Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

INFEKSI SALURAN KEMIH SISTITIS

Dosen Pengampu
Dr. Ratih puspita

Disusun Oleh

PROFESI APOTEKER ANGKATAN XXXII


UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2016

INFEKSI SALURAN KEMIH BAWAH (SISTITIS)

I. DASAR TEORI/PENDAHULUAN
Salah satu penyakit infeksi yang terjadi di Indonesia adalah infeksi saluran kemih.
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya
invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi
bakterial yang umumnya disebabkan oleh bakteri E.Coli yang merupakan flora normal di
dalam usus. ISK terbagi menjadi 2 kategori yakni ISK bagian atas yang disebut pielonefritis
dan ISK bagian bawah yang disebut sistitis.
Sistitis adalah suatu penyakit yang merupakan reaksi inflamasi sel-selurotelium
melapisi kandung kemih. Penyakit ini disebabkan olehberkembangbiaknya mikroorganisme
di dalam kandung kemih. Infeksi kandungkemih menunjukkan adanya invasi mikroorganisme
dalam kandung kemih, dapatmengenai laki-laki maupun perempuan semua umur yang
ditunjukkan denganadanya bakteri didalam urin disebut bakteriuria.
A. Epidemiologi
Infeksi ini ditemukan pada semua umur, pria dan wanita mulai bayi barulahir hingga
orang tua. Wanita lebih sering mengalami sistitis dibanding pria.Kejadian sistitis rata-rata
9.3% pada wanita diatas 65 tahun dan 2.5-11% pada pria di atas 65 tahun. Sistitis pada
neonatus banyakterdapat pada laki-laki (2,7%) dibanding bayi perempuan (0,7%). Insidensi
sistitismenjadi terbalik seiring bertambahnya usia, yaitu pada masa sekolah sistitis padaanak
perempuan sekitar 3% sedangkan anak laki-laki 1,1%. Insidensi sistitis padausia remaja
wanita meningkat 3,3-5,8% yang akan terus meningkat insidensinya pada usia lanjut.
Morbiditas dan mortalitas sistitis paling banyakterjadi pada pasien usia kurang dari satu tahun
dan usia lebih dari 65 tahun.Prevalensi infeksi asimtomatik meningkat mencapai 30%, baik
laki-laki maupun perempuan bila disertai faktor pencetus.
Sistitis merupakan masalah kesehatan yang serius karena dapat menyerangberjuta-juta
orang tiap tahunnya. Jumlah pasien sistitis mencapai 150 juta pertahun, dan di Amerika
dilaporkan 6 juta pasien datang ke dokter dengan diagnosissistitis. Sistitis merupakan infeksi
nosokomial tersering yang mencapai kira-kira 40-60%.

B. Klasifikasi
Sistitis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Sistitis primer, merupakan radang yang mengenai kandung kemih radang ini dapat
terjadi karena penyakit lain seperti batu pada kandung kemih, divertikel, hipertropi
prostat dan striktura uretra.
Tanda dan gejala :
a. Peningkatan frekuensi buang air kecil, baik deural maupun noktural.
b. Disuria karena epitel yang meradang tertekan, rasa nyeri pada daerah supra pubis
atau perineal.
c. Rasa ingin buang air kecil
d. Hematuria
Pada wanita biasanya timbul setelah adanya infeksi saluran pernafasan atau setelah
diare. Pada pria timbul prostitis setelah minum alkohol yang berlebihan.
2. Sistitis sekunder, merupakan gejala yang timbul kemudian sebagai akibat dari
penyakit primer misalnya uretritis dan prostatitis.Sama dengan sistitis akut tetapi
berlangsung lama dan sering tidak begitu menonjol. Pemeriksaan Diagnostik pasien
perlu dilakukan IVP dan cystoscopy
Secara klinis ISK bawah tergantung dari jenis kelamin dibagi menjadi :
1. Pada perempuan, terdapat dua jenis ISK bawah pada perempuan yaitu sistitis dan
sindrom uretra akut. Sistitis adalah presentasi klinis infeksi kandung kemih disertai
bakteriuria bermakna. Sindrom Uretra Akut (SUA) adalah presentasi klinis sistitis
tanpa ditemukan mikroorganisme (steril), sering dinamakan sistitis bakterialis.
Penelitian terkini SUA disebabkan mikroorganisme anaerob.
2. Pada pria, presentasi klinis ISK bawah mungkin sistitis, prostatitis, epidimidis, dan
uretritis.
II. PATOFISIOLOGI
Sistitis merupakan infeksi saluran kemih bagian bawah yang secara umum disebabkan
oleh bakteri gram negatif yaitu Escheriachia Coli peradangan timbul dengan penjalaran
secara hematogen ataupun akibat obstruksi saluran kemih bagian bawah, baik akut maupun
kronik dapat bilateral maupun unilateral.
Sistitis merupakan asending infection dari saluran perkemihan. Pada wanita biasanya
berupa sistitis akut karena jarak uretra ke vagina pendek (anatomi), kelainan periuretral,
rektum (kontaminasi) feses, efek mekanik coitus, serta infeksi kambuhan organisme gram
negatif dari saluran vagina, defek terhadap mukosa uretra, vagina, dan genital eksterna

memungkinkan organisme masuk ke vesika perkemihan. Infeksi terjadi mendadak akibat


flora (E. coli) pada tubuh pasien. Pada laki-laki abnormal, sumbatan menyebabkan striktur
uretra dan hiperplasi prostatik (penyebab yang palin sering terjadi). Infeksi saluran kemih
atas penyebab penyakit infeksi kandung kemih kambuhan.
A. Patogenesis
Terdapat dua jalur utama terjadi infeksi saluran kemih ialah hematogen dan
ascending. Tetapi dari kedua cara ini, ascending-lah yang paling sering terjadi.Infeksi
hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah karena
menderita suatu penyakit kronik atau pada pasien yang sementara mendapat pengobatan imun
supresif. Penyebaran hematogen bisa juga timbul akibat adanya infeksi di salah satu tempat
misalnya infeksi S.Aureus pada ginjal bisa terjadi akibat penyebaran hematogen dari fokus
infeksi dari tulang, kulit, endotel atau di tempat lain.
Infeksi ascending yaitu masuknya mikroorganisme dari uretra ke kandung kemih dan
menyebabkan infeksi pada saluran kemih bawah. Infeksi ascending juga bisa terjadi oleh
adanya refluks vesico ureter yang mana mikroorganisme yang melalui ureter naik ke ginjal
untuk menyebabkan infeksi.
Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik
dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Agar
infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada dan
mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui berkemih,
mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi.
Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih terjadi melalui:
1. Tersering dari uretra, uretra wanita lebih pendek membuat penyakit ini lebih sering
ditemukan pada wanita.
2. Infeksi ginjal yang sering meradang, melalui urine dapat masuk kekandung kemih.
3. Penyebaran infeksi secara lokal dari organ lain dapat mengenai kandung kemih
misalnya appendisitis.
4. Pada laki-laki prostat merupakan sumber infeksi.
5. Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat terdekat saluran kemih yang
terinfeksi.
6. Hematogen yaitu penyebaran mikroorganisme patogen yang masuk melalui darah
yang terdapat kuman penyebab infeksi saluran kemih yang masuk melalui darah dari
suplay jantung ke ginjal.
7. Limfogen yaitu kuman masuk melalui kelenjar getah bening yang disalurkan melalui
helium ginjal.

8. Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi.

B. Etiologi
Sistitis disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, terbanyakadalah bakteri.
Bakteri gram negatif yang sering dilaporkan sebagai penyebabtersering ISK adalah
Escherichia coli. Akhir-akhir ini bakteri gram positifternyata mulai menunjukkan
peningkatan kecenderungan sebagai penyebab ISK,antara lain Staphylococcus aureus dan
Staphylococcus saprophyticus. Penyebab lain meskipun jarang ditemukan adalah jamur,
virus, parasit.Berdasar hasil pemeriksaan biakan urin, penyebab sistitis terbanyak adalah
bakterigram negatif aerob yang biasa ditemukan di saluran pencernaan(Enterobacteriaceae),
dan jarang disebabkan bakteri anaerob.
Penyebab dari sistitis pada wanita, kebanyakan infeksi kandung kemih diakibatkan
oleh infeksi ascenden yang berasal dari uretra dan seringkali berkaitan dengan aktivitas
seksual. Dapat meningkat pada wanita yang menggunakan kontrasepsi atau diafragma yang
tidak terpasang dengan tepat.Pada pria, dapat diakibatkan infeksi ascenden dari uretra atau
prostat tetapi agaknya lebih sering bersifat sekunder terhadap kelainan anatomik dari traktus
urinarius.Mungkin berkaitan dengan kelainan kongenital traktus genitourinarius, seperti
bladder neck obstruction, stasis urine, refluks ureter, dan neurogenic bladder.Kateterisasi
urine mungkin menyebabkan infeksi.
Pada umumnya disebabkan oleh basil gram negatif Escheriachia Coli yang dapat
menyebabkan kira-kira 90% infeksi akut pada penderita tanpa kelainan urologis atau kalkuli :
a. Batang gram negatif lainnya termasuk proteus, klebsiella, enterobakter, serratea, dan
pseudomonas bertanggung jawab atas sebagian kecil infeksitanpa komplikasi.
b. Organisme-organisme ini dapat dapat menjadi bertambah penting pada infeksi-infeksi
rekuren dan infeksi-infeksi yang berhubungan langsung dengan manipulsi urologis,
kalkuli atau obstruksi.
c. Pada wanita biasanya karena bakteri-bakteri daerah vagina kearah uretra atau dari
meatus terus naik kekandumg kemih dan mungkin pula karena renal infeksi tetapi
yang tersering disebabkan karena infeksi E.coli.
d. Pada pria biasanya sebagai akibat dari infeksi diginjal, prostat, atau oleh karena
adanya urine sisa(misalnya karena hipertropi prostat, striktura uretra, neurogenik
bladder) atau karena infeksi dari usus.
C. Gejala

Pada umumnya tanda dan gejala sistitis adalah :

Gejala klinis sistitis meliputi disuria (nyeri saat berkemih), polakisuria (kencing
sedikit-sedikit dan sering/anyang-anyangen), nokturia (kencing pada malam hari),

rasa tidak enak di daerah suprapubis, nyeri tekan pada palpasi di daerah suprapubis.
Gejala sistemik berupa pireksia, kadang-kadang menggigil, sering lebih nyata pada
anak-anak, kadang-kadang tanpa gejala atau tanda-tanda infeksi lokal dari traktus

urinarius.
Urin keruh dan mungkin berbau tidak enak dengan leukosit, eritrosit, dan organisme.

E. Diagnosa
Guna menentukan adanya bakteriuria, artinya infeksi saluran kemih dengan bakteri,
sekarang tersedia beberapa cara diagnosa, yaitu:
1. Tes sedimentasi mendeteksi secara mikroskopis adanya kuman dan lekosit di endapan
dalam urin.
2. Tes nitrit (Nephur R) menggunakan strip mengandung nitrat yang dicelupkan ke urin.
Praktis semua gram negatif dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit, yang tampil sebagai
perubahan warna tertentu pada strip. Kuman-kuman gram-positif tidak terdeteksi.
3. Dip-slide test (Uricult) menggunakan persemaian kuman di kaca obyek, yang seusai
inkubasi ditentukan jumlah koloninya secara mikroskopis. Tes ini dapat dipercaya dan
lebih cepat daripada pembiakan lengkap dan jauh lebih murah.
4. Pembiakan lengkap terutama dilakukan sesudah terjadinya residif 1-2 kali, terlebihlebih pada infeksi saluran kemih anak-anak dan pria.
5. Tes ABC (Antibody Coated Bacteria) adalah cara imunologi guna menentukan infeksi
saluran kemih yang letaknya lebih tinggi. Dalam hal ini tubuli secara lokal
membentuk antibodies terhadap kuman, yang bereaksi dengan antigen yang berada di
dinding kuman. Kompleks yang terbentuk dapat diperlihatkan dengan cara
imunofluoresensi.
Beberapa Pemeriksaan Laboratorium untuk mendiagnosis sistitis adalah urinalisis,
bakteriologis, uji biokimiawi dan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan urin (urinalisis) dan
pemeriksaan kimia urin merupakan pemeriksaan urin yang paling sering diminta oleh klinisi
untuk mendiagnosis sistitis.
Pemeriksaan ultrasonografi (USG) dasawarsa terakhir ini merupakanpemeriksaan
yang sering digunakan sebagai pilihan penunjang diagnostik padabeberapa kasus yang
berhubungan dengan sistitis. Pemeriksaan nitrit urin sering digunakan sebagai alternatif

daripemeriksaan kultur urin. Pemeriksaan ini berdasarkan kenyataan bahwa sebagianbesar


bakteri penyebab sistitis dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit. Pemeriksaannitrit merupakan
metode diagnostik yang sederhana dan cepat. Pasien yangdicurigai sistitis diambil sampel
urinnya untuk dilakukan pemeriksaan nitritdengan dipstick test. Adanya perubahan warna
menunjukkan hasil tes positif.
Pemeriksaan USG kandung kemih yang sudah dilakukan, diantaranyapengukuran
tebal dinding kandung kemih untuk kasus yang berhubungan dengankelainan pada kandung
kemih. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa adahubungan antara tebal dinding
kandung kemih (bladder wall thickness) denganbeberapa kelainan. Kelainan tersebut
diantaranya bladder dysfucntion karenaneurogenic bladder pada muskulus detrussor,
obstruksi di luar kandung kemihakibat massa atau infiltrasi massa ke dinding kandung kemih
dari organdisekitarnya atau pembesaran prostat, kelainan kongenital dan beberapa kasus
infeksi pada kandung kemih.
Pemeriksaan USG dapatmengidentifikasi proses infeksi karena pada pemeriksaan
USG dapat jelas terlihatadanya perbedaan echostruktur mukosa dengan echostruktur
muskulus detrussor.Ultrasonografi merupakan pemeriksaan pilihan karena mudah dilakukan,
relatifmurah, tersedia hampir disemua pelayanan kesehatan, non invasif dan bebasradiasi
sehingga aman dilakukan pada anak, wanita hamil maupun penderita yangmobilitasnya
terbatas.
Beberapa klinisi dibagian bedah, anak, penyakit dalam sering memintapemeriksaan
USG kandung kemih yang disertai ukuran penebalan dindingkandung kemih untuk kasus
infeksi yang mengenai traktus urinarius, khususnyakandung kemih. Pemeriksaan nitrit urin
diperlukan untuk mengetahui adatidaknya bakteriuria. Bakteri enterocci dan S. saprophyticus
dapat merubah nitratmenjadi nitrit. Bakteri tersebut merupakan penyebab utama infeksi
saluran kemih.
Pemeriksaan urin (urinalisis)

Leukosuria atau piuria terdapat > 5/lpb sedimen air kemih


Hematuria 5 10 eritrosit/lpb sedimen air kemih

Pemeriksaan Bakteriologis

Mikroskopis yaitu satu bakteri lapangan pandang minyak emersi, 102-103 organisme

koliform/ml urine plus piuria


Tes kimiawi yaitu tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna paa uji carik

Diagnosa banding

Uretritis (inflamasi pada uretra)

Pielonefritis (inflamasi pada ginjal)


Dosis yang digunakan untuk ISK bawah tanpa komplikasi yaitu tablet 100 mg,

diminum 4 x sehari 1 tablet selama 3 hari.


VI. PENYELESAIAN KASUS
A. KASUS
Seorang ibu berusia 50 tahun, 60 kg, mengalami demama selama 5 hari, rata-rata suhu
bedan 38,5C, mengeluh kesakitan bila buang air kecil.
TD

: 125/80 mmHg

RR

: 18x/menit

Nadi

: 78x/menit

AST

: 22,9 IU/L

ALT

: 15,3 IU/L

BUN

: 18 mg/dL

Kreatinin

: 1 mg/dL

Asam urat

: 4,3 mg/Dl

Total protein : 7,1 g/dL

Glukosa

: 99 mg/dL

Na

: 3,8 mmol/L

: 139 mmol/L

Yang bersangkutan telah mendapat obat amoksilin 500 mg 3x1 selama 3 hari tetapi belum ada
perbaikan. Dokter mendiagnosa pasien mengalami sistitis.

Data tanda vital dan laboratorium

Pemeriksaan

Data pasien

Data normal

Keterangan

Suhu tubuh

38,5C

36-37,5C

Meningkat

Tekanan darah

125/80 mmHg

90-120/60-80

Sedikit diatas normal

mmHg
RR

18x/menit

16-20x/menit

Normal

Nadi

78x/menit

70-80x/menit

Normal

AST

22,9 IU/L

5-35 IU/L

Normal

ALT

15,3 IU/L

5-35 IU/L

Normal

Kreatinin

1 mg/dL

0,6-1,3 mg/dL

Normal

BUN

18 mg/dL

15-40 mg/dL

Normal

Total protein

7,1 g/dL

6,6-8,7 g/dL

Normal

Asam urat

4,3 mg/dL

2,3-6,6 mg/dL

Normal

Glukosa

99 mg/dL

70-125 mg/dL

Normal

Na

139 mmol/L

135-144 mmol/L

Normal

3,8 mmol/L

3,6-4,8 mmol/L

Normal

G. EVALUASI OBAT TERPILIH


Siprofloksasin tablet

Dosis
Indikasi
Efek samping

: 2 x sehari 250 mg, selama 3 hari


: antibiotika penyebab bakteri sistitis
: kadang kadang terjadi keluhan saluran pencernaan seperti

mual, diare, muntah, dispepsia, sakit perut dan meteorisme


Parasetamol tablet

Dosis
Indikasi
Efek samping

: 3 x sehari 500 mg, bila perlu


: penurun panas (antipiretik)
: dosis besar (>4 gram) menyebabkan kerusakan fungsi hati

VIII. KESIMPULAN
Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan adanya mikroorganisme pada urin yang
terbagi menjadi 2 yaitu ISK atas dan ISK bawah. Dan pada kasus ini berupa ISK bawah yaitu
sistitis ditandai dengan gejala sakit saat buang air kecil. Karena penyebabnya adalah bakteri
maka pengobatan yang digunakan berdasarkan guideline dipilih siprofloksasin untuk
meniadakan bakteri penyebab sistitis. Adanya infeksi bakteri ini juga memunculkan efek
peningkatan suhu tubuh yang ditangani menggunakan parasetamol. Dari kedua obat yang
dipilih tersebut (siprofloksasin dan parasetamol) diharapkan mampu meningkatkan sistem
saluran kemih penderita menjadi dapat lebih baik.
IX. DAFTAR PUSTAKA
Anonim]. 2008a. Informasi Obat Nasional Indonesia. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia.
[Anonim]. 2008b. Informasi Spesialite Obat Indonesia. Jakarta: PT. ISFI penerbitan.
[Anonim]. 2008c. Iso Farmakoterapi Buku I. Jakarta Barat: PT. ISFI Penerbitan.
[Anonim]. 2011a. Buku Pedoman Pelayanan Medis. Jilid II. Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia

[Anonim]. 2011b. Pedoman Interpretasi Data klinik. Jakarta :Kementerian Kesehatan


Republik Indonesia.
DEPKES RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Kemih. Jakarta:
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik.