Anda di halaman 1dari 95

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

Nomor : 44/Menhut-II/2013
TENTANG
RENCANA KERJA
KEMENTERIAN KEHUTANAN TAHUN 2014
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004
tentang Rencana Kerja Pemerintah, dan Peraturan Presiden Republik
Indonesia Nomor 54 Tahun 2012 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun
2013 mengamanatkan setiap Kementerian/Lembaga Negara menyusun
Rencana Kerja Kementerian/Lembaga yang merupakan penjabaran
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014 dan Rencana
Strategis Kementerian Kehutanan Tahun 2010-2014;
b. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas, perlu ditetapkan Peraturan
Menteri Kehutanan tentang Rencana Kerja Kementerian Kehutanan Tahun
2014;
Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya


Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3419);
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3888), sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun .....

-2-

Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia


Nomor 4412);
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah
beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja
Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 74,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4405);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan
Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 146,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4452);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 22, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4696) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun
2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 16,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4814);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana
Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga;
9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 20102014;
10. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2013 tentang
Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014;
11. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.51/MenhutII/2010 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kehutanan
Tahun 2010-2014;
12. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.40/Menhut-II/2010
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan;

tentang

13. Peraturan .....

-3-

13. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.42/Menhut-II/2010 tentang Sistem


Perencanaan Kehutanan;
14. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.33/Menhut-II/2012 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.40/Menhut-II/2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan;
15. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.15/Menhut-II/2013 tentang
Perubahan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.51/Menhut-II/2010
tentang Rencana Strategis Kementerian Kehutanan Tahun 2010-2014;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan

: PERATURAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG RENCANA KERJA


KEMENTERIAN KEHUTANAN TAHUN 2014.

Pasal 1
Rencana Kerja Kementerian Kehutanan Tahun 2014 adalah sebagaimana tercantum dalam
lampiran Peraturan ini.
Pasal 2
Renja Kementerian Kehutanan ini menjadi acuan dalam penyusunan Renja dan dokumen
anggaran unit kerja Eselon I dan Eselon II lingkup Kementerian Kehutanan Tahun 2014.
Pasal 3
Unit Pelaksana Teknis lingkup Kementerian Kehutanan menyusun Renja Tahun 2014 mengacu
pada Renja Unit Kerja Eselon I-nya.
Pasal 4
Peraturan Menteri Kehutanan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri Kehutanan ini diundangkan dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 29 Agustus 2013
MENTERI KEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 2 September 2013

ZULKIFLI HASAN

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA


REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
AMIR SYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR 1074
Salinan sesuai dengan aslinya
KEPALA BIRO HUKUM DAN ORGANISASI,
ttd.
KRISNA RYA

Kementerian Kehutanan

Rencana Kerja Tahun 2014

Banyak pohon, banyak rejeki

TN. Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan

ii

Rencana Kerja 2014

Rencana Kerja Tahun 2014


Kementerian Kehutanan, Republik Indonesia

iii

Rencana Kerja 2014

Menteri Kehutanan melepaskan tukik, anak penyu, hasil


penetasan semi alami kembali ke alam di TN. Wakatobi

Pengantar Menteri Kehutanan Republik Indonesia


Renja Tahun 2014 ini merupakan dokumen perencanaan pembangunan kehutanan, yang proses
penyusunannya berusaha melibatkan berbagai pihak untuk memperluas hasil yang ingin diperoleh.
Diantaranya melalui forum Rakorenbanghutda di seluruh provinsi dan Musrenbangnas. Indikasi sasaran di
setiap provinsi juga telah disepakati Kementerian Kehutanan, Kementerian PPN/Bappenas dan Bappeda
Provinsi.

Rencana Kerja 2014

Renja Tahun 2014 ini disusun bersamaan dengan RKP Tahun


2014,

yang telah

ditetapkan sebagai

Peraturan Presiden

Republik I n d o n e s i a Nomor 39 Tahun 2013. Dengan demikian,


Renja Tahun ini merupakan bagian sekaligus penjabaran dari
RKP Tahun 2014.
Berangkat

dari

keinginan

untuk

senantiasa

melakukan

penyempurnaan, Kementerian Kehutanan berusaha menyajikan


Renja Tahun 2014, meliputi : (1) capaian pembangunan
kehutanan

hingga

Tahun

2012

dan

kemungkinan

peningkatannya di Tahun 2013; (2) tantangan dan kebijakan;


(3) target pembangunan kehutanan provinsi; (4) pengukuran
kinerja. Bagian terakhir dari Renja Tahun 2014 ini merupakan
upaya

untuk

memperbaiki

tata

kelola

pemerintahan

di

lingkungan Kementerian Kehutanan, sedemikian rupa sehingga


kinerja dapat dipenuhi.
Akhirnya,

semoga

Allah

SWT,

melimpahkan

rahmat

dan

karunianya bagi kita sehingga seluruh kinerja yang dirumuskan


dapat dicapai. Amin

Menteri Kehutanan Republik Indonesia,

ttd.
Dr.(HC) ZULKIFLI HASAN, SE., MM

ii

Rencana Kerja 2014

Daftar Isi

i.

I.

Pengantar Menteri Kehutanan

Pendahuluan..1

Republik Indonesia

II.

iii.

Tantangan dan

Daftar Isi

Kebijakan..27

III.

iv.

Target Pembangunan

Daftar Tabel

Kehutanan Provinsi Tahun


2014..44

v.

IV.

Daftar Singkatan

Pengukuran Kinerja Tahun


2014..56

vii.

V.

Ringkasan Eksekutif

Penutup..74

Menteri Kehutanan menanam (atas),


bersiap menyelam (tengah), keduanya di
Pulau Wangi, TN. Wakatobi. Gambar bawah
adalah kehidupan nelayan di Pulau
Kaledupa, TN. Wakatobi.

iii

Rencana Kerja 2014

Harimau Sumatera tertangkap kamera di Lokasi Pemasangan Kamera Penjebak


Batang Ule - Tebo, Kab. Bungo, Jambi, tanggal 14 November 2012, TN. Kerinci Seblat

Daftar Tabel
No.

Teks

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

Perkembangan pemantapan kawasan hutan. ........................................................................................


Perkembangan pelepasan kawasan hutan hingga Mei 2013...........................................................
Perkembangan pemenuhan bahan baku..................................................................................................
Perkembangan ijin pemanfaatan hasil hutan kayu. ............................................................................
Perkembangan ekspor kayu .........................................................................................................................
Perkembangan produk kayu olahan .........................................................................................................
Perkembangan penyelesaian konflik kawasan konservasi .............................................................
Perkembangan pengelolaan ekosistem esensial .................................................................................
Perkembangan 14 spesies prioritas utama ............................................................................................
Perkembangan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar ...................................................................
Perkembangan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan konservasi .................................
Perkembangan rehabilitasi hutan dan lahan ........................................................................................
Perkembangan pembuatan KBR .................................................................................................................
Perkembangan HKm, HD dan HR (kemitraan) .....................................................................................
Jenis HHBK unggulan nasional dan lokasi klaster ...............................................................................
Perkembangan Penyelenggaraan, Penyuluhan, Kediklatan, dan
Pengembangan SDM Kehutananan ............................................................................................................
Perkembangan pemantauan kinerja pengawasan ..............................................................................
Status Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi hingga B-03 .........................
Perkembangan pencapaian kinerja Sekretariat Jenderal .................................................................
Perkembangan PNBP Kehutanan ...............................................................................................................
Perkembangan realisasi anggaran Kemenhut ......................................................................................
Perkembangan pelaksanaan SAKIP ..........................................................................................................
Prioritas nasional pembangunan kehutanan 2013 ............................................................................
Prioritas pembangunan bidang sumberdaya alam .............................................................................

17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.

halaman

iv

3
4
5
6
6
7
9
10
11
14
15
16
17
18
19
21
24
24
25
25
26
26
31
32

Rencana Kerja 2014

Daftar Singkatan

Bappeda

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Bappenas :

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

BMN

Barang Milik Negara

BPKH

Balai Pemantapan Kawasan Hutan

BP2SDM

Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM

BPDAS

Balai Pengelolaan DAS

BPDASPS

Bina Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial

BPK

Badan Pemeriksa Keuangan

BUK

Bina Usaha Kehutanan

CA

Cagar Alam

DAS

Daerah Aliran Sungai

DAOPS

Daerah Operasional

Diklat

Pendidikan dan Pelatihan

Dishut

Dinas Kehutanan

DR

Dana Reboisasi

FEM

Food, energy , medicine

HA

Hutan Alam

HD

Hutan Desa

HHBK

Hasil Hutan Bukan Kayu

HKm

Hutan Kemasyarakatan

HL

Hutan Lindung

HR (K)

Hutan Rakyat (kemitraan)

HT

Hutan Tanaman

HTI

Hutan Tanaman Industri

HTR

Hutan Tanaman Rakyat

IHMB

Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala

IKK

Indikator Kinerja Kegiatan

IKU

Indikator Kinerja Utama

IPK

Izin Pemanfaatan Kayu

IUPHHK

Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu

K/L

Kementerian/Lembaga

KBR

Kebun Bibit Rakyat

Kemenhut :

Kementerian Kehutanan

KPH

Kesatuan Pengelolaan Hutan

LH

Lingkungan hidup

LHA

Laporan Hasil Audit

LC

: Land Clearing
v

Rencana Kerja 2014

Litbang

Penelitian dan Pengembangan

LOA

Logged Over Areas

Musrenbangnas

Musyawarah Pembangunan Nasional

Rakorenbanghutda

Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Kehutanan Daerah

Rakorenbanghutreg

Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Kehutanan Regional

RE

Restorasi Ekosistem

Renja

Rencana Kerja

Renstra

Rencana Strategis

RHL

Rehabilitasi Hutan dan Lahan

RKP

Rencana Kerja Pemerintah

RKTN

Rencana Kehutanan Tingkat Nasional

RPDAST

Rencana Pengelolaan DAS Terpadu

RSNI

Rancangan Standar Nasional Indonesia

RTk

Rencana Teknik

PHKA

Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam

RTRW

Rencana Tata Ruang Wilayah

PNBP

Pendapatan Negara Bukan Pajak

PPN

Perencanaan Pembangunan Nasional

PSDH

Provisi Sumberdaya Hutan

SDA

Sumberdaya Alam

SDH

Sumberdaya Hutan

SDM

Sumberdaya Manusia

SM

Suaka Margasatwa

SNI

Standar Nasional Indonesia

TB

Taman Buru

TN

Taman Nasional

TSP

Temporary Sampling Plot

PSP

Permanent Sampling Plot

UPT

Unit Pelaksana Teknis

vi

Rencana Kerja 2014

Ringkasan Eksekutif

Penanaman mangrove oleh pelajar, di Kaledupa, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara

Pembangunan kehutanan diarahkan pada rehabilitasi hutan dan lahan yang terdegradasi dan gundul
akibat deforestasi dalam rangka peningkatan penutupan lahan untuk mencegah erosi, banjir, dan
kebakaran hutan sekaligus menyerap CO2 di udara terkait mitigasi perubahan iklim dan berkontribusi
terhadap penyediaan kayu sebagai bahan industri dan pengembangan jasa lingkungan hutan seperti
perbaikan tata air, keindahan wisata alam, dan pemulihan keanekaragaman hayati.
Rehabilitasi hutan dan lahan telah berhasil menurunkan lahan kritis seluas 2,9 juta ha yang mana
pada tahun 2006 seluas 30,1 juta ha dan pada tahun 2011 menjadi seluas 27,2 juta ha. Pada tahun
2012 telah dilakukan rehabilitasi hutan konservasi/lindung seluas 100.986 ha dan rehabilitasi lahan
kritis, termasuk penanaman hasil KBR Tahun 2011 seluas 398.631 ha dan rehabilitasi mangrove,
gambut dan rawa seluas 8.869 ha. Disamping itu Gerakan Menanam Satu Milyar Pohon pada tahun
2010 terealisasi sebanyak 1,39 Milyar pohon, pada tahun 2011 sebanyak 1,52 Milyar pohon, dan pada
tahun 2012 meningkat menjadi 1,6 Milyar pohon.
Pada tahun 2013, rehabilitasi

hutan dan lahan akan ditingkatkan seluas

563.446 ha. Upaya

rehabilitasi ini didukung dengan fasilitasi penetapan areal kerja HKm dan HD serta pembangunan HR
Kemitraan. Selama periode 2010-2012, areal kerja HKm dan HD telah diverifikasi seluas 1.538.199,80
vii

Rencana Kerja 2014

ha, dan pengembangan HR kemitraan seluas 158.492 ha. Pada tahun 2013, program ini ditingkatkan
menjadi seluas 500.175 ha untuk HKm dan HD, serta 50.000 ha pengembangan HR kemitraan dalam
rangka menciptakan lapangan kerja (creating job) dan pengentasan kemiskinan di pedesaan sekitar
atau di dalam kawasan hutan.
Pembalakan liar dan perambahan terhadap kawasan hutan konservasi terus diturunkan hingga 24.100
ha di tahun 2012, dari total 25 ribu ha yang harus diselesaikan di akhir 2014. Untuk memerangi
pembalakan liar perambahan kawasan hutan tanpa izin yang dilakukan secara terorganisasi,
Pemerintah bersama DPR-RI telah mengesahkan Undang-undang Pencegahan dan Pemberantasan
Perusakan Hutan. Demikian juga untuk menangani kasus-kasus kejahatan kehutanan, telah dilakukan
MoU penanganan kejahatan kehutanan melalui multi doors system, yaitu K/L yang terkait dengan
penegakan hukum dan penerimaan negara,

dimana para pelaku kejahatan kehutanan dapat

dikenakan pasal berlapis tidak saja Undang-undang Kehutanan, tetapi juga Undang-undang
Lingkungan Hidup, Undang-undang tentang Pencucian Uang, dan Undang-undang tentang Korupsi.
Demikian juga untuk pemantapan kawasan hutan dan perbaikan tata kelola kehutanan, telah dibuat
MoU oleh 12 K/L yang langsung dan tidak langsung berkaitan dengan penyelesaian penatagunaan
kawasan hutan yang diinisiasi oleh KPK.
Untuk pemulihan keanekaragaman hayati, populasi spesies prioritas berhasil ditingkatkan pada tahun
2012 dibandingkan dengan data tahun 2008. Spesies Bekantan, Kakaktua Jambul Kuning dan Maleo
memiliki kecenderungan peningkatan populasi terbesar, demikian halnya dengan Badak Jawa,
Harimau Sumatera dan Orangutan Kalimantan dan Komodo.

Untuk meningkatkan mekanisme

perlindungan kawasan yang dianggap penting di luar kawasan konservasi, pada tahun 2012 telah
dibangun komitmen para pihak di 3 lokasi, yaitu Kabupaten Tulang Bawang untuk perlindungan
ekosistem lahan basah, Kabupaten Bengkalis untuk perlindungan ekosistem mangrove dan gambut,
dan Kabupaten Ciamis untuk perlindungan perairan dan karst. Secara kumulatif, telah dibangun 10
komitmen para pihak di DI. Yogyakarta, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Kalimantan
Timur, Jawa Timur dan Papua Barat.
Selain itu untuk mencegah laju deforestasi dan degradasi hutan, pemerintah melakukan moratorium
izin baru di kawasan hutan alam primer dan gambut melalui INPRES No. 11 Tahun 2010 dan
diperpanjang dengan INPRES No. 6 Tahun 2013. Selain melakukan moratorium tersebut pemerintah
menyediakan lahan hutan terdegradasi untuk investasi kehutanan dalam rangka creating job melalui
pembangunan HTR, HKm, HD, HTI, dan perbaikan sistem silvikultur.

viii

Rencana Kerja 2014

Pengepakan kayu lapis untuk eksport di PT. Balikpapan Forest Industries, Kalimantan Timur

Berdasarkan kebijakan, program, dan kegiatan di atas, laju deforestasi dan degradasi hutan untuk
periode 2009-2011 tinggal 450 ribu ha dibandingkan pada periode 1998-2002 yang mencapai sekitar
3,5 juta ha. Berdasarkan data deforestasi periode 1990-2003 rata-rata sebesar 1,125 juta ha per tahun
bila ditetapkan sebagai baseline penghitungan penurunan emisi di hutan, maka dengan penurunan
deforestasi rata-rata pada periode 2003-2006 ke periode 2009-2011 sebesar 0,675 juta ha per tahun
dengan asumsi 1 ha sebesar 725 ton CO2 ekuivalen, maka penurunan emisi dari hutan sebesar 489 juta
ton CO2 ekuivalen atau setara 72,8% dari kewajiban RAN-GRK kehutanan sampai dengan 2020 sebesar
87,6%. Dengan demikian penurunan emisi gas rumah kaca akan lebih murah dan melibatkan banyak
pemangku kepentingan bila kita lakukan dengan mencegah laju deforestasi dengan sungguh-sungguh
dan benar.
Pemerintah juga berkepentingan terhadap pertumbuhan ekonomi di bidang kehutanan di bidang
produksi kayu lestari dimana pada 2012 produksi mencapai 49,11 juta m3, atau meningkat dibanding
tahun 2011 (sebesar 47,42 juta m3). Adapun produksi dari HT tahun 2009 sebesar 18,95 juta m3 dan
pada tahun 2012 telah mencapai 26,12 juta m3. Sedangkan HR, produksi pada tahun 2010 sekitar 2,76
juta m3 meningkat menjadi sekitar 3,20 juta m3 pada tahun 2012.

ix

Rencana Kerja 2014

Pembuatan gula aren, aktivitas pemberdayaan masyarakat TN. Bantimurung Bulusaraung,


di Desa Tompobulu, Kec. Balocci Kab. Pangkep, Sulawesi Selatan

Sementara itu nilai ekspor produk kehutanan berupa kayu olahan pada tahun 2012 sebesar US$ 2,41
milyar. Sedangkan realisasi PNBP Kehutanan tahun 2012 sebesar Rp. 3,3 trilyun dan pada Juni 2013
sebesar Rp. 1,3 trilyun.
Perkiraan tenaga kerja yang terserap di tahun 2012 dengan adanya industri kehutanan, ijin usaha
pemanfaatan hutan alam, hutan tanaman industri, hutan tanaman rakyat, hutan rakyat, pengusahaan
pariwisata alam, penangkaran dan pengedar tumbuhan dan satwa liar, diperkirakan sebanyak 79.415
orang. Angka ini belum termasuk keterlibatan masyarakat dalam pembuatan kebun bibit rakyat,
kelompok usaha produktif mandiri dan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat.
Terkait dengan upaya peningkatan pendapatan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, sebagai upaya
dalam pengentasan kemiskinan, dari data tahun 2012 menunjukkan bahwa pendapatan masyarakat
rata-rata meningkat dibanding tahun 2011 sebesar 15,60%. Masyarakat di wilayah pengelolaan satuan
kerja yang telah melebihi target pendapatannya hingga di atas Rp.1.000.000,-/kk/bulan berturut-turut
adalah di BKSDA Jawa Timur (sebesar Rp. 1.826.500,-/kk/bulan), di BTN. Bogani Nani Wartabone
(sebesar Rp. 1.777.794,-/kk/bulan), di BTN. Karimunjawa (sebesar Rp. 1.777.604,-/kk/bulan), di
BKSDA Lampung (sebesar Rp. 1.300.000,-/kk/bulan), di BBKSDA Bukit Barisan Selatan (sebesar Rp.
1.052.340,-/kk/bulan) dan di BTN. Wasur (sebesar Rp. 1.000.000,-/kk/bulan).

Rencana Kerja 2014

Selanjutnya, capaian sasaran srategis pembangunan kehutanan 2010-2014 disajikan sebagai berikut ;
Posisi

Capaian
hingga 2012
1.124.577 ha
1.538.199,80
ha

Perkiraan
capaian 2013
748.285 ha

45,11%

59,2%

95 DAS

13 DAS

On the track

WTP (DPP)

WTP

Tercapai

25.135,91 km

19.000 km

60 KPH

30 KPH

On the track

17.457 orang

3.000 orang

Target terlampui

Terbentuknya kerjasama kemitraan melalui peningkatan peran


serta pelaku utama dan pelaku usaha dalam pemberdayaan
masyarakat sebanyak 50 kerjasama

30 kerjasama

10 kerjasama

On the track

Data dan informasi sebanyak 5 judul(3)

Neraca
Sumberdaya
Hutan 3 judul

Neraca
Sumberdaya
Hutan 1 judul

On the track

4,87%

5,37%

Target terlampui

1.159.609 ha
858.586 ha

600.000 ha
650.000 ha

Need more effort


Need more effort

53,18%

10%

Target terlampui

60%

20%

On the track

57,14%

64%

On the track

36,43%
74,27%
16,46%

40%
40%
20%

On the track

Sasaran strategis pembangunan kehutanan 2010-2014

Kontrak kinerja
Menteri Kehutanan

Tanaman rehabilitasi seluas 2,5 juta ha(1)


Terbangunnya HKm dan HD seluas 2,5 juta ha
Hotspot turun 20% per tahun di Pulau Sumatera, Kalimantan
dan sulawesi
Rencana pengelolaan DAS terpadu sebanyak 108 DAS
Opini wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan
Kementerian Kehutanan mulai laporan keuangan tahun 2011
Tata batas kawasan hutan sepanjang 25.000 km(2)

Peningkatan tata kelola

Inisiatif baru
Prioritas nasional
RKP 2013

KPH beroperasi sebanyak 120 KPH

1.

2.
3.

Penyelenggaraan Diklat aparatur dan SDM kehutanan lainnya


sebanyak 15.000 orang

Populasi spesies prioritas utama yang terancam punah


meningkat 3% dari kondisi tahun 2008
Hutan tanaman bertambah seluas 2,65 juta ha
IUPHHK-HA/RE pada LOA seluas 2,5 juta ha
Produk industri hasil hutan yang bersertifikat legalitas kayu
meningkat 50%
Penyediaan teknologi dasar dan terapan sebanyak 25 judul
Penanganan perkara, pemulihan hak-hak negara bidang
kehutanan menang 80%
Kelemahan administrasi, pelanggaran perundangan diturunkan
50%, serta potensi kerugian negara diturunkan 25% dari
temuan 2006-2009

Status
On the track
On the track

566.295 ha

On the track

Target terlampui

Catatan :
Target RPJMN 2010-2014 seluas 1,6 juta ha, tidak termasuk di dalamnya adalah hasil penanaman satu milyar pohon, dan hasil-hasil
penanaman yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah, pelajar dan perusahaan.
Hasil inisiatif baru panjang batas menjadi 63.000 km
Termasuk di dalamnya menampung kebijakan penundaan pemberian ijin baru dalam bentuk PIPPIB

xi

Rencana Kerja 2014

Panorama bawah laut TN. Wakatobi.

I.

PENDAHULUAN

Renja Kementerian Kehutanan Tahun 2014 disusun berdasarkan hasil dari proses perencanaan di
provinsi (Rakorenbanghutda) dan kesepakatan antara Kementerian Kehutanan, Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan Bappeda Provinsi di seluruh Indonesia (trilateral
desk).
Renja Kementerian Kehutanan 2014 menyajikan : (1) capaian pembangunan kehutanan hingga tahun
2012, dan kemungkinan peningkatannya pada tahun 2013; (2) tantangan dan kebijakan tahun 2014;
(3) target pembangunan kehutanan provinsi tahun 2014; dan (4) pengukuran kinerja tahun 2014.

Rencana Kerja 2014

Monitoring kesehatan karang di Kaledupa, TN. Wakatobi.

Perencanaan Makro Bidang Kehutanan dan Pemantapan Kawasan Hutan

Pada tahun 2012 telah diselesaikan penataan batas luar dan batas fungsi kawasan hutan sepanjang
16.621,08 km. Secara kumulatif, hingga tahun 2012 telah dicapai penyelesaian tata batas sepanjang
25.135,91 km dan angka ini akan ditingkatkan sepanjang 19.000 km di tahun 2013. Peningkatan target
tata batas ini diharapkan dapat membantu menyelesaikan konflik pemanfaatan kawasan hutan dan
mempercepat penyelesaian RTRW Provinsi dan RTRW Kabupaten/Kota. Sampai dengan tahun 2012
telah diselesaikan persetujuan substansi kehutanan di 22 Provinsi.
Secara paralel, pengelolaan di tingkat tapak ini diperkuat dengan pembentukan KPH. Pembentukan
dan operasionalisasi KPH hingga saat ini telah mencapai 60 unit, diperkirakan tahun 2013 bertambah
menjadi 90 unit.
Untuk mendorong operasionalisasi KPH dilakukan peningkatan sumber daya manusia, baik dari
jumlah maupun kapasitas, melalui penyelenggaraan diklat calon kepala KPH. Hingga tahun 2012 telah
dicapai 86 personil calon kepala KPH dan tahun 2013 diperkirakan bertambah menjadi sebanyak 120
personil calon kepala KPH.

Rencana Kerja 2014

Puncak Kayangan, sering di sebut dengan Bukit Kima, di Tomia, TN. Wakatobi.

Tabel 1. Perkembangan pemantapan kawasan hutan.


Komponen

Tahun
2009

2010

2011

2012

1216

3.366

5.148,83

16.621,08

10

12

12

36

Ijin prinsip Menhut (unit)

16

17

Ijin prinsip Menhut (luas)

266.570

13.254

208.327

24.275

SK. Pelepasan (unit)

17

19

11

SK. Pelepasan (luas)

258.614,3

196.405,15

223.076,47

Ijin prinsip Menhut (unit)

Ijin prinsip Menhut (luas)

2.316,6

1.836

751,77

Pelepasan (unit)

259

Pelepasan (luas)

956.672,8

1.329,76

1. Tata batas (km)


2. KPH
3. Pelepasan Kawasan Hutan
a. Perkebunan

b. Permukiman Transmigrasi

4. Tata Ruang
a. Persetujuan Menhut

11

15

22

b. Proses persetujuan Menhut

11

c. Belum mengajukan review

15

17

15

d. Proses Tim Terpadu


3

Rencana Kerja 2014

Terkait dengan pelepasan kawasan hutan, hingga Mei 2013 telah dilepaskan 962 ribu ha untuk
transmigrasi dan 5,8 juta ha untuk wilayah perkebunan. Upaya ini diharapkan dapat membantu
menyelesaikan permasalahan penggunaan ruang. (Tabel 2).
Tabel 2. Perkembangan pelepasan kawasan hutan hingga Mei 2013.
No.

Transmigrasi

Provinsi

Unit

Perkebunan
ha

Unit

ha

Aceh

12

39.376,65

58

265.743,70

Sumatera Utara

12

28.054,00

27

142.762,33

Sumatera Barat

10

17.433,85

26

157.956,37

Riau

11

66.499,78

136

1.529.740,70

Jambi

14

78.412,53

44

345.775,98

Sumatera Selatan

30

121.222,46

34

328.188,28

Bengkulu

14.327,45

11

57.581,25

Lampung

16

134.147,20

83.964,15

10

Kep. Riau

7.530,00

55.333,03

18

NTB

2.950,00

846,86

19

NTT

1.137,00

20

Kalimantan Barat

17

49.199,16

20

241.540,14

21

Kalimantan Tengah

30

68.511,52

66

712.675,78

22

Kalimantan Selatan

43.501,50

18

214.204,83

23

Kalimantan Timur

39.891,09

56

492.942,79

24

Sulawesi Utara

2.000,00

25

Sulawesi Tengah

17

36.623,79

78.532,90

26

Sulawesi Selatan

7.447,85

4.584,50

27

Sulawesi Tenggara

21

54.446,21

20.784,20

28

Gorontalo

5.089,56

53.966,68

29

Sulawesi Barat

3.944,80

10

103.776,71

30

Maluku

5.664,58

12

12.657,74

31

Maluku Utara

11

20.032,64

10

52.421,57

32

Papua

15

92.304,10

24

671.050,84

33

Papua Barat

24.890,38

13

250.948,81

Jumlah

266

962.638,10

605

5.879.980,14

Menindaklanjuti penetapan RKTN Tahun 2011-2030, yang memuat arahan pemanfaatan dan
penggunaan kawasan hutan 20 tahun kedepan, hingga saat ini 5 provinsi telah menetapkan Peraturan
Gubernur tentang rencana kehutanan tingkat provinsi.

Rencana Kerja 2014

Peningkatan Usaha Kehutanan

Produksi kayu sebagai bahan baku industri tahun 2012 mencapai 49,11 juta m3, angka ini meningkat
dibanding tahun 2011 (sebesar 47,42 juta m3). Kecenderungan peningkatan ini terjadi sejak tahun
2009 (sebesar 37,59 juta m3) dan tahun 2010 (sebesar 44,25 juta m3). Sumbangan terbesar produksi
kayu diberikan oleh hutan tanaman (sebesar 26,12 juta m3), berturut-turut sesudahnya adalah land
clearing penyiapan lahan HTI (sebesar 8,50 juta m3), hutan alam (sebesar 5,10 juta m3) dan hutan
rakyat (3,20 juta m3). Hutan tanaman terus tumbuh dan secara perlahan telah menggantikan peran
hutan alam untuk menyediakan bahan baku industri. Kondisi ini terlihat dari angka ini tahun 2009
(sebesar 18,95 juta m3) hingga tahun 2011 (19,84 juta m3) (Tabel 3).
Pada tahun 2012, Kementerian Kehutanan melakukan kampanye penangkaan anti kayu tropis secara
intensif, antara lain dipimpin Menteri Kehutanan yang menjelaskan kebijakan dan peraturan
pengelolaan hutan Indonesia di forum-forum multipihak di London, Washington, Bonn dan Seoul.
Upaya tersebut efektif untuk meredam isu negatif terhadap produk kayu Indonesia, sehingga perlu
dilanjutkan di forum-forum internasional lain.
Tabel 3. Perkembangan pemenuhan bahan baku.
Komponen
Realisasi Pemenuhan Bahan Baku (m3)
a. Stock di IPHHK

Tahun
2010

2009

(m3)

b. IUPHHK-HA (m3)

2011

2012

37.590.339,67

44.256.753,95

47.424.309,19

49.112.386,14
3.918.481,58

2.763.664,72

2.086.987,09

4.348.848,99

4.642.569,29

5.285.445,07

5.088.695,42

5.105.469,20

18.953.483,19

18.561.413,95

19.840.678,96

26.123.583,29

6.349.279,40

13.571.293,20

13.591.697,28

8.502.633,20

87.827,81

98.002,96

104.776,60

142.457,78

482.781,59

736.727,23

600.597,53

712.906,05

3.204.735,56

2.769.547,53

2.831.619,62

3.207.936,15

h. Kayu perkebunan (m3)

595.460,71

469.264,47

428.239,51

635.440,74

i. Impor kayu bulat (m3)

12.482,33

46.618,38

9.782,76

48.169,17

4.451,91

4.524,15

c. IUPHHK-HTI (m3)
d. LC Penyiapan Lahan HTI

(m3)

e. Perum Perhutani
f. ILS/IPK (m3)
g. Hutan Rakyat (m3)

j. Hasil Lelang (m3)


k. Pemilik/Pedagang Hasil Hutan
KB(m3)

252.250,73

187.995,05

87.861,61

(m3)

238.275,29

438.934,87

491.510,93

l. IPHHK Lain

92.095,32
623.213,66

Peningkatan peran hutan tanaman juga terlihat dari perkembangan investasi dan penyerapan tenaga
kerja di HTI dan HTR. Kondisi ini ditunjukkan dengan semakin berkembanganya IUPHHK untuk HTI
dan HTR jika dibandingkan dengan HA. Perkembangan ini juga diikuti adanya RE yang mengalami
peningkatan yang nyata (Tabel 4). Pada tahun 2009, jumlah ijin di HA sebanyak 304 unit, pada tahun
2012 turun menjadi 294 unit. Sedangkan jumlah ijin di HTI pada tahun 2009 sebanyak 226 unit dan
pada tahun 2012 menjadi 238 unit. Kondisi yang sama terjadi di HTR, pada tahun 2009 jumlah ijin
hanya sebanyak 14 unit dengan luas 35.575,04 ha, dan pada tahun 2012 menjadi 3.490 unit dengan
luas 168.447,84 ha.
Mekanisme baru yang didorong oleh Kementerian Kehutanan untuk menurunkan tingkat kerusakan
hutan alam di hutan produksi adalah RE, dengan cara memberikan ijin untuk mengawal suksesi hutan
sebelum melaksanakan aktifitas penebangan. Pada tahun 2012, jumlah ijin telah mencapai 5 unit
5

Rencana Kerja 2014

dengan luas 219.350 ha. Jumlah investasi yang telah masuk sebesar US$ 67.201.400 dengan perkiraan
jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 897 orang di tahun 2012.
Tabel 4. Perkembangan ijin pemanfaatan hasil hutan kayu.
Tahun
Kegiatan

2009

2010

2011

2012

1. IUPHHK- HA / HPH
a. Unit

304

303

292

294

25.660.000

24.950.000

23.409.375

23.902.979

1.985.384.050

7.517.541.922.364

7.100.331.874.995

6.096.882.349.595

31.058

29.105

29.105

29.762

226

239

249

238

8.983.957,43

9.432.735

10.046.839

9.834.744

1.677.000.000.000

1.986.000.000.000

2.132.350.256.955

2.345.467.681.550

11.990

12.941

23.042

28.906

b. Luas (Ha)
c. Investasi (Rp)
d. Jumlah tenaga kerja
2. IUPHHK- HTI
a. Unit
b. Luas (Ha)
c. Investasi (Rp)
d. Jumlah tenaga kerja
3. IUPHHK- RE
a. Unit

b.Luas (Ha)

185.005

199.085

219.350

c. Investasi (US$)

227,602.68

27.996.765

67.201.400

d. Jumlah tenaga kerja

152

204

897

383.402

634.918

661.150,73

669.450,73

35.575,04

99.749,89

164.749,60

168.447,84

14

50

3.147

3.490

4. IUPHHK- HTR
a. Luas Pencadangan (Ha)
b. Luas Ijin (Ha)
c. Unit

Nilai ekspor produk kehutanan berupa kayu pada tahun 2012 sebesar US$ 2,4 milyar. Sumbangan
terbesar diberikan oleh kayu lapis (US$ 1,69 milyar), berturut-turut setelahnya adalah moulding (US$
400,95 juta) dan kayu pertukangan (US$ 224,21 juta) (Tabel 5).
Tabel 5. Perkembangan ekspor kayu.
Komponen

Tahun
2010

2009

2011

2012

1.628.108.434

1.987.475.888

2.318.286.186

- Kelompok Kayu Gergajian (US$)

30.373.640

27.687.946

32.378.632

- Veneer (US$)

16.057.069

17.365.298

21.624.030

21.082.862

Nilai ekspor produk kehutanan (US$)

- Moulding (US$)
- Papan Partikel (US$)
- Papan Fiber Kayu (US$)
- Kayu Lapis (US$)
- Kayu yg dipadatkan (US$)
- Peti, kotak, drum, pengemas (US$)
- Kayu pertukangan (US$)
- Produk kayu lainnya (US$)
- Bangunan Prefabrikasi (US$)

2.410.473.015
39.831.157

310.111.888

320.711.791

406.850.678

400.955.746

1.646.226

2.182.335

1.283.172

1.142.396

17.967.523

15.555.779

13.045.351

18.153.355

1.060.827.638

1.362.500.792

1.618.275.741

1.691.678.013

2.855.182

3.429.355

3.882.386

11.058.956

185.357.647

235.113.733

218.965.361

224.219.131

2.911.621

2.928.859

1.980.835

2.351.339

Rencana Kerja 2014

Produksi kayu olahan tahun 2012 cenderung meningkat untuk jenis veneer, kayu gergajian dan serpih
kayu. Sedangkan untuk plywood dan LVL, serta pulp mengalami penurunan dibandingkan angka tahun
2011. Peningkatan terbesar adalah pada jenis serpih kayu (19,6 juta m3), dibandingkan tahun 2011
(sebesar 1,77 juta m3) (Tabel 6).
Tabel 6. Perkembangan produk kayu olahan.
Tahun

Produk kayu olahan

2009

2010

2011

2.995.952,54

3.236.744,62

3.204.707,52

684.677,91

727.286,71

812.343,01

878.733,64

711.509,58

877.072,85

907.118,69

1.027.445,94

d. Serpih kayu (m3)

1.012.704,28

1.195.375,76

1.778.435,25

19.640.523,87

e. Pulp (ton)

4.687.038,78

5.437.724,42

6.178.359,10

5.364.107,05

a. Plywood dan LVL


b. Veneer

(m3)

(m3)

c. Kayu gergajian (m3)

2012
3.187.974,05

Untuk menjaga peredaran kayu dari hutan lestari, telah dilakukan upaya untuk meningkatkan
produksi penebangan bersertifikat legalitas kayu. Pada tahun 2012, penebangan bersertifikat legal
sebesar 3,83 persen dan meningkatkan produksi industri hasil hutan yang bersertifikat legalitas kayu
di 13 unit manajemen IUPHHK.

Rencana Kerja 2014

Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan.

Panorama bawah laut Pulau Menjangan, TN. Bali Barat

Hingga tahun 2012, telah diselesaikan konflik seluas 24.100 ribu ha dari total 25 ribu ha yang harus
diselesaikan di akhir 2014 (Tabel 7). Dan untuk meningkatkan mekanisme perlindungan di luar
kawasan konservasi yang dianggap penting (seperti mangrove, karst dan habitat burung) migran,
Kementerian Kehutanan telah mendorong komitmen para pihak, utamanya pemerintah daerah untuk
melindungi kawasan esensial. Pada tahun 2012, telah disusun dan ditandatangani nota kesepahaman
di 3 lokasi, yaitu Kabupaten Tulang Bawang untuk perlindungan ekosistem lahan basah, Kabupaten
Bengkalis untuk perlindungan ekosistem mangrove dan gambut, dan Kabupaten Ciamis untuk
perlindungan perairan dan karst (Tabel 8).

Rencana Kerja 2014

Kakatua Jambul Jingga di TN. Laiwangi Wanggameti

Tabel 7. Perkembangan penyelesaian konflik kawasan konservasi.


Lokasi Kawasan

Tahun (ha)
2010

2011

2012

Jumlah

1. TN. Way Kambas

6.000

6.000

2. TN. Gn. Ciremai

2.300

2.300

3. TN. Kerinci Seblat

200

4. TN. Gn. Leuser

500

2.000

1.500

1.000

5. TN. Bukit Barisan Selatan

5.000

6. CA. Kamojang

1.000

2.200

4.000

9.000
1.000

7. KSDA Sumatera Utara

200

200

8. KSDA Sumatera Selatan

300

300

9. TN. Bantimurung Bulusaraung

400

400

1.200

1.200

8.100

24.100

10. TN. Rawa Aopa Watumohai


Jumlah

Panorama bawah laut Pulau Menjangan, TN. Bali


Barat

9.000

7.000

Rencana Kerja 2014

Ranu Kumbolo, peristirahatan menuju Mahameru, TN. Broomo Tengger Semeru, Jawa Timur

Tabel 8. Perkembangan pengelolaan ekosistem esensial.


Tahun (ha)
2010
1. Kawasan karst di Kab. Bantul dan Gn.
Kidul (DI. Yogyakarta)
2. Kawasan karst di Kab. Maros dan
Pangkep (Sulsel)
3. Kawasan gambut di Kab. Kapuas Hulu
(Kalbar)

2011
1. Kawasan habitat mangrove dan burung
migran di SM. Pulau Rambut (DKI
Jakarta)
2. Kawasan lahan basah pantai di Pantai
Timur (Jatim)
3. Kawasan karst Mangkalihat
Sangkulirang (Kaltim)
4. Kawasan ekosistem esensial di Kepala
Burung Papua (SM Jamursma Medi dan
sekitarnya) (Papua Barat)

2012
1. Kawasan ekosistem lahan basah di
Kab. Tulang Bawang (Lampung)
2. Kawasan ekosistem mangrove dan
gambut di Kab. Bengkalis (Riau)
3. Kawasan ekosistem perairan dan
karst di Ciamis (Jabar)

Spesies prioritas utama berhasil ditingkatkan populasinya pada tahun 2012 dibandingkan dengan data
tahun 2008. Dari 95 lokasi pengamatan yang tersebar di 48 UPT, spesies Bekantan, Kakaktua Jambul
Kuning dan Maleo memiliki kecenderungan peningkatan populasi terbesar (Tabel 9). Selanjutnya,
perkembangan 14 spesies prioritas utama di tiap lokasi pengamatan di sajikan sebagai berikut :

10

Ranu Kumbolo, peristirahatan sebelum menuju Mahameru, Tn. Bromo Tengger Semeru

Rencana Kerja 2014

Gajah Sumatera di TWA. Seblat, Balai KSDA Bengkulu

Tabel 9. Perkembangan 14 spesies prioritas utama.


Spesies, UPT
1.

Baseline Data
Populasi

% Kenaikan
2011 dari
baseline

Jumlah Populasi
2010

2011

2012

% Kenaikan
2012 dari
base line

Banteng

BTN Kayan Mentarang

14

14

22

57,14

-50,00

124

124

124

124

0,00

0,00

BBKSDA Jawa Timur

28

28

28

25

0,00

-10,71

BBKSDA Jawa Timur

19

19

19

18

0,00

-5,26

BTN Meru Betiri

56

56

62

58

10,71

3,57

BTN Alas Purwo

57

97

100

120

75,44

110,53

48

48

35

51

-27,08

6,25

BBKSDA Sumatera Utara

0,00

50,00

BBTN Bukit Barisan Selatan

100,00

300,00

BTN Ujung Kulon

2.

Badak Jawa

BTN Ujung Kulon


3.

Harimau Sumatera

BTN Berbak

12

13

71,43

85,71

BTN Bukit Tigapuluh

19

19

19

25

0,00

31,58

BTN Way Kambas

22

22

24

24

9,09

9,09

0,00

0,00

BBTN Gunung Leuser

11

Rencana Kerja 2014

BBTN Gunung Leuser

% Kenaikan
2011 dari
baseline
0,00

BBTN Gunung Leuser

0,00

0,00

Spesies, UPT

Baseline Data
Populasi

Jumlah Populasi
2010

2011

2012

% Kenaikan
2012 dari
base line
0,00

BBTN Gunung Leuser

0,00

0,00

BBTN Kerinci Seblat

22

22

22

22

0,00

0,00

BBTN Kerinci Seblat

33

33

33

33

0,00

0,00

BBTN Kerinci Seblat

16

16

16

16

0,00

0,00

BBTN Kerinci Seblat

93

93

95

95

2,15

2,15

BKSDA Jambi

12

12

12

12

0,00

0,00

BKSDA Jambi

0,00

0,00

BKSDA Jambi

0,00

0,00

16

16

16

16

0,00

0,00

BKSDA Bengkulu
4.

Gajah Sumatera

BTN Way Kambas

215

215

215

215

0,00

0,00

BBTN Kerinci Seblat

40

40

40

40

0,00

0,00

BBTN Kerinci Seblat

30

30

30

30

0,00

0,00

BBTN Kerinci Seblat

20

20

20

20

0,00

0,00

BKSDA Jambi

0,00

0,00

BKSDA Jambi

117

117

117

117

0,00

0,00

TN Tesso nilo

177

177

192

192

8,47

8,47

TN Tesso nilo

12,50

12,50

400

400

318

363

-20,50

-9,25

70

70

71

71

1,43

1,43

36

36

36

55

0,00

52,78

BKSDA Riau
BKSDA Bengkulu
5.

Babirusa

BKSDA Sulawesi Tengah


BTN Bogani Nani Wartabone

362

394

394

399

8,84

10,22

BTN Kepulauan Togean

37

37

37

44

0,00

18,92

BKSDA Sulawesi Utara

200

200

200

210

0,00

5,00

14,29

14,29

BBKSDA Sulawesi Selatan

0,00

-16,67

BBKSDA Sulawesi Selatan

0,00

0,00

BBKSDA Sulawesi Selatan

0,00

0,00

BKSDA Sulawesi Tengah

55

55

56

56

1,82

1,82

BKSDA Sulawesi Tenggara

81

81

81

76

0,00

-6,17

BKSDA Sulawesi Tenggara

31

31

31

38

0,00

22,58

BKSDA Sulawesi Tenggara

34

34

34

38

0,00

11,76

BKSDA Sulawesi Tenggara

12

12

12

20

0,00

66,67

BKSDA Sulawesi Tenggara

28

28

28

30

0,00

7,14

BTN Bogani Nani Wartabone

345

344

344

350

-0,29

1,45

BTN Bogani Nani Wartabone

180

186

185

185

2,78

2,78

BTN Rawa Aopa Watumohai

0,00

200,00

BKSDA Sulawesi Utara

24

24

24

24

0,00

0,00

BKSDA Sulawesi Utara

136

136

136

136

0,00

0,00

75

75

76

76

1,33

1,33

BTN Ujung Kulon

188

188

188

188

0,00

0,00

BTN Gunung Gede Pangrango

347

347

347

347

0,00

0,00

BBTN Lore Lindu


6.

Anoa

BBTN Lore Lindu


7.

Owa Jawa

12

Rencana Kerja 2014

Spesies, UPT
BTN Halimun Salak

Baseline Data
Populasi

% Kenaikan
2011 dari
baseline

Jumlah Populasi
2010

2011

2012

% Kenaikan
2012 dari
base line

57

57

58

60

1,75

5,26

BTN Bukit Baka Bukit Raya

33

33

33

23

0,00

-30,30

BTN Sebangau

17

17

17

19

0,00

11,76

BTN Sebangau

19

19

19

21

0,00

10,53

8.

Orangutan Kalimantan

BBTN Betung Kerihun

688

688

688

688

0,00

0,00

BKSDA Kalimantan Tengah

3116

3116

3248

3248

4,24

4,24

BTN Tanjung Puting

6000

6000

6006

6875

0,10

14,58

BTN Kutai

1779

1779

1858

1861

4,44

4,61

BTN Danau Sentarum

888

888

896

896

0,90

0,90

BKSDA Kalimantan Barat

372

372

372

372

0,00

0,00

BKSDA Kalimantan Selatan

29

29

36

22

24,14

-24,14

BKSDA Kalimantan Selatan

16

16

433,33

433,33

BKSDA Kalimantan Selatan

35

35

35

35

0,00

0,00

BKSDA Kalimantan Selatan

45

45

29

88

-35,56

95,56

BTN Komodo

1288

2550

2065

2842

60,33

120,65

BTN Komodo

1336

2707

2355

2406

76,27

80,09

BTN Komodo

131

131

131

66

0,00

-49,62

BTN Komodo
11.
Jalak Bali

95

95

95

100

0,00

5,26

BKSDA Bali

84

84

100

146

19,05

73,81

BTN Bali

30

30

35

15

16,67

-50,00

15

15

15

58

0,00

286,67

9.

10.

12.

Bekantan

Komodo

Maleo

BKSDA Sulawesi Tengah


BKSDA Sulawesi Tengah

877

877

877

1437

0,00

63,85

BTN Bogani Nani Wartabone

1000

1200

1200

1325

20,00

32,50

BTN Rawa Aopa Watumohai

14

-25,00

75,00

BKSDA Sulawesi Utara

320

320

320

350

0,00

9,38

BKSDA Sulawesi Utara

4558
136

4558
136

4558
186

4558

0,00

0,00

186

36,76

36,76

0,00

0,00

65

65

65

65

0,00

0,00

7
4

4
4

7
5

0,00

-28,57

25,00

25,00

0,00

200,00

15

100,00

400,00

10

10

15

11

50,00

10,00

BTN Lore Lindu


13.

Elang Jawa

BBKSDA Jawa Timur


BTN Gunung Gede Pangrango
BTN Gunung Ciremai
BTN Gunung Merapi
BTN GN Halimun Salak
14.

Kakaktua Jambul Kuning

BBKSDA NTT
BBKSDA Jawa Timur
BTN Rawa Aopa Watumohai

10

10

10

18

0,00

80,00

Balai Taman Nasional Komodo

500

382

382

461

-23,60

-7,80

Balai Taman Nasional Komodo

100

111

111

136

11,00

36,00

Balai Taman Nasional Komodo

85

85

85

85

0,00

0,00

BKSDA NTB

60

20

20

77

-66,67

28,33

13

Rencana Kerja 2014

Usaha penangkaran Jalak Bali oleh masyarakat sekitar TN. Bali Barat

Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun
2012, jumlah penangkar meningkat menjadi 724 unit dibanding tahun 2011 (709 unit). Kondisi yang
sama juga terjadi untuk pengedar jenis tumbuhan dan dan satwa liar, tahun 2012 meningkat menjadi
205 unit dibanding tahun 2011 (Tabel 10). Beberapa jenis telah diperdagangkan ke luar negeri dengan
perkiraan nilai devisa pada tahun 2012 sebesar US$ 319.431.990,73 (asumsi 1 US$ sebesar
Rp.9.000,-). Beberapa komoditi dari satwa yang diperdagangkan diantaranya adalah tanduk rusa, kulit
buaya dan empedu ular. Sedangkan dari tumbuhan yang diperdagangkan diantaranya anggrek, gaharu
dan ramin.
Tabel 10. Perkembangan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar.
Komponen

Tahun
2009

2010

2011

2012

Pengusahaan pariwisata alam (unit)

24

25

25

35

Lembaga konservasi (unit)

40

47

52

55

701

709

724

195

202

205

Penangkar tumbuhan dan satwa liar (unit)


Pengedar tumbuhan dan satwa liar (unit)

14

Rencana Kerja 2014

Usaha penginapan bagi pengunjung di TN. Karimunjawa

Hingga tahun 2014, diharapkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan meningkat menjadi
minimal Rp. 800.000,-/kk/bulan. Dari 18 UPT yang menjadi lokasi pemantauan, ditemukan bahwa
pada tahun 2012 pendapatan masyarakat rata-rata meningkat dibanding tahun 2011 sebesar 15,60%
(Tabel 12). Wilayah pengelolaan satuan kerja yang telah melebihi target hingga di atas Rp.1.000.000,/kk/bulan adalah BKSDA Jawa Timur (sebesar Rp. 1.826.500,-/kk/bulan), BTN. Bogani Nani
Wartabone (sebesar Rp. 1.777.794,-/kk/bulan), BTN. Karimunjawa (sebesar Rp. 1.777.604,/kk/bulan), BKSDA Lampung (sebesar Rp. 1.300.000,-/kk/bulan), BBKSDA Bukit Barisan Selatan
(sebesar Rp. 1.052.340,-/kk/bulan) dan BTN. Wasur (sebesar Rp. 1.000.000,-/kk/bulan).
Tabel 11. Perkembangan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.
Satuan Kerja

Tahun (Rp.)

% Kenaikan

Keterangan

1.100.000

0,00

Peningkatan tahun 2010 sebesar 100%, pada


tahun 2012 data belum di up date

605.000

605.000

0,00

BBKSDA Jawa Barat

605.000

605.000

0,00

BBKSDA NTT

605.000

605.000

0,00

BKSDA Kalimantan Barat

605.000

605.000

0,00

BTN. Sembilang

605.000

500.000

(17,36)

BTN. Alas Purwo

605.000

900.000

48,76

BTN. Wasur

605.000

1.000.000

65.29

BTN. Gn. Halimun Salak

605.000

853.000

40,99

BTN. Sebangau

903.804

903.804

0,00

BTN. Kepulauan Togean

678.273

678.273

0,0

BTN. Bali Barat

600.000

600.000

0,0

2011

2012

1.100.000

BTN. Kepulauan Seribu

BKSDA NTB

BBTN. Bukit Barisan Selatan

861.967

1.052.340

22,09

1.086.643

971.429

(10,60)

920.290

1.777.794

93,18

BTN. Karimun Jawa

1.749.342

1.777.604

1,62

BKSDA Lampung

1.075.000

1.300.000

20,93

BBKSDA Jawa Timur

1.575.000

1.826.500

15,97

BTN. Danau Sentarum


BTN. Bogani Nani Wartabone

Rata-rata peningkatan

Peningkatan tahun tahun 2010 sebesar 10%,


tahun 2012 data belum di up date

Peningkatan tahun 2010 sebesar 10%, data


belum di up date tahun 2011

Data belum di up date tahun 2012

15,60

15

Rencana Kerja 2014

Peningkatan Fungsi dan Daya Dukung DAS berbasis Pemberdayaan Masyarakat .

Wisatawan Swedia dan Singapura yang berkunjung ke Kaledupa, TN. Wakatobi sedang menanam mangrove

Upaya untuk menurunkan luasan lahan kritis, pada tahun 2012 telah dilakukan rehabilitasi kawasan
hutan konservasi/lindung sebesar 100.986 ha dan rehabilitasi lahan kritis, termasuk penanaman hasil
Kebun Bibit Rakyat Tahun 2011 sebesar 400.608 ha. Rehabilitasi hutan mangrove, gambut, dan rawa
terus digiatkan dengan capaian sebesar 8.809 ha (Tabel 12).
Tabel 12. Perkembangan rehabilitasi hutan dan lahan.
Komponen

Tahun
2009

2010

2011

2012

Rehabilitasi hutan di DAS piroitas (ha)

100.737

100.743

100.986

Rehabilitasi lahan kritis di DAS prioritas (ha)

400.608

400.608

Pembuatan hutan kota (ha)

1.175

1.395

Rehabilitasi hutan mangrove/hutan pantai (ha)

10.401

8.809

Rencana pengelolaan DAS terpadu (unit DAS)

41

31

23

16

Rencana Kerja 2014

Pada tahun 2012, telah dibangun sebanyak 10.053 unit dengan kemampuan menyediakan jumlah bibit
tiap KBR sebanyak 50.000 bibit. Pada tahun 2011 telah dibangun 10.270 unit (Tabel 13).
Tabel 13. Perkembangan pembuatan KBR.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Unit Organisasi
BPDAS Krueng Aceh
BPDAS Wampu Sei Ular
PDAS Asahan Barumun
BPDAS Agam Kuantan
BPDAS Indragiri Rokan
BPDAS Batanghari
BPDAS Musi
BPDAS Ketahun
BPDAS Way Seputih Sekampung
BPDAS Kepulauan Riau
BPDAS Baturusa Cerucuk
BPDAS Citarum Ciliwung
BPDAS Cimanuk Citanduy
BPDAS Pemali Jratun
BPDAS Serayu Opak Progo
BPDAS Solo
BPDAS Brantas

Tahun 2010
Rencana
Realisasi
266
266
375
330
322
376
114
114
242
242
131
69
322
167
109
78
352
362
40
48
41
29
200
267
171
223
395
397
244
240
324
406
279
308
17

KBR di Desa Gamoneng dan Balison, Kab. Halmahera Barat, Maluku Utara

Tahun 2011
Rencana
Realisasi
350
356
368
368
546
544
98
98
343
341
195
195
325
328
268
268
488
518
60
56
58
56
322
321
250
250
304
364
369
368
346
366
424
444

Tahun 2012
Rencana
Realisasi
361
360
227
227
300
300
105
105
431
433
211
211
306
306
384
384
655
655
75
75
75
74
430
430
474
474
517
517
446
446
494
493
477
477

Rencana Kerja 2014

No
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36

Unit Organisasi
BPDAS Sampean
BPDAS Kapuas
BPDAS Kahayan
BPDAS Barito
BPDAS Mahakam Berau
BPDAS Unda Anyar
BPDAS Dodokan Moyosari
BPDAS Benain Noelmina
BPDAS Tondano
BPDAS Bone Bolango
BPDAS Palu Poso
BPDAS Lariang Mamasa
BPDAS Saddang
BPDAS Jeneberang Walanae
BPDAS Sampara
BPDAS Ake Walamo
BPDAS Wae Hapu batu Merah
BPDAS Remu Ranisiki
BPDAS Memberamo
Jumlah

Tahun 2010
Rencana
Realisasi
204
278
316
335
75
64
240
244
198
206
87
115
236
246
552
602
212
213
88
88
170
170
176
176
213
213
455
462
216
220
88
88
98
99
128
128
320
147
8.000
8.016

Tahun 2011
Rencana
Realisasi
310
310
393
393
109
109
373
373
251
251
110
111
292
292
500
600
296
296
139
150
214
214
195
195
268
268
432
464
379
379
158
157
152
152
123
123
192
192
10.000
10.270

Tahun 2012
Rencana
Realisasi
390
390
214
214
100
96
200
200
183
183
157
157
300
300
352
352
225
224
166
166
243
248
279
279
221
221
282
282
250
247
109
109
100
100
128
128
173
200
10.040
10.053

Kegiatan rehabilitasi ini diperkuat dengan RPDAST sebagai acuan berbagai pihak dalam memelihara
serta meningkatkan daya dukung dan fungsi DAS. Pada tahun 2012 telah disusun 23 unit RPDAST,
sehingga secara kumulatif hingga tahun 2012 telah disusun 95 RPDAST dari target sebanyak 108 DAS.
Untuk mendorong produksi hutan, pada tahun 2012 telah dibangun HKm dan HD seluas 500.377 ha
dalam bentuk penetapan areal kerja. Pembangunan HKm dan HD ini akan ditingkatkan pada tahun
2013 seluas 500.000 ha. Secara kumulatif, jumlah HKm dan HD yang telah dibangun seluas
1.538.199,80 ha dari target 2.500.000 di akhir tahun 2014. Selain itu, pemerintah juga membangun HR
kemitraan di luar kawasan hutan seluas 56.334 ha pada tahun 2012 (tahun 2013 akan ditingkatkan
seluas 50.000 ha. Secara kumulatif, jumlah HR yang telah dibangun hingga 2012 adalah 158.492 ha
dari target 250.000 ha di akhir tahun 2014. (Tabel 14).
Tabel 14. Perkembangan HKm, HD dan HR (kemitraan).
Komponen
HKm dan HD (ha)
Hutan rakyat (kemitraan) (ha)

Tahun
2009
-

2010
528.507
51.506

2011
508.170,9
50.651,89

2012
500.377
56.334

Dalam rangka meningkatkan nilai tambah, Kementerian Kehutanan berusaha mendorong dan
meningkatkan keragaman produk kehutanan bukan kayu atau hasil hutan bukan kayu (HHBK) dengan
menetapkan jenis HHBK unggulan nasional dan lokasi pengembangan klaster. Hingga tahun 2012
telah ditetapkan sebanyak 22 jenis HHBK unggulan nasional dan lokasi klaster pengembangannya
(Tabel 15). Pada Tahun 2010, produksi sutera alam sebesar 491 ton, lebah madu 8.800 ton, gaharu
1.408,84 ton, rotan 17.779 ton dan bambu 53,24 ton.

18

Rencana Kerja 2014

Usaha lebah madu di TN. Danau Sentarum

Tabel 15. Jenis HHBK unggulan nasional dan lokasi klaster.


Jenis HHBK

Tahun dan Lokasi Klaster


2010

1. Gaharu (Aquilaria sp)

Kab. Bangka Tengah (Babel)

2. Rotan (Calamus sp)

Kab. Katingan (Kalteng)

3. Lebah Madu (Apis sp)

Kab. Sumbawa (NTB)

4. Sutera (Bombix sp)

Kab. Cianjur (Jabar)

5. Bambu (Bambusea sp)


6. Nyamplung (Calophyllum
inophylum L)
7. Kayu manis (Cinnomomum
burmanii)

Kab. Bangli (Bali)

2011

2012
Kab. Mamuju (Sulsel)

Kab. Tasikmalaya (Jabar)

Kab. Purwerejo (Jateng)


Kab. Aceh Tenggara
(Aceh)
Kab. Tapanuli Utara
(Sumut)
Kab. Lampung Barat
(Lampung)

8. Kemenyan (Styrax sp)


9. Damar mata kucing (Shorea
javanica)
10. Porang (Amorphopalus
vanabilis)
11. Tengkawang (Shorea sp)

Kab. Nganjuk (Jatim)


Kab. Sanggau (Kalbar)
Kab. Timor Tengah
Selatan (NTT)

12. Cendana (Santalum album)


13. Jernang (Daemonorps draco)

Kab. Aceh Barat (Aceh)

14. Kemiri (Alleurites mollucanna)

Kab. Samosir (Sumut)

15. Pinus (Pinus merkusii)

Kab. Tanah Datar (Sumbar)

16. Jelutung (Dyera costulata)

Kab. Tanjung Jabung (Jambi)

17. Duku (Lansium domesticum)

Kab. Ogan Komering Ilir (Sumsel)

18. Melinjo (Gnetum genmon)


19. Kapulaga (Amomum
cardamomum)
20. Jahe (Zingiber officinale)

Kab. Kab. Pandeglang (Banten)

21. Aren (Arenga pinnata)

Kab. Bolaang Mongondow (Sulut)

22. Sagu (Metroxylon spp)

Kab. Fax-fak (Papua Barat)

Kab. Tegal (Jateng)


Kab. Blitar (Jatim)

19

Rencana Kerja 2014

Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan

Pada Tahun 2012 telah dilaksanakan diklat sebanyak 3.036 orang. Hingga Tahun 2012 jumlah lulusan
diklat telah mencapai 17.457 orang, angka ini akan ditingkatkan pada Tahun 2013 sebanyak 3.000
orang. Sedangkan untuk pendidikan menengah kehutanan, pada Tahun 2012 telah dilaksanakan
sebanyak 323 siswa (kumulatif 942 siswa). Dalam mendorong perekonomian kerakyatan seiring
dengan pesatnya perkembangan kemitraan Hutan Rakyat di Pulau Jawa, maka peran penyuluhan
kehutanan dipandang strategis untuk menjembatani penguatan kemitraan usaha antara kelompok tani
hutan dengan pelaku industri perkayuan berbasis kayu rakyat berdasarkan prinsip-prinsip kemitraan.
Dari target 50 kerjasama kemitraan pada akhir tahun 2014, maka pada Tahun 2012 telah
dilaksanakan 10 kerjasama kemitraan (kumulatif dari tahun 2010-2012 mencapai 30 kerjasama
kemitraan

20

Wisuda Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan di Mangggala Wanabakti

Rencana Kerja 2014

Pertanian organik, usaha pemberdayaan TN. Bantimurung Bulusaraung,


di Tompobulu, Kec. Balocci, Kab. Pangkep, Sulawesi Selatan

Tabel 16. Perkembangan Penyelenggaraan Penyuluhan, Kediklatan, dan Pengembangan SDM


Kehutanan.
Komponen
Kerjasama kemitraan (kerjasama)
Kelompok masyarakat produktif mandiri
(unit)
Sertifikasi penyuluh (orang)

Tahun
2009

2010
18

2011

2012

10

81

105

129

209

356

5.190

9.231

3.036

308

311

323

Pendidikan dan Latihan


Pendidikan Menengah

Sosialisasi kelembagaan penyuluhan kehutanan dilaksanakan di seluruh provinsi, sementara lima


provinsi model diselenggarakan di Lampung, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan
Nusa Tenggara Barat. Untuk meningkatkan kualitas penyuluh kehutanan, telah diselenggarakan uji
kompetensi dengan mengacu SKKNI bidang penyuluhan kehutanan. Sampai dengan Tahun 2012 telah
dilaksanakan uji kompetensi kepada 565 orang penyuluh kehutanan dari target 1.500 orang di akhir
tahun 2014. Adapun yang dinyatakan kompeten 495 orang dan yang belum kompeten 70 orang.
Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas kerjasama, pada tahun 2012 telah dilakukan diklat
pendampingan masyarakat sebanyak 2.886 orang dari seluruh Indonesia.
Pada tahun 2012, kelompok masyarakat produktif (KUP) telah dibentuk sebanyak 129 kelompok,
angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yaitu sebanyak 105 KUP. Secara kumulatif, hingga
tahun 2012 telah dibentuk sebanyak 315 KUP (Tabel 16) dari target 500 kelompok hingga akhir 2014.
KUP ini bermaksud untuk memfasilitasi kelompok-kelompok masyarakat, utamanya di dalam dan di
sekitar kawasan hutan untuk mengembangkan potensi ekonomi sesuai karakterisitik desa sehingga
diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengurangi ketergantungan secara
langsung terhadap hutan.

21

Rencana Kerja 2014

Lokasi penelitian ketahanan hama dan penyakit tanaman Sengon dari Papua, Balai Penelitian Teknologi Agroforestry

Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kehutanan.

Litbang Kehutanan diarahkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya hutan sebagai
bentuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, sehingga pada akhirnya peran Litbang Kehutanan
diarahkan untuk mendorong produk kehutanan yang dapat menggantikan peran kayu solid, dan
meningkatkan peran hasil hutan dalam memenuhi kebutuhan akan makanan (food), energi (energy)
dan obat-obatan (medicine).

22

Rencana Kerja 2014

Erin P Riley, peneliti primata dari San Diego State University, sedang mengamati
monyet Sulawesi di TN. Bantimurung Bulusaraung

Selanjutnya, Litbang kehutanan melaksanakan 4 litbang, yaitu : (1) Litbang konservasi dan
rehabilitasi, yaitu hutan alam produksi lahan kering, hutan rawa gambut, hutan mangrove, konservasi
flora, fauna dan mikro-organisme, model pengelolaan kawasan konservasi berbasis ekosistem,
pengelolaan DAS dan pengelolaan sumbardaya lahan dan air pendukung DAS; (2) Litbang peningkatan
produktivitas hutan, yaitu hutan tanaman kayu perkakas, hutan tanaman kayu pulp, hutan tanaman
kayu energi, pemuliaan tanaman hutan, HHBK FEM (food, energy dan medicine) dan HHBK Non-FEM;
(3) Litbang keteknikan kehutanan dan pengolahan hasil hutan, yaitu sifat dasar kayu dan HHBK,
keteknikan dan pemanenan hasil hutan, pengolahan hasil hutan kayu, pengolahan HHBK dan
perekayasaan alat dan substitusi bahan pembantu; dan (4) Litbang perubahan iklim dan kebijakan,
yaitu manajemen lansekap berbasis DAS, Hutan kota/ lansekap perkotaan, ekonomi dan kebijakan
REDD, perhitungan emisi GRK kehutanan, adaptasi bioekologi dan sosekbud terhadap perubahan
iklim, tata kelola kehutanan dan tata kelola industri dan perdagangan hasil hutan .
Hasil konkrit yang telah diperoleh dan dimanfaatkan hingga tahun 2012, diantaranya : (1) teknik
pembuatan bambu lamina yang sudah diadopsi untuk pengembangan industri kreatif mebel bambu;
(2) teknik produksi resorsinol yang telah diujicobakan di pabrik kayu komposit di Jawa Tengah, Jawa
Barat, Kalimantan Barat dan DI Yogyakarta. Bahan perekat ini juga telah digunakan untuk laminasi
bambu; (3) teknik pengolahan arang dan turunannya sudah diadopsi masyarakat di Jawa Barat ,
Banten; (4) teknik stabilisasi dimensi oleh pengrajin mebel di Jepara; (5) pengolahan dan pemanfaatan
cuka kayu yang diadopsi oleh masyarakat dan pengusaha, serta sudah disusun kerjasama di Toraja,
Cianjur, dan Banten; (6) pedoman penggunaan model alometrik untuk pendugaan biomassa dan stok
karbon hutan di Indonesia; dan, (7) metode penanaman untuk kondisi tapak ekstrim (seperti Aceh,
sebagai areal bekas tsunami dengan habitat lumpur bercampur pasir).

23

Rencana Kerja 2014

Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Kehutanan

Dari target penurunan kelemahan administrasi sebesar 50% di tahun 2014, telah tercapai sebesar
36,43 % di Tahun 2012 (angka tahun 2012 sebesar 12,74% dari angka dasar sebesar 20,04% di tahun
2009). Penurunan pelanggaran terhadap peraturan perundangan yang memiliki target 50% di tahun
2014, pada tahun 2012 telah tercapai sebesar 74,27% (angka tahun 2012 sebesar 3,78% dari angka
dasar sebesar 14,69% di tahun 2009). Sedangkan hambatan kelancaran pelaksanaan tugas telah
tercapai sebesar 56,74% di tahun 2012 (angka tahun 2012 sebesar 6,19% dari angka dasar sebesar
14,31% di tahun 2009). Untuk potensi kerugian negara telah diturunkan 16,46% menjadi
Rp.580.638.239,45 dari angka dasar tahun 2009 sebesar Rp.695.079.784.709,- (Tabel 17).
Tabel 17. Perkembangan pemantauan kinerja pengawasan.
Tahun

Komponen
Kelemahan administrasi (%)
Pelanggaran terhadap peraturan perundangan
(%)
Hambatan kelancaran pelaksanaan tugas (%)
Potensi kerugian negara (Rp.)

2009

2010

2011

2012

20,04

23,59

29,85

12,74

14,69

7,10

6,12

3,78

14,31

13,65

10,69

6,19

695.079.784.709

644.575.341.139

633.046.075.395

580.702.638.239,45

Terkait dengan upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi, Kementerian Kehutanan telah
melaksanakan 4 rencana aksi dengan 7 kriteria keberhasilan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2013
tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi, yang hasilnya telah diverifikasi UKP4
hingga B-03 bahwa 1 kriteria keberhasilan mencapai 120% (biru), 5 kriteria keberhasilan mencapai
100% (hijau) dan 1 kriteria keberhasilan mencapai 70% (kuning) (Tabel 18).
Tabel 18. Status Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi hingga B-03.
Prioritas

Program

Rencana Aksi

Pelaksanaan pelayanan
secara on line
Sistem pelayanan
publik berbasis
teknologi informasi

Pencegahan
Pengembangan
sistem dan
pengelolaan
pengaduan internal
dan eksternal
(termasuk
masyarakat) atas
penyalahgunaan
kewenangan
Pendidikan
dan budaya
anti korupsi

Strategi komunikasi,
informasi dan
edukasi yang jelas
dan terencana

Kriteria Keberhasilan
Pelaksanaan pelayanan perizinan tepat waktu
secara on line (6 jenis perizinan)
Penambahan pelaksanaan perizinan secara on line
(2 jenis perizinan, yaitu penangkaran dan izin usaha
industri primer hasil hutan)
Penyediaan fasilitas pelayanan perizinan on line

Penayangan rencana kerja


dan anggaran
Kementerian Kehutanan
pada web/situs resmi
Kementerian Kehutanan

Transparansi dan akuntabilitas dari rencana kerja


dan anggaran Kementerian Kehutanan

Pembuatan standar
pelayanan dan standar
operasional prosedur
terkait pengelolaan
pengaduan internal dan
eksternal atas
penyalahgunaan
wewenang

Peningkatan penanganan terhadap pengaduan


internal dan eksternal atas penyalahgunaan
wewenang

Pelaksanaan strategi
komunikasi pendidikan
dan budaya anti korupsi

Peningkatan sikap dan perilaku anti korupsi


penyelenggara di lingkungan internal Kementerian
Kehutanan
Terlaksananya strategi komunikasi pendidikan dan
budaya anti korupsi melalui sosialisasi dan
kampanye budaya anti korupsi di lingkungan
internal/seluruh satker Kementerian Kehutanan
24

Status
keberhasilan
hingga B-03
Hijau
Hijau
Biru
Hijau

Kuning

Hijau

Hijau

Rencana Kerja 2014

Dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Kementerian Kehutanan

Laporan keuangan Kementerian Kehutanan pada tahun 2012 memperoleh opini wajar tanpa
pengecualian dari BPK RI. Status ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang memperoleh opini
wajar tanpa pengecualian (WTP) dengan paragraf penjelasan (DPP) (Tabel 19).
Tabel 19. Perkembangan pencapaian kinerja Sekretariat Jenderal.
Tahun
Komponen

Target hinggga
2014
WTP

Opini BPK terhadap lapoan keuangan

2010

2011

2012

WDP

WTP (DPP)

WTP

15

55

10

5 negara dan 3
lembaga

1 negara

1 negara dan 1
lembaga

1 negara dan 1
lembaga

Pencatatan BMN eks Kanwil Kehutanan


Pengembalian pinjaman/piutang 69
perusahaan selesai 80%
Kerjasama baru bilateral dan multilateral

Standar produk dan jasa kehutanan, serta


pedoman pengelolaan lingkungan dan
35 judul
6 judul
12 judul
9 judul1
perubahan iklim
Sertifikasi pengelolaan hutan rakyat
15
3
5
92
Rekomendasi kebijakan penanganan
3 rekomendasi
-3
5 rekomendasi
4 rekomendasi
perubahan iklim
Keterangan :
1. Selama tahun 2010-2012, sebanyak 18 judul telah menjadi SNI dan 9 masih dalam proses penetapan menjadi SNI oleh
BSN
2. Hutan rakyat yang telah memperoleh sertifikasi pengelolaan hutan rakyat sebanyak 3 unit, sedangkan 6 unit mash
difasilitasi
3. Tugas dan fungsi Pusat Standardisasi dan Lingkungan belum mencakup bidang perubahan iklim.

Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di sektor kehutanan tahun 2012 sebesar Rp.3,30 trilyun,
angka ini terus mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009 (sebesar Rp. 2,39 trilyun), tahun
2010 (sebesar Rp. 2,94 trilyun) dan tahun 2011 (Rp.3,15 trilyun). Dana reboisasi (DR) memberikan
masih sumbangan terbesar (Rp.1,6 trilyun), meskipun angka ini turun dibanding tahun 2011 (Rp. 1,72
trilyun). (Tabel 20).
Tabel 20. Perkembangan PNBP Kehutanan
Komponen
Realisasi PNBP Kemenhut

Tahun (Rp.)
2009

2010

2011

2012

2.397.581.426.000

2.941.096.540.533

3.157.718.314.864

3.309.336.953.264

1.368.085.110.978

1.635.335.683.648

1.720.288.868.765

1.491.399.654.922

b. PSDH

674.358.139.368

797.324.738.602

868.554.324.130

986.268.936.309

c. IIUPH

74.179.913.501

271.527.597.764

119.261.871.703

102.559.757.450

648.803.380

91.902.000

1. PNBP SDA
a. DR

d. DPH
e. DPEH

418.686.800

135.238.800

4.254.460.392

13.432.687.929

f. IASL/TA

7.878.454.120

6.141.326.398

5.412.676.248

3.376.610.926

g. Pungutan masuk Obyek WA

6.653.144.380

19.444.242.426

26.679.137.821

20.037.555.492

33.869.834.201

97.295.159.593

157.288.848.915

169.536.525.729

175.854.019.948

315.672.169.228

403.865.794.149

904.387.000

778.500

d. PIPPA

0,00

294.319.660

102.922.500

358.418.000

e. IHUPA

196.306.000

1.076.858.586

118.212.233

188.262.278

2. PNBP Lainnya
a. Ganti Rugi Nilai Tegakan
b. Penggunaan Kawasan Hutan
c. Tempat Hiburan/Taman/
Museum/PUPA

25

Rencana Kerja 2014

Tahun (Rp.)

Komponen

2009

f. Pendapatan Lainnya

2010

2011

7.726.108.750

2012

78.512.251

88.136.316

Realisasi anggaran Kementerian Kehutanan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang
nyata. Pada tahun 2006, realisasi anggaran sebesar 61,81% (dari anggaran Rp.4,5 trilyun) meningkat
pada tahun berikutnya 63,97% (dari pagu anggaran Rp.7,1 trilyun). Pada tahun 2012, realisasi
anggaran menjadi sebesar 87,46% dari pagu anggaran Rp.5,7 trilyun (Tabel 21).
Tabel 21. Perkembangan realisasi anggaran Kemenhut.
Tahun (Rp.juta)

Komponen

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

Pagu anggaran (Rp.)

4.541.116,5

7.158.491,3

4.169.243,3

2.801.073,2

4.023.444,1

5.869.810,3

5.736.851,3

Realisasi (Rp.)

2.806.791,2

4.579.263,5

3.282.232,7

2.417.053,9

3.306.505,9

4.766.120,7

5.017.651,8

61,81

63,97

78,72

86,29

82,18

81,20

87,46

Kementerian Kehutanan memperoleh predikat baik untuk pelaksanaan sistem akuntansi kinerja
instansi pemerintah (SAKIP) pada tahun 2012, dengan nilai 65,06. Predikat dan nilai ini meningkat
dibandingkan tahun sebelumnya (predikat CC dan nilai 58,49). Kondisi ini berbeda dengan tahun
2008, Kementerian Kehutanan mendapatkan predikat C yang digambarkan oleh Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sebagai instansi yang akuntabilitas
kinerjanya cukup baik, taat kebijakan, memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi
informasi kinerja untuk pertanggung jawaban, perlu beberapa perbaikan tidak mendasar (Tabel 22).
Tabel 22. Perkembangan pelaksanaan SAKIP.
Komponen
Nilai
Predikat
Interpretasi

Karakteristik
instansi

2008
50
C
Agak Kurang
Sistem dan
tatanan kurang
dapat
diandalkan,
memiliki sistem
untuk
manajemen
kinerja tapi perlu
banyak
perbaikan minor
dan perbaikan
yang mendasar

2009
53,37
CC
Cukup Baik
Akuntabilitas
kinerjanya cukup
baik, taat kebijakan
, memiliki sistem
yang dapat
digunakan untuk
memproduksi
informasi kinerja
untuk pertanggung
jawaban, perlu
beberapa perbaikan
tidak mendasar

Tahun
2010
56,50
CC
Cukup Baik
Akuntabilitas
kinerjanya cukup
baik, taat kebijakan,
memiliki sistem
yang dapat
digunakan untuk
memproduksi
informasi kinerja
untuk pertanggung
jawaban, perlu
beberapa perbaikan
tidak mendasar

26

2011
58,49
CC
Cukup Baik
Akuntabilitas
kinerjanya cukup
baik, taat kebijakan,
memiliki sistem
yang dapat
digunakan untuk
memproduksi
informasi kinerja
untuk pertanggung
jawaban, perlu
beberapa perbaikan
tidak mendasar

2012
65,06
B
Baik
Akuntabilitas
kinerjanya
sudah baik,
memiliki sistem
yang dapat
digunakan
untuk
manajemen
kinerja, dan
perlu sedikit
perbaikan

Rencana Kerja 2014

Seorang perempuan Bajo melintas setelah memungut kayu mangrove di Kaledupa, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara

II.

TANTANGAN DAN KEBIJAKAN

Lelaki Bajo melintas memungut kayu mangrove


di Kaledupa, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara

Tantangan diidentifikasi berdasarkan permasalahan


yang terjadi dalam memenuhi kinerja pembangunan
kehutanan tahun 2012 dan kemungkinannya pada tahun
2013, untuk diselesaikan sehingga kinerja pembangunan
kehutanan dapat dipenuhi sesuai sasaran Renstra
Kementerian
Kehutanan
Tahun
2010-2014.
Berdasarkan tantangan yang ada, pembangunan
kehutanan tahun 2014 diberikan penekanan sesuai
kinerja yang telah dirumuskan berdasarkan program
dan kegiatan yang dilaksanakan.

27

Rencana Kerja 2014

Tantangan dan Arahan

Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan


kehutanan antara lain : (1) masih tingginya luas
kawasan hutan produksi yang belum dibebani
hak/izin (open access) sehingga rentan terhadap
perambahan dan penebangan liar; (2) masih luasnya
lahan kritis di kawasan hutan yang perlu
direhabilitasi; (3) kurangnya jumlah dan kompetensi
sumber
daya
manusia
(SDM)
untuk
mengoperasionalkan KPH; (4) penyelesaian tata
batas kawasan hutan perlu ditindaklanjuti dengan
penyelesaian konflik di dalam kawasan hutan; (5)
masih tingginya jumlah hotspot kebakaran hutan di
luar kawasan hutan; (6) belum dipatuhinya RPDAST
sebagai acuan dalam pengelolaan lingkungan; dan
(7) pemanfaatan hutan masih bertumpu pada
produksi kayu.
Mengatasi tantangan di atas, langkah-langkah
yang diambil Kementerian Kehutanan antara
lain :
1.

28

Mengatasi kondisi masih tingginya hutan


produksi yang tidak memiliki ijin usaha
pemanfaatan,
Kementerian
Kehutanan
mendorong beroperasinya unit pengelolaan
di tingkat tapak (KPH). Dari unit pengelolaan
terkecil ini, diharapkan dapat mendorong
identifikasi potensi hutan yang lebih detail
dan menyusun rencana bisnis anggarannya,
sehingga secara pasti dapat diketahui jumlah
investasi yang dibutuhkan dan jangka waktu
pengembalian investasinya. Selain itu,
dengan mendorong pengelolaan di tingkat
tapak diharapkan dapat memberikan
kepastian usaha karena mengurangi potensi
tindak pidana kehutanan yang sering terjadi
antara lain penebangan liar, perambahan
dan penambangan liar. Upaya mendorong
beroperasinya KPH ini telah diusulkan
sebagai
inisiatif
baru
Kementerian
Kehutanan tahun 2014.

Rencana Kerja 2014

Menteri Kehuutanan menanam di Wangi,-wangi, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara

Mangrove di Tomia, TN. Wakatobi,


Sulawesi Tenggara

2.

Mendorong keterlibatan para pihak dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan, utamanya di lahan
kritis melalui serangkaian penanaman dengan memanfaatkan berbagai moment, diantaranya hari
bumi dan hari lingkungan hidup. Selain berusaha untuk meningkatkan fasilitasi KBR dari tahun ke
tahun, keterlibatan pelajar sekolah dikerahkan untuk membangun kesadaran tentangnya budaya
menanam sejak usia dini melalui forum kader konservasi, sebagaimana dilakukan di berbagai
kawasan hutan konservasi di Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Peran TNI dan Polri yang
terlibat aktif juga tidak kalah penting untuk membentuk kesadaran tentang pentingnya
lingkungan hidup, dengan membantu menanami areal yang dianggap penting untuk direhabilitasi.
Gubernur, Bupati, Walikota dan pejabat lain di pemerintah pusat dalam setiap aktifitasnya
didorong untuk memberi contoh upaya penanaman melalui adopsi pohon. Demikian juga dengan
perusahaan swasta, diantaranya PT. Djarum Kudus, yang memberi contoh penanaman di jalan
pantai utara Jawa untuk mengurangi abrasi pantai. Termasuk perusahaan negara (BUMN) seperti
Pertamina, Bank Mandiri dan Garuda Indonesia yang melakukan aksi nyata dengan mengajak
masyarakat melakukan penanaman di berbagai tempat.

3.

Kurangnya jumlah dan kompetensi SDM di tingkat tapak disikapi dengan mendorong pelaksanaan
bakti sarjana kehutanan (Basarhut), yang berusaha menghimpun sarjana-sarjana baru kehutanan
dari berbagai fakultas dan jurusan kehutanan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia, untuk
membantu pengelolaan di tingkat tapak (KPH), mulai dari mengidentifikasi masalah, membantu
perencanaan hingga mengevaluasi pengelolaan KPH di seluruh Indonesia. Basarhut akan
dilakukan selama 2 tahun, sekaligus untuk menjembatani banyaknya PNS Kementerian
Kehutanan maupun Dinas (Provinsi dan Kabupaten/Kota) yang purna tugas pada tahun 2014.
Basarhut juga dilihat sebagai upaya untuk melatih sarjana-sarjana baru kehutanan untuk bekerja
di tingkat tapak.

29

Rencana Kerja 2014

Perempuan Bajo berjualan ikan di Kaledupa, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara

4.

Dalam rangka mewujudkan kawasan hutan yang mantap, salah satunya diperlukan upaya
pengukuhan kawasan hutan yang terdiri dari penunjukkan kawasan hutan, penataan batas
kawasan hutan dan penetapan kawasan hutan. Hingga saat ini masih banyak kawasan hutan yang
proses pengukuhannya belum terselesaian, terutama pda proses penetapan kawasan hutan
sebagai akibat belum selesainya penataan batas kawasan hutan sebagai langkah untuk
menyelesaikan hak-hak pihak ketiga. Kegiatan penataan batas kawasan hutan merupakan sebuah
rangkaian proses kegiatan yang dimulai dari identifikasi trayek batas kawasan hutan, penataan
batas sementara kawasan hutan dan pemancangan serta pengukuran batas definitif kawasan
hutan. Sebagai upaya percepatan penyelesaian penataan batas kawasan hutan dalam rangka
pengukuhan kawasan hutan, maka sejak tahun 2011, Kementerian Kehutanan telah berkomitmen
untuk meningkatkan target tata batas kawasan hutan 2010-2014 dari 25.000 km menjadi 63.000
km. Terkait dengan konflik kawasan hutan, Kementerian Kehutanan juga mendorong upaya untuk
membuka akses masyarakat terhadap pengelolaan hutan, dalam bentuk pembangunan hutan
tanaman rakyat (HTR) dan HKm yang pemodalannya dapat difasilitasi melalui pinjaman dana
bergulir oleh Badan Layanan Umum Kementerian Kehutanan.

30

Rencana Kerja 2014

5.

Dari jumlah 32.323 hotspot di tahun 2012, sebanyak 71,81% berada di luar kawasan hutan,
kondisi yang hampir sama terjadi pada tahun 2010 dan 2011. Berdasarkan data ini, Kementerian
Kehutanan berusaha untuk membangun koordinasi dan meningkatkan peran pemerintah daerah
dengan menjajaki kemungkinan peningkatan dana dekonsentrasi terkait pengendalian kebakaran
hutan untuk pemerintah provinsi dan dana alokasi khusus (DAK) untuk pemerintah
kabupaten/kota. Upaya ini juga diharapkan dapat membantu meningkatkan kapasitas aparatur
pemerintah daerah dan masyarakat dalam mendorong peningkatan koordinasi dan kesiapsiagaan
penanggulangan kebakaran hutan.

6.

Untuk mengurangi ketergantungan produk hutan berupa kayu dalam meningkatkan devisa
negara di sektor kehutanan, litbang Kementerian Kehutanan didorong untuk melihat potensi
ragam hayati (bioprospecting) dan mengembangkannya dalam skala laboratorium, sehingga dapat
dijajaki kemungkinan pengembangannya di tingkat industri dan masyarakat. Upaya ini secara
langsung diharapkan dapat menurunkan laju deforestasi dan degradasi hutan. Upaya ini juga
telah diusulkan di dalam inisiatif baru Kementerian Kehutanan tahun 2014. Selain itu,
pemanfaatan hutan dalam bentuk HHBK juga terus digiatkan, serta pemanfaatan tumbuhan dan
satwa liar dalam bentuk penangkaran dan peredaran yang cenderung terus mengalami
peningkatan dalam devisa negara.

7.

Terkait dengan keberadaan RPDAST, Kementerian Kehutanan terus mendorong komitmen para
pihak di level provinsi dan kabupaten/kota sehingga pengelolaan lingkungan senantiasa
memperhatikan daya dukung DAS. Upaya ini dilakukan dengan mendorong RPDAST dalam bentuk
regulasi di level pemerintah provinsi, mendorong pemantauan secara efektif melalui manajemen
DAS di tingkat tapak.

Posisi pembangunan kehutanan dalam pembangunan nasional

Di dalam RKP 2014, posisi pembangunan kehutanan berada di prioritas nasional dan prioritas bidang.
Untuk prioritas nasional, pembangunan kehutanan berada di prioritas 9 Lingkungan Hidup dan
Pengelolaan Bencana (Tabel 23).
Tabel 23. Prioritas nasional pembangunan kehutanan 2013
Sasaran

Arah Kebijakan

1. Penanganan perubahan iklim : penyelesaian target rehabilitasi hutan dan lahan seluas 271.362 ha,
pengembangan HKM dan HD seluas 500.000 ha, menurunnya emisi gas rumah kaca sesuai dengan target per
sektor dan per wilayah, meningkatnya ketahanan terhadap perubahan iklim.
2. Pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan: penyelesaian tata batas kawasan hutan sepanjang 13 ribu
Km: oprasionalisasi 30 unit KPH: sertifikasi 500 orang penyuluh kehutanan: penurunan hotspot sebesar 67,2
persen dari rereta periode 2005-2009: dan menurunya pencemaran dan kerusakan lingkungan dengan pelibatan
aktif pelaku pembangunan, swasta dan masyarakat.
3. Peningkatan sistem peringatan dini: meningkatnya kualitas pelayanan dan jangkauwan informasi dini
meteorologi, klimatalogi, dan geofisika hingga tingkat kabupaten.
4. Penanggulangan bencana: meningkatnya kapasitas penanggulangan bencana di pusat dan daerah dan
penyediaan infrastrutur kesiapsiagaan dalam mengurangi resiko dampak akibat bencana.
1. Peningkatan kualitas lingkungan hidup dan penanganan perubahan iklim, melalui peningkatan pengelolaan
kawasan hutan, perkuatan pengelolaan keanekaragaman hayati, dan penurunanemisi gas rumah kaca
2. Penguatan kapasitas mitigasi bencana melalui sistem informasi dini cuaca dan iklim,peningkatan insfrasturtur
kesiapsiagaan dan penanganan darurat bencana dengan dukungan peralatan dan logistik kebencanaan yang
Memadai; dan
3.
Penegakan hukum/regulasi dan tata kelola lingkungan hidup.

31

Rencana Kerja 2014

Lelaki Bajo mencari ikan di Kaledupa, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara

Dalam prioritas nasional bidang, pembangunan kehutanan termasuk dalam bidang sumberdaya alam
dan lingkungan hidup, hal-hal terkait dengan pembangunan kehutanan diajikan Tabel 24.
Tabel 24. Prioritas pembangunan bidang sumberdaya alam.
Prioritas
Peningkatan ketahanan
pangan dan revitalisasi
pertanian, perikanan
dan kehutanan

Fokus
Peningkatan
pengelolaan produksi
kehutanan

Peningkatan konservasi
dan rehabilitasi
sumberdaya hutan

Percepatan
penyelesaian
persoalan dalam
pengelolaan hutan
konservasi
Peningkatan upaya
konservasi dan
penyelamatan hutan
konservasi serta
rehabilitasi
sumberdaya hutan

Arahan
1.
Perbaikan tata kelola hutan produksi melalui operasionalisasi KPHP
2.
Penerapan sistem silvikultur
3.
Pemanfaatan hutan produksi berbasis IHMB
4.
Prioritas penanaman pada LOA
5.
Pengembangan HKm dan HD
Didukung oleh penyuluhan, diklat SDM dan peningkatan kualitas data dan
informasi hutan dan pelengkapan peraturan perundangan yang mendukung
pengelolaan hutan lestari/berkelanjutan
1.
Percepatan pengukuhan dan pemantapan kawasan hutan
2.
Percepatan beroperasinya KPH dan penyediaan sumberdaya manusia
pengelola KPH yang profesional
3.
Penyediaan sarana dan prasarana yang memadai
4.
Peningkatan kualitas dan ketersediaan data dan informasi potensi
sumberdaya hutan
1.
Peningkatan konservasi keanekaragaman hayati dan perlindungan hutan,
melalui pengembangan pengelolaan TN, HL dan kawasan konservasi
lainnya.
2.
Peningkatan fungsi dan daya dukung DAS, melalui penyelenggaraan RHL
serta pengelolaan DAS
3.
Pengembangan penelitian dan iptek sektor kehutanan untuk mendukung
pengamblan kebijakan, pengelolaan teknis kehutanan dan pengayaan
iptek.

32

Rencana Kerja 2014

Pengarusutamaan Gender

Terkait dengan pengarusutamaan gender pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Kementerian
Kehutanan di Tahun 2014, telah disepakati di dalam trilateral meeting, sebagai berikut :
No.
1.
2.

Program
Peningkatan Fungsi dan Daya
Dukung DAS berbasis
Pemberdayaan MAsyarakat
Konservasi Keanekaragaman
Hayati dan Perlindungan Hutan

3.

Peningkatan Usaha Kehutanan

4.

Penyuluhan dan Pengembangan


SDM Kehutanan
Penelitian dan pengembangan
Kementerian Kehutanan

5.

Kegiatan
Perencanaan, penyelenggaraan RHL,
Pengembangan Kelembagaan dan Evaluasi DAS
(Kebun Bibit Rakyat)
Pengembanan Kawasan Konservasi Ekosistem
Esensial dan Pembinaan Hutan Lindung
(Pemberdayaan masyarakat)
Pemanfaatan Jasa Lingkungan (kader konservasi
dan kelompk pecinta alam)
Pemantauan Usaha Kehutanan dan Pembinaan
Ganis Wasganis PHPL (peningkatan kualitas
kinerja ganis wasganis)
Peningkatan penyuluhan kehutanan (kelompok
usaha produktif mandiri)
Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas
Teknis Lainnya (peningkatan tata kelola)

Perkiraan Anggaran (Rp.)


300.000 juta
6.000 juta
1.500 juta
70.000 juta
250 juta
95.650 juta

Pelibatan siswa perempuan pada Kemah Bakti Konservasi di TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara
33

Rencana Kerja 2014

Program dan Kegiatan

1.

Perencanaan Makro Bidang Kehutanan dan Pemantapan Kawasan Hutan


Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
10.298,7

Kegiatan/IKK
a. Penyusunan Rencana Makro Kawasan Hutan
Rencana makro penyelenggaraan kehutanan sebanyak 1 judul

3.000,0

Persetujuan substansi teknis kehutanan terhadap usulan revisi tata ruang di 26 provinsi

3.500,0

Sistem jaringan komunikasi data kehutanan LAN pusat dan WAN 17 provinsi sebanyak 1 sistem

3.798,7

b. Pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH)

7.996,1
800,0

Keputusan Menteri tentang penetapan wilayah KPHL dan KPHP di 28 provinsi


Beroperasinya (kumulatif) 120 KPH

4.400,0

Keputusan Menteri Kehutanan tentang penetapan wilayah KPHK di seluruh Indonesia

1.000,0
800,0

Peraturan perundangan tentang penyelenggaraan KPH sebanyak 1 judul

996,1
10.189,8

Peta areal kerja dan peta pencadangan ijin pemanfaatan hutan selesai 80%.
c. Pengukuhan Kawasan Hutan
Terjaminnya tata batas kawasan hutan sepanjang 20.000 km, terdiri dari batas luar dan batas fungsi
kawasan hutan

4.500,0

Penetapan kawasan hutan yang telah di tata batas temu gelang selesai 75%

4.000,0
689,8

Rekomendasi perubahan fungsi kawasan hutan secara parsial selesai 75%

1.000,0
6.716,3

SK pelepasan kawasan hutan secara parsial selesai 75%


d. Inventarisasi dan Pemantauan Sumberdaya Hutan
Data dan informasi geospasial dasar dan tematik kehutanan terkini tingkat nasional sebanyak 1 judul

2.716,3

Data dan informasi sumberdaya hutan pada kawasan hutan tingkat nasional sebanyak 1 judul

1.500,0

Data dan informasi pendugaan karbon kawasan hutan tingkat nasional sebanyak 1 judul

1.500,0

Basis data spasial sumberdaya hutan yang terintegrasi sebanyak 1 kali update.
e. Pengendalian Penggunaan Kawasan Hutan untuk Pembangunan di Luar Kegiatan Kehutanan

1.000,0
5.801,3

Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan terlayani 100% secara tepat waktu

2.000,0

Wajib bayar tertib membayar PNBP Penggunaan Kawasan Hutan minimal 80%

2.000,0
1.801,3

Data dan informasi penggunaan kawasan hutan di 33 provinsi


f.

Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan

45.722,1

Tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan Ditjen Planologi Kehutanan sesuai kerangka reformasi
birokrasi untuk menjamin kinerja yang optimal di 23 satker

43.000,0

Tertib administrasi pengelolaan keuangan dan BMN di lingkungan Ditjen Planologi Kehutanan dalam
rangka mewujudkan opini laporan keuangan Kemenhut wajar tanpa pengecualian sebanyak 23 Satker.

2.722,1

g. Penyiapan Pemantapan Kawasan Hutan

473.353,4
351.108,4

Tata batas kawasan hutan sepanjang 20.000 km


Neraca sumberdaya hutan di 17 BPKH.

54.800,0

Tersedianya sarpras dan tata hutan KPH

34.500,0

Enumerasi dan re-emunerasi TSP/PSP

32.945,0
Jumlah

34

560.077,7

Rencana Kerja 2014

Menteri Kehutanan mengamati perkembangan hutan tanaman di PT. Balikpapan Forest Industries, Kalimantan Timur

2. Peningkatan Usaha Kehutanan


Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
15.000,0

Kegiatan/IKK
a.

b.

Perencanaan Pemanfaatan dan Peningkatan Usaha Kawasan Hutan


Terbentuknya KPHP di seluruh hutan produksi

7.550,0

Tersedianya areal calon/usulan pemanfaatan hutan produksi dalam bentuk unit-unit usaha pada 26
provinsi
Produksi hasil hutan bukan kayu/jasa lingkungan sebesar 1% menjadi 425.909 ton

3.750,0

Penerbitan IUPHHK-HA/RE pada areal bekas tebangan (LOA) seluas 750.000 ha

2.400,0

Peningkatan Usaha Hutan Alam

11.996,8
7.506,7
3.210,6
1.279,5

Produksi hasil hutan kayu sebesar 1% menjadi 5,70 juta m3 di tahun 2014
Unit IUPHHK bersertifikat PHPL meningkat 10 %
Produksi penebangan bersertifikat legalitas kayu meningkat sebesar 10%
c.

Peningkatan Usaha Hutan Tanaman

11.500,0

Penambahan luas areal pencadangan ijin usaha pemanfaatan HTI/HTR seluas 750.000 juta ha

4.200,0

Penambahan areal tanaman pada HTI/HTR seluas 550.000 ha

2.400,0
4.900,0

Sertifikasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari pada 11 unit manajemen hutan tan
aman.
d. Peningkatan Tertib Peradaran Hasil Hutan dan Iuran Kehutanan

15.000,0
6.325,8

PNBP dari investasi pemanfaatan hutan produksi meningkat sebesar 2%


e.

1.300,0

Implementasi SIM PUHH secara online di seluruh unit management IUPHHK dan IPHHK sebesar 100%
Peningkatan Usaha Industri Primer Kehutanan

8.674,2
15.000,0

Pemenuhan bahan baku dari hutan tanaman dan limbah (kumulatif) meningkat 75% menjadi 50,44 m3

4.834,9

Produk industri hasil hutan yang bersertifikat legalitas kayu meningkat 10%

6.531,2
3.633

Efisiensi penggunaan bahan baku industri meningkat sebesar 2%.


f.

g.

Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan
Tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan Ditjen BUK sesuai kerangka reformasi birokrasi untuk
menjamin kinerja yang optimal di 24 satker
Tertib administrasi pengelolaan keuangan dan BMN di lingkungan Ditjen BUK dalam rangka mewujudkan
opini laporan keuangan Kemenhut wajar tanpa pengecualian di 24 Satker.
Pemantauan Usaha Kehutanan dan Pembinaan Ganis Wasganis PHPL

26.870,0
25.370,0
1.500,0
120.366,8

Dokumen peredaran tertib sesuai peraturan perundangan minimal 95 %

25.000,0

Kualitas kinerja Ganis dan Wasganis meningkat minimal menjadi 60%

70.000,0

35

Rencana Kerja 2014

Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
25.000,0

Kegiatan/IKK
Pembangunan HTR seluas 80.000 ha

Pemasaran konservasi dengan mengajak wartawan melihat dari dekat kehidupan Orangutan, TN. Kutai, Kalimantan Timur
Jumlah

3.

215.366,8

Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan


Pagu Indikatif
(Rp.Juta)
30.000,0

Kegiatan/ IKK
a. Pengembangan Kawasan Konservasi, Ekosistem Esensial dan Pembinaan Hutan Lindung
Terjaminnya konflik dan tekanan terhadap kawasan taman nasional dan kawasan konservasi lainnya (CA,
SM, TB) dan HL menurun sebanyak 1%

11.500,0

Terjaminnya pengelolaan ekosistem esensial sebagai penyangga kehidupan meningkat 2%

2.000,0

Terjaminnya penanganan perambahan kawasan hutan kumulatif di 3 provinsi prioritas

5.000,0

Terjaminnya restorasi ekosistem kawasan konservasi di 1 lokasi

1.500,0

Terjaminnya peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi melalui pengelolaan berbasis resort
kumulatif di 10 TN prioritas
Terjaminnya peningkatan pengelolaan kawasan konservasi ekosistem gambut di 2 provinsi
Terjaminnya peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan konservasi tertentu meningkat
kumulatif sebesar 30%.
b. Pengembangan Konservasi Spesies dan Genetik
Terjaminnya populasi spesies prioritas utama yang terancam punah meningkat sebesar 3% dari kondisi
tahun 2008 sesuai ketersediaan habitat

2.500,0
1.500,0
6.000,0
15.000,0
10.000,0

Terjaminnya penangkaran dan pemanfaatan jenis keanekaragaman hayati secara lestari meningkat
kumulatif 4%.
Terjaminnya kerjasama internasional dan konvensi di bidang konservasi keanekaragaman hayati 1 paket

1.800,0

Terselenggaranya skema DNS kehutanan, 2 aktifitas

1.200,0

c. Penyidikan dan Pengamanan Hutan

35.000,0

Terjaminnya kasus baru tindak pidana kehutanan (illegal logging, perambahan, perdagangan TSL, illegal,
penambangan illegal dan kebakaran) penanganannya terselesaikan minimal sebanyak 75%
Terjaminnya tunggakan perkara (illegal logging, perambahan, perdagangan TSL illegal, penambangan
illegal dan kebakaran) terselesaikan sebanyak 25% per tahun
Terjaminnya kasus hukum perambahan kawasan konservasi terselesaikannya sebanyak 20%
36

21.000,0

Rencana Kerja 2014

8.000,0
2.500,0

Pagu Indikatif
(Rp.Juta)
3.500,0

Kegiatan/ IKK
Peningkatan kapasitas penanganan kasus kejahatan kebakaran hutan di 10 provinsi.
d. Pengendalian Kebakaran Hutan
Terjaminnya hotspot di Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi berkurang 67,2% dari
rerata 2005-2009
Terjaminnya luas kawasan hutan yang terbakar ditekan hingga 50% dibanding kondisi rerata 2005-2009

49.000,0
16.000,0

Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dan masyarakat dalam penanggulangan bahaya kebakaran
hutan di 24.
e. Pengembangan Pemanfaatan Jasa Lingkungan
Terjaminnya pengusahaan pariwisata alam meningkat kumulatif 60% dibandingkan tahun 2008

26.000,0

f.

7.000,0

21.000,0
8.500,0

Ijin usaha pemanfaatan jasa lingkungan air baru kumulatif 25 unit

5.000,0

Terjaminnya PNBP dibidang pengusahaan pariwisata alam meningkat 100% dibandingkan tahun 2008

4.000,0

Pelaksanaan demonstration activity REDD di 2 kawasan konservasi (hutan gambut)

2.000,0

Terjaminnya kader konservasi (KK), Kelompok Pecinta Alam (KPA), Kelompok Swadaya
Masyarakat/Kelompok Profesi (KSM/KP) yang dapat diberdayakan meningkat 10% dari tahun 2009.

1.500,0

Dukungan Manajemen dan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konsevasi Alam
Tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan Ditjen PHKA sesuai kerangka reformasi birokrasi untuk
menjamin kinerja yang optimal di 81 satker
Tertib administrasi pengelolaan keuangan dan BMN di lingkungan Ditjen PHKA dalam rangka mewujudkan
opini laporan keuangan Kemenhut wajar tanpa pengecualian di 81 Satker

53.000,0
12.400,0
4.500,0
36.100,0

Terbangunnya persiapan sistem pengelolaan BLU kumulatif menjadi 12 UPT PHKA


g. Pengembangan dan Pengelolaan Taman Nasional
Konflik dan tekanan terhadap kawasan taman nasional menurun sebanyak 1%

592.624,1
22.500,0

Peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi melalui pengelolaan berbasis resort kumulatif di
10 TN
Kasus baru tindak pidana kehutanan (illegal logging, perambahan, perdagangan TSL, illegal, penambangan
illegal dan kebakaran) penanganannya terselesaikan minimal sebanyak 75%

30.500,0

Tunggakan perkara (illegal logging, perambahan, perdagangan TSL illegal, penambangan illegal dan
kebakaran) terselesaikan sebanyak 25%
Kasus hukum perambahan kawasan konservasi terselesaikannya sebanyak 20%
Populasi spesies prioritas utama yang terancam punah meningkat sebesar 3% dari kondisi tahun 2008
sesuai ketersediaan habitat
Hotspot di Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi berkurang kumulatif menjadi 67,2% dari
rerata 2005-2009
Luas kawasan hutan yang terbakar ditekan hingga 50% dibanding kondisi rerata 2005-2009

8.500,0

22.500,0

8.500,0
42.000,0
25.000,0
27.000,0
16.000,0
5.000,0

Pengusahaan pariwisata alam meningkat sebesar 60% dibandingkan tahun 2008


PNBP dibidang pengusahaan pariwisata alam meningkat 100% dibandingkan tahun 2008

10.000,0

Peningkatan pemberdayaan masyarakat dan wisata alam di sekitar 50 taman nasional


Tersedianya dokumen program dan anggaran serta laporan evaluasi dan keuangan di seluruh Indonesia
h. Pengembangan Pengelolaan Konservasi Sumberdaya Alam
Konflik dan tekanan terhadap kawasan CA, SM, TB dan HL menurun sebanyak 1%

375.124,1
535.700,0
20.000,0

Pengelolaan ekosistem esensial sebagai penyangga kehidupan meningkat (kmulatif) 10%

15.000,0

Kasus baru tindak pidana kehutanan (illegal logging, perambahan, perdagangan TSL,illegal, penambangan
illegal dan kebakaran) penanganannya terselesaikan minimal sebanyak 75%

19.000,0

Tunggakan perkara (illegal logging, perambahan, perdagangan TSL illegal, penambangan illegal dan
kebakaran) terselesaikan sebanyak 25%

4.000,0

Kasus hukum perambahan kawasan konservasi terselesaikannya sebanyak 20%

8.200,0

Populasi spesies prioritas utama yang terancam punah meningkat sebesar 3% dari kondisi tahun 2008
sesuai ketersediaan habitat
Hotspot di Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi berkurang 67,2% dari rerata 2005-2009

44.000,0

Luas kawasan hutan yang terbakar ditekan hingga 50% dibanding kondisi rerata 2005-2009
Pengusahaan pariwisata alam meningkat sebesar 60% dibandingkan tahun 2008

23.000,0
13.000,0

30.000,0

5.000,0

PNBP dibidang pengusahaan pariwisata alam meningkat 100% dibandingkan tahun 2008
37

Rencana Kerja 2014

Kegiatan/ IKK
Peningkatan pemberdayaan masyarakat dan wisata alam di sekitar kawasan konservasi di 33 provinsi
Tersedianya dokumen program dan anggaran serta laporan evaluasi dan keuangan seluruh Indonesia
sebanyak 116 dokumen
Jumlah

38

Pagu Indikatif
(Rp.Juta)
10.000,0
344.500,0
1.331.324,1

Rencana Kerja 2014

Pelajar menanam mangrove di TN. Kutai, Kalimantan Timur

4.

Peningkatan Fungsi dan Daya Dukung DAS berbasis Pemberdayaan Masyarakat

Kegiatan/IKK

Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
16.000,0
7.000,0

a. Pengembangan Perhutanan Sosial


a. Terjaminnya hkm dan HD seluas 500.000 ha
b. Terjaminnya ijin usaha pengelolaan hkm sebanyak 100 kelompok
c. Terjaminnya kemitraan usaha HKm sebanyak 10 unit
d. Terjaminnya dukungan ketahanan pangan di 5 provinsi

1.000,0
2.000,0
2.000,0

e. Terjaminnya hutan rakyat untuk bahan baku kayu industri pertukangan seluas 50.000 ha
f. Terjaminnya sentra HHBK unggulan terbentuk dan beroperasi di 6 lokasi

3.000,0
1.000,0

39

Rencana Kerja 2014

Kegiatan/IKK

Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
14.000,0
3.000,0
4.000,0

b. Pengembangan Perbenihan Tanaman Hutan


Terjaminnya areal sumber benih seluas 4.500 ha terkelola secara baik
Terjaminnya areal sumber benih baru seluas 610 ha terbangun

6.000,0
1.000,0

Terjaminnya pengembangan seed for people 37 lokasi


Terjaminnya sentra bibit
c. Pembinaan Penyelenggaraan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Terjaminnya rencana pengelolaan DAS terpadu di 3 unit DAS prioritas
Terjaminnya baseline data pengelolaan DAS di 36 BPDAS

14.000,0
9.000,0
3.000,0
2.000,0

Terjaminnya data dan peta lahan kritis di 36 BPDAS tersedia.


d. Penyelenggaraan Rehabilitasi Hutan dan Lahan dan Reklamasi Hutan
Terjaminnya tanaman rehabilitasi hutan pada DAS prioritas seluas 40.000 ha

23.000,0
8.000,0
10.000,0
5.000,0

Terjaminnya tanaman rehabilitasi lahan kritis pada DAS prioritas seluas 230.000 ha
Terjaminnya hutan kota seluas 1.362 ha terbangun
e. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Bina Pengelolaan DAS
dan Perhutanan Sosial
Tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan Ditjen BPDASPS sesuai kerangka reformasi birokrasi
untuk menjamin kinerja yang optimal di 50 satker

77.500,0

Tertib administrasi pengelolaan keuangan dan BMN di lingkungan Ditjen BPDASPS dalam rangka
mewujudkan opini laporan keuangan Kemenhut wajar tanpa pengecualian di 50 Satker.

7.000,0

Perencanaan, penyelenggaraan RHL, pengembangan kelembagaan dan evaluasi DAS


Tanaman rehabilitasi hutan dan lahan kritis termasuk hutan mangrove, pantai, gambut dan rawa pada
DAS Prioritas seluas 271.362 ha
Terbangunnya HKm dan HD seluas 500.000 ha

1.886.534,7
1.394.234,7

f.

70.500,0

112.500,0
10.000,0
5.000,0

Sentra HHBK Unggulan terbentuk dan beroperasi di 6 lokasi


Terbangunnya hutan rakyat kemitraan untuk bahan baku industri pertukangan seluas 50.000 ha

64.800

Rencana pengelolaan DAS terpadu pada 3 unit DAS prioritas

300.000,0

Terbangunnya KBR sebanyak 4.000 unit


g. Perencanaan, pengembangan kelembagaan dan evaluasi hutan mangrove
RTKRHL Mangrove 2 kegiatan
Rencana pengelolaan hutan mangrove 1 kegiatan

15.000
7.000,0
6.000,0

Terbentuk dan berfungsinya kelompok kerja mangrove daerah di 1 provinsi

1.000,0

Data informsi evaluasi pengelolaan hutan mangrove 2 kegiatan.

1.000,0

h. Penyelenggaraan perbenihan tanaman hutan


Areal sumber benih seluas 4.500 ha terkelola secara baik

52.000,0
15.000,0
17.000,0
12.000,0

Areal sumber benih baru seluas 610 ha


Pengembangan Seed for People 37 lokasi
i.

8.000,0
16.000,0
6.000,0

Terbangunnya sentra bibit


Pengembangan Persuteraan Alam
Jumlah unit usaha persuteraan alam meningkat sebesar 3 unit
Peningkatan produksi sutera alam segmen hulu sebesar 2,5%.
Jumlah

40

10.000,0
2.114.034,7

Rencana Kerja 2014

Keramba ikan milik penduduk Bajo di Kaledupa, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara

5.

Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan


Kegiatan

a.

b.

c.

IKK

Perencanaan Pengembangan SDM Kehutanan


Pemetaan dan pengembangan aparatur kehutanan (Kemenhut dan Daerah) di 16 provinsi
Pemetaan dan perencanaan pengembangan SDM Non Aparatur di 16 provinsi

1.500,0

Sertifikasi penyuluh kehutanan sebanyak 500 orang

3.186,5

Peningkatan pelayanan penyuluhan kehutanan


Kelompok masyarakat produktif mandiri, sebanyak100 kelompok
Tercukupinya sarana dan prasarana dan alat bantu penyuluhan kehutanan sebanyak 30 unit percontohan
pemberdayaan masyarakat
Tercukupinya tenaga penyuluh kehutanan dalam rangka mendukung pengelolaan hutan melalui
pendayagunaan 1.500 orang penyuluh kehutanan swadaya masyarakat dan/atau penyuluh kehutanan
swasta
Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur Kementerian Kehutanan dan SDM Kehutanan Lainnya
Pendidikan dan pelatihan kepemimpinan, teknis dan administrasi kehutanan minimal sebanyak 3.000
orang peserta
Pendidikan pasca sarjana jenjang S2 dan S3 sebanyak 65 orang lulusan
Dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM
Kehutanan
Tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM
Kehutanan sesuai kerangka reformasi birokrasi untuk menjamin kinerja yang optimal di 17 satker
41

48.704,0
25.466,0
2.700,0
20.538,0
147.516,0
80.016,3
57.500,0

Pendidikan menengah kejuruan kehutanan sebanyak 288 siswa


d.

Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
9.943,5
5.257,0

10.000,0
14.560,0
4.847,0

Rencana Kerja 2014

Kegiatan

IKK

Tertib administrasi pengelolaan keuangan dan BMN di lingkungan Badan Penyuluhan dan Pengembangan
SDM Kehutanan dalam rangka mewujudkan opini laporan keuangan Kemenhut wajar tanpa
pengecualian di 17 Satker
Terbentuknya 10 kerjasama kemitraan melalui peningkatan peran serta pelaku utama dan pelaku usaha
dalam pemberdayaan masyarakat
Jumlah

6.

1.923,0
220.723,8

Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kehutanan


Kegiatan

a.

Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
7.790,0

IKK

Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
74.267,0

Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi


Iptek dasar dan terapan yang dihasilkan dibidang konservasi dan rehabilitasi sebanyak 7 judul, yaitu teknik
rehabilitasi hutan bekas tebangan, teknik penanaman dan rehabilitasi mangrove, teknik pengelolaan hutan
rawa gambut ramah lingkungan, teknik konservasi flora, fauna dan mikoorganisme, teknik pengelolaan dan
pemanfaatan kawasan konservasi secara lestari, sistem pengelolaan DAS lintas sektoral dan wilayah
admiistrasi, teknik rehablitasi dan restorasi lahan bekas tambang
Iptek dasar dan terapan yang dimanfaatkan oleh pengguna dibidang konservasi dan rehabilitasi sebanyak 7
judul.

b.

75.520,6

Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan


Iptek dasar dan terapan yang dihasilkan dibidang produktifitas hutan sebanyak 6 judul, yaitu teknik
peningkatan produktifitas hutan tanaman penghasil kayu pertukangan, teknik peningkatan produktifitas
hutan tanaman penghasil pulp, teknik peningkatan produktifitas jenis-jenis tanaman kayu energi, teknik
penyediaan benih unggul, teknik peningkatan produktifitas dan nilai ekonomi HHBK FEM (food, energy,
medicine), teknik peningkatan produktifitas dan kualitas produk HHBK non FEM (gaharu, cendana, gemor,
sutera, lebah madu, rusa)
Iptek dasar dan terapan yang dimanfaatkan oleh pengguna dibidang produktifitas hutan sebanyak 6 judul.

c.

Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Hutan dan Pengolahan Hasil Hutan

22.882,0

d.

Iptek dasar dan terapan yang dihasilkan dibidang keteknikan kehutanan dan pengolahan hasil hutan
sebanyak 5 judul, yaitu informasi tentang sifat dasar dan kegunaan kayu sesuai tujuan pemakaiannya,
teknik pemanenan hutan ramah lingkungan, teknik pemanfaatan dan peningkatan kualitas kayu serta
standarisasi produk kayu, teknik pengolahan pemanfaatan dan diversifikasi produk HHBK, terobosan
perekayasaan alat dan teknik subtitusi bahan pembantu industri perkayuan
Iptek dasar dan terapan yang dimanfaatkan oleh pengguna bidang keteknikan kehutanan dan pengolahan
hasil hutan sebanyak 5 judul .
Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan Kehutanan

14.505,4

Iptek dasar dan terapan yang dihasilkan dibidang perubahan iklim dan kebijakan kehutanan sebanyak 7
judul, yaitu strategi kebijakan bagi pengambil keputusan (decision support system, DSS) dalam penataan
ruang dan penatagunaan hutan berbasis DAS,
strategi kebijakan (DSS) pengembangan hutan kota,
kebijakan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, teknik perhitungan emisi dan serapan
gas rumah kaca (GRK) kehutanan, strategi kebijakan adaptasi terhadap perubahan iklim, strategi
penguatan tata kelola kehutanan dan kinerja Kemenhut, dan strategi penguatan tata kelola industri dan
perdagangan hasil hutan
Iptek dasar dan terapan yang dimanfaatkan oleh pengguna dibidang perubahan iklim dan kebijakan
kehutanan sebanyak 7 judul.
e.

Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan tugas Teknis Lainnya Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan Badan Litbang Kehutanan sesuai kerangka reformasi
birokrasi untuk menjamin kinerja yang optimal di 20 satker

15.968,1

Tertib administrasi pengelolaan keuangan dan BMN di lingkungan Litbang Kemenhut dalam rangka
mewujudkan opini laporan keuangan Kemenhut wajar tanpa pengecualian mulai laporan keuangan tahun
2011 sebanyak 20 Satker
Pengelolaan KHDTK.
Jumlah

42

203.143,0

Rencana Kerja 2014

Pemantauan kesehatan karang di Kaledupa, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara


mancanegara melintas di Pelabuhan Hoga, Kaledupa, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara

7.

Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Kehutanan


Kegiatan

a.

b.

c.

d.

IKK

Pengawasan Terhadap Kinerja, Keuangan dan Administrasi pada Wilayah Kerja Inspektorat I
Kelemahan administrasi di wilayah kerja Inspektorat I diturunkan sampai 50% dari tahun 2009
Pelanggaran terhadap peraturan perundangan di wilayah kerja Inspektorat I berkurang sampai 50% dari
tahun 2009
Hambatan kelancaran pelaksanaan tugas di wilayah kerja Inspektorat I berkurang hingga 50% dari tahun
2009.
Pengawasan Terhadap Kinerja, Keuangan dan Administrasi pada Wilayah Kerja Inspektorat II
Kelemahan administrasi di wilayah kerja Inspektorat II diturunkan sampai 50% dari tahun 2009 dari
tahun 2009
Pelanggaran terhadap peraturan perundangan di wilayah kerja Inspektorat II berkurang sampai 50% dari
tahun 2009
Hambatan kelancaran pelaksanaan tugas di wilayah kerja Inspektorat II berkurang hingga 50% dari tahun
2009.
Pengawasan Terhadap Kinerja, Keuangan dan Administrasi pada Wilayah Kerja Inspektorat III
Kelemahan administrasi di wilayah kerja Inspektorat III diturunkan sampai 50% dari tahun 2009
Pelanggaran terhadap peraturan perundangan di wilayah kerja Inspektorat III berkurang sampai 50%
dari tahun 2009
Hambatan kelancaran pelaksanaan tugas di wilayah kerja Inspektorat III berkurang hingga 50% dari
tahun 2009
Pengawasan Terhadap Kinerja, Keuangan dan Administrasi pada Wilayah Kerja Inspektorat IV
43

Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
3.000,0

2.800,0

3.500,0

3.100,0

Rencana Kerja 2014

Kegiatan

IKK

Pagu Indikatif
(Rp. Juta)

Kelemahan administrasi di wilayah kerja Inspektorat IV diturunkan sampai 40% dari tahun 2009
Pelanggaran terhadap peraturan perundangan di wilayah kerja Inspektorat IV berkurang sampai 40%
dari tahun 2009

e.
f.

Hambatan kelancaran pelaksanaan tugas di wilayah kerja Inspektorat IV berkurang hingga 40% dari
tahun 2009
Pengawasan Terhadap Kasus Pelanggaran Yang Berindikasi KKN
Potensi kerugian negara dapat diturunkan hingga 20% dari temuan tahun 2006-2009.
Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Inspektorat Jenderal Kementerian Kehutanan
Tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan Itjen Kemenhut sesuai kerangka reformasi birokrasi
untuk menjamin kinerja yang optimal di 6 satker
Tertib administrasi pengelolaan keuangan dan BMN di lingkungan Itjen Kemenhut dalam rangka
mewujudkan opini laporan keuangan Kemenhut wajar tanpa pengecualian di 6 Satker.
Jumlah

2.700,0
27.811,3

42.911,3

Penyiapan demonstration activity REDD+, kerjasama RI-Jerman untuk Program Forclime di Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis
Lainnya Kementerian Kehutanan

8.

Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Kehutanan


Kegiatan

a.

b.

IKK

Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
59.300,0
7.300,0
5.343,0
46.657,0
6.000,0
1.500,0

Koordinasi Perencanaan dan Evaluasi Kementerian Kehutanan


Penyerapan anggaran meningkat minimal 90%
Pencapaian sasaran strategis minimal 95%
Model implementasi kebijakan kehutanan di 3 kabupaten
Penyelenggaraan Administrasi dan Penataan Kepegawaian.
Pelayanan administrasi kepegawaian minimal 95% akurat dan tepat waktu

3.000,0

Prasarat pengembangan kapasitas dan karir pegawai minimal terpenuhi 95%


c.

Data kepegawaian dalam SIMPEG minimal 98% sesuai dengan data yang dimiliki individu PNS
Penyelenggaraan dan Pembinaan Tata Hukum dan Organisasi Kementerian Kehutanan.
Penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan lingkup Kemenhut minimal sebesar 75%
44

Rencana Kerja 2014

1.500,0
4.000,0
800,0

Kegiatan

IKK

Pencapaian penelaahan hukum peraturan perundang-undangan lingkup Kemenhut minimal sebesar 80%
Penanganan perkara, pemulihan hal-hak negara bidang kehutanan minimal menang sebesar 80%

Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
825,0
1.500,0
875,0

Pencapaian pembinaan kelembagaan dan ketatalaksanaan lingkup Kemenhut minimal sebesar 70%.
d.

e.

f.

Penyelenggaraan Administrasi Keuangan Kementerian Kehutanan.


Pengembalian pinjaman/piutang sebanyak 69 unit perusahaan terselesaikan KUK-DAS, KUHR dan KUPA
serta PSDH DR sebesar 80%
Opini laporan keuangan Kementerian Kehutanan wajar tanpa pengecualian
PNBP sebesar Rp. 2,75 Triliun.
Penyelenggaraan Ketatausahaan, Kerumahtanggaan dan Pengelolaan Perlengkapan Kementerian Kehutanan.
SIMAK BMN Kementerian Kehutanan akuntabel dan tepat waktu sebanyak 225 satuan kerja

20.838,3
7.500,0

Sertifikasi ahli pengadaan barang dan jasa bagi pejabat pembuat komitmen (PPK) dan panitia/pejabat
pengadaan di Kementerian Kehutanan sebanyak 200 orang
Sertifikasi tanah milik Kementerina Kehutanan di 5 lokasi (Manggala Wanabkati, Kanci, Cimanggis,
Kramatdjati dan Rumpin)
Penyelesaian Status BMN eks Kanwil di 15 Provinsi

2.000,0

6.838,3
6.500,0
133.862
2.000,0

3.524,0
126.338,3

Pembinaan Standardisasi, Pengelolaan Lingkungan dan Penanganan Perubahan Iklim Kehutanan.


Standard produk dan jasa kehutanan, serta pedoman pengelolaan lingkungan dan perubahan iklim 7 judul

7.179,0
2.500,0
2.500,0
2.179,0

Sertifikasi pengelolaan hutan milik rakyat 3 unit


Rekomendasi kebijakan penanganan perubahan iklim kehutanan sebanyak 3 paket.
g.

h.

i.

j.

k.

l.

m.

Pembinaan dan Koordinasi Kerjasama Luar Negeri.


Partisipasi Indonesia dalam forum kerjasama internasional (bilateral, multilateral dan regional) sebanyak 3
paket
Komitmen kerjasama internasional di bidang kehutanan (bilateral, multilatareal, regional, dan multipihak)
sebanyak 1 paket
Kerjasama baru bilateral sebanyak 1 negara
Laporan monitoring dan evaluasi kerjasama internasional (bilateral, multilateral dan regional) sebanyak 3
paket
Penyiaran dan Penyebarluasan Informasi Pembangunan Kehutanan.
Meningkatnya citra positif Kemenhut sebesar 10%
Meningkatnya berita kegiatan pimpinan Kemenhut sebesar 10%
Meningkatnya publikasi kebijakan program pembangunan kehutanan sebesar 10%

6.200,0
2.000,0

Hubungan dengan lembaga tinggi negara, pemerintah dan lembaga non pemerintah meningkat sebesar 10%.

1.000,0

Pengelolaan Keuangan, Penyaluran dan Pengembalian Dana Bergulir Pembiayaan Pembangunan Kehutanan.
Kredit pembangunan hutan tanaman (hutan tanaman industri , hutan tanaman rakyat dan hutan rakyat)
seluas 80.000 ha

23.799,5
22.200,0

1.000,0
2.200,0
1.000,0
6.700,0
2.700,0
1.000,0
1.000,0

Pemahaman terhadap skim pinjaman pembangunan hutan tanaman di 12 kabupaten

750,0

Peningkatan penguatan kelembagaan debitur di 3 kabupaten.

849,5

Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional I.


Pelaksanaan pembangunan kehutanan di regional I berjalan minimal 90%.
RKTP di 10 provinsi selaras dengan RKTN di tingkat regional, 5 provinsi
Rencana jangka panjang pengelolaan KPH disahkan sebanyak 13 KPH
Organisasi KPH tertata di 10 KPH
Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional II.
Pelaksanaan pembangunan kehutanan di regional II berjalan minimal 90 %.
Tersusunnya perencanaan kehutanan di regional I sebanyak 2 dokumen
RKTP di 10 provinsi selaras dengan RKTN di tingkat regional, 4 provinsi
Rencana jangka panjang pengelolaan KPH disahkan sebanyak 7 KPH
Orgnisasi KPH tertata di 7 KPH
Masalah tenurial diselesikan sebanyak 1 kasus
Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional III.
Pelaksanaan pembangunan kehutanan di regional III berjalan minimal 90%.
RKTP di 4 provinsi selaras dengan RKTN di tingkat regional, 1 provinsi
Rencana jangka panjang pengelolaan KPH disahkan sebanyak 10 KPH
Orgnisasi KPH tertata di 10 KPH
Masalah tenurial diselesikan sebanyak 1 kasus
Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional IV.
Pelaksanaan pembangunan kehutanan di regional IV berjalan minimal 90%.
45

4.700,0
3.827
91
657
125
4.700
750
750
500
900
900
900
3.700
2.100
100
800
300
400
6.200
750
Rencana Kerja 2014

Kegiatan

n.

IKK

Tersusunnya perencanaan kehutanan di regional I sebanyak 2 dokumen


RKTP di 10 provinsi selaras dengan RKTN di tingkat regional, 5 provinsi
Rencana jangka panjang pengelolaan KPH disahkan sebanyak 21 KPH
Orgnisasi KPH tertata di 21 KPH
Masalah tenurial diselesikan sebanyak 1 kasus
Penataan Sarana dan Peralatan Kehutanan
Pemetaan sarana dan peralatan kehutanan sebesar 25%
Optimalisasi pengelolaan sarana dan peralatan kehutanan sebesar 50%
Jumlah

Pagu Indikatif
(Rp. Juta)
750
500
1400
1400
1400
3.000
1.500
1.500
290.179,0

Puncak Gn. Pangrango dari puncak Gn. Gede, TN. Gn. Gede Pangrango, Jawa Barat

III.

TARGET PEMBANGUNAN KEHUTANAN TAHUN 2014


Target pembangunan kehutanan di provinsi diturunkan dari 18 sasaran strategis
pembangunan yang dirumuskan dan disepakati mulai dari rakorenbanghutda di seluruh
46

Rencana Kerja 2014

provinsi hingga trilateral desk (Kementerian Kehutanan, Bappenas dan Bappeda Provinsi).
Selanjutnya, untuk memberikan konteks target pembangunan kehutanan tahun 2014 di
provinsi, informasi target pembangunan tersebut disandingkan dengan karakter kehutanan di
masing-masing provinsi.

Regional Sumatera

Kawanan Gajah Sumatera melintas di TWA. Seblat, Bengkulu.

Provinsi

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

Luas
Wilayah
(ha)

Luas Kawasan Hutan


(ha)

Produk Kehutanan

47

Target Pembangunan 2014

Rencana Kerja 2014

Provinsi
Aceh

Sumatera
Utara

Jumlah
Penduduk
(jiwa)
4.597.308

13.103.596

Luas
Wilayah
(ha)
5.667.081

181.860,65

Luas Kawasan Hutan


(ha)

Produk Kehutanan

Total: 3.335.693
HP: 638.580
HL: 1.843.200
HK: 853.913

HHBK: Rotan,
Cendana

Total: 3.742.120
HP: 1.967.720
HL: 1.297.330
HK: 477.070

HHBK: Rotan,
Madu, buahbuahan, karet,
pinus, tanaman
obat.

Produksi hasil
hutan kayu:
14.286 m3

Produksi hasil
Kayu:
895.302 m3

Sumatera
Barat

4.846.909

4.229.730

Total: 2.383.205
HP: 781.796
HL: 792.114
HK: 809.295

HHBK: Rotan,
getah pinus,
damar, tabutabu, semambu,
manau
Produksi hasil
hutan kayu:
63.383 m3

Sumatera
Selatan

Riau

7.593.425

5.543.031

8.702.741

111.228,65

Total: 3.670.957
HP: 2.286.218
HL: 591.832
HK: 792.907

HHBK: Rotan

Total: 9.036.835
HP: 6.360.664,3
HL: 208.910
HK: 628.636

HHBK: Gaharu,
madu hutan,
arang

Produksi hasil
hutan kayu:
2.165.599 m3

Produksi hasil
hutan kayu bulat:
10.547.643 m3
48

Target Pembangunan 2014


Peningkatan produksi HHBK/Jasa lingkungan: 1%
Peningkatan investasi hutan produksi: 2%
RHL di kawasan konservasi: 500 ha
RHL di Lahan: 4.025 ha
Hutan kota: 30 ha
Hkm & Hutan desa: 10.300 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 12%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
NSDH: 1 dokumen
KPH : 1 unit (KPHL Aceh Utara)
Kelompok Usaha Produktif: 2 kelompok
Sertifikasi Penyuluh: 30 orang
Tenaga penyuluh kehutanan: 40 orang
Hutan tanaman: 18.828 ha
Peningkatan produksi penebangan bersertifikat: 10%
RHL di kawasan konservasi: 2000 ha
RHL di Lahan: 13.800 ha
Hutan kota: 40 ha
Hkm & Hutan desa: 39.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas: 2.190,48 Km
NSDH: 1 dokumen
KPH: 2 unit (KPHL Lintas dan KPHL XXII)
Kelompok Usaha Produktif: 3 kelompok
Sertifikasi Penyuluh: 40 orang
Tenaga penyuluh kehutanan: 50 orang
Hutan tanaman: 2.638 ha
RHL di kawasan konservasi: 500 ha
RHL di Lahan: 3.450 ha
Hutan kota: 25 ha
Hkm & Hutan desa: 6.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas: 182 Km
NSDH: 1 dokumen
Kelompok Usaha Produktif: 3 kelompok
Hutan Tanaman: 88.904 ha
IUPHHK HA/RE: 8.000 ha
Peningkatan produksi penebangan bersertifikat: 10%
RHL di kawasan konservasi: 1.000 ha
RHL di Lahan: 6.900 ha
Hutan kota: 30 ha
Hkm & Hutan desa: 12.500 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas: 844,06 km
KPH: 1 unit (KPHL Banyuasin)
Kelompok Usaha Produktif: 3 kelompok
Tenaga penyuluh kehutanan: 50 orang
Hutan Tanaman: 111.966 ha
IUPHHK HA/RE: 62.000 ha
Peningkatan produksi penebangan bersertifikat: 50%
RHL di kawasan konservasi: 1.500 ha
RHL di Lahan: 5.750 ha
Hutan kota: 70 ha
Hkm & Hutan desa: 30.000 ha
Rencana Kerja 2014

Provinsi

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

Luas
Wilayah
(ha)

Luas Kawasan Hutan


(ha)

Produk Kehutanan

Penurunan Hotspot: 20%


Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas: 868 km
Kelompok Usaha Produktif: 2 kelompok
Tenaga penyuluh kehutanan: 50 orang
Produksi HHBK: 1%
Peningkatan industri bersertifikat: 10%
RHL di kawasan konservasi: RHL di Lahan: 1.725 ha
Hutan kota: 50 ha
HKm & Hutan Desa: 3.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas:954 km
NSDH: 1 Dokumen
Kelompok Usaha Produktif: 2 kelompok
Sertifikasi penyuluh: 20 orang

Kepulauan
Riau

1.390.787

25.260.100

Kawasan hutan
belum ada SK
Penunjukkan dan
data masih
bergabung dengan
provinsi induk
(Sumber: Direktorat
Jenderal Planologi
Kehutanan, Maret
2012)

Bengkulu

1.826.618

2.000.300

Total: 923.961
HP: 210.916
HL: 250.750
HK: 462.295

HHBK: Rotan,
manau, damar
mata kucing.

Jambi

3.092.265

5.343.592

Total: 5.335.500
HP: 1.312.190
HL: 191.130
HK: 676.120

HHBK: Rotan,
arang

Total: 659.013,52
HP: 433.576,09
HL: 189.965,24
HK: 35.472,19

HHBK: Rotan,
madu

Total: 1.004.735
HP: 225.090

HHBK: Rotan,
damar, getah

Bangka
Belitung

Lampung

1.261.737

7.608.405

8.172.514

3.528.835

Target Pembangunan 2014

Produksi hasil
hutan: 1.452.014
m3

Produksi hasil
hutan: 558 m3

49

Produksi HHBK: 1%
Peningkatan produksi industri bersertifikat: 10%
RHL di kawasan konservasi: 1.500 ha
RHL di Lahan: 6.900 ha
Hutan kota: 35 ha
Hkm dan HD 25.500 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
KPH : 2 Unit (KPHL Bengkulu Utara dan KPHL Rejang
Lebong)
NSDH: 1 Dokumen
Kelompok Usaha Produktif: 2 kelompok
Tenaga penyuluh kehutanan: 40 orang
Hutan tanaman: 46,721 ha
RHL di kawasan konservasi: 2.000 ha
RHL di Lahan: 6.739 ha
Hutan kota: 30 ha
Hkm dan HD : 16.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Tata batas: 168,11 km
KPH : 2 Unit (KPHP Kerinci da KPHP Unit XI)
NSDH: 1 Dokumen
Kelompok Usaha Produktif: 2 kelompok
Huan Tanaman: 6.039 ha
Peningkatan produksi HHBK: 1%
Terbentuknya KPHP: 2 unit
RHL di kawasan konservasi: RHL di Lahan: 1.150 ha
Hutan kota: 30 ha
Hkm dan HD 2.150 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas: 232,93 km
KPH 1 unit : KPH Bangka
NSDH: 1 Dokumen
Kelompok Usaha Produktif: 2 kelompok
Tenaga penyuluh kehutanan: 40 orang
Hutan tanaman: 2.853 ha
Peningkatan produksi industri bersertifikat: 10%
Rencana Kerja 2014

Provinsi

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

Luas
Wilayah
(ha)

Luas Kawasan Hutan


(ha)

Produk Kehutanan

HL: 317.615
.853HK: 462.030

karet, madu
Produksi hasil
hutan kayu:
30.437 m3

Target Pembangunan 2014


RHL di kawasan konservasi: 3.000 ha
RHL di Lahan: 13.800 ha
Hutan kota: 20 ha
Hkm dan HD 32.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
KPH 1 unit : KPH Mesuji
NSDH: 1 Dokumen
Kelompok Usaha Produktif: 2 kelompok
Sertifikasi penyuluh: 70 orang

Regional Jawa-Bali-Nusa Tenggara

Usaha perhotelan di Pantai Senggigi, yang kelangsungannya dipengaruhi oleh TWA Krandangan (tampak belakang),
Nusa Tenggara Barat

Keramba rumput laut, dipengaruhi oleh keberadaan TWA. Gn. Tuna (tampak belakang), Nusa Tenggara Barat

50

Rencana Kerja 2014

Provinsi
DKI Jakarta

Jumlah
Penduduk
(jiwa)
9.607.787

Luas
Wilayah (ha)

Luas Kawasan
Hutan (ha)

Produk Kehutanan

661,52

Total: 1.131,65
HP: 158,1
HL: 44,76
HK: 288.75

Banten

10.632.166

8.651,20

Total:
208.161,27
HP: 70.797,58
HL: 9.471,39
HK: 127.892.30

HHBK: Sarang burung


wallet, kelapa, melinjo,
madu, rotan, bamboo,
karet, kopi, cengkeh,
durian

Jawa Barat

46.497.175

3.709.528,44

Total: 816.603
HP: 393.117
HL: 291.306
HK: 132.180

HHBK: Getah pinus,


getah damar, daun
kayu putih, arang,
kopal, rotan, bamboo,
rumput gajah, madu,
bunga kenanga, kopi,
kelapa, sarang burung
wallet, melinjo, karet,
cengkeh, ylang-ylang

Jawa
Tengah

37.453.830

3.254.412

Total:
1.227.090,94
HP: 550.946
HL: 84.464
HK: 15.673.6 ha

HHBK: Daun Kayu


Putih, Getah pinus,
getah damar/kopal,
kopi, madu, air madu,
holtikultura, benang
sutra, kapuk, tanaman
obat, atsiri (nilam
sereh), bioethanol

DIY

3.513.071

3.185,80

Total: 18.715,06
HP: 13.411,70
HL: 2.312,80
HK: 2.990,55

HHBK: Jagung, ketela


pohon, kacang tanaha,
padi, kedelai

51

Target Pembangunan 2014


Peningkatan produksi HHBK/Jasa lingkungan: 1%
Peningkatan pemenuhan bahan baku dari limbah dan
hutan tanaman 15%
Peningkatan produksi industri hasil hutan
bersertifikat: 2%
Efisiensi penggunaan bahan baku: 2%
Rehabilitasi di wilayah mangrove dan pantai: 50 ha
Sentra HHBK unggulan: 1 unit
Peningkatan pengelolaan ekosistem esensial: 2%
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 12%
Kasus hukum tindak pidana kehutanan diselesaikan
75%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata Batas : 6 Km
NSDH: 1 dokumen
Kelompok usaha produktif: 1 kelompok
Peningkatan produksi HHBK/Jasa lingkungan: 1%
Peningkatan produksi industry bersertifikat: 10%
RHL : 10.050 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 12%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata Batas: 75 km
NSDH: 1 dokumen
Kelompok Usaha Produktif: 3 kelompok
Tenaga penyuluh kehutanan: 40 orang
Peningkatan produksi HHBK/Jasa lingkungan: 1%
Peningkatan produksi industry bersertifikat: 10%
RHL di kawasan konservasi : 1.300 ha
RHL di Lahan: 13.800 ha
Hutan kota: 70 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 12%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Wajib bayar tertib membayar PNBP penggunaan
kawasan : 80%
Ijin pinjam pakai terlayani: 100%
Tata batas : 100 km
NSDH: 1 dokumen
Kelompok usaha produktif: 5 kelompok
Sertifikasi penyuluh: 80 orang
Tenaga penyuluh kehutanan: 50 orang
Peningkatan produksi HHBK/Jasa lingkungan: 1%
Peningkatan produksi industry bersertifikat: 10%
RHL di kawasan konservasi : RHL di Lahan: 20.700 ha
Hutan kota: 45 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 12%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
NSDH: 1 dokumen
Kelompok usaha produktif: 6 kelompok
Sertifikasi penyuluh: 90 orang
Tenaga penyuluh kehutanan: 50 orang
Peningkatan produksi HHBK/Jasa lingkungan: 1%
Peningkatan produksi industri bersertifikat: 10%
RHL di kawasan konservasi : 200 ha
RHL di Lahan: 9476 ha
Hutan kota: 30 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 12%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%

Rencana Kerja 2014

Provinsi

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

Luas
Wilayah (ha)

Luas Kawasan
Hutan (ha)

Produk Kehutanan

Jawa Timur

37.687.622

47.156

Total: 4.017.297
HP: 782.772
HL: 344.742
HK: 233.632
APL: 3.438.923

HHBK: Getah pinus,


kopal, daun kayu
putih, lak cabang, daun
murbei, kokon, kopi,
cengkeh,kelapa, madu,
dan rotan

Bali

3.890.757

563.666

Total:
130.686,01
HP: 8.626,36
HL: 95.766,06
HK: 26.046,10

HHBK: Getah pinus,


kopal, daun kayu
putih, dan buahbuahan

NTB

4.545.650

2.015.315

Total:
1.071.722,87
HP: 453.400,54
HL: 446.780,86
HK: 171.541,47

HHBK: Rotan, Bambu,


Gaharu, Kemiri,
Bambu, dan Madu

NTT

4.678.895

247.349,9

Total: 1.808.954
HP: 727.440
HL: 731.220
HK: 350.294

HHBK: Asam biji,


Kemiri isi, kemiri biji,
rotan, kayu papi,

52

Target Pembangunan 2014


Tata batas : 125 km
NSDH: 1 dokumen
Kelompok usaha produktif: 2 kelompok
Tenaga penyuluh kehutanan: 50 orang
Peningkatan produksi HHBK/Jasa lingkungan: 1%
Peningkatanproduksi industri hasil hutan
bersertifikat: 10%
RHL di Kawasan Konservasi: 200 ha
RHL di Lahan: 13.340 ha
Hutan kota: 50 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 12%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Wajib bayar tertib membayar PNBP penggunaan
kawasan: 80
Tata batas 21 km
NSDH: 1 dokumen
Kelompok usaha produktif: 5 kelompok
Sertifkasi penyuluh: 90 orang
Tenaga penyuluh kehutanan: 50 orang
Peningkatan produksi HHBK/Jasa lingkungan: 1%
Peningkatanproduksi industri bersertifikat: 10%
RHL di Kawasan Konservasi: 300 ha
RHL di Lahan: 3.841 ha
Hutan kota: 20 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 12%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
NSDH: 1 dokumen
Kelompok usaha produktif: 4 kelompok
Sertifkasi penyuluh: 30 orang
Tenaga penyuluh kehutanan: 50 orang
Hutan Tanaman: 297 ha
Peningkatan produksi industri bersertifikat: 10%
RHL di Kawasan Konservasi: 1.500 ha
RHL di Lahan: 6.900 ha
Hutan kota: 20 ha
HKm dan HD: 23.000 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 12%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
NSDH: 1 dokumen
KPH : 1 unit (KPHL Soromandi)
Kelompok usaha produktif: 5 kelompok
Peningkatan produksi industri bersertifikat: 10%
RHL di Kawasan Konservasi: 1.500 ha
RHL di Lahan: 13.800 ha
Hutan kota: 50 ha
HKm dan HD: 25.000 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 12%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata Batas: 591 Km
KPH: 2 Unit (KPH Flores Timur dan KPH Lembata)
Kelompok Usaha Produktif : 4 Kelompok
Sertifikasi penyuluh : 30 orang

Rencana Kerja 2014

Regional Kalimantan

Bekantan di SM. Plehari, Kalimantan Selatan

Provinsi
Kalimantan
Barat

Jumlah
Penduduk
(jiwa)
4.395.983

Luas
Wilayah
(ha)
146.807

Luas Kawasan
Hutan (ha)
Total: 8.990.875
HP: 5.226.135
HL: 2.307.045
HK: 1.645.580

Produk Kehutanan
HHBK: Gaharu,
madu hitam, rotan,
getah, kulit kayu
Produksi hasil
hutan kayu:
444.574 m3

53

Target Pembangunan 2014


Hutan Tanaman: 93.234 ha
IUPHHKA-HA/RE: 100.000 ha
RHL di Kawasan Konservasi: 1.500 ha
RHL di Lahan: 5.704 ha
Hutan kota: 42 ha
HKm dan HD: 45.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata Batas: 733 Km
KPH: 1 Unit (KPHP Sekadau)
Kelompok Usaha Produktif : 2 Kelompok
Tenaga Penyuluh Kehutanan: 40 orang
Rencana Kerja 2014

Provinsi
Kalimantan
Selatan

Jumlah
Penduduk
(jiwa)
3.626.119

Luas
Wilayah
(ha)
37.377,53

Luas Kawasan
Hutan (ha)
Total: 1.779.982
HP: 1.040.272
HL: 526.425
HK: 213.285

Produk Kehutanan
HHBK: Gaharu,
Madu, Gatah

Produksi hasil
hutan kayu:
18.866 m3

Kalimantan
Timur

3.550.568

245.237,80

Total: 14.651.553
HP: 9.734.653
HL: 2.751.702
HK: 2.165.198

HHBK: Rotan

Produksi hasil
hutan kayu:
3.560.713 m3

Kalimantan
Tengah

2.200.000

153.564

Total: 15.320.100
HP: 9.742.813
HL: 1.346.066
HK: 1.630.828
APL: 2.707.073

HHBK: Rotan
Produksi hasil
hutan kayu:
2.892.461 m3

54

Target Pembangunan 2014


Hutan Tanaman: 16.734 ha
RHL di Kawasan Konservasi: 500 ha
RHL di Lahan: 4.600 ha
Hutan kota: 40 ha
HKm dan HD: 35.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata Batas: 580,50 Km
KPH: 1 Unit (KPHP Tabalong)
Kelompok Usaha Produktif : 3 Kelompok
Tenaga Penyuluh Kehutanan: 40 orang
Hutan Tanaman: 107.472 ha
IUPHHKA-HA/RE: 200.000 ha
RHL di Kawasan Konservasi: 500 ha
RHL di Lahan: 4.600 ha
Hutan kota: 30 ha
HKm dan HD: 17.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata Batas: 3.232 Km
KPH: 1 Unit (KPHP Paser)
NSDH: 1 DOkumen
Kelompok Usaha Produktif : 2 Kelompok
Tenaga Penyuluh Kehutanan: 40 orang
Hutan Tanaman: 29.747 ha
IUPHHKA-HA/RE: 95.000 ha
RHL di Kawasan Konservasi: 2.000 ha
RHL di Lahan: 2.300 ha
Hutan kota: 60 ha
HKm dan HD: 20.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata Batas: 561, 31 Km
KPH: 3 Unit (KPHP Kota Palangkaraya, KPHP
Murung Raya dan KPHP Gunung Mas)
Kelompok Usaha Produktif : 3 Kelompok

Rencana Kerja 2014

Regional Sulawesi-Maluku-Papua

Kapal nelayan mencari ikan di Tomia, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara

Provinsi
Maluku
Utara

Maluku

Jumlah
Penduduk
(jiwa)
1.038.087

1.457.070

Luas
Wilayah
(ha)
145.819,1

581.376

Luas Kawasan
Hutan (ha)

Produk Kehutanan

Total: 2.864.975
HP: 2.119.500
HL: 618.744
HK: 215.300

HHBK: -

Total: 4.390.640

HHBK: Rotan,
Damar, Bambu,
Minyak Lawang,
Madu, Gaharu, dan

Produksi hasil
hutan kayu: 1.711
m3

55

Target Pembangunan 2014


Hutan Tanaman: 2.803 ha
IUPHHK HA/RE: 50.000 ha
Peningkatan produksi penebangan bersertifikat:10%
RHL di Kawasan Konservasi: 500 ha
RHL di Lahan: 3.450 ha
Hutan kota: 30 ha
HKm dan HD: 16.000 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 10%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata Batas: 849.99 Km
KPH: 1 Unit (KPHP Halmahera Selatan)
Kelompok Usaha Produktif : 2 Kelompok
Hutan Tanaman: 3.614 ha
IUPHHK HA/RE: 35.000 ha
Peningkatan produksi hasil hutan bukan kayu/jasa
lingkungan: 1%
Rencana Kerja 2014

Provinsi

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

Luas
Wilayah
(ha)

Luas Kawasan
Hutan (ha)

Produk Kehutanan
Sagu

Produksi hasil
hutan kayu:
72.694 m3

Sulawesi
Utara

2.270.596

1.506.900

Total: 788.693
HP: 292.191
HL: 175.959
HK: 320.543

Produksi hasil
hutan kayu:
11.551 m3

Sulawesi
Tengah

2.729.227

26.015.975

Total: 4.394.932
HP: 2.228.761
HL: 1.489.923
HK: 676.248

HHBK: Madu,
Rotan, Pinus,dan
damar.

Sulawesi
Tenggara

2.277.020

3.814.000

Total: 2.333.155
HP: 968.742
HL: 1.081.489
HK: 282.924

HHBK: Batang,
lambing, tohiti,
getah, pinus

Sulawesi
Selatan

8.100.000

4.576.453

Total: 2.725.796
HP: 641.846
HL: 1.232.683
HK: 207.502

HHBK: Rotan,
getah pinus, dan
damar

Sulawesi
Barat

1.158.336

1.678.718

Total: 1.298.933,07
HP: 505.587,94
HL: 725.386,54
HK: 900

HHBK: Rotan,
sutra, aren
Produksi hasil
hutan kayu : 9.492
m3

56

Target Pembangunan 2014


RHL di Kawasan Konservasi: 500 ha
RHL di Lahan: 2.875 ha
Hutan kota: 50 ha
HKm dan HD: 3.000 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 10%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata Batas: 300 Km
KPH: 2 Unit (KPHP Wae Tina dan KPHP Wae Bubi)
Kelompok Usaha Produktif : 3 Kelompok
RHL di kawasan konservasi: 500 ha
RHL di Lahan: 8.694 ha
Hutan kota: 50 ha
Hkm dan HD 17.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas: 947,63 km
Kelompok Usaha Produktif: 4 kelompok
Hutan Tanaman: 942 ha
Peningkatan produksi penebangan bersertifikat:
10%
RHL di kawasan konservasi: 1.000 ha
RHL di Lahan: 3.496 ha
Hutan kota: 60 ha
Hkm dan HD 35.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas: 2.172 km
KPH: 2 unit (KPH Toli Baturube dan KPH Tajo Unauna)
Kelompok Usaha Produktif: 3 kelompok
RHL di kawasan konservasi: 2.500 ha
RHL di Lahan: 9.200 ha
Hutan kota: 100 ha
Hkm dan HD: 17.000 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas: 93 km
NSDH: 1 dokumen
Kelompok Usaha Produktif: 4 kelompok
Peningkatan produksi industri bersertifikat: 10%
RHL di kawasan konservasi: 5.500 ha
RHL di Lahan: 12.650 ha
Hutan kota: 80 ha
Hkm dan HD: 50.500 ha
Penurunan Hotspot: 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas: KPH: 1 unit (KPHP Wajo)
Kelompok Usaha Produktif: 5 kelompok
Tenaga penyuluh kehutanan: 50 orang
Hutan Tanaman: 602 ha
Peningkatan produksi HHBK/jasa lingkungan : 1%
RHL di kawasan konservasi: 4.000
RHL di Lahan : 8.050 ha
Hutan kota : 50 ha
Hkm dan HD : 23.000 ha
Penurunan Hotspot : 20%
Rencana Kerja 2014

Provinsi

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

Luas
Wilayah
(ha)

Luas Kawasan
Hutan (ha)

Produk Kehutanan

Gorontalo

1.062.833

1.221.544

Total: 824.668
HP: 423.407
HL: 204.608
HK: 196.653

HHBK: Rotan

Papua
Barat

1.457.070

97.117

Total: 9.361.073
HP: 3.706.251
HL: 1.660.589
HK: 1.721.767

HHBK: Rotan,
Damar, Minyak
lawing, Masoy

Papua

2.833.381

421.981

Total: 40.546.360
HP: 21.901.450
HL: 10.619.090
HK: 9.704.300

HHBK: Rotan,
sagu, nipah,
lawing, kayu putih,
perlebahan, dan
gaharu
Produksi hasil
hutan kayu:
593.247 m3

57

Target Pembangunan 2014


Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas : 1.507 km
KPH : 1 unit (KPHL Buddong Lebo)
NSDH : 1 Dokumen
Kelompok Usaha Produktif : 3 kelompok
Hutan Tanaman: 2.415 ha
Peningkatan produksi HHBK/jasa lingkungan : 1%
RHL di kawasan konservasi: 500
RHL di Lahan : 4.025 ha
Hutan kota : 55 ha
Hkm dan HD : 11.000 ha
Penurunan Hotspot : 20%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata batas : 75 Km
KPH : 1 unit (KPH Gorontalo)
Kelompok Usaha Produktif : 2 kelompok
Peningkatan produksi penebangan bersertifikat:
10%
Penebangan produksi industry bersertifikat: 10%
RHL di Kawasan Konservasi: 1.500 ha
RHL di Lahan: 3.450 ha
Hutan kota: 30 ha
Hkm & Hutan Desa: 2.000 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 10%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata Batas: 1.517 Km
KPH: 1 Unit (KPHL Raja Ampat)
Kelompok Usaha Produktif : 2 Kelompok
Hutan Tanaman 14.191 ha
IUPHHKA-HA/RE: 200.000 ha
RHL di Kawasan Konservasi: 2.000 ha
RHL di Lahan: 10.810 ha
Hutan kota: 30 ha
Peningkatan pengusahaan pariwisata alam: 10%
Penurunan konflik kawasan: 1%
Peningkatan populasi spesies prioritas utama: 1%
Tata Batas: 2.000 Km
KPH: 2 Unit (KPHL Mimika dan KPHL Jayawijaya)
Kelompok Usaha Produktif : 2 Kelompok

Rencana Kerja 2014

Gili Air, Nusa Tenggara Barat, salah satu pemanfaatn sumberdaya untuk tujuan wisata alam
yang memberikan kontribusi langsung pada pembangunan daerah

IV.

PENGUKURAN KINERJA

Pengukuran kinerja dirumuskan sebagai upaya meningkatkan akuntabilitas tata kelola pemerintahan
di lingkungan Kementerian Kehutanan, utamanya untuk memandu kriteria keberhasilan pelaksanaan
kegiatan dan menjadi dasar dalam penyusunan LAKIP Kementerian Kehutanan Tahun 2014.
Kinerja yang akan diukur di dalam LAKIP Kementerian Kehutanan Tahun 2014 adalah pelaksanaan 8
program pembangunan, yang hasil ditunjukkan dengan IKU di setiap program. Selanjutnya, seluruh
unit kerja pelaksana program mengukur hasil pelaksanaan kegiatan yang ditunjukkan dengan adanya
IKK.

58

Rencana Kerja 2014

Pohon Kedondong sedang menggugurkan daun di TWA Gn. Tuna, Nusa Tenggara Barat

Program Perencanaan Makro Bidang Kehutanan dan Pemantapan Kawasan Hutan

1. Unit Kerja Penanggung Jawab


2. Sasaran/hasil
a. Pernyataan

Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan

Terjaminnya kepastian kawasan hutan sehingga


pengelolaan sumberdaya hutan dapat dilaksanakan
secara lebih optimal
Capaian sasaran merupakan rerata dari capaian kinerja
pada tahun 2014
Akhir tahun 2014

b.

Cara Pengukuran

c.

Waktu pengukuran

59

Rencana Kerja 2014

Indikator kinerja

Tata Batas kawasan hutan (batas luar dan fungsi) sepanjang 20.000 km

Jenis data

Panjang batas definitif kawasan hutan, berdasarkan laporan tata batas yang memuat Berita Acara Tata
Batas/Notulen Rapat Panitia Tata Batas tahun 2014

Cara pengukuran

Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar
20.000 km

Sumber data

Rekapitulasi daftar Berita Acara Tata Batas/Notulen Rapat Panitia tata Batas tahun 2014 yang ditandatangani
oleh Direktorat Pengukuhan, Penatagunaan, dan Tenurial Kawasan Hutan

Indikator kinerja

Beroperasinya KPH sebanyak 30 unit

Jenis data

KPH beroperasi diukur dari pemenuhan 5 hal, yaitu: wilayah KPH yang ditetapkan oleh Menteri; institusi KPH
yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota/Gubernur; sarana dan prasarana; dan rencana pengelolaan hutan yang
ditandatangani oleh Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional; serta telah adanya
kegiatan pengelolaan hutan di wilayah KPH pada tahun 2014

Cara pengukuran

Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar 30
unit

Sumber data

Rekapitulasi daftar SK Penetapan areal oleh Menteri Kehutanan, SK/ Perda Bupati/ Walikota/ Gubernur
tentang pembentukan insitusi KPH, daftar Berita Acara Serah Terima pengadaan sarana dan prasarana KPH
dari Kepala BPKH ke Kepala KPH, daftar dokumen pengesahan rencana pengelolaan hutan pada hutan 2014,
yang ditandatangani oleh Direktur Wilayah Pengelolaan dan Penyiapan Areal Pemanfaatan Hutan

Indikator kinerja

Data dan Informasi geospasial dasar dan tematik kehutanan tingkat nasional sebanyak 1 judul

Jenis data

Neraca Sumberdaya Hutan yang tersedia secara nasional dan diterbitkan tahun 2014 oleh Direktur Jenderal
Planologi Kehutanan

Cara pengukuran

Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar 1
judul

Sumber data

NSDH yang tersedia secara nasional dan diterbitkan oleh Dirjen Planologi berdasarkan kondisi hutan tahun
2014

Indikator kinerja

Ijin pinjam pakai kawasan hutan terlayani 100% secara tepat waktu

Jenis data

Jumlah permohonan ijin pinjam pakai kawasan hutan yang masuk pada tahun 2014

Cara pengukuran

Membandingkan jumlah permohonan ijin yang masuk dan telah diselesaikan permohonannya dengan jumlah
permohonan ijin yang masuk di tahun 2014 dikalikan 100%.

Sumber data

Rekapitulasi daftar penyelesaian ijin pinjam pakai yang dilayani di tahun 2014 yang ditandatangani oleh
Direktur Penggunaan Kawasan Hutan.

Indikator kinerja

Rencana makro penyelenggaraan kehutanan sebanyak 1 judul

Jenis data

Dokumen rencana makro penyelenggaraan kehutanan yang diterbitkan oleh Menteri Kehutanan tahun 2014

Cara pengukuran

Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana adalah 1 judul

Sumber data

Dokumen rencana makro penyelenggaraan kehutanan yang ditandatangani oleh Menteri Kehutanan

Indikator kinerja

Penunjukkan kawasan hutan provinsi selesai 100%

Jenis data

Jumlah provinsi yang kawasan hutannya ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sebagai kawasan hutan, selesai
100% dari seluruh provinsi yang direncanakan. Jumlah provinsi yang direncanakan akan ditunjuk kawasan
hutannnya hingga 2014 sebanyak 7 provinsi

Cara pengukuran

Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana 7 provinsi

Sumber data

Rekapitulasi daftar SK Menteri Kehutanan tentang penunjukkan kawasan hutan provinsi yang diterbitkan
tahun 2014 yang ditandatangani oleh Direktur Pengukuhan, Penatagunaan dan Tenurial Kawasan Hutan

60

Rencana Kerja 2014

Hutan tanaman di PT. Balikpapan Forest Industries, Kalimantan Timur

Program Peningkatan Usaha Kehutanan

1. Unit Kerja Penanggung Jawab


2. Sasaran/hasil
a. Pernyataan

Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan

Peningkatan investasi usaha pemanfataan hutan produksi


dan Industri primer hasil hutan, serta peningkatan produksi
dan diversifikasi hasil hutan.
Capaian sasaran merupakan rerata dari capaian indikator
kinerja pada tahun 2014
Akhir tahun 2014

b.

Cara pengukuran

c.

Waktu Pengukuran

61

Rencana Kerja 2014

Areal tanaman pada hutan tanaman bertambah sebesar 550.000 ha


Indikator Kinerja
Jenis Data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator Kinerja
Jenis Data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator Kinerja
Jenis Data

Cara pengukuran
Sumber data
Indikator Kinerja
Jenis Data

Cara pengukuran
Sumber data
Indikator Kinerja
Jenis Data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator Kinerja
Jenis Data

Cara pengukuran
Sumber data

Areal tanaman baru di hutan tanaman yang ditanami tanaman baru yang masuk dalam laporan hasil
penanaman oleh pemegang ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu di hutan tanaman pada tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar
550.000 ha
Rekapitulasi data hasil penanaman dari pemegang IUPHHK-HT dan hasil monitoring, verifikasi dan
pelaporan atas laporan penanaman oleh Pemegang IUPHHK-HT Tahun 2013 yang ditandatangani oleh
Direktur Bina Usaha Hutan Tanaman
IUPHHK-HA/RE pada areal bekas tebangan (logged over area) seluas 750.000 ha
Luasan IUPHHK-HA/RE yang diterbitkan tahun 2014. Luasan untuk IUPHHK-HA direncanakan seluas
620.000 ha dan IUPHHK-RE seluas 130.000 Ha
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar
750.000 ha
Rekapitulasi daftar SK Menteri Kehutanan dalam penerbitan IUPHHK-HA/RE Tahun 2014 yang
ditandatangani oleh Direktur Bina Usaha Hutan Alam.
Produk industri hasil hutan yang bersertifikat legalitas kayu meningkat 10%
Volume produksi dari IIPHHK berkapasitas di atas 6.000 m3 yang memperoleh sertifikat oleh lembaga
sertifikasi pada tahun 2014
Target pada tahun 2013 sebesar 7,58 juta m3
Target pada tahun 2014 sebesar 8,13 juta m3
Membandingkan angka capaian dengan angka target dikalikan 100%, dimana angka target sebesar 7,65
juta m3
Rekapitulasi data volume produksi dari industri hasil hutan yang bersertifikat pada tahun 2014 yang
ditandatangani oleh Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan
PNBP dari investasi pemanfaatan hutan produksi meningkat 2% di tahun 2014
Jumlah PNBP dari investasi pemanfaatan hutan produksi tahun 2014
Target PNBP tahun 2013 sebesar
Rp. 2,37 Triliun
Target PNBP tahun 2014 sebesar
Rp. 2.42 Triliun
Membandingkan angka capaian dengan angka target dikalikan 100%, dimana angka target sebesar Rp.
2.42 Triliun
Rekapitulasi jumlah PNBP dari investasi pemanfaatan hutan produksi di tahun 2014 yang
ditandatangani oleh Direktur Bina Iuran dan Peredaran Hasil Hutan.
Terbentuknya KPHP di 18 provinsi sebesar 100%
Rencana Bisnis KPH pada 10 KPH di 9 provinsi
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana adalah
10 unit KPH di 9 provinsi
Dokumen Rencana Bisnis 10 unit KPH Model yang ditandatngani oleh Kepala KPH.
Peningkatan produk hasil hutan kayu dan bukan kayu/jasa lingkungan sebesar 1%
Jumlah produk hasil hutan kayu dan bukan kayu /jasa lingkungan tahun 2014
- Target produksi HHBK/Jasa lingkungan tahun 2013 sebesar: 421.853 ton
- Target produksi HHBK/ Jasa lingkungan tahun 2014 sebesar 425.909 ton
- Target produksi Kayu Hutan Alam tahun 2013 sebesar 5.641.051 m3
- Rencana Produk Kayu Hutan Alam tahun 2014 sebesar 5.697.462 m3
Membandingkan angka capaian dengan angka target dikalikan 100%, dimana angka target sebesar
426.072 ton dan 5.697.462 m3
Rekapitulasi data produksi hasil hutan bukan kayu/jasa lingkungan yang ditandatangani oleh Direktur
Bina Rencana Pemanfaatan dan Usaha Kawasan

62

Rencana Kerja 2014

Ranu Kumbolo, TN. Gn. Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur

Program Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Perlindungan Hutan


1. Unit Kerja Penanggung Jawab

Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi


Alam

2. Sasaran/hasil
a. Pernyataan

Biodiversity dan ekosistemnya berperan signifikan sebagai


penyangga ketahanan ekologis dan penggerak ekonomi riil
serta pengungkit martabat bangsa dalam pergaulan global
Rerata dari capaian indikator kinerja pada tahun 2014
Akhir tahun 2014

b. Cara pengukuran
c. Waktu pengukuran

:
:

63

Rencana Kerja 2014

Panorama di sekitar air terjun Jeruk Manis, TN. Gn. Rinjani, Nusa Tenggara Barat

Indikator kinerja
Jenis data

Cara Pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data

Cara Pengukuran

Jumlah hotspot kebakaran hutan di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi menurun 67,2% dari rerata 2005-2009
Jumlah hotspot yang terpantau pada Stasiun Bumi Satelit NOAA 18 sepanjang tahun 2014
Rerata hotspot tahun 2005-2009 sebesar 58.890 titik
Target jumlah hotspot yang dimungkinkan tahun 2014 sebesar 19.316 titik
[58.890-(58.890 x 67,2%)
Membandingkan angka capaian dengan angka target dengan perhitungan
, dimana angka target sebesar 19.316 titik.
Rekapitulasi data Hotspot Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi yang ditandatangani oleh Direktur
Pengendalian Kebakaran Hutan.
Populasi spesies prioritas utama yang terancam punah meningkat sebesar 3% dari kondisi tahun 2008 sesuai
ketersediaan habitat
Jumlah individu dari 14 spesies (Maleo, Jalak Bali, Kakaktua Jambul Kuning, Elang Jawa, Harimau Sumatera, Badak
Jawa, Gajah Sumatera, Badak Jawa, Gajah Sumatera, Anoa, Babi Rusa, Orang utan Kalimantan, Bekantan, Owa Jawa,
Komodo, dan Banteng) pada tahun 2008
Jumlah individu tahun 2008 : Maleo sebanyak 1.983 ekor, Jalak Bali sebanyak 114 ekor, Kakaktua Jambul
Kuning sebanyak 659 ekor, Elang Jawa sebanyak 57 ekor, Harimau Sumatera sebanyak 340 ekor, Badak Jawa
sebanyak 27ekor, Gajah Sumatera sebanyak 340 ekor, Anoa sebanyak 860 ekor, Babi rusa sebanyak 681 ekor,
Orangutan Kalimantan sebanyak 5.920 ekor, Bekantan sebanyak 1.172 ekor, Owa Jawa sebanyak 989 ekor,
Komodo sebanyak 3.722 ekor, Banteng sebanyak 266 ekor
Rencana jumlah individu tahun 2014 : Maleo sebanyak 2.043 ekor, Jalak Bali sebanyak 118 ekor, Kakaktua
Jambul Kuning sebanyak 679 ekor, Elang Jawa sebanyak 59 ekor, Harimau Sumatera sebanyak 350 ekor, Badak
Jawa sebanyak 28 ekor, Gajah Sumatera sebanyak 350 ekor, Anoa sebanyak 886 ekor, Babi Rusa sebanyak 701
ekor, Orangutan Kalimantan sebanyak 6.098 ekor, Bekantan sebanyak 1.207 ekor, Owa Jawa sebanyak 1.019
ekor, Komodo sebanyak 3.834 ekor, Banteng sebanyak 274 ekor
Membandingkan angka capaian populasi 14 spesies dengan angka rencana dikalikan 100%. Realisasi pencapaian
64

Rencana Kerja 2014

Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara Pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data

Cara Pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara Pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara Pengukuran
Sumber data

indikator kinerja ini adalah rerata dari presentase pencapaian 14 spesies prioritas utama.
Rekapitulasi data populasi 14 spesies prioritas utama hasil perhitungan tahun 2014 yang ditandatangani oleh
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati.
Terbangunnya persiapan sistem pengelolaan BLU di 1 UPT PHKA
1 UPT PHKA yang disiapkan untuk pengelolaan BLU di tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana adalah 1 UPT PHKA
Rekapitulasi 1 UPT yang disiapkan menjadi BLU Tahun 2014 ditandatangani oleh Sekretaris Direktorat Jenderal
PHKA
Konflik dan tekanan terhadap kawasan TN dan kawasan konservasi lainnya (CA, SM, TB) serta HL menurun
sebesar 1%
Luas areal perambahan Kawasan Konservasi tahun 2014 berhasil diturunkan 1% disbanding tahun 2013. Luas
areal perambahan di KK pada tahun 2009 adalah 500.000 ha. Target penurunan konflik dan tekanan terhadap
kawasan konservasi dan hutan lindung dalam lima tahun adalah sebesar 5% (rata-rata 1% per tahun) atau 25.000
ha dari total areal perambahan.
Rencana luas areal perambahan yang akan diselesaikan di tahun 2014 seluas 5.000 ha.
Membandingkan angka capaian dengan rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana penyelesaian perambahan
tahun 2014 adalah 5.000 ha
Rekapitulasi luas areal perambahan di TN dan kawasan konservasi lainnya (CA, SM, TB) serta HL yang berhasil
diselesaikan di tahun 2014 yang ditandatangani oleh Direktur Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung.
Kasus baru tindak pidana kehutanan (illegal logging, perambahan, perdagangan tumbuhan dan satwa liar illegal,
dan kebakaran hutan) penanganannya terselesaikan minimal 75%
Jumlah kasus tindak pidana kehutanan tahun 2014 yang berkasnya telah selesai (P21) dan siap diajukan ke
pengadilan, minimal 75%
Membandingkan angka capaian dengan rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana adalah 75%
Rekapitulasi jumlah tindak pidana kehutanan yang berkasnya telah P21 di tahun 2014, ditandatangani oleh
Direktur Penyidikan dan Pengamanan Hutan.
Pengusahaan pariwisata alam meningkat 60% disbanding tahun 2008
Jumlah ijin usaha penyediaan jasa dan sarana pariwisata alam yang ditandatangani Menteri
Kehutanan/Gubernur/Bupati/Kepala UPT di tahun 2014.
Membandingkan angka capaian dengan rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar 12 unit
Rekapitulasi jumlah ijin usaha penyediaan jasa dan sarana pariwisata alam yang ditandatangani oleh Menteri
Kehutanan/Gubernur/Bupati/Kepala UPT tahun 2014, rekapitulasi ditandatangani oleh Direktur Pemanfaatan Jasa
Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung

65

Rencana Kerja 2014

KBR di Halmahera Barat, Maluku Utara

Program Peningkatan Fungsi dan Daya Dukung DAS berbasis Pemberdayaan Masyarakat

1. Unit Kerja Penanggung Jawab

Direktorat Jenderal Bina Pengelolaan DAS dan Perhutanan


Sosial

2. Sasaran/hasil
a. Pernyataan
b. Cara pengukuran
c. Waktu pengukuran

:
:
:

Berkurangnya lahan kritis pada DAS prioritas


Rerata dari capaian indikator kinerja pada tahun 2014
Akhir tahun 2014

66

Rencana Kerja 2014

Persemaian permanen di Solo, Jawa Tengah

Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data

Rencana Pengelolaan DAS Terpadu di 3 DAS Prioritas


Jumlah dokumen rencana pengelolaan DAS terpadu di 3 DAS prioritas yang sudah ditandatangani oleh Menteri
/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai kewenangannya pada tahun 2014
Membandingkan capaian dengan rencana dikalikan 100%, dimana rencana sebesar 3 DAS prioritas
Rekapitulasi yang ditandatangani oleh Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengelolaan DAS yang berisi daftar
dokumen rencana pengelolaan DAS terpadu
Tanaman rehabilitasi pada hutan dan lahan kritis di DAS prioritas seluas 40.000 ha
Luas hutan dan lahan kritis yang ditanami pada tahun 2014, baik di dalam maupun di luas kawasan hutan
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar 40.000
ha
Rekapitulasi data luas hasil penanaman tahun 2014 yang ditandatangani oleh Direktur Bina Rehabilitasi Hutan
dan Lahan
Penetapan areal kerja pengelolaan HKm dan HD seluas 500.000 ha
Luas wilayah yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan sebagai areal kerja HKm dan HD pada tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar 500.000
ha
Rekapitulasi daftar SK Menteri Kehutanan untuk penetapan areal kerja pengelolaan HKm dan HD tahun 2014
yang ditandatangani oleh Direktur Bina Perhutanan Sosial
Terbangunnya hutan rakyat kemitraan seluas 50.000 ha
Luas hutan rakyat kemitraan yang dibangun di tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana seluas 50.000 ha
SK Menteri Kehutanan untuk penetapan areal kerja hutan rakyat kemitraan di tahun 2014 yang ditandatangani
oleh Direktur Bina Perhutanan Sosial
Terbangunnya sumber benih baru seluas 610 ha
Luas areal sumber benih baru yang dibangun di tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana adalah 610 ha
Rekapitulasi daftar berita acara serah terima pembangunan sumber benih baru di tahun 2014, yang
ditandatangani oleh Direktur Perbenihan Tanaman Hutan

67

Rencana Kerja 2014

Penyadapan aren untuk gula merah, upaya pemberdayaan masyarakat TN. Bantimurung Bulusaraung,
di Desa Tompobulu, Kec. Balocci, Kab. Pangkep, Sulawesi Selatan

Program Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan


1. Unit Kerja Penanggung Jawab
2. Sasaran/hasil
a. Pernyataan

b.
c.

Cara pengukuran
Waktu pengukuran

: Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan


: Meningkatnya kapasitas pelaku utama dan pelaku usaha melalui upaya
penyuluhan, serta peningkatan kapasitas aparatur Kemenhut dan SDM
Kehutanan.
: Rerata dari capaian indikator kinerja pada tahun 2014
: Akhir tahun 2014

68

Rencana Kerja 2014

Pertanian organik, upaya pemberdayaan masyarakat TN. Bantimurung Bulusaraung,


di Desa Tompobulu, Kec. Balocci, Kab. Pangkep, Sulawesi Selatan

Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data

Terbentuknya kerjasama kemitraan melalui peningkatan peran serta pelaku utama dan pelaku usaha dalam
pemberdayaan masyarakat sebanyak 10 kerjasama
Jumlah dokumen kerjasama yang ditandatangani oleh pelaku utama dan pelaku usaha tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar 10
kerjasama
Rekapitulasi daftar dokumen kerjasama pada tahun 2014 yang ditandatangani oleh Kepala Badan
Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sebanyak 3.000 orang
Jumlah peserta diklat (aparatur dan non aparatur) di lingkungan Pusat Diklat Kehutanan tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar 3.000 orang
Rekapitulasi daftar peserta diklat di lingkungan Pusat Diklat Kehutanan tahun 2014 yang ditandatangani oleh
Kepala Pusat Diklat Kehutanan
Terbentuknya kelompok masyarakat produktif mandiri sebanyak 100 kelompok
Jumlah kelompok masyarakat produktif mandiri hasil fasilitasi dalam pemberdayaan masyarakat di tahun
2014
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana 100 kelompok
Rekapitulasi daftar kelompok masyarakat produktif mandiri hasil fasilitasi oleh penyuluh pada tahun 2014
yang ditandatangani oleh Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan
Sertifikasi penyuluh kehutanan sebanyak 500 orang
Jumlah penyuluh yang memperoleh sertifikat di tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebanyak 500
orang
Rekapitulasi daftar nama penyuluh yang memperoleh sertifikat tahun 2014, ditandatangani oleh Kepala Pusat
Perencanaan Pengembangan SDM Kehutanan
Pendidikan menengah kejuruan kehutanan sebanyak 288 siswa
Jumlah lulusan pendidikan menengah kehutanan di tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebanyak 288
orang
Rekapitulasi daftar nama siswa yang lulus pendidikan menengah kehutanan tahun 2014, ditandatangani oleh
Kepala Pusat Diklat kehutanan

69

Rencana Kerja 2014

Monyet Sulawesi di TN. Bantimurung Bulusaraung

Program Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kehutanan

1. Unit Kerja Penanggung Jawab


2. Sasaran/hasil
a. Pernyataan

b. Cara pengukuran
c. Waktu pengukuran

: Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan


: Minimal 60% hasil litbang kehutanan dapat dimanfaatkan
dalam pengambilan kebijakan, pengelolaan teknis kehutanan
dan pengayaan ilmu pengetahuan termasuk pengembangan
kebijakan dan teknis yang berkaitan dengan isu-isu
perubahan iklim
: Rerata dari capaian indikator kinerja pada tahun 2014
: Akhir tahun 2014

70

Rencana Kerja 2014

Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran

Iptek dasar dan terapan yang dimanfaatkan oleh pengguna di bidang konservasi dan rehabilitasi sebanyak 7
judul, sebanyak 100%
Teknologi dasar dan terapan dihasilkan pada tahun 2014 sebanyak 7 judul, dimanfaatkan oleh pengguna
sebanyak 100%
Memberikan penilaian hasil penelitian sesuai kriteria sebagai berikut
Riset Terapan/Teknis

Telah diterapkan, rencana SNI


Demplot, Jurnal akreditasi
Alih teknologi, prosiding, publikasi populer (Koran, warta)
Gelar teknologi pameran
Draft publikasi, poster, banner, leafleat

100
80
60
40
20

Riset Terapan/Kebijakan

Menjadi kebijakan, SK Menhut, RSNI


Bahan kebijakan , draft SK Menhut, terakreditasi, buku, petunjuk
teknis, pedoman
Policy brief, prosiding, publikasi popular (Koran, warta)
Seminar
Draft publikasi, draft petunjuk teknis, draft

100
80

Paten, hak cipta, RSNI, perlindungan varietas tanaman, penemuan


teori/inovasi baru, jurnal internasional
Jurnal terakreditasi, buku, draft paten
Prosiding, publikasi popular (Koran, warta, dll)
Seminar
Draft publikasi

100

Riset Dasar

60
40
20

80
60
40
20

Sumber data

Rekapitulasi daftar hasil penelitian yang dimanfaatkan oleh pengguna di tahun 2014, ditandatangani oleh
Kepala Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi SDA

Indikator kinerja

Iptek dasar dan terapan yang dimanfaatkan oleh pengguna di bidang produktifitas hutan sebanyak 6 judul,
sebesar 100%
Teknologi dasar dan terapan dihasilkan pada tahun 2014 sebanyak 6 judul, dimanfaatkan oleh pengguna
sebesar 100%
Memberikan penilaian hasil penelitian sesuai kriteria sebagaimana kriteria di bidang konservasi dan
rehabilitasi
Rekapitulasi daftar hasil penelitian yang dimanfaatkan oleh pengguna di tahun 2014, ditandatangani oleh
Kepala Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan
Iptek dasar dan terapan yang dimanfaatkan oleh pengguna di bidang keteknikan kehutanan dan pengolahan
hasil hutan sebanyak 5 judul, sebanyak 100%
Teknologi dasar dan terapan dihasilkan pada tahun 2014 sebanyak 5 judul, dimanfaatkan oleh pengguna
sebanyak 100%
Memberikan penilaian hasil penelitian sesuai kriteria sebagaimana kriteria di bidang konservasi dan
rehabilitasi
Rekapitulasi daftar hasil penelitian yang dimanfaatkan oleh pengguna di tahun 2014, ditandatangani oleh
Kepala Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan
Iptek dasar dan terapan yang dimanfaatkan oleh pengguna dibidang perubahan iklim dan kebijakan kehutanan
sebanyak 7 judul, sebanyak 100%
Teknologi dasar dan terapan dihasilkan pada tahun 2014 sebanyak 7 judul, dimanfaatkan oleh pengguna
sebanyak 100%
Memberikan penilaian hasil penelitian sesuai kriteria sebagaimana kriteria di bidang konservasi dan
rehabilitasi
Rekapitulasi daftar hasil penelitian yang dimanfaatkan oleh pengguna di tahun 2014, ditandatangani oleh
Kepala Pusat Litbang Perubahan Iklim dan Kebijakan.

Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data

71

Rencana Kerja 2014

Tim auditor Inspektorat Jenderal memeriksa bangunan pagar kantor Seksi Pengelolaan TN Wilayah II Kaledupa,
TN. Wakatobi, Sulawesi Tengggara

Program Pengawasan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Kehutanan

1. Unit Kerja Penanggung Jawab


2. Sasaran/hasil
a. Pernyataan

b. Cara pengukuran
c. Waktu pengukuran

: Inspektorat Jenderal
: Terwujudnya pengawasan dan peningkatan akuntabilitas
aparatur Kementerian Kehutanan serta mendorong
perwujudan reformasi birokrasi dan tata kelola Kementerian
Kehutanan
: Rerata dari capaian indikator kinerja pada tahun 2014
: Akhir tahun 2014

72

Rencana Kerja 2014

Indikator kinerja
Jenis data

Cara pengukuran

Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data

Cara pengukuran

Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data

Cara pengukuran

Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data

Cara pengukuran

Sumber data

Kelemahan administrasi turun sebesar 50% dari tahun 2009


Proporsi temuan kelemahan administrasi hasil audit Inspektorat Jenderal tahun 2014 turun 50% dibandingkan
tahun 2009.
Proporsi temuan kelemahan admnistrasi tahun 2009 sebesar 20,04% dengan demikian target penurunan
2010-2014 sebesar 10,02%
Target penurunan proporsi temuan kelemahan administrasi hingga tahun 2014 sebesar 10,02% sehingga
proporsi temuan kelemahan administrasi tahun 2014 menjadi sebesar 10,02 %.
Membandingkan target dan realisasi penurunan proporsi temuan kelemahan administrasi dengan perhitungan
, dimana angka target sebesar 10,02 dan realisasi merupakan proporsi temuan
kelemahan administrasi hasil audit Inspektorat Jenderal tahun 2014
Rekapitulasi temuan hasil audit Inspektorat Jenderal tahun 2014 yang ditandatangani oleh Sekretaris Inspektorat
Jenderal
Pelanggaran terhadap peraturan perundangan berkurang sampai 50% dari tahun 2009
Proporsi temuan pelanggaran terhadap peraturan perundangan hasil audit Inspektorat Jenderal tahun 2014
turun 50% dibandingkan tahun 2009.
Proporsi temuan pelanggaran terhadap perundangan tahun 2009 sebesar 14,69% dengan demikian target
penurunan 2010-2014 sebesar 7,35%
Target penurunan proporsi temuan pelanggaran terhadap peraturan perundangan hingga tahun 2014
sebesar 7,35% sehingga proporsi temuan pelanggaran terhadap peraturan perundangan tahun 2014 menjadi
sebesar 7,34%
Membandingkan target dan realisasi penurunan proporsi temuan pelanggaran terhadap peraturan perundangan
dengan perhitungan
, dimana angka target sebesar 7,35 dan realisasi merupakan
proporsi temuan pelanggaran terhadap peraturan perundangan hasil audit Inspektorat Jenderal tahun 2014
Rekapitulasi temuan hasil audit Inspektorat Jenderal tahun 2014 yang ditandatangani oleh Sekretaris Inspektorat
Jenderal
Hambatan kelancaran pelaksanaan tugas berkurang hingga 50% dari tahun 2009
Proporsi temuan hambatan kelancaran pelaksanaan tugas hasil audit Inspektorat Jenderal tahun 2014 berkurang
50% dibandingkan tahun 2009.
Proporsi temuan hambatan kelancaran pelaksanaan tugas tahun 2009 sebesar 14,31% dengan demikian
target penurunan 2010-2014 sebesar 7,16%
Target penurunan proporsi hambatan kelancaran pelaksanaan tugas hingga tahun 2014 sebesar 7,16%
sehingga proporsi temuan hambatan kelancaran pelaksanaan tugas tahun 2014 menjadi sebesar 7,15%
Membandingkan target dan realisasi penurunan proporsi temuan hambatan kelancaran pelaksanaan tugas
dengan perhitungan
, dimana angka target sebesar 7,16 dan realisasi merupakan
proporsi temuan hambatan kelancaran pelaksanaan tugas hasil audit Inspektorat Jenderal tahun 2014
Rekapitulasi temuan hasil audit Inspektorat Jenderal tahun 2014 yang ditandatangani oleh Sekretaris Inspektorat
Jenderal
Potensi kerugian Negara diturunkan hingga 25% dari temuan 2006-2009
Jumlah potensi kerugian negara yang berhasil diselesaikan hingga tahun 2014 sebesar 25% dibandingkan angka
potensi kerugian Negara hasil temuan tahun 2006-2009
Jumlah potensi kerugian negara hasil temuan tahun 2006-2009 sebesar Rp. 695.079.784.709,00 dan jumlah
target penurunan tahun 2010-2014 sebesar Rp. 178.769.946.177,25
Target penurunan potensi kerugian Negara tahun 2014 sebesar Rp. 173.769.946.177,25 sehingga jumlah
potensi kerugian Negara tahun 2014 menjadi sebesar Rp. 521.309.838.531,75
Membandingkan realiasi dan target potensi kerugian Negara yang berhasil diselesaikan, dengan perhitungan
, dimana angka target sebesar rp.173.769.946.177,25 dan realisasi merupakan pengurangan dari
Rp. 695.079.784.709,00 (angka dasar temuan tahun 2006-2009) dikurangi sisa potensi kerugian negara tahun
2014
Rekapitulasi tindak lanjut hasil audit Inspektorat Jenderal tahun 2014 yang ditandatangani oleh Sekretaris
Inspektorat Jenderal

73

Rencana Kerja 2014

Stalagmit di Gua Istana, TN. Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.


Menurut penelitan LIPI, stalagmit gua ini berusia 400 ribu 650 ribu tahun.

Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Kehutanan

1.

Unit Kerja Penanggung Jawab

: Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya


Kementerian Kehutanan

2. Sasaran/hasil
a. Pernyataan
b. Cara pengukuran
c. Waktu pengukuran

: Meningkatnya tata kelola administrasi pemerintahan


Kemenhut secara efektif dan efisien
: Rerata dari capaian indikator kinerja pada tahun 2014
: Akhir tahun 2014

74

Rencana Kerja 2014

Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data
Indikator kinerja
Jenis data
Cara pengukuran
Sumber data

Opini laporan keuangan Kemenhut tahun 2014 dinyatakan wajar tanpa pengecualian
Opini BPK terhadap laporan keuangan Kementerian Kehutanan tahun 2014
Opini WTP diberikan nilai 100%, WDP diberikan nilai 80%, dan Disclaimer diberikan nilai 60%
Laporan keuangan dan opini BPK atas laporan keuangan Kementerian Kehutanan tahun 2014
Pengembalian pinjaman/piutang sebanyak 69 unit perusahaan terselesaikan sebesar 80%
Jumlah perusahaan yang mengembalikan hutang kepada Kemenhut, kumulatif hingga tahun 2014 sebesar 80%.
Jumlah perusahaan yang harus mengembalikan sebanyak 69 unit. Jumlah perusahaan yang harus mengembalikan
hingga 2014 sebanyak 55 unit
Membandingkan angka capaian dengan rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana adalah 55 unit
Rekapitulasi perusahaan yang telah diselesaikan pengembalian piutang yang ditandatangani oleh Kepala Biro
Keuangan
Pencapaian sasaran strategis Kementerian Kehutanan minimal 95%
Rerata capaian 18 sasaran strategis Kemenhut secara kumulatif hingga 2014
Membandingkan angka capain dengan angka rencana dikalikan 100% dimana angka rencana adalah 95%
Data hasil pemantauan 18 sasaran strategis yang ditandatangani oleh Kepala Biro Perencanaan
Penyelesaian status BMN eks Kanwil di 15 provinsi
Jumlah BMN gedung eks Kanwil telah masuk SIMAK BMN Kementerian Kehutanan tahun 2014 sebanyak 15 provinsi
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana adalah 15 provinsi
Laporan BMN Kementerian Kehutanan yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal tahun 2014.
Penanganan perkara, pemulihan hal-hak Negara bidang kehutanan minimal menang sebesar 80%
Jumlah perkara gugatan yang diputuskan akhir dan dinyatakan menang oleh Pengadilan di tahun 2014. Rencana
jumlah perkara yang menang di tahun 2014 sebanyak 28 perkara
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana28 perkara
Rekapitulasi daftar putusan Biro Hukum dan Organisasi
Prasarat pengembangan kapasitas dan karir pegawai minimal terpenuhi sebesar 95%
Jumlah pegawai yang memenuhi syarat untuk mengikuti pengembangan kapasitas dan karir pegawai berupa ujian
dinas, seleksi diklatpim/tugas belajar/4 kriteria, PAC dan penelaahan karir PNS sebanyak . orang
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana . orang
Rekapitulasi daftar jumlah pegawai yang memenuhi syarat pengembangan kapasitas dan karir pegawai tahun 2014
yang ditandatangani Kepala Biro Kepegawaian
Meningkatnya citra positif Kemenhut sebesar 10%
Proporsi berita yang cenderung positif pada tahun 2014 meningkat minimal 10% dibandingkan dengan data tahun
2009 sebegai tahun dasar. Proporsi berita positif tahun 2009 sebesar 55%
Membandingkan proporsi berita positif tahun 2014 pada klasifikasi: 100% untuk capaian diatas 70,5%; 80% untuk
capaian 65,5-70,5%; 60% untuk capaian 60,5-65,5%; 50% untuk capaian dibawah 60,5%
Rekapitulasi daftar hasil analisis media yang menampilkan citra positif Kemenhut di tahun 2014, ditandatangani oleh
Kepala Pusat Hubungan Masyarakat
Tersedianya standar produk dan jasa kehutanan, serta pedoman pengelolaan lingkungan dan perubahan iklim
sebanyak 7 produk
Jumlah standar produk dan jasa kehuanan sebanyak 3 RSNI, pedoman pengelolaan lingkungan 1 judul dan
perubahan iklim sebanyak 3 judul di tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar 7 produk
Rekapitulasi daftar Rancangan Standar Produk dan Jasa yang telah mencapai Konsensus untuk penetapan oleh BSN
dan SNI yang telah ditetapkan pada tahun 2014, serta pedoman pengelolaan lingkungan dan perubahan iklim, yang
ditandatangani oleh Kepala Pusat Standardisasi dan Lingkungan
Kerjasama baru bilateral sebanyak 1 negara
Jumlah negara yang memiliki kerjasama baru dengan Pemerintah Indonesia di bidang kehutanan tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana sebesar 1 negara
Rekapitulasi dokumen kerjasama yang ditandatangani antara Pemerintah Indonesia dengan mitra Negara lain tahun
2014, rekapitulasi ditandatangani oleh Kepala Pusat Kerjasama Luar Negeri
Penyaluran kredit pembangunan HTI, HTR, HKm, HD, dan HR (kemitraan) seluas 80.000 ha
Luas pembangunan HTI, HTR, HKm, HD, dan HR (kemitraan) yang mendapatkan kredit dana bergulir pembiayaan
pembangunan yang disalurkan pada tahun 2014
Membandingkan angka capaian dengan angka rencana dikalikan 100%, dimana angka rencana seluas 80.000 ha
Rekapitulasi daftar pembangunan HTI, HTR, HKM, HD, dan HR (kemitraan) yang mendapatkan kredit dana bergulir
pembiayaan pembangunan di tahun 2014, ditandatangani oleh Kepala Pusat P2H
Tersusunnya rencana pembangunan kehutanan tahun 2014 di 4 regional
Jumlah dokumen rencana pembangunan kehutanan regional 2014 yang disusun berdasarkan Rakorenbanghutreg di
4 regional
Membandingka angka capaian dengan angka rencana, dikalikan 100%, dimana angka rencana 4 regional
Dokumen rencana pembangunan kehutanan regional tahun 2014 yang di tandatangani Kapusdal di masing-masing
regional

75

Rencana Kerja 2014

Menteri Kehutanan setelah menyelam di Wangi-wangi, TN. Wakatobi,


Sulawesi Tenggara

V.

Pantai Hoga, Kaledupa, TN. Wakatobi, Sulawesi Tenggara

PENUTUP.

Rencana Kerja Kementerian Kehutanan Tahun 2014 ini diharapkan dapat menuntun gerak langkah
aparatur Kementerian Kehutanan untuk memenuhi kinerja yang telah dirumuskan. Selanjutnya,
diharapkan kepada seluruh penanggung jawab program untuk menjamin pencapaian kinerja dan
memberikan sumbangan terhadap pembangunan nasional. Pemantauan dari upaya pencapaian kinerja
ini akan dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal dalam bentuk audit kinerja, sedangkan Sekretariat
Jenderal diharapkan dapat mengkoordinasian pemantauan kinerja yang akan dituangkan ke dalam
bahan-bahan sidang kabinet dan laporan ke UKP4, serta penyusunan LAKIP Kemenhut Tahun 2014.

Menteri Kehutanan Republik Indonesia,


ttd.
Dr. (H.C) ZULKIFLI HASAN, SE., MM
Salinan sesuai dengan aslinya
KEPALA BIRO HUKUM DAN ORGANISASI,
ttd.
KRISNA RYA

76

Rencana Kerja 2014

Editor :
Helmi Basalamah, Prie Supriadi, Basoeki Karyaatmadja, Sakti
Hadengganan, Hartono, Murdiyono, Trisnu Danisworo, Trijoko
Mulyono, Waspodo, Apik Karyana, Dedi Haryadi, Teguh Priyo Adi
Sulistyo, Sandi Kusuma, Joko Suwarno, Agustina Sandrasari dan
Rini Octaviani.
Naskah, desain dan tata letak disiapkan oleh Sandi Kusuma
Sampul depan oleh Sandi Kusuma, sampul belakang oleh Febyanti
Muthia Anggraeni. Foto sampul depan adalah keragaman jenis ikan
di Pulau Menjangan oleh I Ketut Merthayasa (Balai TN. Bali Barat).
Foto sampul belakang adalah Pos 9 Gn. Bulusaraung, TN.
Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, oleh Iskandar (Balai
TN. Bantimurung Bulusaraung)
Seluruh foto merupakan hasil pelaksanaan kegiatan Kementerian
Kehutanan, baik pusat maupun daerah. Foto Harimau Sumatera
diambil dari kamera jebakan (camera trap) oleh Balai Besar TN.
Bukit Barisan Selatan bekerja sama dengan Pantera-FFI. Sedangkan
foto-foto lainnya disumbangkan (diurutkan sesuai abjad) oleh:
Agustina Sandrasari Lubis (Biro Perencanaan) Amelia Kurniasih
(Biro Perencanaan), Amrin Husein (Balai TN. Wakatobi), Bambang
Murtiaji (Biro Perencanaan), Chris Lamba Awang (Balai TN.
Wakatobi), Errys Maart (Balai TN. Wakatobi), Febyanti muthia
Anggraeni (Balai TN. Wakatobi), Haryadi (Balai TN. Kutai), I Ketut
Merthayasa (Balai TN. Bali Barat), Iskandar (Balai TN. Bantimurung
Bulusaraung), Lusi Adiputri (Dit. Bina Perhutanan Sosial), Maulana
Budi (Balai Besar TN. Gn. Gede Pangrango), Mugiharto H.P (Balai
KSDA Bengkulu), Sandi Kusuma (Biro Perencanaan), Simon Onggo
Eko Hastomo (Balai TN. Laiwangi Wanggameti), Tedjo Purwoto
(Dit. Bina Perhutanan Sosial), Usman (Balai KSDA Kalimantan
Selatan), Wida Kusuma (Biro Perencanaan).

Diterbitkan oleh :
Biro Perencanaan, Kementerian Kehutanan. Tahun 2013.
Gedung Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 2.
Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta.

77

Rencana Kerja 2014

Kacamata Laut di TN. Batimurung Bulusaraung

78

Rencana Kerja 2014