bursa Efek, Lembaga Kliring dan
Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian maka satu-satunya pihak yang
dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit adalah Badan Pengawas Pasar
Modal, karena lembaga tersebut melakukan kegiatan yang berhubungan dengan dana
masyarakat yang diinvestasikan dalam efek di bawah pengawasan Badan Pengawas
Pasar Modal.
f. Menteri Keuangan
Permohonan pernyataan pailit harus diajukan oleh Menteri Keuangan apabila
debitor adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Dana Pensiun, atau
Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik.
Penjelasan Pasal 2 ayat (5) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 disebutkan
bahwa Kewenangan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit bagi
Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi sepenuhnya ada pada Menteri
Keuangan.
Ketentuan ini diperlukan untuk membangun tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi sebagai lembaga
pengelola risiko dan sekaligus sebagai lembaga pengelola dana masyarakat yang
memiliki kedudukan strategis dalam pembangunan dan kehidupan perekonomian.
Kemudian Kewenangan untuk mengajukan pailit bagi Dana Pensiun, sepenuhnya ada
pada Menteri Keuangan. Ketentuan ini diperlukan untuk membangun tingkat
kepercayaan masyarakat terhadap Dana Pensiun, mengingat Dana Pensiun mengelola
dana masyarakat dalam jumlah besar dan dana tersebut merupakan hak dari peserta
yang banyak jumlahnya.
Permohonan pernyataan pailit ke Pengadilan tersebut harus melalui advokat
yang telah memiliki izin praktik beracara.
Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 menambah satu bab baru yaitu Bab
Ketiga mengenai Pengadilan Niaga. Pembentukan peradilan khusus ini diharapkan dapat
menyelesaikan masalah kepailitan secara cepat dan efektif. Pengadilan Niaga merupakan
diferensiasi atas peradilan umum yang dimungkinkan pembentukanya berdasarkan UndangUndang Nomor 14 Tahun 1970 tentang pokok-pokok kekuasaan kekuasaan kehakiman.

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 yang merupakan pembaharuan dari UndangUndang Nomor 4 Tahun 1998, tidak mengatur Pengadilan Niaga pada bab tersendiri, akan
tetapi masuk pada Bab V tentang Ketentuan Lain-lain mulai dari Pasal 299 sampai dengan
Pasal 303. Demikian juga dalam penyebutannya pada setiap pasal cukup dengan
menyebutkan kata Pengadilan tanpa ada kata Niaga karena merujuk pada Bab I tentang
Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 7 bahwa Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam
Lingkungan peradilan umum.

Tugas dan Wewenang Pengadilan Niaga


Mengenai tugas dan wewenang Pengadilan Niaga ini pada Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1998 diatur dalam Pasal 280, sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004 diatur pada Pasal 300. Pengadilan Niaga merupakan lembaga peradilan yang berada di
bawah lingkungan Peradilan Umum yang mempunyai tugas sebagai berikut (Rahayu Hartini,
2008 : 258 ) :
a. Memeriksa dan memutusakan permohonan pernyataan pailit;
b. Memeriksa dan memutus permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang;
c. Memeriksa perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya ditetapkan
dengan undang-undang, misalnya sengketa di bidang HaKI.
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 juga mengatur tentang kewenangan
Pengadilan Niaga dalam hubungannya dengan perjanjian yang mengadung klausula arbitrase.
Dalam Pasal 303 ditentukan bahwa Pengadilan tetap berwenang memeriksa dan
menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari pihak yang terikat perjanjian yang memuat
klausula arbitrase, sepanjang utang yang menjadi dasar permohonan pernyataan pailit telah
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) tentang syarat-syarat
kepailitan. Ketentuan pasal tersebut dimaksudkan untuk memberi penegasan bahwa
Pengadilan tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit
dari para pihak, sekalipun perjanjian utang piutang yang mereka buat memuat klausula
arbitrase.
Kompetensi Pengadilan Niaga
a. Kompetensi Relatif

Kompetensi relatif merupakan kewenangan atau kekuasaan mengadili antar


Pengadilan Niaga. Pengadilan Niaga sampai saat ini baru ada lima. Pengadilan Niaga
tersebut berkedudukan sama di Pengadilan Negeri. Pengadilan Niaga hanya
berwenang memeriksa dan memutus perkara pada daerah hukumnya masing-masing.
Sesesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 97 Tahun
1999 tentang pembentukan pengadilan niaga pada Pengadilan Negeri Ujung Pandang,
Pengadilan Negeri Medan, Pengadilan Negeri Surabaya, dan Pengadilan Negeri
Semarang, maka wilayah hukumnya adalah sebagai-berikut :
i.

Pasal 2 (1) Daerah hukum Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Ujung
Pandang meliputi Wilayah Propinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, dan Irian Jaya.

ii.

Pasal 2 (2) Daerah hukum Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan
meliputi Wilayah Propinsi Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Bengkulu,
Jambi, dan Daerah Istimewa Aceh.

iii.

Pasal 2 (3) Daerah hukum Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya
meliputi Wilayah Propinsi Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan
Tengah, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,
dan Timor Timur.

iv.

Pasal 2 (4) Daerah hukum Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri


Semarang meliputi Wilayah Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa
Yogyakarta.

v.

Pasal 5, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat meliputi


Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Propinsi Jawa Barat, Sumatera
Selatan, Lampung, dan Kalimantan Barat

Pasal 3 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menyatakan bahwa putusan


atas permohonan pernyataan pailit diputus oleh Pengadilan Niaga yang daerah
hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum Debitor, apabila debitor telah
meninggalkan wilayah Negara Republik Indonesia, maka Pengadilan yang berwenang

menjatuhkan putusan atas permohonan pernyataan pailit adalah Pengadilan yang


daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum terakhir Debitor. Dalam hal
debitor adalah pesero suatu firma, Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat
kedudukan hukum firma tersebut juga berwenang memutuskan.
Debitur yang tidak berkedudukan di wilayah negara Republik Indonesia tetapi
menjalankan profesi atau usahanya di wilayah negara Republik Indonesia, Pengadilan
yang berwenang adalah Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat
kedudukan atau kantor pusat Debitor menjalankan profesi atau usahanya di wilayah
negara Republik Indonesia. Dalam hal Debitor merupakan badan hukum, tempat
kedudukan hukumnya adalah sebagaimana dimaksud dalam anggaran dasarnya.

b. Kompetensi Absolut
Kompetensi absolut merupakan kewenangan memeriksa dan mengadili antar
badan peradilan. Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan
Kehakiman mengatur tentang badan peradilan beserta kewenangan yang dimiliki.
Pengadilan Niaga merupakan pengadilan khusus yang berada di bawah Pengadilan
umum yang diberi kewenangan untuk memeriksa dan memutus permohonan
pernyataan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Selain itu, menurut
Pasal 300 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, Pengadilan Niaga juga
berwenang pula memeriksa dan memutus perkara lain di bidang perniagaan yang
penetapannya dilakukan dengan undang-undang. Perkara lain di bidang perniagaan ini
misalnya, tentang gugatan pembatalan paten dan gugatan penghapusan pendaftaran
merek. Kedua hal tersebut masuk ke dalam bidang perniagaan dan diatur pula dalam
undang-undang yaitu Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten dan
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek. Dengan kompetensi absolut
ini maka hanya Pengadilan Niaga sebagai satu-satunya badan peradilan yang berhak
memeriksa dan memutus perkara-perkara tersebut.

TINGKATAN KREDITUR DI DALAM KEPAILITAN

Penentuan golongan kreditur di dalam Kepailitan adalah berdasarkan Pasal 1131


sampai dengan Pasal 1138 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) jo. UndangUndang No. 20 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang No. 6 Tahun
1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP); dan Undang-Undang
No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
(selanjutnya disebut sebagai UU Kepailitan).
Berdasarkan peraturan-peraturan di atas, golongan kreditur tersebut meliputi:
1. Kreditur yang kedudukannya di atas Kreditur pemegang hak jaminan kebendaan
(contoh utang pajak) dimana dasar hukum mengenai kreditur ini terdapat di dalam
Pasal 21 UU KUP jo pasal 1137 KUH Perdata;
2. Kreditur pemegang jaminan kebendaan yang disebut sebagai Kreditur Separatis (dasar
hukumnya adalah Pasal 1134 ayat 2 KUH Perdata). Hingga hari ini jaminan
kebendaan yang dikenal/diatur di Indonesia adalah:
o

Gadai;

Fidusia;

Hak Tanggungan; dan

Hipotik Kapal;[1]

3. Utang harta pailit. Yang termasuk utang harta pailit antara lain adalah sebagai berikut:
o

Biaya kepailitan dan fee Kurator;

Upah buruh, baik untuk waktu sebelum Debitur pailit maupun sesudah Debitur
pailit (Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004);[2] dan

Sewa gedung sesudah Debitur pailit dan seterusnya (Pasal 38 ayat (4) UndangUndang No. 37 Tahun 2004);

4. Kreditur preferen khusus, sebagaimana terdapat di dalam Pasal 1139 KUH Perdata,
dan Kreditur preferen umum, sebagaimana terdapat di dalam Pasal 1149 KUH
Perdata; dan
5. Kreditur konkuren. Kreditur golongan ini adalah semua Kreditur yang tidak masuk
Kreditur separatis dan tidak termasuk Kreditur preferen khusus maupun umum (Pasal
1131 jo. Pasal 1132 KUH Perdata).
Dari lima golongan kreditur yang telah disebutkan di atas, berdasarkan Pasal 1134 ayat 2
jo. Pasal 1137 KUH Perdata dan Pasal 21 UU KUP, Kreditur piutang pajak mempunyai
kedudukan di atas Kreditur Separatis. Dalam hal Kreditur Separatis mengeksekusi objek
jaminan kebendaannya berdasarkan Pasal 55 ayat 1 UU Kepailitan, maka kedudukan tagihan
pajak di atas Kreditur Separatis hilang. Pasal 21 ayat 3 Undang-Undang No. 28 Tahun 2008,
menentukan :

Hak mendahului untuk pajak melebihi segala hak mendahului lainnya kecuali terhadap :
i.
biaya perkara yang hanya disebabkan oleh suatu penghukuman untuk melelang suatu
barang bergerak dan atau barang tidak bergerak
ii.
biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud, dan atau
iii.
biaya perkara yang hanya disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaian suatu
warisan.
Menurut Pasal 95 ayat 4 UU Kepailitan menentukan bahwa dalam hal perusahaan
dinyatakan pailit atau likuidasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan
pembayarannya. Dan, penjelasannya menyebutkan yang dimaksud didahulukan
pembayarannya adalah upah pekerja/buruh harus dibayar lebih dahulu daripada utang-utang
lainnya. Kedudukan tagihan upah buruh tetap tidak dapat lebih tinggi dari kedudukan piutang
Kreditur Separatis karena upah buruh bukan utang kas Negara.
Pembagian kreditor dalam kepailitan sesuai dengan prinsip structured creditors atau
prinsip structured prorata yang diartikan sebagai prinsip yang mengklasifikasikan atau
mengelompokkan berbagai macam kreditur sesuai dengan kelasnya masing-masing antara
lain kreditur separatis, preferen, dan kongkruen. Pembagian hasil penjualan harta pailit,
dilakukan berdasarkan urutan prioritas di mana kreditor yang kedudukannnya lebih tinggi
mendapatkan pembagian lebih dahulu dari kreditor lain yang kedudukannya lebih rendah, dan
antara kreditur yang memiliki tingkatan yang sama memperoleh pembayaran dengan asas
prorata (pari passu prorata parte).
Sebagaimana telah disebutkan di atas, kreditor separatis adalah kreditor pemegang hak
jaminan terhadap hipotek, gadai, hak tanggungan, dan jaminan fidusia. Sedangkan yang
dimaksud dengan kreditor preferen adalah kreditor yang memiliki piutang-piutang yang
berkedudukan istimewa (privilege) sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1139 dan Pasal 1149
KUH Perdata.
Hak privilege merupakan hak istimewa yang didahulukan (dikecualikan) karena undangundang atau ditentukan dalam perjanjian. Piutang-piutang yang pelunasannya harus
didahulukan itu juga disebut dengan piutang preference atau piutang istimewa, sedangkan
piutang-piutang yang pelunasannya diselesaikan menurut asas keseimbangan dinamakan
piutang konkuren.
Kreditor preferen yaitu kreditor yang mempunyai hak mendahului karena sifat piutangnya
oleh undang-undang diberi kedudukan istimewa. Kreditor preferen terdiri dari kreditor
preferen khusus sebagaimana diatur dalam Pasal 1139 KUH Perdata, dan kreditor preferen
umum sebagaimana diatur dalam Pasal 1149 KUH Perdata.
Hak privilege dimaksud dalam Pasal 1134 KUH Perdata adalah suatu kedudukan
istimewa dari seorang penagih (kreditor preferen) yang diberikan undang-undang
berdasarkan sifat piutang. Hak privilege baru muncul jika kekayaan yang disita tidak cukup
untuk melunasi semua tang. Oleh karena itu kedudukan hak privilege lebih rendah dari gadai,
hak tanggungan, hipotek, dan jaminan fidusia kecuali ditentukan lain.
Kreditor konkuren adalah kreditor yang mempunyai hak mendapatkan pelunasan secara
bersama-sama tanpa hak yang didahulukan, dihitung besarnya piutang masing-masing
terhadap piutang secara keseluruhan dari seluruh harta kekayaan debitor. Kreditor Konkuren
yaitu kreditor yang tidak termasuk dalam kreditor separatis dan kreditor preferen.
Kreditur kongkruen adalah kreditur yang biasa yang tidak dijamin dengan gadai, jaminan
fidusia, hipotik, dan hak tanggungan dan pembayarannya dilakukan secara berimbang.
Kreditur inilah yang umum melaksanakan prinsip pari passu prorata parte, pelunasan secara

bersama-sama tanpa hak yang didahulukan, dihitung besarnya piutang masing-masing


terhadap piutang secara keseluruhan dari seluruh kekayaan debitur.
Berdasarkan pengertian-pengertian tentang kreditor di atas disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan kreditor separatis adalah kreditor yang dapat menjual sendiri benda
jaminan seolah-olah tidak terjadi kepailitan, dan golongan ini dapat dikatakan sebagai
kreditor yang tidak terkena akibat kepailitan. Kreditor preferen adalah golongan kreditor yang
piutangnya memiliki kedudukan istimewa, memiliki hak untuk mendapat pelunasan terlebih
dahulu. Kreditor konkuren adalah kreditor yang dicukupkan pembayaran piutang-piutangnya
dari hasil penjualan harta pailit sesudah diambil bagian untuk kreditor separatis dan kreditor
preferen.