Anda di halaman 1dari 8

BAGIAN 4 ORGANISASI

11. Organisasi Media: Tekanan dan Permintaan


-

Tujuan terpenting dari bab ini adalah untuk mengidentifikasi dan menilai
pengaruh yang berpotensi dari berbagai faktor organisasional dan
komunikator terhadap apa yang betul-betul diproduksi.
Hipotesis tentang faktor-faktor yang memengaruhi konten (Shoemaker dan
Reese, 1991):
Konten mencerminkan realitas sosial (media massa sebagai cermin
masyarakat).
Konten dipengaruhi oleh sosialisasi dan sikap pekerja media (pendekatan
yang terpusat pada komunikator).
Konten dipengaruhi oleh kerutinan organisasional media.
Konten dipengaruhi oleh kekuatan dan institusi sosial di luar media.
Konten adalah suatu fungsi posisi ideologis dan mempertahankan status
quo (pendekatan hegemonik).
Tujuan-tujuan utama dari organisasi media:
Laba.
Prestise dan pengaruh sosial.
Memaksimalkan khalayak.
Sasaran dari berbagai bidang (politik, agama, budaya, dan lain
sebagainya).
Melayani kepentingan publik.
Kesimpulan : Pekerjaan media terinstitusionalisasi secara lemah jika
dibandingkan, misalnya dengan bidang hukum, kedokteran, atau akuntansi,
dan kesuksesan professional sering kali tergantung pada naik turunnya selera
publik yang tidak terduga atau berdasarkan kualitas pribadi yang unik yang
tidak dapat ditiru atau disebarkan. Terlepas dari keahlian kinerja tertentu,
sangat sulit menentukan pencapaian media yang esensial atau inti.
Barangkali bahwa kemerdekaan, kreatifitas, dan pendekatan kritis yang
masih dihargai oleh banyak personel media meskipun adanya latar belakang
kerja yang birokratis yang pada dasarnya tidak cocok dengan profesionalisasi
utuh secara tradisional. Terdapat konflik yang tidak dapat dihindari pada
jantung kerja media, baik terbuka maupun tersembunyi. Barangkali dilemma
yang paling mendasar adalah kebebasan melawan batasan di dalam institusi
yang memiliki ideologi yang menghargai keaslian dan kebebasan, tetapi latar
organisasinya membutuhkan control yang relatif ketat.

12. Produksi Budaya Media

- Saat ini kita membahas mengenai serangkaian faktor yang kurang lebih statis
atau konstan yang membentuk kinerja organisasi media. Secara khusus, hal ini
berkaitan dengan komposisi dan struktur sosial internal dari para pekerja media
dan hubungan yang dipelihara, di bawah berbagai tekanan ekonomi dan sosial
dengan dunia di luar organisasi. Konteks media sebenarnya tidak pernah statis,
tetapi terlihat stabil sebagai hasil dari keseimbangan yang dicapai antara
kekuatan luar dengan tujuan organisasi. Masih terdapat banyak perubahan dan
ketidakstabilan yang terjadi. Penyebab tunggal yang paling signifikan mungkin
adalah munculnya konektivitas (connectivity) jaringan dan potensi baru untuk
menghindari saluran komunikasi massa yang lama.
Faktor Prediksi Peliputan Berita Asing (Galtung dan Ruge, 1965)

Peristiwa yang skalanya besar.


Kejadian yang dekat dengan rumah.
Kejelasan makna.
Kejadian yang waktunya singkat.
Relevan dengan khalayak.
Serupa dengan peristiwa di masa lalu.
Adanya potensi personifikasi.
Hal yang negatif.
Signifikansi yang besar dan konsekuensi yang luas.
Drama dan aksi dalam penyampaian kisahnya.

Faktor pemilihan berita

Kekuasaan, status, atau popularitas individu yang terlibat dalam peristiwa.


Kontak personal atas reporter.
Lokasi peristiwa.
Lokasi kekuasaan.
Dapat diperkirakan dan rutin.
Kedekatan dengan khalayak dari orang-orang dan peristiwa yang ada di
berita.
Kebaruan dan ketepatan waktu dari peristiwa.
Pemilihan waktu dalam hubungannya dengan siklus berita.
Ekslusivitas.
Keuntungan ekonomi (dari khalayak, sponsor, dan lain-lain).

Tiga rantai dalam produksi documenter (Elliot, 1972)


Rantai subjek yang berkaitan dengan pengumpulan gagasan program
untuk serial.
Rantai kontak yang menghubungkan produser, sutradara, dan peneliti
dengan kontak dan sumber mereka.
Rantai presentasi di mana realitas slot waktu dan anggaran saling
berhubungan dengan gagasan yang umum bagi presentasi yang efektif.

Prinsip utama logika media

Kebaruan.
Kedekatan.
Tempo yang tinggi.
Personalisasi.
Singkat.
Konflik.
Dramatisasi.
Orientasi pada pesohor.

Lima model pembuatan-keputusan media

Jalur perkumpulan.
Keahlian dan kewirausahaan.
Persetujuan dan formula.
Citra khalayak dan konflik.
Citra produk.
Kesimpulan: Masalah yang dibahas dalam bab ini sebagian besar
berhubungan dengan proses seleksi dan pembentukan didalam organisasi
media formal, seiring dengan gagasan dan citra yang diubah menjadi
produk untuk didistribusikan. Pengaruh atas proses ini sangat banyak dan
seringkali berkonflik. Meskipun terdapat fitur konstanta tertentu yang terus
terjadi, produksi media masih memiliki potensi untuk menjadi tidak dapat
diprediksi dan inovatif, sebagaimana seharusnya terjadi dalam masyarakat
bebas. Faktor ekonomi, budaya, dan teknologi yang membatasi dapat juga
memberikan sarana, jika terdapat cukup uang untuk membeli kebebasan dan
kemampuan inovasi budaya, serta jika inovasi teknologi bekerja untuk
mengatasi hambatan.

BAGIAN 5 KONTEN
13. Konten Media: Isu, Konsep, dan Metode Analisis
- Tujuan utama dari bab ini adalah untuk membahas pendekatan alternative
terhadap konten media dan metode yang tersedia. Bagaimanapun, pilihan akan
pendekatan maupun metode tergantung pada tujuan yang kita miliki yang sangat
beragam. Umumnya, kita berhadapan dengan tiga aspek analisi konten: konten
sebagai informasi; konten sebagai makna yang tersembunyi (semiologi); dan
analisis konten kuantitatif tradisional. Tidak ada teori yang koheren atas konten
media dan tidak ada consensus mengenai metode terbaik analisis karena metode
alternatif dibutuhkan untuk tujuan dan jenis konten yang berbeda dan untuk
beragam genre media.
Strukturalisme/semiologi: prinsip utama

Teks memiliki makna yang dibangun melalui bahasa.


Makna bergantung pada kerangka rujukan budaya dan linguistik yang
lebih luas.
Teks mewakili proses pemaknaan.
Sistem tanda dapat ditafsirkan berdasarkan basis pengetahuan akan
budaya dan sistem tanda.
Makna teks dapat bersifat konotatif, denotatif, atau mitos.
Komunikasi sebagai informasi
Komunikasi didefinisikan sebagai transfer informasi dari pengirim ke
penerima individual.
Teks media adalah bahan informasi.
Inti dari informasi adalah pengurangan ketidakpastian.
Kualitas informasi dan sifat informatif dari teks dapat diukur.
Arah evaluatif dari informasi dapat diukur.
-

Kesimpulan: masa depan dari analisis konten dalam satu dan lain hal, harus
terletak pada mengaitkan konten, sebagaimana yang dikirim kepada
struktur makna yang lebih luas di dalam masyarakat. Alur ini barangkali lebih
baik dilakukan dengan cara analisis wacana yang memperhitungkan sistem
makna lain didalam budaya asli, atau dengan cara analisis penerimaan
khalayak yang menganggap serius gagasan bahwa pembaca juga membuat
makna. Keduanya diperlukan dalam beberapa tingkatan dalam studi media
yang layak. Berbagai kerangka dan perspektif untuk membuat teori
mengenai konten media yang telah diperkenalkan sering kali melibatkan
pemisahan yang tajam dari metode penelitian sebagaimana pula perbedaan
tujuan.

14. Genre dan Teks Media


- Tujuan dari bab ini adalah untuk melihat lebih dekat beberapa contoh konten
media sebagaimana yang diungkapkan dengan menerapkan beberapa pendekatan
dan metode yang dibahas dalam bab 13. Bab ini juga memperkenalkan beberapa
konsep yang digunakan untuk mengelompokkan keluaran dari media massa. Secara
khusus, kita mendalami konsep dari format, genre, dan teks media.
Persepsi yang muncul mengenai mesin pencari Internet sebagai sebuah genre
media
Pintu yang dapat diakses menuju jagat raya konten dalam cyberspace.
Tujuan utamanya adalah informatif.
Merupakan sumber yang netral, tidak disunting, tidak disensor, dan
menyeluruh.
Secara bebas dan setara terbuka bagi semua pengirim dan penerima.
Bentuknya memungkinkan pengguna untuk mengikuti alur dan tautan
pencarian yang tidak terhitung.

Tidak ada indikasi status atau nilai, kecuali sebagaimana yang dipandang
oleh si pencari.
Genre berita: atribut utama

Ketepatan waktu dan kebaruan.


Ketidakterdugaan.
Jenis yang dapat diperkirakan.
Sifat alami yang terpisah-pisah.
Cepat using.
Melambangkan fungsi atau efek.
Dibentuk oleh nilai.
Menarik.
Kondisi fakta.

Kesimpulan: Generalisasi mengenai konten media massa telah menjadi


semakin sulit seiring dengan media yang meluas dan beragam serta bentuk
multimedia yang menjadi semakin dominan. Genre yang mapan telah
berlipat ganda dan bermutasi, membuat analisis genre diragukan sebagai
kerangka yang stabil untuk menjelaskan keluaran media. Kapasitas untuk
menganalisis dan memahami bagaimana teks bekerja tidak mampu
menandingi keragaman keluaran bahkan dari media konvensional, apalagi
dari Internet dan bentuk penyampaian baru yang lain.

15. Teori Khalayak dan Tradisi Penelitian


- Kata khalayak sangat akrab sebagai istilah kolektif dari penerima dalam model
urutan sederhana dari proses komunikasi massa (sumber, saluran, pesan, penerima,
efek) yang dibuat oleh para pelopor di bidang penelitian media (misalnya lihat
Schramm, 1955). Untuk permulaan, konsep khalayak menunjukkan adanya
sekelompok pendengar atau penonton yang memiliki perhatian, reseptif, tetapi
relative pasif yang terkumpul dalam latar yang kurang lebih bersifat publik.
Penerimaan sesungguhnya dari media massa sangat beragam dan merupakan
pengalaman yang berantakan dengan hanya sedikit konsistensi dan tidak cocok
dengan versi ini. Hal ini terutama berlaku pada saat mobilitas, individualisasi, dan
berlipatgandanya penggunaan media. Kedua, munculnya media baru telah
memperkenalkan sejumlah bentuk perilaku, melibatkan interaktivitas dan
pencarian, alih-alih menonton atau mendengarkan saja. Ketiga, batasan antara
produsen dan khalayak telah menjadi kabur karena alasan-alasan yang telah
diberikan sebelumnya.
Karakteristik khalayak asli
Merencanakan dan mengatur kegiatan menonton dan mendengarkan
sebagaimana pula pertunjukkan itu sendiri.

Peristiwa dengan karakter yang public dan populer.


Konten penampilan yang sekuler (karenanya tidak religius)untuk
hiburan, pendidikan, dan pengalaman emosional yang termediasi.
Tindakan pilihan dan perhatian individual yang sukarela.
Spesialisasi dari peranan pengarang, penampil, dan penonton.
Lokasi fisik dari penampilan dan pengalaman penonton.
Khalayak sebagai pasar: ciri teoretis utama
Khalayak merupakan kumpulan dari banyak konsumen, baik konsumen
nyata maupun konsumen potensial.
Anggota khalayak tidak saling berkaitan satu sama lain dan tidak memiliki
identitas diri bersama.
Batasan yang ditentukan kepada khalayak umumnya berdasarkan kriteria
sosial-ekonomi.
Khalayak adalah objek pengaturan dan kontrol oleh media.
Pembentukannya bersifat sementara.
Kepentingan publik adalah sesuatu yang dinomorduakan.
Hubungan khalayak dengan media adalah saling perhitungan dan bukan
berdasarkan moral.
-

Kesimpulan: Untuk sebagian besar industri media, khalayak kurang lebih


sama dengan pasar bagi layanan media, dan dikelompokkan berdasarkan hal
tersebut. Dari sudut pandang khalayak atau mereka yang mengambil
perspektif khalayak, pandangan mengenai khalayak ini bersifat peripheral
atau tidak dapat dipahami. Pengalaman khalayak sebagai peristiwa budaya
atau sosial merupakan hasil dari berbagai motif yang berbeda. Kemungkinan
lain pun dapat muncul ketika pandangan dari pihak pengirim atau
komunikator yang diambil, dalam kaitan tidak menjual layanan, tetapi
mencoba mengomunikasikan makna. Khalayak dapat dianggap oleh
komunikator dalam kaitannya dengan selera, ketertarikan, kapasitas atau
komposisi sosial, dan lokasi mereka. Situasi ini akan lebih rumit lagi dengan
munculnya alat baru komunikasi dengan implikasi terhadap banyak faktor
yang telah disebutkan.

16. Pembentukan dan Pengalaman Khalayak


- Bab ini melihat alasan mengapa khalayak terbentuk pada awalnyaterutama
motif untuk memperhatikan media massa dan kepuasan yang diharapkan atau
didapatkan. Ada teori-teori yang berbeda mengenai ini karena menjadi khalayak
bukan hanya hasil dari pilihan pribadi, tetapi juga tergantung pada apa yang
tersedia untuk dipilih, dari latar belakang sosial atau gaya hidup dan kondisi pada
saat itu. Bab ini juga membahas aspek lain dari pengalaman khalayak, termasuk
hubungannya dengan konteks sosial dan budaya. Penggunaan media bersifat sosial
dan sering kali merupakan aktivitas yang sosial dan diatur hingga tahapan tertentu
oleh pengharapan dan norma yang beragam dari satu tempat ke tempat lain dan

jenis media yang terlibat. Akhirnya, bab ini membahas implikasi perubahan media
bagi khalayal, terutama pertanyaan mengenai kemunduran khalayak massa.
Tipologi interaksi media dengan orang (McQuail et al., 1972)
Pengalihan: melarikan diri dari rutinitas atau masalah sebagai pelepasan
emosi.
Hubungan personal: pertemanan, kegunaan sosial.
Identitas pribadi: rujukan-sendiri, eksplorasi realitas, penguatan nilai.
Pengawasan (bentuk pencarian informasi).
Norma khalayak bagi perilaku dan konten media
Terlalu banyak penggunaan media, terutama TV adalah hal yang buruk
terutama bagi anak-anak.
Penggunaan TV oleh anak-anak harus dijaga dan diawasi.
Genre dan media yang berbeda menerima penilaian yang berbeda.
Khalayak mengharapkan akurasi dan keberimbangan dalam berita.
Konten untuk khalayak umum haruslah tidak menyinggung nilai moral
atau norma sosial yang dominan.
Media seharusnya tidak boleh merusak kepentingan atau keamanan
nasional.
Perubahan media memengaruhi khalayak

Penggandaan saluran.
Konglomerasi meningkatkan beberapa jumlah khalayak.
Fragmentasi khalayak massa.
Segmentasi menurut karakteristik pasar.
Pelarian khalayak dari manajemen dan pengukuran.
Muncul jenis baru khalayak: interaktif dan konsultatif.

Dimensi utama dari khalayak

Derajat keaktifan atau kepasifan.


Derajat interaktivitas dan dapat saling dipertukarkan.
Ukuran dan durasi.
Kedudukan di dalam ruang.
Karakter kelompok (identitas sosial atau budaya).
Kontak yang simultan dengan sumber.
Komposisi yang heterogen.
Hubungan sosial antara pengirim dan penerima.
Pesan versus definisi situasi secara sosial/behavioral.
Derajat kehadiran sosial yang dirasakan.
Sosiabilitas dari konteks penggunaan.

Kesimpulan: konsep khalayak secara berangsur berubah ke dalam istilah lain


untuk menggambarkan penggunaan teknologi komunikasi yang lain.

Bagaimanapun, ada dasar bersama yang mengangkangi batasan antara


bentuk-bentuk komunikasi, terutama jika kita mempertimbangkan: cara
alternatif untuk menggunakan waktu luang; beragam fungsi yang dapat
dipenuhi oleh alat-alat yang berbeda; fakta atas ketergantungan yang
berlipat ganda pada teknologi; kepemilikan dan organisasi massa dan media
baru; dan beberapa bentuk konten. Jelas bahwa cukup banyak teori khalayak
juga diterapkan kepada situasi nonkomunikasi massa meskipun dalam bentuk
yang disesuaikan atau diperluas.
BAGIAN 7 EFEK
17. Proses dan Model dari Efek Media
- Bab ini menampilkan pandangan umum dari teori dan efek media massa yang
dimulai dengan paradoks. Ada kepercayaan yang hampir pasti bahwa media massa
merupakan alat yang kuat dalam membentuk opini serta efek dalam perilaku. Pada
saat bersamaan, terdapat kesulitan dalam memprediksi efek mendesain efek, atau
membuktikan bahwa efek terjadi setelah suatu kejadian. Meskipun terdapat
kesulitan ini, pengetahuan tentang proses terkait telah meningkat perlahan-lahan
dan kita berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengatakan kapan dan efek
mana yang kurang lebih berpengaruh.
Ciri khas elemen dan urutan kampanye media publik
Sumber kolektif dengan tujuan yang disetujui masyarakat, menggunakan
beberapa saluran dan dengan pesan yang berbeda untuk target kelompok
yang berbeda, subjek menyaring kondisi dan memproses variabel
informasi untuk mencapai efek yang direncanakan yang telah dievaluasi.
-

Kesimpulan: Bab ini memperkenalkan tentang efek media dan


pengukurannya secara umum. Bahwa media tidak diragukan lagi memiliki
efek walaupun sulit untuk diketahui kapan dan tingkat efek yang sudah
terjadi dan yang mungkin terjadi. Kesulitan ini bukan selalu karena kesulitan
metodologi walaupun memang ada. Kesulitan pada umumnya muncul dari
jumlah dan keragaman efek yang mungkin terjadi dan dari fakta dan kondisi
yang terkait dengan terjadinya efek tersebut. Hal yang juga menjadi masalah
adalah fakta bahwa efek, ketika mereka terjadi, tidak hanya meliputi aksi
komunikator, tetapi juga orientasi dan aksi dari khalayak. Sebagian besar
efek terjadi dalam interaksi antara pengirim dan penerima. Banyak efek
jangka panjang dari media massa tidak melibatkan khalayak sama sekali,
tetapi merupakan respons lanjutan dari lainnya.