Anda di halaman 1dari 2

Natasha Kaulika Wijaya

PR A - 14140110014
Komunikasi Antar Budaya

Dalam tugas kali ini, saya akan menganalisa komunikasi antar budaya yang terdapat pada film
The Butler. Film ini seolah-olah mengingatkan kembali sejarah kelam di AS, di mana warga kulit
hitam diperlakukan layaknya seperti binatang oleh warga kulit putih. Tokoh utama dari film ini
adalah Cecil Gaines, seorang warga kulit hitam yang mengabdi di Gedung Putih sebagai pelayan
pada 1952 dan melayani 8 presiden. Ketika itu, pergerakan hak asasi manusia mulai memanas.
Di Gedung Putih pun, Cecil juga memperjuangkan hak orang kulit hitam agar mendapatkan
promosi jabatan dan upah yang setara dengan orang kulit putih. Namun pekerjaan Cecil di
Gedung Putih sungguh tidak mudah. Ia bahkan
jadi sering pulang terlambat. Sang istri yang
merasa

kesepian

akhirnya

mengonsumsi alkohol.

mulai

sering

Anak pertamanya,

Louis, juga mulai terlibat dalam pergerakan


yang menyuarakan persamaan hak bagi kulit
hitam. Serangkaian aksi demonstrasi juga sering
dilakukannya hingga bolak-balik masuk penjara. Sementara anak bungsunya yang memilih
menjadi tentara akhirnya tewas dalam perang di Vietnam.
Dari film ini, saya bisa melihat sebuah jurang yang sangat besar antara warga kulit putih
dan kulit hitam di AS pada masa lampau. Ada unsur etnosentrisme di sini, hal ini terlihat dari
bagaimana warga kulit putih merasa mereka lah yang paling baik, dan warga kulit hitam berada
jauh di bawah mereka. Begitu pula dengan rasisme, bahkan saat Louis (putra Cecil Gaines) dan
teman-teman kulit hitamnya duduk di kursi yang disediakan untuk warga kulit putih di sebuah
restoran, mereka langsung dipaksa untuk pindah tempat. Mereka juga disiksa oleh warga kulit
putih karena mengabaikan usiran yang diberikan. Menurut saya, mungkin saja warga kulit hitam
mendapat perlakuan yang buruk karena stereotype bahwa warga kulit hitam adalah budak.
Stereotype ini ada karena prasangka negative dari warga kulit putih. Dengan prasangka mengenai

warga kulit hitam, secara tidak langsung warga kulit putih menganggap mereka lah yang terbaik.
Dilihat dari segi worldview, warga kulit putih membuat standarisasi bahwa bersentuhan dengan
warga kulit hitam merupakan hal yang menjijikkan. Dalam film The Butler, hal ini terlihat pada
saat Cecil melayani di sebuah restoran dan bermaksud untuk menyingkirkan purse seorang
wanita kulit putih agar tidak tertumpah oleh minuman yang Cecil bawa, dan dengan cepat sang
wanita mengambil purse yang disentuh Cecil.
Untung saja, sekarang jurang pemisah kedua budaya tersebut bisa hilang. Warga kulit
putih dan warga kulit hitam kini hidup dengan rukun di AS, di bawah pemerintahan Barack
Obama yang juga merupakan keturunan kulit hitam. Dua budaya yang dulu bertentangan kini
melebur menjadi satu dan mungkin bisa meneriakkan Unity in Diversity dengan lantang.
Semoga, warga Indonesia bisa memetik suatu pelajaran agar tidak lagi bersikap rasis atau
menganggap

suatu

kebudayaan

lebih

bagus

dari

kebudayaan

yang

multikulturalisme yang ada di Indonesia dapat menjadi suatu nada yang harmoni.

lain,

sehingga