Anda di halaman 1dari 15

BORANG

LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON


LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

0 dari

LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON

PERCOBAAN 5.1

PENGARUH ZAT TUMBUH AUKSIN, GIBERELIN DAN ASAM ABSISAT


TERHADAP PEMATAHAN DORMANSI BIJI DAN PERKECAMBAHAN BIJI
Zea mays DAN Oriza sativa

Nama

: Arifa Yunia Rahma

NIM

: 14/366938/BI/9321

Gol/Kel

: Kamis/05

Asisten

: Syindi Ariska

LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN


FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

I.

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

1 dari

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkecambahan biji merupakan suatu rangkaian proses yang kompleks
yang menyangkut perubahan morfologi, fisiologi, dan biokimia dari biji. Biji akan
berkecambah apabila berada dalam keadaan tidak dorman. Persyaratan minimal
untuk perkecambahan biji adalaha adanya air dan oksigen yang cukuo serta suhu
yang sesuai (Rachmawati et al. 2009)
Apabila secara tidak sengaja biji jatuh pada tempat yang belum sesuai
maka biji tidak dapat berkecambah, peristiwa ini disebut dormansi. Menurut
Lakitan (1998) dormansi adalah keadaan terhenti atau tertundanya pertumbuhan
dan metabolisme suatu jaringan tumbuhan yang memiliki potensi aktif membelah
yang disebabkan oleh faktor eksternal (kondisi lingkungan) ataupun faktor
internal (fisiologis tumbuhan tersebut). Dormansi merupakan suatu mekanisme
pertahanan diri terhadap lingkungan yang tidak mendukung, seperti suhu yang
sangat rendah (pada musim dingin), atau kekeringan di musim panas yang
merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup tumbuhan tersebut. Dormansi
diyakini berkaitan dengan gen yang mengndalikan sintesis ABA atau giberelin.
Jadi, dormansi berkaitan dengan aktivitas hormon. Inisiasi, kendali dan
pemecahan dormansi dtentukan oleh keseimbangan zat penghambat dan zat
perangsang tumbuh. Beberapa hormon yang telaah pengaruhnya terhadap
dormansi antara lain ABA, giberelin, sitokinin, asam indo asetat (IAA) dan etilen.
Oleh karena itu, percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh zat tumbuh
terhadap pematahan dormansi biji dan perkecambahan biji pada tanaman jagung
(Zea mays) dan padi (Oriza sativa).
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat permasalahan yaitu
bagaimana pengaruh zat tumbuh auksin, giberelin dan asam absisat dengan
berbagai konsentrasi terhadap pematahan dormansi dan perekecambahan biji Zea
mays dan Oriza sativa? Zat tumbuh apakah yang bekerja paling efektif terhadap
pematahan dormansi dan perkecambahan biji Zea mays dan Oriza sativa? Pada
konsentrasi berapakah zat tumbuh auksin, giberelin dan asam absisat bekerja
paling efektif terhadap pematahan dormansi dan perkecambahan biji Zea mays
dan

Oriza

sativa?

faktor-faktor

apa

saja

yang

dapat

mempengaruhi

perkecambahan biji Zea mays dan Oriza sativa ?


C. Tujuan

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

2 dari

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat tumbuh auksin,


giberelin dan asam absisat dengan berbagai konsentrasi terhadap pematahan
dormansi dan perekecambahan biji Zea mays dan Oriza sativa, mengetahui Zat
tumbuh apakah yang bekerja paling efektif terhadap pematahan dormansi dan
perkecambahan biji Zea mays dan Oriza sativa, mengetahui kadar konsentrasi zat
tumbuh auksin, giberelin dan asam absisat yang bekerja paling efektif dalam
pematahan dormansi dan perkecambahan biji Zea mays dan Oriza sativa serta
mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perkecambahan biji
Zea mays dan Oriza sativa.

II.

TINJAUAN PUSTAKA
2

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

3 dari

Auksin adalah hormon pada tumbuhan yang memicu pertumbuhan dan


perkembangan, termasuk pemanjangan batang, dominansi ujung batang dan
pembentukan akar. Hormon auksin pertama kali ditemukan oleh Frits Went pada
tahun 1920 ketika mengisolasinya dari koleoptil gandum (Berg, 2008). Menurut Opik
& Rolfe (2005) Indole acetic acid, juga dikenal sebagai IAA adalah senyawa
heterosiklik yang terdapat pada tumbuhan sebagai hormon yang disebut auksin.
Senyawa ini berwujud padat dan berwarna yang mungkin adalah hormon terpenting
bagi tumbuhan. Molekul ini berasal dari indol, mengandung kelompok karboksimetil
(asam asetat).
Auksin merupakan salah satu regulator esensial untuk redeferensiasi ujung
akar untuk membentuk jaringan meristem. Auksin berpengaruh pada polaritas dan
diferensiasi jaringan pada embrio, membentuk organ pada tumbuhan seperti daun
primer, ujung akar dan batang, diferensiasi jaringan vaskular, membentuk akar
samping,dll. Pada akar auksin terkamulasi pada bagian dasar hipokotil dimana
primordia akar ditemukan (Robert, 2007; Starr et al.2009). Adapun struktur kimia
dari auksin dalam Salisbury dan Ross (2002) adalah sebagai berikut :

Gambar

1.

Sruktur

kimia Indoleacetic acid (IAA)


IAA struktur kimianya sama dengan asam amino triptofan yang umumnya
dianggap sebagai prekursor auksin. Ada tiga macam mekanisme yang telah
dinyatakan mengenai konversi triptophan menjadi IAA:
1. Tryptophan dikonversi menjadi indolepyruvic acid melalui reaksi transaminasi.
indolepyruvic acid kemudian dikonversi menjadi indoleacetaldehyde dengan
reaksi dekarboksilasi. Langkah akhir melibatkan oksidasi indoleacetaldehyde
menjadi indoleacetic acid.
2. Tryptophan mengalami dekarboksilasi menjadi tryptamine. Tryptamin kemudian
dioksidasi dan dideaminasi untuk membentuk indoleacetaldehyde. Molekul ini
kemudian dioksidasi untuk membentuk indoleacetic acid.
3. Baru sejak tahun 1991, mekanisme sintesis auksin yang ketiga ditemukan. IAA
dapat dioroduksi melalui mekanisme yang tidak bergantung pada tryptophan.
Mekanisme ini belum banyak diketahui dengan jelas, tetapi telah dibuktikan
dengan menggunakan trp(-) mutants. Hasil penelitian-penelitian lain juga

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

menunjukkan

bahwa

pada

beberapa

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

4 dari

tumbuhan,

mekanisme

tryptophan

independent ini merupakan mekanisme yang sering terjadi.


(Rachmawati et al. 2009)
Enzim-enzim yang berperan pada biosintesis IAA sangat aktif pada jaringanjaringan muda misalnya meristem pucuk, daun-daun dan buah yang sedang tumbuh.
Di lokasi tersebut juga didapatkan kadar IAA yang paling tinggi (Rachmawati et al.
2009)
Asam absisat merupakan zat penghambat paling umum yang ditemukan pada
tanaman. Peranan ABA dalam menghambat pertumbuhan tanaman pertama diamati
pada tunas-tunas yang sedang dalam kondisi dorman (Lakitan, 1998). Menurut
Rachmawati et al. (2009), walaupun ABA dikenal sebagai hormon penghambat
pertumbuhan, namun ada kalanya ABA juga mempunya fungsi sebagai pemacu
pertumbuhan. Adapun struktur kimia ABA dalam Salisbury dan Ross (2002) adalah
sebagai berikut :

Gambar 2. Sruktur kimia (+) asam absisat


ABA merupakan senyawa yang disintesis secara alami oleh tumbuhan. ABA
merupakan senyawa sesquiterpenoid (15-karbon) yang sebagian diproduksi melalui
jalur mevalonat pada kloroplas maupun plastida lainnya. Karena ABA disintesis
secara parsial di kloroplas, maka wajar jika dianggap bahwa biosisntesis
ABAumumnya

terjadi di daun. Produksi ABA meningkat dengan adanya stress

seperti kekurangan air dan temperatur rendah. Diyakini bahwa biosisntesis ABA
terjadi secara tidak langsung melalui produksi karotenoids. Karotenoids merupakan
pigmen yang diproduksi oleh kloroplas dan mempunyai 40 atom karbon. Pemecahan
senyawa karotenoids dapat terjadi melalui mekanisme-mekanisme berikut :
Violaxanthin merupakan karotenoids mempunya 40 atom karbon. Senyawa ini akan
terisomerisasi dan kemudian terpecah melalui reaksi-raksi isomerisasi dan diiukuti
oleh reaksi oksidasi. Satu molekul xanthonin diproduksi dari satu molekul
violaxanthonin dan masih belum jelas dengan apa yang terjadi pada produk-produk
lainnya. Satu molekul xanthonin yang diproduksi tidak stabil dan secara spontan
berubah menjadi ABA aldehyde. Proses oksidasi selanjutnya akan menghasilkan ABA
tinggi (Rachmawati et al. 2009)
4

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

5 dari

ABA eksogen merupakan penghambat kuat bagi perkecambahan bij banyak


spesies. Beberapa kajian menunjukkan bahwa tingkat ABA menurun di sel biji, ketika
dormansi berakhir oleh suatu perlakuan lingkungan (misalnya diberi cahaya atau suhu
rendah); kajian lain terhadap spesies lain tidak menunjukkan penurunan seperti itu.
Satu kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil tersebut adalah ABA mungkin
menyebabkan dormansi biji pada beberapa spesies, tapi tidak pada spesies lainnya.
Hal itu tampakya masuk akal karena banyak senyawa yang juga berhubungan erat
dengan dormansi biji, terutama giberelin (dalam peranannya mengakhiri dormansi)
(Salisbury dan Ross, 2002)
Giberelin merupakan senyawa diterpena yang disintesis dari acetyl CoA
melalui jalur asam mevalnoat. Giberelin diyakini disintesis pada jaringan-jaringan
muda pada tunas dan biji yang sedang berkembang (Rachmawati et al. 2009).
Adapaun struktur kimia giberelin dalam Salisbury dan Ross (2002) adalah sebagai
berikut :

Gambar 2. Sruktur kimia GA1


Geranil-geranil pirofosfat yang merupakan senyawa dengan 20 atom karbon
bertindak sebagai pemberi donor untuk semua atom karbon giberelin. Kemudian
dikonversi menjadi kopalil pirofosfat yang mempunyai dua cincin, lalu dikonversi
menjadi kaurene. Beberapa tahap-tahap konversi ini merupakan oksidasi dalam
retikulum endoplasma. Lintasan ini melibatkan senyawa antara seperti kaurenol,
kaurenal dan asam kaurenoat. Senyawa pertama terbentuk yang mengandung cincin
giberelin adalah aldehida GA12, dengan 20 atom karbon. Dari senyawa in baru
kemudian disintesis giberelin lain dengan 20 dan 19 atom karbon. Pada daun, klorolas
merupakan tempat utama utama bagi interkonversi giberelin, tetapi reaksi-reaksi
dalam lintasan tersebut sampai pada asam kaurenoat mungkin terjadi di luar plasida
(Lakitan, 1998)
Giberelin mengatasi dua macam dormansi biji dan dua macam dormansi
kuncup pada berbagai spesies, berlaku sebagai pengganti suhu rendah, hari yang
panjang, atau cahaya merah. Pada biji, salah satu efek giberelin adalah mendorong
pemanjangan sel, sehingga radikula dapat mendobrak endosperma, kulit biji atau kulit
5

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

6 dari

buah yang membatasi prtumbuhannya. Embrio (nutfah) biji serealia-bulir dan rumputrumputan lainnya dikelilingi cadangan makanan yang terdapat di sel yng secara
metabolik tidak aktif, yakni endosperma. Endosperma sendiri diselimuti selaput tipis
yg hidup disebut aleuron. Setelah perkecambahn bij terjadi, sel aleuronmengeluarkan
sejumlah enzim hidrolisisyang mencerna pati, protein, fitin, RNA dan bahan dinding
sel tertentu yang terdapat dalam sel endosperma. Salah satu enzim yang dikeluarkan
dalam proses ini adalah -amilase, yang menghidrolisis. Jika embrio dihilangkan dari
bij jelai, sel aleuron tidak mengeluarkan dan mengeluarkan sebagian besar enzim
hidrolitiknya termasuk -amilase. Hal itu memperlihatkan bahwa

embrio jelai

biasanya menyediakan suatu hormon untu selaput aleuron dan bahwa hormon tersebut
memacu sel aleuron untuk enzim hidrolitik ini. Hormon tersebut tampaknya adalah
giberelin, yang juga mendorong sekresi enzim hidrolitik ke endosperma ( Salisbury
dan Ross, 2002)
Biji yang berada pada lingkungan yang sesuai akan berkecambah.
Perkecambahan atau germinansi adalah proses keluarnya tanaman kecil (plantula)
dari dalam biji. Perkecambahan diawali dengan penyerapan air oleh biji kemudian
menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya. Air juga
akan mengaktifkan enzim yang terdapat pada biji. Enzim kemudian akan
mengaktifkan metabolisme sel, salah satunya untuk mengambil oksigen yang
diperlukan untuk proses oksidasi cadangan makanan yang terdapat dalam biji. Enzimenzim akan mulai mencerna bahan-bahan yang disimpan pada endosperma dan
kotiledon. Dengan demikian, hasil dari perombakan cadangan makanan tersebut dapat
digunakan untuk pertumbuhan biji dan nutrien-nutriennya dipindahkan ke bagian
embrio yang sedang tumbuh tersebut. Organ pertama yang muncul dari biji yang
berkecambah adalah radikula, yaitu akar embrionik. Berikutnya ujung tunas harus
menembus permukaan tanah (Campbell et al, 2003; Karmana, 2008).
Ada dua tipe perkecambahan yakni epigeal (kotiledom terangkat ke atas
permukaan tanah saat biji berkecambah) dan hipogeal (kotiledon tetap berada di
dalam tanah saat bji berkeambah (Rachmawati et al. 2009)
Perkecambahan biji dipengaruhi oleh faktor dalam yang meliputi tingkat
pemasakan, viabilitas dan rentang hidup benih, ukuran benih, dormansi dan senyawa
penghambat perkecambahan serta faktor luar yang meliputi air, suhu, oksigen dan
cahaya.(Rachmawati et al. 2009)
Jagung merupakan jenis tumbuhan artopyhta, spermatopyhta dan memiliki biji
berkeping satu sehingga masuk dalam kelas tumbuhan monokotiledone. Tanaman
jagung cocok tumbuh di daerah beriklim tropis/panas. Tanah yang subur dengan
banyak unsur organik adalah tempat hidup jagung yang baik.. jagung dapat tumbuh
dengan maksimal pada tanah yang derajat keasamannya 5-8 (Rochani, 2003)
6

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

7 dari

Biji jagung terletak pada tongkol (jenggel) yang tersusun memanjang. Pada
proses perkecambahan biji jagung dibedakan dalam tiga tahap yaitu : masuknya air
yang

berdampak

melunakan

kulit

biji;

didalam

kulit

bij

terjadi

metabolisme/perubahan secara biologis dan kimia; terjadi pembelahan sel-sel pada


jaringan titik tumbuh, baik calon akar maupun caalon batang yang diikuti dengan
calon akar menembus kulit biji (AAK, 1993)
Semua padi, baik dari sawah tadah hujan maupun dari irigasi, sensitiif
terhadap sejumlah variabel termasuk curah hujan , tekanan uap, kelembaban tanah,
suhu musiman, suhu maksimum dan minimum harian, radiasi matahari dan tambahan
tahunan dari konsentrasi karbondioksida (CO2) atmosfer. Suhu optimum untuk
sebagian besar tahap-tahap pertumbuhan padi adalah pada rentang antara 25-30 C.
Tahapan perkecambahan padi membuthkan suhu optimum 18-40C (Locatelli et al.
2005)

III.

METODE
A. Bahan
Bahan-bahan yan digunakan dalam percobaan ini antara lain biji jagung
(Zea mays) dan padi (Oriza sativa) yang masing-masing dipilih biji yang dorman
dan yang non-dorman, larutan auksin (IAA), giberelin (GA) dan asam absisat
(ABA) masing-masing dengan konsentrasi 0,01 ppm, 0,1 ppm, 1 ppm dan 10
ppm, kapas, batang lidi dan aquades.
B. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini meliputi petridish, gelas
piala, gelas ukur, pipet tetes dan kertas label.
C. Cara kerja
Disiapkan larutan auksin (IAA), giberelin (GA) dan asam absisat (ABA)
masing-masing dengan konsentrasi 0,01 ppm, 0,1 ppm, 1 ppm dan 10 ppm.
7

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

8 dari

Kemudian disiapkan biji jagung (Zea mays) dan padi (Oriza sativa) yang dorman
dan yang non-dorman. Selanjutnya, disiapkan petridish dengan diberi kapas dan
batang lidi sebagai pembatas lalu dibasahi dengan IAA, GA atau ABA serta
kontrol (aquades). Didalam setiap petridish diletakkan sebanyak 10 biji (dengan
komposisi masing-masing 5 biji dorman dan non dorman) dan untuk masingmasing perlakuan dibuat 5 ulangan. Hasil pengamatan jumlah biji yang
berkecambah dihitumg setiap hari hingga hari ke tujuh.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Berdasarkan percobaan yag dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut :
120
100
80
dorman

60

non dorman
40
20
0
0

0.01

0.1

10

Gambar 1. Pengaruh hormon IAA terhadap perkecambahan biji Oryza sativa


Berdasarkan histogram tersebut terlihat bahwa hormon IAA hanya dapat
mempengaruhi perkecambahan seluruh biji non dorman pada Oryza sativa pada
konsentrasi 0,01 ppm, 0,1 ppm, 1 ppm dan 10 ppm.

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

9 dari

120
100
80
dorman

60

non dorman
40
20
0
0

0.01

0.1

10

Gambar 2. Pengaruh hormon GA terhadap perkecambahan biji Oryza sativa


Berdasarkan histogram tersebut terlihat bahwa hormon GA

dapat

mempengaruhi perkecambahan biji non dorman pada Oryza sativa paling optimal
pada konsentrasi 1 ppm dan 10 ppm serta dapat memepengaruhi perkecambahan
seluruh biji dorman Oryza sativa pada konsentrasi 10 ppm.
120
100
80
dorman

60

non dorman
40
20
0
0

0.01

0.1

10

Gambar 3. Pengaruh hormon ABA terhadap perkecambahan biji Oryza sativa


Berdasarkan histogram tersebut terlihat bahwa hormon ABA dapat
mempengaruhi perkecambahan biji non dorman pada Oryza sativa paling optimal
pada konsentrasi 0,01 ppm, 0,1 ppm, 1 ppm dan 10 ppm dan juga dapat
memepengaruhi perkecambahan seluruh biji dorman Oryza sativa pada
konsentrasi 10 ppm.

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

10 dari

120
100
80
dorman

60

non dorman
40
20
0
0

0.01

0.1

10

Gambar 4. Pengaruh hormon IAA terhadap perkecambahan biji Zea mays


Berdasarkan histogram tersebut terlihat bahwa hormon IAA dapat
mempengaruhi perkecambahan biji non dorman pada Zea mays paling optimal
pada konsentrasi 0,1 ppm dan 1 ppm serta dapat memepengaruhi perkecambahan
seluruh biji dorman Zea mays paling optimal pada konsentrasi 0,1 ppm.
120
100
80
dorman

60

non dorman
40
20
0
0

0.01

0.1

10

Gambar 5. Pengaruh hormon GA terhadap perkecambahan biji Zea mays


Berdasarkan histogram tersebut terlihat bahwa hormon GA dapat
mempengaruhi perkecambahan biji non dorman pada Zea mays paling optimal
pada konsentrasi 0,1 ppm, 1 ppm dan 10 ppm serta dapat memepengaruhi
perkecambahan seluruh biji dorman Zea mays paling optimal pada konsentrasi 0,1
ppm.

10

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

11 dari

120
100
80
dorman

60

non dorman
40
20
0
0

0.01

0.1

10

Gambar 6. Pengaruh hormon ABA terhadap perkecambahan biji Zea mays


Berdasarkan histogram tersebut terlihat bahwa hormon ABA dapat
mempengaruhi perkecambahan biji non dorman pada Zea mays paling optimal
pada konsentrasi 0,1 ppm,

serta dapat memepengaruhi perkecambahan biji

dorman Zea mays paling optimal pada konsentrasi 0,01 ppm, 1 ppm dan 10 ppm.

B. Pembahasan
Percobaan ini diawali dengan menyiapkan larutan hormon IAA, GA dan
ABA dengan konsentrasi 0,01 ppm, 0,1 ppm, 1 ppm dan 10 ppm sebagai
perlakuan pada biji dorman dan non dorman dari tanaman Oryza sativa dan Zea
mays. Penggunaan biji dari kedua spesies ini dikarenakan biji mudah didapatkan,
memiliki waktu yang relatif singkat untuk bisa berkecambah serta keduanya
merupakan tanaman monokotil sehingga hal ini menyeragamkan kondisi awal
percobaan untuk mencegah hasil pengamatan menjadi bias. Setelah itu, pada
percobaan ini juga digunakan biji dorman dan biji non dorman. Biji dorman
merupakan biji hasil panen masing-masing tanaman yang belum direndam air,
sedangkan biji non dorman ialah biji dari masing-masing tanaman yang sudah
direndam air terlebih dahulu sebelum percobaan dilakukan. Selanjutnya, pada
percobaan ini digunakan kapas sebagai media tumbuh biji dan sebagai medium
penyerapan air maupun hormon.
Berdasarkan gambar 1, 2 dan 3, hormon yang dapat mempercepat
perkecambahan biji dorman Oryza sativa adalah hormon GA dan ABA dengan
konsentrasi

10

ppm.

Sedangkan

hormon

yang

dapat

mempercepat

perkecambahan biji non dorman Oryza sativa adalah hormon IAA, GA dan ABA
dengan dengan konsentrasi 0,01 ppm, 0,1 ppm, 1 ppm dan 10 ppm. Sedangkan
11

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

12 dari

hasil pada perkecambahan biji Zea mays (gambar 4, 5 dan 6) menunjukkan


bahwa hormon yang bekerja optimal pada perkecambahan biji dorman Zea mays
adalah hormon GA dan ABA dengan konsentrasi 0,1 ppm serta hormon IAA
dengan konsentrasi 0,01 ppm. Adapun hormon yang bekerja optimal pada
perkecambahan biji non dorman Zea mays adalah hormon GA dan ABA dengan
konsentrasi 1 ppm dan 10 ppm serta hormon IAA dengan konsentrasi 0,1 ppm
dan 1 ppm. Disini terlihat bahwa hormon GA dan ABA merupakan hormon yang
berpengaruh paling optimal terhadap perkecambahan biji dormnan maupun non
dorman pada percobaan yang telah dilakukan. Menurut Rachmawati et al.
(2009), salah satu fungsi hormon giberelin ialah dapat mematahkan dormansi bji
pada beberapa jenis tumbuhan serta dapat menstimulasi produksi enzim
amilase pada biji serealia yang sedang berkecambah untuk memobilisasi
cadangan makanan. Sedangkan salah satu fungsi dari hormon asam absisat ialah
menghambat efek giberelin dalam proses stimulasi sintesis enzim amilase serta
mempunyai efek dalam proses induksi dan mempertahankan dormansi.
Berdasarkan pernyaataan tersebut, maka hasil percobaan yang dilakukan
terdapat ketidak sesuaian dengan teori bahawa ABA merupakan hormon yang
seharusnya menghambat perkecambahan biji karena ABA memiliki mekanisme
untuk mengambat sintesis enzim amilase. Menurut Taiz and Zeiger (2002),
enzim amilase ini berperan penting dalam memecah senyawa amilum yang
teradpat pada endosperma (cadangan makanan) menjadi senyawa glukosa (gula
sebagai sumber energi bagi pertumbuhan embrio). Pada proses perkecambahan
biji secara alami, air masuk melalui proses imbibisi kemudian akan
mengaktifkan embrio untuk melepaskan hormon GA yang diproduksi pada area
skutelum akan berdifusi menuju aleuron. Hormon ini mendorong aleuron untuk
mensisntesis dan mengeluarkan enzim amilase yang akan menghidrolisis
cadangan makanan molekul larut dalam air seperti gula dan senyawa lain yang
selanjutnya akan diserapoleh embrio sebagai sumber energi respirasi respirasi
selulernya. Disebutkan dalam Rachmawati et al. (2009) bahwa lapian aleuron
biji serealia mempunyai fungsi fisiologis yang penting dalam proses
perkecambahan

karena

mampu

memproduksi

enzim-enzin

yang

akan

menghidrolisis pati yang tersimpan dalam endosperma. Perkecambahan ditandai


dengan keluarnya radikula dari kulit biji merupkan hasil pembesaran sel-sel
embrio, selanjutnya terjadi pembelahan sel yang diikuti oleh diferensiasi pada
V.

sumbu embrio dan meristem apikalnya.


KESIMPULAN

12

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

13 dari

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hormon


yang paling efektif dalam proses pematahan dormansi dan perkecambahan biji Oryza
sativa dan Zea mays adalah hormon giberelin pada konsentrasi 0,1 ppm, 1 ppm dan
10 ppm. Sedangkan hormon IAA dan ABA tidak terlalu bekerja optimal dalam proses
pematahan dormansi dan perkecambahan biji. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi perkecambahan biji meliputi faktor internal yang terdiri dari tingkat
kemasakan biji, kemampuan biji untuk berkecambah (viabilitas biji), rentang hidup
biji, ukuran biji, kemampuan biji mengundurkan fase perkecambahannya hingga ada
waktu dan tempat yang menguntungkan untuk tumbuh (dormansi biji) dan senyawa
penghambat maupun pemacu perkecambahan. Fakor eksternal yang dapat
memoengaruhi perkecambahan biji yaitu ketersediaan air, cahaya, komposisi gas di
atmosfer dan suhu.

VI.

DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1993. Seri Budi Daya-Jagung. Kanisius, Yogyakarta. P.34-36
Campbell, N. A., Jane B. R., and Lawrence G. M. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2.
Penerbit Erlangga. Jakarta. P : 365.
Berg, L.R. 2008. Introductory Botany: Plants, People and the Environment.
Thomson Higher Education, USA. P: 225
Lakitan, B. 1998. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Raja Grafindo
Perkasa, Jakarta. P:110, 111, 82
Locatelli, B., E. Pranova, A. Mench, E. Marbyanto, K. Kartika and P. Hangga. 2005.
Mengintegrasikan Adaptasi ke dalam REDD+. Dampak Potensial dan
Rentabilitas Soisal di Setulang Kabupaten Malinau Indonesia. German
cooperation, Jakarta. P.24-25
Karmana, O. 2008. Biologi. Grafindo Media Pratama. Bandung. P: 4
Opik, H. and S. A. Rolfe. 2005. The Physiology of Flowering Plants 4th ed.
University Press, New York. P: 56
Rachmawati, D., K. Dewi, Sudjino, and M. Nasir. 2009. Bahan Ajar Fisiologi Tumbuhan.
Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. P:77-83,116-118
Robert, K. 2007. Handbook of Plant Science. John Wiley & Sons, England. P: 72
Rochani, S. 2003. Bercocok Tanam Jagung. Azka Press, Bandung. P:8-9
Salisbury, F. B. and C.W. Ross. 2002. Plant Physiology Third edition. Wadsworth Publ.
Co., Belmont, Calif. P: 37-45, 51-57, 84, 87-91,
Starr, C; R. Taggart, C. Evers, L. S. 2009. Plant Structure and Fuction.
Taize,

USA. P: 509
L. And E.

Zeiger. 2002.

Plant

Physiology Third

Brooks/Cole,
Edition.

Sinauer

Associates,Inc.Publishers. Sunderland, Massachusetts. P 75


13

BORANG
LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN

No. Dokumen
Berlaku sejak
Revisi

FO-UGM-BI-07-13
03 Maret 2008
00

Halaman

14 dari

14